Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Ma'rifatullah. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Ma'rifatullah. Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Allah Memunculkan Pada diri Manusia Kesempurnaan Ubudiyah

Allah Memunculkan Pada diri Manusia Kesempurnaan Ubudiyah


Ubudiah yang sempurna itu terwujud dengan cara menyempurnakan sarana kerendahan dan kepatuhan. Manusia yang paling sempurna sifat ubudiahnya adalah yang paling sempurna kerendahan, ketundukan, dan ketaatannya kepada Allah SWT. 

Seorang hamba rendah di hadapan Tuhannya Yang Haq dengan segala bentuk kerendahan. Ia hina karena kemuliaan Allah SWT, rendah di hadapan keperkasaan Allah SWT, tunduk kepada rububiyah Allah SWT, rendah karena faktor karunia dan nikmat Tuhan kepadanya. Sebab, siapa yang memberimu, berarti dia telah memperhambakanmu. Hatimu menjadi budaknya, rendah dan hina. Karena, kamu selalu membutuhkan-Nya untuk memperoleh manfaat dan menolak semua yang berbahaya.

Baca juga

Di sini ada dua macam kerendahan dan perhambaan yang mempunyai efek luar biasa. Keduanya menuntut ketaatan dan kemenangan yang berbeda dari yang lain bagi pemiliknya.

Pertama, kerendahan cinta kasih. Ini berbeda dari yang telah dibicarakan sebelumnya. Dia adalah inti, bahkan ruh dan hakikat dari cinta. Itulah yang sebenarnya diminta dari seorang hamba seandainya dia sadar. Kerendahan ini memunculkan berbagai macam pendekatan diri, itsar, ridha, syukur, sabar, penyesalan, dan menanggung berbagai beban berat di hati orang yang cinta. Semua sifat itu tadi tidak dapat dimunculkan oleh khauf (takut) saja atau rajaa' (pengharapan) saja. Seorang sahabat berkata, "Cinta kepada-Nya memunculkan ketaatan melebihi yang dimunculkan oleh rasa takut kepada-Nya." Inilah kerendahan orang-orang yang cinta.

Baca juga 

Kedua, kerendahan maksiat. Apabila ini tergabung dengan yang pertama, maka gambaran kebajikan dirinya lenyap, jiwanya lebur, kekuatannya lentur, klaim-klaim kesombongannya pupus secara keseluruhan, dan egoisme serta keangkuhan 'Aku' akan terhapus dari hati dan lidahnya. Si miskin ini terbebas dari keluhan-keluhan pembangkangan, keberpalingan, dan penghindaran.

Baca juga 

Dua syuhud (persaksian/pengakuan) menjadi murni, sehingga tidak tersisa selain (1) persaksian yang betul-betul murni terhadap kemuliaan dan keagungan-Nya yang tidak ada satu pun makhluk-Nya yang menyamai, dan (2) pengakuan yang benar-benar tulus akan kerendahan dan kemiskinan dirinya dari semua aspek dan standar. Dia mengakui kerendahan dan kemiskinan dirinya. Juga mengakui kemuliaan, keagungan, kekuasaan, dan kekayaan Kekasihnya. Apabila kedua pengakuan ini tertanam kuat dalam benak, maka tidak ada setitik pun kerendahan dan kebutuhan kepada Tuhan kecuali dia menyaksikan dan mengakuinya.

Coba bayangkan kedudukan seperti apa yang dicapai hati seperti ini? Kedekatan seperti apa yang diperolehnya? Kenikmatan dan ketenangan macam apa yang dirasakannya?

Maka, sekarang perhatikanlah penyesalan yang terjadi padanya akibat maksiat! Betapa menakjubkannya penyesalan ini! Betapa besar pengaruhnya! Bagaimana penyesalan itu datang sehingga menumpas dari dirinya segala klaim kebaikan diri dan berbagai macam angan-angan kosong. Kemudian menimbulkan rasa malu terhadap amal saleh yang telah dikerjakannya, lalu menyebabkannya menganggap banyak terhadap sedikit nikmat Tuhan yang diterimanya—karena dia sadar bahwa nilai dirinya lebih rendah dari kelayakan mendapat nikmat itu. Perasaan seperti itu juga menuntutnya untuk menganggap sedikit amal-amal salehnya yang banyaknya segunung—karena merasa bahwa dosa dan keburukannya memerlukan penghapus yang jauh lebih banyak.

Akibatnya, dia senantiasa berbuat baik dan di dalam batinnya penuh penyesalan terhadap dosa dan kesalahan. Dia tunduk, tidak mendongakkan kepala, tidak membusungkan dada. Yang mengantarkannya kepada kerendahan perasaan ini tidak lain adalah perbuatan dosanya. Jadi, adakah yang lebih ampuh selain obat ini?

"Semoga penghinaan mendatangkan pujian sesudahnya Siapa tahu badan itu akan menjadi sehat karena penyakit."

Arti keterangan ini adalah bahwa apabila seorang hamba melihat kebaikan diri, maka hidungnya mengembang, jiwanya membesar, lalu menyangka dirinya besar dan mulia. Tapi bila diuji dengan dosa, maka dirinya merasa kecil, hina, dan yakin bahwa dia hanya hamba yang lemah.
loading...

Friday, December 9, 2016

Allah SWT Mempunyai Asmaul Husna.

Allah SWT Mempunyai Asmaul Husna.

Sebagaimana sudah dipaparkan pada artikel sebelumnya, bahwa terdapat sedikitnya 45 hikmah dan di antara sekian banyak hikmah tersebut sudah dijelaskan sekitar 31 hikmah yang hanya Allah SWT sendiri yang mengetahuinya dari hikmah adanya perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan oleh manusia.

Salah satu hikmah yang terkandung dari adanya perbuatan dosa dan maksiat adalah bahwa Allah SWT mempunyai asmaul Husna.

Terkait dengan dosa dan perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia, setiap nama yang dimiliki Allah SWT atau Asmaul Husna masing-masing mempunyai atsar (efek) dalam penciptaan dan perintah-Nya itu pasti terwujud dari setiap nama.

Seperti dalam asmaul Husna, nama ar-Raaziq menuntut adanya makhluk yang diberi rezeki dan adanya rezeki itu sendiri. Nama ar-Raahim menuntut adanya makhluk yang dikasihi dan sebab-sebab rahmat. Nama as-Samii' dan al-Bashiir menuntut adanya hal-hal yang terlihat dan terdengar.

Begitulah seterusnya. Apabila hamba-hamba Allah SWT tidak ada yang berbuat bersalah dan berbuat dosa agar Dia maafkan, Dia ampuni dan terima taubatnya, tentu tidak tampak atsar nama al-Ghafuur, al-'Afuww, al-Haliim, at-Tawwaab, dan nama-nama asma 'ulHusna sejenisnya. Terlihatnya atsar nama-nama ini seperti terlihatnya atsar asmaul husna yang lain.

Sebagaimana dalam asmaul Husna, nama-Nya 'al-Khaliq' menuntut adanya makhluk, 'al- Mushawwir' menuntut adanya benda yang dibentuk, maka nama-nama-Nya 'al- Ghaffaar' dan 'at-Tawwaab' menuntut adanya makhluk yang diampuni dan diterima taobatnya serta adanya perbuatan-perbuatan (dosa) yang dimaafkan. Ini adalah tema yang terlalu luas untuk dibahas secara mendetail. Namun, orang yang cerdas sudah cukup dengan yang sedikit ini.

Perhatikanlah atsar kedua dalam asmaul Husna dari nama ar-Razzaaq dan al-Ghaffaar, pada makhluk! Renungkanlah atsar-nya secara mendalam! Lihatlah bagaimana rezeki dan maghfirah-Nya mencukupi mereka semua! Masing-masing makhluk punya bagian rezeki dan ampunan-Nya, baik yang berhubungan dengan kehidupan kedua (kiamat) atau khusus (terbatas) pada kehidupan sekarang ini.
loading...
Allah Maha Pemurah, Pemberi karunia dan Nikmat

Allah Maha Pemurah, Pemberi karunia dan Nikmat

Hikmah Kedua dari sekian banyak hikmah yang hanya diketahui oleh Allah SWT dari adanya perbuatan dosa dan maksiat adalah bahwa Allah SWT senang memberi mereka karunia, menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya dan memperlihatkan kemurahan-Nya.

Karena Allah SWT begitu senang memberi karunia dan nikmat, maka Allah SWT memperbanyak variasinya, baik dalam bentuk nikmat lahir dan batin kepada manusia. Di antara kebaikan dan kemurahan Allah SWT adalah, Allah SWT memaafkan orang yang berbuat dzalim, berbuat baik kepada orang yang bertindak salah, mengampuni orang-orang yang berbuat dosa, serta menerima taubat orang-orang yang bertaubat.

Allah SWT telah menyeru hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan baik dan terpuji serta etika yang utama ini, dan tentu Allah SWT lebih patut melakukannya daripada mereka. Dalam memasang sebab-sebabnya, Allah SWT memiliki hikmah yang mencengangkan akal manusia. Subhanallah.

Baca juga Cara Sholat taubat dan doanya

Ada Seorang arif yang menuturkan pengalamannya yaitu sebagai berikut :

Pada suatu malam nan gelap gulita dan terguyur hujan yang deras aku berthawaf, selesai thawaf dan jiwaku merasa puas, aku berdiri di dekat Multazam seraya berdoa, 'Ya Allah, jagalah aku (berilah aku 'ishmah) agar aku tidak berbuat dosa!' Saat itu juga aku mendengar bisikan, 'Engkau meminta 'ishmah kepada-Ku. Dan, semua hamba-Ku meminta 'ishmah.

Kalau aku memberi mereka 'ishmah, kepada siapa Aku memberi karunia, dan siapa yang Aku ampuni?!' Mendengar itu, aku beristighfar hingga pagi karena malu kepada-Nya."

Demikianlah.... Kalau Allah SWT berkehendak tidak ada yang berbuat dosa di permukaan bumi, pasti tidak akan ada yang melakukan dosa. Akan tetapi, kehendak Allah SWT menuntut sesuatu yang sejalan dengan hikmah-Nya. Adakah orang yang lebih bodoh tentang Allah SWT dari mereka yang mengatakan bahwa dia berbuat maksiat secara terpaksa, tanpa ikhtiar dan kehendaknya? Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan itu.
loading...
Kasih Sayang Allah, Menutupi dosa Hamba-Nya

Kasih Sayang Allah, Menutupi dosa Hamba-Nya

Hikmah dari adanya perbuatan dosa yang hanya diketahui Allah SWT salah satunya adalah memberitahu hamba-Nya tentang keluasan kasih sayang dan karunia-Nya dengan menutupi dosa yang mereka perbuat.Baca juga 31 Hikmah adanya perbuatan dosa dan maksiat.

Kalau mau, tentulah Allah SWT sudah menyingkap dan memperlihatkan dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia di hadapan khalayak ramai sehingga mereka tidak merasakan kenikmatan hidup bersama mereka. Akan tetapi, Allah SWT menutupi dan menjaganya dengan kasih-Nya saat tengah berbuat dosa. Dia menyaksikannya manusia itu ketika secara terang-terangan berbuat dosa dan maksiat di depan Allah SWT.

Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Allah SWT berfirman: "Akulah Yang Maha Pemurah dan Mulia. Siapa yang lebih pemurah dan mulia dari Aku! Hamba-hamba-Ku terang-terangan berbuat dosa di depan-Ku tapi Aku memberi makan kepada mereka di rumah mereka."

Adakah kasih sayang yang lebih dari ini? Adakah kemurahan yang lebih dari kemurahan Allah SWT ini? Kalaulah bukan karena kasih sayang, kemurahan, dan pengampunan Allah SWT, tentu langit dan bumi tidak tetap di tempatnya. 

Firman Allah di dalam Al-Qur'an yang berbunyi:

۞إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا ٤١

Artinya: Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. Faathir: 41)

Ayat ini menuntut adanya sifat santun (Haliim) dan pengampun (Ghafuur). Kalau bukan karena santun dan ampunan Allah SWT, pasti bumi dan langit sudah lenyap. Ini sama dengan kandungan ayat dari Firman Allah SWT berikut ini:

تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا ٩٠ أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٗا ٩١

Artinya: Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (QS. Maryam: 90-91).

Begitu besar kasih sayang, kemurahan, dan pengampunan Allah SWT bagi hambanya dalam menyembunyikan dosa dan memberikan pengampunan kepada siapa saja yang Allah SWT kehendaki. Subhannallah....
loading...

Tuesday, December 6, 2016

Allah Sangat Mencintai Orang yang Bertaubat

Allah Sangat Mencintai Orang yang Bertaubat

Menyambung artikel 31 hikmah adanya perbuatan dosa dan maksiat, bahwa salah hikmahnya adalah bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya yaitu taubat yang memenuhi syarat-syarat taubat.

Dia Allah SWT mencintai orang-orang yang bertaobat. Begitu intanya Allah kepada orang-orang yang bertaubat, Allah SWT gembira dengan taubat mereka. Kegembiraan Allah SWT ketika mendapati seorang hamba yang bertaubat lebih besar daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali unta tunggangannya yang membawa makanan dan minuman, ketika unta itu hilang di sebuah padang pasir—sementara ia sudah putus asa mencari-carinya. Tidak ada kegembiraan yang lebih besar dari kegembiraan orang seperti ini.

Kalau bukan karena cinta yang luar biasa kepada taubat dan orang-orang yang bertaubat, kegembiraan ini tidak terjadi. Kita maklum bahwa mustahil ada akibat tanpa ada sebabnya. Adakah tujuan tanpa sarananya? Tentu tidak ada! Inilah makna yang terkandung dari perkataan seorang arif, yang mengatakan sebagai berikut:

"Seandainya taubat bukan sesuatu yang paling dicintai-Nya, tentu Dia tidak menguji makhluk yang paling mulia di sisi-Nya (para Nabi) dengan dosa." Jadi, tobat adalah kesempurnaan paling tinggi bagi setiap manusia.

Kesempurnaan Nabi dan Bapak pertama manusia yaitu Nabi Adam adalah dengan taubat itu. Betapa jauh beda keadaannya antara ketika dikatakan kepadanya,

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ ١١٨  وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ ١١٩

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya" (QS. Thaahaa: 118-119)

Dan ketika dikatakan kepadanya,

 ثُمَّ ٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ فَتَابَ عَلَيۡهِ وَهَدَىٰ ١٢٢

Artinya: Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan memberinya petunjuk." (QS. Thaahaa: 122)

Keadaan pertama adalah keadaan makan, minum, dan bersenang-senang. Keadaan kedua adalah keadaan pemilihan dan hidayah. Alangkah jauhnya perbedaan (derajat) keduanya. Karena kesempurnaan Adam adalah dengan taubat, maka kesempurnaan anak cucunya juga dengan taubat seperti firman Allah SWT,

لِّيُعَذِّبَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَٰتِ وَيَتُوبَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمَۢا ٧٣

Artinya: sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Ahzaab: 73)

Jadi kesempurnaan manusia di dunia ini adalah dengan taubat yang nashuuhah atau taubat dengan taubat yang sesungguhnya, dan di akhirat dengan keselamatan dari neraka serta masuk surga. Kesempurnaan ini timbul akibat dari kesempurnaannya yang pertama.

Baca juga
Gambaran surga dan neraka dalam AL-Qur'an
Hisab Amla perbuatan manusia di akhirat 
Hari Akhir, Hari kiamat

Intinya, bahwa karena cinta Allah SWT dan kegembiraan-Nya dengan taubat, maka Dia menakdirkan hamba-Nya berdosa. Apabila termasuk orang yang telah mendapat ketetapan yang baik, Dia menakdirkannya bertaobat. Tapi apabila dia adalah orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya, maka Dia akan mengemukakan hujjah keadilan-Nya dan menghukumnya atas dosanya.
loading...

Tuesday, May 3, 2016

Cara-Cara Melihat Bukti Kekuasaan Allah swt

Cara-Cara Melihat Bukti Kekuasaan Allah swt

Terdapat dua cara dalam memandang, Memperhatikan dan melihat tanda-tanda dari kekuasaan Allah swt. apa saja dua cara dalam memandang bukti atau tanda kekuasaan Allah swt?

Cara memandang tanda atau bukti kekuasaan Allah swt. yang pertama adalah melihat dengan mata kepala. Suatu contoh melihat akan birunya langit, tinggi dan luasnya langit, keberadaan bintang-bintang dan semua isinya. Ini adalah suatu bentuk perhatian yang sama antara hewan dan manusia. Dan, cara melihat tanda bukti kekuasaan Allah swt yang demikian tidak diperintahkan.

Cara melihat tanda atau bukti kekuasaan Allah swt yang Kedua adalah dengan, melihat menggunakan mata hati atau bashirah.. dengan demikian, maka pintu-pintu langit akan terbuka dan ia berkelana di seluruh penjuru kerajaan langit di antara para malaikat. Pintu demi pintu akan terbuka hingga sampailah perjalanan hati ke 'Arsy. Maka dia menyaksikan keagungan-Nya, kekuasaan-Nya, ketinggian dan kebesaran-Nya. Dia akan melihat keberadaan ketujuh langit serta ketujuh lapis bumi itu jika dibanding Arasy seperti satu butir tasbih yang terbuang di padang maha luas.

Orang yang dapat melihat bukti kekuasaan Allah swt. seperti ini dapat melihat adanya para malaikat yang melingkar di sekeliling Arsy. Suara dari para malaikat yang ramai dengan membaca tasbih, tahmid, serta takbir. Perintah-perintah turun dari atas untuk mengatur para tentara yang jumlahnya hanya Allah swt saja yang mengetahuinya.

Sehingga, terkadang turun suatu perintah untuk menghidupkan suatu kaum dan disisi lain turun perintah untuk mematikan kaum yang lain, memuliakan suatu kaum dan menghinakan suatu kaum yang lain, perintah membahagiakan suatu kaum dan perintah menyengsarakan suatu kaum yang lain, mendirikan suatu kekuasaan dan menumbangkan kekuasaan yang lain, dan memindahkan karunia nikmat dari suatu tempat ke tempat yang lain. Seta perintah memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang serba beraneka ragam seperti misalnya mengayakan orang-orang miskin, menyembuhkan orang yang sakit, menghilangkan kesusahan seorang, mengampuni dosa, menolong orang teraniaya, memberi hidayah, mengajari orang tak berilmu, mengembalikan orang yang hilang, mengamankan orang yang ketakutan, melindungi orang yang membutuhkan perlindungan, membantu mereka orang yang lemah, membalas tindakan orang yang zalim atau mencegah tindakan dan perbuatan aniaya.

Kesemuanya itu berkisar antara keadilan dan karunia atau hikmah dan rahmah yang berlaku pada alam dan semua isinya. Mendengar suatu permohonan serta laporan tidak akan mengganggu Allah swt. untuk mendengar yang lain. Banyaknya doa dan permintaan serta kebutuhan yang bersamaan waktunya tidak akan mungkin dapat membingungkan. Allah swt. tidak bosan dan marah apabila orang-orang terus selalu memohon kepada-Nya. Khazanah Allah swt. tidak akan berkurang sedikit pun. Tiada Tuhan Selain Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Mulia dan Maha Bijaksana.

Pada saat seseorang memandang dengan hati atau basyirah, maka hati berdiri di hadapan Allah swt. Tuhan yang Esa, hati tunduk kepada wibawa Allah swt, khusyu kepada keagungan Allah swt., tertawan oleh kemuliaan Allah swt. Maka, seseorang dengan hati seperti ini, dia sujud di hadapan Allah swt. Sang Maha Raja yang Haq adanya. Dia tidak lagi pernah mengangkat kepalanya hingga hari pembalasan.

Yang demikianlah perjalanan hati. Amat jauh hati berkelana meski tetap ada di tempat asalnya yaitu dunia dan tidak beranjak dari dunia. Ini adalah salah satu keajaiban dan ayat Allah swt. yang paling besar. Alangkah sangat menggembirakan, banyak berkahnya serta manis buahnya. Alangkah agung manfaatnya serta baik akibatnya. Begitulah perjalanan hati. Perjalanan yang dijadikan sebagai syarat hidupnya ruh, kunci dari kebahagiaan, ghanimah akal pikiran. Tidak seperti sebuah perjalanan yang merupakan satu episode azab.

Bukti kekuasaan Allah swt. ada dimana-mana baik di dunia maupun di akhirat untuk kita lihat, baik dengan mata telanjang dan lebih-lebih dapat memandangnya dengan pandangan hati. Wallahu ‘alam.
loading...

Wednesday, January 20, 2016

Tidak Ada Artinya Ibadah Tanpa Ilmu dan Ma’rifat

Tidak Ada Artinya Ibadah Tanpa Ilmu dan Ma’rifat



Tidak ada artinya ibadah tanpa ilmu dan ma'rifat (mengenal Allah)

Adanya berbagai macam ciptaan Allah swt. berupa alam dan seisinya adalah menunjukkan adanya sang pencipta, yaitu Allah swt. 'Azza wa Jalla. Hendaknya kita sebagai hamba Allah swt. juga tidak meragukan hal-hal yang gaib mengenai Allah swt. dimana Allah swt. tidak dapat ditangkap dan dilihat dengan panca indra. Akan tetapi, bukti-bukti akan ciptaan-Nya, manusia, alam semesta dan seisinya sudah cukup menunjukkan bahwa Allah swt itu ada.

Dengan demikian seseorang akan yakin dan percaya, bahwa diri mereka memiliki Tuhan yang memerintah dan melarangnya.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Itulah tahapan pertama dan awal yang harus dilaluinya oleh seseorang dalam menjalankan amal ibadah, yaitu ilmu dan Ma'rifat.

Perlu kita ketahui bersama bahwa ibadah seseorang tanpa ilmu dan ma'rifat maka ibadah mereka tidak ada artinya. Hal ini karena manusia di dalam menjalankan amal ibadah mereka, harus mengetahui dengan benar apa yang dikerjakannya. Kemudian, tidak dapat tidak harus meniti tahapan itu, apabila tidak ingin mendapatkan celaka. Maksudnya adalah, harus belajar (mengaji) untuk dapat beribadah serta menempuhnya dengan sebenar-benarnya, dan kemudian merenungkan dan memikirkan bukti-buktinya.

Dengan melakukan hal-hal mendalami Kitabullah al-Qur'an, banyak bertanya kepada para alim, bertanya kepada para ulama tentang alam akhirat, serta kepada penerang umat, kepada para imam, dan lewat ilmu pengetahuan mereka, semoga Allah SWT. Senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita sehingga dapat mengerti ilmu dan ma’rifat.

Dengan taufik dan pertolongan Allah swt, semoga kita dapat melampaui akan melampaui tahapan ilmu dan ma’rifat sehingga seseorang yakin dan percaya bahwa mereka mempunyai Tuhan yang memerintah dan melarangnya. Setelah cukup, maka berhasillah seseorang dalam menguasai ilmu yakin. seseorang akan yakin akan adanya hal-hal dan perkara yang gaib, percaya akan adanya Allah swt., percaya akan adanya Rasulullah SAW., percaya akan adanya surga dan neraka, percaya akan adanya hisab, percaya akan adanya nusyur, percaya akan adanya wuquf fil-mahsyar, dan hal lain sebagainya.

Pada kondisi seseorang yang demikian, seseorang telah meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan, Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya, Tuhan yang memerintahnya, Tuhan yang mencIptakannya, untuk bersyukur,' untuk khidmat dan melayani Tuhan serta taat dan taqwa secara lahir dan batin.


Tuhan yang memerintahkannya untuk berhati-hati, sehingga seseorang jangan sampai berbuat dan bertindak kufur. Tuhan juga melarang melakukan perbuatan dan tindakan maksiat. Bagi orang-orang yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa, Allah swt telah berjanji akan memberikan pahala yang kekal. Namun sebaliknya, bagi mereka yang berpaling dan mendurhakai-Nya maka bagi mereka diberikan hukuman yang kekal.


Dengan pengetahuan dan keyakinan akan hal dan perkara yang gaib tersebut akan dapat mendorong seseorang untuk berkhidmat dan melakukan serta mengerjakan amal ibadah dengan sepenuh hati, seseorang akan menghambakan diri kepada Tuhan Sang pemberi nikmat, yaitu Allah swt. Dengan demikian, maka itu artinya seseorang telah menemukan apa yang selama ini dia cari.

Apa yang diperlukan untuk dapat berkhidmat melayani Tuhan secara lahir dan batik?

Pada kondisi seseorang sudah mengenal Tuhan. Akan tetapi, seseorang tersebut belum mengetahui bagaimana cara harus beribadah kepada-Nya? Apa saja yang diperlukan untuk dapat berkhidmat atau melayani Tuhan secara lahir dan batin?

Setelah seseorang mengetahui cara ma'rifat kepada Allah. SWT., maka seseorang akan bersungguh-sungguh di dalam mempelajari bagaimana cara beribadah kepada-Nya. Hal ini artinya adalah bahwa setelah selesai seseorang belajar tentang ilmu tauhid, mempelajari ilmu fikih mengenai bagaimana cara berwudhu, bagaimana cara shalat, dan ilmu fikih yang lain sebagainya, yang merupakan ilmu wajib atau fardhu, beserta syarat-syaratnya. Setelah seseorang cukup mendapatkan ilmu pengetahuan yang fardhu atau wajib dan ilmu Ibadah, maka kini seseorang benar-benar berniat untuk mengerjakan ibadah karena telah mempelajari bagaimana seharusnya cara beribadah.

Akan tetapi, seseorang kemudian berpikir dan menyadari bahwa dirinya telah banyak melakukan kesalahan, perbuatan dosa, melakukan tindakan dan perbuatan maksiat. Dalam benaknya berkata bahwa : Dia telah banyak berbuat dosa di masa lalu.

Itulah  sifat manusia,   seseorang akan sadar  sebelum  mengerjakan ibadah   kemudian  terus memikirkannya!. Bagaimana aku beribadah, sedangkan aku masih berbuat dan melakukan dosa? Mengapa aku mengerjakan ibadah sambil durhaka? Sungguh diriku ini sarat dengan kedurhakaan.

Apabila demikian, maka terlebih  dahulu  aku harus bertaubat untuk membersihkan  diri ini dari perbuatan dosa, maksiat, menunjukkan rasa penyesalan, sehingga Allah swt. mau membersihkan dan mengampuni diriku dari segala perbuatan dosa. Selanjutnya, aku akan melayani, berkhidmat serta berusaha mendekatkan diri kepada Allah swt.


Dalam keadaan ini, maka seseorang harus melalui tahapan berikutnya yaitu taubat dengan sebenar-benarnya taubat. Memang sangat sulit untuk menjalankannya. Hal ini karena sebelum seseorang dapat mencapai  tujuan  Ibadah,  maka terlebih dahulu harus bertaubat. Wallahu a’lam
loading...

Monday, January 18, 2016

Melawan Godaan-Godaan Penghalang Manusia Beribadah

Melawan Godaan-Godaan Penghalang Manusia Beribadah

Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Namun, demikian, kewajiban manusia adalah melakukan taubat atas kesalahan dan dosa yang dilakukannya dengan taubat yang sebenar-benarnya taubat. Setelah melakukan taubat yang baik dan dengan sebenar-benarnya taubat, kemudian timbul niat untuk mengerjakan ibadah-ibadah yang diperintahkan oleh Allah swt. serta menjauhi segala larangan-larangan-Nya. akan tetapi niat tersebut dapat terganggu oleh godaan-godaan yang akan tetap selalu ada dalam pikiran manusia yang dapat menghalangi manusia dalam melaksanakan niat tersebut.

Baca juga Macam-macam Dosa


Terdapat empat macam godaan-godaan yang sifatnya selalu ada dan tetap dan dapat menghalangi niat seseorang dalam melaksanakan niat ibadah adalah dunia, manusia, setan dan hawa nafsu.

Oleh sebab itu, seseorang yang berkeinginan untuk dapat mencapai tujuan ibadah sebagaimana niat yang mereka ikrarkan, maka mereka harus mampu dan dapat melewati setiap godaan-godaan yang ditimbulkan oleh empat perkara di atas.

Bagaimana cara melawan, melewati dan menghadapi godaan-godaan tersebut di atas??

Untuk dapat melawan, menghadapi agar dapat melewati godaan-godaan di atas, maka seseorang wajib menempuh dan menjalaninya dengan empat cara, yaitu sebagai berikut:
  • Cara pertama adalah dengan membulatkan tekad sehingga kesenangan dunia tidak dapat menggoyahkan tekad dan niat.
  • Cara yang kedua adalah dengan menjaga diri serta senantiasa waspada sehingga tidak tersesat oleh karena godaan orang lain.
  • Cara yang ketiga adalah dengan memerangi musuh yang nyata bagi manusia yaitu setan dengan segala tipu daya setan.
  • Cara yang keempat adalah hendaknya mampu mengendalikan hawa nafsu.
http://islamiwiki.blogspot.com/
Dari keempat macam godaan tetap di atas, godaan yang paling sukar dan terberat adalah memerangi dan mengendalikan hawa nafsu. Hal ini dikarenakan, hawa nafsu tidak dapat dikikis sampai habis, sampai terpisah dari  hawa nafsu, karena  hawa nafsu juga  memiliki  manfaat,  selama  hawa nafsu ini tidak mengendalikan dan mengalahkan pikiran kita.


Manusia tidak mungkin dapat mematikan hawa nafsu, namun hendaknya tidak membiarkan hawa nafsu kita dapat mengendalikan pikiran kita. Karena sudah kodrat manusia diciptakan dengan empat sifat yang salah satunya adalah mempunyai hawa nafsu. Dan manusia tidak mungkin hidup tanpa adanya hawa nafsu.


Berbeda dengan makhluk Allah swt yang namanya setan. Setan dapat ditaklukkan dengan mutlak. Bahkan, setan yang menggoda Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Dapat ditaklukkan Nabi saw. dan kemudian masuk lslam.

Dari contoh Nabi saw. yang mampu menaklukkan setan dengan mutlak dan dapat mengajaknya masuk Islam. Maka, kita hendaknya wajib dapat mengalahkan setan dengan mutlak. Sehingga kita dapat mengatasi salah satu godaan tetap dari setan.

Hawa nafsu akan selalu ada dalam diri manusia. Namun, kita tidak akan mungkin dapat mengalahkannya hingga mematikannya, akan tetapi kita dituntut untuk harus dapat mengendalikan hawa nafsu. Sebab, sifat hawa nafsu ini tidak akan menuntun manusia untuk berbuat kebajikan dan kebaikan, melainkan menuntun manusia untuk berbuat keburukan dan kesesatan.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Sifat hawa nafsu sangat sulit untuk diajak kompromi guna membulatkan tekad hati untuk beribadah kepada Allah swt. Hal ini dikarenakan hawa nafsu senantiasa akan menjauhkan kita dari Allah swt.

Apabila kita menuruti hawa nafsu, maka hal ini hanya akan membuat kita menjadi lupa kepada Allah swt. Oleh karena itu, maka manusia memerlukan alat yang dapat mengendalikan hawa nafsu, alat untuk mengendalikan hawa nafsu adalah taqwa.


Hawa nafsu, apabila dapat kita ibaratkan adalah seperti mengendalikan kida liar yang binal. Maka kita sebagai hamba Allah yang taqwa harus dapat mengendalikan hawa nafsu untuk hal-hal kebenaran dan kebaikan. Dan jangan sampai hawa nafsu ini terjerumus kepada hal dan perkara yang dapat merusak, menyesatkan dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain.

Godaan-godaan tetap akan selalu ada dan menggoda manusia dalam menjalankan ibadah dan perintah Allah swt. Mari kita senantiasa memohon pertolongan Allah swt dengan selalu berdoa, berusaha dan bertawakkal kepada-Nya sehingga kita dapat menjalankan Ibadah kepada Allah swt. dan mendapat ridhanya. Amin.
loading...

Saturday, January 16, 2016

Empat Pilar Mengikuti Petunjuk Allah yang Hakiki

Empat Pilar Mengikuti Petunjuk Allah yang Hakiki

Petunjuk Allah swt. senantiasa dinantikan hamba-Nya dalam mengarungi kehidupan di dunia yang hanya sebentar dan tidak akan kekal. Petunjuk Allah swt. akan membawa keberuntungan dan keamanan sebagaimana keterangan pada pembahasan terdahulu pada artikel petunjuk membawa keberuntungan dan kesesatan membawa penderitaan.

Firman Allah swt. di dalam Al-Qur’an:

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Artinya: Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. al-Baqarah: ayat 5)

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ

Artinya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-An’am: ayat 82)



Empat Pilar mengikuti Petunjuk Allah yang Hakiki

http://islamiwiki.blogspot.com/
Hakikat makna mengikuti petunjuk Allah ialah membenarkan semua pemberitahuan-Nya dan tanpa menunjukkan keraguan sedikitpun yang dapat merusak pembenaran tersebut, serta mengerjakan semua perintah-perintah-Nya tanpa adanya hawa nafsu yang dapat menjadi penghalang. Kedua hal ini yaitu pembenaran akan semua pemberitahuan Allah dan ketaatan kepada-Nya adalah merupakan inti dari keimanan, Setelah itu, kedua perkara tersebut harus diikuti dengan dua hal yaitu menghilangkan semua keraguan yang dapat menghalangi serta mengotori kesempurnaan dari pembenaran tersebut, dan juga menolak hawa nafsu yang dapat menggoda dan menyesatkan yang dapat menghalangi kesempurnaan pelaksanaan perintah-perintah Allah swt.

Dengan demikian terkandung empat perkara atau empat hal dari makna hakikat dari mengikuti petunjuk Allah yaitu
  • Pertama membenarkan semua pemberitahuan-Nya,
  • Kedua berupaya sekuat tenaga dalam melawan dan menolak semua keraguan yang dibisikkan oleh setan baik dari jenis jin maupun manusia,
  • Ketiga menaati semua perintah-perintah-Nya,
  • Keempat melawan hawa nafsu yang dapat menghalangi diri dalam menyempurnakan ketaatan kepada Allah swt.

Kedua perkara yaitu hawa nafsu dan keraguan adalah merupakan pangkal dari kesengsaraan seseorang dan menjadi penyebab penderitaan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dan sebaliknya, ketaatan kepada perintah dan pembenaran terhadap wahyu Allah adalah merupakan pangkal dari keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dua kekuatan dari hamba Allah.

Seorang hamba Allah swt. mempunyai dua kekuatan yang dapat membawa kepada mengikuti petunjuk Allah.

Kekuatan pertama adalah kekuatan mengetahui, menganalisa, dan segala sesuatu yang menjadi konsekuensi dari kedua hal tersebut, yaitu berupa ilmu, pengetahuan dan kemampuan berbicara. Kekuatan kedua yaitu kekuatan kehendak dan cinta, serta segala hal yang mengikuti keduanya, yaitu berupa niat, tekad,serta perbuatan.

Kedua kekuatan manusia tersebut dapat dilemahkan karena sifat keraguan. Apabila keraguan seseorang ini tidak dilawan untuk dihilangkan, maka keraguan akan dapat melemahkan kekuatan analisa ilmiah. Hawa nafsu atau Syahwat apabila tidak dibersihkan akan dapat membuat kekuatan kehendak untuk dan dalam menunaikan perintah-perintah Allah swt.

Allah swt. berfirman di dalam Al-Qur’an yang memberitahukan dan menerangkan tentang kesucian dan terhindarnya Nabi Muhammad saw. dari segala kesalahan:

وَٱلنَّجۡمِ إِذَا هَوَىٰ . مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوَىٰ

Artinya: Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. (QS. al-Najm: 1-2)


Tidak tersesatnya Rasulullah saw. ini menunjukkan dan menandakan kesempurnaan ilmu dan pengetahuan Nabi. Hal ini juga menujukkan dan mengindikasikan bahwa segala pemberitaan yang dibawa Nabi Muhammad saw. adalah benar adanya. Ketidakkeliruan Nabi Muhammad saw. menunjukkan sempurnanya kebenaran yang dibawa oleh beliau, dan hal ini juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah manusia pilihan di dunia ini. Dengan demikian, Nabi Muhammad saw. adalah seorang hamba yang sempurna dalam ilmu dan amalnya. Nabi saw. juga menyebutkan bahwa para sahabat Khulafa'urrasyidin mempunyai sifat-sifat yang layak menjadi panutan, sehingga Nabi Muhammad memerintahkan kepada umatnya untuk mengikuti mereka para Khulafa'urrasyidin.

Dalil hadits Nabi saw. : Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur-raasyidin, yang mendapatkan petunjuk sesudahku. (HR Tirmidzi).

Firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

كَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ كَانُوٓاْ أَشَدَّ مِنكُمۡ قُوَّةٗ وَأَكۡثَرَ أَمۡوَٰلٗا وَأَوۡلَٰدٗا فَٱسۡتَمۡتَعُواْ بِخَلَٰقِهِمۡ فَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِخَلَٰقِكُمۡ كَمَا ٱسۡتَمۡتَعَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُم بِخَلَٰقِهِمۡ وَخُضۡتُمۡ كَٱلَّذِي خَاضُوٓاْۚ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

Artinya: (keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. at-Taubah: 69)

Dua penyakit penghalang kepada petunjuk Allah

Berdasarkan ayat di atas, Allah swt. menerangkan bahwa terdapat dua hal yang merupakan penyakit bagi orang-orang terdahulu dan juga menjadi penyakit bagi orang-orang yang datang kemudian.

Hal pertama adalah bersenang-senang dan menikmati jatah mereka di dunia.

Dengan bersenang-senang dan menikmati jatah mereka di dunia, maka mereka akan mengikuti hawa nafsu atau syahwat yang dapat menjadi penghalang untuk mengikuti perintah-perintah-Nya. Hal ini bertolak belakang dengan dengan orang-orang mukmin. Meskipun orang-orang mukmin memperoleh jatah di dunia, akan tetapi mereka mengetahui dan tidak menikmati semuanya dan tidak juga menghabiskan umur mereka hanya untuk kehidupan dunia yang hanya sebentar belaka. Mereka para orang mukmin menggunakan jatah atau bagian dunia mereka untuk membuat diri mereka mampu mencari dan mempersiapkan bekal bagi hari kemudian yang kekal yaitu kehidupan di akhirat.


Hal yang Kedua adalah membicarakan hal-hal yang meragukan dan tidak benar.

Berfirman Allah swt. di dalam Al-Qur’an:

كَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ كَانُوٓاْ أَشَدَّ مِنكُمۡ قُوَّةٗ وَأَكۡثَرَ أَمۡوَٰلٗا وَأَوۡلَٰدٗا فَٱسۡتَمۡتَعُواْ بِخَلَٰقِهِمۡ فَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِخَلَٰقِكُمۡ كَمَا ٱسۡتَمۡتَعَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُم بِخَلَٰقِهِمۡ وَخُضۡتُمۡ كَٱلَّذِي خَاضُوٓاْۚ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

Artinya: (keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi. ." (QS. at-Taubah: 69)

وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِهَا وَيُسۡتَهۡزَأُ بِهَا فَلَا تَقۡعُدُواْ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦٓ إِنَّكُمۡ إِذٗا مِّثۡلُهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. An-Nisa’ : 140

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS. Al-An’am: 68)

Ayat-ayat tersebut di atas memberikan keterangan tentang jiwa-jiwa yang tersesat, yang tidak diciptakan untuk kehidupan akhirat. Mereka senantiasa melampiaskan syahwat, yang membicarakan hal-hal yang meragukan dan tidak benar, memperbincangkan hal-hal batil yang tidak bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Salah satu di antara kesempurnaan hikmah dari Allah SWT adalah bahwa Allah menguji jiwa manusia dengan kesusahan dan penderitaan untuk mencapai keinginan dan hawa nafsunya. Oleh karena itulah, hanya ada sedikit jiwa manusia yang tidak terjerumus ke dalam kesalahan atau kebatilan.


Dan manakala jiwa-jiwa tersebut hanya mengejar perkara-perkara yang batil, maka niscaya mereka akan menjadi para penyeru untuk ke neraka. Inilah perihal orang-orang yang hanya berkonsentrasi pada kebatilan.

Pembawa kebenaran dan membenarkan

Dan arti makna dari pembicaraan dalam ayat-ayat di atas adalah seperti dua kelompok yang sedang atau telah memperbincangkan.  Sebagaimana terdapat dalam firman Allah:

وَٱلَّذِي جَآءَ بِٱلصِّدۡقِ وَصَدَّقَ بِهِۦٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ. لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمۡۚ ذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ .

Artinya: Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik. (QS. Az-Zumar 33-34)

Juga Firman Allah swt.:


وَخُضۡتُمۡ كَٱلَّذِي خَاضُوٓاْ

"Kamu mempercakapkan hal yang batil sebagaimana mereka mempercakapkannya." (at-Taubah: 69)

Dengan demikian, Allah swt dalam ayat-ayat di atas, sangat mencela orang-orang yang memperbincangkan, membicarakan hal-hal yang batil dan perkara kebatilan yang tidak ada gunanya dan hanya mengikuti hawa nafsu. Allah swt. juga menyebutkan bahwa orang-orang yang berbuat demikian, maka mereka akan kehilangan amal perbuatannya di dunia dan di akhirat, dan mereka termasuk ke dalam orang-orang yang merugi dunia dan akhirat. Naudzubillahi min dzalik.

Padanan dari ayat di atas dapat diibaratkan perkataan atau pembicaraan penghuni neraka kepada penghuni surga ketika mereka ditanya apa penyebab mereka masuk ke dalam neraka, sebagaimana diceritakan dalam firman Allah swt. dalam ayat berikut:

قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ .  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ . وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ .  وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّين

Artinya: Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya dan adalah kami mendustakan hari pembalasan (QS. al-Muddatstsir: 43-46)

Dalam firman Allah tersebut di atas, menyebutkan tentang dua sebab masuknya mereka ke dalam neraka. Sebab pertama adalah mereka membicarakan hal dan perkara-perkara yang batil, yang membuat mereka mendustakan akan adanya hari pembalasan. Sebab kedua adalah karena mereka mengikuti tuntutan hawa nafsu atau syahwat dengan konsekuensi meninggalkan ibadah shalat dan tidak memberi makan orang-orang miskin. Wallaahu a’lam.


Pada akhirnya kelak nanti kita akan meninggalkan kehidupan dunia yang hanya sementara dan semu. Untuk menempuh perjalan yang panjang menuju kehidupan yang kekal kelak nanti di akhirat mari kita mengikuti petunjuk Allah swt dengan sebenar-benarnya, yang meliputi membenarkan semua pemberitahuan-Nya, berupaya sekuat tenaga dalam melawan dan menolak semua keraguan yang dibisikkan oleh setan baik dari jenis jin maupun manusia, menaati semua perintah Allah, melawan hawa nafsu yang dapat menghalangi diri dalam menyempurnakan ketaatan kepada Allah swt.
loading...

Tuesday, November 3, 2015

Cara Menemui dan Bertemu Allah swt

Cara Menemui dan Bertemu Allah swt

Pembahasan mengenai bertemu dengan Allah adalah termasuk dalam keilmuan tasawuf dan hanya dapat dijelaskan dengan baik oleh seorang ahli ilmu tasawuf yaitu ahli sufi yang sudah mencapai tingkatan spiritual (maqam) cinta Allah swt. atau mahabbah dan maqam mengenal Allah swt. atau maqam ma’rifatullah. Dan salah satu jalan untuk bertemu Allah swt. adalah dengan berkunjung ke rumah Allah, yaitu Baitullah.

Diterangkan dalam hadits Qudsi dari Abu Hurairah Ra. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah saw. bersabda yang artinya: Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung akan berfirman pada Hari Kiamat, Wahai putra-putri Adam (Ibnu Adam), Aku sakit, tetapi mengapa engkau tak mengunjungi-Ku? Ibnu Adam bertanya, Yaa Rabb, bagaimana aku mengunjungi-Mu sedang Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam? Allah berfirman, Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sekiranya engkau menjenguknya, niscaya engkau akan menemukan Aku di sana.

Baca juga  

Wahai putra-putri Adam, Aku minta makanan kepadamu, tapi mengapa engkau tidak memberi-Ku makan?' Ibnu Adam pun bertanya, 'Ya Rabb, bagaimana aku memberi-Mu makan, sedang engkau adalah Tuhan seru sekalian alam?' Allah berfirman, 'Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si Fulan telah meminta makanan kepadamu, mengapa engkau tidak memberinya makan? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makan, niscaya engkau akan mendapatkan itu (ganjarannya) di sisiku?

http://islamiwiki.blogspot.co.id/
Add caption
Apabila kita dapat menyimak hadits qudsi di atas, akan terdapat beberapa pesan mengenai jalan untuk bertemu Allah swt. beberapa jalan bertemu dan menemui Allah swt antara lain sebagai berikut:

Jalan untuk menemui dan bertemu Allah adalah dengan menjenguk orang sakit.

Orang yang sakit terutama sakit keras adalah orang yang sedang dalam persimpangan jalan yaitu jalan di antara hidup dan kematian. Seseorang yang terutama sakit keras dan kritis, mereka adalah sedemikian dekat dengan Allah swt. dan seharusnya, mereka berhak untuk dijenguk oleh sesama muslim. Dan bagi seorang muslim adalah wajib untuk menjenguk mereka. (HR. Muslim).

Dengan mengunjungi orang yang sedang sakit selain telah menyelesaikan kewajiban di antara sesama muslim yang lain, juga dapat mempererat keharmonisan sebagai makhluk sosial dan tali persaudaraan sesama saudara muslim atau silaturahmi. Jika kita ingin bertemu Allah, maka kunjungilah orang sakit yang hanya bersandar serta bergantung sepenuhnya kepada Allah akan hidup dan matinya.

Baca juga
   
Jalan kedua menemui dan bertemu Allah swt. adalah dengan memberi makan dan minum kepada kaum dhuafa yang memerlukan

Memberi bantuan kepada orang miskin dan dhuafa sangat dianjurkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad saw. Kaum dan miskin dan orang dhuafa, mereka adalah orang yang dikasih dan sengaja dihadirkan oleh Allah swt untuk memberikan ujian keimanan serta komitmen hidup bersosial kita dalam usaha untuk bertemu kepada Allah swt.

Firman Allah swt dalam Al-Qur-an:

لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Baqarah : 177).

 أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ . يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ .  أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ

Artinya: atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Qs. Al-Balad 14-16)

 فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ . وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ

Artinya: Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Qs. Ad-Duha: 9-10)

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ .  فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ .  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ . فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ . ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ .  ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ . وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ .

Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Qs. Al-Ma’un : 1-7)

Dikisahkan bahwa, Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Allah swt, dimana ia dapat bertemu Allah. Allah menjawab: temuilah Aku di tengah orang-orang yang hancur hatinya. Oleh sebab itulah Allah swt. menganjurkan kita untuk memberi makan orang miskin, anak yatim dan orang yang tertawan hidupnya. Bahkan seseorang akan mendapat predikat sebagai pendusta agama apabila tidak menyantuni orang miskin dan anak yatim.

Ajaran Islam mengajarkan kepada umat Islam ibadah yang sesungguhnya yaitu ibadah yang tidak hanya individual kepada Allah semata akan tetapi ibadah yang juga berdimensi sosial kepada sesama manusia. Kata-kata bijak yang perlu diterapkan dalam kehidupan kita adalah janganlah menunggu kaya baru mengerjakan bersedekah, bersedekahlah agar menjadi kaya. Janganlah menunggu kesuksesan baru bersyukur, akan tetapi bersyukurlah agar kita bertambah sukses. Mari kita niatkan bahwa semua amal ibadah yang kita lakukan di dunia ini baik ibadah duniawi dan ibadah akhirat adalah semata-mata untuk dan kerana Allah untuk mempersiapkan tempat terindah kita di akhirat kelak di surga. Maka dari itu persiapkanlah dengan baik jawaban untuk menghadap Allah swt.
loading...

Saturday, August 29, 2015

Ajaran Islam: Kuasai Dunia, Tapi Jangan Mencintainya

Ajaran Islam: Kuasai Dunia, Tapi Jangan Mencintainya

Penyakit yang paling berbahaya bagi mukmin adalah penyakit cinta dunia dan takut mati atau penyakit wahn. Penyakit ini amat berbahaya, karena tidak akan membawa seseorang kepada tujuan yang sebenarnya yaitu selamat di akhirat, maka dari itu kita harus mematikan penyakit cinta dunia dan takut mati ini dalam diri kita.

Sebagai seorang Islam sudah seharusnya tidak mencintai dunia sehingga kita lupa akan tujuan yang sebenarnya yaitu kehidupan kekal di akhirat untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki masuk ke dalam syurga. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia diberikan perantara Dunia untuk beribadah sebanyak mungkin dan mempersiapkan bekal menuju dunia yang kekal kelak di akhirat.

Baca juga

Oleh sebab itulah kita perlu menguasai dunia, namun tidak mencintainya karena Islam adalah agama yang bersifat dua Unsur yang berbeda yang mana untuk mendapatkan ridho dari Allah kita harus bersikap anti kepada dunia dan selalu mengisi waktu untuk beribadah kepada Allah swt. melalui sarana kehidupan di dunia untuk mencari bekal.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Sebagaimana dalil Firman Allah swt. bahwa Allah tidak menciptakan jin manusia di muka bui ini kecuali untuk menyembah (beribadah) kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56)

Menguasai Dunia untuk beribadah di jalan Allah.

Ajaran Islam mewajibkan kepada para pemeluknya untuk mengelola dunia, menguasai dunia dengan berprinsip dan berpedoman pada aturan Allah yaitu syariah Islam. Hal yang demikian telah dicontohkan oleh baginda Nabi Agung Muhammmad saw berserta para sahabatnya.


Dalam sejarah masa peradaban Islam ketika itu, hampir seluruh sektor kehidupan terutama sektor ekonomi yang menguasai hajat kehidupan orang banyak dikuasai oleh Umat Islam. Ketika itu sahabat Nabi bernama Abdurrahman bin Auf di kota Madinah langsung menuju ke pasar untuk berniaga. Hanya dalam beberapa tempo saja, dengan dorongan iman dan Islam pasar yang sebelumnya dikuasai oleh Yahudi berhasil dikuasainya. Dengan menguasai sektor ekonomi tersebut, Abdurrahman bin Auf memberikan kontribusi hartanya dalam perjuangan Jihad di jalan Allah (Jihad fisabilillah).

Baca juga

Pada akhirnya, Abdurrahman bin Auf menjadi pengusaha yang sangat kaya ketika itu, sampai-sampai beliau berinfak untuk umat Islam sekitar 700 ekor unta dan semua muatan yang ada pada 700 unta tersebut. Subhanallah......

Menguasai dunia dan cinta dunia

Akan tetapi, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Abdurrahman bin Auf. Adalah seorang bernama Tsalabah yang dahulunya hidup serba miskin. Diberikan jalan oleh Nabi dengan usaha ternak. Usaha ternak kambing yang dijalaninya sukses, akan tetapi dia kufur akan nikmat yang diberikan oleh Allah swt., dia menjadi sombong, angkuh karena kekayaannya dan dia tidak mau membayar zakat.

Baca juga

Namun,  Abdurrahman   bin  Auf  tidak  sama  dengan Tsalabah, yang jadi kufur karena dunia. Awalnya Tsa'labah hidup   miskin,  kemudian   sukses   dengan   usaha  ternak kambingnya,  lalu  menjadi  angkuh  dan  sombong  karena kekayaannya. Bahkan, ia berani menolak membayar zakat.


http://islamiwiki.blogspot.com/
Juga sebuah cerita menguasai dunia dan cinta Dunia adalah ketika itu pada Zaman kehidupan Nabi Musa, hidup seorang saudagar kaya yang bernama Qarun. Harta kekayaanya yang begitu banyak sampai-sampai kunci gudangnya saja membutuhkan satu ekor unta untuk mengangkatnya.

Qarun adalah saudagar kaya yang tidak beriman, dia sombong dan juga angkuh. Dai kufur nikmat dari Allah serta menolak keberadaan Allah yang Maha Kaya yang telah memberikannya rejeki dan kekayaan yang begitu banyak dan melimpah. Dia mengklaim bahwa semua yang telah diperoleh dan dimilikinya adalah hasil dari kepandaian dan usahanya sendiri.


Diceritakan di dalam Al-Qur’an secara lengkap tentang Qarun yang kufur akan nikmat Allah hingga akhirnya, Allah  menenggelamkan Qarun ke dalam bumi beserta seluruh harta kekayaannya.

۞إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوۡمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيۡهِمۡۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلۡعُصۡبَةِ أُوْلِي ٱلۡقُوَّةِ إِذۡ قَالَ لَهُۥ قَوۡمُهُۥ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ ٧٦ وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧ قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍ عِندِيٓۚ أَوَ لَمۡ يَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَهۡلَكَ مِن قَبۡلِهِۦ مِنَ ٱلۡقُرُونِ مَنۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُ قُوَّةٗ وَأَكۡثَرُ جَمۡعٗاۚ وَلَا يُسَۡٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٧٨ فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ فِي زِينَتِهِۦۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا يَٰلَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٧٩ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ وَيۡلَكُمۡ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لِّمَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗاۚ وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ ٨٠ فَخَسَفۡنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلۡأَرۡضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٖ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُنتَصِرِينَ ٨١ وَأَصۡبَحَ ٱلَّذِينَ تَمَنَّوۡاْ مَكَانَهُۥ بِٱلۡأَمۡسِ يَقُولُونَ وَيۡكَأَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُۖ لَوۡلَآ أَن مَّنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا لَخَسَفَ بِنَاۖ وَيۡكَأَنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨٢

Artinya:
Ayat 76.Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri"

Ayat 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan

Ayat 78. Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka

Ayat 79. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar"

Ayat 80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar"

Ayat 81. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)

Ayat 82. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)"


Dunia  adalah   sarana  menuju  akhirat.  

Di dalam kehidupan dunia ini Allah menyediakan berbagai macam hal, seperti waktu untuk sholat, dianjurkan berpuasa, zakat, infak, shodakoh, haji, umrah, pekerjaan, rezeki, air, pakaian, harta kekayaan, binatang peliharaan dan lain sebagainya adalah sebagai sarana manusia untuk beribadah mencapai kehidupan akhirat.

Sebagaimana Firman Allah dalam surat al-Qasas ayat 77 di atas yang artinya: "Dan  carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupa­kan  bahagiaanmu  dari  (kenikmatan)  duniawi."


Dari cerita panjang lebar di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
  • Apabila seorang mukmin kufur dari nikmat Allah, maka sesungguhnya adzab atau siksa Allah itu teramat pedih sebagaimana yang telah menimpa Qarun sebagaimana firman Allah di atas. Juga dalil firman Allah swt.

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim ayat 7)
  • Ajaran Islam memberikan kita anjuran bagi umatnya untuk dapat dan mempu menguasai dunia dan tidak mencintainya untuk agama dan mencari bekal di kehidupan akhirat kelak yang kekal adanya. Menguasai dunia tidak untuk diri dan keluarga semata akan tetapi untuk berjihad di jalan Allah swt. sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Nabi Muhammad adalah seorang ahli dalam bidang niaga dan bisnis yang tidak mencintai keduniaan.

Juga Sayidina Ali yang ahli dalam perang, akan tetapi juga ahli dan tekun dalam ibadahnya.

Juga para Nabi yang lain yang juga ahli dan menguasai ilmu keduniaan namun mereka juga ahli ibadah, seperti Nabi Musa adalah Nabi yang menguasai ilmu peternakan, Nabi Nuh ahli ilmu perkapalan, Nabi Isa ahli ilmu pengobatan, Nabi Yusuf ahli ilmu perekonomian, Nabi Daud ahli metaluri.

Oleh sebab itu, sebagai umat Muslim yang berpegang kepada dua pegangan yaitu al-Qur’an dan Hadits Nabi yang keduanya mengajarkan untuk dapat menguasai di semua bidang keduniaan, serta tetap menjadikan kehidupan akhirat sebagai prioritas utama bukan cinta kepada keduniaan.
loading...

Tuesday, April 28, 2015

Cinta dan Ibadah, Cinta Sebagai Fondasi Ibadah

Cinta dan Ibadah, Cinta Sebagai Fondasi Ibadah

Mengapa kita harus menjadikan cinta sebagai fondasi dasar dalam beribadah kepada Allah swt.? Banyak sekali ungkapan yang dapat disebutkan untuk menyebut kata cinta. Cinta bisa diibaratkan sebagai cahaya, dimana apabila tidak ada cinta dalam hati seseorang, maka dia bagaikan kegelapan. Cinta itu adalah kehidupan, ketika cinta itu hilang dari diri seseorang, maka dia bagaikan hidup dalam kematian. Cinta adalah kenikmatan, apabila seseorang tidak dapat meraih dan mendapatkan cinta maka hidupnya penuh dengan kegelisahan. Cinta adalah sebagai obat penawar, apabila hati tidak ada cinta, maka hati akan terkena penyakit.

Perlu kita ketahui dalam bahasan yang lalu bahwa cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang menuju ke surga. Cinta-Nya Allah swt. kepada hamba-Nya yaitu manusia pasti tidak akan terpisah dari cinta hamba-Nya kepada Allah swt.

Firman Allah swt. dalam Al-Quran al-Karim:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Maidah: 54) .

Setiap orang mukmin hendaknya dan seharusnya serta wajib mencintai Allah dan Rasulullah Muhammad saw. melebihi cintanya kepada apapun. Orang yang beriman akan mencintai Allah swt tanpa mengharapkan pamrih. Cinta orang mukmin adalah cinta yang lahirnya dari mengetahui sifat-sifat Allah swt serta bukti-bukti yang diyakini.

Di dalam Al-Qur’an banyak sekali disebutkan tentang cinta (hubb) yang diturunkan kelasnya sebanyak 83 kali. Sedangkan lawan kata cinta yaitu benci (bugd-bagda’) yang diturunkan kelasnya sebanyak 5 kali. Kata yang mendekati kata bugd adalah sukht yang disebut sebanyak 4 kali, lawan katanya adalah Ridha, yang terulang sebanyak 73 kali. Kata Hubb serta mahabbah adalah kata yang seakar dengan habb yang diartikan inti atau biji. Hubb disebut juga habbat al-qalb yang artinya inti hati atau biji, karena kemiripan aktifitasnya.

Tentang kata cinta, Di dalam Kitabullah al-Qur’an dalam beberapa surat antara lain sebagai berikut :

Surat Ar-Rum ayat 21

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةً

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). (QS. Ar-Rum: 21)

Juga dalam al-Qur’an surat Yusuf ayat 30

وَقَالَ نِسۡوَةٞ فِي ٱلۡمَدِينَةِ ٱمۡرَأَتُ ٱلۡعَزِيزِ تُرَٰوِدُ فَتَىٰهَا عَن نَّفۡسِهِۦۖ قَدۡ شَغَفَهَا حُبًّاۖ إِنَّا لَنَرَىٰهَا فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ

Artinya: Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata. (QS. Yusuf: 30)

Dalam surat An-Nisa’: 129

وَلَن تَسۡتَطِيعُوٓاْ أَن تَعۡدِلُواْ بَيۡنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ فَلَا تَمِيلُواْ كُلَّ ٱلۡمَيۡلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلۡمُعَلَّقَةِۚ

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.(QS. AN-Nisa’: 129)

Dalam beberapa ayat di atas, dalam surat Ar-Rum ayat 21 dipaparkan bahwa perasaan cinta di antara laki-laki dan perempuan disebut dengan mawaddah yang artinya rasa kasih dan rahmah yang artinya sayang. Sedangkan dalam surat Yusuf ayat 30, dinyatakan dengan kata syaghafa dan hubb- mahabbah. Dan dalam surat An-nisa ayat 129 cinta dinyatakan dalam kata mail. Istilah yang berbeda-beda tersebut menunjukkan pada mendalam dan ragam atau macam-macam cinta.

Dimensi Cinta

Makna cinta mempunyai berbagai macam arti yang begitu mendalam dan luas. Dalam bahasa arab, cinta dikelompokkan ke dalam 3 bagian karakteristik. Kelompok pertama adalah ta’dzim (apresiatif), kelompok karakteristik kedua adalah ihtimaman (penuh perhatian) dan kelompok karakteristik ketiga adalah mahabbah (cinta). Ketiga kelompok karakteristik tersebut menjadi satu dalam ungkapan mahabbah, orangnya disebut sebagai mahbub, habibah atau habib.

Secara khusus, terdapat 60 macam cinta dalam bahasa arab. Seperti contohnya gharam, hilm yang artinya asmara, ‘isyqun yang artinya asyik, lahf, syauq, wajd dan lain sebagainya. Sedangkan di dalam Al-Qur’an hanya menyebut cinta dalam 6 istilah atau pengertian.

Dalam ilmu tasawuf (ilmu yang mempelajari bagaimana bertindak dan berperilaku agar selalu berada dalam kehadiran Allah dengan cara menjernihkan akhlak, mensucikan jiwa, membangun lahir dan batin untuk memperoleh kebahagiaan allah yang hakiki dengan jalan ilmu, amal dan akhirnya karunia Allah swt).

Dalam ilmu tasawuf, kecintaan kepada sang khaliq Allah swt. adalah merupakan puncak semua maqam (tingkat atau tahapan seseorang dalam pencapaian ibadah), dan puncak atau akhir dari perjalanan manusia. Setelah cinta atau mahabbah, maka tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah atau hasil dari mahabbah itu sendiri. Seperti istilah syauq atau kerinduan, uns atau kemesraan, dan ridha. Tidak ada maqam sebelum cinta atau mahabbah kecuali pengantar-pengantar kepada maqam ini, seperti sabar, taubat dan zuhud (menjauhi keduniaan).

Meskipun terminasi kata ‘isyq tidak ada di dalam al-Qur’an, akan tetapi para ahli ilmu tasawuf memberikan pandangan bahwa perkataan tersebut tidak berlawanan arti dengan mahabbah. Menurut Rumi’, ‘Isyq adalah mahabbah dalam tingkatan yang lebih tinggi dan membakar kerinduan atau rasa rindu dari seseorang sehingga dia bersedia menempuh perjalanan yang jauh untuk bertemu dengan kekasihnya.

Hubungan cinta dan ibadah kepada Allah swt.

Kita telah ketahui arti dan makna cinta yang  mempunyai berbagai macam dimensi. Cinta bagaikan cahaya, tanpanya maka hati seseorang akan gelap. Cinta adalah kehidupan, tanpa cinta dalam hati seseorang, maka dia bagaikan hidup dalam kematian. Cinta itu kenikmatan, jika tidak mendapatkan cinta maka hidupnya penuh dengan kegelisahan. Cinta itu obat penawar, jika hati tidak ada cinta, maka hati akan terkena penyakit.

Oleh sebab itu, hendaknya kita dalam melakukan sesuatu hal adalah didasarkan karena karena Cinta kepada Allah dan hanya mengharapkan ridhanya. Dengan demikian, tentunya kita akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh Allah swt. serta menjauhi semua larangan-larangan-Nya hanya karena Allah swt. dan cinta karena Allah.
loading...