Ajaran Islam

Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Tuesday, September 18, 2018

Dalil Dalil Memutuskan Silaturahmi dan Ancamannya

Dalil Dalil Memutuskan Silaturahmi dan Ancamannya

Telah kita ketahui berbagai macam keutaman dari menyambung hubungan silaturahmi. Sebaliknya, memutuskan silaturahmi atau memutuskan hubungan kekerabatan dalam Islam adalah merupakan dosa besar dan mendapatkan ancaman-ancaman dari Allah dalam Firman-nya Al-Qur'an dan dalil hadits Nabi.
memutuskan silaturahmi


Dalil Firman Allah swt tentang memutuskan Silaturahmi


Dalil firman Allah swt di dalam Al-Qur’an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١ 

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa': 1)

Maksud dari dalil Firman Allah swt di atas adalah agar kita jangan sampai memutuskan hubungan silaturahmi.


Juga dalil firman Allah swt:

فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ ٢٢ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ ٢٣ 

Artinya: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (QS. Muhammad: 22-23)

Juga Dalil dalam AL-Qur’an:

ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ ٱلۡمِيثَٰقَ ٢٠ وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ ٱلۡحِسَابِ ٢١ 

Artinya: (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk (QS. Ar-Ra'd: 20-21)

Firman Allah swt:

۞إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ ٢٦ ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٢٧ 

Artinya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Bagarah: 26-27)

Dalil Hadits Nabi tentang memutuskan Silaturahmi


Di Dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda: 

لا يدخل الجنة قاطع رحم

"Tidak akan masuk surga orang yang memutus ikatan rahim.( dalil Hadits  Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5984) Muslim (2556) Abu Dawud (1696) dan At-Tirmidzi (1909) dan Jabir bin Muth'im).

Barangsiapa yang memutuskan hubungan silaturahmi atau kerabat yang lemah. mengisolir mereka, bersikap takabbur terhadap mereka. dan tidak berbuat baik kepada mereka. padahal ia kaya sedangkan mereka fakir. maka ia termasuk kategori yang diancam dengan hadits ini. Terhalang dari masuk surga. Kecuali jika bertaubat kepada Allah lalu berbuat baik kepada mereka.

Rasulullah saw juga telah bersabda, "Barangsiapa mempunyai kerabat yang lemah lalu tidak berbuat baik dan mengalokasikan sedekahnya kepada selain mereka. niscaya Allah tidak akan menerima sedekahnya dan tidak akan memandangnya pada hari kiamat. Sedangkan barangsiapa da/am keadaan fakir, hendaknya menyambung (ikatan rahim) dengan mengunjungi mereka dan selalu menanvakan kabar mereka. (Hadits Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan isnadnya dha’if)

Juga Nabi Muhammad saw. telah bersabda, "Sambunglah ikatan rahim kalian walaupun hanya dengan ucapan salam. (Hadits Hasan.. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari lbnu Abbas. Ath-Thabrani dari Abu Thufail. dan Al-Baihaqi (7973) dari Anas (7972) dari Suwaid bin Amir Dan di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (2838) dengan lafal ballu dan riwayat Al-Bukhari (5990) dari Amru bin Ash dengan lafal walakin la hum rahimun abulluha bibalaliha. maksudnya saya menyambungnya dengan menyambung tali rahimnya.)

Beliau Rasulullah juga bersabda: 

شرح حديث أبي هريرةَ رضي اللَّه عنه "وَمَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ والْيوم الآخِر، فَلْيصلْ رَحِمَهُ" وحديث "هَذَا مُقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيعةِ"

Artinya: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya menyambung ikatan rahimnya.( Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6138) dari Abu Hurairah)

Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

حديث: ليس الواصل بالمكافئ، ولكن الواصل الذي إذا قطعت رحمه وصلها

Artinya: Orang yang menyambung itu bukanlah mukafi’ (orang yang melakukannya jika kerabatnya terlebih dulu melakukan hal itu kepadanya), akan tetapi orang yang menyambung adalah orang yang jika kamu memutus hubungan darinya ia menyambungnya. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 15991 ). Abu Dawud (1697), At-Tirmidzi (19081 dan Ahmad (2/190) dari Abdullah bin Amr)

Juga di dalam sebuah hadits qudsi Allah swt. berfirman:

أَنَا الرَّحْمَنُ فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

Artinya: Aku adalah ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan dia adalah ikatan rahim. Barangsiapa menyambungnya Aku-pun menyambung hubungan dengannya. Dan barangsiapa memutuskannya Aku-pun memutuskan hubungan darinya. (Hadits Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (7966) dan Al-Haitsaami dalam Al-Majma’ (8/151) berkata. diriwayatkan oleh Ahmad sedangkan para perawinya tsiqat.)

Ali bin Husein berpesan kepada anaknva, "Wahai anakku, jangan sekali-kali kamu bersahabat dengan orang yang memutuskan ikatan rahim. Sesungguhnya aku mendapatkannva terlaknat dalam kitabullah pada tiga tempat."

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia mengadakan majlis untuk mengkaji hadits Rasulullah saw. Dia berkata, ''Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan ikatan rahim sampai orang itu pergi dari antara kita." Tidak ada yang beranjak pergi kecuali seorang pemuda yang duduk di bagian terjauh halaqah itu. Ia pergi ke rumah bibinya sebab sudah sekian tahun ia bermusuhan dengannya. Ia jalin kemba]i ikatan rahim itu. Keheranan bibinya bertanya, "Apa vang membawamu ke mari, keponakanku?" Pemuda itu menjawab, "Sungguh, aku tengah mengikuti majlisnya Abu Hurairah. Salah seorang sahabat Rasulullah saw. Dia berkata. 'Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan ikatan rahim sampai orang itu pergi dari antara kita." Bibinya berkata, "Kembalilah ke majlisnya dan tanyakan mengapa demikian." Pemuda itu pun kembali ke majlis dan menceritakan kepada Abu Hurairah perihal sengketa antara dia dan bibinya. Dia bertanya, "Mengapa Anda tidak mau bermajlis dengan orang yang telah memutuskan ikatan rahim?" Abu Hurairah menjawab, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Sesungguhnya rahmat tidak akan turun kepada suatu kaum vang di dalamnya ada orang yang memutuskan ikatan rahim."

Kisah Cerita Inspirasi menyambung hubungan Silaturahmi

Diceritakan ada seorang laki-laki yang kaya menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Sesampai nya di Mekah ia menitipkan uangnya sebanyak 1000 dinar kepada seseorang yang terkenal dapat dipercaya dan sholeh sampai seusai wuquf di Arafah. Ketika ia telah menyelesaikan wuqufnya ia kembali ke Mekah dan mendapati orang yang dititipinya telah meninggal. Ia menanyakan perihal uangnya kepada keluarganya. Ternyata tidak seorang pun dari anggota keluarganya yang mengetahuinya.

Orang itu pun mengadukan masalahnya kepada para ulama Mekah. Mereka berkata, "Apabila separuh malam telah berlalu mendekatlah ke sumur Zamzam, lihatlah, dan panggil namanya. Jika ia termasuk penghuni surga niscaya ia akan menjawab panggilanmu pada kali pertama." Maka orang itu mengikuti nasehat mereka, mendatangi sumur Zamzam dan memanggilnya. Namun tidak ada jawaban. Karenanya ia kembali kepada mereka, mencerita-kannya. Mereka berkata, "Inna lilahi wa inna ilaihi raji’un. Kami khawatir jangan-jangan temanmu itu termasuk penghuni neraka. Pergilah ke tanah Yaman, Di sana ada sebuah sumur yang dberi nama sumur Barhut. Kaatanya sumur itu berada di tepi jahannam. Lihatlah di waktu malam, dan panggillah temanmu. Jika ia termasuk penghuni neraka niscaya ia akan menjawab panggilanmu. 

Maka orang itu pun berangkat ke Yaman dan bertanya-tanya tentang sumur itu. Seseorang menunjukkannya dan ia pun mendatanginya di malam hari. Ia melihat ke dalamnya dan berseru, "Hai Fulan!" Ada jawaban. Ia bertanva, "Di mana uang emasku?" "Aku tanam di bagian 'anu' dalam rumahku. Aku memang belum memberitahukannya kepada anakku. Galilah pasti kamu mendapatkannya.", suara jawaban itu. Orang itu bertanya lagi, "Apa yang menyebabkanmu berada di sini padahal menurut prasangka kami, kamu adalah seorang yang baik?" Terdengar suara jawaban, "Aku punya seorang saudara perempuan yang fakir. Aku menjauhinya dan tidak menaruh belas kasihan kepadanya. Maka Allah menghukumku dan merendahkan kedudukanku seperti ini.

Ini sesuai dengan dalil sabda Nabi Muhammad saw. dalam hadits yang shahih, "Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan.( Takhrij-nya telah disebutkan di muka.). Maksudnya adalah memutuskan ikatan rahim atau hubungan silaturahmi seperti saudara perempuan, bibi, keponakan, dan yang lainnya dari antara kerabat.

Demikianlah dalil dalil baik dari al-Quran dan hadits Nabi tentang memutuskan silaturahmi. Marilah senantiasa Kita memohon agar selalu mendapatkan limpahan taufiq kepada Allah umuk dapat memaatiNya dan terhindar dari perbuatan dosa memutuskan silaturahmi.

Monday, September 17, 2018

Nasehat Berbakti Kepada Orang Tua Birrul Walidain

Nasehat Berbakti Kepada Orang Tua Birrul Walidain

Dalam ajaran Islam, Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah suatu kewajiban. Hal ini tidak terlepas ketika seseorang berumah tangga. Dalil Firman Allah swt di dalam Al-quran tentang hal ini adalah sebagai berikut:
 
۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا ٣٦ 
 
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. An-Nisaa’ : 36)\

berbakti kepada orang tua
 
 
Juga Firman Allah Swt yang lain: 
 
۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣ وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤ 
 
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (QS. Al-Israa’ : 23-24)
 
Di dalam dalil hadits Nabi Muhammad Rasulullah Saw bersabda ketika beliau ditanya tentang amal-amal saleh yang paling tinggi dan mulia. Beliau bersabda: Shalat tepat pada waktunya … berbuat baik kepada kedua orang tua … jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 

Nasehat-nasehat Islami untuk Berbakti kepada orang Tua.

 
Wahai orang yang menyia-nyiakan hak yang paling besar, yang menjauhkan diri dari berbakti kepada kedua orang tua, yang durhaka, yang melupakan salah satu kewajiban, yang lalai dari sesuatu yang ada di hadapan, sesungguhnya birrul walidain atau berbakti kepada orang tua itu adalah hutang bagimu. Sayang sekali kamu membayarnya dengan, cara yang tidak baik, penuh noda aib. Kamu sendiri sibuk mencari surga, padahal ia ada di bawah telapak kaki ibumu. lbumu yang telah mengandungmu selama sembilan bulan yang bagaikan sembilan kali berhaji. Ia yang di kala melahirkanmu menderita mempertaruhkan nyawa. Ia yang telah menyusuimu, menahan kantuk untukmu, memandikanmu dengan tangannya yang lembut, dan selalu mendahulukanmu untuk urusan makanan. la yang pangkuannya telah menjadi tempat yang nyaman bagimu. la yang telah mencurahkan sepenuh kasih sayangnya kepadamu, apabila kamu sakit atau tampak menderita niscaya ia berduka, bersedih dan menangis tiada batasnya. Ia pasti mengeluarkan semua yang dimilikinya demi mencarikan dokter buatmu. Ia yang seandainya diminta untuk memilih kehidupanmu atau kematiannya, pastilah ia teriakkan kehidupanmu dengan suara yang paling lantang. Betapa sering kamu mempergaulinya dengan akhlak yang tercela. namun ia tetap memohonkan taufiq bagimu dalam setiap doanya.
 
Di saat kerentaan menghampirinya, dan ia membutuhkanmu, kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang paling tidak berharga. Ketika kamu kenyang oleh makanan dan minuman, ia dalam lapar dan dahaga. Kamu selalu mengedepankan keluarga dan anak-anakmu dari pada berbuat baik kepadanya. Kamu telah melupakan semua upayanya. Urusannya kamu anggap sangat berat, padahal sebaliknya ia sangatlah ringan. Umurnya kamu anggap teramat panjang, padahal sebenarnya pendek. Kamu mengisolir dan mengasingkannya, padahal ia tidak mendapati penolong selain dirimu. Demikian ini, pun Penolongmu telah melarangmu dari mengucapkan kata yang menyakitkannya dan menegurmu dengan teguran yang halus; di dunia kamu akan mendapati sikap durhaka dari anak-anakmu, dan di akhirat akan mendapati keadaan jauh dari Rabb semesta alam. Dia menyerumu, mengingatkanmu:
 
ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتۡ يَدَاكَ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ١٠ 
 
Artinya: (Akan dikatakan kepadanya): "Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya" (QS. Al-Hajj: 10)
 
Hak ibunda tak terhitung andai kau tahu itu pun kecil bagi dirinya
Berapa malam dilaluinya dengan segala
Rintihan dan keluhan dari bibirmu
Melahirkanmu sungguh beratnya hati terbang begitu serasa
Tangan lembutnya menepiskan segala aral dari dirimu
Pangkuannya menghantarkan semua mimpi-mimpi indahmu
Oleh keluh adumu rela ia gadaikan diri
Pun rela kau hisap seluruh sari
Kadang lapar menerpa tetapi ransumnya untukmu
Demi cinta dan kasih untukmu, si kecil manja
Sungguh celaka si berakal budak nafsunya
Pula si buta hati melek matanya
Apapun. berharaplah keluasan doanya
Karena kau benar-benar membutuhkannya
 
Kisah cerita inspirasi tentang Birrul Walidain atau Berbakti kepada orang tua
 
Dikisahkan, pada zaman Nabi saw. ada seorang pemuda bernama Alqamah. Ia seorang yang menghabiskan waktu-waktunya untuk taat kepada Allah; mengerjakan shalat, puasa, dan bersedekah. Suatu hari ia sakit dan semakin hari semakin parah. Istrinya pun menyuruh seseorang menghadap Rasulullah saw untuk menyampaikan, 'Suamiku, Alqamah sedang sekarat. Dengan ini aku bermaksud mengabarkan keadaannya kepadamu. wahai Rasulullah.' Maka Nabi saw mengutus Ammar. Shuhaib, dan Bilal. Beliau bersabda, "Berangkatlah kalian, dan talqinkanlah ia dengan kalimat syahadat.'' Mereka bertiga berangkat dan memasuki rumahnya. Mereka mendapati Alqamah tengah sekarat sehingga dengan segera mereka mentalqinnya dengan ucapan 'La ilaha illallah'. Namun Iidah Alqamah kelu, tak mampu mengucapkannya.
 
Sahabat bertiga menyuruh seseorang menghadap Rasulullah ~ mengabarkan bahwa Alqamah tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat. Usai dibacakan. Nabi bertanya. "Adakah salah seorang ibubapaknya yang masih hidup?" Seseorang menjawab. "Wahai Rasulullah, seorang ibu yang sudah sangat renta.' Maka beliau pun mengutus seseorang dan berpesan, "Katakan kepadanya jika ia kuat untuk berjalan Rasulullah memanggilnya. Namun jika tidak hendaknya ia tetap tinggal di rumah. Rasulullah akan menemuinya .. ,
 
Utusan itu sampai kepadanva dan menyampaikan pesan dari Rasulullah saw..Wanita itu berucap. "Jiwaku siap menjadi tebusan jiwanva. Aku lebih pantas umuk mendatangi beliau.'' Maka wanita itu pun berdiri dengan bertelekan kepada tongkat dan berjalan menemui Rasulullah ~• Ia ucapkan salam dan beliau pun menjawabnya. Lalu Rasulullah benanya. 'Wahai Ummu Alqamah, Jujurlah kepadaku. Kalau pun kamu berdusta akan turun wahyu dari Allah swt.  Bagaimana keadaan anakmu Alqamah?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, ia rajin menunaikan shalat, shiyam. dan banyak bersedekah." ''Lalu bagaimana dengan dirimu?''. tanya Rasul lagi. Wanita itu menjawab. "Wahai Rasulullah. aku murka kepadanya." "Mengapa?", tanya beliau. "Karena ia lebih mengutamakan istrinya dari pada diriku dan ia tidak mau taat kepada ku.".jawab Ummu Alqamah. 
 
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya murka Ummu Alqamah menghalangi lisannya untuk mengucapkan syahadat." Beliau melanjutkan. "Bilal. pergi dan bawakan untukku kayu bakar yang banyak." Wanita itu bertanva, "Apa yang akan Anda Iakukan, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Aku hendak membakarnya di hadapanmu" Wanita itu menimpali, "Wahai Rasulullah, ia adalah anakku. Hatiku tidak akan kuat menyaksikannya dibakar di hadapanku." "Wahai Ummu Alqamah. adzab Allah iebih dahsyat lagi kekal. ]ika kamu senang terhadap ampunan Allah baginya ridlailah ia. Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya. shalat. shiyam. Dan sedekahnya tidak dapat mendatangkan manfaat baginya selama kamu murka.", sabda Nabi. 
 
Mendengarnya wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku bersaksi di hadapan Allah, para malaikat, dan siapa saja yang hadir di sini dari antara kaum muslimin bahwa aku rela ridla kepada anakku, Alqamah." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Bilal, berangkat dan lihatlah apakah Alqamah sudah dapat mengucapkan 'La ilaha illallah' atau belum. Bisa saja Ummu Alqamah tadi mengatakan yang bukan dari lubuk hatinya karena malu kepadaku." Bilal berangkat dan melihat kondisi Algamah. Ia berkata. "Wahai sekalian orang, murka Ummu Alqamah menghalangi lidahnya dari syahadat, dan ridlanya telah melepaskan kekeluan lidahnya."
 
Pada hari itu juga 'Alqamah meninggal. Rasulullah saw. hadir, memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya. Lalu beliau menshalatkan dan menghadiri prosesi penguburannya. Beliau berdiri di uiung kuburnva bersabda, "Wahai sekalian Muhajirin dan Anshar, barangsiapa mengedepankan istrinya dari pada ibunya niscaya akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat, dan manusia semuanya. Allah tidak akan menerima infaqnya juga sikap adilnya sehingga ia bertaubat kepada Allah  saw- dan berbuat baik kepadanya serta memohon keridlaannya. Keridlaan Allah terletak pada keridlaannya, kemurkaan Allah terletak pada kemurkaannya. 
 
Marilah kita senantiasa selalu memohon kepada Allah swt semoga membimbing kita untuk menggapai keridlaannva dan menjauhkan kita dari sikap durhaka kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang, iagi Maha Pengasih..
 
Jalan yang benar atau haq dalam mendapatkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla salah satunya adalah melalui orang tua yaitu birrul walidain. Birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu hal yanh penting dalam Islam. Di dalam keteranan Al-Qur’an, sudah jelas diterangkan bahwa setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah swt memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya.

Thursday, September 13, 2018

Berbuka Puasa Ramadhan Tanpa Udzur Di Siang Hari

Berbuka Puasa Ramadhan Tanpa Udzur Di Siang Hari

Puasa ramadhan wajib hukumya dikerjakan bagi setiap muslim yang sudah memenuhi syarat. Terdapat waktu tersendiri untuk berbuka puasa. Namun, bagaimana hukum dan ancaman bagi mereka yang berbuka puasa ramadhan di siang hari tanpa udzur atau halangan apapun?

Berikut ini adalah keterangan-keterangan dalam AL-Qur’an dan dalil hadits Nabi Muhammad saw tentang berbuka puasa Ramadhan tanpa adanya halangan atau tanpa udzur yang diperbolehkan.
berbuka puasa ramadhan


Allah swt berfirman di dalam Kitabullah AL-Qur’an

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣ أَيَّامٗا مَّعۡدُودَٰتٖۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٞ طَعَامُ مِسۡكِينٖۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥۚ وَأَن تَصُومُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ١٨٤ 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. al-Baqarah: ayat 183-184)

Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ " رواه البخاري 8 ومسلم 16

Islam itu dibangun di atas lima pondasi: kesaksian bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat. haji ke Baitullah, dan puasa Ramadlan. (dalil Hadits Diriwayatkan oleh Ahmad (2/143). Al-Bukhari (8, 16, 22), Muslim (16), At-Tirmidzi (2609). An-Nasa'i (8/107), Al-Humaidi (703), dan lbnu Khuzaimah (309).

Beliau juga bersabda:

Barangsiapa berbuka satu hari dari bulan Ramadlan tanpa adanya udzur, sesungguhnya tidak dapat digantikan dengan puasa sepanjang masa, meskipun  ia melakukannya. (Dha’if.. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/442. 470). Abu Dawud (2396), At-Tirmidzi (726), An-Nasa'i dan lbnu Majah (1672), dan lbnu Khuzaimah ( 1987. 1988): dari Abu Hurairah. Syaikh Al-Albani men-dha’if-kannya dalam Dha’iff Abi Dawud dan Dha’if A/-Jami'(5471 ).

Ibnu Abbas berkata, "Tali ikatan Islam dan pokok-pokok dien itu ada tiga; kesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, shalat, dan puasa Ramadlan. Barangsiapa meninggalkan salah satunya, niscaya telah kafirlah ia." 

Kesimpulan tentang berbuka puasa ramadhan di siang hari


Dari keterangan-keterangan dalam dalil firman Allah dan hadits Nabi di atas, maka dapat kita simpulkan sebagai berikut:

  • Bagi mereka yang diperbolehkan untuk berbuka puasa Ramadhan karena udzur atau halangan seperti sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya seperti ketika hamil, datang bulan (haid) (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.
  • Bagi mereka yang dengan sengaja berbuka puasa ramadhan di siang hari tanpa udzur atau halangan apapun, maka puasa yang telah mereka tinggalkan tidak dapat diganti dengan puasa sepanjang masa. Wallahu a’lam.
Baca juga :
Marilah kita selalu menjaga puasa kita terutama puasa wajib ramadhan. Dan teriring selalu usaha dan doa agar kita mendapatkan perlindungan dari Allah swt dari berbuka puasa ramadhan di siang hari pada bulan Ramadhan. Kita semua berlindung kepada Allah dari hal itu.

Tuesday, September 11, 2018

Nasehat Islami agar Tidak Terpedaya Kehidupan Dunia

Nasehat Islami agar Tidak Terpedaya Kehidupan Dunia

Terperdaya pada kehidupan dunia akan membawa kepada adzab kubur dan siksa neraka. Pesan dan nasehat islami berikut ini kami ambilkan dari beberapa referensi dalam dalil firman Allah swt di dalam Al-Quran dan juga dari hikayat atau kisah cerita riwayat para sahabat Nabi Muhammad saw. Apa saja nasehat islami yang termaksud dalam beberapa firman Allah swt. Dan dalam hikayat para sahabat Nabi saw. Mari kita simak dan pelajari serta kita amalkan.
nasehat islami


Nasehat Islami dari Al-Qur'an dan Hikayat Sahabat Nabi


Katakanlah kepada mereka orang-orang yang disibukkan oleh dunianya, sesungguhnya setiap barang apa saja yang mereka kumpulkan itu tidak mendatangkan manfaat sama sekali. Yaitu ketika ancaman bagi mereka menjelang. Pada hari dipanaskan apa yang mereka kumpulkan itu di dalam neraka ]ahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung dan punggung mereka. Bagaimana bisa lenyap dari hati dan akal mereka, dalil firman Allah swt di dalam Kitabullah Al-Quran:

يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ ٣٥

Artinya:  pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu". (QS. At-Tau bah: 35)

Harta yang mereka kumpulkan itu dibawa ke tempat pelaksanaan siksa. Lalu diletakkan di tempat pemanggangan (api neraka) dan dibakar guna memper-berat siksaan. Kemudian dibuatlah lempengan-lempengan (dari api neraka) supaya pembakaran kulit lebih merata. Setelah itu didatang-kanlah orang yang telah kehilangan petunjuk, berjalan ke ternpat itu tidak bersama kaum yang bersinar cahaya mereka. Kemudian dipanaskan emas dan perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung, dan punggung mereka.

Apa yang menyebabkan hal demikian terjadi?


Dahulu, apabila seorang miskin datang menemui mereka maka yang orang miskin dapatkan hanyalah keperihan hati. Apabila si miskin tersebut meminta sesuatu dari mereka maka mereka segera berpaling dengan segala murka. Duhai, rupanya mereka lupa hikmah Allah swt dalam menciptakan adanya orang kaya dan orang atau si miskin. Betapa berat kesedihan yang akan mereka jumpai. Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung dan punggung mereka. Setelah kematiannya. adalah ahli waris yang menikmati harta tanpa bersusah payah. Orang yang mengumpulkannya akan ditanya, "Darimana dan apa saja yang kamu dapatkan?". Anak baginya, daging buah bagi pewarisnya. Mana lagi ketamakan mereka?!

Dimana akal mereka? Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu disetrikakan pada dahi. lambung dan punggung mereka. Seandainya saja Anda menyaksikan mereka di lapisan-lapisan neraka, menggeliat-geliat di atas bara dirham dan dinar, tangan kanan dan tangan kiri mereka dibelenggu, karena kebakhilan mereka dahulu. Kalau saja Anda melihat mereka di dalam neraka jahannam, diberi minum dari timah panas, lalu mereka berteriak-teriak. pada hari itu emas dan perak dilebur di dalam Jahannam, lalu dahi, lambung. dan punggung mereka dibakar dengannya.

Sudah berapa banyak nasehat vang diberikan kepada mereka di dunia, namun tidak ada di antara mereka orang yang mendengarkannya. Berapa banvak mereka ditakut-takuti dengan siksaan Allah swt, namun tidak ada di antara mereka yang merasa takut. Seolah-olah dengan harta mereka, mereka telah menjadi Syuja' Aqra' (ular besar), sehingga apalah arti tongkat dan bukit Thur mukjizat Nabi Musa as. Sekali lagi “Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung dan punggung mereka”.

Kisah cerita Berisi Nasehat Islami dari para sahabat Nabi Muhammad saw.


Diriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf al-Firyabiy katanya, "Suatu hari, saya bersama dengan beberapa sahabat pergi mengunjungi Abu Sinan. Setibanya kami di sana dan kami sudah duduk-duduk bersamanya ia berkata, 'Mari kita mengunjungi dan berta'ziyah ke rumah tetangga yang baru saja ditinggal mati oleh saudaranya.' Kami berangkat dan kami temui laki-laki tetangga Abu Sinan sedang menangis dan tampak terguncang. Kami menghibur dan mengucapkan belasungkawa. Namun, ia tidak mencrima kata-kata penghiburan dan ucapan belasungkawa, (dan ia terus menangis, pent). Kami katakan kepadanya, 'Bukankah kematian itu adalah suatu jalan yang sudah pasti?' Ia menjawab, 'Benar. Tetapi aku menangisi adzab yang akan diderita saudaraku setiap pagi dan petang!' 'Apakah Allah memperlihatkan yang ghaib kepadamu?', tanya kami semua. Ia menjawab, 'Bukan. Hanya saja seusai aku menguburkannya dan tanah sudah aku ratakan serta orang-orang sudah kembali ke tempat masing-masing, aku duduk di sisi kuburannya. Tiba-tiba terdengar suara, 'Hei! Duoukkan aku sendirian! Aku akan menghadapi adzab! Aku sudah menunaikan shalat! Aku sudah berpuasa!' Kata-kata itu membuatku menangis. Dengan segera aku bongkar kuburannya untuk melihat keadaannya. Aku dapati api menyala-nyala di dalam kuburnya. Juga, di lehernya ada belenggu dari api. Sebagai saudara aku kasihan melihatnya, dan aku pun berusaha untuk memindahkan belenggu api itu dari lehernya dengan tanganku. Namun jari-jari dan tanganku terbakar.' Lalu orang itu menunjukkan tangannya yang menghitam, terbakar. 'Lalu aku kembalikan tanah yang tadi kugali dan aku pun pulang. Bagaimana aku tidak menangis dan bersedih karenanya?', lanjutnya. Kami bertanya lagi, 'Apa yang dilakukan oleh saudaramu semasa hidupnya di dunia?' 'Dulu, ia tidak membayar zakat atas hartanya.', jawabnya. Lalu kami katakan, 'Ini adalah pembenaran dari apa yang difirmankan oleh Allah:

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ

Artinya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (QS. Ali 'Imran: 180)

Adapun saudaramu, adzabnya disegerakan di alam kubur sampai hari kiamat.' Lalu kami pulang dan kami menemui sahabat nabi, Abu Dzar ra•, lalu menceritakan kisah laki-laki itu kepadanya. Kami katakan juga, 'Pada orang Yahudi dan Nasrani yang mati, kami tidak melihat kejadian seperti itu!'. Abu Dzar berkata, 'Adapun mereka, tidak diragukan lagi bahwa mereka penghuni neraka. Hanya saja Allah swt. menampakkan kepada kalian terjadi pada orang yang punya iman, adalah supaya kalian mengambil pelajaran darinya.

قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ

Artinya: Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. (QS. Al-An'am: 104)

مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ٤٦

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya (QS. Fushshilat: 46)

Dengan kisah cerita dan dalil-dalil di atas yang memuat nasehat islami agar kita terhindar dari kemerlapnya kehidupan dunia yang hanya sementara, marilah kita memohon ampunan dan 'afiyah (kesejahteraan batin) kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Memberi lagi Maha Pemurah.

Sunday, September 9, 2018

Ancaman Neraka bagi yang Tidak Membayar Zakat

Ancaman Neraka bagi yang Tidak Membayar Zakat

Telah kita bahas pada bahasan terdaulu tentang mengeluarkan zakat atau membayar zakat dalam bab ilmu zakat dan sedekah. Menyambung bahasan tersebut, berikut ini adalah ancaman-ancaman bagi mereka yang tidak membayar zakat berdasarkan dalil hadits Nabi dan Kitabullah Al-Qur’an.

Dalil Al-Quran dan Hadits Nabi : ancaman tidak membayar zakat


Di bawah ini adalah kumpulan dalil-dalil dalam firman Allah swt dan dalil hadits Nabi tentang Ancaman-ancaman bagi yang tidak membayar Zakat
membayar zakat

Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ٣٤ يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ ٣٥

Artinya:  Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu" (QS. At-Taubah: ayat 34-35)

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ

Artinya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (QS. Ali Imran: ayat 180)

وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ . ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُون

Artinya: Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Fushshilat: ayat 6-7)

Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada pemilik emas dan perak yang tidak mengeluarkan zakatnya kecuali pada hari kiamat nanti akan dibentangkan baginya papan-papan dari api, lalu ia ditelentangkan di atasnya, di neraka jahannam. Maka dia akan dipanggang dengan itu pada dahi dan punggungnya. Setiap kali dingin papan itu akan dipanaskan lagi untuknya. Satu hari di sana sama dengan limapuluh ribu tahun. Begitu sampai Allah menghakimi manusia seluruhnya dan dia pun tahu ke mana jalan yang akan ditempuhnya; ke surga atau ke neraka." Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah. Bagaimana tentang unta?" Beliau menjawab, ''Dan tidak pula pemilik unta yang tidak mengeluarkan zakatnya kecuali pada hari kiamat nanti akan dihamparkan tanah yang sangat lapang. dipenuhi oleh unta-untanya yang benar-benar sehat dan gemuk, tanpa ada satu anak unta pun yang tertinggal. Semua unta itu menginjaknya dengan telapak kakinya dan menggigitnya dengan mulutnya. Setiap kali unta terakhir melakukannya di datangkan lagi unta pertama. Itu dalam satu hari yang sama dengan limapuluh ribu tahun Begitu sampai Allah menghakimi manusia seluruhnya dan dia pun tahu ke mana jalan yang akan ditempuhnya; ke surga atau ke neraka." Seseorang bertanya lagi, Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan sapi dan kambing?" Beliau menjawab, "Begitu pula dengan pemilik keduanya jika tidak membayar zakatnya. Akan dihamparkan tanah yang sangat lapang. dipenuhi a/eh sapi-sapi dan kambing-kambing yang benar-benar sehat dan gemuk. tidak ada tanduk yarig bengkok, patah, atau yang tidak bertanduk. Semuanya akan menanduknya dan menginjak-injaknya dengan kaki-kakinya. Itu dalam satu hari yang sama dengan limapuluh ribu tahun Begitu sampai Allah menghakimi manusia seluruhnya dan dia pun tahu ke mana jalan yang akan ditempuhnya; ke surge atau ke neraka. (Hadits Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq (6858). Ahmad (2/262-286). Muslim (987). Abu Dawud (1658, 1659), dan An-Nasa'i (5/12-13): dari Abu Hurairah)

Rasulullah saw. bersabda, "Tiga orang yang pertama kali masuk neraka adalah penguasa yang bengis. hartawan yang tidak membayarkan hak Allah pada hartanya, dan orang miskin yang sombong.( Hadits Dinwayatkan oleh Ahmad (2/479). Al-Baihaqi (3063 dalam Asy-Syu'ab. dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1642) dengan lafazh. "Awwalu tsalatsatin yadkhuluna al-jannah”. al-hadits. Dan.i1a adalah hadits dha’if).

Abdullah bin Abbas berkata, ''Barangsiapa memiliki harta vang cukup umuk menunaikan ibadah haji tetapi ia tidak menjalankannya atau memiliki harta sampai sebatas nishab tetapi ia tidak membayarkan zakarnya. niscaya akan meminta raj’ah (kembali) di kala mati." Seseorang berujar. "Bertaqwalah kepada Allah, wahai Ibnu Abbas. Hanya saja orang-orang kafir sajalah yang meminta raj’ah!" Ibnu Abbas pun menjawab, "Akan aku bacakan satu ayat (yang artinya) “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu vang dekat. vang menvebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh' (Al-Munafiqun: 10) Maksud bersedekah adalah membayar zakat, dan maksud menjadi salah seorang sholeh adalah menunaikan haji." Seseorang bertanya, "Berapa nishab harta?" "Jika telah mencapai 200 dirham, wajib dikeluarkan zakatnya', jawab Ibnu Abbas. “Apakah yang mewajibkan haji?”, tanya seseorang lagi. Beliau menjawab, "Perbekalan dan kendaraan.(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3316). dan isnadnya dha’if At-Tirmidzi men-dha'if-kannya dan menyatakan ke-shahih-an-nya secara mauquf)

Perhiasan yang biasa atau disiapkan untuk dipakai tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Lain halnya dengan perhiasan yang sengaja dihimpun atau disimpan, wajib dikeluarkan zakatnya.( Ar-Rajih] (yang lebih kuat). bahwa perhiasan harus dikeluarkan zakatnya. baik dipakai ataupun tidak. Wallahu a’lam.

Harta perniagaan wajib dikeluarkan zakatnya. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa dikaruniai harta oleh Allah tetapi tidak mau membayarkan zakatnya, niscaya pada hari kiamat nanti hartanya akan diwujudkan sebagai ular ganas yang memiliki dua taring bisa. Ular itu melilitnya pada hari kiamat dan mencabik-cabiknya pada kedua sisi mulutnya sambil berkata. 'Akulah hartamu, akulah perbendaharaanmu 1'' Lalu beliau membaca avat:

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١٨٠

Artinya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (QS. Ali Imran: ayat: 180). (Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1403. 4565. 4659) dan An-Nasa’i (5/39): dari Abu Hurairah)

Berkenaan dengan firman Allah. "Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka jahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung dan punggung mereka." (QS. At-Taubah: 35) Ibnu Mas'ud berkata, "Keadaannya bukan dinar ditumpuk-rumpuk pun bukan dirham ditumpuk-tumpuk. Tetapi mas'ing-masing dinar dan dirham dihamparkan yang mana kulitnva telah dilebarkan sedemikian rupa sehingga masing-masing dinar dan dirham mengambil tempatnya.(Asy-Syuyuthi berkata dalam Ad-Durr (Ad-Durru Al-Mantsuru) (3/419), diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Ath-Thabrani, dan Abu Asy-Syaikh Al-Mundziri berkata, Diriwayatkan oteh Ath-Thabrani. dan isnadnya shahih" Saya katakan. 'Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabari ( 10/124), dan semua perawinya tsiqah (terpercaya)."

Apabila ada yang bertanya mengapa khusus dahi, lambung, dan punggung yang terkena siksaan ini, maka jawabnya sebagai berikut. Apabila seorang hartawan yang kikir melihat orang fakir pastilah masam mukanya, ia lebarkan dahinya, lalu berpaling (menarik lambungnya ke samping). Dan jika orang fakir tadi mendekatinya niscaya dia akan membelakanginya (menampakkan punggungnya). Nah, ia nanti akan disiksa pada ketiga bagian tubuhnya itu, agar balasan siksa itu setimpal dengan apa yang telah dia lakukan.

Rasulullah saw. bersabda, "Lima dengan lima.'' Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah lima dengan lima itu?" Beliau menjawab, "Tidaklah suatu kaum itu melanggar perjanjian kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh mereka. Tidaklah manusia itu berhukum dengan selain hukum Allah kecuali akan tersebar kefakiran pada mereka. Tidaklah perbuatan keji tampak pada mereka kecuali kematian akan merajalela. Tidakiah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali paceklik dan kegersangan akan menimpa mereka. Tidaklah mereka menolak pembayaran zakat kecuali hujan akan dicegah turun pada mereka.(Hadits Diriwayatkan oleh lbnu Majah (4019). Al-Baihaqi (3042) dalam Asy-Syu'ab, Al-Hakim (4/540), dan Abu Nu'aim (8/333). Asy-Syaikh Al-Albani meng-hasan-kannya dalam Ash-Shahihah (106) dari lbnu Umar. Al-Baihaqi mengeluarkan hadits semisal itu dalam Asy-Syu'ab (3040). juga Al-Hakim (2/126) dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan (9/231) dari Buraidah)

Saturday, September 8, 2018

Penekanan Sholat Berjamaah Isya & Subuh dalam Hadits

Penekanan Sholat Berjamaah Isya & Subuh dalam Hadits

sholat berjamaah
Telah kita ketahui bersama bahwa begitu besar keutamaan dari pahala sholat berjamaah. Di bawah ini adalah keterangan dari dalil hadits Nabi Muhammad saw. yang menjelaskan tentang adanya penekanan sholat berjamaah pada sholat Isya’ dan sholat shubuh. Bagaimana penekanannya, bagiamana kisah cerita tentang penekanan sholat berjamaah shubuh dan isya' pada Nabi dan para sahabatnya.

Dalil hadits dan kisah cerita penenekanan sholat berjamaah Isya’ dan Shubuh beramaah. 


Nabi Rasulullah SAW bersabda.:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إن أثقل صلاة على المنافقين صلاة العشاء وصلاة الفجر، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبواً

Artinya: Sesungguhnya sholat yang dirasa paling berat oleh orang-orang munafik adalah sholat Isya’ dan sholat Fajr (Shubuh). Seandainya mereka tahu pahala yang ada pada keduanya niscaya mereka akan mendatangi keduanya walau dengan merangkak. (Hadits 87. Shahih. Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah (1/332). Ahmad (2/424) Al-Bukhari dan Muslim (651), Abu Dawud (548), lbnu Majah (791). dan lbnu Hibban (2098): dari Abu Hurairah.

Dari Ibnu Umar berkata, "Jika ada seseorang di antara kami yang meninggalkan sholat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, kami berburuk sangka kepadanya bahwa ia telah menjadi seorang munafik. (88. lsnadnya shahih. Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah (1/332). Al-Hakim (1/211 ). lbnu Khuzaimah (1485). lbnu Hibban (2099). dan Al-Baihaqi (3t59)

Kisah cerita Penekanan Sholat berjamaah Isya’ dan subuh berjamaah


Ubaidullah bin Umar al-Qawaririy berkisah, "Aku belum pernah ketinggalan sholat ‘Isya’ secara berjamaah walau sekali. Suatu malam aku kedatangan tamu. Karenanya aku menyibukkan diri dan ketinggalan sholat ‘Isya’ berjamaah. Aku pun mencoba untuk mencari, mungkin masih ada jamaah ‘sya’ di seantero masjid kora Bashrah. Namun aku dapati semua orang sudah selesai mengerjakannya dan pintu masjid pun telah dikunci. Aku pulang dan bergumam. "Terdapat suatu hadits yang menyebutkan bahwa sholat jamaah itu lebih utama 27 derajat dibandingkan sholat sendirian. Maka aku pun mengerjakan sholat ‘Isya’ 27 kali. Aku tidur dan bermimpi, seakan-akan aku bersama suatu kaum yang semuanya menunggang kuda perang. Aku juga menunggang kuda. Kami berpacu. Aku mengendalikan kuda sekencang-kencangnya, tetapi tetap tidak bisa mencapai mereka. Aku memperhatikan salah seorang dari mereka. Ia berkata, 'Jangan kamu forsir kudamu, sekali-kali kamu tidak akan pernah bisa menyusul kami.' 'Mengapa begitu?, tanyaku. Orang itu menjawab, 'Karena kami mengerjakan sholat ‘Isya’ berjamaah sedangkan kamu mengerjakan-nya sendirian.' Lalu aku terbangun dan diliputi rasa sedih dan sesal tiada tara.

Dan pada akhirnya, marilah kita momohon pertolongan atau ma'unah, hidayah serta taufiq kepada Allah swt. Sehingga kita senantiasa menjalankan sholat berjamaah. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia

Friday, September 7, 2018

Hukum Meninggalkan Sholat Jamaah Bagi Yang Tidak Berhalangan

Hukum Meninggalkan Sholat Jamaah Bagi Yang Tidak Berhalangan

Pada bahasan terdahulu dalam Ilmu dan ajaran islam telah kami paparkan mengenai hukum sholat berjamaah. Bagaimana hukumnya meninggalkan sholat jamaah bagi mereka yang tidak berhalangan atau Udzur. Apa saja ancaman-ancaman bagi mereka yang meninggalkan sholat jamaah tanpa halangan atau udzur
Allah berfirman:

يَوۡمَ يُكۡشَفُ عَن سَاقٖ وَيُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ ٤٢ خَٰشِعَةً أَبۡصَٰرُهُمۡ تَرۡهَقُهُمۡ ذِلَّةٞۖ وَقَدۡ كَانُواْ يُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ وَهُمۡ سَٰلِمُونَ ٤٣

Artinya: Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa. (dalam keadaan) pandangan mereka tunduh ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mercka dalam keadaan sejahtera. (QS. Al-Qalam 42 - 43)

Ancaman meninggalkan sholat jamaah dalam dalil Hadits Nabi


Bagaimana dengan mereka yang mempunyai Udzur dengan kesulitan-kesulitan


sholat jamaah
Ini kejadian pada hari kiamat. Mereka diliputi penyesa1an. Dulu di dunia mereka telah diseru untuk bersujud.

Ibrahim At-Taimiy berkata, "Maksud dari ayat di atas adalah diseru kepada sholat wajib dengan adzan dan iqamah."

Sa'id bin Musayyib berkata, "Mereka mendengar panggilan 'Mari mengerjakan sholat! Mari menuju kemenangan!', namun mereka tidak menjawab panggilan itu, padahal mereka dalam keadaan sehat sejahtera."

Ka'ab al-Ahbar berkata, "Demi Allah, ayat ini tidak turun kecuali berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan sholat jamaah. Nah, ancaman apa yang lebih dahsyat bagi orang yang meninggalkan sholat jamaah padahal ia mampu mengerjakannya selain ayat ini?

Adapun dari sunnah, Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Sungguh aku hampir saja memerintahkan untuk sholat, diiqamati, lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang. Sedang aku dan beberapa orang lagi pergi sambil membawa seonggok karu bakar untuk membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri sholat Jamaah.  Tentunya mereka udak diancam dengan pembakaran rumah padahal di sana ada anak-anak dan harta kekayaan- kecuali karena mereka meninggalkan perkara yang wajib." (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Malik (1/129-130). Al-Bukhari (644. 2420) Muslim (651 ), Abu Dawud (549). At•Tirmidzi (217). dan An-Nasa'i (2/107): dari Abu Hurairah.)

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, seorang buta menemui Nabi saw. berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang menuntunku ke masjid." Lalu ia memima keringanan urtuk diperbolehkan mengerjakan sholat di rumah. Rasulullah pun mengizinkan. Tetapi ketika orang itu undur diri. beliau memanggilnya, ''Apakah kamu mendengar seruan untuk sholat (adzan)?" Laki-laki itu menjawab, "Ya." Jika demikian jawablah seruan itu!". sabda Rasulullah. (Shahih Diriwayatkan oleh Muslim (653). Abu Awanah (2/6), An-Nasa'I (2/109), dan Al-Baihaqi (3/57).

Hadits di atas diriwavatkan pula oleh Abu Dawud dari 'Amru bin Ummi Maktum, bahwa ia menemui Nabi saw ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Madinah ini banyak binatang berbisa dan binatang buasnya. Padahal aku ini rusak penglihatanku dan jauh rumahku. Aku punya penuntun ja/an tapi aku tidak cocok dengannya. Apakah ada keringanan bagiku untuk mengerjakan sholat di rumah?" "Apakah kamu mendengar adzan?", tanya Rasulullah. 'ya", jawab orang itu. Lalu Rasulullah bersabda, ''jika demikian jawablah seruan itu. Aku tidak mendapatkan keringanan bagimu. ( Hadits Shahih. Diriwayatkan o!eh lbnu Abi Syaibah (1/345. 346), Abu Dawud (553), An-Nasa'i (2/110). lbnu Khuzaimah (1478), dan Al-Hakim (1/246) dengan men-shahih-kannya. Dan penilaian ini disepakati oleh Adz-Dzahabi. dan Syaikh Al-Albani juga men-shahih-kannya.

Bagaimana dengan mereka yang tidak punya udzur


Seorang lelaki buta telah mengadukan kesulitan-kesulitan vang ia hadapi selama berjalan menuju masjid. Bahkan ia tidak punya orang yang menuntunnya. Meski begitu, Nabi tetap tidak memberi keringanan baginya untuk mengerjakan sholat di rumah. Nah, bagaimana dengan orang-orang yang sehat penglihatannya sejahtera tanpa ada udzur? Karena itulah ketika Ibnu Abbas ditanya tentang seseorang yang selalu berpuasa di siang hari, selalu bangun untuk sholat malam, tetapi tidak mengerjakan sholat jamaah menjawab, "Jika dia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan masuk neraka."( lsnadnya dha’if. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (218). dari Hannad. telah menceritakan kepada kami Al-Muharibi dari Laits dari Mujahid dan lbnu Abbas. Ahmad Syakir berkata, "lsnad ini shahih]. meskipun secara zhahirnya adalah mauquf dan lbnu Abbas. tapi ditinjau dari status hukumnya adalah marfu' (marfu' hukman). karena (perkataan) seperti ini tidak mungkin dia ketahui dengan ra’yi (pikirannya). Saya katakan, Isnadnya dha’if, karena Laits bin Abi Sulaim. dia adalah lemah."

Abu Hurairah berkata, "Penuhnya telinga anak dam oleh timah yang meleleh lebih baik dari pada mendengar adzan tapi tidak mendatanginya. (Isnadnya dha’if. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (1/380/4). dari jalur Waki'. dari Abdurrahman bin Hushain. dari Abu Najih Al-Maki. dari Abu Hurairah. Dan 1snadnya dha’if. karena keadaan Abdurrahman majhul(tldak diketahui jati dirinya). Wallahu a'fam

Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mendengar muadzin padahal tidak ada udzur untuk mendatanginya .." Seseorang menyela, "Apakah udzur itu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Yaitu takut atau sakit. Sholat yang ia kerjakan tidaklah diterima." Maksudnya sholat yang dikerjakan di rumah.

Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda, "Tiga orang yang dilaknat oleh Allah; orang yang memimpin sutu kaum padahal kaum itu membencinya. wanita yang tidur padahal suaminya mairah kepadanya. dan laki-laki yang mendengar 'Mari menuju sholat, mari menuju kemenangan!'. namun tidak mendatanginya." (Tidak shahih. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (358). dan Muhammad bin Al-Qasim Al-Asadi, dan Al-Fadhi bin Dalham. dari Al-Hasan. dari Anas-bukan lbnu Abbas. Dan At-Tirmidzi berkata, ''Tidak shahih, karena hadits ini diriwayatkan dari Al-Hasan. dari Nabi saw secara mursal. Sedang Muhammad bin Al-Qasim didha ‘if-kan oleh Ahmad. dan menyatakan bahwa dia bukan seorang yang hafizh.

Ali bin Abi Thalib berkata, "Tidak ada sholat bagi tetangga masjid kecuali di masjid." Seseorang bertanya, "Siapakah tetangga masjid itu?" Yaitu orang-orang yang mendengar adzan."(Isnadnya shahih. Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah (1/380/8).

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Barangsiapa senang untuk berjumpa dengan Allah esok hari -hari kiamat- sebagai seorang muslim hendaklah menjaga sholat lima waktu setiap kali terdengar panggilan untuk mengerjakannya. Sesungguhnya Allah mensya-riatkan sunnah petunjuk (sunanul huda) bagi Nabi kalian. Dan sholat jamaah itu termasuk salah satunya. Andaikata kalian mengerjakan sholat di rumah seperti sholatnya orang yang ketinggalan di rumahnya berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnahnya niscaya kalian tersesat. Kalian semua telah melihat, tidak seorangpun di antara kita meninggalkan jamaah kecuali ia adalah seorang munafik yang tampak kemunafikannya atau seorang yang sakit. Sungguh telah ada seseorang yang dipapah oleh dua orang, diberdirikan di shaf atau diantar sampai ke masjid untuk dapat mengerjakan sholat berjamaah. (Hadits Shahih. Shahih. Diriwayatkan oleh Muslim (654) dan An-Nasa'i. tidak sebagaimana yang dikatakan penulis. bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari.)

Rabi' bin Khaitsam adalah seorang lelaki yang telah lumpuh. Begitupun ia keluar untuk mengerjakan sholat jamaah dengan dipapah oleh dua orang. Seseorang berkata, "Wahai Abu Muhammad, Anda termasuk yang mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk mengerjakan sholat di rumah. Anda mempunyai udzur." "Benar apa yang kalian katakan." jawab Rabi'. 'Tetapi aku mendengar muadzin menyeru, 'Mari menuju sholat. Mari menuju kemenangan.' Barangsiapa mampu menjawab seruan itu hendaklah memenuhinya, walau harus merangkak. (Diriwayatkan oleh lbnu Sa' ad (6/189-190) dan Abu Nu’aim (2/113)

Hatim al-Asham menuturkan. "Sekali saja aku tidak mengerjakan sholat berjamaah. Abu Ishaq al-Bukhari mendatangiku, berta'ziah. Hanya dia seorang. Padahal seandainya salah satu anakku meninggal, pastilah lebih dari sepuluh ribu orang berta'ziyah ke rumahku. Yah, bagi kebanyakan orang musibah dien memang lebih ringan dari pada musibah dunia.'

Sebagian salaf berkata, "Tidaklah seseorang itu kehilangan kesempatan untuk sholat berjamaah kecuali karena dosa yang telah dikerjakannya."

Ibnu Umar mengisahkan, "Suatu hari Umar pergi ke kebun kurma. Sepulang darinya orang-orang sudah mengerjakan sholat Ashar (berjamaah). Umar pun berkata, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku ketinggalan sholat jamaah. Saksikanlah bahwa kebun kurmaku aku jadikan sedekah bagi orang-orang miskin, semoga menjadi kaffarah atas apa yang dilakukan Umar."

Tuesday, September 4, 2018

Ancaman Mengerikan bagi Sholat Tidak Tumakninah

Ancaman Mengerikan bagi Sholat Tidak Tumakninah

Meninggalkan sholat dengan sengaja adalah merupakan salah satu dosa besar. Mengerjakan sholat tapi tidak dengan tumakninah adalah sama saja seperti tidak sholat atau sholatnya tidak sah. Berikut ini adalah keterangan-ketarangan dalam dalil firman Allah swt dan juga hadits Nabi tentang ancaman-ancaman bagi sholat yang tidak tunkaninah.

Dalil-dalil ancaman bagi sholat yang tidak tumakninah

Allah Swt berfirman di dalam AL-Qur’an Al-Karim yang berbunyi sebagai berikut:

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥

Artinya: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya (QS. Al-Ma'un : 4-5)

sholat tumakninah
Dalam sebuah riwayat, tafsir dari ayat Al-Quran di atas adalah orang-orang yang mengerjakan sholat dengan secepat kilat. tanpa menyempurnakan dalam ruku' dan sujudnya.

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa seseorang memasuki masjid di saat Rasulullah saw. sedang duduk di sana. Orang itu mengerjakan sholat lalu menghampiri Nabi dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi SAW, menjawab salam lalu berkata, "Kembali kerjakanlah sholat. Sesungguhnya kamu tadi be/um mengerjakannya. Maka orang itu pun kembali mengerjakan sholat seperti yang telah dikerjakannya. Kemudian ia kembali dan mengucapkan salam kepada Nabi SAW. Beliau menjawabnya lalu berkata, "Kembali kerjakanlah sholat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya." Orang itu pun kembali mengerjakannya seperti semula. Kemudian ia kembali dan mengucapkan salam kepada Nabi sasw. Beliau menjawabnya dan berkata, "Kembali kerjakanlah sholat. Sesungguhnya kamu tadi be/um mengerjakannya.” Beliau mengulanginya tiga kali. Mendengar itu orang tadi berkata, "Demi (Allah) yang mengutusmu dengan kebenaran wahai Rasulullah, aku tidak bisa mengerjakan sholat vang lebih baik dari yang sudah aku kerjakan tadi. Karenanva ajarilah aku." Lalu Rasulullah ~ bersabda:

إذا قمت إلى الصلاة فكبر ، ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن ، ثم اركع حتى تطمئن راكعا ، ثم ارفع حتى تعتدل قائما ، ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا ، ثم ارفع حتى تطمئن جالسا ، ثم افعل ذلك في صلاتك كلها . أخرجاه من حديث يحيى 

Artinya: Jika kamu berdiri untuk mengerjakan sholat, bertakbirlah. Lalu bacalah beberapa ayat al-Qur 'an sebisamu. Lalu ruku'/ah dengan tumakninah. Lalu angkatlah sampai kamu benar-benar berdiri tegak (i'tidal). Lalu sujudlah dengan tumakninah. Lalu duduklah dengan tumakninah. Lalu sujudlah dengan tumakninah. Demikian ini kerjakanlah dalam setiap (rekaat) sholatmu. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (757.6252) Muslim 1397). Abu Dawud (856). At-Tirmidzi (303). AnNasa'I (2/124). lbnu Majah 110601. dan Ahmad (3/437): dari Abu Hurairah.

Al-Badriy ra. meriwayatkan Rasulullah saw bersabda:

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تجزئ صلاة لا يقيم فيها الرجل صلبه في الركوع والسجود

Artinya: Tidak akan diberi pahala sholat seseorang yang tulang belakangnya tidak diluruskan ketika ruku'." (Hadits rivvayat Imam Ahmad).

Dalil Hadits di atas diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, "Hadits hasan shahih."

Pada riwayat hadits yang lain, " ...sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku' dan sujud.( Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/119). Abu Dawud (855). Ath-Thayalisi (h. 85), An-Nasa'i (2/183), lbnu Majah (870), Ad-Darimi (304) lbnu Khuzaimah (592), Al-Baihaqi (2/117), dalam Asy-Syu'ab (2861 ). dan disebutkan dalam Shahih Al-Jami’ (7224. 7225).

Inilah nash dari Nabi saw. Dengan demikian, barangsiapa tidak meluruskan punggungnya setelah ruku' dan sujud seperti sediakala, maka sholatnya batal. Hal ini berlaku untuk sholat fardlu/sholat wajib lima waktu. Adapun yang dimaksud tumakninah disini adalah ketika setiap tulang mengambil posisi masing-masing.

Diriwayatkan pula bahwa beliau Nabi Muhammad saw. berrsabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:"أسوأ الناس سرقة: الذي يسرق من صلاته! قالوا: يا رسول الله: كيف يسرق من الصلاة؟ قال: لا يتم ركوعها ولا سجودها

Artinya: "Manusia yang paling buruk perbuatan mencurinya adalah orang yang mencuri sholatnya." Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah seseorang itu mencuri sholatnya?" "Yaitu tidak menyempurnakan ruku' dan sujudnya.", jawab Nabi. saw"( Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh lbnu  Hibban  (1888), Al-Hakim (1/229). Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (2847) dan As-Sunan (2/386): dan Abu Hurairah. Dan. ada penguat dari hadits Abu Oatadah yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi (305) Ahmad (5/310). Al-Hakim (1/299). dan Al-Baihaqi (2/385). Juga, dari Abdullah bin Mughaffal, yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam ketiga kitab Mu’jam-nya. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Al-Jami' (966. 986)

Abu Hurairah mengabarkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

لا ينظر الله الى صلاة لا يقيم صلبه بين ركوعه وسجوده

Artinya: "Allah tidak akan melihat kepada seseorang yang tidak menegakkan tulang belakangnya di antara ruku' dan sujudnya.( Diriwayatkan oleh Ahmad (2/525). dan sanadnya shahih)

Rasulullah saw juga bersabda:

قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول تلك صلاة المنافق يجلس يرقب الشمس حتى إذا كانت بين قرني الشيطان قام فنقر أربعا لا يذكر الله فيها إلا قليلا

Artinya: "Inilah shalat seorang munafik. Duduk menunggu matahari sampai ketika ia berada di antara dua tanduk setan (hampir tenggelam) orang itu pun berdiri lalu shalat secepat kilat sebanyak empat  rekaat. Dia tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit dalam mengerjakannya.( Diriwayatkan oleh Malik (1/220).  Muslim (622). Abu Dawud (413). At-Tirmidzi (160). An-Nasa'i (1/254). •Ad-Daruquthni (1/254). Al-Baihaqi (1/443). dan Ahmad (3/102, 103): dari Anas.

Abu Musa meriwavatkan, suatu hari Rasulullah saw mengerjakan shalat bersama para sahabat, lalu beliau duduk. Seseorang datang, berdiri mengerjakan shalat. Ia ruku' dan sujud seperti mematuk (karena cepat). Maka Rasulullah bersabda, "Lihatlah itu! Seandainya dia mati, sungguh dia mati bukan di atas millah Muhammad saw. Dia mematuk shalatnya seperti seekor gagak meminun darah.( Hadits Hasan Diriwayatkan oleh lbnu Khuzaimah (6556) dan Al-Baihaqi (2/89), Syaikh Al-Albani meng-hasankannya dalam ta'liq beliau atas lbnu Khuzaimah. dan dalam Shahih At-Targhib (529).

Umar bin Khaththab ra. meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, Setiap orang yang shalat pasti di sisi kanan-kirinya ada malaikat. ]ika ia mengerjakannya dengan sempurna, kedua malaikat itu akan membawa shalatnya ke hadirat Allah swt. Sebaliknya jika tidak keduanya akan memukulkan shalatnya ke wajahnya.( Hadits Dha’if. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Al-ifrad Syaikh Al-Albani men-dha'if-kannya dalam Dha’if Al-Jami’ (5226).

Ubadah bin Shamit berkata, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa berwudlu dengan sebaik-baiknya, kemudian berdiri mengerjakan shalat, menyempurnakan ruku'nya, cara sujudnya. serta bacaannya, niscaya shalatnya berkata, 'Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjagaku.' Lalu shalat itu  -ia bersinar dan bercahaya- akan diangkat ke langit. Pintu-pintu langit pun dibukakan sehingga ia akan sampai ke hadiratNya. la akan memintakan syafaat bagi orang yang telah mengerjakannya. Tetapi jika orang itu tidak menyempurnakan ruku’', sujud. dan bacaannya, niscaya shalatnya akan berkata, "Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku. Kemudian shalat itu -ia diliputi kegelapan- diangkat ke langit. Tetapi pintu-pintu langit tertutup. Maka ia pun dilipat seperti dilipatnya kain usang, lalu dipukuikan ke wajah orang yang telah mengerjakannya.( Hadits Dha’if  Diriwayatkan oleh Ath• Thayalisi (h. 80). Al•Bazzar I 1/77. no. 350), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (2871 ). Syaikh Al-Albani men-dha 'if-kannya dalam Dha 'if Al-Jami (400).

Dari Salman al-Farisiy berkata, Rasulullah saw bersabda, "Shalat itu timbangan. Barangsiapa memenuhinva ia pun akan dipenuhi. Dan barangsiapa mencuranginya. sungguh kalian telah tahu apa yang dijanjikan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ

Artinya: Kecelakaan (Wail) besarlah bagi para muthaffif (Al-Muthaffifin: 1)( Sanadnya dha’if Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq (37501. Ad-Dulabi dalam Al-Kuna (2/141 ), dan Al-Baihaqi (2/291 ): dari Salim bin Abi Al-Ja’d. dari Salman. sedang dia tidak mendengar darinya. dan dia seorang mudallis (penipu). tldak menvatakan secara terang bahwa dia pernah mendengar had its darinya. Wallahu a 'lam.

Muthaffif adalah orang vang mengurangi takaran, timbangan, atau ukuran, atau shalat. Mereka diancam oleh Allah dengan Wail, satu lembah di jahannam yang karena panasnya jahannam pun minta perlindungan kepada Allah. Semoga Allah melindungi kita darinya.

Dari Ibnu Abbas. Ra.• bahwasannya Nabi Muhammad saw. bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian bersujud. hendaklah meletakkan wajahnya, hidungnya. dan tangannya di atas tanah. Karena Allah Ta'a/a memerintahkan supaya bersujud dengan tujuh anggota badan: kening. hidung, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung telapak kaki, dan supaya tidak menahan rambut atau pakaian. Barangsiapa shalat dengan tidak memberikan kepada setiap bagian tubuh tersebut haknya. maka bagian tubuh itu akan melaknatnya sampai dia selesai dari shalatnya. (Saya beium mendapatkannya sejauh pencarian yang saya  lakukan. Hanya saja Asy-Syaukani dalam An-Nail (Nail Al-Authar) (2/259). menisbatkannya pada Ismail bin Abdullah. yang dikenal dengan nama Samawaih dalam Fawaid-nya. dari jalur lkrimah. dari lbnu Abbas.)

Pada suatu ketika Hudzaifah bin Yaman melihat seseorang mengerjakan shalat, namun tidak menvempurnakan ruku' dan sujudnya. Hudzaifah pun menyapanya. "Kamu belum shalat. Andaisaja kamu mati padahal shalatmu seperti itu. sungguh kamu mati di atas selain fitrah Muhammad saw.(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (791. 808). Abdurrazzaq (3732, 3733). An-Nasa'i (3/58) !bnu Hibban (1894). Al-Baihaq1 (2/118), dalam Asy-Syu'ab (2860). Ahmad (15/384). dan Al-Baghawi (616).)

Dalam riwayat Abu Dawud Hudzaifah bertanya, "Sejak kapan kamu mengerjakan shalat seperti yang kulihat tadi?" "Sejak empat puluh tahun yang lalu.", jawab orang itu. Lalu Hudzaifah berkata, "Selama empat puluh tahun ini kamu tidak shalat sama sekali. Dan jika kamu mati, kamu mati di atas selain fitrah Muhammad  saw. (Riwayat hadits ini bukan dalam Abu Dawud. melainkan ada pada lbnu Hibban (1894). Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (2860). dan As-Sunan (2./117).

Dari Hasan al-Bashriy bertutur, "Wahai anak Adam apalagi yang kamu banggakan dari dienmu jika shalatmu sudah kamu sepelekan? Padahal, tentang shalat itulah pertanyaan pertama yang diajukan kepadamu pada hari kiamat nanti.

Nabi saw bersabda, "Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. ]ika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika kurang, sungguh telah gagal dan merugilah ia." Dan bilamana amalan Fardiu itu kurang sempurna Allah berfirman, ''Lihatlah, apakah hambaKu memiliki amalan sunnah untuk melengkapinya?" Demikian sampai habis seluruh amalnya.(Ditiwayatkan oleh Ahmad (2/290). Abu Dawud (8651 At-Tirmidzi (413) An-Nasa'i (1/232) lbnu Majah 14251dan Ath-Thahawi dalam Al-Musykil (3/228) dari Abu Hurairah. Syaikh Al-Albani men-shahih-kannya dalam Shahih A/-Jami’ (2568)

Dengan demikian, hendaknya, sebaiknya dan seharusnya seorang hamba itu mestinya memperbanyak amalan sunnah untuk menyempurnakan amalan yang wajib. Dari Allah taufiq itu datang. Semoga kita senantianya dalam taifiq, inayah dan hidayahnya. aamiiin

Wednesday, August 8, 2018

Hukuman dan Hukum Meninggalkan Sholat dalam Hadits

Hukuman dan Hukum Meninggalkan Sholat dalam Hadits

Apa hukum meninggalkan sholat dalam Islam berdasarkan hadits Nabi? Pada bahasan sebelumnya telah kita sampaikan mengenai larangan meninggalkan sholat berdasarkan sumber dari al-Qur’an dan dalil hadits Nabi. Menyambung bahasan tersebut, berikut ini adalah penjelasan tentang hokum meninggalkan sholat.

Perbedaan pendapat tetang hukum meninggalkan sholat.


Terdapat perbedaan pendapat dari para ulama berkaitan dengan hukum orang yang meninggalkan sholat. Dari Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad berpendapat bahwa hukum orang yang meninggalkan sholat adalah dipancung dengan sebilah pedang. Kemudian mereka berbeda pendapat tentang kekafiran mereka apabila mereka meninggalkan sholat tanpa adanya udzur sehingga lewat waktunya sholat.

hukum meninggalkan sholat
sholat tepat pada waktunya


Ibrahim an-Nakha'iy, Ayyub as-Sikhtiyaniy, Ahdullah bin Mubarak, Ahmad bin Hambal, dan Ishaq bin Rahuyah, mereka berpendapat bahwa mereka yang meninggalkan sholat maka mereka kafir. Mereka berhujjah dengan dalil sabda Nabi Muhammad saw. Yang artinya sebagai berikut:

"Ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah sholat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia.

Juga dalil sabda beliau, yang artinya: "Batas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan sholat. ((Telah disebutkan takhrij-nya.- lihat lafadz dalilnya dalam bahasa arab pada artikel Meninggalkan sholat )

Beberapa dalil terkait dengan hukuman dan hukum meninggalkan Sholat


Dalam sebuah dalil hadits Sabda Nabi SAW. disebutkan, "Sesungguhnya orang yang selalu menjaga sholat wajib niscaya akan dikaruniai oleh Allah ~. dengan lima karamah; ditepis darinya kesempitan hidup, dijauhkan ia dari azhab kubur, diterimakan kepadanya catatan amalnya dengan tangan kanan, ia akan melewati shirath seperti kilat yang menyambar, dan akan masuk surga tanpa hisab. Sebaliknya orang yang menyia-nyiakannya niscaya akan dihukum oleh Allah dengan 14 hukuman; lima di dunia, tiga ketika mati, tiga di alam kubur, dan tiga lagi ketika keluar dari kubur. Kelima hukuman di dunia itu adalah; barokah dicabut dari hidupnya, 'tanda' sebagai orang shalih dihapus dari wajahnya. semua amalan yang dikerjakannya tidak akan diberi pahala oleh Allah, do'anya tidak akan diangkat ke langit, dan dia tidak mendapat bagian dari do'anya orang-orang shalih. Hukuman yang menimpanya ketika mati adalah; dia akan mati dalam kehinaan, dalam kelaparan, dan dalam kehausan. Meskipun ia diberi minum air seluruh lautan dunia, semua itu tak mampu menghilangkan dahaganya. Hukuman yang menimpanya di kubur adalah; kuburnya menyempit sehingga tulang-tulang-nya ringsek tak karuan, dinyalakan di sana api yang membara siang-malam, dan ia dihidangkan kepada seekor ular yang bernama as-Syuja' al-Aqra'. Kedua bola matanya dari api, kuku-kukunya dari besi, dan panjang tiap kuku itu sejauh perjalanan satu hari. Ular itu terus-menerus melukai si mayit sambil berkata, "Akulah asSyuja' al-Aqra'!.. Suaranya bagaikan gemuruh halilintar. "Aku diperintah oleh Rabb-ku untuk menwkulmu atas kelakuanmu yang menunda-nunda sholat Shubuh sampai terbit matahari, juga atas sholat Zhuhur yang kau tunda-tunda sampai masuk waktu 'Ashar. juga atas 'Ashar yang kau tunda-tunda sampai Maghrib, juga atas Maghrib yang kau tunda-tunda sampai 'Isya', dan atas 'Isya' yang kau tunda-tunda sampai Shubuh." Setiap kali ular itu memukulnya. ia terjerembab ke bumi sedalam 70 hasta. Demikian keadaannya sampai datangnya hari kiamat nanti. Adapun hukuman yang menimpanya sekeluarnya dari kubur pada hari kiamat adalah; hisab yang berat, kemurkaan Rabb, dan masuk ke neraka."

Pada riwayat dalil hadits yang lain disebutkan, yang artinya:"Pada hari kiamat nanti ia akan tampil sedangkan di wajahnya tertulis tiga baris kalimat; Wahai si penyia-nyia hak Allah, Wahai yang secara khusus mendapat kemurkaan dari Allah, dan Sebagaimana kamu telah menyia-nyiakan hak Allah di dunia, maka pada hari ini pun berputus-asalah dari rahmat Allah. "( Saya (pen-takhrij) tidak mendapalkan satu sanad pun berkenaan dengan hadits ini. lbnu Hajar Al-Haitsami menyebutkannya dalam Az-Zawajir (1/136) dengan penuh perasaan risau, dan dia berkata, ''Sebagian orang mengatakan. disebutkan dalam hadits ... "Kemudian dia pun menyebutkannya. Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan (3/653) dalam menyebutkan biografi Muhammad bin All Al-Abbas Al-Baghdadi Al-Aththar, bahwa dia telah memalsukan atas nama Abu Bakr bin Ziyad An-Naisaburi sebuah hadits batil tentang 'orang yang rneninggalkan sholat').

Al-Hafizh dalam Lisan Al-Mizan (5/285) berkata. "Muhammad bin Ali menyangka bahwa lbnu Ziyad menerimanya dari Ar-Rabi' dari Asy-Syafi'1 dari Malik dari Sarni dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dengan me-matfu'-kannya, Man tahawana bi sholatihi 'aqabahullahu bi khamsata 'asyara khashlatan (barangsiapa yang melalaikan sholat. Allah akan menghukumnya dengan lima belas hal). Hadits ini sangat Nampak sekali kebatilannya, dan ia termasuk hadits-hadits yang dibuat-buat oleh para ahli tarikat (thuruqiyyah). Burhanuddin Al-Halabi juga telah menyebutkannya dalam Al-Kasyf Al-Hatsits (halaman 240)."

Ibnu Abbas berkata, "Pada hari kiamat nanti, didatangkan seseorang dan dihadapkan kepada Allah swt. Allah memerintahkannya untuk masuk neraka. Tapi orang itu bertanya, "Wahai Rabbku, mengapa?" Dan Allah pun menjawab, "Untuk penundaan sholat dari waktunya dan sumpah palsumu atas nama-Ku.

Pada suatu hari Rasulullah saw berdo'a di tengah-tengah para sahabatnya, "Ya Allah, janganlah Engkau sisakan di antara kami orang yang 'sengsara lagi terhalangi'." Lalu beliau melanjutkan, "Tahukah kalian siapakah orang yang sengsara lagi terhalangi itu?" Para sahabat balik bertanya, "Siapakah mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang meninggalkan sholat.

Diriwayatkan bahwa wajah yang pertama kali dikelamkan pada hari kiamat adalah wajah orang-orang yang meninggalkan sholat. Juga bahwa di neraka jahannam ada suatu lembah yang disebut 'al-Malham. Di situ ada ular banyak sekali. Ukurannya sebesar leher unta. Panjangnya sejauh perjalanan satu bulan. Ular-ular itu mematuk orang yang meninggalkan sholat. Bisanya akan merusak tubuh orang yang meninggalkan sholat selama 70 tahun sebelum selanjutnya daging-dagingnya membusuk.

Kisah-kisah tentang dosa besar dan hukum meninggalkan Sholat


Terdapat sebuah kisah, dimana seorang perempuan dari Bani Israil menghadap Musa as, berkata, "Wahai Rasulullah. aku telah melakukan. satu dosa besar. Tapi aku telah bertaubat kepada Allah, Untuk itu sudilah kiranya engkau memohon kepada Allah agar mengampuni dosaku dan menerima taubatku." Maka Musa pun bertanya, "Apakah dosa yang telah kamu lakukan itu?" Wanita itu menjawab, "Wahai Nabi Allah. sungguh aku telah berzina, melahirkan anak haram. lalu membunuhnya.'' Musa berkata lagi, "Pergi jauhlah wahai pendosa! ]angan sampai api dari langit menyambar kami gara-gara dosa yang telah kamu lakukan itu!" Wanita itu pun meninggalkan Musa membawa hati yang hancur. Lalu Jibril mendatangi Musa dan berkata, Wahai Musa, Rabb bertanya kepadamu, "Mengapa kamu menolak seorang wanita yang telah bertaubat. wahai Musa? Apakah kamu sudah tidak mendapati yang lebih burnk darinya?" Musa balik bertanya, "Wahai ]ibril, apakah yang lebih buruk darinya?" "Meninggalkan sholat dengan sengaja', jawab Jibril.

Kisah cerita yang lain hukum meninggalkan sholat.


Diceitakan, seseorang dari kalangan salaf turut menguburkan saudara perempuannva vang mati. Tanpa ia sadari sebuah kantong berisi hana yang ia bawa jatuh dan turut terkubur. Begitu pula dengan mereka yang hadir, tak satu pun menyadarinya. Sepulang darinya. barulah ia tersadar. Maka ia kembali ke makam dan ketika semua orang telah pulang ke tempat masing-masing ia bongkar kembali makam saudaranya itu. Dan ia pun terkejut begitu melihat api yang menyala-nvala dari dalam makam. Serta merta ia kembalikan tanah galian, dan pulang sambil bercucuran air mata. Mendapati ibunya ia bertanya, Duhai Ibunda, gerangan apakah yang telah dilakukan oleh saudara perempuanku?" "Mengapa kau menanyakannya, Anakku?", ibunya balik bertanya. Ia pun menjawab, "Bunda, sungguh aku melihat kuburnya dipenuhi kobaran api." Lalu ibunya menangis dan berkata, "Wahai anakku, dulu saudara perempuanmu terbiasa meremehkan dan mengakhirkan sholat dari wakrunya."

Dari keterangan-keterangan dan cerita kisah di atas adalah keadaan mereka yang menyepelekan dan mengakhirkan sholat dari waktunya dan hukum meninggalkan sholat. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak mengerjakannya sholat? Marilah kita memohon petunjuk, inayah dan pertolongan kepada Allah swt agar kita selalu dapat menjaga sholat tepat pada waktunya.