Pembagian Dosa Menurut Sumber Hukum Islam

Al-Qur'an, sunnah, dan ijma para sahabat, tabi'in, dan para imam sesudah mereka menunjukkan bahwa dosa itu terbagi menjadi dua, dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil. Allah Swt. berfirman: 

“ Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).( An-Nisaa [4] : 31)

"(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya, Tuhan kalian Maha luas ampunan-Nya. Dan, Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) kalian ketika Dia menjadikan kalian dari tanah dan ketika kalian masih janin dalam perut ibu kalian maka janganlah kalian mengatakan diri kalian itu suci! Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.( An-Najm [53] : 32)"

Dalam hadits shahih, Nabi Saw. bersabda, "Shalat lima waktu, hari Jum'at sampai ke Jum'at dan Ramadhan sampai ke Ramadhan beri¬kutnya dapat menghapus dosa di antara keduanya apabila dosa-dosa besar tidak dilakukan."

Amalan-amalan yang dapat meng¬hapus dosa mempunyai tiga tingkatan:
  • Kurang bisa menghapus dosa-dosa kecil karena lemah dan kurang ikh¬las dalam melakukannya. Amal¬an semacam ini sama halnya de¬ngan obat yang kurang manjur dalam melawan dan menolak penyakit. 
  • Mampu menghapus dosa-dosa kecil, namun tidak mampu menghapus doa-dosa besar. 
  • Dapat menghapus dosa-dosa kecil dan juga sebagian dosa besar. Renungkanlah ! Maka, kamu tidak akan bingung lagi! 
Dalam hadits shahih, Nabi Saw. bersabda: "Maukah kalian aku beritahu dosa yang terbesar?" "Iya, wahai Rasulullah", jawab para sahabat. Lalu beliau Saw. bersabda, "Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan kesaksian palsu." 


Diriwayatkan juga dalam hadits shahih, beliau Saw. bersabda: "Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan!" Para sahabat bertanya, "Apa saja itu, wahai Rasulullah?" Kemudian, beliau Saw. menjawab, "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari di saat peperangan, serta menuduh zina wanita yang menjaga kehormatan dan beriman." 

Dalam hadits shahih, diriwayatkan bahwa beliau Saw. ditanya, "Dosa apakah yang terbesar dalam pandangan Allah?" Lalu beliau menjawab, "Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu" Ditanyakan lagi, "Kemudian apa lagi?" beliau menjawab, "Engkau bunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu." Sahabat bertanya lagi, "Lalu apa lagi?" "Engkau berbuat zina dengan istri tetanggamu," jawab beliau. Allah membenarkan ini dengan menurunkan ayat: 

"Dan, orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (:membunuhnya.) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)( Al-Furqaan [25] : 68)"