Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Jihad. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Jihad. Show all posts

Friday, December 18, 2015

Pengertian Jihad dalam Hadits, Qur’an, Syar’i

Pengertian Jihad dalam Hadits, Qur’an, Syar’i

Sebelum kita berjihad maka hendaknya kita mengetahui, arti, makna dan pengertian jihad. Apa sebenarnya pengertian, makna atau arti jihad yang sebenarnya? Untuk menjawab secara hakiki dan benar, sebagai umat Islam maka kita memerlukan sumber atau literatur yang menjadi pegangan dalam menjalani hidup yaitu Kitabullah al-Quran dan hadits Nabi Muhammad saw. sebagai rujukan. Di samping itu, hendaknya juga memahami pengertian, arti atau makna serta pengertian jihad secara harfiah atau bahasa dari beberapa sumber.

Pengertian dan makna jihad secara bahasa

Berdasarkan kamus Al-Muhith karangan Fayruz Abadi, kata jihad secara bahasa berasal dari kata Juhd yang artinya jerih payah. Yang dapat bermakna kemampuan atau thaqah, dapat juga bermakna kesukaran atau matsaqah. Dari pendapat ini memberikan penjelasan mengenai pengertian jihad adalah mengerahkan tenaga dan kemampuan yang ada, baik perbuatan maupun perkataan. Sedangkan pendapat lain dari An-Naysaburi dalam Tafsir an-Naysaburi memberikan pengertian jihad adalah mengerahkan seluruh kemampuan untuk mencapai atau memperoleh tujuan.

Pengertian jihad dalam Al-Qur’an

Melihat makna jihad dalam bahasa al-Quran:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩

http://islamiwiki.blogspot.com/
Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Ankabut [29]: 69)

Dalam dalil firman Allah swt. yang lain, sebagai berikut:

فَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَجَٰهِدۡهُم بِهِۦ جِهَادٗا كَبِيرٗا ٥٢

Artinya: Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar. (QS al-Furqan [25]: 52).


Pengertian dan makna jihad dalam dalil hadits Nabi

Mengenai pengertian jihad dalam hadits Nabi saw.

Arti dan makna bahasa dalam al-hadits. Hadits diriwayatkan Ibnu Majah

نَعَمْ, عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

Artinya: Ya, yaitu jihad yang tidak ada perang di dalamnya, yakni ibadah haji dan umrah. (HR Ibn Majah)

Juga hadits lainnya: dari at-Tirmidzi:

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ

Artinya: Yang bernama mujahid adalah mereka yang memerangi dirinya. (HR at-Tirmidzi)

Pengertian Jihad makna syar’iyah

http://islamiwiki.blogspot.com/
Secara syariat Islam pengertian dan makna jihad adalah suatu upaya mengerahkan segenap kemampuan dalam berperang di jalan Allah secara langsung atau membantunya dengan harta, dengan (memberikan) pendapat/pandangan, dengan banyaknya orang maupun harta benda, ataupun yang semisalnya (Ibnu Abidin, Radd al-Mukhtâr, III/336)

Jihad juga dapat dimaknai dengan usaha mengerahkan segenap jerih payah dalam memerangi kaum kafir. (Ibnu Hajar, Asy Syaukani, Az Zarqani).

Pengertian dan makna jihad secara syariat al-Qur’an

Firman Allah swt. di dalam al-Qur’an:

قَٰتِلُواْ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلۡحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ حَتَّىٰ يُعۡطُواْ ٱلۡجِزۡيَةَ عَن يَدٖ وَهُمۡ صَٰغِرُونَ

Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. QS. At-taubah ayat 29.

Juga firman Allah yang lain:


وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ

Artinya: Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. QS. Al-Anfal ayat 39.


Pengertian dan makna jihad secara syariat hadits

Dalil hadits Nabi:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

Artinya: Siapa saja yang berperang dengan tujuan menjadikan kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah. (Hadits Riwayat al-Bukhari).

Dalam hadits yang lain:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

Artinya: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan “La Ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah (Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah pengertian, arti serta makna jihad fisabilillah atau jihad di jalan Allah swt berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Semoga kita benar-benar bisa memaknai pengertian hadits dengan benar dalam implementasi kehidupan sehari-hari.

Jihad di jalan Allah swt. atau jihad fisabilillah tidak hanya dalam peperangan menegakkan agama Allah swt. akan tetapi segala upaya baik dalam bentuk harta, tenaga, pikiran, pendapat, nasehat kebaikan, syiar agama, memerangi diri sendiri dari sifat keburukan, ceramah agama, baik dalam materiil maupun non materiil dengan tujuan menjadikan kalimat Allah menjadi paling itu. Wallahu a’lam.
loading...

Wednesday, May 21, 2014

no image

Jenis & Macam Jihad di Jalan Allah

Berikut in adalah jenis dan macam-macam jihad Islam di jalan Allah menurut ajaran Islam berdasarkan pada dalil Hadits Nabi dan dalil dari Al-Qur'an Al-Karim. Macam dan jenis jihad dalam ajaran islam antara lain sebagai berikut :

Jihad harta benda.
Macam jihad yang pertama adalah "Jihad harta benda": adalah jenis jihad dengan menafkahkan (membelanjakannya) untuk meninggikan kalimat Allah. Dan jihad jenis ini me­rupakan urat sensitif bagi setiap jihad yang dilakukan umat Islam dalam hidupnya, baik jihad tabligh (menyampaikan) ataupun jihad pengajaran, politik maupun perang. 
Beberapa ayat al-Qur'an yang menegaskan tentang salah satu macam jihad harta dan benda antara lain sebagai berikut :

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (Q.S. 9: 111)"

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. (Q.S. 9: 41)"

Dan juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa'i mengenai jihad harta dan benda :

مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِسَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ٠

"Barang siapa yang membelanjakan hartanya di jalan Allah, baginya disediakan tujuh ratus lipat harta yang dibelanjakan­nya itu".

Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Enam, kecuali Malik mengenai salah satu macam jihad harta benda dengan menyiapkan bekal bagi pejihad dan menafkahi keluarga :

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا٬وَ مَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِيْ أَهْلِهِ غَزَا٠

"Barang siapa yang mempersiapkan (bekal) orang yang hendak pergi ke medan jihad di jalan Allah, berarti ia telah berjihad, dan barang siapa menanggung nafkah keluarga seseorang yang sedang berperang, berarti ia telah berjihad dijalan Allah".

Jihad Tabligh

Jenis atau macam jihad yang kedua adalah Jihad menyampaikan (tabligh). Jihad tabligh adalah dengan menyampai­kan Islam dengan perkataan, memberikan argumentasi bahwa dakwah Islam adalah hak terhadap orang-orang yang memerlukan seperti orang munafik, orang yang keluar dari agama islam dan yang menyimpang.

Dalil dalm al-Qur'an tentang jihad tabligh antara lain :

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. 9: 71)

. . . (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merana takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (Q.S. 33: 39)

Dalil-dalil dari hadits Nabi tentang salah satu macam jihad islam yaitu jihad tabligh

Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Jaban:

نَضَرَ اللَّهُ امْرَءً اسَمِعَ مِنِّيْ شَيْئًا فَبَلَغَهُ كَمَاسَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ٠   

"Allah mengetokkan rupa seseorang yang mendengarkan sesuatu daripadaku dan menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Acap kali orang yang menyampaikan lebih menerima dan menghafal dari orang yang sekedar mendengarkan ".

Beliau juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dan Ashhabu 's-Sunan:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنِ اتَّبَعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا ٠

"Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya tanpa me­ngurangi pahala mereka sedikit pun..."

Jihad mengajar

Macam jihad yang ketiga adalah Jihad mengajar: Jihad mengajar adalah dengan mengeluarkan daya upaya dalam membentuk masyarakat Islam dari segi intelektual, kultural dan mental, dan memberikan gambaran yang betul tentang ideologi Islam. Secara keseluruhan, tentang alam semesta, kehidupan dan manusia.

Dalil Al-Quran dan Hadits tentang jihad mengajar

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke dalam perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya. (Q.S. 9: 122)

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulul­lah saw., beliau bersabda:

تَنَا صَحُوْا فِى الْعِلْمِ فَإِنَّ خِيَانَةَ أَحَدِكُمْ فِى الْعِلْمِهِ أَشَدُّ مِنْ خِيَانَتِهِ فِى مَالِهِ٬ وَاِنَّ اللَّهَ مُسَائِلُكُمْ٠

"Saling nasihat menasihatilah dalam ilmu, karena khianat salah seorang dari kamu dalam ilmunya adalah lebih berat daripada khianatnya dalam harta, dan sesungguhnya Allah akan minta pertanggungjawabanmu".

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At- Tirmidzi:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ بِلِجَامٍ مِنْ نَارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu menyembunyikannya, niscaya ia akan didera, pada hari kiamat dengan dera dari api".

Jihad politik

Macam atau jenis jihad selanjutnya adalah Jihad politik: yaitu dengan mengeluarkan daya upaya dalam mendirikan Daulah Islamiyah berdasarkan prinsip-prinsip Islam, kaidah-kaidahnya yang umum dan menyeluruh. Ringkasnya, pemerintahan harus menerapkan peraturan hukum Allah semata.

Dalil al-Quran dan Hadits Nabi mengenai jihad dalam politik

. . . dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Q.S. 5: 49-50)

Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

مَامِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ ٬ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَالاَ يَفْعَلُوْنَ  مَالاَ يُؤْمَرُوْنَ ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ٠

"Tidaklah seorang Nabi yang diutus Allah ke suatu umat sebelumku kecuali ia dari umatnya mempunyai penolong dan sahabat yang memegang sunnahnya, mengikuti perintahnya, kemudian setelah itu datanglah orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Maka, barang siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka ia adalah seorang Mukmin, dan barang siapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka ia adalah seorang Mukmin, dan barang siapa yang memerangi mereka dengan hatinya maka ia adalah seorang Mukmin, dan di bela­kang itu tidak ada lagi iman walau sebesar biji sawipun".

Jihad Perang

Jihad perang adalah macam dari jihad dengan mengeluarkan daya upaya untuk menghadapi thaghut yang merintangi menjalankan hukum Allah, menghalang-halangi penyebaran dakwah-Nya di muka bumi.

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan(Q.S. 8: 39)

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk(Q.S. 9: 29)

Dan ini adalah yang disebutkan Rib'iy bin 'Amir dalam pertemuan yang berlangsung antara kaum Muslimin dan Rustum, pemimpin Persia: "Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk membebaskan manusia dari penyembahan hamba kepada pc nyembahan Allah, dari kesempitan dunia kepada kelapangannyn, dari penganiayaan agama-agama kepada keadilan Islam".

Itulah jenis-jensi dan macam jihad di jalan Allah yang merupakan ajaran islam untuk kita laksanakan bersama.
loading...

Wednesday, August 14, 2013

no image

Tadzakkur, Mengingat Allah dan Bersyukur atas Kenikmatan-Nya

Di antara hal-hal yang membantu seseorang—secara sempurna—dalam jihadnya melawan nafs dan setan." Nafs di sini maksudnya adalah an-nafs al-ammarah bi as-su', yaitu kekuatan syahwat dan kekuatan ghadhab, bukan nafs secara mutlak yang mencakup juga kekuatan akal. Di antara hal-hal penting dalam jihad melawannya: "Yang sebaiknya dimiliki manu­sia penempuh jalan spiritual dan mujahid adalah kewaspadaan terha­dapnya dengan sebaik-baiknya, yaitu tadzakkur. Dengan menyebutkan­nya, kami mengakhiri pembicaraan tentang maqam ini." Yaitu, maqam pertama dalam pembahasan ini dan yang dikhususkan pada pemba­hasan tentang tujuh kekuatan lahiriah dalam kerajaan badan. Adapun maqam kedua adalah tentang kekuatan-kekuatan batin, yaitu kekuatan akal (al-quwwah al-'aqilah), kekuatan wahm (al-quwwah al-wahimiyyah), kekuatan khayal ('al-quwwahal-mutakhayyilah), dan sebagainya. Bagaima­napun, kita akan mengakhiri pembahasan ini "walaupun masih banyak tema [dalam masalah ini yang harus dibahas].” 

Definisi dan Pengertaian Tadzakkur dan Dzikra

“Dzikra dalam hal ini adalah mengingat Allah SWT dan kenikmatan-kenikmatanNya yang dianugerahkan kepada seseorang." 

Memuliakan Pemberi Kenikmatan, Yang Mahabesar, dan Yang Mahahadir Merupakan Dorongan Fitrah 

Tujuan tadzakkur adalah bersyukur, mengagungkan, dan taat kepada Allah SWT. Manusia dengan fitrahnya dijadikan berwatak menghormati, bersyukur, dan memuliakan Pemberi kenikmatan, Yang Mahabesar, dan Yang Maha hadir. 

Imam Khomeini r.a. telah mengetengahkan pembahasan ini dan mengingatkan bahwa seseorang harus bersyukur dan taat kepada Allah dengan memperhatikan semua aspeknya. Berikut ini penjelasannya. 

Pertama, Menghormati Pemberi Kenikmatan merupakan Dorongan Fitrah 

"Ketahuilah, menghormati dan mengagungkan Pemberi kenikmatan merupakan dorongan fitrah yang manusia dijadikan berwatak demikian dan kepentingannya ditentukan fitrah" di mana manusia diciptakan dengan fitrah selalu bersyukur, memuliakan, dan menghormati siapa yang memberikan kenikmatan kepadanya. Dalam hal ini, dua orang tidak berbeda kecuali orang yang akalnya rusak dan fitrahnya menyim­pang. "Apabila siapa pun memperhatikan kitab (buku catatan amal) esensinya," yaitu di dalam nafs dan kekuatan-kekuatannya yang dianuge­rahkan Allah kepadanya, "tentu ia mendapati padanya tertulis bahwa ia harus mengagungkan siapa yang memberikan kenikmatan kepada manusia." Inilah kitab yang akan disebarkan kepada manusia pada Hari Kiamat. Dikatakan kepadanya, Bacalah kitabmu. "Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab terhadapmu.[ QS al-Isra [17]:1]" 

"Jelaslah, setiap kali kenikmatan itu semakin besar dan pamrih Pem­beri kenikmatan semakin kecil, maka mengagungkan-Nya adalah lebih wajib dan lebih banyak, berdasarkan ketentuan fitrah. Terdapat—misal­nya—perbedaan yang jelas antara menghormati dan menghargai seseorang yang membantu seekor kuda sambil menggerutu di belakang dengan menghormati dan menghargai orang yang menghibahkan se bidang kebun kepadanya dan tidak mengungkit-ungkitnya. Atau, misalnya, apabila seorang dokter menyelamatkanmu dari kebutaan, maka engkau akan menghormati dan memuliakannya secara naluriah. Dan, apabila ia menyelamatkanmu dari kematian maka penghormatan dan pemuliaanmu kepadanya akan lebih besar lagi." Dengan demikian, be­sarnya kenikmatan secara fitrah menyebabkan besarnya penghormatan, pemuliaan, dan syukur orang yang mendapatkan kenikmatan itu kepada pemberi kenikmatan. Oleh karena itu, kalau seseorang mengingat dan berpaling pada kenikmatan yang tidak terhitung dan tak terhingga yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya, dan kalau kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu menghitungnya,[ QS Ibrahim [14]: 34] maka i a akan mengetahui bahwa syukur, penghormatan, pemuliaan, peng­agungan, ketaatan, dan ketundukannya kepada Allah SWT harus sesuai (dengan kenikmatan yang tidak terbatas ini, yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya. 

Contoh-contoh Kenikmatan Allah SWT 

"Sekarang, perhatikanlah kenikmatan-kenikmatan lahiriah dan batiniah yang dianugerahkan Tuhan Yang Maharaja dari segala raja yaitu Allah SWT, yang kalau jin dan manusia bersatu untuk memberikan satu saja dari kenik­matan-kenikmatan itu kepadanya, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Ini merupakan satu hakikat yang kita lalaikan." 

"Misalnya, udara yang kita manfaatkan siang dan malam. Kehidupan kita dan kehidupan semua maujud bergantung padanya, di mana kalau seperempat jam saja kehilangan udara tersebut, tentu tidak ada lagi binatang yang hidup. Udara ini merupakan salah satu kenikmatan yang sangat besar, yang jin dan manusia seluruhnya tidak mampu mem­berikan yang semisalnya kepada kita kalau mereka ingin memberikannya kepada kita." 

"Berdasarkan hal ini, bandingkanlah dan ingatlah sejenak kenikma­tan-kenikmatan Ilahi, seperti kesehatan badan, kekuatan-kekuatan lahi­riah berupa penglihatan, pendengaran, perasaan, dan sentuhan, dan kekuatan-kekuatan batiniah berupa khayal, wahm, akal, dan sebagainya di mana setiap kenikmatan ini memiliki menfaat-manfaat khusus yang tidak terbatas. Semua kenikmatan ini dianugerahkan Tuhan Yang Maha raja dari segala raja kepada kita tanpa kita minta dan tidak diungkit-ungkit." 

"Dia tidak merasa cukup dengan memberikan kenikmatan kenikmatan ini. Akan tetapi, Dia juga mengutus para nabi, para rasul, dan kitab-kitab suci serta menjelaskan kepada kita jalan kebahagiaan dan kesengsaraan, surga dan neraka." 

Nikmat Allah kepada Kita tanpa Berhajat kepada Kita 

Allah SWT telah menganugerahkan kenikmatan-kenikmatan yang tidak terbatas dan tak terhingga. "Dan Dia memberi kita semua yang kiia butuhkan di dunia dan akhirat tanpa membutuhkan dan berhajat pada ketaatan dan ibadah kita. Dia Yang Mahasuci tidak mengambil manfaat dari ketaatan dan tidak ditimpa bahaya dari kemaksiatan. Ketaatan dan kemaksiatan kita bagi-Nya sama saja." Dengan inilah pemberian Allah SWT dibedakan dari pemberian manusia. Sebab, pada umumnya manusia tidak memberi kepada sesamanya kecuali dengan tujuan keduniaan atau keakhiratan. Namun, Allah SWT karena besarnya kecintaan-Nya kepada penghuni kerajaan-Nya, menganugerahi mereka kenikmatan-kenikmatan tanpa tujuan untuk mengharapkan sesuatu dari mereka atau karena membutuhkan mereka. Bahkan, keimanan dan kekafiran mereka serta ketaatan dan kemaksiatan mereka bagi-Nya sama saja. 

Namun, ini tidak berarti bahwa kemaksiatan, seperti ketaatan, disukai dan diridhai Allah SWT. Akan tetapi, Allah SWT memerintahkan ketaatan karena Dia menginginkannya dan menyukai orang yang melakukannya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.[QS al-Baqarah [2]: 222] Allah SWT juga melarang kemaksiatan karena Dia tidak menginginkannya dan tidak menyukai orang yang melakukannya. Akan tetapi, yang dimaksud dengan ketaatan dan kemaksiatan kita bagi-Nya sama saja adalah bahwa ketaatan seseorang tidak menambah sesuatu apa pun pada kerajaan-Nya. Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya [tidak membutuhkan sesuatu] dari alam semesta.[ QS al-Ankabut [29]: 6] Demikian pula, kemaksiatan seseorang tidak mengurangi sesuatupun dari-Nya. Barangsiapa kafir, maka sesungguhnya Allah Maha kaya [tidak membutuhkan sesuatu] dari alam semesta.[ QS Alu ‘Imran [3]: 97] 

Tidak sepantasnya terbayang dalam pikiran Anda bahwa cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya, yang merupakan pangkal segala kenikmatan yang dianugerahkan kepada mereka, adalah seperti cinta, kasih sayang, dan pemberian Anda kepada orang miskin, yang mendorong Anda untuk menolongnya. Sebab, pertolongan Anda ini karena dorongan kepedihan jiwa yang Anda rasakan terhadap keadaan orang miskin itu. Dengan demikian, pertama, hal itu berguna bagi Anda, dan kedua, hal itu merupakan pertolongan baginya. Sementara itu, cinta dan pemberian Allah SWT yang amat besar kepada hamba-hamba-Nya tidak pernah mendatangkan faedah apapun bagi-Nya. Akan tetapi, semua itu adalah untuk kepentingan orang-orang yang diberi nikmat itu sendiri. 

Peribadahan kepada allah adalah tauhid dan proses menuju Kesempurnaan, sedangkan Peribadahan kepada Selain-Nya adalah kemusyrikan dan kekurangan 

Sebelum ini, telah kami tunjukkan bahwa Allah SWT menyuruh kita agar beribadah: Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.[ QS adz-Dzariyat [51]: 56] dan melarang kita berbuat kemaksiatan bukan untuk kemanfaat dan kebaikan Allah SWT "Akan tetapi, untuk kebaikan dan kemanfaatan kita sendiri, kita diperintah [untuk ber­ibadah] dan dilarang [dari kemaksiatan]." Dari sini, menjadi jelas bagi kila bahwa perkara yang asasi dan penting adalah bahwa apabila peribadahan itu ditujukan kepada selain Allah, maka hal itu merupa­kan kekurangan dan kekafiran bagi manusia yang menyebabkannya dilemparkan ke dalam neraka. Sebab, Maula di sini menurut pen­giasan para ulama kita r.a. tidak meminta diibadahi oleh selain-Nya kecuali karena faedahnya kembali kepadanya. 

Adapun peribadahan kepada Allah 'Azza wa Jalla merupakan tau­hid dan proses menuju kesempurnaan, bahkan tingkatan kesempurna­an manusia yang paling utama. Sebab, faedah peribadahannya seluruh­nya kembali kepadanya dan Allah tidak membutuhkannya. Dengan demikian, peribadahannya kepada Allah SWT merupakan kebebasan, ketinggian, dan keluhurannya. 

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman pada awal surah al-Isra': Maha suci Tuhan yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam..[ QS al-Isra’ [17]:1]. Dia tidak mengatakan, "memperjalankan nabi-Nya, rasul Nya, atau wali-Nya." Sebab, peribadahan merupakan pangkal kenabian risalah, dan sumber kewalian

Dari sini, kami katakan: "Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya." Kita bersaksi kepada Allah SWT dengan peribadahan Nabi saw. terlebih dahulu, lalu dengan dengan risalah dan kewaliannya. 

Bagaimanapun, seseorang "setelah mengingat kenikmatan-kenikmatan ini dan masih banyak kenikmatan yang lain, yang semua manusia benar-benar tidak mampu menghitung keseluruhannya, bagaimana menghitungnya satu persatu? Setelah ini, muncullah pertanyaan berikut: Tidakkah fitrahmu menetapkan wajibnya mengagungkan Pemberi kenikmatan seperti ini? Bagaimana keputusan akal terhadap pengkhianatan terhadap Pemberi kenikmatan seperti ini?" Dan dilakukannya perbuatan dosa dan kemaksiatan kepada-Nya? 

Kemudian, siapa yang dimaksiati di sini lebih besar daripada segala yang besar. Dia adalah Pencipta langit dan bumi. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk membagi dosa ke dalam dosa besar dan dosa kecil. Akan tetapi, seluruhnya—mengingat yang dimaksiati itu adalah Allah SWT—adalah dosa-dosa besar. 

Kedua, Memuliakan Tuhan yang Mahabesar juga Merupakan Dorongan Fitrah 

"Di antara hal-hal lain yang ditetapkan fitrah adalah memuliakan pribadi yang agung dan besar. Penghormatan dan pemuliaan yang diberikan manusia kepada pemilik keduniaan, jabatan, kekayaan, dan kekuasaan bermula dari pandangan bahwa mereka adalah besar dan agung." 

Dengan demikian, barangsiapa mengenal keagungan Allah SWT serta kebesaran dan keagungan-Nya yang tiada tandingannya, "maka keagungan apa yang dapat mencapai tingkatan keagungan Tuhan Yang Maharaja dari segala raja, yang menciptakan dunia yang hina dan rendah ini, yang merupakan alam paling kecil dan ciptaan paling remeh. Sementara itu, akal maujud apapun tidak mampu memahami esensi dan rahasianya hingga sekarang. Bahkan, para peneliti besar di alam ini pun belum menemukan rahasia sistem tata surya kita, padahal ia merupakan sistem yang kecil dibandingkan dengan sistem tata surya-tata surya yang lain." Ketika manusia tidak mengetahui semua ini "apakah ia tidak wajib memuliakan dan mengagungkan Tuhan Yang Mahaagung ini, yang menciptakan alam-alam ini dan jutaan alam lain yang gerakan­nya tidak diketahui?" 

Kemudian, orang yang telah mengetahui hal ini dan mengagung­kan Pencipta dalam hati dan di depan matanya, maka segala sesuatu selain-Nya adalah kecil dalam pandangannya. Ia tercegah dari melakukan kemaksiatan apa pun kepada-Nya, baik dalam kesendirian maupun di tengah keramaian. 

Sebaliknya, orang yang meremehkan Pencipta di dalam hatinya, maka segala sesuatu selain-Nya adalah besar dalam pandangan matanya. Setelah itu, ia memandang remeh kemaksiatan-kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan dosa. 

Ketiga, Memuliakan Tuhan Yang Maha hadir juga Merupakan Dorongan Fitrah " 

Menurut fitrah, juga wajib memuliakan Siapa yang hadir. Oleh karena itu, engkau lihat seseorang—semoga Allah tidak memperkenankan—membicarakan keburukan orang lain dalam pergunjingannya. Lalu, di tengah pembicaraan itu orang tersebut datang. Maka, menurut fitrah­nya, orang itu akan diam dan menampakkan penghormatan kepadanya.” 

"Diketahui bahwa Allah SWI' hadir di setiap tempat, dan di bawah pengawasan-Nya seluruh kerajaan eksistensi berjalan. Bahkan, setiap jiwa berada dalam Kehadiran Rububiyyah-Nya dan setiap alam terdapat di dalam Kehadiran-Nya Allah SWT." Seperti telah kami kemukakan sebelum ini, bahwa Dia dekat lagi selalu hadir bersama manusia di mana saja ia berada. Dan Dia bersama, kalian, di mana saja kalian berada.[ QS al-Hadid [57]:4] 

Apabila salah satu hal yang mengharuskan penghormatan dan pemuliaan berdasarkan ketentuan fitrah adalah kehadiran, maka kehadi­ran mana lagi yang lebih sempurna daripada Kehadiran-Nya sehingga kita melakukan kemaksiatan dan membiasakan perbuatan-perbuatan dosa tanpa penghormatan terhadap Kehadiran-Nya? 

Oleh karena itu, seseorang harus berbicara kepada dirinya, “Maka ingatlah, hai nafs-ku yang buruk, kezaliman besar apa lagi yang akan engkau lakukan, apabila engkau melakukan kemaksiatan besar seperti ini dalam Kehadiran-Nya dan dengan perantaraan kekuatan-kekuatan yang merupakan kenikmatan-kenikmatan-Nya yang dianugerahkan kepadamu? Tidakkah sebaiknya engkau meleleh karena malu dan terbenam ke dalam tanah kalau engkau memiliki setitik rasa malu?"
loading...

Monday, August 12, 2013

no image

Muhasabah Menuju Ke Jalan Allah

Adapun muhasabah adalah suatu usaha mengevaluasi diri sendiri untuk mengetahui apakah syarat yang telah ditetapkan [pada fase musyarathah] masing-masing atas diri mereka masing-masing di hadapan Allah telah dilaksanakan dan mereka tidak berkhianat kepada Pemberi kenik­matan kepadamu dalam muamalah parsial ini? Apabila engkau telah benar-benar melaksanakannya maka bersyukurlah kepada Allah atas taufik ini. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan memberikan kemuda­han kepadamu untuk melaksanakan urusan-umsan dunia dan akhirat­mu, dan pekerjaan esok akan menjadi lebih mudah bagimu daripada hari-hari sebelumnya." Pasti, karena nafs itu lentur seperti lilin, tidak seperti besi. Oleh karena itu, kita harus menundukkannya pada kebai­kan, bukan pada kejahatan. Apabila kita mendapatinya tunduk pada kejahatan, maka ketahuilah bahwa kitalah penyebabnya. 

Selain itu, pada masa kanak-kanak, nafs lebih lentur daripada ke­adaannya pada masa dewasa. Oleh karena itu, mereka berkata, "Belajar pada masa kanak-kanak adalah seperti melukis di atas batu." Adapun ketika seseorang menjadi dewasa, daya tangkapnya melemah, sementara pembawaan-pembawaan yang sudah ada dalam dirinya menguat. Kalau pembawaan-pembawaannya itu buruk—semoga Allah tidak memperke­nankan-maka akan sulit dihilangkan. Inilah makna ucapan mereka: "Apabila seseorang mencapai akhir umurnya, sementara ia bergelimang dalam kemaksiatan, maka ia tidak akan mendapatkan taufik untuk ber­tobat." Ini tidak berarti bahwa Allah SWT tidak akan menerima tobatnya. Akan tetapi, artinya adalah bahwa ia tidak mampu bertobat. Oleh karena itu, seseorang harus menggunakan masa mudanya sebelum masa tua tiba. 

Bagaimanapun, jika Anda ingin mencapai tujuan Anda, "maka tekunilah perbuatan ini" yang disyaratkan atas diri Anda "selama suatu masa. Diharapkan [hal itu] akan berubah menjadi pembawaan (malakah) dalam dirimu, di mana pekerjaan ini menjadi sangat mudah bagimu." Padanya akan terefleksikan keseimbangan sehingga Anda tidak mampu melakukan, bahkan memikirkan, keharaman yang bertentangan dengan pembawaan yang telah terbentuk di dalam diri Anda. 

Oleh karena itu, para imam a.s. melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan keharaman-keharaman dengan mudah, karena per­buatan-perbuatan tersebut menjadi bagian dari eksistensi mereka dan melewati fase malakah (pembawaan) ke fase ittihad (kesatuan). 

Ketekunan dalam perbuatan-perbuatan baik mengubahnya menjadi pembawaan pada diri Anda. "Ketika itu engkau akan merasakan keleza­tan dan keakraban dalam ketaatan kepada Allah SWT dan meninggalkan kemaksiatan terhadap-Nya di alam ini sendiri, padahal alam ini bukan alam tempat dilakukan pembalasan. Namun, balasan Ilahi berpengaruh dan menjadikanmu mendapatkan kesenangan dan kelezatan dengan ketaatanmu kepada Allah dan kejauhanmu dari kemaksiatan." Anda akan memperoleh balasan di dunia ini di samping balasan di akhirat yang di situ akan tampak kepada Anda hakikat kelezatan-kelezatan itu yang tidak ada satu kelezatan pun dapat menandinginya. 

"Ketahuilah, Allah tidak membebankan sesuatu yang memberatkanmu. Dia tidak mewajibkan kepadamu sesuatu di luar kemampuan­mu dan engkau tidak mampu melakukannya." Sebab, Allah tidak mem­bebani suatu diri kecuali menurut kemampuannya. Dia tidak memfardukan kewajiban-kewajiban kepada Anda kecuali Anda mampu melaksanakan­nya. Dia juga tidak mengharamkan keharaman-keharaman kepada Anda kecuali Anda mampu menjauhinya. "Namun, setan dan bala tentaranya memberikan gambaran perkara itu kepadamu seakan-akan berat dan sulit." 

"Apabila di tengah muhasabah itu terjadi pengabaian dan ketidak­pedulian semoga Allah tidak memperkenankan terhadap apa yang telah kamu syaratkan atas dirimu, maka beristigfarlah kepada Allah dan mintalah ampunan dari-Nya. Bertekadlah dengan segenap keberanian untuk menepati apa yang telah disyaratkan besok, jadilah dalam keadaan ini agar Allah SWT membukakan pintu-pintu taufik dan ke­bahagiaan di hadapanmu, dan mengantarkanmu ke jalan lurus kema­nusiaan."
loading...

Sunday, August 11, 2013

no image

Muraqabah Mencapai Keteguhan Hati ke Jalan Allah

Setelah musyarathah, engkau harus beralih ke fase muraqabah. Caranya adalah kamu mencermati perbuatanmu selama masa musyarathah itu sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Lalu, engkau pastikan bahwa nafs-mu telah melakukan perbuatan yang sesuai dengan apa yang telah kamu syaratkan." Para ulama besar kita menetapkan syarat (musyarathah) dan menjalin janji dengan Allah SWT untuk mengerjakan suatu perbuatan atau meninggalkan perbuatan lain, dan mereka berna­zar akan berpuasa selama dua tahun—misalnya—kalau mereka menyim­pang dari syarat tersebut. Dengan demikian, nazar seperti ini menjadi pencegah bagi mereka dari melakukan penyimpangan. 

Kebanyakan dari kita meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diwajibkan ketentuan sya­riat dan kita mengerjakan keharaman-keharaman lain, misalnya per­gunjingan, padahal hal itu lebih besar daripada sebelumnya, kecuali disebabkan ketentuan syariat yang mewajibkannya dan tidak diberlaku­kannya hukuman atau balasan langsung atas pergunjingan tersebut. Berdasarkan hal tersebut, kalau suatu perbuatan haram luput dari bala­san langsung, maka berikanlah balasan langsung kepada dirimu agar ia menjadi gemetar karena perbuatan haram tersebut. 

"Apabila dihasilkan—semoga Allah tidak memperkenankan—niat dalam dirimu untuk melakukan perbuatan yang menyimpang dari perintah Allah, maka ketahuilah bahwa hal itu termasuk perbuatan- perbuatan setan dan bala tentaranya. Mereka menginginkanmu me­ninggalkan apa yang telah disyaratkan atas dirimu. Oleh karena itu, laknatlah mereka dan memohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan mereka dan keluarkanlah waswas batil tersebut dari hatimu. Katakanlah pada setan, 'Aku telah menetapkan syarat kepada diriku bahwa pada hari ini—yaitu dalam satu hari—aku tidak akan melakukan perbuatan apa pun yang menyimpang dari perintah Allah SWT. Dialah Pemberi kenikmatan kepadaku sepanjang umurku. Dia telah memberi­kan kenikmatan dan karunia kepadaku berupa kesehatan, keselamatan, ketenangan, dan karunia-karunia yang lain." 

Kemudian, katakanlah kepada setan: "Kalau aku tetap berkhidmat kepadamu hingga waktu tak terhingga, tentu aku tidak melaksanakan satu hak pun. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kalau aku tidak meme­nuhi syarat seperti ini." 

"Aku berharap—insya Allah—setan pergi dan menjauh darimu, serta bala tentara ar-Rahman meraih kemenangan." 

“Muraqabah tidak bertentangan dengan perbuatanmu yang manapun, seperti pekerjaan, perjalanan, dan pembelajaran. Jadilah dalam keadaan seperti ini hingga malam ketika waktu untuk muhasabah tiba." Sebab, jika seseorang mampu mengubah perangai baik dan perbuatan-perbuatan salih menjadi pembawaan (malakah), maka setelah itu ia akan terbiasa dengannya tanpa berbenturan dengan pekerjaan atau perjala­nannya, walaupun membiasakan hal tersebut pada mulanya, sebelum berubah menjadi pembawaan, akan terasa berat.
loading...

Thursday, August 8, 2013

no image

Musyarathah Mencapai Keteguhan Hati ke Jalan Allah

Musyarathah adalah yang mensyaratkan pada dirinya sejak hari pertamanya agar pada hari itu jangan melakukan perbuatan apa pun yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah, serta mengambil ketetapan dan keteguhan hati dalam hal tersebut." Masalah keteguhan hati di sini berpulang pada kemampuan setiap orang. Barangsiapa meninggalkan sebagian kewajiban atau melakukan sebagian keharaman, maka ia harus berteguh hati untuk melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan semua keharaman. 

Barangsiapa sampai pada batasan ini, yang tidak meninggalkan suatu kewajiban dan tidak melakukan suatu keharaman, maka ia harus berteguh hati untuk berpindah ke fase yang di situ ia tidak meninggalkan pekerjaan mustahabb [sunna] dan tidak mengerjakan kemakruhan. Barangsiapa sampai pada fase tersebut, maka ia harus berketetapan hati untuk tidak melakukan perbuatan mubah, melainkan melakukan semua perbuatannya dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selanjutnya, apabila ia sampai ke fase ketakwaan, ini maka ia berteguh liati untuk berpindah ke batin nya untuk melatih dirinya tidak berpikir tentang kemaksiatan untuk selama-lamanya, yaitu tanpa melakukannya. Demikianlah, setiap kali ia menaiki tingkatan demi tingkatan ibadah yang telah dikemukakan, maka ia melihat martabat dan tingkatan yang lebih tinggi dan berteguh hati untuk mencapainya. 

Jadi, musyarith (orang yang melakukan musyarathah) harus menentu­kan posisinya terlebih dahulu. Apabila ia telah menentukannya, maka ia beralih ke langkah berikutnya, lalu mensyaratkan atas dirinya—misalnya—agar meninggalkan perbuatan yang bertentangan dengan perintah Allah dalam satu hari. "Jelaslah bahwa meninggalkan perbuatan yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah untuk satu hari sangatlah mudah dan seseorang dapat dengan mudah berpegang padanya" walau­pun tingkat kemudahannya untuk setiap orang berbeda-beda. "Oleh karena itu, berteguh hatilah, bersyaratlah, dan cobalah dengan sungguh-sungguh, serta perhatikan bagaimana perkara itu begitu mudah." Sebab, Allah SWT telah memberikan kemudahan kepada hamba. Maka, Kami akan memudahkan baginya dengan semudah-mudahnya jika ia berte­guh hati untuk melakukannya. 

Kalau dalam suatu hari seseorang ikhlas maka ia pun mampu ikhlas dalam dua hari, tiga hari, dan seterusnya, hingga terwujudlah padanya substantiasi: "Barangsiapa ikhlas kepada Allah selama empat subuh (hari), maka sumber-sumber hikmah muncul dari hatinya ke lidah­nya. [Musnad asy-Syubhat, karya al-QadhI al-Qadhai, Mu'assasah ar-Risalah, Beirut: 1405, 1: 285/466.]" 

Barangsiapa yang selalu berada dalam keadaan suci [dari hadas] dalam satu hari, lalu dua hari dan tiga hari hingga ia selalu berpegang pada kesucian, maka ia dapat mewujudkan sabda Rasulullah saw., "Biasakanlah selalu dalam keadaan suci [dari hadas] maka rezeki akan terus melimpahimu." Jika kesuciannya merupakan kesucian lahiriah maka rezekinya pun berupa rezeki lahiriah. Jika kesuciannya merupakan kesucian batiniah, maka rezekinya pun berupa rezeki batiniah, yaitu makrifat-makrifat Ahlul Bait a.s. 

Kalau seseorang mengikuti hal ini, maka ia akan menemukan banyak sekali peluang untuk dicoba. Dengan berpegang pada perbuatan perbuatan baik dan secara bertahap, ia akan meraih banyak kebaikan dari keberkahan, baik yang bersifat materi maupun yang bersilat spritual. 

Dalam pada itu, seseorang tidak sepantasnya membebani dirinya di luar kemampuannya. Akan tetapi, ia harus memulai dengan perbuatan-perbuatan ringan, mudah, dan terbatas, bukan perbuatan-perbuatan berat dan sulit yang tidak mampu dilakukannya sehingga ia berputus asa dan meninggalkan perbuatan tersebut. Selain itu, tidak sepatutnya pula ia melewati fase-fase dan tingkatan-tingkatan perjalanan spiritual sekaligus. Akan tetapi, ia harus menaiki tingkatan demi tingkatan dan fase demi fase. Banyak riwayat menunjukkan pengertian ini, di antaranya sebagai berikut. 

Pertama, diriwayatkan dari Abu Abdullah a.s. bahwa beliau berkata, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla menempatkan keimanan dalam tu­juh bagian, yaitu pada kebajikan (al-birr), ketulusan (ash-shidq), keyakinan (al-yaqin), keridhaan (ar-ridha), kesetiaan (al-waja'), pengetahuan (al-ilm), dan kesabaran (al-hilm). Kemudian, Allah membagikan hal itu kepada seluruh manusia. Barangsiapa memiliki tujuh bagian ini maka kemungkinan ia menjadi orang sempurna. Allah membagi satu bagian kepada sebagian orang, tiga bagian kepada sebagian lain, dan tiga bagi­an kepada sebagian yang lain lagi hingga mereka sampai pada tujuh bagian." 

Kemudian, beliau berkata, "Janganlah membebankan dua bagian kepada pemilik satu baigan, tiga bagian kepada pemilik dua bagian se­hingga kalian memberatkan mereka." 

Selanjutnya, beliau berkata, "Demikianlah hingga mereka sampai pada tujuh bagian. [Ushul al-Kafi, karya al-Kulayni, jil. 2, bab Darajat al-Iman, hal. 35, hadis no. 1.]" 

Kedua, diriwayatkan dari Abd al-'Aziz al-Qaratisi: Abu Abdullah a.s. berkata kepadaku, "Wahai Abd al-Aziz, keimanan adalah sepuluh tingkatan seperti tangga yang dinaiki anak tangga demi anak tangga. Dengan demikian, pemilik dua tingkatan tidak akan berkata kepada pemilik satu tingkatan, 'Engkau bukan apa-apa sebelum sampai ke tingkatan kesepuluh. Janganlah menjatuhkan orang yang ada di bawah­mu sehingga orang yang ada di atasmu menjatuhkanmu. Apabila eng­kau melihat osang yang lebih rendah tingkatannya darimu satu tingkat, maka angkatlah dia ke tingkatmu dengan keramahan dan jangan membebaninya dengan sesuatu di luar kemampuannya sehingga engkau mengecewakannya, karena barangsiapa mengecewakan seorang Mukmin, maka ia harus memulihkannya. [Ibid, bab Akhir min Darajat al-Iman, hal. 37, hadis no. 2 ]" 

Diriwayatkan dari Abu 'Abdullah a.s bahwa beliau berkata, "Seseorang memiliki tetangga seorang Nasrani, lalu ia mengajaknya ke dalam Islam dan menyebutkan hal-hal yang bagus-bagus kepadanya. Orang Nasrani itu pun menyambut ajakannya. Orang itu mendatanginya pada waktu sahur, lalu mengetuk pintu. Orang yang baru masuk Islam itu bertanya, 'Siapa?' Orang itu menjawab, 'Aku, fulan.' 'Apa keperluanmu?' ' Berwudhulah, pakailah pakaianmu, lalu kita pergi shalat!' Orang yang baru masuk Islam itu pun berwudhu, memakai pakaian, dan pergi ber­samanya. Kedua orang itu shalat [sunnah], lalu shalat subuh dan duduk hingga waktu pagi. Kemudian, orang yang baru masuk Islam itu ingin pulang ke rumahnya. Namun, orang yang mengajaknya berkata, 'Mau ke mana? Waktu siang sangat pendek, dan antara waktumu dan waktu zuhur juga sangat pendek.' Ia pun duduk bersamanya hingga waktu zuhur. Kemudian, orang itu berkata, 'Antara shalat zuhur dan asar wak­tunya sangat pendek. Oleh karena itu, tinggallah hingga waktu shalat asar.' [Setelah shalat asar] orang yang baru masuk Islam itu ingin kembali ke rumahnya. Namun, orang yang mengajaknya berkata, 'Ini adalah akhir siang dan lebih pendek daripada awalnya. Oleh karena itu, tinggal­lah hingga shalat magrib.' [Setelah shalat magrib] orang itu ingin pulang ke rumahnya. Namun, orang yang mengajaknya berkata, 'Tinggal satu shalat lagi.' Orang itu pun tinggal hingga shalat isya terakhir. Kemudian, kedua orang itu berpisah. Pada waktu sahur hari berikutnya, orang itu datang lagi dan mengetuk pintu. Orang yang baru masuk Islam berta­nya, 'Siapa?' Ia menjawab, 'Aku, fulan.' 'Apa keperluanmu?' 'Berwudhulah, pakailah pakaianmu, lalu kita pergi untuk shalat. Namun, orang yang baru masuk Islam itu menjawab, 'Carilah untuk agama ini orang yang memiliki waktu luang lebih banyak daripada aku. Aku sen­diri adalah orang miskin dan memiliki tanggungan.'" 

Kemudian, Abu 'Abdullah berkata, "Ia memasukkannya ke dalam sesuatu yang juga mengeluarkannya darinya." 

Atau, beliau berkata, "Ia memasukkannya dari seperti ini dan mengeluarkan dari seperti ini pula.[ Ibid, hal. 35, hadis no. 2]"

Al-Faydh al-Kasyam r.a. telah menunjukkan sebagian pembahasan yang berguna ini yang berkaitan dengan pembahasan musyarathah dan yang merupakan maqam pertama dari maqam-maqam murabathah [akan disampaikan pada lain bab}. Sebab, seseorang berada dalam jihad, dan dalam jihad harus penentuan posisi (ribath), walaupun berupa jihad kecil. Apalagi kalau jihad itu berupa jihad besar. Dalam masalah ini, Imam Khomeini r.a. berkata, "Setiap orang yang memiliki keteguhan hati, yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak boleh lengah untuk mengevaluasi diri dan mempersempitnya dalam gerak dan diam dan dalam pikiran dan langkahnya, karena setiap nafas dalam umur merupakan mutiara indah yang tidak ada gantinya. Dengan mutiara itu ia dapat membeli satu pusaka dari pusaka-pusaka yang tidak terbatas dan kekal abadi. [-Mahajjah al-Baydha, karya al-Faydh al-Kasyanl, jil. 8, kitab al-Muraqabah wa al- Muhasabah, al-maqam al-awwal, hal. 151. ]" 

Dengan nafas yang naik ini, seseorang dapat mengatakan satu kata keburukan sehingga dihukum karenanya. Ia dapat mengatakan satu kata kebaikan sehingga diberi pahala karenanya, atau ia juga dapat diam sehingga tidak diberi pahala dan tidak pula disiksa, tetapi ia merugi karena "berlalunya napas-napas ini merupakan barang hilang atau dibe­lanjakannya pada sesuatu yang mendatangkan kebinasaan merupakan kerugian yang sangat besar, yang tidak dapat diterima oleh orang ber­akal. Apabila hamba memasuki waktu subuh dan telah selesai menu­naikan fardu subuh, maka hendaklah ia mengosongkan hatinya sesaat untuk melakukan musyarathah terhadap dirinya, sebagaimana pedagang ketika menyerahkan barang dagangan kepada mitra pekerjanya, Ia meluangkan waktu untuk menentukan syarat-syarat. Ia berkata kepada dirinya, "Aku tidak memiliki barang dagangan selain umur. Apabila ia hilang, maka modal pun hilang dan muncullah keputusasaan untuk berdagang dan mencari untung.[ Ibid ]" 

Ini seperti salju pada hari panas yang meleleh dan berubah menja­di air, serta habis dan, mau atau tidak mau, Anda dapat merugi setiap saat, kecuali bila Anda menjualnya dan mengambil pembayarannya. 

Demikian pula umur yang dapat saja berlalu pada setiap saat. Namun, kalau Anda memperdagangkannya dengan Allah SWT maka Anda tidak akan merugi, walaupun habis. Sebab, pahala Anda terpelihara di sisi Allah, dan pahala yang Anda peroleh melalui perbuatan-perbuatan salih sepanjang umur Anda akan Anda dapati menjadi berlipat ganda di sisi Tuhan yang paling mulia dari segala yang mulia. 

Setelah itu, seseorang harus berkata kepada dirinya, "Inilah hari baru yang pada saat ini Allah SWT menangguhkan ajalku dan menganu­gerahkannya kepadaku. Kalau Dia mewafatkanku, tentu aku berharap agar Dia mengembalikanku ke dunia walaupun satu hari hingga aku dapat mengerjakan perbuatan salih." Oleh karena itu, anggaplah bahwa engkau telah mati dan engkau dikembalikan lagi. Waspadalah, agar ja­ngan menyia-nyiakan hari ini, karena setiap nafas adalah mutiara yang tidak ternilai. 

Ketahuilah, sehari semalam hanya dua puluh empat jam." Di dalam sebuah riwayat disebutkan: Setiap sehari semalam disebarkan dua puluh empat peti yang dijajarkan untuk hamba. Lalu, salah satu peti itu dibuka untuknya. Tiba-tiba, ia melihatnya dipenuhi cahaya dari kebajikan-kebaikannya yang ada pada saat itu sehingga ia mendapatkan kebahagiaan dan kabar gembira akan mendapatkan cahaya-cahaya terse­but yang merupakan wasilah di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa, yang kalau dibagikan kepada penghuni neraka, tentu mereka tercengang terhadap kebahagiaan tersebut pada saat merasakan pedih­nya siksaan neraka. 

Kemudian, sebuah peti lagi dibuka untuknya. Tiba-tiba, ia melihatnya hitam gelap. Baunya menyebar dan gelapnya menu­tupinya. Itulah saat ketika ia berbuat kemaksiatan kepada Allah sehingga ia mendapatkan ketakutan luar biasa, yang kalau dibagikan kepada penghuni surga, tentu hal itu menyusahkan mereka, padahal mereka berada dalam kenikmatan surga. Dibuka lagi sebuah peti kosong. Tidak ada sesuatu pun di dalamnya, baik yang membahagiakan maupun yang menakutkan. Itulah saat yang ketika itu ia tidur, lalai, dan disibukkan dengan perbuatan-perbuatan mubah di dunia sehingga menyesalinya karena telah melewatkannya begitu saja. Karena telah menyia-nyiakannya, ia memperoleh sesuatu seperti yang diperoleh seseorang yang mam­pu meraih keuntungan yang banyak dan kekuasaan yang besar, tetapi ia mengabaikan dan meremehkannya sehingga sesuatu itu berlalu. Dan karenanya ia ditimpa penyesalan. Demikianlah, ditampakkan kepada­nya peti-peti waktunya sepanjang umurnya.[ Ibid ] 

Oleh karena itu, pada catatan pinggir kilab Mafatih al-Jinan karya Syaikh al-Qumi r.a., Aiula mendapati bahwa Ahlul Bait as. telah menyebutkan amalan tertentu untuk setiap saat dalam dua puluh empat jam sehari. Itulah peti cahaya yang menjadi kenikmatan abadi bagi seseorang pada Hari Kiamat.
loading...

Tuesday, August 6, 2013

no image

Tiga Fase Menuju Kemutlakan Kepada Allah

Sebelum ini, telah kami katakan bahwa untuk sampai pada keyakinan kepada Allah SWT dan ke batin dan rahasia-rahasia syariat tidak dapat dilakukan kecuali dengan perintah-perintah Allah dan beradab dengan adab-adab syariat dan mengamalkan lahiriahnya; bahwa pekerjaan ini memiliki beberapa tingkatan; dan bahwa dalam hal itu seseorang dapat mengukur dirinya dan ia lebih mengetahui tingkatannya sendiri. 

Jika ingin berjalan menuju Kemutlakan, seseorang harus menentu­kan posisi dan tingkatannya dan meneguhkan hati dan tekad untuk naik ke tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. Kemudian, ia harus mele­wati sejumlah fase dalam perjalanan ini. Lalu, bagaimana ia memulai pekerjaannya dan apakah fase-fase itu? 

Untuk memudahkan jawabannya, kami katakan: apabila Anda ingin bergabung dengan seorang mitra dalam suatu perbuatan dan perha­tiannya adalah mendapatkan keuntungan, kita asumsikan bahwa mitra Anda dan segala keadaannya adalah musuh Anda. Musuh tidak menginginkan keuntungan bagi saingannya. Lalu, bagaimana Anda menjalin transaksi pekerjaan bersama ini dengannya? 

Tampaklah bahwa transaksi ini harus dilakukan melalui sejumlah fase. 

Pertama, Anda memberikan syarat-syarat tertentu kepadanya yang menjamin keberhasilan transaksi tersebut, menentukan persentase keuntungan, dan sebagainya. 

Kedua, Anda harus mengawasi proses pelaksanaan syarat-syarat ter­sebut dari waktu ke waktu, terutama jika mitra Anda adalah saingan Anda sendiri. Jika tidak, kadang-kadang ia menyimpang dari syarat-syarat tersebut, mencuri, atau mengkhianat Anda dan menjerumuskan Anda ke dalam kerugian besar sehingga semua kelelahan, harta, dan modal Anda hilang dengan sia-sia. 

Ketiga, fase evaluasi (muhasabah) untuk mengevaluasi mitra Anda setelah jangka waktu tertentu untuk mengetahui apakah Anda berdua telah mencapai tujuan yang diinginkan dan memperoleh keuntungan yang diharapkan? 

Keempat, kalau ternyata transaksi itu merugi dan Anda dalam posi­si yang memungkinkan mencela mitra Anda, maka pasti Anda mence­lanya. 

Kelima, kalau Anda memiliki kekuatan yang lebih besar, di mana Anda mampu menghukumnya, maka Anda akan menghukumnya ka­lau ternyata dialah penyebab kerugian itu. 

Demikian juga di dalam perkara yang sedang kita bahas, karena manusia dalam kehidupannya di dunia adalah berdagang dengan Allah SWT. Hai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kalian pada sebuah perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari siksaan yang pe­dih? [QS ash-Shaff [61]: 10] 

Pihak pertama dalam perniagaan itu adalah "akal" yang ingin meraih keuntungan di negeri akhirat, kenikmatan abadi di sana, dan keselamatan dari api neraka Jahanam dan siksaannya yang pedih. 

Pihak ini—yaitu akal—ingin berniaga dengan kekuatan-kekuatan jiwa yang dimilikinya dengan pihak lain, yaitu nafs, yang ada di dalam diri manusia dan yang dipandang sebagai musuhnya yang paling besar. 

Berdasarkan perumpamaan yang kami kemukakan di atas, manusia harus melakukan hal hal berikut. 

Pertama, mensyaratkan bagi dirinya (nafs) atas apa yang dilakukan dan apa yang ditinggalkannya. 

Kedua, ia selalu mengawasinya setiap saat dan dalam segala keadaan untuk mengetahui sejauh mana konsistensinya dalam menjalankan syarat-syarat tersebut. 

Ketiga, jika jangka waktu yang disyaratkan telah habis, maka ia harus mengevaluasi dirinya untuk mengetahui apa yang dilakukannya dan apa yang ditinggalkannya. 

Keempat dan kelima, apabila diketahui bahwa ia tidak konsisten dalam menjalankan syarat-syarat itu, maka ia harus dicela dan bahkan di hukum dengan dicegah dari syahwat dan kelezatannya, terutama pada saat-saat kelalaiannya. 

Perbuatan yang sesuai dengan perumpamaan ini merupakan per­kara yang dapat dilakukan setiap orang dan tidak membutuhkan ke­kuatan besar untuk melaksanakannya jika seseorang menempuhnya dengan cara yang sebaik-baiknya seraya memperhatikan kekuatan dan kemampuannya

Imam Khomeini r.a. telah mengemukakan pembahasan praktis ini ketika menentukan tiga fase ini. Ia berkata: "di antara hal-hal yang sangat krusial bagi mujahid adalah musyarathah, muraqabah, dan mu­hasabah."
loading...

Tuesday, July 23, 2013

no image

Apa dan Kenapa Harus JIhad?

Sebelumnya mari kita mengetahui definisinya. Jihad melawan nafs adalah jihad besar atau jihad akbar yang mengungguli peperangan dijalan al-Haqq SWT. Dalam maqam ini—yaitu tingkatan badan—ia merupakan kemenangan manusia atas kekuatan-kekuatan lahiriahnya dan menjadikannya tunduk pada perintah Sang khaliq Allah SWT, dan penyucian kerajaan itu dari kotoran eksistensi kekuatan-kekuatan setan dan bala tentaranya." 

Sebab Jihad Melawan Musuh Eksternal Disebut Jihad Kecil, dan Jihad Melawan Musuh Internal (Nafs) Disebut Jihad Besar Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu disebutkan beberapa aspek. Dan pada tulisan ini akan diringkas dengan menyebutkan dua aspek saja yaitu sebagau berikut. 

Aspek Pertama, Manusia mempunyai empat kekuatan: kekuatan syahwat, kekuatan ghadhab, kekuatan wahm, dan kekuatan akal ada dalam diri manusia melalui fase-fase kehidupannya, tidak sekaligus. Awalnya, hanya ada kekuatan syahwat dan ghadhab, lalu dihasilkan kekuatan wahm, dan selanjutnya dihasilkan kekuatan akal. Pada umumnya, seseorang meraih kesempurnaan akal ketika mencapai usia empat puluh tahun. 

Shadr al-Muta'allihin dalam al-Asfar mengatakan, "Nafs manusia selama berupa janin di dalam rahim, tingkatannya adalah tingkatan jiwa tetumbuhan dalam berbagai tingkatannya. Itu pun diperoleh sete­lah ia melewati tingkatan-tingkatan kekuatan benda mati. Dengan de­mikian, janin manusia adalah tumbuhan secara aktual dan hewan secara potensial, bukan aktual. Sebab, ia belum memiliki penginderaan dan gerakan. Keberadaannya sebagai hewan secara potensial merupakan pemisah yang membedakannya dari tetumbuhan yang lain, yang menjadikan baginya suatu jenis yang berbeda dari jenis-jenis tetumbuhan." 

"Apabila anak keluar dari perut ibunya, dirinya berada pada tingkatan jiwa-jiwa kehewanan hingga masa-masa baligb formal (shuri). Ketika itu, seseorang merupakan hewan manusia seeara aktual, dan insan ma­nusia secara potensial. Kemudian dirinya mulai mengenal sesuatu mela­lui berpikir dan melihat dengan menggunakan akal praktis. Demikianlah hingga masa-masa baligh spiritual (manawi) dan kedewasaan batiniah dengan memperkuat pembawaan dan akhlak-akhlak batin. Pada umumnya, hal itu terjadi pada usia sekitar empat puluh tahun. Pada fase ini, ia adalah insan manusia secara aktual, dan insan malaikat atau insan setan secara potensial. Pada Hari Kiamat, ia dikumpulkan entah termasuk partai malaikat atau partai setan dan bala tentara mereka. Jika taufik membantunya dan ia menempuh titian kebenaran dan jalan tauhid, serta akalnya disempurnakan dengan ilmu pengetahuan dan akalnya disucikan dengan menghilangkan ketergantungan pada fisik, maka ia menjadi malaikat secara aktual di antara malaikat-malaikat Allah yang memiliki sifat alim yang didekatkan. Sebaliknya, jika ia tersesat dari jalan yang lurus dan menempuh jalan kesesatan dan kebodohan, maka ia termasuk golongan setan atau dikumpulkan dalam kelompok binatang dan serangga.[ Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-AsJar al-Aqliyyah al-Arba'ah, jil. 8, hal. 136.]" 

Pengertian inilah yang ditunjukkan as-Sabziwari dalam al-Manzhumah: 
Empat puluh jangka waktu terbentang 
Bagi bentuk manusia yang menyimpan misteri. 
Pada setiap waktu dia menjadi 
Dalam empat puluh tahun akal sempurna. 

Berdasarkan hal ini, kekuatan akal ketika terbentuk pada seseorang. Ia menemukan bahwa tempat-tempat penting dari kerajaan ini telah ditempati oleh tiga kekuatan yang telah ada sebelumnya. Oleh karena itu, perhatiannya adalah mengalahkan kekuatan-kekuatan lain dengan sulit. Hal ini seperti peperangan eksternal, di mana setelah satu pihak lebih dahulu menduduki tempat-tempat penting dan strategis yang menjadi perhatian pihak lain, dan proses kemenangannya merupakan sebuah proses yang sulit. Dari sini, dan berdasarkan hakikat ini—yaitu kemunculan kekuatan akal yang terjadi belakangan di dalam diri sese­orang dan pekerjaannya yang sulit jihad melawan nafs merupakan jihad besar. 

Kedua, mengingat jihad yang dilakukan manusia pada umumnya adalah melawan musuh eksternal, jihad tersebut merupakan jihad .( sementara dengan waktu tertentu dan tidak kekal, di satu sisi, dan di situ ia mengetahui musuhnya, karakteristiknya, perlengkapannya, dan arah kedatangan dan serangannya, di sisi lain. Adapun, dalam jihad melawan nafs, jihad tersebut merupakan jihad yang berkelanjutan sela­ma manusia ini hidup, bahkan meliputi pula keadaan tidurnya, terlebih lagi keadaan terjaganya. Kadang-kadang seseorang bermimpi melihat pemandangan setan dan Rahmani, sehingga pemandangan setan membantunya dalam melakukan perbuatan-perbuatan durhaka dan keji, sedangkan pemandangan Rahmani membantunya dalam melaku­kan perbuatan-perbuatan salih dan baik. Ia berada dalam jihad berkelanjutan terhadap nafs-nya. 

Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, betapa banyak perkara yang tidak diketahui seseorang dari musuh internalnya ini. Betapa banyak rahasia vang masih tersembunyi darinya. Berdasarkan hal ini, jihad melawan nafs merupakan jihad besar, sedangkan jihad melawan musuh eksternal adalah jihad kecil atau jihad ashghar. Oleh karena itu, kita membaca di dalam riwayat dari para imam a.s., "Musuh bebuyutanmu adalah nafs-mu yang ada di dalam dirimu. [Awali al-Ali, 4: 118/187.]"
loading...

Saturday, July 20, 2013

no image

Hadits Tentang Jihad Melawan Nafs

Setelah mengemukakan beberapa uraian sebagai pendahuluan dan tanpa memandang kelemahan sanad riwayat itu sesuai timbangan-timbangan yang sudah dikenal karena banyaknya riwayat dari Ahlul Bait as yang memiliki kandungan yang sama, maka kami ketengahkan syarah dan penjelaan terhadap ucapoan Imam Khomeini: "Kompi merupakan bagian dari pasukan. Ada yang mengatakan bahwa kekuatan kompi yang ideal adalah yang beranggotakan empat ratus orang." Adapun kosa kata yang lain dalam hadis ini sudah jelas dari aspek bahasa, jika tidak, berdasarkan realitas dan kandungannya, hadis itu membutuhkan pembahasan-pembahasan detail dan penting. 

Kemudian, "Ketahuilah bahwa manusia itu menakjubkan." Oleh karena itu, sudah banyak pembahasan tentang hakikatnya dan tentang ada atau tidak adanya kemampuan untuk mengenal hakikat ini. Sejumlah muhaqqiq dan para ulama terkemuka berpendapat bahwa tidak mungkin mengenal esensi dan hakikat diri manusia kecuali bagi Penciptanya Allah SWT. Namun, apa yang tidak dapat diketahui seluruhnya janganlah ditinggalkan seluruhnya. Oleh karena itu, sejumlah ulama kita beru­saha mengaplikasikan teks ini, yaitu al-insan, dengan alam imkan dan dengan berbagai alamnya, dari alam ‘uqul hingga alam mitsal dan sete­rusnya ke alam materi. Mereka mengatakan bahwa terdapat contoh bagi setiap alam dari alam-alam tersebut pada diri manusia. Ia merupakan poros dan kutub alam imkan yang menjadi pusat peredaran "Aku menciptakan segala sesuatu untukmu dan Aku menciptakanmu untuk-Ku" [Al-Jawahir as-Sunniyyah, karya al-Hurr al-'Amill, Penerbit Ya Sin, hal. 284.] Dengan demikian, segala sesuatu adalah untuknya dan dia sendiri ada­lah milik Allah SWT. 

Pengertian inilah yang disebutkan dalam firman Allah SWT: Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan ada yang ada di bumi semuanya [sebagai rahmat] dari-Nya [QS al-Jatsiyah [45]: 13.]. 

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku [QS adz-Dzariyat: 56.]. 

"Dia memiliki dua kejadian dan dua alam." Sebab, segala maujud sebagaimana dikatakan sebagian mufasir terbagi ke dalam dua bagi­an berdasarkan kejadiannya. Pertama, kelompok maujud materi yang kita lihat dan membesar, mengecil, makan, minum, hidup, mati (dan seterusnya). Kelompok ini termasuk alam khalq. Kedua, kelompok yang tidak makan, tidak minum, tidak membesar, tidak mengecil, tidak tidur, tidak bangun, tidak mati (dan seterusnya). Kelompok ini disebut maujud abstrak yang luput dari materi, dan kelompok ini termasuk alam amr. 

Adapun manusia menghimpun kedua kelompok tersebut dan me­miliki dua kejadian, yailu "kejadian lahiriah materi," yaitu di alam materi dan alam kasat mata, "yaitu badannya," dan ia juga memiliki "kejadian batiniah kegaiban," yaitu ruhnya yang merupakan alam malakut dan batin, "dan ia termasuk alam akhir," yaitu alam amr. Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, "Ruh itu adalah dari amr Tuhanku.[ QS al-Isra’ [17]: 85] " 

Di sini, harus ditunjukkan bahwa pembahasan kita, walaupun difokuskan pada kejadian kegaiban manusia, tidak diabaikan dari kejadian kedua yang bersifat materi, karena sebagaimana telah kami jelaskan badan merupakan kendaraan yang mengantarkannya ke Kedekatan Ilahi dan ke kesempurnaan yang dicari. 

Nafs, ruh, dan qalb memiliki makna yang sama. Padanya, kata ganti Orang pertama "aku" dirujukkan, bukan pada badan dengan dalil bahwa badan itu berubah dan organ-organnya pun berganti dari waktu ke waktu. Namun, Zayd tetap merupakan Zayd, 'Umar tetap merupakan Umar, dan saya tetap merupakan saya. Kita tidak berubah dengan beru­bahnya sel-sel badan kita. Buktinya adalah apa yang dilihat seseorang di dalam mimpinya dan perbuatan-perbuatan yang dilakukannya di dalam mimpi itu. Perbuatan itu dinisbahkan kepadanya, padahal badan­nya tidak melakukan perbuatan apa pun dari perbuatan-perbuatan ter­sebut. Hanya ruh dan nafs-nya yang melakukannya. Bukti lainnya adalah kematian tidak menimpa selain jasad dan badan seseorang. Adapun ruhnya berpindah dari satu negeri ke negeri lain. Di sana, ruh itu dihisab (dan diberi pahala atau disiksa. Dialah yang diberi kepedihan dan kelezatan, bukan jasad, walaupun kita tidak mengingkari bahwa badan pun dibangkitkan.
loading...

Wednesday, July 17, 2013

no image

Jihad Besar dan Dibangkitkan Manusia pada Hari Kiamat

Persaingan di antara kekuatan jiwa manusia dan pelaksanaan jihad besar. Setiap kekuatan dari kekuatan-kekuatan manusia bergerak menuju kesempurnaannya. Oleh karena itu, ia mencarinya dan bekerja sekuat kemampuannya untuk menggapainya. Sebagaimana kesempurnaan kekuatan syahwat adalah dengan banyak makan, berhubungan seksual, serta penghambaan kepada kelamin dan perut. Dengan kesempurnaannya, wujud manusia berubah menjadi wujud binatang ternak. Kesempurnaan kekuatan ghadhab adalah dalam menyerang, menyakiti, dan menghancurkan yang lain dengan bentuk yang sangat keras dan kasar. Dengan kekuasaan dan kesempurnaannya, wujud manusia berubah menjadi wujud binatang buas yang berbahaya. Kesempurnaan kekuatan akal adalah dalam memimpin semua kekuatan dijalan kesempurnaan, Kedekatan Ilahi, khidmat pada agama, dan memandu perjalanan manusia di dalam kekudusan, malakut, dan kesucian, Dengan kesempurnaannya, seseorang berubah menjadi wujud malaikat. 

Harus ditekankan di sini bahwa semata-mata munculnya perbuatan dari seseorang tidak menjadikan keberadaannya terwarnai dengan warna perbuatan tersebut. Akan tetapi, perbuatan itu harus dilakukan berulang kali sehingga menjadi teguh padanya dan dari hal berubah menjadi malakah, dan dari malakah berubah menjadi ittihad. Sehingga setelah itu, keberadaannya pantas disifati dengan perbuatan kemalaikatan, kesetanan, kebinatangternakan, atau kebinatangliaran. 

Dengan demikian, sudah pasti terjadi persaingan dan pertempuran yang membuat masing-masing pihak membutuhkan wahana, peralatan, dan pasukan untuk pertempuran ini. Dibutuhkan pula hakim yang memberikan keputusan di antara para petarung dan memisahkan di antara mereka. Berdasarkan hal ini, disebutkan dalam riwayat bahwa Allah SWT memberikan pasukan kepada akal dan membiarkan kekuatan-kekuatan lain memperlengkapi diri dengan pasukan kebodohan dan setan. Setelah itu, akan terjadi pertempuran di antara pasukan ar-Rahman dan pasukan setan. Dengan demikian, jihad ini disebut jihad besar dibandingkan dengan jihad melawan musuh eksternal yang disebut jihad kecil. 

Jihad Besar dan dibangkitkannya manusia pada hari kiamat

Akibat terpenting dari pertempuran seseorang melawan dirinya dan jihad besarnya adalah ditentukannya posisi orang itu pada Hari Kiamat dan ditetapkannya cara ia dibangkitkan. 

Realitas yang diraih seseorang pada Hari Kiamat tiada lain adalah akibat-akibat dari perbuatannya. Dan tidalah bagi seseorang melainkan apa yang telah diusahakannya [QS an-Najm [53]: 39-40]. 

Realitas yang kita tunggu pada hari yang sangat sulit itu bukan sesuatu yang dipaksakan kepada kita. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir [QS al-Insan [76]: 3.]. Akan tetapi, kitalah yang membangunnya dan kita pula yang meletakkan batu batanya satu per satu sehingga, setelah itu, kita menemui Tuhan kita di tempat yang telah ditentukan perbuatan kita untuk kita sendiri. [Kami telah menjelaskan dalam pembahasan tentang kaidah-kaidah bahwa perbuatanlah yang menentukan kaitan dengan realitas luar.]

Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu. Maka, pasti kamu akan menemui-Nya [QS al-Insyiqaq [84]: 6.]. Apabila perbuatan kita baik, tentu kita akan menemui-Nya di surga. Sebaliknya, jika perbuatan kita buruk, maka kita akan menemui-Nya di neraka—semoga kita dijauhkan dari hal ini. Sebagaimana Dia menciptakan surga, Dia juga menciptakan neraka. Sebagaimana dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dia juga memberikan siksaan yang sangat keras. Di mana saja kita berada, kita berjalan menuju pertemuan dengan-Nya. 

Selain itu, rupa manusia yang dbangkitkan pada Hari Kiamat sesuai dengan salah satu dan keempat kekuatan yang terdapat di dalam dirinya dan yang keluar sebagai pemenang melalui jihad besar. Dengan rupa itu, spesies manusia menjadi spesies pertengahan, yang di bawahnya terdapat spesies-spesies lain di alam yang lain pula. 

Penjelasannya, kita tahu bahwa manusia dalam kehidupan ini merupakan spesies terakhir yang disebutkan dalam definisinya berdasarkan tasalsul logika (manthiq), yang di bawahnya hanya ada afrad. Adapun dalam kehidupan akhirat, rupa yang dibangkitkan sesuai dengan kekuatan kemalaikatan, kekuatan syahwat, kekuatan ghadhab, atau kekuatan wahm yang memiliki wujud yang menyerupainya di dalam realitas eksternal, berupa malaikat, babi, binatang buas, atau setan. 

Jadi, terdapat spesies-spesies lain, selain spesies manusia, yang menyerupainya pada Hari Kiamat berdasarkan perbuatannya. Ia adalah spesies yang di bawahnya terdapat spesies-spesies lain. Hakikat inilah yang ditunjukkan dalam ayat: Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan [QS at-Takwir [81]: 5], Mereka yang dikumpulkan itu dahulunya adalah manusia di dalam kehidupan dunia dan berubah menjadi binatang liar di alam akhirat. Jika tidak, binatang liar yang sesungguhnya tidak memiliki hubungan dengan Hari Kiamat, penghisaban, pembalasan, pahala, dan siksaan. Binatang liar tidak diberi taklif sehingga tidak akan dihisab. Barangkali, binatang liar itu dikumpulkan, tetapi tidak dikumpulkan untuk mendapatkan balasan yang kita kenal. Jika binatang liar itu mendapatkan balasan, tentu ia berasal dari spesies yang lain.
loading...

Tuesday, April 16, 2013

no image

Jihad Berbakti Kepada Orang Tua

 جَاءَ رَجُلٌ إِلَى نَبِيِّ اﷲِ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ ׃ فَقَالَ أَحَيُّ وَالِدُاكَ ؟قَالَ ׃ نَعَمْ ، قَالَ فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْ٠ 

"Pernah datang seseorang menemui Nabiyullah saw meminta ijin untuk perang. Maka Nabi saw bertanya lebih dahulu: "Masih hidupkah kedua orang tuamu? Ia menjawab: "Benar." Nabi saw pun berkomentar: "Kepada keduanya engkau berjihad. " (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa'i) 

Amalan jihad fi sabilillah merupakan impian dan puncak cita-cita semua orang. Sebab dengannya seseorang pasti akan memperoleh salah satu di antara dua kebaikan. Kemenangan, atau kesyahidan. 

Menang melawan musuh, mengibarkan panji Islam, mendeklarasikan kalimatullah di muka bumi, atau menuai kesyahidan. Dan kedudukan (manzilah) para syuhada' di surga, berdekatan dengan kedudukan para nabi dan orang-orang yang benar (assiddiiqiin) sehingga dicemburui oleh banyak penghuni surga lainnya. Bahkan para syuhada' ber- angan-angan agar ia dikembalikan di dunia, lantas berperang lagi dan terbunuh. Ini semua diutarakan panjang lebar oleh Nabi. 

Adalah sudah menjadi kebiasaan generasi angkatan pemula dari sahabat- sahabat Rasulullah saw, mereka berlomba-lomba melesat ke barisan perang. Berusaha diikutkan dalam medan perang. Membela dienullah, atau memporak-porandakan barisan musuh yang ingin merobohkan Islam. 

Bahkan sampai-sampai ada dua anak remaja, mereka berbaris bersama kaum pria dewasa di saat mobilisasi perang. Takut ditolak Nabi saw karena usianya yang masih belia, Samurah bin Jundab berdiri dengan mengangkat tumit di atas jari-jari kakinya. Yang demikian agar terlihat sama tinggi dengan pria dewasa yang sudah layak perang dan mampu memanggul senjata. Sementara Raf' bin Hudaij pun iri, sehingga merengek kepada Nabi saw sembari mengatakan: "Saya bisa mengalahkan Samurah jika bergulat. Maka ijinkanlah saya." Ia pun akhirnya diijinkan Nabi saw. 

Beginilah jihad ... Namun Nabi saw menyepadankannya dengan berbakti kepada orang tua. Dalam hadis di atas Nabi mengatakan: Masih hidupkah kedua orang- tuamu? Ia menjawab: Ya. Maka Nabi berkomentar: "Pada keduanyalah engkau berjihad." 

Nabi saw menggunakan ungkapan bahasa yang sama. Nabi tidak mengatakan kepada sahabat tersebut: "Berbaktilah kepada keduanya, atau: Awasilah (rawatlah) keduanya, atau: urusilah keperluannya." Namun beliau katakan: "Kepada keduanyalah engkau berjihad." 

Ini adalah pertanda kemuliaan mengurusi kedua orang tua. Terlebih-lebih lagi pada saat usia keduanya sudah uzur, atau energinya sudah mulai berkurang, maupun kekuatannya berangsur-angsur menyusut. 

Wahai pemuda pemudi yang kucintai... Sesungguhnya kedua orang tua kita, tidak pernah "membesitua" kan kesungguhan dan kelonggarannya, dalam rangka meningkatkan status kehidupan yang lebih baik. Baik sektor pendidikan, moral, atau hidup keseharian itu sendiri. Mereka peras keringat, banting tulang, siang jadi malam, malam jadi siang hanya demi anak-anak dan buah hatinya. Mereka jalani pahit getirnya kehidupan untuk sang anak. 

Sepersen pun kita tak bisa mengganti jasa mereka, dari apa yang telah mereka korbankan. Dan hendaklah kita mengingat, bahwasanya kita akan menjumpai kondisi ketuaan (lansia) seperti yang mereka alami. 

Dikisahkan bahwa ada seorang kakek tua renta. Ujung jari tangannya sudah terlihat gemetaran dan menggigil. Suatu hari mangkok yang keseharian ia pergunakan makan, terjatuh. Kuenya pun otomatis berserakan. Untung, kue masih berada di atas kaki, kontan menantu putrinya (istri anak lelakinya) berpikir: Lebih baik kue ini kuambil, dan aku akan memakan sendiri kue ini, tidak usah bersama keluargaku yang lain. Ia ambil tempat yang jauh dari dapur, agar tidak diketahui orang, jika ia makan kue sendirian. 

Tak disangka, cucu kesayangan kakek yang biasa duduk bersamanya datang. Ia pun lantas menanyakan mengapa ibu menyendiri. Si cucu dipeluknya, dan dibisiki bahwasanya ibunya berbuat demikian, karena ia bakhil. Cucu itu pun akhirnya bergegas mengambil potongan kue. Sehingga ibunya menanyakan apa yang telah ia perbuat. Ia pun menjawab: "Dua potong kue, saya ambil. Sepotong ini, untuk ibu. Dan sepotong lagi untuk kedua orangtuaku nanti jika telah lanjut usia. Sang ibu pun lantas tersipu malu, dan kembali ia mempergauli dengan halus dan lembut terhadap si kakek.
loading...

Saturday, September 15, 2012

no image

Jihad Perang dalam Islam

Agama Islam berseru kepada umat manusia seluruhnya untuk bernaung di bawah panji-panjinya supaya memperoleh tuntunannya dan menikmati kebahagiaan hidup di bawah lingkungannya. 

Umat Islam, ialah umat yang diutus oleh Allah untuk menyebarkan agama-Nya dan menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia sejagad ini di samping tugas membebaskan dunia dari kedzaliman dan penindasan. Dan karena tugas yang mulia itulah, maka umat Islam menjadi sebaik-baik umat di muka bumi ini, berkedudukan sebagai pemimpin dan guru bagi umat dan bangsa lain. 

Untuk mempertahankan kedudukan yang mulia yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, maka wajiblah umat Islam menjaga dan mempertahankan pembawaan dan kepribadiaannya serta berjuang dan berusaha keras untuk memperoleh haknya penuh dalam pergolakan dunia ini, sehingga dengan demikian ia dapat tetap menduduki tempatnya dan melaksanakan amanat Allah yang dipikulkan atas bahunya. 

Tiap kelalian terhadap kewajiban itu, adalah merupakan dosa di antara dosa-dosa yang besar yang akan berakibat balasan Allah berupa kehinaan, keruntuhan dan kemusnahan. 

Islam melarang umatnya berlaku lemah selama ia belum mencapai tujuannya dan memnuhi tugasnya. Dalam keadaan demikian, maka seruan untuk berdamai hanyalah berarti takut dan kecut hati serta berserah kepada kehinaan dan perbudakan. Berfirmanlah Allah swt:

 “Janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (Muhammad 35). 

Maksudnya kamu orang adalah di atas tentang aqidah, ibadah, akhlak, peradaban, ilmu dan amal. Damai dalam Islam harus datang dari sisi kekuatan dan kekuasaan dan jangan dari sisi kelemahan dan ketidak sanggupan berperang. 

Karenanya Allah mengaitkan perdamaian dengan syarat bahwasanya musuh menghentikan permusuhannya, tidak berlakunya kedzaliman dan tidak seorangpun mendapat gangguan dalam melaksanakan agama dan ibadahnya. Maka jika terlanggar salah satu dari pada syarat-syarat itu, diizinkan oleh Allah untuk berperang dan bertempur, di mana darah dan nyawa dengan suka rela dikorbankan. 

Sesungguhnya tiada suatu agama yang berseru kepada para penganutnya untuk berperang dan mendorong mereka untuk menceburkan diri ke dalam medan pertempuran menyambungkan nyawa di jalan Allah dan untuk membela kebenaran serta melindungi kaum yang lemah yang tertindas dan untuk memperoleh kehidupan yang mulia dan terhormat selain agama Islam. 

Hal yang diuraikan di atas akan menjadi terang dan jelas bagi siapa saja yang sempat mempelajari ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mengikuti sejarah hidup junjungan kita Nabi Muhammad saw. Allah swt. menghimbau umat Islam untuk sekuat tenaganya melaksanakan tugas dan kewajiban itu, sebagaimana difirmankan: 

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj 78). 

Ditegaskan selanjutnya oleh Allah swt bahwa jihad itu adalah bagian dari iman yang tiada sempurna agama melainkan dengannya: 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabuut 2-3). 

Ditegaskan pula bahwa itulah sunnah Allah yang berlaku bagi para mukminin, dan bahwa tiada jalan lain ke syurga dan untuk mencapai kemenangan kecuali sunnah yang berlaku itu:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (Al-Baqarah 214). 

Allah swt memerintahkan umat Islam berjaga-jaga menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musuh. Firmannya:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (Al-Anfaal 60). 

Persiapan yang termaksud dalam ayat itu tentulah persiapan yang akan berubah-ubah menurut keadaan dan suasana serta tempat di mana perang terjadi. Sedang kata “kekuatan” ialah maksud segala sarana dan alat yang dapat melumpuhkan dan mengalahkan musuh. Dan termasuk dalam persiapan yang diperintahkan oleh Allah ialah wajib militer bagi tiap warga yang berkuasa, juga persiapan kekuatan darat, laut dan udara.

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!.” (An-Nisaa’ 71). 

“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat.” (At-Taubah 41). 

Islam dalam menghimbau umatnya untuk berjihad, lebih banyak menekankan segi moreel daripada segi spiriueel dan lebih mengandalkan semangat bertempur serta keberanian dan keteguhan hati dari pada kekuatan materieel dan perlengkapan senjata. 

“Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan Maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah Kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong dari sisi Engkau!". (An-Nisaa 74-75). 

Para mukminin disuruh bersabar dan dibesarkan hatinya bahwa jika mereka menderita kesakitan atau kepayahan, maka musuh mereka demikian pula keadaannya, padahal sangat berbeda tujuan masing-masing dari peperangan dan begitu pula apa yang diharapkan oleh pihak mukminin tidak sama dengan apa yang diharapkan oleh pihak musyrikin. Firman Allah: 

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (An-Nisaa 104).

 “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisaa 76). 

Artinya bahwasanya orang-orang Islam mempunyai tujuan yang agung dan berperang untuk mempertahankan dan menyebarkan risalah yang suci, yaitu risalah kebenaran dan kebajikan dan pengagungan kalimat Allah. Karenanya dilaranglah orang melarikan diri dan mundur dalam pertempuran kecuali jika hal itu dilakukan dalam rangka siasat perang. Berfirmanlah Allah swt: 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfaal 15-16). 

Allah menyuruh orang hendaklah berteguh hati dalam medan perang bersatu padu dan jangan bertengkar atau berselisih agar menghindari kekalahan dan kegagalan sambil menyebut nama Allah yang sebanyak-banyaknya:

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfaal 45-46). 

Allah memuji dan menghargai para mukminin yang mati-matian membela dengan pengorbanan nyawa dan harta benda, sehingga mereka hanya mempunyai dua pilihan, tidak ada ketiganya, atau memperoleh kemenangan atau terbunuh dan mati syahid dengan syurga sebagai pahalanya.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.”(At-Taubah 111).

“Katakanlah: "tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi Kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (Yaitu mendapat kemenangan atau mati syahid.).” (At-Taubah 52). 

Sebagai pahala bagi mereka yang terbunuh dalam pertempuran dan mati syahid, Allah menjanjikan bahwa mati mereka bukanlah mati yang abadi, akan tetapi merupakan pemindahan dari alam yang fana’ ini ke alam yang lebih tinggi dan lebih kekal di mana mereka akan menikmati karunia Allah yang tidak terhingga:

 “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam Keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Ali-Imran 169-171). 

Allah swt memberi kepastian kepada para mujahidin bahwa Allah selalu menyertai mereka dan sekali-kali tidak akan meninggalkan mereka: 

 “(ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman". kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (Al-Anfaal 12). 

Kemudian Allah swt berjanji kepada para mukminin yang berjihad pengorbanan nyawa dan harta benda, akan diperolehnya kemenangan di dunia dan syurga di akhirat. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash-Shaff 10-13). 

Demikianlah sistem dan cara Islam mendidik para penganutnya dan menanamkan iman ke dalam jiwa dan hati mereka, sehingga dengan iman dan aqidah yang sudah mendarah-daging itu mereka dapat mencapai kemenangan, keunggulan, kedudukan yang teguh dan penguasaan di atas bumi Allah. Allah swt. berfirman:

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad 7). 

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku.” (An-Nuur 55).
loading...