Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Wanita Muslimah. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Wanita Muslimah. Show all posts

Sunday, October 18, 2015

Model Baju, Pakaian yang Dilarang dalam Islam

Model Baju, Pakaian yang Dilarang dalam Islam

Pada bahasan yang lalu pada larangan bertabarruj telah dijelaskan menurut pendapat para ulama salaf bahwa tujuan atau maksud dari diwajibkannya mengenakan jilbab bagi kaum wanita adalah menutupi kecantikan dan perhiasan mereka ketika mereka keluar rumah atau ketika berada di hadapan kaum laki-laki yang bukan muhrimnya atau suami.

Dari keterangan di atas, maka jelaslah bahwa apabila wanita keluar rumah dengan memakai model baju, model pakaian atau berjilbab yang ditambahkan hiasan-hiasan seperti renda-renda, bordiran, motif, ukiran dan yang sejenisnya adalah merupakan bentuk tabarruj atau memperlihatkan kecantikan. Hal ini dikarenakan model baju, model pakaian atau jilbab ini akan menampakkan keindahan atau perhiasan yang seharusnya disembunyikan.

Meskipun bahan dari model baju, model pakaian atau jilbab tersebut terbuat dari kain yang tebal atau tidak tipis, namun apabila terdapat hiasan-hiasan yang menjadikan model baju, pakaian menarik perhatian atau dengan kata lain model baju, atau pakaian atau jilbab yang dikenakan semakin mempercantik atau memperindah penampilan kaum wanita yang diperlihatkan kepada selain muhrim, maka hal ini jelas merupakan salah satu bentuk tabarruj dalam berpakaian.

http://islamiwiki.blogspot.co.id/
Syariat ajaran Islam telah memberikan koridor atau batasan bagi kaum wanita untuk menutupi aurat dan tidak mempertunjukkan keindahan, kecantikan dan perhiasannya kepada selain suami atau muhrimnya. Sehingga apabila ditanyakan tujuan mereka mengenakan model baju, pakaian atau jilbab yang dihiasi dengan renda, motif, bordir dan sejenisnya dan mereka menjawab untuk keindahan, agar keren, modis, indah dan perkataan lain yang senada. Maka, hal ini adalah jelas merupakan tabarruj dalam berpakaian.

Pendapat para ulama dalam tabarruj dalam model berpakaian

Merujuk pada sumber lain mengenai apa yang disebut dengan hiasan. Adalah dari kamus besar bahasa indonesia yang disebut dengan bahan hiasan adalah motif, renda, bordir.  Sehingga para ulama sudah sejak dahulu larangan dan diberikan ancaman keras bagi tabarruj, penggunaan model baju, pakaian, jilbab yang dihiasi dengan hiasan yang tujuannya mempercantik diri kepada selain muhrim dan suami.

Dalam kitab al-Kabair Imam adz-Dzahabi mengatakan: yang termasuk perbuatan yang buruk yang menjadikan kaum wanita akan dilaknat, jauh dari rahmat Allah swt. adalah mereka yang memperlihatkan perhiasan, mutiara dan emas yang dipakainya di balik penutup wajahnya, mereka yang memakai wewangian dengan parfum atau kasturi ketika mereka keluar rumah, mengenakan pakaian yang warnanya mencolok, kain sutra, pakaian pendek, disertai memanjangkan pakaian luar. Kesemuanya itu adalah termasuk perbuatan tabarruj dalam berpakaian yang dibenci oleh Allah swt di dunia dan akhirat.

Sampai-sampai karena perbuatan seperti tersebut di atas, Nabi saw. bersabda : Aku melihat Neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita. Hadits hasan riwayat al-Bukhari no. 3069, Muslim no. 2737

Oleh sebab itu, janganlah sampai karena perbuatan tabarruj dalam model baju dan pakaian membawa kita kepada neraka. Naudzubillah min dzalik.

Baca juga tujuh pintu neraka jahannam dan penghuninya.

Dalam Kitab Ruuhul ma’aani, Imam Abul Fadhl al-Alusi mengatakan bahwa yang termasuk perhiasan wanita yang dilarang atau haram untuk diperlihatkan adalah perhiasan yang dipakai pada kebanyakan wanita yang terbiasa dengan hidup mewah di atas pakaian luar mereka dan mereka menjadikannya sebagai hijab ketika mereka keluar rumah. Yaitu bahan kain penutup tenunan dari kain sutra yang berwarna-warni mencolok, terdapat ukiran atau bordiran, sulaman berwarna emas dan perak yang mencolok mata. Apabila model baju atau pakaian seperti ini dikenakan maka ini adalah merupakan perbuatan tabarruj yang dilarang dan sungguh kerusakan ini telah tersebar secara merata.

Pendapat dari kumpulan para ulama besar ahli fatwa di Arab Saudi dengan ketuanya yaitu Syaikh ‘Abdl ‘Azizi Alu asy-syaikh dengan isi fatwa : baju kurung atau baju luar atau disebut Abayah yang disyariatkan islam untuk wanita adalah yang menutupi (perhiasan dan kecantikan wanita) dengan sempurna dan menjauhkan kaum wanita dari fitnah/keburukan. Dengan dasar inilah, maka abayah bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-syarat berikut: tidak diberi hiasan-hiasan yang menarik perhatian. Oleh karena itu, ‘abayah  itu harus   polos   dari   gambar-gambar, hiasan atau pernik-pernik, tulisan-tulisan atau bordiran/sulaman ataupun simbol-simbol.

Sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin sebagai berikut : sekarang ini muncul pada kaum wanita yang mengenakan model baju ‘abayah yang lengannya sempit dan di sekelilingnya dihiasi dengan bordir atau hiasan lainnya. Terdapat juga sebagian model baju ‘abayah bagi wanita   yang  pada bagian   ujung lengannya sangat tipis,  apa pendapat Syaikh mengenai hal ini?”

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menjawab dan mengatakan bahwa Kita memiliki aturan atau kaidah penting mengenai permasalahan  ini, bahwa hukum asal dalam berpakaian, makanan, minuman serta semua hal yang berhubungan dengan mu’amalah hukumnya adalah diperbolehkan atau mubah dan halal. Siapapun tidak boleh mengharamkan hal-hal tersebut kecuali dengan dalil yang menunjukkan keharamannya.

Sehingga, apabila kita telah memahami dan mengerti aturan atau kaidah ini yaitu tentang berpakaian dalam hal ini sesuai dengan dalil Allah swt dalam al-Qur’an dan dalil hadits dari Nabi saw. yaitu sebagai berikut:

Firman Allah swt. dalam Al-Qur’an:

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

Artinya: Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS al-Baqarah: 29).

Juga Firman Allah swt:

قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِيٓ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ قُلۡ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا خَالِصَةٗ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ

Artinya: Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS al-A’raaf: 32).

Baca juga
Maksud dan tujuan diturunkannya al-Qur’an

Sehingga, segala sesuatu yang tidak diharamkan Allah dalam persoalan-persoalan ini itu artinya adalah halal. Inilah hukum asal dalam masalah ini, kecuali jika ada dalil dalam syariat yang mengharamkannya, seperti misalnya haramnya memakai sutra dan emas bagi laki-laki, selain dalam hal yang dikecualikan, haramnya menjulurkan kaiun melewati mata kaki (isbal) pada celana, sarung, gamis dan pakaian luar bagi kaum laki-laki, dan lain-lain.

Oleh sebab itu, apabila kaidah ini diterapkan untuk persoalan ini, yaitu hukum memakai model baju atau ‘abayah (model) baru ini, bahwa hukum asal pakaian wanita adalah dibolehkan, namun apabila model baju atau pakaian yang dikenakan tersebut mengundang fitnah atau menarik perhatian, yang disebabkan karena terdapat hiasan seperti bordir dan sejenisnya yang menarik atau mengundang perhatian bagi orang yang melihatnya, maka yang demikian adalah dilarang,  bukan  karena  pakaian  itu sendiri, akan tetapi karena model pakaian tersebut menimbulkan fitnah.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin juga mengatakan bahwa; mengenakan model baju kurung atau ‘abayah yang dihiasi dengan bordir adalah termasuk perbuatan tabarruj atau menampakkan kecantikan atau perhiasan. Dan hal semacam ini adalah dilarang bagi kaum wanita.

Firman Allah swt.

وَٱلۡقَوَٰعِدُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِي لَا يَرۡجُونَ نِكَاحٗا فَلَيۡسَ عَلَيۡهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعۡنَ ثِيَابَهُنَّ غَيۡرَ مُتَبَرِّجَٰتِۢ بِزِينَةٖۖ وَأَن يَسۡتَعۡفِفۡنَ خَيۡرٞ لَّهُنَّۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

Artinya: Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana. (QS an-Nuur: 60).

Dalam kitab Kitab “Shahiihu fiqhis sunnah, Syaikh  Abu  Malik  Kamal  bin  as-Sayyid Salim menjelaskan bahwa model pakaian wanita yang dikatakan sebagai perhiasan bagi wanita adalah pakaian yang terbuat dari bahan yang berwarna-warni, terdapat ukiran seperti bordir/sulaman yang berwarna emas dan perak yang dapat menarik perhatian dan menyilaukan mata.

Dari penjelasan Firman Allah dan keterangan di atas,  yang termasuk tabarruj (memperlihatkan kecantikan) yang diharamkan bagi wanita adalah mengenakan atau membawa beberapa perlengkapan wanita, seperti dompet, tas, sepatu, kaos kaki, sendal,, dan lain-lain, dimana perlengkapan tersebut mempunyai motif, bentuk atau hiasan yang mencolok atau menarik perhatian, sehingga hal-hal tersebut termasuk perhiasan wanita yang wajib bagi kaum wanita untuk disembunyikan.

Dari Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin mengakatan bahwa: bagi wanita mengenakan sepatu berhak tinggi itu tidak diperbolehkan, apabila hal ini adalah di luar kebiasaan dari kaum wanita (hal yang tidak biasa), membawa kepada perbuatan tabarruj (memperlihatkan kecantikan) seperti menampakkan perhiasan wanita sehingga membuat mencolok dan menarik perhatian bagi laki-laki.  karena Allah swt. berfirman:

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيرٗا

Artinya: dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (QS al- Ahzaab:33).

Para sahabat, kaum muslimin dan muslimat, menjaga sesuatu sesuai dengan kaidah dan aturan dari Allah dan sunnah Nabi adalah kewajiban. Segala sesuatu yang membawa kaum wanita kepada perbuatan yang menampakkan kecantikan dan perhiasan atau tabarruj, menampakkan perhiasan dan penampilan dari seorang wanita yang berbeda dari para wanita lainnya dalam hal memperindah dan mempercantik diri yang tujuannya adalah untuk kecantikan semata dan diperlihatkan kepada selain muhrim dan suami, maka hal seperti ini adalah diharamkan dan tidak diperbolehkan bagi wanita.
loading...

Sunday, July 26, 2015

Bentuk Tabarruj: Model Pakaian, Hijab Wanita yang Dilarang

Bentuk Tabarruj: Model Pakaian, Hijab Wanita yang Dilarang

Memperlihatkan kecantikan atau tabarruj bagi wanita dalam Islam adalah dilarang atau haram sebagaimana penjelasan yang bersumber dari al-Qur’an. Hadits, para Imam berdasarkan tafsir al-Qur’an. Selengkapnya dapat anda pada artikel larangan tabarruj memperlihatkan kecantikan dan artikel keburukan dan ancaman bagi perilaku tabarruj

Berikut ini adalah penjelasan lebih rinci dari bentuk-bentuk atau macam dan jenis tabarruj, model pakaian, hijab atau jilbab yang dilarang dalam Islam berdasarkan syariat Islam.

Memakai hijab atau jilbab yang tidak menutupi seluruh badan

Mengenakan dan memakai hijab yang sesuai dengan syariat Islam atau Syar’i adalah mengenakan jilbab yang menutupi dan meliputi seluruh badan wanita, seperti jilbab yang diturunkan dari kedua pundak bukan dari atas kepala. 

Aturan mengenakan dan memakai jilbab atau hijab seperti tersebut di atas, adalah sesuai dengan dalil Firman Allah dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا 

Artinya: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang


Memakai atau mengenakan jilbab atau pakaian yang memperlihatkan dan membentuk bagian-bagian tubuh.

Yang termasuk dalam perilaku tabarruj yaitu memperlihatkan kecantikan adalah mengenakan atau memakai jilbab atau pakaian yang terpotong menjadi dua bagian, dimana bagian yang satu adalah untuk menutupi bagian tubuh atas dan bagian yang lain adalah untuk menutupi bagian bawah yang berpotensi terbuka dan atau membentuk bagian-bagian tubuh wanita. 

Hal ini bertetangga dengan penjelasan dari para ulama yang menjelaskan bahwa berpakaian dan berjilbab itu adalah yang menutupi seluruh tubuh wanita dari atas sampai ke bagian bawah, sehingga tidak memperlihatkan dan atau membentuk bagian-bagian tubuh dari wanita yang memakainya.

Memakai dan mengenakan jilbab sebagai perhiasan (jilbab modis dan gaul)

Termasuk perilaku tabarruj adalah mengenakan jilbab yang justru tujuannya adalah menjadi perhiasan bagi wanita yang memakainya.

Mengenakan jilbab bagi wanita muslimah keluar rumah memiliki tujuan dan hikmah yang besar yaitu berfungsi untuk menutupi perhiasan dan kecantikan dari pandangan para lelaki yang bukan muhrimnya. Hal ini berdasarkan dalil firman Allah dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 

Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS an-Nuur: 31).

Dalam sebuah kitab Jilbaabul mar-atil muslimah halaman 120, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, beliau mengatakan bahwa tujuan dari diperintahkan atau disyari’atkannya memakai jilbab bagi para wanita yaitu untuk menutupi perhiasan mereka, maka tidaklah masuk akal apabila jilbab yang mereka kenakan justru menjadi perhiasan bagianya.  

Mengacu pada kontek dan keterangan di atas, maka dalam hal ini jilbab modis dan jilbab gaul yang sekarang ini menjadi trend masa kini dan banyak dikenakan oleh wanita, dihiasi dengan bordiran, renda-renda, hiasan-hiasan lain, penuh dengan warna-warni yang mencolok yang sangat jelas adalah menarik perhatian dan justru cenderung dijadikan sebagai perhiasan untuk mempercantik diri wanita. Maka dengan demikian jilbab modis dan gaul dengan kandungan makna seperti ini adalah dilarang dan termasuk perilaku tabarruj.

Pakaian dan jilbab yang transparan dan tipis

Memakai, mengenakan pakaian dan jilbab yang transparan dan tipis adalah termasuk tabarruj. Pakaian dan jilbab yang tipis dan transparan akan dapat menjadikan keliatan bagian-bagian tubuh dari wanita sehingga terlihat auratnya.

Dalil-dalil hadits Nabi saw. yang menjelaskan tentang hal ini antara lain:

Nabi saw, bersabda: Akan ada di akhir umatku (nanti) wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, di atas kepala mereka (ada perhiasan) seperti punuk unta, laknatlah mereka karena (memang) mereka itu terlaknat (dijauhkan dari rahmat Allah.

Juga dalil hadits yang lain terdapat tambahan dari hadits di atas, yaitu:

Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau (wangi)nya, padahal sungguh wanginya dapat dicium dari jarak sekian dan sekian. (Hadits pertama adalah riwayat ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamush shagiir dinyatakan shahih sanadnya oleh syaikh al-Albani, dan hadits kedua adalah riwayat imam Muslim)

Dalam Kitab Kitab Jilbaabul mar-atil muslimah halaman 125-126, Imam Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan: Maksud Rasulullah saw. (dalam hadits ini) adalah wanita-wanita yang mengenakan pakaian (dari) bahan tipis yang transparan dan tidak menutupi (dengan sempurna), maka mereka disebut berpakaian tapi sejatinya mereka telanjang.


Diriwayatkan oleh imam Malik dalam sebuah atsar (segala sesuatu yang berasal dari saw.) dalam Kitab al-Muwaththa (2/913) dan Muhammad bin Sa’ad dalam Kitab ath-Thabaqaatul Kubra (8/72), dari Ummu ‘Alqamah dia berkata: Aku pernah melihat Hafshah bintu ‘Abdur Rahman bin Abu Bakr menemui ‘Aisyah dengan memakai kerudung yang tipis (sehingga) menampakkan dahinya, maka ‘Aisyah merobek kerudung tersebut dan mengatakan: Apakan kamu tidak mengetahui firman Allah yang diturunkan-Nya dalam surah an-Nuur?”. Kemudian ‘Aisyah meminta kerudung lain dan memakaikan-nya”.

Memakai pakaian atau jilbab yang memperlihatkan bentuk tubuh.

Termasuk perilaku dan tindakan tabarruj adalah memakai pakaian atau jilbab yang dapat menggambarkan bentuk tubuh dari wanita yang mengenakannya. Meskipun kain yang dikenakan tidak tipis, namun pakaian atau jilbab yang dikenakannya ketat sehingga dapat menggambarkan anggota yubuh, bentuk atau postur tubuh wanita dengan jelas.

Dalam Kitab Jilbaabul mar-atil muslimah halaman 131, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan bahwa Karena  tujuan  dari  mengenakan jilbab adalah agar tidak timbul fitnah, yang mana hal ini hanya dapat diwujudkan dengan mengenakan jilbab yang longgar dan tidak ketat. Adapun jilbab atau pakaian yang ketat, meskipun menutupi kulit akan tetapi membentuk postur tubuh wanita dan menggambarkannya pada pandangan mata lelaki. Hal ini jelas akan menimbulkan kerusakan (fitnah) dan merupakan pemicunya, oleh sebab itulah seorang wanita wajib memakai jilbab atau pakaian yang longgar.

Oleh sebab itu, termasuk perbuatan tabarruj yang dilarang adalah mengenakan pakaian atau jilbab dari atau menggunakan bahan kain yang lentur atau  jatuh sehingga kain ini akan mengikuti lekuk-lekuk tubuh dari wanita pemakainya, dan dapat menggambarkan postur atau bentuk tubuh wanita. Kondisi seperti telah banyak muncul berbagai model pakaian dan jilbab yang dikenakan wanita. Termasuk juga dalam kategori ini adalah jilbab dari kain kaos yang lentur dan dengan jelas membentuk anggota tubuh wanita yang memakainya.

Dalam fatwa Lajnah daimah no. 21352, tanggal 9/3/1421 H, tentang syarat-syarat pakaian atau hijab/jilbab yang sesuai dengan syariat Islam atau syar’i bagi para wanita, di antaranya disebutkan: hendaknya pakaian atau jilbab tersebut terbuat dari kain yang tebal dengan demikian tidak akan menampakkan bagian-bagian tubuh yang ada di dalamnya, dan pakaian atau jilbab tersebut kainnya tidak bersifat menempel atau jatuh di tubuh.

Dalil yang menerangkan hal ini adalah hadits diriwayatkan oleh sahabat Usamah bin Zaid bahwa beliau berkata: Nabi saw. memakaikan untukku pakaian qibthiyah (dari negeri Mesir) yang tebal, pakaian itu adalah hadiah dari Dihyah al-Kalbi untuk Rasulullah saw. Kemudian pakaian itu aku berikan untuk istriku, maka Rasulullah saw. bertanya kepadaku:  Kenapa kamu tidak memakai pakaian qibthiyah tersebut?. Aku menjawab: Aku memakaikannya untuk istriku. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Suruhlah istrimu untuk memakai pakaian dalam di bawah pakaian qibthiyah tersebut, karena sungguh aku khawatir pakaian tersebut akan membentuk postur tulangnya (tubuhnya). (HR. Ahmad-hadits hasan)

Dari penjelasan dalil hadits di atas, dapat kita ambil kesimpulan penting bahwa kain atau pakaian qibthiyah adalah pakaian yang terbuat dari kain yang tebal. Meskipun pakaian ini sudah tebal, namun Nabi Muhammad saw. memberikan perintah bagi wanita agar masih melapisinya dengan pakaian dalam dengan tujuan agar badan wanita yang memakainya tidak terlihat posturnya. Apalagi pakaian yang terbuat dari kain yang lentur (jatuh), tipis, pakaian ini akan mengikuti bentuk lekuk-lekuk tubuh wanita sehingga menggambarkan bentuk atau postur tubuh wanita. Maka pakaian seperti ini tidak diperbolehkan digunakan dan tidak sesuai dengan syariat Islam dan termasuk perilaku tabarruj.

Diriwayatkan dari sebuah atsar oleh Imam Ibnu Sa’ad dari Hisyam bin ‘Urwah menjelaskan bahwa pada saat al-Mundzir bin az-Zubair datang dari Negeri Iraq yang mengirimkan pakaian kepada Asma’ binti Abu Bakar (ibunya). Pada saat itu Asma’ tidak mempunyai penglihatan (buta), ketika diberikan pakaian kepadanya kemudian dia meraba-raba pakaian itu dengan tangannya. Setelah itu dia mengatakan: Cih! Kembalikan pakaian ini kepadanya! Mendengar demikian, al-Mindzir pun merasa berat hati atas penolakan tersebut dan berkata kepada Asma’ ibunya: wahai ibuku, sungguh pakaian ini tidak tipis!. Kemudian Asma’ berkata: meskipun pakaian ini tidak tipis, tetapi membentuk (tubuh orang yang memakainya. (HR. Ibnu Sa’ad, hadits shahih oleh syaikh al-Albani.)

Wanita Memakai wewangian atau minyak wangi ketika keluar rumah

Tindakan atau perilaku tabarruj yang lainnya adalah seorang wanita yang keluar rumah dengan memakai minyak wangi. Hal ini adalah berdasarkan dalil hadits Nabi Muhammad saw. yang mengibaratkan golongan wanita yang memakai wewangian atau minyak wangi ketika keluar rumah adalah sebagai seorang pezina. 


Dalil hadits sabda Nabi saw: 

Dari Abu Musa al-Asy’ari berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seorang wanita, siapapun dia, jika dia (keluar rumah dengan) memakai wangi-wangian, lalu melewati kaum laki-laki  agar  mereka  mencium  bau  wanginya maka wanita itu adalah seorang pezina. (HR. an-Nasa'i, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim. Hadits shahih oleh imam Ibnu Hibban, al-Hakim dan adz-Dzahabi, dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani)

Juga dalam hadits Nabi yang lain (Lihat kitab “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah nomor 1031” diterangkan bahwa Rasulullah saw. menyebutkan bahwa larangan memakai wangi-wangian ini juga berlaku bagi para wanita yang memakai wewangian untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid. Dengan demikian, maka larangan ini juga bisa diasumsikan untuk beberapa kondisi yang lain dan lebih keras larangannya bagi wanita yang bepergian ke luar rumah ke pasar, toko dan tempat-tempat lainnya dengan memakai wangi-wangian. 


Oleh sebab itu, Imam al-Haitami memberikan penegasan bahwa seorang wanita yang keluat rumah dengan memakai parfum, wewangian adalah termasuk dosa besar (dalam hadits disamakan dengan seorang pezina), meskipun hal ini sudah diijinkan oleh suaminya. (Dinukil oleh syaikh al-Albani dalam kitab Jilbaabul mar-atil muslimah halaman 139.

Dalam Kitab Kitab “I’lamul muwaqqi’iin, Imam Ibnul Qayyim mengatakan: Nabi Muhammad saw. melarang para perempuan pergi keluar rumah dengan memakai mengenakan   atau    menyentuh    wewangian. Hal ini dikarenakan wangi-wangian adalah merupakan sarana atau sebab yang dapat menarik perhatian para lelaki-laki wanita yang memakai wangi-wangian. Oleh Karena parfum atau wewangian menyebabkan baunya menjadi wangi wangi, perhiasannya, postur tubuh wanita dan kecantikan wanita yang diperlihatkan, hal ini sungguh mengundang hasrat laki-laki kepada wanita yang mengenakannya. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw. memerintahkan kepada seorang wanita apabila keluar rumah (misalnya untuk shalat berjamaah di masjid) supaya mereka tidak memakai wangi-wangian, berdiri di barisan atau shaf di belakang dari jamaah laki-laki, dan tidak bertasbih (sebagaimana yang diperintahkan kepada laki-laki) ketika terjadi sesuatu hal dalam shalat, namun wanita diperintahkan untuk hanya dengan bertepuk tangan (ketika terjadi sesuatu dalam shalat). Semua hal ini adalah untuk tujuan dan maksud  menutup  jalan  dan mencegah terjadinya fitnah atau kerusakan. Demikian ungkapan Imam Ibnul Qayyim.

Cukuplah bagi para wanita untuk membersihkan diri dengan mandi dan berpakaian, memakai hijab sesuai dengan syariat Islam sehingga mereka akan aman, terhormat, tidak diganggu oleh para lelaki, tidak menimbulkan pemikiran-pemikiran yang tidak sehat serta terhindar dari Fitnah (berbagai keburukan dan ancaman dari perilaku tabarruj.

Wanita Memakai pakaian yang menyerupai pakaian laki-laki

Termasuk perilaku tabarruj yang dilarang selanjutnya adalah wanita memakai atau mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian laki-laki.

Hal ini berdasarkan dalil hadits Nabi saw. sebagai berikut: dari Abu Hurairah ra. Beliau berkata: Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian perempuan dan perempuan yang mengenakan pakaian laki-laki. Hadits Sahih Ibnu  Hibban,  al-Hakim,  adz- Dzahabi dan syaikh al-Albani (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad,  al-Hakim dan Ibnu Hibban).

Juga diriwayatkan dalam dalil hadits lain, dari Abdullah bin ‘Abbas beliau berkata: Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. Hadits sahih Riwayat al-Bukhari nomor 5546.

Dari keterangan kedua hadits sahih di atas, maka jelasnya bahwa haram dan dilarang bagi wanita yang menyerupai laki-laki dan juga sebaliknya haram dan dilarang bagi laki-laki menyerupai wanita baik dalam hal berpakaian dan perkara yang lain.

Para ulama ahli salaf melarang keras bagi wanita yang memakai atau menggunakan pakaian yang khusus digunakan untuk laki-laki. Selain berdasar pada dalil hadits di atas, juga dari Ibu Abi Mulaikah bahwa istri Nabi ‘Aisyah pernah ditanya tentang wanita yang mengenakan sendal yang khusus digunakan oleh laki-laki, maka beliau menjawab dan berkata: Rasulullah saw. melaknat wanita yang menyerupai laki-laki. Hadits sahih syaikh al-Albani (HR. Abu Dawud)

Dalam Kitab Kitab Masa-ilul imam Ahmad karya imam Abu Dawud pada halaman 261, Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya mengenai seorang yang memakaikan sarung yang khusus digunakan untuk laki-laki kepada budak perempuannya. Imam Abu Dawud menjawab dab berkata: tidak boleh dia memakaikan padanya pakaian (model) laki-laki, tidak boleh dia menyerupakannya dengan laki-laki.

Yang termasuk ke dalam perilaku tabarruj wanita memakai pakaian pria yang dilarang oleh para ulama adalah wanita yang memakai sepatu olahraga yang modelnya khusus untuk laki-laki, memakai mengenakan jaket dan juga celana panjang khusu model laki-laki. Baca dalam kitab Jilbaabul mar-atil muslimah halaman 150, Kitab Syarhul kaba-ir halaman  212 karya syaikh al-‘Utsaimin dan Kitab al-‘Ajabul ‘ujaab fi asykaalil hijaab halaman 100-101.

Merujuk pada keterangan syaikh al-Albani dalam kitab Jilbaabul mar-atil muslimah pada halaman 38 dan juga keterangan dari syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab Syarhul kaba-ir pada halaman 212, mengingatkan bahwa larangan bagi wanita yang menyerupai lelaki dan sebaliknya berlaku secara absolut atau mutlak dimanapun mereka berada baik ketika berada di dalam rumah maupun berada di luar umah. Hal ini karena diharamkan pada zatnya (bendanya), bukan hanya karena menampakkan aurat.

Wanita yang memakai pakaian dengan tujuan ingin populer dan membanggakan diri

Perilaku tabarruj memperlihatkan kecantikan yang dilarang dan diharamkan adalah wanita yang memakai atau mengenakan pakaian Syuhrah. Adalah pakaian yang model atau desainnya lain daripada yang lain atau berbeda dengan model pakaian wanita pada umumnya dengan tujuan atau maksud ingin kepopuleran dan membanggakan diri mereka. Lihat Kitab Jilbaabul mar-atil muslimah pada halaman 213.

Pengharaman atau larangan di atas, adalah berdasarkan dalil hadits Nabi saw. yang artinya sebagai berikut:

Barangsiapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat (nanti), kemudian dinyalakan padanya api Neraka. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad.  dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani.)

Di era sekarang ini banyak dari kaum wanita yang sering tergoda dengan berbagai macam model pakaian, jilbab atau hijab modern dan gaul yang justru model-model pakaian tersebut membawa mereka kepada jurang penyimpangan. Dengan model pakaian dan hijab yang serba modis, gaul mereka ingin selalu dilihat orang terlihat cantik, menarik secara berlebihan dan ingin berbeda dan istimewa serta lain dari yang lain. Sehingga mereka para kaum wanita mendandani dan menghiasai diri mereka dengan perhiasan dan dandanan yang menjadikan mereka berpenampilan indah yang sungguh maksud dan tujuan seperti ini adalah diharamkan dan dilarang dalam syari’at Islam.

Mereka kaum wanita tidak enggan mengorbankan materi, menghabiskan begitu banyak biaya, tenaga serta waktu hanya untuk menghiasai serta memperindah model pakaian mereka agar mereka tampil beda dari wanita-wanita yang lain, populer, membanggakan diri dari orang lain juga dari kaum lelaki. Model pakaian mereka menjadi trend center. Model pakaian dengan maksud dan tujuan seperti ini adalah termasuk perilaku tabarruj memperlihatkan kecantikan yang dilarang karena mereka memakainya dengan maksud ingin memperlihatkan keindahan dan perhiasan yang seharusnya mereka sembunyikan. Larangan seperti ini berlaku mutlak dimanapun wanita berada dikarenakan diharamkan dari zatnya. Baca keterangan dari syaikh al-Albani dalam kitab Jilbaabul mar-atil muslimah halaman 38.

Demikianlah berbagai macam, jenis, bentuk perilaku tabarruj (memperlihatkan kecantikan yang dilarang atau diharamkan berdasarkan syari’at Islam bersumber dari Kitabullah al-Qur’an, dalil-dalil hadits Nabi, pendapat dari para ahli salaf, para Imam dan juga para Syaikh dalam kitab-kitab mereka. Semoga dengan keterangan ini dapat memberikan hidayah kepada kita semua sehingga kita dapat terhindar dari perbuatan tabarruj. Amiin...amiin
loading...

Sunday, July 19, 2015

Keburukan dan Ancaman Memperlihatkan Kecantikan

Keburukan dan Ancaman Memperlihatkan Kecantikan

Para sahabat ajaran Islam yang dimuliakan Allah, pada bahasan yang lalu telah dipaparkan tentang larangan memperlihatkan kecantikan atau tabbaruj dalam islam, dapat anda baca pada artikel tentang larangan memperlihatkan kecantikan/tabarruj. Pada bahasan kali ini, akan diuraikan perihal keburukan dan ancaman keras bagi para wanita yang memperlihatkan kecantikan atau tabarruj.

Mengawali bahasan ini, mari kita simak sebuah dalil hadits Nabi saw. yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash. Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya:

“Akan ada di akhir nanti umatku wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, di atas kepala mereka (ada perhiasan) seperti punuk unta, laknatlah mereka karena memang mereka itu terlaknat (dijauhkan dari Allah swt). (HR. Ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jamush shagiir) Mereka tidak akan masuk surga dan tidak dapat mencium bau (wangi)nya, padahal sungguh wanginya dapat dicium dari jarak sekian dan sekian. (HR. Muslim). Hadits Sahih

Terhalang dan tidak masuk surga bagi pelaku tabarruj

Berdasar dari dalil hadits Nabi saw. di atas, apabila kita refleksikan dalam kehidupan di era modern sekarang dimana banyak sekali kreasi-kreasi dalam penggunaan dan pemakaian hijab mungkin hal yang demikian telah banyak terjadi. Berjilbab namum berpakaian ketat seperti telanjang (hanya membungkus kulit dan terlihat lekuk-lekuk tubuh), berjilbab dengan sanggul di kepala yang besar sehingga terlihat seperti punuk unta, dan aneka kreasi jilbab gaul yang tidak sesuai syariat Islam atau Syar’i


Dalam keterangan dalil hadits di atas tampak jelas akan adanya ancaman keras dari perbuatan tabarruj atau memperlihatkan kecantikan yaitu dengan ancaman tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa tabarruj adalah merupakan dosa besar yaitu dosa-dosa yang diancam oleh Allah swt. dengan laknat, kemurkaan dan ditempatkan ke dalam neraka atau terhalang masuk ke dalam surga.

Baca juga 

Dari penjelasan di atas, maka dapat kita garis bawahi bahwa tabarruj atau memperlihatkan kecantikan itu hukumnya haram. Hal ini juga dijelaskan oleh seorang imam besar yaitu Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Hiraasatul fadhiilah halaman 107 s.d 108. Juga dijelaskan oleh Imam al-Qadhi al-Yahshubi berdasarkan dengan dalil hadits d atas, beliau menyatakan dalam kitabnya al-Mu’lim Syarhu Shahiihi Muslim menyatakan bahwa tabarruj adalah dosa besar.

Tabarruj merupakan sunnah jahiliyah

Keburukan dan ancaman yang kedua dari tabarruj atau memperlihatkan kecantikan kepada umum bahwa tabarruj adalah merupakan sunnah jahiliyah.

Firman Allah swt. dalam Kitabullah Al-Qur’an yang berbunyi:

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ 

Artinya: dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (QS. Al-Ahzab: 33)

Penjelasan lebih lengkap dapat dilihat pada kitab al-Hijaabu wa fadha-iluhu halaman 4 s.d. 6 dan kitab al-‘Ajabul ‘ujaab fi asykaalil hijaab halaman 79 s.d. 80.

Tabarruj sangat berkaitan dengan dosa Zina,  syirik, mencuri dan dosa besar lainnya.

Dari tabarruj atau memperlihatkan kecantikan inilah inilah bisa melahirkan timbulnya dosa besar lainnya seperti perbuatan zina baik zina pikiran, zina mata maupun perbuatan zina lahiriah serta perbuatan dosa-dosa besar lainnya. Oleh sebab itu Nabi Muhammad Rasulullah saw. menjadikan salah satu syarat untuk membai’at wanita muslimah dengan meninggalkan perbuatan tabarruj.

Dalam sebuah dalil hadits Nabi dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, beliau berkata: Umaimah bintu Quqaiqah datang bertemu kepada Nabi untuk membai’at beliau atas agama Islam. Kemudian Nabi sawl bersabda: Aku membai’at kamu atas dasar kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak berbuat bohong yang kamu ada-adakan antara kedua tangan dan kakimu, tidak meratapi mayat, dan tidak melakukan tabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita jahiliyah yang dahulu. (HR Ahmad dan al-Hakim), Hadits sahih oleh imam al-Hakim, adz-Dzahabi dan syaikh al- Albani dalam kitab Jilbaabul mar-atil muslimah halaman 119.

Kebinasaan bagi wanita pelaku tabarruj

Pelaku tabarruj mendapat ancaman dengan kebinasaan bagi para wanita pelaku tabarruj. Hal ini sesuai dengan dalil sabda Nabi Muhammad saw. yang artiya:

Ada tiga golongan manusia yang jangan kamu tanyakan tentang mereka (karena mereka akan ditimpa kebinasaan besar yaitu orang yang meninggalkan jamaah (kaum muslimin) dan memberontak kepada imamnya (pemerintah/penguasa) lalu dia mati dalam keadaan seperti itu, budah laki-laki atau wanita yang lari (dari majikannya) lalu dia mati (dalam keadaan itu), dan seorang wanita yang ketika suaminya tidak berada di rumah (dalam keadaan) telah dicukupkan keperluan hidupnya, lalu dia melakukan tabarruj setelah itu, maka jangan tanyakan tentang mereka ini. (HR Ahmad. dinyatakan hadits hasan oleh syaikh al-Albani  dalam  kitab  Jilbaabul  mar-atil  muslimah)

Keburukan-keburukan tabarruj yang lain

Perbuatan dan tindakan tabarruj yang dilakukan oleh para kaum wanita adalah merupakan salah satu sababiyah atau penyebab yang menjadikan mayoritas kaum wanita termasuk penghuni Neraka, na’uudzu billahi  min  dzaalik lihat keterangan lebih lengkap pada Keterangan dari Syaikh al-Albani dalam kitab Jilbaabul mar-atil muslimah halaan 232.

Dalam kitabnya Al-Hijaabu wa fadha-iluhu Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh menerangkan secara spesifik keburukan-keburukan dari perbuatan tabarruj dengan berdasarkan dalil-dalil dari Hadits Nabi dan juga Al-Qur’an yang antara lain sebagai berikut:

Perbuatan dan tindakan Tabarruj akan mendapatkan laknat dari Allah serta dijauhkan dari rahmat Allah swt. sebagaimana dalil Hadits sabda Nabi yang artinya: Akan ada di akhir umatku (nanti) wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, di atas kepala mereka (ada perhiasan) seperti punuk unta, laknatlah mereka karena (memang) mereka itu terlaknat (dijauhkan dari rahmat Allah). (HR  ath-Thabrani – sanadnya dinyatakan sahih oleh  syaikh  al-Albani)
  • Memperlihatkan kecantikan atau Tabarruj merupakan perbuatan dan tindakan maksiat kepada Allah swt. dan Rasul-Nya, sebagaimana penjelasan dari dalil-dalil di atas.
  • Perbuatan Tabarruj adalah sifat wanita penghuni Nereka. Dalil hadits sabda Nabi Muhammad saw. yang artinya:

Ada dua golongan termasuk penghuni Neraka yang aku belum melihat mereka: (pertama) orang-orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi, (digunakan) untuk memukul/menyiksa manusia, (kedua) wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang). (HR. Muslim)

  • Perbuatan Tabarruj akan membawa pelakunya kepada kegelapan dan kesuraman kelak hari kiamat. 

  • Tindakan Tabarruj adalah perbuatan dan tindakan yang keji atau fahisyah. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan secara harfiyah arti kata dari wanita adalah aurat, oleh sebab itu menampakkan aurat adalah termasuk perbuatan yang keji dan dimurkai oleh Allah swt., Syaithanlah yang selalu menggoda dan membujuk rayu serta menyuruh manusia untuk melakukan  perbuatan yang  keji. 


Dalam Al-Qur’an Allah swt. telah berfirman:

إِنَّمَا يَأۡمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلۡفَحۡشَآءِ وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ 

Artinya: Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS al-Baqarah: 169).
  • Perilaku dan tindakan Tabarruj adalah sunnah yang dari Syaitan. Karena mereka berusaha dengan keras untuk membuka aurat wanita dan menyingkap hijab mereka, oleh sebab itu tabarruj adalah merupakan target utama (tipu daya) dari syaitan. 

Sebagaimana dalil Firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 

Artinya: Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS al-A’raaf: 27).

  • Perilaku memperlihatkan kecantikan atau Tabarruj adalah suatu metode penyesatan orang- orang Yahudi. Karena mereka berperan besar dalam usaha untuk merusak tatanan kehidupan manusia dengan cara memperlihatkan kecantikan wanita dan fitnah, dan mereka sangat berpengalaman dalam bidang ini. 

Sebagaimana dalil sabda Nabi saw. :

Takutlah kalian kepada (fitnah) dunia, dan takutlah kepada (fitnah) wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama yang melanda Bani Israil adalah tentang wanita. (HR. Muslim)

Demikianlah penjelasan yang diambil dari berbagai sumber dalil yaitu al-Qur’an, dalil hadits Nabi, para imam yang menerangkan dan menjelaskan berbagai ancaman dan keburukan dari perilaku tabarruj atau memperlihatkan kecantikan. Tabarruj adalah perilaku yang dilarang dalam Islam, tabarruj merupakan penyesatan, tabarruj adalah sunnah dari setan. Tabarruj hanya akan membawa kepada neraka dan terhalang masuk ke dalam surga. Masihkah anda ingin melakukannya?
loading...

Friday, April 17, 2015

Larangan Tabarruj Memperlihatkan Kecantikan dari Qur'an, Kitab dan Imam

Larangan Tabarruj Memperlihatkan Kecantikan dari Qur'an, Kitab dan Imam

Tabarruj pada bahasan yang lalu telah di paparkan bahwa dalam Islam melarang perbuatan tabarruj. Pada kali ini akan mengupas penjabaran secara rinci mengenai hal ihwal, pengertian dan hukum asal dari tabarruj menurut berbagai macam sumber buku-buku Kitab Islam, para Imam dan juga menurut Al-Qur’an Al-Karim.

Pengertian tabarruj menurut bahasa adalah menampakkan atau memperlihatkan perhiasan kepada orang-orang yang bukan muhrim atau mahram (keterangan bukan murim ada dalam surat QS an- Nuurm ayat 31-di bawah ini).

Tabarruj berasal dari kata al-burj yang artinya adalah bintang, atau sesuatu yang tampak dan terang. Makna yang terkandung dari kata tersebut antara lain adalah berlebihan dalam menampakkan kecantikan dan perhiasan, seperti dada, kepala, wajah, leher, lengan, betis serta anggota tubuh yang lainnya, atau memperlihatkan perhiasan tambahan.

Menurut Imam asy-Syaukani dalam buku Fathul Qadiir mengatakan tentang pengertian tabarruj yaitu: at-Tabarruj adalah seorang wanita atau perempuan yang menampakkan sebagian dari perhiasan serta kecantikannya yang wajib dan seharusnya untuk ditutupi olehnya, yang dengan hal seperti itu dapat memancing hasrat atau syahwat dari seorang laki-laki.

Dalam kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, dari Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menafsirkan arti yang terkandung dalam Surat al-Ahzaab ayat 33

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰ

Artinya: dan hendaklah kamu (wahai istri-istri Nabi) tetap di rumahmu dan janganlah kamu bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti orang-orang (wanita-wanita) Jahiliyah yang dahulu. (QS al- Ahzaab:33).

Beliau menafsirkan arti ayat di atas sebagai berikut: Janganlah kalian (para wanita) sering bepergian keluar rumah dengan memakai wewangian atau berhias, hal yang demikian adalah seperti kebiasaan para wanita Jahiliyah yang dahulu, mereka tidak mempunyai pengetahuan (agama) dan iman. Larangan tersebut adalah bertujuan untuk mencegah terjadinya keburukan atau hal-hal yang buruk (bagi kaum wanita) dan sebab-sebabnya.

Dalam kitab al-Jaami’ liahkaamil Qur-an, Imam al-Qurthubi, memberikan penafsiran dari ayat di atas dan beliau berkata: makna atau arti ayat ini adalah berisi perintah (bagi kaum wanita atau perempuan) untuk menetapi rumah-rumah mereka. Meskipun (awalnya) perintah ini ditujukan kepada istri-istri Rasulullah Muhammad saw., akan tetapi secara arti harfiah (wanita-wanita) selain mereka (juga) termasuk dalam perintah tersebut. Ini seandainya tidak terdapat dalil yang spesifik (mencakup) semua wanita. Padahal dalil-dalil yang ada dalam) syariat Islam telah penuh dengan anjuran dan perintah bagi kaum perempuan untuk menetapi rumah-rumah mereka dan tidak keluar dari rumah kecuali karena alasan keterpaksaan atau darurat.

Seorang ulama bernama Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan: pada saat Allah swt. memberikan perintah kepada kaum wanita untuk menetap  di rumah mereka, maka Allah swt telah melarang kaum perempuan dari berperilaku tabarruj karena yang demikian adalah merupakan kebiasaan kaum wanita Jahiliyah yang dahulu, (yaitu) para kaum wanita sering keluar rumah dengan memakai wewangian, berhias, menampakkan wajah dan juga memperlihatkan perhiasan serta kecantikannya yang sesungguhnya diperintahkan oleh Allah swt. untuk disembunyikan.

Dalam kitab Hiraasatul fadhiilah menerangkan bahwa oleh karena seringnya kaum wanita keluar atau keluar rumah dengan memperlihatkan kecantikan dan perhiasan, hal ini akan dapat menjadi sebab timbulnya fitnah dan kerusakan yang besar bagi diri kaum perempuan dan masyarakat.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa penjabaran dari makna atau arti tabarruj terdiri dari dua hal pokok.

Pertama, Seringnya wanita keluar dari rumah, hal ini adalah merupakan sebab timbulnya kerusakan dan fitnah.

Dalam hadits sahih riwayat Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan at-Thabrani dalam al-Mu'jamul ausath, Nabi Muhammad saw. bersabda: Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) Syaithan akan mengikutinya (menghiasinya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah swt) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.

Dari seorang ulama bernama Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan bahwa Allah swt. memerintahkan kepada kaum wanita untuk menetap di rumah-rumah mereka dan tidak keluar dari rumah mereka kecuali apabila ada keperluan atau kebutuhan yang diperbolehkan dalam Islam (mubah) dengan syarat memenuhi ketentuan atau adab-adab yang telah disyariatkan dalam agama Islam.

Dalam buku kitab at-Tabarruju wa khatharuhu diterangkan: Sungguh Allah telah menamakan (perbuatan) menetapnya seorang wanita di dalam rumahnya dengan sebutan “qaraar” (stabil, tetap, tenang). Hal ini mengandung arti yang sangat mulia dan tinggi. Karena dengan tetap di dalam rumah, maka jiwa mereka akan tenang, hati mereka akan damai dan dada mereka pun juga akan lapang. Lain halnya apabila mereka keluar rumah, maka akan menyebabkan keguncangan jiwa mereka, kegalauan dalam hati mereka dan kesempitan dalam dada mereka, serta dapat membawa mereka kepada keadaan yang dapat berakibat keburukan kepada diri mereka.

Dalam kitab yang lain Kitab Majmuu’ul fataawa syaikh Bin Baz, beliau mengatakan: Allah swt telah memerintahkan kepada para wanita untuk menetapi rumah-rumahnya, hal ini dikarenakan keluarnya para wanita dari rumah sering menjadi penyebab dari timbulnya fitnah. Dan mereka diperbolehkan keluar rumah apabila mempunyai keperluan sesuai dengan syariat ajaran Islam, dengan mengenakan hijab yang benar dan menghindari dari mengenakan atau memakai perhiasan. Namun demikian, bagi kaum wanita/perempuan menetap di dalam rumah adalah merupakan hukum asal. Dan yang demikian itu lebih baik bagi dan akan lebih menjauhkan diri perempuan dari fitnah.

Dari Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani beliau mengakatan bahwa Hukum asalnya kaum wanita tidak boleh keluar dari rumah-rumah mereka kecuali apabila ada keperluan yang sesuai dengan syariat Islam. Hal ini berdasarkan dari hadits shahih riwayat al-Bukhari pada saat turun firman Allah swt yang berbunyi:

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰ

Artinya: dan hendaklah kamu (wahai istri-istri Nabi) tetap di rumahmu dan janganlah kamu bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti orang-orang (wanita-wanita) Jahiliyah yang dahulu. (QS al- Ahzaab:33).

Rasulullah Muhammad saw. bersabda: Sungguh Allah telah mengizinkan kepada kalian (para wanita) untuk keluar (rumah) apabila (ada) keperluan kalian (yang dibolehkan dalam syariat). (Al-Fataawa al-imaaraatiyyah)

Diperbolehkannya wanita keluar dari rumah-rumah mereka adalah dikarenakan adanya keperluan tertentu atau dalam keadaan darurat yang disyariatkan dalam Islam. Tetap menetapnya wanita di dalam rumah adalah merupakan hukum asal yang dikukuhkan dalam syariat Islam atau disebut aziimatun syar’iyyah. Maka dengan demikian diperbolehkannya wanita keluar dari rumah-rumah mereka adalah merupakan keringanan atau rukhshah yang hanya diperbolehkan dalam keadaan tertentu (darurat) berdasar syariat Islam.

Firman Allah swt. dalam tiga ayat di dalam Al-Qur’an yaitu surat Al-Ahzab ayat 33 dan 34 serta surat at-Thalaaq ayat 1 menerangkan bahwa Allah swt telah menggandengkan atau menisbatkan rumah-rumah mereka (para wanita) kepada mereka, padahal jelas bahwa rumah yang mereka tempati tersebut adalah rumah milik wali mereka atau suami mereka. Hal ini menunjukkan bahwa senantiasa dan selalu berada di dalam rumah dan menetap adalah keadaan yang pantas, sesuai dan tepat bagi para perempuan. (kitab “Hiraasatul fadhiilah)


Kedua, Keluar rumah dengan memperlihatkan perhiasan dan kecantikan yang seharusnya disembunyikan dari laki-laki yang bukan muhrimnya.

Dalam Kitab at-Tabarruju wa khatharuhu, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz mengatakan: Allah swt telah memerintahkan kepada kaum perempuan untuk menetapi rumah-rumah mereka serta melarang kaum wanita dari perbuatan tabarruj (ala) jahiliyyah. Tabarruj jahiliyyah adalah menampakkan atau memperlihatkan kecantian dan perhiasan, seperti dada, kepala, wajah, leher, lengan, betis serta perhiasan (keindahan wanita) yang lainnya, karena hal yang demikian akan menimbulkan kerusakan yang besar dan  fitnah. Hal yang demikian juga akan mengundang diri para kaum laki-laki yang dapat menyebabkan timbulnya hasrat syahwat dan yang  membawa kepada dosa perbuatan zina dimana zina adalah penyakit yang sangat berbahaya.

Allah swt. berfirman :

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ

Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. (QS an- Nuur: 31).

Dalam keterangan ayat di atas, menjelaskan bahwa perhiasan yang tidak boleh untuk ditampakkan atau dilarang meliputi semua jenis perhiasan, baik perhiasan yang berupa anggota badan wanita ataupun perhiasan tambahan lainnya yang menghiasi tubuh atau fisik dari wanita.

Dalam Kitab Kitab Majmuu’ul fataawa, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz juga mengatakan bahwa perhiasan dari seorang wanita yang dilarang tidak boleh ditampakkan adalah semua hal atau segala sesuatu yang disukai atau disenangi oleh kaum laki-laki dari seorang wanita dan dan dapat mengundang kaum laki-laki untuk melihat kepada kaum wanita, baik itu perhiasan atau keindahan yang berasal dari anggota tubuh mereka ataupun perhiasan atau keindahan yang dapat diusahakan mereka sendiri (seperti perhiasan tambahan yang menghiasi tubuh mereka kaum wanita),  yaitu  segala  hal yang  ditambahkan  pada fisik atau tubuh wanita untuk menghiasai diri dan mempercantik diri wanita.

Demikianlah penjabaran tentang tabarruj atau memperlihatkan kecantikan diri wanita yang hukum asalnya adalah dilarang untuk diperlihatkan berdasarkan berbagai Kitab, imam, Hadits dan Kitab suci Al-Qur’an. Semoga kita dapat memaknainya dan menyebarkannya serta mengimplementasikannya dalam kehidupan.

Karena asal mula hukum syariat larangan tabarruj atau memperlihatkan kecantikan adalah untuk menjaga diri wanita dari keburukan sebagaimana yang dijelaskan di atas dan juga untuk kebaikan, keselamatan dan kehormatan diri wanita. Telah juga dijelaskan dalam hadits tentang menutup aurat bagi wanita muslimah.
loading...

Thursday, March 26, 2015

Menyikapi Cara Berjilbab Gaul, Larangan Tabarruj

Menyikapi Cara Berjilbab Gaul, Larangan Tabarruj

Cara berjilbab pada era modern ini semakin bermacam-macam sehingga berkembang istilah dalam cara berjilbab dengan sebutan jilbab modis, jilbab keren ada juga yang menyebutkan dengan jilbab gaul. Istilah-istilah yang muncul tentang cara berjilbab di atas, lebih sering dipakai dan digunakan dalam cara mereka berjilbab karena hal ini membuat mereka merasa bangga, lebih cantik, sesuai dengan kondisi dan kemajuan jaman. Dan lebih mirisnya lagi adalah sebagian besar dari kaum muslimin beranggapan bahwa cara berjilbab yang sesuai syariat islam adalah kuno dan tidak mengikuti trend era modern.

Bagaimanakah cara berjilbab yang seharusnya dan syar’i?

Untuk menjawabnya, marilah kita merujuk pada beberapa keterangan-keterangan yang ada pada Kitabullah Al-Qur’an al-Karim sehingga dapat memberikan kita penjelasan secara runtut dan jelas.

Allah telah mensyariatkan hukum-hukum dalam Islam yang dikenal dalam hukum-hukum ilmu fikih Islam dalam setiap perkara. Ada hukum wajib, haram, sunnah, mubah, dll. Sehingga dengan demikian Allah swt lebih mengerti dan mengetahui segala sesuatu, setiap perkara yang akan mendatangkan kebaikan bagi setiap hamba-hamba-Nya. Allah swt juga menurunkan ayat-ayatnya serta mensyariatkan bagi hamba-Nya hukum-hukum agama Islam  yang relevan dengan keadaan dan kondisi hamba-Nya pada setiap jaman dan setiap tempat.


Firman Allah swt :

أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ 

Artinya: Bukankah Allah Yang menciptakan (alam semesta beserta isinya) itu mengetahui (segala sesuatu); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS al-Mulk:14).

Allah swt. adalah Maha segalanya, sempurna pengetahuan-Nya, Maha mengetahui segala sesuatu. Maka dengan demikian tidak ada satu hal pun kebaikan akan luput dari pengetahuan Allah. Dan pastinya semua keutamaan sudah disyariatkan dalam agama-Nya.

Allah swt. berfirman :

قَالَ عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَٰبٖۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى 

Artinya: Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa (QS Thaahaa: 52).

Juga firman Allah swt yang lain:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّٗا 

Artinya: dan tidaklah Tuhanmu lupa (QS Maryam: 64).

Firman Allah swt yang lain: 

۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ 

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS an-Nahl:90).

Dalam ayat al-Qur’an di atas, menjelaskan kepada kita hamba-Nya bahwa segala sesuatu atau perkara yang tidak diperbolehkan oleh Allah swt, atau dalam arti kata lain adalah yang setiap yang dilarang oleh Allah swt. pasti akan berakibat dan berdampak pada kerusakan dan keburukan. Dan sebaliknya segala sesuatu hal yang diperintahkan Allah swt. pasti akan membawa dampak kepada kebaikan. Dan kebaikan akan membawa kepada surga.

Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. melalui lisan beliau adalah ajaran yang begitu indah, memerintahkan segala kebaikan untuk kemaslahatan serta ajaran yang berisi larangan-larangan dalam berbuat dosa, berbuat kerusakan dan permusuhan. 

Allah swt. memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk meraih segala kebaikan dengan jalan memenuhi  dan mentaati-Nya semua perintahnya. Allah swt memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menjauhi segala sesuatu keburukan, mendurhakai-Nya, Syirik, berbuat maksiat. Hal ini adalah sebagai kebaikan dan anugerah dari Allah swt kepada hamba-Nya, karena Allah swt. adalah Maha Kaya (dan tidak butuh) kepada  ibadah dan ketaatan hamba-Nya.

Allah swt. menyampaikan kepada hamba-Nya melalui Islam yang dibawa oleh Nabi saw. hal-hal yang membawa segala kebaikan serta petunjuk bagi hamba-Nya untuk dilakukan dan dikerjakan, serta mengajarkan kepada hamba-Nya melalui Islam untuk menjauhi, menghindari segala keburukan dan kesesatan.

Allah swt. juga menjelaskan dalam Al-Quran bahwa Syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi hamba-Nya sehingga hendaknya dijauhi dan untuk tidak dituruti. Allah swt. menjadikan semua kebaikan yang ada di dunia dan di akhirat akan dapat diraih dengan cara mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya serta menjauhi dan menghindari perbuatan dan perilaku maksiat.

Cara berjilbab yang diperintahkan dalam al-Qur’an

Mengenai cara berjilbab yang benar berdasarkan syariat dari Allah, Allah l berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا 

Artinya: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS al-Ahzaab: 59).

Dalam ayat tersebut di atas, Allah swt. menjelaskan dengan eksplisit tentang kewajiban bagi para muslimah atau kaum wanita untuk memakai jilbab. Dengan demikian memakai jilbab adalah suatu perkara yang disyari’atkan dalam Islam. Memakai jilbab menurut dalil firman Allah di atas, mempunyai tujuan dan maksud serta hikmah dari hukum syariat berjilbab adalah agar kaum wanita lebih mudah untuk dikenal, sehingga kaum muslimah disakiti atau diganggu sebagaimana keterangan-keterangan di atas.

Keterangan lain dari Syaikh Abdurrahman as-Sa'di mengatakan bahwa hal Ini menunjukkan bahwa gangguan (dari orang-orang yang berakhlak tidak baik terhadap wanita) akan muncul apabila kaum wanita tidak mengenakan jilbab yang sesuai berdasarkan syariat Islam). Hal ini disebabkan karena apabila wanita tidak mengenakan jilbab, bisa jadi orang akan menyangka bahwa wanita tersebut bukan wanita yang 'afifah (terjaga kehormatannya), sehingga hal ini dapat berakibat orang yang di dalam hatinya ada penyakit (syahwat) di dalam hatinya, maka mereka akan menyakiti, mengganggu wanita tersebut, dan bahkan melecehkan atau merendahkan wanita tersebut. Dengan demikian, cara memakai jilbab atau cara berjilbab yang benar yaitu sesuai dengan syariat Islam  akan  dapat mencegah  muncul atau timbulnya  keinginan-keinginan yang buruk pada diri  wanita   dari orang-orang yang berpenyakit syahwat atau mempunyai niat buruk terhadap mereka.

Dalam dalil firman Allah yang lain,  Allah swt. berfirman:

وَإِذَا سَأَلۡتُمُوهُنَّ مَتَٰعٗا فَسَۡٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٖۚ ذَٰلِكُمۡ أَطۡهَرُ لِقُلُوبِكُمۡ وَقُلُوبِهِنَّ 

Artinya: Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. (QS. Al-Ahzab: 53)

Keterangan dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh, beliau mengatakan: “(Dalam ayat ini)  Allah menyifati hijab/tabir sebagai kesucian bagi hati orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan, karena mata manusia apabila tidak melihat sesuatu yang mengundang syahwat, karena terhalangi hijab/tabir maka hati mereka tidak akan berhasrat buruk. Oleh sebab itu, dalam kondisi seperti ini hati manusia akan lebih suci, sehingga peluang tidak timbulnya fitnah atau kerusakan pun menjadi lebih besar, karena hijab/tabir akan benar-benar dapat mencegah timbulnya keinginan-keinginan buruk dari mereka yang mempunyai penyakit di dalam hatinya.

Wajib diyakini bahwa setiap perbuatan, hal, perkara yang bertentangan dengan ketentuan Allah swt. pasti akan menyebabkan timbulnya berbagai keburukan dan kerusakan bagi kaum perempuan dan bahkan terhadap kaum muslimin secara keseluruhan. Oleh sebab itu, Allah swt.  melarang keras perbuatan tabarruj.Perbuatan tabarruj adalah perbuatan dengan sengaja menampakkan kecantikan dan perhiasan ketika berada di luar rumah. bagi kaum perempuan dan menyerupakannya dengan perbuatan wanita di jaman Jahiliyah. 

Dalil firman Allah swt. dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ 

Artinya: dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang. (QS al- Ahzaab:33).

Bagaiamana kaum Muslimah mengambil sikap dalam cara berjilbab?

Berdasarkan penjelasan dari firman-firman Allah dalam AL-Qur’an dan juga keterangan-keterangan di atas, maka kita sebagai Muslim yang beriman kepada Allah, berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. serta kebenaran agama Allah swt, maka wajiblah bagi kita kaum muslimin untuk meyakini bahwa semua dan setiap hukum, aturan yang ditetapkan oleh Allah swt. dalam ajaran Islam tentang cara berpakaian dan cara berjilbab dan perhiasan bagi kaum wanita muslimah adalah demi dan untuk kebaikan serta untuk menjaga kesucian dan kehormatan wanita.

Suatu contoh Allah swt mensyari’atkan jilbab yaitu pakaian yang menutupi seluruh aurat wanita secara sempurna ketika mereka keluar rumah dan hijab adalah salah satunya bertujuan baik untuk kemaslahatan melindungi wanita dari pandangan laki-laki yang bukan muhrimnya. Keduanya yaitu berjilbab dan hijab adalah bertujuan sangat mulia untuk kebaikan serta menjaga kesucian bagi kaum wanita.

Bagaimana sikap anda? Inginkah anda mengenakan pakaian, berjilbab, berhijab dengan tujuan terlihat modis, jilbab gaul, jilbab keren, jilbab modis? Ingatlah aturan hukum Islam dalam cara berjilbab dan larangan tabarruj
loading...

Monday, October 14, 2013

Remaja Wanita yang Bermain Api: Merusak Harga diri, Nama Baik

Remaja Wanita yang Bermain Api: Merusak Harga diri, Nama Baik

Harga diri wanita di mata agama Islam sangat tinggi. Namun harga diri para wanita ini dapat rusak dan menghancurkan nama baiknya karena perbuatan mereka sendiri. Para wanita atau perempuan remaja yang membiarkan dirinya menempuh jalan yang tidak rata, penuh dengan mara bahaya dan itu akan dapat mengkoyak-koyak baju kehormatannya.

Bagaimana para wanita remaja ini disebut bermain-main dengan api? Api yang membakar nama baiknya dan menghancurkan masa depannya. Apakah kamu mengetahui bahwa kemuliaan pemudi atau wanita itu bagaikan sehelai baju putih? Semua tindakan di atas dapat memberikan noda hitam di atas baju kemuliaannya yang nyata-nyata berwarna putih.

Apakah engkau mengetahui bahwa kehidupan ini dipenuhi dengan kepalsuan dan kemungkaran serta srigala ganas yang berpakaian manusia?

Wahai para wanita remaja.

Sesungguhnya di dalam dirimu terdapat kelembutan, ketenangan dan kepolosan. Dan dalam hatimu yang lembut itu memancarkan kasih sayang dan belas kasih. Jaga dan simpanlah semua itu untuk suamimu, untuk penjaga impian-impianmu dan keluargamu. Ingatlah semua itu tidak dapat ditegakkan kecuali dengan perasaan yang mulia ini.

Janganlah kamu mempercayai perkataan-perkataan film, pertunjukan-pertunjukan dan nyanyian-nyanyian. Sesungguhnya, semuanya itu adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan. Mereka membangun gedung-gedung yang menjulang tinggi ke langit di atas reruntuhan kemuliaan, berjalan dengan sombong di dalam pakaian kemewahan dan juga mudah menerima segala kenikmatan yang sama. Apabila akhlak telah hancur, kehinaan telah menjadi pemimpin, maka merekalah orang yang nemperlihatkan dan mempraktekkan di hadapanmu adegan-adegan cinta dan kerinduan yang menyengsarakan makhluk Allah di dalam kehidupan nyata.

Seperti pencuci yang mencuci pakaian orang lain
Sedangkan bajunya sendiri penuh dengan kotoran dan najis

Sesungguhnya, scorang pcmudi atau wanita remaja yang mengirim surat kepada seorang pemuda atau memberikan selembar foto itu bagaikan dia memberikan kehidupan dan masa depannya sebagai petunjuk baginya. Padahal, semua itu adalah sarana-sarana yang dapat mengantarkan dirinya berada di bawah tekanan kehinaan yang selalu mendorong dan bahkan dapat mengajaknya untuk menghunuskan senjata guna membunuh dirinya scndiri dan menghancurkan ketinggian nilai kehidupannya. Dan kegagalan di dalam bercinta itu dapat menimbulkan bencana.

Apabila ada seorang pemuda yang mengirim surat kepadamu untuk mengadukan panasnya udara dan kegelisahan hati, dia memuji pipimu yang merona, buah dadamu yang seperti delima dan gemulainmu dalam berjalan, maka berhati-hatilah dengan dirinya. 

Sesungguhnya dia adalah srigala buas berbulu domba yang bermain cinta dan lemah lembut. Dia menghibur dirimu dan menertawakanmu. Dia menjadikan dirimu untuk melepaskan emosinya yang sesaat. Sesungguhnya dia meletakkan makanannya di dalam jaring dan perangkapnya. Makanannya adalah kata-kata yang manis. Dia memaksakan keberanian dan pemahaman-pemahaman yang menyimpang dengan nama kebebasan, kemerdekaan, kenikmatan hidup dan berpikir maju.

Sesungguhnya, dirinya dengan makanan-makanannya itu mencoba untuk memanfaatkan kepolosanmu agar dia dapat membius perasaanmu dan dapat menikmati kesenangan-kesenangan dari dirimu dengan mudah dan cepat.

Orang yang bermain cinta ini akan selalu begadang pada malam hari, menghitung bintang-bintang dan mengadukan kegelisahannya kepada angin spoi-spoi. Sedangkan malamnya (kekasihnya) membiarkan dirinya dan memberikan tubuh dan kehormatannya kepadanya secara suka-rela.

Dan srigala ganas ini mampu menjadi seorang pengantin yang melamar dirinya untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Untuk apa dia memilih istri semacam ini? Sesungguhnya dia akan bersungguh-sungguh dalam pembahasan, meneliti, mendalami, menguaraikan, mengklarifikasi bertanya dan mengedepankan seseorang untuk memecahkannya. Mengapa?

Karena dia mengalami keragu-raguan dan takut kalau dirinya akan terjerumus menjadi seorang yang tercemar sebagaimana dia mencemarkan nama baik wanita-wanita yang lain.

Jika jelek perbuatan seseorang, maka jeleklah persangkaannya
Dan segala kesamaran yang bisa dilakukannya akan menjadi benar 

Demikianlah orang yang bermain cinta itu telah pergi dengan menyebarkan kejahatan awal yang dibuat atau kecupan yang dicuri darinya. Selanjutnya ia meletakkan kekasih hatinya itu di tengah jalan sebagaimana seorang perokok membuang puntung rokoknya setelah selesai mencapai keinginannya dan puas dengan keserakahannya untuk mengotorinya. Setiap dia melaluinya, dia tidak menghiraukannya dan bahkan berpaling darinya dengan mulut berkata:

Dan akibat dari persoalan cinta yang memusingkan ini, seorang pemudi akan merasa frustasi. Dia akan menolak cinta, menolak kaum laki-laki, mementingkan dirinya sendiri, melupakan masa lalunya yang menyakitkan, membuang kenangan-kenangan yang menyedihkan agar perasaanya dapat merasakan beraneka macam siksaan yang lebih jelek. Dan dia seperti kayu bakar yang membakar hatinya. Dan mungkin dia akan membalas perbuatannya lebih dahsyat lagi dengan meracuni kehidupan perkawinannya dan menuntut balas orang yang tidak bertanggung jawab dalam bercinta dengan bayangan suaminya yang miskin!

Sesungguhnya, seorang pemuda yang mencintai seorang pemudi itu adalah karena kemuliaan atau kelebihannya. Dan ia tidak akan mencintai pemudi yang memiliki masa lalu yang suram. Pemudi seperti inilah pemudi yang jiwa dan hatinya masih perawan. Hatinya yang lembut belum pernah dihancurkan oleh kekuatan cinta dan tubuhnya belum terlumuri oleh cinta orang lain yang tidak bertanggung jawab.

Pemudi seperti inilah yang membangkitkan perasaan pemuda dan yang membuat dia terengah-tengah berada di belakangnya. Saya tidak bermaksud bahwa yang dia ingingkan adalah bersenang-senang dan bercanda ria dengan pemudi itu, akan tetapi yang saya maksud adalah orang yang ingin menikah dan orang yang ingin memberikan kasih sayangnya.

Dan  sesungguhnya kita dapat menemukan bahwa keagungan dan harga diri perempuan itu terdapat dalam kebudayaan Arab, yaitu ketika dia berdiri dengan teguhnya menghadapi dorongan perasaannya. Ada yang berkata kepada 'Utbah, yaitu setelah perasaan cintanya telah mati, "Apakah yang dapat membahayakan dirimu apabila engkau menikmatinya dengan wajahmu? Dia menjawab, "Yang mencegah saya melakukan hal itu adalah karena saya takut akan aib dan kekecewaan orang lain. Selain itu juga karena ketakutanku kepada Yang Maha Perkasa. Sesungguhnya hatiku lebih lemah daripada hatinya padahal saya mendapatkan bahwa tirainya dapat saya jadikan sebagai kasih sayang, untuk ketaatan kepada Tuhan dan memperingan dosa.

Ada seorang sastrawan Arab terkemuka yang bernama Musthafa Shadiq Ar- Rafi'i berkata sebagai berikut:

"Hindarilah engkau memperdaya dirimu sendiri, karena perempuan itu lebih membutuhkan kepada kemuliaan di dalam kehidupan."

"Sesungguhnya, ketika kata-kata yang memperdaya itu dikatakan kepadamu, maka kata-kata itu sama dengan kata yang diucapkan pada saat memutuskan hukuman bagi orang yang terdakwa dengan hukuman gantung."

Mereka menipu kamu dengan kata-kata cinta, perkawinan dan harta, sebagaimana dikatakan kepada orang yang menaiki tangga penggantungan, "Apa yang kamu inginkan dan apa yang engkau kehendaki?

"Cinta? Perkawinan? Harta? Daging ayam? Dan kata-kata lainnya yang menggiurkan.

Waspadalah wahai pemudi / para remaja wanita Timur, waspadalah.

Hindarilahlah dirimu jangan sampai terjerumus. Sesungguhnya keterjerumusan perempuan dalam musibah yang menakutkan itu ada tiga:

Keterjerumusan dirinya sendiri, keterjerumusan orang yang dilahirkannya dan keterjerumusan orang-orang yang mencintai mereka.

Musibah-musibah yang menimpa sebuah keluarga, semuanya terkadang dilindungi oleh keberadaan rumah, kecuali keaiban seorang perempuan. Dengan demikian, tangan orang yang cacat membalikkan kehati-hatian sebagaimana tangan membalikkan baju dan menampakkan apa yang tadinya tidak terlihat. Dan keaiban itu akan menimpa kepada masyarakat secara keseluruhan, yaitu menghilangkan kehormatan manusia.

Waspadalah wahai para remaja wanita timur, waspadalah!

Kalau seandainya keaiban itu berada di dasar sumur yang sangat dalam, pastilah syaithan itu akan merobohkan menara dan berdiri mengumandangkan adzan atasnya. Maka bergembiralah orang-orang yang terlaknat dengan kejahatan seorang perempuan sebagaimana gembiranya seorang bapak yang kaya atas kelahiran seorang anak yang baru di rumahnya. Pencuri, pembunuh, pemabuk, fasik, semuanya itu menampakkan diri bagaikan musim panas dan dingin.

"Adapun perempuan yang pada saat itu terjerumus, maka akan terjadi kegoncangan sifat kemanusiaan. Gempa yang menggoncangkan bumi tidaklah lebih dahsyat dibandingkan dengan gempa yang diakibatkan oleh keaiban seorang perempuan yang membelah keluarga. Wahai para para remaja wanita pemudi timur, waspadalah.
loading...