Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Saturday, December 29, 2012

Bahaya Zina dalam Qur'an dan Hadits

| Saturday, December 29, 2012
Di sisi lain, hadits di atas menerangkan mulai dari dampak kerusakan yang lebih besar kepada dampak kerusakan yang jauh lebih besar lagi. Bahaya zina membawa dampak kerusakan bagi kemaslahatan alam. Ketika wanita berzina, ia membuat seluruh keluarganya, baik suami maupun kerabatnya menanggung aib. la juga membuat mereka malu, jika ia sampai hamil akibat zina. Apabila ia membunuh anaknya, berarti ia telah melakukan zina sekaligus pembunuhan. Jika ia menanggungkan bayinya ke suami, berarti telah ia memasukkan orang asing dalam keluarganya hingga ia pun menjadi ahli waris, padahal bukan keluarganya. N asahnya dinisbatkan kepada mereka padahal bukan termasuk keturunan mereka, dan lain sebagainya yang termasuk kerusakan akibat zina. 

Adapun zina orang laki-laki juga berarti mencampuradukkan nasal) dan merusak serta menghancurkan kehormatan perempuan suci. Di samping menghancurkan kehidupan alam barzakh dan akhirat, dosa besar ini juga mendatangkan kehancuran dunia dan agama. Berapa banyak keharaman yang diterjang, hak-hak yang liabaikan, dan kezhaliman yang dilakukan akibat zina?! 

Di antara dampak khusus zina adalah membuat miskin, nenjadikan wajah muram, dan mendapatkan laknat dari manusia 3agi pelakunya. Di samping itu, zina juga dapat membuat hati menjadi resah dan sakit, meski tidak sampai mati. Zina juga .membuat hati menderita, susah, sedih, khawatir, menjauhkan Delakunya dari Tuhan dan mendekatkannya kepada setan. 

Tidak ada bahaya yang lebih besar daripada zina setelah bahaya akibat pembunuhan. Oleh karena itu, Allah mensyariatkan hukuman mati atasnya dengan bentuk yang paling keji, paling buruk, dan paling menyakitkan. Seorang hamba yang mendengar bahwa istrinya mati terbunuh masih jauh lebih ringan daripada ketika mendengar istrinya telah melakukan zina. 

Sa'id bin Ubadah Ra. berkata, "Seandainya aku melihat seorang lelaki bersama istriku, pasti aku akan menebasnya dengan pedang tanpa ampun." Ketika ucapannya itu terdengar oleh Rasulullah, beliau Saw. bersabda, "Adakah kalian heran dengan kecemburuan Sa'id? Demi Allah, aku lebih pencemburu daripada dia, dan Allah lebih pencemburu daripada aku. Karena itu, Dia mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.( HR. Al-Bukhari dan Muslim )" 

 Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukbaridan Muslim bahwa Nabi Saw bersabda, "Sesungguhnya, Allah memiliki rasa cemburu dan orang beriman juga memiliki rasa cemburu. Kecemburuan Allah itu muncul ketika manusia melakukan perkara yang diharamkan baginya." 

Dalam Shabib al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan juga bah¬wa Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah. Oleh karena itu, Dia mengharam¬kan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Tidak ada yang lebih menyukai alasan daripada Allah. Maka dari itu, Dia mengutus para utusan-Nya sebagai pemberi kabar gem¬bira dan peringatan. Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah. Karena itu, Dia memuji diri-Nya sendiri." 

Dalam kitab yang sama, diriwayatkan bahwa dalam khutbah shalat gerhana, Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai umat Muhammad, demi Allah, (idak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah di kala hamba-Nya berzina atau kala umat-Nya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah, andaikan kalian tahu apa yang aku ketahui, pasti kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Kemudian, beliau Saw. mengangkat tangannya sembari mengatakan, "Ya Allah, sudah aku sampaikan." 

Secara khusus, dosa besar ini dijelaskan seusai shalat gerhana memberikan rahasia tersendiri bagi mereka yang mau merenungkannya. Merajalelanya perzinaan merupakan salah satu tanda kehancuran dunia dan termasuk di antara tanda-tanda hari kiamat. 

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim,, diriwayatkan dari A nas bin Malik Ra. berkata, "Saya akan menuturkan kepada kalian sebuah hadits yang tidak akan disampaikan seorang pun setelahku. Aku mendengar Nabi Saw. bersabda, 'Termasuk di antara tanda-tanda hari kiamat adalah ilmu dicabut, kebodohan merebak, diminumnya khamar, zina merajalela, laki-laki menjadi sedikit, perempuan menjadi banyak hingga jumlahnya mencapai lima puluh perempuan dibanding satu laki-laki." 

Ketentuan Allah Swt. berlaku terhadap semua makhluk-Nya bahwasanya Dia sungguh amat murka kala zina telah merajalela. Ketika kemurkaan-Nya menjadi semakin dahsyat, pastilah hu¬kuman ditimpakan ke bumi sebagai akibatnya. 

Abdullah bin Mas'ud berkata, "Ketika riba dan zina merebak di suatu daerah, niscaya Allah menghendaki kehancuran bumi itu." 

Ada di antara rahib kaum Bani Israil yang melihat anaknya sedang bercumbu dengan perempuan. Ia lalu berkata, "Tahanlah dulu!" Kemudian, ia pun tersungkur dari tempat tidurnya dan jaringan saraf tulangnya putus. Si perempuan mengalami keguguran. Dikatakan kepadanya, "Cuma seperti itukah kemarah- anmu demi Aku (Allah)? Sungguh, sama sekali tidak ada kebaikan pada golonganmu selamanya." 

Allah Swt. menetapkan hukuman zina dalam tiga ketentuan: 
  • Hukuman mati yang paling hina. Sekiranya ia di ringankan maka digabungkan di dalamnya hukuman badan berupa cambukan dan hukuman hari dengan diasingkan selama setahun. 
  • Dia melarang para hamba-Nya berbelas kasih kepada para pelaku zina sehingga menjadi tidak tega menegakkan hukuman atas mereka. Sebab belas kasih dan rahmat-Nya, Dia mensyariatkan hukuman ini atas mereka. Dia lebih penyayang terhadap mereka daripada kalian, namun kasih sayang-Nya tidak menghalangi-Nya untuk menetapkan hukuman atas mereka. Oleh sebab itu, janganlah kasih sayang kalian menghalangi kalian untuk menegakkan hukuman yang telah ditetapkan-Nya! Meskipun berlaku secara umum, hukuman ini diterangkan dalam bab zina karena sedemikian pentingnya. Biasanya, hati manusia tidak tega bersikap kasar terhadap pelaku zina, tidak seperti pada pencuri, pencemar nama baik, serta peminum khamar. Hati manusia sering kali lebih mengasihani pelaku zina daripada pelaku kejahatan lainnya. Demikianlah kenyataannya. Maka dari itu, manusia dilarang mengabaikan hukuman yang ditetapkan Allah Swt. karena iba dan kasihan. Faktor penyebab timbulnya rasa kasihan adalah karena dosa ini dilakukan dari semua kalangan, baik kalangan atas, menengah, dan juga bawah, serta karena adanya dorongan yang sangat kuat dalam jiwa untuk melakukannya. Hampir semua orang merasakannya. Rasa cintalah yang menjadi faktor penyebab dominan terjadinya zina. Hati manusia senantiasa mengasihi orang yang sedang jatuh cinta. Banyak orang yang mengira bahwa membantunya merupakan sebuah bentuk ketaatan dan ibadah, meski wanita yang dicintai masih haram bagi si pria. Dan, hal semacam ini sama sekali tidak dianggap buruk baginya. Anggapan seperti inilah yang tertanam pada orang-orang yang Allah kehendaki serupa dengan binatang. Hal ini diungkapkan oleh banyak laki-laki dan-perempuan yang lemah akal dan agama. Dosa ini juga dilakukan oleh kedua belah pihak atas dasar suka sama suka tanpa pertentangan, kezhaliman, dan paksaan karena mengalir seiring dengan nafsu. Jiwa manusia diliputi syahwat yang tak terkendali sehingga muncul rasa kasihan dan enggan menjatuhkan hukuman. Ini semua disebabkan karena lemahnya iman. Kesempurnaan iman adalah teguh dalam menjalankan perintah Allah dan kasih sayang yang terwujud dengan menegakkan hukuman yang ditetapkan- Nya. Jika demikian, seorang hamba sejalan dengan perintah dan kasih sayang-Nya. 
  • Allah Swt memerintahkan agar hukuman had atas kedua pezina dilaksanakan dengan disaksikan orang-orang mukmin. Tidak dilakukan di tempat sepi yang tidak dilihat orang. Ini diberlakukan agar hukuman had dapat membawa manfaat dan hikmah yang dapat membuat jera. Adapun hukuman had atas pelaku zina yang sudah menikah diambil dari hukuman yang ditetapkan Allah kepada kaum Nabi Luth As. dengan melempari batu hingga mati. Itu karena zina dan homoseksual sama kejinya. Masing-masing mendatangkan kerusakan yang bertentangan dengan hikmah Allah dalam penciptaan dan pengaturan. Dalam perilaku homoseksual terdapat begitu banyak bahaya kerusakan yang tak terhitung jumlahnya sehingga korbannya merasa lebih baik dibunuh daripada dijadikan sasaran homoseksual. Ini karena perilaku homoseksual mendatangkan bahaya kerusakan yang sulit diharapkan bisa pulih kembali. Perilaku ini menghapus semua kebaikan si pelaku dan bumi pun menyedot rasa malu dari wajahnya. Ia menjadi tidak mempunyai rasa malu lagi, baik kepada Allah maupun kepada makhluk-Nya. Air mani si pelaku pun masuk dan menyerang ke dalam hati dan jiwa korban ibarat racun yang menjalar ke sekujur tubuh. Para ulama berbeda pendapat tentang apakah si korban perilaku homoseksual bisa masuk surga atau tidak? 

Syekh al-Islam, Ibnu Taimiyah mengutarakan dua pendapat nas hal ini. Golongan yang berpendapat bahwa si korban tidak akan masuk surga memberikan beberapa alasan, di antaranya: 

Nabi Saw. Bersabda: "Anak hasil perzinaan tidak akan masuk surga.” Demikianlah status anak hasil perbuatan zina, padahal ia juga tidak akan mendapatkan kebaikan karena terlahir dari mani yang hina. Apabila tubuh yang tumbuh dari makanan yang haram saja pantas masuk neraka, apalagi tubuh yang terlahir dari mani yang haram. 

Mereka juga berpendapat bahwa korban perilaku homoseksual lebih buruk dan lebih hina daripada anak hasil zina sehingga ia juga tidak pantas mendapat kebaikan. Kebaikan senantiasa terhalang baginya. Setiap ia melakukan kebaikan, Allah mengiringinya dengan sesuatu yang merusak kebaikannya sebagai hukuman atas dirinya. Orang yang di waktu kecilnya sudah demikian, ia tentu m lebih buruk saat besarnya. Ia tidak pantas mendapatkan taufiq untuk beramal shalih, mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan melakukan taubat dengan tulus. 

Pendapat yang tepat dalam masalah ini adalah jika orang yang ndapatkan ujian itu mau bertaubat, kembali kepada Allah, lalu diterima taubatnya, kemudian ia beramal shalih, waktu tuanya njadi lebih baik daripada waktu mudanya. Apabila ia mau ngganti keburukan dengan kebaikan, membersihkan segala nya dengan berbagai ketaatan dan ibadah, menjaga pandangan dan kemaluannya dari segala yang diharamkan, sungguh-sungguh am bermuamalah (berinteraksi) dengan Allah, niscaya ia diampuni dan layak menjadi ahli surga. 

Sesungguhnya, Allah mengampuni segala dosa. Jika taubat dapat menghapus setiap dosa hingga dosa syirik, pembunuhan atas para nabi dan para wali, dosa kekafiran, dan lain-lainnya, bagaimana mungkin ia tidak dapat menghapus dosa ini?! Padahal, . Swt. telah menetapkan hukum dengan adil bahwa orang g bertaubat dari dosa laksana orang yang tidak punya dosa ia sekali. Dia juga telah menjamin orang yang bertaubat dari syirik, pembunuhan, dan zina dengan mengganti keburukan mereka menjadi kebaikan. Ini adalah hukum yang berlaku secara lyeluruh atas orang yang bertaubat dari dosa. Allah Swt. berfirman: 

"Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa- dosa semuanya. Sesungguhnya, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar [39] : 53)", 

Tidak satu pun dosa yang dikecualikan, namun ini khusus bagi orang-orang yang bertaubat. 

Adapun korban perilaku homoseksual yang masa tuanya lebih buruk daripada masa mudanya, tidak melakukan taubat nasuha, tidak beramal shalih, tidak melunasi tanggungannya, dan tidak mengganti keburukannya dengan kebaikan, niscaya sulit baginya mendapatkan akhir hidup yang baik yang dapat memasukkannya ke surga. Demikianlah hukuman atas perbuatannya. Allah Swt. membalas keburukan dengan keburukan. Dia melipatgandakan hukuman atas keburukan sebagaimana Dia membalas kebaikan dengan kebaikan hingga berlipat ganda. 

Apabila Anda memperhatikan orang-orang yang sedang sekarat, banyak di antara mereka yang terhalang dari akhir hidup v.mg baik (husn al-khaatimah) sebagai hukuman atas keburukan- keburukan amal mereka. 

Al Hafizh Abu Muhammad Abd al-Haq bin Abd ar-Rahman asy-Syibly bertutur: "Ketahuilah bahwa akhir hidup yang buruk (su’ al-khaatimah) semoga Allah melindungi kita darinya disebabkan oleh beberapa hal. Penyebab-penyebab itu memiliki beberapa jalan dan pintu. Penyebab yang paling utama adalah cinta dunia, berpaling dari akhirat, dan berani berbuat maksiat kepada Allah. Bisa saja manusia melakukan kesalahan, maksiat, menentang, berani, dan lancang kepada-Nya sehingga hati dan akalnya terjerat serta cahaya hatinya padam dan tertutup hijab. Akibatnya, peringatan dan nasihat sudah tidak lagi bermanfaat baginya. Bisa jadi, ketika kematian datang dan seruan telah ia dengar dari kejauhan, ia teiap tidak mengerti meski penyeru telah berulang-ulang mengingatkannya." 

Diceritakan bahwa ada seorang tokoh (an-naashir) yang hendak dijemput kematian, lalu anaknya berkata kepadanya, "Ucapkanlah, laa ilaaha illallaah!" Ia lalu berucap, "An-naashir itulah majikanku." Si anak mengulangi ucapannya, namun ia masih mengucapkan perkataan yang sama. Kemudian, ia pingsan. Setelah siuman, ia kembali berucap, "An-naashir itulah majikanku." Setiap kali dituntun untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah, ia selalu mengucapkan, "An-naashir itulah majikanku Tak lama kemudian, ia berkata kepada anaknya, "Wahai anal seorang tokoh, sang tokoh mengenalmu lewat pedangmu, bunuh dan bunuh!" lalu ia pun meninggal dalam kondisi seperti itu. 

Ada juga kenalanku yang ketika dituntun untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah, ia malah berucap, "Benahilah rumah itu! Lakukanlah pekerjaan itu di kebun sana!" 

Abu Thahir as-Salafi menceritakan bahwa ada seseorang yang saat menjelang kematiannya, dikatakan kepadanya, "Ucapkanlah, laa ilaaha illallaah!" Ia malah mengatakan, "Sepuluh diganti dc ngan sebelas." 

Ada juga orang yang ketika menjelang kematiannya, dikatakan kepadanya, "Ucapkanlah laa ilaaha illallaah!" ia malah mengatakan, "Manakah jalan menuju kamar mandi Munjab?" 

Ada kisah yang melatarbelakangi ucapan tersebut. Ada seorang lelaki sedang berdiri di depan rumahnya. Pintu rumahnya mirip dengan pintu kamar mandi. Lalu, seorang wanita cantik lewat di depannya dan bertanya, "Manakah jalan menuju kanun mandi Munjab ?" "Inilah kamar mandi Munjab", jawabnya. Wanita itu kemudian masuk ke dalamnya, dan ia membuntutinya dan belakang. Ketika wanita itu sadar bahwa ia sedang berada di rumah lelaki itu, ia merasa telah tertipu. Kemudian, ia berpura pura menampakkan rasa senang dan gembira bersama si lelaki karena takut akan perlakuan keji si lelaki. Ia mengatakan, "Alangkah indahnya jika kita dapat hidup senang dan tenteram bersama-sama." Si lelaki itu menyahut, "Tunggulah sebentar, saya akan membawakanmu apa saja yang kamu inginkan dan kamu senangi.” Setelah itu, ia keluar dan meninggalkan wanita itu sendirian di rumahnya tanpa dikunci, ia segera mengambil segala keperluan dan kembali. Ternyata, si wanita tadi telah pergi tanpa mengkhianatinya sama sekali. Demikian ia jatuh cinta kepada wanita itu hingga ia terus menerus memikirkannya. Ia menyusuri jalan-jalan dan gang-gang sembari bersenandung: 

Duhai yang suatu hari berkata,” 
Aku telah penat, manakah jalan menuju kamar mandi Munjab?" 

Suatu saat, ketika ia mendendangkan kata-kata itu, tiba-tiba seorang perempuan menjawabnya dari atas jembatan: 

Kenapa kala telah kau dapatkan dia, 
Tak kau jaga dan pintu tak kau kunci? 

Setelah mendengar suara itu, cintanya bertambah semakin parah hingga ia semakin linglung sampai-sampai bait itu menjadi ucapan terakhirnya di dunia. 

Di ceritakan bahwa ada orang sedang dilanda cinta yang semakin parah hingga mengakar dalam hatinya, bahkan sampai menjadi penyakit baginya. Ia tergeletak tak berdaya di atas kasurnya sebab cintanya ditolak, dan yang dicintainya pun pergi. Meski demikian, keduanya masih saja berhubungan hingga akhirnya, ada kabar yang sampai kepada si sakit bahwa yang dicintainya berjanji akan kembali kepadanya. Ia menjadi sangat gembira. Wajahnya pun kian berseri. Ia menunggu sampai waktu perjanjian itu. Tiba-tiba, ada yang datang kepadanya seraya berkata: "Aku melihatnya (yang dicintainya) di suatu jalan lalu pulang. Aku senang kepadanya dan kata-katanya. Apalagi saat , ia menyebut namaku dan kagum padaku. Aku tak mau ragu dan tak mau menjerumuskan diriku ke dalam kesusahan hingga aku menanyainya berkali-kali, namun ia diam lalu pergi." Ketika si sakit tadi mendengar hal itu, ia langsung lemas dan keadaannya kembali memburuk, bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Saat tanda- tanda kematian telah begitu nyata di hadapannya, ia berkata: 

Kupasrah padamu wahai penghibur orang yang sakit 
Duhai penyembuh orang yang sedang sakit parah 
Cintamu lebih menyenangkan di hatiku 
Daripada rahmat Tuhan Pencipta nan Mulia. 

Pernah dikatakan kepadanya: "Wahai fulan, bertakwalah kepada Allah!" Ia malah menjawab, "Sudah." Demikianlah hingga ia dijemput kematian. Semoga Allah melindungi kita dari akliii hidup yang buruk dan hina. 

Pada suatu malam, Sufyan ats-Tsauri menangis sampai pagi. Kala pagi tiba, dikatakan kepadanya, "Apakah kau lakukan itu karena takut akan dosa-dosa?" Ia lalu mengambil segenggam tanah dan mengatakan, "Dosa-dosa lebih remeh daripada ini. Aku menangis karena takut kesudahan hidup yang buruk." 

Itulah pemahaman paling dalam, yakni takut terlena dengan dosa hingga meninggal dunia. Jika itu terjadi, tentu dosa itu akan menghalangi untuk mendapatkan kesudahan yang baik. 

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ketika Abu Darda' Ra. tengah sekarat, ia pingsan lalu sadar lagi dan membaca: 

"Dan, (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al- Qur'an) pada permulaannya. Dan, Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan mereka.( Al-An’am [6] :110)” 

Hal itulah yang menyebabkan ulama salaf takut dengan dosa-dosa karena khawatir akan menjadi hijab yang menghalangi mereka mendapatkan kesudahan yang baik (husn al-khaatimah). 


Ketahuilah bahwa kesudahan yang buruk tidak akan menimpa orang yang perbuatannya lurus dan baik batinnya. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah dan segala puji hanya milik-Nya. Kesudahan yang buruk hanya menimpa orang yang akidahnya rusak, tetap berbuat dosa besar, dan berani melakukan kejahatan besar. Sering kali lial itu menguasainya sampai kematian men¬jemput, padahal ia belum bertaubat. Nyawanya telah diambil sebelum sempat memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar. Jika demikian, setan dengan leluasa menguasai dan mengendalikannya. 

Diceritakan bahwa di Mesir, ada seorang lelaki yang senantiasa ke masjid untuk mengumandangkan adzan dan mendirikan shalat. Wajahnya menyinarkan cahaya ketaatan dan ibadah. Pada suatu hari, seperti biasanya ia memanjat menara untuk adzan, sementara di bawah menara ada rumah milik orang Nasrani. Ketika ia arahkan pandangannya ke rumah itu, ia melihat seorang perempuan anak pemilik rumah. Ia pun terpanah oleh gadis itu hingga tidak jadi mengumandangkan adzan. Kemudian, ia turun menuju rumahnya. Setelah ia masuk ke dalam rumah itu, si perempuan tadi berkata, "Ada apa, dan apa yang kamu inginkan?" Ia menjawab, "Aku menginginkanmu." "Mengapa?", tanya si perempuan. "Engkau telah menawanku dan mengambil sepenuh hatiku," jawabnya. "Aku tak bisa memenuhi permintaanmu itu selamanya", timpal si perempuan. Lelaki itu berkata, "Aku akan menikahimu." "Kamu orang Islam dan aku Nasrani. Sementara ayahku tidak akan menikahkan aku denganmu," sahut si perempuan. Lelaki itu berujar, "Aku akan masuk Nasrani." "Jika begitu, aku mau" jawab si perempuan. Akhirnya, lelaki itu masuk Nasrani agar dapat menikahinya. Ia tinggal serumah. Pada siang harinya, ia memanjat ke atas atap rumah, lalu ia jatuh dan meninggal. Dengan begitu, ia belum sempat berbahagia dengan perempuannya dan ia juga telah kehilangan agamanya.

Related Posts

loading...