Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Friday, August 2, 2013

Apa Bekal Terbaik dan Paling Utama?

| Friday, August 2, 2013
Bekal Terbaik adalah Ketakwaan dan Bekal Paling Utama adalah al-'Azm atau ketguhan hati. Setelah kendaraan dan kapal tersedia bagi musafir atau orang yang hendak bepergian, ia harus memiliki bekal dalam perjalanannya ini. Lalu, apa bekal dalam perjalanannya kepada Allah SWT? Alquran telah menjelaskan bekal ini dengan firman Allah SWT: Maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.[ QS al-Baqarah [2]: 197 ] . 

Dengan ini, per­siapan perjalanan telah dilakukan. Setelah itu, tidak ada yang dibutuh­kan selain tekad (tashmim) dan keteguhan hati ('azm) untuk melakukan perjalanan. 

Penjelasan hakikat tashmim dan'azm untuk melakukan perjalanan menuju Allah dikemukakan dalam ujaran-ujaran Ahlul Bait a.s. Diriwa­yatkan dari mereka, "Bekal pejalan kepada-Mu yang paling utama ada­lah keteguhan hati dan keinginan yang dengannya dia memilih-Mu.[Mafatih al-jinan al-Mu’arrab: A’mal Yawm 27 Rajab, hal. 153]" Jadi, al- 'azm (keteguhan hati) adalah substansi kemanusiaan. Perbuatan­mu itu adalah menurut kadar keteguhan hatimu. Keteguhan hati itu hanyalah pendahuluan bagi perbuatan-perbuatanmu dan dengannya kamu mewujudkan kemanusiaanmu. 

"Keteguhan hati yang sesuai dengan hal ini adalah seseorang me­nempati dirinya dan mengambil keputusan untuk meninggalkan ke­maksiatan dan menunaikan kewajiban-kewajiban, dan mengganti apa yang telah dilewatkannya pada hari-hari kehidupannya. Selanjutnya, pada lahiriahnya ia menjadi manusia berakal dan mengikuti syariat, dimana syariat dan akal berdasarkan aspek lahiriah memutuskan bahwa makhluk ini adalah manusia." Kelepuhan hal inilah yang dikatakan Imam a. s. —wallahu a 'lam, "Bekal pejalan kepada-Mu yang paling ulama adalah keteguhan keinginan yang dengannya dia memilih-Mu. Selain itu, seseorang yang menjadikan lahiriahnya sebagai manusia berakal dan mengikuti syariat adalah dengan menjadikan perilaku lahiriahnya dan tujuh kekuatan lahiriahnya—yaitu kaki, tangan, ... (dan seterusnya) yang membentuk kerajaan lahiriah—tunduk pada perintah syariat dan menjauhi larangan-larangannya. Dengan demikian, tujuh kekuatan itu menjadi pintu-pintu surga. Jika terjadi sebaliknya, maka tujuh kekuatan itu menjadi pintu-pintu neraka

Imam Khomeini r.a. menekankan pembicaraannya pada aspek lahiriah, karena seseorang tidak mampu sampai pada perbaikan batinnya kecuali dengan memperbaiki lahirnya, dan bahwa perbuatan-perbuat­an lahiriahlah yang berpengaruh terhadap batinnya. Setiap kali perbuatan-perbuatan lahiriahnya bertambah maka ia mendapatkan pembawaan batiniah yang lebih banyak. Demikianlah, ia meniti tingkatan-tingkatan dalam perjalanannya. 

Barangkali, didahulukannya akal atas syariat dalam beberapa kesempatan, seperti ucapannya: "Hendaklah ia menjadikan lahiriahnya se­bagai manusia berakal dan mengikuti syariat," dan didahulukannya syariat atas akal dalam kesempatan yang lain, seperti ucapannya: "di mana syariat dan akal menetapkan ...," menunjukkan bahwa syariat yang benar tidak bertentangan dengan akal yang sehat, dan bahwa akal yang sehat tidak dapat dipertentangkan dengan syariat yang benar. Da­lam pembahasan-pembahasan setelah ini, kami akan menunjukkan ha­kikat ini, dan bahwa syariat dan akal saling bersesuaian dan tidak mungkin salah satunya dipisahkan dari yang lain. Jika keduanya terpisah maka sudah pasti salah satunya berada di luar hakikatnya. 

Bagaimanapun, "manusia yang mengikuti syariat adalah yang me­ngatur perilakunya sesuai dengan tuntunan syariat." Syariat di sini me­miliki berbagai tingkatan. 

Pertama, seseorang tidak melaksanakan kewajiban dan tidak menghindari keharaman. Orang ini tidak mengikuti syariat (ghayrsyar'i). 

Kedua, seseorang melaksanakan kewajiban, tetapi tidak menghindari keharaman, di mana sebagian perilakunya sesuai-syariat dan sebagian lain tidak sesuai syariat. 

Ketiga, seseorang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan seba­gian keharaman, tetapi melakukan keharaman yang lain. 

Keempat, seseorang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman, tetapi ia meninggalkan mustahabb [sunnah] dan melakukan kemakruhan. Orang seperti ini lahiriahnya sesuai dengan syariat. Kebanyakan kita dalam posisi ini. 

Kelima, seseorang kadang-kadang melaksanakan kewajiban, meninggalkan keharaman, dan melakukan yang penting dari perbuatan-perbuatan mustahabb. Ketika itu, perilakunya lebih sesuai dengan syariat daripada tingkatan sebelumnya. 

Keenam, tingkatan yang lebih tinggi daripada tingkatan-tingkatan sebelumnya, yaitu seseorang melaksanakan kewajiban, meninggalkan keharaman, tidak meninggalkan perbuatan mustahabb, dan tidak melaku­kan kemakruhan, bahkan juga tidak melakukan hal-hal yang mubah, yaitu dengan menjadikan setiap perbuatan mubah sebagai perbuatan mustahabb dengan melakukannya dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Klasifikasi ini ditinjau dari satu sisi. Adapun, dari sisi lain, syariat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. 

Pertama, syariat yang diam, yaitu Alquran dan riwayat-riwayat Ahlul Bait a.s., yang periwayatannya dari mereka adalah sahih. 

Kedua, syariat yang berbicara, yaitu Rasulullah saw. dan Ahlul Bait­nya a.s. Oleh karena itu, perbuatan dan persetujuan mereka dijadikan hujjah. Dalam hal ini, kita membaca dalam doa ziyaiat al-Hujjah a.s.: "Salam sejahtera atas Yasin. Salam sejahtera atasmu ketika engkau ber­diri. Salam sejahtera atasmu ketika engkau duduk. Salam sejahtera atas­mu ketika engkau rukuk. Salam sejahtera atasmu ketika engkau bersu­jud. Salam sejahtera atasmu ketika engkau tidur ... (dan seterusnya)." Salam sejahtera atasnya dalam setiap perbuatan yang dilakukannya ka­rena seluruhnya adalah karena Allah. Tidak sedikit pun untuk dirinya untuk selama-lamanya. Beliau adalah insan Ilahi, insan yang mencapai tingkatan ini. Dengan demikian, beliau adalah risalah itu sendiri, bukan orang yang mengamalkan risalah. 

Orang yang ingin mengikuti syariat harus berhubungan dengan kedua bentuk syariat itu. "Hendaklah lahiriahnya seperti lahiriah Ra­sulullah saw., meneladani Nabi saw., meneladaninya dalam semua gerak dan diamnya, serta semua yang dikerjakan dan ditinggalkannya. Ini merupakan perkara yang mungkin dilakukan. Untuk menjadikan lahi­riah seperti pemimpin ini merupakan perkara yang dapat dilakukan oleh setiap individu dari hamba-hamba-Nya." Kita mampu mencocok­kan lahiriah kita dengan lahiriah Rasulullah saw. Allah SWT berfirman: 

Sungguh pada Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.[QS al-Ahzab [33]: 21] Akan tetapi kita tidak mampu mencocokkan batiniah kita dengan batiniah beliau sehingga kita menjadi seperti beliau, karena tidak ada orang yang mampu sampai ke maqam khatamiyyah dan maqam qaba qawsayn aw adna, (panjang dua busur atau lebih dekat).[QS an-Najm [53]: 9] Inilah yang dikemukakan dalam riwayat ats-tsaqalayn.

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya aku ting­galkan bagi kalian sesuatu yang jika kalian berpegang padanya maka kalian tidak akan tersesat sepeninggalku. Salah satunya lebih agung daripada yang lain, yaitu Kitab Allah: tali yang terbentang dari langit ke bumi, dan 'itrah-ku: Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan terpisah hingga datang kepadaku di al-Hawdh. Perhatikanlah, bagaimana kalian membelakangiku tentang keduanya.[ Sunan at-Tirmidzi, 13, 201: Usud al-Ghabah, 2, 12 dalam biografi Imam al-Hasan a.s.: dan ad-Durr al-Mantsur dalam tafsir ayat mawaddah]"

Sebab, salah satu ujung tali itu ada di tangan hamba sehingga ia selalu dalam proses naik. Setiap kali naik, ia menuntut tambahan. Pada ujung yang lain terdapat [Tuhan] yang paling mulia dari segala yang mulia (akrain al-kurama), yang ba­nyaknya memberi dan tidak menambah kecuali kemurahan. Demikian­lah, perjalanan itu berlangsung menuju Kesempurnaan Mutlak yang tidak berbatas. 

Tidak ada perhentian pada perjalanan ini dan tidak berbatas. Dari sini, orang yang tidak memiliki pemahaman dalam pengetahuan-pengetahuan ini keliru dalam menafsirkan firman Allah SWT: Dan sembahlah Tuhanmu hingga keyakinan datang kepadamu.[ QS al-Hijr [15]: 9] Ia mengatakan bahwa jika seseorang diberi keyakinan dan sampai pada tingkatan pengetahuan ini dalam realitas dan batiniahnya, maka ia tidak memerlukan peribadahan, seperti zikir, shalat, puasa, dan sebagainya, dan setelah itu ia tidak membutuhkan hal tersebut. Dari sini, Imam Khomeini mengingatkan masalah penting dan asasi ini, yaitu bahwa manusia di alam ini, baik di permulaan, di pertengahan, maupun di akhir perjalanan, bahkan ka­laupun ia sampai ke tingkatan qaba qawsayn aw adna, membutuhkan lahiriah syariat dan berpegang pada perintah-perintah dan larangan-larangannya. Oleh karena itu, Imam Khomeini r.a. berkata, "Ketahui­lah, menempuh jalan apapun dalam makrifat Ilahi tidak mungkin di­lakukan kecuali dengan memulai dari lahiriah syariat dan selama manusia tidak beradab dengan adab adab syariat yang benar. Dan hendaklah ia mengamalkannya, tidak hanya mempelajari istilahnya jika tidak, "ia tidak akan memperoleh sesuatupun dari hakikat akhlak yang baik itu" yang merupakan pembawaan-pembawaan yang tidak diperoleh kecuali dengan mengamalkan lahiriah tersebut. Kalau ada jalan lain untuk memperoleh pembawaan-pembawaan ini, maka membatasi perkara tersebut dengannya menjadi sia-sia. "Sebagaimana tidak mungkin" tanpa beradab dengan lahiriah-lahiriah ini "agar di dalam hatinya cahaya makrifat menampak dan pengetahuan batin dan rahasia-rahasia syariat tersingkap," karena ilmu adalah cahaya yang diberikan Allah pada hati orang yang dikehendaki-Nya. Namun, Allah SWT tidak memberikannya secara serampangan, melainkan sesuai dengan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang Dia tetapkan bagi perkara semacam ini. 

Kemudian, "setelah hakikat tersingkap, kemunculan cahaya-caha­ya makrifat di dalam hatinya akan terus berlangsung dalam proses ber­adab dengan adab-adab syariat lahiriah." Karena dengan demikian, hal itu akan menjadi pembawaan baginya. Kalau ia meninggalkannya maka hal itu tidak akan menjadi pembawaan dan ia kembali ke permulaan. Dalam hal ini, seorang guru Jawadi Amulira. berkata, "Selama manusia berada di alam dunia, maka ia berada dalam proses peningkatan. Ketika ia berpindah ke alam akhirat, maka ia menjadi berada di tingkatan ter­tinggi. Kita hidup di dalam sumur alam dunia dan sedang dalam proses naik, setingkat demi setingkat. Tangga kita adalah ibadah-ibadah kita dan adab-adab syariat lahiriah. Apabila kita meninggalkannya, maka kita meninggalkan proses naik tersebut sehingga kita jatuh lagi ke dasar sumur. 

"Dari sini, kita tahu bahwa keliru anggapan orang yang mengatakan bahwa ilmu batin dapat diperoleh dengan meninggalkan ilmu lahir, atau setelah ilmu batin diperoleh, maka hilanglah keperluan terhadap adab-adab lahiriah. Anggapan ini berpangkal dari kebodohan orang yang mengatakannya dan ketidaktahuannya terhadap maqam-maqam ibadah dan tingkatan-tingkatan kemanusiaan," karena hakikat ibadah adalah penyembahan kepada Allah SWT. Tidak ada sesuatu pun di alam ini yang bukan hamba-Nya. Selama maujud ini merupakan hamba, maka ia harus menghamba atau beribadah. Apabila ia menafikan keperluan terhadap ibadah pada dirinya, maka ia telah menafikan kefakiran dan peribadahannya, dan mengaku kekayaan dan ketuhanannya. Bagaimana hal ini dapat bertemu dengan pengakuan akan kebutuhan dan peribadahan kepada Allah SWT. 

Kemudian, Imam Khomeini r. a. Berkata: "Mudah-mudahan aku diberi taufik insya Allah untuk menjelaskan sebagian perkara ini di dalam lembaran-lembaran ini." 

Al-Faydh al-Kasyani r.a. pernah mengatakan masalah ini, yang alang­kah baiknya kalau kita telaah sejenak, la mengatakan: Jika engkau me­ngatakan, "Apa jalan untuk mengetahui rahasia-rahasia agama dan memperoleh keyakinan?" ketahuilah, Allah SWT telah menjadikan kita berpasang-pasangan dan menjadikan bagi kita masing-masing aturan dan jalan . Kemudian, orang yang ingin mulai memperoleh ilmu yang tersembunyi pada ahlinya, sementara ia bukan termasuk ahlinya, maka hendaklah ia menyambut tugas-tugas syariat, fardu-fardunya, dan nafilah-nafilahnya setelah ia mempelajari hukum-hukumnya, mengetahui halal-haramnya, dan mengambilnya dari ahlinya dan imamnya. Imam Ash-Shadiq a.s. berkata, "Tanda pendusta adalah mengabarkan kepadamu berita langit dan bumi. Namun, apabila ditanya tentang sesuatu dari masalah-masalah halal dan haram, ia tidak dapat memberikan jawa­ban sedikit pun. [Al-Mahajjah.al-Baydha', karya al-Faydh al-Kasyani, jil. 5, hal. 139]" 

Tidak setiap orang dapat mengatakan, "Ini halal dan itu haram." Seseorang harus mengetahui bahwa orang yang menjadi rujukan pengetahuannya adalah ahli dalam bidangnya, bukan pembohong sehingga ia mengaku mengetahui batin-batin segala perkara dan telah meninggal­kan lahiriah hukum-hukum itu bagi orang-orang awam. Ini merupakan tanda pendusta yang tidak mengetahui bahwa lahiriah merupakan jalan menuju batiniah. Dengan demikian, jika ia tidak mengetahui aspek lahiriah, bagaimana ia dapat mencapai ilmu batin? 

Kini, kesulitan ini telah tersebar di khalayak umum di negeri-negeri Islam, terutama di Iran dan beberapa wilayah tetangga, terlebih lagi setelah kemenangan revolusi Islam di Iran.

Related Posts

loading...

No comments:

Post a Comment