Sabar yang Sebenarnya, Pembagian dan Tingkatan Sabar??

Menurut arti bahasa, sabar adalah menahan atau bertahan dan jika dikatakan "Qutila Fulan Shabran" artinya Fulan terbunuh karena hanya bertahan. Jadi sabar di sini adalah bertahan atau menahan diri dari rasa gelisa, cemas dan marah, menahan lidah dari keluh kesah, menahan anggota badan atau tubuh dari kekacauan. 

Sabar di sini dapat dibagi menjadi tiga bagian antara lain adalah :
  • Sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT.. 
  • Sabar dari kedurhakaan kepada Allah SWT.. 
  • Sabar dalam mendapatkan ujian dari Allah SWT.. 
Adapun yang berkaitan dengan tindakan yang telah dikehendaki oleh Allah dua macam yang pertama, sedangkan yang ketiga itu adalah tidak berkaitan dengan tindakan yang dikehendaki. Dari Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sabar yang sempurna adalah pada pukulan (saat menghadapi cobaan) yang pertama". 

Anas juga berpendapat bahwa sabar itu dibagi menjadi dua bagian yaitu : 
  • Sabar yang berkaitan dengan usaha hamba. Sabar ini pun dibagi lagi menjadi dua bagian yakni : Sabar terhadap apa yang diperintah oleh Allah. Sabar terhadap apa yang dilarang oleh Allah. 
  • Sabar yang tidak berkaitan dengan usaha. Sabar ini adalah sabar terhadap penderitaan yang terkait dengan hukum karena mendapat kesulitan 
"Perjalanan dari dunia menuju ke akhirat adalah mudah dan menyenangkan bagi orang yang beriman, putusnya hubungan makhluk di sisi Allah SWT. adalah berat, perjalanan dari diri sendiri (jiwa) menuju kepada Allah SWT. adalah sangat berat dan sabar kepada Allah tentu akan lebih berat lagi (menurut pendapat dari Junaid), sedangkan mengenai hal ini dia pernah ditanya lalu dijawabnya : "Menelan kepahitan tanpa bermasam muka". 

Sedangkan menurut Ali bin Abu Thalib, sabar itu merupakan bagian dari iman sebagaimana kepala merupakan bagian dari tubuh. 


Menurut pendapat Dzun Nun Al-Misri : "Sabar itu ialah menjauhi hal-hal yang bertentangan, bersikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan, dan menampakkan sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran di medan penghidupan". 

Sabar itu adalah tertimpa cobaan dengan tetap berprilaku yang baik (menurut pendapat Ibnu Atha'). Akan tetapi menurut satu pendapat bahwa yang dimaksud dengan sabar itu ialah orang yang mengembalikan pada diri sendiri terhadap sesuatu yang telah dibencinya ketika sedang menghadapi serangan. 

Adapun yang dimaksud dengan sabar itu menurut sebagian Ulama' adalah tertimpa cobaan dengan tetap bersikap baik dalam pergaulan sebagaimana seperti dalam keadaan sehat (selamat), dan dia menambahkan bahwa sebaik-baik balasan akan melebihinya. Sebagaimana firman Allah SWT. di dalam surat An-Nahl ayat 96 yang artinya : 

"Kami balas orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan". 

Namun lain lagi dengan pendapat Amr bin Utsman mengenai sabar, yakni tetap bersama dengan Allah dan menerima cobaan dari Allah dengan hati yang lapang dada dan senang. Adapun menurut Ibrahim Al-Khawwas, yang dimaksud dengan sabar itu ialah konsisten terhadap hukum-hukum Al- Qur'an dan juga As-Sunnah. 

Maksud dari firman Allah SWT. yang berbunyi : 

Artinya : "Sabarlah, menyabarkan dirilah, dan berjagalah kamu sekalian". (QS. Ali hnran : 200). 

Maksudnya adalah sabar tanpa menyabarkan diri dan menyabarkan diri tanpa menjaga diri. Dari sini maka telah timbul bermacam-macam pendapat mengenai ayat tersebut di atas, antara lain adalah : 

Menurut satu pendapat, bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah untuk taat kepada Allah, maka sabarlah diri kalian, untuk menerima cobaan dari-Nya juga bersabarlah diri kalian, serta dengan tabir rahasia hati kalian untuk rindu kepada Allah SWT. itu juga bersabarlah kalian. 

Akan tetapi menurut sebagian dari Ulama' yang dimaksud ""dengan ayat tersebut adalah karena Allah SWT. kita harus bersabar, dengan Allah juga kita harus bersabar, apalagi bersama dengan Allah SWT. juga kita harus bersabar. 

Telah disebutkan di dalam ungkapan yang lain. Allah SWT. akan mematikan kamu dalam keadaan mati Sahid, apabila kamu telah menelan semua akan kesabaran dengan hati senang dan juga lapang dada, dan jika Allah SWT. menghidupkanm'u maka kamu akan dihidupkan dalam keadaan yang sangat mulia. 

Sebagian dari Ulama' mengungkapkan pendapatnya mengenai sabar ini, yaitu sabar karena Allah itu adalah kelelahan, sabar dengan Allah itu adalah ketetapan, sabar di hadapan Allah itu adalah cobaan, sabar bersama Allah itu adalah pemenuhan, sedangkan sabar menghindar dari Allah itu adalah suatu kehanyutan. 

Dalam hal ini digambarkan oleh Ulama' di dalam bentuk syair yang berbunyi : 

Sabar menghindarkan diri dari-Mu akibatnya tercela sedang di dalam segala hal akibatnya terpuji bagaimana sabar dari orang yang tinggal di sampingku dengan menempati kanan dari yang kiri. Apabila opang yang bersenda gurau dengan segala sesuatu maka saya telah melihat kecintaan yang bersenda gurau dengan orang lain. 

Tanda dari suatu keberhasilan adalah sabar mencari, se- (Iringkan tanda dari kebahagiaan adalah sabar di dalam menerima ujian, menurut dari sebagian yang lain. 

Di sini perlu sekali untuk diketahui bahwa sabar itu terbagi menjadi dua bagian yakni kesabaran orang yang beribadah dan kesabaran orang yang cinta, akan tetapi sebaik-baik sabar orang yang beribadah itu adalah terjaga dan sebaik-baik orang yang cinta itu adalah tertinggal. 

Ibnu Taimiyah pernah berkata di dalam hal sabar: "Sabar di dalam melaksanakan ketaatan itu lebih baik daripada sabar menjauhi hal-hal yang haram". Sebab kemaslahatan di dalam melakukan suatu ketaatan itu adalah lebih disukai oleh Allah SWT. daripada kemaslahatan meninggalkan kedurhakaan., dan keburukan tidak taat itu lebih dibenci oleh Allah SWT. daripada keburukan adanya kedurhakaan". 

Sabar itu jenisnya ada tiga macam : 

Sabar karena pertolongan Allah. 

Artinya adalah mengetahui bahwa yang memberikan kesabaran itu adalah berkat pertolongan dari Allah SWT., karena hanya Allah jualah yang memberikan kesabaran tersebut, sesuai dengan firman-Nya yang artinya : 

"Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah". (QS. An-Nahl : 127). 

Sabar karena Allah. 

Artinya adalah cinta kepada Allah SWT. itu adalah pendorong sabar, mengharapkan wajah Allah dan taqarrub kepada Allah SWT., bukan untuk menampakkan suatu kekuatan jiwa dan ketabahan kepada manusia ataupun pada tujuan-tujuan yang lainnya. 

Sabar beserta Allah SWT.. 

Artinya yang berkaitan dengan hukum-hukum Agamii maka setiap perjalanan seorang hamba itu selalu bersamaan dengan kehendak dari Allah SWT, dan selalu sabar di dalam melaksanakan hukum-hukum dan dengan menegakkannya. 

Banyak sekali definisi mengenai sabar tersebut, bahkan dari kalangan para Ulama' salaf pun telah banyak mengomentari' nya, akan tetapi yang pasti Allah telah memerintahkannya kesabaran itu dengan baik, pengampunan yang baik serta .... yang baik di dalam kitab Allah SWT.. 

Ada tiga derajat sabar menurut pengarang Manazilus Sa'iriin, yaitu: 
  • Sabar di dalam menghindari kedurhakaan, dengan memperhatikan peringatan, tetap teguh di dalam iman mewaspadai hal yang haram. Namun yang lebih baik adalah sabar di dalam menghindari suatu kedurhakaan karena rasa malu. 
  • Sabar dalam ketaatan, dengan cara menjaga ketaatan secara terus-menerus, memeliharanya dengan suatu keikhlasan serta membaguskannya dengan ilmu. 
  • Sabar di dalam musibah, dengan cara memperhatikan pahala yang baik dengan menunggu rahmat atau jalan keluar, meremehkan musibah sambil menghitung uluran karunia dan mengingat akan nikmat-nikmat yang telah lampau. 

Seorang hamba ketika mendapatkan suatu musibah ...., mengenakan tiga pakaian kesabaran, antara lain tiga kesabaran itu ialah: 

Pertama :Memperhatikan suatu pahala yang baik. Seberapa jauh perhatian, pengetahuan serta keyakinannya terhadap pahala ini, maka sejauh itu pula dia akan merasakan ringan dalam memikul beban musibah tersebut, sebab dia telah merasakan akan mendapatkan suatu penggantinya. 

Kedua :Menunggu rahmat keluar atau jalan kenikmatannya, menunggu-nunggu kenikmatan jalan keluar dari musibah dapat meringankan beban musibah dan suatu kesulitan yang sedang dihadapinya, apalagi kalau disertai dengan kekuatan harapan dan juga usaha mencari jalan keluarnya. 

Ketiga :Meremehkan musibah, yang mana ini dapat dilakukan melalui dua cara yaitu menghitung suatu karunia Allah yang telah dilimpahkan kepadanya serta mengingat-ingat nikmat Allah SWT. yang pernah diterimanya. Yang pertama adalah berkaitan dengan keadaan, sedangkan yang kedua berkaitan dengan masa lampau atau sudah lewat. 

Nabi Muhammad saw. pernah bersabda : "Bahwa kesabaran itu adalah merupakan salah satu wasiat dari Allah SWT. di dalam bumi-nya ini", Maka barangsiapa dapat memeliharanya ia pun akan selamat dan barangsiapa menyia-nyiakannya maka ia pun akan binasa. 

Salah satu simpanan di surga itu adalah kesabaran, dan Allah SWT. tidak akan memberikan-Nya kecuali kepada seorang hamba yang pemurah di sisi Allah SWT, itulah pendapat dari Hasan Al-Bashri. 

Dan kepada seorang lelaki Umar Ibn Al-Khathab pernah berkata : "Jika engkau bersabar, maka keputusan Allah SWT. akan tetap berlaku dan engkau akan mendapatkan pahala, namun jika engkau berkeluh kesah, sesungguhnya keputusan Allah pun tetap berlaku, akan tetapi engkau akan mendapatkan dosa". 

Ali ra. pernah berkata : "Tunggangan yang tidak bisa tergelincir dan pedang yang tidak bisa tumpul adalah kesabaran". 

Sedangkan Rasulullah saw. bersabda : "Kesabaran di waktu mengalami suatu musibah itu adalah mendapatkan 900 derajat", dan Rasulullah saw. menambah sabdanya : "Kesabaran sesaat itu lebih baik daripada dunia beserta isinya". 

Di dalam hal ini Rasulullah saw. tidak berhenti sampai di ' sini, beliau masih memberikan fatwanya kepada kita sebagai ummatnya dan sebagai hamba Allah SWT., yakni sabda beliau adalah . "Kesabaran itu ada empat macam yaitu: kesabaran di dalam menunaikan fardhu-fardhu, kesabaran di dalam menghadapi musibah, kesabaran di dalam menghadapi gangguan orang-orang dan kesabaran di dalam menghadapi kemiskinan. 

Adapun kesabaran di dalam menunaikan fardhu-fardhu itu adalah Taufiq (dari Allah), kesabaran di dalam menghadapi musibah itu akan menimbulkan pahala, kesabaran di dalam menghadapi gangguan orang-orang itu akan menimbulkan kecintaan dan kesabaran di dalam menghadapi suatu kemiskinan itu akan menyebabkan keridhaan Allah Subhanahu wa ta’ala