SUNNAH-SUNNAH AB’ADH dalam Shalat

1. Tasyahud Awal, yaitu tasyahud ketika duduk yang tidak diakhiri dengan salam, yakni duduk pada akhir rakaat kedua dalam shalat-shalat Zhuhur, Ashar, Magrib dan ‘Isya. 

Di sini disunnahkan membaca tasyahud: Dalam hadits tentang orang yang melakukan shalat dengan tidak baik, riwayat Abu Daud (860) dinyatakan:

 فَاِذَاجَلَسْتَ فِى وَسَطِ الصَّلاَةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ 

Apabila kamu duduk di tengah shalat, maka tenanglah dan bersandarlah pada paha kirimu, kemudian bertasyahudlah. 

Adapun dalil bahwa tasyahud awal ini hukumnya sunnah, tidak fardhu, ialah hadits riwayat al-Bukhari (1173), dan Muslim (570):

 اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِى صَلاَةِ الظُّهْرِ وَعَلَيْهِ جُلُوْسٌ، فَلَمَّا اَتَمَّ صَلاَتُهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ 

Bahwa Rasulullah SAW berdiri pada shalat zhuhur, yang semestinya harus duduk. Maka, tatkala menyelesaikan shalatnya, beliau sujud dua kali. 

Maksudnya, sujud sahwi, pengganti tasyahud awal yang beliau tinggalkan dikarenakan tidak duduk untuknya. Sekiranya tasyahud awal itu rukun, niscaya beliau memaksakan diri melakukannya dan tidak mengganti tertinggalnya itu dengan sujud sahwi. 

2. Membaca shalawat untuk Nabi sesudah tasyahud awal. 

Yang ini hukumnya juga sunnah, yang apabila tertinggal, maka diganti dengan sujud sahwi. 

3. Duduk untuk tasyahud awal. Dengan demikian, di sini berarti ada tiga sunnah sekaligus: sunnah duduk, sunnah tasyahud selama duduk, kemudian sunnah membaca shalawat untuk Nabi SAW. 

4. Membaca shalawat untuk keluarga Nabi SAW sesudah tasyahud akhir yang merupakan rukun. 

Maksudnya, ketika melakukan rukun tasyahud pada duduk yang terakhir, dan rukun membaca shalawat untuk Nabi SAW, maka disunnatkan pula membaca shalawat untuk kleuarga Nabi SAW, dengan alasan adanya bacaan shalawat untuk Nabi SAW yang lengkap, sebagaimana yang telah diterangkan di atas. 

5. Doa qunut ketika i’tidal pada: rakaat kedua shalat Shubuh, rakaat terakhir shalat Witir pada pertengahan kedua bulan Ramadhan, dan rakaat terakhir dari shalat apapun bagi Qunut Nazilah: 

Diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya, dari Abu Anas RA dia berkata:

 مَازَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِى الصُّبْحِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا 

Rasulullah SAW senantiasa membaca Qunut pada shalat Shubuh sampai meninggal dunia. 

Dan diriwayatkan pula oleh al-Bukhari (956), dan Muslim (677), dari Anas RA ketika ditanya:

 اَقَنَتَ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصُّبْحَ؟ قَالَ نَعَم، فَقِيْلَ لَهُ: اَوَ قَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوْعِ؟ قَالَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَسِيْرَا. 

“Apakah Nabi SAW membaca Qunut pada shalat Shubuh? Jawab Anas: “Ya”. Ditanyakan pula kepadanya: “Dan apakah beliau membaca Qunut sebelum ruku’?” Anas menjawab: “Sesudah ruku’, sebentar”. 

(Lihat: al-Baihaqi mengenai shalat Shubuh dan mengenai Qunut pada shalat Witir). 

Pelaksanaan sunnah Qunut ialah, hendaklah mushalli memuji Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya dengan ucapan apa saja, seperti:

 اَللهُمَّ اغْفِرْلِى يَاغَفُوْرْ 

Ya Allah, ampunilah aku, ya Tuhan Yang Maha Pengampun. 

Akan tetapi, pelaksanaan Qunut yang sempurna ialah dengan senantiasa mengucapkan doa Qunut yang berasal dari Rasulullah SAW: 

Menurut riwayat Abu Daud (1425), dari al-Hasan bin Ali RA, dia berkata: “Rasulullah SAW telah mengajari aku kalimat-kalimat yang aku ucapkan dalam shalat Witir:

 اَللهُمَّ اهْدِنِى فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِى فِيْمَنْ تَوَلَّيْت، وَبَأرِكْ لِى فِيْمَا اَعْطَيْتَ، وَقِنِى شَرَّ مَاقَضَيْتَ، اِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْك، وَاِنَّهُ لاَيَذلُّ مَنْ وَلَيْتَا، وَلاَيَعزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ 

Ya Allah, tunjukilah aku seperti orang yang Engkau beri petunjuk, sentosakanlah aku seperti orang yang telah Engkau beri kesentosaan, berilah aku kekuasaan seperti orang yang telah Engkau beri kekuasaan, berkatilah aku pada apa yang telah Engkau karuniakan, dan peliharalah aku dari keburukan apa yang telah Engkau putuskan. Sesungguhnya Engkau memberi keputusan dan tidak diputusi. Dan sesungguhnya takkan hina orang yang Engkau muliakan, dan takkan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi, ya Tuhan kami. 

Dan bagi imam, disunnatkan membaca doa Qunut ini dengan shighat jamak. 

Menurut at-Tirmidzi (464), ini hadits hasan. Dan dia katakan pula: “Dan kami tidak mengetahui dari Nabi SAW mengenai Qunut pada shalat Witir, suatu doa yang lebih baik lagi daripada ini”. 

Sedang menurut Abu Daud (1428), bahwa Ubay bin Ka’ab RA pernah mengimami orang-orang –yakni dalam bulan Ramadhan-, waktu itu dia membaca Qunut pada separo yang akhir dari bulan Ramadhan. 

Sementara itu, al-Hakim meriwayatkan pula dari Abu Hurairah RA:

 اَنَّ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ فِى صَلاَةِ لصُّبْحِ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُوْ بِهَذَاالدُّعَاءِ: اَللهُمَّ اهْدِنِى فِيْمَنْ هَدَيْتَ

........... Bahwasanya Nabi SAW apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ dalam shalat Shubuh pada rakaat kedua, beliau mengangkat kedua tangannya, seraya menyerukan doa ini: “Ya Allah, tunjukilah aku seperti orang yang telah Engkau beri petunjuk................” 

Sedang pada ulama menganggap mustahab bila ditambah dalam Qunut:

 فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَاقَضَيْتَ، نَسْتَغْفِرُكَ اَللهُمَّ وَنَتُوْبُ اِلَيْكَ، وَ صَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الاُمِّيِّ وَ عَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ 

Maka, bagi-Mu-lah segala puji atas apa yang telah Engkau putuskan. Kami memohon ampun kepada-Mu, ya Allah Tuhan kami, dan bertaubat kepada-Mu. Dan, semoga Allah senantiasa merahmati dan memberi kesejahteraan kepada junjungan kami, Muhammad, Nabi yang ummiy, kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya. 

Alasannya, karena adanya berita-berita shahih mengenai shalawat untuk Nabi SAW, sesudah berdoa dan berdzikir. (Lihat: Mughni ‘l-Muhtaj: 1/166-167). 

Dan disunnatkan pula mengangkat tangan ketika membaca qunut, sedang perut telapak tangan dihadapkan ke langit.