Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Friday, August 3, 2018

Mengajarkan anak Sholat Berdasarkan dalil Hadits Nabi

Mengajarkan anak Sholat Berdasarkan dalil Hadits Nabi

Mengajarkan anak sholat hendaknya dilakukan sedini mungkin sesuai dengan ajaran Islam. Kapankah sebaiknya kita mengajarkan sholat kepada anak? Bagaimana apabila anak menentangnya? Adakah sumber dalil haditsnya?

Dalil hadits mengajarkan anak Sholat


Di bawah ini adalah beberapa dalil hadits Nabi Muhammad saw. Yang menjelaskan kepada kita para kaum mukmin tentang mengajarkan sholat kepada anak.

mengajarkan anak sholat


Dalil yang tersebut di atas, juga mengajarkan kepada kita sesuai dengan ajaran Nabi sejak usia berapakah hendaknya anak diajarkan tentang sholat, bagaimana cara mengahadapi anak dalam mengajarkan ajaran sholat.

Dalil hadits Rasulullah saw bersabda:


مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين ، وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها

Artinya: "Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk sholat jika mereka telah mencapai umur tujuh tahun. Dan jika telah berumur sepuluh tahun pukullah dia jika meninggalkannya.( Diriwayatkan o\eh lbnu Abi Syaibah (1/137/1) Abu Dawud (494). At-Tirmidzi (407), Ad-Darimi (1431 ), Ath•Thahawi dalam A/-Musykil (3/231 ). lbnu Al-Jarud (147). Ad-Daruquthni (1 /230/1), Al-Hakim (1/201). Hadits ini hasan menurut Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ • At-Ghalil (1/267).

Dalam riwayat dalil hadits yang lain:


مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر وفرقوا بينهم في المضاجع

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun_dan pisahkanlah tempat tidur diantara mereka.(Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah (1/13712). Abu Dawud (495, 496), Ad-Daruquthni (1/230/2). Al-Hakim(1/197), Al-Baihaqi (7/64 ), Ahmad (2/187): dan lbnu Amru. Hadits ini Hasan menu rut Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ (247).)

Tentang hadit di atas, Imam Abu Sulaiman al-Khaththabiy berkata, "Hadits ini menunjukkan betapa beramya hukuman bagi orang yang meninggalkan sholat jika telah mencapai akil balighnya."

Sebagian para sahabat Imam Syafi'i berhujjah dengan hadits ini dalam kaitannya dengan kewajiban membunuhnya, apabila mereka meninggalkan sholat dengan sengaja setelah baligh. Mereka berkata, "Jika ia boleh dipukul padahal belum baligh, maka ini menunjukkan bahwa setelah baligh nanti ia harus dikenai hukuman yang lebih berat darinya. Padahal tidak ada hukuman yang lebih berat setelah pukulan selain dibunuh."

Demikianlah sumber dalil hadits Nabi Muhammad saw. Tentang mengajarkan anak sholat. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang ahli ibadah dan ahli sholat sesuai dengan ajaran Islam. Amin

Tuesday, July 31, 2018

Jangan Menyelepelekan, Meninggalkan Sholat, Sholat di Akhir Waktu

Jangan Menyelepelekan, Meninggalkan Sholat, Sholat di Akhir Waktu

Sholat adalah tiang agama. Bagaimana dalil Hadits dan dalil Al-Quran tentang orang-orang yang meninggalkan sholat, menyepelekan sholat atau sholat pada akhir waktu sholat? Berikut ini adalah berbagai keterangan dari dalil hadits Nabi dan dari Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an.

۞فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا ٥٩ إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا يُظۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا ٦٠ 

Artinya: Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun

meninggalkan sholat
sholat berjamaah


Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (16/75). Dan As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al-Mantsur (4/498) menambahkan penisbatan ini kepada Abd Bin Humaid. Dari Ibnu Abbas berkata: arti dari menyia-nyiakan sholat bukanlah meninggalkan sholat sama sekali. Akan tetapi, mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya.

Imam para tabi’in, Said bin Musayyib mengatakan: maksud dari ungkapan menyia-nyiakan sholat di atas adalah orang tersebut tidak mengerjakan sholat Zhuhur sehingga datang waktu Sholat Ashar sehingga datang waktu Sholat magrib. Tidak sholat Magrib sampai datang sholat Isya’. Tidak sholat Isya’ sampai fajar menjelang. Tidak sholat shubuh hingga matahari terbit. Barangsiapa mati dalam keadaan terus menerus melakukan hal ini dan mereka tidak bertaubat, maka Allah swt, menjanjikan baginya ‘Ghayy’ yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya dan lagi sangat tidak enak rasanya.

Juga dalam Firman Allah SWT yang lain menyatakan:

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥ 

Artinya: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (qs. Al-Ma’un: 4-5)

Bagaimana dengan orang yang lupa sholat dan apa ancamannya?


Adapun orang-orang yang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan sholat. Sa’ad bin Abi Waqqash beliau berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. Tentang orang-orang yang lupa akan sholatnya. Beliau menjawab: “yaitu pengakhiran waktunya” (Hadits Dha’if. Diriwayatkan oleh Al-Uqaili (3/377). Ibnu Abi Hatim dalam Al-‘llal (1/187) dan Al-Baihaqi (2/214): dari jalur Ikrimah bin Ibrahim. Dia lemah. semua Ulama bersepakat bahwa ia mauquf dan ini yang lebih benar).

Mereka disebut orang-orang yang sholat. Akan tetapi ketika mereka meremehkan dan mengakhirkannya dari waktu sholat yang seharusnya, maka mereka diancam dengan “wail” yaitu adzab yang berat.

Terdapat juga pendapat yang mengatakan bahwa wail adalah sebuahlembah di neraka jahannam, apabila gunung-gunung yang ada di dunia dimasukkan ke dalamnya maka niscaya akan melelehkan semua yang ada karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi mereka orang-orang yang meremehkan sholat dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya. Kecuali bagi orang-orang yang bertaubat  kepada Allah SWT dan menyesali atas kelalaiannya tersebut.

Dalam Ayat lain Allah SWT juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩ 

Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al-Munafiqun : 9) 

Dijelaskan oleh para mufassir bahwa maksud dari “mengingat Allah” pada ayat di atas adalah sholat lima waktu. Oleh sebab itu, barangsiapa yang disibukkan oleh harta benda dan perniagaannya, kehidupan dunia, sawah ladangnya, dan anak-anak mereka dari mengerjakan sholat pada waktunya, maka mereka termasuk orang-orang yang merugi. 

Demikian, sebagaimana dalil sabda Nabi Muhammad saw.:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

Artinya: amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah sholatnya. Jika sholatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah dia. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (3016) dari Abu Hurairah. Dan ia lemah. Dan diriwayatkan oleh Ath-Thayalisy, Adh-Dhiya’, dan selain mereka: Syaikh Al-Albani men-shahihkannya dalam Ash-Shahihah (1358), dengan berbagai jalur periwayatnnya dan hadits-hadits penguatnya, dengan lafal: Maka apabila sholatnya baik, baik seluruh amalnya, dan apabila rusak sholatnya, rusak seluruh amalnya. Lihat dalam Shahih Al-Jami’ (2573)

Meninggalkan sholat akan mejadi Penghuni Neraka


Berkaitan dengan penghuni Neraka, Allah SWT berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur’an:

 مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ٤٢ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ ٤٣  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ ٤٤ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ٤٥  وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤٦  حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ٤٧ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨ 

Artinya: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian". Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa´at dari orang-orang yang memberikan syafa´at. (QS. Al-Muddatstsir: 42-48)

Dalil-dalil hadits Nabi tentang meninggalkan sholat dan menyepelekan sholat


Di bawah ini adalah berbagai kumpulan hadits yang menerangkan tentang ancaman-ancaman dan bagi mereka yang meninggalkan sholat, menyepelekan sholat dan sholat pada akhir waktu yang seharusnya.

Dalil Hadits Nabi Muhammad SAW. :

أن العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

Artinya: Sesungguhnya ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah sholat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia. (Hasan (baik). Diriwayatkan oleh Ahmad (5/346), At-Tirmidzi (2621), An-Nasa’I (1/231), Ibnu Majah (1079), Ibnu Hibban (1352), Al-Hakim (1/6-7), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (2538), dan As-Sunan (3/366); dari Buraidah. Dan Syaikh Al-Albani menyatakan hasan dalam Shahih Al-Jami’ (4022)

Nabi SAW juga bersabda:

بَيْنَ الْعَبْدُ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Artinya: Batas antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan sholat. (diriwayatkan oleh Ahmad (3/370). Muslim (82). At-Tirmidzi (2618), Ibnu Hibban (1451), Al-Baihaqi dalam As-Sunan (3/366). Dan Asy-Syu’ab (2536) dari Jabir.

Juga dalil Sabda Nabi

مَنْ فَاتَتْهُ صَلاَةُ الْعَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ

Artinya: Barangsiapa tidak mengerjakan sholat ‘Ashar’ terhaspuslah amalnya. (Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/349). Al-Bukhari (553). An-Nasa’I (1/236). Ibnu Majah (694). Ibnu Hibban (1461). Al-Baihaqi dalam As-Syu’ab (2588). Dan Buraidah. Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan lafal : Seakan-akan keluarganya terampas)

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

مَنْ تَرَكَ الصَّالاَةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللهِ

Artinya: barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja, sungguh telah lepaslah jaminan dari Allah. (Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/238). Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (20/117/233, 234),d ana da beberapa hadits penguatnya, yang membuat Syaikh Al-Albani menyatakans ebagai hasan dalam Shahih At-Targhib (568).

Juga, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan “La ilaaha illallah” (Tiada yang berhak diibadahi selain Allah) dan mengerjakan sholat serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya maka darah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya maka itu kepada Allah. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (25) dan Muslim (22) dan Ibnu Umar)

Rasulullah SAW juga bersabda: 

من حافظ عليها كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة ومن لم يحافظ عليها لم تكن له نورا ولا برهانا ولا نجاة ويأتي يوم القيامة مع قارون وفرعون وهامان وأبي بن خلف

Artinya: Barangsiapa menjaganya maka ia akan emmiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat nanti. Sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak akan memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun dan Ubay bin Khalaf. (Isnadnya Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/169), Abd bin Humaid (353). Ad-Darimi (697.698). ibnu Hibban (1467). Ath-Thahawi dalam Musykil (Musykil Al-Atsar-ed) (4/229). At-Thabrani dalam Al-Ausath (1788), dan Al-Baihaqi dalam As-Syu’ab (2565) dan isnadnya Shahih.)

Umar bin Khathab berkata: sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan sholat. (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Masail-nya dengan periwayatan anaknya, Abdullah (55), Ibnu Sa’ad (3/350), Muhammad bin Nashr dalam Ash-Shalah (925). Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (103), dan Ad-Saruquthni (2/52). Syaikh Al-Albani berkata: Isnadnya shahih menurut syarat keduanya (Al-Bukhari dan Muslim.)

Sebagian ulama berkata: hanyasanya orang yang meninggalkan sholat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat/jabatan, dan perniagaannya dari sholat. Jika ia disibukkan dengan hartanya ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya ia akan dikumpuilkan dengan Fir’aun. Jika ia disibukkan dengan pangkat/jabatannya ia akan dikumpulkan bersama Haman. Dan jika ia disibukkan dengan perniagaannya akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, seorang pedagang yang kafir di mekah saat itu.

Muaz bin Jabal meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلاَةً مَكْتُوْبَةً مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ دَمَّةُ اللهِ

Artinya: barangsiapa meninggalkan sholat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah. (telah diebutkan takhrijnya)

Umar bin khathab meriwayatkan, telah datang seorang kepada Rasulullah saw dan bertanya: Wahai Rasulullah, amal dalam Islam apakah yang plaing dicintai oleh Allah ta’ala?. Beliau menjawab: Sholat pada waktunya. Barangsiapa meninggalkannya sungguh ia tidak lagi memiliki dien lagi, dan sholat itu tiangnya dien. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (2550). Al-Baihaqi mendha’ifkannya, juga Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (170).

Ketika Umar terluka yang dikarenakan tusukan seseorang mengatakan: anda tetap ingin mengerjakan sholat, wahai Amirul Mukminin?. Beliau menjawab: Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan sholat. Lalu beliaupun mengerjakan sholat meskipun dari lukanya mengalir (darah yang cukup banyak.(telah disebutkan tahrijnya).

Seorang Tabi’in bernama Abdullah bin Syaqiq, beliau menuturkan: tidak satu amalan pun yang meninggalkannya dianggap kufur oleh para sahabat selain sholat (Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah dalam Al-iman (137). At-Tirmidzi (2622). Muhammad bin Nashr dalam Ta'zhim Qadr Ash-Shalah (948). Syaikh Al-Albani men-shahih-kannya dalam Shahih At-Targhib (564).

Pernah suatu ketika, Ali bin Abi Thalib ditanya oleh seorang wanita yang tidak sholat, dan beliau menjawab: “ barangsiapa tidak sholat telah kafirlah ia”. (Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah secara marfu' (periwayatan sampai kepada Rasulullah) dengan lafazh: faqad kafara (sungguh dia telah kafir) "Li hat dalam Shahih At Targhib (230).

Juga Ibnu Mas’ud berkata: Barangsiapa tidak sholat maka ia tidak mempunyai dien (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam Ta 'zhim Qadr Ash-Sha/ah, lbnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (2/184). Ath-Thabrani dalam Al-Kabir(3!19/1) Syaikh Al-Albani berkata, ''\snadnya hasan".

Juga Ibnu Abbas berkata: Barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja sekali saja niscaya akan rnenghadap Allah yang dalam keadaan murka kepadanya." (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr secara mauquf (periwayatan sampai pada shahabat saja) dengan lafazh. "faqad kafara (sungguh dia teiah kafir)"

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan sholat, Dia tidak akan mempedulikan suatu kebaikan pun darinya.( Al Iraqi pada Ath-Thabrani  dalam A/-AusathdariAnas)

Juga dari Ibnu Hazm berkata, "Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah svirik selain mengakhirkan sholat dari wakrunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya."

Dari Ibrahim an-Nakha'iy menuturkan, dan berkata: Barangsiapa meninggalkan shalat maka telah kafir." Hal senada juga diungkapkan oleh Ayyub as-Sikhtiyaniy.

Dari 'Aun bin Abdullah berkata: Apabila seorang hamba dimasukkan kedalam kuburnya. ia akan ditanya tentang shalat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan. Jika baik barulah amal-amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya jika tidak baik, tidak ada satu amalan pun yang dilihat (dianggap tidak baik semuanya)."

Beliau Rasulullah SAW bersabda : Apabila seorang hamba mengerjakan shalat di awal waktu, shalat  itu -ia memiliki cahaya- akan naik ke langit sehingga sampai ke 'arsy, lalu memohonkan ampunan bagi orang yang telah mengerjakannya, begitu seterusnya sampai hari kiamat. Sha/at itu berkata,"Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjagaku." Dan apabila seorang hamba mengerjakan shalat bukan pada waktunya, shalat itu –ia memiliki kegelapan- akan naik ke langit. Sesampainya di sana ia akan dilipat seperti dilipatnya kain yang usang lalu dipukulkan ke wajah orang yang telah mengerjakannya. Sha/at itu berkata, "Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku. (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar (350), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (2871). Al-Khatib dalam Tarikh-nya. Hadits ini dha’if lihat Dha'if Al-Jami’'(400).

Juga dalil Rasulullah SAW bersabda: 

ثلاثة لا يقبل الله منهم صلاة: من تقدم قوما وهم له كارهون، ورجل أتى الصلاة دبارا ـ والدبار أن يأتيها بعد أن تفوته ـ ورجل اعتبد محررة

Artinya: Ada tiga orang yang shalatnya tidak diterima oleh Allah: seseorang yang memimpin suatu kaum padahal kaum itu membencinya, seseorang yang mengerjakan shalat ketika telah lewat waktunya, dan seseorang yang memperbudak orang yang memerdekakan diri. (diriwayatkan  oleh Syaikh Al-Albani  dan  lbnu Majah (970) Hadits ini dha’if dengan teks iengkapnya. Lihat Al-Jami’' (119)

Beliau Rasulullah SAW juga bersabda: Barangsiapa menjama' dua shalat tanpa udzur, sungguh ia telah memasuki pintu terbesar diantara pintu-pintu dosa besar.(Hadits Dha’if dan lemah sekali) Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (188). Al-Hakim (1/275), Ath-Thabrani dalam Al•Kabir(11540), dan Abu Ya'la (1/2/139) At-Tirmidzi dan Adz-Dzahabi men-dha'if-kannya, juga Syaikh AlAlbani dalam Dha'if Al-Jami'(5556). Hadits ini dari lbnu Abbas.

Marilah kita memohon taufiq dan inayah kepada Allah SWT, sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Pengasih diantara mereka yang mengasihi.Semoga kita menjadi orang yang ahli sholat. Amin amin amin

Friday, July 27, 2018

Keutamaan Ilmu, Para Ahli Ilmu: Tingkat Derajat Besar & Agung

Keutamaan Ilmu, Para Ahli Ilmu: Tingkat Derajat Besar & Agung

Apa salah satu keutamaan ilmu dan keutamaan bagi ahli ilmu yang utama? Pada kesempatan yang lalu telah kami paparkan tentang siapakah yang sebenarnya disebut sebagai orang yang ahli ilmu atau ahlul ilmu. Menyambung bahasan tersebut, berikut ini akan kami sampaikan tentang keutamaan-keutamaan ilmu dan keutamaan bagi para ahli ilmu berdasarkan keteterangan dari sumber Kitabullah al-Qur’an Al-Karim.

Apa salah satu keutamaan ilmu dan para ahlul ilmu?

Salah satu keutamaan ilmu dan para ahli ilmu syariat adalah Tingkat dan derajat yang besar dan agung. Keutamaan ilmu dan Orang berilmu adalah Mendapatkan Tingkatan yang besar dan agung sebagaimana Firman Allah di dalam Al-Qur’an:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ٣٢ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ ٣٣
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama­nama (benda­benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:"Sebutkanlah kepada­Ku nama benda­benda itu jika memang kamu orang yang benar!" Mereka menjawab:"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah SWT berfirman:"Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama­nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya nama­nama benda itu, Allah SWT berfirman:"Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan” (QS. Al Baqarah ayat : 31­33)
keutamaan ilmu syariat
al-quran
Dari Al Qurthubi Rh menafsirkan firman Allah SWT dia tas, beliau berkata: Firman Allah SWT Swt < Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama­nama benda ini> di dalamnya ada mengandung maksud:
Pertama: Firman Allah SWT Swt: < beritahukanlah kepada mereka nama­nama benda itu>. Hal ini berarti bahwa Allah SWT menyuruh untuk mengajarkan kepada mereka nama­nama benda tersebut setelah mengemukakannya kepada para malaikat, agar supaya mereka tahu bahwa dia lebih tahu dengan apa yang mereka tanyakan sebagai peringatan akan keutamaannya dan ketinggian kedudukannya, dan dia yang lebih diutamakan oleh Allah SWT daripada mereka dan mereka di perintahkan untuk bersujud kepadanya serta menjadikan mereka sebagai murid­muridnya dan menyuruh mereka untuk belajar darinya, sehingga dia mendapatkan tingkatan yang besar dan agung dengan menjadikannya sebagai orang yang mendapat sujud, diistimewakan dengan ilmu.
Maksud Kedua yang ada di dalam ayat tersebut di atas menunjukkan akan keutamaan ilmu dan keutamaan orang yang berilmu, dan di dalam hadits sebagai berikut:
وَاِنَّ الْمَلآئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطاَلِبِ الْعِلْمِ
Artinya: “Dan sesungguhnya para malaikat akan menurunkan sayapnya dengan ridha kepada penuntut ilmu”
Maksud dari hadits di atas berdasarkan sumber dari Tafsir Al-Qurthubi I/288-289….artinya  tunduk  dan  bertawadhu’,  dan  sesungguhnya  para  malaikat berbuat  seperti  itu  khusus  hanya  kepada  Ahlul  ilmi  diantara  para makhluk Allah SWT Swt, karena Allah SWT Swt telah melazimi hal itu bagi Adam Alaihis Salaam sehingga dia beradab dengan adab ini. setiap  nampak suatu ilmu pada diri manusia maka para malaikat semakin tunduk dan merendahkan diri serta menghinakan diri sebagai bentuk penghormatan kepada ilmu dan orangnya, dan ridha terhadap mereka di dalam mencarinya dan menekuninya. Ini bagi para penuntut ilmu lalu bagaimana dengan para ulama’ mereka dan Rabbaniyyin diantara mereka? semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk diantara mereka dan masuk di dalam golongannya, sesungguhnya Allah SWT memiliki keutamaan yang besar)
Dari keterangan di atas, maka jelas bahwa ilmu yang sesuai dengan syariat Islam dan juga bagi para ahli ilmu mulia yang benar-benar menerapkan dan mengamlakannya akan mendapatkan keutamaan dari ilmu dan keutamaan bagi ahlul ilmi mendapatkan janji dari Allah SWT yaitu keutamaan berupa kedudukan yang besar dan agung berdasarkan dalil dan firman Allah di dalam Al-Qur’an.
Masih banyak lagi keutamaan ilmu dan para ahli ilmu syariat yang akan kami lanjutkan dalam postingan selanjutnya dalam kategori keutamaan ilmu. Semoga kita adalah bagian dari para ahlul ilmi tersebut. Amiin

Tuesday, July 24, 2018

Siapakah Para ahli Ilmu dan Berkedudukan Mulia, Andakah?

Siapakah Para ahli Ilmu dan Berkedudukan Mulia, Andakah?

Siapakah yang benar-benar mendapatkan sebutan ahli ilmu dalam Islam berdasarkan dalil firman Allah di dalam AL-Qur’an? Ahlul ilmi atau ahli ilmu sebagaimana yang telah disebutkan oleh dalil­dalil dalam AL-Quran dengan menerangkann keutamaan­keutamaan bagi mereka ahlul ilmu dan tingginya kedudukan mereka serta besarnya pahala untuk mereka, mereka adalah para pengemban ilmu yang mulia ini, yang mereka amalkan dan terapkan pada diri mereka sendiri dan pada manusia dengan menyebarkan dan menyampaikannya.

Serta telah disebutkan dalil-­dalil di dalam Al-Quran bagi orang-orang yang mengetahui ilmu akan tetapi tidak mengamalkannya atau menerapkannya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt dalam surat Ash Shaf ayat 3:

كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣

Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa­apa yang tiada kamu kerjakan” (QS. Ash Shaf : 3).

Siapakah orang-orang yang ahli ilmu atau terpuji serta orang yang tercela?


Maka dapat kita ketahui dari keterangan di atas bahwa orang­-orang yang terpuji ialah mereka para ulama’ yang menerapkan dan mengamalkan ilmunya, dan bahwa orang yang tidak menerapkan dan mengamalkan ilmunya dia termasuk orang yang tercela, bukan orang yang mendapat keutamaan.

walisongo para ahli ilmu
walisongo


Bahkan Allah swt juga menurunkan ayat berkaitan dengan mereka yang tidak menerapkan dan mengamalkan ilmunya, maka mereka menduduki kedudukan orang-orang yang bodoh yang tidak memiliki ilmu sama sekali, yaitu di dalam Firman Allah SWT sebagai berikut:

وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ١٠٢

Artinya: “Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui” (QS. Al Baqarah : 102).

Allah SWT telah memulai dengan mensifati ahlil kitab dengan ilmu melalui huruf taukid qasami (penekanan dan sumpah) (Wa laqad alimu) kemudian menghilangkan ilmu dari mereka (Wa lau kaanuu ya’lamun) karena mereka tidak melaksanakan dan mengamalkan ilmu mereka, maka mereka menduduki kedudukan orang­orang yang bodoh.

Syaikhul islaam Ibnu Taimiyyah Rh mengatakan: (Termasuk sesuatu yang tetap tertanam di dalam pikiran kaum muslimin: Bahwa pewaris para Rasul dan pengganti para Nabi mereka adalah orang­orang yang menegakkan agama secara ilmu dan amal dan dakwah kepada Allah dan Roasul-Nya, mereka itulah sebenar­benar pengikut para nabi, mereka itu kedudukannya menduduki suatu kelompok yang baik di atas muka bumi ini yang telah bersih dan menerima air lalu tumbuhlah rerumputan dan pepohonan yang banyak, sehingga dia dapat membersihkan dirinya sendiri dan membersihkan manusia, mereke itulah  yang mengumpukan antara  bashirah  tentang  agama  dan  kuatnya  dakwah,  oleh  karena  itu mereka adalah para pewaris nabi sebagaimana Allah SWT berfirman tentang mereka:

وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ اِبْراهِيْمَ وَاِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ اُوْلِى الْاَيْدِيْ وَالْاَبْصَارِ

Artinya: “Dan ingatlah hamba­hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan­perbuatan yang besar dan ilmu­ilmu yang tinggi”

Al aidy Adalah kekuatan pada urusan Allah SWT sedangkan Al Abshaar adalah Bashaa­ir (pandangan hati) tentang agama Allah, dengan bashirahlah akan dapat mengetahui dan menemukan kebenaran, dan dengan kekuatan akan meneguhkan penyampaian, pelaksanaannya dan dakwah kepadanya). (Majmu’ Al Fataawa IV/65).

Asy Syathibi Rh berkata: (Ilmu itu termasuk salah satu dari wasilah­ wasilah, bukan maksudnya untuk dirinya sendiri jika dilihat dari segi pandangan syar’I, akan tetapai ilmu itu adalah wasilah (sarana) untuk beramal, dan setiap apa yang disebutkan tentang keutamaan ilmu sesungguhnya itu untuk menguatkan ilmu dilihat dari sisi hal­hal yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf (orang yang mendapatkan beban) untuk melaksanakannya) (Al Muwaafaqaat I/65) cet. Daarul Ma’rifah.

Asy Syaathibi juga berkata: (Ilmu yang dianggap merupakan ilmu syar’iy ­­­ yaitu ilmu yang dipuji oleh Allah Swt dan RosulNya secara umum ­­­ yaitu ilmu yang memotivasi diri untuk beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya untuk mengamalkan sesuai dengan hawanafsunya bagaimanapun keadaannya, akan tetapi ilmu itu mengikat pemiliknya dengan tuntutan­tuntutannya, yang membawanya diatas undang­undangnya baik senang maupun terpaksa. (Al Muwaafaqaat I/69).

Maka dengan demikian telah kita ketahui bahwa ahlul ilmi atau ahli ilmu yang telah disebutkan di dalam dalil-dalil dan firman Allah SWT dengan menerangkan keutamaan mereka adalah para ulama’ yang mengamalkan dan menerapkan ilmunya.

Perlu kita ketahui bersama masih banyak sekali disebutkan di dalam Al Kitab Al-Quran dan dan As Sunnah (hadits Nabi) yang menunjukkan akan keutamaan ilmu serta keutamaan orang­orang yang mengamalkan dan menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh dan Pengertian Ilmu Mulia Vs Tercela dalam Al-Qur'an

Contoh dan Pengertian Ilmu Mulia Vs Tercela dalam Al-Qur'an

Pada kesempatan yang baik ini, kami akan mencoba menguraikan tentang pengertian ilmu mulia atau ilmu terpuji dan juga pengertian dari ilmu tercela sebagaimana yang diterangkan oleh Allah SWT dalam kitabullah Al-Qur'an.

Pengertian Ilmu Mulia dalam Al-Quran

Ilmu yang mulia adalah ilmu yang diturunkan dari langit ke bumi, ilmu yang diwahyukan oleh Allah Swt kepada NabiNya Saw yang berupa Al Kitab dan As Sunnah kemudian cabang­cabang ilmu syar’i dari keduanya.


pengertian ilmu alquran
Kitabullah Al-Quran

Allah Swt berfirman di dalam Al-Qur’an Al-Karim:

وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ وَكَانَ فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكَ عَظِيمٗا ١١٣

“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu” (QS. An Nisaa’ : 113).

Juga firman Allah Swt:

وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٥٢

Artinya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al­Qur'an) dengan perintah Kami.Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al­Kitab (al­ Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al­ Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba­hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu benar­benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Asy Syuura : 52).

Serta firman Allah Swt:

فَمَنۡ حَآجَّكَ فِيهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ

Artinya:“Siapa yang membantahmu tentang kisah 'Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu)” (QS. Ali Imraan : 61).

Maka Allah Swt menerangkan kebenaran adalah hanya yang Allah wahyukan kepada Nabi Saw saja, dan mensifati ilmu ini dengan sifat ruh (kehidupan) dan nur (cahaya), sesungguhnya bisa seperti itu karena dapat menghidupkan hati yang mati dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, sebagaimana firman Allah Swt:

أَوَ مَن كَانَ مَيۡتٗا فَأَحۡيَيۡنَٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورٗا يَمۡشِي بِهِۦ فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٢٢

Artinya: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah­tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali­kali tidak dapat keluar dari padanya” (QS. Al An’aam : 122).

Ibnu Hajar rh berkata: (Yang dimaksud dengan ilmu adalah: Ilmu syar’i yang dapat memberikan manfaat dengan dapat memahami hal­hal yang wajib bagi mukallaf (orang yang mendapatkan beban syareat) dari perkara agamanya dalam peribadatannya dan muamalahnya, dan ilmu tentang Allah dan sifat­sifatNya serta perintah­perintahNya yang harus ditegakkan dan membersihkan diriNya dari kekurangan­kekurangan, semua itu terkumpul dalam ilmu tafsir, hadits dan fiqh) (Fat­hul Baari I/141).

Inilah ilmu yang terpuji secara muthlak, dan inilah yang disebutkan oleh dalil­dalil dengan menerangkan keutamaannya dan keutamaan orang­orangnya, juga ilmu inilah yang dimaksud untuk diterangkan di dalam kitab ini.

Pengertian Ilmu tercela dalam Al-Quran

Waluapun disana ada ilmu yang lain, diantaranya ada ilmu yang tercela secara muthlak, dan ada ilmu yang terpuji sesuai dengan perbedaan keadaannya:

Termasuk yang tercela adalah apa yang disebutkan oleh Allah Swt:

وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ

Artinya: “Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat” (QS. Al Baqarah : 102).

Allah telah menetapkan bahwa ilmu yang membahayakan dan tidak bermanfaat – disini adalah sihir ­, dan termasuk yang tercela juga: Ilmu­ ilmu orang kafir yang menentang Rosul Alaihis Salaam, sebagaimana firman Allah Swt:

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Maka tatkala datang kepada mereka Rosul­ (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan­keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok­olokkan itu” (QS. Al Mukmin : 83).

Sedangkan termasuk yang terpuji dalam beberapa keadaan adalah: Ilmu yang bermanfaat tentang dunia, yang merupakan termasuk fardlu kifayah, seperti ilmu pertanian, industri, kedokteran dan yang semisalnya, inilah yang dimaksud oleh sabda Rosulullah Saw:

اَنْتُمْ اَعْلَمُ بِأَعْمَرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih tahu tentang perkara duniamu” (HR. Muslim).

Demikianlah bahasan kami tentang pengertian ilmu mulia dan pengertian ilmu tercela berdasarkan firman-firman Allah SWT di dalam firman-Nya Al-Quran

Sunday, December 25, 2016

Kelahiran Bayi Membawa Potensi Anugerah Ilahi

Kelahiran Bayi Membawa Potensi Anugerah Ilahi

Dalam ajaran dan pandangan Islam setiap bayi yang lahir ke dunia adalah suci, bersih, tidak membawa dosa dan aib. Bayi yang baru lahir ke dunia bahkan membawa potensi yang sangat luar biasa, yaitu potensi kebenaran yang dianugerahkan oleh Allah SWT.

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh firman Allah di dalam Al-Qur’an

 وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ٧ فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨  قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

Artinya: Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams [91]: 7-10)

Pada Ayat dari firman Allah di atas menerangkan bahwa seorang jabang bayi sudah diberikan potensi untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sejak lahir meski kita melihat mereka dalam keadaan lemah, telanjang, tak berdaya, dan belum mempunyai kemampuan apa-apa. Sekalipun dari segi fisik bayi yang baru lahir hanya dapat menangis, namun dari segi kerohanian Allah SWT sudah membekali mereka nilai-nilai ketuhanan yang dapat mengantarkan mereka ke jalan yang benar.

Baca juga

Firman Allah SWT di dalam AL-Qur’an

Renungkanlah firman Allah SWT berikut ini:

۞ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٖ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٖ قُوَّةٗ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٖ ضَعۡفٗا وَشَيۡبَةٗۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ ٥٤

Artinya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Ar-Rum [30]: 54)

Dari firman Allah di atas, menerangkan bahwa manusia pada awal kelahirannya begitu lemah. Setelah menginjak usia remaja dan dewasa, manusia menjadi kuat dari segi fisik. Namun, setelah melewati masa dewasa, pada umumnya manusia kembali menjadi lemah seperti baru dilahirkan dan menjadi pikun. Hanya orang-orang tertentu yang secara mental tidak mengalami kepikunan, antara lain, mereka yang di dunia ini tidak pernah lepas dari membaca Al-Qur’an.
Secara spiritual, manusia atau dalam hal ini bayi yang baru lahir telah dibekali oleh Allah SWT potensi keilahian. Bahkan, setiap manusia pada dasarnya telah mengikat janji hanya akan menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Hal ini dijelaskan oleh firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an berikut ini:

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS.A1-A’raf[7]: 172)

Baca juga

Pada firman Allah SWT di atas, menerangkan kepada kita bahwa manusia  atau bayi yang baru lahir sudah mempunyai jiwa yang sempurna dan telah dibekali potensi ketuhanan sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Akan tetapi, setelah mengalami kehidupan berikutnya, atau ketika memasuki masa akil balig dan dewasa kebanyakan manusia berpaling dari jalan yang benar. Mengapa bisa begitu? Wallahu a’lam

Friday, December 23, 2016

Mencetak Generasi Sholeh Sholehah sejak dalam Kandungan

Mencetak Generasi Sholeh Sholehah sejak dalam Kandungan

Bagaimana cara mencetak generasi sholeh dan sholehah? Untuk mencetak generasi yang sholeh dan sholehah tidak semudah membalik telapak tangan. Hal ini perlu proses yang dimulai sejak bayi dalam kandungan. Bagaiama dan apa saja yang perlu diperhatikan serta kewajiban-kewajiban ayah dan ibu oleh dalam mencetak generasi dan anak-anak tyang sholeh dan sholehah mulai dari bayi dalam kandungan?

Semua manusia di dunia ini pernah mengalami hidup di alam kandungan, kecuali Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Apakah yang hams dilakukan sang ibu dan bapak atau ayah ketika sudah ada tanda-tanda kehamilan? Pertanyaan ini amat penting dipahami dengan baik karena mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sang bayi yang ada dalam kandungan. Sebelum menjelaskan hal tersebut, kiranya perlu disuguhkan tentang proses perkembangan sang bayi dalam kandungan agar hal ini bisa dijadikan sebagai bahan renungan terhadap kebesaran Allah SWT.

Sebelum terlahir ke dunia, janin bayi tumbuh dan berkembang di dalam rahim ibunya selama kurang lebih sembilan bulan lamanya. Setiap bulan janin mengalami proses perkembangan yang berbeda-beda. Untuk dapat tumbuh dan berkembang secara baik, sang ibu membutuhkan asupan makanan dengan komposisi gizi tertentu. Ibu hamil mengalami peningkatan kebutuhan terhadap asupan gizi untuk mencukupi kebutuhan dua orang, untuk keperluan dirinya sendiri dan untuk keperluan janin di dalam kandungannya, seperti kebutuhan akan protein, mineral, kalsium, air, omega3, vitamin, asam folat, zat besi, dan lain sebagainya.

Adapun proses perkembangan janin bayi sejak bulan pertama sampai pada saat kelahiran, lazimnya sebagai berikut:
  • Bulan pertama; sel telur sang ibu berhasil dibuahi oleh sperma sang bapak. Terdapat bola bakal janin yang menempel pada dinding rahim. Bola sel telur tersebut berkembang seperti bentuk udang ukuran kecil. Pada periode ini, jantung dan susunan syaraf pusat mulai terbentuk.
  • Bulan kedua; bentuk sel telur yang seperti udang berubah menjadi seperti manusia pada umumnya. Wajah bayi mulai terbentuk dengan ukuran kepala yang besar. Ekor janin hilang. Jantung mulai berdetak. Tali pusat dan plasenta terlihat jelas. Muncul bagian tubuh, tangan dan kaki, serta tumbuh otot-otot.
  • Bulan ketiga; jantung telah terbentuk sempurna. Bagian tubuh, kaki dan tangan terbentuk. Jari jemari yang semula menyatu mulai terpisah. Organ-organ vital terbentuk di akhir bulan. Cuping telinga mulai terlihat.
  • Bulan keempat; kuku jari jemari kaki dan tangan terbentuk, organ dalam tubuh janin terbentuk, tumbuh rambut halus pada seluruh tubuh, janin berkembang dengan cepat.
  • Bulan kelima; tumbuh alis, bulu mata, dan rambut. Pancaindra berkembang. Tubuh janin dapat membentuk selaput putih pelapis tubuh dan kulit. Janin tumbuh cepat dengan panjang bisa mencapai 13 cm.
  • Bulan keenam; sistem pencernaan mulai bekerja dengan mengeluarkan air seni. Sisrem kekebalan tubuh semakin mantap. Janin dapat melakukan kontrol gerakan tubuhnya. Ibu dapat merasakan gerakan bayi dalam perut.
  • Bulan ketujuh; tubuh janin telah terbentuk. Otak janin mengalami perkembangan pesat. Organ vital selain paru-paru sudah berfungsi dengan baik.
  • Bulan kedelapan; janin sudah dapat membuka dan munutup kelopak mata. Gerakan janin telah terkoordinasi. Lidah janin sudah dapat membedakan rasa asam dan manis.
  • Bulan kesembilan; fisik janin bayi telah terbentuk sempurna. Janin tumbuh setiap minggunya kurang lebih 225 gram. Lapisan lemak tebal tumbuh di bawah kulit janin. Janin pun siap lahir kapan saja.
Proses perkembangan bayi dari bulan pertama sampai saat melahirkan dijelaskan secara rinci di dalam Al-Qur’an Surah al-Hajj [22]: 5 dan Surah al-Mu’minun [23]: 12-14, sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡٔٗاۚ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۢ بَهِيجٖ ٥

Artinya: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al-Hajj [22]: 5)

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ ١٢  ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةٗ فِي قَرَارٖ مَّكِينٖ ١٣ ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٤

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. AJ-Mu’minun [23]: 12 - 14)

Setelah mengetahui proses perkembangan bayi sejak bulan pertama sampai ketika melahirkan, kira-kira apakah yang harus dilakukan oleh ibu dan bapak? Pertanyaan ini mungkin terdengar sangat sederhana, akan tetapi mengandung maksud sangat penting dalam membentuk generasi yang sholeh dan cerdas. Ada beberapa kisah yang menceritakan betapa para ulama besar ternyata dilahirkan dari kedua pasangan ibu dan bapak yang sholeh dan sholehah.

Alkisah ada seorang ibu yang sholehah tengah mengandung. Selama mengandung anaknya itu, sang ibu selalu berpuasa dari waktu ke waktu, bulan demi bulan, sampai bayinya lahir. Bayi laki-laki mungil yang lahir itu kemudian menjadi ulama besar dan pernah menjadi imam besar di Masjidil Haram di zamannya. Karya tulis ulama besar itu sangat banyak. Siapakah beliau yang merupakan putra asli daerah Tanara, Banten, itu? Benar sekali, beliau tidak lain adalah Syekh Nawawi al-Bantani.

Ada pula kisah menarik tentang seorang bapak yang sholeh. Suatu ketika beliau berjalan melewati pinggiran sungai. Saat itu beliau tengah berpuasa. Ketika hendak berbuka puasa, beliau mendapati sebuah apel hanyut terbawa air sungai. Diraihnya apel tersebut, lalu dimakannya. Ketika apel tersebut baru separuh dimakan, beliau tersadar bahwa buah itu bukanlah miliknya meski telah hanyut terbawa arus sungai. Untuk mengetahui siapa pemilik apel tersebut, beliau menyusuri bantaran sungai hingga sampailah di sebuah kebun apel. Kepada pemilik kebun apel, beliau memohon agar dihalalkan separuh apel yang terlanjur ditelannya. Kelak, seorang bapak yang sholeh itu memiliki anak yang menjadi seorang ulama besar dan tokoh sufi yang amat terkenal. Anak beliau tidak lain adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Bagaimana dengan kita, apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua manakala tanda-tanda kehamilan sudah tiba?

Hal yang paling utama untuk kita lakukan adalah bertakwa kepada Allah SWT, dimulai dari hal yang paling sederhana. Sang calon ibu dan calon bapak harus menjaga perbuatan dengan hanya melakukan yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan untuk bayinya. Kedua calon orangtua harus berupaya menjauhkan diri dari perbuatan yang akan merugikan diri mereka, terlebih lagi apabila sampai merugikan orang banyak. Selain itu, kedua calon orangtua wajib melaksanakan segala perintah Allah SWT dan berupaya sekuat tenaga untuk menjauhi apa-apa yang dilarang Allah SWT.

Baca juga
Pengertian taqwa yang sebenarnya menurut syariat islam dan macamnya
Janji-janji Allah SWT bagi orang yang bertaqwa
Arti hakikat dan contoh orang yang taqwa

Selama masa-masa kehamilan kedua orangtua selayaknya banyak melakukan riyadhah (menjaga konsistensi dalam beribadah) sesuai dengan kemampuan masing-masing. Misalkan sang ibu membaca Al-Qur’an setiap hari, berzikir serta berdoa. Hal ini akan memberikan pengaruh yang positif kepada janin yang dikandungnya.

Sang calon bapak pun demikian, harus banyak berzikir dan berdoa. Selain itu, ketika mencari nafkah, ia harus mencarinya dengan jalan yang halal dan bersih. Sebab, makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh kedua orangtua akan berpengaruh terhadap janin yang dikandung oleh sang ibu.

Contoh paling umum adalah apa yang terjadi di sekitar kita saat ini. Banyak orang di antara kita kini yang masa bodoh, bahkan biasa saja menghadapi kerusakan moral yang dialami diri, keluarga, maupun orang-orang terdekatnya. Banyak orang yang tidak lagi amanah, atau tidak dapat dipercaya. Banyak sekali orang yang mudah terpengaruh oleh gaya hidup materialistis, di mana yang dipikirkan hanyalah bagaimana mendapatkan harta banyak tanpa memedulikan halal dan haramnya. Jadilah bangsa kita saat ini telah mengalami kerusakan mental dan moral yang amat parah. Korupsi tidak lagi dilakukan secara sendiri-sendiri atau sembunyi-sembunyi, tetapi sudah dilakukan secara berjamaah dan terang-terangan.

Baca juga
Pujian atas perilaku amanah, kejujuran dan menepati janji
Pengertian amanah dan wajibnya menjaga berperilaku amanah
Cara mencegah keinginan atau syahwat korupsi
Dosa menyuap dan korupsi dalam ajaran Islam
Cara Islam dalam memberantas korupsi

Kalangan birokrasi pemerintahan, baik mulai tingkat pejabat sampai bawahan, banyak yang tidak peduli lagi terhadap pelayanan publik. Mereka tidak lagi melayani masyarakat secara tulus, tetapi demi fulus.

Pelajaran terpenting bagi kedua orangtua selama menunggu kelahiran anak agar keturunannya dapat menjadi keturunan yang baik dan bermanfaat, serta menjadi generasi yang sholeh dan sholehah, adalah dengan berupaya selalu mendekatkan diri dan bertakwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jadi, mengharapkan anak sholeh dan sholehah tidak dimulai setelah seorang anak dilahirkan, bahkan jauh sebelum itu.

Monday, December 19, 2016

Kriteria Islam: Calon Pasangan yang Serasi, Berpotensi

Kriteria Islam: Calon Pasangan yang Serasi, Berpotensi

Hal yang penting sekali untuk diperhatikan bagi para generasi muda yang ingin melangsungkan pernikahan agar mencari calon pasangan yang serasi menurut ajaran dan pandangan Islam. Islam menganjurkan agar dalam mencari calon pasangan yang serasi janganlah hanya sekedar mempertimbangkan kecantikan atau ketampanan dari calon pasangan, namun yang lebih utama adalah memperhatikan potensi positif yang dimiliki oleh calon istri maupun calon suami.

Di dalam tradisi adat Jawa, terdapat anjuran dalam mencari calon pasangan dengan mempertimbangkan bibit, bebet, dan bobot namun dalam ajaran Islam memberikan alternatif pemilihan yang sangat luar biasa seperti yang diucapkan oleh lisan Nabi Muhammad SAW, yaitu:

“Seorang perempuan dinikahi karena empat hal, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung. ” (HR. Muttafaqun alaih)

Landasan pernikahan karena harta

Apabila ada seorang calon suami atau istri yang menikah hanya demi mengincar dan menjadikan harta pasangannya sebagai tujuan, maka nantinya mereka hanya akan diperbudak oleh harta. Hal ini dikarenakan tujuan awal pernikahan adalah demi untuk mendapatkan harta, maka kebahagiaan yang hakiki tidak mungkin tercapai dalam rumah tangga mereka. Sebaliknya, mereka akan lebih sering diliputi rasa khawatir dan gelisah akan kehilangan harta. Kemungkinan pula yang akan terjadi adalah, setelah harta tersebut habis, si suami atau pun istri akan meninggalkan pasangannya dan mencari mangsa yang lain. Sifat harta tidaklah kekal. Seiring dengan berjalannya waktu, harta akan habis, apalagi jika tidak pandai-pandai memanfaatkannya.

Landasan Pernikahan karena keturunan atau nasab

Menikahi perempuan dengan hanya mempertimbangkan nasab pun tidak kalah problematik. Ketiadaseimbangan dalam status dan derajat sosial akan melahirkan problem dan masalah besar. Suatu contoh keluarga dari calon istri berasal dari kalangan pejabata atau golongan ningrat, sementara dari calon suami hanya berasal dari keluarga yang biasa, maka bisa jadi sang calon suami kelak hanya akan menjadi budak istrinya, tidak diperhatikan oleh mertua, atau bahkan merasa rendah diri. Begitu pun jika sebaliknya. Dengan begitu, sulit kiranya tercipta sebuah kebahagiaan hakiki dalam rumah tangga. Terlebih apabila si calon suami ternyata tidak mempunyai kemandirian yang baik.

Landasan pernikahan karena ketampanan dan kecantikan

Hal yang sama juga akan terjadi apabila landasan pernikahan hanya sebatas melihat dari segi tampang (ketampanan atau kecantikan dari calon pasangan). Lelaki maupun perempuan yang menikah hanya karena mempertimbangan tampang ketampanan atau kecantikan, maka pasangannya akan mudah disulut oleh api cemburu setiap saat.

Apalagi, apabila sang istri atau suami lebih banyak menghabiskan waktu bekerja di luar rumah. Maka, ketenangan dalam rumah tangga akan sirna dan berganti dengan rasa khawatir. Baik suami maupun istri masing-masing akan merasa was-was, jangan-jangan pasangannya selingkuh. Bahkan ada yang mengorbankan akidah hanya demi mengejar ketampanan ataupun kecantikan pasangannya. Padahal tampang kecantikan maupun ketampanan hanyalah bersifat sementara, dan akan hilang dan pudar ketika datang masa tua. Demikianlah, rumah tangga yang dibangun hanya atas dasar tampang ketampanan dan kecantikan tidak akan melahirkan kebahagiaan sejati.

Landangan memilih pasangan atas dasar agama

Akan tetapi berbeda keadaannya dengan semua itu adalah apabila dalam memilih pasangan berlandaskan atau atas dasar agama, maka dapat dipastikan akan membawa kebahagiaan yang hakiki dan sejati dalam rumah tangga. Mengapa demikian? Hal ini karena, suami maupun istri yang memahami, mengerti dan mengamalkan agama dengan baik akan mudah mengatur kehidupan rumah tangganya. Seorang suami yang mempunyai istri sholehah tidak susah payah lagi mengajari bagaimana tata cara ibadah, tata cara mengolah rumah tangga, dan sebagainya. Sehingga sang suami hanya tinggal mengarahkan saja.

Rumah tangga yang dibangun tidak atas dasar agama

Sering kali kita menjumpai kondisi di masyarakat, terdapat rumah tangga di mana sang istri ataupun sang suami tidak mengerti agama sama sekali, termasuk tata cara beribadah. Sudah begitu, mereka juga tidak mau belajar. Akibatnya, dalam rumah tangga mereka diliputi berbagai masalah, mulai dari yang kecil sampai hal yang besar.

Suatu contohnya, mereka kurang peduli dengan kesucian, terutama dari hadas besar. Setelah mereka melaksanakan hubungan badan atau berjimak, dikarenakan sang istri dan suami sama-sama tidak mengerti hukum mengenai mandi besar (wajib), mereka menggantinya dengan mandi biasa. Bagi mereka, yang penting seluruh tubuh terguyur air. Padahal yang benar adalah meratakan air ke seluruh tubuh dan membersihkan setiap lipatan kulit, termasuk membersihkan lubang-lubang yang ada pada tubuh, baik itu lubang mata, telinga, hidung, mulut, lubang depan (kubul) dan lubang belakang (dubur). Jika bersuci saja tidak benar, tentu ibadah yang mereka lakukan akan rusak dan bahkan tidak sah.

Selain itu, istri dan suami yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai dan pemahaman agama, kemungkinan besar kehidupan rumah tangga mereka jarang diisi oleh ibadah. Sekalipun mengerjakan ibadah, mereka kerap bermalas-malasan. Bahkan yang jadi masalah besar, ibadah yang mereka lakukan hanya akan berbuah kesia-siaan dikarenakan mereka tidak mengetahui ilmunya.

Rumah tangga yang dibangun atas dasar agama 

Pernikahan dan Rumah tangga yang dibangun atas dasar agama, dengan menikahi calon pasangan yang mengerti ilmu agama akan membuat pengaturan rumah tangga semakin mudah. Seorang suami tidak akan kesulitan mengatur rumah tangganya, bahkan sang istri bisa saja membantu mengajari suaminya dalam hal-hal yang tidak ia mengerti. Namun harus diingat, kriteria pasangan yang memeluk agama sebagaimana dimaksud dalam Hadits adalah para perempuan Muslim yang memang memahami ajaran Islam dengan baik, bukan sekadar identitas keislaman dalam KTP-nya saja.

Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah perempuan yang sholehah.” (HR. Muslim)

Perempuan sholehah adalah perempuan yang memahami, mengerti, serta mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan taat dalam melaksanakan ajaran Islam, tidak harus cantik namun enak dipandang mata, murah senyum, dan selalu dapat membahagiakan sang suami. Orientasi kehidupan dari wanita sholehah adalah pengabdian. Mereka hidup untuk mendampingi sang suami di kala senang maupun susah. Mereka selalu berupaya membahagiakan dan menghibur suaminya di kala mendapat kesulitan, dan mengingatkan untuk bersyukur di kala mendapatkan nikmat.
Hikmah Dosa, Sadar akan Status yang Sama

Hikmah Dosa, Sadar akan Status yang Sama

Hikmah yang Ketigapuluh dari hikmah-hikmah adanya perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan oleh manusia adalah bahwa apabila seseorang terjatuh ke dalam dosa, maka ia mengakui bahwa dirinya sama dengan rekan-rekannya yang berdosa atau berbuat maksiat.
Mereka sadar bahwa musibah mereka sama dan bahwa semua butuh kepada ampunan dan rahmat Allah SWT. Sebagaimana ia bahagia kalau saudaranya sesama muslim mendoakannya, ia juga seharusnya mendoakan saudaranya. Ia senantiasa berdoa,
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, ibu bapakku, dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat dan kaum mukminin dan mukminat!"

Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa setiap orang dianjurkan membaca doa ini tujuh puluh kali setiap hari, menjadikannya wirid yang tidak dilewatkannya. Ada seorang Syekh menyebutkan doa ini. Katanya doa ini punya keutamaan yang besar, cuma penulis tidak mengingatnya. Bisa jadi doa ini adalah salah satu dari wiridnya yang tak pernah ditinggalkan. Salah satunya beliau berkata, "Membaca doa ini (ketika duduk) di antara dua sujud boleh."

Apabila seorang hamba mengakui bahwa rekan-rekannya tertimpa musibah yang sama dengan musibah yang menimpanya, membutuhkan apa yang dibutuhkannya, maka dia tidak akan enggan membantu mereka, kecuali jika dia teramat bodoh sehingga tidak tahu kebutuhannya akan ampunan dan karunia Allah SWT. Orang seperti ini pantas kalau tidak mendapat pertolongan-Nya, sebab ganjaran sepadan dengan amal. Seorang salaf berkata bahwa Allah SWT menyalahkan malaikat akibat mereka mengatakan,

"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?" (al-Baqarah: 30)

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"

Maka, Dia menguji Harut dan Marut dengan dosa, setelah itu malaikat beristighfar untuk anak cucu Adam dan mendoakan mereka.

Friday, December 16, 2016

Rahmat Allah Senantiasa Mengingatkan Ibadah dan Dosa

Rahmat Allah Senantiasa Mengingatkan Ibadah dan Dosa

Apabila Allah SWT menghendaki kebaikan untuk hamba-hamba-Nya, Maka Allah SWT akan membuat hamba-Nya tersebut lupa akan ibadah yang telah dikerjakannya. Allah SWT akan menghapus ingatan tentang itu dari hati dan lidah mereka. 

Dan apabila manusia diuji dengan dosa, mereka meletakkan dosa itu di depan matanya. Mereka mengingatnya terus-menerus. Mereka lupa akan ibadah-ibadahnya, dan seluruh pikirannya dipenuhi ingatan akan dosa-dosanya. Dosanya terus di depan mata saat duduk, berdiri, dan ke mana pun dia pergi.

Ini merupakan bentuk rahmat-Nya kepada hamba tersebut, seperti yang disinggung oleh  seorang  ulama  salaf, "Seorang  hamba melakukan dosa  tapi menyebabkannya masuk surga, dan melakukan kebaikan tapi malah menyebabkannya masuk neraka." la ditanya, "Apa maksud Anda?" Jawabnya, "Dia melakukan kesalahan, lalu terus diingatnya. Setiap kali dia mengingatnya dia menangis, menyesal, tobat, istighfar, dan merendahkan diri di hadapan-Nya, lalu dia melakukan kebaikan-kebaikan untuk menebusnya.

Sehingga, kesalahan itu menjadi sebab datangnya rahmat baginya. Tapi orang yang lain melakukan kebaikan, lalu terus diingatnya. Dia membanggakannya di hadapan Tuhan dan makhluk, dan dia heran bagaimana orang seperti dia yang banyak kebaikannya tidak dimuliakan dan dihormati manusia. Hal-hal itu terus menguat pada dirinya sehingga mengantarkan orang itu masuk ke neraka."

Jadi, tanda kebahagiaan adalah kalau seorang hamba meletakkan kebaikan di belakang punggungnya, dan meletakkan keburukan di depan matanya. Dan, tanda kesengsaraan adalah kalau seorang hamba meletakkan kebaikan-kebaikannya di pelupuk mata dan keburukannya di belakang punggung. Wallahul musta'an.