Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Warisan Rasulullah. Show all posts
Showing posts with label Warisan Rasulullah. Show all posts

Tuesday, March 11, 2014

no image

Silaturahmi Menyambung Tali dengan Allah

Kata silaturahim atau silaturahmi mempunyai makna yang besar dalam islam. Silaturahmi sangat dianjurkan dalam islam silaturahim dan sebaliknya memutuskan hubungan silaturahmi adalah sangat ditentang dalam islam. Berikut ini adalah pemaparan tentang silaturahmi dalam ajaran dan aturan islam berdasarkan dalil dari firman Allah dan hadits Nabi Muhammad saw.

Perhatikan bait-bait silaturahmi dalam ajaran islam berikut ini:

Jalin silaturahmi  dan maafkan orang yang ingin memutuskan silaturahmi kepadamu. Kamu dapat melakukan itu semua hanya dengan akhlak yang mulia. Dan ketiga, maafkanlah terhadap orang-orang yang terang-terangan melakukan kezhaliman kepadamu.

Arti bait nazham di atas adalah bahwa : anjuran menjalin silaturahmi dan memaafkan orang yang ingin memutuskan silaturahmi dan mengharamkan pemberian kepadamu. Akan tetapi dalam melakukan itu harus diiringi dengan sifat kasih sayang dan merasa cukup dengan apa yang dia dapat.

Berkenaan dengan sifat kasih sayang ini didasari dalil firman Allah, "Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (al-Qashash [28] :73)

Sedangkan sikap merasa cukup dengan apa yang dia dapat berdasarkan dalil firman Allah, "Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan." (an-Nahl [16]:81)

Bait nazham silaturahmi atau silaturahim di atas, didasari dengan dalil hadist nabi, "Ada tiga perkara barangsiapa yang memilikinya maka dia telah mengumpulkan akhlak-akhlak yang mulia: kamu menjalin silaturahmi kepada orang yang memutuskan silaturahmi kepadamu, memberikan orang yang mengharamkan pemberian kepadamu dan memaafkan orang yang melakukan kezhaliman kepadamu.

Hadits Nabi, diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda, apakah kamu ingin aku tunjukkan sebaik-baiknya akhlak di dunia dan akhirat? Kamu menjalin silaturahmi kepada orang yang memutuskan silaturahmi kepadamu, memberikan orang yang mengharamkan pemberian kepadamu dan memaafkan orang yang melakukan kezhaliman kepadamu." (HR.Thabrani)

Hadits Nabi, diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Ada tiga perkara, barangsiapa yang melakukan itu maka dia akan dihisab oleh Allah dengan penghisaban yang mudah dan memasukkannya ke surga sebab sifat kasih sayangNya: kamu menjalin silaturahmi kepada orang yang memutuskan silaturahmi kepadamu, memberikan orang yang mengharamkan pemberian kepadamu dan memaafkan orang yang melakukan kezhaliman kepadamu." (HR. Hakim)

Dalil Allah dalam Al Qur'an, Allah berfirman, "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf (kebaikan), serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh." (al-A’raaf [7):199)

"Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (an-Nisaa [4]: 1) Artinya: Jalinlah silaturahmi dan jangan memutuskannya.

Dalil firman Allah yang lain "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (an-Nuur [24]:22)

Hadits, Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki keluarga yang aku selalu berusaha menjalin silaturahmi kepadanya tetapi mereka memutuskan silaturahmi kepadaku, aku berbuat baik kepadanya tetapi mereka melakukan kejahatan kepadaku dan aku menyantuninya tetapi mereka membodohi aku?” beliau berkata, "Apabila kamu seperti yang kamu katakan, maka seakan-akan kamu memberi mereka makanan kerikil yang panas. Sesungguhnya kamu akan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah selama kamu seperti itu." (HR. Muslim)

Arti dari "Seakan-akan kamu memberi mereka makanan kerikil yang panas." adalah balasan yang diberikan kepada mereka, sebab perbuatan kejahatan yang mereka lakukan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Rasulullah bersabda, “Allah berkata kepada rahim, 'Barangsiapa yang menyambungmu maka Aku akan sambungkan antara dia denganKu dan barangsiapa yang memutuskanmu maka aku akan memutuskan antara dia dengan Aku." (HR. Bukhari)

Diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu'anha, Rasulullah berkata, "Rahim bergantung di arsy, dia berkata, 'Barangsiapa yang menyambungiku maka Allah akan menyambungkannya dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskannya.'" (HR.Bukhari-Muslim)

Diriwayatkan oleh Ummi Kultsum bin Uqbah radhiallahu'anha, Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah kepada orang yang memusuhinya." (HR. Ibn Huzaimah)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, "Demi Zat yang diriku ada padaNya, Allah tidak akan menerima sedekah dari seorang yang memiliki keluarga yang membutuhkan silaturahmi dengannya (agar menerima sedekahnya), tetapi dia memberikan sedekah itu kepada orang lain. Demi Zat yang diriku ada padaNya, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat." (HR. Thabrani)
loading...

Tuesday, December 24, 2013

no image

Nasihat Nabi: Sangat Berwibawa dan Berbekas

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Al-'Irbadh bin Sariyah, bahwa ia berkata: Rasulullah saw. menasihati kami dengan nasihat yang mem­bakar kulit, yang mengalirkan airmata, dan menggetarkan hati. Maka, kami berkata, "Seakan-akan nasihat ini adalah nasihat per­pisahan, wahai Rasulullah. Maka, pesan apakah yang akan engkau berikan buat kami?" Lalu Rasulullah bersabda, "Agar kalian ber­takwa kepada Allah, mengikuti sunnahku, sunnah para khalifah yang telah mendapat petunjuk dan memberi petunjuk setelahku, dan hendaklah kalian berpegang teguh kepadanya, karena sesung­guhnya setiap bid'ah adalah sesat".

Dikatakan dalam Al-Musnad dan Shahih Muslim dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pada suatu hari membaca ayat ini di atas mimbar, "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung de­ngan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan". (Q.S. 39:67). Dan Rasulullah saw. membacakan ayat ini sambil menggerakkan tangannya. Lalu membelakang: Tuhan sendiri mengagungkan diri-Nya, 'Aku Yang Maha Kuasa, Aku Yang Memiliki Segala Keagungan, Aku Raja, Aku Yang Maha Perkasa, Aku Yang Maha Pemurah'. Maka Ra­sulullah saw. bergetar yang tampak pada mimbar, sehingga kami berkata, apakah Rasulullah saw. akan terjatuh?

Tidaklah seorang da'i akan mempunyai wibawa dan pengaruh seperti ini, kecuali jika ia mempunyai sifat yang tulus, berhati halus, berjiwa khusyu', berkepribadian suci. Jika tidak demikian, maka tanggung jawab adalah sangat besar di hadapan Tuhan Se­mesta Alam.

Ibnu Abi 'd-Dunya dari Malik bin Ibnu Dinar dari Al-Hasan ra. dia berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah seorang hamba me­nyampaikan suatu khutbah kecuali Allah akan bertanya kepada­nya pada hari kiamat, apa yang ia inginkan dengan khutbahnya itu?" Malik, jika membaca hadits ini ia menangis dan berkata, "Kalian mengira bahwa mataku bening (senang hati) dengan me­nyampaikan perkataan pada kalian, dan aku tahu bahwa Allah 'Azza wa Jalla akan bertanya kepadaku pada hari kiamat, apa yang kamu kehendaki dengan perkataanmu itu? Maka aku berkata, "Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas hatiku, jika seandainya aku belum tahu bahwasanya ia adalah yang paling Engkau cintai tidaklah akan aku bacakan (hadits itu) pada dua orang".

Karenanya, sangat besar bedanya antara da'i yang berkata dengan perkataan yang dibuat-buat agar menarik perhatian kha­layak, dengan da'i lain yang Mukmin, tulus, hatinya dipenuhi iman dan Islam, berbicara dari hatinya, dengan segala kepedihan dan kepiluan hati jika ia dihadapkan pada situasi kaum Muslimin! Maka, tidak diragukan bahwa pengaruh da'i yang kedua ini lebih besar, lebih kuat, dan lebih cepat mendapatkan tanggapan.

Umar bin Dzar berkata kepada ayahnya, "Wahai bapakku, kenapa jika engkau berkata-kata suka membuat khalayak me­nangis, dan jika orang lain berkata-kata, ia tidak membuat kha­layak menangis?" Maka sang ayah menjawab, "Wahai anakku, tidaklah sama antara ratapan orang yang kehilangan anak dengan ratapan orang upahan".

Abu Daud meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ صَرْفَ الْكَلاَمِ لِيَسْبِيَ بِهِ قُلُوْبَ الرِّجَالِ لَمْ يَثْبَلِ اﷲَ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صِرْفًا وَلاَ عَدْلاً٠

"Barangsiapa belajar ilmu teknik berbicara untuk menawan hati khalayak, maka Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan pada hari kiamat".
loading...

Saturday, November 30, 2013

no image

Pendidikan Keteladanan dari Nabi Muhammad dan Sahabat Nabi

Bertumpu dari kecintaan para sahabat nabi kepada Akhlak Nabi Muhammad SAW yang sangat mulia, para sahabat mencontoh Rasulullah saw. karena mereka menemukan pada diri beliau terdapat teladan yang luhur dalam hal ibadah dan akhlak, serta berperilaku sesama manusia. Demikianlah teladan yang baik sangat berpengaruh pada jiwa, meninggalkan bekas yang baik dalam pem­bentukan, pendidikan dan persiapan.

Dan barangsiapa yang ingin mengetahui sedikit tentang bagaimana para sahabat Nabi bercermin kepada Nabi Muhammad dan mengikuti jejaknya, hendaknya membuka lembaran sejarah, menelusuri perjalanan hidup mereka.

Cukuplah bagi mereka untuk berbangga, karena Al-Qur'an telah mencatat kebenaran mereka tentang Nabi Muhammad dan para sahabat Nabi dalam ayat-ayat Al-Qur'an berikut ini:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (Q.S. 48:29)

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). (Q.S. 51: 17-18)

Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (Q.S. 48:29)

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada me­reka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Mu­hajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. (Q.S. 59:9)

Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang me­nepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Q.S. 33:23)

Ayat-ayat Al-Qur'an di atas hanya sebagian ayat yang menjelaskan sikap para sahabat Nabi yang mulia, sebagian dari pujian tulus dari Allah swt. Dan bersama mereka itu, telah terciptakan masyarakat utama yang menjadi impian dan dambaan para ahli pikir dan filsafat sejak masa yang lalu. Bagaimana tidak akan tercipta, sedang bersama mereka duduk seorang qadhi selama dua tahun, tak seorang pun yang mengajukan perselisihan kepadanya. Dan bagaimana pula akan berselisih sedang mereka mempunyai Al-Qur'an? Dan kenapa mereka harus bertikai, sedang mereka mencintai saudaranya, seperti mereka mencintai diri mereka sendiri? Mengapa mereka harus saling bermusuhan, sedang Rasulullah saw. menyuruh mereka untuk saling bersaudara dan cinta-mencintai, menganjur­kan untuk berkasih sayang dan mementingkan orang lain sebelum mementingkan diri mereka sendiri?

Di bawah ini adalah apa yang diucapkan seorang sahabat mulia, Abdullah bin Mas'ud, semoga Allah melimpahkan ridha kepadanya, tentang keharusan kita mengikuti jejak para sahabat nabi yang terpuji, budi pekerti mereka yang mulia.

مَنْ كاَنَ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُوْلِ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ٬ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّهَذِهِ الاُمَّةَ قُلُوْبًا ٬ وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا٬وَأَقَلَّهَا تَكَلُّغًا ٬وَأَقَوَمَهَا هَدْيًا٬ وَأَحْسَنَهَا حَالاً ٠٠٠ اِخْتَارَهُمُ اﷲُ لِصُحُبَةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ٬ وَاِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ، وَاتَّبِعُوا فِيْ آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى المُسْتَقِيْمَ٠

Barang siapa yang mencari ikutan, maka hendaklah ia men­jadikan para sahabat Nabi Rasulullah saw. sebagai ikutan. Karena mereka adalah orang-orang yang paling berbaik hati dari umat ini, yang paling dalam ilmunya, yang paling sedikit keterpaksaannya, yang paling lurus petunjuknya dan paling baik ke­adaannya. Allah memilih mereka untuk menyertai Rasulullah saw. di dalam mendirikan agama-Nya. Maka kenalilah keuta­maan mereka. Ikutilah jejak mereka, karena mereka sesungguh­nya berada dalam jalan yang lurus.

Generasi Muslim pada setiap saat dan tempat, masih meman­dang sahabat Nabi Rasulullah saw. sebagai ikutan yang baik dalam ibadah, budi pekerti, keberanian, keteguhan, berkasih sayang, mendahulukan kepentingan orang lain, berjihad dan mencari mati syahid. Pemuda Islam masih menimba keutamaan mereka, ber­pedoman kepada cahaya kemuliaan mereka, dan menerapkan metode mereka dalam pendidikan, berjalan untuk membangun kemuliaan, karena mereka adalah sebaik-baik umat untuk di­ikuti.)

Dan benarlah apa yang diucapkan Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ad-Dailami:

أَصْحَابِيْ كاَلنُّجُوْمِ فَبِأَيِّهِمْ اِقْتَدَيْتُمْ اِهْتدَيْتُم٠

Sahabat-sahabatku adalah bagai bintang-bintang, kepada siapa pun di antara mereka kalian ikut, niscaya kalian mendapat petunjuk.)

Dari ikutan yang baik ini, yang terwujud dalam diri para sahabat Nabi Muhammad Rasulullah saw., dan para pengikutnya adalah baik, maka tersebarluaslah Islam ke seluruh pelosok dunia.

Sejarah mencatat dengan penuh kebanggaan dan kehebatan bahwa Islam sampai ke daratan India dan Sri Langka, ke kepulauan Laccadive dan Maldive di lautan India, ke Tibet dan pantai Cina, Pilipina, kepulauan Indonesia, semenanjung Malaysia, Afrika Tengah, seperti Senegal, Nigeria, Somalia, Tanzania, dan Madagaskar, Zanzibar dan negeri-negeri lainnya.

Islam sampai ke negeri-negeri ini dibawa oleh para pedagang Muslim, oleh para da'i jujur yang memberikan gambaran murni tentang Islam, baik dalam tingkah laku dan kejujuran mereka, kebenaran dalam berkata, dan menepati jika berjanji. Kemudian, setelah itu mereka menuturkan kata-kata yang indah, nasihat yang baik, sehingga berduyun-duyunlah orang-orang masuk Islam. Mereka beriman dengan agama baru berdasarkan ketulusan hati dan keinginan mereka sendiri. Jika para pedagang tersebut tidak berakhlak mulia, dan tidak memberikan contoh yang baik di hadapan orang-orang tersebut secara jujur dan amanah, di samping perilaku mereka yang lembut dan menyenangkan hati — meski mereka adalah orang asing — maka khalayak tidak akan memeluk agama yang mereka bawa. Tidak akan ada jutaan, bahkan ratusan juta orang yang mau mengikuti petunjuk mere­ka !!!!

Kesimpulan dari apa yang telah dipaparkan di atas, bahwa keutamaan akhlak yang dimanifestasikan dalam ikutan yang baik, keteladanan baik, adalah faktor terpenting dalam upaya memberi­kan pengaruh terhadap hati dan jiwa. Inilah faktor terpenting menyebarnya Islam ke negeri-negeri jauh, ke pelosok bumi, dan dalam memberikan petunjuk kepada manusia untuk mencapai iman dan menelusuri jalan Islam.

Teramat layak bagi generasi Muslim masa kini, laki-laki, wanita, tua, muda, besar dan kecil, untuk memahami hakekat kebenaran ini, di samping memberikan kepada orang lain suatu contoh yang baik, akhlak mulia, perilaku yang baik, sifat-sifat Islami yang terpuji, sehingga mereka menjadi purnama petunjuk, matahari penerang, penyeru kebaikan dan kebenaran, serta men­jadi sebab dalam tersebarnya risalah Islam yang abadi.)

Karenanya, haruslah ada teladan yang baik, demi berhasil­nya pendidikan dan tersebarnya ideologi. Harus ada contoh yang baik, yang menarik perhatian. Harus ada akhlak utama yang dianut oleh masyarakat, dan meninggalkan untuk generasi berikut­nya bekas yang baik.

Dari sini, Nabi Muhammad Rasulullah saw. sangat memperhatikan agar para pendidik selalu tampil di depan anak didiknya dengan penampilan yang bisa dijadikan sebagai teladan yang baik, dalam segala hal. Sehingga, anak didik sejak usia pertumbuhannya bisa tumbuh dalam kebaikan, sejak kecil sudah mengenal akhlak yang luhur.
loading...

Thursday, September 19, 2013

no image

Amal-amal Apakah yang Paling Baik?

Dari Abu Hurairah ra disebutkan bahwa Rasulullah saw ditanya, "Amal-amal apakah yang paling baik?" Maka beliau menjawab, yaitu amal"Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Kemudian beliau ditanya lagi, "Lalu apa?" Beliau menjawab, "Jihad dijalan Allah." Selanjutnya beliau ditanya lagi, "Setelah itu apa?" Beliau menjawab, "Haji mabrur.[ Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 26,1501), Muslim (nomor 209).]"
 
Di dalam hadits ini terdapat beberapa masalah:
 
Pertama: Rasulullah saw menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya dengan jawaban yang berbeda-beda. Kaidah dalam hal ini adalah bahwa beliau memberikan jawaban terhadap orang-orang yang berbeda dan dalam kondisi-kondisi yang berbeda pula karena beliau seorang yang ma'shum. Allah berfirman, "Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan [kepadanya]." (QS. An-Najm : 3-4) Jadi, beliau mengetahui latar bela­kang si penanya dan apa yang dibutuhkan olehnya.
Suatu ketika seorang yang memiliki sifat emosional datang ke­pada Nabi lalu berkata kepada beliau, "Berilah pesan kepadaku." Nabi saw tidak berkata kepadanya, "Bersedekahlah engkau," karena ia tak memiliki harta yang dapat disedekahkannya. Melainkan beliau berkata kepadanya, "Janganlah engkau marah." Orang itu ber­kata lagi, "Berilah pesan kepadaku." Beliau kembali menjawab, "Ja­nganlah engkau marah." Orang itu lalu berkata lagi, "Berilah pesan kepadaku." Beliau tetap menjawab, "Janganlah engkau marah.[Diriwayatkan oleh al-Bukhari (nomor 5651), at-Tirmidzi (nomor 1943), Ahmad (nomor 8389).]" Nabi saw mengetahui bahwa orang itu memiliki sifat emosional sehingga obatnya adalah tidak marah.

Nabi saw juga pernah didatangi oleh seorang laki-laki lain se­bagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin Busr. Laki-laki itu bertanya, "Wahai Rasulullah, tunjukilah aku suatu amal yang dapat aku andalkan. Sesungguhnya syariat Islam itu terasa banyak bagiku." Apakah beliau akan berkata kepadanya, "Engkau harus berjihad dijalan Allah," padahal ia seorang yang telah tua yang tak dapat duduk dengan mantap di atas kuda atau unta? Tidak, melainkan beliau berkata kepadanya, "Lisanmu harus senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah.[ Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (nomor 3506), Ibn Majah (nomor 3876). Dipandang shahih oleh al-Albani dalam Takhrij al-Kalim ath-Thayyib (3).]" Ini lebih cocok baginya karena ia dapat berdzikir di setiap waktunya. Demikian pula pada orang-orang yang lain. Dan ini hanya dimiliki oleh beliau.

Kedua: Rasulullah saw ditanya dengan pertanyaan yang sama dalam hadits Ibn Mas'ud dan dalam hadits Abu Hurairah dengan jawaban yang berbeda. Di sini beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Sedangkan dalam hadits Ibn Mas'ud jawab­an beliau adalah, "Shalat di awal waktunya.[Telah disebutkan takhrij-nya.]" Dalam memberikan jawaban, beliau memperhatikan keadaan orang-orang yang ber­bicara dengan beliau sebagaimana yang telah disebutkan.

Ketiga: Amal itu tergantung keberadaan iman. Tanpa adanya iman maka amal tak akan diterima. Barangkali di dalam majelis saat beliau menyebutkan hadits tersebut terdapat orang yang belum siap imannya, atau mungkin di tempat itu ada sebagian Muslimin yang baru masuk Islam. Maka beliau memberitahukan mereka bahwa tak ada amal, tak ada penerimaan, tak ada jihad, dan tak ada haji kecuali dengan iman.

Keempat: Beliau mengutamakan jihad dibandingkan haji karena di dalam jihad terdapat manfaat bagi orang lain, meskipun jihad di jalan Allah bukan merupakan rukun Islam menurut jumhur ulama. Beliau mendahulukan jihad, karena orang yang berjihad dijalan Allah meninggikan panji Allah, memelihara wilayah Muslimin, dan menghadapi orang-orang kafir. Sedangkan dalam ibadah haji, seseorang hanya berhaji untuk dirinya sendiri.

Kelima: Keyakinan di dalam hati juga merupakan amal. Karena, ketika beliau ditanya, "Amal apa yang paling utama?" beliau men­jelaskan bahwa iman adalah amal yang paling utama sedangkan ia merupakan keyakinan di dalam hati.
loading...

Wednesday, September 18, 2013

no image

Keutamaan Mengucapkan dan Memberi Salam Lebih Dulu

Dari Abu Umamah dengan sanad hasan disebutkan, "Sesung­guhnya orang yang paling dekat dengan Allah adalah yang mulai memberikan salam di antara mereka. [Di-takhrij-kan oleh Abu Daud (nomor 5192).]"Dalam hadits Abu Ayyub disebutkan, "Tidak halal seorang Muslim meninggalkan saudaranya (sesama Muslim) lebih dari tiga hari dimana ketika keduanya bertemu masing-masing berpaling.

Yang lebih baik di antara ke­duanya adalah yang mulai memberi salam.[ Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 5936), Muslim (nomor 6484).]"

Jadi, Anda lebih baik daripada saudara Anda apabila Anda memulainya memberi salam, karena makna salam adalah kete­nangan, ketentraman, dan juga berarti: Jangan takut kepadaku. Ini adalah pernyataan keamanan bagi Anda.

Sedangkan salam kepada orang-orang yang telah mati, di dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi saw mengucapkan:
 
السَّلاَمُ عَلَيْكُم اهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ، وَاِنَّا اِنْ شَاءَ اَﷲُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ ، يَرْحَمُ اَﷲُ المُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَ مِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ

Salam sejahtera atas kalian, wahai kaum Mukmin penghuni tempat ini. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Semoga Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dan terkemudian dari kami dan dari kalian.[ Di-takhrij-kan oleh Muslim (nomor 2210), Ahmad (nomor 22603)]
'
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw lalu meng­ucapkan, '"Alaikas-salam, wahai Rasulullah." Beliau lalu mengata­kan, "Janganlah engkau mengucapkan 'alaikas-salam, karena itu salam penghormatan orang-orang mati.[ Di-takhrij-kan oleh Abu Daud (nomor 4084, 5204), Ahmad (nomor 15648). Di pandang Shahih oleh al-Arnauth dalam Zad al-Ma’ad (II / 420).]" Karenanya, penyair mengatakan:

Atasmu kesejahteraan dari Allah, wahai Qais bin 'Asim.
dan rahmat-Nya yang la ingin berikan

Adapun salam orang-orang yang masih hidup maka sebagai­mana yang telah disebutkan. Anda jangan mengucapkan kecuali ucapan as-salamu 'alaikum. Dalam menjawab salam, maka yang paling utama adalah menyebutkan huruf wa (kata wa di awal­nya) dengan mengatakan wa 'alaikumus-salam. Tetapi jika Anda tak menyebutkannya, maka tak apa-apa sebagaimana hal itu di­jelaskan oleh an-Nawawi dalam al-Adzkar.

Anda juga boleh mengucapkan salam kepada Ahlulkitab, tetapi dengan mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk.

Karena, Nabi saw menuliskan kalimat tersebut ketika mengi­rimkan surat kepada Heraclius.[ Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 7,2874).]

Anda boleh memberikan salam kepada suatu majelis yang di dalamnya bercampur antara kaum Muslim dan orang-orang kafir, yaitu dengan mengucapkan as-salamu 'alaikum, hal itu Anda tuju­kan (maksudkan) kepada kaum Muslim yang berada di situ.

Anda pun boleh memberikan salam kepada kaum wanita karena Nabi saw melakukan hal tersebut, dengan syarat tidak mengucap­kan salam dengan tangan Anda. Artinya, Anda tidak menyentuh tangan wanita tersebut (bersalaman dengannya) ketika mengucap­kan salam sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang. Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk kepada mereka, karena perbuatan itu adalah haram berdasarkan sabda Nabi saw, "Ditusuk­nya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum dari besi adalah lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tak halal baginya.[Diriwayatkan oleh ath_Thabarani dan al-Baihaqi. Para perawi ath-Thabarani adalah orang-orang tsiqah dan para perawi hadits shahih sebagaimana yang dikatakan oleh al-Mundziri dalam at-Targhib (nomor 2938). Lihat Majma’ az-Zawaid (nomor 8177).]"

Syarat lainnya adalah tidak adanya keraguan atau fitnah dan ini dapat diketahui dari indikasi-indikasi yang ada.

Anda juga dapat mengucapkan salam kepada anak-anak karena Nabi saw mengucapkan salam kepada mereka berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas. Ia mengatakan, "Aku melihat Nabi saw mengucapkan salam kepada anak-anak.[Diriwayatkan oleh Muslim (nomor 5617, 5619), Ahmad (nomor 12730).]" Ini termasuk sifat tawadhu' beliau.

Anda juga boleh mengucapkan salam kepada orang yang sedang shalat dan ia menjawab salam Anda dengan mengangkat tangan­nya sedikit ke atas sebagaimana hal tersebut terdapat dalam hadits.

Sedangkan mengenai orang yang sedang berhadats, terdapat hadits yang menyebutkan bahwa pernah seseorang mengucapkan salam kepada Rasulullah tetapi beliau tidak menjawabnya hingga beliau menuju ke dinding lalu beliau bertayamum dan menjawab salamnya. Kemudian beliau mengatakan, "Aku tidak suka menye­but nama Allah melainkan dalam keadaan suci.[ Di-takhrij-kan oleh Abu Daud (nomor 17), Ibn Hibban (nomor 780), Ahmad (nomor 18679), al-Baihaqi dalam as-Sunan (nomor 428), dan dipandang shahih oleh al-Albani dalam al-Irwa’ (nomor 54).]"

Ini adalah sebagian dari masalah-masalah tentang salam yang banyak jumlahnya. Barangsiapa yang ingin memperoleh tambah­an penjelasan silakan merujuk kepada kitab-kitab tentang dzikir dan kitab Zad al-Ma'ad karya Ibn al- Qayyim di mana ia memberi­kan penjelasan yang panjang lebar di sana.
loading...

Tuesday, September 17, 2013

no image

Ajaran Nabi: Kasih Sayang terhadap Anak-anak

Al-Bukhari menyebutkan dalam "Bab Kasih Sayang, Ciuman, dan Pelukan Orang Tua terhadap Anaknya", Anas ra mengatakan: Nabi saw mengambil Ibrahim lalu mengecup dan menciumnya.
Rasulullah saw adalah seperti apa yang dikatakan oleh Allah SWT, "Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi sekalian alam." (QS. al-Anbiya': 107)

Di antara kasih sayang beliau adalah beliau suka memeluk anak-anak, mengecup mereka, bercanda dengan mereka, dan membawa mereka. Karena, orang-orang Arab yang keras di masa itu tidak mau mengikutserta­kan anak-anak laki-laki dalam majelis-majelis mereka dan tidak mau membawa anak-anak perempuan di atas pundak mereka, bahkan mereka membunuh anak-anak perempuan.

Lalu ketika Rasulullah saw datang, beliau menjelaskan kepada mereka bahwa di antara kasih sayang seseorang adalah kasih sayang terhadap anak-anak. Karena itu, di antara hak keluarga dan anak - anak Anda terhadap diri Anda adalah Anda menyediakan waktu pada siang maupun malam hari bagi anak-anak Anda di mana Anda dapat memeluk mereka, mengecup mereka, dan bercanda dengan mereka karena mereka merindukan kehadiran Anda dan ingin bercengkerama bersama Anda. Dan inilah yang dilakukan oleh Nabi saw.

Tidak ada alasan bagi seseorang bahwa ia sibuk dengan tugas­nya atau pekerjaannya. Demi Allah, kesibukannya itu tidak sampai satu persen dari kesibukan Rasulullah dimana urusan-urusan umat berada di tangannya baik berjihad, mengatur, membuat strategi, memberikan fatwa, mengajar, berkhotbah, membina, mendidik, dan memberikan berbagai hal kepada manusia, serta memberikan petunjuk dan berdakwah kepada mereka. Meskipun demikian, beliau masih memiliki waktu untuk menyenangkan anak-anak dan bersenda gurau dengan mereka.

Beliau dianugerahi oleh Allah anak-anak perempuan yang lebih banyak daripada anak laki-laki. Anak laki-laki beliau tak ada yang berumur panjang; semuanya wafat di waktu kecil karena suatu hikmah yang Allah kehendaki. Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa di antara hikmahnya adalah bahwa beliau merupakan pe­nutup para nabi dan rasul, sehingga seandainya seorang anak laki-laki beliau tumbuh menjadi seorang pemuda, niscaya ia akan men­jadi seorang nabi, sedangkan Allah telah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi.

Nabi saw memperoleh anak dari Mariyah yang bernama Ibrahim. Ketika Ibrahim berusia dua tahun, beliau mendatanginya di rumah Mariyah, lalu mengambilnya, mengecupnya, menciumnya, memeluknya, dan bercanda dengannya. Pada suatu kali beliau dipanggil ke rumah Mariyah. Ada apa? Ternyata Ibrahim sedang berada dalam sakaratul maut. Ibrahim termasuk yang paling dicintai oleh beliau. Maka Allah ingin menjadikan cinta beliau murni hanya kepada Allah SWT.

Beliau datang di saat Ibrahim sedang berada dalam sakaratul maut. Beliau  mengambilnya lalu air mata beliau mengalir sehingga Abdurrahman bin ‘Auf bertanya kepada beliau, "Mengapa begini, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Wahai putra 'Auf, ini adalah kasih sayang.”

Kemudian beliau memeluk putranya dengan pelukan seorang yang akan melepas kepergiannya. Lihatlah kalimat-kalimat per­pisahan yang tulus dan hangat dari beliau, "Mata ini bercucuran, hati ini menangis, tetapi kita tak boleh mengatakan sesuatu kecuali yang disukai oleh Tuhan kita. Sungguh kami sangat bersedih ber­pisah denganmu, wahai Ibrahim.[ Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 1280), Muslim (nomor 5978)]"

Air mata bercucuran, hati menangis, dan kami bersedih berpisah denganmu, tetapi demi Allah, kami tak akan mengucapkan sesuatu kecuali yang diridhai oleh Allah. Karena itu, kami tak akan mem­benci qadha dan qadar. Allahlah yang telah memberi dan Allah pula yang mengambil.

Terdapat atsar tentang Daud as bahwa beliau memiliki anak sebelum Sulaiman as sejumlah 40 orang anak. Pada suatu ketika beliau melakukan shalat. Lalu Allah ingin mencobanya, menguji iman beliau, mengangkat derajatnya, memeriksa keyakinannya, dan melihat apakah beliau seorang yang suka bersyukur atau tidak. Ketika Daud mengucapkan salam dari shalatnya, beliau mendapati 40 anaknya telah meninggal semuanya. Lalu beliau berucap, "Cukuplah Allah bagiku dan Ia adalah sebaik-baik penolong. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un." Kemudian ia berdoa, "Ya Allah, gantilah untukku yang lebih baik daripada mereka." Maka Allah pun memberikannya Sulaiman.

Di dalam Shahih Muslim terdapat hadits dari Ummu Salamah, ia mengatakan, "Rasulullah saw bersabda, 'Barangsiapa yang men­dapat musibah kemudian mengucapkan:

اَللَّهُمَّ أَجِرْنِى فِي مُصِيْبَتِى وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini dan gan­tikanlah untukku yang lebih baik daripadanya, maka Allah akan menolongnya dalam menghadapi musibahnya dan menggantikan baginya yang lebih baik darinya.[ Di-takhrij-kan oleh Muslim (nomor 2076, 2077), Abu Daud (nomor 3121).'"

Maka ketika suaminya, Abu Salamah wafat, ia mengucapkan kalimat tersebut. Kemudian ia berkata, "Aku berbicara dalam hati, 'Siapakah kiranya orang yang lebih baik daripada Abu Salamah.'

Ternyata Allah menggantikan untukku dengan Rasulullah." Jadi, beliau kemudian menikahinya.''

Rasulullah adalah seorang yang paling penyayang. Suatu hari putri beliau, Zainab mengirim utusan menemui beliau untuk me­minta beliau hadir karena putranya telah menjelang wafat. Beliau yang ketika itu sedang sibuk menerima utusan mengatakan, "Kata­kanlah kepadanya, 'Milik Allahlah apa yang Ia ambil dan apa yang Ia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya ada ketentuannya.'" Lalu berkatalah Zainab, "Demi Allah, beliau harus datang karena ia (mak­sudnya dirinya sendiri) adalah putrinya dan sedang berada dalam musibah. Ia ingin disertai (ditemani) oleh beliau."

Penyair mengatakan:
Keluhan mesti ditujukan kepada kerabat
la akan membantu, menghibur, atau menaruh kasihan

Maka bangunlah Rasulullah bersama para sahabat dan pergi ke rumah putrinya itu. Beliau lalu mengambil anak itu (anak dari putrinya) sambil bersuara. Lalu beliau menangis hingga terdengar tangisannya. Maka bertanyalah Sa'd, "Apa ini, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ini adalah kasih sayang yang Allah jadikan di dalam hati orang-orang yang Ia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang.[ Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 5527, 6507, 7212), Muslim (nomor 2085).]"

Jadi, beliau adalah orang yang paling penyayang. Beliau ter­senyum di saat mesti tersenyum dan menangis di kala harus me­nangis. Allah menggambarkan beliau dengan firman-Nya, "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. al-Qalam: 4) Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud ayat itu adalah: Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas ajaran agama yang agung.

Perjalanan hidup beliau begitu agung dan sempurna. Maka barangsiapa yang ingin mendapatkan petunjuk, hendaklah ia me­neladaninya karena beliau seorang pembimbing yang tak pernah sesat selamanya.

Ketika datang penduduk Iraq untuk menunaikan haji, salah seorang dari mereka mendatangi Ibn Umar lalu berkata kepada­nya, "Aku telah membunuh lalat. Apa yang harus aku lakukan?" Ibn 'Umar bertanya, "Dari mana engkau?" Orang itu menjawab, "Dari Iraq."

Ibn Umar lalu berucap, "Subhanallah Wahai penduduk Iraq, kalian telah membunuh cucu Rasulullah dan sekarang engkau ber­tanya kepadaku tentang membunuh seekor lalat. Demi Allah, aku mendengar Rasulullah berkata tentang keduanya yakni al-Hasan dan al-Husain, "Mereka berdua adalah penyejuk mataku di dunia."[ Di-takhrij-kan oleh an-Nasa’i dalam al-Kubra (nomor 8437), Ahmad (nomor 5559, 5659, 5023), Ibn Hibban ( nomor 6855).] Para ulama mengatakan bahwa beliau menyerupakan kedua­nya dengan penyejuk mata karena beliau suka mengecup dan men­cium keduanya.

Ketika al-Aqra' bin Habis at-Tamimi mendatangi beliau dan melihat beliau mengecup al-Hasan yang ketika itu masih kecil, al- Aqra' berkata, "Demi Allah, sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, tetapi tak pernah aku mengecup seorang pun di antara mereka." Maka berkatalah Nabi saw, "Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tak akan disayangi.[ Diriwayatkan oleh al-Bukhari (nomor 5860), Muslim (5981).]"

Pada kesempatan lain ketika beliau sedang berada bersama seorang Arab pedalaman, beliau bertanya, "Apakah kalian suka mengecup anak-anak kalian?" Nabi saw bertanya demikian meski­pun beliau tahu bahwa mereka tak pernah mengecup anak-anak mereka. Lalu beliau berkata, "Apakah engkau mau Allah cabut kasih sayang dari hatimu?"[ Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 5861), Muslim (5980).]

Jadi, beliau memiliki keistimewaan berlaku sayang terhadap anak-anak, ramah terhadap mereka, dan suka mengecup mereka. Beliau adalah teladan bagi setiap orang yang mau mengikuti se­bagaimana telah disebutkan.
loading...

Wednesday, June 19, 2013

no image

Keinginan dan Keistimewaan Manusia

“Keinginan agar orang mengetahui keistimewaanmu, sebagai bukti bahwa engkau tidak jujur dalam ibadahmu."
 اِسْتِشْرَافُكَ اَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْ صِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِِدْقِكَ فِى عُبُوْدِيَّتِكَ٠  

Kekhususan (keistimewaan) yang dianugerahkan Allah untuk makhluk-Nya seperti manusia, adalah pemberian yang sangat khusus dalam ibadah berupa ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, hendaklah dijalankan hanya semata-mata mencari rida Allah. Apabila masih ada orang yang berilmu, beramal dan beribadah ingin diketahui atau dipuji orang, adalah satu bukti bahwa ibadah orang itu tidak benar, tidak jujur, dan berarti seorang hamba tidak menunjukkan kesungguhannya dalam melakukan ibadah kepada Allah swt. 

Orang inipun karena perasaan dan keinginannya itu tidak mempunyai rasa malu kepada Allah dan tidak bersyukur pada Allah atas pemberian keistimewaannya itu. 

Dalam salah satu kabar yang disebutkan bahwa Nabi Isa a.s. pernah bersabda: "Apabila engkau berpuasa, minyakilah rambutmu dan basahilah bibirmu. Sebab, apabila manusia melihatmu, mereka mengira engkau tidak berpuasa. Jika engkau bersedekah, berilah dengan tangan kananmu dan sembunyikanlah tangan kirimu. Apabila engkau tutuplah tabir rumahmu, sebab Allah swt telah membagi puji -pujian sebagaimana ia telah membagi rezeki." 

Para Hukama ditanya tentang tanda-tanda orang jujur, mereka menjawab, ialah yang menyembunyikan ketaatan agama mereka (tidak suka memamerkan amal ibadah). Siapa yang mau melihat kebaikan amal ibadahnya, maka janganlah ia mencampurkan kehendak lain dalam ibadahnya. 

Berkata pula Syekh Abdullah Al Qurasyi, "Siapa yang tidak puas dengan pemberian Allah, maka ia telah termasuk orang yang riya’ dengan perbuaian lain yang sama dengan itu. Demikian juga para hukama lainnya seperti Sahal Al Qurasy bahwa termasuk orang yang ghafil adalah mereka yang suka dikenal sesama manusia daripada dikenal oleh Allah. Abui Khair Aqta menjelaskan bahwa orang yang suka amal ibadahnya dikenal manusia, termasuklah dalam perbuatan riya'. Siapa pula yang ingin kekhususannya di ketahui orang, maka ia tergolong pendusta. 

Orang yang terkenal dan disanjung manusia, maka ia telah membelenggukan dirinya dalam kehidupan dan kebiasaan manusia. Sedangkan orang yang berharap rida Allah semata, maka Allah juga yang menentukan amal ibadahnya. 

Orang mukmin yang sebenarnya adalah lebih mengutamakan pandangan dan penilaian Allah kepadanya daripada penilaian sesama manusia. Allah swt mengisyaratkan dalam Al Qur'anul Karim surat Fusshilat ayat 53, "Apakah belum cukup Allah sswt yang menyaksikan (menilai) segala sesuatu yang kalian amalkan?" 

Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. berkata, "Ada orang yang beribadah di antara kalian, ia sangat merahasiakan dirinya, amal dan ilmunya. Apabila ia duduk bersama kaumnya (padahal ia orang beeilmu), tidak ada yang mengetahui keadaannya. Mereka menyembunyikan dirinya dari amal ibadah mereka, baik yang dapat dilihat atau dapat di dengar oleh manusia dalam ibadah-ibadah mereka." 

Syekh Ataillah mengemukakan:

 غَيِّبْْ نَظَرَ الْخَلْقِ اِلَيْكَ بِنَظَرِ اﷲِ اِلَيْكَ وَغِبْ عَنْ اِقْبَالِهِمْ عَلََيْكَ بِشُُهُوْدِ اِقْبَالِهِ عَلَيْكَ٠ 

“Jangan engkau tampakkan (gaibkan) pandangan manusia atas dirimu dengan (penutup) penglihatan Allah untukmu. Alihkan pula perhatian manusia kepadamu dengan persaksian Allah yang dihadapkan kepadamu." 

Hilangkan penglihatan manusia kepadamu, karena adanya perhatian yang di hadapkan Allah untukmu. Allah swt. telah memberikan perhatian kepada hamba-hamba-Nya, dengan memberi kenikmatan secara batiniyah dengan bermacam-macam ibadah, demikian juga lahiriyah dengan kebutuhan jasmani yang cukup. Perhatian Allah yang besar ini kepada para hamba janganlah membuat manusia lebih suka mendapat pujian dan sanjungan dari sesamanya daripada mengharapkan perhatian Allah, dengan cara melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan- Nya. Menghindarkan diri dari kemurkaan Allah dan mencari rida-Nya. 

Dalam beribadah, hendaklah para hamba lebih mementingkan penilaian Allah sendiri, dan menghindari kehendak untuk dmendapatkan popularitas di tengah manusia. Padahal selain Allah juga banyak memperhatikan kebutuhan lahir batin manusia, Allah swt tetap memperhatikan sikap terjang manusia, yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu manusia hendaknya lebih menitik beratkan perhatian dan penilaian dari Allah semata. Mengharapkan perhatian manusia dalam ibadah adalah perbuatan riya' yang menimbulkan ujub, termasuk perbuatan yang sia-sia. Sebab semua yang datang dari manusia sangat terbatas. Termasuk pujian dari manusia. Adalah sangat bodoh mengharapkan sanjungan manusia, karena selain terbatas juga sementara. 

Sahal bin Abdullah menjelaskan: Tidaklah seorang hamlu mencapai hakikat kewaliannya dalam perkara tertentu sehingga ia sendiri dapat melenyapkan pandangan manusia, dan memandang dunia sebagai suatu yang begitu menakjubkan. Sebab dunia dan manusia tidak mampu menghindarkan manusia dari keuntungan ataupun kerugiannya. Atau memberikan ketaatan dan melenyapkan kedurhakaan. Hanya orang bodoh saja yang sangat berharap dan kuatir dengan perkara - perkara duniawinya. 

Dalam suatu hikayat yang dinukilkan dari kisah Luqman Al Hakim ketika ia menasihati anak-anaknya. Luqman mengajak anaknya itu masuk ke suatu pasar dengan berkendaraan keledai. Luqman di atas keledai dan anaknya sebagai penuntunnya. Orang banyak ketika melihat Luqman di atas kendaraannya mencela perbuatan itu, mereka mengatakan Luqman sangat kejam. Anaknya disuruh menuntun, dia sendiri enak-enak di atas kendaraannya. Ketika ia meminta kepada anaknya agar naik ke atas hewan tersebut, dan Luqman yang menuntunnya, orang banyak pun mencela anak itu, seperti mereka mencela Luqman. Sekarang Luqman dan anaknya yang berada di atas punggung keledai itu, mereka mencela pula dengan mengata - ngatai Luqman dan anaknya tidak menaruh belas kasihan kepada binatang yang lemah. Akhirnya keduanya (bapak dan anak) sama-sama menuntun hewan itu. Akan tetapi ketika berjumpa dengan orang banyak, mereka mencemooh dengan membodohkan Luqman dan anaknya. Bodoh benar kedua orang ini, memiliki tunggangan hanya di tuntun. 

Tujuan Luqman sebenarnya mengajak anaknya masuk pasar, adalah untuk mendidiknya, ia berkata, "Ketahuilah wahai anakku: orang beramal dan beribadah, apabila hanya ingin mengikuti atau mengambil hati orang banyak, maka amal ibadahnya itu pasti tidak terhindar dari kecaman dan cemoohan manusia." 

Itulah i'tibar hidup. Janganlah seseorang terpengaruh dengan omongan atau kritik masyarakat, karena tidak semua yang datang dari masyarakat itu baik adanya. Kebanyakan masyarakat hanya melihat sesuatu yang lahir belaka. Dari segi lahir inilah masyarakat biasa memuji atau mencela sesama manusia, tanpa mengetahui apa sebenarnya di balik suatu peristiwa. 

Berkata pula Muhammad bin Aslam dalam salah satu nasihatnya, “Sesungguhnya aku tidak terlalu memerlukan kepada manusia. Sejak dari sulbi ayahku sendiri. Waktu di dalam rahim ibuku pun aku sendirian, waktu keluar dari rahim ibu aku juga sendiri. Ketika maut datang menjemputku pun aku sendiri, lalu menghadap soal kuburan aku sendirian. Ketika Allah swt memasukkan aku ke surga atau ke neraka pun aku sendiri. Maka apapula kebutuhanku dengan orang banyak? 

Al Haris bin Asad Al Muhasaby, ketika ia ditanya siapakah yang disebut orang ikhlas itu? Orang yang ikhlas itu adalah orang yang tidak menghiraukan penilaian manusia, asal saja Allah telah menilai baik dan meridainya, serta tidak ada manusia yang mengetahui amal kebaikannya walaupun sekecil-sekecilnya. Orang ikhlas inipun tidak kuatir kalau sebagian orang mengetahui perbuatan-perbuatan jeleknya. Sebab, jikalau ia takut perbuatan jeleknya diketahui orang banyak, berarti ia menginginkan puji sanjung dari amal-amal yang baik-baik. Hal ini bukan bagian dari amal orang-orang yang ikhlas. 

Itulah sifat-sifat mulia yang perlu dimiliki oleh para hamba yang jujur dan ikhlas hati. Sebab sifat-sifat inilah yang akan menghantarkan hamba - hamba Allah kepada tingkat makrifat orang-orang salihin dan siddiqin.
loading...

Friday, May 24, 2013

no image

Hadits Larangan Berjihad tanpa Izin Orang Tua

Al-bukhari mengatakan, "bab tidak bolehnya seseorang berjihad kecuali dengan izin kedua orangtua"

Yakni, bab tidak bolehnya seorang anak berjihad kecuali dengan izin kedua orangtuanya. Inilah yang benar di mana tak ada orang yang menentangnya. Seorang Muslim tidak boleh berangkat untuk berjuang dijalan Allah kecuali setelah mendapatkan izin dari orangtuanya. Apabila ayah dan ibunya atau salah satu di antaranya masih hidup ia harus meminta izinnya. Ia tidak boleh berangkat sampai mereka mengizinkannya.

Mengenai surah al-A'raf, para ulama mengatakan bahwa ahlul- a'raf adalah orang-orang yang berada di gunung-gunung di antara surga dan neraka. Mereka orang-orang yang mati syahid tetapi tidak dimasukkan ke dalam surga karena mereka tidak meminta izin kepada kedua orangtua mereka sehingga Allah menempatkan mereka di antara surga dan neraka. Ini pendapat sebagian ulama. Pendapat yang benar mengenai ahlul-a'raf adalah bahwa mereka itu suatu kaum yang kebaikan dan kejahatannya sama (seimbang) sehingga mereka menempati a'raf.
loading...
no image

Orang yang Paling Patut untuk Dipergauli dengan Baik

Al-Bukhari mengatakan: pada "Bab Orang yang paling patut untuk dipergauli dengan baik"

Ia bertanya-tanya seraya mengatakan, "Siapakah orang dekat yang paling patut untuk dipergauli dengan baik?" Lalu ia mengatakan, "Haddatsana (telah mengatakan kepada kami) Qutaibah bin Sa'id." Ia kemudian mengomentari bahwa yang disebut ilmu menurut orang-orang yang mengerti tentang Islam adalah yang mengandung kalimat haddatsana. Ia sama nilainya dengan bumi beserta emas dan perak yang ada di dalamnya. Inilah ilmu yang abadi Sebuah syair menegaskan hal tersebut: 

Ilmu adalah apa yang di dalamnya dikatakan haddatsana 

sedangkan selain itu adalah bisikan setan 

Istilah haddatsana dan akhbarana menurut al-Bukhari adalah sama. Maka jika ia mengatakan akhbarana artinya sama dengan haddatsana. Tetapi ahli hadits lain selain al-Bukhari misalnya Muslim dan yang lainnya mengatakan bahwa kata haddatsana adalah jika seseorang mendengar dari gurunya. Jika seorang guru mengatakan sebuah hadits kepada Anda maka Anda mengatakan haddatsana. Tetapi jika Anda sendiri yang membaca kitab dari seorang guru, maka Anda mengatakan akhbarana. Inilah perbedaan antara al-Bukhari dengan yang lain.

Telah mengatakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dari Jarir— yakni Ibn Abdul Hamid—dari 'Imarah bin al-Qa'qa' bin Syubramah dari Abu Zar'ah dari Abu Hurairah, ia mengatakan, "Seseorang datang kepada Rasulullah saw lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling patut aku pergauli dengan baik?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' 'Ibumu,'jawab Nabi lagi. Setelah itu ia bertanya lagi, "Setelah itu siapa?' Nabi menjawab, 'Ibumu.' Lalu ia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' 'Ayahmu (Di takhrij kan oleh al-Bukhari (nomor 5834), Muslim (nomor 6452).),' kata Nabi. Dalam riwayat al-Laits, kata 'Ibumu' disebutkan dua kali. Yang benar adalah tiga kali. 

Di dalam hadits ini terdapat beberapa masalah:

Telah kami jelaskan sebelumnya bahwa seorang ibu mempunyai tiga perempat hak, sedangkan al-Laits mengatakan dua pertiga hak karena riwayat al-Laits hanya menyebutkannya dua kali. Tetapi yang benar, tiga perempat hak berupa kebaikan dan adab adalah bagi ibu sedangkan seperempatnya adalah bagi ayah, karena seorang ayah tidak mengalami keletihan sebagaiman yang dialami oleh seorang ibu mulai dari mengandung, menyusui, mendidik, menyayangi, mengasihi, dan sebagainya. 

Beliau mengatakan, "Kemudian ayahmu." Terdapat pula riwayat yang menyebutkan, "Kemudian yang paling dekat denganmu, lalu yang paling dekat selelahnya (Di takhrij kan oleh al-Bukhari (nomor 5834), Muslim (nomor 6452).)" Dalam riwayat Muslim disebutkan pengertian yang sama tatapi dengan kata yang berbeda, "Kemudian yang paling dekat denganmu, lalu yang paling dekat setelahnya.( Pada riwayat Muslim nomor 6453.)"  

Prioritas-prioritas dalam berbuat baik ini dimulai dari ibu, kemudian ayah, setelah itu yang paling terdekat, lalu yang paling terdekat sesudahnya, dan seterusnya.
loading...

Thursday, May 23, 2013

no image

Hadits tentang Keutamaan Silaturahmi/Silaturahim

Al-Bukhari mengatakan, "Bab Silaturahim." Artinya, bab yang menyebutkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan-keutamaan silaturahmi/silaturahim. Semua nash yang diriwayatkan oleh al-Bukhari tidak ada yang berasal dari dirinya sendiri; semuanya merupakan warisan Nabi saw. 

Abu Ayyub meriwayatkan, "Rasulullah ditanya, Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam surga ... dan seterusnya.'" Beliau menyebutkan hadits ini secara ringkas karena telah diketahui. Kemudian ia menyebutkan jalur lain dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa: Seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam surga." Mereka yang hadir bertanya-tanya, "Ada apa dengan dia? Ada apa dengan dia?" Artinya, mereka merasa heran. Maka berkatalah Nabi saw, "Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan menyambung silaturahim." (Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 5846), Muslim (nomor 70)) 

Saya akan jelaskan hadits ini secara ringkas: 

Suatu ketika Nabi saw berjalan di atas untanya ada yang mengatakan di Mina, dan inilah pendapat yang kuat. Kemudian majulah seorang Arab badwi, lalu dipegangnya tali kekang unta beliau dan ditahannya. Setelah itu ia berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam surga." Para sahabat bertanya-tanya, "Ada apa dengan dia?" Artinya, ada apa orang ini menahan unta beliau? Mengapa ia berlaku kasar begini? Orang-orang Arab badwi biasanya memang demikian sebagaimana yang dikatakan oleh Allah dalam firman- Nya, "Orang-orang Arab Badwi itu lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allgh kepada Rasul-Nya." (QS. at-Taubah: 97) 

Mereka memang orang-orang yang suka berlaku kasar. Suatu kali ada seorang Arab badwi yang memegang baju Rasulullah lalu menariknya hingga berbekas di leher beliau. Yang lainnya ada yang memegang tangan Nabi dan menariknya. Ada pula yang berkata begini kepada beliau, "Berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu, bukan yang dari harta ayahmu atau harta ibumu." Ada lagi yang berucap begini, "Ya Allah, sayangilah aku dan Muhammad dan jangan Engkau sayangi yang lainnya." Contoh yang lainnya masih banyak lagi. 

Jadi, ia memegang tali kekang unta Nabi dan berkata, "Beritahukanlah aku suatu perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka." 

Pertanyaan terpenting yang harus diajukan oleh seorang Muslim adalah jalan ke surga. Nabi saw pernah ditanya tentang jalan ke surga dengan berbagai pertanyaan yang banyak, seperti pertanyaan Mu'adz yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku sesuatu yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka." 

Abu Ayyub al-Anshari adalah seorang dari kaum Anshar yang telah berusia lanjut, dialah yang menerima (menyambut) Rasulullah ketika beliau singgah di rumahnya. Nabi memuliakan Abu Ayyub dengan menyinggahi rumahnya. Lalu ia menjamu Rasulullah dengan suatu jamuan yang belum pernah didengar oleh manusia seperti itu. Sehingga, ketika Abu Ayyub singgah ke tempat Ibn Abbas yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur Bashrah yang diangkat oleh Imam Ali, maka Ibn Abbas turun dari rumahnya, padahal ia seorang penguasa. Ia menempatkan Abu Ayyub lalu berkata, "Demi Allah, wahai Abu Ayyub. Aku akan memuliakanmu dengan suatu kemuliaan yang tak pernah didengar oleh manusia sebagaimana engkau telah memuliakan Rasulullah." Maka Ibn Abbas pun menempatkannya di dalam rumahnya sedangkan Ibn Abbas keluar dari rumahnya sebagai gubernur, karena Abu Ayyub pernah turun dari tempat yang tinggi dan berdiam di bawah sedangkan Rasulullah ia tempatkan di atas. 

Tidak pernah Abu Ayyub diberikan suatu hidangan melainkan ia ambil dan ia letakkan di hadapan Rasulullah lalu ia mengatakan, "Demi Allah, aku tak akan memakannya sampai engkau memakannya, wahai Rasulullah." 

Suatu ketika air menetes di rumah Abu Ayyub sedangkan ia ketika itu berada di atas rumah. Abu Ayyub khawatir atap rumah akan menjatuhkan air mengenai Rasulullah Maka ia ambil pakaian dan mantelnya lalu disekanya air yang ada karena ia khawatir Rasulullah akan terganggu oleh sesuatu. 

Ketika mendengar firman Allah, "Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat." (QS. at- Taubah: 41) ia berangkat berjihad bersama Yazid bin Mu'awiyah memerangi bangsa Romawi padahal ketika itu ia telah tua. Orang- orang berkata kepadanya, "Allah menerima uzurmu. Engkau dalam keadaan sakit." Ia menjawab, "Tidak, demi Allah. Allah berfirman, "Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat," (QS. at-Taubah: 41) dan aku ini dalam keadaan berat. Demi Allah, aku tetap berangkat. Ia wafat di sana di perbatasan Constantinopel. Pesannya adalah, "Kuburkanlah aku di sana." Ia memang dikuburkan di sana dan Allah akan membangkitkannya sebagai seorang Muslim di antara orang-orang kafir. 

Kita kembali kepada pembahasan kita. Kepada orang Arab badwi yang bertanya kepada Rasulullah tentang suatu perbuatan yang dapat memasukkannya ke surga. 

Nabi saw memberitahukannya beberapa perkara. Yang menjadi petunjuk adalah yang berhubungan dengan silaturahim, di mana beliau mengatakan, "Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan menyambung silaturahim." Mengenai silaturahim, para ulama mengatakan bahwa ini adalah perkara yang relatif bagi orang. Seseorang dapat melakukannya dengan melakukan kunjungan, memberikan sesuatu, mempersembahkan hadiah, dan bisa juga dengan meridhai. 

Tetapi, siapa itu rahim? Ibn Hajar mengatakan bahwa setiap orang yang masih kerabat Anda, baik ia dapat menerima warisan dari Anda atau tidak, maka ia termasuk rahim yang harus dihubungkan. Rahim itu bermacam-macam: Di antaranya ada yang dapat menerima warisan dari Anda dan ada pula yang tidak, ada yang jauh dan ada pula yang dekat. Setiap orang yang kedudukannya demikian, harus Anda hubungkan tali silaturahim dengannya sesuai dengan kedudukannya terhadap Anda, baik ia dapat mewarisi atau tidak. Sebagian orang menyangka bahwa rahim hanyalah yang mewarisi saja, sedangkan yang tidak mewarisi tidak termasuk. Ini tidak benar Anak paman (dan pihak ibu) adalah rahim, anak paman (dari pihak ayah) juga rahim; demikian juga anak bibi, baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah. Yang lainnya masih banyak lagi. 

Sebagian ulama mengkritik beberapa hal dari kisah ini. Di antaranya, masalah memberikan fatwa dari atas tunggangan dan masalah mengajarkan ilmu dari atas tunggangan. Karena, Malik bin Anas berpendapat bahwa jangan memberikan fatwa di atas tunggangan dan jangan pula ketika berjalan. Jika ada orang yang meminta fatwa, maka ia duduk dan mendudukkan orang yang bertanya sebagai penghormatan terhadap ilmu. Ia mengatakan, "Aku tak mau menyampaikan hadits dari Rasulullah ketika aku sedang berdiri. Aku harus duduk jika menyampaikannya." 

Tetapi hadits tersebut menolak hal itu. Anda boleh memberikan fatwa ketika sedang berjalan, ketika berada di dalam mobil, di pesawat terbang, maupun di atas hewan tunggangan. Insya Allah itu tidak makruh. Bahkan, menurut pendapat yang kuat, seseorang boleh membaca Al-Qur'an ketika sedang berjalan dan hal itu dilakukan oleh banyak ulama salaf. Tetapi yang paling utama, paling hati- hati, dan paling baik adalah membacanya dalam keadaan tenang, duduk, dan menghadap kiblat. Inilah yang paling utama. Tetapi bila ada yang tidak demikian, maka ia tidak boleh dicegah sebagaimana telah kami katakan.
loading...

Wednesday, May 22, 2013

no image

Bolehkah Istri Bersedekah Pada Ibunya Tanpa Izin Suami?

Al-Bukhari mengatakan, pada Bab Seorang wanita memberi kepada Ibunya Sedangkan ia memiliki suami." Penyusunan bab yang dilakukan olehnya sebagaimana yang telah kita ketahui mengikuti cara ini. Kadang-kadang ia membuat bab yang tidak jelas sehingga ia meninggalkan memberikan jawaban kepada ahli ilmu. Terkadang ia mengambil suatu hadits yang tidak memenuhi persyaratannya, lalu ia menjadikannya sebagai sebuah bab. Terkadang ia membagi beberapa hadits dari hadits-hadits shahih lalu ia menjadikannya sebagai bab. Dalam kesempatan yang lain ia melontarkan pertanyaan dan membiarkan Anda tidak mendapatkan jawaban sehingga pandangan Anda sendiri yang melakukan-nya. Ini menunjukan kecerdasan, kecerdikan, dan pemahamannya. 

Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanad yang lain dari Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya yang menyebutkan bahwa Asma' mengatakan: Aku didatangi oleh ibuku, seorang yang masih musyrik di masa Quraisy—karena mereka membuat perjanjian dengan Nabi saw—lalu aku bertanya kepada Nabi saw, "Ibuku mendatangiku dengan mempunyai keinginan. Bolehlah aku memberi kepadanya?" Beliau menjawab, "Ya, berilah ibumu.( Telah disebutkan takhrij-nya )" 

Di dalam hadits ini terdapat beberapa masalah: 

Asma' adalah putri Abu Bakar dan saudara dari 'Aisyah. Ia seorang yang memiliki dua ikat pinggang di dalam surga. Ia ibu dari Abdullah bin az-Zubair. Suaminya, az-Zubair, adalah salah seorang sahabat setia Rasulullah. 

Ucapannya, "Ibuku datang ketika ia dalam keadaan musyrik di masa Quraisy." Ini dalam riwayat al-Laits. Sedangkan dalam riwayat al-Humaidi tidak ada konteks demikan. Ibn Hajar mengatakan, "Ini dari riwayat al-Laits dan hanya ia sendiri yang meriwayatkannya." 

Ia mengatakan, "Ibuku datang ketika masih dalam keadaan musyrik di masa Quraisy. Tampaknya—bahkan Insya Allah ini benar—ibunya adalah bukan ibu 'Aisyah. Jadi, ia saudara sebapak dengan Aisyah. Asma' wafat dalam usia lanjut setelah ia melakukan umrah setelah terjadi pembantaian yang dilakukan oleh al- Hajjaj. Ia pernah dipanggil oleh al-Hajjaj dengan kasar dan keras di Mekkah. Al-Hajjaj juga berbicara kasar kepadanya sehingga Asma' mengatakan, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Akan muncul dari Tsaqif seorang pendusta dan seorang pembantai.( Di-takhrij-kan oleh al-Humaidi dalam Musnadnya (nomor 328). Lihat Majma’ az-Zawaid (nomor 78021))' Si pendusta kita telah tahu, sedangkan si pembantai adalah engkau." Pendusta yang dimaksud adalah al-Mukhtar bin Ubaid ats-Tsaqafi, sedangkan sang pembantai adalah al-Hajjaj. Ia takut kepada Asma' mengingat kedudukannya yang tinggi di dalam Islam. 

Asma' mengatakan, "Di masa Quraisy." Artinya, pada masa perjanjian yang mereka buat dengan Rasulullah di Hudaibiyah. Di antara item-itemnya adalah sebagai berikut: Perang dihentikan selama sepuluh tahun antara pihak Rasulullah dengan pihak Quraisy. Apabila datang seseorang dari kaum Quraisy ke tempat Rasulullah dan masuk Islam maka beliau harus mengembalikannya kepada kaumnya. Sedangkan apabila salah seorang dari kaum Muslim datang ke pihak Quraisy, maka pihak Quraisy tidak mengembalikannya. Tampaknya perjanjian ini merugikan pihak Rasulullah. Karena itu, Umar mengeluh terhadap perjanjian ini dan terhadap sikap beliau yang menerimanya, padahal ada syarat-syarat yang tampaknya merugikan kaum Muslim. Umar tidak me-ngerti kemenangan yang berada di belakang perjanjian ini. Kemudian ia bertobat dan memohon ampun karena menentang Rasulullah dalam hal itu.

Maka datanglah ibu yang musyrik tadi ke tempat Asma' ini. Di dalam hadits ini terdapat beberapa masalah: 
  • Apakah seorang istri harus meminta izin kepada suaminya apabila ia ingin bersedekah. 
  • Apakah seorang wanita boleh memberi kepada ibunya yang masih musyrik. 
  • Apakah jawaban Rasulullah merupakan kaidah umum bagi setiap kejadian seperti ini? Ini akan kita ketahui di dalam hadits ini, insya Allah. 
Pertama, hadits ini menunjukkan bahwa Asma' tidak meminta izin kepada suaminya, karena suaminya masih hidup, yaitu az- Zubair, dimana ia tidak menyebut suaminya di dalam hadits ini. Ia pergi menjumpai Rasulullah untuk meminta fatwa kepada beliau. Lalu beliau memberikan fatwa kepadanya bahwa ia boleh memberi kepada ibunya. Beliau juga tidak mengharuskannya untuk meminta izin kepada suaminya. Hukum yang dapat diambil adalah bahwa seorang wanita boleh menginfakkan hartanya tanpa izin suaminya dengan tidak merusak harta suaminya itu. Ia berhak bersedekah serta memberikan nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadits Hindun binti Utbah dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwasanya ia mengatakan, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan— yakni suaminya—seorang yang sangat bakhil. Apakah aku berdosa jika aku memberikan nafkah kepada diriku dan anak-anakku?" "Rasulullah menjawab, "Ambillah engkau dan anak-anakmu dengan ma'ruf.( Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 5237, 5243), Muslim (nomor 4433, 4434).)" 

Kedua, seorang wanita boleh memberi kepada ibunya yang masih musyrik Ini termasuk dalam firman Allah, "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik."(QS. Luqman: 15) Sebagian ulama mengatakan bahwa itu adalah apabila orang musyrik tersebut ingin masuk Islam. Pada ucapan Asma', "Ia datang kepadaku dengan memiliki keinginan," ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah keinginan untuk masuk Islam. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah keinginan untuk mendapatkan harta. Baik keinginan ibunya itu untuk masuk Islam atau untuk mendapatkan harta, ternyata ia menginfakkan hartanya padanya. Rasulullah saw telah mengakuinya berdasarkan apa yang beliau pahami dari pertanyaan tersebut. Asma' mengatakan, "Aku meminta fatwa kepada Nabi dengan mengatakan, 'Sesungguhnya ibuku datang dengan memiliki keinginan,' dan beliau mengetahui bahwa ibu Asma' adalah seorang musyrik." 

Di dalam hadits yang pertama, yaitu hadits al-Humaidi, Asma' bertanya, "Apakah aku boleh memberinya?" Beliau menjawab, "Ya, berikanlah ibumu." 

Ini termasuk perbuatan baik, apakah ia datang dengan memiliki keinginan atau datang dengan tidak memiliki keinginan mendapatkan kebaikan. Apabila ia datang dengan memiliki keinginan untuk masuk Islam, maka hal itu lebih patut lagi. 

Sebanding dengan itu adalah memberi kepada kerabat walaupun jauh kekerabatannya apabila ia memiliki keinginan untuk masuk Islam. Demikian pula seorang yang diseru apabila ia orang jahat dan berpaling dari Allah tetapi memiliki keinginan untuk istiqamah, atau seorang kafir yang memiliki keinginan untuk masuk Islam. Dalam kasus-kasus demikian, Anda boleh memberinya harta sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah kepada orang-orang kafir Arab di mana beliau memberikan kepada mereka seratus unta, sehingga mereka ingin masuk Islam. Lalu mereka masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Inilah masalah-masalah hadits tersebut. 

Dari masalah-masalah ini dapat diketahui bahwa al-Bukhari mengambil hal-hal yang bersifat umum dan ini suatu kaidah. Ia lebih banyak mengambil yang umum ketimbang yang khusus, ia lebih banyak mengambil yang mutlak daripada yang muqayyad. Ilal itu diseebutkan oleh pengarang kitab Tawjih al-Qari dengan mengutip dar i Ibn Hajar dalam kitabnya, Fath al-Bari. 

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ubaidillah bin Utbah dari Ibn ‘Abbas bahwa Abu Sufyan memberitahu kepadanya bahwa Abu Sufyan memberitahu kepadanya bahwa Heraclius mengirimkan utusan kepadanya seraya bertanya, "Apa yang ia perintahkan?" Ia menjawab, "Ia menyuruh kami melakukan shalat, memberikan sedekah, dan menjaga diri." 

Al-Bukhari memasukkan hadits ini secara umum. Kisah Abu Sufyan bersama Heraclius terdapat di awal-awal hadits. Mudah- mudahan Allah merahmati Abu Sufyan. 

Yang menjadi sebab kisah ini adalah bahwa setelah Nabi saw membuat perdamaian dengan kaum kafir dalam sebuah perdamaian tertulis, Abu Sufyan pergi hingga sampai ke Syam untuk berdagang di sana. Suatu saat Heraclius bermimpi bahwa keraja- annya akan runtuh oleh sebuah bintang, yaitu bintang khitan. Maka di pagi harinya ia bertanya kepada menteri-menterinya, "Bangsa mana yang berkhitan?" Ia bertanya demikian karena merasa bahwa bangsa yang berkhitanlah yang akan meruntuhkan kerajaannya. Di kemudian hari bangsa Arab yang telah masuk Islam itulah yang membinasakan kerajaannya, membawa kebaikan, dan menghancurkan eksistensinya. Dengan pasukan besar yang mengusung kalimat laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah, Khalid bin al-Walid meluluhlantakkan singgasananya. 

Mereka (para menteri dan pendeta-pendetanya) menjawab bahwa bangsa yang berkhitan adalah bangsa Arab. Sedangkan kaum Yahudi maupun kaum Nasrani tidak berkhitan; kaum Majusi pun tidak. 

Heraclius lalu bertitah, "Pergilah kalian ke pasar. Bawakan aku orang-orang Arab biar aku bertanya kepada mereka tentang nabi yang muncul di Mekkah." Maka pergilah mereka. Ketika itu di pasar mereka menjumpai musuh Rasulullah, Abu Sufyan sedang berdagang. Mereka pun bertanya, "Engkau orang Arab?" 'Ya, aku orang Arab," kata Abu Sufyan. Kemudian Abu Sufyan dan orang-orang yang bersamanya diambil paksa oleh mereka. Mereka naikkan orang-orang itu ke atas kuda-kuda lalu mereka bawa pergi sampai dibawa ke tempat Heraclius. Ia seorang raja besar yang mempunyai pendeta-pendeta dan menteri-menteri. Ia pun mempunyai pasukan, para pengawal, dan persenjataan. 

Heraclius berbicara dengan Abu Sufyan didampingi seorang penerjemah. "Tanyakanlah kepada mereka, siapakah di antara mereka yangnasabnya paling dekat dengan Nabi itu, “kata Heraclius kepada penerjemah. Abu Sufyan pun menyahut, "Akulah yang paling dekatnya nasabnya dengan Muhammad." Benar apa yang dikatakan oleh Abu Sufyan. Dia dan Rasulullah saw memang masih sepupu, tetapi Rasulullah lebih mulia nasabnya dibandingkan dia. Beliau dari Bani Hasyim sedangkan Abu Sufyan dari Bani Abdu Syams. 

"Dekatkanlah dia dengan aku," kata Heraclius memberi perintah. Maka Abu Sufyan pun mendekat. Lalu ia menyuruhnya duduk, sedangkan para menteri dan pendeta-pendetanya berada di kiri kanannya. "Katakanlah kepadanya bahwa aku akan bertanya kepadanya tentang Muhammad. Karena itu, janganlah dia berbohong kepadaku. Apabila dia berbohong, katakanlah bahwa ia berbohong biar aku mendengarnya," begitu kata Heraclius lagi kepada penerjemah. Abu Sufyan berkata, "Seandainya berbohong tidak berpengaruh terhadapku niscaya aku akan berbohong karena ia musuh." Ketika itu Abu Sufyan masih musyrik, belum masuk Islam. 

Setelah mereka (para pengawal Heraclius) menyuruh orang- orang Arab itu duduk di belakang Abu Sufyan, mulailah pertanyaan- pertanyaan diajukan. Ada yang mengatakan bahwa ada tujuh pertanyaan yang dilontarkan dan ada pula yang mengatakan delapan. Heraclius bertanya tentang nasabnya; apakah di antara orang- orangtuanya (nenek moyangnya) ada yang menjadi raja? Bagaimana perang bersamanya? Apakah mereka yang mengikutinya orang-orang terpandang ataukah orang-orang yang lemah? Apakah ada orang yang telah masuk ke dalam agamanya kembali lagi (keluar lagi)? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, di samping yang lain-lainnya. 

Lalu mulailah Abu Sufyan menjawab dengan jawaban-jawaban yang jelas. Setelah selesai, Heraclius memberitahukan bahwa Nabi saw akan menang dan akan menguasai kedudukannya. Benar saja, beberapa tahun kemudian Rasulullah saw dapat menggusur kedudukannya. Setelah itu Heraclius menyuruh agar Abu Sufyan dan orang-orang yang bersamanya dikeluarkan. Abu Sufyan menuturkan, "Kami mendengar bermacam-macam suara dan kegaduhan yang luar biasa di istana.( Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari dalam riwayat yang panjang (nomor 7), Muslim (4562).)'" 

Yang menjadi petunjuk bagi hadits tersebut di atas adalah apa yang terkandung dalam pertanyaan-pertanyaan ini, yaitu ucapan Heraclius kepada Abu Sufyan, "Apa yang ia perintahkan kepada kalian?" Abu Sufyan menjawab, "Ia menyuruh melakukan shalat, bersedekah, menjaga kesucian diri, dan memberi kepada orang." Yang menjadi petunjuk (bukti) bagi al-Bukhari adalah kata-kata memberi kepada orang. Memberi di sini bersifat mutlak, baik kepada kaum Muslim maupun kepada orang-orang non-Muslim, karena menjalin hubungan itu (dalam hal ini dengan perilaku memberi) memang ada dasarnya di mana al-Bukhari mengambilnya dari hadits ini.
loading...
no image

Tiga Macam Dosa Besar dalam Hadits Nabi

AL-BUKHARI mengatakan, "abdurrahman bin abi bakrah meriwayatkan dari ayahnya ia mengatakan, 'rasulullah saw bersabda, "maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar?" kami menjawab, 'tentu, wahai rasulullah." beliau berkata "ada tiga: pertama, menyekutukan allah.......""'

Dosa terbesar adalah syirik kepada Allah. Di dalam Al-Qur'an ditegaskan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari [syirik] itu." (QS. An- Nisa': 48) Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, berarti ia keluar dari agama Allah. Darahnya, hartanya, dan kehormatannya menjadi halal, Ia menjadi seperti yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya, "Dan barangsiapa menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ketempat yang jauh." (QS. al-Hajj: 31) Dalam ayat lain, Allah mengatakan, "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada [nabi- nabi] yang sebelummu, 'Jika kamu menyekutukan [Tuhan], niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang- orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS. az-Zumar: 65-66)

Kemudian beliau mengatakan, "Dan durhaka kepada orang tua."

Abu Bakrah mengatakan, "Beliau telentang ." Telentang adalah salah satu sunnah Rasulullah kecuali ketika sedang makan karena dalam hadits shahih dikatakan, "Sesungguhnya aku tidak makan dengan telentang.( Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 5271), Abu Daud (nomor 3769), at-Tirmidzi (nomor 1832).)" Lalu beliau melanjutkan ucapannya—Ketahuilah dan ucapan dusta, ketahuilah dan kesaksian dusta; ketahuilah dan ucapan dusta, ketahuilah dan kesaksian dusta.' Beliau terus mengulang-ulanginya sampai kami berkata, 'Mudah-mudahan beliau diam." Artinya, mudahan-mudahan beliau diam agar tidak melelahkan dirinya. Mereka mengatakan itu karena sayangnya mereka kepada Rasulullah.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik, ia mengatakan, "Rasulullah menyebutkan dosa-dosa besar—atau beliau ditanya tentang dosa-dosa besar, di mana beliau mengatakan, 'Syirik kepada Allah, membunuh orang, dan durhaka kepada kedua orangtua.( Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 5840), Muslim (nomor 220, 221).)" Yang dimaksud membunuh di sini adalah membunuh orang yang harus dipelihara, bukan membunuh orang kafir, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih, "Tidak halal darah seorang Muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: Orang beristri yang berzina, membunuh orang, dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaah.( Diriwayatkan oleh Muslim (nomor 4329), Abu Daud (nomor 4348), at-Tirmidzi (nomor 1401).)" Inilah tiga hal yang menyebabkan darah seorang Muslim menjadi halal. Sedangkan yang lainnya tidak halal. Mengenai pembunuhan terhadap orang kafir, kita telah mengetahuinya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya, ia mengatakan, "Asma' binti Abu Bakar memberitahukan kepada saya dengan mengatakan, "Ibuku mendatangiku dengan mempunyai keinginan." Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah mempunyai keinginan untuk masuk Islam. Ada pula yang berpendapat bahwa maksudnya ingin diberi. Ibunya adalah seorang musyrik di Mekkah. Ia mendatangi Asma' di Madinah pada masa Nabi. Lalu ia bertanya kepada Nabi saw, apakah ia boleh memberi kepada ibunya yang masih dalam keadaan musyrik. Ia bertanya, "Wahai Rasulullah, bolehlah aku memberi kepada ibuku?"

Laa ilaaha illallah Suatu agama memisahkan antara ayah dengan anaknya ketika ayahnya berpaling sedangkan anaknya masuk Islam dimana masing-masing berpaling dari yang lain. Disebutkan bahwa Abu Ubaidah membunuh ayahnya karena ayahnya itu seorang musyrik. Demikian pula seorang saudara melepaskan diri dari saudaranya karena saudaranya itu berpaling dari kebenaran dan mengutamakan kehidupan dunia.

Ia bertanya, "Apakah aku boleh memberinya?" Beliau menjawab, "Ya." Di dalam riwayat lain disebutkan beliau menjawab, "Ya, silakan engkau memberi kepada ibumu.( Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 2569, 3114, 5841, 5842), Muslim (2277, 2278))" Ini masalah memberi kepada ibu yang musyrik karena Allah SWT berfirman, "Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama." (QS. al-Mumtahanah: 8) Dalam ayat lain Allah memerintahkan, "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik," (QS. Luqman: 15) sekalipun ibunya itu seorang musyrik.

Ada yang berpendapat bahwa yang pertama disebutkan oleh al-Bukhari di awal bab yaitu firman Allah, "Dan Kami wajibkan manusia [berbuat,] kebaikan kepada dua orangtua ibu bapaknya," (QS. al-'Ankabut: 8) turun berkaitan dengan Sa'ad bin Abi Waqqash ra. Sa'ad mempunyai seorang ibu dimana ketika Sa'ad masuk Islam, ibunya tidak mau makan; ia melakukan mogok makan. Artinya, mogok makan telah terjadi di masa jahiliah dan bukan berasal dari Islam. Ini termasuk perbuatan orang-orang jahiliah.

Ibu Sa'ad datang, lalu ia meninggalkan makanan. Ia bersumpah atas nama Lata dan Uzza untuk tidak makan dan tidak minum sampai putranya keluar dari Islam dan kembali pada agama syirik.

 Sa'ad mengatakan, "Wahai ibu, makanlah. Wahai ibu, minumlah." Sa'ad telah berusaha dan berkali-kali berusaha. Tetapi sang ibu menolak. Lalu Sa'ad berkata kepadanya, "Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, seandainya ibu memiliki seribu nyawa kemudian satu persatu nyawa itu keluar, aku tak akan meninggalkan agamaku walau sekejap pun. Makanlah atau tinggalkanlah." Ketika ibunya merasa lapar, ia pun makan. Ada yang berpendapat bahwa ibunya kemudian masuk Islam. Tetapi ada pula yang mengatakan bahwa ia tidak masuk Islam. Ibn Hajar berkata, "Aku tidak tahu apakah ia masuk Islam atau tidak." Sedangkan namanya adalah Hamnah.
loading...
no image

Diterimanya Do'a Orang Yang Berbakti Kepada Orang Tua

AL-BUKHARI MENGATAKAN, "BAB DITERIMANYA DOA ORANG YANG BERBAKTI KEPADA ORANGTUA." 

Kemudian al-Bukhari menyebutkan sebuah hadits yang panjang mengenai tiga orang yang masuk ke dalam gua lalu mereka tertutup batu. Yang menjadi petunjuk dari hadits ini adalah ucapan salah seorang dari mereka, "Ya Allah, sesungguhnya aku mem-punyai kedua orangtua yang telah sangat tua dan aku juga mempunyai anak anak yang masih kecil-kecil. Aku selalu memerah susu untuk mereka dan aku mulai dengan kedua orangtuaku. Aku beri minum mereka sebelum aku memberi minum kepada anak-anakku. Suatu ketika aku pergi jauh mencari kayu, kemudian aku datang di sore hari. Ternyata aku dapati mereka telah tidur. Aku memerah susu sebagaimana biasanya. Lalu aku bawa wadahnya dan aku berdiri di dekat kepala mereka. Aku tak suka membangunkan mereka dari tidurnya. Aku pun tak mau mendahulukan anak-anakku sebelum kedua orangtuaku minum, walaupun anak-anakku terus meliuk-liuk menangis di kakiku karena laparnya. Begitulah keadaanku dan mereka hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan ini karena mengharapkan ke- ridhaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami suatu celah agar kami dapat melihat langit. Maka Allah pun membuka sebuah celah bagi mereka hingga mereka dapat melihat langit. Ini satu golongan yang diterima doanya oleh Allah berkat baktinya kepada kedua orangtua. 

Para ulama mengatakan bahwa doa orang yang paling cepat dikabulkan adalah orang yang berbakti kepada orangtuanya. Kita menyaksikan pada sebagian wali-wali Allah dan orang-orang yang mulia bahwa doa mereka diterima dengan cepat berkat baktinya, penghormatannya, dan pengabdiannya kepada orangtua. Apa yang diminta oleh mereka datang dengan cepat seperti waktu fajar. 

Ada beberapa hal yang menyebabkan doa seseorang diterima. Yang paling penting setelah iman kepada Allah adalah makanan yang halal. Nabi saw pernah berkata kepada Sa'ad, "Baguskanlah makananmu, niscaya doamu diterima. (Diriwayatkan oleh ath-Tirmidzi dalam ash-Shaghir. Lihat Majma’ az Zawaid (nomor 10181))" 

Di dalam Shahih Muslim, Rasulullah saw menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya tidak tersisir dan pakaiannya berdebu. Ia tengadahkan tangannya ke langit seraya berseru, "Wahai Tuhan, wahai Tuhan," sedangkan makanannya haram, pakaiannya haram, minumannya haram, dan ia tumbuh dari barang yang haram. Lalu bagaimana doanya akan diterima? (Di-takhrij-kan oleh Muslim (nomor 2716), at-Tirmidzi (nomor 3083)) 

 Begitu juga seorang yang suka makan riba; tidak akan dibukakan baginya pintu pengabulan. Ia berucap, "Wahai Tuhan, wahai Tuhan," padahal makanannya haram dan minumannya hsfram. Bagaimana doanya akan diterima? Bagaimana Allah akan mengabulkannya? 

Yang menjadi petunjuk di sini adalah bahwa orang yang berbakti kepada orangtuanya akan dikabulkan doanya oleh Allah. Sedangkan hadits yang mengisahkan tentang 'Alqamah adalah tidak benar. Dalam kisah itu disebutkan bahwa 'Alqamah mempunyai seorang ibu dan ia lebih mendahulukan istrinya ketimbang ibunya. Maka ketika datang sakaratul maut, ia tak mampu menucapkan kalimat laa ilaaha Mallah. Kemudian Rasulullah saw diberitahukan tentang hal tersebut. Beliau bertanya, "Apakah ia masih mempunyai ibu?" Lalu beliau diberitahu bahwa 'Alqamah telah durhaka kepada ibunya. Kemudian orang-orang mengumpulkan kayu bakar untuk membakar 'Alqamah. Tetapi kemudian ibunya berkata, "Aku maafkan dia." Akhirnya 'Alqamah dapat mengucapkan laa ilaaha illallah. 

Kisah tersebut tidak benar dan tidak ada dasarnya. Tidak boleh kita meriwayatkan kisah tersebut kecuali jika disebutkan bahwa kisah itu adalah bohong dan tidak ada. 

Diriwayatkan dengan sanadnya dari al-Mughirah bin Syu'bah dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian tiga perkara dan membenci tiga perkara: Ia mengharamkan durhaka kepada ibu, membunuh hidup-hidup anak gadis, tidak mau memberi dan suka meminta (yakni meminta harta orang lain) dan Ia membenci tiga perkara: 'Katanya dan katanya,' banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta. (Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 2366), Muslim (nomor 4437))"
loading...
no image

Dosa Besar Mencaci, Memaki Kedua Orang Tua

Penyusunan dalam bab "AL-BUKHARI MENGATAKAN, "BAB TIDAK BOLEHNYA SESEORANG MENCACI KEDUA ORANGTUANYA." yang dibuat oleh al-Bukhari tidak lepas dari berbagai manfaat, sehingga sebagian ulama mengatakan bahwa fiqih Imam al Bukhari tampak dari penyusunan bab-babnya. 

Dengan judul bab seperti di atas al-Bukhari meninggalkan jawaban-jawaban dan pertanyaan-pertanyaan agar Anda berpikir sendiri-hadits-apa kiranya yang akan ia bawakan-dan apakah ada orang yang mencaci kedua orangtuanya. 

Kemudian al-Bukhari menyebutkan hadits dari Abdullah bin 'Amr yang mengatakan: Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya di antara yang paling besar di antara dosa-doa besar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya." Lalu beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang melaknat kedua orang-tuanya?" Beliau menjawab, "Seseorang mencaci ayah orang lain lalu orang itu mencaci ayahnya dan ia mencaci ibu orang lain lalu orang itu mencaci ibunya. (Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 5836), Abu Daud (nomor 5136))" Alangkah dalamnya perkataan ini! 

Di dalam hadits ini terdapat beberapa masalah: 

Masalah Pertama: Penetapan adanya dosa-dosa besar dan dosa- dosa kecil. Ahlussunnah menetapkan adanya dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil dalam Islam. Tetapi mereka berbeda pendapat mengenai pengertian dosa besar dan dosa kecil. Saya akan sebutkan sebagian pendapat mereka, kemudian saya akan sebutkan pendapat yang kuat, insya Allah. 

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa istilah dosa besar itu adalah relatif. Setiap dosa adalah besar menurut mereka. Tetapi karena ada yang lebih kecil darinya maka ia dipandang oleh mereka sebagai dosa besar. Ini adalah suatu pendapat. 

Masalah Kedua: Setiap perbuatan yang menyebabkan adanya suatu had maka ia termasuk dosa besar. Sedangkan yang lainnya adalah tidak. 

Masalah Ketiga: Dosa besar adalah yang dinyatakan (disebutkan) oleh Allah dan Rasul-Nya, sedangkan yang lainnya (yang tidak disebutkan) adalah dosa kecil. 

Pendapat yang benar adalah bahwa dosa besar itu adalah perbuatan yang berlaku padanya had dan Allah mengancamnya dengan azab atau laknat. Maka ini adalah dosa besar. Inilah pendapat yang benar. 

Apakah dosa besar itu ada tu juh? Yang benar, dosa besar itu lebih dari tujuh. Adapun sabda Nabi saw, "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan (Ibid, (nomor 2707,6705), Muslim (nomor 222).)" maka ini adalah jumlah (angka) yang tidak menghendaki suatu pembatasan karena ada dosa-dosa besar yang lain. Ibn 'Abbas mengatakan bahwa dosa besar itu lebih dekat kepada tujuh puluh daripada kepada tujuh. Sebagian muhadditsin menyebutkannya sampai seratus. 

Dosa besar harus segera diikuti dengan tobat darinya, karena Rasulullah saw mengatakan, "Umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya dan haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga.( Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 1752), Muslim (3243))" 

Beliau juga bersabda, "Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menjadi penghapus dosa-dosa yang ada di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi. (Di-takhrij-kan oleh Muslim (nomor 505))" Jelaslah bahwa dosa besar tidak dapat dihapuskan oleh ketaatan-ketaatan ini kecuali dengan tobat. 

Allah SWT berfirman: "Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (QS. an- Nisa': 31) 

Allah menjelaskan bahwa orang yang menjauhi dosa- dosa besar, akan Allah ampuni dosa-dosa kecilnya dengan penghapus dari perbuatan-perbuatan baiknya. Inilah yang dikatakan tentang dosa besar. 

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat hadits dari Abu Bakrah di mana ia mengatakan, "Rasulullah saw bersabda, 'Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar?' Kami menjawab, 'Tentu, wahai Rasulullah.' Beliau berkata, 'Ada tiga: menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua—beliau yang sebelumnya telentang kemudian duduk lalu melanjutkan ucapannya—Ketahuilah dan ucapan dusta, ketahuilah dan kesaksian dusta; ketahuilah dan ucapan dusta, ketahuilah dan kesaksian dusta.' Beliau terus mengulang-ulanginya sampai kami berkata, 'Mudah-mudahan beliau diam (karena mereka kasihan melihat Rasulullah saw terus mengatakan hal tersebut).( Di-takhrij-kan oleh al-Bukhari (nomor 5839), Muslim (nomor 219)" Di antara manfaat-manfaat yang dapat dipahami dari hadits-hadits tersebut adalah bahwa seseorang harus bertobat dari dosa besar dan tidak cukup hanya dengan perbuatan-perbuatan baik semata, melainkan harus bertobat kepada Allah. 

Adapun dosa-dosa kecil dapat dihapus oleh wudhu, shalat, dan sedekah. Sedangkan dosa-dosa besar—wahai saudara-saudaraku— tak dapat tidak harus bertobat darinya. Allah SWT berfirman, "Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung." (QS. an-Nur: 31) 

Dalam ayat lain Allah berfirman, "Dan [juga] orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali 'Imran: 135) 

Di antara manfaat-manfaatnya juga adalah bahwa Nabi saw menamakan orang yang menyebabkan kedua orangtuanya dicaci sebagai orang yang mencaci orangtuanya. 

Beliau mengatakan, "Sesungguhnya di antara yang paling besar di antara dosa-dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya." Hanya sedikit dan jarang orang yang melaknat kedua orangtuanya. Tetapi orang yang mencaci atau melaknat orangtua orang lain kemudian orang itu melaknat kedua orangtuanya, berarti ia menjadi sebab dilaknatnya kedua orangtuanya. Maka seolah-olah ia melaknat mereka secara langsung. Na'udzu billah. Beliau mengatakan, "Sesungguhnya dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya." Lalu beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang melaknat kedua orangtuanya?" Beliau menjawab, "Seseorang mencaci ayah orang lain lalu orang itu mencaci ayahnya dan ia mencaci ibu orang lain itu lalu orang itu mencaci ibunya." Ini berarti melaknat. 

Para ahli ilmu mengatakan bahwa hal tersebut memberikan pengertian bahwa orang yang menyebabkan terjadinya suatu dosa atau terputusnya hubungan maka ia seperti orang yang melakukannya secara langsung. Itu seperti firman Allah, "Dan janganlah kalian memaki sembahan sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." (QS. al-An'am: 108) 

Jika Anda mengetahui bahwa mereka akan mencaci Allah, maka Anda tidak boleh mencaci berhala-berhala atau mencaci pemimpin-pemimpin orang kafir dan thaghut-thaghut mereka. Misalnya, Anda mendatangi seorang kafir lalu Anda mencaci thaghut-nya atau pemimpinnya, padahal Anda tahu bahwa ia akan mencaci pemimpin Anda, akan mencaci Rasulullah, atau bahkan akan mencaci Allah. Maka haram bagi Anda mencaci tuhan-tuhannya, pemimpin-pemimpinnya, dan thaghut-thaghut-nya, karena Anda menjadi sebab dicacinya Allah SWT. Demikian pula melaknat orangtua orang lain; itu termasuk dosa besar yang terbesar, karena dengan demikian ia telah berbuat sesuatu yang menyebabkan kedua orangtuanya dilaknat, yang akibatnya orang lain membalas seperti yang dikatakan olehnya. Barangsiapa yang melempar pintu rumah-rumah orang lain, maka pintu rumahnya akan dilempar pula oleh mereka. Barangsiapa yang mencaci orang lain, maka ia pun akan dicaci oleh mereka. 

Para ahli ilmu mengatakan bahwa yang dilarang tidak terbatas pada melaknat saja, melainkan haram juga mencaci dan mencela orang lain, walaupun serendah-rendahnya (sehalus-halusnya) cacian, karena seandainya Anda melakukan itu terhadap orang, mereka pun akan melakukan hal yang sama terhadap ayah Anda atau ibu Anda meskipun dengan celaan yang paling sedikit, sehingga Anda menjadi penyebab hal itu. Dengan demikian, Anda mendapat dosa yang besar.
loading...

Monday, May 20, 2013

no image

Keteladanan Nabi Keteguhan Memegang Prinsip

Sedang teladan keteguhan memegang prinsip, ini merupakan sifat yang sangat menonjol pada diri Rasulullah saw., akhlak murni yang melekat pada jiwa Nabi Muhammad Rasulullah saw. Dalam kesempatan ini, cukup untuk kita sebutkan salah satu sikap luhur Rasulullah saw. ketika bersama pamannya Abu Thalib, ketika beliau menduga bahwa pamannya akan menyerahkan beliau kepada orang-orang musyrik Quraisy yang terus-menerus memintanya, mengira bahwa pamannya sudah tidak bersedia lagi menolongnya. Di sini, marilah kita berhenti sejenak untuk mendengar kata-kata hak, kata-kata iman dan keteguhan memegang prinsip yang dituturkan oleh lisan pembawa risalah Islam yang abadi untuk memproklamirkan kepada seluruh alam semesta bagaimana keyakinan dan keteguhan itu. Bagaimana pengurbanan dan penebusan itu, dan bagaimana seharusnya para da'i bersikap:

 وَاﷲِيَاعَمِّ ׃ لَوْوَضَعُوْا الشَّمْسَ فِيْ يَمِيْنِيْ ، وَالْقَمَرَ فِى يَسَارِيْ عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَمَا تَرَكْتُهُ حَتَّى يُظْهِرَهُ اﷲُ أَوْأَهْلِكَ دُوْنَهُ 

Demi Allah, wahai pamanku, jika mereka meletakkan matahari di tangan kanan dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan kewajiban berdakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya, hingga Allah menampakkannya atau aku binasa dalam membelanya. 

 Kemudian Rasulullah saw. berdiri dengan berlinang airmata. Ketika sang paman melihat keteguhan hati dan kejujurannya, ketegarannya menempuh jalan dakwah tanpa memperdulikan segala rintangan dari orang-orang yang membencinya, maka ia memanggil beliau dan berkata kepadanya:

 اِذْهَبْ يَاابْنَ أَخِيْ فَقُلْ مَاأَحْبَبْتَ ، فَوَاﷲِ لاَ أُسَلِّمُكَ لِشَيْءٍ أَبَدًا٠ 

Pergilah wahai keponakanku. Katakanlah apa yang hendak engkau katakan. Demi Allah aku tidak akan menyerahkanmu dengan imbalan apa pun. 

Kemudian sang paman bertutur sya'ir:

 وَاﷲِ لَنْ يَصِلُوْا اِلَيْكَ بِجَمْعِمْ 
حَتَّى أُوَسَّدَ فِي التُّرَابِ دَفِيْنًا 
فَاصْدَعْ بِأَمْرِكَ مَاعَلَيْكَ غَضَاضَةٌ 
وَأَبْشِرْبِذَاكَ وَقَرَّمِنْهُ عُيُوْنًا 
 وَدَعْوَتَنِيْ وَزَعَمْتُ أَنَّكَ نَاصِحِيْ 
وَلَقَدْ صَدَقْتَ وَكُنْتَ ثَمَّ أَمِيْنًا 
وَعَرَضْتَ دِيْنًا لاَمَحَالَةَ أَنَّهُ 
مِنْ خَيْرِ أَدْيَانِ الْبَرِيَّةِ دِيْنًا 
لَوْلاَ المَلاَمَةَ أَوْحَذَارَمَسَبَّةٍ 
لَوَجَدْتَنِي سَمْحًابِذَاكَ مُبِيْنًا 

Demi Allah, sama sekali 
mereka tidak akan sampai kepadamu (dengan adanya aku) 
meski mereka mengumpulkan segala kekuatan 
hingga diriku tertutup 
oleh tanah kubur (mati) 
jelaskan dengan tegas apa yang engkau bawa 
tanpa usah merendah diri 
sebarkan kabar gembira 
dan bersenang hatilah, dengan tugasmu 
engkau panggil aku 
sudah aku kira bahwa engkau adalah penasihatku 
dan benarlah dugaanku 
benar-benar engkau dapat dipercaya 
engkau tawarkan sebuah agama 
tidak ada keraguan, agama yang engkau bawa 
adalah sebaik-baik agama 
jika bukan karena ancaman kecaman 
dan cemoohan 
niscaya engkau dapatkan aku 
memeluk agama yang engkau bawa 

Adakah keteguhan memegang akidah dan prinsip yang lebih dari keteguhan ini? Ujian keimanan manakah yang lebih besar dari ujian ini? Generasi demi generasi akan terus mengingat keteguhan tersebut, keteguhan Rasulullah saw. dalam menyebarkan risalah samawi yang abadi. 

Bagaimana tidak, Rasulullah saw. mempunyai sifat yang menonjol dan deferentif ini, sedang Allah telah berfirman kepadanya: 

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dan Rasul-rasul telah bersabar. (Q.S. 46:35) 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang- orang yang beriman bersamanya, ".Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Q.S. 2:214)
loading...