Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Warisan Rasulullah. Show all posts
Showing posts with label Warisan Rasulullah. Show all posts

Sunday, October 23, 2016

Golongan Orang Terbaik dalam Hadits Nabi

Golongan Orang Terbaik dalam Hadits Nabi

Pada pembaca Islamiwiki, terdapat berbagai macam golongan manusia dalam Islam, berikut ini adalah sumber dari hadits Nabi tentang empat gologan manusia. Siapakah golongan orang yang terbaik?

Dari Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari r.a. bahwa Nabi Muhammad saw. Bersabda:

Perumpamaan orang-orang mukmin yang membaca Al-Qur'an adalah seperti buah atrujah (limau), rasanya enak dan baunya harum. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah kurma, rasanya enak namun tidak memiliki aroma. Dan, perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an adalah seperti tumbuhan wangi-wangian, baunya harum namun pahit rasanya. Sedangkan, perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah Hanzhalah (sejenis labu), rasanya pahit dan tidak berbau." (HR Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, Nabi Muhammad saw. membagi manusia ke dalam empat golongan atau bagian.

Dua golongan orang yang berbahagia

Golongan yang Pertama, adalah kelompok orang-orang yang beriman dan senantiasa membaca Al-Qur'an. Golongan yang demikian adalah golongan orang-orang yang terbaik.

Golongan manusia yang kedua, adalah golongan orang-orang beriman, akan tetapi mereka tidak membaca Al-Qur'an. Golongan orang-orang seperti ini, derajat mereka di bawah tingkatan golongan yang pertama.

Kedua golongan manusia di atas, adalah golongan orang-orang yang berbahagia dengan ketetapan iman dan islamnya.

Dua golongan orang yang menderita

Dan Nabi Muhammad Rasulullah saw. membagi orang-orang yang menderita menjadi dua golongan. Mereka yang tidak beruntung adalah

Yang pertama, kelompok atau golongan orang-orang yang membaca Al-Qur'an tanpa adanya keimanan. Mereka adalah orang munafik.

Yang Kedua, adalah kelompok orang-orang yang tidak beriman dan tidak mendapatkan cahaya Al-Qur'an.

Maksudnya adalah iman dan Al-Qur’an adalah dua cahaya yang diletakkan oleh Allah SWT di dalam hati setiap hamba-hamba-Nya yang Allah swt. kehendaki. Al-Qur’an dan iman keduanya merupakan pangkal dari segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Pengetahuan tentang keduanya merupakan ilmu yang paling tinggi dan mulia. Bahkan, tidak ada ilmu yang dapat memberikan manfaat kepada pemiliknya kecuali ilmu tentang keduanya.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan manusia yang terbaik, diberikan kedua cahaya penuntun kebaikan yaitu iman dan Al-Qur’an. Amiin…

Friday, July 8, 2016

Mencapai Kedudukan Tinggi, Mulia dari Cobaan dan Ujian

Mencapai Kedudukan Tinggi, Mulia dari Cobaan dan Ujian

Berkaca dari Perjuangan Nabi Muhamad saw. bersama kaumnya begitu berar. Nabi mengalami berbagai macam ujian dan cobaan yang begitu berat. Meskipun penderitaan akan ujian dan cobaan yang ditimpakan kepada beliau begitu besar, namun perjuangan beliau menghadapinya dengan kesabaran.

Bermacam-macam ujian dan cobaan beliau hadapi, dimulai dari perang, damai, hidup miskin, kaya, kecemasan, tinggal dan meninggalkan negerinya untuk menyebarkan agama Islam. Ujian berat juga menimpa beliau, dimana orang-orang terdekat Nabi Muhammad di bunuh di depan matanya, bermacam-macam gangguan dari orang kafir baik dari perkataan, perbuatan, gosip, sihir dan lain sebagainya.

Meskipun demikian, Nabi Muhammad saw. menghadapi ujian dan cobaan dengan dengan kesabaran dalam menjalankan perintah Allah swt. Beliau tetap teguh menyeru umat manusia ke jalan Allah swt.

Tidak ada Nabi yang mengalami dan merasakan penderitaan seperti apa yang dirasakan Nabi Muhammad saw. Dan, tidak ada nabi yang diberi karunia Allah SWT seperti yang diberikan kepada beliau.

Karunia Allah swt. yang tidak didapatkan oleh Nabi yang lain misalnya, Allah swt. mengangkat nama Nabi Muhammad swt. dan menyandingkan nama beliau dengan nama Allah swt. hal ini tertera jelas dalam kalimat syahadat, bahwa orang yang mengakui keesaan Allah SWT harus juga mengakui kerasulan Muhammad saw.

Disamping karunia di atas, Allah swt. juga menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai tuan dari seluruh manusia, menjadikan Nabi sebagai orang yang paling dekat wasilahnya kepada Allah swt., menjadikan Nabi sebagai manusia yang paling mulia kedudukannya di antara manusia yang lain, dan paling didengar dan diterima syafaatnya.

Cobaan serta ujian Allah swt yang begitu dahsyat yang diterima Nabi Muhammad saw., justru menjadikan beliau ditambahkan dan mendapatkan keutamaan dan kemuliaan dari Allah swt. dan mengantarkan beliau pada kedudukan yang paling tinggi.

Hal ini juga terjadi pada para ahli waris beliau yaitu para ulama. Setiap mereka mendapakan bagian ujian dan cobaan tertentu sesuai dengan tingkat dan derajat keteguhan dalam mengikuti ajaran Nabi saw.

Orang-orang yang tidak mendapakan bagian dari ujian dan cobaan seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad saw., berarti mereka adalah orang-orang yang diciptakan untuk dunia dan dunia diciptakan untuk mereka. Jatah orang-orang seperti ini diberikan kepada mereka di dunia. Mereka makan serta minum dan bersenang-senang di dunia sampai ajal menjemput seperti yang telah tertulis.

Berbeda dengan keadaan orang-orang yang terpilh seperti para wali yang mendapatkan ujian dan cobaan. Ketika mereka mendapatkan ujian dan cobaan dari Allah swt, mereka dalam keadaan makmur dan tentram dalam menghadapi ujian dan dan cobaan. Ketika para wali Allah memperoleh cobaan dan ujian dari Allah dalam ketakutan, mereka aman. Dan ketika para wali dalam keadaan sedih, mereka gembira ditengah keluarganya.

Mereka yang mendapatkan bagian dunia, mempunyai nilai dan kedudukan yang berbeda dengan para wali Allah swt. Yang mendapatkan jatah dunia, akan berpikir mengenai apa saja yang dapat menguatkan dan mengokohkan kedudukan mereka, menyelamatkan harta yang mereka miliki, berusaha membuat agar kata-kata mereka di dengar dan ditaati orang lain. Bermula dari sinilah mereka melakukan, mencintai,serta membenci sejalan dengan yang diinginkannya itu.

Berbeda kondisinya dengan para wali Allah swt. yang mendapatkan cobaan dan ujian. Yang menjadi keinginan dan harapan mereka adalah menegakkan agama Allah swt., meninggikan kalimat-kalimat Allah swt., memuliakan para pembela agama Allah swt., senantiasa memperjuangkan agar hanya Allah swt. yang disembah dan hanya Rasulullah yang ditaati ajarannya.

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa setiap Allah swt. memberikan cobaan dan ujian pasti ada hikmah di baliknya. Sebagai yang sudah kita ketahui, bahwa orang-orang yang telah mencapai kedudukan yang tinggi dan cita-cita mulia hanya mencapai itu semua melalui jembatan berupa ujian dan cobaan.

"Demikianlah    ketinggian    itu.    Jika    kamu    ingin    mendapatkannya,    maka menyeberanglah ke sana melalui jembatan kesusahan."

Akhirnya semoga kita semua mendapatkan jatah sebagian cobaan dan ujian sebagaimana yang dialami oleh Nabi dan para wali serta diberikan keteguhan dan kesabaran di dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan yang pada akhirnya dengan ridha Allah swt. akan membawa kita kepada kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah swt. amin, amin amin ya rabbal ‘alamin

Wednesday, June 15, 2016

Dibalik Cobaan, Musibah, Ujian terkandung Hikmah Mulia dan Sempurna

Dibalik Cobaan, Musibah, Ujian terkandung Hikmah Mulia dan Sempurna

Ujian dalam hidup yang ditimpakan oleh Allah swt. kepada hamba-hamba-Nya yang terbaik mengandung hikmah-hikmah yang akan mengantarkan hamba-Nya kepada tujuan dan ujung jalan yang paling mulia dan sempurna. Ujian yang ditimpakan Allah swt. melalui musibah dan cobaan yang dibaliknya mengandung rahmat dan nikmat yang besarnya tiada terkira.

Belajar dari cobaan ujian dan musibah yang menimpa Nabi Adam

Mari kita perhatikan dan renungkan, musibah dan cobaan yang ditimpakan Allah swt. kepada Nabi pertama Nabi Adam a.s. Nabi Adam a.s. mendapatkan cobaan dan godaan dari syaitan yang membuat beliau dikeluarkan dari surga. Oleh karena musibah dan ujian yang menimpanya dan beliau sanggup menjalaninya, akhirnya Nabi Adam dipilih Allah swt. dan mendapatkan taubat, hidayah serta kedudukan yang tinggi.

Belajar dari cobaan ujian dan musibah yang menimpa Nabi Nuh

Nabi Nuh as. dapat disebut sebagai bapak manusia yang kedua. Hal ini dikarenakan Allah swt. membinasakan umat manusia ketika itu dengan bencana air bah, kecuali manusia yang beriman yang naik ke perahu Nabi Nuh a.s. sehingga dari merekalah manusia tumbuh berkembang hingga sekarang ini.

Nabi Nuh mendapatkan ujian dan cobaan serta musibah yang ditimpakan oleh Allah swt. Beliau Nabi Nuh dengan kesabarannya dalam menghadapi kaumnya selama berabad-abad menghadapi ujian tersebut sehingga pada akhirnya Allah swt. memberikan rahmat dan nikmat serta menyenangkan hati beliau dan menenggelamkan semua penghuni bumi kecuali pengikutnya yang beriman dengan doanya.

Allah swt. menjadikan penghuni bumi ini terdiri dari anak cucunya,  dan menjadikan salah satu dari Rasul Ulul Azmi yang merupakan Rasul-Rasul paling utama, memerintahkan Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw. untuk bersabar sebagaimana sabarnya mereka. Juga Allah swt. memuji kesyukurannya dengan Firman Allah swt. di akhir ayat ketiga:


سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ . وَءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلۡنَٰهُ هُدٗى لِّبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُواْ مِن دُونِي وَكِيلٗا . ذُرِّيَّةَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبۡدٗا شَكُورٗا

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku. (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur."(QS. al-lsraa: 1-3)

Belajar dari cobaan dan ujian yang menimpa Nabi Ibrahim a.s

Nabi Ibrahim a.s bapak ketiga umat manusia. Beliau adalah kakek para Nabi, imam agama yang hanif serta kekasih Allah swt. Nabi Ibrahim diberikan ujian dan cobaan yang paling besar adalah untuk mengorbankan jiwa anaknya  disembelih untuk Allah swt.

Ketika Nabi Ibrahim a.s. diperintahkan oleh Allah swt. untuk menyembelih anaknya, dengan cepat Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah swt. dan sang anak pun menyetujuinya dengan penuh kerelaan serta penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt. Allah swt. Maha mengetahui kesungguhan dan loyalitas dari Nabi Ibrahim dan anaknya, maka kemudian Allah swt. mengganti sembelihan itu dengan seekor kambing yang gemuk.

Salah satu keistimewaan yang diberikan Allah swt. kepada beliau Nabi Ibrahim a.s. setelah beliau diuji untuk menyembelih anaknya sendiri untuk melaksanakan perintah Allah swt., yaitu Allah swt. memberkahi keturunannya dan memperbanyaknya hingga tersebar ke seluruh dunia dan memenuhi bumi, memberikan kenabian dan kitab khusus untuk anak cucunya, dan dari mereka, Allah mengutus Nabi Muhammad saw.

Sebab, yang diinginkan dari seorang anak adalah untuk memperbanyak keturunan, oleh karena itulah Nabi Ibrahim a.s. berkata dalam doanya:

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Artinya: Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (Qs. ash-Shaaffaat: 100)

Dan juga doa beliau Nabi Ibrahim a.s:

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ

Artinya: Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Qs. Ibrahim: 40)

Lihatlah hasil akhir yang didapatkan oleh Nabi Ibrahim a.s Karena membela agama Allah, karena kesabaran dan ketaatannya kepada Allah pada perintah-Nya, karena beliau mengorbankan jiwa anaknya untuk Allah swt. Allah menjadikannya sebagai kekasih dan memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw. untuk mengikuti agamanya.

Sesungguhnya Allah swt. adalah Maha pemberi karunia – akramul Akramiin, Allah swt tidak membutuhkan pemberian atau karunia dari siapapun. Oleh sebab itu, barangsiapa yang mengerjakan sesuatu perbuatan atau meninggalkan suatu pekerjaan karena mengharapkan Ridha Allah semata, maka Allah akan memberinya ganjaran yang berlipat ganda, yang jauh lebih banyak dari apa yang mereka kerjakan atau tinggalkan tersebut.

Keturunan dari Nabi Ibrahim a.s. terdiri dari dua umat besar yang tidak terhitung jumlahnya kecuali oleh Allah swt. yaitu Bani Israil dan Bani Ismail. Ini masih ditambah dengan yang disebutkan dan dipuji oleh seluruh bangsa, juga di langit oleh para malaikat. Ini sebagian dari buah perbuatannya. Celakalah orang yang sudah tahu hal ini lalu enggan melakukannya. Sungguh rugi dia.

Dikisahkan bahwa Daud a.s. pernah ingin tahu jumlah Bani Israel yaitu salah satu keturunan dari Nabi Ibrahim a.s.
Nabi Daud a.s menyuruh para pembantunya untuk menghitung jumlah keturunan Bani Israel, akan tetapi usaha mereka tidak berhasil. Dan kemudian Allah swt. berfirman kepada Nabi Daud a.s

"Kamu sudah tahu bahwa Aku telah menjanjikan kakekmu, Ibrahim, ketika aku perintah dia untuk menyembelih anaknya dan dia cepat menaati perintah-Ku, aku janjikan dia untuk memberkahi anak keturunannya sampai jadi banyak seperti bintang dan Aku jadikan mereka amat banyak sampai tidak terhitung jumlahnya."

Demikianlah hikmah yang dapat kita ambil dari ujian, cobaan dan musibah yang menimpa para Nabi bahwasanya setiap ujian, cobaan dan musibah mengandung nikmat, hikmah-hikmah yang akan mengantarkan hamba-Nya kepada tujuan dan ujung jalan yang paling mulia dan sempurna. Sebagaimana yang dicontohkan oleh para Nabi dalam menghadapi ujian, adalah dengan kesabaran dan ketaatan, tawakkal, usaha keras dan hanya mengharapkan ridha Allah swt.

Saturday, February 14, 2015

Hidup Sederhana Mencontoh Pribadi Rasul

Hidup Sederhana Mencontoh Pribadi Rasul

Bagaimanakah cara hidup sederhana ajaran dari Rasulullah Nabi Muhammad saw.? Sesungguhnya hidup sederhana ini dapat diterapkan bagi siapa saja, tidak hanya bagi mereka yang berada dalam kalangan menengah ke bawah, namun hidup sederhana dapat juga diimplementasikan dalam kehidupan mereka yang dalam keadaan yang serba ada atau kaya.

Dalam kehidupan Rasulullah saw. mengajarkan kepada setiap muslim untuk mencintai mereka para orang miskin yang terkesan hidup dalam kehidupan yang serba sederhana. Mereka orang miskin sangat memerlukan bantuan untuk meningkatkan derajat mereka, dan juga meneruskan hidup. 

Telah tertulis dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim maupun dalam dalil hadits Rasulullah Muhammad saw. menerangkan bahwa, Rasul dikenal sangat menyayangi dan juga dekat dengan orang miskin. Apabila Rasul saw. mempunyai rezki dalam bentuk makanan, maka Rasul mengumpulkan mereka untuk berbagi rezki makanan yang beliau peroleh.

Itulah salah satu kesederhanaan Nabi yang senang dan menyayangi mereka para kaum dhuafa. Di samping itu, Rasul juga sangat memperhatikan orang miskin. Nabi Muhammad Saw. sangat memperhatikan dan menyayangi orang miskin. Bukti perhatian beliau terhadap orang miskin adalah tercermin dalam doa beliau dalam hadits yang artinya bahwa Rasul ingin hidup serta mati dalam keadaan miskin. "Perhatikanlah orang miskin, karena orang miskin itu dikabulkan doanya oleh Allah Swt.," 

Firman Allah swt. pada salah satu surat yang berbunyi :

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ.  فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ.  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ 

Artinya : Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin

Begitu besar perhatian Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an bagi orang-orang miskin dan mereka adalah orang yang mendustakan agama yaitu mereka yang tidak memperhatikan orang-orang miskin.

Salah satu riwayat menyatakan bahwa Nabi saw. sangat menyukai kesederhanaan dalam kehidupan sehari-harinya dengan banyak bergaul dengan orang-orang miskin. Di antaranya adalah Nabi Nabi meningkatkan harga diri orang-orang miskin dengan berbagai macam cara antara lain menjahitkan baju milik janda tua yang miskin, memperbaiki sandal anak yatim. Juga ketika Nabi masuk ke dalam masjid, Nabi senantiasa memilih golongan orang-orang miskin untuk duduk dan bercengkrama dan terkadang tertawa bersama dengan mereka.

Dari paparan di atas, jelaslah bahwa Rasulullah saw. lebih menyukai hidup seperti kehidupan orang-orang miskin yaitu hidup sederhana. Nabi Muhammad saw. hidup dengan sangat sederhana karena beliau mengetahui dan memahami bahwa banyak sahabat-sahabat Nabi yang masih hidup dalam penderitaan. Bahkan beliau menahan rasa laparnya selama berhari-hari karena mengetahui bahwa ada sebagian sahabat Nabi yang juga tidak dapat makan selama berhari-hari. Subhanallah betapa mulianya pribadi dan akhlak Nabi. Saw.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa : setelah pulang dari perjalanan jauh, Nabi saw. dijamu oleh sahabat Aus bin Khaulah dengan madu dan susu. Akan tetapi Rasulullah tidak menerimanya dan berkata : Aku tidak mengatakan bahwa ini adalah haram. Namun, aku tidak ingin kelak pada hari kiamat nanti Allah bertanya kepadaku tentang hidup berlebihan di dunia ini.  (HR Ahmad bin Hambal).

Kita mengetahui bahwa masih banyak saudara kita yang berada dalam kesusahan dan kemiskinan. Sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi dan juga dalam kehidupan Nabi yang lebih memilih Hidup dalam kesederhanaan dan begitu memperhatikan serta menyayangi orang-orang miskin yang hidup serba sederhana. Mari kita meneladani hidup sederhana Nabi Muhammad saw dan dapat mengambil hikmah keteladanan Nabi dalam kehidupan kita sehingga tampil sederhana dan bersahaja.

Unuk memulai sikap hidup sederhana dapat kita mulai dengan membiasakan diri untuk hemat,  tidak menampilkan dan bersikap sombong serta hidup dalam kemewahan. Tidak ada untungnya bersikap sombong, perlu diketahui bahwa tempat kesombongan adalah dilemparkan dalam neraka jahanam. Sikap hidup sederhana yang lain dapat ditunjukkan dengan sikap ikut merasakan dan mencintai mereka yang miskin dan lemah dengan bersedekah, berinfak, berderma bagi mereka yang dalam kesusahan dan kekurangan. Berbagi itu indah dan tidak akan kekurangan.

Sunday, December 14, 2014

Arti Penting Sentuhan Kasih Sayang dalam Islam

Arti Penting Sentuhan Kasih Sayang dalam Islam

Islam adalah agama yang rahmatal lil alamin mengajarkan berbagai macam hal, termasuk juga memberikan perhatian pada sentuhan kasih sayang kepada anak khususnya anak yatim. Sentuhan kasih sayang mempunyai pengaruh dan arti penting pada aspek kejiwaan seseorang. Hal ini diajarkan dalam Islam dan telah diimplementasikan dalam suri tauladan Nabi dalam memberikan kasih sayang kepada anak serta telah dibuktikan dalam berbagai hasil penelitian tentang arti penting, pengaruh dan pentingnya sentuhan kasih sayang.

Kasih sayang dalam Islam

Sebuah hadits diriwayatkan dari Istri Nabi Siti Aisyah ra., beliau berkata : Rasulullah saw. didatangi oleh seorang Arab  Badui, kemudian Nabi saw, bertanya kepada mereka : apakah kamu mencium  anak-anak?. Orang Badui pun menjawab : demi Allah, kami tidak  pernah  mencium  anak-anak. Maka, Rasulullah Saw. Bersabda : apa yang mampu  aku lakukan  apabila Allah  telah  mencopot kasih sayang dari hatimu. (HR. Ahmad).

Rasulullah Nabi Muhammad Saw. menjadikan usapan pada kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang sebagai obat keras hati. Dalil hadits diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa ada seorang laki-laki mengadu kepada Nabi Saw. tentang kekerasan hatinya. Kemudian Rasulullah saw. Bersabda : apabila kamu akan menjadikan hatimu itu lembut, maka berilah makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim. (HR. Ahmad).

Juga Hadits Nabi saw. tentang sentuhan kasih sayang. Dari Abu Umamah meriwayatkan bahwa Nabi Saw. Bersabda : barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim karena Allah swt, maka untuk mereka setiap rambut yang diusapnya akan menjadi kebaikan untuknya (HR. Ahmad).

Sentuhan kasih sayang dalam ilmu dan penelitian

Berbagai penelitian tentang pengaruh pentingnya sentuhan kasih sayang telah banyak dilakukan. Hal ini tentu saja sejalan dengan ajaran Islam yang telah diajarkan oleh Nabi baik dalam perkataan (sabda) maupun perilaku Nabi dalam berkasih sayang kepada anak.

Sebuah penelitian dari seorang ahli Neuro Linguistic Program (NLP) telah melakukan pengamatan dan penelitian mengenai banyaknya angka kematian pada setiap tahunnya. Penelitian ini membandingkan antara banyaknya angka kematian yang terjadi pada anak yatim yang berada di panti-panti asuhan di Amerika dan di Brasil.

Penelitian dengan mengambil sampel untuk penelitian dari kedua negara tersebut. Dari penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab kematian yang terjadi pada anak-anak yatim di panti-panti asuhan disebabkan karena lemahnya syaraf pada otak dan matinya sebagian pusat perasaan yang ada di otak dari anak-anak penghuni panti asuhan.

Para peneliti memperoleh suatu kesimpulan yang istimewa, yaitu bahwa perlakuan sentuhan kasih sayang yang dilakukan beberapa kali kepada anak yatim dalam setiap  harinya mempunyai pengaruh besar pada penyebab lemahnya syaraf pada otak dan matinya sebagian pusat perasaan yang ada di otak. 

Sentuhan kasih sayang yang dimaksud adalah dengan cara menjabat tangan anak yatim, mengusap kepala anak, memeluk anak, mencium anak, dan sentuhan-sentuhan kasih sayang yang lainnya. Hal-hal inilah yang rupanya tidak dilakukan pada panti-panti asuhan yang memiliki tingkat kematian anak yatim yang banyak.

Dari hasil penelitian NLP telah membuktikan bahwa sentuhan kasih sayang mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa serta perilaku manusia. Sentuhan merupakan landasan dasar atau asasi untuk mengakui keberadaan atau eksistensi manusia serta pengakuan terhadap harga diri manusia.

Ajaran Islam memberikan perhatian khusus terhadap sentuhan kasih saying tersebut, khususnya sentuhan kasih sayang kepada anak yatim. Sentuhan kasih sayang adalah merupakan bahasa untuk menyampaikan perasaan positif yang dipahami manusia. Dalam hal ini anak yatim, mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mendapatkan belaian kasih sayang dari seorang ibu ataupun ayahnya.

Anak yatim tidak pernah memperoleh dan merasakan kasih sayang berupa kehangatan dekapan ibunya saat disusui, tidak pernah merasakan kelembutan ciuman orang tuanya, serta tidak pernah merasakan keindahan saat dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Mereka juga tidak mudah untuk mendapatkan pengganti dari semua bentuk sentuhan kasih sayang tersebut. Sehingga mereka sangat membutuhkan sentuhan kasih sayang sehingga mereka bisa menyongsong hidup dengan penuh bahagia.

Demikianlah mulianya perhatian islam terhadap sentuhan kasih sayang, terutama kasih sayang kepada anak yatim. Sentuhan kasih sayang hendaknya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari kepada siapapun baik kepada orang tua, saudara, teman, rekan kerja dan lain sebagainya khususnya kepada mereka anak yatim yang sangat amat kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Saturday, November 29, 2014

Mencontoh Kepemimpinan Nabi yang Bijaksana

Mencontoh Kepemimpinan Nabi yang Bijaksana

Pemimpin dalam hal ini tidak hanya pemimpin sebuah negara, namun pemimpin dalam rumah tangga, pemimpin suatu organisasi, pemimpin kelompok, hingga pemimpin setingkat lokal atau daerah hendaknya mencontoh kepemimpinan yang bijaksana dari pribadi Rasulullah saw. berikut ini adalah kisah cerita tentang pribadi yang bijaksana dari Nabi Muhammad saw. dalam memimpin umatnya yang dapat kita jadikan contoh suri tauladan yang baik bagi seorang pemimpin.

Salah satu kisah cerita tentang kepemimpinan yang bijaksana dari Nabi Muhammad saw. adalah pada saat itu Nabi Rasulullah  Muhammad Saw. bersama-sama dengan para sahabat sedang sholat berjamaah, perasaan sahabat Nabi Umar bin khattab yang berada barisan depan merasa terganggu pikirannya memperhatikan gerakan Tubuh Nabi Saw. yang kelihatannya terasa berat dan sukar seperti terasa sakit. Pada gerakan Nabi seperti terdengar bunyi-bunyian yang mencolok seperti seolah-olah tulang persendian Nabi saling bergesekan di antara tulang satu dengan tulang lain. Dan sahabat Umar bin Khattab merasa bahwa Sholat pada waktu itu terasa lebih lama dari biasanya.

Setelah shalat jama’ah tersebut, Umar bin Khattab r.a. yang merasa begitu khawatir dengan keadaan Nabi Muhammad Rasulullah saw. menjumpai Nabi saw. Kemudian, Umar duduk mendekati Rasulullah saw dengan hati-hati di sisi beliau dan bertanya kepada Rasulullah : Ya Nabi, kami melihat engkau seolah-olah sedang menanggung beban penderitaan yang sangat berat, apakan engkau sakit, ya Rasul?. Nabi Muhammad Saw. menjawab : Tidak, Umar; Alhamdulilah aku sehat." Sembari menggeleng dan tersenyum.

Sembari memperlihatkan ekspresi wajah yang penuh kasih sayang, khawatir dan prihatin, Umar berkata : mengapa engkau setiap kali menggerakkan tubuh, kami seperti mendengar seolah-olah sendi di tubuhmu saling bergesekan?" Kami  yakin  kalau engkau sedang dalam keadaan sakit wahai Rasul."

Nabi Rasulullah saw. meskipun keadaan beliau agak lemah dan pucat, namun Rasulullah Saw. masih tetap tersenyum. Sepertinya senyuman Nabi saw. itu hanya sebuah usaha menjadi pelipur lara dari sesuatu masalah yang tidak  beliau ungkapkan meskipun kepada sahabat dekat beliau Umar.

Namun, kemudian beliau merasa jawaban Nabi yang berucap 'tidak' sudah tidak bisa menjadi mencukupi karena perasaan Umar yang begitu prihatin, Nabi Rasulullah Saw. kemudian mengangkat jubah sehingga bagian perutnya terlihat dengan jelas. Umar dan para sahabat pun terpana melihat perut Rasulullah saw. yang begitu kempis, dililiti dengan kain yang berisi dengan batu kerikil. Ternyata batu kerikil itulah yang menyebabkan bunyi seperti persendian Nabi yang bergesekan ketika beliau menjadi imam Sholat berjamaah yang memberikan penafsiran Umar dan para sahabat bahwa Nabi saw. sedang dalam keadaan sakit berat.

Suara Umar bergetar dengan rasa iba dan penyesalan, kemudian berkata : Ya Rasul, apakah bila engkau mengatakan kepada kami tidak punya makanan dan sedang lapar, kami tidak akan menyiapkan dan menyediakan makanan kepadamu?

Setelah membuka jubahnya, Rasulullah kembali menutup perutnya sambil menatap sahabat Umar dengan tatapan yang penuh dengan pancaran cinta. "Tidak, wahai Umar. Aku tahu, bahwa kalian akan mengorbankan apa pun demi aku, namun di hadapan Allah, apa yang akan aku katakan kelak nanti apabila sebagai pemimpin aku menjadi beban bagi umat yang aku pimpin?"

Kemudian Rasulullah saw. menyampaikan kepada sahabat-sahabat yang hadir : biarlah  kelaparanku  ini adalah sebagai hadiah dari Allah untuk diriku  agar  kelak umatku  tidak ada yang kelaparan di dunia ini, terlebih nanti di akhirat. Demikianlah ujar Rasulullah.

Mendengar demikian, semua yang hadir pun terdiam, bahkan ada yang terisak haru mendengat perkataan Rasulullah tesebut. Dan Umar pun maklum dan tidak dapat berbuat apapun terpaksa mengikuti keinginan beliau Rasulullah. Sungguh mulia Allah mengutus utusannya sebagai pemimpin yang begitu bijaksana yang tidak memberikan beban kepada umat yang dipimpinnya. Pemimpin seperti inilah yang menjadi idaman setiap rakyatnya dan kelak pemimpin seperti inilah yang akan dinaungi oleh Allah dalam lindungannya. Wallahu ‘alam.

Sunday, July 27, 2014

no image

Cerita Kisah Akhlak Nabi Muhammad saw

Berikut ini adalah cerita kisah akhlak Nabi Muhammad saw. yang bersumber dari firman Allah Al Qur'an Al-Karim dan juga dari dalil hadits Nabi Muhammad saw. Cerita atau kisah ini tentu saja dimulai dari semenjak Nabi Muhammad kecil sampai remaja beliau Muhammad senantiasa menunjukkan akhlak yang mulia. 

Banyak dalam firman dalam dalam ayat-ayat al-Qur'an yang menunjukkan dan menggambarkan kisah atau cerita bahwa Allah senantiasa membimbing Nabi Muhammad untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia. Di antara ayat-ayat firman Allah antara lain :

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh (QS. Al-A’raf ; 199)

Juga firman Allah dikisahkan:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡي 

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (QS. An-Nahl : 90).

Dalam firman Allah yang lain diceritakan dan dikisahkan sebagai berikut :

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl : 125).

Cerita juga kisah tentang akhlak Nabi Muhammad Rasulullah saw juga dapat kita baca dan temukan dari doanya yang selalu beliau ucapkan yang berbunyi :

اللهمّ كما احسنت خلقى فحسّن خلقى, اللهمّ جنبنى منكرات الاخلاق اللهم اهدني لأحسن الأخلاق لا يهدي لأحسنها إلا أنت

Artinya : Ya Allah, sebagaimana Engkau menjadikan badanku baik, baikkanlah akhlakku. Ya Allah jauhkanlah diriku dari akhlak yang munkar. Ya Allah tunjukkanlah kepada akhlak yang terbaik, karena hanya Engkaulah yang menunjukkan kepada akhlak yang terbaik  (HR. Ahmad).

Nabi Muhammad Rasulullah saw selalu menyeru pada kaum muslimin agar mempunyai sifat-sifat keutamaan dan menjauhi sifat-sifat yang tercela. Dalam dalil sabda Nabi :

إِنَّ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاقًا الموطئون أكنافا الذين يألفون ويؤلفون 

Artinya : Sesungguhnya orang yang paling dicintai dan paling dekat padaku pada hari kiamat adalah orang Islam yang paling baik akhlaknya di antara kamu sekalian, suka menerima tamu, senang kepada orang dan disenangi oleh orang.

Demikian juga dikisahkan dalam salah satu hadits Nabi Muhammad saw. :

إِنَّكُمْ لا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ .

Artinya : Sesungguhnya kami tidak dapat mencukupi kebutuhan manusia hanya dengan harta benda kamu saja, tetapi cukupilah mereka dengan wajahmu yang berseri-seri dan akhlak yang baik  (HR. Ya'la)

Dikarenakan gemarnya Nabi Muhammad Rasulullah saw. dengan akhlak mulia, maka Allah memujinya seperti yang tersebut dalam Firman Allah swt. :

 وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ 

Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam : 4)

Juga disebutkan dalam surat-surat yang lain dikisahkan :

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-ahzab : 21).

Dari kisah, cerita ayat-ayat dan hadits di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Rasulullah Nabi Muhammad adalah sangat mengutamakan akhlak mulia, oleh karena beliau dinyatakan oleh Allah sebagai percontohan atau suri tauladan yang baik bagi seluruh umat manusia.

Sehubungan dengan hal di atas, Nabi Muhammad saw mempunyai sifat-sifat yang menggambarkan akhlak yang mulia, yaitu sebagai berikut :
  • Asy-syajaah yagn artinya keberanian.
  • Al-Karam artinya : pemurah.
  • Al-Adl artinya adil.
  • Al-Iffah artinya harga diri
  • Ash-Shiddiq artinya : benar atau jujur
  • Al-Amanah artinya : dapat dipercaya
  • Ash-Shabr artinya sabar
  • Al-Hilm artinya : lapang hati
  • Al-'Afwu artinya pemaaf
  • Ar-Rahman artinya kasih sayang
  • Itsarussalam artinya : mengutamakan perdamaian
  • Az-Zuhud artinya zuhud.
  • Al-Haya' artinya malu
  • Asy-Syura' artinya musyawarah
  • Hubbul amal artinya gemar bekerja
  • Al-bisyar wal fukahan artinya : gembira dan suka humor atau bercanda atau bergurau.
Itulah sifat-sifat yang menonjol dari beliau Nabi Muhammad saw. yang mana sifat-sifat tersebut jarang sekali dimiliki oleh orang-orang biasa.

Di antara sifat-sifat Nabi Muhammad yang banyak itu, menurut pendapat Imam Al-Ghazali dapat disimpulkan menjadi empat sifat, yaitu sebagai berikut :
  • Al-hikmah adalah tingkatan jiwa yang dengan dia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar dari suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa paksaan.
  • Asy-Syajaah adalah tunduknya kekuatan amarah pada akal dalam bertindak maju dan mundur.
  • Al iffah adalah terlatihnya kekuatan syahwat oleh kekuatan akal dan syara'
  • Al Adl adalah suatu tingkah laku dan kekuatan jiwa, yang apabila orang memilikinya maka dia bisa mengendalikan amarah dan syahwat dan mengeluarkannya pada tujuan yang baik/
Kemudian Imam Ghozali melanjutkan "dari kesederhaan empat sifat pokok ini, timbul kondisi-kondisi yang baik yaitu seperti :
  • Ketajaman otak,
  • Kejernihan pikiran, 
  • Cepat dalam berpikir
  • Teliti dalam memperhatikan penyakit-penyakit jiwa yang tersembunyi
  • Teliti dalam memperhatikan detail-detail perbuatan
Sebaliknya sifat-sifat yang berlebihan dari empat sifat pokok tersebut akan menimbulkan sifat-sifat yang tidak baik seperti licik, suka melakukan tipu muslihat dan lain sebagainya.

Apabila sifat-sifat tersebut diabaikan, maka akan timbul sifat-sifat seperti lemah akal, bodoh, tidak cerdas dan gila.

Dari kesederhanaan sifat Syajaah yang berlebihan, maka akan menimbulkan sifat-sifat sombong, keras, sifat takabur, suka memuji diri sendiri dan lain sebagainya.

Apabila mengabaikan sifat syajaah, maka akan timbul sifat-sifat seperti mempunyai rasa hina, rendah diri, gelisah, berjiwa kecil dan lain sebagainya.

Dari kesederhaan sifat iffah, maka akan timbul sifat-sifat seperti pemurah, rasa malu, toleransi, sabar, takwa, kepuasan hati, tidak tamak atau serakah, lemah lembut.

Apabila sifat iffah ini berlebihan, maka akan timbul sifat-sifat seperti masa bodoh, keras, tamak, tidak sopan, iri dengki, suka menghinda orang, mencaci dan lain sebagainya. Demikian juga apabila sifat iffah ini diabaikan, maka dapat terjadi hal-hal sebagaimana tersebut.

Oleh sebab itu, jelaslah kiranya bahwa pokok dari akhlak itu adalah empat sifat yang sudah disebutkan di atas. Sedangkan sifat-sifat yang lain adalah merupakan cabang atau akibat dari suatu keadaan apabila empat sifat tadi diabaikan ataupun berlebihan.

Sunday, May 25, 2014

no image

Kenyataan Penting Peristiwa Isra Miraj

Nabi Muhammad Rasulullah saw. melakukan "Isra' dan Mi'raj" tentunya adalah suatu peristiwa, kisah yang mengandung hikmah dan berbagai kenyataan-kenyataan penting pada kisah atau peristiwa isra miraj Nabi tersebut.

Berikut ini adalah beberapa kenyataan-kenyataan penting dari peristiwa kisah isra' miraj Nabi Muhammad saw:

Kejadian Isra' dan Mi'raj adalah mu'jizat yang abadi. 

Dengan peristiwa agung tersebut, Allah memuliakan Nabi besar kita, Muhammad saw. pada saat beliau dilanda duka dan kesulitan yang begitu hebat. Pada saat itu, orang-orang kafir melampaui batas dalam melancarkan siksaan mereka, merintangi dakwah Rasul, mengancam, dan menyiksa para pengikut dan sahabat Rasul. Peris­tiwa Isra' dan Mi'raj ini terjadi setahun sebelum hijrah, sebagai penghormatan, pemuliaan dan penghibur diri, dengan mengadakan lawatan agung ke kerajaan langit dan bumi.

Arti Isra' dan Miraj

Isra' artinya adalah perjalanan Rasulullah saw. di malam hari dari Makkah ke Baitul-Maqdis yang dilakukan dalam beberapa saat saja. Sedangkan Mi'raj, artinya adalah naiknya Rasulullah saw. ke tujuh lapis langit dalam waktu yang begitu cepat.

Isra' dan Mi'raj ini dilakukan dengan ruh dan jasad Rasulul­lah saw. agar tertulis mu'jizat abadi Rasul kita yang agung dalam deretan mu'jizat-mu'jizat pada Rasul yang lain. Ia merupakan bukti kebenaran kenabian mereka, dan bukti yang berbicara tentang kebenaran risalah yang mereka bawa.

Apakah pemandangan-pemandangan terpenting yang disaksi­kan Rasulullah saw. dalam perjalanan isra'  miraj?

Ath-Thabrani, Al-Bukhari, Al-Baihaqi, Al-Bazzar meriwayat­kan bahwa Rasulullah saw. lewat pada suatu kaum yang menanam dan menuai pada satu hari. Setiap kali mereka menuai, pepohonan yang dituai itu kembali seperti semula. Maka, beliau bertanya kepada Jibril as.:

"Apakah ini?" Jibril menjawab, "Mereka adalah para Muja­hidin (orang-orang yang berperang/berjihad) di jalan Allah, ke­baikan mereka berlipat ganda hingga tujuh ratus lipat ganda, dan apa yang mereka nafkahkan (belanjakan) berupa apa saja, maka mereka mendapatkan balasannya, dan Dia (Allah) adalah sebaik-baik pemberi rizki".

Kemudian, beliau mendatangi suatu kaum yang memecahkan kepalanya dengan batu besar. Setiap kali mereka pecahkan, kepala tersebut kembali seperti semula. Dan kejadian tersebut terus berulang tiada henti-hentinya. Maka beliau bertanya, "Kenapa mereka, wahai Jibril?" Jibril menjelaskan, "Mereka adalah orang-orang yang pura-pura berat kepalanya untuk mengerjakan shalat fardhu".

Kemudian, beliau mendatangi suatu kaum yang muka dan belakang badan mereka penuh dengan kurap. Mereka merangkak seperti merangkaknya binatang ternak. Mereka makan pohon berduri, makanan yang membunuh (jenis pohon yang tumbuh di neraka), dan batu-batu panas Jahannam. Maka beliau bertanya, "Kenapa mereka itu ?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang tiada menunaikan zakat hartanya, sekali-kali Allah tidak menganiaya mereka, dan sekali-kali Tuhanmu tidak berbuat dhalim kepada hamba-Nya".

Kemudian, beliau didatangkan kepada suatu kaum yang dihadapkan kepada dua macam daging. Yang satu telah dimasak dan yang satu mentah dan busuk. Tetapi, kaum tersebut justru makan yang mentah dan busuk itu, dan meninggalkan yang matang. Kemudian beliau bertanya, "Siapakah mereka itu wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka adalah sebagian dari umatmu. Mereka telah mempunyai wanita yang halal bagi mereka dan bagus. Tetapi, mereka mendatangi wanita buruk dan haram, dan bermalam padanya hingga pagi. Para wanita itu mempunyai suami (laki-laki) yang halal, akan tetapi mereka mendatangi laki-laki keji (haram), bermalam padanya hingga pagi".

Kemudian, beliau datang kepada suatu kaum yang memotong lidah dan mulut dengan gunting besi. Setiap kali mereka menggunting, lidah dan mulut mereka kembali seperti semula. Hal itu mereka lakukan terus menerus tiada henti-hentinya. Maka beliau bertanya, "Siapakah mereka itu, wahai Jibril?" Jibril menjelaskan, "Mereka adalah para khatib palsu, yang suka menimbulkan fitnah (kekacauan)".

Kemudian, beliau melewati suatu kaum. Bibir mereka seperti bibir unta. Mereka makan batu bara yang pijar, dan keluar lagi dari dubur mereka. Maka beliau bertanya, "Siapakah mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang makan harta anak yatim secara aniaya".

Lalu, Nabi lewat kepada suatu kaum yang memotong daging mereka sendiri, lalu memakannya. Maka beliau bertanya kepada Jibril, "Siapa mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka mencaci maki dan membuka aib orang'"

Dan masih banyak pemandangan lain yang ditunjukkan kepada Rasulullah saw. pada malam Isra' dan Mi'raj.

Dalam perjalanan isra' miraj yang diberkati ini, beliau telah berkumpul dengan para Nabi dan Rasul yang menyambut dan menyalaminya. Bahkan Rasulullah saw. mengimami shalat di masjid Aqsha.

Setelah kita mengetahui berbagai pemandangan mu'jizat dari peristiwa isra' miraj nabi ini, hendaknya dapat menekankan kepada kita akan pentingnya shalat, dan balasan orang-orang yang malas mengerjakannya, termasuk siksa yang akan menimpa. Bahwa shalat difardhukan pada malam 'isra' dan Mi'raj di langit, agar kaum Muslimin juga melakukan "Miraj" dengan ruhnya pada saat dia khusyu'. Ruhnya melesat ke langit, memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla agar Allah mengaruniakan kepada keteguhan hidup, semangat jihad dan gelora takwa. Karenanya pada saat seperti itu, seorang Muslim akan terjauhkan dari godaan hidup, bisikan hawa nafsu dan ketamakan dunia yang fana.

Melalui isra' mi'raj pula dapat memperingatkan kita pada masalah dosa zina, makan harta dengan batil, membicarakan keburukan orang (ghibah/meng­umpat) dan mengadu domba. Juga masalah mencaci maki dan menjelek-jelekkan orang lain, dalam mengomentari penuturan pengalaman Rasulullah saw. Sehingga, diharapkan kita dapat mengambil pelajaran dari sejarah Rasulnya, dan setelah mengetahui balasan apa yang didapat orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan membuat kerusakan. Dengan demikian, dengan sendirinya kita akan menjauhi perbuatan seperti itu.

Tuesday, May 20, 2014

no image

Contoh Cara Nabi Mempererat Hubungan

Nabi saw. pendidik pertama dan teladan yang baik bagi semuanya — adalah contoh tertinggi dalam menerapkan  cara-cara yang positif dalam mempererat hubungan di hadapan para sahabat, keluarga dan anaknya. Berikut adalah contoh-contoh sikap beliau dalam mempererat hubungan dengan keluarga, para sahabat dan anak beserta haditsnya.

Contoh Bersikap bermanis muka

Dari segi senyuman, Abu 'd-Darda' berkata — sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

مَارَأَيْتُ أَوْسَمِعْتُ رَسُوْلَ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ حَدِيْثًا إِلاَّ تَبَسَّمَ٠

"Tidak pernah saya lihat atau saya dengar Rasulullah saw. mengatakan suatu perkataan kecuali sambil tersenyum".

Hadits : At-Tirmidzi meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah:

مَاحَجَبَنِيْ رَسُوْلَ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ وَلاَ رَآنِيْ إِلاَّ تَبَسَّمَ٠

"Rasulullah saw. tidak pernah mendindingiku sejak saya masuk Islam, dan tidak pernah melihatku kecuali sambil tersenyum".

Contoh sikap memberi motivasi dan hadiah

Dari segi hadiah, Rasulullah saw. menerima hadiah dan mem­balasnya.

Contoh sikap berkasih sayang Rasulullah

Dari segi berkasih sayang dengan anak-anak dan memberikan perhatian kepada mereka:

Rasulullah saw. membelai dan mencium anak-anak. Tersebut dalam Shahihain dari 'Aisyah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. mencium Hasan dan Husain, keduanya anak Ali. Di samping beliau, duduk Al-Aqra' bin Habis At-Tamimi. Maka Al-Aqra' berkata, "Saya punya sepuluh anak, seorang pun dari mereka tak pernah saya menciumnya!" Maka Rasulullah saw. memandangnya dan bersabda, "Barang siapa yang mengasihi ia akan dikasihi".

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.:

كاَنَ إِذَا أُوْتِيَ بِأَوَّلِ مَايُدْرَكُ مِنَ الْفَاكِهَةِ يُعْطِيْهِ لِمَنْ يَكُوْنُ فِي الْمَجْلِسِ مِنَ الصِّبْيَانِ٠

"Bahwa Rasulullah saw. jika diberi buah-buahan hasil petikan pertama, beliau memberikannya kepada anak-anak yang duduk bersama beliau".

Asy-Syakhani meriwayatkan dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw bersabda:

إِنِّيْ لأَدْخُلُ فِى الصَّلاَةِ أُرِيْدُ إِطَالَتَهَا٬ فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِيْ صَلاَتِيْ٬ ممَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ٠

"Sesungguhnya saya masuk ke dalam shalat, dan saya ingin mengerjakannya dengan lama, lalu mendengar tangisan anak kecil. Maka aku menyingkat shalatku, karena saya tahu bahwa (yang sedang makmum) merasa iba kepadanya (ibunya)".

Contoh Sikap Budi pekerti yang baik

Dari segi pekerti yang baik, keramahtamahannya kepada para sahabat, bukti-buktinya tidak dapat kita hitung.

Tersebut dalam Shahihain dari Anas ra. ia berkata: "Saya mengabdi Rasulullah saw. selama sepuluh tahun, tidak pernah beliau berkata kepadaku 'cih' (kata-kata yang menunjukkan benci), dan tidak pernah berkata terhadap perbuatan yang saya lakukan 'kenapa kamu tidak mengerjakan itu?' dan tidak pernah berkata terhadap perbuatan yang saya tinggalkan 'kenapa kamu tidak mengerjakannya?

Dan dalam riwayat Abu Na'im, Anas berkata, "Sama sekali Rasulullah saw. tidak pernah mengecamku, tidak pernah memukulku, tidak pernah menghardikku, belum pernah bermuka cemberut di depanku. Jika menyuruhku suatu perkara lantas saya lambat mengerjakannya, tidak pernah beliau menghukum. Dan jika salah seorang dari keluarganya mencelaku, beliau berkata, 'Biarkanlah, jika ia mampu tentu ia mengerjakan­nya".

Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari 'Aisyah ra. bahwa beliau di­tanya:
"Bagaimana sikap Rasulullah saw. jika sedang berada di rumahnya?" Maka 'Aisyah menjawab, "Beliau adalah orang yang paling lemah lembut, senantiasa tersenyum dan bermanis muka, sama sekali belum terlihat beliau menjulurkan kedua kakinya di hadapan para sahabatnya".

Ini karena keagungan budi pekerti beliau, dan kesempurnaan sopan santun Nabi Muhammad.

At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Bukhari dalam Al-Adabu 'l-Mufrid, ia berkata:
"Umar minta izin kepada Rasulullah saw., dan beliau menge­nal suaranya, maka beliau berkata, 'Selamat datang Ath-Thay y ibu 'l-Muthayyib (yang baik dan menjadikan orang lain baik')".

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bertemu dengan seorang laki-laki dan menyapanya, "Wahai Fulan, bagaimana kabarmu?" Baik, al-hamdulillah, sahut laki-laki itu. Dan Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Semoga Allah membuatmu baik selamanya".

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali ra., ia berkata: "Ketika Rasulullah saw. baru diutus sebagai Rasul, saya datang kepadanya, maka beliau berkata, 'Berita apa yang kamu bawa?' Maka aku berkata, 'Saya datang untuk masuk Islam'. Maka beliau memberikan kantung makanan kepadaku dan katanya, 'Jika datang kepadamu suatu kaum yang mulia, maka hormatilah mereka".

Muslim meriwayatkan dari Sammak bin Harb, ia berkata:
"Saya berkata kepada Jarir bin Samrah ra., 'Apakah kamu pernah bergaul dengan Rasulullah saw.?' Maka Jarir berkata, 'Ya, banyak sekali, beliau tidak berdiri dari tempat shalatnya setelah shalat subuh, sehingga matahari terbit. Jika terbit, barulah beliau berdiri. Dan orang-orang tengah berbincang-bincang tentang masa Jahiliyah, maka mereka tertawa dan Rasulullah saw. tersenyum".

Dalam Shahihuin dari Anas ra., ia berkata: "Rasulullah saw. beramah tamah dan bercanda dengan kami hingga beliau berkata kepada saudaraku, 'Wahai Abu Umar, apa yang dikerjakan An-Nughair (burung)', karena saudaraku memiliki burung dan ia bermain dengannya, lalu burung tersebut mati. Maka Rasulullah saw. sedih, lantas berkata, "Ya Abu Umar, apa yang dikerjakan An-Nughair?"

Bertitik tolak dari cara-cara positif yang telah diterapkan oleh Rasulullah saw. dalam bergaul dengan para sahabatnya, besar maupun kecil. Sehingga beliau mencintainya dengan cinta yang lulus dan jujur, mengurbankan jiwa raga dan harta karena kecinta­annya itu. Mereka adalah sebagaimana yang difirmankan Allah:


. . dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul (Q.S. 9:120)

Sebagai penguat lainnya adalah apa yang diriwayatkan Al- Baihaqi dan Ibnu Ishaq bahwa seorang wanita dari kaum Anshar, ayahnya telah gugur, saudara dan suaminya sebagai syuhada' pada hari peperangan Uhud beserta Rasulullah saw. Ketika wanita tersebut menerima berita menyedihkan itu, ia berkata, "Bagai­mana dengan Rasulullah saw.?" Maka orang-orang yang membawa berita berkata, "Baik. Al-Hamdulillah, beliau dalam keadaan yang engkau inginkan". Wanita itu berkata, "Jumpakanlah aku dengannya hingga aku dapat melihatnya". Maka setelah wanita itu melihat Rasulullah saw., ia berkata, "Semua musibah setelah keselamatanmu adalah ringan".

Juga termasuk penguat kecintaan ini, bahwa seorang sahabat tidak bersabar untuk berpisah, baik di dunia lebih-lebih lagi di akherat.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari 'Aisyah ra. bahwa seorang laki-laki, Tsauban, datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, "Sungguh engkau lebih saya cintai dari keluarga dan hartaku. Dan sesungguhnya saya ingat kepada engkau dan saya tidak sabar sehingga datang kepadamu, dan saya ingat akan matiku dan matimu. Aku tahu bahwa engkau, jika masuk surga, maka engkau akan diangkat bersama para Nabi. Dan jika aku masuk surga, sama sekali aku tidak melihatmu". Kemudian Allah menurunkan ayat di bawah ini:
 
Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahkan nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqin (yaitu orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul). Orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Q.S. 4: 69)

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan Tsauban dan mem­bacakan ayat tersebut kepadanya.

Juga menguatkan kecintaan ini adalah tangis mereka ketika mengingat Rasulullah saw.
  • Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari 'Ashim bin Muhammad dari ayahnya. Ia berkata, "Tidak pernah saya mendengar Ibnu Umar menyebut Rasulullah saw. kecuali kedua matanya berlinang air mata".
  • Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan dari Anas ra., ia berkata, "Tak semalam pun berlalu, dan saya pada malam itu melihat kekasihku saw." Kemudian ia menangis.
  • Ibnu 'Asakir dengan sanad jayyid meriwayatkan sebagai­mana dinasihatkan oleh Al-Hafizh Az-Zarqani, dari Bilal ra., bahwa beliau, ketika mampir di Badariya — nama tempat dekat negeri Syam — mimpi bertemu dengan Rasulullah saw., yakni setelah wafatnya. Beliau berkata, "Kenapa kamu pergi sejauh ini, wahai Bilal? Tidakkah saatnya kamu menziarahiku?" Maka Bilal jaga dengan hati yang pilu. Ia pun menunggang kudanya menuju Madinah, dan mendatangi kuburan Rasulullah saw. Bilal menangis, menciuminya sehingga wajahnya penuh debu.
  • Maka datang Hasan dan Husain, kemudian Bilal memeluk dan menciuminya. Keduanya berkata, "Kami mengharap men­dengar adzanmu yang pernah engkau kumandangkan untuk Rasulullah saw. di masjid". Maka Bilal menaiki permukaan masjid, berdiri di tempat yang biasanya dahulu, ketika ia mengumandang­kan "Allahu Akbar, Allahu Akbar". Seluruh penduduk Madinah tersentak goyah. Dan ketika Bilal mengumandangkan "Asyhadu an-la ila ha illallah, bertambahlah kegoyahan mereka, dan ketika Bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammada 'r-Rasulullali", keluarlah wanita-wanita dari bilik mereka dan bertanya- tanya, "Apakah Rasulullah saw. diutus kembali?" Maka belum pernah terjadi gegap gempita tangisan yang sehebat dari itu.
Hal itu karena mereka ingat kepada Rasulullah saw. setelah mendengar adzan yang dikumandangkan ahli adzan beliau, Bilal ra.

Kecintaan ini juga tercermin pada suasana tangis para sahabat karena wafatnya Rasulullah saw.

Al-Waqidi meriwayatkan dari Ummu Salamah ra., ia berkata, Ketika kami berkumpul, menangis karena wafatnya Rasulullah saw., kami tidak tidur, dan jenazah Rasulullah saw. terbaring di rumah kami. Kami menghibur diri dengan melihat beliau terbaring di atas tempat tidur. Pada dini hari, terdengar suara kapak (cangkul) menggali lubang". Ummu Salamah berkata, Maka kami bangun, dan semua penduduk Madinah bangun. Kota Madinah tergoncang oleh tangisan, lalu Bilal mengumandangkan mizan fajar (shubuh) dengan suara yang tersendat tangisan, sehingga menambah kesedihan kami. Orang-orang berhamburan menuju kuburan, dan mereka dilarang menyerbu ke kuburannya yang mulia waktu penguburannya itu".

Ummu Salamah ra. berkata, "Sungguh suatu musibah yang besar. Tidaklah suatu musibah menimpa kami setelah itu kecuali bumi merasakan musibah itu ringan, jika kami ingat musibah yang itu menimpa kami dengan kepergian Rasulullah saw."

Abu '1-Attahiah dalam pengertian ini berkata: bersabarlah dan teguhkanlah imanmu dalam menghadapi segala musibah dan ketahuilah bahwa manusia hidupnya tidak kekal apukah engkau tidak melihat bahwa musibah itu teramat banyak dan engkau lihat kematian senantiasa mengintai, jika  merasa bahwa engkaulah satu-satunya yang ditimpa musibah dan kau merasa bahwa musibah itu teramat berat maka jika engkau ingat musibah mereka yang ditinggalkan Muhammad (saw.), musibahmu itu, apalah dibanding dengan musibah mereka.

Demikianlahcontoh=contoh sikap dan perilaku nabi Muhammad saw untuk mempererat hubungan dan meningkarkan kecintaan kepada para sahabat keluarga dan anak-anak.

Tuesday, April 22, 2014

no image

Perhatian Rasulullah dalam Meninggikan Derajat Wanita

Perhatian dan arahan Rasulullah saw. tidak terbatas kepada kaum dewasa. Tetapi juga kepada anak kecil, dan tidak mengkhususkan satu segi tertentu dalam memperbaiki spiritual umat manusia. Namun meliputi segala segi-seginya, dari iman (keimanan), ilmiah, spiritual, sosial dan fisikal.

Di bawah ini beberapa perhatian dan pengarahannya dalam meninggikan derajat kaum wanita dan memperbaiki hak mereka: An-Nasa'i dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa seorang pe­mudi datang kepada Rasulullah saw. dan berkata:

"Sesungguhnya ayahku telah mengawinkan aku dengan anak saudaranya, agar menutupi kekurangannya denganku, pa­dahal aku tidak menyukainya". Maka Rasulullah saw. mengirim­kannya kepada ayahnya dan memerintahkan agar urusannya diserahkan kepada pemudi itu. Pemudi itu pun berkata, "Aku telah melalui apa yang diperbuat ayahku, tetapi aku ingin agar para wanita tahu bahwa tak sedikit pun urusan yang diserahkan kepada para bapak".

Al-Bukhari meriwayatkan bahwa istri Tsabit bin Qais — ia adalah seorang Muslim yang saleh, berkulit hitam dan berwajah buruk — datang kepada Rasulullah saw. dan berkata kepada­nya,

"Sesungguhnya Tsabit ibnu Qais, saya tidak mencelanya dalam hal akhlak dan agamanya, tetapi saya tidak suka 'kufur')" dalam Islam". Rasulullah saw. bertanya kepadanya, "Apakah ka­mu mengembalikan kebunnya kepadanya?" — yaitu kebun yang diberikan kepadanya sebagai mahar (maskawin). Maka ia ber­kata, "Ya". Kemudian Rasulullah saw. mengutus salah seorang kepada Tsabit dan berkata kepadanya, "Ceraikanlah istrimu dengan talak satu". Maka Tsabit pun mentalaknya.) 

Al-Bazar dan Ath -Thabrani meriwayatkan bahwa seorang perempuan — namanya Zainab, yang mempunyai laqab Khathi- batu 'n-Nisa' datang kepada Rasulullah saw. dan berkata:

"Saya adalah utusan para wanita kepadamu. Jihad adalah diwajibkan kepada kaum laki-laki. Jika mereka ditimpa mala­petaka, menerima pahala. Jika mereka gugur, maka mereka hidup di sisi Tuhan, dan mereka diberi rizki. Sedang kami kaum wanita berdiri atas mereka! Apakah kami mendapatkan pahala seperti mereka?" Maka Rasulullah saw. bersabda, 

"Sampaikan kepada siapa saja dari kaum wanita yang engkau jumpai bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya adalah seimbang dengan pahala tersebut — yaitu seimbang dengan pahala kaum mujahidin di jalan Allah — dan sedikit sekali dari kalian yang mengerjakan­nya".

Kenyataan perhatian dan pengawasan Rasulullah saw. ter­hadap setiap individu di dalam masyarakat, membentangkan bagi para pendidik suatu metode luhur dalam pendidikan, tata cara efektif dan influentif dalam perbaikan. Karenanya, hendaknya mereka berusaha sekuat mungkin, menumpahkan segala perha­tiannya untuk membahagiakan dan memperbaiki anak, termasuk meninggikan martabat mereka dari segi mental, spiritual dan moral.

Jika kenyataan perhatian dan pengawasan ini bisa menda­tangkan hasil dan manfaat bagi kaum dewasa — sebagaimana yang telah lalu — maka untuk anak kecil tentu akan lebih bermanfaat dan berguna. Sebab, anak kecil memiliki kecenderungan kebaikan, persiapan kesucian, kejernihan jiwa, yang tidak dimiliki kaum dewasa. Dengan kata lain, sangatlah mudah anak kecil untuk menjadi baik, terbentuk mentalnya, moral dan spiritualnya, jika memang tersedia faktor lingkungan yang baik, pendidikan yang utama, di rumah, sekolah, atau lingkungan masyarakat. Sementara itu, pendidik akan mendapatkan kesulitan dalam mem­perbaiki anak, jika kaum dewasa adalah kaum pembangkang yang membuta-tulikan dirinya. Dan inilah yang dimaksud oleh seorang penyair ketika berkata:
mendidik budi pekerti
bagi manusia di masa kecil
adalah mendatangkan manfaat
dan tidaklah bermanfaat
mendidik budi pekerti
di kala manusia menjelang senja
ranting yang bengkok
adalah lunak untuk diluruskan
tidaklah lentur
batang pohon jika hendak
diluruskan

Bertumpu dari asas dan pokok-pokok yang telah diletakkan oleh Rasulullah saw. dalam memperhatikan dan mengawasi indi­vidu dan masyarakat, memperhatikan derajat wanita dalam umat dan anak dalam keluarga, wajib bagi para pendidik, ayah, ibu dan para pengajar untuk meng­gerakkan semangat dan meningkatkan kemampuannya untuk melaksanakan tugas memperhatikan dan mengawasi, dalam rangka mempersiapkan generasi Muslim, membentuk masyarakat utama dan menciptakan Daulah Muslimah.

Permasalahan yang harus diketahui oleh para pendidik ada­lah, bahwa pendidik dengan perhatian dan pengawasan tidak hanya terbatas pada satu-dua segi perbaikan dalam pembentukan jiwa umat manusia. Tetapi harus mencakup semua segi, segi keimanan, mental, moral, fisikal, spiritual dan sosial. Sehingga, pendidikan ini dapat menghasilkan buah dalam menciptakan individu Muslim yang berimbang, matang dan sempurna, me­nunaikan hak semua orang yang memiliki hak dalam kehidupan.

Thursday, April 17, 2014

no image

Arahan Nabi dengan Cerita Orang Berpenyakit

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya tiga orang dari Bani Israil: Orang berpenyakit supak, botak dan buta, Allah ingin menguji mereka, maka meng­utuslah seorang Malaikat kepada mereka. 

Pertama-tama Malaikat itu datang kepada seorang berpenyakit supak. 

"Apakah yang paling engkau sukai?" tanya Malaikat. "Warna yang indah, bukit yang lembut, dan hilangnya apa yang menjijikkan orang-orang dari padaku", jawabnya. Maka Malaikat itu mengusapnya, dan hilanglah penyakit supaknya, dan diberilah orang itu warna yang indah.

"Harta benda apakah yang kamu sukai?" tanya) Malaikat. "Unta", sahut orang itu. Maka diberilah ia unta yang sedang bunting. "Semoga Allah memberkan hartamu itu", kata Malaikat.

Kemudian Malaikat itu mendatangi orang yang botak. 

"Apakah yang paling kamu sukai?", tanya Malaikat. "Rambut yang bagus, dan hilangnya kebotakan ini", ujar orang itu. Maka Malaikat itu mengusap kepalanya, dan tumbuhlah rambut yang bagus. "Harta benda apakah yang paling kamu sukai?" tanya Malaikat. "Sapi", sahutnya. Maka diberilah ia sapi yang sedang bunting. "Semoga Allah memberkati hartamu itu", kata Malaikat.

Lalu Malaikat itu datang kepada orang buta

"Apakah yang paling kamu sukai?" tanya Malaikat. "Allah mengembalikan penglihatan­ku, sehingga aku dapat melihat orang-orang". Maka Malaikat itu mengusap mukanya, dan dikembalikanlah kepadanya peng­lihatannya. "Harta benda apakah yang paling kamu sukai?" tanya Malaikat. "Kambing", sahut orang itu. Maka diberilah ia kambing yang sedang bunting.

Maka semua binatang ternak yang diberikan kepada masing-masing orang itu melahirkan, terus membiak, sehingga melimpah ruahlah ternak mereka.

Beberapa lama kemudian, sang Malaikat datang kepada orang yang tadinya berpenyakit kusta, dengan bentuk dan rupanya. "Aku adalah orang miskin yang kehabisan bekal dalam perjalanan­ku. Maka tidaklah ada bantuan harta kecuali dari Allah, kemudian dari kamu. Saya memintamu demi yang telah memberi warna yang bagus, kulit yang indah dan harta, berupa unta. Apakah kamu akan memberikan bekal untuk perjalananku?" kata Malai­kat itu. "Aku punya kebutuhan yang banyak", jawab orang itu. "Agaknya aku mengetahuimu. Bukankah kamu dahulu berpenyakit kusta yang menjijikkan orang-orang? Dan bukankah kamu dahulu fakir, maka Allah memberimu harta?" kata Malaikat. "Sesungguhnya harta kekayaan, ini adalah warisan dari nenek moyangku", kata orang itu. "Jika kamu berdusta, maka Allah akan menjadikanmu seperti semula", kata Malaikat.

Dan Malaikat itu datang kepada orang yang tadinya botak, dalam bentuk dan rupanya. "Aku adalah orang miskin yang kehabisan bekal dalam perjalananku. Maka tidaklah ada bantuan harta kecuali dari Allah, kemudian dari kamu. Aku meminta kepadamu, demi yang telah memberimu rambut yang bagus, dan pemandangan yang indah, serta harta yang berupa sapi. Berilah aku bekal untuk perjalanan­ku", kata Malaikat. "Aku punya kebutuhan yang banyak"", kata orang itu. "Agaknya aku mengenalmu. Bukankah kamu dahulu botak yang menjadi tertawaan orang-orang? Dan juga kamu dahulu fakir, kemudian Allah memberimu harta?" kata Malaikat. "Sesungguhnya, harta kekayaan ini saya warisi dari nenek mo­yangku", kata orang itu. "Jika kamu berdusta, maka Allah akan mengembalikanmu kepada keadaan semula", kata Malaikat.

Dan akhirnya, Malaikat mendatangi orang yang tadinya buta, dalam bentuk dan rupanya. "Aku adalah orang miskin yang kehabisan bekal dalam perjalananku. Maka tidak ada bantuan bekal kecuali dari Allah, kemudian darimu. Aku minta kepadamu, demi yang telah mengembalikan penglihatanmu, memberikan harta berupa kambing. Berilah aku bekal, sehingga aku dapat melanjutkan perjalananku", kata Malaikat. "Dahulu aku buta, maka Allah mengembalikan pandanganku. Maka ambillah apa yang kamu kehendaki, dan tinggalkanlah apa yang kamu kehen­daki. Demi Allah, saya tidak akan menentang sesuatu apa yang kamu ambil, semata-mata untuk Allah 'Azza wa Jalla" ucap orang itu.

"Peganglah apa yang ada padamu. Sesungguhnya aku datang hanya untuk mengujimu. Maka Allah telah meridhaimu, dan murka kepada kedua orang temanmu".

Sunday, March 16, 2014

no image

Kemuliaan yang Dimiliki Para Sahabat Nabi

Adapun kemuliaan seluruh sahabat nabi melebihi kemuliaan seluruh manusia, berdasarkan pujian dari Allah dan RasulNya. Seperti dalam dalil firman Allah SWT :

لَٰكِنِ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ جَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡخَيۡرَٰتُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ . أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

"Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar (at-Taubah [9]:88-89)"

Juga firman Allah dalam Al Qur'an tentang kemuliaan yang dimiliki oleh para sahabat Nabi Muhammad : 

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠ 

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar [At taubah : 100]

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ . يُبَشِّرُهُمۡ رَبُّهُم بِرَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَرِضۡوَٰنٖ وَجَنَّٰتٖ لَّهُمۡ فِيهَا نَعِيمٞ مُّقِيمٌ .

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal. [At-taubah : 20-21]

۞إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ فَٱسۡتَبۡشِرُواْ بِبَيۡعِكُمُ ٱلَّذِي بَايَعۡتُم بِهِۦۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ . ٱلتَّٰٓئِبُونَ ٱلۡعَٰبِدُونَ ٱلۡحَٰمِدُونَ ٱلسَّٰٓئِحُونَ ٱلرَّٰكِعُونَ ٱلسَّٰجِدُونَ ٱلۡأٓمِرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱلنَّاهُونَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ .

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku´, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

Lihatlah! Bagaimana pujian untuk para sahabat nabi dari Allah Zat yang maha mulia lagi maha mengetahui. Pujian yang begitu besar yang terdapat dalam satu surah al-Qur’an, kitab suci yang tidak ada kebatilan di dalamnya.

Lihatlah! Bagaimana Allah menjanjikan mereka kebahagiaan, surga, kebaikan dan keridhaanNya. Serta, mensifati mereka dengan si£at yang terpuji. Sehingga setiap orang yang menghina atau merendahkan mereka, maka pujian Allah akan berbalik menjadi celaan untuknya dan keridhaan Allah akan berbalik menjadi kemurkaanNya.

Adapun berdasarkan dalil hadits nabi tentang kemuliaan yang dimiliki oleh para sahabat nabi di antaranya:

"Sebaik-baiknya di antara kalian adalah generasiku, lalu generasi setelaknya lalu generasi setelahnya." (HR.Bukhari-Muslim)

"Jangan kalian menghina sahabat-sahabatku! Meskipun di antara kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak dapat mengalahkan infak mereka sebesar satu mud dan tidak juga setengah mud." (HR. Bukhari-Muslim)

"Ya Allah, Ya Allah, para sahabatku, barangsiapa yang mencintai mereka maka aku mencintainya dengan kecintaanku. Barangsiapa yang membenci mereka maka aku membencinya dengan kebencianku. Barangsiapa yang menyakiti mereka maka dia telah menyakitiku. Barangsiapa yang menyakitiku maka dia telah menyakiti Allah. Barangsiapa yang menyakiti Allah maka dia akan cepat diambil nyawanya." (HR. Bukhari)

"Allah telah memilihku dan memilihkan untukku sahabat-sahabat. Barangsiapa yang menghina mereka maka baginya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Dan, Allah tidak menerima darinya taubat dan fidyah (tebusan)." (HR. Muhib Thabari)

Demikianlah pujian Rasulullah saw atas mereka (para sahabat nabi) dan ancaman bagi orang-orang yang menghina mereka. Rasulullah saw adalah seorang yang selalu berkata benar dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Akan tetapi ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya, maka bagaimana mungkin seorang mengatakan apa yang berasal dari Allah dan RasulNya itu bathil. Bagaimana mungkin seorang berkata, Allah telah memuji orang yang tidak pantas mendapat pujian.” Atau Allah telah memuji orang yang Dia tidak mengetahui keadaannya.” atau, “Allah memuji orang yang taat di masa hidup Rasulullah dan berkhianat sepeninggalannya.”Apakah ada kezhaliman yang lebih besar dari ini? Bahkan apakah ada kekufuran yang lebih besar dari perkataan ini? Sesungguhnya Allah Maha Suci lagi Maha Tinggi atas apa yang mereka katakan.

Saturday, March 15, 2014

no image

Kemuliaan Khulafaurrasyidin Umar, Usman, Ali

Adapun Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib mereka memiliki kemuliaan yang tidak terhitung banyaknya. Akan tetapi kemuliaan Abu Bakar as siddiq di atas mereka, karena Allah lebih banyak memuliaannya. Seperti dalam dalil firman ALlah sebagai berkut :

  هُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا يَعۡمَلُونَ

"(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (Ali Imran [3]:163) 

كُلّٗا نُّمِدُّ هَٰٓؤُلَآءِ وَهَٰٓؤُلَآءِ مِنۡ عَطَآءِ رَبِّكَۚ وَمَا كَانَ عَطَآءُ رَبِّكَ مَحۡظُورًا . ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا .

"Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya." (al-Isra’ [17]:20-21)

Ketika Rasulullah, Abu Bakar as siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair dan Sa’ad bin Abi Waqash di atas gunung Hira’, tiba-tiba gunung itu bergoyang (seperti akan terjadi gempa). Lalu Rasulullah saw menghentakkan kakinya dan berkata, "Diamlah wahai Hira'! karena di atasmu ada Nabi, Shiddiq (Abu Bakar) dan Syahid (Umar bin Khatab)." (HR. Bukhari-Muslim)

Adapun urutan kemuliaan dari keempat sahabat, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya adalah Abu Bakar as siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan lalu Ali bin abi Thalib. Berdasarkan perkataan Abdullah bin Umar “Ketika kami di masa Rasulullah tidak ada seorangpun yang menandingi Abu Bakar as siddiq, Umar bin Khatab lalu Usman bin Affan. Kemudian kami menyamakan sahabat-sahabat nabi yang lain, dengan tidak memuliakan antara satu dengan yang lainnya.” (HR. Bukhari)

Abdullah bin Umar berkata, “Kami berkata ketika Rasulullah saw masih hidup, ‘Sebaik-baiknya umat setelah nabi Muhammad adalah Abu Bakar, Umar lalu Usman.’” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Abu Sulaiman al-Khathabi rahimahullah ta'ala berkata, “Tidak disebutkan nama Ali bin Abi Thalib, karena ketika itu dia masih kecil.

”Diriwayatkan oleh Muhammad bin Hanafiah bin Ali bin Abi Thalib bercerita: aku berkata kepada bapakku (Ali bin Abi Thalib), “Siapa orang yang paling mulia setelah Rasulullah saw?" dia menjawab, “Abu Bakar.” aku berkata, “Kemudian siapa?” dia menjawab, “Umar.” Saat itu aku takut kalau bapakku menyebut Usman maka aku berkata, “Kemudian kamu.” Dan bapakku menjawab, “Aku hanyalah seorang muslim biasa.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Salah satu gunung di Mekkah, 3 mil dari Mekkah menuju Mina. Di gunung itu ada gua yang menjadi tempat diturunkan wahyu pertama oleh malaikat Jibril. Dalam suatu riwayat kejadian ini bukan di gunung Hira’ tetapi di bukit Uhud.

Diriwayatkan oleh ‘Alqamah, aku mendengar Ali bin Abi Thalib berkata di atas mimbar, “Aku mendengar beberapa orang lebih nemuliakan aku daripada Abu Bakar dan Umar. Barangsiapa yang datang kepadaku dan mengatakan itu, maka aku akan mencambuknya dengan cambukan yang menyakitkan. Sesungguhnya sebaik-baiknya nanusia setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, Umar, Usman lalu Aku. Aku telah menjelaskan ini kepada kalian, sehingga tidak ada alasan lagi di hadapan Allah (jika kalian mengatakan itu lagi).” (HR. Muhib liabari)

no image

Meneladani Kemuliaan Abu Bakar as Siddiq

Rasulullah saw berkata, "Sesungguhnya orang yang paling banyak berbuat baik kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar as Siddiq." (HR. Bukhari-Muslim). Rasulullah adalah seseorang yang menanamkan kebaikan kepada setiap orang yang selamat dari api neraka, sebab hidayat dan keimanan yang diberikannya. Akan tetapi beliau mengakui bahwa Abu Bakar as siddiq adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepadanya.

Dengan demikian, jelaslah bagi kita akan kemuliaan yang dimiliki Abu Bakar as siddiq. Meskipun kebaikan Abu Bakar ash shiddiq terhadap Rasulullah tidak dapat dibandingkan dengan kebaikan Rasulullah kepadanya. Akan tetapi ini merupakan ungkapan rasa syukur Rasulullah atas apa yang dilakukan Abu Bakar as siddiq kepadanya dan umat ini. Hal ini diperjelas dalam perkataannya yang lain, "Tidak ada tangan seseorang yang bersama kami kecuali kami telah mencukupinya, kecuali Abu Bakar as siddiq. Sesungguhnya dia memiliki tangan yang telah dicukupi oleh Allah pada hari kiamat." (HR.Tirmidzi)

Suhaill dan para ulama ahli tafsir mengatakan: Firman Allah, "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat keridhaan." (al-Lail [92]:17-21) Ayat ini turun kepada Abu Bakar as siddiq.

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menjanjikan keridhaan untuk Abu Bakaras siddiq, sebab apa yang dilakukan semata-mata mencari keridhaanNya. Lalu persaksianNya bahwa Abu Bakar as siddiq adalah orang yang paling bertaqwa dari umat nabi Muhammmad, yang merupakan orang yang paling mulia di sisi Allah,

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu." (al-Hujuraat [49]:13)

Rasulullah saw ditanya, “Siapa orang yang paling kamu cintai?” beliau menjawab, "Aisyah." Orang itu bertanya lagi,“Siapa dari kaum laki-laki?” beliau menjawab, "Bapaknya." Orang itu bertanya, “Siapa lagi?” beliau menjawab, "Umar bin Khatab." (HR. Bukhari-Musim)

Ketika para sahabat menyakiti Abu Bakar as siddiq, Rasulullah sangat marah dan beliau berkata, "Apakah kalian meninggalkan sahabatku? Apakah kalian meninggalkan sahabatku berkata, 'Kamu pendusta.' tetapi Abu Bakar berkata, 'Kamu benar.' Dialah yang membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian meninggalkan sahabatku?" Setelah itu, tidak ada sahabat nabi yang menyakiti Abu Bakar lagi. (HR. Abu Bakar)

Rasulullah saw berkata kepada Abu Bakar as siddiq, "Berbahagialah, sesungguhnya kamu adalah orang yang dibebaskan dari api neraka!" sejak itu Abu Bakar as siddiq dijuluki "orang yang dibebaskan". (HR. "Tirmidzi)

Beliau juga berkata, "Wahai Abu Bakar, kamu adalah orang yang pertama dari umatku yang akan masuk surga." (HR. Abu Daud)

"Tidak ada seseorang yang ada di antara terbit dan terbenamnya matahari lebih mulia daripada Abu Bakar, selain para nabi dan rasid." (HR. Muhib Tbrabrani)

"Tidaklah dibenarkan suatu kaum yang di dalamnya ada Abu Bakar mengangkat imam shalat selain dia." (HR.Tirmidzi)

Ketika sakit Rasulullah saw semakin parah, beliau berkata, "Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat kalian!" saat itu Abu Bakar tidak ada, lalu Umar bin Khatab yang mengantikannya. Saat mendengar suara Umar, raut wajah Rasulullah berubah. Lalu beliau mengeluarkan kepalanya dari kamar dan berkata, "Allah dan kaum muslimin menolak ini (diucapkan tiga kali). Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat kalian!" (HR. Bukhari-Muslim)

Kemudian Abu Bakar as siddiq keluar dan memimpin shalat. Pada saat itu, Rasulullah saw merasa sakitnya berkurang. Lalu beliau keluar kamar dan bergabung dalam shalat jama’ah. Saat Abu Bakar as siddiq melihat kedatangannya, dia langsung mundur tetapi Rasulullah memberikan isyarat kepadanya untuk meneruskan shalat. Tetapi Abu Bakar as siddiq tidak dapat melakukannya karena keagungan derajat Rasulullah. Namun beliau tetap memaksanya untuk menjadi imam shalat.” Dalam riwayat Tirmidzi dikatakan, Rasulullah berkata kepadanya, "Bukankah kamu memang pantas menjadi imam? Bukankah kamu orang yang pertama masuk Islam? Bukankah kamu yang telah menemaniku pada saat itu ?"

Kemuliaan Abu Bakar as siddiq pada masa hidup Rasulullah cukup terkenal, baik dikalangan orang-orang awam ataupun orang-orang khusus. Bahkan beliau pernah memerintahkan kepada Hasan bin Tsabit al-Anshar untuk duduk di atas mimbar, lalu beliau berkata, "Bacakan kepadaku syair tentang Abu Bakar!" lalu Hasan membaca syair di hadapan kaum muslimin yang sedang berkumpul:

Apabila kamu mengingat kepiluan dari saudaraku yang terpercaya, maka ingatlah saudaramu Abu Bakar atas apa yang telah dia lakukan.

Dia sebaik-baiknya manusia, dia orang yang paling bertaqwa dan adil setelah Nabi dan dia paling menjaga amanat atas apa yang diamanatkan kepadanya.

Dia orang kedua yang perjalanan hidupnya mendapat pujian dan orang pertama yang mempercayai Rasulullah.

Para sahabat Rasulullah telah mengetahui bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang menandinginya.