Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Pemuda Islam. Show all posts
Showing posts with label Pemuda Islam. Show all posts

Thursday, November 7, 2013

no image

Olahraga Untuk Wanita dalam Pandangan Islam

Apakah seorang perempuan atau wanita diperbolehkan untuk melakukan olahraga? Jawabannya adalah Ya boleh. Islam adalah agama yang berperasaan, agama yang indah, sempurna, cekatan dan elok. Kebanyakan perempuan atau wanita disisi kita sekarang tidak melakukan olahraga kecuali pada waktu berada di dalam sekolah-sekolah pada masa anak-anak saja. Dan Hal ini bisa menyebabkan kemusnahan kaum wanita/perempuan. Mengapa dikatakan hanya kemusnahan perempuan dan bahkan kemusnahan kaum laki-laki juga.

Islam menganjurkan untuk mencintai suaminya dan untuk selalu menampakkan diri bagi suaminya seperti bunga yang selalu terbuka kelopak bunganya, wajah yang bersinar, tubuh yang elok dan keanggunan yang bersih. Demikian juga laki-laki.

Setelah menikah, wanita atau perempuan itu lebih membutuhkan olahraga. Terutama pada masa-masa awal kehamilan, tentunya dengan olahraga yang khusus dilakukan bagi wanita hamil. Dengan demikian dapat membantunya ketika melahirkan secara alami. 

Dan untuk menguatkan apa yang kami katakan sebelumnya, ensiklopedi kedokteran kontemporer mengatakan bahwa tidak ada dalil yang memuaskan bahwa kegiatan badan itu akan membahayakan perempuan atau wanita pada waktu haidh atau mempengaruhi rutinitas kebiasaan haidh atau menambah sakit ketika sedang mengalami haidh. Hal ini justru akan membantu mengurangi rasa sakit yang dialami pada waktu haidh.

Selain itu, bukanlah hal benar mencegah perempuan atau wanita yang sedang hamil melakukan semua bentuk permainan. Pada umumnya, para dokter yang merawat wanita-wanita hamil menasehati agar mereka meninggalkan olahraga yang keras lainnya. Karena, hal itu dapat menyebabkan sebagaimana yang sering terjadi berubahnya posisi janin atau menyebabkan keguguran.

Justru sebaliknya, sesungguhnya otot-otot perut itu akan bertambah kuat pada waktu melakukan olahraga, dan terkadang bisa memperpendek waktu kelahiran dan mengurangi rasa sakit ketika melahirkan. Dan sebagian besar para dokter menasehati mereka untuk melakukan olahraga yang dapat menguatkan dinding perut (rahim) pada waktu hamil.

Olah raga itu dituntut bagi wanita hamil dan tidak ada masalah untuk melakukannya. Akan tetapi Islam melarang kepadanya dengan pelarangan yang pasti untuk menampakkan auratnya di hadapan orang lain yang bukan muhrimnya atau menampakkan di hadapan laki-laki asing baginya ketika dia melakukan olah raga di bawah syi'ar apapun.
no image

Apa Yang Sebaiknya Saya Baca Dan Bagaimana Saya Membaca?

Diceritakan ada yang bertanya pada Aristoteles bagaimana anda mengetahui manusia? Ia menjawab: Maka tanyakanlah apa yang dibaca dan bagaimana ia membaca?

Ingatlah, sesungguhnya macam-macam bacaan dan metode membaca merupakan bagian terbesar dari kepribadian manusia. Diketahui bahwa kebanyakan dari kita adalah sering membaca, namun  sangat disayangkan sekali kita tidak melihat hasil dari banyaknya membaca; baik dalam metode-metode maupun kajian-kajian ilmiah. Hal ini tentu saja berpangkal pada metode bacaan yang salah dan terpecah-pecah.

Kembali kepada pertanyaan pertama: Apa yang saya baca? Tentu saja kita  tidak membatasi anda dengan bacaan-bacaan tertentu dan topik-topik tertentu pula. Jika tidak demikian, maka kita akan menjadi seperti orang yang ingin membuat suatu acuhan bagi semua manusia dan akhirnya menjadi satu teks yang samar di sebuah kitab, sebagaimana cara-cara yang diberikan oleh sarana-sarna informasi.

Pertama-tama, mulailah dengan membaca buku-buku pengetahuan umum baik tentang agama, ilmu pengetahuan maupun etika. Di hadapan kita sekarang telah berderet buku-buku pengetahuan umum ini. Akan tetapi kita akan meninggalkan kesemuanya itu karena perasaan dan pilihan anda atau karena mengikuti pengajar atau penjaga perpustakaan anda. Dari bacaan-bacaan tersebut mungkin anda tidak bisa memahaminya atau mungkin anda dapat mengungkap pengetahuan pada pelajaran lebih tinggi yang mungkin bisa anda pelajari. Yang terpenting adalah anda mau memulainya untuk membaca.

Tidak diragukan pula bahwa dengan bacaan-bacaan anda terhadap buku-buku yang luas ini anda akan merasakan adanya pengetahuan baru. Dan anda akan merasakan bahwa dengan bacaan itu telah membuahkan gaya bahasa pada tulisan-tulisan dan diskusi-diskusi anda. Bahkan, tidak hanya dilembar-lembar makalah sekolah maupun universitas anda saja, tetapi pada semua aspek kehidupan. Kemudian lihatlah pemberitahuan ulama-ulama atau sastrawan-sastrawan dan para pemikir di sekitar anda, apakah ungkapan-ungkapan mereka itu benar-benar sudah pada tempatnya.

Jawabannya adalah membaca, kemudian membaca, kemudian membaca.

Upaya untuk membaca buku-buku umum ini harus dilanjutkan, sehingga anda mempunyai bacaan yang baik. Akhirnya anda bisa menemukan sendiri kecenderungan anda pada bacaan-bacaan tertentu. Akan tetapi, hal ini bukan berarti boleh menyepelekan aspek pengetahuan yang lain.

Dan sebelum meneruskan membaca berbagai macam pengetahuan, sebaiknya anda mendalami bacaan-bacaan agama yang dimulai dengan bacaan-bacaan hukum Islam dengan segala macam perbedaannya. Bagaimana mengatasi masalah-masalah moderen?. Hal ini tidak mengharuskan bahwa anda harus mempunyai pengetahuan mendalam seperti Abu Hanifah atau Syafi'i, melainkan cukup pengetahuan mendalam yang membuat anda memperoleh apa yang disebut perasaan keislaman. Sehingga dapat menjadi senjata bagi setiap pemuda muslim yang ingin mengarungi arena pengetahuan yang luas, karena tidak setiap yang ditulis ,atau dicetak itu menjadi suci secara mutlak baginya. Dan di dunia ini, anda juga akan menemukan keasingan, keajaiban maupun keanehan-kanehan pemikiran yang tidak mungkin menjaga anda dari keterjerumusan selain perasaan Islam yang didapat dari penelaahan agama yang anda lakukan. Dan perasaan ini, apabila diumpamakan sebagai makanan bagi pikiran, maka dia bisa melawan musuh dari penyakit-penyakit pikiran.

Demikian pula sebuah nasehat kepada kita agar menjauhi berbagai macam buku murahan, karena ia bisa merusak pikiran, menyia-nyiakan waktu dan mencerai beraikan kemampuan anda untuk sesuatu yang tidak bemanfaat

Dan sampailah kita pada jawaban atas pertanyaan kedua, bagaimana saya membaca?

Di sini dibutuhkan kebulatan tekad, dan ketahuilah, mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada kita bahwa perumpamaan orang yang membaca tetapi tidak mengingat bacaannya itu seperti orang yang melempar batu di atas air, atau orang yang meniup di atas abu atau orang yang memutari lingkaran yang kosong

Ada perumpamaan tentang orang-orang yang terus menerus membaca tetapi mereka tidak memperoleh sesuatupun yang bisa diingat, sebab pengetahuan itu melupakan bagian yang satu dengan bagian yang lain. Apabila masih ada yang tersisa di otak mereka, hal itu tidak akan memberikan sesuatu bagi pemiliknya dan tidak membantunya ketika dicari.

Para  pujangga Arab telah mengulang-ulang metode ini. Umar radhiyallaahu 'anhu berkata: Ikatlah ilmu dengan tulisan. Al Khalil bin Ahmad  telah berkata: Saya tidak mendengar sesuatupun kecuali saya menulisnya. Dan saya tidak menulis sesuatupun kecuali menghafalnya. Dan saya  tidak menghafalkan sesuatupun kecuali ia bermanfaat bagiku.

Berikut ini akan dipaparkan kepda anda dua metode yang tidak wajib untuk diikuti, akan tetapi hal itu merupakan pengajaran dengan metode-metode  berikut:

Metode pertama adalah metode "inti sari bacaan" yaitu apabila anda selesai membaca buku-buku apapun, anda kemudian meringkasnya dalam catatan khusus atau di hadapan beberapa tujuan yang terangkum pendapat-pendapat anda dengan jelas dan benar.
  • Judul buku: sejarah, agama, cerita, kedokteran, sosial dan lain-lain.
  • Ringkasannya: ringkasan dan salinan (menyalin pikiran-pikiran dan pemahaman-pemahaman yang menakjubkan anda).
  • Bahasanya: Arab fasih, Arab sehari-hari, untuk kalangan khusus, kalangan umum atau untuk kalangan keduanya.
  • Cara penyajiannya: benar, lemah, kuat, perasaan, cerita, dialogis, syair, prosa atau antara prosa dan syair.
  • Kata-katanya: mudah dimengerti, susah dimengerti, berantai dan mudah.
  • Hukum atasnya: baik atau buruk
  • Pemikirannya: tinggi, rendah, jelas atau tidak jelas.
  • Kemampuan penulis menguraikannya
  • Metode pemaparannya: menarik, membuat rindu atau membosankan
  • Pengaruh yang ditinggalkan pada diri anda.
  • Paragraf terakhir; tersusun dari paragraf-paragraf yang menyenangkan bagi anda kerika membacanya sehingga terdorong untuk mengulang-ulang.
Cara yang kedua adalah cara membuat catatan khusus.

Pembaca harus mempersiapkan catatan khusus untuk setiap cabang pengetahuan. Sebagai contoh adalah membuat catatan khusus untuk pengetahuan agama, kedua untuk pengetahuan kedokteran, ketiga untuk syair, keempat untuk hukum, kelima untuk ungkapan-ungkapan yang indah dan seterusnya.

Sebuah saran yang mewajibkan bagi anda adalah untuk membaca sebuah buku dan merangkum pengetahuan-pengetahuan tersebut semuanya. Dan anda senang di dalam mencatat beberapa maklumat untuk menjaganya. Lakukanlah dengan menulis setiap cabang dari cabang-cabang ilmu di dalam catatannya yang khusus. Dan janganlah kamu lupa bahwa catatan di akhir atau di awal maklumat nama kitab, pengarang, tahun penerbitan yang menerbitknnya. Selain itu memungkinkan bagi anda untuk  menambahkan pcngetahuan-pengetahuan dengan cara pertama kepada cara ini dan di anggap cocok bagi anda.

Di sini, terkadang pertanyaan datang dari dirinya sendiri, bagaimana membatasi tema-tema yang ingin dicatatnya setelah selesai membaca sebuah  buku?

Cara  yang paling baik -menurut kami- adalah dibantu dengan daftar isi kitab. Kemudian pembaca memberi tanda lembut dengan pensil di depan judul yang ingin dicatat. Dan apabila tema-temanya ini  mirip atau banyak maka ada alternatif lain, yaitu dengan meletakkan tanda di pinggir lembaran di depan garis atau pada paragraf. Hal itu memudahkan bagi pemmbaca untuk kembali kepada apa yang ingin dicatatnya tanpa susah payah.

Dan pengetahuan-pengetahuan yang dicatatnya ini akan mengungkapkan apa yang telah terabaikan apabila tidak diulang-ulang antara satu waktu ke waktu lain, sehingga dia dapat memahaminya atau menghafal apa yang perlu dihafal. Dari sini saja dapat mrmbuahkan hasil bacaan. Kalau seandainya anda dapat mencatat pengetahuan-pengetahuan ini pada kaset rekaman yang khusus, yaitu setelah  mencatatnya juga di atas kertas maka hal itu akan lebih enak dan lebih sempurna kesungguhannya. Sebab, cara ini akan memudahkan anda mengulang dengan cara mendengar saja tanpa menyusahkan mata anda.

Berkenaan dengan metode yang telah djelaskan kepada anda di atas, seorang penulis Inggris yang bernama "Roskin" berkata, terkadang  kamu membaca di setiap toko buku di Inggris, dan setelah itu kamu menjadi -sebagaimana saya- manusia yang tidak mengajar, akan  tetapi jika kamu membaca sepuluh lembar dengan tekun di dalam ilmu kedokteran maka kamu bisa menjadi manusia yang  berpengetahuan."

Ibnu Muqfi' berkata: Menulislah kalian, hal itu lebih baik daripada kalian dengar. Menghafallah kalian, hal itu lebih baik dari apa yang kamu tulis. Bebicaralah kalian sebaik apa yang kalian hafal.

Dan syair ini menjelaskan orang yang mengumpulkan llmu yang banyak, akan tetapi dia tidak menghafal sesuatupun ipikirannya. Dengan cara ini berarti dia kembali melangkah mundur. Kemudin dia bersyair:

Meskipun aku menghafal apa yang aku dengar
Dan menghafal dari sana apa yang aku kumpulkan
Dan aku tidak melaksanakan selain apa yang telah aku kumpulkan
Pastilah sedikit orang pandai yang memuaskan
Akan tetapi diriku condong kepada semua seni
Dari ilmu yang didengarkannya tercabut
Maka aku tidak menghapal apayang aku kumpulkan
Dan aku tidak tidak merasa puas dengan apa yang dikumpulkan
Dan dari dirimu ilmunya seperti ini
Pikirannya kembali melangkah mundur
Apabila tidak ada yang tersisa dalam ingatan
Maka kumpulan bukumu itu tidak bermanfaat
Apakah aku hadir dalam majelis dengan kebodohan
Dan ilmuku di dalam kitab yang ditinggalkan.
Dan orang lain bersyair:
Ilmuku bersamaku kapanpun aku mati aku membawanya
perutku menjaganya,perut itu bukanlah laci.
Apabila aku di rumah, ilmu juga bersamaku di dalamnya
Atau aku berada dipasarilmupun dipasar.

Sebaiknya dia menikmati bacaan yang lezat itu terpengaruh dan berinteraksi dengan perilaku di dalam kehidupan apabila dia seorang penyeru kepada kebaikan. Dan jika untuk yang lainnya, maka sebagaimana perkataan seorang penyair:

Saya mengetahui kejelekan bukan untuk kejelekan akan tetapi untuk memperingatkannya
Dan barang siapa yang tidak mengetahui kejelekan dari manusia maka dia terjerumus kedalamnya.

Wednesday, November 6, 2013

no image

Manfaat Membaca Dalam Pandangan Medis

Berbicara tentang manfaat membaca dalam pandangan kedokteran dan kesehatan Dr. Shabri A1 Qibani berbicara dengan tema “latihlah akalmu sebagaimana membiasakan pembantumu” selanjutnya dia berkata:

Di antara kaidah kedokteran yang terkenal, bahwa anggota tubuh yang bekerja itu mengambil haknya dari zat makan sesuai dengan banyak atau sedikit kesungguhannya. Maka bergeraklah sebagian anggota tubuh menuntut adanya aliran darah kepadanya lebih banyak dan sempurna. Dan selanjutnya menuntut perkembangannya. Maka bertambahlah tingginya dan bertambah besar kemontokannya.

Demikian juga otak, apabila diabaikan dan tidak dibiasakan untuk berpikir, dengan penelitian yang dapat menyibukkannya, maka otak menuntut adanya darah yang mengalir kepadanya dengan deras. Dan apabila pusatnya adalah perasaan maka dia akan tetap tenang, lemah dan lunglai.

Membiasakan menelaah bermacam-macam ilmu dan seni akan menuntut keluarnya keringat dan pemenuhan gizi. Dengan demikian maka sel-sel otak berkembang, permukaannya bertambah luas dan kegiatannya bertambah semangat. Dengan demikian orang yang memilikinya dicirikan sebagai orang yang cerdas. Sebagai contoh adalah seorang dokter yang telah lulus dari sebuah universitas. Dalam otaknya telah penuh dengan bermacam-macam cabang ilmu. Dan apabila dia hanya bersandar pada pengetahuan-pengetahuan dan kecerdasannya saja tanpa disertai penelitian dan peningkatan akalnya, maka pengetahuannya akan menurun dari tahun ke tahun.

Barang siapa yang membuka otak kecerdasan dan kejeniusan, maka hal itu akan nampak tidak berbeda dengan otak orang-orang bodoh, baik dari segi bentuk maupun susunannya. Yang membedakan adalah sedikit atau banyaknya keringat  dan darah yang keluar dengan kekayaan dan kesadaran ini dapat memindahkan gizi makanan, sehingga mencerdaskannya.

Dan apa yang dikatakan oleh dokter itu memiliki makna yang sama dengan apa yang dinukil oleh Ibnu Qayyim dari para dokter muslim.

Ibnu Qayyim berkata::

Setiap anggota tubuh manapun yang banyak olah raganya maka akan  menjadi kuat. Khususnya atas bentuk olah raga itu. Akan tetapi setiap kekuatan tergantung bentuknya. Barang siapa banyak menghafal maka kuatlah hafalannya, dan barang siapa banyak dari berfikir maka kuatlah pikirannya.

Tuesday, November 5, 2013

no image

Makna, Pengertian Permainan Sepak Bola dalam Islam

Apa yang engkau ketahui tentang makna dan pengertian tentang permainan sepak bola? Sesungguhnya, permainan sepak bola itu itu adalah kegilaan yang menguasai akal para generasi zaman sekarang. Hanya karena permainan sepakbola itu diadakanlah pertempuran dan peperangan, sehingga mendatangkan korban. Dan hanya karena untuk mengagungkannya diceraikan para istri dan diputuskanlah tali kekerabatan. Selain itu juga bisa menyebabkan seorang saudara menusukkan pisau ke saudaranya yang lain. Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah.

Dan pada hari diadakannya turnamen permainan sepak bola antara dua kelompok yang bersinar. Seakan-akan pertempuran yang menghancurkan telah diumumkan dan umbul-umbul telah dikibarkan. Dan stasiun-stasiun penyiaran telah menguasainya dengan menyiarkannya di layar kaca. Selain itu genderang terompet dan lagu-lagu kebersamaan serta teriakan-teriakan keras telah siap mengambil bagian.

Apabila engkau berteriak untuk mendebat salah seorang dari mereka yang tertimpa kebingungan dalam mengendalikan bola maka dia berkata dengan mulut lebar: Sesungguhnya sayalah olah ragawan itu"

Hal dan kejadian di atas adalah  salah satu bentuk kisah kita tentang permainan sepak bola, permainan yang penuh dengan kebohongan. Inilah bentuk permainan yang menyimpang sebagaimana dilihat oleh para pemuda kita.

Adapun bentuk pcrmainan ini yang sebenarnya apabila kita pahami semangat Islam dan metodenya dalam membina kelompok-kelompok, akan mendapatkan bahwa permainan sepak bola adalah salah satu permainan yang disucikan oleh Islam dan mensucikan ajaran-ajarannya. Yaitu wahana yang mengajarkan pelajaran di dalam kelompok dan bukan dalam ketercerai beraian  dalam kesatuan serta bukan pula dalam perpecahan. Akan tetapi pelajaran kasih sayang dan bukan dalam kebencian dan permusuhan. Permainan Sepak bola adalah permainan yang menguatkan bahwa tujuan-tujuan tidak mungkin dapat terealisasikan kecuali dengan semangat kebersamaan.

Dan ada sebuah pertanyaan yang diberikan kepada yang mengibarkan bendera fanatisme buta, sedangkan dia tidak memahami olah raga kecuali hanya nama saja. Dan pernah juga ditanyakan kepadanya dengan pertanyaan sebagai berikut, apakah dia bisa bermain sendiri untuk merealisasikan tujuan secara sendiri meskipun dia memiliki kecakapan?

Sekali-kali tidak akan pernah terjadi.

Karena bola akan dikuasai di bawah kakinya dan akan menjadi rebutan kelompok lain. Dan kelompok yang dapat merealisasikan tujuan yang bersih adalah kelompok yang menggunakan semangat kebersamaan.

Apakah kita telah mendapatkan pelajaran dari sekolah sepak bola dimana kita fanatik kepadanya?

Apakah pemerintahan dan seluruh masyarakat mengetahui bahwa semangat ketercerai beraian dan pemaksaan pendapat itu akan menyebabkan kekalahan dan kehancuran yang diingkari oleh pertunjukan kepahlawanan dalam semua medan pertempuran?

Sangat disayangkan sekali kita tidak dapat menangkap pelajaran itu. Hati kita memiliki sarana untuk mencapai tujuan. Dan kita percaya bentuknya tapi kita mengingkari esensinya. Kita memperhatikan zhahirnya dan  menyampaikan batin di belakang punggung kita.

Apa arti kita menyembah klub dan fanatik kepadanya?

Itu berarti kita masih berpikiran dangkal, bercakrawala sempit, egoisme, mau menang sendiri, tidak memahami sesuatupun tentang hakekat semangat sportifitas. Dan dari salah satu macam olah raga itu tidak di dapatkan kecuali hanya tepuk tangan yang memusingkan dan teriakan yang melenakan.

Sesungguhnya kami tidak memaksa diri anda untuk berangan-angan bergabung dalam sebuah klub dan kemudian memotifasinya. Akan tetapi disana ada perbedaan yang besar antara keberanian dan fanatisme. Bahasa tukang pemecah batu adalah batu bata. Bahasa semangat sportivitas yang kita pelajari adalah senyum apabila kita mengalami kekalahan dan rendah hati apabila mendapatkan kemenangan. Dan kita telah mempelajari bahwa hari terus berputar.

Hari ini adalah hari kekalahan kita dan hari ini adalah hari kemenangan kita
Hari ini untuk para perempuan dan hari ini untuk merajut benang,

Sesungguhnya Rasulullah shallallabu 'alaihi wa sallam memberikan contoh yang ideal kepada kita dalam semangat sportifitas. Dengan demikian, mudah-mudahan kita dapat memperhatikan dan memahanu pelajaran yang diberikan.

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, dia berkata: Unta betina Nabi tidak dapat berlari. Maka datang seorang badui menaiki anak untanya dan kemudian mendahuluinya. Melihat hal itu unta betina rasul pun mengejarnya sehingga membuat susah para shahabat Nabi shalbllahu 'alaihi wa sallam.

Akan tetapi pendidik yang agung mempergunakan waktu untuk mendidik mereka semangat sportifitas dan memberikan pelajaran kepada mereka bahwa duduk di atas kehinaan dunia tidak akan selamanya bagi seseorang. Dengan demikian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallarn bersabda,

Sesungguhnya hak atas Allah Azza wa jalla tidak mengangkat sesuatu dari dunia kecuali kemudian merendahkannya." (Hadits Syanj)

Mari kita bersama-sama memohon kepada Allah untuk diri kita sendiri dan untuk orang orang yang fanatik mudah-mudahan selalu diberi ampunan dan kesehatan serta kesembuhan dari semua penyakit.

Monday, November 4, 2013

no image

Olahraga Berkuda dalam Ajaran Islam

Olah raga berkuda ini menempati tempat yang cemerlang di antara pemain olah raga yang lain di seluruh alam. Di antara bentuk olah raga yang cantik dan tidak pernah hilang sampai sekarang ini adalah olah raga berkuda. Dengan demikian, di adakanlah perlombaan pacu kuda dalam taraf lokal dan internasional. Arab adalah salah satu Negara yang sampai saat ini memiliki keinginan kuat untuk selalu berkuda dan tidak tertandingi. Sebab, mereka sangat menyukai kuda dan sejenisnya.

Dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah bersumpah di dalam kitab-Nya dengan namanya sebagai pujian akan kebesaran dan keberaniannya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman :

"Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku-kukunya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. " (Qs. Al 'Aadiyaat (100): 1-6)

Rasulullah telah mengadakan perlombaan antar kuda, baik dengan jarak yang jauh maupun dekat. Dari Ibnu 'Umar radhiyallaahu 'anhu, dia berkata,

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengadakan perlombaan antara kuda yang telah dikuruskan, maka beliau melepaskannya dari lembah wada' dengan jarak antara enam atau tujuh mil dan beliau juga mengadakan perlombaan antara kuda yang belum dikuruskan (gemuk), dan juga dilepas dari lembah wadaa' dengan jarak masjid Bani Raziiq sekitar satu mil atau semisalnya dan Ibnu Umar adalah yang memenangkan perlombaan itu." (Hadits riwayat Bukhari)

Demikianlah kita dapat menemukan petunjuk Rasulullah yang di dalamnya terdapat sistem pendidikan yang benar bagi pendidikan generasi-generasi berikutnya agar menjadi keturunan terbaik yang dikeluarkan manusia.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tiap-tiap sesuatu yang bukan dzikrullah berarti permainan dan kelalaian, kecuali empat perkara: Seorang laki-laki bermain-main dengan istrinya, seseorang yang mendidik kudanya, seorang laki-laki yang berjalan antara dua sasaran untuk memanah dan seseorang yang belajar memanah." (Hadits nwayat An-Nasaai 'dan Atb-Tbabaram)

Cara yang contohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam mendidik generasi-generasi mukmin ini diterapkan juga oleh para pengganti, para shahabat dan orang-orang setelahnya. 'Umar bin Khaththab radhiyallaahu 'anhu berkata, "Ajarkanlah anak-anak kalian berenang dan memanah; dan perintahlah mereka supaya melompat di atas punggung kuda dan perintahkanlah mempelajari syair yang indah- indah."
no image

Olahraga Lari dalam Agama Islam dan Sunnah Nabi

Olahraga lari atau berlari adalah salah satu olahraga yang bermanfaat bagi tubuh. Olah raga lari itu dapat menguatkan had, melancarkan peredaran darah dan dapat membuat tubuh menjadi lebih ringan dan cekatan dalam bergerak, khususnya dalam medan permainan.

Selain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memotivasi sahabat-sahabatnya untuk melakukan olah raga semacam ini, dan dirinya sendiri melakukan olah raga lari ini.

Dari Salmah bin A1 Akwa' berkata, "Ketika kami sedang berjalan, kami menjumpai seorang laki-laki dari kaum Anshar yang belum pernah kalah dalam perlombaan lari, sehingga membuat dia berkata, "Maukah kamu berlomba lari sampai ke Madinah? Adakah di antara kalian yang menjadi pelari? Saya berkata, Apakah akan membuatmu lebih mulia? Dia berkata, "Tidak, melainkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya. Saya berkata: Wahai Rasulullah demi bapak dan ibumu, bolehkah saya berlomba dengan laki-laki ini, maka Rasulullah menjawab, jika kamu menginginkannya. Maka saya berlomba dengannya sampai ke Madinah. (Hadits riwayat Muslim)

'Aisyah mengatakan, "Rasulullah bertanding dengan saya, dan saya menang. Kemudian saya berhenti, sehingga ketika badan saya menjadi gemuk, Rasulullah bertanding lagi dengan saya dan ia menang, kemudian ia bersabda, "Kemenangan ini untuk kemenangan itu." (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Hadits yang sedikit tetapi memiliki makna yang besar ini membuat kami terpaku untuk merenungkan beberapa lama agar dapat menghirup kelezatannya yang jernih dan sastranya yang tinggi, dan juga agar mcmbenarkan beberapa pemahaman yang salah oleh orang-orang yang mcngintai kaum muslimin sekarang ini.

Pertama, apakah engkau mengetahui pada waktu apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlomba lari dengan 'Aisyah? Peristiwa itu terjadi dalam sebuah perjalanan yang di dalamnya juga terdapat para sahabat Nabi. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada mereka, "Majulah kalian." Maka mereka maju ke depan dan meninggalkan beliau bersama istrinya.

Nabilah orang yang memiliki kemampuan agung, jiwa yang besar dan dada yang lapang. Dia selalu bercanda dengan istrinya karena ingin menghiburnya, mengangkat kemuliaan jiwanya dan memecahkan kemonotonan kehidupan perkawinan. Hal itu dilakukan untuk memberikan bumbu-bumbu penyedap yang membuat kehidupan perkawinan menjadi lebih nikmat dan memenuhi dengan perasaan yang tinggi, sehingga sampailah perjalanannya dengan aman di bawah langit kasih sayang yang besar. Maka beliau berkata kepada istrinya, Aisyah, "Berlombalah dengan saya." Maka Aisyah pun berlomba dengannya. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa ketidakmampuan dirinya menyusulnya seperti senda gurau yang jelas mensucikan perasaan cinta, perasaan kasih dan sayang.

Dengan  nama bapak dan ibumu wahai Rasulullah, sungguh engkau tidak merasa disibukkan dengan adanya tugas besar menyampaikan risalah dan kedahsyatan peperangan-peperangan Islam. Semua itu tidak membuat dirimu merasa sulit memberikan hak-hak kepada istri-istrimu. Maka bersegeralah engkau untuk masuk ke dalam akal-akal mereka dan berbicara kepada seorang perempuan dengan bahasan yang mudah dipahami.

Kalaulah engkau mencegahku untuk mcmujimu pastilah saya akan tetap mengatakan, "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia. " (Qs. Yusuf (12): 31)

Shalawat dan salam mudah-mudaham tetap tercurahkan kepada engkau wahai tuanku wahai Rasulullah.

Kedua, apakah engkau mengetahui bahwa ketika Rasulullah berlomba lari dengan 'Aisyah umurnya telah lebih dari lima puluh tahun? Tapi sangat disayangkan sekali, kebanyakan manusia sekarang menganggap olah raga lari semacam ini adalah perbuatan yang menyesatkan. Dan mereka suka melakukannya bila dirinya tidak mendapatkan pekerjaan yang menyibukkannya. Tidak diragukan lagi, bahwa hal ini adalah salah satu pengaruh dari pengaruh-pengaruh sesat dan malas yang menenggelamkan orang-orang muslim. Dan mereka merasa tenang di dalam keterlenaan tidur sehingga mereka dapat dilewati oleh yang lainnya. Selain itu kendali kendaraan manusia yang dipegang oleh mereka juga dapat dirampas.

Kalau seandainya manusia sekarang melihat seorang laki-laki yang berumur lima puluh tahun bahkan bisa empat puluh tahun masih melakukan olah raga, pastilah mereka menganggap dirinya orang yang gila dan dungu serta orang tua yang sakit. Ini adalah salah satu contoh yang diciptakan oleh masa-masa kemunduran dan jauh dari petunjuk Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka, orang-orang yang lalai itu tidak mengetahui bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengadakan perlombaan lari dengan 'Aisyah setelah umurnya melebihi lima puluh tahun. Dan mereka juga tidak mengetahui bahwa Rasulullah menjadikan beberapa macam olah raga dan permainan sebagai ibadah yang mendekatkan seorang muslim kepada Tuhannya.

Sunday, November 3, 2013

no image

Dalil, Hadits Keutamaan Ilmu dan Kemuliaan Menuntut llmu

Artikel berikut akan memaparkan beberapa dalil Al Qur;an dan hadits keutamaan dan kemuliaan ilmu. Agama Islam adalah agama yang memperdulikan dengan menyeru kepada ilmu. Dan bukanlah suatu kebetulan kalau ayat petama yang diturunkan sebagai wahyu kepada Rasulullah Saw adalah ayat tentang itu. Ayat ini  berbicara tentang pengetahuan dan perangkat-perangkatnya seperti membaca, menulis ( qalam ), dan belajar.
Dalam firman Allah dalam Al Quran : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca], Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Qs. Al 'Alaq (96): 1-5)
Dan Allah Azza wa Jalla juga bersumpah dengan pena dan kemuliaan  kalimat yang ditulis oleh pena. Mengagungkan dan memuliakan ilmu, Allah Subbaanahu wa Ta'aala berfirman,
"Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. " (Os Al Qalam (68): 1-2)

Bahkan, Allah juga telah menjadikan martabat ulama itu berada setelah martabat malaikat secara langsung. Dan yang membuat takut para ulama takut kepada Allah adalah karena mereka mempelajari rahasia-rahasia ayat ayat-Nya.

Allah berfirman :

Allah  menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia,  dan para malaikat-Nya dan orang-orang yang berilmu Yang menegakkan keadilan. " (Qs. 'Ali 'Imran (3): 18)

Sesungguhnya  yang takut kepada Allah  di antara hamba-hamba- Nya, hanyalah ulama. " (Qs. Fathiir (35): 28)

Dan  kita harus yakin bahwasanya orang yang meneliti dan berpengetahuan  ikhlas kepada Allah dengan tinta yang diagunakan untuk menulis itu lebih mulia daripada orang yang syahid di dalam medan peperangan. Hal itu telah dijelaskan dalam hadits Nabi Saw :

“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu sebagai kerelaan apa yang dia buat dan bagi tinta yang mengalir dari pena ulama lebih baik dari pada darah orang-orang yang syahid di jalan Allah." (Hadits syarij)

Sebagian ulama telah mengaitkan hadits ini dengan perkataan mereka:  Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa nilai tertinggi bagi orang yang mati syahid adalah darahnya, sedangkan nilai terendah bagi ilmu adalah tintanya.

Saturday, November 2, 2013

no image

Sebaik-baik Olahraga: Olahraga Memanah dalam Islam

Islam menganggap penting ketrampilan memanah sebagai olah raga dan persiapan untuk peperangan, Tidak asing lagi bagi kita bahwa ketrampilan memanah itu adalah ketrampilan yang memiliki tempat berbahaya di dalam peperangan pada masa-masa dulu dan khususnya pada zaman sekarang. Menyerang pasukan adalah memanah, menembak pesawat adalah memanah, membidikkan senapan ke arah sasarannya adalah memanah.

Nabi shallallahu 'alaihi wa saillam telah menasehati bahwa memanah adalah salah satu olah raga yang sangat penting dan memiliki pengaruh yang dahsyat di dalam medan pertempuran. Dan 'Uqbah bin 'Amir radhiyallaahu 'anhu, dia berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, dan dia berada di atas mimbar.

"Dan bersiap-siaplah kamu untuk menghadapi mereka (musuh) dengan kekuatan yang kamu sanggup. Ketahuilah bahwa yang dimaksud "kekuatan" itu adalah memanah. Ketahuilah bahwa yang dimaksud "kekuatan" itu adalah memanah. Ketahuilah bahwa yang dimaksud "kekuatan" itu adalah memanah. (Hadits riwayatMuslim)

Beliau bersabda,

"Sesungguhnya Allah memasukkan tiga orang ke syurga dengan satu busur panah: pembuat yang diperkirakan dalam perbuatannya baik, orang yang memanah dan orang yang memberi bantuan dengannya. Maka memanahlah, berkudalah, dan memanah itu lebih saya sukai daripada berkuda." (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud dan selain keduanya)

Dari Salmah bin A1 Akwa' berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berjalan dengan seseorang yang telah masuk Islam di sebuah pasar. Maka beliau bersabda, "Panahlah Bani Isma’il, karena sesungguhnya bapak-bapak kalian adalah para pemanah. Lepaskanlah panahmu itu, saya bersama bani fulan.”

Kemudian Salmah berkata, Maka, salah seorang dari dua kelompok itu memegang panah mereka, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Mengapa kalian tidak melepaskan anak panah kalian?" Mereka menjawab, "Bagaimana kami memanah sedangkan engkau bersama mereka?" Maka Rasulullah bersabda, "Lepaskanlah anak panahmu, saya bersama kalian." (Hadits riwayat Bukhari)

Dalam Islam, permainan memanah ini adalah permainan yang bermanfaat dan bukan permainan sia-sia yang menghancurkan semangat pasukan. Dengan demikian, kita mendapatkan bahwa Rasulullah menyukai olah raga memanah sebagai sarana untuk melindungi dirinya. Beliau bersabda,
"Kamu harus belajar memanah, karena memanah itu temasuk sebaik-baik permainanmu." (Hadits riwayat Bazzar dan Ath-Thabarani)

Friday, November 1, 2013

no image

Olah Raga Dan Kedudukannya Dalam Islam

Kegiatan olah raga adalah salah satu anjuran dari anjuran-anjuran Allah Aza wa Jalla yang diberikan kepada Nabi-Nya dan kepada kaum muslim sepanjang masa. Kita dapat menemukan anjuran itu secara jelas dalam firman Allah Azaza wa Jalla, 

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu mengantarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. " (Qs. A1 Anfaal (8): 60)

Dengan demikian, persiapan untuk peperangan itu dapat mencegah terjadinya peperangan. Dan Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk mempersiapkan kekuatan dengan semua barisannya, meskipun wilayahnya dalam keadaan aman. Hal itu agar umat Islam tetap terjaga. Bangunannya menjadi kuat, pondasi-pondasinya kokoh, dan dinding-dindingnya menjulang tinggi. Sehingga umat Islam tidak mudah diterkam oleh orang yang rakus dan musuh pun tidak akan berani menghancurkan atau menginjak-injak kehormatannya.

Dan umat Islam itu tidak akan menjadi hina, kecuali hari-harinya itu kosong dari persiapan-persiapan ini dan penuh untuk bersendau gurau yang sia-sia.

Kebiasaan berolah-raga di dalam masyarakat muslim itu tidak lerbatas hanya pada satu kelompok tertentu saja, dan membuat kelompok-kelompok kecil lainnya sebagai penonton yang bertepuk tagan dan penghibur. Oleh karena itu Islam menegakkan timbangan untuk satu orang dalam masyarakat muslim secara sempurna sebagaimana dia menegakkan timbangan bagi masyarakat muslim secara umum. Mudah-mudahan kamu mau mengingat tiga kisah yang ditinggalkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam peperangan yang sulit. Dan bagaimana akibatnya? Dan bagaimana pendidikan dan pelajaran yang terdapat di dalamnya? Sehingga Allah mengampuni mereka.

Selain itu, pengaruh apakah yang terdapat dalam tiga, lima atau seratus di dalam sebuah pasukan yang menghadapi tiga puluh ribu tentara pembunuh? Akan tetapi Islam yang menghormati pribadi dan menguatkan jati dirinya menjadikannya dirinya berharga dan berpengaruh di dalam masyarakat.

Dari sana maka kita dapat menemukan rahasia yang terdapat dalam kebolehan yang diberikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para pemuda yang sudah mencapai lima belas tahun untuk berpatisipasi dalam medan pertempuran. Maka apabila seorang diantara kamu berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia ahli memanah." Dan apabila beliau menolak yang lainnya, maka mereka berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya dia bergulat dengan fulan." Hal ini disandarkan kepada kepemimpinan seorang pemuda yang bernama Usamah bin Zaid radhiyallaahu 'anhu karena dia mendidik dan membuatkan sebuah pabrik bagi mereka; tidak lain industri itu adalah Islam yang tidak ada saingannya.

Dan dengan teori yang dasar-dasarnya diletakkan oleh Islam, maka pada hari ini para ahli jiwa menyerukan bahwa pada masa remaja, para pemuda itu membutuhkan kepada kegiatan-kegiatan yang dapat meneguhkan jati dirinya. Dan olah raga yang dilakukan pada masa-masa ini sangat baik sekali untuk menciptakan kepribadian dan peneguhan jati dirinya. Dengan demikian, apabila kita tidak mengarahkan kemampuan para pemuda kepada lapangan-lapangan semacam ini, maka para pemuda itu terkadang akan melakukan tindak kejahatan yang sesuai dengan ambisi-ambisinya. Dengan kejahatan itu, dia meneguhkan keberadaannya. Selain itu, terkadang dia melakukan kebiasaan merokok yang dianggapnya sebagai tanda-tanda kematangan kedewasaan, bukti kelaki-lakian dan bukti kejantanan. Demikianlah para ahli jiwa menetapkan.

Islam membenci para pemuda yang tidak bersatu, pemuda yang lemah dan pemuda yang melukai dirinya sendiri dengan zat-zat yang berbahaya. Selain itu, Islam juga membenci masyarakat-masyarakat yang menyerupai buih yang mengalir, masyarakat-masyarakat yang berteriak kepada para pemuda dengan terikan untuk mengajak seks bebas dan tidur di atas dorongan syahwat yang menggebu-gebu.

Kalau seandainya para pemuda pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seperti para pemuda kita pada umumnya, pastilah Islam akan teraniaya dan terpinggirkan di antara gunung-gunung Madinah. Akan tetapi, pendidikan jiwa-jiwa yang mukmin telah mengalir setahap demi setahap dengan pendidikan fisik dan persiapan kekuatan. 

Dengan demikian, dari pertempuran ke pertempuaran di hadapi, dari gerakan rahasia menjadi peperangan terbuka bahkan sampai menjadi pembela yang tangguh. Dan ketika kedudukan Rasulullah dan para sahabatnya telah stabil, maka mereka melakukan perlombaan antara bighal dan unta, berlatih menguatkan kecerdikan dan ketentaraan untuk meningkatkan kecakapan pasukan perang. Sehingga apabila pasukan itu bersungguh-sungguh berlatih, maka mereka menjadi pasukan berkuda yang pemberani dan tidak mudah tercerai beraikan.
no image

Kekuatan Para Pemuda Dalam Neraca Islam

Di antara sifat-sifat yang dimiliki oleh para pemuda muslim adalah kelembutan hati, kesucian jiwa, ketulusan hati nurani dan kekuatan iman yang berkobar di hatinya. Oleh karena itu, kita dapat memahami bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengarahkan seluruh pandangannya dan memusatkan seluruh pikirannya kepada pentingnya menjaga, merawat dan memelihara para pemuda.

Beliau bersabda,

"Saya berwasiat kepada para pemuda untuk selalu berbuat kebaikan, karena mereka adalah had yang paling lembut. Dan saya telah diutus oleh Allah dengan hati yang lurus dan penuh kedermawanan. Maka para pemuda akan selalu menyertaiku dan para syaikh meninggalkanku. (Hadits Syarif)

Para pemuda yang dididik dalam lingkungan pendidikan Nabi pertama tidak akan pernah membiarkan Islam terbakar oleh kekosongan pikiran dan jiwa. Mereka juga tidak menghendaki Islam menjadi agama dengan ajaran-ajarannya yang dipinggirkan dalam kehidupan untuk menanggung kesia-siaan, kekacauan dan kehilangan jati dirinya. Akan tetapi dia justru mengumumkan bahwa dirinya bergabung dengan Islam dan menerapkan ajaran-ajarannya sepenuh hati.

Ketika kaum Quraisy sudah berkumpul dan bersiap-siap dengan tentaranya yang berjumlah tiga ribu personil dan bersenjata lengkap pergi menuju Madinah untuk merebut kehormatan mereka yang telah tercemar dan terinjak-injak pada peperangan Badar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabatnya dan menceritakan kondisinya. Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bercerita, maka ada seseorang yang di anggap tua berpendapat agar kaum muslimin tetap tinggal di Madinah untuk menunggu kedatangan mereka. Dengan demikian anak-anak kecil dan perempuan dapat berpartisipasi dalam pertempuran dengan melemparkan batu kepada orang-orang musyrik dari atap-atap rumah maupun perbukitan-perbukitan kecil yang ada di Madinah. Pendapat ini dilontarkan oleh Abdullah bin Ubay pemimpin kaum munafiq.

Sedangkan pendapat para pemuda berbeda dengan pendapat Abdullah bin Ubay, mereka lebih memilih keluar kota Madinah untuk bertempur melawan mereka. Mereka berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Keluarlah bersama kami menghadapi musuh-musuh kita. Kami tidak merasa gentar dan tidak merasa lemah di banding mereka. Demi  Allah, kami tidak rela kalau mereka masuk ke daerah-daerah kita." Mendengar pendapat ltu maka Rasulullah lebih setuju dengan pendapat para pemuda tadi. Melihat Rasulullah lebih setuju dengan pendapat para pemuda, maka Abdullah bin Ubay mengundurkan diri dari pasukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan alasan karena Rasulullah lebih memilih pendapat para pemuda daripada pendapatnya. Kemudian dia kembali lagi sambil bergumam, "Apakah dia mengkhianati saya dan mengikuti anak-anak."

Pada waktu perang Uhud, setelah para pemuda menguatkan jati dirinya dalam berpendapat, maka mereka juga menguatkan jati dirinya dengan berpartisipasi di medan pertempuran secara langsung. Dengan demikian maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan  kesempatan kepada para pemuda mukmin untuk berpartisipasi dalam pertempuran. Diantara para pemuda yang diizinkan mengikuti pertempuran adalah Samrah bin jandab dan Rafi' bin Khulai) yang masih berumur lima belas tahun. Tapi, sebelumnya beliau menolak keikutsertaan mereka berdua, karena dianggap masih terlalu muda. Maka, salah seorang sahabat berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Rafi' adalah seorang pemanah (pemanah ulung). Mendengar perkataan itu Rasulullah mengizinkannya. Ketika Rasulullah mengizinkan Rafi' maka para sahabat berkata kepada beliau, "Ya Rasulullah sesungguhnya Samrah bergulat dengan Rafi'. Maka Rasulullah pun mengizinkannya untuk ikut bertempur.

Dalam peperangan Khandaq, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengizinkan Usamah bin Zaid untuk ikut berperang juga. Selain Zaid, anak-anak muda yang diizinkan untuk ikut berperang adalah Abdullah bin 'Umar bin Khaththab, Zaid bin Tsabit, A1 Barra' bin 'Aazib, 'Amr bin Hazm dan Usaid bin Zhuhair. Mereka semua berumur tidak lebih dari lima belas tahun.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengirim pasukan yang berjumlah besar dengan pimpinan seorang pemuda muslim yang bernama Usamah bin Zaid ke negara Syam. Pada saat itu, Usamah masih berumur delapan belas tahun. Di dalam pasukan ini juga terdapat para sahabat senior yang bergabung, di antaranya adalah Abu Bakar, 'Umar dan Abu Ubaidah bin Jaraah dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Dengan kepemimpinan Usamah ini, 'Umar bin Khaththab merasa kagum. Sampai-sampai ketika beliau menjabat sebagai khalifah, apabila beliau melihat Usamah radhiyallaahu anhu, maka beliau berkata kepadanya, "Assalamu alaika wahai pemimpin." Maka Usamah menjawab ucapannya, "Mudah-mudahan Allah mengampunimu wahai Amirul Mu'minin karena mengatakan demikian itu kepadaku?" Kemudian 'Umar menjawab, "Saya akan tetap memanggilmu pemimpin, sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah meninggal dunia, dan engkau adalah pemimpin bagiku."

Walaupun demikian, kepemimpinan Usamah yang masih berusia muda belia terhadap pasukan besar yang di dalamnya terdapat para sahabat senior dari kaum Muhajirin dan Anshar ini menimbulkan kecemburuan di dalam diri sebagian para sahabat. Mendengar hal itu, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dari kamarnya dengan kepala diperban karena sakit menuju sekumpulan manusia. Selanjutnya beliau menaiki mimbar yang lebih tinggi dan berkhutbah kepada mereka:

“Wahai para manusia, apakah gerangan yang menyebabkan sebagian kalian bekata tentang kepemimpinan Usamah (tidak suka)? Jika kalian mencela kepemimpinan Usamah, maka kalian telah mencela kepemimpinan bapaknya yang memimpin sebelum kepemimpinannya. Demi Allah, jika bapaknya adalah salah seorang yang pantas menjadi seorang pemimpin, maka anaknya pun pantas untuk menjadi pemimpin. Dan jika semua manusia itu mencintai saya, sesungguhnya keduanya adalah tempat yang cocok bagi semua kebaikan. Maka ikutilah oleh kalian nasehatnya, karena sesungguhnya dia adalah salah seorang yang terbaik di antara kalian."

Setelah itu, Usamah keluar dan siap siaga bersama pasukannya untuk bergerak keluar Madinah. Akan tetapi, pasukan Usamah berhenti bergerak ketika terjadi peristiwa besar dan menggemparkan. Peristiwa itu tidak lain adalah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dan ketika Abu bakar menggantikan kepemimpinan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, salah seorang sahabat senior berkata kepadanya agar menjadikan kedudukan pasukan Usamah sebagai benteng pertahanan yang mengelilingi kota Madinah pada masa-masa sulit, yaitu setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Akan tetapi Abu Bakar yang lembut hatinya menjawabnya dengan ungkapan-ungkapan yang mematahkan dan jelas. Beliau berkata:

"Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, kalau seandainya anjing-anjing itu berlari dengan menggunakan kaki istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam-makz saya tidak akan menolak pasukan yang dikirim oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Demi Allah, burung yang menyambarku itu lebih saya sukai daripada saya memulai sesuatu sebelum ada perintah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam"

Selanjutnya, Abu Bakar keluar meninggalkan Usamah dan pasukannya. Usamah menunggang kuda dan pengganti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu berjalan. Maka Usamah berkata kepadanya, "Wahai pengganti Rasulullah, naiklah atau saya turun." Maka Abu Bakar menjawab perkataan Usamah, "Demi Allah, kamu jangan turun dan demi Allah saya juga tidak akan naik. Dan debu yang melumuri kedua kaki saya adalah saat-saat untuk berjuang membela agama Allah."

Dan ketika Abu Bakar telah selesai berdebat, maka beliau berkata kepada Usamah untuk meminta izin kepadanya "jika engkau menyertakan 'Umat, maka lakukanlah." Kemudian Usamah mengizinkannya, maka Abu Bakar berdiri dan memberikan wasiat kepada pasukan dengan wasiat yang tinggi."

Setelah menjalankan tugas, Usamah dan pasukannya kembali dengan membawa kemenangan, kesuksesan dan mengibarkan bendera tauhid. Maka tidaklah heran apabila Abu Bakar, setelah kemenangan itu, memberikan kekuasaan kepada Usamah yang masih muda untuk memimpin Madinah, yaitu ketika beliau keluar untuk membekuk orang-orang yang murtad.

Hal ini juga dialami oleh 'Utaab bin Usaid yang pada saat itu beliau adalah seorang pemuda yang masih berumur dua puluh tahun atau lebih sedikit. Dia dipekerjakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Makkah setelah hari pembebasan. Dan apa yang dikatakan beliau kepadanya, "Wahai 'Utaab, apakah engkau mengetahui kepada siapa saya mempekerjakanmu? Saya mempekerjakanmu kepada keluarga Allah Azza wa Jalla. Kalau seandainya saya mengetahui kebaikan dirimu, maka saya mempekerjakannya kepada mereka." 'Utaab bin Usaid tidak meninggalkan Makkah sampai meninggalnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam, bahkan sampai ditetapkannya Abu Bakar menjadi khalifah. 'Utab meninggal di Makkah pada hari meninggalnya Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu.

Demikianlah kami temukan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan pelajaran secara amaliah kepada kedua telinga dan kedua mata para budak bahwa para pemuda muslim harus menunjukkan jati dirinya. Dan kita harus menghilangkan lapangan yang berbahaya baginya untuk mengungkapkan jati dirinya dalam tindakan-tindakan.

Para pengganti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga sangat memperhatikan ajaran ini, sehingga mereka benar-benar memuliakan pemuda, menghargai pemikirannya dan menyertakan mereka dalam mengambil keputusan untuk pekerjaan-pekerjaan yang sangat penting dan mulia.

Ibnu Syihaab Az-Zuhri mengarahkan perkataanya kepada para pemuda:

"Majelis 'Umar radhiyallaahu 'anhu selalu dipenuhi oleh para ulama dan para penghapal Al Qur’an baik yang tua maupun yang muda, hal ini dilakukan agar beliau bisa meminta pendapat dari mereka. Umar berkata: “Seseorang jangan menghalangi orang lain untuk mengemukakan pendapatnya, karena pendapat itu tidak dilihat dari muda atau tuanya usia, namun pendapat itu adalah suatu urusan yang diberikan oleh Allah kepada siapa saja.

Di antara mereka ada yang berkata, "Kalian hendaknya memberikan pendapat yang baru, dan bermusyawahlah dengan para pemuda, karena sesungguhnya mereka itu memiliki pemikiran yang brilian dan menghilangkan kekacauan."

Memang benar, hal itu tidak mengherankan lagi.

Pendapat seorang pemuda dan akal para pemuda adalah akal yang jernih dan cerdas serta tidak mengenal keputus-asaan dalam hidup ini.

Dan para pemuda, dengan pemikirannya yang masih baru dan semangat iman yang berkobar di dalam hatinya tidak akan tergoyangkan oleh rasa ketakutan dan keragu-raguan yang ada di dalam dirinya. Semangatnya selamanya adalah semangat kemajuan dan bukan kemunduran. Dia tidak mengenal tempat-tempat yang membahayakan kecuali kematian.

Dari sanalah kita harapkan bahwa pemikiran dan aqidah para pemuda yang dapat menyadarkan umat dari keterlenaannya dan menggerakkan cita-cita yang ada di dalam dirinya kepada masa depan yang lebih baik dan lebih cerah.

Adapun yang membuat seorang pemuda yang bernama Ibrahim itu memberontak kepada berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya, dan yang mendorong untuk menghancurkannya itu tidak lain adalah pemikiran baru yang membangunkan orang-orang yang tertidur serta pemikiran yang memperingatkan orang-orang yang terlena dan mabuk bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah.

Selain itu, pembangkangan para pemuda ashabul kahfi terhadap penguasa yang zhalim dan sewenang-wenang itu tidak lain adalah bentuk penolakan mereka terhadap pemikiran-pemikiran yang rusak dan menyesatkan dan kemudian menghidupkan kembali fitrah baru yang benderanya di bawa oleh para pemuda.

"Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” [QS. Al Kahfi [18]:14]

Inilah pemuda, inilah sebagian kedudukannya di dalam Islam. Dan  kita mempercayai setiap cita-cita yang dimiliki oleh para pemuda umat ini adalah untuk mengembalikan wajah Islam yang sebenarnya di atas bumi setelah hilang beberapa lama. Selain itu untuk mengangkat syi'ar tauhid: baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan tidak ada keputusan kecuali keputusan dengan menggunakan syari'at Allah.

Saturday, October 19, 2013

no image

Adakah Perasaan Cinta Setelah Menikah?

Apakah rasa cinta itu akan terus berlanjut setelah menikah? "ya." Memang benar, perasaan cinta ini akan terus berlanjut sampai pada jenjang pernikahan/perkawinan, tetapi dengan syarat setiap suami istri bersarna-sama memelihara pohon cinta, menjaga dan menyiraminya dengan perlakuan yang lembut, dengan kata-kata yang penuh belas kasih, senyum kerelaan dan memberikan maaf terhadap kesalahan yang terjadi. Kemudian dia juga harus membalas setiap kerlingan mata yang diberikan di dalam khayalannya yang melayang. Semua itu yang membentuk dirinya dalam kehidupannya ini sebagai salah satu malaikat dari malaikat-malaikat yang ada di langit. Pada saat itulah setiap orang yang saling mengasihi akan menemukan perjalanan hidupnya di atas sayap kerinduan dan kasih sayang sampai dia dapat bertemu dengannya tanpa ada orang yang melihatnya dan tidak ada telinga yang mendengarnya serta tidak membahayakan bagi hati manusia.

Dan berikut ini adalah contoh-contoh cerita indah tentang percintaan yang halal dalam agama islam:

Di dalam bukunya yang berjudul Dzammul Hawa, Ibnu A1 Jauzy meriwayatkan bahwa Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallaahu 'anhu menikah dengan Atikah binti Zaid bin 'Umar bin Nufail, dan dia adalah wanita yang cantik dan elok. Dia memiliki akhlak yang cemerlang. Akan tetapi dia menyulitkan dirinya di dalam peperangannya, kemudian bapaknya menyuruh untuk menceraikannya. Dan dia berkata, "Sesungguhnya dia telah menyulitkanmu dalam peperangan." Lantas dia bersyair:

Mereka berkata, Ceraikanlah dia dan dirikanlah bangunan rumah untuknya
Kesusahan bagimu adalah mimpi orang tidur Sesungguhnya perpisahanku dengannya telah menyatukanku dengan mereka 

Kemudian dia menceraikannya dan bapaknya berjalan sambil bersyair:

Kesewenang-wenanganku tidak akan melupakanmu matahari yang terbit
Dan gemerlap bintang akan selalu menggantung di langit
Hatiku telah sewenang-wenang kepadamu setiap hari dan malam
Bagimu sesuatu yang tersembunyi dalam jiwa itu rahasia
Aku tidak melihat orang sepertiku menceraikannya
Karena tidak ada perempuan seperti dia yang harus dicampakkan
Dia mempunyai hati yang lembut, pikiran yang cerdas, akhlak yang terpuji dan dapat dipercaya

Kemudian bapaknya memisahkannya dan memulangkan Atikah kepada orang tuanya. Selanjutnya Abdullah berjuang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang Thaif dan dia terkena anak panah. Selanjutnya dia meninggal dunia di Madinah dan Atikah berkata sambil menangisinya:

Setelah Nabi dan Abu Bakar, aku tidak mampu lagi diuji dengan sebaik-baik manusia
Aku bersumpah, mataku akan terus bersedih dan kulitku akan terus Berdebu
Demi Allah, siapa yang melihat pemuda yang lebih mulia, sabar dan hangat dalam gejolak daripada dia 
Jika Nabi sudah memerintahkan dia serahkan dirinya kepada kematian sehingga hanya tanah merahlah yang tersisa

Apakah kamu mengetahui bagaimanakah cinta? Berapa banyak perempuan Arab yang rindu kepada seorang laki-laki? Sesungguhnya dia merindukan sifat-sifat kepahlawanan dan kejantanan pada dirinya walaupun dirinya diuji dengan peperangan yang dasyat.

Apakah kamu mengetahui bagaimanakah Atikah meratapi suaminya? Sungguh dia telah meratapinya dengan keahliannya berkuda dalam debu peperangan dan di dalam bahaya tusukan dan pukulan lawan. Dan dia tidak menyebutkan ketampanan, kegenitan dan kelembutan tangannya serta kelembutan rambutnya yang seperti singa dan sepatu yang bertumit tinggi

A1 Ashmu'i meriwayatkan dari seorang laki-laki Bani Dhabbah, dia berkata, "Unta saya telah tersesat dan saya pergi untuk mencarinya, sampai-sampai saya mendatangi sebuah daerah Bani Sulaim. Ketika berada di salah satu daerahnya saya menjumpai seorang perempuan maka saya memutarnya. Ketika dia berlari, maka saya menutup mata saya dari cahaya wajahnya. Maka dia berkata, "Apa yang dapat saya lakukan untukmu, karena sesungguhnya saya melihat engkau sedang kebingungan?" Saya berkata, "Sesungguhnya unta saya telah tersesat dan saya sedang mencarinya." Perempuan itu berkata, "Apakah engkau menginginkanku untuk menunjukkanmu di mana dia berada?" Saya menjawab, "Ya." Kemudian perempuan itu berkata lagi:

"Apa yang telah diberikan mereka kepadamu adalah apa yang telah mereka ambil, dan jika mereka menghendaki maka mereka akan mengembalikannya." Maka Aku bertanya kepadanya dengan penuh keyakinan dan bukan untuk menguji yang menakjubkan diriku dari dirinya adalah kecantikan wajah dan kesantunannya dalam berbicara, "Apakah anda sudah memiliki suami?" Perempuan itu menjawab, "Demi Allah saya memiliki suami." Maka dia menyeru dan menjawab untuk apa dia diciptakan. Dan sebaik-baik suami sudah dia miliki. Maka saya berkata kepadanya, "Apakah anda memiliki suami yang tubuhnya tidak tercela dan musibahnya tidak menakutkan, maksudnya adalah menikah  maka perempuan itu diam sesaat kemudian mengangkat kepalanya dan tampaklah kedua matanya mencucurkan air mata, selanjutnya dia berjalan dan bersyair:

Kami bagaikan dua ranting yang airnya berasal dari taman surga
Dalam lintasan suka dan duka, sang tuan memisahkan keduanya
Dia telah berjanji, jika waktu mengkhianatiku dia akan setia setelah kepergianku
Akupun begitu, lalu kemalangan menjemputnya beberapa tahun yang lalu
Maka, alihkanlah ejekanmu dan orang yang tidak mengingkari janjinya dengan bujuk rayu

Kemudian Asmu'i bercerita lagi, dia berkata bahwa Sulaiman bin Abdul Muluk pergi berekreasi dan bersamanya Sulaiman bin A1 Mihlab bin Abi Shafrah dari Damasqus. Kemudian mereka berdua melewati sebuah pemakaman dan melihat seorang perempuan sedang duduk di atas sebuah makam sambil menangis. Maka, berhembuslah angin dan tersingkaplah cadar dan wajahnya. Ketika tersingkap, seakan-akan dirinya sedang dirundung kesedihan yang sangat. Dan kami berdua berhenti sejenak dan merasa heran memandang kepadanya. Selanjutnya Ibnu Mihlab bertanya kepadanya, "Wahai hamba Allah, apakah engkau istri Amirul Mu'minin?" Maka perempuan tadi memandang kepada keduanya dan kemudian memandang ke pemakaman dan bersyair: 

Jika kamu berdua bertanya tentang perasaanku,
sesungguhnya ia tertanam dalam kuburan ini, hai pemuda
Aku sungguh malu dengan debu di antara kita,
seperti aku malu kepadanya dan dia melihatku

Dan orang yang berbicara sejarah tentang keindahan pengabdian mereka terhadap suami-suami adalah Nailah binti A1 Farafishah istri 'Utsman bin Affan radhiyallaahu anhu. Dia adalah seorang perempuan yang brilian, fasih dan memiliki kecantikan dan kesempurnaan. Dia telah menyerahkan dirinya untuk dibunuh ketika ada penyerbuan sekelompok orang yang mengepung rumah 'Utsman bin Affan secara paksa. Dan ketika salah satu di antara mereka hendak menghunuskan pedangnya ke tubuh 'Utsman, maka istrinya itu menahan pedang itu dengan tangannya sehingga terputuslah jari-jarinya.

Pada suatu hari, setelah 'Utsman radhiyallaahu 'anhu telah terbunuh, dia berdiri di atas pemakamannya dan memohonkan rahmat untuknya. Kemudian dia meninggalkan tempatnya itu sambil berkata, “Sesungguhnya saya telah melihat kesedihan yang lusuh sebagaimana lusuhnya sebuah baju. Dan saya takut kesedihan 'Utsman itu melusuhkan hatiku, sehingga saya meratapinya dengan membenturkan ke sebuah batu dan terpecahlah giginya bagian depan. Maka dia berkata, "Demi Allah tidak akan ada seorang laki-laki pun yang dapat menempati kedudukan Utsman di dalam hatiku untuk selamanya." Setelah kejadian itu, Mu'awiyah mengirim surat kepadanya untuk meminangnya. Namun Istri ' Utsman tersebut membalas kepadanya dengan giginya dan berkata, "Apa pendapat calon pengantin tentang diriku?"

Mereka menjawab, "Tidak ada wanita yang lebih indah ketika tertawa dibandingkan dia."

Dan kami membatasi cerita ini sampai di sini, karena rangkaian cerita yang menjelaskan hal ini sangat panjang. Yang jelas, rasa cinta yang dimiliki oleh suami istri akan terus ada sepanjang masa. Dan alasan kami mengambil sebuah contoh dari satra Arab, karena mereka adalah manusia yang gemar mengungkapkan perasaan mereka dan perasaan orang-orang yang sangat dicintai kepada istri-istri mereka dan perasaan wanita-wanita yang mencintai suami-suami mereka Masa Lalu

Ada juga pertanyaan, "Apabila seorang pemuda atau pemuda ini terjerumus dalam hubungan semacam ini, kemudian dia bertaubat dan kembali kepada Allah, apakah hal itu juga terjadi pada perempuan yang menjadi pinangan atau istrinya?"

Di sini, wahai para pemuda, kita harus mengangkat bendera bahaya untuk memperingatkan kalian dengan semua bentuk peringatan. Maka pemuda yang menyebut-nyebut kejantanannya dan kepetualangannya dengan perempuan-perempuan lain di hadapan pinangan dan istrinya, sesunguhnya dia menghancurkan dirinya sendiri seperti mempromosikan di dalam khayalan istrinya. Dan ini akan menjadi sebab secara langsung memunculkan di dalam hatinya keragu-raguan di dalamnya, di dalam penggunaannya, di dalam tindakannya dan di dalam rumahnya. Dan hal itu sama saja meletakkan bisa yang beracun di dalam kehidupannya untuk membunuh secara perlahan-lahan.

Demikian juga seorang pemudi dengan kondisinya yang sensitif-hendaknya tidak berkata-kata secara mudah masalah-masalah seperti ini. Dan hendaknya dia menutupi dengan tirai Allah. Sesungguhnya laki-laki tidak mungkin dengan kondisinya membayangkan bahwa perempuan ini telah memiliki laki-laki ini sebelum dirinya. Dan seorang laki-laki tidak akan lupa terhadap kesalahan-kesalahan istrinya selama hidup. Maka, apabila seorang perempuan menjelaskan sesuatu dari sisi ini, maka kelengahan yang sederhana (polos) karena kebodohannya ini telah meletakkan dengan sukarela bahan peledak di rumahnya, dan hampir membumihanguskan bangunan kehidupannya.

Dan hendaklah kalian memperhatikan arahan-arahan Islam di dalam masalah ini yang dibicarakan oleh sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

"Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap umatku akan selamat kecuali orang-orang yang suka membuka rahasia. Dan di antara bentuk kecerobohan adalah seseorang yang berbuat sesuatu pada malam hari dan kemudian datang pagi hari sedangkan Allah telah merahasiakannya, akan tetapi dia berkata, "Wahai fulan, semalam aku berbuat begini dan begini. Sedangkan Allah telah menutupinya semalaman dan pada pagi hari telah tersingkap tirai Allah darinya." (Hadits riwayat Bukhari Muslim)

Dari Ibnu 'Umar radhiyallaahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Jauhilah oleh kalian kotoran-kotoran yang dilarang oleh Allah. Barang siapa tertimpa sesuatu dari kotoran itu maka rahasiakanlah dengan tirai Allah." (Dikeluarkan oleh Hakim dan diriwayatkan oleh Malik dalam kitab Al Muwaththa’)

Dari  Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, dia berkata,

"Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Saya telah mencium seorang perempuan kota madinah, dan saya dapat menikmatinya tanpa memasukinya dan saya dapat berbuat sesukaku." Maka 'Umar berkata, "Allah telah menutupimu kalau seandainya engkau dapat merahasiakan dirimu." Maka dia tidak mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan laki-laki itu pergi. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengikuti laki-laki itu dan memanggilnya serta membacakan sebuah ayat kepadanya, "Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (Qs. Huud (11): 114).

Maka laki-laki tadi bertanya kepada Rasulullah, "Apakah ayat ini khusus bagiku atau bagi manusia secara umum?" Maka Rasulullah menjawab, "Bagi manusia secara keseluruhan." (Hadits riwayat Muslim dan Abu Dawud, lafazh darinya)

Demikianlah wahai para pemuda, kita dapat menemukan bahwa agama islam yang lurus tidak senang dengan umpatan dan penyebaran kejelekan. Islam tidak langsung menegakkan hukuman-hukuman, akan tetapi dia memberikan kesempatan bagi orang yang berbuat kesalahan atau kekeliruan untuk memperbaharui kehidupannya lagi menjadi baru dan bersih selama dia mau bertaubat dan kembali kepada Allah.

"Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. " (Qs. A1 Furqaan (25): 71)

Wednesday, October 16, 2013

Hakikat Cinta Menurut Pandangan Islam

Hakikat Cinta Menurut Pandangan Islam

Pernahkah kita bertanya, apa hakikat sebuah cinta? "Kapan kita dapat bersenang-senang dengan kenikmatan dan kegembiraan cinta?

Memang tepat kalian bertanya tentang hakikat cinta yang sebenarnya dan bukan cinta yang palsu. Cinta yang sudah matang (cinta orang dewasa) dan bukan cinta anak remaja yang cepat berkobar dan cepat padam.

Cinta yang dimaksud di sini adalah perasaan yang sudah matang. Yaitu perasaan yang dapat membedakan antara perasaan dengan kecantikan yang dangkal, dengan perasaan hakiki dan dengan perasaan cinta seseorang terhadap sifat-sifat yang sesuai dengan cinta ini.

Perasaan cinta yang matang dan sadar ini adalah perasaan cinta yang mengetuk pintu hati orang yang sudah dewasa untuk memikul akibat-akibatnya. Maksud kata-kata tersebut adalah sulitnya menjalankan kehidupan perkawinan. 

Perasaan cinta inilah yang diberkahi oleh Islam.

Dari  Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu bahwasanya ada seorang laki-laki berkata, "Ya Rasulullah, kami memiliki seorang anak yatim perempuan yang dilamar oleh dua orang pemuda, yang satu kaya dan yang satu miskin. Akan tetapi dia menginginkan pemuda yang miskin, sedangkan kami menginginkan pemuda yang kaya." Maka Rasulullah shalhllahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada yang bisa dilihat lebih indah oleh orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan." (Hadits riwayat Ath-Thabarani dan Ibnu Majah)

Pandangan adalah kejahatan pertama yang menyalakan rasa cinta.

Berapa banyak pandangan yang dihujamkan ke dalam hati yang memilikinya seperti terhujamnya anak panah tanpa busur dan tanpa tali busur.

Dengan demikian tidak dibolehkan memandang dengan pandangan yang lama, membakar dan mendalam kepada rahasia-rahasia kecantikan seseorang kecuali dia hendak menikah. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyarankan kepada orang yang hendak menikah untuk melihat perempuan yang hendak dipinangnya atau sebaliknya agar dia dapat mengetahui rahasia-rahasia kecantikan yang ada pada diri orang yang akan dipinangnya dan wanita yang dipinangnya juga mengetahui rahasia-rahasia ketampanan yang dimilikinya. Karena hal itulah yang dapat menimbulkan rasa cinta di dalam hati keduanya.

Rasa cinta itu tidaklah muncul dari kecantikan dan keindahannya
Akan tetapi cinta adalah sesuatu yang membuat jiwa merasa bertanggung jawab

Dari Muhammad bin Salmah, dia berkata, saya telah meminang seorang perempuan. Selanjutnya, secara diam-diam aku mendatanginya, sehingga saya dapat melihatnya di bawah pohon korma miliknya. Kemudian perempuan itu berkata kepadanya, "Apakah kamu melakukan hal ini sedangkan kamu adalah shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ?” Maka mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

"Apabila Allah telah memberikan keinginan di dalam hati seseorang untuk meminang seorang perempuan, maka tidak apa-apa baginya untuk melihat kepadanya." (Hadits riwayat Ibnu Majah dan IbnuHayyan dengan sanad orang lain)

Dibawah ini adalah percakapan yang terjadi antara Abdul Muluk bin Marwan dan Batsinah. Dia menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki rasa di dalam kecantikan. Dan perasaan itu terkadang tergantung bukan pada postur luarnya saja. Adapun dorongan yang datang dari dalam jiwa itulah yang lebih kuat daripada dorongan yang datang dari kecantikan yang dapat dilihat. "Ruh itu laksana pasukan yang dikerahkan seberapa jauh pasukan itu saling mengenal, sejauh itu pula mereka akan bersatu. Dan seberapa jauh mereka tidak saling mengenal, sejauh itu pula mereka akan berselisih."

Kemudian Batsinah masuk ke ruangan Abdul Muluk bin Marwan. Dan Marwan berkata kepadanya, "Saya tidak melihat sesuatu pun pada dirimu apa yang dikatakan sebagai kecantikan. Maka Batsinah menjawab, "Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya dia belum melihat diriku dengan mata kepalanya sendiri seperti engkau melihatku saat ini." Kemudian Marwan bertanya, "Bagaimana saya dapat melihat dirinya dalam kerinduannya?" Batsinah menjawab, "Dapat dilakukan sebagaimana seorang penyair berkata:

Tidak, demi tunduknya jiwa kepada cinta. 
Diriku berada dalam lindungannya itu hanyalah cerita
Tidak ada keinginan dan ungkapannya.
Tak ada cinta kecuali hanya pandangan dan ucapan

Demikianlah pernikahan itu dapat terwujud. Pernikahan adalah langkah awal di atas jalan percintaan yang selamat untuk memakmurkan alam dan mendorong perahu kehidupan di dalam bahtera kebahagiaan, ketentraman dan ketenangan. Angin sepoi-sepoi yang lembut dan segar berhembus kepadanya. Hati merasa senang dan jiwa merasa nikmat. Itulah makna hakiki yang terdapat dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala,

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. " (Qs. Ar-Ruum (30): 21)

Monday, October 14, 2013

Kebenaran Hadits Mati Syahid Karena Cinta???

Kebenaran Hadits Mati Syahid Karena Cinta???

Mati syahid adalah harapan setiap kita. Tapi, apakah ada mati syahid karena cinta? Orang-orang yang tidak menjaga kemuliaan kalimat-kalimat Ilahi dan juga tidak selalu ingat kepada Allah, para Nabi dan malaikat itu telah keluar dari kelompok kita. Benar kiranya ketika Rasulullah shallalhhu alaihi wa sallam bersabda,
"Jika kamu tidak merasa malu maka berbuatlah sesuka hatimu." (Hadits Syarif)
Selain itu juga telah terpisah dari kita orang yang bersyair: Hai anakku, orang yang mati syahid adalah orang yang mati berkorban untuk kekasih
Ada seseorang yang telah menyiarkan dan menyampaikan lantunan syair ini dari pertanyaan para pemuda tentang Hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu, "Barang siapa yang jatuh cinta, lalu dia menjaga kehormatan dirinya dan menyembunyikan cintanya hingga meninggal dunia, maka dia mati syahid."
Sampai dimana kebenaran hadits ini?
Dalam masalah ini, saya tidak menemukan keterangan kecuali yang berasal dari Ibnu Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma'aad dan A1 Jawaabul Kaafii. Ibnu Qayyim berpendapat:
"Hadits ini tidak benar berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak mungkin perkataan itu dari dirinya. Sesungguhnya kesyahidan itu menempati posisi yang sangat tinggi di sisi Allah bersamaan dengan derajat orang-orang yang jujur. Dan untuk mencapai derajat syahid itu harus ditopang dengan tindakan dan keadaan yang menjadi syarat untuk mendapatkannya. Adapun cara untuk mendapatkannya itu ada dua: Umum dan khusus.
Cara yang khusus itu adalah kesyahidan dalam membela agama Allah. Adapun cara yang umum itu lima macam yang disebutkan di dalam hadits shahih, dan bukan hanya cinta saja. Bagaimanakah cinta yang menyekutukan di dalam kasih sayang dan mengosongkan dari Allah dan menguasai hati, jiwa, cinta untuk selain-Nya mendapat derajat kesyahidan? Ini mustahil, sebab kehancuran cinta di dalam hati itu melebihi setiap kehancuran. Balikan hal itu bisa menutupi ruh yang memabukkannya dan mencegahnya mengingat Allah, mencintai-Nya, bersenang-senang dengan bermunajat kepada-Nya serta penyembahan hati selain kepada-Nya
Meskipun Sanad hadits ini seperti matahari, namun tetap saja salah dan meragukan. Dan dia tidak menghafal dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selain kata cinta yang terdapat di dalam haditsnya.
Sesungguhnya cinta itu ada yang halal dan ada yang haram, maka bagiamana dia menyangka bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menetapkan bahwa setiap orang yang jatuh cinta itu dianggap sebagai oang yang syahid? Apakah kamu juga berpendapat bahwa orang yang mencintai seorang perempuan, mencintai seorang laki-laki (homoseks), mencintai prostitusi itu mendapat derajat kesyahidan dengan rasa cintanya?
Dan kalau seandainya kamu merenungkan penyakit-penyakit yang dinyatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bagi yang mengalaminya, maka kamu akan menemukannya dari penyakit-penyakit yang tidak ada obatnya, seperti kehinaan, sakit perut, gila, terbakar, tenggelam, kematian perempuan yang dibunuh oleh anaknya di dalam perutnya. Sesungguhnya bencana-bencana ini dari Allah dan bukan buatan manusia dan tidak ada obatnya.
Jika dia tidak menahan untuk membatalkan nisbat hadits ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ulama-ulama hadits di seluruh alam pasti mengikutinya dan mengikuti alasan-alasannya. Karena dia tidak menghafal dari satu imam di antara mereka saja, dia menyaksikan hadits itu baginya dengan benar bahkan tidak dengan hasan. Bagaimana mereka mengingkari atas Suwaid, dia adalah periwayat hadits ini, dan menuduhnya dengan keagungan hadits ini. Dan mereka juga mencoba menyerangnya disebabkan hadits ini.
Dan kami berkata, "Ya, barang siapa diuji mencintai seorang perempuan, maka dirinya akan berjuang dan berperang melawan keinginannya dan berpegang teguh dengan Tuhannya dan kembali kepada- Nya, tidak diragukan lagi dirinya masuk dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala, 
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). " (Qs. An-Naazi'aat (79): 40-41)
Sungguh ayat ini telah menjelaskan kepada kamu secara jelas bahwa hadits ini bukan dari perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan juga tidak menyerupainya. Dan Allahlah yang Maha memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Friday, October 11, 2013

no image

Bolehkah Cinta yang Mendalam dalam Islam?

Pemuda yang berjalan di jalan ini [perasaan cinta yang mendalam] telah menentukan masa depannya dengan kesia-siaan. Dengan demikian, apabila cinta itu hanya datang dari satu sisi, yaitu dari dirinya sendiri saja tanpa ada sambutan dari lawan jenisnya, maka dia akan merasakan kesengsaraan dan siksaan cinta. Dan apabila  pemudi telah membuang rasa rindu dan ungkapan-ungkapan cinta yang meluap-luap, maka dari sisi ini cintanya akan berakhir dengan kehancuran.

Ada seorang penyair muda yang kuat tekadnya. Dia tidak menjadikan pemikiran-pemikiran yang sakit ini inenguasai hati dan akalnya. Dan hal itu tidak memalingkan dirinya dalam mencapai nilai-nilai luhur yang disenandungkannya. Kemudian dia bersyair:

Selamat buat orang yang memikatku dengan kecantikannya, dengan kilauan pipinya dan kerdipan matanya.
Kecantikannya yang mengkaburkan akhlaknya telah mencela dan menimpa diriku.
Aku berkata, jauhilah aku, jauhilah aku, karena aku telah terpikat (Jatuh cinta) untuk menuntut ilmu.
Diriku tidak membutuhkan segala dendang lagu dan semerbaknya.
Inilah orang yang menginginkan perasaan cinta mengalir ke dalam hatinya pada saat kelalaian akalnya. 
Maka dia menghalau hatinya dan berkata kepadanya, "Bukanlah saatnya untuk bercinta".
Ketika nafsu cinta merasuk dan membebani diriku
Aku berkata kepada hatiku, hati-hati dan berhentilah
Tuhan tidak menyuruhmu untuk jatuh cinta
Ibnu Qayyim membagi cinta yang mendalam ke dalam tiga jenis/bagian: 

Pertama, cinta adalah kedekatan dan ketaatan. Yang dimaksud dengan cinta ini adalah kecintaan seorang laki-laki kepada istri-istri dan para pelayan-pelayannya. Rasa cinta ini adalah rasa cinta yang bermanfaat, karena rasa cinta itu mengarah kepada tujuan-tujuan yang disyari'atkan oleh Allah, yaitu menikah dan menahan pandangan serta had dari memandang kepada orang yang bukan keluarganya. Orang yang mencinta seperri ini akan di puji dihadapan Allah dan manusia.

Kedua, cinta yang dibenci oleh Allah dan jauh dari rahmat-Nya. Cinta  dalam bentuk ini adalah suatu perasaan cinta yang paling berbahaya bagi seorang hamba, baik di dalam agama maupun dunianya. Cinta ini adalah kecintaan seorang laki-laki kepada laki-laki juga. Orang yang diuji dengan perasaan cinta ini tidak lain adalah orang yang telah jatuh dari pandangan Allah, telah diusir dari pintu-Nya dan telah dijauhkan hatinya dari-Nya. Cinta dalam bentuk inilah yang menjadi penghalang terbesar yang memisahkan dirinya dari Allah, sebagaimana dikatakan oleh beberapa yang terdahulu, "Apabila seorang hamba telah jatuh dari pandangan Allah maka Allah mengujinya dengan perasaan cinta kepada sesama jenis." Percintaan semacam inilah yang menyebabkan terjadinya suatu bencana yang menimpa kepada kaum Nabi Luth. Dan mereka tidak memberikan kasih sayang kecuali dalam bentuk percintaan semacam ini. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

"Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan). " (Qs. A1 Hijr (15): 72)

Dan satu-satunya penyembuh dari penyakit ini adalah dengan berdoa kepada Yang membalikkan hati (Allah), membenarkan adanya tempat kembali kepada-Nya, menyibukkan hari-harinya dengan mengingat-Nya, menggantikan rasa cinta yang tersesat dengan bentuk kecintaan kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dan berpikir tentang pedihnya adzab yang diberikan kepada kecintaan semacam ini. Selain itu juga memikirkan bahwa kenikmatan itu akan musnah dengan adanya perasaan cinta ini. Dengan demikian maka dia akan mengalami kehancuran yang dahsyat dan juga akan mendapatkan kebencian. Apabila dirinya menghadapi dan terpengaruh dengan perasaan cinta semacam ini, maka bertakbirlah atas dirinya dengan takbir jenazah. Hal itu agar dirinya mengetahui bahwa bencana telah mengepungnya.

Ketiga, cinta yang dibolehkan tetapi tidak harus dimiliki. Cinta semacam ini adalah kecintaan seseorang membayangknn perempuan yang cantik atau melihatnya tanpa disengaja, sehingga dia merindukan kepadanya. Kecintaan semacam ini bukanlah kemaksiatan. Namun, yang bermanfaat baginya adalah apabila khayalan itu memotivasi dan menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya. Dalam hal ini, wajib bagi dirinya untuk bersabar dan menjaga kehormatan dirinya terhadap cobaan-cobaannya. Dengan demikian maka Allah akan memberikan pahala dan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Hal itu dikarenakan kesabarannya yang ikhlas karena Allah, karena penjagaan kehormatan dirinya dan juga karena dirinya meninggalkan ketaatan kepada hawa nafsunya dan semangat keridhaan Allah dan apa yang ada di sisi-Nya.

Berkenaan dengan cinta dalam bentuk yang ketiga ini, Ibnu Aqil memperluas penjelasannya dengan berkata, "Cinta adalah penyakit yang menyertai jiwa-jiwa yang menganggur, hati-hati yang kosong dan lirikan-lirikan kepada gambar-gambar yang mendorong dan membantu dirinya menggemari percampuran. Dengan demikian akan memeperkuat kelembutan dan meneguhkan kenikmatan, sehingga dia akan terus merasa kecanduan. Cinta semacam ini tidak lain hanyalah penyakit yang terdapat dalam hati orang-orang yang bathil dan penyakit orang-orang yang sia-sia.

Adapun bahaya cinta semacam ini di dunia adalah mewariskan kebimbangan yang terus menerus, pikiran yang tidak wajar, was-was, sulit tidur, sedikit makan dan banyak begadang. Selanjutnya akan mempengaruhi seluruh anggota tubuh, maka tampaklah kepucatan pada tubuhnya, anggota tubuhnya menggigil, pandangannya kosong, hatinya tidak tentram, air matanya mengalir dengan derasnya, penyesalan datang secara terus menerus, tarikan nafasnya tidak teratur dan umurnya tidak panjang. 

Dan benarlah ketika seorang berkata:
Cinta itu dapat menghilangkan segala kebaikan
Dan mabuk cinta dapat menghilangkan segala hasrat

Dan sebuah pertanyaan untuk pemuda, "Bagaiama dia membolehkan dirinya melakukan hubungan haram dengan pemudi yang tidak halal baginya?

Tidakkah dia mengetahui bahwa hubungan ini memperdayakan saudara-saudara perempuannya kepada kehancuran, yaitu apabila mereka mengetahui hubungan ini?

Bagaimana perasaannya kalau dia sendiri mengetahui bahwa saudara perempuannya atau salah satu kerabatnya berhubungan dengan pemuda lain?

Apakah dia akan memberontak atau meluapkan kemarahannya kepadanya atau dia akan menutup dan memalingkan kedua matanya terhadap apa yang terjadi di sekitarnya?

Kita yakin bahwa jiwa muda itu akan membara apabila melihat hal itu. Sifat kelaki-lakiannya yang berakar di dalam dirinya pasti akan bergejolak dan perasaan cemburu akan muncul untuk menjaga kehormatannya. Dia tidak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja dengan selamat. Jadi, bagaimana dia menghalalkan bagi dirinya apa yang diharamkan atas yang lainnya?

Kamu memberi resep terhadap orang-orang yang lemah dan sakit
Tapi bagaimana dia bisa sembuh, sedangkan kamu sendiri sakit

Seorang pemuda telah datang kepada Rasulullah dan bertanya, "Wahai Nabi Allah, apakah engkau mengizinkan aku untuk berbuat zina?" Mendengar perkataan itu, semua manusia berteriak kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda, "Mendekatlah kamu!" Maka pemuda itu mendekat dan duduk di hadapan beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Apakah kamu suka bila hal itu terjadi pada ibumu?" Dia menjawab, "Tidak, mudah-mudahan Allah menjadikanku sebagai pembelamu." Kemudian beliau bersabda, "Demikian pula manusia, mereka tidak menyukainya terjadi pada ibu-lbu mereka." Kemudian beliau bertanya lagi, "Apakah kamu suka bila hal itu terjadi pada anak perempuanmu?" Dia menjawab, "Tidak, mudah-mudahan Allah menjadikan saya sebagai pembelamu." Beliau bersabda, "Demikianlah manusia, mereka tidak menyukainya hal itu terjadi pada anak-anak perempuan mereka." Kemudian beliau bertanya lagi, "Apakah kamu suka hal itu terjadi pada saudara-saudaramu perempuanmu?" Dan beberapa riwayat menambahkan bahwa dia menyebutkan bibi, dan dia menjawab setiap pertanyaan dengan perkataan, "mudah-mudahan Allah menjadikanku sebagai pembelamu."

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan di atas dadanya dan berdoa, "Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan jagalah kemaluannya." Maka tidak ada sesuatu yang sangat dibenci oleh Rasulullah dari perbuatan itu, yaitu berzina.

Dengan gaya bahasa yang memuaskan dan jelas ini, kita kagum dengan seorang murid yang bertanya kepada gurunya, "Sesungguhnya saya mencintai seorang pemudi dengan kecintaan yang bebas." Maka seorang guru bertanya kepadanya, "Apakah engkau suka apabila seorang laki-laki mencintai salah seorang saudara perempuanmu dengan cinta yang bebas?" Dia menjawab, 'Tidak." Maka seorang guru berkata kepadanya, "Demikian juga manusia, mereka tidak akan menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka."

Prof. Muhammad Quthb berkata di dalam bukunya yang berjudul At-Tarbiyah Al-Islamiyah:

Maka saat itu ada seseorang berkata kepadanya: "Sesungguhnya saya merasakan cinta di dalam lubuk hatiku yang paling dalam kepada jenis lain. Dan saya memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu dengan salah seorang darinya dan melakukan hubungan bersamanya. Selain itu juga saya ingin menyatu dengan dirinya secara sempurna, seolah-olah kami menjadi satu bagian dan bukan dua bagian yang terpisah."

"Perasaan semacam ini, pada hakekatnya bukanlah suatu aib atau suatu kehinaan. Sebenarnya, hal itu adalah fithrah Allah yang diberikan kepada manusia. Setiap laki-laki dan wanita akan merasakan rasa cinta dan kesenangan semacam ini. Bahkan wajib bagi mereka merasakan perasaan cinta ini untuk menciptakan tujuan kehidupan dan menjaga keturunan di atas muka bumi."

"Dan susunan anggota tubuh menunjukkan pada tugas perasaan ini. Dengan demikian, psikis, biologis dan kimiawi itu semuanya disiapkan untuk melaksanakan tugas ini secara sempurna guna menghasilkan generasi-generasi baru dalam kehidupan. Dan tugas ini tidak akan sempurna tanpa adanya pertemuan antara dua orang, yaitu pertemuan antara suami dan istri."

"Akan tetapi, bukanlah berarti bahwa memikirkan masalah-masalah seksualitas itu menjadi pekerjaan pokok dan perkara yang membingungkan. Kehidupan bukan hanya untuk kepentingan seks semata, dan kehidupan juga tidak terbatas hanya pada satu tujuan saja. Pada diri kita ada tujuan lain yang diarahkan kepada diri kita sendiri dan di arahkan kepada manusia secara umum.

Kita mempunyai kewajiban untuk belajar dan untuk berproduksi. Kita memiliki tugas untuk melihat masalah-masalah kemasyarakatan, apakah masyarakat berjalan sesuai dengan apa yang telah digariskan baginya ataukah dia menyimpang dari jalannya. Kalau menyimpang, apa sebab-sebab penyimpangannya itu? Dengan demikian kita memiliki tugas dan peranan untuk meluruskan penyimpangannya itu.

Dan kita juga memiliki kewajiban untuk memerintahkan kepada yang ma'ruf dan mencegah hal-hal yang munkar. Meskipun dalam nenjalankan tugas itu kita terkadang mendapatkan sesuatu yang nenyakitkan dari orang lain, akan tetapi kita harus tetap memberanikan diri untuk menanggung derita itu dan juga memberanikan diri untuk relawan kejahatan. Meskipun demikian kita harus melaksanakan tugas positif kita di dalam memberikan petunjuk kepada manusia untuk mendapatkan kebenaran. Dan cara yang terbaik untuk mengatasi itu adalah dengan memberikan “contoh”. Maka, wajib  bagi kita untuk menjadi seorang panutan yang baik. Kalau tidak demikian maka tidak ada nilainya apa yang telah kita ucapkan. Kalau kita berkata kepada manusia, "Sesungguhnya yang menghancurkan mereka adalah pembauran dengan penuh nafsu syahwat." Maka kita harus menjadi orang pertama yang memberikan contoh untuk tidak melakukan pembauran dengan penuh nafsu syahwat. Kalau tidak demikian maka apa yang kita katakan tadi tidak ada manfaatnya.

"Hal itu bukan berarti bahwa kita memaksa seorang pemudi agar kita dapat melampiaskan kesenangan seksualiatas, sedang dia bukanlah milik kita. Pemudi seperti ini bukanlah pemudi idaman kita. Kita tidak akan memilikinya sampai kita memanfaatkan keadaan kita dan keadaannya sesuai dengan ketentuan yang dibenarkan. Sesungguhnya, dia memiliki kehormatan yang dapat menyempurnakan kehormatan kita. Tidak boleh bagi kita untuk mengotorinya. Sesungguhnya kita menginginkan dia menjadi kehormatan kita yang bersih dan suci serta tidak terkotori oleh sesuatupun. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menjaga kehormatan pemudi ini. Dan pada saat itu juga, kita menginginkan dirinya menjadi istri yang bersih dan suci; suci ruh dan badannya secara keseluruhan. Dengan demikian, kita tidak mengabaikan keberhasilan pemudi ini bagi siapa saja yang ingin menjadikan dirinya sebagai istri. Demikian juga kita tidak akan mengabaikan kesucian dirinya sebagaimana diri kita juga menginginkan dirinya menjadi istri kita."

Kalau seandainya dia rela dengan kerelaan kita melampiaskan kesenangan seks bersamanya atau dia mengajak kita untuk melakukan perbuatan itu, maka tidak ada bedanya. Perbuatan itu tidak boleh bagi kita. Kalau demikian, maka dia itu seperti penjaga yang mengajak kepada manusia untuk mencuri harta yang dijaganya. Padahal, dirinya tidak boleh memberikan kesempatan atau hak kepada seorang manusia pun untuk mencuri. Karena, pada hakekatnya penjaga itu bukan yang memiliki harta.

Dan pemudi yang menjaga kehormatan dirinya ini tidak memiliki hak untuk menggunakannya. Dan dia juga tidak berhak mengajak kepada manusia untuk merampasnya. Karena, kehormatan itu bukanlah kehormatan dirinya saja. Sesungguhnya, kehormatan itu adalah kehormatan dirinya, kehormatan kedua orang tuanya, kehormatan keluarganya, kehormatan masyarakatnya dan kehormatan manusia secara keseluruhan. Sesungguhnya, kehormatan itu adalah amanah yang dititipkan oleh Allah kepada manusia yang harus dikembalikan kepada-Nya dengan keadaan bersih dan sempurna sebagaimana dia menerimanya. Hal ini sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Pemilik Kebenaran (Allah).