Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Pemuda Islam. Show all posts
Showing posts with label Pemuda Islam. Show all posts

Thursday, October 10, 2013

no image

Pandangan Islam: Masa-Masa Sulit Cinta Anak Remaja

Masa anak remaja yang dialami oleh semua pemuda dan pemudi adalah masa-masa bergeloranya perasaan cinta dan bergejolaknya emosional. Masa remaja adalah masa-masa yang penuh dengan mimpi-mimpi yang indah, angan-angan yang melayang tinggi dan pandangan-pandangan yang romantis.

Pada masa ini, mata dan pendengaran para pemuda akan selalu terbuka untuk melihat dan mendengarkan nyanyian-nyanyian tentang cinta, cerita-cerita dan film-film percintaan yang disebarluaskan oleh alat-alat yang mendatangkan kehancuran apabial tidak dilandasi dengan ajaran islam. Sehingga, pikiran pemuda akan selalu tersesat dan hatinya selalu terampas. Peralatan-peralatan yang menghancurkan itu mencela dari luar, sedangkan kerinduan kepada lain jenis mendorongnya dari dalam.

Seorang pemuda dan pemudi akan selalu tersesat. Setiap dari keduanya akan selalu berpikir dan selalu ingin mencoba. Dia mulai menulis agu-lagu tentang cinta dan kemudian menghafalnya. Dia membeli buku-buku murah yang di setiap ujungnya terdapat kata-kata cinta yang mendalam dan ungkapan-ungkapan tentang kerinduan dan cinta yang membara. Dia menghafal beberapa ungkapan yang manis dan membuat perangkapnya. Apabila di dalam perangkapnya terdapat seorang pemudi, maka dia akan berkata,

Setiap yang terperosok dalam kehidupan akan bernilai rendah (tak ada harganya)
Dan untuk setiap barang yang murah pasti akan laku pada suatu hari

Dari sinilah muncul cerita-cerita tentang cinta. Dan dari sinilah tampak gejala-gejala orang yang jatuh cinta, begadang, tidak dapat tidur, eggan makan, berkhayal, malas menghafal dan berkreasi. Sebagaimana diungkapkan oleh Hammad Ar-Riwayah, yaitu ketika ditanya tentang cinta, maka dia menjawab, “Cinta adalah pohon yang akarnya adalah pikiran, getahnya adalah ingatan, cabang-cabangnya adalah bergadang, daun-daunnya adalah kesengsaraan dan buahnya adalah kematian."

Hidup Qais penuh dengan pengharapan akan datangnya Laila. Tatkala Laila pergi dari sisinya, Qais merasa malam pun menjadi tak mempesona dan cahaya pun tak mampu menghilangkan kegelapan yang ada di sanubarinya. Dan Tatkala Laila menjumpai Qais, maka Laila pun akan meletakkan kenikmatannya di atas kedua tangan Qais.

Dari sinilah, dia mulai mengeluarkan kata-kata manis, janji-janji pertemuan, saling menulis surat dan saling bertukar foto. Di sinilah terjadinya awal penyimpangan dan awal berakhirnya suatu masa depan orang yang saling mencintai.    

Cinta inilah yang dinamakan dengan "cinta anak remaja" atau "cinta anak pelajar". Dari percintaan ini, seorang pemuda atau pemudi tidak dapat memetik apa-apa kecuali ketercerai-beraian, penyia-nyiaan kemampuan, bergadang, menangis dan selanjutnya penyimpangan atau malas untuk belajar dan penghancuran masa depan di atas perasaan yang gersang.
loading...

Saturday, October 5, 2013

no image

Arti Kata Cinta dan Perasaan Cinta dalam Pandangan Islam

Arti Kata perasaan Cinta adalah suatu ikatan magic yang mengikat antara makhluk yang satu dengan yang lain. arti kata Perasaan Cinta adalah taman kehidupan. Perasaan Cinta adalah aroma kehidupan yang semerbak. Cinta adalah wewangian yang selalu dihirup oleh semua jiwa.
Kata cinta itu memiliki makna yang sangat luas. Akan tetapi, makna cinta yang saya maksud di sini adalah cinta yang terjadi antara seorang pemuda dengan seorang pemudi atau antara lelaki dengan perempuan.
Cinta dengan makna ini adalah suatu perasaan manusia yang pada dasarnya tidak dimunculkan oleh Islam. Namun demikian, Islam juga tidak mengekang perasaan cinta tersebut di dalam jiwa-jiwa manusia untuk memunculkan suatu kebinasaan. Yang benar, cinta adalah suatu fithrah Allah yang diberikan kepada manusia.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita dan anak-anak.” (Qs. Ali Imran (3):14)

Firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala,
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demkian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. "(Qs. Ar-Ruum (30): 21)
Firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala, 
"Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. " (Qs. A1 A'raf (7): 189)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 
“Kaum pcrempuan adalah saudara kandung kaum lelaki." (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Maka, setiap jiwa manusia yang sengsara itu akan selalu tersesat dan bingung sampai dia mendapatkan orang lain yang memberikan petunjuk pada jiwa yang telah mengalami kebingungan. Sehingga, setelah dia mendapatkan petunjuk dari orang lain itu, maka dia akan merasa senang, dalam kedamaian dan ketenangan.
Mengenai perasaan yang mulia ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukkan dengan sabdanya,

“Sesuatu yang aku senangi dari dunia adalah para wanita dan wewangian. Dan kesenanganku itu saya jadikan di dalam shalat.” (Hadits riwayat Ahmad dan An-Nasaa’i)
Apakah kamu telah merenungkan bahwa kala "habbaba" yang berarti mencintai itu sama dengan makna kata "zayyana" yang berarti menghiasi. Maksudnya, bahwa rasa cinta dan kecenderungan perasaan yang dimiliki oleh setiap orang kepada yang lainnya, yaitu antara dua jenis insan yang berbeda adalah perasaan-perasaan dan kesenangan-kesenangan yang diletakkan di dalam fithrah manusia tanpa ada keinginan manusia itu sendiri untuk memilikinya. Dan kita dapat menemukan makna ini secara jelas dalam Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang keadilan terhadap istri-istrinya ketika berdoa,
"Ya Allah, inilah bagianku menurut apa yang kumiliki. Maka janganlah Engkau mencelaku tentang apa yang Engkau miliki sedang aku tidak memilikinya." (Hadits riwayat Abu Dawud dan At- Turmudzi)
Yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah keadilan dalam memberikan nafkah dan pembagian (giliran) serta hak-hak materi lainnya kepada istri-istrinya. Adapun yang tidak dimiliki oleh beliau adalah persamaan atau keadilan dalam memberikan rasa cinta dan kasih sayang kepada istri-istrinya.
Dan apabila kita ingin memberikan sebuah contoh yang mencerminkan keluhuran dan kesucian perasaan cinta ini, maka kita akan segera melihat kepada seseorang yang memiliki kepribadian yang komplek. Sosok  itu adalah sosok kepribadian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang memiliki hati yang tajam dan perasaan yang sensitif. Kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mencintai istrinya ‘Aisyah radhiyallaahu 'anhu. Dan kecintaan beliau kepadanya ini telah diketahui oleh semua sahabatnya, sehingga ketika 'Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu menjabat sebagai khalifah, beliau memberikan tunjangan kepada ummahaatul mu'minin dari Baitul Maal sebanyak sepuluh ribu. Namun dia menambahkan lagi dua ribu kepada 'Aisyah dengan beralasan, Karena Aisyah adalah kekasih Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."
Seorang shahabat yang bernama Masruq, apabila dia menceritakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallaahu 'anha, maka dia berkata, "Telah menceritakan kepadaku Ash-Shadiqah binti Ash-Shiddiiq kekasih Rasulullah dan seterusnya.
Meskipun kecintaan Rasulullah kepada Aisyah begitu besar, namun beliau tidak pernah melupakan cintanya yang pertama, yaitu kecintaannya kepada Siti khadijah radhiyallaahu 'anha. Kecintaannya kepada Siti Khadijah ini selalu membayang-bayangi dirinya secara sempurna. Sebagaimana dikatakan oleh 'Aisyah radhiyallaahu 'anha,
"Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain melebihi kecemburuanku kepada Siti Khadijah radhiyallaahu 'anha, meskipun saya tidak pernah melihatnya sama sekali. Hal itu dikarenakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering kali menyebut namanya dan bahkan beliau pernah memotong seekor kambing kemudian memotong bagian-bagiannya dan mengirimkannya ke kebun-kebun Khadhijah radhiyallaahu 'anha, seakan-akan tidak ada lagi perempuan di dunia ini selain Khadijah. Kemudian beliau berkata, "Sesungguhnya dia selalu menyertainya, dan mudah-mudahan darinyalah aku mendapatkan seorang anak laki-laki." (Mutafaq 'Alaih)
Dan apabila beliau mendengar suara "Halah" saudara perempuan Khadijah, maka suaranya itu akan mempengaruhi parasaan dan mengingatkan dirinya kepada masa lalunya yang telah lewat bersama khadijah. Hal itu dikarenakan suara Halah sangat mirip dengan suara Khadijah.
Dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anha berkata, "Halah binti Khuwailid, saudara perempuan khadijah pernah meminta ijin masuk ke rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau teringat permintaan ijin khadijah dan kemudian beliau merasa senang dengan hal itu, maka beliau berdoa, "Ya Allah, lindungilah Halah binti Khuwailid." (Hadits riwayat Muslim)
Meskipun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sibuk berdakwah dengan segala tantangan dan kesulitannya, namun hal itu tidak menghalangi dirinya untuk menjadi seorang yang memiliki hati penyayang yang simpatik. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada engkau wahai Nabi yang mencintai istri-istrinya secara sempurna!
loading...

Thursday, October 3, 2013

no image

Pengetahuan Seputar Hukum Mani, Madzi dan Wadi

Apa bedanya antara mani, madzi, dan wadi? Mana yang mewajibkan mandi jubub apabila keluar?

Mani adalah air kental yang keluar memancar pada saat syahwatnya memuncak. Dan hukum airnya adalah suci, akan tetapi disunnahkan untuk mencucinya apabila basah dan mengeriknya apabila kering. Dan ciri-cirinya yang khusus dia berinteraksi dengan udara. Oleh karena itu disunnahkan untuk bersegera membersihkannya dengan air dingin sampai tidak meninggalkan bekas pada kain. Apabila seseorang mengeluarkan cairan dengan sifat-sifat atau ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka wajib atasnya melakukan mandi besar (mandi junub).

Sedangkan Madzi adalah air putih lengket yang keluar pada saat memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas atau pada saat bersenda-gurau. Hukumnya adalah najis. Maka, apabila air ini mengenai badan, wajib mencucinya. Dan apabila mengenai baju, maka cukup menyiram tempatnya dengan air. Keluarnya madzi pada seseorang tidak mewajibkan dirinya mandi besar, akan tetapi wajib membasuh kemaluannya dan kemudian berwudhu apabila hendak melakukan shalat.

Pengertian Wadi adalah air putih yang biasanya keluar setelah buang air kencing. Hukumnya adalah najis. Apabila keluar, tidak menyebabkan mandi junub, akan tetapi wajib mencuci kemaluannya dan kemudian berwudlu seperti shalat biasa.

Apa hukumnya apabila keluarnya mani itu karena sedang sakit dan bukan karena merasa syahwat atau air mani itu keluar dari seorang pemuda akibat kencing?

Apabila keluarnya mani itu dengan sifat-sifat yang jelas dalam pertanyaan di atas, maka tidak wajib baginya melakukan mandi junub. Ada baiknya bagi kita mengingat jawaban hibrul ummat Abdullah bin Abbas" tentang pertanyaan ini. Mujahid berkata, "Ketika kita, shahabat-shahabat Ibnu Abbas sedang berkumpul di dalam masjid, Thawus, Said bin Jabir dan Ikrimah, sedangkan Ibnu Abbas sedang melakukan shalat pada saat itu, seorang laki-laki berdiri dihadapan kami dan bertanya: Siapakah di antara kalian yang menjadi mufti? Maka kami menjawab: Bertanyalah. Maka dia bertanya: Sesungguhnya, ketika saya sedang kencing diikuti air yang kental? Kami menjawab: Air yang bisa menjadi seorang anak? Dia menjawab: Ya. Maka kami pun berkata: Kamu wajib mandi. Maka laki-laki itu berkata: Hanya kepada Allah dan hanya untuk Allah-lah semuanya itu akan kembali. Mujahid berkata, maka Ibnu Abbas menyegerakan shalatnya, kemudian berkata kepada Ikrimah: Hadapkanlah laki-laki itu kepadaku. Maka laki-laki itu menghadap kepada kami dan berkata: Apakah kalian mengetahui apa yang telah kalian fatwakan kepada laki-laki ini berasal dari kitab Allah. Kami menjawab: Tidak. Kemudian Ibnu Abbas bertanya lagi: Apakah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami menjawab, "Tidak." Ibnu Abbas betanya lagi: Dari shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami menjawab: Tidak. Ibnu Abbas bertanya lagi: Lalu dari siapa? Kami menjawab: Dari pendapat kami sendiri. Kemudian Ibnu Abbas berkata, oleh karena itulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seorang yang faqih (ahli fiqh) itu lebih ditakuti oleh syaithan daripada seribu orang yang ahli beribadah. Mujahid berkata: Maka datanglah laki- laki itu menghadap Ibnu Abbas dan bertanya: Apakah kamu mengetahui apabila hal itu berasal darimu, apakah di dalam hatimu itu terdapat syahwat? laki-laki itu menjawab: Tidak. Ibnu Abbas betanya lagi: Apakah pada tubuhnya terdapat penutup? Dia menjawab: Tidak. Kemudian Ibnu Abbas berkata: Tidak lain air itu hanya cukup disiram, dan kamu boleh berwudhu.

Apa hukumnya bagi seorang pemuda yang bermimpi akan tetapi dia tidak menemukan bekas mani di kainnya?

Dia tidak wajib mandi besar, kecuali apabila air mani itu keluar dari dirinya.

Apa hukumnya bagi seorang pemuda yang melihat mani di pakaiannya sedangkan dia tidak ingat mimpinya?

Wajib baginya melakukan mandi junub. Sayyidah 'Aisyah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang laki-laki yang mendapatkan dirinya basah (ada mani pada pakaiannya), akan tetapi dia tidak ingat mimpinya? Kemudian Rasulullah bersabda: Wajib baginya mandi junub. Sedangkan tentang laki-laki yang berpendapat bahwa dia telah bermimpi, akan tetapi dia tidak mendapatkan tanda basah, maka beliau menjawab:Tidak wajib baginya melakukan mandi junub.
loading...

Monday, April 22, 2013

no image

Menekuni Ilmu demi Agama dan Kemanusiaan

 Bersabda Nabi saw:

 مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اﷲَ تَعَالَى ٬ لاَيَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ٠ 

"Barang siapa mencari ilmu yang seharusnya dicari dalam rangka mencari kenikmatan (melihat wajah Allah), namun ia tidak mempelajarinya terkecuali (dengan niat) mendapatkan fasilitas duniawi, ia tidak akan mendapatkan bau surga di hari kiamat." (HR.Abu Daud) 

Pesan Nabi ini mengandung pesan umum dan khusus. 

Khusus, yaitu ucapan lugas Nabi saw bahwasanya siapapun yang mempelajari ilmu tertentu, yang seharusnya dicari untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah dengan cara menggunakannya untuk kepentingan masyarakat, namun justru ia mempelajarinya dengan maksud memperoleh fasilitas dunia semata maka Allah mengharamkannya mencium bau surga. Dan inilah realitas yang sudah merajalela di tengah-tengah masyarakat kita. Khususnya mereka yang memperdagangkan Al-Qur'anul Karim, sekalipun sebagian orang memperdebatkan pandangan kita semacam ini. 

Umum, yaitu (pujian) terhadap pencari ilmu yang ia komitmen dengan pesan Nabi saw ini. 

Nabi saw berpesan kepada kalian agar ilmu pengetahuan yang senantiasa diburu- buru hendaklah dijadikan sebagai media kebaikan untuk kalian dan masyarakat. Dengannya kalian memperbaiki kondisi ekonomi dan peradaban (madaniah), sehingga jalan kemakmuran pun tercukupi untuk kalian. Kalian tidak terkungkung oleh kebodohan dan tidak menggantungkan kepada orang lain. Justru kalian bisa turut andil membangun dan memberi sumbangsih terbaik untuk masyarakat dan bangsamu dalam bidang industri, pertanian, perdagangan, dan sebagainya. 

Namun, sekali lagi jangan kalian jadikan ilmu tersebut bahkan untuk modal mengeksploitasi dan memonopoli. Sebab jika demikian yang terjadi, hilanglah sudah peran asasi ilmu pengetahuan. Bahkan berarti menggiring pemiliknya ke dalam sebuah golongan yang sama sekali tak memiliki etika ilmu. 

Wahai pemuda pemudi Islam ... Pesan terakhir yang patut saya ketengahkan keterkaitannya dengan hadis di atas adalah jangan sampai Ilmu pengetahuan diburu hanya sebagai kuda tunggangan mencapai popularitas (riya'). Sehingga jangan sampai seorang 'alim nantinya di hadapan Pengadilan Allah Ta'ala, lantas ia ditanya: Apa yang telah engkau kerjakan dari ilmumu? Ia menjawab: begini, begini. Namun Allah kemudian membongkar rahasianya, dan mengatakan: Tidak, engkau memburu ilmu hanya sekedar agar engkau digelari: Orang alim, cendekiawan, intelek, dan sebagainya. Padahal engkau telah diberita- hu sanksi orang yang berbuat semacam itu. Lantas ia dilemparkan ke Neraka Jahan- nam dan terlarang mencium bau surga. Dan saya mohon perlindungan kepada Allah agar melindungi saya dan kalian dari segala keburukan mental dan ketergelinciran hawa nafsu.
loading...
no image

Perhatian Islam pada Kelestarian Fauna

Bersabda Rasulullah saw:

 دَخَلَتِ امْرَأَةُ النَارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا ، فَلَمْ تُطْعِمْهَا ، وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ٠ "

Ada seseorang wanita masuk neraka karena seorang kucing yang ia kurung namun tidak ia beri makan, sehingga kucing itu tak berkesempatan memakan sisa-sisa makanan (di atas bumi)." (HR. al-Bukhari) 

Dan Allah juga telah mengampuni seseorang yang telah berbuat dosa, yang dosanya mewajibkan dia masuk neraka. Yang demikian karena ia pernah menjumpai anjing di padang pasir di hari terik panas, sementara si anjing menjulur-julurkan lidahnya karena kehausan. 

Orang tersebut sebelumnya mengalami hal serupa seperti anjing. Ia kehausan, namun dijumpainya sumur, lantas ia menuruninya, minum, dan memuji Allah. Tatkala ia melihat kondisi anjing kritis semacam itu ia mengatakan: Anjing ini, mengalami nasib serupa seperti saya tadi. Maka ia kembali ke sumur dan ia turuni. Ia lepas salah satu sepatunya, dan ia penuhi dengan air. Kemudian ia naik dan memberi minum anjing ... Maka Allah pun mengampuninya. 

Sayang kepada binatang, adalah sekian di antara tanda kemanusiaan, ketinggian, dan keluhurannya. 

Di antara hewan ada yang jinak menemani manusia dalam hidupnya bahkan memberi gizi dan makanan, pakaian, serta menjaganya. Juga ada yang tidak jinak, namun banyak membantu tugas manusia,mengangkut barang berat dan mengawasi bekerja. 

Ada juga burung, membelah angkasa dengan kedua sayapnya. Membikin sarang- sarang dan rumah-rumah di puncak-puncak gunung dan di pohon-pohon. Di antaranya ada yang memberi faedah bagi manusia. Memberi bahan makanan, mengawinkan pepohonan, sementara yang lain men-dendangkan lagu berkabung dan kegembiraan dengan alunan suaranya. 

Ada di antara mereka yang mengembara dan berpetualang di hutan-hutan, sebagian ada yang dagingnya amat lezat namun susah diburu, seperti rusa dan kijang. 

Juga ada di antaranya yang buas, mengganggu, dan membahayakan kehidupan manusia. Hewan semacam ini, tidak perlu disantuni. Hindari saja mereka, atau (kalau diserang) kita membela diri. 

Di dunia sekarang ini, bersamaan dengan kemajuan dan ketinggian kesadaran manusiawi, telah berdiri club-club dan badan-badan sosial yang mengurusi tanggung jawab kelestarian fauna. Mereka menyebarkan selebaran-selebaran, buletin- buletin, memasyarakatkan seruan-seruandan propaganda-propaganda di semua tempat sesuai dana yang mereka miliki. 

Kemudian banjirlah di negara (masyarakat) islami kita pada dekade dekade akhir ini prinsip-prinsip badan-badan sosial tersebut beserta tujuan-tujuannya. Lantas kita pun kagum dan terpengaruh. Dan didirikanlah di negara kita, badan- badan semisal itu. 

Gebrakan-gebrakan itu dan pengaruh- pengaruhnya —wahai pemuda pemudi Islam— adalah pada hakikatnya "tamu baru", sementara kita merasa terasing dengan prinsip-prinsip ajaran religius kita yang lurus. Dan artinya, kejahiliyahanlah yang masih "menempurungi" kehidupan kita hari ini. 

Persoalannya, bagaimana kita kembali "mengkaji ulang" studi kajian tentang substansial agama kita dengan lebih mendetail dan komprehensif. Sehingga prinsip-prinsip melestarikan fauna (kasih sayang terhadap hewan) selalu tak ketinggalan menghembusi nafas dan hati kita. 

Program-program mereka itu wahai pemuda pemudi Islam jauh ketinggalan dari kandungan dan tujuan ajakan Rasul mulia kita. Ajakan Rasul saw kita begitu tinggi mengangkat derajat Santun terhadap hewan sampai pada derajat maghfirah (ampunan) dan ganjaran. Bahkan ancaman Jahannam beserta sangsi-sangsinya. 

Artinya, sayang terhadap fauna yang merupakan ciptaan Allah Ta'ala, adalah berkaitan erat dengan aqidah, dengan iman. 

Hingga di saat menyembelih, saat kita ingin mengambil daging hewan yang telah Allah tundukkan untuk kita semua ini, kita diperintahkan untuk Arrifq (sayang). Nabi bersabda:

 إِذَا ذَبِحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَبْحَةَ ٠ 

"Jika kamu menyembelih, baguskanlah dalam penyembelihan."

 لِيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ٠ 

"Hendaklah masing-masing di antaramu menajamkan pisaunya, dan menenangkan sembelihannya." 

Tidak lupa, wahai anak-anakku bahwasanya hadis Nabi saw yang berkomentar tentang seorang wanita dan seekor kucing, mengingatkan saya pada persoalan penting, yaitu: Menangkar burung. Entah itu diberi makan dan disayang, atau penangkaran luas yang ia bebas ke mana-mana. 

Jauhilah olehmu sekalian, menyakiti makhluk-makhluk ini. Bahkan curahilah mereka dengan sebaik-baik pengawasan dan kelestariannya. Tuangkan seoptimal mungkin pada mereka rengkuhan kasih dan simpati. Sesungguhnya pada yang demikian terdapat ganjaran agung untukmu.
loading...
no image

Pertanggungjawaban Masa Mudah di Hari Akhir

Bersabda Rasulullah saw:

 لاَتَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلُ عَنْ أَرْبَعٍ ׃عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ ؟ 

"Tidaklah bergerak kedua kaki seorang hamba di hari kiamat hingga ditanya 4 (empat) perkara: Tentang umurnya untuk apa ia pergunakan? Waktu mudanya untuk apa ia habiskan? Hartanya dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan? Dan tentang ilmunya untuk apa ia kerjakan? (HR. Turmudzi) 

Wahai pemuda pemudi ..., inilah keempat ringkasan kehidupan: 
  • 1. dan 2. Umur di antara pemuda dan kedewasaan 
  • Mata pencaharian dan cara mencari penghasilan 
  • Ilmu, keahlian dan profesionalitas. 

Pesan hadis tadi adalah peringatan sebelum hilangnya kesempatan. Hari ini dalam kehidupan dunia adalah kesempatan beramal dan tidak ada perhitungan. Dan esok di akhirat yang ada sebaliknya: Perhitungan dan tidak ada kesempatan beramal! 

Karenanya siapa di antara kalian mengerti makna dan tujuan peringatan tersebut, lantas ia mengatur kehidupan dan aktivitasnya, ia akan beruntung di dunia dan akhirat. Sebaliknya siapa di antara kalian tidak peduli terhadap nasihat Nabi ini dan tidak mau mengambilnya sebagai nasihat, ia akan rugi kedua-duanya. Sebab dunia akan musnah dan usia akan habis, dan yang kekal hanyalah apa yang di sisi Allah. Berkata Nabi saw: "Tidak bergerak kaki seorang hamba di hari kiamat hingga ditanya tentang 4 (empat) perkara." Tidak bergerak, maksudnya tidak bergerak ke kanan atau ke kiri, sebab ia dalam posisi perhitungan. 

Pertama: Seseorang ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan? Tentang catatan kehidupannya dan lembaran hari demi harinya, sehingga Allah mengatakan:

"Kemarilah, bacalah buku catatanmu ini." (QS. al-Haaqqah: 19) 

"Bacalah bukumu. Cukuplah bagi dirimu hari ini, sebagai perhitungan." (QS. al-Israa' 14) 

Maka dengan segeralah seseorang berbicara dengan lisannya, ingat akan aktivitas- aktivitas dan perbuatan-perbuatan sepanjang hidupnya. Apabila lisannya malas dan terlambat membongkar rahasia atau aibnya, kedua tangan dan kakinya akan berbicara sendiri, lantas mencelanya sendiri, heran akan ucapan dan merasa aneh akan pembicaraannya. Allah berfirman: 

"Kulit tangan dan kaki berbicara: Allahlah yang mengajari kami bisa berbicara, sebagaimana Ia mengajari berbicara segala sesuatu." (QS. Fussilat: 21). 

Kenapa ditanya? 

Sebab kehidupan adalah karunia dan anugerah dari Allah Ta'ala. Sekian di antara nikmatnya yang tak terhitung. Sehingga tidak ada hak sepersen pun bagi seseorang untuk mempergunakan amanat ini sesuai selera hawa nafsu dan keinginannya. 

Kemudian fokus pertanyaan pada bahagian umur. Sebab ia adalah puncak kehidupan, kekuatan, dan kegigihan, yang pada dasarnya adalah tak disangsikan lagi masa-masa produktif dan menghasilkan. 

Terkadang seorang remaja tidak mengerjakan yang haram atau perbuatan keji karena ia tidak tahu. Atau fasilitas ke arah itu tidak ada. Dan juga terkadang ia berhenti daripadanya namun di masa-masa sudah mulai tua, di saat badan mulai lemah atau harta sudah mulai krisis, atau ia sudah mulai khawatir dekatnya dia dengan kematian. Tobat semacam ini, dinamakan tobat-nya orang yang lemah. 

Adapun seorang pemuda, yang di masa antara anak-anak dan ketuaannya dinamis dengan kehidupan (yang baik), mampu mengendalikan diri, inilah pemuda teladan. Sebab pemuda adalah puncak kehidupan, sehingga siapa pun yang menjaga masa mudanya ia akan beruntung di dunia maupun di akhirat. Akhirat seperti apa? 

Adalah kenikmatan yang tiada lagi kenikmatan sesudahnya, yaitu kenikmatan di bawah naungan 'Arsy. Hafallah berulang- ulang pesan untuk kalian dari Nabi saw yang berbunyi:

 إِنَّ اﷲَ تَعَالَى يُظِلُّ سَبْعَةَ أَنْوَاعٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُحْلَصِيْنَ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ ،يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ ، مِنْهُم ׃ الشَّابُّ النَاشِيءُ فِي طَاعَةِ اﷲِ٠ 

"Allah akan melindungi tujuh golongan dari hamba-hamba-Nya yang ikhlas pada naungan Arsy-Nya di hari tiada naungan selain naungan-Nya, di antaranya: Seorang pemuda yang tumbuh dengan penuh ketaatan kepada Allah." 

Kemudian tibalah pertanyaan tentang harta, nafas kehidupan dan obyek persaingan. Saya mengupas masalah ini bukan berarti saya meminimalisasi urgensi harta atau menghilangkan status keberadaannya. Bahkan saya katakan, mencari harta dan penghasilan adalah media untuk menutup keperluan, menambah suasana lebih tenang, makmur dan harmonis dalam sendi-sendi kehidupan manusia sesudah peras keringat, banting tulang dan kepayahan. 

Mencari penghasilan atau gaji pasti melewati di antara dua jalan. Pintu yang halal dengan jalan bekerja atau berniaga, atau yang terlarang seperti merampas, mencuri, atau dari suap. Sebaik-baik penghasilan adalah penghasilan seseorang dari kreativitas tangannya. 

Bahtera kehidupan di alam bisnis terkadang tak bisa memenuhi kebutuhan, terkadang sekedar cukup, dan terkadang berlipat ganda sesuai kondisi pasar dan tak jarang pelaku bisnis hartanya melimpah ruah. Kesemuanya ini terpuji dan bisa diterima, selama tidak mengandung unsur kezhaliman atau penyerobotan. 

Sesudah berpenghasilan tentunya membelanjakan. Di sinilah letak peranan kedua dari pertanyaan ketiga: (... ke mana ia belanjakan...). Sebab konsisten lewat pintu halal dalam mencari rezki, diwajibkan pula konsisten di saat membelanjakan secara halal. Sebagaimana dianjurkan dermawan kepada orang-orang fakir, miskin, fi sabiilillah, kaum proletar, dan sebagainya dalam rangka mencari kebajikan dan rahmat Allah Ta'ala. 

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah suatu hari memerlukan banyak harta untuk berjuang dan sebagai kas dakwah Islam. Sementara Abu Bakar dan Umar menyertai beliau. Keduanya pun akhirnya meminta ijin mengambil harta di rumah masing- masing. Kemudian kembalilah Umar dan menyerahkan kepada Nabi saw beberapa dinar. Nabi lantas bertanya: Apa ini wahai Umar? Umar menjawab: Itulah separoh hartaku. Maka Nabi pun memburu bertanya: Lantas apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu? Saya tinggalkan separohnya yang lain untuk mereka, jawab Umar. Nabi pun berdoa kebaikan untuknya. Lantas datanglah Abu Bakar ra. dan menyerahkan beberapa dinar miliknya kepada Nabi saw. Maka Nabi saw bertanya: Apa ini wahai Abu Bakar? Itulah semua hartaku, Jawab Abu Bakar. Nabi saw memburu bertanya: "Lantas apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?" Abu Bakar menjawab: "Saya tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul- Nya." Nabi saw lantas tersenyum dan kedua matanya mencucurkan air mata seraya berdoa kebaikan bagi sahabat terdekatnya. 

Wahai pemuda pemudi Islam ... 

"(Untuk mengejar surga), hendaklah mereka saling berlomba-lomba." (QS. al-Mutaffifin: 26) 

Adapun membelanjakan untuk pribadi dan keluarga, hendaklah sesuai prinsip ayat ini: 

"Dan orang-orang yang jika membelanjakan, mereka tidak berlebih-lebihan juga tidak terlalu kikir, namun bersikap pertengahan di antara keduanya." (QS. al-Furqan: 67) 

Dermawan dengan tidak berlebihan, dan hemat dengan tidak berlaku kikir. Sebab Nabi saw juga telah berpesan kepada kita dalam hadis lain:

 إِنَّ اﷲَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يُرَى أثْرُنِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ٠ 

"Sesungguhnya Allah merasa senang jika nikmat-Nya atas hamba-Nya diperlihatkan." 

Selanjutnya tibalah giliran soal keempat sebelum kaki seorang hamba beranjak dari empat pertanyaan di hari kiamat, yaitu: tentang ilmunya. Untuk apa ia amalkan? Adakah untuk merampas orang? Adakah ia justru menyembunyikan? 

Adakah ia menginjak-injak prinsip-prinsip ilmunya sendiri? Ataukah ia dengan ilmunya memperolok-olok orang bodoh dan mendemonstrasikan perdebatan agar ia populer dengan sebutan orang alim? 

Kalian sekarang di bangku sekolah dan kuliah. Dalam iklim keilmuan dan kampus yang suci, maka antusiaslah mencari ilmu demi tujuan mulia dan maksud luhur. Juga demi kebaikan, ketinggian, dan istiqamah pribadimu. Dan demi kemajuan dan pembangunan peradaban umatmu. 

Terakhir wahai pemuda pemudi ... Siapakah yang bertanya keempat pertanyaan pokok ini? Siapakah yang menghitung? Ketahuilah, yang bertanya adalah Sang Tuan dari segala tuan, Dzat Yang Maha Besar kebesaran-Nya, Maha Perkasa kekuasaan-Nya, Maha Suci nama-nama dan sifat-sifat-Nya, Yang Maha Pemberi dan Maha Pengkarunia! Adalah hak-Nya untuk bertanya, dan kewajiban kita untuk menjawab. Maka hitunglah diri kalian sebelum dihitung. Bertanyalah berkali-kali pada diri sendiri, sebelum ditanya! 

Berjalanlah di atas jalan yang lurus dalam kehidupan dunia sebelum kaki tergelincir di akhirat dan terjatuh di neraka. Semoga Allah melindungi saya dan kalian daripadanya dan menyelamatkan daripadanya. Sesungguhnya Ia sebaik-baik tuan dan penolong.
loading...

Wednesday, April 17, 2013

no image

Mendengar dan Taat

Wahai generasi masa depan dan sentral kemajuan bangsa, bersumpah setia untuk mendengar dan taat artinya: 

Dengarkan ucapan kebenaran dari Kitabullah. Semua isinya adalah kebenaran 

Engkau dengarkan hadis nabimu Dengarkan (dengan bukti nyata) anggota badanmu. Bukan sekedar mendengar dengan telinga. Sebab telinga hanyalah media. Kalian saring dengan pikiran, hati, dan mental. Lantas kalian taati. 

Saya tidak menginginkan dari kalian ketaatan membabi buta, tapi ketaatan karena kesadaran. Kalian tahu kebaikan dan keburukan, kalian bedakan antara kebenaran dan kebatilan, dan hal-hal yang memberi manfaat dari hal-hal yang memberi mara- bahaya. 

Hendaklah kalian taati nasihat kedua orang tua, pendidik, aturan-aturan umum selama tidak memberi efek buruk kepada kalian, masyarakat, agama, dan syari'ah Islam ini.
loading...
no image

Perhatian Islam pada Potensi Alam dan Reboisasi

Dari Jabir ra. mengatakan: Bersabda Nabi saw:

 لاَيَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا ٬ وَلاَ يَزْرَعُ زَرْعًا ٬ فَيَأْكُلُ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلاَ دَابَّةٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَ كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ٠ 

"Tidaklah seseorang muslim menanam tanaman atau pepohonan lantas dimakan orang atau binatang atau siapapun, terkecuali kesemuanya terhitung sedekah bagi si penanam."(HR. Muslim) 

Tanamlah! Jangan kau tebang! Saya saksikan di banyak negara dunia masih banyak sekali hutan-hutan dan kebun- kebun. Di samping pohon adalah harta kekayaan dan keindahan. 

Juga banyak negara di dunia ini, menyelenggarakan upacara kenegaraan, dengan istilah: Hari Pohon Sedunia. 

Itu semua, wahai pemuda pemudi merupakan gebrakan baru di alam modern yang puluhan tahun lalu belum lahir di alam madani "peradaban". 

Rasul agung kita saw semenjak empat belas abad yang lampau telah memberi instruksi kepada kita, tertuang dalam surat wasiat agung ini, untuk "menanam" ... ekstensifikasi pepohonan (tasyjiir) ... penghijauan bumi (tahdhiir) ... penyuburan kehidupan (ba'tsul hayaat) di gunung-gunung dan bukit-bukit. 

Pemuda pemudi ... sesekali terkadang kita bersama keluarga mengunjungi Kebun Raya, atau taman rekreasi. Arena wisata yang penuh kilauan daya tarik. Aroma wewangian menerpa ke sana ke mari, serta pohon tinggi menjulang ... menyejukkan iklim. Karenanya, sekian di antara loyalitas kita dengan wasiat Nabi kita saw, adalah menjaga potensi alam tersebut. Juga kita pergunakan "nilai investasi"nya, tanpa harus menelantarkan atau bahkan merusaknya. Juga ... taman-taman kota beserta jalan-jalan, juga isinya yang berupa kebun-kebun dan pohon-pohon, di tengah dan di sampingnya. Menambah keindahan dan kecemerlangan, kebanggaan, dan daya tarik. Kesemuanya adalah salah satu lambang kemajuan dan peradaban sebuah bangsa. 

Maka, menjaga dan melestarikannya, merupakan kewajiban duniawi dan ukhrawi dalam konsep dien kita, kaum muslimin. Persoalannya sekarang tidaklah berhenti sebatas "reboisasi" dalam diametral ke-indahan dan hiasan-hiasan. Tapi bagaimana bisa mendayagunakannya agar memberi kontribusi optimal. Artinya, bagaimana bibit tanaman punya potensi menghasilkan buah (Imkaaniyah itsmaar). 

Juga kita pikirkan, bagaimana kontribusi ini tidak sebatas dinikmati manusia semata, bahkan kalau bisa sebagai supplay produksi untuk konsumen semua hewan di muka bumi yang diciptakan Allah Ta'ala. Sebagai perluasan jaringan gerakan sosial serta sasaran-sasarannya. 

Bahkan dalam lain hadis, Rasulullah saw sempat berwasiat bahwasanya barang- siapa sudah di atas ranjang kematian dan ada padanya bibit pohon kurma, padahal ia masih bisa menanam, hendaklah ia tanam.
loading...

Tuesday, April 16, 2013

no image

Orang yang Tidak punya Pendirian

لاَتَكُوْنُوْا إِمَّعَةٌ ، تَقُوْلُوْنَ ׃ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا ، وَ إِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَ إِنْ أَسَآءُ واأَنْ لاَتَظْلِمُوا ٠ وَفِي رِوَايَةِ ׃ إِنْ أَسَآءُ واأَنْ تَجْتَنِبُوا إِسَائَتَهُمْ٠ 

 "Janganlah kalian menjadi kelompok oportunis. Kalian punya pendirian; jika bangsa dan masyarakat baik, kami ikut baik. Tapi jika mereka berbuat aniaya, kami pun berbuat serupa ...Akan tetapi, milikilah kalian prinsip; apabila bangsa dan masyarakat baik, engkau juga berbuat kebaikan. Namun jika mereka berbuat aniaya, jangan sekali-kali kalian berbuat serupa." Dalam riwayat lain disebutkan: Jika mereka rusak (kotor), jauhilah olehmu sekalian keburukannya." (HR. Turmudzi). 

Dan beliau menghasankannya. Ustadz kita, Muhammad Al-Ghazali mengatakan: 

Oportunis, menurut etimologi Arab, adalah Imma'ah. Adapun definisi terminologinya adalah: Orang yang tak punya pendirian. Ia hanya mengikuti prinsip dan pendirian orang yang berpengaruh. Sehingga ia selalu berpendirian: Saya akan ikut-ikutan saja (kelompok) yang menguntungkan. Entah mereka baik, atau buruk. Kelompok Imma'ah ini, biasanya mengail di air keruh, tidak mempedulikan nasib bangsa. Orang lemah ialah: 

Orang yang dieksploitasi oleh dominasi adat, amalan- amalannya terdominasi oleh tradisi-tradisi yang menguasai. Sekalipun arah tradisi tersebut memakan korban kerugian-kerugian dunia maupun akhirat. 

Sekarang ini telah terjadi secara besar-besaran dalam masyarakat kita pada perayaan-perayaan kegembiraan atau kesedihan bid'ah (ajaran baru) yang beraneka ragam bentuknya. Sementara masyarakatnya, justru memegang teguh bid'ah ini melebihi keteguhan mereka terhadap prinsip- prinsip religius. 

Akan tetapi seorang mukmin sejati ia tak akan rela, ajaran dari selain Dienullah sebagai pedoman (sanad). Dia dengan keberanian dan kegigihannya menantang tradisi dan adat tentu akan menjumpai tribulasi. Lebih-lebih ia menyadari dengan sepenuh kesadaran, untuk tidak takut terhadap celaan para pelakunya. Ia akan tetap gigih berjuang hingga: finishing goal (tujuan akhir). Ia tak akan mundur karena kritikan pedas atau sesumbar lawan. 

Berapa banyak kebatilan yang "laris" sewaktu-waktu, lantas ia dikalahkan oleh segelintir orang-orang yang teguh, lantas melengserkan kedudukannya. Kebatilan,tidaklah eksis sepanjang zaman sekalipun ditopang mayoritas kelompok. 

Betapa banyak musuh bebuyutan pembela kebatilan hari ini, ia akan kompromi dengan sendirinya. Dan lusa, ia bahkan menjadi pembela mantan musuhnya. Setuju dengan prinsip yang kita bawa. Ia menjadi sponsor, setelah sebelumnya terjadi sengketa. 

Dari Ibnu Abbas ra. mengatakan: Bersabda Rasulullah saw:

 مَنْ أَسْخَطَ اﷲَ فِي رِضَى النَّاسِ سَخَطَ اﷲُ عَلَيْهِ ، وَ أَسْخَطَ عَلَيْهِ مَنْ أَرْضَاهُ فِي سُخْطِهِ ، وَمَنْ أَرْضَى اﷲَ فِي سُخْطِ النَّاس رَضِيَ اﷲُ عَنْهُ ، وَ أَرْضَى عَنْهُ مَنْ أَسْخَطَهُ فِي رِضَاهُ ، حَتَّى يُزِيَنَهُ وَ يُزِيَنَ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ فِي عَيْنَيْهِ٠ 

"Barang siapa menjadikan Allah murka karena mencari ridha manusia, maka Allah murka kepadanya, dan orang yang ia cari ridhanya akan dijadikan murka kepadanya dalam kemurkaan-Nya. Dan barang siapa mencari ridha Allah, sekalipun terkena murka manusia, Allah akan meridhainya, dan orang yang murka kepadanya akan dijadikan ridha kepadanya dalam ridha-Nya, hingga Allah senantiasa akan membaguskannya dan membaguskan ucapan dan amalannya, dalam penglihatan-Nya." (HR. At-Tabrani). 

Maka hendaklah seorang muslim tetap tegar dengan keyakinannya. Hendaklah ia anggap no problem atas segala cemoohan, sindiran, dan gelar-gelar buruk yang menimpanya, saat ia dianggap orang sinting dan nyleneh menurut opini orang-orang bodoh. Canangkan sebuah pedoman, tanamkan sebuah ketegasan prinsip, dalam rangka menuai ganjaran Allah Azza Wa Jalla. 

Apabila prinsip yang mengandung keragu-raguan pun bisa menarik dengan cara memperolok-olok dan mengejek, apalagi kita yang memegang prinsip Islam, harus diperjuangkan dengan gigih dan militan bagi pemeluk-pemeluknya:

 "Apabila mereka (orang-orang kafir) melihatmu (Muhammad), tidaklah mereka menjadikanmu, terkecuali bahan ejekan. Mereka ka-takan; Inikah orang yang Allah utus sebagai seorang Rasul. Nyaris dia (Muhammad) menyesatkan kami dari tuhan-tuhan kami, seandainya kami tidak sabar. Niscaya (orang- orang kafir) tersebut akan tahu tatkala mereka merasakan siksa, siapakah orang yang lebih sesat jalannya." (QS, al-Furqan: 41, 42.) Wahai pemuda pemudi Islam ... 

Wajib bagi seorang muslim menampakkan kekuatan dalam pribadinya, merasakan kelezatan iman dalam mentalnya. Jika tak mungkin, jadilah seperti gunung menjulang, tak digenangi banjir yang mengitari, tak hanyut, dan tidak pula tergulung badai. 

Harapan apalagi yang diidam-idamkan musuh terhadap seseorang yang bangga dengan keimanannya, dan merasakan kenikmatan interaksi dengan Rabb-Nya, serta istiqamah dalam dien-Nya ...?! Sekalipun toh mereka mengerubungi serentak, niscaya mereka kembali dengan tangan hampa!
loading...
no image

Hukuman Orang Bunuh Diri dalam Islam

Bunuh diri adalah sebuah perbuatan munkar yang dilarang. Berikut ini adalah beberapa hadits dan firman Allah yang menerangkan tentang kecaman bagi orang yang melakukan bunuh diri dan pembunuhan atau membunuh jiwa atau nyawa seseorang.

 مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَّتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيْهَا ٬ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا ٬ وَ مَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَّتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ٬ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا ٬ وَ مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيْدَةٍ فَحَدِيْدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا٠ 

"Barang siapa menjatuhkan diri dari gunung, lantas ia tewas karenanya, maka di neraka Jahannam, ia akan menjatuhkan diri semacam itu selama-lamanya. Dan barang siapa menenggak racun lantas mati karenanya, maka di neraka Jahannam ia akan menenggak racun dengan tangannya selama-lamanya. Dan barang siapa bunuh diri dengan sebilah pisau, maka di neraka Jahannam ia akan menikam-nikam perutnya sendiri selama-lamanya." (HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi dan Nasa'i) 

Semua kesaksian Nabi di atas berkomentar tentang bunuh diri. Juga menyertakan hukuman yang akan diterima sang terpidana di akhirat nanti. Ia menerima sangsi tak terbatas, merasakan siksaan berantai dalam tempo yang tak berpenghujung. 

Di mana? ... Di belantara Jahannam ... Pertama, menjatuh diri di lembah Jahannam, dalam bubuk apinya yang berkobar menyala, berbolak-balik dalam kerak apinya, agar siksa bertambah, di atas tumpukan tambahan siksaan. Yang kedua, di tangannya menggenggam racun. Merasakan panas, dan sakit, sampai relung-relung tubuhnya, sembari ditusuk-tusuk racun yang mem-binasakan. Sementara api membakarnya dari luar. Setiap daging terpisah dari tulang dan tulang terpisah dari daging, ia dipakaikan daging dan tulang baru, agar berulang kali merasakan serangan-serangan siksa. Yang ketiga, di tangannya menggenggam sebilah pisau. Menikam-nikam ulu hatinya. Setiap kali tikaman, nyawanya memberontak ke sana kemari. Sementara ia terpenjara oleh amuk panas dan semburan api, seolah kepala-kepala setan. 

Pemuda pemudi yang kucintai, seringkah kudengar berita-berita ironis, bunuh diri. Ada yang karena gagal seleksi UMPTN atau Ujian sekolah, bunuh diri. Atau pengusaha muda yang bangkrut lantas ia mengakhiri hidupnya. Atau karena putus cinta, lalu ia membakar diri, meminum racun, atau melompat dari gedung bertingkat. 

Berita-berita ironis ini, tidaklah cuma menimpa pemuda laki-laki namun juga menimpa kaum hawa. 

Jika saya teliti, ternyata motifnya mayoritas karena keputusasaan! Keputusasaan dari sembuh, keputusasaan dari sukses, dan keputusasaan menghadapi nasib. 

Keputusasaan, tiada tempat dalam hati seorang mukmin! Juga dalam perasaannya! 

"Tidaklah putus asa dari rahmat Allah, terkecuali orang-orang kafir." (QS. Yusuf: 87) 

Dan tiada dosa lebih berat, sesudah ke- kufuran! Allah juga berpesan:

"Jangan engkau bunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali karena alasan yang dibenarkan." (QS. al-An'am: 151) 

Allah telah mengharamkan pembunuhan jiwa. Sembarang jiwa! ... Maka bagaimana lagi sekiranya korban pembunuhan ini adalah jiwa yang telah Allah anugerahkan kepadamu, dan faktor penyebab hidupmu dan eksistensimu! 

Wahai orang yang putus asa ... sekarang engkau telah berlumuran dosa. Engkau sekarang terpidana, terkena sanksi abadi di neraka. Sanksi yang belum pernah terlihat di dunia. 

Semoga Allah wahai pemuda pemudi bangsa menghindarkan kita dari golongan orang-orang yang putus asa, yang terlegitimasi sebagai orang kafir!
loading...
no image

Bersudara dan Bekerjasama dalam Islam

Dari Abdillah bin 'Umar ra. bahwasanya Nabi saw bersabda:
 
 الْمُسْلِمُ أَخُوْا الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ ׃ مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اﷲَ فِيْ حَاجَتِهِ ٬ وَ مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اﷲُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَب يَوْمَ الْقِيَامَةِ٬ وَ مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اﷲَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ٠ 

"Seorang muslim, adalah saudara bagi muslim lainnya. Terlarang ia menganiaya, menyerahkan kepada orang yang menzhaliminya. Ba-rang siapa menolong hajat saudaranya, maka Allah akan memudahkan hajatnya. Dan barang siapa mencarikan solusi kesulitan seormg muslim, maka Allah akan mencarikan solusi kesulitannya di hari kiamat. Dan barang siapa menutupi cela seorang muslim, maka Allah juga akan menutupi celanya di hari kiamat." (HR. Abu Daud dan Turmudzi) 

Anak-anakku tercinta. Dalam lingkungan sekolahmu, tempat tinggalmu, perumahanmu, atau dalam lingkungan sosial masyarakatmu, pasti kondisi dan interaksi sosial memaksamu untuk komunikatif dengan sesama. Entah dengan kawan sebaya, atau orang yang berbeda umur namun sama dalam keperluan dan kebutuhan. Kerja sama dan komunikasi ini, adalah perintah dari Rabb Albari Azza wa Jalla. Dalam bentuk dan mekanisme yang amat luhur dan suci. Yang demikian akan menambah rasa kebersamaan, integritas, dan kekuatan. 

Allah berfirman: 

"Beker]asamalah kalian dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah kalian bekerja sama dalam hal dosa dan persengketaan." (QS. al- Maidah: 2) 

Kemudian datanglah nasihat hadis, mengklarifikasi sebagian contoh gotong- royong dalam hal kebajikan dan taqwa. Hadis Nabi berwasiat: Seorang muslim, adalah saudara bagi muslim yang lain. Karenanya ukhuwah (persaudaraan), adalah dasar fundamental bangunan gotong- royong. Ia merupakan pondasi bangunan secara keseluruhan. 

Ukhuwah yang dimaksud, adalah ukhuwah 'aqidah (prinsip), bukan ukhuwah karena didorong fanatisme golongan, kesukuan, dan pertalian darah! Inilah yang perlu dijadikan perhatian dan tolok ukur! 

"Katakan (wahai Muhammad); jika ayah- ayah kalian, anak-anak kalian, saudara- saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga- keluarga kalian, harta yang kalian takutkan kemiskinannya, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal- tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasid-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggidah hingga Allah mendatangkan siksa. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. At-Taubah: 24.) 

Nabi saw lantas melukiskan formulasi ukhuwah pertama dengan pernyataan beliau:

 لاَيَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ 

"Tidak menzhalimi dan tidak menyerahkannya." 

Maksud menzhalimi: bertindak sewenang-wenang atau melanggar haknya. Dan maksud menyerahkan ialah: menyerahkan kepada orang yang menganiaya atau musuhnya. Serta tidak mengisolirnya, atau mengabaikan penjagaan dan pengawalannya dari orang-orang yang menganiayanya, dan yang semisal. 

Kemudian hadis selanjutnya mengukuhkan makna ukhuwah dengan taraahum (sayang-menyayangi), memberi investasi pertolongan, memenuhi undangannya, serta menghilangkan kesusahannya, dan lain-lain. 

Kalian, wahai pemuda pemudi, dengan sebatas kapabilitas dan kredibilitasmu, juga sebatas potensi fisik, mental dan pemikiranmu, wajib berbarengan bersama saudara-saudaramu membangun menara kemuliaan umat Islam ini. Sumbangkan untuk dunia, teladan tertinggi dalam menghujamkan pondamen-pondamen bangunan sosial yang berperadaban (madani). 

Akhirilah pola hidup bersengketa dan konfrontasi dengan sesama. Jauhi egoisme, arogan, dan serakah. 

Matangkan diri kalian menyongsong perubahan. Seriuslah mengentaskan pola hidup orang-orang bodoh dan lalai. Sambutlah dengan hati terbuka, pikiran jernih dan akal sehat bersendikan kitab mulia Rabbmu, serta Sunnah agung nabimu. Di sanalah tersimpan telaga kebahagiaan dan keselamatan.
loading...

Monday, April 15, 2013

no image

Nasihat tentang Tanggung Jawab

Hukum-hukum Allah ialah larangan-larangan-Nya yang tidak boleh dilanggar. Manusia dalam hidupnya, pasti berada di antara dua perintah. Perintah mengerjakan, dan perintah meninggalkan. Kedua-duanya sama-sama menjaga dan membentengi seseorang dari akibat buruk. Sehingga siapapun yang nekat menuruti keinginan nafsunya, menulikan kedua telinganya, dan tidak mau melaksanakan perintah, lantas ia berlarut- larut melanggar larangan, berarti ia telah menganiaya diri dan juga masyarakatnya.

Demikian pula tanggung jawab juga terbagi dua: Pertama, tanggung jawab pribadi, kedua, tanggung jawab sosial. 

Tanggung jawab pribadi harus lebih memberi kontribusi kepada tanggung jawab sosial. Sebab seseorang di dalam bumi ini bukan sendirian, namun ia hanyalah salah satu elemen dari sebuah masyarakat besar. 

Misalnya engkau wahai pemuda- pemudi adalah individu dalam keluarga. Dan keluargamu, tentu merupakan kesatuan sosial. Tentu engkau tak mungkin bisa mengisolir diri dari mereka dan berkelit dengan slogan kebebasan. 

Artinya nasihat rasulmu di dalam menggambarkan kebebasan yang bertanggung jawab ini, merupakan nasihat paling hebat dan paling istimewa yang dimengerti manusia sepanjang generasi dan sejarah. 

Nasihat ini, jika engkau pahami makna substansial dan sasarannya pada usiamu yang relatif masih muda, lantas engkau pegang secara konsekuen dalam semua marhalah (fase) hidupmu, niscaya engkau menjadi pribadi yang baik dan dalam lingkungan yang kondusif. 

Sekarang saya terangkan nasihat luhur dan hadis mulia ini: Ada serombongan orang ingin berpetualang di lautan. Maka naiklah mereka ke badan perahu. Sayang, mereka cukup banyak. Tempatpun mereka bagi. Tempat tidur maupun tempat berjaga (ronda). Karena banyak, sebagian mendapatkan lantai atas, sebagian lain otomatis di lantai bawahnya. 

Penumpang lantai bawah, apabila memerlukan air untuk aneka keperluannya, terpaksa harus naik ke lantai atas untuk menimba air. Air mereka bawa dalam bejana yang tak mungkin stabil tak bergoncang. Sehingga air merembes ke kanan kiri sehingga mengganggu penumpang atas. Entah mengenai peralatan atau perkakas milik mereka. 

Sehingga muncullah umpatan, hardikan, dan rasa keberata n dari para penum-pang lantai atas (sikap semacam ini, keliru tentunya). Dari sini timbul inisiatif dari sekelompok orang: "Bagaimana kalau kita lubangi saja badan kapal ini, sehingga kita bisa menimba air tanpa mengganggu penumpang yang ada di atas" (opini ini pun tak bisa dibenarkan). 

Kesalahan penumpang atas timbul karena didorong rasa keberatan (kejengkelan) . Dan kesalahan penumpang lantai bawah didorong motif yang baik. Namun kedua- duanya, bukanlah solusi atas problema yang dihadapinya. Seandainya penumpang atas membiarkan penumpang bawah berbuat sekehen-daknya, niscaya semua binasa. Namun jika penumpang-penumpang itu bijaksana, dari kedua kelompok mencegah tindakan konyol orang-orang ngawur ini, niscaya semua akan selamat. 

Sesungguhnya kebebasan pribadimu wahai pemuda pemudi terbatasi oleh kebebasan sosial. Tidaklah kebebasan individu melainkan dalam batasan-batasan normal yang amat terbatas. 

Semoga Allah menjagamu dari brutalisme, anarkhisme, dan penyesalan.
loading...
no image

Reformasi dalam Islam

Dari Abu Said Al-Khudri ra. mengatakan: Saya mendengar Rasulullah bersabda:

 مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ٬ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ٬ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ٬ وَذَالِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ٠ 

"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman." (HR. Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Nasa'i) 

Allah berfirman dalam kitab-Nya: 

"Tampillah, segolongan di antara kalian sosok umat yang selalu mengajak kebaikan, menyuruh yang ma'ruf, dan merintangi kemung-karan. Mereka itulah golongan orang-orang sukses." (QS. Ali Imran: 104) 

Pemuda pemudi yang saya cintai ... Bangsa kita tengah didera berbagai kemungkaran dan chaos yang multi kompleks. 

Apabila sebuah bangsa sejengkal saja terlambat menunaikan tugas fungsional yang diemban amar ma'ruf dan nahi munkar (merintangi kemungkaran), serta acuh mengajak kebaikan, pasti kepincangan akan merajalela dan ketidakpastian mendera. 

Mereka yang terpola hidup eksklusif di kandang sendiri, pasti akan terbelakang dalam semua sisi kehidupan. Ia pasti segera ditinggalkan bangsa lain dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban (civilization). 

Karenanya tidaklah mengherankan jika Allah menginformasikan kepada kita, apabila kita intensif menegakkan gerakan amar ma'rufnahi munkar, niscaya kita akan menjadi golongan orang-orang berhasil di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika kita mengabaikan prinsip ini, akibatpun akan menyertai. 

Wahai pemuda pemudi; Nabi mulia kita berkata: 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ٠٠٠ 

"Barangsiapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia ubah dengan tangannya." 

Engkau dalam masyarakat kecilmu, dan di antara kawan sejawatmu, memikul bagian dari reformasi total dalam merubah kemungkaran. Dengan dakwah dan dialog kepada yang ma'ruf, dan bukan semata dengan orasi verbal. Namun juga dengan keteladanan, aktivitas konkret, dan gerakan membangun. 

Dalam lingkungan kampus, interaksi sosial dan komunitas keluarga. Dalam lingkungan kampus, yang rekanan baru berganti-ganti bersua, mungkin ada di antaranya membawa pemikiran buruk, mental jahat, pola kehidupan menyimpang, atau perilaku sosial yang cenderung destruktif. 

Saya tidak mengatakan kepada kalian: Jauhilah atau singkirilah. Namun, saya katakan: "Bawalah menuju transformasi (perubahan)." Dengan demikian kalian mendapat dua keuntungan sekaligus. Pertama, selamatnya kawan dari jebakan kerusakan lewat tanganmu. Kedua, ganjaran di sisi Allah atas kerjamu. 

Dalam interaksi sosial, kadang di antaranya menyeretmu kepada penyelewengan, kerusakan dan kesesatan. Dan kalian dengan potensi keimanan dan kesadaran- mu, kalian bisa menyelamatkannya, juga pribadi kalian sendiri. 

Juga dalam komunitas keluarga, dengan sekental-kental kerabat dekat, ayah atau ibu, atau dengan keluarga jauh, jangan kalian membiarkan kemungkaran, lantaran faktor usia, lebih tua misalnya atau alasan lain, sensivitas kekerabatan atau mempertahankan keuntungan materi. Bagaimanapun, ke-benaran adalah paling pantas diikuti, dan jalan Allah paling layak diaplikasikan. 

Apabila kalian tak mampu lagi merubah kemungkaran di tengah-tengah masyarakat dengan tangan, minimal kalian mempertahankan amar ma'ruf dengan lisan, orasi. Namun ingat, hindari ucapan ekstrem, kata- kata menyakitkan, dan sebagainya. Sebab yang demikian hanyalah mendulang kebalikan dari yang kalian inginkan. Bahkan menyulut debat kusir atau sikap antipati dalam hati. Bahkan persoalan akan meluas pada persoalan-persoalan lain yang tak terpuji akibatnya. 

Tetapi jika kalian temukan telinga tuli dan hati yang enggan menerima ajakan baik ... isolirlah dan ingkarilah dengan hati. Dan yang demikian adalah selemah-lemah iman. 

Ya Allah, semoga Engkau tetap menerima dari hamba-hamba-Mu dan juru dakwah-juru dakwah-Mu, iman yang lemah lagi goncang ini. Dan tetap pada diri sahabat ridhwanullahu 'alaihim angkatan pemula, suri teladan dan panutan yang b:iik lagi terpuji. 

Anak-anakku tercinta, Saya mohon kepada Allah, semoga Ia meneguhkan langkahmu di atas jalan kebenaran. Dan semoga kalian termasuk di antara golongan orang-orang yang mempercayai Allah, menyuruh yang ma'ruf, dan mencegah kemungkaran. Dan semoga Ia menambah petunjuk-Nya.
loading...
no image

Syarat Mendapatkan Kasih Sayang Allah

Syarat Menggapai Kasih Sayang Rabbul 'Alamin Dari Jarir bin Abdillah ra. mengatakan: 

Bersabda Rasulullah saw:

 مَنْ لاَيَرْحَمِ النَّاسَ لاَيَرْحَمُهُ اللَّهُ٠ 

"Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah pun tidak akan menyayanginya." (HR. Bukhari, Muslim, at-Turmudzi, dan Ahmad)

 لَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تُرَاحِمُوا ٠٠٠ 

"Sekali-kali kalian tidak beriman, hingga kalian saling sayang-menyayangi." 

Maka berkomentarlah para sahabat: "Wahai Rasulullah, kami semua masing-masing adalah penyayang! 

“Maka Nabi saw menempali:

 إِنَّهُ لَيْسَ بِرَحْمَةِ أَحَدِكُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَلكِنَّهَا رَحْمَةُ الْعَامَّةِ ٠ 

"Yang saya maksud bukanlah kasih sayang di antaramu terhadap salah seorang kawannya. Namun kasih sayang untuk semua." 

 Artinya, kasih sayang dan iman, adalah dua saudara sekandung yang tak bisa dipisah-pisahkan. Namun kasih sayang (rahmat) semacam apa? Apakah rahmat semacam kelembutan seorang ibu kepada anaknya, ataukah seorang ayah kepada putranya, ataukah seorang majikan kepada buruhnya, ataukah kerabat kepada saudara kandungnya? 

Itu semua, wahai pemuda pemudi hanyalah A dan B rahmah. Dalam batas dan makna yang teramat sempit, yang nantinya justru mempersempit keluasan cakupan dan kandungannya. 

Kasih sayang antar sesama manusia, adalah sebab turunnya rahmah ilahiah dari atas tujuh langit untuk semua makhluk-Nya. Jikalau sebuah bangsa satu kecintaan, kasih sayang, dan kerja sama, seketika itu pula bangsa akan kuat dan teguh seperti bangunan yang kuat. 

Rahmah yang turun ke dunia ini, barulah 1/100 rahmah ilahiah. Dengan satu rahmah tersebut, seluruh makhluk berkasih sayang, baik manusia maupun binatang yang merayap di muka bumi, atau burung yang melayang-layang di udara. 

Manusia, di kala menemui sahabat kenalannya, berseri-seri wajahnya. Juga menaruh simpati terhadap keluarga, anak, atau sahabat simpatisannya dari rekan seprofesi atau sehobi. 

Ini wajar dalam kehidupan manusia. Akan tetapi seorang mukmin, diharuskan agar "lingkaran kasih sayang" ini lebih luas dan lebar, untuk setiap cucu anak keturunan manusia. Menampakkan kecintaan dan rahmah-Nya bagi seluruh manusia yang ia temui, kenal atau tidak. Ada atau tidak ada pertalian keluarga. 

Dengan kasih sayang inilah Islam dikenal menjunjung tinggi hak pribadi dan sosial, memiliki keistimewaan spektakuler yang tak dimiliki bangsa lain, sehingga terangkat harkat dan martabatnya dan terciptalah pada agama dan pemeluknya, signifikan ayat mulia: 

"Agar kalian menjadi saksi nyata, untuk semua orang." 

Diriwayatkan dari Rasulullah saw:

 َاِنَّ اﷲَ تَعَالَى خَلَقَ ، يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ، مِائَةَ رَحْمَةٍ ، كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقُ مَابَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَجَعَلَ مِنْهَا فِي الأَرْضِ رَحْمَةً وَاحِدَةً، فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَى وَكَدِهَا، وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ٠ 

"Sesungguhnya di kala Allah mencintakan langit dan bumi, la ciptakan seratus rahmat. Setiap rahmat, keluasannya memenuhi an-tara langit dan bumi. Lantas Ia menaruh di bumi, satu rahmat saja. Dengannya ibu mengasihi anaknya, dan dengannya pula semua binatang dan burung, mengasihi satu sama lainnya." (HR. Muslim) 

Islam amat serius mewasiati kepada orang-orang pemilik kekerabatan, agar melipatgandakan rahmat dan ri'ayah (asuhan), dan jangan lenyap dari pikiranmu, bahwasanya rahim (kekerabatan), adalah asal kata (musytaq) dari rahmah (kasih sayang) dan ini signifikan dengan maknanya. Bersabda Rasulullah saw:

 الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ اﷲُ تَعَالَى٠ اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ٠ الرَّاحِمُ شَجْنَةِ مِنَ الرَّحْمَنِ٬ مَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اﷲُ٬ وَ مَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اﷲُ٠ 

"Orang-orang penyayang, Allah Ta'ala akan menyayanginya. Sayangilah manusia di muka bumi niscaya Dzat Yang di langit (Arrahman) akan menyayangimu. Kekerabatan adalah anyaman dari Arrahmaan. 

Siapa menyambungnya, Allah akan menyambungnya. Dan siapa memutus, Allah akan memutus dia." (HR. Turmudzi) 

Dan manusia yang paling pantas engkau sayangi, engkau sikapi dengan kebaikan adalah kedua orangtua kalian. Allah berfirman: 

"Dan rendahkanlah sayapmu kepada keduanya dengan rasa kasih sayang. Dan doakanlah: Ya Rabbi, sayangilah keduanya, sebagai-mana keduanya telah mendidikku di masa kecil." (QS. Al-Isra' 24) 

Di halaman selanjutnya Insya Allah, kalian temukan hadis Rasulullah saw dan nasihatnya, agar menumpahkan kasih sayang kepada anak yatim. Juga kalian lihat keistimewaan macam apa yang dapat menjamin anak-anak yatim. Dari Abi Hurairah diriwayatkan: 

Seseorang melapor Nabi saw, perihal kekerasan hatinya. Maka Nabi pun berpesan: Usaplah kepala si yatim, dan berilah hidangan kepada si miskin. (HR. Ahmad) 

Kepada si sakit, si lemah, sang peminta dan semisalnya, juga pejuang kebenaran, hendaknya seorang mukmin menebarkan rahmah dan santunan. 

Maka, lembutkan bicara, santunkan gerak, niscaya Allah akan, menganugerahkan pahala kepadamu.
loading...

Sunday, April 14, 2013

no image

Hadits Nabi Menutup Aurat bagi Muslimah

Dari Aisyah ra. diriwayatkan: Bahwasanya Asma' binti Abi Bakar menemui Rasulullah saw, sementara ia berpakaian pendek. Maka berpalinglah Rasulullah saw seraya berkomentar:

 يَاأَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيْضُ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَ هَذَا٬ وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَ كَفَّيْهِ٠ 

"Wahai Asma', sesungguhnya wanita, apabila telah baligh, tidak pantas terlihat kecuali ini dan ini (beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya)." (HR. Abu Daud) 

Hari ibu adalah bid'ah modern. Sekalipun ini terdapat aneka ragam komentar dan segala aspeknya, negatif maupun positif. Yang jelas, Hari Ibu adalah menebarkan fitnah lewat kata-kata manis dan ungkapan- ungkapan "luhur." 

Adapun Mode, yang biasanya menobatkan "Sang finalis" dan mahkota, dan menampilkan gambar-gambarnya, adalah tunduk pada ukuran khusus yang sebagian besar cenderung materialistis. 

Dan kita, tak akan mengembangkan ini semua. Jadikanlah iman dengan segala pancarannya sebagai mahkota tertinggi. 

Adapun keterkaitan hadis nabawi dan pengantar saya di atas —wahai pemuda- pemudi— dengan obyek pembicaraan kita, adalah keterkaitannya dengan pribadi Asma' binti Abu Bakar ra. Sosok Sahabiyah agung, yang semenjak kecil hingga akhir masa tuanya tersohor sebagai pemudi dan ibu teladan, dengan segala nasihatnya yang amat berharga dan konsekuensinya dengan doktrin Rabbani baik pada pribadinya maupun keluarganya. 

Sekian di antara nasihat teragung, yang sarat nasehat keibuan adalah pesan beliau kepada putranya, Abdullah bin Zubair. Panglima penanggung jawab saat dikepung tentara Abdul Malik bin Marwan di bawah komandan Alhajjaj bin Yusuf Atstsaqafi di Makkah. 

Saya amat berharap kepada kalian khususnya pemudi untuk merenungi dengan penuh perhatian nasihat tersebut dari sumbernya. Sebab ia mengandung nasihat yang benar-benar memberi faedah bagimu. Juga semua ibu, sang pendidik generasi masa depan. 

Saya ingin berhenti sejenak pada kata: "Tidak Pantas" sebagaimana diucapkan Nabi dalam hadis di atas. Sebab inilah yang diinginkan Nabi. 

Fitnah, kita tahu. Dia merupakan persimpangan jalan menuju penyelewengan. Puncak marabahaya dan lembah kesesatan. Jalan bercabang hingga para penempuhnya seolah dalam penjara. Tidak menemukan kecuali benteng dan rintangan. Gelap, pekat. Terombang-ambing dalam Sahara misteri. Buta, bingung, mana jalan menuju selamat. 

Inilah kepedihan yang kita rasakan di alam modern ini. Khususnya para pemuda. Kepedihan merasakan racun dan cobaan fitnah, dan segala macam yang merangsang nafsu birahi. Tidaklah mereka bangkit dari jebakan, kecuali terperangkap dalam galian. 

Dan tidaklah mereka terkena fitnah, sekedar hanya di jalan-jalan umum, atau tempat-tempat umum, atau di club-club. Namun fitnah sampai berjalan dalam arus listrik (elektronik-pen.). Dalam kawat yang membisu dan tak bisa berkata-kata. 

Orang berakal manakah sekarang yang berani berpidato bahwasanya bukan kerusakan dan dekadensi morallah yang menguasai masyarakat umum?! Sementara kebaikan dan kerusakan, dualisme yang senantiasa bermusuhan. Karenanya Rasulullah saw mengkritik Asma' ra. yang berpakaian pendek, padahal ia telah haid (menstruasi), lelah nampak kembang "Femina"-nya, dengan nada serius:

 يَاأَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيْضُ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَ هَذَا٬ وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَ كَفَّيْهِ٠ 

"Wahai Asma', sesungguhnya seorang wanita apabila telah baligh, tidak pantas ia terlihat tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya (berjilbab)." 

Nabi tidak mengatakan: Sesungguhnya pemudi, gadis (fataat). Namun ia katakan wanita, sebab ia telah mengakhiri masa keremajaan menuju masa kesempurnaan dan kematangan, sekalipun pada saat itu ia belum menikah. 

Dan wajah yang pantas terlihat —tentunya wahai saudari— adalah wajah yang bebas dari hiasan apapun. Bukan wajah yang dijejali rombongan lipstik dan bedak. Bersih dari mekar wewangian. 

Juga hindari aneka kosmetik semacam pemulas-pemulas lux, memulas kuku hingga nampak mengkilat dan berkilauan. Bahkan kuku-kuku jemari kaki, nyaris tidak luput, tenggelam dalam belantara pewarna. 

Pemudi-pemudi kita hari ini, betul- betul menelanjangi pesan yang mulia ini hingga kelewat batas tak berujung. 

Terlepas dari ini semua, sebagai contoh kecil saja: Remaja putri hari ini, belumlah sampai usia baligh dan masa subur, mereka lidah teracuni seribu sahi cara bersolek, berhias, dan model-model busana yang mengobral tubuhnya. Mengundang fitnah dan rangsangan. 

Akhirnya, jalan lurus goncang. Masyarakat terombang-ambing dalam carut-marut dan hiruk-pikuk syahwat dan glamour. Wahai pemudi Islam ... 

Engkau adalah sosok yang bisa menjadi sumber kebaikan dan pembaharuan. Atau lembah kehancuran dan kerusakan. 

Ini semua bagimu, di dunia maupun akhirat, saling bertolak belakang. Keselamatan dan ganjaran, atau kesengsaraan dan siksaan. Maka bertakwalah engkau kepada Allah wahai pemudi, ikutlah engkau rombongan orang-orang jujur, beriman, dan taat. Niscaya engkau rengkuh ketinggian derajat.
loading...

Saturday, April 13, 2013

no image

Menggali Lautan Ilmu

Menggali Lautan Ilmu, Urgensi Belajar Mengajar Dari sahabat Abu Darda' ra ia berkata: Saya mendengar Nabi bersabda:

 مََنْْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْْتََمِسُُ فِيْهِ عِلْمًًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ ، وَاِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًى بِمَا يَصْنَعُ ، وَاِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الأَرْضِ، حَتَّى الْحِيْتَانَ فِي الْمَاءِ ، وَ فَضْلُ الْعَالِمَ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، وَاِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اللأَنْبِيَاءِ لَمْ يُوَرِثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمَا إِنَّمَا وَرَّتُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ اَخَذَهُ اَخَذ بِحَظٍّ وَافِرٍ ٠ 

"Siapa saja menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan Malaikat akan menaungi dengan sayapnya bagi pencari ilmu karena ridha dengan yang sedang ia kerjakan. Dan orang alim, niscaya dimintakan ampun oleh semua makhluk di seluruh kolong langit dan kolong bumi, hingga ikan di samudera. Dan keutamaan orang alim dibanding ahli ibadah, adalah umpama keutamaan rembulan atas semua bintang-bintang. Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, mereka tidak mewarisi uang dinar maupun uang dirham. Namun bahwasanya mewarisi ilmu. Dan siapa saja mengambilnya, berarti ia telah mengambil bagian yang melimpah-ruah. (Diriwayatkan Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Albaihaqi, dan Ibnu Hibban dalam sahihnya).  

"Bacalah." (QS. al-Alaq: 1) 

Sepatah kata permulaan yang dengannya Allah berbicara kepada Nabi-Nya saw. Cahaya dan pancaran wahyu pertama yang diturunkan dalam relung hatinya alaihis-salam. 

Ya, membaca adalah jalan perantara ilmu, dan muara ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan adalah cahaya akal dan hati. Jika tidak ada ilmu niscaya akal dan hati senantiasa terombang-ambing dalam padang sahara kebodohan dan rimba raya kesesatan, membabi buta, dan selama-lamanya tidak mendapat petunjuk. 

Ilmu yang dimaksud, adalah semua ilmu yang dengannya seseorang bisa mengambil manfaat untuk urusan agama maupun dunianya. Dan hendaknya yang pertama kali ditimba adalah ilmu yang mengenalkan kepada Sang Pencipta Azza wa Jalla. Sebab pengetahuan apa pun yang bisa diungkap dan digali manusia, muara kembalinya adalah kepada Allah, demikian juga produksi-produksi materi. 

Biji yang ditanam petani dalam bumi agar berbuah, dipetik, dan memberikan hasil, sama sekali tidak akan mendatangkan buah apabila satu saja bagian dari keumuman undang- undang Ilahi yang telah digariskan, tidak menyertai. 

Dan ilmu yang didapat para petani atau "tukang kebun" dari hipotesa dan eksperimen, sumbernya kembali kepada Rabb subhanahu. Rabb (pemilik) biji,... udara ... air ... dan matahari. Juga Rabb pemilik tangan- tangan terampil yang bekerja, mata yang selalu menaruh perhatian, dan hati yang menaruh rasa kasih sayang. 

Di atas kesemuanya, kembalinya hanyalah sekedar tumpuan harapan. 

Harapan yang, bisa jadi, panen tak berbuah sama sekali. Harapan ini, sekalipun terungkap oleh sebagian orang primitif dan modern, lewat prinsip-prinsip imaniyah ilmiah, lantas disimpulkan oleh mereka dengan istilah 

Hukum Alam menurut bahasa mereka yang mana tak bisa dipungkiri, namun realitas mereka senantiasa mengerubungi esensi misterius Hukum Alam (Hukum Allah) yang otak mereka selalu tidak sampai ke sana. 

Sebab harapan, adalah ghaib (metafisika). Dan metafisik, hanyalah di tangan Allah semata. 

Apabila saya dalam kajian bab ilmu ini, tidaklah berbicara terlalu mendalam menyelami ilmu dan dunia materi, bukan berarti saya terlalu "memihak" dalam ilmu addiin. 

Hanya persoalannya, ilmu din (agama) adalah suatu hal yang patut diprioritaskan. Sebagaimana halnya, mendahulukannya adalah faktor penentu mendapatkan hasil (nilai). Sebaliknya apabila justru atheisme sebagai tujuan, kerusakan sebagai maksud, dan mencari ilmu sekedar untuk merusak, yang demikian adalah sama sekali tak berfaedah. Bahkan justru mengundang banyak bahaya. Dan benar sabda Nabi saw:

 إِنَّ أَخْشَى مَا أَخْشَاهُ عَلََى أُمَّتِى كُلَّ مُنَافِِقٍ عََلِِيْمُ اللِّسَانِ٠ 

"Suatu hal yang paling saya takutkan atas umatku, adalah orang-orang munafik yang mereka pandai berbicara." Kita kembali kepada hadis yang mulia dan ucapan suci: "Mencari ilmu adalah wajib". 

Kewajiban mencari ilmu, seringkali ditelantarkan oleh segala macam keinginan. Sehingga bagi siapa pun yang serius menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. 

Mari berhenti sejenak pada sepatah kata: Memudahkan. Sementara dalam sebuah hadis disebutkan: 

 وَحُفََّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ٠ 

"Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tak disukai (manusia)." 

Artinya, jalan surga adalah sulit dan sukar. Dikelilingi oleh aneka ragam penderitaan. Dan para penempuhnya, dihadapkan oleh jebakan-jebakan dan kegelinciran- kegelinciran, provokator yang mengajarkan hal-hal yang menggiurkan, jurang-jurang hawa nafsu, duri, keringat dan air mata, per-juangan, keteguhan, dan kesabaran. 

Namun kesemuanya ini, ringan dan mudah bagi para pencari ilmu. Bagi mereka yang meneguhkan hubungannya dengan muara ilmu. Kenapa? Sebab meski ia dihadapkan segala macam rintangan dan sandungan, ia yakin beraktivitas di atas jalan yang terang (jelas). Sehingga ia melewatinya tanpa kesulitan dan kebingungan. Ia tidak bingung, ragu, dan was-was. 

Kemuliaan pertama dan teragung, ialah naungan malaikat dengan sayapnya. Sayap malaikat terbentang kepadanya, lantas membawanya dalam kelembutan dan kesayangan, mengangkatnya meninggi di atas penghalang-penghalang dan melewatinya secara mudah, tanpa merasa ada beban. 

Sehingga pencari ilmu merasakan keringanan dari keberatan-keberatan kehidupan dunia, diiringi kebersihan jiwa dan nurani dari kotoran-kotoran bumi. 

Dalam relung nuraninya seolah telah lahir hentakan-hentakan kebahagiaan dan dengungan-dengungan kerelaan. Nampak dalam pribadi kehidupan dan roman mukanya, bau wangi berlimpah-ruah. Lalu memantul dalam perilakunya, secara berkesinambungan dan mantap dalam meniti jalan. 

Sementara dalam realitas, tidaklah terkecuali seperti dilukiskan Sang tokoh kejujuran saw:

 وَاِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الأَرْضِ 

"Sesungguhnya orang alim, akan dimintakan ampun oleh semua makhluk yang berada di kolong langit dan di kolong bumi." 

Rombongan makhluk yang lisannya gemar bergetar dengan istighfar. Hingga paus dan ikan-ikan di dasar lautan, rimba raya, lapisan samudera, gulungan ombak, terbelah oleh permohonan ampunan, hingga di atas samudera, harmonis, tiada sengketa. 

Lorong-lorong dunia semua wahai anak-anakku gembira riang menyambut pencari ilmu. Diawali dari keluarga, hingga keseluruhan makhluk. 

Dan keutamaan orang alim, tidaklah bisa ditandingi apapun keutamaan, pangkat, dan kemuliaan. 

Apabila ahli ibadah ('abid) berada pada derajat yang tinggi di sisi Allah dan di sisi manusia, maka orang alim yang mengamalkan ilmunya ('alim, 'amil), ia berada pada derajat yang lebih tinggi. Perbedaan tingkatan bila dibandingkan dengan ahli ibadah, adalah bagaikan perbedaan bulan purnama dibandingkan bintang-bintang dan meteor- meteor. 

Di malam-malam akhir bulan Qamariah, di mana bulan hanya menampakkan sepotong wajahnya, bintang-bintang nampak jelas dan terang. Ia bersinar dan memantul. Sekalipun jauh berkedip, ia nampak dan terlihat. Namun apabila bulan purnama datang, bintang tersembunyi dan padam, ia tunduk merendahkan diri. Beginilah perbedaan antara orang alim dan sekedar ahli ibadah.

 وَاِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اللأَنْبِيَاءِ لَمْ يُوَرِثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمَا إِنَّمَا وَرَّتُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ اَخَذَهُ اَخَذ بِحَظٍّ وَافِرٍ ٠ 

"Bahwasanya' para ulama, adalah pewaris para nabi. Dan para nabi, tidaklah mewarisi dinar maupun dirham. Hanya mewarisi ilmu, maka siapa saja mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang melimpah-ruah". 

Warisan raksasa, amanat besar, dan tanggung jawab agung. Sehingga siapa pun yang diberi amanat ini kemudian memperlakukannya dengan sebaik-baik perlakuan, serta melaksanakan konsekuensi- konsekuensinya, berarti ia telah ditunjuki kepada jalan yang lurus. Dan siapa pun yang diberi lantas tidak menaruh perhatian padanya, maka amalnya berguguran. Dan siapapun tidak diberi dan tidak berusaha melonggarkan diri mencari warisan tersebut, ia akan merugi dunia dan akhirat. 

Wahai pemuda-pemudi, betapa banyak kita sekarang memerlukan warisan ini dan berpegang teguh kepadanya, agar kita bisa mengangkat tutup kebodohan dari mata dan hati kita. Kemudian kita berangkat dalam kehidupan ini sebagai pelopor bukan pengekor. 

Dalam kaitan ini saya ingat sebuah kisah. 

Diriwayatkan bahwasanya suatu hari Abu Dzar al-Ghifari ra. berjalan-jalan di pasar Madinah, sesudah Nabi wafat. Ia lihat orang-orang dalam suasana gaduh dan keributan. Mereka telah disibukkan oleh urusan dunia, dan dikuasainya. Dunia telah menjelajah otak dan urat nadi perasaannya. Sehingga ia khawatir atas realita yang mendominasi masyarakatnya semacam ini. Lalu ia berteriak: Wahai kawan-kawan, tidakkah kalian tahu bahwasanya harta dan perniagaan warisan Muhammad saw untuk kalian, sekarang tengah dibagi-bagi di dalam masjid? 

Orang-orang lantas bergegas dan mengayunkan langkahnya. 

Dan tidaklah mereka dapatkan dalam masjid Nabawi, terkecuali hamba-hamba yang khusyu' menunaikan rukuk, sujud, beribadah, mengajar, belajar, mencari ilmu, menebarkan ilmu, dan menyebarkan kajian. Sehingga mereka pun berbalik sambil bertanya kepada Abu Dzar ra.: kami tak menemukan sedikit pun dari apa yang kamu katakan. Kontan Abu Dzar menjawab: "Itulah warisan Muhammad." (mencari ilmu dan mengajarkannya-pen.)
loading...