Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Pandangan dan Kacamata Islam. Show all posts
Showing posts with label Pandangan dan Kacamata Islam. Show all posts

Friday, January 2, 2015

Wajibnya Menepati Janji dalam Islam

Wajibnya Menepati Janji dalam Islam

Dalam Islam, menepati atau menunaikan janji baik itu hal besar maupun hal kecil dan perkara atau janji tersebut bukan hal yang berkaitan dengan maksiat, keburukan atau pengaduan adalah sebuah perkara yang  sangat dituntut tanggungjawabnya bagi setiap muslim maupun muslimat. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam dalil firman Allah swt. Dalam Al-Qur’anul Karim yang berbunyi :

Firman Allah dalam al Quran:

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسُۡٔولٗا

Artinya : dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (QS.  Al-Isra’: 34)

Dari keterangan ayat di atas,menjelaskan kepada kita sebagai hamba Allah yang bertaqwa anjuran untuk menepati janji apabila berjanji dan hendaknya mereka yang telah berjanji senantiasa menepati atau menunaikan janjinya tersebut pada saat atau waktu dan tarikh yang mereka dijanjikan. Sehingga hendaknya janji itu ditepati dan ditunaikan pada waktu dan tarikh yang telah disetujui, meskipun ada berbagai halangan namun tetap harus menepati janji yang telah dibuat.

Ketegasan dalam menepati janji , menjalankan amanah adalah merupakan sebuah simbol kesempurnaan kepribadian muslim sejati, baik dan disenangi serta tanda adanya peningkatan sebuah prestasi. Namun seandainya ada sesuatu hal yang tidak bisa dielakkan, maka sebaiknya janji tersebut dibatalkan atau dirubah tarikh dan waktunya sehingga pihak yang dijanjikan tidak menanti-nanti. Apabila kita tidak bisa memastikan sesuatu hal atau perkara dengan pasti maka hendaklah mengucapkan kata insya Allah

Kedudukan menepati janji pada syariat Islam

Setiap orang muslim yang telah membuat sebuah janji, hukumnya adalah wajib untuk menunaikan atau menepati janjinya. Apabila terdapat sesuatu hal lain yang tidak bisa dielakkan atau adanya uzur, maka janji yang dibuat boleh ditangguhkan waktu dan tarikhnya atau dibatalkan sebagainya yang telah dijelaskan di atas.

Orang yang tidak menepati janji adalah orang merupakan salah satu ciri orang munafik, sebagaimana dalil hadits sabda Rasulullah Muhammad s.a.w. : Tanda orang munafik itu ada tiga perkara yaitu apabila berbicara dia berbohong, apabila berjanji dia mungkin janji dan apabila diberi amanat dia mengkhianati. (HR. Bukhari dan Muslim).

Seperti keterangan dalam ayat al-Quran dan dalil Hadits Nabi saw. bahwa janji itu mempunyai kedudukan yang penting bagi orang muslim sebagai orang yang tidak munafik, dan bertanggung jawab. Sehingga nilai dan harga diri dari orang muslim adalah terletak pada tanggung jawabnya dalam menetapi janji, maka hendaknya apabila berjanji penting bagi seorang muslim untuk mengingat-ingat janji yang telah dia buat dan kemudian menunaikan atau menetapi janjinya sesuai dengan tarikh dan waktu yang telah disepakati.

Dari sudut pandang sosial, apabila seseorang berjanji dan pada implementasinya sering tidak menepati janji, maka hal ini dapat berdampak pada menurunnya sampai hilangnya kepercayaan orang lain terhadap diri seseorang. Sehingga dapat dianggap sebagai orang yang munafik dan tidak bertanggung jawab.

Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. sangat berpegang teguh pada janji yang beliau buat dan tidak meremehkannya bahkan beliau sampai menunggu-nunggu dari pihak yang dijanjikan itu datang untuk menemuinya. Berikut ini adalah sebuah kisah tentang keteguhan beliau yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Abi al Hamsa ra. berkata:

Aku sudah membuat sebuah perjanjian dengan Rasulullah saw. sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, dengan menjual sesuatu barang, sesudah terdapat baki yang tidak dapat diselesaikan ketika itu dan aku berjanji untuk datang dan menyelesaikannya pada suatu tempat, maka aku lupa perjanjian yang telah dibuat bersama beliau. Lalu setelah tiga hari aku baru teringat. maka aku dating ke tempat tersebut. Tiba-tiba aku dapati Rasulullah saw. telah ada di tempat itu, kemudian beliau berkata : Wahai pemuda! Sesungguhnya kamu sudah menyusahkanku, aku telah menunggumu dan berada di sini sejak tiga hari yang lalu. (HR. Abu Daud)

Dari keterangan hadis tersebut menerangkan bahwa Rasulullah sangat memegang teguh dan tidak meremehkan janji sehingga beliau sanggup menunggu hingga tiga hari berturut-turut. Mengapa perkara menepati janji ini begitu penting bagi Rasulullah?

Dalam syariat Islam, kedudukan janji merupakan suatu tanggungjawab sebagai suatu amanah yang harus ditepati dan ditunaikan diantara dua orang yang sudah bersepakat dalam berjanji,  setelah janji tersebut disetujui oleh kedua belah pihak, maka apabila keduanya mengingkari perjanjian yang sudah disetujui bersama berarti mereka telah mengabaikan amanah. Sehingga kedudukan orang tersebut dalam islam adalah orang yang munafik sebagaimana yang telah diterangkan dalam hadits Rasulullah di atas.

Begitu besar konsekuensi dan kedudukan dari janji dalam syariat islam dan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itulah berhati-hatilah apabila membuat janji, maka harus mengingatnya dan menepati janji tersebut. Namun, apabila ragu dan tidak dapat menunaikan atau menepati janji, maka janganlah sekali-kali membuat sebuah janji, karena setiap janji wajib untuk ditepati. Sebuah janji adalah berat, akan dimintai pertanggungjawaban dan apabila tidak dapat menepatinya akan disebut sebagai orang yang munafik

Saturday, August 2, 2014

no image

Pembelajaran Kisah Nabi Nuh dan Banjir Besar

Sejarah atau bisa juga dikatakan kisah umumnya adalah merupakan cerita tentang sesuatu hal. Berikut ini adalah sejarah atau kisah dari Nabi Nuh as. Nabi Nuh a.s adalah keturunan kesepuluh dari Nabi Adam. Dinamakan "Nuh" yang artinya adalah meratap, karena beliau banyak meratapi diri, karena keinsyafannya kepada Tuhan. Beliau Nabi Nuh diutus kepada kaum Kabul dan Syis adalah kaum yang telah durhaka dan menyembah berhala.

Nabi Nuh telah menyertu kepada kaumnya yang durhaka tersebut dengan berbagai macam seruan yang mengandung makna atau isi pengajaran dan peringatan. Berikut ini adalah seruan beliau kepada kaumnya :
  • Hai kaumku! Janganlah disembah berhala itu, karena dia tidak dapat memberi haya kepadamu, dan tidak pula memberi melarat. Pikirkanlah! adakah barang-barang yang tanganmu sendiri membuatnya, akan lebih berkuasa dari padamu?
  • Hai kaumku! Aku mengingatkan kepadamu, bahwa sembahlah Allah dan turutilah segala perintahnya agar dosa-dosamu diampuni-Nya.
  • Hai kaumku! Mintalah ampun kepada Tuhan, supaya hujan diturunkan-Nya supaya tanaman=tanaman menjadi tumbuh, binatang ternak berkembang biak, dan kamu mempunyai turunan yang banyak.
  • Hai kaumku! Tidakkah kamu tahu, bahwa Allah itulah yang menjadikan tujuh lapis langit yang diberinya bulan yang terang benderang serta matahari yang bersinar.
  • Ditumbuhkan-Nya tanaman-tanaman untukmu dari bumi, dan ke dalam bumi itu kamu akan kembali, dan daripadanya pula kamu akan dibangkitkan.
  • Dihamparkan-Nya bumi ini utnuk tempat diam, dan akan tempatmu berjalan-jalan.
Semua seruan di atas, dilaksanakan Nabi Nuh terus menerus siang dan malam, pagi petang, ditempat-tempat yang ramai dengan tidak bosan-bosannya.

Akan tetapi, seruan-seruan itu tidak juga diterima oleh mereka. Ketika Nabi Nuh menyerukan seruannya, mereka pada menyumbat telinganya dengan anak jari, supaya seruan itu tidak terdengar, dan mereka selubungkan kain mereka ke kepala dan muka agar tidak kelihatan. Dalam pada itu mereka katakan kepada Nabi Nuh :
  • Hai Nuh! Kami lihat engkau serupa kami juga, tidak berlebih berkurang, hidung sama satu, mata sama dua. Dan lihatlah orang-orang yang mengikutimu itu orang-orang yang rendah saja.
  • Hai Nuh! Kami mengikuti kebenaranmu, apa yang akan kami peroleh. Kami tidak akan kaya, dan kami tidak akan jadi mulia.
Mereka juga mengatakan kepada orang banyak : Hai kamu sekalian! Pertahankan Tuhan kita, dan tetaplah menyembahnya, ialah Tuhan "Wud" kita,, "Sua", "Ja'uk" dan , Tuhan Nasar", jangan ditinggalkan!.

Demikianlah keingkaran kaum Nabi Nuh, hingga dalam Al-Qur'an Al-Karim diterangkan :

وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ

Artinya :  Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka (QS. An-Najm : 52)

Kisah Banjir Nabi Nuh

Pada akhirnya, dikarenakan mereka tidak beriman kepada Allah dan seruan Nabi Nuh yang tidak pernah didengar dan dijalankan juga,maka Allah memberitahu kepada Nabi Nuh melalui firman-Nya dalam Al Quran :

وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُۥ لَن يُؤۡمِنَ مِن قَوۡمِكَ إِلَّا مَن قَدۡ ءَامَنَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ

Artinya : Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud : 36)

Dan kaum Nuh berkata pula:

قَالُواْ يَٰنُوحُ قَدۡ جَٰدَلۡتَنَا فَأَكۡثَرۡتَ جِدَٰلَنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Artinya : Mereka berkata "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". (QS. Hud : 32)

Oleh karena hal ini, datanglah perintah Allah kepada Nabi Nuh, agar Nabi Nuh membuat kapal, karena Negeri itu akan dibanjirkan, dan orang-orang yang durhaka akan tenggelam di dalamnya.

Semenjak saat itu, Nabi Nuh mulai berusaha membuat kapal. Mula-mula ditanamnya kayu, bertahun-tahun sesudah itu, setelah kayu-kayu itu tumbuh besar, kemudian ditebangnya, dipotong dan akhirnya dibuat menjadi kapal. Nabi Nuh bekerja membuat kepal bersama dengan orang-orang yang beriman.

Sementara itu kaumnya, terus menerus mencela, mencaci maki, menyindir dengan berkata : "Lihatlah Nabi sudah menjadi tukang kayu". Sementara yang lain juga berkata : "Apa yang dibuat Nuh ini? Kapalkah? Kalau kapal, kenapa didaratan,, tidak di sungai atau di laut?"

Segala celaan, cacian, dan sindiran tersebut di balas oleh Nabi Nuh dengan perkataan pendek saja, beliau berkata : "Jika sekarang kamu mencela kami, ingatlah bahwa di belakang hari, kamu akan merasakan dan insaf sendiri".

Kapal Nabi Nuh lama-kelamaan selesai. Kapal itu amat besar dan panjang dan berlapis tiga. Lapis yang paling atas diperuntukkan bagi burung. Lapisan yang tengah untuk manusia dan lapis yang paling bawah adalah untuk binatang.

Setelah kapal selesai dibuat, maka datanglah, Apa yang dijanjikan Allah. Anginpun berhembus dengan sangat derasnya, disertai hujan yang sangat lebat. Mata-mata air bersemburan. Banjirpun menjadi sangat hebat, dan air dari hari ke hari bertambah tingginya terus-menerus. Dalam pada itu, Nabi Nuh bersama dengan orang-orang yang beriman berada di dalam kapal. Sedangkan burung-burung dan binatang juga berada di dalam kapal dengan berpasang-pasangan, seekor betina, seekor jantan pada setiap macamnya.

Dengan menyebut nama Allah, kapal Nabi Nuh pun berlayar di atas banjir yang bergelombang tinggi.. Tiba-tiba di waktu sedang berlayar, Nabi Nuh melihat anaknya berada di tempat yang sangat terpencil, dan kemudian beliau berkata kepada anaknya :

وَهِيَ تَجۡرِي بِهِمۡ فِي مَوۡجٖ كَٱلۡجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبۡنَهُۥ وَكَانَ فِي مَعۡزِلٖ يَٰبُنَيَّ ٱرۡكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلۡكَٰفِرِينَ

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir"

Kemudian di jawab anaknya : Biarlah aku mencari tempat berlindung ke gunung-gungung itu!.
Di jawab Nabi Nuh pula : Hai anak! Tidak ada orang yang akan lepas dari kemurkaan Allah ini, hanya orang yang dikasihani-Nya.

Dalam pada itu, keduanya pun dibatasi oleh gelombang yang sangat besar, dan anak Nabi Nuh yang durhaka ini tenggelam di dalamnya.

Demikianlah keadaan yang terjadi. Air mengalir kian kemari, laksana harimau yang kelaparan. Rumah dan gedung-gedung roboh dan bekas-bekasnya dibawa aliran air kesana kemari. Orang-orang menangis, meraung, meminta tolong dan lain sebagainya. Mayat bertimbun-timbun, dan terapung-apung di muka air yang sedang bengis itu. Harta milik tidak terhiraukan lagi, anak istri tidak terkenang. Semuanya memikirkan diri sendiri. Tetapi pikiran pada waktu itu tidak berguna lagi, semuanya telah hanyut, binasa, tenggelam, mati, kecuali yang ada dalam kapal Nabi Nuh.

Setelah orang-orang yang durhaka itu mati, berhentilah banjir. Kapal itu berhenti pula dengan nama Allah, di suatu gunung dekat Mousul, di suatu tempat yang bernama Judi"

Di situlah Nabi Nuh menyeru kepada Tuhan : "Ya Tuhan ! Anakku tenggelam, sedang dia keluargaku, dan Engkau berjanji akan menyelamatkan kami.!

Firman Allah : Hai Nuh! yang durhaka itu tidaklah keluarga engkau, Dia bekerja yang tidak patut.

Mendengar itu, Nabi Nuh meminta ampun kepada Tuhan, karena dia berkata dengan tidak tahu, karena dia tidak tahu anaknya itu masuk golongan orang-orang yang durhaka.

Nabi Nuha adalah bapak manusia yang kedua.

Akhir dari kisah Nabi Nuh adalah, keluarlah mereka dari dalam kapal itu dengan selamat dan sejahtera. Burung-burung dan binatang pun turut keluar. Adapun Nabi Nuh beranak tiga orang, Sam, Ham, dan Jafis. Dari ketiga anak beliau, berkembang biak pula manusia sampai nanti hari kiamat. Oleh karena itu, Nabi Nuh digelari sebagai Bapak manusia yang kedua.'

Saturday, May 10, 2014

no image

Kriteria Minuman Keras & Obat Bius Haram

Minum minuman yang memabukkan dan menggunakan obat bius adalah haram, menurut sepakat para ulama, dan haramnya mnuman keras dari dalil hadits nabi dan telah kita ketahui tentang segala hal yang berkait dengan bahaya-bahaya yang timbul dari minuman yang memabuk­kan bagi masyarakat, bahaya bagi kesehatan, minuman keras dan dosanya dan obat bius. Kita kemukakan hukum Islam hal meminum dan menggunakannya. Kita sebutkan pula secara jelas cara pe­nyembuhannya yang manjur, yang ditentukan Islam dalam menghapus dan menghancurkannya.

Sekarang, timbul pertanyaan, "Minuman yang memabukkan yang dibuat bukan dari anggur dan kurma, apakah boleh di­minum?

Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang minuman yang dibuat dari madu jagung atau gandum. Maka, beliau menjawab:

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ٬ وَ كُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ ٠

"Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram ".

Atas dasar ini kita katakan: Setiap yang terbuat dari buah-buahan, gandum atau bahan lain, termasuk ke dalam golongan khamr selama minuman tersebut memabukkan dan mengacaukan akal pikiran. Umar ra. telah mengumumkan dari atas mimbar Rasulullah saw., seperti yang  diriwayatkan oleh Asy-Syakhani:

اَلْخَمْرُ مَا خَامَرَ الْعَقْلُ ٠

"Khamr adalah yang menutup akal pikiran ".

Dan selama minuman itu memabukkan, maka sedikit atau banyak tetap haram, seperti tersebut dalam hadits yang diriwayat­kan Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Rasulullah saw.
bahwa beliau bersabda:

مَاأَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ ٠

"Apa yang memabukkan, banyak atau sedikitnya adalah haram".

Rasulullah saw. tidak hanya mengharamkan banyak sedikit­nya, tetapi juga mengharamkan jual beli meniagakannya, meski kepada orang-orang non-Muslim. Dengan demikian, tidak halal bagi seorang Muslim untuk mengimpor atau mengekspor, mem­buat atau membawanya.


لَعَنَ اﷲُ الْخَمْرَ٬ شَارِبَهَا ٬ سَافِيَهَا ٬ بَائِعَهَا٬ وَ مُبْتَاعَهَا وَمُعْتَصِرَهَا٬ وَحَامِلَهَا٬ وَالْمَحْمُوْلَ اِلَيْهِ ٬ وَآكِلَ ثَمَنِهَا ٠

"Allah melaknat khamr: Peminumnya, yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, yang membuatnya, pembawanya, yang menerimanya dan yang memakan harga penjualannya". (H.R. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Menurut syari'at Islam, dalam upaya menutup jalan kemunkaran, maka diharamkan bagi orang Islam menjual anggur kepada orang yang suka membuat khamr.

At-Thabrani dalam Al-Ausath meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

مَنْ حَبِسَ الْعِنَبَ أَيَّامَ القَطَافِ ٬ حَتَّى يَبِيْعَهُ مِنْ  يَهُوْدِيٍّ أَيْ لِيَهُوْدِيٍّ أَوْنَصْرَانِيٍّ أَوْمِمَّنْ يَتَّخِذُهُ خَمْرًا فَقَدْ تَقَحَّمَ النَّارً عَلَى بَصِيْرَةٍ٠

"Barang siapa yang menyimpan anggur pada hari-hari memetik, sehingga ia menjualnya kepada orang Yahudi, Nasrani atau kepada siapa saja yang suka membuat khamr, maka dengan sadar ia telah menghamburkan diri pada api neraka".

Oleh karena itu, orang Islam diperintah untuk tidak men­datangi tempat-tempat minuman khamr. Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. ia berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ ׃ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاﷲِ وَاليَوْمِ الاَخِرِ فَلاَ يَقْعُدْ عَلَى مَائِدَةٍ تُدَارُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ٠

"Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirnya maka hendaknya ia tidak duduk di meja yang di atasnya disajikan khamr".

Juga diriwayatkan dari khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. bahwa beliau mendera peminum khamr dan orang yang meng­hadiri tempat minuman, meski ia sendiri tidak ikut minum ber­sama mereka. Juga diriwayatkan,-bahwa diajukan kepadanya suatu kaum yang telah minum khamr. Maka, ia memerintahkan untuk menderanya, dan dikatakan kepadanya:

إِنَّ فِيْهِمْ فُلاَنًا ٬وَقَدْ  كَانَ صَائِمًا ٬ فَقَالَ ׃ بَهْ ابْدَؤُوْا ٠

"Sesungguhnya, ada orang yang hadir bersama mereka, dan ia waktu itu dalam keadaan puasa". Maka, ia berkata, "Perduli, semua harus mulai kalian dera". (Apakah kalian tidak mende­ngar Allah berfirman):

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur'an al-Karim bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka me­masuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. (Q.S. 4: 140)

Tentang tidak boleh menggunakan khamr untuk obat. Ini merupa­kan jawaban Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dan Ahmad bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang khamr, maka beliau melarangnya. Kemudian orang itu berkata:

إِنَّمَا أَصْنَعُهَا لِلدَّوَاءِ ، قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ ׃ إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءِ وَلَكِنَّهُ دَاءٌ ٠

"Sesungguhnya saya membuatnya untuk obat!" Beliau ber­sabda, "Sesungguhnya khamr itu bukan obat, tetapi penyakit".

Dalil Nash ini, termasuk yang lain, menegaskan bahwa menggunakan khamr untuk obat adalah haram dan berdosa bagi yang menggunakan dan yang diobatinya.

Sedang obat-obatan yang sedikit dicampur alkohol, sebagai bahan pengawet, maka menggunakan dibolehkan dengan meme­nuhi persyaratan di bawah ini:
  • Sudah ditetapkan bahwa terdapat bahaya hakiki bagi kesehatan manusia jika tidak menggunakan obat tersebut.
  • Tidak ada obat lain yang halal, yang dapat mengganti kedudukan obat beralkohol tersebut.
  • Hendaknya diperiksa oleh seorang dokter Muslim yang dapat dipercaya dari segi pengalaman dan agama.
Sebab, prinsip-prinsip Islam berdasarkan kemudahan, me­nolak kesukaran dan merealisasikan kemaslahatan.

Sebagai dasar dalam hal ini adalah firman Allah:

Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (Q.S. 2:173)
Dari keterangan-keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap minuman yang memabukkan adalah hukumnya haram untuk diminum. Demikian juga pemakaian minuman yang memabukkan untuk obat adalah juga diharamkan.
no image

Hewan, Binatang yang Haram di Makan

Ada berbagai macam makanan yang hukumnya tidak boleh atau haram di makan dalam ajaran islam. Selain daging, bangkai dan darah, makanan yang haram dimakan adalah daging dari hewan atau binatang keledai piaraan, binatang buas bertaring, dan burung yang mempunyai kuku atau cakar:

Dalil dari hadits Nabi yang mengharamkan memakan makanan tersebut di atas adalah, Al-Bukhari meriwayatkan bahwa:

نَهَى عَنْ أَكُلِ لُحُوْمِ الْحُمُرِ الأَهْلِيَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ٠

"Rasulullah saw. melarang memakan daging keledai piaraan pada hari Khaibar".

juga hadits Asy-Syakhani meriwayatkan bahwa:

نَهَى عَنْ أَكُلِ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ ٬ وَ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ ٠

"Rasulullah saw. melarang memakan binatang yang bertaring dan burung yang mempunyai kuku atau cakar".

Yang dimaksud dengan binatang buas adalah setiap binatang yang mempunyai taring yang suka memangsa, seperti singa, macan, serigala dan lain sebagainya.

Yang dimaksud dengan binatang yang mempunyai kuku pencakar adalah burung-burung seperti nasar, elang, rajawali, dan lain sebagainya.

Binatang-binatang seperti ini dagingnya haram dimakan menurut jumhur ulama. Adapun pendapat Ibnu Abbas ra. dan Imam malik, dibolehkan tetapi hukum memakannya adalah makruh. Dan mereka mengatakan tentang hadits-hadits di atas sebagai dalil makruh, bukannya haram.

Yang menjadi ketetapan syari'ah Islam, bahwa binatang- binatang yang diharamkan memakannya itu, jika disembelih menurut syari'at Islam kemudian kulitnya dibersihkan, maka kulit tersebut boleh diambil manfaatnya walaupun tidak di­samak.

Haram memakan binatang yang disembelih bukan dengan cara syari'at islam

Binatang yang disembelih bukan dengan cara yang disyari'atkan Islam, seperti dengan distroom, atau disembelih oleh tangan orang kafir (atheis), majusi atau penyembah berhala.

Cara menyembelih atau Penyembelihan menurut syari'ah adalah:
  • Disembelih dengan alat tajam yang bisa mengalirkan darah, dan memotong urat darah leher.
  • Penyembelihan hendaknya pada kerongkongan dan meliputi: Tempat mengalirnya makanan dan minuman, dan dua urat darah leher.
Persyaratan menyembelih di kerongkongan dapat diboleh­kan, jika penyembelihan tidak bisa dilakukan pada tempatnya yang khusus. Misalnya, hewan jatuh ke sumur dan sukar untuk disembelih. Atau, unta yang kabur, dan empunya tidak dapat mengambilnya. Atau binatang yang menyerang seseorang, kemu­dian ia melempar sebagai upaya bela diri. Maka, dalam situasi seperti ini binatang tersebut diperlakukan seperti dalam situasi memburu. Karenanya, cukup dilukai dengan benda tajam di bagian mana saja, (dan ketika melempar dengan senjata tajam itu ia membaca Basmalah. Maka dagingnya halal. Jika diketahui bahwa binatang tersebut mati bukan karena luka, maka dagingnya haram karena dianggap mati dipukul
  • Ketika mulai menyembelih harus membaca Basmalah, sesuai dengan firman Allah:
Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. (Q.S. 6:118)

Dan firman-Nya:

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (Q.S. 6:121)
Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Rasulullah saw. beliau bersabda:

مَاأُنْهِرَالدَّمُ وَذُكِرَاسْمُ اﷲِ عَلَيْهِ  فَكُلُوْا٠

"Binatang yang dialirkan darahnya (disembelih) dan disebut nama Allah, maka makanlah dagingnya"

Jika penyembelih lupa menyebut nama Allah, binatang sembelihan tersebut dagingnya halal, karena Allah memaafkan umat akan perbuatan yang dilakukan berdasarkan kesalahan (ketidak sengajaan, dan lupa.

Hikmah menyebut nama Allah: Penyembelih tidak melaku­kan pekerjaan terhadap makhluk kecuali dengan izin Yang Menciptakannya. Maka, atas nama (dengan nama) Allah-lah binatang itu disembelih, dengan nama Allah-lah binatang itu diburu, dan dengan nama Allah pulalah daging binatang itu dimakan.
  •   Penyembelih hendaknya beragama Islam atau Ahli Kitab.
Jika penyembelih adalah seorang kafir, seorang Majusi (penyembah api), penyembah berhala atau penganut keyakinan kebatinan, seperti yang mempertahankan Imam Ali ra., memper­tuhankan Hakim Bi Amrillah Al-Fathimi atau Agha Khan, maka binatang yang disembelih seperti ini tidak halal, sesuai dengan kesepakatan Imam (madzhab) yang empat, dan ijma' orang-orang yang dapat diterima fiqh/fikih dan madzhabnya oleh umat.

Persyaratan penyembelih harus seorang Muslim adalah, karena ia memeluk agama yang benar, yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Sedang disyaratkannya ahli kitab, karena firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Q.S. 5: 5)

Islam bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, penyembah berhala dan penganut kebatinan, dan bersikap toleran kepada ahli kitab. Sebab, ahli kitab adalah lebih dekat kepada orang-orang yang beriman karena mengakui wahyu, kenabian dan pokok-pokok agama secara global. Islam juga mengizinkan orang-orang Islam (laki-laki) menikah dengan mereka, sembelihan mereka halal dimakan. Di samping itu, karena jika mereka bergaul dengan orang-orang Islam dan mengetahui Islam yang sebenarnya, jelas bagi mereka bahwa Islam adalah agama yang benar, maka mereka akan masuk Islam dengan kesadaran mereka sendiri.

Jika terdengar seorang ahli kitab menyembelih binatang dengan menyebut selain nama Allah, seperti Al-Masih atau Al- Uzair, maka sembelihan itu haram, karena disembelih bukan dengan nama Allah, tidak atas nama Allah.

Berdasar persyaratan dalam menyembelih yang telah kita sebutkan tadi, maka:
  • Haram, memakan daging binatang yang disembelih dengan sengatan listrik atau dengan cara lain yang tidak memakai alat tajam pada kerongkongannya.
  • Haram, makan daging sembelihan orang kafir, Majusi, pe­nyembah berhala dan penganut kebatinan, karena termasuk disembelih bukan dengan nama Allah.
  • Haram, daging kalengan yang diimpor dari negara kafir yang mengingkari Allah Yang Maha Pencipta, dan mengingkari agama- agama samawi.
  • Haram makan daging kalengan jika secara yakin telah di­buktikan bahwa daging tersebut, ketika disembelih, disembelih bukan dengan cara syari'at Islam, seperti dijerat atau dengan sengatan listrik.
  • Haram minyak samin kalengan jika telah dibuktikan dengan yakin bahwa minyak samin itu dicampur dengan minyak babi atau susu bagi.
Sedang ikan kalengan, memakan dibolehkan menurut kata sepakat ulama, sesuai dengan sabda Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan Ashhabu 's-Sunan ketika beliau ditanya tentang air laut, beliau bersabda:   
   
هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ ٬ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ ٠

"Air laut itu suci dan bangkainya halal".

Dalam Shahihain dari Jabir ra, bahwa Rasulullah saw. meng­utus sepasukan para sahabatnya untuk berperang di jalan Allah. Maka mereka menemukan ikan besar yang telah mati, dan selama beberapa hari mereka makan dari ikan besar tersebut. Kemudian, mereka kembali ke Madinah dan mengabarkannya kepada Ra­sulullah saw. Beliau bersabda:
   
كُلُوْا رِزْقًا أَخْرَجَهُ اﷲُ لَكُمْ ٬ أَطْعِمُوْ نَاإِنْ كَانَ مَعَكُمْ ٠

"Makanlah rizki yang Allah keluarkan untukmu, dan berilah kami makan dari ikan tersebut jika masih ada pada kalian".

Maka mereka memberinya, dan beliau memakannya.

Demikianlah beberapa binatang yang haram dan tidak diperbolehkan dimakan serta ketentuan dan tata cara menyembelih atau penyembelihan yang disyari'atkan oleh islam.

Friday, May 9, 2014

no image

Bangkai, Daging, Darah yang Haram Dimakan

Berikut ini adalah pengetahuan tentang makanan yang haram di makan dari golongan bagkai, darah dan daging. Seperti apakah kriteria makanan dari bangkai, darah dan daging yang tidak boleh di makan atau haram berdasarkan dalil Al Qur, an Al-Karim dan hadits Nabi?

Makanan seperti bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disem­belih selain atas nama Allah, hewan tercekik, yang dipukul, jatuh, ditanduk, diterkam binatang buas, kecuali jika sempat menyembelihnya, dan binatang yang disembelih untuk berhala. Semuanya ini haram memakannya sesuai dengan firman Allah:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyem­belihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala .... (Q.S. 5: 3)
Makanan dari bangkai adalah hewan yang mati dengan sendirinya.

Hikmah diharamkannya memakan bangkai adalah hewan yang mati dengan sendirinya pada umumnya mati karena penyakit yang telah lama diidapnya, penyakit yang menimpa tiba-tiba atau memakan rerumputan (tumbuhan) yang beracun. Maka binatang yang mati seperti ini sangat membahayakan kesehatan jasmani dan merusak kesehatan.

Darah mengalir yang keluar dari hewan, baik keluar karena disembelih atau sebab lain.

Hikmah diharamkannya memakan makanan dari darah adalah, karena darah, tentunya sangat menjijikkan. Di dalamnya terkumpul bermacam bakteri, dan bahaya­nya tidak jauh berbeda dibanding bangkai.

Haramnya memakan daging babi

Daging babi, sangat diharamkan dalam pandangan Islam, karena selain dirinya (badannya) najis, bentuknya pun menjijik­kan.

Hikmah diharamkannya makanan daging babi adalah karena ia membahayakan kesehatan dan mengakibatkan hilangnya perasaan kehormatan.

Babi berbahaya bagi kesehatan. Para dokter modern menetap­kan bahwa memakan daging babi menyebabkan timbulnya cacing yang dapat membunuh, mengakibatkan kegoncangan dalam perut besar dan lambung, karena dagingnya sukar dilumatkan. Siapa pun yang mengerti ilmu pengetahuan akan menyingkapkan bahaya lain yang lebih banyak dari apa yang telah kita ketahui sekarang.

Memakan babi juga dapat menimbulkan hilangnya perasaan terhadap kehormatan, adalah karena para ahli ilmu kedokteran mengatakan bahwa daging hewan mengandung materi (bahan) yang dapat memindahkan sifat hewan tersebut kepada pemakan­nya. Dengarkanlah apa yang dikatakan Dr. Shabri Al-Qabbani dalam majalah Thabibuka (Dokter Anda), edisi 32, halaman 189:

"Telah ditetapkan, bahwa daging-daging itu mengandung bahan yang dapat memindahkan sifat-sifat hewan kepada pe­makannya. Orang-orang Inggris sangat senang dengan ikan yang dingin, sehingga watak mereka pun dingin. Orang-orang Prancis sangat senang daging babi, sehingga moral mereka sangat dekat dengan sifat babi (maksudnya adalah mereka bersifat tidak me­miliki cemburu). Sedang bangsa Arab pedusunan yang hidup dari daging unta, mereka bersifat sabar dan dengki. Dan penduduk kota yang biasa makan daging kambing, mudah sekali diatur".

Juga berbicara seperti ini, Dekan Fakultas "physics (natural nciensi)" di Universitas California, seperti tercantum dalam maja­lah Al-Hilal.

Hewan yang disembelih atas nama selain Allah

Yang disembelih atas nama selain Allah, maksudnya binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, seperti nama Lata dan 'Uzza, nama berhala.

Alasan diharamkannya makanan jenis ini adalah untuk menjaga tauhid, me­merangi syirik dan gejala penyembahan berhala dalam segala bentuknya, karena menyebut nama Allah ketika menyembelih sebagaimana dikatakan Al-Ustadz Al-Qardhawi adalah per­makluman penyembelih bahwa ia melakukan perbuatan tersebut kepada makhluk hidup yang akan disembelih dengan izin Allah dan ridha-Nya. Jika disebut nama selain Allah ketika menyem­belih, berarti telah membatalkan izin ini, maka haramlah memakan daging hewan yang disembelihnya itu.

Macam-macam bangkai:
  • Yang tercekik: Yaitu yang mati tercekik dengan jalan apa saja.
  • Yang dipukul: Yaitu yang dipukul dengan tongkat atau lain­nya hingga  mati.
  • Yang Jatuh: Yatiu yang jatuh dari tempat tinggi hingga mati.
  • Yang ditanduk: Yaitu ditanduk binatang bertanduk hingga mati.
  • Yang diterkam binatang buas: Yaitu yang diterkam binatang buas hingga mati, dan lain sebagainya.
Setelah menyebutkan kelima macam binatang ini, Allah ber­firman, "Kecuali jika sempat menyembelihnya". Yaitu binatang- binatang tersebut masih betul-betul hidup. Sebagai tandanya adalah memancarnya darah dan gerakan yang aktif ketika di­sembelih.

Hikmah diharamkannya kelima jenis makanan dari bangkai macam ini, karena terdapat bahaya dalam memakannya, seperti tersebut dalam bangkai, di samping sebagai pelajaran bagi pemilik hewan atas kelalaiannya.

Tidaklah layak ia meninggalkan pengawasan dan penjagaan ter­hadap piaraannya sehingga tercekik mati, jatuh dari tempat tinggi atau dibiarkan adu tanduk sesama hewan, sebagaimana yang kita dengar adanya "adu domba" dan "adu banteng" hingga salah satu atau keduanya mati.

Hikmah diharamkannya bangkai binatang yang diterkam binatang buas merupakan penghormatan bagi manusia, dan pensucian akan kedudukannya dari makan sisa binatang buas.

Allah swt. berfirman: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (Q.S.17: 70)

Makanan daging yang disembelih untuk berhala

Berhala adalah patung yang dibuat dari kayu atau batu yang diagungkan dan dipasang di sekitar Ka'bah sebagai simbol thaghut (yaitu sesembahan selain Allah). Orang-orang Arab jahiliyah menyembelih kurban dan dipersembahkan kepada patung-patung tersebut, dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada "tuhan-tuhan" mereka. Binatang sesembelihan yang diperuntukkan berhala-berhala tersebut haram dimakan, baik membaca nama Allah waktu menyembelihnya ataupun tidak, karena dimaksudkan untuk mengagungkan thaghut.

Alasan diharamkannya, sama dengan alasan yang telah kita sebutkan dalam binatang yang disembelih bukan dengan nama Allah.

Bangkai yang halal dan boleh dimakan

Syari'at Islam mengecualikan bangkai yang diharamkan ini, yakni ikan dan belalang. Darah juga dikecualikan, yakni hati dan limpa, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Asy-Syafi'i, Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Daruquthni dan Al-Hakim dari Ibnu Umar secara marfu':

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ ׃السَّمَكُ ، وَالجَرَادُ ، وَدَمَانِ ׃ اَلْكَبِدَُ وَالطِّحَالُ٠

"Dihalalkan bagi kami dua bangkai: ikan dan belalang, dan dua macam darah: hati dan limpa".

Semua binatang di atas adalah haram ketika keadaan bisa memilih (tidak darurat).

Sedang dalam keadaan terpaksa, maka dibolehkan memakan dengan dua syarat:
  • Pertama: Tidak menginginkannya, yaitu bukan karena untuk memenuhi keinginan.
  • Kedua: Tidak melampaui batas, yaitu batas terpaksa.
Peringatan ini berdasar pengertian firman Allah:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan makanan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. 2: 173)
Hikmah pengecualian ini adalah untuk menyelamatkan kehidupan, menjaga kebiasaan dan menolak keterpaksaan bagi umat manusia.

Wednesday, February 26, 2014

no image

Larangan Suka Makan dan Bahaya Kekenyangan

Tidaklah seorang anak Adam memenuhi sesuatu Yang paling buruk dari pada memenuhi perutnya. Bait nazham ini didasari dari hadits Nabi, "Tidaklah yang paling buruk bagi anak Adam dalam memenuhi sesuatu daripada memenuhi perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang membuat tulang rusuknya berdiri. Apabila tidak sanggup, maka 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 untuk dirinya." (HR. Tirmidzi dan Ibn Hibban)

Hadist ini merupakan larangan keras bagi orang yang perutnya kekenyangan atau suka makan. Karena itu dapat membuatnya rakus, hidup berlebih-lebihan dan boros.

Allah berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (al-A’raf [7]:31)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Orang muslim makan dengan satu perut dan orang kafir makan dengan tujuh perut." (HR. Bukhari-Muslim)

Hadits ini dihukumkan hadits hasan oleh Ibn Hibban. Ibn Hibban bernama al-Hafizh Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad at-Tamimi al-Basti. Dia meriwayatkan hadits dari an-Nasa’i, Abu Ya’la, Hasan Bashri dan Sufyan bin Uyainah. Ulama yang meriwayatkan hadits darinya Imam Hakim. Dia adalah seorang yang sangat menguasai ilmu fikih, hadits dan bahasa Arab. Dia pun seorang yang ahli dalam ilmu kedokteran, nujum (astronomi) dan berbagai macam ilmu. Dia seorang yang jenius dan kuat hafalannya. Meninggal dunia pada bulan Syawal 354 H.

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya : "orang kafir makan tujuh kali lipat dari orang muslim dan syahwatnya tujuh kali lipat dari orang muslim. Imam Ghazali berkata, “Orang kafir tidak ada batasannya dalam makan dan syahwat, karena baginya tidak ada yang haram dalam keduanya (makan dan syahwat). Bilangan tujuh dalam hadits ini menunjukkan banyak.”

Diriwayatkan oleh Abu Juhaifah, dia bercerita: Aku makan dengan daging yang direndam dalam kuah. Lalu aku mendatangi Rasulullah dan aku bersendawa, beliau langsung berkata, "Wahai bu Juhaifah, jauhkan sendawamu dari kami. Sesungguhnya orang yang paling banyak kenyang di dunia, maka dia paling banyak laparnya di hari kiamat." (HR. Hakim)

Dalam riwayat ath-Thabrani dan Baihaqi ditambahkan, “Setelah kejadian itu, Abu Juhaifah tidak pernah mengenyangkan perutnya, sampai dia meninggal dunia. Apabila dia makan siang maka dia tidak makan malam. Apabila makan malam maka dia tidak makan siang, ini dilakukan sampai dia meninggal dunia.” Abu Juhaifah berkata, “Aku lak pernah membuat perutku kenyang selama 30 tahun.”

Diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu'anha, dia berkata, “Musibah perrtama yang terjadi pada umat ini setelah nabinya meninggal adalah orang yang memiliki perut yang selalu kenyang. Seseorang apabila kenyang perutnya maka badannya menjadi gemuk, lemah hatinya dan gejolak syahwatnya.

Imam Ghazali rahimahullahu ta'ala berkata:

Hendaklah engkau menjaga perutmu dan memperbaikinya. Karena adalah anggota tubuh yang paling berat, paling berbahaya dan paling membutuhkan pertolongan. Ia merupakan sumber dan tempat penyimpanan seluruh makanan dan minuman. Ia memberikan pengaruh yang kuat bagi anggota tubuh seperti kekuatan, kelemahan dan hasrat dan bersetubuh. Oleh karena itu, hendaklah engkau menjaganya dari yang diharamkan dan syubhat (hal yang diragukan antara halal dan haram), sebagai langkah pertama. Kemudian menjaganya dari kelebihan makanan dan minuman yang halal, sebagai langkah kedua, apabila engkau ingin memiliki semangat dalam beribadah kepada Allah.

Riwayat Bukhari-Muslim, bukan dalam kitab Shahihnya. Ketahuilah! Makanan dan minuman yang haram akan membawamu kepada api neraka. Dalam hadist disebutkan, "Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih baik baginya." Karena orang yang mengkonsumsi sesuatu yang haram maka dia terusir dari pintu Allah. Apabila orang yang berhadats dan junub dilarang untuk melakukan shalat dan memegang mushaf al-Qur’an. Maka bagaimana mungkin seseorang mengaku berkhidmat kepada Allah sedangkan dia mengkonsumsi makanan yang haram, najis dan syubhat. Demi Allah, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Orang yang mengkonsumsi makanan yang haram dan syubhat adalah orang yang terusir dari sisi Allah, bahkan perbuatan baik yang dilakukannyapun akan ditolak. Sesuai dengan hadist Nabi

"Berapa banyak orang yang beribadah tetapi tidak mendapatkan pahala dari ibadahnya kecuali kelelahan. Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."

Sedangkan berlebih-lebihan atas sesuatu yang dihalalkan pun merupakan penyakit bagi seseorang dan kehancuran bagi orang yang melakukan mujahadah (berjuang dan melatih diri dalam beribadat). Ketika aku merenungi atas masalah ini dan aku mendapatkan sepuluh penyakit yang semuanya disebabkan makan dan minum yang berlebih-lebihan: 

Banyak makan mengakibatkan hati menjadi keras, cahaya hati menjadi hilang dan hati menjadi mati.

Dengan banyak makan, hati menjadi hitam, karena terkena asap pembakaran di perut. Seperti penggorengan yang terkena asap api. Begitu pula hati menjadi mati, karena kebanyakan makanan dan minuman. Seperti tumbuhan yang terlalu banyak disiram air. 

Banyak makan dapat membawa seseorang cenderung kepada kemungkaran.

Karena seseorang apabila perutnya kenyang libido dan syahwatnya akan meningkat, matanya ingin melihat hal yang diharamkan dan telinganya ingin mendengar apa yang tidak pantas didengar olehnya. Sedangkan apabila seseorang lapar, anggota tubuhnya akan tenang. Inilah yang dikatakan oleh seorang ulama, “Perut adalah anggota tubuh yang apabila dia lapar maka seluruh anggota tubuhnya kenyang, tenang dan tidak meminta apa-apa. Apabila ia kenyang maka seluruh anggota tubuhnya menjadi lapar, bergejolak dan setiap anggota tubuhnya meminta untuk melampiaskan syahwat/hawa nafsu.”

Ketahuilah! perbuatan seseorang tergantung dari makanannya, apabila masuk makanan yang halal maka yang akan keluar darinya tenaga/kekuatan yang halal dan apabila masuk makanan yang haram maka akan keluar pulalah tenaga/kekuatan yang haram. Apabila masuk sesuatu yang melebihi kebutuhannya maka akan keluar yang berlebihan itu. Makanan adalah bibit dan pekerjaan adalah tumbuhannya.

Banyak makan atau makan yang berlebihan dapat menyebabkan sulit memahami pelajaran. 

Karena perut kenyang dapat menghilangkan kecerdasan. Dan, ini merupakan hal yang sudah diketahui oleh orang-orang yang berilmu.

Seorang apabila banyak makan maka badannya akan sulit dan malas untuk beribadah

Anggota tubuhnya akan lemas dan matanya akan mengantuk. Seperti perkataan seorang ulama, “Apabila perutmu selalu kenyang, bersiaplah menghadapi sakit.”

Banyak makan akan menghilangkan kenikmatan beribadah. 

Junaid al-Baghdadi rahimahullahu taala berkata, “Di antara kalian telah menjadikan makanan sebagai penghalang antara kamu dengan Tuhanmu. Orang yang perutnya selalu kenyang tidak akan pernah merasakan nikmatnya beribadah. Sungguh hal itu tidak mungkin pernah terjadi.”

Makan yang berlebihan dapat membawa seseorang kepada perbuatan haram dan syubhat. 

Sesuai dengan hadist Nabi "Sesuatu yang halal tidak mendatangkanmu kecuali kekuatan. Sedangkan sesuatu yang haram akan membuatmu bertindak serampangan (semena-mena)."

Banya makan Akan banyak menuntut. 

Pertama, hati akan sibuk berpikir untuk mendapatkan makanan. Kedua, menyiapkan makanan. Ketiga, memakan. Keempat, mengeluarkan sisa makanan. Kelima, takut sakit akibat makanan itu.

Dalam hadits Nabi, "Perut adalah sumber segala penyakit dan diet (berpantang) adalah sumber dari segala obat." Selain itu, makan berlebihan menyebabkan seseorang menjadi budak dunia dan rakus.

Banyak makan akan berlanjut dengan menghadapi kesulitan dalam sakaratul maut. 

Diriwayatkan, “Sesungguhnya beratnya sakaratul maut tergantung dari kelezatan hidup (di dunia).”

Banyak makan dan Dikuranginya pahala di akhirat

Sebesar apa yang kamu terima di dunia, maka itu akan mengurangi bagianmu di akhirat. Allah berfirman, "Kamu telah menghabiskan rejekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya." (al-Ahqaaf [46]:20)

Banyak makan Akan mengalami penghisaban yang lama pada hari kiamat. 

Sesungguhnya haramnya dunia adalah hukuman, halalnya adalah hisab dan perhiasannya adalah kehancuran dan kerugian.

Yang tersebut di atas adalah berbagai bahaya dan penyakit yang disebabkan oleh makan yang berlebihan dari makan makanan yang halal, dan satu penyakit dari berbagai penyakit di atas cukuplah bagi kita untuk takut dan berhati- hati.

Oleh karena itu, lihatlah yang ada pada dirimu dan berhati-hatilah agar tidak terperosok dari sesuatu yang haram. Langkah pertama, jauhkan dari sesuatu yang syubhat agar terhindar dari api neraka yang menyala-nyala. Kemudian hindari secara berlebihan dari sesuatu yang halal, agar terhindar dari fitnah (cobaan) dari penyakit-penyakit ini. Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan kepada kita.

Siapakah yang dapat mengembalikan tali pelanaku dari nafsu yang sesat. Sebagaimana dikembalikan tali pelana kuda dengan kekang kuda.

Jangan biarkan dirimu terjerumus dalam kemaksiatan dan kendalikan syahwatmu. Sesungguhnya makanan dapat menguatkan syahwat.

Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan ia akan tetap menyusu. Bila kau sapih ia akan berhenti menyusu itu.

Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia berkuasa. Jika (nafsumu) berkuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu tercela.

sumber hadits ini yang kuat. Dalam kitab Kasyf al-Khafa’ dikatakan: perkataan, “Perut adalah rumahnya segala penyakit dan diet adalah kepalanya segala obat.” tidak dapat disandarkan kepada nabi. Akan tetapi ini merupakan perkataan Harits bin Kaidah, dia seorang dokter berkebangsaan Arab.

Gembalakan ia, bagai ternak dalam amal budi. Janganlah kau menggiring dia ke ladang yang dia sukai.

Berapa banyak kelezatan bagi seseorang dapat membunuhnya. Karena ia tidak mengetahui bahwa racun ada di makanan yang lezat.

Takutlah akan tipu daya dalam lapar dan kenyang. Seringkali rasa lapar lebih buruk daripada kekenyangan.

Lawanlah hawa nafsu dan setan, durhakailah. Bila mereka tulus menasehatimu, curigalah.

Jangan kau taati mereka sebagai musuh atau kawan. Karena kau tahu bagaimana tipu daya musuh dan kawan.

Kutinggalkan sunnah nabi yang sepanjang malam beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram

Karena lapar nabi mengikat pusarnya dengan batu. Dan dengan batu beliau mengganjal perutnya yang halus itu.

Beliau menolak harta yang dibutuhkan, maka bertambahlah kezuhudann beliau. Kendati butuh kepada harta namun beliau tidaklah merusak kesuciannya.

Bagaimana mungkin nabi butuh pada dunia. Padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada.

Muhammmad lah pemimpin dunia akherat. Pemimpin jin dan manusia, bangsa Arab dan non Arab.

Tuesday, November 26, 2013

no image

Metode Pendidikan Seks dalam Islam

Pada kesempatan ini akan dipaparkan tentang pendidikan seks menurut ajaran Islam yang datangnya dari Allah SWT. Allah Subhaanahu Wa Ta'aala tidak membiarkan manusia tanpa petunjuk dalam berbagai urusan kehidupannya. Dalam masalah itu tidak ada perbedaan antara yang hina dan yang mulia, karena Dialah yang memberi perlindungan dengan perhatian dan penjagaan-Nya, sejak mulai dari air mani yang terdapat dalam rahim yang gelap sampai berpindah ke dalam kegelapan alam kubur.

"Dari setetes air mani, Allah menciptakannya lalu menentukanya, kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur" (Qs. 'Abasa (80): 19-21)

Dan yang sungguh aneh, kebanyakan kita membuat hal yang aneh. Dari kutipan beberapa buku tentang ilmu jiwa. Dalam buku itu terdapat meteri tentang pendidikan seks.  Yang harapannya adalah dari buku-buku itu mau mengarahkan kepada pembinaan Islam - yang ada hubungannya dengan seksualitas yang cukup, dengan pengetahuan yang bisa dipahami dan sistematis sesuai dengan fase-fase kehidupan manusia dari masa anak-anak sampai dewasa. Namun, hasilnya sangat menyesakkan dada, di mana perhatian para peneliti yang mengetahui bahwasannya Islam bukan saja merupakan nasihat-nasihat yang mendorong untuk berakhlak, namun merupakan jalan hidup yang sempurna itu sangat sedikit sekali.

Ada sebuah asumsi bahwa mereka tidak menyinggung ajaran Islam dalam masalah pendidikan seks ini, dikarenakan mereka belum membaca prinsip-prinsip dalam Islam, dan mereka tidak memiliki latar belakang Islam. Hal ini merupakan ketidaktahuan yang tidak bisa ditolelir.

Ajaran Islam tergambar dalam A1 Qur'an dan sunnah yang berbicara tentang asal-usul manusia dan perkembangan penciptaannya dalam perut ibunya. Allah Ta'ala berfirman,

“Dan sesunguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah Pencipta Yang Paling Baik " (A1 Mu'minun (23): 12-14)

Berkenaan dengan tempat memancarnya air mani Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada" (Ath-Thaariq (86): 5-7)

Islam juga berbicara tentang segala macam pengetahuan yang diperlukan manusia dalam masalah ini,

Di antara tata krama yang mulia sebagai pendidikan Allah bagi kaum muslimin agar mereka mendidik anak-anak mereka adalah firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala,

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian luarmu di tengah hari dan sesudah sembahyang isya (itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu itu). Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. "(An-Nur (24): 58-59)

Dalam dua ayat ini Allah Azza wa Jalla mengajarkan kepada kaum muslimin tata krama yang mulia, di mana anak-anak yang mumayyiz (yang sudah mengerti) tapi belum dewasa harus minta izin kalau mau bertemu dengan keluarganya dalam waktu yang disebutkan tadi. Karena, pada waktu itu dia berpeluang untuk melihat aurat, karena waktu-waktu itu merupakan waktu istirahat, membuka pakaian, mengganti pakaian atau waktu suami istri memenuhi kebutuhannnya.

Dzat Yang Maha Tahu dan Maha Mengawasi rahasia-rahasia jiwa telah membuat larangan-larangan dan batasan-batasan, sehingga tidak mengotori pikiran anak-anak dan tidak menyibukkan mereka dengan pikiran-pikiran ini sebelum waktunya. Seorang anak dalam usia ini sangat cenderung untuk senang bertanya-tanya dan mengetahui apa-apa yang ada di sekelilingnya yang masih tertutup. Kita sudah mengetahui bahwa anak-anak yang dewasa sebelum waktunya merupakan hasil menyalahi tata krama Islam dalam pendidikan dan pengarahannya.

Ketika seorang anak menginjak dewasa, Islam tidak membiarkan mereka tanpa petunjuk dalam urusan yang berhubungan dengan seks. Hal-hal yang perlu dikuasai oleh mereka dalam realitas kehidupan di mana mereka hidup. Seorang anak sebelum balig (dewasa) harus mempelajari hal-hal yang membatalkan wudhu, dan harus belajar untuk kesiapan masa dewasa, bahwa kedewasaan adalah masa taklif (pembebanan kewajiban agama) dengan ancaman hukuman dari Allah. Pada saat itu dia harus mempertanggung jawabkan segala amalnya. Tanggung jawab seseorang di hadapan dirinya dan dihadapan masyarakatnya. Dia juga harus belajar bahwa mimpi bersetubuh itu merupakan hal-hal yang mengharuskan dirinya melakukan mandi besar. Selain itu, dia juga harus mengetahui bahwa mimpi bersetubuh itu merupakan gejala alami yang terjadi pada laki-laki dan perempuan, dan itu bukan merupakan suatu kesalahan atau kejahatan yang menimbulkan hukuman bagi para pemuda dan pemudi. Dan seorang gadis juga harus belajar bahwa berakhirnya haidh merupakan hal yang mengharuskan dirinya melakukan mandi besar dan merupakan tanda kesempurnaan sebagai seorang perempuan serta tandanya dia mulai memikul tanggung jawab. Hal itu bukan merupakan sebab mulai terbentuknya keterikatan jiwa atau lahirnya berbagai kecemasan, sebagaimana dipropagandakan oleh orang-orang yang menganjurkan pendidikan seks.

Kita tahu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam selalu mengajarkan pengetahuan-pengetahuan ini yang harus diketahui untuk keselamatan dunia dan akhirat -mengajarkannya tanpa mempersulit dan berbelit-belit.

Abu Dawud meriwayatkan bahwa Ummu Sulaim dari perempuan Ansor yakni ibunya Anas bin Malik berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu menyampaikan kebenaran, bagaimana menurutmu jika seorang perempuan mimpi seperti mimpinya laki-laki, apakah dia harus mandi besar?" Siti Aisyah berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Hendaklah dia mandi besar jika ada air." Siti Aisyah berkata, "Saya menghadapkan muka kepada perempuan itu dan berkata, "Bagaimana engkau ini, apakah perempuan suka mimpi hal itu?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapkan mukanya kepada saya seraya bersabda, "Semoga engkau beruntung wahai Aisyah, dari mana adanya kesamaran?"

Begitulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya dan menjawab dengan tanpa beban, baik dari Rasul sendiri atau dari penanyanya, baik laki-laki maupun perempuan dalam masalah-masalah ini, bahkan Siti Aisyah radhiyallaahu 'anha menceritakan Asma binti Yazid ketika dia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang mandi besar dan menyelidiki bekas darah haidh untuk dibersihkan, "Perempuan yang paling bagus adalah perempuan Anshar, di mana mereka tidak dihalangi oleh rasa malu untuk mendalami agama."

Jika kita merujuk kepada buku-buku fiqih Islam, kita menemukan bahwa para ulama Islam berbicara mengenai tata krama pergaulan biologis antara suami istri dan mereka membahas petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini. Dan pembahasan para ulama dalam bidang ini telah banyak sekali terdapat di berbagai buku. Sebagai contoh Ibnu Qudamah berkata dalam ringkasan buku "Minhaajul Qaasidin" milik Jamaluddin bin Aljauzi dalam pembahasan mengenai tata krama bergaul dengan istri:

"Hendaklah seorang suami bermain dan bersenda-gurau dengan istrinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terkadang lomba berjalan dengan Siti 'Aisyah radhiyallaabu anha dan beliau juga senantiasa bersenda gurau dengan istri-istrinya. Beliau berkata kepada Jabir, "Hendaklah engkau menikah dengan perawan agar engkau bisa saling bercumbu rayu." Dan yang jelas bahwa hal itu dilakukan dalam batas-batas tertentu, jangan sampai berlebihan dalam bermain, karena bisa menjatuhkan wibawa suami di hadapan istrinya, namun hendaklah mengambil jalan tengah.

Dan Islam juga berbicara tentang tata krama jima' (koitus) yang bersandar pada A1 Qur'an dan Sunnah, Ibnu Qudamah berkata:

"Dianjurkan memulai jima'/bersetubuh/berhubungan intim suami istri dengan membaca bismillah, berpaling dari arah qiblat, hendaklah dia dan istrinya ditutupi dengan kain, jangan telanjang. Selain itu, mulailah dengan bercumbu rayu baik dengan pelukan dan ciuman. Sebagian ulama ada yang menganjurkan bahwa berjima' afdhal dilakukan pada hari jumat. Kemudian jika suami telah memenuhi hajatnya (ejakulasi) maka hendaklah ia menunggu istrinya untuk memenuhi hajatnya, karena biasanya istri terlambat dalam ejakulasinya."

Di antara tata krama yang lain, hendaklah perempuan yang sedang haidh menutup dengan kain (sejenis sarung) dari pinggang sampai lututnya, jika suami ingin "menikmati" istrinya. Selain itu tidak diperbolehkan berjima' dengan istri ketika dia sedang haidh dan juga dilarang berjima' (koitus) lewat dubur (lubang belakang).

Pada saat yang bersamaan, ketika Islam secara bertahap mengembangkan pengetahuan-pengetahuan seksualitas ini bagi kaum muslimin, Islam juga mendidik kepada mereka untuk memelihara dan memiliki rasa malu serta mengajak selalu untuk menjaga kemaluan dari berbagai penyimpangan. Dan hendaklah tidak membuat hati kita aneh, bahwa Islam juga memberi haluan bagi masyarakatnya untuk membersihkan dan melenyapkan berbagai gejolak dan kekacauan dalam jiwa.

Dari hal itu kita simpulkan bahwa pendidikan agama merupakan satu-satunya lingkungan yang paling aman. Sebab, di dalamnya dipelajari pengetahuan-pengatahuan ini secara bertahap disesuaikan dengan tingkatan akal dan waktu bagi para pemuda Islam. Dan dalam masalah ini Islam tidak menghalangi masuknya ilmu-ilmu lain seperti faktor-faktor pendukung dalam penjelasan ayat atau memberi penjelasan tentang penyakit-penyakit seksual yang disebabkan oleh penyimpangan seks. Namun, hal ini masih tetap harus menjaga batasan-batasannya.

Morris Bouky, seorang dokter Perancis berkata dalam bukunya "kajian kitab-kitab suci dalam pengetahuan-pengetahuan kontemporer":

"Zaman kita sekarang meyakini bahwa mereka telah melakukan banyak penemuan-penemuan dalam berbagai bidang, dan mereka juga yakin bahwa sekarang mereka telah maju dalam masalah yang berkaitan dengan pendidikan seks. Sedangkan masa-masa yang telah lampau itu dianggap masa yang sangat teralienasi dalam kegelapan, terutama dalam masalah seksualitas ini.

Banyak orang yang mengatakan bahwa agama-agamalah yang bertangung jawab dalam masalah ini, kecuali apa yang kita sampaikan-merujuk kepada masalah keturunan manusia dalam A1 Qur'an dan perbandingannya dengan ilmu modern- ini suatu bukti bahwa sejak kurang lebih empat belas abad yang lalu Islam telah terlebih dahulu memberi pengetahuan masalah seksualitas ini kepada manusia secara teoritis, karena Islam memperbolehkan berbicara mengenai keturunan manusia, tentunya sebatas kemampuannya. Sebab, pada waktu itu belum terdapat pengetahuan-pengetahuan yang menjelasan secara psikologis. Di samping itu, penggunaan bahasanya pun masih sangat sederhana dan mudah dipahami oleh para pendengar secara spontan, sehingga mereka bisa paham apa yang disampaikan."

Morris juga berkata, "Tulisannya juga tidak mengabaikan nilai-nilai ilmiah, bahkan kita menemukan bahwa di dalam A1 Qur'an terdapat perincian-perincian tentang kehidupan keilmuan terutama tentang etika yang harus diikuti manusia dalam berbagai segi kehidupannya. Dan Al Qur'an juga tidak meninggalkan masalah kehidupan seks. Ada dua ayat al-Qur’an yang khusus berhubungan dengan seksualitas. Dan dalam masalah ini al-Qur'an menggunakan kata-kata yang menghubungkan antara kejelasan dan keharusan menjauhi kata-kata yang vulgar (terang-terangan dan terbuka).

firman Allah Ta'ala,

"Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada" (Ath-Thaariq (86): 6-7)

Redaksi ini lebih halus dari redaksi-redaksi yang berbahasa Perancis dan Inggris ketika ingin mencapai makna ini. Kemudian dia berbicara tentang haidh dan maksud-maksudnya yang berhubungan dengan seksual dalam firman Allah Ta'ala,

"Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah haidh itu adalah kotoran. " (Qs. A1 Baqarah (2): 222)

Setelah dipaparkan tentang segi-segi yang agung dalam ajaran Islam mengenai pendidikan seks, maka akhirnya sampai pada kesimpulan:

"Berdasarkan semua ini, maka pembicaraan teoritis yang khusus mengenai keturunan dan arahan-arahan ilmiah yang disampaikan A1 Qur an: terutama yang berkenaan dengan kehidupan seksualitas suami istri, maka kita dapat melihat bahwa tidak ada satu ayatpun yang telah kita sampaikan itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan kontemporer atau keluar dari pembicaraan-pembicaraan secara ilmiah.

Doktor Samuel Migoris berkata dalam bukunya "A1 Muraahiq A1 Mishri", dia menyampaikan pembicaraannya mengenai sumber-sumber pengetahuan seks bagi pemuda-berdasarkan penelitian, seraya berkata:

Murid-murid sekolah agama menyatakan bahwa mereka menemukan jawaban dari berbagai macam pertanyaan seputar materi seksualitas dalam mata pelajaran yang harus mereka pelajari. Selain itu, mereka juga dapat menemukan jawaban dalam buku-buku fiqh yang menjelaskan materi tentang keluarnya air mani dan jima', kapan mereka harus mandi besar dan juga mengetahui masalah-masalah pokok-pokok dan prinsip-prinsip yang sedang berkembang.

Jadi, ajaran islam memberikan jawaban secara komprehensif dalam masalah ini kepada kita dan seperti apa yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada kita, Dialah Tuhan Yang memberi bentuk kepada segala sesuatu kemudian memberinya petunjuk.

Sebelum pada akhir dari pokok materi pendidikan seks yang penting ini, mari kita bersama-sama untuk menyebarkan peradaban seks sesuai dengan ajaran islam, "Di samping itu diharapkan kepada pemerintah-pemerintah yang muslim untuk membersihkan sarana-sarana pengetahuan tentang itu, karena kita yakin mereka juga lebih tahu hal itu akan mebiarkan faktor-faktor perusak generasi muda dan akan membunuh semua arti kesesuaian jiwa dan keselarasan sosial.

Semua paparan dan anuuran di atas tidak akan mengobati penyimpangan-penyimpangan seksual, namun hendaklah kita mendatangi rumah dari pintunya (memulai lewat jalurnya), dan sebelum menuntut untuk menyebarkan kebudayaan seks, maka kita menuntut untuk meninggikan kedudukan seks ini dan mensucikan genangan airnya yang mengalirkan berbagai kerusakan untuk membunuh ruh harga diri dan ruh kemuliaan.

Masalahnya bukan membutuhkan penenang sementara, sebab penenang itu sangat lama untuk mengobati orang yang sakit. Dengan demikian, maka penenang itu akan membiarkan penyakit terus merusak darah dan akhirnya melahirkan berbagai macam kerusakan.

Obatilah penyakit-penyakit yang telah menimpa kita, baik yang besar maupun yang kecil. Keraskanlah suaramu di hadapan para penguasa muslim, agar mengembalikan masyarakatnya kepada fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu dan mengajak kepada Islam untuk mengikuti syari'at Allah dan hidup dalam lindungannya. Hal ini dilakukan karena masyarakat-masyarakat yang membenci jalan Allah itulah yang menyebarkan bau busuk seksual. Adapun masyarakat yang mukmin, dialah yang menyebarkan harumnya kesucian dalam semua seginya. Allah selalu mengatakan yang benar dan menunjukkan jalan yang lurus.
no image

Pandangan Islam tentang Pendidikan Seks

"Ajarilah anak-anakmu tentang seks atau dalam bahasa lainnya adalah pendidikan tentang seks", inilah akhir teriakan yang terdengar di dunia Islam. Ketika kita membaca dan mendengar teriakan ini, maka langsung mengingatkan kita pada perkataan Abu Nuwas ketika dia mau meminum jamunya seraya berkata :

Engkau harus meninggalkan mencaci saya, karena cacian adalah rayuan
dan berobatlah dengan sesuatu yang sebenarnya adalah penyakit.

Selain itu, perkataan 'Asya ketika berkata :
Sekali saya minum dari gelas yang penuh kenikmatan
Dan dalam kesempatan lain saya harus minum lagi untuk mengobati.

Berobat dengan arak akan menambah kecanduan terhadap arak, mengobati seks dengan seks akan menambah dorongan seksualitasnya dan mengobati orang yang sakit dengan banyak makan akan menambah nafsu makannya sampai mati.

Inilah pembicaraan mengenai tirai seksualitas di Negara-negara muslim. Dan semoga teriakan ini bukan berasal dari hasil pemikiran ilmuwan besar kita namun hanya yang datang dari Barat dan yang telah hancur. Sebenarnya, masalah ini adalah hanya masalah waktu yang menunggu hilang atau matinya peradaban materialisme.

Suatu hal yang sungguh aneh, bahwa contoh "kasih sayang" di dunia ini baik pemikiran ataupun realitas adalah bentuk kasih sayang yang diambil dari Barat. Dan kasih sayang itu adalah bentuk kasih saying yang telah usang. Dengan demikian maka kita memulai sebagaimana mereka telah memulai dan bukan kita memulai sebagaimana mereka telah berakhir. Seakan-akan, pada saat ini kita telah menaklukkan angkasa luar, membuat bom nuklir dan lebih maju di bidang kemanusiaan, dan tidak tertinggal juga adalah pendidikan seks.

Hasil-hasil yang disesalkan di negara-negara yang menganut paham seks bebas:

Di Swedia, anak-anak belajar seks sejak usia tujuh tahun sampai enam belas tahun. Apa yang terjadi?

Di sana, setiap gadis dapat memanggil seorang pemuda mana saja yang dia inginkan ke rumahnya dengan sepengetahuan ayah, saudara-saudara dan saudari-saudarinya. Dan selanjutnya, persentase pernikahan menurun, kelahiran anak di luar nikah mengalami peningkatan dalam jumlah yang besar, hasil penelitian yang menakutkan menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri dan penyakit gila semakin bertambah, klinik penyakit hati telah berubah menjadi rumah sakit jiwa dan akal.

Apakah pendidikan seks telah berhasil-wahai para pemimpin-dalam menyelamatkan para generasi muda dari penyimpangan seks dan meluruskan pemahaman mereka tentang seks dan menyalurkan dorongannya sesuai dengan jalannya yang benar, atau justru pendidikan seks ini merupakan kayu bakar yang menjerumuskan mereka ke dalam neraka syahwat yang senantiasa berkata "apa ada yang akan menyusul?"

Hakim Ben Lindsey yang diberi kesempatan leluasa untuk meneliti akhlak generasi muda Amerika, karena kedudukannya sebagai ketua mahkamah kriminalitas anak-anak (Juvenile Court) di Denver, menulis dalam bukunya "Penyimpangan generasi muda sekarang" (Revolt of modern youth): "Anak-anak di Amerika telah dewasa sebelum waktunya dari usia yang masih sangat muda dan dorongan seksualitas mereka sudah sangat tinggi." Hakim ini juga telah menganalisa tentang keadaan 312 anak-anak perempuan dengan menggunakan metode sampling. Dari penelitian itu dapat diketahui bahwa 255 anak perempuan di antara mereka telah dewasa dalam usia antara 11 dan 13 tahun. Pada diri mereka telah nampak tanda-tanda keinginan untuk melakukan hubungan seksual, kebutuhan-kebutuhan seksualitas dan kebutuhan-kebutuhan fisik lainnya yang biasanya tidak terdapat pada anak-anak yang berusia 18 tahun atau di bawahnya.

Doktor Edith Hooker, dalam bukunya yang berjudul "Hukum-hukum seks" (Laws of Seks) juga menyebutkan, "Tidak asing lagi bahkan pada orang-orang yang berpendidikan sekalipun, bahwa anak anak perempuan yang sudah berusia tujuh atau delapan tahun telah berteman secara intim dengan anak laki-laki. Mereka selalu mengotori dirinya dengan perzinaan."

Dalam masalah ini, seorang penulis Amerika berkomentar, "Kondisi kehidupan kebanyakan orang sekarang sangat jauh sekali dari fithrah. Kondisi ini telah membuat para pemuda dan pemudi merasakan getaran cinta dalam jiwa-jiwa mereka sejak usia lima belas tahun. Ini adalah suatu perjalanan yang sangat buruk, karena kecintaan pada masalah-masalah seksual yang tumbuh dalam diri mereka sebelum waktunya terkadang berdampak tidak baik bagi mereka. Bahkan, dampak ini selamanya akan kembali kepada mereka dengan dampak yang lebih buruk dari yang didapatkannya. Minimal, anak-anak perempuan yang masih berusia anak-anak akan melarikan diri dengan teman-temannya atau menikah dalam usia yang masih muda. Jika mereka gagal dan kecewa dalam bercinta, maka mereka akan bunuh diri.

Tentang buku-buku seks yang dipelajari di sebagian sekolah-sekolah di Inggris, surat kabar "Tribuun" menyampaikan, "Anak-anak yang berusia delapan tahun telah mendapatkan pendidikan seks pada sebagian sekolah favorit di Inggris."

Ada lima buku tentang seks yang berbeda satu sama lainnya dalam hal tingkatannya. Sejak usia ini, murid laki-laki dan murid perempuan belajar tentang kandungan pada manusia dan hewan.

Pada buku kedua dan ketiga khusus untuk murid-murid yang berusia sepuluh tahun sampai empat belas tahun. Kedua buku itu mengajarkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Buku yang keempat dan kelima, keduanya mengajarkan penyakit-penyakit kelamin dan tanggung jawab masyarakat terhadap seksualitas dan tentang penyimpangan seks. Kemudian, bagi mereka yang berusia di atas enam belas tahun, mereka akan diajarkan "cara-cara menghindari kehamilan."

Inilah salah satu macam bentuk kebudayaan seksualitas yang sebagian dari kita ingin membekali anak-anaknya dengan pendidikan semacam ini. Bahkan, sebagian yang lain berpendapat lebih dari itu seraya berkata kepada semua orang tua, "Tidak mengapa seorang bapak itu mengganti pakaiannya di depan anak perempuannya yang masih kecil tapi sudah tahu apa arti aurat."

Marilah kita melirik ke negara Inggris yang telah sampai pada tingkatan di atas. Hal itu untuk melihat "kajian kewanitaan" yang keluar dari lubuk hati orang-orang Inggris guna menyerang pendidikan seks dan menolaknya dengan keras, sebab dampaknya sangat berbahaya bagi generasi muda di sana.

Sebuah surat kabar yang biasa mempromosikan buku menyampaikan, "Di London telah terbit sebuah buku baru yang mempunyai pengaruh besar bagi orang tua. Buku itu mengajak untuk menolak pendidikan seks bagi anak-anak mereka di sekolah-sekolah. Buku ini juga mengajak untuk kembali kepada keutamaan dan kepada prinsip-prinsip klasik, mengajak para gadis untuk menghormati dirinya dan menjauhi gelombang permisif (hidup serba boleh) yang sudah mendominasi negara-negara Barat dalam waktu yang cukup lama.

Buku itu menyampaikan:

"Akan lebih mulia bilamana seorang laki-laki berpikir bahwasannya dia harus menikahi gadis yang bukan "sisa" orang lain. Namun ada sebuah ungkapan bahwa yang "ngetrend" sekarang adalah mempelajari seks, kebebasan membicarakannya serta kebolehan mempraktekkannya. Padahal, asumsi ini sebenarnya hanyalah lelucon dan senda gurau belaka.

Buku ini dikarang oleh dua orang perempuan, yaitu Doktor Margaret Wet dan Janet Kid. Keduanya mengajak semua gadis untuk menolak semua ajakan laki-laki yang sudah tercium baunya akan membawa kepada bencana kehidupan. Keduanya mengajak semua orang tua untuk mengajari anak-anaknya sejak kecil untuk merasa malu membicarakan masalah-masalah seks dan mengajak untuk menjauhi gelombang menghancurkan yang bernamakan "kecintaan untuk menyebarkan pendidikan seks di sekolah-sekolah yang dalam kenyataannya telah dimulai di beberapa sekolah Eropa."

Buku itu juga mengantisipasi fase berbahaya dalam kehidupan gadis-gadis, yakni fase-fase remaja.

Ketika seorang gadis berusia enam belas tahun, dia akan merasa kesulitan untuk mengambil keputusan yang pasti dalam menghadapi masalah-masalahnya. Biasanya, dia akan tersesat dan berbuat menurut perasaannya dan bukan menurut akalnya.

Kedua pengarang ini berkata dalam bukunya yang berjudul "Ajaran seksualitas yang benar", Semua orang tua harus mendekati anak-anaknya dengan cara yang membuatnya lebih mudah di percaya dan mudah diterima akal. Selain itu juga, mereka harus berusaha menanamkan dalam diri mereka suatu pelajaran yang mengganti kekhawatirannya terhadap kehidupan seksualitas dengan menyukai kebersihan dan kesucian guna mempersiapkan kehidupan rumah tangga yang lebih baik. Dan mereka juga harus diyakinkan bahwa kebebasan dari nilai-nilai akhlak itu tidak akan memberi peluang untuk saling percaya di antara dua jenis kelamin yang berbeda (laki-laki dan perempuan).

Buku itu menyebutkan, "Ada seorang gadis yang terjerumus untuk mencoba mencintai seorang pemuda. Dan ceritanya ini sudah sampai kepada orang tuanya, namun dia menyembunyikan keadaannya. Akibat dari hal itu, dia mengalami kesulitan sendirian dan akhirnya dia terjerumus ke dalam kehidupan yang melenyapkan kehormatan, baik kehormatan dirinya sendiri maupun kehormatan orang lain.

Dalam masalah ini kita dapat menemukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan pelajaran praktis kepada umatnya bahwa para pemuda muslim harus membuktikan jati dirinya dan harus diberi kesempatan untuk mengekspresikan jiwanya melalui perbuatan-perbuatan yang bernilai mulia.

Para pengganti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga sangat memperhatikan ajaran ini, sehingga mereka benar-benar memuliakan pemuda, menghargai pemikirannya dan menyertakan mereka dalam mengambil keputusan untuk pekerjaan-pekerjaan yang sangat penting dan mulia.
Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata kepada para pemuda:

"Majelis 'Umar radhiyallaahu anhu selalu dipenuhi oleh para ulama dan para penghafal A1 Qur’an baik yang tua maupun yang muda, hal ini dilakukan agar bisa meminta pendapat dari mereka. 'Umar berkata : Seseorang  jangan menghalangi orang lain untuk mengemukakan pendapatnya, karena pendapat itu tidak dilihat dari muda atau tuanya usia, namun pendapat itu adalah suatu urusan yang diberikan oleh Allah kepada siapa saja.

Dan 'Umar juga berkata, "Kamu sekalian harus memperhatikan pendapat anak-anak muda dan harus mengajaknya bermusyawarah karena mereka memiliki kecerdasan yang bisa menghasilkan keputusan yang baik."

Benar dan tidak aneh dalam masalah itu.

Pendapat seorang pemuda dan pemikirannya, merupakan pemikiran yang cerdas dan tajam karena belum terkontaminasi oleh kehidupan yang membuatnya lemah.

Seorang pemuda dengan pikirannya yang polos dan dengan ruh keimanan yang menyala-nyala dalam jiwanya, ia tidak akan mengenal takut dan ragu-ragu, ruhnya merupakan ruh yang selalu siap untuk maju bukan untuk mundur, menghadap bukan membelakangi dan sanggup menghadapi bahaya dalam kehidupan sampai titik darah penghabisan.

Oleh karena itu, dengan pemikiran dan aqidahnya, dia sanggup membangunkan ummat dari tidurnya dan mampu menggerakkan harapan untuk menuju masa depan yang lebih baik.

Pemberontakan seorang pemuda Ibrahim terhadap berhala-berhala yang dijadikan tuhan dan menghancurkannya, tidak lain hanyalah pemikiran baru yang membangunkan orang-orang yang tidur dan menyadarkan orang-orang yang terlena bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah.

Penolakan pemuda A1 Kahfi atas berhala-berhala yang kokoh, juga tidak lain hanyalah merupakan penolakan atas pemikiran-pemikiran yang busuk dan rusak serta untuk menghidupkan fithrah yang baru dimana panjinya dibawa oleh para pemuda.

"Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalau demikian (menyeru kepada selain Allah), kami telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. (QS. Al Kahfi (18):14)

"(Tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Qs. Ar-Ruum (30): 30)

Selama seorang penulis menyimpan gambar telanjang di jilid buku atau menyimpan berbagai pemandangan organ tubuh laki-laki dan perempuan, menyimpan gambar selaput vagina perempuan atau gambar alat-alat pencegah kehamilan, maka mereka akan selalu mengira bahwa hal itu akan menyelamatkan pemuda dari kebodohannya tentang seks atau akan memecahkan masalah-masalah seksualitas.

Mereka menyampaikan dalam buku-buku dan majalah-majalahnya contoh tulisan-tulisan yang menjelaskan bahwa para pemuda tengah mengalami kelainan seks, masyarakat telah berbuat jahat kepada mereka dan mereka merupakan korban kebodohan seksualitas

Dan kami menasehatkan kepada para propaganda pendidikan seks dengan gambaran yang terdahulu, khususnya doktor-doktor dalam bidang seks, bahwa mereka akan terjerumus seperti "Sigmund Frued" yang menyamakan antara keadaan orang-orang yang sakit dengan orang-orang yang sehat.

Benar, ada pemuda yang memiliki penyakit-penyakit yang berhubungan dengan seksualitas dan penyakit ini merupakan keadaan khusus yang harus diobati oleh spesialis seks, dan mereka memiliki penyakit-penyakit ini bukan karena kekurangtahuan tentang seks ini.

Jika kita meneliti "Pendidikan Seks" dengan berbagai asumsi-asumsi, dan kita mengajarkannya kepada murid laki-laki dan perempuan, apakah seorang propaganda pendidikan seks akan bisa menjamin kepada kita bahwa para pemuda dan pemudi kita tidak akan melakukan percobaan untuk membuka rahasia yang selalu memenuhi pikirannya dan mengisi khayalannya, terutama dalam kondisi yang menakutkan seperti sekarang ini, di mana segala sesuatu akan mendekatkan kepada masalah seks dan mendorong kearah perbuatan itu, apalagi didukung dengan mudahnya jalan untuk mendapatkannya.

Dari pemaparan yang terdahulu kita telah mengetahui apa akibat dari lingkungan yang selalu membangkitkan gairah dan bagaimana keadaan anak-anak yang telah dewasa sebelum waktunya dewasa. Hal itu dikarenakan kuatnya cara-cara yang menakutkan dan maraknya berbagai kegilaan dan kejelekan-kejelekan yang memenuhi pendengaran dan penglihatan serta hati anak-anak dan orang-orang dewasa. Bagaimana menurut kalian jika hal itu cukup menjadi sebuah pelajaran?

Thursday, November 14, 2013

no image

Penanggulangan Sementara pada Penyimpangan Seksual

Untuk menangani masalah penyimpangan seksual hanya untuk sementara saja adalah dengan cara sebagai berikut :

Cara pertama adalah puasa, "Barang siapa yang belum mampu maka hendaknyalah berpuasa, karena puasa bisa menjadi benteng bagi dirinya (dapat menundukkan syahwat)." Memang, di puasa ini terdapat pengaturan kekuatan keinginan yang menjadikan pemuda berada di dalam kendali instingnya yang liar. Selain itu, di dalam puasa terdapat pendidikan jiwa akan adanya pengawasan Allah Azza wa Jalla. Dan pengawasan ini, apabila telah berakar di dalam jiwa, maka dia akan menjadi penjaga yang luhur di dalam jiwa manusia. Dengan demikian dia tidak akan mendatangi perbuatan-perbuatan kecuali perbuatan yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla.

Dari sanalah kita dapat memahami bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barang siapa yang berbuka puasa pada salah satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada rukhsah maka Allah memberikan keringaan baginya. Dia tidak diharuskan mengganti puasanya sepanjang masa, akan tetapi hanya sebanyak puasanya yang ditinggalkan saja." (Hadits riwayat Abu Dawud, lbnu Majah dan At-Turmudzi)

Mengapa?

Karena orang yang seperti ini jatuh dalam ujian keinginan, dan dia juga diuji dengan kekalahan dan kegagalan di dalam menghadapi instingnya.

Kita semua menginginkan agar para pemuda tidak memahami arahan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap mereka untuk berpuasa bahwa wajib bagi para pemuda utuk mengganti hari-hari puasa yang ditinggalkannya secara keseluruhan sampai dia menikah. Bukan itu maksudnya. Karena, kalau hal itu dilakukan dapat menahan para pemuda untuk berusaha dan berkreasi atau berproduksi dan pencarian ilmiah. Akan tetapi di sana ada waktu-waktu tertentu untuk melakukan puasa. Setiap kali seorang pemuda itu merasakan dorongan insting yang kuat, maka hendaknya berpuasa walaupun hanya satu hari. Dan puasa ini adalah puasa sunnah dan puasa yang tujuannya untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. 

Dan berikut ini adalah petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai panutan yang baik:

Dari Abdulah bin 'Umar, dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sungguh saya telah menerima kabar bahwa engkau melakukan shalat malam dan berpuasa pada siang hari." Dia berkata, "Saya menjawab, "Benar wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Berpuasalah, dan berbukalah, shalat dan tidurlah. Sesunguhnya di dalam tubuhmu memiliki hak, bagi istrimu juga ada hak, bagi tamumu ada hak. Dan sesungguhnya di dalam tubuhmu memiliki hak, bagi tamumu ada hak. Dan sesungguhnya di dalam perhitunganmu kamu harus berpuasa selama tiga hari di dalam sebulan.” Maka saya menganjurkan dengan sangat kepadamu sebagaimana saya mcnganjurkan. kepada diriku sendin. Dia bertanya, "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya memiliki kekuatan lebih." Maka Rasulullah bersabda, "Berpuasalah setiap minggu tiga hari" maka saya menganjurkan kepadamu sebagaimana saya menganjurkan kepada diriku sendiri. Dia berkata, maka saya berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya memiliki kekuatan lebih." Maka Rasulullah bersabda, "Berpuasalah seperti puasanya Nabi Dawud 'alaihissalaam? Kemudian dia besabda lagi, "Sesungguhnya Nabi Dawud berpuasa sehari dan berbuka sehari." (Hadits riwayat Ahmad)

Cara yang kedua adalah melakukan shalat. Mendirikan shalat di dalam waktu-waktunya tertentu dapat menjadikan dirimu selalu bcrhubungan dengan Allah. Sesunguhnya shalat menjadi pengaman ketenangan dan mecegah dari kejahatan dan kemungkaran. Kesimpulannya, sesunguhnya mengahadap Allah Azza wa Jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan penuh ketaatan dapat menjauhkan kamu dari bisikan syaithan.

Wednesday, November 13, 2013

no image

Penanggulangan Pasti terhadap Penyipangan Seksual

Menikah adalah satu-satunya cara pengobatan yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bagi para pemuda dalam sabdanya, "Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu sudah mampu [untuk menikah] maka menikahlah." Dan tidak ada cara seperti menikah yang sangat efektif untuk menenangkan jiwa dan fisik. Meskipun para ahli jiwa dan para pembawa ilmu dari para pembaharu dan pemikir bersungguh-sungguh melakukan pembahasan tentang jalan keluar bagi kekuatan seksualitas, akan tetapi mereka tidak dapat menemukan selain pernikahan. Karena perkawinan itu adalah ketenangan. Ketenangan dengan makna yang sangat luas. Ketenangan fisik dan ketenangan jiwa, ketenangan perasaan. 
Dan selain cara pemecahan seperti ini maka di anggap cara-cara binatang. Atau percampuran antara dua jenis kelamin atau lainnya dari cara-cara yang berliku-liku. Dengan demikian, tindakan itu tidak lain adalah sebagai tindakan yang serampangan di dalam kegelapan malam. Dan kenyataan yang terang di depan mata kita membohongi pemikiran yang berangan-angan dan yang menutupi dengan penutup pengetahuan, padahal dia bukanlah ilmu apapun.
Dan kesempatan di sini tidak cukup luas bagi kita untuk membicarakannya pokok pembahasan ini. Akan tetapi kami akan memapakan pendapar Dr. Musthafa As-Sibaa’I radhiyallaahu ‘anhu, yaitu pendapat yang cocok untuk dipelajari dan direnungkan. Dr. Musthafa As Sibaa'i di dalam pemaparan percakapannya tentang pernikahan dini berkata:
"Pada kesempatan ini saya ingin berbicara tentang keterbelakangan para pemuda dan pemudi khususnya para siswa dan siswi di dalam perkawinan yang menjamin masa depan mereka, setelah mereka keluar dari pendidikan mereka. Dan ini jelas-jelas bahaya yang bisa mengantarkan kejelekan yang tidak terhingga di dalam masyarakat.
Sesungguhnya apabila perkawinan itu memiliki sarana-sarana yang mudah, dan dapat memutuskan tuntunan-tuntunan yang jelek, maka pernikahan itu bisa menjadi suatu hal yang biasa sekali. Dengan demikian siswa yang dinafkahi oleh bapaknya mampu mengumpulkan istrinya di dalam satu kamar yang tinggal di dalamnya tanpa membohongi orang tuanya.
Kita wajib membedakan antara nikah dan melahirkan anak. Sungguh telah menjadi kemungkinan secara ilmiah terjadinya kelahiran anak-anak sampai waktu di mana suami istri mampu untuk memberikan infaq kepada anak-anaknya.
Yang terpenting adalah menyegerakan para pemuda dan pemudi kita untuk menikah guna menjaga akhlak mereka dari penyimpangan dan menundukkan saraf-saraf mereka serta menjaga dorongan-dorongan kejiwaan yang berbahaya dan memiliki pengaruh bahaya di dalam studi mereka. Selain itu juga dapat mengarahkan mereka kepada perilaku yang baik dalam kehidupan.