Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Metode Pendidikan Islam. Show all posts
Showing posts with label Metode Pendidikan Islam. Show all posts

Friday, July 27, 2018

Keutamaan Ilmu, Para Ahli Ilmu: Tingkat Derajat Besar & Agung

Keutamaan Ilmu, Para Ahli Ilmu: Tingkat Derajat Besar & Agung

Apa salah satu keutamaan ilmu dan keutamaan bagi ahli ilmu yang utama? Pada kesempatan yang lalu telah kami paparkan tentang siapakah yang sebenarnya disebut sebagai orang yang ahli ilmu atau ahlul ilmu. Menyambung bahasan tersebut, berikut ini akan kami sampaikan tentang keutamaan-keutamaan ilmu dan keutamaan bagi para ahli ilmu berdasarkan keteterangan dari sumber Kitabullah al-Qur’an Al-Karim.

Apa salah satu keutamaan ilmu dan para ahlul ilmu?

Salah satu keutamaan ilmu dan para ahli ilmu syariat adalah Tingkat dan derajat yang besar dan agung. Keutamaan ilmu dan Orang berilmu adalah Mendapatkan Tingkatan yang besar dan agung sebagaimana Firman Allah di dalam Al-Qur’an:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ٣٢ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ ٣٣
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama­nama (benda­benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:"Sebutkanlah kepada­Ku nama benda­benda itu jika memang kamu orang yang benar!" Mereka menjawab:"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah SWT berfirman:"Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama­nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya nama­nama benda itu, Allah SWT berfirman:"Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan” (QS. Al Baqarah ayat : 31­33)
keutamaan ilmu syariat
al-quran
Dari Al Qurthubi Rh menafsirkan firman Allah SWT dia tas, beliau berkata: Firman Allah SWT Swt < Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama­nama benda ini> di dalamnya ada mengandung maksud:
Pertama: Firman Allah SWT Swt: < beritahukanlah kepada mereka nama­nama benda itu>. Hal ini berarti bahwa Allah SWT menyuruh untuk mengajarkan kepada mereka nama­nama benda tersebut setelah mengemukakannya kepada para malaikat, agar supaya mereka tahu bahwa dia lebih tahu dengan apa yang mereka tanyakan sebagai peringatan akan keutamaannya dan ketinggian kedudukannya, dan dia yang lebih diutamakan oleh Allah SWT daripada mereka dan mereka di perintahkan untuk bersujud kepadanya serta menjadikan mereka sebagai murid­muridnya dan menyuruh mereka untuk belajar darinya, sehingga dia mendapatkan tingkatan yang besar dan agung dengan menjadikannya sebagai orang yang mendapat sujud, diistimewakan dengan ilmu.
Maksud Kedua yang ada di dalam ayat tersebut di atas menunjukkan akan keutamaan ilmu dan keutamaan orang yang berilmu, dan di dalam hadits sebagai berikut:
وَاِنَّ الْمَلآئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطاَلِبِ الْعِلْمِ
Artinya: “Dan sesungguhnya para malaikat akan menurunkan sayapnya dengan ridha kepada penuntut ilmu”
Maksud dari hadits di atas berdasarkan sumber dari Tafsir Al-Qurthubi I/288-289….artinya  tunduk  dan  bertawadhu’,  dan  sesungguhnya  para  malaikat berbuat  seperti  itu  khusus  hanya  kepada  Ahlul  ilmi  diantara  para makhluk Allah SWT Swt, karena Allah SWT Swt telah melazimi hal itu bagi Adam Alaihis Salaam sehingga dia beradab dengan adab ini. setiap  nampak suatu ilmu pada diri manusia maka para malaikat semakin tunduk dan merendahkan diri serta menghinakan diri sebagai bentuk penghormatan kepada ilmu dan orangnya, dan ridha terhadap mereka di dalam mencarinya dan menekuninya. Ini bagi para penuntut ilmu lalu bagaimana dengan para ulama’ mereka dan Rabbaniyyin diantara mereka? semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk diantara mereka dan masuk di dalam golongannya, sesungguhnya Allah SWT memiliki keutamaan yang besar)
Dari keterangan di atas, maka jelas bahwa ilmu yang sesuai dengan syariat Islam dan juga bagi para ahli ilmu mulia yang benar-benar menerapkan dan mengamlakannya akan mendapatkan keutamaan dari ilmu dan keutamaan bagi ahlul ilmi mendapatkan janji dari Allah SWT yaitu keutamaan berupa kedudukan yang besar dan agung berdasarkan dalil dan firman Allah di dalam Al-Qur’an.
Masih banyak lagi keutamaan ilmu dan para ahli ilmu syariat yang akan kami lanjutkan dalam postingan selanjutnya dalam kategori keutamaan ilmu. Semoga kita adalah bagian dari para ahlul ilmi tersebut. Amiin
loading...

Tuesday, July 24, 2018

Siapakah Para ahli Ilmu dan Berkedudukan Mulia, Andakah?

Siapakah Para ahli Ilmu dan Berkedudukan Mulia, Andakah?

Siapakah yang benar-benar mendapatkan sebutan ahli ilmu dalam Islam berdasarkan dalil firman Allah di dalam AL-Qur’an? Ahlul ilmi atau ahli ilmu sebagaimana yang telah disebutkan oleh dalil­dalil dalam AL-Quran dengan menerangkann keutamaan­keutamaan bagi mereka ahlul ilmu dan tingginya kedudukan mereka serta besarnya pahala untuk mereka, mereka adalah para pengemban ilmu yang mulia ini, yang mereka amalkan dan terapkan pada diri mereka sendiri dan pada manusia dengan menyebarkan dan menyampaikannya.

Serta telah disebutkan dalil-­dalil di dalam Al-Quran bagi orang-orang yang mengetahui ilmu akan tetapi tidak mengamalkannya atau menerapkannya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt dalam surat Ash Shaf ayat 3:

كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣

Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa­apa yang tiada kamu kerjakan” (QS. Ash Shaf : 3).

Siapakah orang-orang yang ahli ilmu atau terpuji serta orang yang tercela?


Maka dapat kita ketahui dari keterangan di atas bahwa orang­-orang yang terpuji ialah mereka para ulama’ yang menerapkan dan mengamalkan ilmunya, dan bahwa orang yang tidak menerapkan dan mengamalkan ilmunya dia termasuk orang yang tercela, bukan orang yang mendapat keutamaan.

walisongo para ahli ilmu
walisongo


Bahkan Allah swt juga menurunkan ayat berkaitan dengan mereka yang tidak menerapkan dan mengamalkan ilmunya, maka mereka menduduki kedudukan orang-orang yang bodoh yang tidak memiliki ilmu sama sekali, yaitu di dalam Firman Allah SWT sebagai berikut:

وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ١٠٢

Artinya: “Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui” (QS. Al Baqarah : 102).

Allah SWT telah memulai dengan mensifati ahlil kitab dengan ilmu melalui huruf taukid qasami (penekanan dan sumpah) (Wa laqad alimu) kemudian menghilangkan ilmu dari mereka (Wa lau kaanuu ya’lamun) karena mereka tidak melaksanakan dan mengamalkan ilmu mereka, maka mereka menduduki kedudukan orang­orang yang bodoh.

Syaikhul islaam Ibnu Taimiyyah Rh mengatakan: (Termasuk sesuatu yang tetap tertanam di dalam pikiran kaum muslimin: Bahwa pewaris para Rasul dan pengganti para Nabi mereka adalah orang­orang yang menegakkan agama secara ilmu dan amal dan dakwah kepada Allah dan Roasul-Nya, mereka itulah sebenar­benar pengikut para nabi, mereka itu kedudukannya menduduki suatu kelompok yang baik di atas muka bumi ini yang telah bersih dan menerima air lalu tumbuhlah rerumputan dan pepohonan yang banyak, sehingga dia dapat membersihkan dirinya sendiri dan membersihkan manusia, mereke itulah  yang mengumpukan antara  bashirah  tentang  agama  dan  kuatnya  dakwah,  oleh  karena  itu mereka adalah para pewaris nabi sebagaimana Allah SWT berfirman tentang mereka:

وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ اِبْراهِيْمَ وَاِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ اُوْلِى الْاَيْدِيْ وَالْاَبْصَارِ

Artinya: “Dan ingatlah hamba­hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan­perbuatan yang besar dan ilmu­ilmu yang tinggi”

Al aidy Adalah kekuatan pada urusan Allah SWT sedangkan Al Abshaar adalah Bashaa­ir (pandangan hati) tentang agama Allah, dengan bashirahlah akan dapat mengetahui dan menemukan kebenaran, dan dengan kekuatan akan meneguhkan penyampaian, pelaksanaannya dan dakwah kepadanya). (Majmu’ Al Fataawa IV/65).

Asy Syathibi Rh berkata: (Ilmu itu termasuk salah satu dari wasilah­ wasilah, bukan maksudnya untuk dirinya sendiri jika dilihat dari segi pandangan syar’I, akan tetapai ilmu itu adalah wasilah (sarana) untuk beramal, dan setiap apa yang disebutkan tentang keutamaan ilmu sesungguhnya itu untuk menguatkan ilmu dilihat dari sisi hal­hal yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf (orang yang mendapatkan beban) untuk melaksanakannya) (Al Muwaafaqaat I/65) cet. Daarul Ma’rifah.

Asy Syaathibi juga berkata: (Ilmu yang dianggap merupakan ilmu syar’iy ­­­ yaitu ilmu yang dipuji oleh Allah Swt dan RosulNya secara umum ­­­ yaitu ilmu yang memotivasi diri untuk beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya untuk mengamalkan sesuai dengan hawanafsunya bagaimanapun keadaannya, akan tetapi ilmu itu mengikat pemiliknya dengan tuntutan­tuntutannya, yang membawanya diatas undang­undangnya baik senang maupun terpaksa. (Al Muwaafaqaat I/69).

Maka dengan demikian telah kita ketahui bahwa ahlul ilmi atau ahli ilmu yang telah disebutkan di dalam dalil-dalil dan firman Allah SWT dengan menerangkan keutamaan mereka adalah para ulama’ yang mengamalkan dan menerapkan ilmunya.

Perlu kita ketahui bersama masih banyak sekali disebutkan di dalam Al Kitab Al-Quran dan dan As Sunnah (hadits Nabi) yang menunjukkan akan keutamaan ilmu serta keutamaan orang­orang yang mengamalkan dan menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.
loading...
Contoh dan Pengertian Ilmu Mulia Vs Tercela dalam Al-Qur'an

Contoh dan Pengertian Ilmu Mulia Vs Tercela dalam Al-Qur'an

Pada kesempatan yang baik ini, kami akan mencoba menguraikan tentang pengertian ilmu mulia atau ilmu terpuji dan juga pengertian dari ilmu tercela sebagaimana yang diterangkan oleh Allah SWT dalam kitabullah Al-Qur'an.

Pengertian Ilmu Mulia dalam Al-Quran

Ilmu yang mulia adalah ilmu yang diturunkan dari langit ke bumi, ilmu yang diwahyukan oleh Allah Swt kepada NabiNya Saw yang berupa Al Kitab dan As Sunnah kemudian cabang­cabang ilmu syar’i dari keduanya.


pengertian ilmu alquran
Kitabullah Al-Quran

Allah Swt berfirman di dalam Al-Qur’an Al-Karim:

وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ وَكَانَ فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكَ عَظِيمٗا ١١٣

“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu” (QS. An Nisaa’ : 113).

Juga firman Allah Swt:

وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٥٢

Artinya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al­Qur'an) dengan perintah Kami.Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al­Kitab (al­ Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al­ Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba­hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu benar­benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Asy Syuura : 52).

Serta firman Allah Swt:

فَمَنۡ حَآجَّكَ فِيهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ

Artinya:“Siapa yang membantahmu tentang kisah 'Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu)” (QS. Ali Imraan : 61).

Maka Allah Swt menerangkan kebenaran adalah hanya yang Allah wahyukan kepada Nabi Saw saja, dan mensifati ilmu ini dengan sifat ruh (kehidupan) dan nur (cahaya), sesungguhnya bisa seperti itu karena dapat menghidupkan hati yang mati dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, sebagaimana firman Allah Swt:

أَوَ مَن كَانَ مَيۡتٗا فَأَحۡيَيۡنَٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورٗا يَمۡشِي بِهِۦ فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٢٢

Artinya: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah­tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali­kali tidak dapat keluar dari padanya” (QS. Al An’aam : 122).

Ibnu Hajar rh berkata: (Yang dimaksud dengan ilmu adalah: Ilmu syar’i yang dapat memberikan manfaat dengan dapat memahami hal­hal yang wajib bagi mukallaf (orang yang mendapatkan beban syareat) dari perkara agamanya dalam peribadatannya dan muamalahnya, dan ilmu tentang Allah dan sifat­sifatNya serta perintah­perintahNya yang harus ditegakkan dan membersihkan diriNya dari kekurangan­kekurangan, semua itu terkumpul dalam ilmu tafsir, hadits dan fiqh) (Fat­hul Baari I/141).

Inilah ilmu yang terpuji secara muthlak, dan inilah yang disebutkan oleh dalil­dalil dengan menerangkan keutamaannya dan keutamaan orang­orangnya, juga ilmu inilah yang dimaksud untuk diterangkan di dalam kitab ini.

Pengertian Ilmu tercela dalam Al-Quran

Waluapun disana ada ilmu yang lain, diantaranya ada ilmu yang tercela secara muthlak, dan ada ilmu yang terpuji sesuai dengan perbedaan keadaannya:

Termasuk yang tercela adalah apa yang disebutkan oleh Allah Swt:

وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ

Artinya: “Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat” (QS. Al Baqarah : 102).

Allah telah menetapkan bahwa ilmu yang membahayakan dan tidak bermanfaat – disini adalah sihir ­, dan termasuk yang tercela juga: Ilmu­ ilmu orang kafir yang menentang Rosul Alaihis Salaam, sebagaimana firman Allah Swt:

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Maka tatkala datang kepada mereka Rosul­ (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan­keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok­olokkan itu” (QS. Al Mukmin : 83).

Sedangkan termasuk yang terpuji dalam beberapa keadaan adalah: Ilmu yang bermanfaat tentang dunia, yang merupakan termasuk fardlu kifayah, seperti ilmu pertanian, industri, kedokteran dan yang semisalnya, inilah yang dimaksud oleh sabda Rosulullah Saw:

اَنْتُمْ اَعْلَمُ بِأَعْمَرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih tahu tentang perkara duniamu” (HR. Muslim).

Demikianlah bahasan kami tentang pengertian ilmu mulia dan pengertian ilmu tercela berdasarkan firman-firman Allah SWT di dalam firman-Nya Al-Quran
loading...

Wednesday, November 9, 2016

Integrasi Faktor Kunci Kemajuan Pendidikan Islam

Integrasi Faktor Kunci Kemajuan Pendidikan Islam

Terdapat tiga faktor kunci keberhasilan dalam pendidikan Islam. Bagaimanakah integrasi di antara ketiga kuci tersebut. Berikut adalah integrasi atau satu kesatuan dati tiga faktor kunci keberhasilan pendidikan Islam.

Yang Pertama, epistemologi manajemen pendidikan Islam, yaitu  integrasi  yang meru uskan, membangun, dan mengembangkan ilmu manajemen pendidikan Islam. Konstruksi ilmu ini dimulai dengan merumuskan konsep, hipotesis, dan teori-teori manajemen pendidikan Islam. Integrasi ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para ahli filsafat manajemen pendidikan Islam, para pemikir pendidikan Islam, dan para pakar manajemen pendidikan Islam guna menumbuhkan, membangun, dan mengembangkan konstruksi ilmu manajemen pendidikan Islam yang masih rapuh dan membutuhkan penguatan-penguatan secara  konseptual,  teoritis, dan aplikatif.

Yang Kedua, epistemologi kesadaran pendidikan Islam, yaitu integrasi yang merumuskan, membangun, serta mengembangkan ilmu tentang kesadaran pendidikan Islam. Integrasi ini dapat dim anfaatkan oleh pemikir pendidikan Islam, pakar pendidikan Islam khususnya pakar psikologi pendidikan Islam untuk  membangun,  menumbuhkan, dan mengembangkan formulasi ilmu tentang kesadaran pendidikan Islam. Kesadaran  pendidikan Islam dalam tataran perilaku  umat Islam adalah penentu keberhasilan dan kemajuan pendidikan Islam.

Yang Ketiga, manajemen kesadaran pendidikan Islam, yaitu integrasi yang mengelola atau membangkitkan kesadaran pendidikan Islam. Bagaimana para pelaku dan penanggung jawab pendidikan Islam dapat disadarkan untuk mengerjakan tugas pendidikan Islam yang melekat pada  mereka secara  sungguh-sungguh dengan ketulusan yang  tinggi. Mereka bisa meliputi siswa/santri/mahasiswa, guru/ ustadz/dosen, kepala sekolah/kepala madrasah/pengasuh pesantren/ pengasuh majelis taklim/pimpinan perguruan  tinggi baik  rektor, dekan, ketua, maupun direktur; Menteri Agama, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kakanwil Kemenag, Kakankemenag, dan juga masyarakat beserta  tokoh-tokohnya.

Yang Keempat, kesadaran  epistemologi pendidikan Islam. Integrasi ini berfungsi  membangkitkan  kemauan  dan  keberanian  untuk membangun konsep dan teori  pendidikan  Islam yang mampu menghadirkan konstruksi ilmu pendidikan Islam. Kesadaran ini penting sekali untuk dimiliki oleh para sarjana pendidikan  Islam  dan ahli atau pakar pendidikan Islam. Masih banyak sarjana atau bahkan pakar pendidikan Islam  yang  merasa  khawatir salah dan belum berani menampilkan teori-teori  pendidikan  Islam hasil karyanya  sendiri.  Mereka  sering  mendalami  karya-karya pendidikan Islam dari penulis dan pemikir lain, tetapi  tidak cukup memiliki keberanian untuk melakukan terobosan-terobosan memformulasikan teori-teori pendidikan Islam. Padahal, dari sisi bekal, banyak di antara mereka memiliki potensi untuk membangun teori pendidikan Islam sendiri, namun dari segi mental sedikit sekali yang berani menanggung risiko akibat dari konstruksi teori pendidikan Islam yang  mereka rumuskan.

Yang Kelima, kesadaran manajerial pendidikan  Islam. Integrasi ini bertugas menyadarkan para pelaku pendidikan . Siswa/santri/mahasiswa mengelola kegiatan belajar,  guru/ustadz/dosen mengelola kelas dan proses pembelajaran, kepala sekolah/kepala madrasah/pengasuh pesantren/pengasuh majelis taklim/pimpinan perguruan tinggi berwenang mengelola lembaga pendidikan yang dipimpin, sedangkan Dirjen Pendidikan Islam dan M enteri Agama berwenang menentukan kebijakan umum dalam mengelola lembaga-lembaga  pendidikan Islam yang ada di seluruh Indonesia  ini.

Kesadaran manajerial memiliki nilai yang sangat signifikan dan penting, sebab manajemen pendidikan Islam merupakan "pendatang baru" dalam dunia keilmuan sehingga melahirkan banyak perhatian dari berbagai  kalangan.

Dalam  berbagai kesempatan, baik pada saat saya mengajar di pascasarjana, menjadi pembicara seminar dan bedah buku, atau mengobrol, sering kali muncul pertanyaan dari berbagai kalangan, apakah manajemen pendidikan Islam itu ada? Pertanyaan ini bahkan pernah diajukan oleh salah seorang pengelola program studi manajemen  pendidikan  Islam.

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi pertanyaan tersebut, pertama, karena mereka belum  pernah  membaca  literatur  tentang manajemen pendidikan Islam yang benar-benar berbeda dari literatur manajemen pendidikan, motifnya berarti tidak tahu; kedua, karena mereka ingin menguji pemikiran, wawasan, dan konsep orang yang ditanya tentang substansi manajemen pendidikan Islam, motifnya pengetesan dan sangat mungkin penanya sudah tahu; ketiga, karena 'pelecehan' terhadap keberadaan manajemen pendidikan Islam yang sarat nilai, sedangkan menurut mereka semestinya bebas nilai.

Apabila motifnya tidak tahu, tentunya harus dijelaskan dengan sebaik-baiknya, agar mereka benar-benar yakin (haqq al-yaqin), bukan hanya ‘ain al-yaqin, 'ilm al-yaqin. Apabila motifnya pengetesan, kita perlu waspada sebab penanya terkadang mencari pengetahuan dengan gaya mengetes. Sedangkan apabila motifnya 'pelecehan' disertai dengan sikap arogan, maka perlu dijawab secara tegas melalui penjelasan-penjelasan yang rasional dan bukti-bukti empiris dan riil. Untuk merespons motif ketiga ini dapat dijabarkan penjelasan  sebagai berikut:

Pertama

Mereka (penanya)  sangat  yakin  bahwa  semua  jenis manajemen bebas nilai, sehingga tidak ada manajemen pendidikan Islam, yang ada hanya manajemen pendidikan. Mereka menganggap bahwa  manajemen  yang benar adalah yang bersifat bebas nilai, dan semua  manajemen  yang  diterapkan  dewasa  ini—termasuk manajemen Islam —adalah m anajemen yang bebas nilai. Identitas Islam tidak akan mampu membedakan manajemen pendidikan Islam dengan manajemen pendidikan. Manajemen pendidikan bersifat universal dan berlaku di lembaga pendidikan apapun, baik lembaga pendidikan Islam, lembaga pendidikan Katolik, lembaga pendidikan Hindu,  dan  lain-lain.

Pandangan dan keyakinan demikian mungkin bertujuan untuk mensterilkan manajemen pendidikan dari nilai dan kepentingan tertentu. Namun entah disadari atau tidak bahwa manajemen pendidikan yang telah kita ikuti dan terapkan selama ini ternyata penuh dengan nilai dan kepentingan tertentu. Apabila dicermati lebih mendalam , manajemen pendidikan yang dianggap steril dari nilai dan kepentingan tersebut ternyata tidak lepas dari nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan kapitalisme sebagai aliran ekonomi yang menguasai dunia.

Pengaruh kapitalisme ini tampak pada tataran doktrin hingga aplikasi seperti pemilihan input yang baik-baik saja pada saat penerimaan siswa dan mahasiswa baru sebagai bagian dari konsep/doktrin mutu (input yang baik, proses yang baik dan output yang baik), komersialisasi biaya pendidikan bagi sekolah/madrasah dan perguruan tinggi yang maju, pengutamaan pada peserta didik yang pandai  dan  lain-lain.  Di sam ping  itu, manajemen pendidikan juga dipengaruhi positivisme yang terlihat jelas seperti pada penetapan penerimaan siswa/mahasiswa, standar nasional pendidikan, dan standar kelulusan.

Kedua

Manajemen ,  manajemen   pendidikan, maupun manajemen pendidikan Islam pada dasarnya membahas perilaku berorganisasi. Perilaku berorganisasi ini termasuk wilayah sosial yang memiliki celah untuk dipengaruhi oleh nilai atau kepentingan tertentu. Tidak ada perilaku berorganisasi yang terhindar dari nilai atau kepentingan. Lazimnya perilaku berorganisasi itu selalu dipengaruhi oleh pikiran orang yang merumuskan   teori-teori organisasi atau orang yang mengendalikan organisasi tersebut. Hal ini memberikan pemahaman bahwa tidak ada bentuk manajemen yang terlepas dari nilai atau kepentingan. Manajemen pendidikan yang selama ini dianggap 'bebas nilai' ternyata justru sangat diwarnai nilai-nilai  kapitalistik dan positivistik.

Ketiga

Adanya pemikiran dan tindakan yang inkonsisten. Umat Islam memandang bahwa Al-Qur'an adalah kitab petunjuk yang dipedomani dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Al-Qur'an menjadi tempat konsultasi dalam masalah akidah, ibadah, dan pranata sosial yang dialami umat. Al-Qur'an telah mengatur berbagai bidang kehidupan manusia, baik politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain. Konsep dan aplikasi pendidikan yang dipengaruhi Al-Qur'an dikenal sebagai pendidikan Islam. Keyakinan dan pengakuan mereka terhadap Al-Qur'an sebagai pedoman dan rujukan dalam kehidupan sehari-hari membawa konsekuensi pengakuan terhadap eksistensi pendidikan Islam.

Jika ditelusuri, maka akan terdapat berbagai sisi yang dapat dipelajari dari pendidikan Islam, misalnya sejarah pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam, pemikiran pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, evaluasi pendidikan Islam, dan manajemen pendidikan Islam. Oleh karena itu, manajemen pendidikan Islam adalah bagian integral dari pendidikan Islam, sehingga wajar adanya jika ilmu  manajemen pendidikan Islam baru memperoleh perhatian besar, karena sebelumnya perhatian dicurahkan pada konstruksi ilmu pendidikan Islam. Pertanyaannya adalah mengapa mereka menerima eksistensi pendidikan Islam tetapi menolak manajemen pendidikan Islam? Pemikiran dan tindakan seperti ini jelas  inkonsisten dan tidak relevan karena keluar dari alur logika.

Keempat

Adanya pemikiran dan  pemahaman dikotomik terhadap sasaran/ruang lingkup petunjuk Al-Qur'an. Pemikiran dikotomik yang dimaksud adalah pemikiran dan pemahaman yang secara tajam membedakan--bahkan mempertentangkan— antara 'pendidikan  Islam'  dengan 'manajemen pendidikan Islam '. Pemikiran dan pemahaman dikotomik berusaha membelah antara  keduanya  menjadi wilayah  keilmuan yang  berbeda, dimana pendidikan Islam sarat  akan  nilai-nilai  Islam,  sedangkan manajemen pendidikan Islam dianggap bebas nilai (free value) sehingga seharusnya tidak ada, padahal manajemen pendidikan Islam itu berasal dan diturunkan dari ilmu pendidikan Islam itu sendiri.

Berdasarkan empat pertimbangan tersebut, maka timbul pertanyaan:  Apakah manajemen pendidikan  Islam  itu ada?

Keberadaan manajemen pendidikan Islam setidaknya dapat ditinjau dari tiga sudut pandang.

Pertama

Dari segi  pengalaman atau penerapan. Rasulullah SAW telah berhasil dengan gemilang dalam mengelola pendidikan masyarakat. Manajemen pendidikan yang dipraktikkan Rasulullah SAW jauh lebih makro, lebih rumit, dan lebih kompleks dibandingkan dengan manajemen lembaga pendidikan yang jangkauannya  terbatas.

Kedua,

Dari segi konsep normatif-teologis. Banyak ayat Al-Qur'an maupun  Hadits Nabi  yang  memberi  inspirasi  terhadap manajemen pendidikan Islam, baik secara redaksional maupun substantif. Nizar Ali dan Ibi Syatibi menegaskan bahwa ajaran Islam memiliki konsep-konsep manajemen yang tidak kalah hebat dari teori-teori manajemen yang dikembangkan Barat. Apabila konsep tersebut  mam pu  dikembangkan  menjadi sebuah  sistem,  maka manajemen  pendidikan  Islam  akan  memiliki  sistem  tersendiri.

Ketiga

Dari segi bangunan teori. Manajemen pendidikan Islam merupakan embrio bangunan ilmu yang berdiri sendiri yang hingga sekarang  ini  belum   mapan  secara  teoritis.  Oleh  karena itu, m anajemen pendidikan Islam membutuhkan keterlibatan para pakar pendidikan Islam dalam memberikan kontribusi teori untuk mem perkokoh  konstruksi  ilmu  manajemen  pendidikan  Islam.

Kita harus merasa optimistis bahwa manajemen pendidikan Islam akan segera dapat diwujudkan sebagai sebuah disiplin ilmu jika para pakar pendidikan Islam mau menggarapnya secara serius dan maksimal. Sebagai sebuah embrio, manajemen pendidikan Islam telah memiliki banyak konsep normatif-teologis, sehingga peluang untuk mengembangkan disiplin ilmu ini sangat besar untuk pakar pendidikan Islam  yang  kini  semakin  banyak.

Ada beberapa hal yang sangat kita harapkan dari para pakar pendidikan Islam,  antara  lain:
  • Menyusun alur pemikiran yang logis untuk mendasari argumentasi-argumentasi bagi konstruksi ilmu manajemen pendidikan Islam
  • Memiliki kepedulian yang tinggi terhadap konstruksi ilmu manajemen pendidikan Islam.
  • Mencermati dan mendalami realitas lembaga pendidikan Islam secara empiris pada berbagai jenjang, jenis, bentuk, dan  tempat.
  • Mengidentifikasi ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis yang berkaitan dengan bahan manajemen pendidikan Islam secara langsung atau  tidak langsung, secara  redaksional maupun substantif.
  • Melakukan perbandingan rumusan-rumusan teoretis dengan praktik pengelolaan lembaga pendidikan  Islam.
  • Merumuskan konsep-konsep dan teori-teori manajemen pendidikan Islam secara mandiri dan tidak selalu bergantung pada konsep manajemen Barat.
Sehingga dengan demikian, jika langkah-langkah tersebut dapat dilaksanakan dan diwujudkan, maka eksistensi dari ilmu manajemen pendidikan Islam akan diakui, terlebih kita telah memiliki percontohan yang dapat dirujuk yaitu model pendidikan Islam dari  Rasulullah SAW sebagai manajer yang sukses.
loading...

Tuesday, November 8, 2016

Penjabaran Tiga Kunci Meraih Kemajuan Pendidikan Islam

Penjabaran Tiga Kunci Meraih Kemajuan Pendidikan Islam

Salah satu kunci kemajuan pendidikan Islam sebagaimana yang telah disebutkan pada kunci-kunci kemajuan Pendidikan Islam. Epistemologi tersebut  merupakan  alat  untuk memproses, menyusun , merumuskan, dan membentuk bangunan  ilmu pendidikan Islam. Epistemologi  ini  kem udian  yang  bertugas menggali, menemukan, dan mengembangkan pengetahuan pendidikan Islam .

Jika epistemologi ini  dipahami serta dikuasai, dan dipraktikkan secara terus menerus dalam mengkonstruksi ilmu pendidikan Islam, maka hampir dapat dipastikan bahwa konsep-konsep dan teori-teori pendidikan Islam akan mengalami kemajuan yang pesat sekali. Misalkan Ibarat "mesin " dalam sebuah perusahaan, pembangun atau perumus ilmu pendidikan Islam adalah mesin yang harus terus  bekerja  dan  digerakkan  secara  aktif.

Gerakan kerja epistemologi pendidikan Islam akan semakin maksimal apabila dibantu metodologi pendidikan Islam. Epistemologi pendidikan Islam meliputi pembahasan dasar pengetahuan pendidikan Islam, asal-usulnya, sumbernya, unsurnya, batasnya, jangkauannya, validitasnya, dan metodenya. Ilmu tentang metode pendidikan Islam disebut dengan metodologi pendidikan Islam, sehingga metodologi pendidikan Islam adalah "anak kandung" dari epistemologi  pendidikan  Islam.

Oleh Karenanya, pendidikan Islam dalam sebuah bangsa akan maju  dan  berhasil apabila bangsa ini mampu menguasai dan mengimplementasika n episte mologi pendidikan Islam  dan metodologi pendidikan Islam. Sebaliknya, bangsa yang buta terhadap epistemologi dan metodologi, pendidikan Islam tidak m ungkin m am pu memajukan konsep  dan teori pendidikan Islam.

Kunci kedua dari kemajuan pendidikan Islam yang kedua adalah manajemen pendidikan Islam

Fungsi kunci kedua yaitu manajemen pendidikan Islam. Untuk menjalankan tugas dari manajemen pendidikan Islam dengan baik, seorang manajer atau pimpinan harus memiliki kemampuan dalam memadukan sumber-sumber pendidikan khususnya sumber-sumber belajar dalam lembaga pendidikan Islam sehingga mampu memfungsikan, memanfaatkan, mengembangkan, dan memaksimalkan  kekuatan sumber-sumber  tersebut dalam  mengawal keberhasilan dan kemajuan pendidikan Islam. Pengelolaan manajemen yang terancang, terprogram, dan tersistem dengan baik akan menjadikan proses  dan hasil pendidikan  Islam  menjadi  maksimal.

Beberapa kasus yang berkaitan  dengan  manajemen berikut ini menarik untuk diperhatikan. Ada sekolah atau madrasah yang awalnya mengalami kemunduran, kemudian mampu maju dengan pesat. Demikian juga sebaliknya, ada sekolah atau madrasah yang awalnya maju, namun kemudian hampir gulung tikar. Ada yang awalnya maju dan tetap bertahan, ada juga yang awalnya termasuk  dalam  kategori 'la yahya zvala yamutu' (hidup enggan, mati tak mau) dan tetap seperti itu.

Penyebab empat kasus atau kejadian tersebut di atas, didominasi oleh faktor manajemen,  meskipun  terdapat  faktor-faktor  lainnya.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa manajemen  tengah dipertaruhkan demi kemajuan lembaga pendidikan Islam. Dengan pengertian lain, tengah ada upaya untuk menggalakkan manajemen pendidikan Islam menjadi kesadaran kolektif dalam memajukan lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti madrasah. Para manajer pendidikan Islam berusaha mengelola lembaga pendidikan Islam dengan menyelami sifat-sifat  dari  situasi  dan  kondisi yang  ada di sekitarnya.

Cara-cara di atas, berguna di dalam melakukan  pemetaan masalah dan  solusinya  sekaligus yang ditempuh  manajer  dalam mengakselerasi dan mengefektifkan kemajuan lembaga pendidikan Islam.

Kunci Ketiga dalam kemajuan pendidikan Islam adalah kesadaran pendidikan dalam memajukan pendidikan Islam

Fungsi kunci ketiga yaitu kesadaran pendidikan dalam memajukan pendidikan Islam. Kesadaran merupakan potensi dan motivasi dari dalam diri seseorang untuk melakukan atau mengikuti proses pendidikan secara serius dan penuh keuletan, sebagai bentuk tanggung jawab moral dirinya sendiri.  Keseriusan  dan  keuletan ini benar-benar muncul secara alamiah tanpa menunggu perintah orang  lain,  baik  orang  tua,  guru/dosen,  maupun  atasannya.

Kesadaran pendidikan merupakan  kekuatan  yang  dahsyat dalam merealisasikan keberhasilan pendidikan termasuk keberhasilan pendidikan Islam. Potensi kesadaran ini dapat kita lihat pada murid/mahasiswa yang gemar membaca buku atau pada orang-orang yang belajar secara otodidak. Sebaliknya, kesadaran pendidikan yang lemah menjadi penghambat yang paling serius menuju keberhasilan dan  kemajuan  pendidikan  Islam.

Selama ini kurikulum dianggap sebagai penentu keberhasilan pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Oleh sebab itu, perhatian para guru, dosen, kepala sekolah/madrasah, ketua, rektor, maupun praktisi pendidikan terkonsentrasi pada kurikulum . Padahal, kurikulum bukanlah penentu utama.

Dalam  kasus pendidikan di  beberapa negara,  problem   paling  besar  yang   dihadapi  bangsa  mereka sesungguhnya bukan problem kurikulum — meskipun bukan berarti kurikulum tidak menimbulkan problem, namun problem yang paling  besar  adalah  'kesadaran',  yaitu  lemahnya  kesadaran untuk  berprestasi,  kesadaran untuk sukses,  kesadara untuk meningkatkan SDM, kesadaran untuk menghilangkan kebodohan, maupun  kesadaran untuk  berbuat yang  terbaik.

Tidak dipungkiri bahwa konstribusi "kurikulum " terhadap pendidikan termasuk pendidikan Islam seperti halnya komponen lainnya, karena tujuan pendidikan, visi dan misi pendidikan, kurikulum pendidikan, metode pendidikan, sarana dan prasarana pendidikan, dan pendidik  (guru,  dosen  dan  ustadz),  semuanya memiliki peran dan sumbangan terhadap keberhasilan dan kemajuan pendidikan Islam, namun sebatas alat atau perantara, bukan sebagai penentu. Sedangkan yang bertindak sebagai penentu keberhasilan pendidikan  (pendidikan  Islam)  adalah  'kesadaran' pendidikan, yang terlepas dari sekat-sekat jenis dan bentuk pendidikan  apapun.

Jadi, tiga kunci tersebut menjadi pemuka pintu keberhasilan dan kemajuan pendidikan Islam secara komprehensif dan holistik. Ketiga kunci kemajuan islam ini  saling melengkapi  meskipun digunakan dalam menunaikan tugasnya masing-masing.

Epistemologi pendidikan Islam bekerja untuk membangun konsep dan teori pendidikan Islam, manajemen pendidikan Islam bekerja untuk membangun kejayaan institusi pendidikan Islam, sedangkan kesadaran pendidikan bekerja untuk merealisasikan keberhasilan umat Islam dalam mengikuti proses  pendidikan  Islam  dan  mem peroleh  hasilnya.

Ketiga kunci meraih kemajuan pendidikan islam ini dapat diintegrasikan menjadi: Epistemologi manajemen pendidikan Islam, epistemologi kesadaran pendidikan Islam, manajemen kesadaran pendidikan Islam, kesadaran  epistemologis pendidikan Islam,  dan  kesadaran manajerial pendidikan Islam.

Selanjutnya Integrasi faktor kunci kemajuan pendidikan Islam
loading...
Kemajuan Pendidikan Islam dan Kuncinya

Kemajuan Pendidikan Islam dan Kuncinya

Masyarakat Muslim memiliki ekspektasi yang sangat besar terhadap keberhasilan dan kemajuan  pendidikan Islam. Namun, ekspektasi itu belum terealisasi hingga sekarang. Pendidikan Islam telah tertinggal oleh  pendidikan  Barat sekuler yang telah mempengaruhi hampir semua bentuk pendidikan di dunia ini. Kalaupun terdapat fenomena-fenomena kebangkitan pendidikan Islam,  itu  baru  bersifat kasuistik  dan  parsia1, dan belum menjadi kecenderungan mayoritas, sehingga image pendidikan Islam belum dapat mengemuka setidaknya hingga hari ini, apalagi menggeser image pendidikan Barat sekuler termasuk yang diadaptasi oleh pendidikan  sekuler  di beberapa Negara Islam.

Ekspektasi kemajuan pendidikan Islam tidak pernah terputus dari mata rantai keinginan masyarakat  Muslim, khususnya para pemikir dan praktisi. Kendati pun belum menyadari secara aplikatif dan implementatif dalam kehidupan sehari-hari, namun  para pemikir dan praktisi Islam sangat mengerti dan memahami bahwa kemajuan pendidikan Islam memiliki berbagai fungsi strategis baik secara politik, ekonomi, sosial, maupun  kultural.

Secara politik, kemajuan pendidikan Islam menyebabkan umat Islam  memiliki  nilai  tawar  politik  yang  cukup  tinggi,  baik  pada skala  nasional maupun  internasional;  secara  ekonomi,  kemajuan pendidikan Islam akan mengangkat taraf perekonomian umat Islam dan  menekan  jumlah pengangguran, baik pengangguran orang awam maupun pengangguran intelektual; secara sosial, kemajuan pendidikan Islam itu dapat mengangkat harkat dan martabat umat Islam; sedangkan secara kultural, kemajuan pendidikan Islam akan menginspirasi, memfasilitasi, dan melakukan lompatan-lompatan kreasi sains dan teknologi yang berguna bagi kehidupan manusia.

Namun dalam tataran realitasnya, pendidikan Islam belum lah mampu mendiskripsikan  ekspektasi  yang  ideal  tersebut  karena belum  menemukan  dan  memakai resep  atau  kunci  pembukanya. Paling tidak terdapat tiga kunci kemajuan pendidikan Islam, yaitu: Epistemologi pendidikan  Islam, Manajemen  pendidikan  Islam,  dan Kesadaran  pendidikan.

Ketiga kunci kemajuan pendidikan Islam ini berkerja dan bergerak pada ranah tugasnya masing-masing. Ketiganya berjalan dan berfungsi saling melengkapi. Ketiga kunci  ini dapat sangat efektif jika dipraktikkan secara benar dalam kehidupan pendidikan Islam  sehari-hari.

Secara garis besar, pendidikan Islam dapat dibagi tiga: pertama,  pendidikan   Islam   yang  berbentuk   ide-ide, gagasan-gagasan, pemikiran -pemikiran , wawasan-wawasan, konsep-konsep, dan teori-teori; kedua, pendidikan Islam yang berbentuk penyelenggaraan, pelaksanaan atau penerapan secara kelembagaan; dan ketiga, pendidikan Islam yang berbentuk perilaku umat Islam dalam  meresponsnya.

Jika tiga pembagian ini dihubungkan dengan tiga kunci yang telah disebutkan tadi, maka akan dapat dilakukan pemetaan sebagai berikut:
  • Epistem ologi pendidikan Islam sebagai kunci memajukan ide-ide, gagasan-gagasan, pemikiran-pemikiran, wawasan-wawasan, konsep-konsep, dan teori-teori pendidikan Islam; 
  • Manajemen pendidikan Islam sebagai kunci memajukan penyelenggaraan, pelaksanaan atau penerapan pendidikan Islam secara kelembagaan; 
  • Kesadaran pendidikan sebagai kunci memajukan perilaku umat Islam dalam mengikuti proses pendidikan Islam dan meraih hasilnya.
Ketiga kunci ini juga perlu dijabarkan ke dalam langkah-langkah konkret semacam "petunjuk pelaksanaan" atau "petunjuk teknis". Langkah-langkah dari masing-masing kunci tersebut telah dituliskan sebagai salah satu acuan. 
loading...

Wednesday, February 10, 2016

Bagaimana Tilawah Quran yang Sesungguhnya

Bagaimana Tilawah Quran yang Sesungguhnya

Apa hakikat arti tilawah Quran yang sesungguhnya atau hakiki? Firman Allah swt. di dalam al-Quran menyebutkan bahwa mengikuti Kitab-Nya adalah dengan membacanya atau tilawah quran. Bagi  para pelaku tilawah al-quran ini dipuji Allah swt sebagaimana dalam firman-firmanNya berikut ini:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.  (QS. Faathir: 29)


Dan juga dalam firman Allah swt. dalam Al-Quran:

ٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَتۡلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ أُوْلَٰٓئِكَ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

http://islamiwiki.blogspot.com/
Artinya: Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. al-Baqarah: 121)

Firman Allah swt. dalam Al-Qur’an:

ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ

Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. (QS. al-'Ankabuut: 45)

إِنَّمَآ أُمِرۡتُ أَنۡ أَعۡبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ ٱلۡبَلۡدَةِ ٱلَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُۥ كُلُّ شَيۡءٖۖ وَأُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ . وَأَنۡ أَتۡلُوَاْ ٱلۡقُرۡءَانَۖ فَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهۡتَدِي لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن ضَلَّ فَقُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ

Artinya: Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan" (QS. an-Naml: 91-92)


http://islamiwiki.blogspot.com/
Arti Hakikat tilawah al-quran pada keterangan ayat-ayat al-quran di atas adalah tilawah quran yang sesungguhnya dan sebenarnya yang mencakup arti tilawah quran secara holistik atau keseluruhan, yaitu membaca lafal dan maknanya.

Tilawah quran membaca lafal quran adalah merupakan bagian dari tilawah itu sendiri. Dan maksud atau arti dari tilawah quran ini adalah mengikuti apa yang termaktub. Seperti apa yang dikatakan oleh orang-orang Arab: Atluu atsara fulaan, wa talautu aatsarahu, yang artinya : Qafaitu atsarahu wa qashashtuhu, Saya mengikuti jejak si fulan.

Sebagaimana disebutkan firman Allah SWT dalam al-Quran yang berbunyi:

وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا .  وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا

Artinya: Demi matahari dan cahayanya di pagi hari dan bulan apabila mengiringinya. (QS. asy-Syams: 1-2).

Artinya, setelah matahari terbenam, maka di belakangnya bulan terbit. Orang Arab berkata, "Jaa'al-qaumu yatluu ba'dhuhum ba'dhan Sekumpulan orang datang silih berganti." Pembaca disebut dengan sebutan taaliyan dikarenakan dia mengikuti huruf demi huruf, serta tidak membacanya sekaligus akan tetapi mengikutkan satu huruf dengan huruf lainnya secara teratur. Setiap satu huruf atau satu kalimat telah selesai, maka huruf atau kata lain mengikutinya. Dan, tilawah dalam makna atau arti ini adalah bermakna wasilah.

Adapun yang dimaksud di sini adalah tilawah quran hakiki adalah membaca arti maknanya dan mengikutinya, dengan menunaikan perintahnya, membenarkannya, menjauhi larangan-larangan-nya, dan patuh kepadanya kemana saja dia menuntun.

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tilawah Quran adalah meliputi tilawah lafal dan makna atau artinya. Tilawah makna atau artinya lebih mulia daripada hanya sekedar tilaawah lafal. Orang-orang yang mengerjakan tilawah makna adalah ahli Al-Qur'an yang berhak menerima pujian baik di dunia dan juga di akhirat kelak. Mereka itulah orang yang ahli tilawah Quran yang hakiki atau sesungguhnya dan merekalah pengikut Al-Quran yang sesungguhnya.
loading...

Thursday, June 25, 2015

Syarat untuk Mengambil Ibrah, Pelajaran, Manfaat Al-Qur’an

Syarat untuk Mengambil Ibrah, Pelajaran, Manfaat Al-Qur’an

Ibrah dapat diartikan sebagai pengajaran dan pembelajaran. Dalam untaian do’a dalam sholat maupun setelah sholat mungkin sering kita lantunkan untuk selalu memohon dan berdoa kepada Allah untuk ditunjukkan yang benar memang benar (ibrah) dan yang salah memang salah. Yang mungkin di antaranya berbunyi:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus

اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا

Artinya : Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya

Kisah Cerita Seorang Pemuda Nakal, Perampok yang sadar karena Al-Qur'an

Berikut ini adalah sebuah kisah cerita diriwayatkan oleh Al-Fadhal bin musa yang menceritakan tentang seorang pemuda yang nakal dan suka merampok yang mau menerima dan mengambil pelajaran dan manfaat serta kebenaran dari ayat al-Qur’an dan bertobat dan kemudian dia dikenal sebagai seorang yang ahli sufi.

Adalah seorang pemuda bernama Fudhail bin ‘Iyadh adalah seorang pemuda yang nakal, suka merampok di jalanan di Kota Sarkhas dan Abiyurd.  Pada suatu hari karena rindu dengan seorang kekasihnya, Fudhail bin ‘Iyadh memanjat dinding rumah wanita tersebut. Pada saat itu, pemuda yang nakal dan suka merampok itu mendengar salah satu ayat di dalam al-Qur’an yaitu surat al-hadid ayat 16 yang berbunyi:

أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ

Artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. QS. Al-Hadid : 16)

http://islamiwiki.blogspot.com/
Mendengar ayat demikian, dalam hati Fudhail bergejolak dan berkata: benar, ya Tuhanku, telah datang waktunya untuk bertaubat.

Kemudian dengan bergegas, Fudhail pulang ke rumahnya, akan tetapi pulangnya terlalu kemalaman berada di sebuah perkampungan. Di perkampungan tersebut, Fudhail melihat ada sekumpulan kafilah sedang berbincang-bincang. Di antara mereka ada yang berkata akan berangkat ke suatu tempat, namun ada juga yang berkata akan tinggal di kampung terlebih dahulu untuk menunggu hingga pagi karena Fudhail akan merampok di kampung mereka.

Kemudian hati dan pikiran Fudhail bergejolak. Dalam pikiran Fudhail timbul pemikiran bahwa dia selama ini selalu mengerjakan perbuatan maksiat dan keburukan dan mengakibatkan orang-orang Muslim ketakutan kepadanya dan dia melihat bahwa Allah telah mengarahkannya dan menggerakkannya sehingga bertemu dengan mereka hanya untuk membuat ketakutan. Kemudian dia berkata ; Ya Allah, aku bertaubat kepada-Mu dan sebagai bukti dari taubatku, aku akan senantiasa dekat dengan Masjidil Haram.

Setelah mendengat ayat di atas, Fudhail bin ‘Iyadh seketika itu berubah dan bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya dan hingga akhirnya dia dikenal sebagai seorang ahli sufi dan menjadi teladan dan tempat bertanya (hujjah) pada zamannya.

Baca juga

Telah banyak kejadian berubahnya seseorang dari pribadi yang buruk, jahat menjadi pribadi insan yang baik dikarenakan ayat-ayat Allah yang di dengarnya sebagaimana yang terjadi pada Fudhail bin ‘Iyadh di atas.

Sebagai contoh lagi selain Fudhail bin ‘Iyadh:
  • Adalah seorang Raja dari negeri Ethiopoa yaitu Raja Najasyi. Beliau sampai meneteskan air matanya dan kemudian masuk agama Islam setelah mendengar ayat al-Qur’an Surat Maryam.
  • Khalifah Umar bion Khattab, setelah beliau mendengar lantunan ayat-ayat dalam al-Qur’an dari surat Thoha hati beliau menjadi luluh.

Mengapa hati, lisan, pikiran, dan perilaku seseorang tidak tersentuh dengan Al-Qur'an?

Hal yang kontradiktif dengan kejadian di atas, banyak juga dari kita yang membaca dan mendengar al-Qur’an akan tetapi tidak tersentuh dengan isi dan maknanya. Mengapa hal ini tidak berdampak pada perubahan hati, lisan, pikiran dan juga perilaku serta tindakan kita setelah mendengar lantunan ayat al-Qur’an?

Kemungkinan yang terjadi pada kondisi ini adalah karena dalam diri kita tidak memenuhi syarat-syarat untuk menerima ibrah saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an. 

Apakah yang menjadi syarat seseorang dapat menerima kebenaran, ibrah al-Qur'an?

Untuk dapat menerima ibrah, terdapat 4 syarat sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam Kitabullah Al-Qur’an surat Qaf yang berbunyi sebagai berikut:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكۡرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلۡبٌ أَوۡ أَلۡقَى ٱلسَّمۡعَ وَهُوَ شَهِيدٞ

Artinya : Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (QS. Qaf : 37)

Empat syarat bagi seseorang dapat menerima ibrah kebenaran dari lantunan ayat al-Qur’an adalah sebagai berikut:
  • Mempunyai hati yang hidup serta sadar. Dengan demikian maka akan dapat memahami dan mengerti akan hakikat yang terkandung dari apa yang didengarkan. Orang yang hatinya tidak hidup dan tidak sadar, maka sama halnya seperti orang yang tiada.
  • Mencurahkan perhatian dengan total. Mendengarkan isi dari lantunan ayat-ayat al-Qur’an yang diwahyukan oleh Allah swt. dengan segenap akal dan perhatian yang penuh. Orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah swt., apabila mereka mendengar atau diperdengarkan bacaan al-Qur’an maka mereka mendengarkannya dengan akal, penuh konsentrasi dan perhatian yang total.

Firman Allah swt. dalam surat al-A’raf ayat 20 yang berbunyi:

فَوَسۡوَسَ لَهُمَا ٱلشَّيۡطَٰنُ لِيُبۡدِيَ لَهُمَا مَا وُۥرِيَ عَنۡهُمَا مِن سَوۡءَٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ

Artinya : Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)"
  • Menghadirkan diri secara utuh baik jasmani dan rohani dan juga cerdas mampu mencerna isi dari ayat yang didengar atau dibaca. Orang yang tidak ingin memahami dan mengerti sama saja dengan orang yang sedang tiada atau gaib.
  • Meyakini kebenaran al-Qur’an adalah sebagai wahyu yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. sebagai orang muslim tentu kita wajib mengetahui serta menjalankan enam rukun iman yang salah satunya adalah iman kepada Kitab-kitab Allah. .

Apabila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, hal ini akan menyebabkan seseorang Mukmin tidak dapat mengambil ibrah, pelajaran serta manfaat yang terkandung dalam ayat al-Qur’an yang didengar atau dibacanya. Semoga kita terlindung darinya. Amiiin
loading...

Monday, May 18, 2015

Cerita Kisah Teladan Islami dari Khalifah

Cerita Kisah Teladan Islami dari Khalifah

Sahabat ajaran Islamiwiki, membaca sebuah cerita atau kisah teladan islami mempunyai arti dan makna yang penting dalam diri. Dapat menjadi tolak ukur dan juga contoh teladan bagi kita sehingga dapat menjadi pribadi yang baik sebagaimana yang dicontohkan terutama dalam kisah cerita teladan yang berbau Islami. Berikut ini adalah kisah teladan islami dari sahabat Nabi yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dapat menginspirasi dan memotivasi diri kita untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana moto dalam al-Qur’an yang mengatakan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari yang kemarin.

Baca juga maksud dan tujuan diturunkannya Al-Qur’an 

Khalifah umar bin Abdul Aziz adalah contoh pemimpin yang baik. Beliau adalah khalifah yang paling disenangi oleh rakyatnya sehingga beliau dijuluki sebagai Khulafaur Rasyidin. Baca juga tentang kemuliaan Khulafaur Rasyidin

Dalam kepemimpinan beliau, beliau menorehkan prestasi yang baik dan dapat dijadikan teladan yang islami. Beberapa teladan yang dapat kita ambil sebagai suri tauladan diantaranya adalah :
http://islamiwiki.blogspot.com/
  • Mengambil paksa harta yang disalahgunakan oleh para pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaannya dan kemudian harta tersebut diserahkan kepada Baitul Mal.
  • Membuat kebijakan menghapus pegawai pribadi dan fasilitas-fasilitasnya bagi khalifah. Sehingga selama kepemimpinannya beliau tidak memiliki pegawai atau pembantu pribadi.
  • Khalifah umar sangat menekankan relasi atau kedekatan hubungan yang baik antara rakyat dengan pejabatnya.
  • Khalifah Umar meskipun hidup dengan sederhana, namun beliau berhasil membuat rakyat yang dipimpinnya sejahtera. Hal ini dibuktikan bahwa pada masa kepemimpinannya, sangat sulit ditemui rakyat miskin yang dijadikan sebagai penerima zakat.
Diceritakan bahwa suatu ketika Khalifah Umar sakit, ada seorang sahabatnya menjenguk dan melihat Umar sangat kotor. Kemudian sahabat umar bertanya kepada Istri Umar dengan berkata: apakah engkau tidak mencuci bajunya? Kemudian Fatimah (istri Umar) berkata: Demi Allah, Umar tidak memiliki pakaian lainnya, kecuali yang dipakainya.

Juga cerita, sebuah kisah teladan dari Umar. Pada suatu saat, Umar memanggil Fatimah istrinya yang mempunyai banyak perhiasan dari ayahnya. Kemudian Umar meminta dua hal pilihan kepada istrinya. Pilihan yang pertama adalah meminta kepada istrinya untuk mengembalikan semua harta perhiasan ke Baitul Mal. Dan pilihan yang kedua adalah bahwa umar tidak suka apabila umar, istrinya dan perhiasan itu masih tetap dirumah, maka Umar akan meninggalkan istriya untuk selamanya. Kemudian fatimah berkata: saya memilih kamu daripada perhiasan-perhiasan ini.
  • Khalifah umar menolak fasilitas dinas berupa kendaraan dinas. Dan beliau lebih memilih menaiki tunggangan miliknya sendiri sebagai kendaraan dinas.
  • Umar adalah pemimpin teladan dengan pribadi yang jujur dan bersih. Dikisahkan dari riwayat dari Amr bin Muhajir. Bahwa pada suatu ketika ada salah satu anggota keluarga beliau memberi apel. Beliau Umar kemudian berkata kepada pelayan untuk segera mengembalikan kepada pemberinya dan berpesan bahwa hadiah yang dikirim sudah sampai. Kemudian Amr terheran dan bertanya: mengapa hadiah pemberian dari kerabat ini engkau tolak, padahal Rasul juga menerima hadiah. Kemudian Umar mengatakan kepada Amr bahwa hadiah yang diberikan kepada Rasul adalah benar-benar hadiah. Sedangkan yang diberikan kepada diriku ini adalah suap.



Dari kisah cerita teladan islami pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dapat kita ambil beberapa keteladanan yang sangat relevan dengan ajaran islam yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad saw. keteladanan-keteladanan tersebut dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebagai berikut:
  • Hidup sederhana tidak akan pernah kesusahan. Khalifah Umar hidup dengan sederhana, menyerahkan semua perhiasan istrinya ke baitul mal, pakaian seadanya dan menolak kendaraan dinas.
  • Apabila menjadi pemimpin hendaknya lebih mementingkan kesejahteraan rakyatnya karena kesejahteraan adalah hak setiap warga. Islam menganut ajaran yang berprinsip pada keadilan, dimana tidak ada orang miskin ditengah orang-orang kaya. Baca juga larangan mementingkan kepentingan pribadi.
  • Menjaga dan melaksanakan amanah. Karena menyalahgunakan kekuasaan atau amanah yang diberikan akan berakibat pada keburukan. Melaksanakan amanah dengan baik akan membawa pada kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Baca juga penjelasan tentang amanah dan wajibnya berperilaku amanah. 
  • Keteladanan dalam kedekatan dengan rakyatnya. Ini adalah dasar fondasi yang bagus sehingga terjalin hubungan yang harmonis antara rakyat dan pemimpinnnya sehingga aspirasi dan keinginan rakyat dapat langsung tersampaikan dan direalisasikan oleh pemimpin.
  • Bersikap dan berperilaku jujur dan bersih dari korupsi. Baca juga cara mencegah keinginan syahwat korupsi
  • Keteladanan kesalehan sosial. Dalam sebuah kata-kata motivasi lebih baik kaya hati daripada kaya harta. Kekayaan seseorang bukanlah suatu ukuran dari status atau strata sosial. Status sosial dari seseorang adalah sejauh mana seseorang memiliki kesalehan sosial.

Subhanallah, sahabat islamiwiki, begitu banyak ilmu yang dapat kita ambil dari cerita kisah keteladanan islami dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Contoh pemimpin yang baik. Semoga kita dapat meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi pribadi yang baik hati. Amiin.....
loading...

Tuesday, March 17, 2015

Menyusui Bayi dalam Qur’an dan Kesehatan

Menyusui Bayi dalam Qur’an dan Kesehatan

Menyusui bayi atau anak di bawah usia 2 tahun mempunyai dampak yang baik terhadap bayi atau anak. Berikut ini adalah kajian tentang menyusui bayi dengan dasar dari Kitabullah Al-Qur’an dan juga dari kisah Nabi saw. serta dari pendapat mengenai menyusui bayi dari sudut pandang kesehatan berdasarkan hasil dari penelitian kesehatan.

Anjuran Menyusui bayi dalam Al-Qur’an

Dalil Firman Allah swt dalam Al-Qur’an yang berbunyi :

۞وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةُۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوۡلُودٞ لَّهُۥ بِوَلَدِهِۦۚ وَعَلَى ٱلۡوَارِثِ مِثۡلُ ذَٰلِكَۗ فَإِنۡ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٖ مِّنۡهُمَا وَتَشَاوُرٖ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَاۗ وَإِنۡ أَرَدتُّمۡ أَن تَسۡتَرۡضِعُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُمۡ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا سَلَّمۡتُم مَّآ ءَاتَيۡتُم بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ.

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma´ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Baqarah: 233).

Dari firman Allah swt. di atas, maka jelaslah bahwa ibu berkewajiban untuk menyusui anaknya atau bayinya. Dan dengan maka, anak berhak untuk mendapatkan ASI (air susu ibu) dari ibunya. Dan menyusui bayi atau anak hendaknya dan sebaiknya disempurnakan selama dua tahun. Sedangkan kewajiban ayah adalah untuk menafkahi untuk mencukupi kebutuhan anggota keluarganya termasuk istri dan anaknya.

Menyusui bayi dalam sejarah Islam

Dalam sejarah tertoreh sebuah kisah yang dapat menjadi suri tauladan bagi ibu muslimah. Adalah seorang ibu bernama Halimatus Sa’diyah, beliau adalah ibu susu Rasulullah saw. (ibu yang menyusui Rasul) yang begitu hebat perjuangan dan pengorbanannya dalam mendidik serta merawat Nabi Muhammad saw. ketika masih bayi.

Alkisah diawali adalah sebuah kondisi krisis serta musim kemarau panjang yang melanda hampir sebagian besar daerah Jazirah Arab. Hal ini menjadikan terjadinya keterpurukan ekonomi pada daerah tersebut. Termasuk yang mengalami krisis ini adalah keluarga Bani Bakr, berbagai usaha telah dilakukan termasuk salah satunya adalah dengan mencari bayi untuk disusu.

Ketika itu, salah satu anggota keluarga Bani Bakr yaitu Halimatus Sa’diyah diberikan tawaran untuk menyusui Rasul saw. Pada awalnya, Halimatus Sa’diyah menolak untuk menyusui Nabi saw. dengan alasan bahwa Rasul saw. berasal dari keluarga yang miskin atau anak yatim sehingga dia merasa khawatir apabila upah yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Di samping itu, alasan lainnya adalah ada yang menyatakan bahwa air susu Halimah tidak cukup untuk menyusui Nabi saw. Akan tetapi karena ingin mengharapkan berkah, dan pada saat itu Halimatus Sa’diyah belum mendapatkan bayi susuan, maka dia menerima dengan ikhlas untuk menyusui Nabi Muhammad saw.

Setelah Halimah menerima dengan ikhlas, banyak terjadi keajaiban antara lain di antaranya adalah, kekhawatiran air susunya sedikit dan tidak cukup untuk menyusui Rasul saw., ternyata air susunya sangat banyak. Dan air susunya bahkan cukup untuk menyusui anak kandung sendiri di samping menyusui Rasul saw. Anak kandungnya pun yang sebelumnya tidak dapat tidur dengan nyenyak menjadi dapat tidur dengan pulas karena tercukupinya kebutuhan ASI.

Selain hal menakjubkan dalam menyusui bayi kandungnya dan juga Rasul saw. terdapat keajaiban yang lain yaitu: tanah beserta tumbuhan di sekitar tempat yang ditempati oleh Bani Bakr (keluarga Halimatus Sa’diyah) menjadi subur padahal pada saat itu adalah musim paceklik atau kemarau panjang. Hal-hal tersebut menjadikan Halimatus Sa’diyah menjadi bertambah sayang kepada Rasul saw. dan kemudian menganggap Rasul saw. sebagai anaknya sendiri. Karena kedekatan Halimatus Sa’diyah dengan Nabi yang baik, hal ini membuat beliau tidak ingin berpisah dengan Rasul. Maka dia pun meminta ijin kepada Ibu Rasulullah untuk dapat tetap merawat Muhammad meskipun setelah disapih pada usia dua tahun.

Dalam dalil firman Allah swt. yang lain:

أَسۡكِنُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ سَكَنتُم مِّن وُجۡدِكُمۡ وَلَا تُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُواْ عَلَيۡهِنَّۚ وَإِن كُنَّ أُوْلَٰتِ حَمۡلٖ فَأَنفِقُواْ عَلَيۡهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّۚ فَإِنۡ أَرۡضَعۡنَ لَكُمۡ فََٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأۡتَمِرُواْ بَيۡنَكُم بِمَعۡرُوفٖۖ وَإِن تَعَاسَرۡتُمۡ فَسَتُرۡضِعُ لَهُۥٓ أُخۡرَىٰ.

Artinya: Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. (QS. at-Thalaq: 6)

Dari keterangan ayat di atas, menerangkan kepada kita bahwa apabila dikarenakan adanya sebab alasan tertentu yang menyebabkan seorang ibu tidak dapat menyusui bayi atau anaknya, maka seorang suami mempunyai kewajiban untuk mencari orang lain dan mengupahnya untuk menyusui anak atau bayinya.

Dari kisah keteladanan seorang ibu dan juga keterangan dari Al-Qur’an, hal ini menerangkan kepada kita anjuran bagi seorang ibu untuk menyusui anak atau bayinya. Di samping itu menyusui bayi juga sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi atau anak serta dekatnya hubungan antara anak dengan ibu.

Menyusui bayi dan anak dalam Kesehatan

Berbagai macam hasil penelitian membuktikan bahwa dalam ASI atau air susu ibu mengandung berbagai macam nutrisi seperti vitamin, mineral, zat besi, protein, zat anti bodi yang kesemuanya sudah dalam kadar dan tingkat yang seimbang. ASI bagi bayi mudah dicerna dalam sistem pencernaan bayi yang belum sempurna dan sangat jarang dan bahkan tidak menimbulkan gangguan atau masalah kesehatan pada sistem pencernaan. Menyusui bayi atau anak juga akan dapat memberikan keuntungan secara psikologis pada bayi sehingga dapat mendekatkan hubungan antara ibu dengan anaknya.

Di samping itu, manfaat lain dari ASI pada bayi adalah dapat meningkatkan kecerdasan anak. Hasil penelitian kesehatan menunjukkan bahwa pada bayi yang diberi ASI di usia 18 bulan mempunyai Intelegent quotient atau IQ (angka yang menunjukkan tingkat kecerdasan pada seseorang) 4,3 poin lebih tinggi, pada usia 3 tahun mempunyai IQ 4-6 poin lebih tinggi, pada usia 8,5 tahun mempunyai IQ 8,3 point lebih tinggi apabila dibandingkan dengan anak atau bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif.

Berdasarkan dari fakta-fakta di atas, dari sumber al-Qur’an, kisah dari Nabi Muhammad saw. dan juga dari hasil penelitian kesehatan maka menyusui bayi adalah sangat dianjurkan, merupakan kewajiban ibu serta hak bagi anak untuk ASI eksklusif dan sebaiknya menyempurnakannya hingga dua tahun. Hal ini karena ASI eksklusif sangat penting bagi pertumbuhan, perkembangan anak serta efek psikologis bagi keduanya. Islam begitu sempurna dan salah satu ajarannya adalah memberikan yang terbaik kepada anak, mencintai mereka, menjaga dan merawat mereka sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang sehat dan unggul.
loading...

Thursday, March 12, 2015

Mendahulukan Tanggung Jawab daripada Hak dalam Islam

Mendahulukan Tanggung Jawab daripada Hak dalam Islam

Setiap hal sekecil apapun pasti akan dimintai tanggung jawab. Tanggung jawab selalu mengikat dalam diri individu yang akan selamanya melekat baik ketika di dunia dan akan dibawa nanti kelak di akhirat untuk mempertanggungjawabkan setiap amal baik maupun buruk yang diperbuat di peradilan Allah swt di hari kiamat.

Ajaran Islam sangat mengutamakan untuk memenuhi tanggung jawab atau kewajiban daripada hak. Dalam Firman Allah swt. dalam Kitabullah Al-Qur’an dijelaskan sebagai berikut :

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS an-Nahl: 97).

Dalil firman Allah swt. di atas, menjelaskan kepada kita dengan jelas bahwa Islam sangat mengutamakan untuk memenuhi kewajiban atau tanggung jawab terlebih dahulu, setelah itu baru menerima hak sebagai balasan dari amal perbuatannya. Sebagaimana keterangan pada bahasan terdahulu bahwasanya sekecil apapun amal perbuatan akan diperlihatkan ganjaran atau pahalanya kelak.

Sehingga tidaklah benar apabila seseorang menuntut atau mengutamakan hak terlebih dahulu dan kemudian baru melaksanakan kewajiban atau tanggung jawabnya. Logikanya adalah bahwa seseorang yang telah melaksanakan kewajiban atau tanggung jawab atau apa yang menjadi tugasnya, maka cepat atau lambat, langsung ataupun tidak langsung mereka akan memperoleh apa yang menjadi haknya. Dan tidak semua orang yang meminta haknya dapat melaksanakan kewajiban yang dibebankan dengan baik dan benar.

Firman Allah swt. :

 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٩

Artinya : dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya QS an-Najm :  39 ) .

Tanggung Jawab Suami Istri dalam Keluarga

Membina dan membangun rumah tangga yang sakinah akan dapat terwujud apabila pelaku utama rumah tangga yaitu suami maupun istri dapat melaksanakan kewajiban atau tanggung jawabnya masing-masing dengan  baik dan tidak saling menuntut hak-haknya. Dijelaskan dalam dalil firman Allah swt dalam al-Qur’an yang berbunyi :

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا

Artinya : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang sholeh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar

Dalam Firman Allah swt. tersebut di atas, Allah swt. mengisyaratkan bahwa ada dua tanggung jawab atau kewajiban seorang suami dan juga seorang istri. Kewajiban dari seorang suami adalah pertama tanggung jawab qawwaam yang meliputi mendidik, membimbing, mengayomi istri dan anak-anaknya, kewajiban atau tanggung jawab yang kedua adalah menafkahi atau mencari nafkah untuk keluarganya.

Dua tanggung jawab atau kewajiban bagi seorang istri sebagaimana firman Allah di atas adalah tanggung jawab pertama  adalah patuh dan tunduk kepada suaminya  atas  dasar dan asas patuh dan dan tunduk atau taqwa kepada Allah Swt. tanggung jawab atau kewajiban kedua adalah menjaga diri serta kehormatan wanita dan menjaga kehormatan keluarganya.

Contoh pemimpin yang bertanggung jawab

Salah satu tanggung jawab dan kewajiban seorang pemimpin yang baik dan benar adalah pemimpin yang dalam setiap tindak tanduk perbuatan dan kegiatannya bertujuan untuk menciptakan keadilan serta lebih berpihak dan pro terhadap rakyat sehingga rakyat yang dipimpinnya merasa aman terlindungi dan hidup dengan sejahtera. Tidak sebaliknya, lebih mendahulukan untuk mendapatkan haknya untuk memperoleh berbagai fasilitas, namun tidak didukung dengan pelaksanaan tanggung jawab yang benar.

Contoh kisah kepemimpinan teladan yang baik adalah kepemimpinan dari para khalifah setelah meninggalnya Rasulullah Saw. dan Khalifah Umar bin Abdul Azis. Kepemimpinan para khalifah dan juga Nabi adalah contoh para pemimpin yang melaksanakan tanggung jawab dan kewajiban dengan maksimal dan tidak pernah menuntut hak-haknya. Sehingga rakyat sejahtera dan bahagia serta patuh dan tunduk pada pemimpinnya.

Sudah kita ketahui bersama bahwa setiap jabatan pada hakekatnya adalah sebuah amanah yang menuntut akan pemenuhan kewajiban dan tanggung jawab bukan penuntutan untuk mendapatkan fasilitas.

Setiap tanggung jawab dan kewajiban ataupun perbuatan yang baik akan dinilai oleh Allah swt. Setiap perbuatan, tanggung jawab yang ditunaikan tidak hanya akan berdampak ketika di dunia, namun juga akan diperlihatkan kelak pahalanya di hari kiamat di saat perhitungan hisab oleh Allah swt di akhirat.
loading...