Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Zakat dan Sedekah. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Zakat dan Sedekah. Show all posts

Sunday, September 9, 2018

Ancaman Neraka bagi yang Tidak Membayar Zakat

Ancaman Neraka bagi yang Tidak Membayar Zakat

Telah kita bahas pada bahasan terdaulu tentang mengeluarkan zakat atau membayar zakat dalam bab ilmu zakat dan sedekah. Menyambung bahasan tersebut, berikut ini adalah ancaman-ancaman bagi mereka yang tidak membayar zakat berdasarkan dalil hadits Nabi dan Kitabullah Al-Qur’an.

Dalil Al-Quran dan Hadits Nabi : ancaman tidak membayar zakat


Di bawah ini adalah kumpulan dalil-dalil dalam firman Allah swt dan dalil hadits Nabi tentang Ancaman-ancaman bagi yang tidak membayar Zakat
membayar zakat

Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ٣٤ يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ ٣٥

Artinya:  Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu" (QS. At-Taubah: ayat 34-35)

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ

Artinya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (QS. Ali Imran: ayat 180)

وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ . ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُون

Artinya: Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Fushshilat: ayat 6-7)

Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada pemilik emas dan perak yang tidak mengeluarkan zakatnya kecuali pada hari kiamat nanti akan dibentangkan baginya papan-papan dari api, lalu ia ditelentangkan di atasnya, di neraka jahannam. Maka dia akan dipanggang dengan itu pada dahi dan punggungnya. Setiap kali dingin papan itu akan dipanaskan lagi untuknya. Satu hari di sana sama dengan limapuluh ribu tahun. Begitu sampai Allah menghakimi manusia seluruhnya dan dia pun tahu ke mana jalan yang akan ditempuhnya; ke surga atau ke neraka." Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah. Bagaimana tentang unta?" Beliau menjawab, ''Dan tidak pula pemilik unta yang tidak mengeluarkan zakatnya kecuali pada hari kiamat nanti akan dihamparkan tanah yang sangat lapang. dipenuhi oleh unta-untanya yang benar-benar sehat dan gemuk, tanpa ada satu anak unta pun yang tertinggal. Semua unta itu menginjaknya dengan telapak kakinya dan menggigitnya dengan mulutnya. Setiap kali unta terakhir melakukannya di datangkan lagi unta pertama. Itu dalam satu hari yang sama dengan limapuluh ribu tahun Begitu sampai Allah menghakimi manusia seluruhnya dan dia pun tahu ke mana jalan yang akan ditempuhnya; ke surga atau ke neraka." Seseorang bertanya lagi, Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan sapi dan kambing?" Beliau menjawab, "Begitu pula dengan pemilik keduanya jika tidak membayar zakatnya. Akan dihamparkan tanah yang sangat lapang. dipenuhi a/eh sapi-sapi dan kambing-kambing yang benar-benar sehat dan gemuk. tidak ada tanduk yarig bengkok, patah, atau yang tidak bertanduk. Semuanya akan menanduknya dan menginjak-injaknya dengan kaki-kakinya. Itu dalam satu hari yang sama dengan limapuluh ribu tahun Begitu sampai Allah menghakimi manusia seluruhnya dan dia pun tahu ke mana jalan yang akan ditempuhnya; ke surge atau ke neraka. (Hadits Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq (6858). Ahmad (2/262-286). Muslim (987). Abu Dawud (1658, 1659), dan An-Nasa'i (5/12-13): dari Abu Hurairah)

Rasulullah saw. bersabda, "Tiga orang yang pertama kali masuk neraka adalah penguasa yang bengis. hartawan yang tidak membayarkan hak Allah pada hartanya, dan orang miskin yang sombong.( Hadits Dinwayatkan oleh Ahmad (2/479). Al-Baihaqi (3063 dalam Asy-Syu'ab. dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1642) dengan lafazh. "Awwalu tsalatsatin yadkhuluna al-jannah”. al-hadits. Dan.i1a adalah hadits dha’if).

Abdullah bin Abbas berkata, ''Barangsiapa memiliki harta vang cukup umuk menunaikan ibadah haji tetapi ia tidak menjalankannya atau memiliki harta sampai sebatas nishab tetapi ia tidak membayarkan zakarnya. niscaya akan meminta raj’ah (kembali) di kala mati." Seseorang berujar. "Bertaqwalah kepada Allah, wahai Ibnu Abbas. Hanya saja orang-orang kafir sajalah yang meminta raj’ah!" Ibnu Abbas pun menjawab, "Akan aku bacakan satu ayat (yang artinya) “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu vang dekat. vang menvebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh' (Al-Munafiqun: 10) Maksud bersedekah adalah membayar zakat, dan maksud menjadi salah seorang sholeh adalah menunaikan haji." Seseorang bertanya, "Berapa nishab harta?" "Jika telah mencapai 200 dirham, wajib dikeluarkan zakatnya', jawab Ibnu Abbas. “Apakah yang mewajibkan haji?”, tanya seseorang lagi. Beliau menjawab, "Perbekalan dan kendaraan.(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3316). dan isnadnya dha’if At-Tirmidzi men-dha'if-kannya dan menyatakan ke-shahih-an-nya secara mauquf)

Perhiasan yang biasa atau disiapkan untuk dipakai tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Lain halnya dengan perhiasan yang sengaja dihimpun atau disimpan, wajib dikeluarkan zakatnya.( Ar-Rajih] (yang lebih kuat). bahwa perhiasan harus dikeluarkan zakatnya. baik dipakai ataupun tidak. Wallahu a’lam.

Harta perniagaan wajib dikeluarkan zakatnya. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa dikaruniai harta oleh Allah tetapi tidak mau membayarkan zakatnya, niscaya pada hari kiamat nanti hartanya akan diwujudkan sebagai ular ganas yang memiliki dua taring bisa. Ular itu melilitnya pada hari kiamat dan mencabik-cabiknya pada kedua sisi mulutnya sambil berkata. 'Akulah hartamu, akulah perbendaharaanmu 1'' Lalu beliau membaca avat:

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١٨٠

Artinya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (QS. Ali Imran: ayat: 180). (Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1403. 4565. 4659) dan An-Nasa’i (5/39): dari Abu Hurairah)

Berkenaan dengan firman Allah. "Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka jahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung dan punggung mereka." (QS. At-Taubah: 35) Ibnu Mas'ud berkata, "Keadaannya bukan dinar ditumpuk-rumpuk pun bukan dirham ditumpuk-tumpuk. Tetapi mas'ing-masing dinar dan dirham dihamparkan yang mana kulitnva telah dilebarkan sedemikian rupa sehingga masing-masing dinar dan dirham mengambil tempatnya.(Asy-Syuyuthi berkata dalam Ad-Durr (Ad-Durru Al-Mantsuru) (3/419), diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Ath-Thabrani, dan Abu Asy-Syaikh Al-Mundziri berkata, Diriwayatkan oteh Ath-Thabrani. dan isnadnya shahih" Saya katakan. 'Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabari ( 10/124), dan semua perawinya tsiqah (terpercaya)."

Apabila ada yang bertanya mengapa khusus dahi, lambung, dan punggung yang terkena siksaan ini, maka jawabnya sebagai berikut. Apabila seorang hartawan yang kikir melihat orang fakir pastilah masam mukanya, ia lebarkan dahinya, lalu berpaling (menarik lambungnya ke samping). Dan jika orang fakir tadi mendekatinya niscaya dia akan membelakanginya (menampakkan punggungnya). Nah, ia nanti akan disiksa pada ketiga bagian tubuhnya itu, agar balasan siksa itu setimpal dengan apa yang telah dia lakukan.

Rasulullah saw. bersabda, "Lima dengan lima.'' Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah lima dengan lima itu?" Beliau menjawab, "Tidaklah suatu kaum itu melanggar perjanjian kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh mereka. Tidaklah manusia itu berhukum dengan selain hukum Allah kecuali akan tersebar kefakiran pada mereka. Tidaklah perbuatan keji tampak pada mereka kecuali kematian akan merajalela. Tidakiah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali paceklik dan kegersangan akan menimpa mereka. Tidaklah mereka menolak pembayaran zakat kecuali hujan akan dicegah turun pada mereka.(Hadits Diriwayatkan oleh lbnu Majah (4019). Al-Baihaqi (3042) dalam Asy-Syu'ab, Al-Hakim (4/540), dan Abu Nu'aim (8/333). Asy-Syaikh Al-Albani meng-hasan-kannya dalam Ash-Shahihah (106) dari lbnu Umar. Al-Baihaqi mengeluarkan hadits semisal itu dalam Asy-Syu'ab (3040). juga Al-Hakim (2/126) dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan (9/231) dari Buraidah)
loading...

Thursday, December 1, 2016

Pengertian, Kedudukan Anak Yatim dalam Islam

Pengertian, Kedudukan Anak Yatim dalam Islam

Dalam kitab Jawahirul Bukhari dikatakan bahwa pengertian anak yatim adalah anak yang ditinggal mati bapaknya dalam kondisi belum baliqh, masih kecil, atau belum dewasa. Sementara, Imani Zamakhsary menjelaskan bahwa anak yatim adalah orang yang bapaknya telah meninggal dunia. Pengertian ini berarti mencakup baik anak yang masih kecil maupun yang sudah besar atau dewasa. Hanya, tradisi Arab menyatakan bahwa yang layak menyandang sebutan sebagai anak yatim adalah anak yang masih kecil atau belum dewasa. Apabila seorang anak yatim telah tumbuh dewasa dan telah sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri maka gugurlah predikatnya untuk disebut sebagai anak yatim.

Di dalam Al-Qur’an sendiri menyebut kata yatim dalam beberapa kesempatan, yang semua merujuk pada nuansa muram seperti: ketakberdayaan, kelemahan, dan ketersisihan. Dan, memang dalam praktiknya, hak-hak anak yatim seringkali terlanggar. Harta mereka dirampas’, dan menjadi rebutan, bahkan oleh keluarga mereka sendiri. Ini terjadi karena tidak adanya lagi pelindung dan pengayom kehidupan- bapak mereka.

Oleh sebab itu, Islam memerintahkan kepada setiap umatnya untuk berbuat baik terhadap anak yatim; memperhatikan dan melindungi kebutuhan hidup mereka. Kedudukan anak yatim sangat penting dalam kehidupan mereka. .Mereka tidak boleh lagi dihardik, disisihkan,dan diperlakukan dengan tidak adil.

Firman Allah swt di dalam Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:

 فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ٩

Artinya: Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang

dengan iirman-Nya, ‘'Adapun terhadap anak yatim maka mtngunlak kamu berlaku sewenang-wenang. (Q.S. Adh-Dhuha [93j: 9)


Rasulullah saw bersabda yang artinya: Barangsiapa yang mengasuh tiga anak yatim, dia bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad fi sabilillah. Dan, kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.” (H.R. Ibnu Majah)

Baca juga

Yang menjadi salah satu alasan di balik perhatian Nabi Muhammad saw terhadap nasib anak yatim adalah dikarenakan Nabi sendiri sejak kecil telah ditinggal oleh ayah yang bernama Abdullah. Sehingga, Rasulullah SAW tidak hanya mengetahui perasaan anak yatim, bahkan beliau merasakan sendiri rasanya hidup tanpa belaian dan kasih sayang seorang ayah.

Perasaan baik berupa simpati dan empati yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW bukanlah sesuatu yang kosong, pura-pura, namun perasaan beliau adalah nyata berdasarkan pengalaman hidup beliau. Melalui hadits tersebut, Rasulullah SAW mengajak seluruh umatnya yaitu kaum muslimin, untuk menyayangi anak yatim, memperhatikan urusan mereka dari kebutuhan dasar yaitu hajat hidup mereka hingga pendidikannya.

Mari kita renungkan dan meresapi dalil hadits yang disabdakan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Saib bin Abdullah ketika dia datang menghadap Rasulullah SAW, '‘Wahai Saib, perhatikanlah akhlak yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, laksanakan pula ia dalam masa keislaman. Jamulah tamu, muliakanlah anak yatim, dan berbuat baiklah kepada tetangga (H.R. Ahmad, Abu Dawad, dan Al-Albani)

Baca juga Hak-hak tetangga

Dalam dalil hadits tersebut di atas, Rasulullah SAW menyuruh Saib untuk memuliakan anak yatim. Dan, anjuran yang merupakan perintah itu sesungguhnya berlaku juga untuk kita dan semua umat Islam, seluruh kaum muslimin.

Memuliakan anak yatim, atau mereka yang bukan yatim sekalipun, hanya bisa dilakukan oleh orang yang berhati mulia. Tak mungkin mereka yang tak memiliki kemuliaan hati berbuat mulia. Jadi, sebenarnya dalil hadits di atas memiliki makna lanjutan, yaitu kaum muslimin harus berhati mulia. Kaum muslimin harus menjadi pelopor dalam setiap sendi kebaikan, termasuk memberi sedekah dan menyantuni anak yatim.

loading...

Tuesday, November 29, 2016

Tingginya Derajat Orang yang Ahli Sedekah

Tingginya Derajat Orang yang Ahli Sedekah

Menjadi orang yang ahli sedekah atau sodaqoh berarti melangkah lebih pasti dalam mengukuhkan keimanan. Keimanan yang diucapkan atau diikrarkan di bibir dan diyakini di dalam dada harus dibuktikan. Maka, salah satu wujud nyata dari pembenaran iman kita adalah dalam bentuk sedekah.

Baca

Di Dalam Firman Allah di dalam Al-Qur’an, perintah beriman selalu diikuti, dengan perintah untuk berbuat kebaikan. Hal ini dengan sendirinya menandakan bahwa iman saja tidak cukup, tetapi harus dibuktikan dengan aksi dakam bentuk nyata atau perbuatan nyata. Dan, amal ibadah bersedekah merupakan salah satu bagian dari kebaikan yang mesti diperjuangkan, dan disebarluaskan oleh setiap kaum muslimin.


Sedikit menengok kembali pada awal sejarah Islam, kita akan menemui bahwa sosok tokoh sahabat Nabi Muhammad SAW seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan kawan-kawannya adalah teladan-teladan terbaik bagaimana mereka membuktikan keimanan mereka dengan menyedekahkan harta yang tidak sedikit jumlahnya untuk kejayaan agama Islam, untuk untuk kepentingan di jalan Allah SWT atau fisabilillah atau untuk orang-orang yang membutuhkan. Dan, karena keikhlasan mereka bersedekah itulah Allah swt meninggikan derajat mereka di tengah-rengah umat. Mereka tidak bangkrut, bahkan semakin kaya dari hasil-hasil usaha yang mereka jalankan.

Baca juga 

Terkait dengan derajat orang-orang yang ahli sedekah, Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Orang yang ahli sedekah, sodawoh (dermawan) dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga. Adapun orang bakhil dan kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka.”

Baca juga 

Inilah tingginya derajat orang-orang yang ahli sedekah yang dijanjikan Islam. Mereka dicintai oleh semua penduduk langit dan bumi, dan didoakan oleh para malaikat setiap pagi. Rasulullah, saw bersabda yang artinya sebagai berikut:

“Setiap pagi, ketika terbit matahari, ada dua malaikat berdoa untuk manusia di bumi. Yang satu berdoa, 'Ya Tuhanku, karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya karena Engkau (Allah).’ Dan yang satu lagi berdoa, ‘Musnahkanlah orang yang menahan hartanya (bakhil).’”


Juga Hadits Rasulullah saw bersabda yang artinya” Barangsiapa mengasuh tiga anak yatim, dia bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad fisabiiah. Dan, kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.” (H.R. ibnu Majah). Subhanallah…..

loading...

Tuesday, December 22, 2015

Hadiah, Sedekah, Hibah, Wakaf yang Percuma

Hadiah, Sedekah, Hibah, Wakaf yang Percuma

Dalam setiap beribadah, beramal agama Islam mengajarkan untuk mengerjakan amal ibadah dengan ikhlas. Dimana pengertian ikhlas secara ringkas adalah beramal, beribadah kebaikan yang hanya karena Allah, mentaati perintah Allah dan mencari Ridha Allah swt. semata. Oleh sebab itu, apabila ada seseorang yang berbuat amal kebaikan, akan tetapi dengan niat selain dari yang tersebut di atas, maka amal ibadahnya orang tersebut tidak ikhlas dan tidak akan diterima oleh Allah swt.

Baca juga Ilmu ikhlas

Terdapat amal ibadah yang dapat kita kerjakan di dunia ini untuk mempersiapkan bekal menuju perjalanan jauh yang begitu panjang di antaranya adalah dengan bersedekah, memberikan hibah, wakaf ataupun juga hadiah. 

Baca juga bekal terbaik dan paling utama

Akan tetapi agar amal ibadah seperti sedekah, hibah, wakaf dan hadiah yang kita berikan tersebut mendapat pahala dan diganjar oleh Allah sesuai dengan besar kecilnya amal maka setiap amal ibadah tersebut tidak boleh dirusak dengan hal-hal yang dapat membatalkan pahala dan ridha dari Allah swt.

Apa yang dapat membatalkan pahala sedekah, hadiah, wakaf dan hibah?

http://islamiwiki.blogspot.com/
Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, mari kita mencari referensi dan merujuk kepada sumber yang terpecaya dan menjadi pedoman hidup bagi umat Muslimin yaitu dalil di dalam Kitabullah Al-Qur'an al-Karim yang berbunyi sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٞ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٞ فَتَرَكَهُۥ صَلۡدٗاۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّمَّا كَسَبُواْۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. QS. Al-Baqarah ayat 264


Dengan demikian berdasarkan pada sumber dari al-Qur'an di atas, maka hal-hal yang dapat merusak pahala amal ibadah seperti sedekah, hadiah, hibah ataupun wakaf adalah menyebut-nyebut kebaikan atau amal ibadah yang dilakukan tersebut serta menyakiti hati yang menerimanya.

Dengan demikian apabila kita menginginkan sedekah, hadiah, wakaf dan hibah yang kita berikan mendapatkan pahala dan ridha Allah swt. maka kita harus menghindari hal-hal yang dapat merusak dan membatalkan pahala sedekah, wakaf, hibah, hadiah dan amal ibadah lain sejenisnya. Karena setelah kita meninggal nanti, salah satu bekal yang dapat kita bawa adalah sedekah atau sodaqoh amal jariyah.
loading...

Wednesday, March 4, 2015

Tidak Bijak Orang yang Tidak Menyedekahkan Harta

Tidak Bijak Orang yang Tidak Menyedekahkan Harta

Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Dalam hubungan dengan sesama manusia, Islam mengajarkan tentang kepedulian kepada sesama terutama bagi mereka yang membutuhkan. Salah satu bentuk peduli atau kepedulian terhadap sesama adalah dalam hal memberikan sesuatu dari sebagian yang kita miliki kepada sesama. Dalam sebuah Firman Allah swt dalam Kitabullah Al-Qur’an al-Karim yang berbunyi : 

لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٞ 

Artinya : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali Imran : ayat 92)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa seseorang tidak akan sampai mendapatkan kebajikan yang sempurna apabila seseorang tidak menyedekahkan atau memberikan harta yang dicintainya. Dalam ayat tersebut juga menerangkan bahwa Allah swt. adalah yang maha tahu dan mengetahui sekecil apapun yang kita nafkahkan. Dan sekecil apapun baik perbuatan baik maupun buruk akan diperlihatkan dan mendapatkan pahalanya. 

Berikut ini adalah sebuah kisah inspiratif dari salah seorang khalifah sahabat Nabi Muhammad saw. tentang kepedulian terhadap sesama dalam kondisi dan situasi apapun, baik ketika dalam keadaan ada maupun dalam keadaan tidak ada.

Pada suatu ketika Khalifah Abdullah bin Umar sedang sakit. Khalifah Abdullah bin Umar adalah pemimpin yang disebut sebagai khalifah yang membangun Bait al Maqdis. Beliau begitu dikhawatirkan oleh para bawahannya. Hari-demi hari kesehatan beliau semakin membaik. Ketika itu Khalifah umar menginginkan memakan ikan panggang.

Mendengar keinginan atasannya tersebut, para bawahannya bergegas mencari ikan dan membuat ikan panggang. Setelah ikan panggang dibuat, bau aroma ikan panggang pun memikat hasrat makan dari khalifah Abdullah sehingga beliau berkeinginan untuk segera memakannya.

Ketika beliau hendak memakan hidangan ikan panggang yang beliau inginkan, muncullah seorang musafir yang tampak kelaparan. Melihat kondisi musafir yang tampak kelaparan, dengan segera Khalifah Abdullah menyuruh bawahannya untuk mengambil hidangan ikan panggang tersebut untuk diberikan kepada seorang musafir tersebut.

Perintah tersebut membuat para bawahan atau pembantunya merasa keberatan apabila hidangan itu diberikan kepada seorang musafir, dan usaha mereka tidak dinikmati oleh khalifah Abdullah sendiri. Dan mereka bertanya mengapa diberikan kepada musafir dan tidak dinikmati oleh tuan mereka, padahal hidangan itu adalah sesuai dengan kehendak dari Khalifah?

Kemudian khalifah memberikan penjelasan kepada para bawahannya mengapa dia tidak menyantap makanan tersebut dan hidangan itu diberikan kepada musafir. Beliau menjelaskan sebagai berikut : 

"Wahai para pembantuku, apakah kamu mengetahui apabila aku memakan makanan itu, maka sesungguhnya hal itu aku kerjakan karena aku menyukai dan menginginkannya. Akan tetapi, apabila musafir itu yang memakannya, maka itu karena dia benar-benar sangat membutuhkannya. Maka sesungguhnya makanan tersebut lebih berharga bagi dirinya daripada bagiku.”

Kemudian, beliau khalifah Abdullah memberikan penjelasan tambahan dengan menyampaikan sebuah firman Allah dalam Kitabullah al-Quran sebagaimana yang sudah disampaikan pada awal pembahasan yang artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai"

Dari sebuah Kisah  Khalifah Abdullah di  atas memberikan kepada kita umat Islam pembelajaran yang sangat berharga yang mana kita seharusnya mempunyai rasa peduli terhadap sesama, terutama pada situasi dan keadaan yang mendesak serta darurat lebih-lebih diutamakan pada mereka yang lebih dan sangat membutuhkan.

Kita hidup sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lain tentu saja tidak dapat hidup tanpa bantuan dan kepedulian dari orang lain. Dalam hidup hendaknya juga lebih mementingkan kepentingan orang banyak daripada kepentingan individu. Rasa peduli atau kepedulian terhadap sesama akan dapat membawa berbagai macam manfaat dan kenaikan yang besar bagi kita semua. 

Kepedulian terhadap sesama sangat penting artinya dalam Islam. Hal ini juga dapat menambah kerjasama dan gotong royong sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Di samping itu, dengan adanya peduli terhadap sesama akan dapat membangkitkan tali silaturahmi yang sangat begitu dianjurkan dalam Islam. Karena orang yang memutuskan tali silaturahmi akan terputus dari tujuh langit. Semoga contoh sikap teladan dari khalifah Abdullah di atas dapat menjadi inspirasi bagi kita semua sehingga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik.
loading...

Tuesday, March 25, 2014

no image

Jagalah 5 Perkara Ketika Bersedekah & Zakat

Agar zakat dan sedekah kita menjadi sempurna yang juga turut menjadi amal ibadah yang menjadi bekal kita kepada kehidupan kelak mari kita bersama memahami dan mengetahui rahasia dan hal-hal yang perlu kita jaga dan perhatikan dalam bersedekah dan berzakat berdasar pada hadits Nabi dan Dalil dalam Al Qur'an al Karim.

Tentang rahasia zakat Imam Ghazali rahimmahullah ta’ala menjelaskan sebagai berikut:

Ketahuilah menginfakkan harta dalam kebaikan merupakan salah satu rukun agama. Adapun rahasia yang terkandung di dalamnya adalah: Harta merupakan sesuatu yang dicintai oleh manusia. Sedangkan seorang mukmin diperintahkan untuk mencintai Allah di atas segalanya. Oleh karena itu, mengeluarkan harta yang dicintainya merupakan ukuran atas kecintaannya kepada Allah, apakah imannya benar atau hanya ucapan belaka? Karena seseorang apabila mencintai sesuatu, maka akan segenap hatinya melakukan apa saja untuk memberi kebahagiaan kepada yang dicintainya.

Berdasarkan dengan ini manusia dibagi menjadi tiga:
  • Orang-orang yang kuat: mereka adalah orang-orang yang menginfakkan seluruh apa yang dimilikinya, tanpa meninggal sedikitpun untuk dirinya. Orang seperti ini telah menepati janjinya kepada Allah untuk mencintaiNya. Seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shidiq ra., ketika datang kepada Rasulullah saw., dengan membawa seluruh hartanya, lalu beliau bertanya: “Apa yang kamu tinggalkan untuk dirimu?” dia menjawab: “Allah dan rasulNya.”
  • Orang-orang yang dipertengahan (antara kuat dan lemah): Mereka adalah orang-orang yang belum mampu mengeluarkan seluruh hartanya. Tetapi yang ada bersamanya bukan untuk dirinya saja, melainkan untuk diinfakkan juga kepada orang yang membutuhkan. Apabila dia melihat seseorang membutuhkannya, maka dia cepat-cepat mengeluarkan sebagian hartanya. Dia mengeluarkan sebagian hartanya bukan sebatas zakat saja tetapi sedekah sunah.
  • Orang-orang yang lemah: Mereka adalah orang-orang yang hanya mengeluarkan zakat wajibnya saja.
Inilah derajat manusia dalam menginfakkan hartanya. Sebesar kecintaannya kepada Allah sebesar itu pula harta yang diinfakkan. Apabila kamu belum mampu melakukan derajat pertama dan kedua, maka lakukan derajat ketiga. Agar kamu terhindar dari golongan orang – orang yang pelit (bukhala). Di samping itu, berusahalah untuk melakukan sedekah setiap harinya walaupun hanya sedikit. Dengan demikian, tanpa disadari kamu akan naik kepada derajat kedua atau pertama.

Dalam mengeluarkan zakat dan sedekah, jagalah lima perkara berikut ini :
  • Sembunyi-sembunyi, Rasulullah saw., bersabda: “Sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan kemurkaan Allah.” Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi akan terhindar dari sifat riya. Karena sifat riya itu dapat penghancur pahala kebaikan.
  • Tidak mengharapkan pujian, karena orang yang seperti ini akan timbul kesombongan dalam dirinya. Dia merasa telah melakukan kebaikan kepada orang lain sehingga dia lebih mulia darinya. Ciri-ciri orang ini adalah mengharapkan ucapamn terima kasih dan merasa orang tersebut mengambil sebagian miliknya. Untuk menghilangkan kesombongan diantaranya kamu ingatkan diri bahwa harta yang kamu keluarkan adalah hak Allah yang ada padamu, untuk menyelamatkanmu dari sifat pelit dan membersihkan harta-hartamu. Sesungguhnya zakat adalah pembersih kotoran-kotoran manusia. Sebab itulah, zakat tidak boleh diberikan kepada Rasulullah dan keluarganya (ahlu bait)
  • Harta yang dikeluarkan merupakan harta yang paling baik yang kamu miliki. Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (Ali Imran [3] : 92) “Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya.” (al-Baqarah [2]:267) Rasulullah saw., bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan Dia tidak menerima kecuali yang indah.”
  • Ketika mengerluarkannya diiringi dengan wajah yang penuh senyuman. Karena 1 dirham yang dikeluarkan dari hati yang penuh kegembiaraan akan mengalahkan 100 dirham dari hati yang terpaksa.
  • Memberikan sedekah kepada orang yang menggunakannya untuk beribadah kepada Allah. Seperti orang alim yang bertaqwa yang menggunakan harta itu untuk ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah, orang saleh yang miskin dan kerabat dekat. Apabila ada seorang yang memiliki seluruh karakter ini maka dia adalah orang yang paling tepat diberikan sedekah. Kalaupun hanya salah satu sifat saja yang ada di dirinya, maka itupun cukup. Rasulullah saw., bersabda: “Jangan biarkan makananmu di makan kecuali orang yang bertaqwa, dan janganlah kamu makan kecuali makanan orang yang bertaqwa.”
Dari penjelasan diatas, kita telah mengetahui bahwa Allah menjadikan batasan pelit itu adalah orang yang hanya mengeluarkan zakat wajib saja, tanpa mengeluarkan sedekah sunnah. Dengan demikian, orang yang tidak mengeluarkan zakat wajib adalah orang yang pelit.

Sesuai firman Allah yang telah kami sebutkan: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu ) adalah saudara-saudaramu seagama.” (at-Taubah [9]:11)

Arti ayat ini adalah apabila seseorang tidak mendirikan shalat dan tidak mengeluarkan zakat, maka dia bukanlah saudara sesama muslim dan seagama. Ini merupakan larangan keras dari Allah bagi setiap orang yang ingin melakukan perbuatan baik. “Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah.”(al-Maidah [5]:41)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., Rasulullah saw., bersabda: “Tidaklah seseorang memiliki emas dan perak , dan dia tidak mengeluarkan zakatnya kecuali apabila datang hari kiamat akan dinyalakan api neraka untuknya. Lalu emas dan peraknya dipanaskan di dalam api neraka. Lalu dengannya (emas dan perak) orang itu disetrika dahi, lambung dan punggungnya. Ketika dingin (tubuhnya hancur) maka dikembalikan lagi, di hari yang lamanya 50.000 tahun. (hal itu berlangsung sampai) Allah mengadili hamba-hambaNya, maka dia akan melihat jalannya, apakah ke surga atau ke neraka.” (Bukhari Muslim)

Hadits ini dikuatkan dengan firman Allah:

يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ 

“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (at-Taubah [9]: 35)

Diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud ra., Rasulullah saw., bersabda: “Tidaklah seseorang yang tidak mengeluarkan zakat hartanya, kecuali pada hari kiamat hartanya akan berwujud ular yang botak dan ular itu dikalungkan dilehernya.” Lalu Rasulullah saw., membaca firman Allah : “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bathil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dilehernya dari hari kiamat.” (Ali Imran [3]:180) (HR. Ibn Hibban, an-Nasa’i dan Ibn Khudzaimah)
loading...

Saturday, March 22, 2014

no image

Zakat sebagai Pembebas Jalan

Berkenaan dengan zakat , Allah berfirman: 

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (at-Taubah [9]: 103) 

zakat adalah saudaranya shalat. Oleh karena itu, dalam beberapa ayat al-Qur’an dan hadist nabi, penyebutan zakat selalu diiringi dengan shalat, seperti dalil dalam firman Allah berikut ini

“Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” (at-Taubah [9]: 5) 

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (at-Taubah [9]: 11)

Secara zhahir makna ayat ini adalah orang yang tidak mengerjakan shalat dan menunaikan zakat, maka mereka tidak diberikan kebebasan untuk berjalan, akan tetapi harus diperangi. Karena mereka bukanlah saudaramu seiman dan seagama.

Abu Bakar ash-Shiddiq ra., berkata: “Demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dengan zakat.” (HR. Bukhari – Muslim) 

Perkataan ini sesuai dengan hadis nabi di atas. “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya, mendirikan shalat dan membayar zakat. Apabila mereka melakukan itu maka mereka terjaga dariku darah dan hartanya, kecuali berkaitan hukum Islam (had) dan hisab mereka diserahkan kepada Allah.” (HR. Bukhari – Muslim)

Diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra., ketika Nabi saw mengirim Mu’adz ke Yaman, beliau berkata:

“Serulah mereka kepada syahadat bahwa Tiada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah. Apabila mereka mentaatimu untuk melakukan itu, beritahu kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka shalat lima waktu sehari semalam. Apabila mereka mentaatimu untuk melakukan itu, beritahu kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka sedekah dari harta-harta mereka. Mengambil harta dari orang-orang kaya diantara mereka dan mengembalikan kepada orang-orang miskin diantara mereka.” (HR. Bukhari-muslim)

Ketahuilah! Zakat itu dibagi menjadi dua: zakat harta dan zakat badan. Zakat harta berkaitan dengan lima macam: zakat emas dan perak (naqdain), perdagangan, zakat buah-buahan seperti korma dan anggur, zakat pertanian dan binatang seperti onta, sapi dan kambing.

Adapun nisab (ukuran zakat) dari ini semua berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhari, diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra.,: dia bercerita bahwa Abu Bakar ra., menulis surat kepadanya: “Ini (zakat) adalah sedekah wajib yang telah diwajibkan oleh Rasulullah saw atas semua kaum muslimin sebagaimana diperintahan Allah kepada RasulNya:
  • (Zakat Onta) dalam 24 ekor unta dan kurang darinya: Setiap 5 ekor unta (mengeluarkan zakat) 1 kambing berumur satu tahun. Apabila jumlahnya sampai 25 unta sampai 35 unta, zakatnya adalah 1 unta bintu mahadh (unta betina berumur 1 tahun memasuki 2 tahun). Apabila tidak ada maka (diganti) 1 unta ibn labun (unta jantan berumur 2 tahun memasuki 3 tahun. Apabila jumlahnya sampai 36 unta sampai 45 unta, zakatnya 1 unta bintu labun (unta betina berumur 2 tahun memasuki 3 tahun). Apabila jumlahnya sampai 46 unta sampai 60 unta, zakatnya 1 unta hiqqah (unta betina berumur 3 tahun memasuki 4 tahun). Apabila jumlahnya sampai 61 unta sampai 75 unta, zakatnya 1 unta jaz’ah (unta betina berumur 4 tahun memsauki 5 tahun). Apabila jumlahnya sampai 76 unta sampai 90 unta, zakatnya 2 unta labun. Apabila jumlahnya sampai 91 unta sampai 120 unta, maka setiap 40 zakatnya 1 unta bintu labun dan setiap 50 unta zakatnya 1 unta hiqqah. Barangsiapa yang tidak memiliki unta kecuali 4 ekor maka tidak wajib baginya zakat, kecuali apa yang dikehendaki Tuhannya (sedekah sunah).
  • (Zakat kambing) Dalam zakat kambing sebagai binatang ternak. Apabila jumlahnya 40 kambing sampai 120 kambing, zakatnya 1 kambing berumur 1 tahun. Apabila jumlahnya lebih dari 120 kambing sampai 200 kambing, zakatnya 2 kambing. Apabila jumlahnya lebih dari 200 kambing sampai 300 kambing, zakatnya 3 kambing. Apabila jumlahnya lebih dari 300 kambing, maka setiap 100 kambing zakatnya 1 kambing. Apabila kambing peliharaan seseorang kurang dari 40 kambing, maka tiaklah wajib baginya mengeluarkan zakat kecuali apa yang dikehendaki Tuhannya.”
  • (Zakat sapi) Diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal ra., ketika Rasulullah saw mengirimnya ke Yaman, beliau memerintahkan kepadanya untuk mengambil setiap 30 sapi, 1 sapi tabi’ atau tabi’at (sapi laki-laki atau betina berumur 1 tahun). Dan setiap 40 sapi, 1 sapi musinnah (sapi betina berumur 2 tahun). (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Majah dan Ibnu Hibban)
  • (Zakat dirham dan dinar) Diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib ra., Rasulullah saw., bersabda: “Apabila kamu memiliki 200 dirham dan telah sampai haulnya (satu tahun) maka zakatnya 5 dirham. Atau, kamu tidak memiliki sesuatu dari emas, sampai kamu memiliki 20 dinar dan telah sampai haulnya, maka zakatnya setengah dinar. Sedangkan, apaila lebih maka hitungannya seperti itu.” (HR. Abu Daud)
  • (Zakat Tanaman) Diriwayatkan oleh Sa’id al-Khudri ra., Rasulullah saw., bersabda: “Tidaklah kurang dari 5 wasaq dari buah-buahan dan biji-bijian terkena zakat.” (HR. Muslim) Diriwayatkan oleh Ibn Umar ra., Rasulullah saw., bersabda: “Tanaman yang disirami hujan dan mata air atau tidak disirami sendiri, maka zakatnya 1/10. Apabila disirami dengan timba maka zakatnya 1/20.” (HR. Bukhari)
Zakat Fitrah

Yang dimaksud dengan zakat badan adalah zakat fitrah. Berdasarkanm hadits nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Umar ra., dia berkata: “Rasulullah saw., mewajibkan zakat fitrah satu sha’ dari korma atau satu sha’ dari gandum atas budak dan orang yang merdeka, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau orang dewasa dari kaum muslimin. Rasulullah juga memerintahkan untuk mengerluarkannya sebelum orang-orang keluar untuk shalat ied.” (HR. Bukhari – Muslim) 
loading...

Thursday, May 30, 2013

no image

Wajibnya Zakat Pada Harta Orang yang Berhutang

Barangsiapa memiliki senishab harta yang lazim dizakati sebagaimana tersebut di atas, sedang yang senishab itu tetap dia miliki selama satu tahun penuh, maka wajiblah dizakati. Zakatnya itu wajib dia ke-luarkan seperti tersebut di atas, sekalipun dia mempunyai hutang-hutang yang dapat menghabiskan sama sekali harta yang ada padanya, atau menguranginya dari nishab. 

Dan demikian pula halnya bagi orang yang memiliki barang dagangan, sedang barang itu telah mencapai nishab sesudah lewat setahun sejak dimiliki, maka hutangnya tidak mencegah kewajiban zakat pada harta yang ada pada tangannya, baik itu barang dagangan atau lainnya. 

Hal itu, karena hutang itu berkenaan dengan penanggungan (dzimmah), sedang zakat kaitannya dengan harta yang ada pada tangannya, yang waktunya telah tiba buat dizakati, lagi pula, apabila zakat dari suatu harta telah tiba saat dikeluarkannya, maka ia menjadi milik orang yang wajib diberi, yaitu para mustahiq yang berhak menerimanya. Dan kalau zakat itu masih berada di tangah pemilik harta, maka tetap wajib disampaikan kepada mereka. Hal ini didukung oleh apa yang telah diriwayatkan Imam Malik dalam Muwaththa'nya (1:253), bahwa utsman bin 'Affan RA pernah mengatakan:

 هَذَا شَهْرُ زَكاَتِكُمْ ٬ فَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَلْيُؤَدِّ دَيْنَهُ ٬ حَتَّى تَحْصُلَ اَمْوَالُكُمْ ٬ فَتَؤُدُّوْنَ مِنْهُ الزَّكَا ةُ٠ 

Artinya: "Ini adalah bulan zakat kamu sekalian. Oleh sebab itu, barangsiapa yang mempunyai hutang, hendaklah ia melunasi hutangnya, sehingga tinggal hartamu sendiri. Dengan demikian kamu dapat menunaikan zakatnya. " 

Sayidina Utsman RA telah memperingatkan orang-orang supaya melunasi hutang-hutang mereka sebelum habisnya bulan di mana terjadi saat ulang tahun buat mengeluarkan zakat. Dengan habisnya bulan ini zakat tetap wajib dikeluarkan dari harta mereka, tidak peduli berapa hutang mereka. (al-Umm karangan asy-Syafi'i h. 42-43) . 

Tak mengapa kami tunjukkan di sini, bahwa Imam Abu Hanifah RH berpendapat, barangsiapa punya hutang, maka dia tidak wajib berzakat, kecuali apabila memiliki se- nishab atau lebih, selebihnya dari hutangnya. Dia hanya menzakati yang selebihnya dari hutangnya saja. Anda lihat, bahwa yang lebih terhindar dari dosa (wara') dalam beragama, dan lebih berhati-hati bagi kemaslahatan orang fakir, hendaklah mengambil pendapat asy- Syafi'i -semoga Allah merahmati mereka semua. ((al-Umm karangan asy-Syafi'i h. 42-43) .)
loading...
no image

Wajibnya Zakat Pada Piutang

Barangsiapa mempunyai piutang yang mencapai nishab, baik piutang itu sendiri atau setelah digabung dengan harta miliknya yang lain, maka ia wajib mengeluarkan zakatnya apabila telah berulang tahun, se-bagaimana halnya harta lainnya yang ada pada tangannya. Hal itu, karena piutang itu pun harta juga yang mengalami ulang tahun. Oleh karena itu ia pun wajib dizakati. Adapun kalau ia tidak ada di tangan, itu tidak menghalangi kewajibannya untuk dizakati, seperti halnya harta perniagaan yang tidak ada di tempat dan barang titipan. Sesungguhnya kedua-duanya pun tetap wajib dizakati, sekalipun tidak ada di tangan. 

Waktu Mengeluarkan Zakat Piutang
  • Apabila piutang itu telah tiba saat pembayarannya, sedang kreditor dapat mengambilnya dari debitor, karena pada debitor itu ada uang untuk melunas hutangnya umpamanya, maka kreditor wajib me-ngeluarkan zakatnya seketika kewajiban zakat itu datang waktunya, sekalipun piutang itu belum dipegangnya. Karena piutang itu sudah bisa dihukumi sebagai harta yang terpegang. Jadi, seperti halnya barang titipan yang ada di tangan debitor. Dia bisa mengambilnya dan memperlakukannya kapan saja. 
  • Dan kalau piutang telah tiba saat pembayarannya, tetapi kreditor tidak dapat mengambilnya, karena debitor dalam kesulitan, atau dia mengingkarinya sedang kreditor tidak memegang kuitansi, maka kreditor tidak wajib mengeluarkan zakatnya seketika. Karena dia tidak bisa mengambil dan memperlakukan piutangnya itu. Tetapi piutang itu cukup diperhitungkan saja dan dicatat selama masih ber-ada dalam tanggungan debitor. Nanti kalau sudah terpegang, barulah piutang itu dia keluarkan zakatnya selama tahun-tahun yang di-lewatinya. Karena zakatnya untuk setiap tahun wajib dia keluarkan dan tetap dalam tanggungannya, seperti halnya harta miliknya yang tidak ada di tangan, yang wajib dia tunaikan zakatnya ketika sudah terpegang. 
  • Begitu pula, apabila piutang itu masih tertangguh pembayarannya, kreditor tidak wajib mengeluarkan zakatnya sampai saat pembayarannya tiba. Apabila saat itu telah tiba dan piutang itu telah terpegang atau belum terpegang tetapi dia sebenarnya bisa memegangnya maka dia keluarkan zakatnya untuk tahun-tahun yang dilewatinya. Sedang kalau saat pembayarannya tiba, sedang piutang itu belum dipegangnya, dan dia tidak mampu pula memegangnya, maka tunggulah, Nanti kalau sudah terpegang, barulah dikeluarkan zakatnya untuk tahun-tahun yang telah dilewatinya.
loading...
no image

Mengutamakan Memberi Zakat Kepada Kerabat/Saudara

Apabila orang kaya yang hartanya wajib dizakati itu mempunyai kerabat-kerabat yang tidak wajib dia nafkahi, seperti saudara-saudara lelaki maupun perempuan, paman-paman dan bibi-bibi dari pihak ibu maupun ayah berikut anak-anak mereka, dan lain-lainnya, sedang mereka itu fakir atau miskin atau tergolong dalam golongan lainnya di antara mereka yang berhak menerima zakat, maka boleh saja zakat diberikan kepada mereka, bahkan merekalah yang lebih patut diberi daripada orang lain. 

Dan termasuk yang boleh diberi zakat dalam hal ini ialah anak-anak yang sudah besar, yang sudah mampu kasab tetapi kasab mereka tidak mencukupi. 

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (658) dan an-Nasa'i (5:92) dan Ibnu Majah (1844), sedang lafazh hadits ini menurut Ibnu Majah dari Salman bin 'Amir RA, dia berkata: Sabda Rasulullah SAW:

 الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ٬ وَ عَلَى ذِى الْقَرَابَةِ اِثْنَتَانِ ׃ صَدَقَةٌ وَ صِلَةٌ٠ 

Artinya: "Bersedekah kepada orang miskin berpahala satu sedekah. Sedang (bersedekah) kepada kerabat berpahala dua: sedekah dan silaturrahim. " 

Selain Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Maksudnya, barangsiapa yang nasabnya terbukti bersambung kepada Bani Hasyim atau Bani Muththalib, maka tidak boleh diberi zakat, berdasarkan sabda Nabi SAW:

 الصَّدَقَاتُ اِنََّمَاهِىَ اَوْسَاخُ النَّاسِ ٬ وَاِنَّهَا لاَتَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلاَ لآلِ مُحَمَّدٍ٠ 

Artinya : "Sesungguhnya zakat-zakat ini tak lain adalah kotoran-kotoran ma-nusia. Dan sesungguhnya zakat-zakat ini tidak halal bagi Muham-mad maupun bagi keluarga Muhammad. " (H.R. Muslim: 102) 

Dan menurut riwayat al-Bukhari (1420) dan Muslim (1069) dari Abu Hurairah r.a., ia berkata:

 اَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ تَمْرَةً مِنْ تَمْرَةِ الصَّدَقَةِ فَجَعَلَهَا فِى فِيْهِ ٬ فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كِخْ ـ كِخْ ـ لِيَطْرَحَهَا ـ ثُمَّ قَالَ ׃ اَمَا شَعُرْتَ اَنَّالاَ نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ٠ 

Artinya: "Al-Hasan bin Ali pernah memungut sebutir kurma zakat lalu dia masukkan ke dalam mulutnya. Maka Nabi SAW berkata: "Ih, ih!" maksudnya supaya kurma itu dia buang- selanjutnya beliau berkata: "Tidakkah kamu tahu, bahwa kita tidak memakan zakat?" 

 Yang dimaksud keluarga Muhammad di sini ialah anak-cucu keturunan Hasyim dan Abdul Muththalib.
loading...

Wednesday, May 29, 2013

no image

Istri Memberi Zakat Kepada Suami

Isteri yang kaya, sedang hartanya wajib dizakati, ia disunnatkan memberi zakat kepada suaminya, jika suaminya fakir. Dan disunnatkan pula dia menafkahkannya kepada anak-anaknya, jika mereka fakir. Karena memberi nafkah kepada suami dan anak-anak bukan kewajiban ibu dan isteri. Menurut riwayat al-Bukhari (1397) dan Muslim (1000):

 اَنْ زَيْنَبَ اِمْرَاةُ عَبْدِ اﷲِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِىَ اﷲُ عَنْهُمَا سَاَلْتُ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ׃ اَيُجْزِئُ عَنِّى اَنْ اُنْفِقَ عَلَى زَوْجِىْ وَاَيْتَامِ لِى فِى حِجْرِى ؟ فَقَالَ لِمَنْ بَلَّغَهُ سُؤَالَهَا ׃ نَعَمْ، لَهَا اَجْرَانِ ׃ اَجْرُ الْقَرَابَةِ ، وَاَجْرُ الصَّدَقَةِ٠ 

Artinya: "Bahwa Zainab, isteri Abdullah bin Mas'ud R A pernah bertanya kepada Rasulullah SA W: "Apakah sah jika aku menafkahkan (zakat) kepada suamiku dan beberapa anak yatim yang ada dalam pemeliharaanku?" 

Maka jawab Nabi lewat orang yang menyampaikan kepada beliau pertanyaan Zainab itu: "Ya, dia mendapat dua pahala: pahala kekerabatan, dan pahala zakat." 

Dan al-Bukhari (1398) dan Muslim (1001) meriwayatkan pula, dari Ummu Salamah RA, dia berkata:

 قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اﷲِ ٬اَلِى َاَجْرٌ اِنْ اُنْفِقْ عَلَى بَنِى اَبِى سَلَمَةَ ٬ اِنَّمَا هُمْ بَنِّى ؟ فَقَالَ ׃ اَنْفِقِىْ عَلَيْهِمْ ، فَلَكِ اَجْرُ مَا اَنْفَقْتِ عَلَيْهِمْ٠ 

Artinya: "Pernah aku bertanya: "Ya Rasul Allah, apakah aku mendapat pahala jika aku menafkahkan (zakat) kepada anak-anak Abu Salamah; mereka tak lain anak-anakku juga?" Jawab Nabi: "Nafkahkanlah kepada mereka, maka kamu mendapat pahala dari apa yang kamu nafkahkan kepada mereka. " 

Kedua hadits ini oleh al-Bukhari RH disebutkan di bawah judul: Memberi Zakat Kepada Suami Dan Anak-anak Yatim Yang Dipelihara Pemberi Zakat.
loading...
no image

Memberi Zakat Pada Orang yang Sudah Cukup

Bolehkan kita "MEMBERIKAN ZAKAT KEPADA ORANG YANG SUDAH TER-CUKUPI DENGAN NAFKAH ORANG LAIN"? 

Kita tahu, bahwa orang yang berkewajiban zakat tidak boleh memberikannya kepada orang yang dia nafkahi, seperti isteri, ayah-ibu dan anak-cucu, sebagai orang fakir atau miskin. Sekarang, bolehkan dia diberi zakat oleh orang lain yang tidak menanggung nafkahnya.
  • Kalau dia sudah tercukupi dengan nafkah dari penanggungnya, maka tidak sah zakat diberikan kepadanya, karena dia sudah cukup dengan nafkah penanggungnya. 
  • Tetapi kalau dengan nafkah itu tidak tercukupi, maka boleh dia di-beri zakat. Karena dalam hal ini dia fakir atau miskin.
loading...
no image

Syarat Orang yang Berhak Menerima Zakat

Untuk golongan orang-orang yang menerima zakat, dan untuk sahnya zakat itu dibayarkan kepada seseorang yang termasuk delapan golongan tersebut di atas, ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi, yaitu sebagai berikut: 
  • Islam. Jadi, zakat yang wajib, tidak boleh dibayarkan kepada selain orang Islam. Hal itu ditunjukkan oleh sabda Nabi SAW:
 اُدْعُهُمْ اِلَى شَهَادَةِ اَنْْ لآاِِلَهَ اِلاّ َاﷲُ وَاَنِّى رَسُوْلُ اﷲِ ٠٠٠ فَاِنْ هُمْ اَطَاعُوا لِذََلِكَ فَاَعْلِمْهُمْ اَنَّ اﷲَ قَدِافْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً ׃ تُؤْخَذُ مِنْ اَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ٠ 

Artinya: "Serulah mereka supaya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa aku adalah Rasul Allah Jika mereka telah mematuhi hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa Allah benar-benar telah mewajibkan kamu mengeluarkan zakat, yang dipungut dari orang-orang kaya di antara mereka, lalu dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. " (H.R. al-Bukhari: 1331, dan Muslim: 19)

Jadi jelas, bahwa zakat itu dipungut dari orang-orang kaya kaum muslimin, dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka. Sebagaimana zakat itu tidak dipungut dari orang-orang kaya yang tidak muslim, maka tidak diberikan pula kepada orang-orang fakir yang tidak muslim. Orang-orang yang tidak beragama Islam boleh diberi sedekah-sedekah lainnya, selain zakat yang wajib. 
  • Tidak mampu kasab. Artinya, kalau ada orang fakir atau miskin yang mampu berusaha dengan pekerjaan yang layak, yang menda-tangkan penghasilan yang mencukupinya, maka tidak sah diberi zakat, dan dia pun tidak boleh menerimanya. Karena menurut ri-wayat at-Tirmidzi (652) dan Abu Daud (1634), sabda Nabi SAW:
 لاَ تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِييٍّ ٬ وَلاَ لِذِىْ مِرَّةٍ سَوِيٍّ٠ 

Artinya: "Zakat tidak halal diberikan kepada orang kaya, maupun kepada orang yang mampu berusaha yang layak. "

Sedang menurut riwayat lain oleh Abu Daud (1633):

 وَلاَ لِذِىْ قُوَّةٍ مُكْتَسِبٍ٠ 

Artinya: "dan tidak pula kepada orang yang mempunyai kekuatan kasab." 
  • Bukan orang yang wajib dinafkahi oleh si pemberi zakat. Karena orang yang seperti itu sudah tercukupi dengan nafkah tersebut. Dan apabila pemberi zakat itu membayarkan zakatnya kepadanya, berarti dia membayar kepada dirinya sendiri, karena manfaatnya akan kembali kepada dirinya. Sebab dengan demikian sama saja dengan menahan nafkah untuk dirinya atau meringankannya. 
Maka, tidak boleh membayar zakat kepada ayah, ibu, kakek, nenek dan seterusnya ke atas. Karena nafkah mereka menjadi ke-wajiban anak-anak mereka. Begitu pula, tidak boleh membayar zakat kepada anak-anak lelaki maupun perempuan, jika mereka masih kedi, atau sudah besar tapi gila atau sakit menahun. Karena nafkah mereka menjadi kewajiban ayah.
Dan juga, zakat tidak boleh diberikan kepada isteri, karena dia wajib dinafkahi oleh suaminya.

Demikianlah, akan tetapi patut diperhatikan di sini, bahwa me-reka tidak boleh diberi zakat manakala atas nama orang fakir atau miskin. Adapun kalau seorang dari mereka ada yang tergolong go-longan lain, selain fakir dan miskin, umpamanya berhutang atau di jalan Allah, maka orang yang berkewajiban menafkahinya boleh memberinya zakat dari hartanya atas nama seperti itu.
loading...
no image

Memindahkan Zakat dari Tempat yang Diwajibkan

Memindahkan zakat ke selain negeri di mana ia wajib dikeluarkan, yaitu tempat harta itu berada, adalah tidak boleh, selagi di negeri itu masih ada orang-orang yang berhak menerimanya, meskipun jaraknya dekat. Karena hal itu menimbulkan kecil hati, dan berarti menghina kepada mereka yang berhak menerimanya di negeri diwajibkannya zakat itu. Karena mereka sangat menginginkannya dan angan-angan mereka pun terpaut padanya. 

Dan juga, karena Nabi SAW telah bersabda kepada Mu'adz RA ketika beliau mengirimnya ke Yaman:

 فَاَعْلِمْهُمْ اَنَّ اﷲَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ اَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ٠ 

Artinya: "maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa Allah telah mewajibkan mereka mengeluarkan zakat, yang dipungut dari orang-orang kaya di antara mereka, lalu dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. " 

Apabila salah satu golongan tidak terdapat di negeri dikeluarkan-nya zakat itu, atau bagian dari warga golongan itu melebihi hajat mereka, barulah bagian dari golongan itu, atau kelebihan yang tidak diperlukan oleh warganya itu boleh dipindahkan kepada golongan yang sama dari warga salah satu negeri di antara negeri-negeri yang patut dikirim zakat.
loading...
no image

Cara Membagikan Zakat Kepada Penerima Zakat

Zakat dibagikan kepada yang ada di tempat zakat itu dikeluarkan, di antara golongan-golongan yang berhak menerima zakat:
  • Kalau mereka semua ada, maka zakat wajib dibagikan kepada mereka semua, tidak boleh ada satu golongan pun yang tidak mendapati (Menurut selain Madzhab Syafi'i, zakat boleh diberikan kepada salah satu golongan saja, atau kepada salah seorang di antara warga golongan itu. Sedang Imam Malik mengatakan, zakat itu diberikan kepada yang paling membutuhkannya.) 
  • Kalau salah satu golongan tidak ada, maka bagiannya dibagikan kepada golongan-golongan yang ada. 
  • Kalau bagian dari salah satu golongan melebihi kebutuhan warga-nya, maka kelebihan itu dibagikan kepada golongan-golongan lain-nya. 
  • Zakat dibagikan kepada golongan-golongan yang ada dengan sama-rata, sekalipun hajat mereka berbeda-beda, selain bagian untuk para 'amil. Mereka hanya diberi upah, sebagaimana telah diterangkan, sebelum zakat dibagi. 
Dan tidak dipersyaratkan harus sama-mata di antara sesama warga satu golongan, tapi boleh yang satu melebihi yang lain. Sedang kalau zakat itu dibagikan sendiri oleh pemberinya atau wakilnya, maka pada setiap golongan wajib ada tiga orang paling sedikit yang diberi, jika bilangan mereka tidak terhitung. Karena setiap golongan dalam ayat di atas disebutkan dengan Shighat Jama', sedang jama' itu paling sedikit tiga. Adapun kalau bilangan mereka bisa dihitung, mudah diketahui dan menurut kebiasaan bisa diperiksa secara tepat, maka semuanya wajib kebagian, manakala zakat itu dapat mencukupi hajat mereka semua. Dan kalau ada salah seorang di antara mereka yang tertinggal dalam kedua keadaan tersebut, sedang pemberi zakat itu tahu akan hal itu, maka ia wajib menjamin akan memberikan harta kepada orang yang paling sedikit bagiannya.
loading...
no image

Siapa Saja Para Penerima Zakat?

Allah SWT telah menyebutkan orang-orang yang berhak menerima zakat dalam firman-Nya: Artinya: "Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Q.S. at-Taubah 9:60) 

Penjelasannya sebagai berikut: 
  1. Al-Fuqara' jamak dari faqir. Artinya orang yang tidak berharta dan tidak tercukupi makanan, pakaian maupun tempat tinggalnya. Seperti halnya orang yang memerlukan sepuluh, tetapi hanya mampu tiga. 
  2. Al-Masakin jamak dari miskin. Artinya orang yang masih memiliki sesuatu buat menutupi hajatnya, tetapi tidak cukup. Seperti halnya orang yang memerlukan sepuluh umpamanya, tetapi hanya mendapat delapan saja. Yang pertama dan yang kedua ini diberi zakat, buat mencukupi kebutuhan sebagian besar dari hidupnya, demikian menurut pendapat yang lebih sah. Dan patut pula diperhatikan di sini, bahwa hajat untuk kawin adalah lengkapnya kecukupan yang patut mendapat perhatian, ketika memperkirakan apa yang sudah dimiliki seseorang dan apa yang diperlukannya. 
  3. Al-'Amilina 'alaiha ialah para pegawai dan petugas pemungutan zakat, yang ditugaskan pemerintah untuk mengumpulkan dan mem-bagikannya. Mereka diberi upah sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan, tidak boleh lebih dari itu. Dan juga, tidak boleh diberi seukuran tertentu dari hasil pungutan mereka. Karena untuk itu tidak ada dalilnya dalam Syari'at Allah Ta'ala. Mereka tak lain adalah para pegawai, yang hanya digaji sepadan dengan pekerjaannya. 
  4. Al-Mu'allafatu qulubuhum adalah orang-orang yang baru masuk Islam. Dengan diberi zakat, diharapkan keislaman mereka akan se-makin kuat. Atau, mereka adalah orang Islam yang berpengaruh dan berkedudukan tinggi di tengah kaumnya. Dengan diberi zakat, diharapkan yang lain-lain pun akan mengikuti jejaknya masuk Islam. Atau, mereka adalah orang-orang Islam yang tinggal di benteng-benteng, karena memelihara kaum muslimin lainnya dari serangan orang-orang kafir dan teror kaum pemberontak, atau bertugas memungut zakat dari suatu kaum yang kepada mereka tidak bisa dikirimkan para pejabat pemerintah. Mereka hanya diberi sebagian saja dari zakat, apabila kaum muslimin memerlukan mereka. Sedang kalau tidak memerlukan, maka mereka sama sekali tidak diberi. 
  5. Fir Riqab (untuk leher-leher). Maksudnya, untuk memerdekakan leher-leher kaum budak dari perbudakan. Adapun yang dimaksud budak-budak di sini ialah budak-budak mukatab, yakni mereka yang telah mendapat janji dari tuan-tuan mereka supaya membayar sejumlah uang. Apabila dapat melunasinya, maka mereka akan di-merdekakan. Para budak mukatab diberi zakat selagi mereka belum dapat melunasi pembayaran tersebut. 
  6. Al-Gharimim, yaitu orang-orang yang tertindih banyak hutang dan tidak mampu melunasinya. Mereka diberi secukupnya agar dapat melunasi hutang-hutang yang telah tiba saat membayarnya, di sam-ping makanan, pakaian dan tempat tinggal secukupnya, dengan syarat hutang mereka itu untuk sesuatu yang diizinkan Syara'. Akan tetapi kalau hutang mereka untuk sesuatu yang tidak diizinkan Syara', maka mereka tidak boleh diberi zakat, kecuali bila mereka telah bertaubat dari ma'siatnya itu, dan besar kemungkinan taubatnya benar-benar. Termasuk dalam golongan ini, orang yang berhutang untuk mencegah terjadinya percekcokan di antara dua orang yang ber-sengketa. Dia diberi seharga hutangnya untuk tujuan ini, sekalipun dia orang kaya yang memiliki uang pribadi buat melunasi hutang tersebut. 
  7. Fi Sabilillah. Di sini yang dimaksud ialah tentara yang dengan suka-rela berjuang membela agama Islam, sedang mereka tidak mendapat imbalan maupun gaji dari harta kaum muslimin. Mereka masing- masing diberi zakat sekedar yang mencukupi dirinya dan orang- orang yang wajib dia nafkahi, sehingga dia pulang, sekalipun lama kepergiapnya, dan sekalipun dia orang kaya. Di samping dia diberi pula sarana untuk membantu perjuangannya, seperti alat-alat trans-portasi, pengangkut barang-barang dan perkakas-perkakas perang dan lain-lain. 
  8. Ibnu Sabil, orang yang sedang atau hendak melakukan perjalanan jauh yang halal, yakni tidak memuat maksiat, biar piknik sekalipun. Dia diberi bekal secukupnya untuk perjalanannya atau selagi dalam perjalanan- pulang-pergi kalau dia menginginkan pulang. Bahkan juga kendaraan dan sarana angkutan jika dia tidak mampu membawa barang-barangnya. Tetapi kalau dia bermaksiat dengan perjalanannya, atau selagi dalam perjalanan, maka tidak boleh diberi zakat, kecuali apabila dia bertaubat, dan besar kemungkinan taubatnya itu benar-benar. 
Delapan golongan inilah orang-orang yang berhak menerima zakat. Dan zakat hanya diberikan kepada mereka saja, tidak boleh untuk selain mereka. Hal ini ditunjukkan oleh Shighat Hashr (bentuk pengurungan) pada firman Allah Ta'ala:

 اِنَّمَا الصَّدَقَاَتُ لِلْفُقَرَآءِ٠٠٠ 

Artinya: "Sedekah-sedekah hanyalah untuk orang-orang fakir" 

Sedang yang dimaksud sedekah-sedekah ialah zakat wajib, dengan dalil firman Allah Ta'ala pada akhir ayat tersebut:

 فَرِيْضَةً مِنَ اﷲِ 

Artinya: " sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. " 

Adapun sedekah-sedekah sunnah selain zakat, boleh dibagikan ke-pada selain delapan golongan tersebut di atas.
loading...
no image

Niat Ketika Membayar Zakat

Niat ketika membayar atau mengeluarkan zakat adalah wajib hukumnya, agar zakat itu bisa dibedakan dari kafarat-kafarat dan jenis-jenis sedekah lainnya. Dasarnya ialah hadits masyhur:

 اِنَّمَا الاَعْمَلُ بِالنِّيََاتِ ٠ 

Artinya: "Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat-niatnya. " (H.R. al-Bukhari: 1, dan Muslim: 1907) 

Kalau zakat itu dikeluarkan sendiri, maka pemberi zakat harus menghadirkan niat itu di waktu membayarkannya kepada si penerima, atau ketika memisahkan bagian dari hartanya yang akan dikeluarkan sebagai zakat. Artinya, kalau dia sudah berniat ketika memisahkan itu, bahwa bagian ini adalah untuk menzakati hartanya, itu sudah cukup, dan tidak wajib menghadirkan niat sekali lagi ketika membayarkannya. 

Dan kalau pemberian zakat itu diwakilkan, maka niat berzakat hendaklah dilakukan ketika menyerahkannya kepada wakilnya, sedang wakil itu tidak wajib lagi menghadirkan niat apa pun di kala menyerahkannya kepada para penerima. Hanya, lebih baik wakil itu juga berniat ketika membagikan zakat kepada mereka. 

Dan kalau pemberi zakat itu tidak berniat apa-apa ketika menyerahkannya kepada wakilnya, maka sekalipun wakil itu berniat ketika membayarkannya kepada para penerima, namun itu tidak cukup. 

Dan kalau zakat itu diserahkan kepada pemerintah atau wakilnya, maka pemberi zakat harus berniat ketika membayarkannya kepadanya, dan itu sudah cukup. Karena pemerintah itu mewakili para penerima. Jadi, niat ketika memberikannya kepada pemerintah sama saja dengan niat ketika memberikannya langsung kepada para penerima yang sebenarnya. 

Jika pemberi zakat itu tidak menghadirkan niat ketika memberikan-nya kepada pemerintah, maka kalaupun pemerintah yang meniatkannya sesudah itu, tetap tidak sah, sedang harta yang dibayarkan kepadanya tidak sah sebagai zakat. Karena pemerintah sebagaimana telah kami katakan adalah wakil dari para penerima zakat, bukan wakil dari pemberi. Jadi, tidak seperti halnya seorang wakil biasa. Oleh sebab itu tidak berguna niat pemerintah mewakili pemberi zakat. Dalam pada itu, niat dari seorang wakil biasa pun belum cukup, manakala pemberi zakat yang diwakili itu tidak berniat, sebagaimana Anda telah tahu.
loading...
no image

Bolehkan Pembagian Zakat diwakilkan?

Yang lebih utama hendaklah pemilik harta mengeluarkan dan menyerahkan sendiri zakatnya kepada mereka yang berhak menerimanya, di samping ada hukum memberikan zakat kepada pemerintah, seperti yang telah Anda ketahui keterangannya tersebut pada artikel sebelumnya tentang zakat melalui pemerintah

Akan tetapi, bolehkah ia mewakilkan orang lain untuk menyerahkannya? 

Ya, boleh saja itu dilakukan. Karena zakat berkenaan dengan hak kehartaan. Sedangkan hak-hak kehartaan itu, penunaiannya boleh di-wakilkan kepada orang lain, seperti halnya mewakilkan pembayaran hutang dan harga-harga barang, dan juga mengembalikan titipan-titipan dan pinjaman-pinjaman kepada para pemiliknya. 

Dengan demikian, pemilik harta boleh mewakilkan pembayaran zakat kepada siapa pun yang mampu melakukannya atas nama dirinya, termasuk orang kafir dan anak kecil yang sudah tamyiz. Hanya, kalau yang menjadi wakil itu orang kafir atau anak kecil, dipersyaratkan pem¬beri zakat menentukan siapa yang diberi.
loading...
no image

Membayar Zakat melalui Pemerintah?

Dalam kaitannya dengan masalah ini, harta yang wajib dizakati terbagi menjadi dua, yaitu: harta tersembunyi dan harta nyata.

Harta tersembunyi, yang dimaksud ialah emas, perak, barang da-gangan dan rikaz. Untuk harta-harta ini, pemiliknya boleh mengeluarkan zakatnya dan memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya, sendiri, kalau dia mau, tanpa melalui pemerintah. Dan dia boleh tidak memberikannya kepada pemerintah, sekalipun dia minta. Bahkan pemerintah tidak boleh memintanya dengan paksa, karena merupakan harta tersembunyi, pemiliknya lebih tahu mengenainya dan berapa jumlahnya. 

Adapun harta nyata, maksudnya ialah ternak, tanaman, buah- buahan dan barang tambang. Apabila harta-harta ini diminta zakatnya oleh pemerintah, maka pemiliknya wajib menyerahkannya kepadanya, berdasarkan zhahir firman Allah Ta'ala: 

Artinya: "Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (Q.S. at-Taubah 9:103) 

Jika pemerintah tidak meminta zakat dari harta jenis ini, maka pemiliknya boleh pilih, apakah akan membayarkannya sendiri kepada para penerimanya, atau menyerahkannya kepada pemerintah. Hanya saja, yang lebih utama tentu diberikan kepada pemerintah. Karena pemerintah lebih tahu tentang siapa-siapa yang berhak menerimanya, dan lebih mampu membagikannya secara merata. Dan juga, karena pembagian zakat lewat pemerintah lebih menjamin tidak menyakiti hati para penerimanya dengan mengungkit-ungkit atau bersikap congkak. Sebab hubungan antara pemerintah dengan mereka adalah seperti hubungan ayah dengan anak-anaknya. Maka tidaklah mungkin tersebarnya sikap yang memuat arti mengungkit-ungkit dan congkak di antara mereka. Lain dari itu, juga karena cara seperti itu adalah cara yang terbaik untuk membikin kaya para penerima zakat, sehingga mereka mampu bersandar pada diri sendiri dengan membuka sarana-sarana usaha dan penghidupan bagi diri mereka. 

Yang sedemikian ini apabila pemerintahnya adil dalam membagi harta zakat kepada para penerimanya. Tetapi kalau tidak adil, bahkan besar kemungkinan dia tidak menyerahkannya kepada mereka yang berhak menerimanya, maka lebih baik pemilik harta membagi sendiri zakatnya, kecuali bila pemerintah itu memintanya dengan paksa, sedang harta itu berupa harta nyata. Maka mau tidak mau mesti diserahkan kepadanya tanpa menolak, sekalipun pemerintah itu lalim.
loading...
no image

Syarat Sahnya Menyegerakan Zakat Sebelum Waktunya

Adapun kalau seorang pemilik harta ingin segera mengeluarkan zakatnya sebelum datang waktunya, maka hendaklah diperhatikan: 

Kalau zakat itu dikeluarkan sebelum memiliki satu nishab, maka tidak sah, dan harta yang dibayarkan itu bukan zakat namanya. Artinya, nanti kalau hartanya sudah genap senishab, dan mengalami ulang tahun, maka wajib dikeluarkan lagi zakatnya, sedang harta yang telah disegerakan pengeluarnnya itu tidak berarti apa-apa. 

Hal itu, karena sebab diwajibkannya zakat, yaitu nishab, sejak se-mula tidak ada. Kita bisa mengkiaskannya dengan menyegerakan pem-bayaran harga sebelum membeli barang. Itu tidak dianggap harga, dan tidak ada artinya terhadap kewajiban membayar harga sesudah terjadinya akad pembelian. 

Adapun kalau zakat itu dikeluarkan sesudah dimilikinya satu nishab, sekalipun belum berulang tahun, itu sah, dan harta yang dibayarkan itu sudah berarti zakat dari harta yang dizakati itu. Artinya, sesudah genap setahun nanti tidak lagi wajib mengeluarkan zakat dari harta tersebut. 

Dan dalilnya ialah hadits riwayat Abu Daud (1624), at-Tirmidzi (678) dan Ibnu Majah (1795):

 اَنَّ الْعَبَّاسَ رَضِىَ اﷲُ عَنْهُ سَاَلَ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى تَعْجِيْلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ اَنْ تَحُلَّ ، فَرَخَّصَ لَهُ فِى ذَلِكَ٠ 

Artinya: "Bahwasanya Ibnu 'Abbas R A pernah bertanya kepada Rasulallah SAW bolehkah menyegerakan zakatnya sebelum tiba saatnya. Maka beliau memberi keringanan (rukhshah) kepadanya dalam haI itu. 

Syarat-Syarat Sahnya Menyegerakan Mengeluarkan/membayar Zakat

Apabila seseorang telah menyegerakan pembayaran zakat dari hartanya, maka gugurlah darinya kewajiban zakat ketika datangnya ulang tahun hartanya itu, manakala syarat-syarat berikut ini terpenuhi: 

Syarat Pertama, pemilik harta itu tetap berkewajiban zakat sampai akhir tahun. Kalau kepatutan berzakat ini telah gugur darinya -karena mati umpamanya, sebelum tahun itu lewat maka harta yang disegera- kan pembayarannya itu tidak dianggap zakat. Dan dalam hal ini, ahli warisnya boleh meminta kembali apa yang telah dibayarkan itu, jika pemilik harta itu dulu menerangkan kepada si penerima bahwa itu adalah zakat yang disegerakan.

Syarat Kedua, hartanya tetap seperti sedia kala sampai genapnya tahun itu. Jadi, kalau hartanya itu binasa, atau dia jual untuk selain per-dagangan, maka harta yang disegerakan pembayarannya itu bukan zakat namanya. Dan dia boleh saja meminta kembali apa yang pernah dia bayarkan dengan segera itu, jika dulu ia menerangkan kepada si penerima bahwa itu adalah zakat yang disegerakan. 

Dan Syarat Ketiga, penerima zakat yang disegerakan itu pada akhir tahun memang merupakan orang yang berhak menerimanya, sekalipun selama tahun itu dia mengalami kondisi-kondisi yang membuatnya tidak berhak lagi, karena mendapat kekayaan dari selain zakat yang dibayarkan kepadanya, atau karena murtad atau lainnya. Sebab, yang penting adalah keadaannya di akhir tahun, di mana ada kewajiban segera membayar zakat. 

Dengan demikian, bila penerima zakat yang disegerakan itu sudah tidak berhak lagi menerimanya pada akhir tahun, maka harta yang dibayarkan kepadanya itu bukan zakat. Dan pemiliknya wajib membayar zakat lagi. 

Dan perlu juga diperhatikan, kalau pemilik harta itu mengatakan kepada si penerima ketika membayarkannya: "Ini zakatku", maka dia boleh menarik kembali apa yang telah dia berikan kepadanya itu. Tapi kalau tidak berkata begitu, maka dia tidak boleh menariknya kembali sedikit pun.
loading...