Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Thaharah. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Thaharah. Show all posts

Saturday, August 30, 2014

no image

Cara Nabi Menghilangkan Najis Darah, Air Kecing Bayi dan Sperma

Terdapat bermacam-macam Najis, dan najis ini harus disucikan dengan cara menghilangkan najis dengan cara yang benar sesuai dengan ajaran islam dan sunnah Nabi Muhammad saw. Berikut ini adalah beberapa dalil sabda Nabi saw. yang menerangkan tentang cara-cara menghilangkan najis dari darah, darah haid, air kencing atau air seni dari bayi perempuan dan bayi laki-laki serta dari sperma atau air mani.

Darah yang tidak bisa hilang atau masih membekas

Rasulullah saw. bersabda :

 وعن ابى هريرة رضي الله عنه قال قالت حوله يارسول  الله فانلم يذهب الدم؟ قال يكفيك الماء ولا يضرّك اثره (اخرحه  الترمىذى وسنده ضعيف

Artinya :Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Khaulah bertanya : "Ya Rasulullah, bagaimana kalau darah itu tidak hilang? Rasulullah bersabda : "cukup bagimu mencucinya dengan air, dan tidak apa-apa bekasnya bagimu". (HR. Tirmidzi dan sanadnya lemah).

Dalil hadits yang lain :

 وعن اسماء بنت ابي بكر رضي الله عنه ان النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال فى دم الحيض يصيب الثّوب تحثّه ثمّ تفرضه بالماء ثمّ تنضحه ثمّ تصلّى فيه (متفق عليه

Dari Asma Binti Abu Bakar ra, : Bahwasanya Nabi saw. bersabda : tentang darah haid yang mengenai kain : "Hendaklah ia (perempuan) mengeriknya, lalu menggosoknya dengan air, lalu mencucinya, kemudian boleh sholat memakai kain itu". (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari keterangan dua hadits di atas, maka najis seperti darah cara menghilangkannya adalah dengan berusaha menghilangkan bekas darah yang terdapat pada kain dengan cara mengerik atau mengeroknya hingga hilang bekasnya, Namun apabila sudah mengerok atau mengeriknya masih terdapat bekas, maka itu tidak menjadi masalah dan diperbolehkan mengenakan kain tersebut.

Cara Menghilangkan najis air kencing bayi (air seni).

Sabda dalil hadits Rasulullah saw. yang berbunyi :

وعن ابى السّمح رضي الله عنه قال قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يغسل من بول الجارية ويرشّ من بول الغلام (اخره ابوداود والنّسائ وصححه الحاكم

Artinya : Dari Abu Samh ra. ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : dicuci dari kencing bayi perempuan, dan disiram dari kencing bayi laki-laki". (HR. Abu Daud dan Nasa'i, dan disahkan oleh Hakim).

Berdasar Hadits di atas, jelaslah sudah bahwa ketika tubuh kita, atau pakaian kita terkena air kencing dari bayi perempuan (misalnya ketika kita menggendong bayi perempuan), maka cara mensucikan atau menghilangkan najisnya adalah cukup dengan cara mencuci anggota tubuh atau pakaian yang terkena air kencing bayi perempuan. Dan ketika terkena air kencing atau air seni bayi laki-laki, untuk menghilangkan najisnya adalah dengan cara menyiram anggota tubuh atau pakaian yang terkena air seni bayi laki-laki.

Cara Menghilangkan sperma dari kain.

Sabda Nabi Muhammad saw. :

وعن عائشة رضي الله عنها قالت: كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يغسل المنى ثمّ يخرج الى الصّلاة فى ذالك الثّوب وانا انظر الى اثر الغسل. متفق عليه.

ولمسلم: ولقد كنت افركه من ثوب رسول الله صلّى الله عليه وسلّم فركا فيصلّى فيه. وفى لفظ له: لقد كنت احكيه بابسا بظفرى من ثوبه

Artinya : Dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasuluallah saw. mencuci mani kemudian beliau keluar sembahyang memakai kain itu, dan saya melihat masih ada bekas cucian itu." (HR. Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim : (Aisyah berkata : "Sesungguhnya saya pernah menggosoknya (mani itu) benar-benar dari kain Rasulullah saw., lalu beliau sembahyang memakai kain itu". Dan pada lafadz lain riwayat Muslim : "Sesungguhnya aku pernah mengikis mani itu dalam keadaan kering dengan kukuku dari kain Nabi saw. "

Dari keterangan dan penjelasan beberapa riwayat hadits di atas, Dari hadits di atas, mengandung maksud bahwa air mani itu adalah sesuatu yang suci karena,dari keterangan hadits Nabi bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha hanya membersihkan air mani yang telah kering tersebut hanya mengikis mani dengan kukunya. Namun alangkah baiknya seperti yang dilakukan Rasulullah saw, yaitu dengan mencuci kain itu meskipun masih ada bekas noda sperma atau mani itu tidak masalah.

Demikianlah yang dikerjakan Nabi Muhammad saw. dan ajaran Nabi tentang membersihkan atau menghilangkan najis berupa darah, darah haid, air kencing bayi laki-laki dan perempuan serta sperma. Semoga kita selalu mengikuti sunnah-sunnah beliau dan selalu mendapatkan syafaat baik di dunia dan lebih-lebih di akhirat.

Thursday, October 3, 2013

no image

Cara Mandi Wajib Yang Benar

Berikut sedikit paparan yang akan menjawab sebuah pertanyaan menganai cara mandi wajib yang benar. Cara mandi wajib ini berkaitan dengan keluarnya sperma atau karena hadats besar dikarenakan hubungan seksual suami istri [junub/jinabat]. Cara mandi wajib yang benar ini kami ambil dari sebuah buku yang membahas tentang pandangan islam mengenai hubungan seksual. Jawaban dari pertanyaan cara mandi wajib yang benar adalah sebagai berikut :

Mandi junub memiliki dua rukun yang apabila keduanya tidak sempurna, maka mandinya itu tidak sempurna. Rukun yang pertama adalah mendahulukan niat. Rukun yang kedua adalah meratakan air ke seluruh badan. Dengan demikian, maka wajib bagi orang yang melakukan mandi itu menyiramkan air keseluruh kulit atau badan setelah menghilangkan najis dan menghilangkan semua yang menghalangi sampainya air ke kulit; seperti pasta, lilin, penutup mata, kotek kuku. Selain itu, dia juga harus memperhatikan (sampainya air) pada bagian ketiak, lipatan-lipatan perut, dan bagian dalam pusarnya. Apabila ada bekas luka yang meresap air, maka dia tidak diwajibkan untuk memasukkan air ke luar kulitnya.  Kemudian, apabila di atas kepala perempuan itu ada hiasan yang menghalangi sampainya air ke kulit kepala, maka wajib baginya untuk membuangnya. Apabila rambutnya dicat sehingga air tidak sampai kepada akar rambut, maka wajib juga atasnya untuk memotong bagian rambut yang dicat tanpa harus mencabutnya. Apabila orang yang mandi wajib itu memakai cincin, maka wajib atasnya menggerak-gerakkannya agar air dapat sampai ke kulit yang ada di bawahnya. Dan tidak mengapa orang yang mandi junub ini mengakhirkan membasuh kedua kaki pada akhir     mandi.

Friday, August 3, 2012

no image

Hal-hal yang Makruh dalam Mandi

Berlebih-lebihan dalam menggunakan air, berdasarkan keterangan yang pernah kami berikan mengenai hal yang makruh dalam berwudhu’. Dan juga, karena hal itu bertentangan dengan praktek yang dilakukan Nabi SAW. 
Diriwayatkan oleh al-Bukhari (198), dan Muslim (325), dari Anas RA, dia berkata:
 كَانَ الْنَّبُّى صَلٌَى ﷲُعَلَيْهِوَسَلََّمَ يَغْتَسِِلُ بِِالصَّاعِ اِلاَخَمْسَةِِ اَمْدَادٍ ٬وَيَتَوَضَّأُ بِِاْلمُدِّ
Nabi SAW mandi dengan satu sha’ air sampai dengan lima mud, dan berwudhu’ dengan satu mud. Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari (249) dan Muslim (327) dari Jabir RA ketika ditanya tentang mandi, maka jawabnya:
 يَكْفِيْكَصَاعًا ٬فَقَالَرَجُلٌ׃ مَايَكْفِيْنِى؟ فَقَالَ جَابِرٌ׃ كَانَ يَكْفِى مَنْ هُوَاَوْفِى مِنْكَ شَعْرًا وَخَْيْرٌمِنكَ 
“Cukup bagimu satu sha’.” Maka seorang berkata: “Bagiku tidak cukup.” Oleh karena itu, Jabir berkata: “Satu sha’ itu mencukupi orang yang rambutnya lebih lebat daripada kamu, dan lebih baik.” 
Aufa: orang yang lebih lebat rambutnya, dan yang dimaksud ialah Nabi SAW. 
Mandi dalam air tergenang. Karena, Muslim (283) dan lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda:
 لاَيَغْتَسِِِلْ اَحَدُكُمْ فى اْلمَاءِالدَّاﺋِمَوَهُوَجُنُبٌ ٬فَقَالُوْيَاابَاهَُيْرَةَ كَيْفَ يَفْعَلُ؟ قَلَ׃ يَتَنَاوَلَهُ تَنَاوُلاً 
“Tiada seorang pun dari kamu sekalian mendi dalam air yang tergenang dalam keadaan junub.” Orang-orang bertanya: “Hai Abu Hurairah, bagaimanakah Nabi melakukan itu?” Jawab Abu Hurairah: “Beliau mengambilnya hati-hati.” 
Maksudnya, beliau mengambil air itu dengan tangannya, atau dengan penciduk yang kecil, sraya berniat menciduk, jika air hanya sedikit. Dengan demikian, air itu tidak musta’mal akibat bersentuhan dengan bahagian tubuh. Atau boleh juga mengambil air sedikit dari bejana yang menjadi tempatnya, sebelum berniat menghilangkan janabat. 
Barulah sesudah itu berniat, lalu membasuh tangan dengan air itu, kemudian dengan tangan yang sudah bersih itu mengambil air. Adapun hikmah dari larangan ini ialah, bahwa perasaan orang, betapa pun akan jijik menggunakan air yang telah dipakai untuk mandi, disamping menyia-nyiakan air. 
Karena dengan penggunaan seperti tersebut di atas, air tidak patut lagi untuk bersuci, manakala kurang dari dua kulah. Karena, air itu menjadi musta’mal, akibat diceburi. Padahal pada umumnya, orang memerlukan menggunakan air yang tergenang. Oleh karena itulah mandi dalam air yang tergenang dilarang.

Thursday, August 2, 2012

no image

Cara mandi menurut Ajaran Islam

Ada cara manid yang wajib dilakukan dan ada pula cara yang sunnah. 

CARA MANDI YANG DIWAJIBKAN 

Cara yang diwajibkan ketika mandi ada dua perkara, yang dalam ilmu Fiqih disebut fardhunya mandi, yaitu: 

1. Niat, ketika memulai membasuh tubuh, berdasarkan sebuah hadits:

 اِِنَّمَااْْلاَعْمَالُُبِالِنّيِّاَتِ 

Sesungguhnya amal-amal itu bergantung niat-niatnya. Adapun cara berniat, telah mengucapkan dalam hati –sedang bila diucapkan dengan lidah, itu lebih baik-: 

“Aku berniat mandi fardhu, atau aku berniat menghilangkan janabat, atau aku berniat memperoleh keizinan melakukan shalat, atau aku berniat memperoleh keizinan melakukan sesuatu yang memerlukan mandi.” 

2. Membasuh seluruh bagian luar tubuh dengan air, yakni kulit rambut, dengan menyampaikan air sampai ke dalam rambut dan pangkal-pangkalnya. 

Al-Bukhari (235) telah meriwayatkan dari Jabir RA, ketika ia ditanya tentang mandi, maka jawabnya:

 كَانَالنٌَبِىٌُ صَلٌَى اﷲُعَلَيْهِوَسَلََّمَيَأْخُذُثَلاََََثَةَََََََاَََكُفٌٍوَيُفِضُهَاعَلَىرَأْسِهِ٬ثُمٌَيُفِيْضُعَلَىسَاﺋِرِجَسَدِِهِ 

Nabi SAW mengambil tiga kali cidukan telapak tangan dan mengguyurkannya ke atas kepalanya, kemudian mengguyurkan ke seluruh tubuhnya. Akuff: Cidukan-cidukan dengan kedua telapak tangan. Demikian, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat lain menurut Muslim (329):

 ثَلاَثَحَفَضَاتٍ 

Tiga cidukan. Sedang al-Hafnah, artinya: sepenuh dua telapak tangan. Sementara itu menurut Muslim (330) dari Ummu Salamah RA, bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang mandi, maka jawab beliau:

 اِنَّمَايَكْفِيْكَاَنْتَحْثِىَعَلَىرَأْسِِكِثَلاَََثَحََثَيَاتٍ٬ثُمَّتُفِيْضِِِيْنَعَلَيْكِاْلمَاءَفَتَطْهُرِيْنَ 

Sesungguhnya cukuplah kamu mengguyurkan ke atas kepalamu tiga kali cidukan, kemudian kamu guyurkan air ke tubuhmu, maka sucilah kamu. 

Tahtsi: kamu (perempuan) mengguyur. Sedang al-hatswu atau al-hatsyu, aslinya berarti menaburkan debu. 

Dalam pada ini, Abu Daud (249) dan lainnya telah meriwayatkan pula dari Ali RA, dia berkata: Pernah aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

 مَنْتَرَكَمَوْْضِعََشََعْرَةٍٍمِنْجَِنَابَةٍلَمْيُصِبْهَااْلمَاءُفَعَلَ اﷲُبِهِكَََذَاوَكَذَامِنَالْنٌَارِ 

Barangsiapa membiarkan janabat seluas tempat seutas rambut tanpa dikenai air, maka Allah akan mengazabnya dengan sekian dan sekian api karenanya. 

Ali berkata: “Oleh karena itu, aku memusuhi rambutku.” Ali RA memang mencukur rambutnya. 

CARA MANDI YANG DISUNATKAN 

Yakni, cara yang dalam ilmu Fiqih disebut sunnah-sunnah mandi, yaitu: 

1. Membasuh kedua tangan ke luar bejana, kemudian membasuh farji dan kotoran yang ada pada tubuh dengan tangan kiri, sesudah itu menghapusnya dengan alat pembersih apa saja. Al-Bukhari (254), dan Muslim (317) telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata:

 قَالَتْمَيْمُوْنَةُُ׃وَضََعْتُلِلنَّبِّىِّ صَلٌَى اﷲُعَلَيْهِوَسَلََّمَمَاءًلِلْغُسلِفَفَسَلَيْْهِمَرَتَيْنِاََوْْثلاََثًاثُُمَّاَفْرََغَََععَلَىشِمَالِهِ٬فَغَسَلَمَذَاكيَرََهُثُممَّمَسَحَيَدَيَْهِبِاْلاَرْضِِ 

Maimunah berkata: “Pernah aku meletakkan untuk Nabi SAW air untuk mandi. Maka beliau membasuh kedua tangannya, dua atau tiga kali, kemudian menuangkannya pada tangan kirinya, lalu membasuh lekuk-lekuk selangkangnya, kemudian menggosok kedua tangannya di tanah. 

2. Berwudhu’ dengan sempurna. Dan tidak mengapa dengan menangguhkan kedua kaki sampai selesai mandi. 

3. Menyela-nyelai rambut kepala dengan air, kemudian membasuh kepala tiga kali. 

4. Membasuh bagian tubuh sebelah kanan terlebih dahulu, barulah kemudian sebelah kiri. Sunnah-sunnah tersebut di atas ditunjukkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (245) dan Muslim (316), dari ‘Aisyah RA:

 اَنَّالنَّبَّىَ صَلٌَى اﷲُعَلَيْهِوَسَلََّمَكَاَنَاِذَااغْتَسَلََمِنَالْجَنَابَةََبِدَأَفَغَسَللَيَدَيْهِِ 

Bahwa Nabi SAW apabila mandi dari janabat, maka beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya. Sedang menurut sebuah riwayat lain oleh Muslim:

 ثُمَّيُفْرِِغُبِيَمِيْنِهِعَلَىشِمَالِهِفَيَغغْسِلُفَرْجَهُ 

Kemudian beliau menuang air dengan tangan kanannya pada tangan kirinya, lalu membasuh farjinya. Sedang oleh al-Bukhari (246), dari Maimunah RA:

 وََغََسَلَفَرْجَهُوَمَااَصَابَهُمِنَاْلاَذََى٬ثُمَّيَتَوَضََّأُكَمَايََتَوَضَّأُلِلصَّلاََةِثُمَّيُدْخِلُاََصَابِِعَهُفِىالمَاءِ٬فَيُخَلِّلُبِهَااُصُوْلَشَعْرِهِ٬ ثُمَّيَصُبُّعَلَىرََأسِهِثَلاَثَغُرَفٍبِيَدِهِثُمَّيُضِِيْضُالْمَاءُعَلَىجِلدِهِكُلِّهِ

........dan beliau membasuh farjinya serta kotoran yang menempel pada tubuhnya, kemudian berwudhu seperti halnya berwudhu’ untuk shalat. Sesudah itu, beliau memasukkan jari-jarinya dalam air, lalu dengan jari-jari iu beliau menyela-nyelai pangkal-pangkal rambutnya, kemudian menuangkan air atas kepalanya, tiga cidukan dengan tangannya, kemudian mengguyurkan air pada seluruh kulitnya. 

Adapun yang menunjukkan atas mustahabnya memulai dengan bahagian tubuh sebelah kanan, ialah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (166) dan Muslim (268), dari ‘Aisyah RA, dia berkata:

 كَانَالنَّبِيُّ صَلٌَىاﷲُعَلَيْهِوَسَلََّمَيُعْجِبُهُاَلتَّيَمُنُوْفِىتَنَعُّلِهِوَتَرَجُّلِهِوَطُهُوْرِهِوَفِىشَأءنِهِكُلِّهِ

Nabi SAW menyukai memulai dengan kanannya ketika memakai sandal, menguraikan rambut kepalanya, bersuci dan dalam segala hal. 

Thuhur: bersuci, dan yang dimaksud berwudhu’ dan mandi. 

5. Menggosok tubuh secara berturut-turut tanpa disela-selai pekerjaan lain ketika membasuh, di antara satu anggota dengan anggota yang lain. Demikian, terlepas dari perbedaan pendapat dalam golongan yang mewajibkan hal itu, yaitu pra penganut madzhab Maliki. 

6. Memperhatikan lekuk-lekuk tubuh ketika membasuh. Yaitu, dengan cara mengambil air lalu membasuh dengannya setiap tempat yang berlekuk-lekuk pada tubuh, seperti dua telinga, lekuk-lekuk perut, bagian dalam pusat, dan keiak, dan apabila diduga keras bahwa air tidak sampai kepada lekuk-lekuk tersebut kecuali dengan cara seperti itu, maka hal itu menjadi wajib. 1. Meniga-kalikan membasuh, karena dikiaskan kepada wudhu’.

Wednesday, August 1, 2012

no image

jenis-Jenis Mandi Sunnah

Yang dimaksud ialah mandi-mandi yang disunnatkan, yaitu yang apabila tidak dilakukan, maka shalat kita tetap sah. Hanya saja, syari’at menganjurkannya, dikarenakan berbagai alasan. Mandi-mandi yang disunnatkan ialah sebagai berikut: 

1. MANDI PADA HARI JUM’AT 

Persyari’atannya: Mandi pada hari jum’at disunnatkan bagi orang yang hendak melakukan shalat jum’at, sekalipun sebenarnya ia tidak berkewajiban melakukannya, seperti orang yang sedang dalam perjalanan, atau orang wanita, atau anak kecil. Dan adapula yang berpendapat, mandi ini disunnatkan bagi setiap orang, baik ia melakukan shalat jum’at atau pun tidak. (Lihat persyari’atan Mandi). 

Adapun dalilnya, adalah sabda Nabi SAW:

 اِذَااَرَادَاَحَدُكُمْ اَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ(رواه البخارى 872 ومسلم 844 واللفظ له

Apabila seorang dari kamu sekalian hendak melakukan shalat jum’at, maka hendaklah ia mandi (H.R. al-Bukhari: 873, dan Muslim: 844, dan lafazh hadits ini menurut Muslim). 

Perintah (amar) di sini berarti menyunatkan , berdasarkan sabda Nabi SAW lainnya:

 مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ، وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ اَفْضَلُ 

Barangsiapa berwudhu’ pada hari jum’at, maka ia telah melaksanakan Sunnah, dan alangkah baiknya sunnah itu. Dan barangsiapa mandi, maka mandi itu lebih baik lagi. (H.R. at-Tirmidzi: 497). 

Waktu mandi: Saat mandi pada hari jum’at ialah sejak terbitnya fajar shadiq. Sedang lebih dekat kepada saat pergi shalat jum’at adalah lebih baik, karena hal itu lebih menjamin diperolehnya tujuan dari mandi, yaitu agar tubuh berbau harum, dan tidak ada lagi keringat dan bau busuk. Hal itu karena disunnatkannya mandi pada hari jum’at oleh agama Islam, adalah karena pada hari itu orang-orang berkumpul. Jadi, supaya jangan ada yang tersiksa dengan bau busuk. Dan oleh karenanya, Nabi SAW pernah melarang memakai bawang putih dan bawang merah terhadap orang yang akan menghadiri shalat di masjid. 

2. MANDI HARI RAYA FITRAH DAN ADHHA 

Persyari’atannya: Disunnatkan pula mandi pada hari raya Fitrah dan hari raya Adhha, bagi orang yang hendak menghadiri shalat maupun yang tidak. Karena hari raya adalah hari perhiasan, dan oleh karenanya disunnatkan mandi. Adapun dalilnya adalah sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Malik dalam Muwaththa’nya (1 177):

 اَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ يَغْتَسِلْ يَوْمَ لْفِطْرِ، قَبْلَ اَنْ يَغْدُوَاِلَى الْمُصَلَّى

Bahwa Abdullah bin Umar RA mandi pada hari raya Fitrah sebelum berangkat ke tempat shalat. Dan kepada hari raya Fitrah ini, dikiaskan pula hari daya Adhha. Perbuatan yang dilakukan oleh seorang sahabat ini memperkuat terhadap dikiaskannya mandi pada hari raya kepada mandi pada hari jum’at. Karena dalam hal ini, tujuannya sama, yaitu membersihkan tubuh, karena hendak berkumpul dengan orang banyak. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majjah (1315), dengan sanad yang memuat kelemahan, dari Ibnu Abbas RA dia berkata:

 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ لْفِطْرِ، وَ يَوْمَ اْلاَضْحَى 

Adalah Rasulullah SAW mandi pada hari raya Fitrah dan hari raya Adhha. Hadits ini memperkuat terhadap perbuatan sahabat maupun kias tersebut di atas. Waktu mandi Saat mandi para hari raya Fitrah maupun Adhha, dimulai sejak tengah malam hari raya itu. 

 3. MANDI UNTUK SHALAT GERHANA MATAHARI DAN BULAN 

Pensyari’atannya: Dan mandi disunnatkan pula sebelum shalat gerhana matahari dan bulan. Adapun dalilnya adalah kias kepada mandi pada hari jum’at. Karena tujuannya sama, baik dari segi disyari’atkannya shalat berjamaah waktu itu, maupun karena berkumpulnya orang banyak. Waktu mandi Saat mandi untuk melakukan shalat gerhana matahari maupun bulan dimulai sejak mulai terjadinya gerhana, dan berakhir dengan berakhirnya gerhana. 

4. MANDI UNTUK SHALAT ISTISQA  

Dalam hal ini, mandi disunnatkan sebelum berangkat shalat, berdasarkan kias kepada mandi untuk shalat gerhana. 

5. MANDI SESUDAH MEMANDIKAN MAYIT Dan disunnatkan pula mandi bagi orang yang baru saja memandikan mayit, dikarenakan Nabi SAW pernah bersabda:

 مَنْ غسل ميّتا فَلْيَغْتَسِلْ(رواه احمد واصحان السنن وحسنه التّرمذى 993

Barangsiapa yang telah memandikan mayit, maka hendaklah ia mandi (H.R. Ahmad dan Ashhabu ‘s-Sunnah, dan dianggap hadits Hasan oleh at-Tirmidzi: 993). 

Hadits ini tidak diartikan sebagai mewajibkan, dikarenakan ada sabda Nabi SAW lainnya:

 لَيْسَ عَلَيْكُمْ فِى غَسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ اِذَا غَسَلْتُمُوْهُ(رواه الحاكم 1/386

Kamu sekalian tidak berkewajiban mandi berkenaan dengan memandikan mayit kamu, apabila kamu telah memandikannya. (H.R. al-Hakim: 1 386). 

6. MANDI-MANDI YANG BERKENAAN DENGAN IBADAH HAJI 

a. Mandi sebelum berihram Haji maupun Umrah. Dalilnya ialah sebuah hadits yang telah diriwayatkan oleh Tirmidzi (830), dari Zaid bin Tsabit al-Anshari RA:

 اَنَّهُ رَاَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجَرَّدَ ِلاِهْلاَلِهِ وَاغْتَسَلْ 

Bahwasanya Zaid melihat Nabi SAW melukar pakaiannya dan mandi sebelum berihram. Tajarrada li ihialihi: melukar pakaiannya untuk berihram. Al-ihlal: bersuara keras mengucapkan talbiyah ketika berihram, dan diartikan pula ihram itu sendiri. 

b. Mandi sebelum memasuki kota Mekah. Adapun dalilnya ialah:

 اَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ لاَيَقْدَمُ مَكَّةَ اِلاَّ باَتَ بِذِى طُوًى حَتَّى يُصْبِحَ وَيَغْتَسِلَ، ثُمَّ يَدْخُلُ مَكَّةَ نَهَارًا، وَكَانَ يَذْكُرُ عَنِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ فَعَلَهُ

Bahwasanya Ibnu ‘Umar RA tidak memasuki kota Mekah sebelum bermalam di Dzu Thuwa sampai pagi, lalu mandi. Kemudian, barulah masuk ke kota Mekah siang harinya. Dan pernah ia bercerita tentang Nabi SAW, bahwa beliau melakukan hal seperti itu. (H.R. al-Bukhari: 1478, dan Muslim: 1259, sedang lafazh hadits ini menurut Muslim). 

c. Mandi sebelum Wuquf di Arafah, sesudah tergelincir matahari. Dan yang terbaik hendaklah dilakukan di Namirah dekat ‘Arafah. Sedang dalilnya ialah:

 اَنَّعَلِيًّارَضِىَاﷲُعَنْهُكَانَيَغْتَسِلُيَوْمَالْعِيْدَيْنِوَيَوْمَالْجُمُعَةِ٬وَيَوْمَعَرُفَةَ٬وَاِذَااَرَادَاَنْيُحْرِمَ 

Bahwasanya Ali RA mandi pada hari raya Fitri dan Adhha, hari jum’at, hari ‘Arafah, dan apabila hendak berihram ) Sedang Malik dalam Muwaththa’nya (1/322) meriwayatkan dari Nafi’:
 اِنَّ عَبْدَاﷲِبْنَعُمَرَرَضِىَﷲُعَنْهُكَانَيَغْتَسِِلُﻻِِحِْرَامِهِقَبْلَاَنْيُحْرِمَ٬وَلِدُخُوْلِهِمَكَّةَ٬وَلِوُقُوْفِهِعَشِِيَّةََََعَرَفَةَََََ٠ 

Bahwa Abdullah bin Umar RA mandi untuk ihramnya sebelum berihram, dan juga ketika hendak memasuki kota Mekah, dan ketika hendak berwuquf pada sore hari ‘Arafah. 

d. Mandi sebelum melempar ketiga jumrah, pada setiap hari dari hari-hari tasyriq, sesudah tergelincirnya matahari, dikarenakan adanya atsar-atsar mengenai itu semua, dan juga karena jumrah-jumrah itu ialah tempat-tempat berkumpulnya orang banyak. Oleh karena itu, mandi untuk melempar jumrah adalah serupa dengan mandi pada hari jum’at. Al-Jimar jamak dari jumrah: tugu yang menjadi sasaran lemparan batu-batu kecil di Mina. Dan diartikan pula batu-batu kecil yang dilemparkan. 

e. Mandi sebelum memasuki Madinah al-Munawwarah, apabila bisa dilakukan dengan mudah, karena dikiaskan kepada mandi yang mustahab sebelum memasuki kota Mekah. Sebab, masing-masing adalah negeri yang dimuliakan. Dan apabila hal itu tidak bisa dilakukan, maka bolehlah mandi sebelum memasuki masjid Nabawi.

Tuesday, June 26, 2012

no image

Mandi Janabat/Jinabat

ARTI JANABAT 

Pada asalnya, janabat artinya: jauh. Allah Ta’ala berfirman: 

Maka kelihatan Musa oleh saudara perempuannya dari jauh. (Q.S. al-Qashash: 11) 

Tapi, janabat diartikan pula: air mani yang memancar, dan juga diartikan bersetubuh. 

Dengan demikian, al-junub artinya: orang yang tidak suci dikarenakan mengeluarkan air mani atau bersetubuh. Dikatakan demikian, karena janabat membuat dia jauh dari melakukan shalat, selagi demikian keadaannya. Dan kata al-junub iu bisa digunakan untuk mudzakkar dan mu’anas, mufad maupun jamak. Jadi, unuk mudzakkar dikatakan junub, untuk mu’annats junub, untuk seorang junub, dan untuk banyak juga junub. 

SEBAB-SEBAB JANABAT 

Ada dua sebab bagi janabat: 

Pertama, karena keluarnya air mani dari laki-laki maupun perempuan dengan sebab apapun, baik karena bermimpi, bersenda gurau, memandang ataupun memikirkan. 

Dari Ummu Salamah RA, dia berkata:

 جَاءَتْ اُمُّ سُلَيْمٍ اِلَى رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُوْلُ اللهِ اِنَّ الله لاَ يَسْتَحْىِ مِنَ الْحَقِّ، فَهَلْ عَلَى الْمَرْاَةِ غُسْلٌ اِذَااحْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ اِذَا رَاَتِ الْمَاءَ (رواه البخارى 278 ومسلم 313

Pernah Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah idak malu menerangkan yang hak. Pakah wania wajib mandi ketika bermimpi?” Maka jawab Rasulullah SAW: “Ya, apabila ia melihat air mani,” (H.R. al-Bukhari: 278, dan Muslim: 313). 

Ihtalamat: mimpi bersetubuh. 

Sedang menurut riwayat Abu Daud (236) dan lainnya, dari ‘Aisyah RA, dia berkata:

 سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ يَجِدُ الْبَلَلَ وَلاَيَذْكُرُاحْتَلاَمًا؟ فَقَالَ يَغْتَسِلُ، وعَنِ الرَّجُلِ يَرَى اَنْ قَدِاحْتَلاَمَ وَلاَ يَجِدُ الْبَلَلَ؟ فَقَالَ لاَغُسْلَ عَلَيْهِ، فَقَالَتْ اُمُّ سُلَيْمٍ: اَلْمَرْاَةُ تَرَى ذَلِكَ، اَعَلَيْهاَ غُسْلٌ؟ قَالَ نَعَمْ، اَلنِّسَاءُ شَقاَئِقُ الرِّجَالِ 

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang orang laki-laki yang merasakan basah tapi tidak ingat mimpi, maka jawab beliau: “Dia harus mandi,” dan tentang orang laki-laki yang merasa bahwa dirinya telah bermimpi, tetapi tidak menemukan sesuatu yang basah, maka jawab beliau: “Dia tidak wajib mandi.” Maka berkatalah Ummu Sulaim: “Wanita juga bermimpi seperti itu. Apakah ia juga wajib mandi?” Jawab Rasul: “Ya, wanita adalah belahan orang lelaki.” 

Maksudnya, wanita itu sama seperti laki-laki tentang kejadian maupun tabi’atnya, jadi seolah-olah mereka itu adalah belahan kaum lelaki. 

Kedua, bersetubuh, sekalipun tidak sampai mengeluarkan air mani. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (287), dan Muslim (348), dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda:

 اِذَاجَلَسَ بَيْنَ شُعَابِهَااْلاَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهاَ فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الغُسْلٌ، وَفِى رِوَايَةِ مُسْلِمٍ: وَاِنْ لَمْ يَنْزِلْ 

“Apabila laki-laki telah duduk di antara bagian-bagian tubuh wanita yang empat, kemudian meletihkannya, maka berarti ia telah wajib mandi.” Sedang dalam suatu riwayat lain menurut Muslim: “Sekalipun dia tidak mengeluarkan mani.” 

Syu’abiha jamak dari syu’bah artinya: penggalan dari sesuatu. Sedang di sini yang dimaksud dua paha dan dua betis wanita. 

Jahadaha: laki-laki dengan gerakannya meletihkan wanita. 

Dan dalam suatu riwayat lain menurut Muslim juga (349), dari ‘Aisyah RA:

 وَمَسَّ الْخِتاَنُ الْخِتاَنِ فَقَدْ وَجَبَ الغُسْلٌ 

..........dan khitan telah menyentuh khitan, maka berarti telah wajib mandi. 

Maksudnya, wajib mandi atas yang laki-laki maupun yang perempuan, karena kedua-duanya bersekutu, yakni sama-sama melakukan hal menyebabkan mandi. 

Al-khitan: bagian yang dipotong ketika dilakukan penyunatan. Pada anak kecil, yang dimaksud ialah kulit yang menutupi kepala zakar. Adapun persentuhan antara dua khitan, yang dimaksud pergesekan di antara keduanya, yaitu bahasa kinayah dari bersetubuh. 

HAL-HAL YANG DIHARAMKAN AKIBAT JANABAT 

Ada beberapa hal yang haram dilakukan akibat janabat, yaitu: 

1. Shalat, 

Baik shalat fardhu maupun shalat sunnah, karena Allah Ta’ala berfirman: 

Janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (Q.S. an-Nisa’: 43). 

Yang dimaksud di sini tempat shalat. Karena berlalu terhadap shalat tentu tak mungkin dilakukan. Dan oleh karenanya, maka lebih-lebih lagi firman ini merupakan larangan terhadap shalat itu sendiri bagi orang yang sedang dalam keadaan junub. 

Menurut riwayat Muslim (224) dan lainnya, dari Ibnu Umar RA, dia berkata: Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

 لاَتُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ 

“Takkan diterima shalat tanpa bersuci.” 

Dan bersuci di sini adalah mencakup bersuci dari hadats dan janabat, di samping hadits ini juga menunjukkan haramnya shalat atas orang yang berhadats dan junub. 

2. Tinggal dan duduk dalam masjid. 

Adapun sekedar lewat dalam masjid tanpa diam dan bolak-balik di sana, itu tidaklah haram. Allah Ta’ala berfirman:

 وَلاَ جُنُبًا اِلاَّ عَابِرِى سَبِيْلٍ 

Dan (jangan pula menghampirinya) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja. 

Maksudnya, janganlah kamu mengahampiri shalat maupun tempatnya -yaitu masjid- apabila kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja. Rasulullah SAW bersabda: 

لاَ اُحِلَّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ لِجُنُبٍ 

Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang haid dan junub. (H.R. Abu Daud: 232). 

Larangan ini dimaksudkan terhadap diam dalam masjid, sebagaimana anda tahu dari ayat tersebut di atas, dan juga karena alasan yang akan dijelaskan dalam bab Haid. 

3. Thawaf sekeliling Ka’bah, baik thawaf fardhu maupun thawaf sunnah. 

Karena thawaf itu kedudukannya sama dengan shalat, dan oleh karenanya dipersyaratkan untuknya bersuci, seperti halnya shalat. Sabda Rasulullah SAW:

 اَلطَّوَافُ بالْبَيْتِ صَلاَةٌ، اِلاَّ اَنَّ اللهَ اَحَلَّ لَكُمْ فِيْهِ الكَلاَمَ، فَمَنْ تَكَلَّمَ فَلاَ يَتَكَلَّمْ اِلاَّ بِخَيْرٍ(رواه الحاكم 1/459 وقال صحيح الاسناد

Thawaf di sekeliling Ka’bah adalah shalat juga. Hanya saja dalam thawaf Allah memperbolehkan kamu berbicara. Maka, barangsiapa berbicara, hendaklah jangan berbicara selain yang baik-baik saja. (H.R. al-Hakim: 1:458, dan dia katakan, shahih isnadnya) 

4. Membaca al-Qur’an. 

Sabda Rasulullah SAW:

 لاَتَقْرَإِ الْحَائِضُ وَلاَ لْجُنُبُ شَيْئاً مِنَ الْقُرْاَنِ (رواه الترمذى 131 وغيره) 

Janganlah orang yang Haid maupun junub membaca sesuatu dari al-Qur’an. (H.R. at-Tirmidzi: 131 dan lainnya). 

Catatan: Bagi orang yang junub diperbolehkan membaca al-Qur’an dalam hati tanpa melafazhkannya. Begitu pula boleh memandang mushhaf, dan membaca dzikir-dzikir yang berasal dari al-Qur’an, asal dengan maksud berdzikir, bukan membaca al-Qur’an. Contohnya mengucapkan do’a surat al-Baqarah ayat 201: 

Yang artinya: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka". (Q.S. a;-Baqarah: 201). 

Yakni, bila dengan maksud berdo’a. Contoh lain, ketika naik kendaraan maka mengucapkan dengan maksud berdxikir, bukan membaca al-Qur’an: 

"Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. (Q.S. az-Zukhruf: 13). 

5. Menyentuh dan membawa mushhaf, atau menyentuh kertasnya atau kulitnya: atau membawa mushhaf dalam kantong ataupun peti. 

Allah Ta’ala berfirman: 

Tidak menyentuhnya (al-Qur’an) kecuali orang-orang yang disucikan. (Q.S. al-Waqi’ah: 79). 

Dan sabda nabi SAW: 

لاَيَمَسُّ الْقُرْاَنَ اِلاَّ طَاهِرٌ(رواه الدارقطنى 1/121 ومالك فى الموطأ مرسلا 1/199

Tidak menyentuh al-Qur’an selain orang yang suci. (H.R. ad-Daruquthni: 1/121, dan Malik dalam Muwaththa’nya secara mursal: 1/199). 

Catatan: bagi orang yang junub diperbolehkan membawa mushhaf, bila berbareng dengan barang-barang lain ataupun maupun buntalan kain, tanpa bermaksud membawa mushhaf itu saja, tetapi membawanya berikut berikut membawa barang-barang lain atau buntalan kain. Begitu pula, boleh membawa Kitab tafsir al-Qur’an, manakala tafsirnya lebih banyak dari Qur’annya. Karena menurut ‘uruf, orang seperti itu tak bisa disebut membawa al-Qur’an.
no image

Macam-macam Mandi dan Hukumnya

Macam dan Jenis Mandi

Mandi ada dua macam: mandi wajib dan mandi sunnah 

Mandi Wajib

Mandi Wajib Yaitu mandi yang menentukan sahnya ibadah yang mempersyaratkan kesucian, yakni manakala terjadi sebab-sebab yang mewajibkannya. Adapun sebab-sebab yang mewajibkan mandi ialah: janabat, haid, bersalin dan mati.
no image

Pensyari'atan Mandi dan Hikmahnya

Arti Mandi

Menurut bahasa, mandi (al-ghuslu) berarti: mengalirkan air pada apa saja. Sedang menurut syara’, artinya: mengalirkan air pada tubuh dengan niat tertentu. 

Pensyari'atan Mandi

Mandi memang telah disyari’atkan agama, baik untuk kebersihan maupun menghilagnkan hadats, sebagai syarat suatu ibadah maupun tidak. Mengenai disyari’atkannya mandi, hal itu ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah dan ijmak. Dalam al-Kitab terdapat ayat-ayat mengenai mandi, antara lain firman Allah Ta’ala:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Q.S. al-Baqarah: 222). 

Yakni, mereka yang membersihkan diri dari hadats-hadats dan kotoran-kotoran lahir maupun batin. 

Dan dalam as-Sunnah, terdapat pula beberapa hadits mengenai mandi, antara lain sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (85), dan Muslim (849), dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Sabda Rasulullah SAW:

 حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اَنْ يَغْتَسِلَ فِى كُلِّ سَبْعَةٍ اَيَّامٍ يَوْمًا، يَغْسِلُ فِيْهِ رَأسَهُ وَجَسَدَهُ، وَعِنْدَ مُسْلِمٍ: حَقٌّ لِلَهِ 

“Wajib atas setiap muslim mandi sekali setiap minggunya, di mana ia membasuh kepala dan tubuhnya.” Sedang menurut Muslim: “Wajib karena Allah.” 

Adapun yang dimaksud wajib (al-Haq) di sini: bahwa mandi merupakan hal yang tidak patut ditinggalkan oleh seorang muslim, hal mana oleh para ulama’ kemudian dibawa kepada pengertian mandi pada hari jum’at. Dalil-dalil lain akan kita tambahkan nanti pada bab masing-masing, insya’allah. 

Adapun mengenai ijmak yang berkenaan dengan mandi, maka sesungguhnya para imam Mujtahidin telah sepakat, bahwa mandi demi kebersihan adalah mustahab, sedang mandi untuk sahnya ibadah adalah wajib. Dan dalam hal ini tak pernah diketahui adanya seseorang yang berlainan pendapat. 

Hikmah Disyari'atkannya Mandi

Mandi memuat hikmah-hikmah yang banyak dan kegunaan-kegunaan yang bermacam-macam, antara lain: 

Diperolehnya pahala, karena mandi dalam artian syara’ adalah ibadah. Sebab mandi berarti mematuhi perintah syara’ dan melaksanakan hukumnya. Dengan demikian, tentu akan diperoleh pahala besar. Dan oleh karenanya, Rasulullah SAW bersabda:

 اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الاِيْمَانِ 

Bersuci itu separo dari iman. (H.R. Muslim: 222) 

Maksudnya, setengahnya atau sebagian daripadanya. Dan bersuci di sini memuat arti wudhu’ dan mandi. 

Dipeolehnya kebersihan. Maksudnya, apabila seseorang mandi, maka tubuhnya akan menjadi bersih dari kotoran yang menempel padanya, atau dari keringat yang keluar. Dan dengan kebersihan ini, maka akan terpeliharalah ia dari bibit-bibit penyakit yang mengancam dirinya, sedang tubuhnya menjadi harum, suatu hal yang menyebabkan orang lain betah dan menyukainya. 

Menurut riwayat al-Bukhari (861), dan Muslim (847) –sedang lafazh hadits ini menurut Muslim- dari ‘Aisyah RA, bahwa dia berkata:

 كَانَ النَّاسُ اَهْلَ عَمَلٍ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ كُفَاةٌ، فَكَانَ يَكُنُوْ لَهُمْ تَفَلٌ، فَقِيْلَ لَهُمْ: لَوِاغْتَسَلْتُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَفِى رِوَايَةٍ لَهُمَا: فقَََالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ اَنَّكُمْ تَطَهَّرْتُمْ لِيَوْمِكُمْ هَذَا 

Dulu orang-orang giat bekerja, sedang mereka tidak punya pembantu, maka bau mereka pun busuk. Oleh karenanya mereka ditegur: “Andaikan kalian mandi pada hari jum’at”. Sedang menurut suatu riwayat lain oleh al-Bukhari dan Muslim juga: Maka Rasulullah SAW bersabda: Sekiranya kamu sekalian bersuci pada harimu ini”. 

Kufat: orang-orang mencukupi pekerjaan mereka, seperti pembantu dan orang-orang upahan. 

Tafal: bau busuk. 

Bertambah semangat, karena dengan mandi tubuh akan menjadi segar dan memperoleh semangat baru. Lesu, malas dan capai musnah semua, utama sekali bila mandi itu dilakukan sesudah adanya hal-hal yang mewajibkannya, seperti jimak umpamanya, sebagaimana akan diterangkan nanti.

Saturday, June 9, 2012

no image

Adab, Tata Cara Istinja' dan Membuang Hajat

Ada tata-kesopanan yang disuruh laksanakan sebaik-baiknya oleh setiap muslim, di kala membuang hajatnya dan beristinja’, yaitu: 

1. Kesopanan yang berkaitan dengan tempat buang hajat 

Ketika buang air kecil maupun besar, hendaklah menghindari: 

a. Jalan yang dilalui orang, atau tempat duduk mereka, karena hal itu akan mengganggu mereka 

Muslim (269) dan lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hirairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda: 

اِتَّقُوااللَّعَّانَيْنِ، قَالُوا: وَمَاللَّعَّانَانِ؟ قَالَ الَّذِى يَتَحَلَّى فِىْ طَرِيْقِ النَّاسِ اَوْفِى ظِلِّهِمْ 

“Hindarilah oleh kamu sekalian dua perkara yang mendatangkan kutukan”. Para sahabat bertanya: “Apakah dua perkara yang mendatangkan kutukan itu?” Jawab Nabi: “Orang yang membuang hajatnya di jalan yang dilewati orang, atau ditempat mereka berteduh”. 

b. Lubang di tanah atau dinding atau semisalnya, karena kadang-kadang mendatangkan bahaya. 

Boleh jadi, di situ ada binatang yang berbahaya, seperti ketonggeng atau ular, yang akan keluar lalu menyakiti orang yang tidak sopan itu: Atau boleh jadi, di situ ada binatang lemah yang ersiksa karenanya. 

Abu Daud (29) telah meriwayatkan dari Abdullah bin Sarjis, dia berkata:

 نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنْ يُبَالَ فِى الْجُحْرٍ 

Rasulullah telah melarang mengencingi lubang. Maksudnya, lubang di tanah 

c. Di bawah pohon yang berbuah, demi menjaga agar buahnya itu tidak kotor ketika jatuh, baik buah itu bisa dimakan atau pun yang diambil manfaatnya. Dengan demikian, hati kita tidak merasa jijik kepadanya. 

d. Air yang tergenang. Karena, akan menyebabkan hati kita merasa jijik kepadanya, jika air itu banyak dan tidak bisa berubah oleh najis. Dan akan mengakibatkan air itu tidak berguna, jika bisa berubah karena najis, atau kurang dari dua kulah. 

Muslim (281) dan lainnya telah meriwayatkan dari Jabir RA, dari Nabi SAW:

 اَنَّهُ نَهَى اَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ 

Bahwasanya beliau melarang kencing pada air yang tergenang. 

Berak di situ tentu saja lebih buruk dan lebih patut dilarang. Dan larangan di sini berarti karahah. Sedang Imam an-Nawawi menukilkan, bahwa laranga di sini untuk tahrim. (lihat: Syarah Muslim (3/187). 

2. Kesopanan yang berkaitan dengan keluar-masuk ke tempat buang hajat

Orang yang buang hajat, mustahab baginya mendahulukan kaki kirinya ketika memasuki jamban, dan mendahulukan kaki kanan ketika ke luar. Karena kaki kiri lebih tepat bagi tempat-tempat kotor dan najis. 

Dan hendaknya jangan menyebut nama Allah Ta’ala. Begitu pula, menyebut nama siapa saja yang dihormati. 

Dan mustahab pula baginya mengucapkan dzikir-dzikir dan doa-doa yang otentik berasal dari Rasululah SAW, sebelum masuk dan sesudah ke luar dari jamban.

 بِاسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ(رواه البخارى 142 ومسلم 375

Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan-setan lelaki dan setan-setan perempuan (H.R. al-Bukhari: 142, dan Muslim: 375) 

Al-Khutbuts: jamak dari khabits. Dan al-Khaba’its: jamak dari khabitsah. Sedang maksudnya setan-setan lelaki dan perempuan. Dan sesudah ke luar dari jamban, ucapkanlah:

 غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الََّذِى اَذْهَبَ عَنِّى اْلاَذَى وَعَافَانِى، الْحَمْدُ لِلَّهِ الََّذِى اَذَاقَنِى لَذَّتَهُ، وَاَبْقَى فِىَّ قُوَّتَهُ، وَدَفَعَ عَنِّى اَذَاهُ(رواه ابو داود 30 والتّرمذى 7 وابن اجه 301 والطبرانى) 

Aku memohon kepada-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dariku penyakit dan memberiku kesehatan. Segala puji bagi Allah yang telah membuat aku dapat merasakan kelezatannya, meninggalakan padaku kekuatannya, dan menolak dariku bahayanya. (H.R. Abu Daud: 30, at-Thirmidzi: 7, Ibnu Majah: 301, dan at-Thabrani). 

3. Kesopanan yang berkenaan dengan arah. 

Membuang hajat haram dilakukan dengan menghadap atau pun membelakangi kiblat, jika hal itu dilakukan di tempat terbuka dan tidak ada penutupnya yang cukup tinggi hingga menutupi aurat ketika itu. Begitu pula, jika dilakukan dalam bangunan yang tidak sengaja disediakan untuk buang hajat, sedang syarat-syarat penutup – sebagaimana tersebut tadi – tidak terpenuhi. Dan dipersyaratkan pula, jauhnya dari penutup itu tidak lebih dari 3 hasta orang biasa (= ± 150 cm). Adapun bila bangunan itu sengaja disediakan untuk buang hajat, maka boleh saja menghadap ataupun membelakangi kiblat. 

Al-Bukhari (381), dan Muslim (26) telah meriwayatkan dari Abu Ayub al-Anshari RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda:

 اِذَااَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوْاالْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوْهَا بِبَوْلٍ اَوْ غَائِطٍ، وَلَكِنْ شَرِّقُوْااَوْ غَرِّبُوْأ 

Apabila kamu mendatangi tempat buang hajat, maka janganlah kamu menghadap atau membelakangi kiblat, ketika buang air kecil atau pun besar. Akan tetapi, menghadaplah ke timur atau ke barat. (Dikatakan ke Timur atau ke Barat, karena hadits ini disampaikan di Madinah yang terletak disebelah utara kiblat. –Pen) 

Hal tersebut di atas adalah khusus mengenai tempat terbuka atau tempat-tempat lain yang semakna dengannya, yang tidak berdinding. Adapuin dalil pengkhususan itu ialah hadits yang telah diriwayatkan oleh al-Bukhari (148) dan Muslim (266) dan lainnya, dari Ibnu Umar RA, dia berkata: 

اِرْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِى فَرَاَيْتُ النَّبِيََّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةَ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ 

Jadi, hadits yang pertama diartikan bagi tempat yang tidak disengaja disediakan untuk buang hajat, dan tempat-tempat lain yang semakna dengannya, yang tidak ada dindingnya. Sedang hadits kedua diartikan bagi tempat yang sengaja disediakan untuk itu, dan tempat-tempat lain yang semakna dengannya. Pengertian ini merupakan pengakuran di antara dalil-dalil. Dalam pada itu tetap saja makruh membuang hajat – dengan menghadap atau membelakangi kiblat – di tempat yang tidak disediakan untuk itu, sekalipun berdinding 

4. Kesopanan yang berkenaan dengan sikap orang yang buang hajat. 

Orang buang hajat hendaknya bersandar pada kaki kirinya, dengan menegakkan kaki kanan. Jangan memandang ke langit, ke farjinya maupun kepada kotoran yang keluar darinya. Karena hal itu tidak patut dilakukan. Dan makruh pula bagi orang-orang yang buang hajat, berbicara atau melakukan pekerjaan selagi membuang hajatnya. 

Mulim (370) dan lainnya telah meriwayatkan dari Ibnu Umar RA:

 اَنَّ رَجُلً مَرَّ وَرَسُوْلُ الله صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُوْلُ: فَسَلَّمَ عَلَيَهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ 

Bahwasanya ada seorang lelaki lewat ketika Rasulullah SAW buang air kecil. Orang itu menyampaikan salam kepada beliau, namun beliau tidak menjawabnya. 

Dan diriwayatkan pula oleh Abu Daud (15) dan lainnya, dari Abu Sa’id RA, dia berkata; pernah saya saya mendengar Nabi SAW bersabda:

 لاَيَخْرُجُ الرَّجُلاَنِ يَضْرِبَانِ الْغَائِطَ، كَاشِفَيْنِ عَنْ عَوْرَتِهِماَ يَتَحَدَّثَانِ فَاِنَّ اللهََ عَزَّ وَجَلَّ يَمْقُتُ عَلىَ ذَلِكَ. 

Jangan hendaknya dua orang lelaki keluar untuk mendatangi tempat buang hajat, dengan menyingkapkan auratnya sambil mengobrol. Karena Allah ‘Azza Wa jalla memurkai perbuatan seperti itu. 

Dan perbuatan-perbuatan lain bisa dikiaskan kepada berbicara ini. Seperti makan, minum, mengobrol dan lain sebagainya. 

5. Menggunakan tangan kiri ketika beristinja’  

Orang yang buang hajat hendaklah menggunakan tangan kirinya ketika membersihkan tempat keluarnya kotoran, baik dengan air maupun dengan batu dan semisalnya. Karena, tangan kiri lebih patut untuk itu. Dan makruh menggunakan tangan kanan untuk pekerjaan ini. Demikian pula makruh mengusap zakarnya dengan tangan kanan. Dan kalau pun benar-benar memerlukan memegang zakar, karena harus membersihkannya dengan batu atau benda padat lain semisalnya, maka peganglah benda itu dengan tangan kanan tanpa menggerakkannya, lalu peganglah zakar dengan tangan kiri, dan gerakkanlah ia sampai tempat keluarnya kotoran itu.

 اِذَابَالَ اَحَدُكُمْ فَلاَ يَأْخُذَنَّ ذَكَرَهُ بَيْمِيْنِهِ وَلاَ يَسْتَنْجِ بِيَمِيْنِهْ 

Apabila seorang dari kamu sekalian kencing, maka janganlah sekali-kali memegang zakarnya dengan tangan kanannya, jangan pula beristinja’ dengan tangan kanannya.
no image

Benda-Benda Yang Tidak Boleh Untuk Beristinja’

Istinja’ tidak sah bila menggunakan benda-benda najis atau yang terkena najis. Karena, benda-benda itu bukannya menipiskan najis, bahkan barangkali menambah tebal bekas najis itu. 

Al-Bukhari (155) telah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata:

 اَتىَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغَائِطَ، فَاَمَرَنِى اَنْ اَتِيَهُ بِثَلَثَةِ اَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَالْتَمَسْتُ الثّاَلِثُ فَلَمْ اَجِدْهُ، فَاَخَذْتُ رَوْثَةً فاتَيْتُهُ بها، فَاَخَذَ الحَجَرَيْنِ والقى الرَّوْثَةً وَقاَلَ: هَذَا رِكْسٌ. 

Nabi SAW datang ke tempat buang hajat, lalu beliau menyuruh saya membawakan untuk beliau tiga butir batu. Namun saya hanya menemukan dua butir saja, lalu saya mencari yang ketiga, tetapi tidak ada. Maka, saya ambil tahi binatang lalu saya bawa kepada beliau. Kedua batu itu beliau ambil, sedang tahi binatang itu beliau buang seraya bersabda: “Ini najis.” 

Ar-Riks: najis. 

Rautsah: tahi binatang, baik yang dagingnya halal dimakan atau pun tidak 

Dan istinja’ juga haram dilakukan dengan menggunakan makanan manusia, seperti roti dan lain sebagainya; atau makanan jin, seperti tulang. 

Muslim (450) telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:

 اَتاَنِى دَاعِى الْجِنِّ فَذَهَبْتُ مَعَهُ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْاَنَ، قاَلَ: وَسَاَلُوْهُ الزَّّاد فَقاَلَ لَكُمْ كُلُّّ عَظْمٍ ذُكِرَاسْمُ اللهِ عَلَيْهِ، يَقَعُ فِى اَيْدِيْكُمْ اَوْفَرَ مَايَكُوْنُ لَحْمًا، وَكُلُّ بَعْرَةٍ عَلَفٌ لِدَوَابِّكُمْ 

“Telah datang kepadaku delegasi jin, maka aku pergi bersamanya, lalu aku bacakan al-Qur’an kepada mereka.” Periwayat hadits mengatakan: Dan mereka menanyakan kepada Nabi tentang makanan, maka jawab beliau: “Untuk kamu sekalian tiap-tiap tulang yang disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya. Pada tangan kamu sekalian, tulang itu akan menjadi makanan yang paling banyak dagingnya. Sedang tiap-tiap tahi binatang menjadi makanan bagi binatang-binatang kamu sekalian.” 

Oleh karena itu Rasulullah SAW telah bersabda:

 فَلاَ تَسْتَنْجُوْا بِهِمَا، فَاِنَّهُمَ طَعَامُ اِخْوَانِكُمْ 

“Maka, janganlah kamu sekalian beristinja’ dengan tulang dan tahi binatang, karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kamu.” 

Sedang menurut at-Thirmidzi (18):

 لاَ تَسْتَنْجُوْا بِالرَّوْثِ وَلاَ بِالْعِظَامِ، فَاِنَّهُ زَادُ اِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ 

Janganlah kamu sekalian beristinja’ dengan tahi binatang maupun dengan tulang. Karena, itu adalah makanan saudara-saudara kamu dan bangsa jin. 

Dengan demikian, maka makanan manusia lebih-lebih lagi patut dikiaskan kepada makanan jin. 

Istinja’ juga haram dengan menggunakan benda apa saja yang terhormat, seperti bagian tubuh dari binatang yang belum terpisah darinya, tangannya atau kakinya umpamanya. Dan lebih-lebih lagi bagian tubuh manusia. Tetapi, jika bagian tubuh binatang itu telah terpisah darinya, sedang ia suci, seperti rambut binatang yang halal dimakan dagingnya, dan kulit bangkai yang telah disamak, maka bolehlah untuk beristinja’.

Friday, June 8, 2012

no image

Pengertian, Adab dan Cara-cara Istinja'

Istinja’ artinya menghilangkan najis atau menipiskannya dari lubang kencing atau tahu. Berasal dari kata an-Naja’, artinya terlepas dari penyakit; arai dari an-Najwah yang artinya: tanah tinggi; atau dari an-Najwu, artinya: suatu yang keluar dari dubur. Bersuci semacam ini dalam syara’ disebut istinja’, karena orang yang beristinja’ berusaha melepaskan diri dari penyakit dan berupaya menghilangkannya dari dirinya, dan pada umumnya berlindung di balik gundukan tanah yang cukup tinggi dan semisalnya, supaya dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang. 

Istinja’ hukumnya wajib, hal mana ditunjukkan oleh sabda Rasulullah SAW, sebagaimana yang akan kita bahas nanti. 

ALAT ISTINJA’

Istinja; boleh dilakukan dengan air mutlak. Cara inilah yang pokok dalam bersuci dari najis, di samping boleh juga dengan menggunakan benda padat apa saja, asal kasat hingga dapat menghilangkan najis, seperti batu, daun dsb. 

Tapi yang lebih utama, hendaklah pertama-tama berisitinja; dengan batu dan semisalnya, kemudian barulah menggunakan air. Karena, batu itu dapat menghilangkan ujud najis, sedang air yang digunakan sesudah itu dapat menghilangkan bekasnya tanpa kecampuran najis. Namun demikian, kalau hendak menggunakan salah satu di antara keduanya, tentu airlah yang lebih afdhal, karena ia menghilangkan ujud najis dan bekasnya sekaligus, lain halnya selain air. Adapun kalau hanya menggunakan batu dan semisalnya, maka dipersyaratkan benda yang digunakan itu cukup kering; hendaklah digunakan selagi yang keluar dari qubul atau dubur itu belum kering; kotoran yang keluar itu jangan sampai melampaui sampai kepada permukaan pantat, atau permukaan kepada zakar, atau daerah sekitar liang kencing pada wanita; kotoran itu jangan sampai berpindah dari tempat yang dikenainya sewaktu keluar. Demikian pula dipersyaratkan, benda yang dijadikan alat pengusap itu tidak kurang dari tiga batu, atau tiga benda lain penggantinya. Kalau dengan tiga benda itu belum juga bersih tempat keluarnya kotoran tersebut, maka boileh ditambah, dan disunatkan jumlahnya ganjil: lima, tujuh dan seterusnya, umpamanya. 

Al-Bukhari (149) dan Muslim (271) telah meriwatkan dari Anas bin Malik RA, dia bersabda:

 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَدْخُلُ الْخَلاَءَ، فَاَحْمِلُ اَناَ وَغُلاَمٌ 

Pernah Rasulullah SAW masuk kakus. Maka, saya bersama seorang anak sebaya saya membawakan sebuah bejana berisi air dan sebatang tombak pendek. Lalu beliau beristinja’ dengan air itu. 

Al-khala’: tempat kosong, maksudnya kakus. 

Idawah: bejana kecil dari kulit. 

‘Anzah: tombak pendek yang ditancapkan di depan tempat sujud, sebagai pembatas. 

Yastanji: membersihkan diri dari bekas najis. 

Al-Bukhari (155) dan lainnya, juga meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA, dia berkata:

 اَتىَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغَائِطَ، فَاَمَرَنِى اَنْ اَتِيَهُ بِثَلَثَةِ اَحْجَارٍ 

Nabi SAW mendatangi tempat membuang hajat, lalu beliau menyuruh saya membawakan untuk beliau tiga butir batu. Al-Gha’ith: tanah cekung tempat membuang hajat; dan digunakan pula untuk menyebut sesuatu yang keluar dari dubur. 

Abu Daud (40) dan lainnya meriwayatkan dari ‘Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 اِذَا ذَهَبَ اَحَدُكُمْ اِلَى الْغاَئِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ بِثَلَثَةِ اَجْحَارٍ يَسْتَطِيْبُ بِهِنَّ، فَاِنَّهَا تُجْزِئُ عَنْهُ. 

Apabila seorang dari kamu sekalian pergi membuang hajat, maka hendaklah membawa serta tiga butir batu untuk beristinja’. Sesungguhnya tiga batu itu akan mencukupinya. 

Yastathibu: menyehatkan diri, maksudnya: beristinja’. Disebut demikian, karena orang yang beristinja’ itu menyehatkan dirinya dengan menghilankan kotoran dari temapt keluarnya. 

Sedang Abu Daud (44), at-Tirmidzi (3099) dan Ibnu majah (357) meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda:

 نَزَلَتْ هَذِهِ اْلاَيَةُ فِى اَهْلِ قُبَاءَ

Ayat beikut ini turun mengenai orang-orang Quba’: “Di dalamnya (masjid Quba’) ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih (Q.S. at-taubah 108). 

Sabda Nabi: “Mereka beristinja’ dengan air, oleh karenanya maka turunlah ayat ini.” Muslim (2622) meriwayatkan pula dari Salman RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:

 لاَ يَسْتَنْجِى اَحَدُكُمْ بِدُوْنِ ثَلاَثَةِ اَجْحَارٍ 

Janganlah seorang dari kamu sekalian beristinja’ dengan kurang dari tiga butir batu. Sedang al-Nukhari (160) dan Muslim (237) meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوْتِرْ 

Dan barangsiapa beristijmar, maka ganjilkanlah. Istijmara: beristijmar, yakni mengusapkan al-jimar (batu bata kecil).
no image

Macam-macam Najis yang Dimaafkan

Islam adalah agama yang menyukai kebersihan. Oleh karena itu, ia mewajibkan membersihkan najis di mana saja, dan agar orang menghindarkan diri daripadanya. Begitu pula, Islam menganggap bersuci dari najis sebagai salah satu syarat bagi sahnya shalat, baik najis yang menempel pada pakaian, tubuh maupun tempat shalat. 

Namun demikian agama Islam pun memperhatikan kemudahan, agar tidak terjadi kesulitan. Oleh karena itu, ada beberapa najis yang dimaafkan, karena sulit dihilangkan, atau karena sulit menghindarkan diri daripadanya, demi memudahkan manusia, agar mereka tidak mengalami kesulitan. Berikut ini adalah beberapa macam najis yang dimaafkan: 
  1. Percikan kencing yang amat sedikit, yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang, manakala percikan itu mengenai pakaian maupun tubuh. Begitu pula percikan najis-najis lainnya, baik najis mughalazhah, mukhaffafah maupun mutawassithah. 
  2. Sedikit darah, nanah, darah kutu dan tahi lalat atau najisnya, selagi hal itu tidak diakibatkan oleh perbuatan dan kesengajaan orang itu sendiri. 
  3. Darah dan nanah dari luka, sekalipun banyak, dengan syarat berasal dari orang itu sendiri, dan bukan atas perbuatan dan kesengajaannya, sedang najis itu tidak melampaui dari tempatnya yang biasa. 
  4. Tahi binatang yang mengenai biji-bijian ketika ditebah, dan tahi binatang ternak yang mengenai susu di kala diperah, selagi tidak terlalu banyak sehingga merubah sifat susu itu. 
  5. Tahi ikan dalam air apabila tidak sampai merubahnya, dan tahi burung-burung di tempat yang sering mereka datangi seperti masjid al_haram di Mekah, Masjid Nabawi di Madinah, dan masjid Umawi. Hal itu karena tahi binatang tersebut telah merata di mana-mana, sehingga sulit dihindarkan.
  6. Darah yang mengenai baju tukang jagal, apabila tidak terlalu banyak. 
  7. Darah yang masih ada pada daging. 
  8. Mulut anak kecil yang terkena najis mutahannya sendiri, apabila ia menyedot tetek ibunya.
  9. Debu di jalan-jalan yang mengenai orang. 
  10. Bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir. Maksudnya, binatang itu sendiri tidak mempunyai darah, apabila bangkainya itu tercebur dalam benda cair, seperti lalat, lebah dan semut, dengan syarat binatang itu tercebur sendiri dan tidak merubah sifat benda cair yang diceburi. 
Al-Bukhari (5445) dan lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
 
 اِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى اِناَءِ اَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهَ كُلُّهُ، ثُمَّ يَطْرَحْهُ، فَاِنَّ فِىْ اَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفاَءً وَفِى اْلاَخِرَ دَاءً 
 
Artinya: Apabila telah tercebur dalam wadah salah seorang di antara kamu, maka hendaklah lalat itu ia tenggelamkan seluruhnya, kemudian dibuang. Karena pada salah satu sayapnya terdapat obat, sedang pada yang lan terdapat penyakit. 
 
Dari hadits ini dapat disimpulkan, bahwasanya sekiranya lalat itu membikin minuman itu najis, tentu Nabi takkan menyuruh menenggelamkannya. Lalu, kiaskanlah kepada lalat ini semua bangkai binatang lain yang semakna dengannya, yakni yang darahnya tidak mengalir.
no image

Mensucikan Kulit Bangkai Selain Anjing Dan Babi

Kulit bangkai binatang selain anjing dan babi bisa menjadi suci dengan cara disamak. Maksudnya, kulit itu dihiloangkan cairannya yang dapat merusakkannya sekiranya dibiarkan, dengan menggunakan bahan yang pedas, sehingga kalau kulit itu direndam dalam air maka takkan lagi busuk dan rusak. 

Rasulullah SAW bersabda:

 اِذَا دُبِغَ اْلاِهَابُ فَقَدْ طَهُرَا(رواه مسلم 366

Apabila kulit telah disamak, berarti telah suci (H.R Muslim: 366). 

Sesudah disamak, kulit itu masih wajib dicuci dengan air, karena ia telah bertemu dengan obat-obat yang najis, yang digunakan untuk menyamaknya, atau obat-obat yang terkena najis, dikarenakan bertemu dengan kulit itu, sebelum kuli itu sendiri suci.
no image

Cara Bersuci Dari Najis

Najis mughallazhah, yaitu najisnya anjing dan babi, hanya bisa disucikan dengan dibasuh tujuh kali, salah satu di antaranya dicampur dengan tanah, baik najis itu bersifat ‘ainiyah maupun hukmiyah, baik pada pakaian, tubuh atau pun tempat shalat. Adapun dalilnya adalah hadits mengenai minumnya anjing tersebut di atas. 

Najis mukhaffafah, yaitu kencing bayi laki-laki yang belum makan selain susu, bisa suci dengan diperciki air sampai merata, baik najis itu bersifat ‘Ainiyah atau pun hukmiyah, baik berada pada tubuh, pakaian atau pun tempat shalat. 

Sedang najis mutawassithah, yaitu najis selain anjing, babi dan kecing bayi laki-laki yang belum makan selain susu, hanya bisa suci apabila dialiri air yang dapat menghilangkan bekasnya, sehingga ujud najis itu hilang, dan hilang upa sifat-sifatnya, yaitu warna, rasa maupun baunya, baik najis itu bersifat ‘Ainiyah maupun hukmiyah, baik berada pada pakaian, tubuh maupun tempat shalat. Akan tetapi, tidaklah mengapa bila masih tersisa warnanya yang suit dihilangkan, seperti darah umpamanya.

Wednesday, June 6, 2012

no image

Najis Mughallazhah, Mukhaffafah Dan Mutawassitah

Najis Mughallazhah (berat) ialah najisnya anjing dan babi. Adapun dalil yang menunjukkan najis anjing dan babi itu mughallazhah, ialah karena tidak cukup dicuci dengan air sekali saja, seperti halnya najis-najis yang lain, tetapi harus dicuci tujuh kali, salah satu di antaranya dicampur dengan tanah, sebagaimana ditegaskan pada hadits tentang “Minumnya Anjing” tersebut di atas. Sedang babi dikiaskan kepada anjing. Karena ia lebih jorok lagi kelakuannya. 

Najis mukhaffafah (ringan), ialah kencing bayi laki-laki yang belum memakan selain susu, sedang umurnya belum lagi sampai dua tahun. Adapun dalil yang menunjukkan najis ini mukhaffafah, adalah karena ia cukup diperciki air. Asal percikan itu merata pada seluruh yang terkena najis, maka cukuplah, sekalipun tidak mengalir. 

Al-Bukhari (2021) dan Muslim (287) dan lainnya telah meriwayatkan dari Ummu Qais binti Mihsab RA:

 اَنَّهَا اَتَتْ باِبْنٍ لَهَا صَغِيْرٍ لَمْ يَأكُلِ الطَّعَامَ اِلىَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ 

Bahwa wanita itu telah datang membawa seorang anaknya yang masih kecil, yang belum memakan makanan, kepada Rasulullah SAW. tiba-tiba anak itu kencing pada baju beliau. Maka beliau menyuruh ambilkan air, lalu beliau percikkan tanpa mencucinya. 

Fanadhahahu: maka dia memercikkannya, sehingga air itu meratai tempat najis itu dan membuatnya basah kusup, tetapi tidak mengalir. 

Najis mutawassitah (pertengahan), yaitu najis selain anjing dan babi dan selain kencing bayi laki-laki yang belum makan selain susu. Yaitu seperti kencing manusia, tahi binatang dan darah. Najis-najis itu disebut mutawassitah, karena mereka tidak bisa suci dengan sekedar diperciki air, namun tidak wajib dicuci berkali-kali, manakala ujudnya telah hilang dengan satu kali basuhan saja. 

Al-Bukhari (214) telah meriwayatkan dari Anas RA, dia berkata:

 كاَنَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا تَبَرَّزَ لِحَاجَتِهِ اَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فَيَغْسِلُ بِهِ 

Apabila Nabi SAW keluar ke tanah lapang untuk memnuhi hajatnya, maka aku bawakan air untuk beliau, lalau beliau gunakan air itu untuk bersuci. 

Tabarraza lihajatihi: keluar menuju al-baraz (tanah lapang), untuk memnuhi hajatnya, yaitu buang air kecil atau pun besar. 

Dan juga al-Bukhari (176) dan Muslim (303) telah meriwayatkan dari Ali RA, dia berkata:

 كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً، فاَسْتَحْيَيْتُ اَنْ اَسْاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاَمَرْتُ الْمِقْدَادَبْنَ اْلاَسْوَدِ فَسَاَلُهُ فَقاَلَ: فِيْهِ الْوُضُوْءُ، وَلِمُسْلِمٍ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ 

Aku adalah seorang lelaki yang banyak mengeluarkan mazhi. Aku malu bertanya kepada Rasulullah SAW. maka saya suruh al-Miqdad Ibnu ‘l-Aswad menanyakan kepada beliau, maka jawab beliau: “Madzi itu mewajibkan wudhu’. Sedang menurut Muslim: “Hendaklah ia mencuci kemaluannya, lalu berwudhu. 

Madzdza’: orang yang banyak mengeluarkan mazhi, yaitu cairan yang kuning bening, yang pada umumnya keluar ketika memuncaknya syahwat. 

Dan al-Bukhari (155) meriwayatkan pula dari ‘Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata:

 اَتىَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغَائِطَ، فَاَمَرَنِى اَنْ اَتِيَهُ بِثَلَثَةِ اَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَالْتَمَسْتُ الثّاَلِثُ فَلَمْ اَجِدْهُ، فَاَخَذْتُ رَوْثَةً فاتَيْتُهُ بها، فَاَخَذَ الحَجَرَيْنِ والقى الرَّوْثَةً وَقاَلَ: هَذَا رِكْسٌ. 

Nabi SAW telah buang air besar, lalu menyuruh saya membawakan untuk beliau tiga butir batu. Tetapi saya hanya menemukan dua butir saja, dan saya mencari yang ketiga, namun tidak ada. Maka saya ambil tahi binatang, lalu saya bawa kepada beliau. Dua butir batu itu beliau ambil, sedang tahi binatang itu beliau buang, seraya bersabda: “Ini najis.” 

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa benda-benda tersebut di atas adalah najis. Dan benda-benda lain yang belum disebutkan, Anda kiaskan sendiri dengan benda-benda tersebut.
no image

Pengertian Najis Ainiyah Dan Najis Hukmiyah

Najis ‘Ainiyah ialah tiap-tiap najis yang berujud dan bisa dilihat mata, atau mempunyai sifat yang nyata, seperti warna atau bau. Umpamanya tahi, kencing dan darah. 

 Sedang najis hukmiyah ialah tiap-tiap najis yang telah kering, sedang bekasnya sudah tidak ada lagi. Sudah hilang warna dan baunya. Contohnya kencing yang mengenai baju, kemudian kering, sedang bekasnya tidak nampak.
no image

Macam dan Jenis Barang-barang Najis

Ada banyak barang-barang najis. Di antaranya kami sebutkan di sini, ada tujuh macam yang terpenting: 

1. Khamar dan benda cair apa pun yang memabukkan. 

Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah kekejian....maksudnya: najis. (Q.S. al-Ma’idah: 90) 

Dan sabda Rasulullah SAW:

 كُلُّ مُسْكِرِ خَمْرٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ(رواه مسلم 2003 عن ابن عمر رضي الله عنهما

Tiap-tiap yang memabukkan adalah khamar, dan tiap-tiap khamar adalah haram. (H.R. Muslim: 2003, dari Ibnu Umar RA). 

2.  Anjing dan babi. 

Sabda Nabi SAW:

 طُهُوْرُ اِنَاءِ اَحَدِكُمْ اِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ اَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ اُوْلاَهُنَّ باِلتُّرَابِ(رواه مسلم 279 ) وفى رواية الدارقطنى 1/65: اِحْدَاهُنَّ باِلْبَطْحَاءِ. 

Bejana seorang dari kamu sekalian, apabila diminum anjing, akan menjadi suci bila dia cuci tujuh kali; yang pertama kali (dicampur) dengan tanah. (H.R. Muslim: 179). Sedang menurut riwayat Ad-Daruquthni (1/65): salah satu di antaranya (dicampur) dengan batu kerikil. 

Walagha: meminum 

Al-Bathha’: batu-batu kerikil; maksudnya: tanah. 

3. Bangkai, yaitu tiap-tiap binatang yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Allah Ta’ala berfirman: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. (Q.S. al-Ma’idah: 5). 

Bangkai diharamkan, tak lain karena najis. Dan yang sehukum dengan bangkai ialah binatang yang disembelih demi berhala, dan binatang yang ketika disembelih disebut selain nama Allah. 

Allah Ta’ala nerfirman: ..............dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah. (Q.S. al-Ma’idah: 

Bangkai-bangkai yang dikecualikan
Ada tiga macam bangkai yang dikecualikan, yakni tidak dihukumi najis, yaitu: 

Yang pertama: bangkai manusia, karena Allah Ta’ala berfirman: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (Q.S. al-Isra’: 70). 

Oleh karena manusia dimuliakan Allah, maka dia suci semasa hidup maupun sesudah mati. 

Dalam pada itu, rasulullah SAW bersabda:

 سُبْحَانَ اللهِ اِنَّ الْمُسْلِمَ لاَيَنْجُسْ(رواه البخارى 279) 

Maha suci Allah, sesungguhnya orang Islam itu tidak najis (Q.S. al-Bukhari: 279). 

Sedang Ibnu ‘Abbas RA mengatakan pula: “Orang Islam itu tidak najis, baik ketika hidup maupun sesudah mati”. (Diriwayatkan ooleh al-Bukhari sebagai komentar, dalam Kitab al-Jana’iz, Bab memandikan dan mewudhu’kan Mayit). 

Kedua dan ketiga: bangkai ikan dan belalang. 

Sabda Rasulullah SAW:


 اُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتاَنِ وَدَمَانِ: فَاَمَّا الْمَيْتَتاَنِ فَالْحُوْتِ وَالْجَرَادُ، وَاَمَّا الدَّمَانِ فاَلْكَبِدُ وَالطِّحَالُ(رواه ابن ماجه

Dihalalkan bagimu dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun dua macam bangkai ialah ikan dan belalang. Sedang dua macam darah ialah hati dan anak limpa. (HR. Ibnu Majah). 

4. Darah yang mengalir, termasuk di antaranya nanah

Firman Allah Tas’ala: .............atau darah yang mengalir atau daging babi - karena Sesungguhnya semua itu kotor – (Q.S. al-An’am: 145) 

Dari darah yang najis itu ada yang dikecualikan, yaitu hati dan anak limpa, karena adanya hadits di atas. 

5. Kencing dan tahi manusia maupun binatang: 

Al-Bukhari (217) dan Muslim (284) meriwayatkan, bahwasanya seorang Arab Badwi kencing di Masjid. Maka, Rasulullah SAW bersabda:

 صُبُّوْا عَلَيْهِ ذَنُوْبًا مِنْ مَاءِ 

Siramlah kencingnya itu dengan seember air. 

Suruhan beliau supaya menyiram kencing orang itu, adalah dalil bahwa kencing itu najis 

6. Tiap bagian tubuh yang terlepas dari binatang dalam keadaan hidup, adalah najis. 

Rasulullah SAW bersabda:

 مَاقُطِعَ مِنْ بَهِيْمَةٍ فَهُوَ مَيْتَةٌ(رواه الحاكم وصححه

Apa-apa yang terpotong dari seekor binatang, adalah bangkai. (H. R. Al-Hakim, dan dia mengesahkan hadits ini). 

Tetapi, ada yang dikecualikan dari hadits ini, yaitu rambut dan bulu binatang yang halal dimakan dagingnya. Rambut dan bulunya adalah suci, karena Allah Ta’ala berfirman: 

Dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). (Q.S. an-Nahl: 80). 


7. Susu binatang yang haram dimakan dagingnya, seperti keledai dan semisalnya. Karena susunya sama hukumnya dengan dagingnya. Sedang dagingnya adalah najis.
no image

Jenis dan Macam-Macam Thaharah/Bersuci

Bersuci itu ada dua macam: 
  1. Bersuci dari najis dan
  2. Bersuci dari hadats. 
Bersuci Dari Najis 
Arti najis menurut bahasa: apa saja yang kotor. Sedang menurut syar’i berarti kotoran yang mengakibatkan shalat tidak sah, seperti darah dan air kencing. 

 Bersuci Dari Hadats 
Menurut bahasa, al-Hadats artinya: peristiwa. Sedang menurut syara’ artinya: perkara yang dianggap mempengaruhi anggota-anggota tubuh, sehingga menjadikan shalat dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sehukum dengannya tidak sah karenanya, karena tidak ada sesuatu yang meringankan. Al-Hadats diartikan juga hal-hal yang membatalkan wudhu’, sebagaimana yang akan kita bicarakan nanti, dan juga diartikan hal-hal yang mewajibkan mandi.

Pembagian Hadats 
Hadats dibagi menjadi dua: hadats kecil dan hadats besar. 

Hadatas kecil ialah perkara yang dianggap mempengaruhi empat anggota tubuh manusia, yaitu: wajah, dua tangan, kepala dan dua kaki, lalu menjadikan shalat dan semisalnya tidak sah. Hadats itu bisa hilang dengan cara berwudhu’. Dan sesudah itu, seseorang siap untuk melakukan shalat dan semisalnya. 

Hadats besar ialah perkara yang dianggap mempengaruhi seluruh tubuh, lalu menjadikan shalat dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sehubungan dengannya tidak sah karenanya. Hadats besar ini bisa hilang dengan cara mandi. Dan sesudah itu seseorang diperbolehkan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tadi terlarang karenanya.