Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Syari'at. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Syari'at. Show all posts

Tuesday, August 13, 2013

no image

Hukuman Sesuai dengan Keadaan dan Syariat

Menghukum setiap sesuatu harus menurut keadaannya. 

Jika ia tidak memenuhi syarat dan yang sebagiannya dengan pengkhianatan, dan hal itu merupakan pengkhianatan terhadap syarat, yaitu perbuatan tangan maka hukuman (muaqabah) itu harus yang berkaitan dengannya. Apabila pengkhianatan itu berkaitan dengan makanan dan minuman, maka nafs-nya harus dihukum dengan hukuman yang berkaitan dengan keduanya, yaitu ia dicegah dari makan dan minum. Demikianlah hingga kalau syarat itu berkaitan dengan suatu perbuatan mustahab [sunnah], seperti syaratnya terhadap nafs-nya agar melakukan shalat malam. Jika nafs tidak memenuhi syarat itu, maka ia harus dihukum dengan mem­perlama keterjagaannya pada beberapa malam dan mencegah ketena­ngan baginya hingga ia terbiasa melakukan perbuatan mustahabb tersebut yang disyaratkan kepadanya. 

Hal ini ditunjukkan al-Faydh al-Kasyani r.a. dalam ucapannya: "Be­tapapun ia mengevaluasi atau menghisab nafs-nya, maka tidak ada ja­minan bahwa nafs tidak akan melakukan kemaksiatan dan tidak lalai terhadap hak Allah SWT. Oleh karena itu, sebaiknya hal itu jangan di­abaikan, karena jika diabaikan, maka ia akan mudah melakukan kemak­siatan serta akrab dengannya dan sulit berpisah darinya. Hal itu meru­pakan penyebab kebinasaannya. Akan tetapi, sepatutnya ia menghu­kumnya." Dan hukuman setiap sesuatu adalah menurut keadaannya. "Apabila ia memakan sesuap makanan syubhat dengan syahwat nafs, maka sebaiknya ia menghukum perut dengan lapar. Apabila ia memandang bukan muhrim, maka sebaiknya ia menghukum mata dengan mencegahnya dari memandang. Demikianlah, ia menghukum setiap organ tubuhnya dengan mencegahnya dari syahwatnya. Itulah kebiasaan para penempuh jalan akhirat.[ Ibid., hal. 168.]" 

Hukuman Dilakukan Sesuai dengan Neraca Syariat 

Tidak terbayang dalam pikiran seseorang bahwa ia mampu menghukum nafs-nya dengan bentuk hukuman apa pun yang dipilihnya. Akan tetapi, hukuman itu harus dilakukan menurut neraca-neraca syariat yang dite­tapkan syariat yang kudus. Al-Faydh al-Kasyani r.a. mengetengahkan sebuah kisah tentang peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah saw. yang berkenaan dengan pengertian ini. 

Diriwayatkan dari Thalhah: Pada suatu hari, seseorang pergi. Ia melepaskan pakaian dan berguling-guling di tanah yang sangat panas, Ia berkata pada dirinya, "Rasakanlah, siksa­an neraka Jahanam lebih panas lagi. Apakah bangkai di malam hari adalah pahlawan di siang hari?" Sementara ia melakukan tindakan ter­sebut, tiba-tiba ia melihat Nabi saw. sedang berteduh di bawah pohon. Lalu , ia mendatangi beliau dan berkata, "Nafs-ku telah mengalahkanku." Nabi saw. bersabda, "Bukankah tidak semestinya engkau melakukan tindakan tadi? Pintu-pintu langit telah dibuka untukmu dan Allah membanggakanmu di hadapan para malaikat." Kemudian, beliau berkata kepada para sahabatnya, "Ambillah bekal untuk saudara kalian!" Lalu, orang itu berkata kepada beliau, "Wahai fulan, doakanlah aku. Wahai fulan, doakanlah aku." Nabi saw, menjawab, "Aminilah mereka." Beliau berdoa, "Ya Allah, jadikanlah ketakwaan sebagai bekal mereka dan himpunkanlah urusan mereka di atas ketakwaan." Selan­jutnya, beliau berdoa, "Ya Allah, tunjukkanlah dia ke jalan yang benar." Orang itu berkata, "Ya Allah, jadikanlah surga sebagai tempat kembali mereka.[ Ibid, hal. 168]"

Monday, July 2, 2012

no image

Pengertian dan Mempelajari ilmu Tashawuf

Tashawuf adalah suatu cabang dari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama Islam dan pada mulanya ilmu Tashawuf memang mendapat tempat yang layak dan terpandang dalam masyarakat Islam, karena pada dasarnya ilmu Tashawuf itu adalah intisari agama Islam terutama bagian aqidah dan tauhidnya. 

Akan tetapi belakangan, sebagaimana ajaran-ajaran Islam yang lain, ilmu Tashawuf telah kemasukan benih-benih ajaran yang bahkan bertentangan dengan dasar tauhid yang dibawa ke dalamnya oleh orang-orang yang tidak mempunyai itikad baik dan tidak mempunyai dasar tauhid yang murni. Orang-orang itu secara sadar atau tidak, mencampur-adukkan Tashawuf yang murni dengan benih-benih khurafat dan takhayul serta kepercayaan-kepercayaan yang bahkan mendekati syirik. 

Karena sikap dan ulah orang-orang yang menjadi cecunguk-cecunguk ahli Tashawuf itu, maka gambaran orang tentang Tashawuf menjadi suram dan seakan-akan Tashawuf itu merupakan penjelasan dari kemiskinan, kebodohan, kelemahan jasmani dan rohani, kemalasan dan pengangguran, hal mana membawa pengaruh yang negatif ke dalam masyarakat Islam. 

Untuk mengembalikan Tashawuf kepada dasar murninya, orang harus kembali menggalinya dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan menghilangkan segala apa yang dilekatkan orang kepadanya dari rupa bid’ah, khurafat dan takhayul serta bertauladan kepada imam-imam Tashawuf yang sejati dan jujur, terknal taqwanya, ibadahnya, istiqamahnya, zuhudnya di samping pengetahuannya yang cukup tentang hukum-hukum syari’at.
no image

Mempelajari sejarah Islam

Sejarah Islam adalah merupakan warisan nenek moyang dan peninggalan pujangga-pujangga dan tokoh-tokoh Islam yang mendahului kita. Ia juga merupakan bekal dan perbendaharaan rohani yang besar yang mengandung nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan. 

Akan tetapi minat orang dan perhatiannya untuk mempelajarinya sangat minim, sehingga banyak di antara kalangan umat Islam sendiri yang masih buta huruf tentang sejarah perkembangan agamanya dan tidak menyadari bahwa agama Islam yang dibawa oleh seorang Nabi yang Ummi dalam waktu kurang satu abad telah dapat membangkitkan masyarakat yang primitif, penyembah berhala, jauh dari pusat peradaban, menjadikannya suatu umat pembawa cahaya yang menyinari dunia yang gelap dan menyebarkan kebudayaan dan peradaban yang tinggi yang bahkan menjadi dasar dan pangkal tolak peradaban dan kemajuan manusiawi yang kita lihat dan rasakan kini. 

Umat Islam perlu mengenangkan sebab-sebab dan faktor-faktor positif yang telah membawa umat Islam dalam waktu yang singkat itu mencapai puncak kebesaran dan kemajuannya, di samping juga mengenangkan serta merenungkan sebab-sebab dan faktor negatif yang menariknya ke bawah menurunkanya dari singgasana kebesaran dan kemegahannya. 

Semuanya akan dapat diketahuinya bila sejarah Islam dipelajari, dibalil-balik lemabarannya untuk ditarik ibrah dan pelajaran bagi menyusun kembali kekuatan rohani dan jasmani guna mencari kembali warisan yang kita hilangkan dan peninggalan yang kita abaikan.
no image

Peraturan dan Pedoman Hidup dalam Islam

Beberapa peraturan dalam Islam. Islam sebagai pedoman dasar bagi pergaulan hidup manusia, menetapkan peraturan-peraturan yang mencakup semua cabang kehidupan, yaitu: 
  • Cara-cara beribadah 
  • Peraturan bermasyarakat 
  • Peraturan hukum pidana 
  • Peraturan tata administrasi 
  • Peraturan berkeluarga 
  • Peraturan hukum perdata 
  • Peraturan hukum ekonomi 
  • Peraturan urusan politik. 
Peraturan-peraturan itu bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah dan dari praktek pemerintahan keempat khalifah Rasulullah saw. dan dari hasil ijtihadnya para ulama dan para imam yang mujtahid. 
Sayangnya peraturan-peraturan itu tidak mendapat perhatian yang cukup sehinga tidak tersusun rapi dalam sebuah kitab, tetapi terpencar-pencar dibanyak kitab sehingga sukar bagi seorang ahli pun untuk mempelajarinya secara lengkap dan sempurna. Maka seharusnya ada usaha untuk mengumpulkan bahan-bahan yang tercecer di banyak kitab itu dan disusunnya kembali yang rapi dalam sebuah kitab khusus. 
Peraturan-peraturan ini cukup sempurna memenuhi kebutuhan bidang yang dijangkaunya. Orang tidak akan menyadari nilai dan kesempurnaan peraturan-peraturan ini kecuali bila ia mempelajarinya sambil membandingkanya dengan peraturan-peraturan lain yang dibangga-banggakan oleh para pembuatnya dari sarjana-sarjana dan ahli-ahli pemerintahan barat. Bahkan ia akan memperoleh kesan bahwa peraturan-peraturan yang bersumber dari wahyu Ilahi ini jauh lebih tinggi nilainya dan lebih rapi dan sempurna susunannya daripada banyak peraturan-peraturan yang dibangga-banggakan itu.
no image

Mempelajari sejarah Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad saw. bukanlah seorang manusia biasa. Ia manusia yang berkepribadian istimewa ditandai dengan kekuatan jasmani dan rohani yang luar biasa. Di samping itu beliau adalah tauladan yang ideal dalam perilakunya, hubungannya dengan Allah, hubungannya dengan keluarga, dengan saudara-saudara, dengan kawan-kawan dan sahabat-sahabatnya. 
Beliau juga merupakan tauladan yang ideal dalam membela kebenaran menghadapi rintangan-rintangan dengan keberanian dan kekuatan jiwa dan dapat dicontoh sikapnya dan tingkah lakunya dalam perang dan dalam damai, dalam cara pimpinannya dan tuntunannya kepada umatnya dan dalam sikap zuhudnya menghadapi soal-soal keduniawian. 
Rasulullah saw. adalah contoh sebagai ahli ibadah yang tekun, penghulu yang adil, ahli siasat yang matang, pemimpin yang bijaksana, bapak yang penyayang, guru yang bakti, komandan yang menang, kawan yang jujur, suami yang setia dan seorang nabi yang saleh yang tidak dikenal taranya sepanjang masa. 
Penulisan riwayat Rasulullah saw. hendaklah menonjolkan sifat-sifat luhurnya dan keagungan kepribadiannya, karena penghidupan beliau bukanlah penghidupan yang biasa, maka demikian pula riwayat hidupnya bukanlah sebagai riwayat hidup yang biasa kita kenal. Tujuan dari penulisan riwayat hidup beliau ialah agar kita meniru dan mengikuti jejaknya agar kita dapat mencapai tingkat kemanusiaan yang tinggi dan ideal.
no image

Pengertian dan Mempelajari Ilmu Fiqih

Ilmu fiqih ialah ilmu yang membidangi hukum-hukum syari’at dalam agama Islam, tentang mana telah kami uraikan dalam mukaddimah kitab “Fiqhussunnah”. Yang perlu kami tekankan di sini ialah agar diulangi kembali penulisan ilmu fiqih menurut cara dan sistem “Fiqhussunnah” dalam hal penyuguhan nash-nash yang shahih tentang apa yang berhubungan dengan soal-soal ibadah, halal dan haram serta yang mengenai hudud dan qishash. Dan sedapat mungkin dijauhkan penguraian soal-soal yang tidak pernah terjadi serta penggunaan qias “masalah dan mafsadah” dalam kasus-kasus yang tidak terdapat nashnya. 

Dan untuk melaksanakan usaha yang besar ini, dibutuhkan gotng-royongnya para ulama dan fuqaha yang telah secara khusus mempelajari dan mendalami ilmu fiqih dan hukum-hukum syari’at Islam. Karena usaha yang sebesar ini tidak dapat sempurna jika dilakukan secara perorangan, mengingat bahwa tenaga perorangan bagaimanapun bobotnya dan kepandaiannya tidak akan luput dari alpa dan salah. 

Ijtihad yang dilakukan oleh para ulama secara perorangan, telah meninggalkan bekas-bekas yang hingga kini telah dirasakan akibatnya oleh umat Islam. Adanya madzhab-madzhab yang beraneka ragam, dan kefanatikan orang terhadap madzhab yang dianutnya, serta meluasnya pertentangan dan perselisihan agama telah membawa perpecahan dalam kalangan umat Islam dan melemahkan ikatan-ikatan yang seharusnya merapatkan barisan mereka dan meneguhkan persatuannya. 

Maka kami menyarankan agar para pemimpin Islam yang bertanggung jawab, suka memikirkan pembentukan sebuah lembaga yang khusus yang akan menyusun hukum-hukum Fiqih dan syari’at Islam.
no image

Pengertian Sunnah Rasulullah dan Mempelajarinya

Yang dimaksud dengan sunnat Rasulullah saw. ialah ucapan-ucapannya, perbuatan-perbuatannya dan keputusan-keputusannya. Semuanya itu merupakan sumber kedua sesudah Al-Qur’an bagi hukum-hukum Islam, aqidah-aqidahnya, syari’atnya, dan cara-cara ibadahnya. 

Sunnat Rasulullah juga memberi tafsiran dan penjelasan bagi isi Al-Qur’an serta menetapkan apa yang halal dan apa yang haram sepanjang tidak ada nash dalam Al-Qur’an. 

Karena fungsinya sunnat Rasulullah saw. begitu penting sebagai sumber hukum-hukum Islam, maka oleh para ulama dijadikanlah ia sebagai suatu mata pelajaran dan bahan pembahasan yang mendalam. Untuk tujuan itu terbentuklah sekelompok ulama yang menspesialisasikan diri dalam ilmu hadits, mengumpulkannya daripada para sahabat Rasulullah yang telah menerimanya langsung dan dari para tabi’ien yang menerima hadits-hadits itu dari tangan pertama. 

Disayangkan bahwa usaha para ulama mengumpulkan sunnat Rasulullah saw. adalah usaha-usaha perorangan, sehingga tidak seorang daripada mereka walaupun telah memeras keringatnya dan mengorbankan tempo, tenaga dan energinya dapat mencapai puncak yang diharapkan,. Sungguhpun tidak dapat diungkiri bahwa apa yang mereka telah kumpulkan dan wariskan kepada kita berupa himpunan hadits dan sunnah Rasulullah saw. benar-benar merupakan perbendaharaan yang besar yang sukar didapat taranya. 

Namun akan menjadi lebih sempurna jika kiranya dapat dibentuk sebuah panitia khusus yang dipilih anggota-anggotanya dari para ulama ahli hadits untuk diserahi tugas: 
  1. Mengumpulkan hadits-hadits yang tercecer di dalam kitab-kitab hadits yang banyak ragamnya. 
  2. Mengaturnya bab per bab dan pasal per pasal sesuai dengan judul yang menjadi isi hadits-hadits itu. 
  3. Memberi syarah – penjelasan – bagi hadits-hadits yang dikumpulkan dengan cara yang mudah dapat dimengerti dan diutamakan agar syarah itu ditunjang dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang semakna. 
  4. Mengadakan penyesuaian sedapat mungkin antara hadits-hadits yang nampaknya bertentangan satu dengan yang lain. 
  5. Para ulama yang diberi tugas mengadakan sayarah – penjelasan – hendaklah sedapat mungkin dibagi menurut spesialisasi mereka; Ahli Fiqih memberi syarah pada hadits-hadits yang berhubungan dengan hukum-hukum Fiqih, ahli aqa’id, yang berhubungan dengan aqa’id dan seterusnya, agar tiap kelompok spesialis dari para ulama itu masing-masing menangani apa yang termasuk dalam bidangnya. 
Dengan terlaksananya rencana tersebut di atas, kita akan dapat membersihkan sunnah Rasulullah dari hadits-hadits yang palsu atau lemah riwayatnya, hal mana dapat merusak kemurnian hukum-hukum Islam dan menyelewengkan ajaran-ajarannya. Di samping itu akan menjadi lebih mudah bagi awamnya umat Islam untuk memahami sunnat Rasulullah dan memetik manfaat dari itu perbendaharaan rohani yang diwariskan kepada umat manusia oleh Nabi Allah yang penutup.

Sunday, July 1, 2012

no image

Mempelajari Tafsir Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci Islam dan pedoman yang menyingkap hakikat dan ajaran-ajaran agama serta mengatur cara-cara hidup seseorang secara pribadi, secara berkeluarga, serta secara berkelompok dan secara bernegara. Dialah yang mengangkat derajat umat Islam di masa jayanya dan akan tetap menjadi sumber kekuatannya selama umat konsekuen mematuhi segala tuntunannya. Dialah yang dapat memberi roh baru dan darah baru bagi umat Islam kapan saja dan di mana saja asalkan tetap menggunakannya sebagai iman dan pedoman. 

Tidak ada suatu ilmu atau kitab yang dapat menduduki kedudukan Al-Qur’an di bidang pencerdasan akal, pembersihan hati, pensucian jiwa, menghidupkan naluri, mengenalkan manusia kepada Tuhan penciptanya dan mengantar umat pengikutnya ke tempat terdepan dan tingkat pimpinan. Karenanya mempelajari Al-Qur’an, hendaklah ia berusaha pula mempelajari bahasanya, yaitu bahasa Arab, supaya ia di samping memahami dan menangkap makna dan maksud dari ayat-ayatnya, ia dapat pula merasakan keindahan bahasanya, yang merupakan mu’jizat bagi Nabi Muhammad sebagai Rasul yang tidak dapat membaca dan menulis. 

Bagaimanapun, pengadaan tafsir bagi Al-Qur’an adalah menjadi suatu keharusan dan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Tafsir yang dapat menolong orang memahami Al-Qur’an dengan cara yang mudah namun luas. 

Tafsir Al-Qur’an hendaknya memnuhi petunjuk-petunjuk ini: 
  1. Janganlah tebalnya kitab tafsir melebihi dua kali tebalnya Al-Qur’an sendiri. 
  2. Hendaklah tiap surat didahului dengan sebuah mukaddimah yang menerangkan isi pokok surat itu. 
  3. Hendaklah tiap ayat dibubuhi nomor sesuai dengan aslinya. 
  4. Janganlah menyinggung sebab-sebab turunnya ayat kecuali jika pengertian sesuatu ayat tergantung dengan keterangan sebab turunnya. 
  5. Hendaklah menerangkan arti ayat-ayat tanpa menyinggung tata bahasanya secara mendalam. 
  6. Hendaklah hukum-hukum fiqih yang terang nashnya dalam ayat yang dicantumkan. Selebihnya diterangkan sekedar yang perlu saja. 
  7. Hendaklah dipilih tafsir yang menolak pertentangan di antara ayat-ayat. 
  8. Ayat-ayat yang berulang hendaklah ditafsirkan sebagaimana adanya dengan menyebut hikmah pengulangan itu kalau perlu. 
  9. Kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an hendaklah ditafsirkan menurut apa adanya dengan menyebut ibrah dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah itu.
  10. Ayat-ayat yang mengandung soal ilmiah, hendaklah ditafsirkan sesuai dengan pengertian yang terkandung dalam kata-kata ayat itu.
no image

Ruang Lingkup Ilmu dan Pelajaran Tauhid

Pelajaran tauhid mencakup 
  1. Tentang Allah, Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya dan Af’al-Nya 
  2. Tentang kenabian dan kerasulan 
  3. Tentang hal-hal yang gaib dan 
  4. Hari Qiamat 
Mengenai empat masalah tersebut di atas, sudah banyak diterangkan secara luas dan berulang-ulang dalam Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits Rasulullah saw. sehingga tidak dibutuhkan tambahan keterangan dan penjelasan. 
Hanya perlu diperingatkan bahwa dalam mempelajari soal-soal tauhid hendaklah orang membatasi diri dengan apa yang didapat dalam Al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasulullah dan tidak perlu melantur membicarakan hal-hal yang lebih banyak merupakan bahan-bahan perdebatan dan adu lidah! 
Karena yang menjadi tujuan dari pelajaran tauhid ialah agar tertanam iman yang teguh dan aqidah yang mantap pada diri seseorang dan demikian terbentuklah kekuatan positif pada jiwanya yang mendorongnya melakukan hal-hal yang besar dan luhur. 
Umat Islam telah banyak melakukan kesalahan dengan menyimpang dari pedoman dan cara-cara yang diberikan oleh Rasulullah di bidang pengajaran tauhid. Dengan cara-cara mana beliau telah dapat mencetak para sahabatnya yang menjadi pemimpin-pemimpin pembaharuan, penuntun-penuntun ke jalan kebajikan dan khalifah-khalifah yang melanjutkan risalahnya seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali r.a. 
Pendidikan Rasulullah kepada generasi sebayanya dengan menanamkan tauhid dan iman di dalam jiwa mereka telah berbuah dan hasilnya telah disaksikan oleh sejarah bukan saja di jazirah Arab bahkan di seluruh dunia. 
Cara-cara Rasulullah berda’wah dan menanamkan tauhid pada umatnya adalah tetap cara-cara yang terbaik yang harus dilanjutkan dan diamalkan dan sekali-kali janganlah kita menyimpang daripadanya agar kita memiliki iman dan aqidah-aqidah yang haq yang akan membawa kebahagiaan dunia dan kemuliaan akhirat bagi kita.