Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Sholat. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Sholat. Show all posts

Saturday, September 8, 2018

Penekanan Sholat Berjamaah Isya & Subuh dalam Hadits

Penekanan Sholat Berjamaah Isya & Subuh dalam Hadits

sholat berjamaah
Telah kita ketahui bersama bahwa begitu besar keutamaan dari pahala sholat berjamaah. Di bawah ini adalah keterangan dari dalil hadits Nabi Muhammad saw. yang menjelaskan tentang adanya penekanan sholat berjamaah pada sholat Isya’ dan sholat shubuh. Bagaimana penekanannya, bagiamana kisah cerita tentang penekanan sholat berjamaah shubuh dan isya' pada Nabi dan para sahabatnya.

Dalil hadits dan kisah cerita penenekanan sholat berjamaah Isya’ dan Shubuh beramaah. 


Nabi Rasulullah SAW bersabda.:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إن أثقل صلاة على المنافقين صلاة العشاء وصلاة الفجر، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبواً

Artinya: Sesungguhnya sholat yang dirasa paling berat oleh orang-orang munafik adalah sholat Isya’ dan sholat Fajr (Shubuh). Seandainya mereka tahu pahala yang ada pada keduanya niscaya mereka akan mendatangi keduanya walau dengan merangkak. (Hadits 87. Shahih. Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah (1/332). Ahmad (2/424) Al-Bukhari dan Muslim (651), Abu Dawud (548), lbnu Majah (791). dan lbnu Hibban (2098): dari Abu Hurairah.

Dari Ibnu Umar berkata, "Jika ada seseorang di antara kami yang meninggalkan sholat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, kami berburuk sangka kepadanya bahwa ia telah menjadi seorang munafik. (88. lsnadnya shahih. Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah (1/332). Al-Hakim (1/211 ). lbnu Khuzaimah (1485). lbnu Hibban (2099). dan Al-Baihaqi (3t59)

Kisah cerita Penekanan Sholat berjamaah Isya’ dan subuh berjamaah


Ubaidullah bin Umar al-Qawaririy berkisah, "Aku belum pernah ketinggalan sholat ‘Isya’ secara berjamaah walau sekali. Suatu malam aku kedatangan tamu. Karenanya aku menyibukkan diri dan ketinggalan sholat ‘Isya’ berjamaah. Aku pun mencoba untuk mencari, mungkin masih ada jamaah ‘sya’ di seantero masjid kora Bashrah. Namun aku dapati semua orang sudah selesai mengerjakannya dan pintu masjid pun telah dikunci. Aku pulang dan bergumam. "Terdapat suatu hadits yang menyebutkan bahwa sholat jamaah itu lebih utama 27 derajat dibandingkan sholat sendirian. Maka aku pun mengerjakan sholat ‘Isya’ 27 kali. Aku tidur dan bermimpi, seakan-akan aku bersama suatu kaum yang semuanya menunggang kuda perang. Aku juga menunggang kuda. Kami berpacu. Aku mengendalikan kuda sekencang-kencangnya, tetapi tetap tidak bisa mencapai mereka. Aku memperhatikan salah seorang dari mereka. Ia berkata, 'Jangan kamu forsir kudamu, sekali-kali kamu tidak akan pernah bisa menyusul kami.' 'Mengapa begitu?, tanyaku. Orang itu menjawab, 'Karena kami mengerjakan sholat ‘Isya’ berjamaah sedangkan kamu mengerjakan-nya sendirian.' Lalu aku terbangun dan diliputi rasa sedih dan sesal tiada tara.

Dan pada akhirnya, marilah kita momohon pertolongan atau ma'unah, hidayah serta taufiq kepada Allah swt. Sehingga kita senantiasa menjalankan sholat berjamaah. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia

Friday, September 7, 2018

Hukum Meninggalkan Sholat Jamaah Bagi Yang Tidak Berhalangan

Hukum Meninggalkan Sholat Jamaah Bagi Yang Tidak Berhalangan

Pada bahasan terdahulu dalam Ilmu dan ajaran islam telah kami paparkan mengenai hukum sholat berjamaah. Bagaimana hukumnya meninggalkan sholat jamaah bagi mereka yang tidak berhalangan atau Udzur. Apa saja ancaman-ancaman bagi mereka yang meninggalkan sholat jamaah tanpa halangan atau udzur
Allah berfirman:

يَوۡمَ يُكۡشَفُ عَن سَاقٖ وَيُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ ٤٢ خَٰشِعَةً أَبۡصَٰرُهُمۡ تَرۡهَقُهُمۡ ذِلَّةٞۖ وَقَدۡ كَانُواْ يُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ وَهُمۡ سَٰلِمُونَ ٤٣

Artinya: Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa. (dalam keadaan) pandangan mereka tunduh ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mercka dalam keadaan sejahtera. (QS. Al-Qalam 42 - 43)

Ancaman meninggalkan sholat jamaah dalam dalil Hadits Nabi


Bagaimana dengan mereka yang mempunyai Udzur dengan kesulitan-kesulitan


sholat jamaah
Ini kejadian pada hari kiamat. Mereka diliputi penyesa1an. Dulu di dunia mereka telah diseru untuk bersujud.

Ibrahim At-Taimiy berkata, "Maksud dari ayat di atas adalah diseru kepada sholat wajib dengan adzan dan iqamah."

Sa'id bin Musayyib berkata, "Mereka mendengar panggilan 'Mari mengerjakan sholat! Mari menuju kemenangan!', namun mereka tidak menjawab panggilan itu, padahal mereka dalam keadaan sehat sejahtera."

Ka'ab al-Ahbar berkata, "Demi Allah, ayat ini tidak turun kecuali berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan sholat jamaah. Nah, ancaman apa yang lebih dahsyat bagi orang yang meninggalkan sholat jamaah padahal ia mampu mengerjakannya selain ayat ini?

Adapun dari sunnah, Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Sungguh aku hampir saja memerintahkan untuk sholat, diiqamati, lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang. Sedang aku dan beberapa orang lagi pergi sambil membawa seonggok karu bakar untuk membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri sholat Jamaah.  Tentunya mereka udak diancam dengan pembakaran rumah padahal di sana ada anak-anak dan harta kekayaan- kecuali karena mereka meninggalkan perkara yang wajib." (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Malik (1/129-130). Al-Bukhari (644. 2420) Muslim (651 ), Abu Dawud (549). At•Tirmidzi (217). dan An-Nasa'i (2/107): dari Abu Hurairah.)

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, seorang buta menemui Nabi saw. berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang menuntunku ke masjid." Lalu ia memima keringanan urtuk diperbolehkan mengerjakan sholat di rumah. Rasulullah pun mengizinkan. Tetapi ketika orang itu undur diri. beliau memanggilnya, ''Apakah kamu mendengar seruan untuk sholat (adzan)?" Laki-laki itu menjawab, "Ya." Jika demikian jawablah seruan itu!". sabda Rasulullah. (Shahih Diriwayatkan oleh Muslim (653). Abu Awanah (2/6), An-Nasa'I (2/109), dan Al-Baihaqi (3/57).

Hadits di atas diriwavatkan pula oleh Abu Dawud dari 'Amru bin Ummi Maktum, bahwa ia menemui Nabi saw ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Madinah ini banyak binatang berbisa dan binatang buasnya. Padahal aku ini rusak penglihatanku dan jauh rumahku. Aku punya penuntun ja/an tapi aku tidak cocok dengannya. Apakah ada keringanan bagiku untuk mengerjakan sholat di rumah?" "Apakah kamu mendengar adzan?", tanya Rasulullah. 'ya", jawab orang itu. Lalu Rasulullah bersabda, ''jika demikian jawablah seruan itu. Aku tidak mendapatkan keringanan bagimu. ( Hadits Shahih. Diriwayatkan o!eh lbnu Abi Syaibah (1/345. 346), Abu Dawud (553), An-Nasa'i (2/110). lbnu Khuzaimah (1478), dan Al-Hakim (1/246) dengan men-shahih-kannya. Dan penilaian ini disepakati oleh Adz-Dzahabi. dan Syaikh Al-Albani juga men-shahih-kannya.

Bagaimana dengan mereka yang tidak punya udzur


Seorang lelaki buta telah mengadukan kesulitan-kesulitan vang ia hadapi selama berjalan menuju masjid. Bahkan ia tidak punya orang yang menuntunnya. Meski begitu, Nabi tetap tidak memberi keringanan baginya untuk mengerjakan sholat di rumah. Nah, bagaimana dengan orang-orang yang sehat penglihatannya sejahtera tanpa ada udzur? Karena itulah ketika Ibnu Abbas ditanya tentang seseorang yang selalu berpuasa di siang hari, selalu bangun untuk sholat malam, tetapi tidak mengerjakan sholat jamaah menjawab, "Jika dia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan masuk neraka."( lsnadnya dha’if. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (218). dari Hannad. telah menceritakan kepada kami Al-Muharibi dari Laits dari Mujahid dan lbnu Abbas. Ahmad Syakir berkata, "lsnad ini shahih]. meskipun secara zhahirnya adalah mauquf dan lbnu Abbas. tapi ditinjau dari status hukumnya adalah marfu' (marfu' hukman). karena (perkataan) seperti ini tidak mungkin dia ketahui dengan ra’yi (pikirannya). Saya katakan, Isnadnya dha’if, karena Laits bin Abi Sulaim. dia adalah lemah."

Abu Hurairah berkata, "Penuhnya telinga anak dam oleh timah yang meleleh lebih baik dari pada mendengar adzan tapi tidak mendatanginya. (Isnadnya dha’if. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (1/380/4). dari jalur Waki'. dari Abdurrahman bin Hushain. dari Abu Najih Al-Maki. dari Abu Hurairah. Dan 1snadnya dha’if. karena keadaan Abdurrahman majhul(tldak diketahui jati dirinya). Wallahu a'fam

Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mendengar muadzin padahal tidak ada udzur untuk mendatanginya .." Seseorang menyela, "Apakah udzur itu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Yaitu takut atau sakit. Sholat yang ia kerjakan tidaklah diterima." Maksudnya sholat yang dikerjakan di rumah.

Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda, "Tiga orang yang dilaknat oleh Allah; orang yang memimpin sutu kaum padahal kaum itu membencinya. wanita yang tidur padahal suaminya mairah kepadanya. dan laki-laki yang mendengar 'Mari menuju sholat, mari menuju kemenangan!'. namun tidak mendatanginya." (Tidak shahih. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (358). dan Muhammad bin Al-Qasim Al-Asadi, dan Al-Fadhi bin Dalham. dari Al-Hasan. dari Anas-bukan lbnu Abbas. Dan At-Tirmidzi berkata, ''Tidak shahih, karena hadits ini diriwayatkan dari Al-Hasan. dari Nabi saw secara mursal. Sedang Muhammad bin Al-Qasim didha ‘if-kan oleh Ahmad. dan menyatakan bahwa dia bukan seorang yang hafizh.

Ali bin Abi Thalib berkata, "Tidak ada sholat bagi tetangga masjid kecuali di masjid." Seseorang bertanya, "Siapakah tetangga masjid itu?" Yaitu orang-orang yang mendengar adzan."(Isnadnya shahih. Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah (1/380/8).

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Barangsiapa senang untuk berjumpa dengan Allah esok hari -hari kiamat- sebagai seorang muslim hendaklah menjaga sholat lima waktu setiap kali terdengar panggilan untuk mengerjakannya. Sesungguhnya Allah mensya-riatkan sunnah petunjuk (sunanul huda) bagi Nabi kalian. Dan sholat jamaah itu termasuk salah satunya. Andaikata kalian mengerjakan sholat di rumah seperti sholatnya orang yang ketinggalan di rumahnya berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnahnya niscaya kalian tersesat. Kalian semua telah melihat, tidak seorangpun di antara kita meninggalkan jamaah kecuali ia adalah seorang munafik yang tampak kemunafikannya atau seorang yang sakit. Sungguh telah ada seseorang yang dipapah oleh dua orang, diberdirikan di shaf atau diantar sampai ke masjid untuk dapat mengerjakan sholat berjamaah. (Hadits Shahih. Shahih. Diriwayatkan oleh Muslim (654) dan An-Nasa'i. tidak sebagaimana yang dikatakan penulis. bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari.)

Rabi' bin Khaitsam adalah seorang lelaki yang telah lumpuh. Begitupun ia keluar untuk mengerjakan sholat jamaah dengan dipapah oleh dua orang. Seseorang berkata, "Wahai Abu Muhammad, Anda termasuk yang mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk mengerjakan sholat di rumah. Anda mempunyai udzur." "Benar apa yang kalian katakan." jawab Rabi'. 'Tetapi aku mendengar muadzin menyeru, 'Mari menuju sholat. Mari menuju kemenangan.' Barangsiapa mampu menjawab seruan itu hendaklah memenuhinya, walau harus merangkak. (Diriwayatkan oleh lbnu Sa' ad (6/189-190) dan Abu Nu’aim (2/113)

Hatim al-Asham menuturkan. "Sekali saja aku tidak mengerjakan sholat berjamaah. Abu Ishaq al-Bukhari mendatangiku, berta'ziah. Hanya dia seorang. Padahal seandainya salah satu anakku meninggal, pastilah lebih dari sepuluh ribu orang berta'ziyah ke rumahku. Yah, bagi kebanyakan orang musibah dien memang lebih ringan dari pada musibah dunia.'

Sebagian salaf berkata, "Tidaklah seseorang itu kehilangan kesempatan untuk sholat berjamaah kecuali karena dosa yang telah dikerjakannya."

Ibnu Umar mengisahkan, "Suatu hari Umar pergi ke kebun kurma. Sepulang darinya orang-orang sudah mengerjakan sholat Ashar (berjamaah). Umar pun berkata, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku ketinggalan sholat jamaah. Saksikanlah bahwa kebun kurmaku aku jadikan sedekah bagi orang-orang miskin, semoga menjadi kaffarah atas apa yang dilakukan Umar."

Tuesday, September 4, 2018

Ancaman Mengerikan bagi Sholat Tidak Tumakninah

Ancaman Mengerikan bagi Sholat Tidak Tumakninah

Meninggalkan sholat dengan sengaja adalah merupakan salah satu dosa besar. Mengerjakan sholat tapi tidak dengan tumakninah adalah sama saja seperti tidak sholat atau sholatnya tidak sah. Berikut ini adalah keterangan-ketarangan dalam dalil firman Allah swt dan juga hadits Nabi tentang ancaman-ancaman bagi sholat yang tidak tunkaninah.

Dalil-dalil ancaman bagi sholat yang tidak tumakninah

Allah Swt berfirman di dalam AL-Qur’an Al-Karim yang berbunyi sebagai berikut:

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥

Artinya: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya (QS. Al-Ma'un : 4-5)

sholat tumakninah
Dalam sebuah riwayat, tafsir dari ayat Al-Quran di atas adalah orang-orang yang mengerjakan sholat dengan secepat kilat. tanpa menyempurnakan dalam ruku' dan sujudnya.

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa seseorang memasuki masjid di saat Rasulullah saw. sedang duduk di sana. Orang itu mengerjakan sholat lalu menghampiri Nabi dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi SAW, menjawab salam lalu berkata, "Kembali kerjakanlah sholat. Sesungguhnya kamu tadi be/um mengerjakannya. Maka orang itu pun kembali mengerjakan sholat seperti yang telah dikerjakannya. Kemudian ia kembali dan mengucapkan salam kepada Nabi SAW. Beliau menjawabnya lalu berkata, "Kembali kerjakanlah sholat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya." Orang itu pun kembali mengerjakannya seperti semula. Kemudian ia kembali dan mengucapkan salam kepada Nabi sasw. Beliau menjawabnya dan berkata, "Kembali kerjakanlah sholat. Sesungguhnya kamu tadi be/um mengerjakannya.” Beliau mengulanginya tiga kali. Mendengar itu orang tadi berkata, "Demi (Allah) yang mengutusmu dengan kebenaran wahai Rasulullah, aku tidak bisa mengerjakan sholat vang lebih baik dari yang sudah aku kerjakan tadi. Karenanva ajarilah aku." Lalu Rasulullah ~ bersabda:

إذا قمت إلى الصلاة فكبر ، ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن ، ثم اركع حتى تطمئن راكعا ، ثم ارفع حتى تعتدل قائما ، ثم اسجد حتى تطمئن ساجدا ، ثم ارفع حتى تطمئن جالسا ، ثم افعل ذلك في صلاتك كلها . أخرجاه من حديث يحيى 

Artinya: Jika kamu berdiri untuk mengerjakan sholat, bertakbirlah. Lalu bacalah beberapa ayat al-Qur 'an sebisamu. Lalu ruku'/ah dengan tumakninah. Lalu angkatlah sampai kamu benar-benar berdiri tegak (i'tidal). Lalu sujudlah dengan tumakninah. Lalu duduklah dengan tumakninah. Lalu sujudlah dengan tumakninah. Demikian ini kerjakanlah dalam setiap (rekaat) sholatmu. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (757.6252) Muslim 1397). Abu Dawud (856). At-Tirmidzi (303). AnNasa'I (2/124). lbnu Majah 110601. dan Ahmad (3/437): dari Abu Hurairah.

Al-Badriy ra. meriwayatkan Rasulullah saw bersabda:

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تجزئ صلاة لا يقيم فيها الرجل صلبه في الركوع والسجود

Artinya: Tidak akan diberi pahala sholat seseorang yang tulang belakangnya tidak diluruskan ketika ruku'." (Hadits rivvayat Imam Ahmad).

Dalil Hadits di atas diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, "Hadits hasan shahih."

Pada riwayat hadits yang lain, " ...sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku' dan sujud.( Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/119). Abu Dawud (855). Ath-Thayalisi (h. 85), An-Nasa'i (2/183), lbnu Majah (870), Ad-Darimi (304) lbnu Khuzaimah (592), Al-Baihaqi (2/117), dalam Asy-Syu'ab (2861 ). dan disebutkan dalam Shahih Al-Jami’ (7224. 7225).

Inilah nash dari Nabi saw. Dengan demikian, barangsiapa tidak meluruskan punggungnya setelah ruku' dan sujud seperti sediakala, maka sholatnya batal. Hal ini berlaku untuk sholat fardlu/sholat wajib lima waktu. Adapun yang dimaksud tumakninah disini adalah ketika setiap tulang mengambil posisi masing-masing.

Diriwayatkan pula bahwa beliau Nabi Muhammad saw. berrsabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:"أسوأ الناس سرقة: الذي يسرق من صلاته! قالوا: يا رسول الله: كيف يسرق من الصلاة؟ قال: لا يتم ركوعها ولا سجودها

Artinya: "Manusia yang paling buruk perbuatan mencurinya adalah orang yang mencuri sholatnya." Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah seseorang itu mencuri sholatnya?" "Yaitu tidak menyempurnakan ruku' dan sujudnya.", jawab Nabi. saw"( Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh lbnu  Hibban  (1888), Al-Hakim (1/229). Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (2847) dan As-Sunan (2/386): dan Abu Hurairah. Dan. ada penguat dari hadits Abu Oatadah yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi (305) Ahmad (5/310). Al-Hakim (1/299). dan Al-Baihaqi (2/385). Juga, dari Abdullah bin Mughaffal, yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam ketiga kitab Mu’jam-nya. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Al-Jami' (966. 986)

Abu Hurairah mengabarkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

لا ينظر الله الى صلاة لا يقيم صلبه بين ركوعه وسجوده

Artinya: "Allah tidak akan melihat kepada seseorang yang tidak menegakkan tulang belakangnya di antara ruku' dan sujudnya.( Diriwayatkan oleh Ahmad (2/525). dan sanadnya shahih)

Rasulullah saw juga bersabda:

قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول تلك صلاة المنافق يجلس يرقب الشمس حتى إذا كانت بين قرني الشيطان قام فنقر أربعا لا يذكر الله فيها إلا قليلا

Artinya: "Inilah shalat seorang munafik. Duduk menunggu matahari sampai ketika ia berada di antara dua tanduk setan (hampir tenggelam) orang itu pun berdiri lalu shalat secepat kilat sebanyak empat  rekaat. Dia tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit dalam mengerjakannya.( Diriwayatkan oleh Malik (1/220).  Muslim (622). Abu Dawud (413). At-Tirmidzi (160). An-Nasa'i (1/254). •Ad-Daruquthni (1/254). Al-Baihaqi (1/443). dan Ahmad (3/102, 103): dari Anas.

Abu Musa meriwavatkan, suatu hari Rasulullah saw mengerjakan shalat bersama para sahabat, lalu beliau duduk. Seseorang datang, berdiri mengerjakan shalat. Ia ruku' dan sujud seperti mematuk (karena cepat). Maka Rasulullah bersabda, "Lihatlah itu! Seandainya dia mati, sungguh dia mati bukan di atas millah Muhammad saw. Dia mematuk shalatnya seperti seekor gagak meminun darah.( Hadits Hasan Diriwayatkan oleh lbnu Khuzaimah (6556) dan Al-Baihaqi (2/89), Syaikh Al-Albani meng-hasankannya dalam ta'liq beliau atas lbnu Khuzaimah. dan dalam Shahih At-Targhib (529).

Umar bin Khaththab ra. meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, Setiap orang yang shalat pasti di sisi kanan-kirinya ada malaikat. ]ika ia mengerjakannya dengan sempurna, kedua malaikat itu akan membawa shalatnya ke hadirat Allah swt. Sebaliknya jika tidak keduanya akan memukulkan shalatnya ke wajahnya.( Hadits Dha’if. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Al-ifrad Syaikh Al-Albani men-dha'if-kannya dalam Dha’if Al-Jami’ (5226).

Ubadah bin Shamit berkata, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa berwudlu dengan sebaik-baiknya, kemudian berdiri mengerjakan shalat, menyempurnakan ruku'nya, cara sujudnya. serta bacaannya, niscaya shalatnya berkata, 'Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjagaku.' Lalu shalat itu  -ia bersinar dan bercahaya- akan diangkat ke langit. Pintu-pintu langit pun dibukakan sehingga ia akan sampai ke hadiratNya. la akan memintakan syafaat bagi orang yang telah mengerjakannya. Tetapi jika orang itu tidak menyempurnakan ruku’', sujud. dan bacaannya, niscaya shalatnya akan berkata, "Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku. Kemudian shalat itu -ia diliputi kegelapan- diangkat ke langit. Tetapi pintu-pintu langit tertutup. Maka ia pun dilipat seperti dilipatnya kain usang, lalu dipukuikan ke wajah orang yang telah mengerjakannya.( Hadits Dha’if  Diriwayatkan oleh Ath• Thayalisi (h. 80). Al•Bazzar I 1/77. no. 350), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (2871 ). Syaikh Al-Albani men-dha 'if-kannya dalam Dha 'if Al-Jami (400).

Dari Salman al-Farisiy berkata, Rasulullah saw bersabda, "Shalat itu timbangan. Barangsiapa memenuhinva ia pun akan dipenuhi. Dan barangsiapa mencuranginya. sungguh kalian telah tahu apa yang dijanjikan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَيۡلٞ لِّلۡمُطَفِّفِينَ

Artinya: Kecelakaan (Wail) besarlah bagi para muthaffif (Al-Muthaffifin: 1)( Sanadnya dha’if Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq (37501. Ad-Dulabi dalam Al-Kuna (2/141 ), dan Al-Baihaqi (2/291 ): dari Salim bin Abi Al-Ja’d. dari Salman. sedang dia tidak mendengar darinya. dan dia seorang mudallis (penipu). tldak menvatakan secara terang bahwa dia pernah mendengar had its darinya. Wallahu a 'lam.

Muthaffif adalah orang vang mengurangi takaran, timbangan, atau ukuran, atau shalat. Mereka diancam oleh Allah dengan Wail, satu lembah di jahannam yang karena panasnya jahannam pun minta perlindungan kepada Allah. Semoga Allah melindungi kita darinya.

Dari Ibnu Abbas. Ra.• bahwasannya Nabi Muhammad saw. bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian bersujud. hendaklah meletakkan wajahnya, hidungnya. dan tangannya di atas tanah. Karena Allah Ta'a/a memerintahkan supaya bersujud dengan tujuh anggota badan: kening. hidung, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung telapak kaki, dan supaya tidak menahan rambut atau pakaian. Barangsiapa shalat dengan tidak memberikan kepada setiap bagian tubuh tersebut haknya. maka bagian tubuh itu akan melaknatnya sampai dia selesai dari shalatnya. (Saya beium mendapatkannya sejauh pencarian yang saya  lakukan. Hanya saja Asy-Syaukani dalam An-Nail (Nail Al-Authar) (2/259). menisbatkannya pada Ismail bin Abdullah. yang dikenal dengan nama Samawaih dalam Fawaid-nya. dari jalur lkrimah. dari lbnu Abbas.)

Pada suatu ketika Hudzaifah bin Yaman melihat seseorang mengerjakan shalat, namun tidak menvempurnakan ruku' dan sujudnya. Hudzaifah pun menyapanya. "Kamu belum shalat. Andaisaja kamu mati padahal shalatmu seperti itu. sungguh kamu mati di atas selain fitrah Muhammad saw.(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (791. 808). Abdurrazzaq (3732, 3733). An-Nasa'i (3/58) !bnu Hibban (1894). Al-Baihaq1 (2/118), dalam Asy-Syu'ab (2860). Ahmad (15/384). dan Al-Baghawi (616).)

Dalam riwayat Abu Dawud Hudzaifah bertanya, "Sejak kapan kamu mengerjakan shalat seperti yang kulihat tadi?" "Sejak empat puluh tahun yang lalu.", jawab orang itu. Lalu Hudzaifah berkata, "Selama empat puluh tahun ini kamu tidak shalat sama sekali. Dan jika kamu mati, kamu mati di atas selain fitrah Muhammad  saw. (Riwayat hadits ini bukan dalam Abu Dawud. melainkan ada pada lbnu Hibban (1894). Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (2860). dan As-Sunan (2./117).

Dari Hasan al-Bashriy bertutur, "Wahai anak Adam apalagi yang kamu banggakan dari dienmu jika shalatmu sudah kamu sepelekan? Padahal, tentang shalat itulah pertanyaan pertama yang diajukan kepadamu pada hari kiamat nanti.

Nabi saw bersabda, "Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. ]ika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika kurang, sungguh telah gagal dan merugilah ia." Dan bilamana amalan Fardiu itu kurang sempurna Allah berfirman, ''Lihatlah, apakah hambaKu memiliki amalan sunnah untuk melengkapinya?" Demikian sampai habis seluruh amalnya.(Ditiwayatkan oleh Ahmad (2/290). Abu Dawud (8651 At-Tirmidzi (413) An-Nasa'i (1/232) lbnu Majah 14251dan Ath-Thahawi dalam Al-Musykil (3/228) dari Abu Hurairah. Syaikh Al-Albani men-shahih-kannya dalam Shahih A/-Jami’ (2568)

Dengan demikian, hendaknya, sebaiknya dan seharusnya seorang hamba itu mestinya memperbanyak amalan sunnah untuk menyempurnakan amalan yang wajib. Dari Allah taufiq itu datang. Semoga kita senantianya dalam taifiq, inayah dan hidayahnya. aamiiin

Friday, August 3, 2018

Mengajarkan anak Sholat Berdasarkan dalil Hadits Nabi

Mengajarkan anak Sholat Berdasarkan dalil Hadits Nabi

Mengajarkan anak sholat hendaknya dilakukan sedini mungkin sesuai dengan ajaran Islam. Kapankah sebaiknya kita mengajarkan sholat kepada anak? Bagaimana apabila anak menentangnya? Adakah sumber dalil haditsnya?

Dalil hadits mengajarkan anak Sholat


Di bawah ini adalah beberapa dalil hadits Nabi Muhammad saw. Yang menjelaskan kepada kita para kaum mukmin tentang mengajarkan sholat kepada anak.

mengajarkan anak sholat


Dalil yang tersebut di atas, juga mengajarkan kepada kita sesuai dengan ajaran Nabi sejak usia berapakah hendaknya anak diajarkan tentang sholat, bagaimana cara mengahadapi anak dalam mengajarkan ajaran sholat.

Dalil hadits Rasulullah saw bersabda:


مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين ، وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها

Artinya: "Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk sholat jika mereka telah mencapai umur tujuh tahun. Dan jika telah berumur sepuluh tahun pukullah dia jika meninggalkannya.( Diriwayatkan o\eh lbnu Abi Syaibah (1/137/1) Abu Dawud (494). At-Tirmidzi (407), Ad-Darimi (1431 ), Ath•Thahawi dalam A/-Musykil (3/231 ). lbnu Al-Jarud (147). Ad-Daruquthni (1 /230/1), Al-Hakim (1/201). Hadits ini hasan menurut Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ • At-Ghalil (1/267).

Dalam riwayat dalil hadits yang lain:


مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر وفرقوا بينهم في المضاجع

Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun_dan pisahkanlah tempat tidur diantara mereka.(Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah (1/13712). Abu Dawud (495, 496), Ad-Daruquthni (1/230/2). Al-Hakim(1/197), Al-Baihaqi (7/64 ), Ahmad (2/187): dan lbnu Amru. Hadits ini Hasan menu rut Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ (247).)

Tentang hadit di atas, Imam Abu Sulaiman al-Khaththabiy berkata, "Hadits ini menunjukkan betapa beramya hukuman bagi orang yang meninggalkan sholat jika telah mencapai akil balighnya."

Sebagian para sahabat Imam Syafi'i berhujjah dengan hadits ini dalam kaitannya dengan kewajiban membunuhnya, apabila mereka meninggalkan sholat dengan sengaja setelah baligh. Mereka berkata, "Jika ia boleh dipukul padahal belum baligh, maka ini menunjukkan bahwa setelah baligh nanti ia harus dikenai hukuman yang lebih berat darinya. Padahal tidak ada hukuman yang lebih berat setelah pukulan selain dibunuh."

Demikianlah sumber dalil hadits Nabi Muhammad saw. Tentang mengajarkan anak sholat. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang ahli ibadah dan ahli sholat sesuai dengan ajaran Islam. Amin

Tuesday, July 31, 2018

Jangan Menyelepelekan, Meninggalkan Sholat, Sholat di Akhir Waktu

Jangan Menyelepelekan, Meninggalkan Sholat, Sholat di Akhir Waktu

Sholat adalah tiang agama. Bagaimana dalil Hadits dan dalil Al-Quran tentang orang-orang yang meninggalkan sholat, menyepelekan sholat atau sholat pada akhir waktu sholat? Berikut ini adalah berbagai keterangan dari dalil hadits Nabi dan dari Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an.

۞فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا ٥٩ إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا يُظۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا ٦٠ 

Artinya: Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun

meninggalkan sholat
sholat berjamaah


Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (16/75). Dan As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al-Mantsur (4/498) menambahkan penisbatan ini kepada Abd Bin Humaid. Dari Ibnu Abbas berkata: arti dari menyia-nyiakan sholat bukanlah meninggalkan sholat sama sekali. Akan tetapi, mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya.

Imam para tabi’in, Said bin Musayyib mengatakan: maksud dari ungkapan menyia-nyiakan sholat di atas adalah orang tersebut tidak mengerjakan sholat Zhuhur sehingga datang waktu Sholat Ashar sehingga datang waktu Sholat magrib. Tidak sholat Magrib sampai datang sholat Isya’. Tidak sholat Isya’ sampai fajar menjelang. Tidak sholat shubuh hingga matahari terbit. Barangsiapa mati dalam keadaan terus menerus melakukan hal ini dan mereka tidak bertaubat, maka Allah swt, menjanjikan baginya ‘Ghayy’ yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya dan lagi sangat tidak enak rasanya.

Juga dalam Firman Allah SWT yang lain menyatakan:

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥ 

Artinya: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (qs. Al-Ma’un: 4-5)

Bagaimana dengan orang yang lupa sholat dan apa ancamannya?


Adapun orang-orang yang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan sholat. Sa’ad bin Abi Waqqash beliau berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. Tentang orang-orang yang lupa akan sholatnya. Beliau menjawab: “yaitu pengakhiran waktunya” (Hadits Dha’if. Diriwayatkan oleh Al-Uqaili (3/377). Ibnu Abi Hatim dalam Al-‘llal (1/187) dan Al-Baihaqi (2/214): dari jalur Ikrimah bin Ibrahim. Dia lemah. semua Ulama bersepakat bahwa ia mauquf dan ini yang lebih benar).

Mereka disebut orang-orang yang sholat. Akan tetapi ketika mereka meremehkan dan mengakhirkannya dari waktu sholat yang seharusnya, maka mereka diancam dengan “wail” yaitu adzab yang berat.

Terdapat juga pendapat yang mengatakan bahwa wail adalah sebuahlembah di neraka jahannam, apabila gunung-gunung yang ada di dunia dimasukkan ke dalamnya maka niscaya akan melelehkan semua yang ada karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi mereka orang-orang yang meremehkan sholat dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya. Kecuali bagi orang-orang yang bertaubat  kepada Allah SWT dan menyesali atas kelalaiannya tersebut.

Dalam Ayat lain Allah SWT juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩ 

Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al-Munafiqun : 9) 

Dijelaskan oleh para mufassir bahwa maksud dari “mengingat Allah” pada ayat di atas adalah sholat lima waktu. Oleh sebab itu, barangsiapa yang disibukkan oleh harta benda dan perniagaannya, kehidupan dunia, sawah ladangnya, dan anak-anak mereka dari mengerjakan sholat pada waktunya, maka mereka termasuk orang-orang yang merugi. 

Demikian, sebagaimana dalil sabda Nabi Muhammad saw.:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

Artinya: amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah sholatnya. Jika sholatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah dia. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (3016) dari Abu Hurairah. Dan ia lemah. Dan diriwayatkan oleh Ath-Thayalisy, Adh-Dhiya’, dan selain mereka: Syaikh Al-Albani men-shahihkannya dalam Ash-Shahihah (1358), dengan berbagai jalur periwayatnnya dan hadits-hadits penguatnya, dengan lafal: Maka apabila sholatnya baik, baik seluruh amalnya, dan apabila rusak sholatnya, rusak seluruh amalnya. Lihat dalam Shahih Al-Jami’ (2573)

Meninggalkan sholat akan mejadi Penghuni Neraka


Berkaitan dengan penghuni Neraka, Allah SWT berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur’an:

 مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ٤٢ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ ٤٣  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ ٤٤ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ٤٥  وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤٦  حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ٤٧ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨ 

Artinya: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian". Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa´at dari orang-orang yang memberikan syafa´at. (QS. Al-Muddatstsir: 42-48)

Dalil-dalil hadits Nabi tentang meninggalkan sholat dan menyepelekan sholat


Di bawah ini adalah berbagai kumpulan hadits yang menerangkan tentang ancaman-ancaman dan bagi mereka yang meninggalkan sholat, menyepelekan sholat dan sholat pada akhir waktu yang seharusnya.

Dalil Hadits Nabi Muhammad SAW. :

أن العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

Artinya: Sesungguhnya ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah sholat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia. (Hasan (baik). Diriwayatkan oleh Ahmad (5/346), At-Tirmidzi (2621), An-Nasa’I (1/231), Ibnu Majah (1079), Ibnu Hibban (1352), Al-Hakim (1/6-7), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (2538), dan As-Sunan (3/366); dari Buraidah. Dan Syaikh Al-Albani menyatakan hasan dalam Shahih Al-Jami’ (4022)

Nabi SAW juga bersabda:

بَيْنَ الْعَبْدُ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Artinya: Batas antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan sholat. (diriwayatkan oleh Ahmad (3/370). Muslim (82). At-Tirmidzi (2618), Ibnu Hibban (1451), Al-Baihaqi dalam As-Sunan (3/366). Dan Asy-Syu’ab (2536) dari Jabir.

Juga dalil Sabda Nabi

مَنْ فَاتَتْهُ صَلاَةُ الْعَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ

Artinya: Barangsiapa tidak mengerjakan sholat ‘Ashar’ terhaspuslah amalnya. (Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/349). Al-Bukhari (553). An-Nasa’I (1/236). Ibnu Majah (694). Ibnu Hibban (1461). Al-Baihaqi dalam As-Syu’ab (2588). Dan Buraidah. Dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan lafal : Seakan-akan keluarganya terampas)

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

مَنْ تَرَكَ الصَّالاَةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللهِ

Artinya: barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja, sungguh telah lepaslah jaminan dari Allah. (Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/238). Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (20/117/233, 234),d ana da beberapa hadits penguatnya, yang membuat Syaikh Al-Albani menyatakans ebagai hasan dalam Shahih At-Targhib (568).

Juga, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan “La ilaaha illallah” (Tiada yang berhak diibadahi selain Allah) dan mengerjakan sholat serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya maka darah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya maka itu kepada Allah. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (25) dan Muslim (22) dan Ibnu Umar)

Rasulullah SAW juga bersabda: 

من حافظ عليها كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة ومن لم يحافظ عليها لم تكن له نورا ولا برهانا ولا نجاة ويأتي يوم القيامة مع قارون وفرعون وهامان وأبي بن خلف

Artinya: Barangsiapa menjaganya maka ia akan emmiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat nanti. Sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak akan memiliki cahaya, bukti dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun dan Ubay bin Khalaf. (Isnadnya Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/169), Abd bin Humaid (353). Ad-Darimi (697.698). ibnu Hibban (1467). Ath-Thahawi dalam Musykil (Musykil Al-Atsar-ed) (4/229). At-Thabrani dalam Al-Ausath (1788), dan Al-Baihaqi dalam As-Syu’ab (2565) dan isnadnya Shahih.)

Umar bin Khathab berkata: sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan sholat. (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Masail-nya dengan periwayatan anaknya, Abdullah (55), Ibnu Sa’ad (3/350), Muhammad bin Nashr dalam Ash-Shalah (925). Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (103), dan Ad-Saruquthni (2/52). Syaikh Al-Albani berkata: Isnadnya shahih menurut syarat keduanya (Al-Bukhari dan Muslim.)

Sebagian ulama berkata: hanyasanya orang yang meninggalkan sholat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat/jabatan, dan perniagaannya dari sholat. Jika ia disibukkan dengan hartanya ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya ia akan dikumpuilkan dengan Fir’aun. Jika ia disibukkan dengan pangkat/jabatannya ia akan dikumpulkan bersama Haman. Dan jika ia disibukkan dengan perniagaannya akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, seorang pedagang yang kafir di mekah saat itu.

Muaz bin Jabal meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلاَةً مَكْتُوْبَةً مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ دَمَّةُ اللهِ

Artinya: barangsiapa meninggalkan sholat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah. (telah diebutkan takhrijnya)

Umar bin khathab meriwayatkan, telah datang seorang kepada Rasulullah saw dan bertanya: Wahai Rasulullah, amal dalam Islam apakah yang plaing dicintai oleh Allah ta’ala?. Beliau menjawab: Sholat pada waktunya. Barangsiapa meninggalkannya sungguh ia tidak lagi memiliki dien lagi, dan sholat itu tiangnya dien. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (2550). Al-Baihaqi mendha’ifkannya, juga Syaikh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ (170).

Ketika Umar terluka yang dikarenakan tusukan seseorang mengatakan: anda tetap ingin mengerjakan sholat, wahai Amirul Mukminin?. Beliau menjawab: Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan sholat. Lalu beliaupun mengerjakan sholat meskipun dari lukanya mengalir (darah yang cukup banyak.(telah disebutkan tahrijnya).

Seorang Tabi’in bernama Abdullah bin Syaqiq, beliau menuturkan: tidak satu amalan pun yang meninggalkannya dianggap kufur oleh para sahabat selain sholat (Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah dalam Al-iman (137). At-Tirmidzi (2622). Muhammad bin Nashr dalam Ta'zhim Qadr Ash-Shalah (948). Syaikh Al-Albani men-shahih-kannya dalam Shahih At-Targhib (564).

Pernah suatu ketika, Ali bin Abi Thalib ditanya oleh seorang wanita yang tidak sholat, dan beliau menjawab: “ barangsiapa tidak sholat telah kafirlah ia”. (Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah secara marfu' (periwayatan sampai kepada Rasulullah) dengan lafazh: faqad kafara (sungguh dia telah kafir) "Li hat dalam Shahih At Targhib (230).

Juga Ibnu Mas’ud berkata: Barangsiapa tidak sholat maka ia tidak mempunyai dien (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam Ta 'zhim Qadr Ash-Sha/ah, lbnu Abi Syaibah dalam Al-Iman (2/184). Ath-Thabrani dalam Al-Kabir(3!19/1) Syaikh Al-Albani berkata, ''\snadnya hasan".

Juga Ibnu Abbas berkata: Barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja sekali saja niscaya akan rnenghadap Allah yang dalam keadaan murka kepadanya." (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr secara mauquf (periwayatan sampai pada shahabat saja) dengan lafazh. "faqad kafara (sungguh dia teiah kafir)"

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan sholat, Dia tidak akan mempedulikan suatu kebaikan pun darinya.( Al Iraqi pada Ath-Thabrani  dalam A/-AusathdariAnas)

Juga dari Ibnu Hazm berkata, "Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah svirik selain mengakhirkan sholat dari wakrunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya."

Dari Ibrahim an-Nakha'iy menuturkan, dan berkata: Barangsiapa meninggalkan shalat maka telah kafir." Hal senada juga diungkapkan oleh Ayyub as-Sikhtiyaniy.

Dari 'Aun bin Abdullah berkata: Apabila seorang hamba dimasukkan kedalam kuburnya. ia akan ditanya tentang shalat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan. Jika baik barulah amal-amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya jika tidak baik, tidak ada satu amalan pun yang dilihat (dianggap tidak baik semuanya)."

Beliau Rasulullah SAW bersabda : Apabila seorang hamba mengerjakan shalat di awal waktu, shalat  itu -ia memiliki cahaya- akan naik ke langit sehingga sampai ke 'arsy, lalu memohonkan ampunan bagi orang yang telah mengerjakannya, begitu seterusnya sampai hari kiamat. Sha/at itu berkata,"Semoga Allah menjagamu sebagaimana kamu telah menjagaku." Dan apabila seorang hamba mengerjakan shalat bukan pada waktunya, shalat itu –ia memiliki kegelapan- akan naik ke langit. Sesampainya di sana ia akan dilipat seperti dilipatnya kain yang usang lalu dipukulkan ke wajah orang yang telah mengerjakannya. Sha/at itu berkata, "Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku. (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar (350), Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (2871). Al-Khatib dalam Tarikh-nya. Hadits ini dha’if lihat Dha'if Al-Jami’'(400).

Juga dalil Rasulullah SAW bersabda: 

ثلاثة لا يقبل الله منهم صلاة: من تقدم قوما وهم له كارهون، ورجل أتى الصلاة دبارا ـ والدبار أن يأتيها بعد أن تفوته ـ ورجل اعتبد محررة

Artinya: Ada tiga orang yang shalatnya tidak diterima oleh Allah: seseorang yang memimpin suatu kaum padahal kaum itu membencinya, seseorang yang mengerjakan shalat ketika telah lewat waktunya, dan seseorang yang memperbudak orang yang memerdekakan diri. (diriwayatkan  oleh Syaikh Al-Albani  dan  lbnu Majah (970) Hadits ini dha’if dengan teks iengkapnya. Lihat Al-Jami’' (119)

Beliau Rasulullah SAW juga bersabda: Barangsiapa menjama' dua shalat tanpa udzur, sungguh ia telah memasuki pintu terbesar diantara pintu-pintu dosa besar.(Hadits Dha’if dan lemah sekali) Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (188). Al-Hakim (1/275), Ath-Thabrani dalam Al•Kabir(11540), dan Abu Ya'la (1/2/139) At-Tirmidzi dan Adz-Dzahabi men-dha'if-kannya, juga Syaikh AlAlbani dalam Dha'if Al-Jami'(5556). Hadits ini dari lbnu Abbas.

Marilah kita memohon taufiq dan inayah kepada Allah SWT, sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Pengasih diantara mereka yang mengasihi.Semoga kita menjadi orang yang ahli sholat. Amin amin amin

Wednesday, January 27, 2016

Memaknai Sholat dengan Batin

Memaknai Sholat dengan Batin

Apakah arti memaknai sholat dengan batin? Menurut Imam Al-Ghazali, makna batin dalam Sholat mempunyai banyak ungkapan, akan tetapi secara ringkas beliau Imam Ghazali merangkumnya ke dalam dalam enam perkara. Enam perkara tersebut adalah kehadiran atau menghadirkan hati, kefahaman atau taffahum, rasa hormat atau ta’dzim, rasa takut yang bersumber dari rasa hormat atau haibah, pengharapan atau raja’ dan rasa malu atau haya.

Apa maksud dari keenam perkara dalam sholat dengan hati atau batin?

Menghadirkan hati

Sholat dengan menghadirkan hati mempunyai makna mengosongkan dan menjaga dialog hati dari semua hal dan perkara yang tidak ada kaitannya dengan amalan yang sedang dikerjakan. Demikian juga dengan pikiran, juga tidak boleh memikirkan dari selain perbuatan dan hati, yang sedang terkait dengan amalan.

Faktor penyebab kehadiran atau menghadirkan hati adalah perhatian utama atau himmah. Dengan perkataan lain adalah bahwa hati bisa hadir apabila ada undangan kepada  yang  menjadi perhatian utama. Kehadiran atau menghadirkan  hati akan  terwujud manakala perhatian utama diarahkan kepada setiap perilaku.

Perhatian utama dapat terarah apabila kita dapat mengetahui secara jelas tujuan yang akan kita capai dan kita cari yaitu Allah swt. dan merupakan saran menuju kepada Allah swt. secara logika akal sehat akan berkata : bagaimana mungkin hati tidak hadir sedangkan yang ada di hadapan kita adalah Raja Diraja pencipta alam dan seisinya, yang mana ditangan-Nya lah segala kekuasaan, kerajaan, bahaya dan manfaat.

Kehadiran hati hendaknya bukanlah sebuah keterpaksaan saja dan juga bukan hal yang diusahakan, karena hati akan hadir kepada perhatian utama. Ketidakhadiran hati dalam perilaku disebabkan karena perhatian utama tidak tertuju kepada hal yang menjadi perhatian utama. Apabila demikian, maka hati akan tertuju kepada perhatian-perhatian nafsu duniawi.

inilah yang disebut dengan kelalaian, karena bagaimana bisa kita sedang bermunajat menghadap kepada Allah swt., sedangkan hati kita tidak menghadap kepada Allah swt.

Kefahaman atau tafahhum

Kefahaman atau tafahum dapat diartikan sebagai peliputan hati yang mengetahui dengan betul dan benar setiap lafadz dan gerakan dalam ibadah Sholat. Pengetahuan dari pelaku sholat terhadap setiap ucapan atau lafadz, gerak dalam yang terbenam dalam lubuk hati akan dapat memancarkan sebuah hikmah akhlakul karimah dalam kehidupan. Di Dalam lafadz dan gerak sholat yang dikendalikan oleh kehadiran hati akan dapat mengendalikan akal dan fikiran dalam setiap ucapan serta gerak itu sendiri.

Agar dapat menerapkan kefahaman atau tafahum dalam sholat adalah dengan cara menghadirkan hati yang disertai dengan konsentrasi dalam berfikir dan kesiagaan untuk tidak menerima berbagai pikiran liar yang melintas. Untuk dapat menolak berbagai lintasan pikiran yang menyibukkan ialah dengan cara membebaskan diri dari penyebab-penyebab yang dapat membuat pikiran tertarik kepada hal-hal tersebut. Barangsiapa yang mencintai sesuatu pasti akan banyak mengingatkannya. Maka dengan dengan demikian ingatan yang kepada yang dicintai pasti akan melanda hati.

Rasa hormat

Rasa hormat atau ta’dzim akan hadir dan muncul dari ma’rifah kepada kemuliaan dan keagungan dari Allah swt. Siapa yang tidak diyakini keagunganNya maka jiwa tidak akan mau mengagungkanNya. Buah dari ma’rifah kepada Allah swt. akan membuahkan khusyu’ ketundukan kepada Allah swt.

Di samping ma’rifat kepada Allah, sebab lain yang dapat menimbulkan rasa ta’dzim adalah ma’rifat atau mengetahui dan mengenal akan kehinaan diri, bahwasanya manusia tidak memiliki kuasa apapun.

Buah dari kedua ma’rifat ini akan menghasilkan rasa tidak berdaya dan pasrah,  maka dengan demikian akan menghasilkan rasa hormat atau ta’dzim kepada Allah swt.


Rasa takut yang bersumber dari rasa hormat

Rasa takut adalah suatu keadaan jiwa yang lahir dan tumbuh dari ma’rifatullah akan kekuasaan Allah swt, akan hukuman-Nya, akan pengaruh kehendak Allah swt kepada dirinya. Semakin dalam dan tinggi pengetahuan dan ma’rifat seseorang terhadap Allah swt. akan menjadikan seseorang semakin takut kepada Allah swt.

Penuh Pengharapan atau Raja’

Harapan atau pengharapan akan muncul karena telah adanya keyakinan akan janji-janji Allah swt. dan pengetahuan  tentang  keindahan ciptaan-Nya, kelembutan-Nya serta keluasan nikmat-nikmat Allah swt.

Rasa Malu

Rasa atau Perasaan malu akan muncul dan hadir dari perasaan serba kekurangan dalam mengerjakan amal beribadah dan juga dari pengetahuan diri akan ketidakmampuan diri dalam menunaikan hak-hak Allah swt.

Rasa malu ini akan semakin kuat dan tinggi dengan mengetahui kekurangan, cacat dirinya, kurang ikhlas dalam menjalankan beribadah, keburukan batinnya serta kecenderungan terhadap kehidupan duniawi dalam perbuatan ibadahnya.

Di samping itu rasa atau perasaan malu dapat juga muncul dan disebabkan karena pengetahuan bahwa Allah swt. adalah Maha Mengetahui segala rahasia dan lintasan hati sampai yang sekecil-kecilnya.

Kesimpulan Makna Sholat dengan Batin

http://islamiwiki.blogspot.com/

Demikian makna sholat dengan batin. Mari kita memohon kepada Allah swt. dengan petunjuk dan hidayah-Nya kita dapat menjalankan makna sholat dengan batin. Amin...

Thursday, August 13, 2015

Pengertian, Cara, Doa, Bacaan Sujud Tilawah

Pengertian, Cara, Doa, Bacaan Sujud Tilawah

Sujud adalah merupakan bagian dari sholat. Dalam Islam terdapat beberapa macam sujud di antaranya sujud syukur, sujud dalam sholat dan dan sujud tilawah. Berikut ini adalah artikel yang memaparkan hal ihwal tentang sujud tilawah yang meliputi Pengertian sujud tilawah, Hukum sujud tilawah, Cara sujud tilawah, Doa sujud tilawah, Bacaan Sujud Tilawah.


Pengertian Sujud tilawah

Pengertian Sujud tilawah secara bahasa artinya adalah bacaan. Dari arti bahasa tersebut, maka sujud tilawah itu dilakukan dengan sebab atau karena seseorang membaca, menemukan atau mendengar sendiri atau dari orang lain bacaan ayat sajadah.

Berikut ini adalah ayat-ayat sajadah secara urut yang ada di dalam al-Qur’an:

وَلَهُۥ يَسۡجُدُونَۤ 

QS. Al-A’raf : 206

وَظِلَٰلُهُم بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ

QS. Ar-Ra’d : 15

وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 

QS. An-Nahl : 50

وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا 

QS. Al-Isra’ : 109

خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَبُكِيّٗا 

QS. Maryam : 58

إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ 

QS. Al-Hajj : 18

لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 

QS. Al-Hajj : 77

وَزَادَهُمۡ نُفُورٗا 

QS. Al-Furqan : 60

رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ 

QS. An-Naml : 26

وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ 

QS. As-Sajdah : 15

وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ وَأَنَابَ 

QS. Sad : 24

وَهُمۡ لَا يَسَۡٔأَمُونَ 

QS. Fussilat : 38

 فَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ وَٱعۡبُدُواْ 

QS. An-Najm : 62.

لَا يَسۡجُدُونَۤ 

QS. Al-Insyiqaq : 21

 وَٱسۡجُدۡۤ وَٱقۡتَرِب 

QS. Al- ‘Alaq : 19


http://islamiwiki.blogspot.com/
Bagaimana hukum mengerjakan sujud tilawah?

Hukum mengerjakan sujud tilawah adalah sunnah dengan mengerjakan satu kali sujud. 


Apa saja syarat-syarat mengerjakan sujud tilawah?

http://islamiwiki.blogspot.com/
Syarat adalah merupakan hal-hal yang diperlukan untuk sahnya seseorang dalam mengerjakan sujud tilawah. Menurut pendapat para ulama, syarat-syarat sahnya seseorang dalam mengerjakan sujud tilawah adalah sebagai berikut:

  • Menutup aurat (baca juga aurat)
  • Suci dari najis dan hadats
  • Menghadap kiblat ketika mengerjakan sujud tilawah.
  • Setelah membaca atau mendengar ayat sajadah. 
Apabila sujud tilawah tersebut berada di dalam sholat (ketika sholat fardhu), maka sebaiknya yang dibaca adalah bacaan sujud seperti ketika sholat fardhu.

Apa saja rukun-rukun dalam sujud tilawah?

Rukun-rukun dalam mengerjakan sujud tilawah yaitu sebagai berikut:

  • Niat mengerjakan sujud tilawah
  • Takbiratul ihram. Baca juga cara takbiratul ihram.
  • Bersujud sebanyak satu kali.
  • Salam setelah mengerjakan sujud (sambil duduk)
  • Tertib dalam mengerjakan sujud tilawah sesuai dengan urutannya.
Bagaimana bacaan dari sujud tilawah?

Ketika sedang sujud tilawah, maka bacaan dalam sujud yang dibaca adalah sebagai berikut:

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللَّهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

Artinya: Aku sujud kepada Tuhan yang telah menciptakanku dan membukakan pendengaranku dan penglihatanku dengan daya dan kekuatan-Nya. Maha suci Allah, sebaik-baik pencipta.

Bagaimana cara mengerjakan sujud tilawah?

Sujud tilawah dapat dikerjakan pada waktu atau ketika dalam sholat dan dapat juga dilakukan di luar waktu sholat. Dalam sholat, misalnya ketika kita sedang mengerjakan sholat berjamaah; apabila imam sedang membaca ayat sajadah dan kemudian imam mengerjakan sujud tilawah, maka sebagai makmum kita harus mengikuti imam untuk mengerjakan sujud tilawah. Akan tetapi, apabila imam tidak mengerjakan sujud tilawah, maka makmum tidak boleh mengerjakan sujud tilawah.

Dalil hadits sabda Nabi Muhammad saw. dari Abu Hurarirah r.a. telah bersabda Nabi Muhammad saw. Apabila seseorang membaca ayat Sajadah lalau ia sujud, maka setan menghindar dan menangis serta berkata: Wah celakalah kami (setan). Anak Adam (manusia) disuruh sujud kemudian ia sujud, maka baginya surga, sedangkan aku pernah disuruh sujud, tetapi aku tidka mau sujud, maka bagiku neraka. (HR. Muslim)


Demikianlah pemaparan secara ringkas dan padat mengenai sujud tilawah yang meliputi Pengertian, Hukum, ayat-ayat sajadah dalam al-Qur’an, Syarat, rukun, Cara mengerjakan, bacaan doa sujud tilawah, serta syarat sah dan rukunnya dalam mengerjakan sujud tilawah.

Friday, June 26, 2015

Jalan Masuk Surga dengan Sujud

Jalan Masuk Surga dengan Sujud

Para sahabat ajaran Islam, telah dipaparkan terdahulu tentang tata cara sujud yang benar dalam sholat, bacaan dan doa sujud syukur http://islamiwiki.blogspot.com/2013/06/bacaan-dan-doa-sujud-syukur.html, pengertian, sebab hingga cara melakukan sujud sahwi. Pada kesempatan kali ini para sahabat ajaran Islam akan dipaparkan mengenai jalan masuk surga dengan sujud yang termasuk di antaranya bagaimanakah sujud yang diinginkan Allah, makna dan hakikat serta arti dari sujud dalam sholat dan keutamaan sujud. 

Pemaparan kali ini adalah berdasarkan sebuah kisah-kisah cerita yang diambil dari dalil hadits Nabi Muhammad saw. 

Kisah cerita masuk surga karena sujud

Sebuah kisah cerita yang diriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’b bahwa beliau berkata: Aku menginap dengan beliau Rasul saw. dan aku membantu Nabi saw. dalam menyiapkan air untuk wudhu serta kebutuhan-kebutuhan yang lain. Lalu Nabi Muhammad saw bersabda: mintalah sesuatu kepadaku!. Kemudian Rabi’ah menjawab: aku meminta untuk dapat menemanimu di surga. Nabi saw. menjawab: bukan permintaan yang lainnya?. Kemudian Rabi’ah menjawab lagi dengan jawaban, Ya, hanya itu saja. Kemudian Rasul saw. bersabda: “bantulah aku untuk dirimu dengan memperbaiki sujud. (HR. Ahmad, Muslim, An-Nasai, Abu Daud).

Baca juga

http://islamiwiki.blogspot.com/
Dari hadits di atas, dapat memberikan keterangan kepada kita bahwa jalan masuk surga adalah dengan memperbaiki sujud. Memperbaiki sujud dalam anjuran hadits di atas dapat diartikan anjuran untuk memperbanyak sujud, ruku serta mengerjakan sholat fardhu yang ditambah dengan sholat sunnah sebagai pelengkap sholat fardhu. Sehingga dengan demikian akan membuka jalan kepada surga. 

Dalam Islam sujud adalah merupakan ibadah yang spesial atau istimewa. Hal ini dikarenakan sujud adalah salah satu rukun dalam sholat yang dikerjakan dengan cara meletakkan tujuh anggota badan di atas tempat sujud (di atas tanah). Tujuh anggota badan tersebut adalah muka, kedua telapak tangan, kedua lutut, serta kedua ujung kaki. Dengan demikian posisi sujud dapat merefleksikan sikap merendah di hadapan Allah swt yang Maha Agung, Maha Besar, Maha Kuasa atas segala sesuatu hal.

Firman Allah swt. dalam Kitabullah al-Qur’an:

 كَلَّا لَا تُطِعۡهُ وَٱسۡجُدۡۤ وَٱقۡتَرِب۩ ١٩ 

Artinya: sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). (QS Al-'Alaq:  19 ) .


Sujud secara filosofi mengandung makna dan arti yang dalam. Dalam sujud mengandung hakikat arti ketawadhuan dalam diri seseorang kepada sesama umat manusia. Dengan sujud dalam diri seseorang akan terpancar sinar keimanan dan juga kelembutan yang tercermin melalu wajahnya. Hal yang demikianlah yang dikatakan sebagai bekas sujud yang diharapkan sebagai amalan penolong seseorang untuk bisa masuk surga.

Setiap sekali Sujud akan mengangkat satu derajat dan menghapus dosa.

Dalam kisah cerita yang lain, suatu ketika Mi’dan bin Abi Tholhah bertemu dengan Tsauban yaitu seorang budak Nabi Muhammad saw, Mi’dan bertanya hingga tiga kali kepada Tsauban menanyakan hal yang sama. Tiga pertanyaan yang sama dari Mi’dan kepada Tsauban adalah “beritahukan kepadaku amalan apa yang apabila aku melakukannya maka Allah akan memasukkanku ke dalam surga?.

Setelah pertanyaan yang ketiga, barulah Tsauban menjawab pertanyaan itu dan berkata: Aku telah bertanya hal tersebut kepada Nabi saw. dan kemudian Nabi bersabda: kamu harus memperbanyak sujud karena sesungguhnya tidaklah kamu sujud setiap kali kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan dengannya satu dosa. (Hadits riwayat Muslim, Turmudzi, An-Nasa’i).

Nabi Muhammad saw. menyindir kepada orang-orang yang cepat dalam sujudnya dengan berkata bahwa mereka diibaratkan mematuk seperti seekor ayam jago yang mematuk butiran makanan. Dengan sindiran ini, dapat kita ambil pelajaran bahwa dianjurkan bagi kita dalam sujud ketika mengerjakan sholat hendaknya diperpanjang terutama apabila sholat sendirian atau sholat munfarid. Sujud yang serius akan meninggalkan bekas pada wajah-wajah orang mukmin.

Firman Allah swt.:

تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ

Artinya: Kamu lihat mereka ruku´ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (QS. Al-Fath 29) .

Cerminan bekas sujud

Dari ayat di atas jelas bahwa bekas sujud akan tercermin dan tampak dalam setiap muslin melalu wajahnya. Di antara cerminan yang terpancar dalam wajah dari bekas sujud adalah cerminan ketundukan akan keagungan Allah swt, kerendahan hati kepada sesama manusia, kelembutan, menundukkan pandangan mata, senyuman, selalu membasahi mulut dengan mengingat Allah dengan senantiasa dzikir, sikap mengasihi dan menyayangi orang fakir miskin dan anak yatim. Subhanallah.....

Baca juga 

Di dalam hadits Qudsi diterangkan Rasulullah saw. berkata: Aku hanyalah akan menerima sholat dari orang yang tawadhu (rendah hati) terhadap keagungan-Ku, tidak sombong terhadap makhluk-Ku, tidak terus menerus mendurhakai-Ku, senantiasa menggunakan siangnya untuk dzikir kepada-Ku, mengasihi anak yatim, janda-janda, fakir, dan menyayangi orang yang tertimpa musibah (HR. Al-Bazzar).

Baca juga 

Memang tanda hitam di dahi orang Muslim bisa dijadikan sebagai salah satu ciri bahwa seseorang sering mengerjakan ibadah sholat. Akan tetapi, bekas sujud yang dikehendaki Allah adalah cerminan sikap tawadhu atau rendah hati, sifat kelembutan, kasih sayang dan kepedulian kepada sesama yang dipancarkan dalam wajah setiap muslim.

Itulah penjelasan secara ringkas tentang sujud yang dapat membawa ke surga, orang yang sering mengerjakan ibadah sholat dengan khusyu’, otomatis mereka sering mengerjakan sujud yang benar-benar mengerjakan ibadah hanya karena Allah dan mengharap ridhonya. Maka bekas sujud ini akan tercermin wajahnya dan juga dalam perilaku kehidupan sehari-hari menjadi pribadi yang berakhlak mulia.  

Monday, June 22, 2015

Subhanallah, Pahala Keutamaan Sholat Berjamaah

Subhanallah, Pahala Keutamaan Sholat Berjamaah

Pada bahasan yang sebelumnya telah diutarakan mengenai beberapa hal tentang sholat jamaah yaitu di antaranya dimulai dari sejarah dan hukum dari sholat berjamaah, berbagai hikmah yang dapat diperoleh dari disyari’atkannya sholat berjamaah, tata cara dalam sholat berjamaah, cara memilih dan menjadi imam dalam sholat berjamaah. Pada kesempatan kali sobat ajaran Islam akan bersama-sama dipaparkan tentang pahala-pahala atau bisa juta disebut sebagai keutamaan-keutamaan dari sholat berjamaah yang tentunya akan sangat membawa manfaat dan faedah bagi para pelaku sholat berjamaah ketika di dunia dan lebih-lebih nanti ketika datang waktunya perhitungan hisab amal perbuatan di akhirat kelak.

Baca juga

Mengawali bahasan tentang pahala, keutamaan sholat berjamaah, di bawah ini adalah dalil dari sumber hadits Nabi Muhammad saw. yang menceritakan salah satu keutamaan atau pahala dari sholat berjamaah. Diriwayatkan dari Umar bahwa Nabi saw. bersabda : sholat berjamaah itu lebih utama 27 derajat dibandingkan dengan sholat sendirian (HR. Bukhari dan Muslim)

Keutamaan yang pertama sholat berjamaah adalah lebih utama 27 derajat

Berdasarkan dalil hadits di atas, maka jelaslah bahwa solat berjamaah lebih utama dan berlipat ganda hingga 27 derajat. Diceritakan dari Jabir ra., begitu inginnya para sahabat dari Bani Salamah untuk memperoleh manfaat pahala keutamaan dari sholat berjamaah sehingga mereka berkeinginan untuk memindah rumah mereka agar dekat dengan masjid Nabi saw.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Mendengar keinginan keluarga Bani Salamah, Nabi Muhammad saw. kemudian bertanya langsung kepada mereka tentang niat untuk pindah rumah mendekati Masjid Nabi. Keluarga Bani Salamah pun menjawab pertanyaan Nabi bahwa benar mereka ingin pindah rumah mendekati Masjid. Kemudian Nabi saw. bersabda: wahai Bani salamah, tetaplah ditempat kalian, karena setiap langkah kaki kalian ke masjid akan dicatat satu pahala.

Keutamaan kedua dari sholat berjamaah adalah setiap langkah dapat menghapus dstu kesalahan.

Keutamaan sholat berjamaah selain mendapatkan pahala 27 derajat lebih banyak dari sholat sendirian adalah 
  • Setiap satu langkah kaki ke masjid akan menghapus satu kesalahan
  • Selama di dalam masjid untuk menunggu waktu datangnya sholat, mereka akan tetap mendapat pahala sholat.
  • Setelah selesai sholat belum batal wudhunya dan masih berada di dalam masjid maka para malaikat akan mendoakan bagi mereka dengan doa: Ya Allah, berkahilah dua. Ya Allah rahmatilah dia (muttafaq ‘alaih)

Keluarnya dosa-dosa dari berwudhu

Sebelum mengerjakan sholat, wajib bagi musholli untuk memulainya dengan berwudhu. Wudhu adalah merupakan sarat sahnya sholat. Dan di dalam hadits Nabi yang diriwayatkan dari Malik, Nasa’i, Ibnu Majjah dan Hakim menjelaskan bahwa Wudhu’ yang dikerjakan akan dapat menghapus dosa-dosa. Beliau mengatakan:

Apabila seseorang berwudhu kemudian berkumur, maka dosa-dosanya keluar dari mulutnya. Apabila dia membersihkan hidungnya, maka dosa-dosa akan keluar dari hidung. Apabila mereka membasuh muka, maka dosa-dosa mereka akan keluar dari mukanya hingga dari bawah kelopak mata. Apabila dia membasuh kedua tangannya, maka dosa-dosanya keluar dari tangan hingga dari bawah kuku mereka.

Apabila mereka mengusap kepala, maka dosa-dosa mereka akan keluar dari kepala dan hingga dari kedua telinga mereka. Apabila mereka membasuh kedua kaki, maka dosa-dosa mereka akan keluar dari kedua kaki mereka dan hingga dari bawah kuku kakinya. Dan sholat serta langkah kaki mereka ke masjid menjadi tambahan pahala bagi mereka.  Subhanallah begitu dahsyatnya keutamaan berwudhu.

Baca juga :

Pada saat datang waktu sholat, muadzin akan mengumandangkan adzan baik di mushola ataupun masjid, maka orang-orang yang mendengar adzan disunnahkah untuk menjawab adzan yang dikumandangkan muadzin. Apabila mereka melakukannya, maka orang-orang yang menjawab adzan akan masuk surga. 

Baca juga

Setelah muadzin selesai mengumandangkan adzan, kita yang mendengarkan disunnahkan untuk membaca doa untuk Nabi Muhammad Rasulullah saw. dengan membaca doa untuk Rasulullah ini, niscaya Allah akan memberikan keberkahan sepuluh kali lipat dan yang membaca doa akan mendapatkan syafaat dari Nabi di hari kiamat.

Baca juga:

Di samping hal-hal di atas, disunnahkah dan dianjurkan bagi kita bahwa sebelum dan sesudah sholat fardhu untuk mengerjakan sholat sunnah rawatib. Sholat sunnah ini berguna sebagai penyempurna sholat fardhu yang dikerjakan. 

Setiap sholat sunnah mempunyai keutamaan. Suatu contoh disebutkan dalam sebuah dalil hadits yang artinya: dua rakaat sholat sunnah sebelum subuh lebih baik dibandingkan dunia dan seisinya. (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i)


Dari penjabaran di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa setiap sholat fardhu yang dikerjakan dengan berjama’ah di masjid ataupun di mushola serta hal-hal yang mengiringinya seperti berwudhu sebelum sholat, adzan, iqomah dan menjawabnya bagi yang mendengarkan, sholat sunnah sebelum dan sesudah, dan lainnya yang mengiringinya ternyata mempunyai keutamaan-keutamaan yang sangat besar yang tentunya akan membawa manfaat serta pahala bagi pelakunya baik di dunia dan lebih-lebih di akhirat kelak. Mari kita giatkan diri kita dan selalu berdoa untuk dapat selalu mengerjakan sholat dengan berjamaah.