Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Pernikahan. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Pernikahan. Show all posts

Sunday, December 25, 2016

Kelahiran Bayi Membawa Potensi Anugerah Ilahi

Kelahiran Bayi Membawa Potensi Anugerah Ilahi

Dalam ajaran dan pandangan Islam setiap bayi yang lahir ke dunia adalah suci, bersih, tidak membawa dosa dan aib. Bayi yang baru lahir ke dunia bahkan membawa potensi yang sangat luar biasa, yaitu potensi kebenaran yang dianugerahkan oleh Allah SWT.

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh firman Allah di dalam Al-Qur’an

 وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ٧ فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨  قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

Artinya: Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams [91]: 7-10)

Pada Ayat dari firman Allah di atas menerangkan bahwa seorang jabang bayi sudah diberikan potensi untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sejak lahir meski kita melihat mereka dalam keadaan lemah, telanjang, tak berdaya, dan belum mempunyai kemampuan apa-apa. Sekalipun dari segi fisik bayi yang baru lahir hanya dapat menangis, namun dari segi kerohanian Allah SWT sudah membekali mereka nilai-nilai ketuhanan yang dapat mengantarkan mereka ke jalan yang benar.

Baca juga

Firman Allah SWT di dalam AL-Qur’an

Renungkanlah firman Allah SWT berikut ini:

۞ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٖ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٖ قُوَّةٗ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٖ ضَعۡفٗا وَشَيۡبَةٗۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ ٥٤

Artinya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Ar-Rum [30]: 54)

Dari firman Allah di atas, menerangkan bahwa manusia pada awal kelahirannya begitu lemah. Setelah menginjak usia remaja dan dewasa, manusia menjadi kuat dari segi fisik. Namun, setelah melewati masa dewasa, pada umumnya manusia kembali menjadi lemah seperti baru dilahirkan dan menjadi pikun. Hanya orang-orang tertentu yang secara mental tidak mengalami kepikunan, antara lain, mereka yang di dunia ini tidak pernah lepas dari membaca Al-Qur’an.
Secara spiritual, manusia atau dalam hal ini bayi yang baru lahir telah dibekali oleh Allah SWT potensi keilahian. Bahkan, setiap manusia pada dasarnya telah mengikat janji hanya akan menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Hal ini dijelaskan oleh firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an berikut ini:

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS.A1-A’raf[7]: 172)

Baca juga

Pada firman Allah SWT di atas, menerangkan kepada kita bahwa manusia  atau bayi yang baru lahir sudah mempunyai jiwa yang sempurna dan telah dibekali potensi ketuhanan sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Akan tetapi, setelah mengalami kehidupan berikutnya, atau ketika memasuki masa akil balig dan dewasa kebanyakan manusia berpaling dari jalan yang benar. Mengapa bisa begitu? Wallahu a’lam
loading...

Friday, December 23, 2016

Mencetak Generasi Sholeh Sholehah sejak dalam Kandungan

Mencetak Generasi Sholeh Sholehah sejak dalam Kandungan

Bagaimana cara mencetak generasi sholeh dan sholehah? Untuk mencetak generasi yang sholeh dan sholehah tidak semudah membalik telapak tangan. Hal ini perlu proses yang dimulai sejak bayi dalam kandungan. Bagaiama dan apa saja yang perlu diperhatikan serta kewajiban-kewajiban ayah dan ibu oleh dalam mencetak generasi dan anak-anak tyang sholeh dan sholehah mulai dari bayi dalam kandungan?

Semua manusia di dunia ini pernah mengalami hidup di alam kandungan, kecuali Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Apakah yang hams dilakukan sang ibu dan bapak atau ayah ketika sudah ada tanda-tanda kehamilan? Pertanyaan ini amat penting dipahami dengan baik karena mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sang bayi yang ada dalam kandungan. Sebelum menjelaskan hal tersebut, kiranya perlu disuguhkan tentang proses perkembangan sang bayi dalam kandungan agar hal ini bisa dijadikan sebagai bahan renungan terhadap kebesaran Allah SWT.

Sebelum terlahir ke dunia, janin bayi tumbuh dan berkembang di dalam rahim ibunya selama kurang lebih sembilan bulan lamanya. Setiap bulan janin mengalami proses perkembangan yang berbeda-beda. Untuk dapat tumbuh dan berkembang secara baik, sang ibu membutuhkan asupan makanan dengan komposisi gizi tertentu. Ibu hamil mengalami peningkatan kebutuhan terhadap asupan gizi untuk mencukupi kebutuhan dua orang, untuk keperluan dirinya sendiri dan untuk keperluan janin di dalam kandungannya, seperti kebutuhan akan protein, mineral, kalsium, air, omega3, vitamin, asam folat, zat besi, dan lain sebagainya.

Adapun proses perkembangan janin bayi sejak bulan pertama sampai pada saat kelahiran, lazimnya sebagai berikut:
  • Bulan pertama; sel telur sang ibu berhasil dibuahi oleh sperma sang bapak. Terdapat bola bakal janin yang menempel pada dinding rahim. Bola sel telur tersebut berkembang seperti bentuk udang ukuran kecil. Pada periode ini, jantung dan susunan syaraf pusat mulai terbentuk.
  • Bulan kedua; bentuk sel telur yang seperti udang berubah menjadi seperti manusia pada umumnya. Wajah bayi mulai terbentuk dengan ukuran kepala yang besar. Ekor janin hilang. Jantung mulai berdetak. Tali pusat dan plasenta terlihat jelas. Muncul bagian tubuh, tangan dan kaki, serta tumbuh otot-otot.
  • Bulan ketiga; jantung telah terbentuk sempurna. Bagian tubuh, kaki dan tangan terbentuk. Jari jemari yang semula menyatu mulai terpisah. Organ-organ vital terbentuk di akhir bulan. Cuping telinga mulai terlihat.
  • Bulan keempat; kuku jari jemari kaki dan tangan terbentuk, organ dalam tubuh janin terbentuk, tumbuh rambut halus pada seluruh tubuh, janin berkembang dengan cepat.
  • Bulan kelima; tumbuh alis, bulu mata, dan rambut. Pancaindra berkembang. Tubuh janin dapat membentuk selaput putih pelapis tubuh dan kulit. Janin tumbuh cepat dengan panjang bisa mencapai 13 cm.
  • Bulan keenam; sistem pencernaan mulai bekerja dengan mengeluarkan air seni. Sisrem kekebalan tubuh semakin mantap. Janin dapat melakukan kontrol gerakan tubuhnya. Ibu dapat merasakan gerakan bayi dalam perut.
  • Bulan ketujuh; tubuh janin telah terbentuk. Otak janin mengalami perkembangan pesat. Organ vital selain paru-paru sudah berfungsi dengan baik.
  • Bulan kedelapan; janin sudah dapat membuka dan munutup kelopak mata. Gerakan janin telah terkoordinasi. Lidah janin sudah dapat membedakan rasa asam dan manis.
  • Bulan kesembilan; fisik janin bayi telah terbentuk sempurna. Janin tumbuh setiap minggunya kurang lebih 225 gram. Lapisan lemak tebal tumbuh di bawah kulit janin. Janin pun siap lahir kapan saja.
Proses perkembangan bayi dari bulan pertama sampai saat melahirkan dijelaskan secara rinci di dalam Al-Qur’an Surah al-Hajj [22]: 5 dan Surah al-Mu’minun [23]: 12-14, sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡٔٗاۚ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۢ بَهِيجٖ ٥

Artinya: Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al-Hajj [22]: 5)

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ ١٢  ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةٗ فِي قَرَارٖ مَّكِينٖ ١٣ ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٤

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. AJ-Mu’minun [23]: 12 - 14)

Setelah mengetahui proses perkembangan bayi sejak bulan pertama sampai ketika melahirkan, kira-kira apakah yang harus dilakukan oleh ibu dan bapak? Pertanyaan ini mungkin terdengar sangat sederhana, akan tetapi mengandung maksud sangat penting dalam membentuk generasi yang sholeh dan cerdas. Ada beberapa kisah yang menceritakan betapa para ulama besar ternyata dilahirkan dari kedua pasangan ibu dan bapak yang sholeh dan sholehah.

Alkisah ada seorang ibu yang sholehah tengah mengandung. Selama mengandung anaknya itu, sang ibu selalu berpuasa dari waktu ke waktu, bulan demi bulan, sampai bayinya lahir. Bayi laki-laki mungil yang lahir itu kemudian menjadi ulama besar dan pernah menjadi imam besar di Masjidil Haram di zamannya. Karya tulis ulama besar itu sangat banyak. Siapakah beliau yang merupakan putra asli daerah Tanara, Banten, itu? Benar sekali, beliau tidak lain adalah Syekh Nawawi al-Bantani.

Ada pula kisah menarik tentang seorang bapak yang sholeh. Suatu ketika beliau berjalan melewati pinggiran sungai. Saat itu beliau tengah berpuasa. Ketika hendak berbuka puasa, beliau mendapati sebuah apel hanyut terbawa air sungai. Diraihnya apel tersebut, lalu dimakannya. Ketika apel tersebut baru separuh dimakan, beliau tersadar bahwa buah itu bukanlah miliknya meski telah hanyut terbawa arus sungai. Untuk mengetahui siapa pemilik apel tersebut, beliau menyusuri bantaran sungai hingga sampailah di sebuah kebun apel. Kepada pemilik kebun apel, beliau memohon agar dihalalkan separuh apel yang terlanjur ditelannya. Kelak, seorang bapak yang sholeh itu memiliki anak yang menjadi seorang ulama besar dan tokoh sufi yang amat terkenal. Anak beliau tidak lain adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Bagaimana dengan kita, apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua manakala tanda-tanda kehamilan sudah tiba?

Hal yang paling utama untuk kita lakukan adalah bertakwa kepada Allah SWT, dimulai dari hal yang paling sederhana. Sang calon ibu dan calon bapak harus menjaga perbuatan dengan hanya melakukan yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan untuk bayinya. Kedua calon orangtua harus berupaya menjauhkan diri dari perbuatan yang akan merugikan diri mereka, terlebih lagi apabila sampai merugikan orang banyak. Selain itu, kedua calon orangtua wajib melaksanakan segala perintah Allah SWT dan berupaya sekuat tenaga untuk menjauhi apa-apa yang dilarang Allah SWT.

Baca juga
Pengertian taqwa yang sebenarnya menurut syariat islam dan macamnya
Janji-janji Allah SWT bagi orang yang bertaqwa
Arti hakikat dan contoh orang yang taqwa

Selama masa-masa kehamilan kedua orangtua selayaknya banyak melakukan riyadhah (menjaga konsistensi dalam beribadah) sesuai dengan kemampuan masing-masing. Misalkan sang ibu membaca Al-Qur’an setiap hari, berzikir serta berdoa. Hal ini akan memberikan pengaruh yang positif kepada janin yang dikandungnya.

Sang calon bapak pun demikian, harus banyak berzikir dan berdoa. Selain itu, ketika mencari nafkah, ia harus mencarinya dengan jalan yang halal dan bersih. Sebab, makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh kedua orangtua akan berpengaruh terhadap janin yang dikandung oleh sang ibu.

Contoh paling umum adalah apa yang terjadi di sekitar kita saat ini. Banyak orang di antara kita kini yang masa bodoh, bahkan biasa saja menghadapi kerusakan moral yang dialami diri, keluarga, maupun orang-orang terdekatnya. Banyak orang yang tidak lagi amanah, atau tidak dapat dipercaya. Banyak sekali orang yang mudah terpengaruh oleh gaya hidup materialistis, di mana yang dipikirkan hanyalah bagaimana mendapatkan harta banyak tanpa memedulikan halal dan haramnya. Jadilah bangsa kita saat ini telah mengalami kerusakan mental dan moral yang amat parah. Korupsi tidak lagi dilakukan secara sendiri-sendiri atau sembunyi-sembunyi, tetapi sudah dilakukan secara berjamaah dan terang-terangan.

Baca juga
Pujian atas perilaku amanah, kejujuran dan menepati janji
Pengertian amanah dan wajibnya menjaga berperilaku amanah
Cara mencegah keinginan atau syahwat korupsi
Dosa menyuap dan korupsi dalam ajaran Islam
Cara Islam dalam memberantas korupsi

Kalangan birokrasi pemerintahan, baik mulai tingkat pejabat sampai bawahan, banyak yang tidak peduli lagi terhadap pelayanan publik. Mereka tidak lagi melayani masyarakat secara tulus, tetapi demi fulus.

Pelajaran terpenting bagi kedua orangtua selama menunggu kelahiran anak agar keturunannya dapat menjadi keturunan yang baik dan bermanfaat, serta menjadi generasi yang sholeh dan sholehah, adalah dengan berupaya selalu mendekatkan diri dan bertakwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jadi, mengharapkan anak sholeh dan sholehah tidak dimulai setelah seorang anak dilahirkan, bahkan jauh sebelum itu.
loading...

Monday, December 19, 2016

Kriteria Islam: Calon Pasangan yang Serasi, Berpotensi

Kriteria Islam: Calon Pasangan yang Serasi, Berpotensi

Hal yang penting sekali untuk diperhatikan bagi para generasi muda yang ingin melangsungkan pernikahan agar mencari calon pasangan yang serasi menurut ajaran dan pandangan Islam. Islam menganjurkan agar dalam mencari calon pasangan yang serasi janganlah hanya sekedar mempertimbangkan kecantikan atau ketampanan dari calon pasangan, namun yang lebih utama adalah memperhatikan potensi positif yang dimiliki oleh calon istri maupun calon suami.

Di dalam tradisi adat Jawa, terdapat anjuran dalam mencari calon pasangan dengan mempertimbangkan bibit, bebet, dan bobot namun dalam ajaran Islam memberikan alternatif pemilihan yang sangat luar biasa seperti yang diucapkan oleh lisan Nabi Muhammad SAW, yaitu:

“Seorang perempuan dinikahi karena empat hal, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung. ” (HR. Muttafaqun alaih)

Landasan pernikahan karena harta

Apabila ada seorang calon suami atau istri yang menikah hanya demi mengincar dan menjadikan harta pasangannya sebagai tujuan, maka nantinya mereka hanya akan diperbudak oleh harta. Hal ini dikarenakan tujuan awal pernikahan adalah demi untuk mendapatkan harta, maka kebahagiaan yang hakiki tidak mungkin tercapai dalam rumah tangga mereka. Sebaliknya, mereka akan lebih sering diliputi rasa khawatir dan gelisah akan kehilangan harta. Kemungkinan pula yang akan terjadi adalah, setelah harta tersebut habis, si suami atau pun istri akan meninggalkan pasangannya dan mencari mangsa yang lain. Sifat harta tidaklah kekal. Seiring dengan berjalannya waktu, harta akan habis, apalagi jika tidak pandai-pandai memanfaatkannya.

Landasan Pernikahan karena keturunan atau nasab

Menikahi perempuan dengan hanya mempertimbangkan nasab pun tidak kalah problematik. Ketiadaseimbangan dalam status dan derajat sosial akan melahirkan problem dan masalah besar. Suatu contoh keluarga dari calon istri berasal dari kalangan pejabata atau golongan ningrat, sementara dari calon suami hanya berasal dari keluarga yang biasa, maka bisa jadi sang calon suami kelak hanya akan menjadi budak istrinya, tidak diperhatikan oleh mertua, atau bahkan merasa rendah diri. Begitu pun jika sebaliknya. Dengan begitu, sulit kiranya tercipta sebuah kebahagiaan hakiki dalam rumah tangga. Terlebih apabila si calon suami ternyata tidak mempunyai kemandirian yang baik.

Landasan pernikahan karena ketampanan dan kecantikan

Hal yang sama juga akan terjadi apabila landasan pernikahan hanya sebatas melihat dari segi tampang (ketampanan atau kecantikan dari calon pasangan). Lelaki maupun perempuan yang menikah hanya karena mempertimbangan tampang ketampanan atau kecantikan, maka pasangannya akan mudah disulut oleh api cemburu setiap saat.

Apalagi, apabila sang istri atau suami lebih banyak menghabiskan waktu bekerja di luar rumah. Maka, ketenangan dalam rumah tangga akan sirna dan berganti dengan rasa khawatir. Baik suami maupun istri masing-masing akan merasa was-was, jangan-jangan pasangannya selingkuh. Bahkan ada yang mengorbankan akidah hanya demi mengejar ketampanan ataupun kecantikan pasangannya. Padahal tampang kecantikan maupun ketampanan hanyalah bersifat sementara, dan akan hilang dan pudar ketika datang masa tua. Demikianlah, rumah tangga yang dibangun hanya atas dasar tampang ketampanan dan kecantikan tidak akan melahirkan kebahagiaan sejati.

Landangan memilih pasangan atas dasar agama

Akan tetapi berbeda keadaannya dengan semua itu adalah apabila dalam memilih pasangan berlandaskan atau atas dasar agama, maka dapat dipastikan akan membawa kebahagiaan yang hakiki dan sejati dalam rumah tangga. Mengapa demikian? Hal ini karena, suami maupun istri yang memahami, mengerti dan mengamalkan agama dengan baik akan mudah mengatur kehidupan rumah tangganya. Seorang suami yang mempunyai istri sholehah tidak susah payah lagi mengajari bagaimana tata cara ibadah, tata cara mengolah rumah tangga, dan sebagainya. Sehingga sang suami hanya tinggal mengarahkan saja.

Rumah tangga yang dibangun tidak atas dasar agama

Sering kali kita menjumpai kondisi di masyarakat, terdapat rumah tangga di mana sang istri ataupun sang suami tidak mengerti agama sama sekali, termasuk tata cara beribadah. Sudah begitu, mereka juga tidak mau belajar. Akibatnya, dalam rumah tangga mereka diliputi berbagai masalah, mulai dari yang kecil sampai hal yang besar.

Suatu contohnya, mereka kurang peduli dengan kesucian, terutama dari hadas besar. Setelah mereka melaksanakan hubungan badan atau berjimak, dikarenakan sang istri dan suami sama-sama tidak mengerti hukum mengenai mandi besar (wajib), mereka menggantinya dengan mandi biasa. Bagi mereka, yang penting seluruh tubuh terguyur air. Padahal yang benar adalah meratakan air ke seluruh tubuh dan membersihkan setiap lipatan kulit, termasuk membersihkan lubang-lubang yang ada pada tubuh, baik itu lubang mata, telinga, hidung, mulut, lubang depan (kubul) dan lubang belakang (dubur). Jika bersuci saja tidak benar, tentu ibadah yang mereka lakukan akan rusak dan bahkan tidak sah.

Selain itu, istri dan suami yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai dan pemahaman agama, kemungkinan besar kehidupan rumah tangga mereka jarang diisi oleh ibadah. Sekalipun mengerjakan ibadah, mereka kerap bermalas-malasan. Bahkan yang jadi masalah besar, ibadah yang mereka lakukan hanya akan berbuah kesia-siaan dikarenakan mereka tidak mengetahui ilmunya.

Rumah tangga yang dibangun atas dasar agama 

Pernikahan dan Rumah tangga yang dibangun atas dasar agama, dengan menikahi calon pasangan yang mengerti ilmu agama akan membuat pengaturan rumah tangga semakin mudah. Seorang suami tidak akan kesulitan mengatur rumah tangganya, bahkan sang istri bisa saja membantu mengajari suaminya dalam hal-hal yang tidak ia mengerti. Namun harus diingat, kriteria pasangan yang memeluk agama sebagaimana dimaksud dalam Hadits adalah para perempuan Muslim yang memang memahami ajaran Islam dengan baik, bukan sekadar identitas keislaman dalam KTP-nya saja.

Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah perempuan yang sholehah.” (HR. Muslim)

Perempuan sholehah adalah perempuan yang memahami, mengerti, serta mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan taat dalam melaksanakan ajaran Islam, tidak harus cantik namun enak dipandang mata, murah senyum, dan selalu dapat membahagiakan sang suami. Orientasi kehidupan dari wanita sholehah adalah pengabdian. Mereka hidup untuk mendampingi sang suami di kala senang maupun susah. Mereka selalu berupaya membahagiakan dan menghibur suaminya di kala mendapat kesulitan, dan mengingatkan untuk bersyukur di kala mendapatkan nikmat.
loading...

Monday, January 11, 2016

Kaidah Walimah Pernikahan yang Baik dan Benar

Kaidah Walimah Pernikahan yang Baik dan Benar

Dalam pernikahan terdapat rangkaian acara pernikahan yang salah satunya adalah walimah pernikahan atau dalam fikih nikah dikenal dengan istilah walimatul urs. Bagaimana ajaran Islam tentang walimatul Urs yang baik dan benar dalam pernikahan? Apa sebenarnya makna dan pengertian dari walimatul Urs, hukum mengadakannya, kapan waktu penyelenggaraannya, hukum menghadiri walimah bagi para undangan?


Pengertian dan makna walimah

Kata dasar walimah berasal dari kara Al-Walamu yang artinya adalah pertemuan. Hal ini dikarenakan kedua mempelai yaitu mengadakan pertemuan. 

Sedangkan pengertian walimah secara istilah dapat diartikan sebagai santapan atau hidangan yang disediakan dalam pernikahan. Di dalam kamus juga disebutkan tentang pengertian atau makna dari walimah adalah makanan pernikahan atau semua makanan atau hidangan yang disiapkan untuk disantap oleh para tamu udangan. 

Apa hukum menyelenggarakan walimah pernikahan?

islamiwiki.blogspot.com
Pendapat dari Jumhur ulama menyebutkan bahwa menyelenggarakan acara walimatul urs adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang dianjurkan. Hal ini sebagaimana dalil hadits sabda Nabi saw. : Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw. Bersabda: Baarakallahu laka, Lakukanlah walimah meskipun hanya dengan seekor kambing (HR. Muttafaqun alaih).

Juga dalil hadits Nabi yang lain : Dari Buraidah radhiallahu ‘anhu berkata : bahwa ketika ali bin Abi Thalib melamar Fatimah radhiallahu ‘anha, Rasulullah SAW bersabda: Setiap pernikahan itu harus ada walimahnya. (HR. Ahmad)

Al-Hafiz Ibnu Hajar mengomentari hadits ini dengan ungkapan la ba'sa bihi

Kapankah waktu yang baik mengadakan walimah pernikahan

islamiwiki.blogspot.com
Tidak terdapat batasan waktu tertentu dalam mengadakan atau menyelenggarakan walimatul urs. Akan tetapi, namun waktu yang baik dan diutamakan untuk mengadakan walimah adalah setelah dukhul yaitu setelah psangan pengantin melakukan hubungan seksual setelah akad nikah.

Mengapa waktu menyelenggarakan walimah diutamakan setelah dukhul? Hal ini adalah berdasarkan apa yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw., dimana Rasulullah hanya melakukan walimah pernikahan setelah dukhul.


Apa Hukum bagi tamu udangan untuk Menghadiri Walimah, wajibkah hadir?

Terdapat beberapa pendapat dari para ulama mengenai hukum bagi para tamu undangan menghadiri acara walimatul ursy. Ada sebagian ulama berpendapat wajib hadir atau fardhu ‘ain, dan ada sebagian ulama yang lain berpendapat fardhu kifayah dan ada juga yang berpendapat hukumnya sunnah.

Para ulama yang mengatakan bahwa menghadiri undangan walimah pernikahan adalah wajib atau fardhu ‘ain adalah berdasar kepada dalil hadits Nabi saw. : Apabila kamu diundang walimah maka datangilah. (Hadits Riwayat. Bukhari dan Muslim)

Juga dalil hadits Nabi saw. Yang lain: Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah, bila yang diundang hanya orang kaya dan orang miskin ditinggalkan. Siapa yang tidak mendatangi undangan walimah, dia telah bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya. (HR. Muslim)

Yang berpendapat bahwa hukum menghadiri undangan walimah pernikahan adalah fardhu kifayah adalah menurut dasar esensi dan tujuan dari walimah. Dimana tujuan dan esensi dari walimah pernikahan adalah sebagai media untuk mengumumkan terjadinya pernikahan dan juga membedakannya dari perzinaan. Apabila acara walimah sudah dihadiri oleh sebagian besar orang, maka sudah gugurlah kewajiban menghadiri walimah bagi tamu undangan yang lainnya.

Sedangkan pendapat yang mengatakan hukum bagi tamu menghadiri udangan walimah adalah sunnah adalah berlandaskan kepada pendapat bahwa pada hakikatnya menghadiri acara walimatul urs atau walimah pernikahan itu seperti orang menerima pemberian harta. Dengan demikian, apabila harta itu tidak diterimanya, maka hukumnya tidak apa-apa atau boleh-boleh saja. Dan apabila harta itu diterima, maka hukumnya hanya sebatas sunnah saja.

Kaidah walimah pernikahan yang baik dan benar sesuai syariah Islam

Dalam mengadakan acara walimatul urs hendaknya memperhatikan kaidah-kaidah dan rambu-rambu yang diajarkan oleh syariat Islam. Sehingga dalam penyelenggaraan walimah tidak melewati batas kewajaran yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Dalam pengertian walimah di atas, esensi maknanya adalah santapan yang disediakan dalam pernikahan. Meskipun esensi dari walimah adalah makan-makan, namun tentunya tidak berarti membenarkan untuk berlebih-lebihan dalam menghambur-hamburkan uang. Karena orang-orang yang menghambur-hamburkan harta adalah termasuk saudaranya syaitan.

Kaidah Walimah yang baik dan benar sesuai syariat Islam

Tidak berlebih-lebihan

islamiwiki.blogspot.com
Dalam penyelenggaraan acara walimatul ursy hendaknya tidak berlebih-lebihan. Hal ini berdasarkan dalil firman Allah swt. 

إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا 

Artinya: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al- Isra` : 27)

Walimah Bukanlah Untuk Gengsi semata

Walimah adalah sebuah acara pernikahan yang mempunyai makna dan esensi penting yaitu mengumumkan terjadinya pernikahan dan juga membedakannya dari perzinaan. Apabila penyelenggaraan walimatul urs ini mempunyai tujuan untuk gengsi dan ingin dianggap sebagai orang yang berada dan mampu padahal kesemuanya adalah berhutang, maka hal ini tidaklah dibenarkan. 

Dalam penyelenggaraan walimah pernikahan hendaknya semampunya dan sesanggupnya saja, tidak perlu mengejar gengsi, anggapan dan sebutan orang, jangan merasa menjadi dianggap pelit. Apabila memang tidak ada, tidak perlu dipaksa untuk diada-adakan. Oleh sebab itu, walimah hendaknya semampu dan sesanggupya saja, karena yang terpenting adalah acara walimah dapat berjalan dengan baik karena acara walimah adalah anjuran dan ajaran dari Nabi Saw.

Juga yang perlu kita perhatikan dan tekankan adalah sikap dari yang mempunyai acara dimana mereka umumnya mengharapkan amplop yang berisi uang dari para tamu. Sikap seperti ini sebetulnya kurang pas, mengingat makna dan esensi walimah yang begitu penting dalam pernikahan. 

Bahkan ada juga dalam penyelenggaraan walimah dengan tidak malu-malu dituliskan di dalam di kartu undangan adanyan suatu pesan yang intinya adalah agar tamu undangan tidak membawa kado, akan tetapi membawa uang saja. Agar tidak rugi atau tekor.

Acara walimah sebaiknya Mengundang orang-orang dari Fakir Miskin

Dalil hadits Nabi Muhammad saw. :

Dari Abi Hurairah rahiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Makanan yang paling jahat adalah makanan walimah. Orang yang butuh makan (si miskin) tidak diundang dan yang diundang malah orang yang tidak butuh (orang kaya). (HR. Muslim).

Berdasarkan dari dalil hadits Nabi di atas, menerangkan agar hendaknya dalam acara walimah menundang orang-orang yang membutuhkan atau orang-orang miskin. Janganlah acara walimah yang diselenggarakan tersebut menjadi sebuah santapan makan yang terburuk karena hanya mengundang orang-orang kaya dan melupakan orang-orang yang membutuhkan. Sehingga walimah pernikahan yang demikian adalah hidangan yang paling jahat

Sampai pada inti kesimpulan, mari kita dalam mengadakan dan menyelenggarakan acara walimah pernikahan atau walimatul ursy hendaknya membiasakan membuat acara walimah secara sederhana saja, tidak berlebih-lebihan, tidak untuk gengsi dan sebutan, tidak mengharapkan ampol dari para udangan dan mengundang orang-orang yang membutuhkan.
loading...

Tuesday, January 5, 2016

Kewajiban Suami dan Istri dalam Syariat Islam

Kewajiban Suami dan Istri dalam Syariat Islam

Islam menganjurkan setiap pemeluknya untuk menikah sebagaimana pada bahasan artikel anjuran menikah dalam Islam. Setelah menikah, maka sang laki-laki akan berubah status menjadi suami dan sebaliknya sang wanita akan berubah menjadi Istri. Bagaimana kewajiban masing-masing sebagai Suami dan sebagai Istri dalam Syariat islam?

Berikut ini adalah beberapa sumber referensi mengenai kewajiban suami dan kewajiban istri yang bersumber dari Al-Qur’an dan beberapa pendapat dari Imam Mazhab yang dapat kita jadikan pedoman tentang apa saja kewajiban suami dan kewajiban istri dalam ajaran syariat Islam.


Apa Kewajiban Suami dalam Syariat Islam?

Kewajiban suami terhadap istrinya adalah memberikan nafkah baik nafkah lahir maupun batin. Adapun kewajiban istri kepada suaminya menurut para ahli fikih adalah hanya sebatas memberikan pelayanan secara seksual kepada suaminya. Sedangkan hal-hal seperti mencuci, memasak, menata membersihkan dan mengatur dan rumah pada dasarnya adalah merupakan kewajiban dari suami dan bukan kewajiban dari seorang istri.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Di dalam syariat Islam yang mempunyai kewajiban mencuci baju dan memasak dan memang bukanlah pihak istri, akan tetapi kewajiban suami. Hal ini dikarenakan kesemua hal itu adalah bagian dari nafkah yang wajib diberikan oleh pihak suami kepada pihak istri.

Firman Allah swt. dalam Al-Qur’an:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ

Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa' : 34)

Bagaimana kewajiban suami dan kewajiban istri menurut pendapat para Imam Mazhab.

Keterangan di atas, adalah adalah merupakan suatu kesimpulan dari para ulama besar, yang tingkatnya sampai pada mujtahid mutlak. Dan apabila kita telaah dalam kitab-kitab fikih yang mereka buat, ternyata sangat menarik.

Pada kenyataannya terdapat 4 mazhab besar dan satu satu mazhab lagi yaitu mazhab Dzahihiri yang menerangkan dan sepakat bahwa pihak istri pada hakikat dan dasarnya mempunyai dan kewajiban untuk berkhidmat atau melayani kepada suaminya.

Pendapat dari Mazhab Imam al-Hanafi tentang kewajiban suami dan istri

Dalam Kitab Al-Bada’i, Al-Imam Al-Kasani menjelaskan seandainya seorang suami pulang dengan membawa bahan makanan yang masih harus diolah dan dimasak terlebih dahulu, kemudian sang istri enggan untuk mengolah dan memasaknya, maka sang istri itu tidak boleh dipaksa mengerjakannya. Justru, pihak suamilah yang diperintahkan agar membawa pulang bahan makanan yang siap untuk dimakan.

Disebutkan juga dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah menyebutkan Seandainya sang istri mengatakan Saya tidak mau memasak dan membuat roti, maka sang istri tidak boleh dipaksa untuk mengerjakannya. Dan seorang suami harus memberi istri makanan atau bahan pangan yang siap santap atau siap makan, atau dengan menyediakan pembantu untuk mengolah atau memasak makanan.

Pendapat Mazhab Maliki tentang Kewajiban Suami dan isti

Kitab karangan Ad-Dardir yaitu Asy-syarhul Kabir disebutkan bahwa wajib bagi suami untuk melayani atau khidmat kepada istrinya. Meskipun sang suami mempunyai kelapangan rezeki sedangkan sang istrinya mempunyai kemampuan untuk berkhidmat atau melayani suami, akan tetapi tetap kewajiban sang istri bukanlah untuk berkhidmat atau melayani suami. Disebutkan bahwa suami adalah pihak yang wajib untuk berkhidmat. Oleh sebab itu, wajib bagi suami untuk menyediakan seorang pembantu untuk istrinya.

Pendapat Mazhab Imam As-Syafi'I tenang kewajiban suami dan Istri

Dalam Kitab hasil karya Abu ishaq Asy-Syirazi rahimahullah yaitu Kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab disebutkan bahwa tidaklah wajib bagi istri untuk berkhidmat atau melayani untuk memasak, membuat roti, mencuci serta bentuk khidmat atau pelayanan yang lainnya, hal ini karena yang ditetapkan dalam pernikahan adalah kewajiban memberikan pelayanan seksual, sedang pelayanan atau khidmat yang lainnya bukan termasuk kewajiban istri.

Pendapat Mazhab Imam Hanabilah mengenai kewajiban suami dan istri

Pendapat dari Imam Hanabilah menyebutkan bahwa pihak istri tidak mempunyai kewajiban untuk berkhidmat kepada pihak suami, baik dalam bentuk memasak, menyapu rumah, mengadoni bahan makanan, membuat roti, dan yang lain sejenisnya, termasuk menimba air di sumur. Ini adalah merupakan nash Imam Ahmad rahimahullah. Dasar dari pendapat ini adalah karena aqadnya hanya berkewajiban memberikan pelayanan seksual. Maka pelayanan atau khidmat dalam bentuk yang lain tidak wajib dilakukan oleh pihak istri, seperti memanen tanaman atau memberikan minum.

Pendapat Mazhab Imam Az-Zhahiri tentang kewajiban suami dan istri

Di dalam mazhab fikih yang dipelopori oleh Daud Adz-Dzahiri, juga ditemukan pendapat tegas dari para ulama yang menyebutkan bahwa istri tidak mempunyai kewajiban untuk membuat roti, mengadoni, memasak dan bentuk khidmat yang lain sejenisnya, meskipun suaminya anak khalifah.

Disebutkan bahwa pihak suami yang tetap mempunyai kewajiban untuk menyediakan pembantu atau orang yang dapat menyiapkan untuk istrinya minuman dan makanan yang siap untuk di makan atau disantap. Pihak suami juga berkewajiban untuk menyediakan pembantu atau pelayan yang diperuntukkan untuk menyediakan tempat tidur dan menyapu.

Pendapat lain Yang Berbeda tentang kewajiban suami dan istri

Dalam Kitab Fikih Kontemporer karya Dr. Yusuf Al-Qaradawi. Beliau memberikan pendapat yang berbeda dan agak kurang setuju dengan pendapat-pendapat Dr. Yusuf Al-Qaradawi cenderung berpendapat tetap mengatakan bahwa pihak wanita atau istri adalah pihak yang wajib berkihdmat atau memberikan pelayanan selain hanya urusan seksual kepada pihak suami.

Dalam pendapat Dr. Yusuf Al-Qaradawi, pihak istri wajib untuk berkhidmat dalam menyapu, memasak, membersihkan rumah, dan mengepel. Karena semua hal tersebut adalah merupakan bentuk timbal balik dari nafkah yang telah diberikan oleh suami kepada istrinya.

Kita dapat memahami akan pendapat dari Syeikh yang hidupnya di Doha Qatar yaitu Dr. Yusuf Al-Qaradawi, akan tetapi satu hal yang jangan dilupakan, Dr. Yusuf Al-Qaradawi menyebutkan bahwa pihak suami tetap berkewajiban memberikan nafkah kepada pihak istri, di luar urusan atau hal kepentingan berkaitan dengan rumah tangga.

Dengan demikian pihak istri harus digaji dengan nilai yang pasti oleh pihak suaminya. Hal ini dikarenakan Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa pihak suami itu memberikan nafkah  kepada pihak istrinya.  Dan pengertian dari memberi nafkah itu tidak hanya sekedar membiayai untuk keperluan rumah  tangga, akan tetapi lebih dari hal itu, sehingga pihak suami harus 'menggaji' para istri. Dengan demikian uang gaji tersebut harus di luar dari semua biaya keperluan rumah tangga.

Pada kehidupan yang nyata, yang sering terjadi memang terlihat aneh, yaitu pihak suami menyerahkan gajinya kepada pihak istri, kemudian semua kewajiban suami harus dibayarkan oleh istri dari gaji tersebut. Apabila masih terdapat sisa, tetap saja itu tidak lantas menjadi hak pihak istri. Dan lebih celaka lagi, apabila gaji tersebut kurang, terkadang pihak istri yang harus memikirkan untuk mengatasi kekurangan tersebut.

Sehingga pendapat dari Syeikh Al-Qaradawi tersebut di atas, dapat menjadi masukan yang dapat kita terima, dengan catatan pihak istri juga harus mendapatkan 'jatah gaji' yang pasti dari pihak suaminya, di luar urusan kebutuhan atau kepentingan rumah tangga.

Tugas Suami dan Istri pada Masa Salaf

Memang secara jelas kita tidak menemui di dalam al-Qur’ann dan juga di dalam hadits Nabi yang menerangkan, menyebutkan dan menjelaskan bahwa yang mempunyai kewajiban memasak, mencuci pakaian, menyetrika, menjemur, membersihkan rumah,melipat baju dan khidmat lainnya adalah pihak suami.

Secara esksplisit aturan-aturan semacam itu tidak akan kita temukan. Yang kita temukan adalah berupa contoh nyata dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW dan contoh nyata dari kehidupan para shahabat Nabi. Akan tetapi sayangnya adalah, memang tidak terdapat dalil-dalil atau hadits yang bersifat eksplisit. Semua dalil atau hadits dapat ditarik kesimpulannya dengan cara yang berbeda.

Suatu contoh misalnya tentang Fatimah puteri Nabi SAW yang bekerja sendiri tanpa pembantu. Sering kali kisah tentang Fatimah yang bekerja sendiri tanpa pembantu ini dijadikan  hujjah oleh kalangan yang mewajibkan wanita untuk bekerja untuk berkhidmat kepada pihak suami. Akan tetapi, ada banyak kajian yang menarik mengenai kisah ini dan tidak semata-mata begitu saja dapat dijadikan sebagai dasar kewajiban wanita bekerja untuk khidmat suaminya.

Kisah cerita sebaliknya, dari Asma' binti Abu Bakar yang justru diberikan dan disediakan pembantu rumah tangga oleh mertuanya. Karena kebaikan mertua dan suami Asma' memang tidak mampu untuk menyediakan pembantu. Sehingga kewajiban suami itu ditangani oleh pembantu yang disediakan oleh mertua Asma. Asma' adalah wanita berdarah biru dari golongan Bani Quraisy.

Dari kisah cerita yang lain dari Saad bin Amir ra., seorang lelaki yang diangkat menjadi gubernur oleh Khalifah Umar di kota Himsh. Ketika menjalankan tugasnya sebagai gubernur, beliau sering di komplain oleh penduduknya karena sering terlambat berangkat ke kantor, Saad bin Amir berasalan bahwa  terlambatnya adalah karena dirinya tidak mempunyai pembantu di rumah. Sehingga tidak ada orang yang dapat disuruh untuk mencuci baju atau memasak buat istrinya.

Dalam islam Perempuan Tidak memerlukan Gerakan Pembebasan

Apabila kita mengkaji lebih mendalam kajian tentang kewajiban istri dan suami dengan benar, ternyata ajaran Islam sangat memberikan ruang kepada pihak wanita dalam hal ini istri untuk dapat  menikmati hidup mereka. sehingga tidak terdapat alasan bagi para perempuan muslimah untuk latah ikut-ikutan dengan gerakan wanita di barat, yang masih primitif karena hak-hak perempuan disana masih saja dikekang.

Sudah sejak 14 abad Islam telah memposisikan pihak wanita atau istri sebagai makhluk yang harus diberi,  dihargai, dan dimanjakan bahkan diberikan gaji. Posisi seorang istri di rumah tidaklah sebagai pembantu yang dapat disuruh-suruh dengan seenaknya. Seorang istri bukanlah pembantu atau jongos yang pekerjaanya serabutan dan dapat bekerja apapun mulai dari bersih-bersih, memasak, mencuci, mengepel, menyetrika, bekerja dari pagi membuka mata dan tidak berhenti hingga larut malam. Itupun masih harus melayani pihak suami dalam hal seksual ketika badan mereka sudah kelelahan.

Namun, apabila saat ini para ibu-ibu atau istri mengerjakan hal yang demikian, maka niatkanlah kesemuanya itu sebagai niat ibadah dan lakukanlah semua itu dengan ikhlas. Karena kunci amal ibadah yang diterima oleh Allah adalah niat. Dengan demikian, fainsya Allah, Allah swt, akan memberikan pahala kepada para ibu, para istri yang teramat besar. Dan semoga juga para suami dapat lebih banyak mempelajari dan mengaji ajaran Islam dengan sempurna. Wallahu a’lam.

Semoga masing-masing pihak dapat menjalankan kewajiban sebagai sumai dan kewajiban sebagai istri sesuai dengan syariat dan ajaran Islam.
loading...

Monday, December 21, 2015

Batasan Melihat Langsung Calon Istri Terpilih

Batasan Melihat Langsung Calon Istri Terpilih

Pada bahasan yang artikel sebelumnya telah dipaparkan mengenai cara menentukan dan memilih kriteria calon pasangan istri berdasarkan agama, nasab, kecantikan dan harta. Setelah menemukan kriteria calon istri pilihan barulah masuk kepada tahap berikutnya yaitu melihat calon istri secara langsung. Bagaimanakah ajaran islam mengenai melihat langsung calon istri terpilih? Bagaimana batasan-batasan yang diperbolehkan dalam melihat langsung calon istri terpilih?

Jikalau anda adalah seorang pria muslim yang benar-benar berkehendak ingin menikah dan meminang seorang perempuan, maka sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, anda diperbolehkan untuk melihat perempuan atau calon istri terpilih agar dapat menghadapi perkawinan dengan terang, jelas dan tidak tertipu. Sehingga, anda dapat selamat dari perbuatan atau berbuat salah dan jatuh ke dalam sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Baca juga tujuan pernikahan dalam Islam

Melihat secara langsung calon terpilih pada intinya adalah bertemunya kedua mata. Karena mata adalah merupakan dua hati dan kemungkinan besar apabila bertemunya dua mata antara keduanya menjadi sebab dapat bertemunya hati dan berlarutnya jiwa. Wallahu a’lam.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata: saya pernah ditempat kediaman Nabi saw., kemudian tiba-tiba ada seorang lelaki datang dan memberitahukan, bahwa dia akan kawin dengan seorang wanita dari anshor. Maka, kemudian Nabi bertanya: sudahkah kau melihat dia? Dia menjawab: belum! Kemudian Nabi berkata: pergilah dan lihatlah dia, karena dalam mata orang-orang anshor itu ada sesuatu. (HR. Muslim).

Juga dalil hadits lain:

http://islamiwiki.blogspot.com/Dari Mughirah bin Syu’bah bahwa dia pernah meminang seorang wanita. Kemudian Nabi saw. berkata kepadanya: lihatlah dia!. Karena dengan melihat itu lebih dapat menjamin untuk mengekalkan kamu berdua. Kemudian Mughirah pergi kepada kedua orang tua perempuan itu, dan memberitahukan apa yang dibicarakan di atas, akan tetapi tampaknya kedua orang tua wanita itu tidaksuka. Si wanita itu mendengar dari dalam bilik, kemudian dia berkata: kalau Rasulullah menyuruh engkau supaya melihatku, maka lihatlah. Saya lantas melihatnya dan mengawininya. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Tarmizi dan ad-Darimi).

Dalam keterangan hadits di atas, Nabi Muhammad saw. tidak menyebutkan secara rinci atau batasan-batasan yang diperbolehkan untuk dilihat oleh calon suami baik kepada Mughirah atau kepada yang lain. Oleh sebab itu, sebagaian ulama mengemukakan pendapat bahwa yang diperbolehkan untuk dilihat dari wanita calon istri adalah mudak dan kedua telapak tangan dengan syarat bahwa muka dan telapak tangan tersebut tidak ada syahwat pada waktu tidak bermaksud meminang. Dan selama peminangan itu dikecualikan, maka sudah seharusnya sang laki-laki itu boleh melihat lebih banyak dari hal-hal yang biasa. 

Baca juga Keteladanan Nabi Muhammad yang begitu mulia

Mengenai hal tersebut di atas, Nabi Muhammad saw. bersabda: 

عن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم إذا خطب أحدكم المرأة فإن إست"اع أن ينظر منها ما يدعوه إلى نكاحها فليفعل – رواه احمد وابو داود

Artinya: Dari Jabir ra. Berkata: berkata Rasulullah saw. apabila salah seorang di antara kamu hendak meminang seorang  wanita, kemudian dia dapat melihat sebahagian apa yang kiranya dapat menarik untuk mengawininya, maka kerjakanlah. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

عن ابي هريرة رضي الله عنه انّ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال لرجل تزوّج إمرأة: أنظرت اليها؟ قال: لا. إذهب فانظر اليها

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW bertanya kepada seseorang yang hendak menikahi perempuan,"Apakah kamu sudah pernah melihatnya?". "Belum", jawabnya. Nabi SAW bersabda,"Pergilah melihatnya dahulu". (HR. Muslim)

Batasan Islam dalam melihat calon istri pilihan

Terdapat beberapa pendapat berbeda dari beberapa ulama. Terdapat ulama yang berpendapat ekstrim dalam memberikan batasan tentang apa yang diperbolehkan untuk dilihat. Ada juga pendapat para ulama yang esktrim dengan mempersempitnya dan keras.

Namun, yang lebih baik adalah yang tengah-tengah. Justru itu, pada sebagian ahli penyelidik memberikan pendapat mengenai batasan yang boleh dilihat. Yaitu bahwa seorang lelaki calon suami pada era sekarang ini diperbolehkan melihat wanita yang akan dipinangnya dengan berpakian yang boleh dilihat oleh ayah dan mahramnya yang lain.

Lanjut mereka mengatakan bahwa, lelaki calon suami tersebut boleh pergi bersama dengan wanita calon pilihan dengan syarat disertai oleh ayahnya atau oleh salah seorang mahramnya dengan mengenakan pakaian menurut ukuran syariat ke tempat yang boleh dikunjungi untuk mengetahui kepribadiannya, perasaannya dan kecerdikannya.

Kesemua hal tersebut di atas adalah termasuk yang terdapat dalam kata sebagaian yang disebut di dalam hadits Nabi di atas. yang menerangkan bahwa: …. kemudian dia dapat melihat sebahagian apa yang kiranya dapat menarik untuk mengawininya, maka kerjakanlah. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Juga diperbolehkan bagi laki-laki untuk melihat wanita calon pilihannya dengan sepengetahuan dari keluarga wanita tersebut, atau sama sekali tanpa sepengetahuan wanita (calon) atau keluarganya dengan syarat selama melihatnya itu bertujuan untuk meminang calon istri pilihan. Hal ini sebagaimana apa yang dikatakan oleh Jabir bin Abdullah tentang istrinya: saya bersembunyi di balik pohon untuk melihat dia.

Baca juga Mencari istri sholehah berdasarkan hadits Nabi

Menyimak kembali dari hadits Mughirah di atas, maka dapat kita ketahui bahwa seorang ayah tidak diperbolehkan menghalang-halangi anak gadisnya untuk dilihat oleh lelaki yang benar-benar hendak meminang dengan dalil adat istiadat atau tradisi. Karena yang harus dianut adalah tradisi dan ajaran agama. Bukan ajaran agama yang harus mengikuti adat istiadat atau tradisi manusia.

Akan tetapi, dibalik semua itu, hendaklah seorang ayah dan lelaki yang hendak meminang calon istri pilihan, tidak diperbolehkan memperluas mahramnya, seperti yang umumnya dilaksanakan oleh paham-paham budaya dan tradisi barat. Karena hal ini bertentangan dengan jiwa dan ajaran Islam.
loading...

Saturday, December 12, 2015

Kriteria Memilih Pasangan Hidup dari Segi Agama, Keturunan, Harta dan Kecantikan?

Kriteria Memilih Pasangan Hidup dari Segi Agama, Keturunan, Harta dan Kecantikan?

Dalam keterangan di dalam al-Qur’an, setiap manusia sudah ditentukan pasangannya masing-masing oleh Allah swt. Baca juga Meskipun demikian, kita sebagai manusia mempunyai satu kewajiban sebelum takdir jodoh itu datang kepada kita yaitu berusaha dan berdoa sekuat mungkin dan selanjutnya bertawakkal diri menyerahkan semuanya kepada Allah swt. 


Kembali kepada topik artikel di atas, berkenaan dengan jodoh atau pasangan hidup maka hendaknya untuk menetapi takdir Allah swt. kita wajib berusaha mencari calon pasangan hidup (calon suami, calon istri yang terbaik.


Berikut ini artikel dalam ajaran islam akan mencoba memaparkan secara ringkas bagaimana cara memilih calon pasangan hidup baik calon istri atau calon suami dari kriteria standar umum berdasarkan agamanya, keturunannya, hartanya dan kecantikannya berdasarkan tuntunan dari dalil hadits Nabi Muhammad saw.

Kriteria calon pasangan hidup dari sisi agama

http://islamiwiki.blogspot.com/
Dalam hal memilih calon pasangan hidup dari segi agama, harta, keturunan atau nasab dan kecantikan, dalil hadits Nabi Muhammad saw. yang cukup terkenal yang berbunyi:

عن ابي هريرة رضي الله عنه, عن النّبيَ صلّى الله عليه وسلّم قال تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدّين تربت يداك. متّفق عليه

Artinya: Dari Abi Hurairah radhiallah ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda: Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka perhatikanlah agamanya maka kamu akan selamat. Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Muslim.

Dalam dalil hadits Nabi saw tersebut di atas, Nampak jelas bahwa Rasulullah saw. lebih menekankan dan memberikan penekanan yang lebih utama pada masalah agama. Hal ini dikarenakan wanita dengan bekal agama yang baik dan sudah matang akan jauh lebih menguntungkan dan baik daripada wanita yang ilmu agamanya kurang atau setengah-setengah. Di samping itu, suami akan lebih ekstra untuk mendidik istrinya tersebut bahkan . Itupun kalau suaminya mempunyai kemapuan agama yang matang dan lebih daripada kemampuan istrinya. Atau bahkan menyekolahkan istrinya agar mempunyai pengetahuan agama yang matang dan baik.

Apa yang dimaksud dengan sisi agama yang baik dan matang?

Pengetahuan, ilmu agama tidak hanya sekedar pemahaman dalam bidang agama atau fikrah saja, akan tetapi mencakup ruhaniah atau sisi kerohanian yang secara ideal dapat diterjemahkan seorang yang mempunyai hablum minallah yang kuat atau hubungan dengan Allah swt. yang kuat.

Gambaran secara rinci seorang yang mempunyai hubungan kuat dengan Allah swt. adalah sebagai berikut. 

Secara rinci bisa dicontohkan antara lain :
  • Ibadahnya rajin
  • Akidahnya kuat
  • Mempunyai akhlak yang mulia
  • Dalam berpakaian dan berdandan sesuai dengan syariat Islam serta memenuhi standar pakaian muslimah
  • Dapat menjaga kehormatannya dengan tidak bercampur baur dengan laki-laki yang bukan muhrim
  • Tidak bepergian atau keluar luar tanpa mahram atau pulang larut malam.
  • Fasih dan bagus bacaan al-Qur’annya
  • Mempunyai ilmu pengetahuan agama yang luas dan mendalam
  • Dalam berbicara dan berucap mencerminkan wanita muslim dan sholehah 
  • Senantiasa berbakti kepada kedua orang tua dan rukun dengan saudara.
  • Pandai dan dapat menjaga lisan atau bicaranya.
  • Pandai dalam mengatur dan menata waktu dan dapat menjaga amanat yang diterimanya.
  • Senantiasa menjaga dirinya dari dosa-dosa meskipun dosa kecil
  • Pemahaman akan syariat dan aturan Islam yang tidak terbata-bata
  • Selalu berprasangka baik kepada setiap orang
  • Ramah dan simpatik kepada orang lain.
Kriteria calon pasangan hidup dari sisi keturunan

Bagi seorang muslim, hendaknya memilih calon istri dari nasab atau keturunan yang berasal dari keluarga muslim yang taat dalam beragama, status sosial yang baik serta terpandang di lingkungan masyarakat. Dengan memperoleh istri yang berasal dari keluarga yang baik agamanya, status sosialnya maka dapat diharapkan akan lahir keturunan yang baik. Karena lahirnya keturunan yang baik dari keluarga yang baik adalah salah satu perintah Allah yang tercantum di dalam al-Qur’an.

Dalil firman Allah swt. dalam al-Qur’an

وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا ٩

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Qs. An-Nisa: 9


Namun, kondisi yang sebaliknya, apabila nasab atau garis keturunan dari istri berasal dari keluarga yang kurang baik dari agamanya, status sosialnya dan mempunyai citra atau pandangan yang buruk dari masyarakat seperti dari kalangan pemabuk, penjahat atau dari keluarga yang berantakan. Maka kesemuanya itu niscaya sedikit banyak akan mempengaruhi kepribadian dan jiwa dari istri. Dimana peranan istri nantinya adalah menjadi pendidik bagi anak-anak yang dilahirkannya. Apa yang sudah dirasakan oleh sang ibu pastilah akan langsung tercetak dengan begitu saja kepada keturunannya.

Pertimbangan kriteria calon istri dari nasab yang baik seperti keterangan di atas, tidak serta merta menjustifikasi dan melarang untuk menikah dengan wanita atau calon istri yang secara kebetulan keluarganya kurang baik. Karena tidak menutup kemungkinan dan bukan hal yang tidak mungkin bahwa suatu keluarga akan kembali ke jalan Islam yang baik dan terang dengan ijin dan petunjuk Allah swt.

Akan tetapi yang menjadi pertimbangan penting adalah seberapa jauh dan besar faktor keturunan atau nasab keluarga ini akan berpengaruh kepada calon istri. Di samping itu, vonis pandangan masyarakat dan status sosial yang kurang baik akan tetap disandang dan tersemat dan pada kasus-kasus tertentu akan sangat susah untuk hilang dengan sendirinya. Tidak sedikit, status yang buruk tersebut memerlukan waktu yang lama untuk menghilangkan cap buruk yang terlanjur diberikan oleh masyarakat sekitar.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Oleh sebab itu, apabila terdapat pilihan calon pasangan atau calon istri yang lebih baik dalam hal nasab atau keturunannya maka seseorang berhak memilih pilihan terbaik yaitu yang mempunyai garis keturunan atau nasab yang baik dalam hal agamanya, status sosial dan pandangan dalam masyarakat.

Kriteria calon pasangan hidup dari sisi harta dan kecantikan

Tentang kecantikan dan dan harta ini adalah merupakan nilai tambah. Yang lebih utama berdasarkan anjuran dari dalil hadits Nabi dalam menentukan kriteria untuk memilih calon istri atau suami yang baik hendaknya lebih mengutamakan agama dan nasabnya.

Awal terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah dimulai dari mencari dan memilih kriteria calon pasangan hidup. Dengan terciptanya keluarga yang sesuai dengan ajaran Islam fainsya Allah akan dapat dijadikan sebagai modal dalam mengumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak yang kekal.

loading...

Wednesday, December 9, 2015

Sudahkah Ijab Kabul kita Sah Sesuai Syariat?

Sudahkah Ijab Kabul kita Sah Sesuai Syariat?

Dalam bab pernikahan terdapat rukun-rukun nikah yang wajib dipenuhi yang salah satunya adalah ijab kabul. Dalam ajaran Islam, ijab kabul yang sah dan sesuai dengan syariat Islam harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Dalam satu majlis yang sama

Pelaksanaan akad nikah dengan satu ijab kabul wajib hukumnya dilakukan dalam sebuah majelis, pertemuan, musyawarah atau di dalam sebuah persidangan yang sama. Yang mana keduanya sama-sama ada dan hadir secara utuh dan penuh baik jasad maupun ruhnya. Termasuk di dalamnya adalah kesinambungan antara ijab dan kabul yang tidak ada jeda dengan perkataan lainnya yang dapat membuat keduanya tidak terkait.

Pendapat yang menyatakan bahwa di antara ijab dan kabul itu wajib bersambung dengan kata lain tidak ada jeda waktu sedikitpun adalah pendapat dari Madzhab Sayfi’i. sedangkan menurut pendapat yang lain menyatakan bahwa ijab dan kabul tidak diharuskan langsung bersambung. Apabila di antara ijab dan Kabul terdapat jeda waktu, namun jeda waktu tersebut tidak terdapat perkataan lain, seperti mengambil nafas atau yang lain dan hal ini tidak menjadikan berbeda maksud dan makna ijab kabul, maka ijab kabul tetap sah. Hal ini sebagaimana tertulis dalam Kitab al-Muhgni.

Baca juga Tujuan Pernikahan dalam Islam
Baca juga Syarat Nikah dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi
Baca juga Bolehkah pesta pernikahan dalam Islam
Baca juga Nasehat Islami Imam Abu Hanifah
Baca juga Empat Imam Madzhab besar dalam Islam

2. Wali dan suami Saling mendengar dan mengerti maksud dari ijab dan kabul.

Syarat sah ijab Kabul berikutnya adalah di antara suami dengan wali saling mendengar dan mengerti perkataan ijab Kabul atau apa yang diucapkan. Jika kedua belah pihak tidak mengerti apa yang diucapkan oleh kedua belah pihak sebagai lawan bicara, maka akad nikah tersebut tidak sah secara syariat Islam.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Lafadz atau bacaan Ijab Kabul

Haruskah dengan bahasa arab?

Dalam membaca lafadz atau bacaan ijab dan Kabul tidak diwajibkan menggunakan bahasa arab. Akan tetapi diperbolehkan menggunakan bahasa apapun dengan syarat kedua belah pihak yaitu wali dan suami mengerti maksud dari yang diucapkan oleh keduanya.

Hendaknya dalam ijab menggunakan kata nikah, kawin atau kata lain yang mempunyai makna serupa dengan keduanya. Apabila menggunakan kata memiliki, hibah,membeli dan atau kata lain sejenisnya hal yang demikian tidak dibenarkan oleh  As-Syafi’I, ‘Atho’ dan Ibnu Musayyid. Sedangkan Pendapat dari madzhab hanafi, Ats-Tsauri, Abu Tsaur, Abu ‘Ubaid dan Abu Daud hal yang demikian diperbolehkan.

Lafadz ijab Kabul harus dengan Fi’il Madhi

Di samping ketentuan di atas, para ahli ilmu fikih menyatakan bahwa lafadz ijab Kabul diwajibkan menggunakan format fiil madhi seperti Ankahtuka atau zawwajtuka. Fiil madhi (past) adalah kata kerja dengan keterangan waktu yang telah berlalu atau lampau. Apabila menggunakan fiil Mudhari’ yang mengandung arti sekarang dan juga yang akan datang. sehingga masih ada kemungkinan atau ihtimal bahwa akad nikah tersebut sudah terjadi atau belum lagi terjadi. Oleh sebab itu,apabila menggunakan fiil mudhari’’ secara hukum masih belum tentu terjadinya akad yang sah.

Bacaan atau lafadz ijab Kabul dalam dua bahasa.

Lafadz Ijab dan Kabul dalam Bahasa Indonesia.

Lafadz ijab yang diucapkan oleh wali atau yang mewakili wali:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيْمِ.  اَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَّالله ُ. وَ اَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.

(bacaan Istighfar dibaca sebanyak 3 kali)

SAUDARA/ANANDA _________________ BIN________________ . SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN _____________________YANG BERNAMA :_______________________.DENGAN MASKAWINNYA BERUPA : ______________________, TUNAI.

Lafadz Kabul yang dibaca oleh suami :

SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA _______________ BINTI _______________DENGAN MASKAWINNYA YANG TERSEBUT TUNAI.

lafadz Ijab dan Kabul dalam bahasa Arab.

Lafadz Ijab yang dibacakan oleh wali atau yang mewakili wali:

اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ * بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِِِ الرَّحِيْمِ *
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ … ×3 مِنْ جَمِيْعِ الْمَعَاصِيْ وَالذُّنُوْبِ وَاَتُوْبُ ِالَيْهِ
اَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَّالله ُ * وَ اَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ *
بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ للهِ سَـيِّدِنَا مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِاللهِ وَعَلى آلِهِ وَاَصْحَا بِهِ وَمَنْ تَبِـعَهُ وَنَصَـَرهُ وَمَنْ وَّالَهُ – وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ اَمَّا بَعْدُ : أُوَصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَي الله فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْن -
يَا ……….. بِنْ ………… ! اَنْكَحْـتُكَ وَزَوَّجْـتُكَ ِابْنَتِيْ ………………………….. بِمَهْرِ ………….. نَـقْدًا.

Lafadz Kabul yang dibaca oleh suami :

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيـْجَهَا بِالْمَهْرِالْمَذ ْكُوْرِ نَـقْدًا

3. Tidak bertentangan antara ijab dengan Kabul

Syarat sah Ijab dan Kabul selanjutnya adalah tidak bertentangan antara ijab dengan Kabul. Maksudnya adalah bahwa suatu contoh lafadz ijab yang diucapkan oleh wali atau yang mewakili wali adalah : Aku nikahkan kamu dengan anakku dengan mahar 2 juta. Kemudian lafadz Kabul yang diucapkan oleh suami adalah saya terima nikahnya dengan mahar 1 juta. Maka, antara keduanya tidak nyambung. Sehingga ijab Kabul seperti ini adalah tidak sah.

Akan tetapi, apabila jumlah banyaknya mahar yang disebutkan oleh suami dalam lafadz Kabul nilainya lebih tinggi dari yang dilafadzkan oleh wali dalam lafadz ijab, maka hal yang demikian hukumnya adalah  sah.

4. Kedua belah pihak sudah tamyiz

Syarat selanjutnya adalah Tamyiz atau mumayiz. Mumayiz dalah suatu keadaan dimana seseorang telah mengetahui dan mengerti serta dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Oleh sebab itu, kedua belah pihak baik wali maupun suami harus memenuhi syarat sudah tamyiz atau mumayiz. Sehingga apabila salah satu dari wali atau suami belum tamyiz maka ijab Kabul tersebut tidak sah. Apalagi jika kedua belah pihak baik wali maupun suami belum tamyiz, maka lebih tidak sah lagi ijab kabulnya.

Pernikahan adalah merupakan hal yang sakral. Bagi umat Islam tentunya harus memenuhi syarat-syarat sesuai dengan syariat Islam, termasuk syarat-syarat sahnya ijab dan Kabul dalam pernikahan, dengan demikian pernikahan menjadi sah sesuai syariat Islam sebagai salah satu amal ibadah ketika di dunia yang hanya sementara.
loading...

Monday, November 30, 2015

Mencari Istri Sholehah Berdasarkan Hadits Nabi

Mencari Istri Sholehah Berdasarkan Hadits Nabi

Setiap manusia yang ada di mula bumi ini sudah ditakdirkan oleh Allah untuk berpasang-pasang.  Hal ini adalah sebagaimana firman Allah swt. dalam surat-surat an ayat berikut ini: Al-Hujurat 49: ayat 13, an-Nisa: 4: ayat 1, an-Nahl:16: ayat 72, At-Taubah: 9: ayat 71. Meskipun demikian, manusia juga diberi keleluasaan oleh Allah untuk mengubah nasib mereka sendiri-sendiri. Dalam hal ini, maka manusia wajib melakukan usaha terbaik untuk dapat mendapatkan jodoh yang terbaik dalam Islam yaitu yang sholeh dan sholehah.


Firman Allah swt. dalam al-Qur’an tentang dalil perkawinan:

وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An-Nur: 32).


http://islamiwiki.blogspot.com/
Berikut ini adalah beberapa pedoman, atau rambu-rambu yang bersumber dari dalil hadits Nabi Muhammad saw. untuk mendapatkan jodoh wanita atau istri yang sholehah.

Pedoman pertama adalah baik dalam empat hal terutama agamanya

Apa empat tersebut, di terangkan dalam sebuah hadits Nabi yang artinya sebagai berikut: hendaknya seseorang memilih istri sholehah dengan syarat-syarat sebagai berikut: Wanita itu dinikahi karena empat hal yaitu hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka hendaknya engkau utamakan wanita yang memiliki agama, (jika tidak) niscaya kedua tanganmu akan berdebu (miskin, merana. Hadits riwayat Al-Bukhari)

Dari hadits di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dari ke empat hal tersebut, kriteria atau syarat yang paling menjadi prioritas dan utama adalah kebaikan dalam agamanya. Setelah itu baru tiga kriteria yang lain.

Carilah Wanita yang sholehehah.

"Dunia semuanya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah''. Hadits riwayat Muslim (1468), cet. Abdul Baqi; dan riwayat An-Nasa'i dari Ibnu Amr, Shahihul Jami', hadits no


Carilah Wanita/Istri yang beriman

"Hendaklah salah seorang dari kamu memiliki hati yang bersyukur, lisan yang selalu dzikir dan isteri beriman yang menolongnya dalam persoalan akhirat". (Hadits riwayat Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Tsauban, Shahihul Jami')


Terdapat 3 kategori iman yang sempurna yaitu membenarkan dengan hati, kemudian pengakuan tersebut diikrarkan dalam bentuk lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Dalam Islam dikenal enam rukun iman, yaitu Beriman kepada ALLAH SWT, Beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Beriman kepada Kitab-kitab Allah, Beriman kepada Rasul-rasul-Nya, Beriman kepada Hari Kiamat dan Beriman kepada Qada dan Qadar.

Baca juga Hari kiamat

Juga diriwayatkan dalam hadits lain: dan isteri sholehah yang menolongmu atas persoalan dunia dan agamamu adalah sebaik-baik (harta) yang disimpan manusia". Hadits riwayat Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab dari Abu Umamah.

Wanita yang subur dan penuh cinta

Dalil hadits Nabi Muhammad saw.: Kawinilah perempuan yang penuh cinta dan yang subur peranakannya. Sesungguhnya aku membanggakan dengan banyaknya jumlah kalian di antara para nabi pada hari Kiamat.. hadits sahih, riwayat Imam Ahmad dari Anas.

Wanita yang dapat memberi keamanan dan ketentraman hati.

Dalil hadits Nabi: Dan di antara kebahagiaan adalah wanita sholehah, engkau memandangnya lalu engkau kagum dengannya, dan engkau pergi daripadanya tetapi engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu, dan jika engkau pergi daripadanya engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu" Hadits sahih riwayat Ibnu Hibban dan lainnya.

Wanita masih gadis dan Qanaah

Hendaknya memilih calon istri yang yang masih gadis dan Qanaah sebagai dalil hadits Nabi saw.

Dalil hadits Nab saw.: (Nikahilah) gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih banyak keturunannya, lebih manis tutur katanya dan lebih menerima dengan sedikit (qana'ah)". Hadits riwayat lbnu Majah, dan alam As-Silsilah Ash-Shahihah.

Dalam riwayat hadits lain diterangkan : "Lebih sedikit tipu dayanya". Sebagaimana wanita sholehah adalah merupakan salah satu sebab dari empat sebab kebahagiaan maka sebaliknya wanita yang tidak sholihah adalah salah satu sebab dari empat penyebab kesengsaraan. Seperti tersebut dalam hadits shahih.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian.

Juga perlu diperhatikan adalah keadaan orang yang meminang wanita sholehah yang akan menjadikan wanita sholehah ini sebagai istri. Yaitu baru mengabulkan permintaan untuk meminang setelah memenuhi beberapa syarat berikut ini: apabila datang seseorang kepadamu yang engkau rela terhadap akhlak dan agamanya maka nikahkanlah, apabila tidak kamu lakukan niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar. Hadits sahih riwayat Ibnu Majah.

Untuk mengetahui akhlak dan agamanya, hendaknya terlebih dahulu dilakukan pencarian informasi, penelitian dan hal sejenisnya dari berbagai sumber yang dapat dipercaya dan akurat. Sehingga kelak nantinya tidak merusak dan menghancurkan rumah tangga yang dibangun oleh yang bersangkutan.

Laki-laki yang sholeh apabila mendapatkan jodoh atau istri yang sholehah akan dapat membangun rumah tanggal yang baik. Sebab, sejatinya, Negeri yang baik dan dengan izin Allah swt. akan juga dapat melahirkan tanaman-tanaman yang baik pula, sedangkan negeri yang buruk tidak akan keluar tanaman daripadanya kecuali dengan susah payah.
loading...