Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Mendidik Anak. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Mendidik Anak. Show all posts

Saturday, May 31, 2014

no image

Berolahraga, Membaca adalah Pengamalan Firman Allah

Mari kita bersama-sama anak memulai latihan olahraga dan mengajarkan anak untuk membaca. Dimana olahraga mempunyai maksud dan tujuan tertentu dalam islam dengan aturan tertentu dalam berolahraga. Disamping itu, Olahraga mempunyai arti penting dalam islam dan ilmu kedokteran Begitupun juga dengan membaca adalah jalan untuk mencari dan menuntut ilmu yang sangat dianjurkan oleh islam dalam menuntut ilmu serta akan mendapat kemuliaan bagi si pemilik ilmu dan ilmu itu sendiri

Hal ini merupakan pengamalan dari firman Allah Ta'ala:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (Q.S. 8: 60)
Dan sebagai realisasi sabda Rasulullah saw.:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اﷲِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ٠

"Orang Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang Mukmin yang lemah, dan masing-masing ada baiknya (selama ia Mukmin)".

Bertitik tolak dari contoh-contoh penyegaran, sikap-sikap hiburan, dan prinsip-prinsip pembentukan dan persiapan, yang karakteristiknya telah digariskan oleh Nabi Muhammad saw. dan ditampakkan penerapannya dalam kenyataan, agar menjadi teladan yang baik bagi para pendidik.
 
Latihan olahraga ini hendaknya mencakup segala macam olahraga terutama olahraga yang dianjurkan dalam islam, yaitu antara lain olahraga, lari, menunggang kuda, memanah, gulat, mengangkat benda-benda berat dan lain sebagainya.

Sungguh baik dan indah apabila para pendidik, orang tua bersama orang-orang yang berhak mendapatkan pendidikan ketika mereka menggabungkan antara ibadah dan jihad di jalan Allah, ruhani dan persiapan fasilitas kekuatan, kesungguhan dan senda gurau, agama dan dunia, kehidupan dunia dan kehidupan akherat.

Betapa mulianya di sisi Allah dan dalam pandangan manusia ketika arahan dan perilakunya menampakkan realitas Islam, me­nampakkan toleransi agama yang diridhai Allah dan mu'amalah yang bagus antara anak-anak sebagai jantung hati kita!

Hendaknya kita membaca dan juga membimbing sang anak untuk membaca bacaan yang edukatif kultural:

Hal ini merupakan pengalaman dari firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:. . . dan katakanlah, "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". (Q.S. 20: 114)

Juga sesuai dengan sabda Rasulullah saw.:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اﷲُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ٠

"Barang siapa meniti jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga". (H.R. Muslim)

Dalam membimbing anak berkaitan dengan bacaan kultural, jika sebagai murid sekolah, maka bacaan hendaknya berkait dengan pelajaran yang di sekolah. Ketika pagi hari di sekolahm membaca buku-buku pelajaran-pelajaran yang akan datang atau mengulang pelajaran yang telah lalu. Dalam islam tidak ada larangan untuk menggabungkan antara membaca pelajaran sekolah dan membaca pengetahuan umum, hal ini bertujuan agar sang anak berpikiran matang dan mempunyai ilmu penge­tahuan yang luas.

Apabila anak  adalah seorang yang sudah bekerja sebagai seorang pekerja atau buruh, bacaan yang hendaknya dibaca oleh anak adalah  bacaan yang berkaitan dengan pengetahuan umum. Sepanjang pagi duduk membaca apa yang dapat ia baca berkenaan dengan ilmu pengetahuan umum, sehingga ia mencapai tingkatan yang layak dalam kematangan akal, kesadaran intelektual dan globalitas pengetahuan.

Tidak ada halangan bagi para pendidik, dan juga orang tua untuk meminta pertolongan kepada beberapa pengajar atau anak-anak yang telah dewasa dalam upaya membentuk anak-anak secara praktis, mempersiap­kan diri dengan pelajaran dan pengetahuan. Upaya ini dilakukan para pendidik, jika ia tidak mempunyai kesempatan mengajari anaknya secara langsung dan mengarahkannya pada kemampuan Intelektual.

Tuesday, May 20, 2014

no image

Meningkatkan Motivasi Anak Untuk Bekerja

Bagaimana cara untuk membangkitkan motivasi anak untuk mendapatkan peker­jaan mencari nafkah, rizki dengan cara yang paling baik? Tanggung jawab terpenting yang harus dihadapi pendidik, orang tua terhadap anaknya adalah memberi dorongan untuk mendapatkan pekerjaan yang bebas, baik pertukangan, pertanian atau perniaga­an sebagaimana contoh-contoh bukti kisah para Nabi yang menegaskan begitu penting dan mulianya pekerjaan, mencari nafkah dan rizki.

Minat bekerja untuk mencari pekerjaan guna mendapatkan nafkah dan rizki harus mulai ditanamkan sejak usia muda, dilatih bekerja pada berbagai keahlian dan pertukangan. Upaya tersebut dilaksanakan setelah melewati masa pendidikan sekolah dasar untuk mempelajari kaligrafi, bahasa Arab, mempelajari Al-Qur'an dan keharusan mempelajari ilmu-ilmu syari'ah, sejarah dan pengetahuan alam semesta, dalam rangka mempersiapkan anak untuk mencari pekerjaan untuk rizki dan nafkah dengan usaha dan keringatnya sendiri.

Dengarkan apa yang dikatakan Ibnu Sina tentang ajaran pertukangan dan ketrampilan: "Jika sang anak selesai mem­pelajari Al-Qur'an, menghafal kaidah-kaidah pokok bahasa, maka ketika itu harus dilihat minatnya dalam hal ketrampilan, diarah­kan dan dibukakan jalannya. Jika ia berminat pada bidang tulis menulis, maka di samping diajarkan ilmu bahasa, juga ditambah pelajaran tentang risalah, khutbah, wawancara kepada orang-orang yang penting dan lain sebagainya. Juga dilatih ilmu hitung, di bawa masuk ke "dewan" untuk mempelajari kaligrafinya. Jika ia menginginkan yang lain, hendaknya diarahkan".

Mempelajari Al-Qur'an untuk mengetahui pokok-pokok bahasa merupakan bagian materi pengkajian asasi dalam metodo­logi Islam. Jika sang anak menguasai dua materi ini, harus di­perhatikan minat dan kecenderungannya dan kemampuannya. Kemudian, dibimbing dalam menuju kecenderungan itu sehingga ia mampu mengerja­kan dengan baik.

Masalah-masalah yang menunjukkan perhatian kaum Mus­limin terhadap ketrampilan mencari rizki, di bawah ini kami ketengahkan kisah orang-orang yang memegang profesi sebagai ahli kaligrafi.

Menjelang wafatnya ayah Imam Al-Ghazali, sang ayah menitipkan Al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad, kepada teman dekat­nya yang sangat mencintai kebaikan. Sang ayah mengatakan, "Kaya sangat menyesal, karena tidak pernah belajar khath (kali­grafi). Saya ingin, penyesalan seperti ini tidak diulangi lagi oleh kedua anakku ini, Muhammad dan Ahmad. Ajarilah keduanya itu Khath. Jika harta warisanku yang kuberikan pada kedua anakku ini sampai habis, bagi saya tidak menjadi persoalan, untuk belajar darimu".

Setelah sang ayah wafat, mulailah ahli sufi itu mengajar kedua anak itu, sehingga harta warisan peninggalan ayahnya habis. Kedua anak itu pun minta maaf kepada sang ahli sufi, gurunya, karena tidak dapat memberinya makan.

Ahli sufi itu mengatakan, "Ketahuilah, bahwa saya telah membelanjakan untukmu berdua apa yang menjadi milikmu. Sesungguhnya, saya adalah seorang fakir, zahid, tidak mem­punyai harta untuk menolong kamu berdua. Saya berpendapat bahwa yang paling sesuai untuk kamu berdua adalah pergi ke se­kolah-sekolah kamu sebagian dari para siswa. Dengan demi­kian, kamu akan mendapatkan makanan pokok yang dapat mem­buat kehidupan.

Maka kedua anak itu, Muhammad (Al-Ghazali) dan Ahmad melaksanakan arahan ahli sufi tersebut. Cara inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan keluhuran derajatnya. Imam Al-Ghazali menuturkan kisah ini dengan perkataannya, "Kami mencari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu yang kami dapat semata-mata untuk Allah".

Membedakan anak dalam mengajarkan pendidikan keterampilan dan pertukangan

Kita harus membedakan antara dua anak dalam mengajarkan ketrampilan dan pertukangan:

1. Golongan yang berhasil dalam belajarnya.

Pada umumnya, mereka adalah orang-orang pandai dan cer­dik. Orang-orang seperti ini, disarankan untuk meneruskan (studi) hingga selesai. Tetapi pada waktu-waktu libur atau senggang, mereka hendaknya belajar ketrampilan, pertukangan atau keahlian tertentu sesuai dengan bakatnya masing-masing. Sebab, mereka lidak mengetahui kejadian yang akan dihadapinya pada masa yang akan datang. Adalah benar orang yang berkata, "Ketrampilan tangan akan menghindarkan kefakiran". Semoga Allah melimpahkan ridha-Nya kepada Umar bin Khaththab ketika berkata, "Se­sungguhnya saya melihat seseorang yang mengherankan aku, maka aku bertanya, " 'Apakah ia punya ketrampilan?' Jika mereka mengatakan, 'Tidak', maka orang yang saya kagumi itu tidak ada harganya lagi di mataku".

2. Golongan yang tertinggal atau lamban dalam belajarnya. 

Pada umumnya, mereka adalah orang yang mempunyai kecerdasan per­tengahan atau bodoh. Anak-anak seperti ini, setelah diajarkan masalah yang berkaitan dengan agama dan kehidupan dunia harus segera diarahkan pada suatu ketrampilan dan spesialisasi pertu­kangan. Pada waktu itu, orangtua atau pendidik hendaknya mengerti akan ketidakmampuan mereka dalam mencari ilmu yang lebih dari itu. Adalah sangat keliru orangtua (wali murid) meneruskan studi mereka, sedang kemampuan otak sangat ter­batas.

Berapa banyak kita mendengar kejadian tentang anak-anak yang telah mencapai usia remaja. Mereka tidak mendapatkan ilmu pengetahuan dan belum belajar ketrampilan. Hal ini disebab­kan kekurangan pandangan orangtua atau pendidik dalam menem­patkan anak, bukan pada tempat yang sesuai. Bisa saja mereka hidup menjadi tanggungan orang lain, mengharap. belas kasihan dan pemberian orang. Atau, secara bertahap meniti "anak tangga" kriminal untuk merampas harta orang lain, mengganggu keamanan dan ketenteraman. Dalam kedua keadaan seperti itu, terdapat penodaan kehormatan manusia dan penghinaan terhadap kepri­badiannya.

Dengan demikian para orangtua dan pendidik hendaknya berlaku waspada dalam menghadapi kenyataan ini, agar mereka mengetahui bagaimana mempersiapkan anak-anaknya untuk me­ngarungi bahtera kehidupan, mempersiapkan untuk menerima tugas yang paling berat dan tanggung jawab yang paling besar.

Motivasi Pada anak perempuan

Akan halnya, wanita wajib mempelajari ketrampilan yang sesuai dengan tugas dan spesialisasinya sebagai ibu dan istri, baik berhubungan dengan pokok-pokok pendidikan anak, tugas-tugas rumah, ketrampilan menjahit dan ketrampilan lain yang bermanfaat dan dibutuhkan.

Sedang pekerjaan dan tanggung jawab lainnya, Islam mem­berikan peringatan:

Karena pekerjaan dan tanggung jawab tersebut tidak sesuai dengan kondisi jasmani dan karakter kewanitaannya. Misalnya, pergi ke medan jihad, menjadikannya sebagai ahli bangunan atau pandai besi. Karena pekerjaan tanggung jawab itu bertentangan dengan tugas alaminya. Sebab, ia diciptakan untuk menghadapi tugas tersebut sehingga tidak layak wanita bekerja di luar rumah se­bagai buruh di pabrik atau pegawai pada sebuah perusahaan, Sedang ia mempunyai suami, anak dan tugas-tugas rumah.

Karena pekerjaan dan tanggung jawab itu jika dilakukan akan menimbulkan kerusakan sosial yang berbahaya. Misalnya, keharusan berada dalam lingkungan atau tugas yang di dalam­nya bercampur baur antara laki-laki dan wanita yang berdasarkan ajaran dan fitrah islam itu bisa menjadikan fitnah dan dilarang bercampur baur antara laki-laki dan wanita.

Menurut pandangan orang-orang yang berpikir matang, buhwa sikap Islam "mentidak-usahkan" pada wanita melaku­kan pekerjaan dan tanggung jawab di atas, berarti Islam sangat menghargai kaum wanita, memelihara kewanitaannya, meninggi­kan kehormatan dan martabatnya.

Jika tidak, siapakah yang rela jika wanita melakukan pe­kerjaan dengan meninggalkan tugas-tugas, di mana ia dicipta­kan untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut?

Siapa yang rela wanita melakukan pekerjaan berat yang melelahkan badan, menghilangkan sifat kewanitaan, menyebab­kan sakit dan cedera?

Siapa pula yang rela wanita menerjunkan diri dalam peker­jaan campur baur yang menyebabkan kehormatannya ternoda dan harga dirinya jatuh?

Adakah yang lebih berharga bagi wanita dibanding kehor­matan dan harga dirinya?

Kesimpulannya: hendaklah kita mengarahkan anak-anak kita untuk mendapatkan ketrampilan dan keahlian untuk mencari pekerjaan dan menghasilkan nafkah dan rizki dari tangannya sendiri. Sehingga, dapat dijadikan sandaran dalam memelihara kehormatan, men­jaga kepribadian dan merealisasikan  kehidupan yang layak bagi mereka !

Wednesday, May 7, 2014

no image

Mengingatkan Sesuatu yang Haram Pada Anak

Satu segi peringatan yang harus diperhatikan pendidik dan juga orang tua ada­lah peringatan dari sesuatu yang haram. Haram, seperti batasan yang diberikan ulama ushul, adalah yang diminta oleh syari'at untuk meninggalkan sama sekali, dan bagi yang tidak meninggal­kannya, disediakan hukuman Allah di akherat, atau hukuman syari'at di dunia. Seperti membunuh baik membunuh tanpa disengaja ataupun membunuh orang yang tidak bersalah, dosa berzina, minum minuman yang memabukkan, main judi, memakan harta anak yatim, curang dalam ukuran dan timbangan.

Tidak heran jika Nabi saw. memerintahkan kepada para pendidik untuk membiasakan anak-anaknya sejak kecil dan mentaati perintah dan menjauhi larangan, termasuk membuka­kan mata mereka terhadap hukum halal dan haram, sehingga menjadi pengetahuan yang melekat. Ibnu Zarir bin Ibnu Mundzir diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. secara marfu' kepada Rasulullah Saw.:

اِعْمَلُوْا بِطَاعَةِ اﷲِ ٬ وَاتَّقُوْا مَعَاصِيَ اﷲِ ٬ وَمُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِامُتِثَالِ الأَوَامِرِ وَاجْتِنَابِ النَّوَاهِى ٬ فَذَلِكَ وِقَايَةٌ لَهُمْ مِنَ النَّارِ ٠
  
"Bekerjalah dengan taat kepada Allah, dan jauhkanlah dari mendurhakai Allah. Suruhlah anak-anakmu mentaati perintah dan menjauhi larangan. Hal tersebut adalah penjagaan diri mereka dari api neraka".

Hendaknya para orang tua dan pendidik mengerti bahwa sesuatu yang halal adalah yang dihalalkan Allah Ta'ala, sedang haram adalah yang diharamkan Allah Ta'ala. Halal adalah diperbolehkan dan haram adalah dilarang. Seorang manusia, bagaimana pun kedudukannya, tidak dapat mengharamkan sesuatu yang dibolehkan Allah Ta'ala, dan tidak dapat membolehkan apa saja yang diharamkan Allah 'Azza wa Jalla. Siapa pun berbuat seperti itu, ia telah melewati batas dan melewati hak ketuhanan dalam pe­nentuan syari'ah. Dan barang siapa merestui perbuatan seperti itu, berarti ia telah menjadikan sekutu bagi Allah, dan mengingkari agama Allah, ingkar kepada Al-Qur'an yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw.

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (Q.S. 42: 21)
Al-Qur'an juga membuka kesalahan kaum musyrikin yang mengharamkan dan menghalalkan tanpa seizin Allah. Allah ber­firman:

Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang di­turunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal". Katakanlah, "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah1?". (Q.S. 10: 59)
Dari ini semua jelaslah bahwa Allah satu-satu-Nya yang berhak menentukan halal dan haram. Semua itu diterangkan secara detail dalam Kitab-Nya yang sempurna:

. . . padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang ter­paksa kamu memakannya ..." (Q.S. 6: 119)
Berdasar penjelasan ini, kita harus mencari hal-hal yang diharamkan dalam Kitabullah, Al-Qur'an atau Sunnah Nabi Muhammad saw. Sehingga, kita dapat memperingatkannya kepada segenap yang berhak kita arahkan dan didik. Tidak diragukan, bahwa nasihat yang diberikan terus menerus akan mendatangkan manfaat dan meninggalkan bekas. Air yang jatuh setitik demi setitik dapat melubangi batu. Pengajaran dan peringatan terhadap anak dapat menciptakan manusia yang mengikuti hudud Allah swt., mentaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, mematuhi hukum, halal dan haram, tidak goyah, tidak sesat dan tidak sengsara!
no image

Pengawasan pada Dekadensi Moral Anak

Para pendidik, orang tua dn kita semuanya hendaknya memberikan pengawasan peringatan tentang tempat-tempat yang buruk dan jahat kepada anak-anak dan siapa saja untuk menjauhi lingkungan atau tempat yang buruk dan jahat yang dampaknya adalah pada dekadensi moral atau kemunduran moral anak yang tidak sesuai dengan ajaran dan pedoman pendidikan anak secara islam.

Suatu hal yang tak seorang pun akan menyangkalnya adalah, bahwa pergaulan yang rusak adalah faktor yang cukup penting dalam hal penyimpangan anak secara kejiwaan dan moral. Lebih-lebih jika sang anak agak kebal, lemah dalam kaidah dan tidak memiliki keteguhan personalitas. Maka, dengan cepat ia terkena pengaruh dari pergaulannya dengan anak-anak nakal. Dengan cepat pula kebiasaan mereka berpindah kepada sang anak, bahkan mengikuti mereka, berjalan pada jalan kenistaan dengan langkah yang cepat, dengan kaki yang tetap. Sehingga, laku kejahatan merupakan pekerjaan sehari-hari, penyimpangan merupakan adat kebiasaan­nya yang sukar ditinggalkan. Ketika itu, teramat sukarlah bagi pendidik dan para orang tua untuk mengembalikan anak pada jalan yang lurus, dan menyelamatkannya dari jurang kenistaan itu.

Islam dengan ajaran-ajarannya yang edukatif, mengarahkan para orang tua baik ayah dan ibu serta para pendidik agar mengawasi sepenuhnya terhadap anak-anak, khususnya ketika menginjak usia mumayyiz dan pubertas, agar mereka mengetahui dengan siapa anak-anak itu bergaul. Islam juga mengarahkan mereka agar memilihkan untuk anak-anaknya teman yang baik agar dapat mengambil akhlak yang baik, etika yang tinggi dan kebiasaan utama.

Bahkan, Islam juga mengarahkan mereka agar memperingat­kan anak-anaknya dari bergaul dengan orang-orang jahat, sehingga anak-anak tersebut tidak terperangkap dalam kejahatan dan kesesatan mereka.

Berikut ini adalah dalil-dalil dari Al-Qur'an dan hadits, berkenaan dengan memilih teman yang baik dan menjauhi teman yang jahat.

Peringatan dari Dekadensi Moral

Terdapat berbagai gejala sangat membahayakan yang banyak ter­dapat pada anak-anak. Sehingga dalam masalah ini, pendidik harus mem­perhatikan dan memperingatkannya. Berikut  ini adalah gejala-gejala yang membahayakan tersebut, agar hendaknya kita para orang tua dan pendidik serta para guru agama islam dapat meningkatkan kewaspadaan kita terhadap mereka:

Dalam tanggung jawab pendidikan moral kepada anak antara lain adalah dekadensi moral dusta atau bohong, dekadensi moral mencuri, dekadensi moral sumpah serapah dan mengecam, gejala dekadensi moral.

Dalam tanggung jawab pendidikan jasmani antara lain gejala merokok, gejala masturbasi, Gejala minuman memabukkan dan obat bius, Gejala zina dan homoseks.

Para ahli pendidikan dan moral sepakat bahwa gejala-gejala di atas itu merupakan gejala paling berbahaya yang mengancam moral dan tingkah laku anak.

Jika para pendidik dan juga para orang tua tidak memberikan peringatan, pengawasan dan nasihat kepada mereka, maka tidak diragukan, anak-anak akan terjerumus ke jurang kenistaan yang paling dalam. Ketika itu, cenderung mustahil bagi setiap pendidik untuk mengangkatnya, mengembalikan pada jalan yang lurus, mengikatnya dengan kebenaran, membukakan mata mereka kepada jalan cahaya dan petunjuk. Bahkan, akan menjadi alat untuk menghancurkan masyarakat, mengganggu keamanan, dan setiap orang takut akan kejahatannya.

Jika anda ingat dan mengetahui akan bahaya dan malapetaka yang di­timbulkan dari bahaya dusta, bahaya mencuri, bahaya sumpah palsu, mengecam, deka­densi moral, akibat merokok, bahaya masturbasi, bahaya dan dosa minuman yang me­mabukkan dan obat bius, bahaya zina dan bahaya homoseks, bahaya masturbasi dan akan menjalani kewajiban untuk kedua kalinya dalam memperingatkan anak dari malapetaka spiritual dan moral ini, atau dari bahaya kesehatan dan jasmani.

Pada kesempatan itu, hendaknya anda mengemukakan pendapat para dokter dan orang-orang ahli dalam mengungkapkan (penemuan) mereka tentang bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh kerusakan-kerusakan tersebut kepada anak, dan memperingatkan mereka dari bahaya dan malapetakanya. Perkataan mereka itu, terkadang dengan majalah-majalah ilmiah, buku-buku spesial, atau brosur- brosur peringatan.

Jika kita memakai metode pengawasan dan peringatan serta nasehat ini dalam setiap kesempatan dan terus menerus, maka sang anak akan menjauhkan diri dari setiap gejala yang merusak moral, dari yang membahayakan kesehatan. Bahkan akan mempunyai pemahaman dan kesadaran, sehingga ia mampu memperingatkan orang lain, selain memperingati dirinya sendiri.

Hendaknya kita senantiasa menjalankan tanggung jawab ini terhadap anak-anak sesempurna mungkin, agar mereka ter­golong orang-orang saleh, bertakwa kepada Allah, dan teladan yang dihormati dan diikuti.

Friday, May 2, 2014

no image

Mensucikan Niat dan Tujuan Berolahraga

Menyambung pada bahasan tentang Tujuan & Maksud Olahraga dalam Islam, Pendidik yang mengajarkan pendidikan anak dan memben­tuknya dari segi kesehatan jasmani/tubuh/raga dan rohani/jiwa, agar membisikkan di telinga anaknya, bahwa apa yang dilakukan, latihan olahraga jasmani, latihan kemiliteran dan perang ini, adalah dengan niat dan tujuan untuk menguat­kan kesehatan jasmani dan rohaninya, untuk persiapan perang dan jihad dalam arti yang sangat luas. Jihad melawan hawa nafsu, jihad perang, jihad dakwah islamiyah, jihad berbakti kepada orang tua dan berbagai macam jihad lainnya. 

Sehingga, jika telah mencapai usia yang sesuai untuk menanggung tugas sehari-hari, dan memenuhi panggilan kewajiban dalam upaya merealisasikan kejayaan Islam dengan jihad, ia akan menunaikan tanggung jawab dan kewajiban secara sempurna penuh semangat.

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, tidak syak lagi bahwa bisikan yang dilakukan terus menerus, dan pengarahan yang tak henti-hentinya, insya Allah akan men­jadikan anak mempunyai niat yang suci dan memperhitungkan diri, bahwa apa yang ia lakukan berupa latihan-latihan olahraga dan latihan fisik lainnya adalah untuk merealisasikan dalil sabda Ra­sulullah saw.:

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اﷲِ مِنَ اَلْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ٠

"Orang Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang Mu'min yang lemah".

Dan sabdanya:

رَحِمَ اللَّهُ اِمْرَءًا أَرَاهُمْ مِنْ نَفْسِهِ قُوَّةً ٠

"Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada orang yang memperlihatkan kepada mereka bahwa dirinya kuat".

Dan apa yang ia lakukan berupa latihan militer dan persiapar jihad, itu adalah untuk melaksanakan perintah Allah dalam Al-Qur'an:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu. (Q.S. 8: 60)

Masih berhubungan dengan pendidikan olahraga pada anak, dengan niat yang suci ini dalam pendidikan jasmani untuk mencapai semangat jihad, berarti kita telah menghubungkan anak dengan Islam secara akidah dan pikiran, menghubungkannya dengan jihad, berani membela dan berkorban di jalan Allah, menghubungkannya dengan kewajiban sehari-hari dengan memberikar semangat. Dalam kesempatan itu pula, kita telah mempersiapkannya untuk menjadi salah seorang tentara Islam yang bekerja untuk dunia dan berjihad untuk agama. Dalam jiwanya yang tulus terdapat makna-makna mulia dari iman, akhlak, kemuliaan optimisme dan kejayaan Islam yang agung.

Dengan niat yang suci ini juga, sang anak dapat merasakan dari kedalaman perasaannya bahwa yang ia lakukan, latihan latihan itu, bukan termasuk permainan yang melalaikan dan sia-sia. Tetapi termasuk golongan pembentukan dan persiapan. Dengan perasaan yang jujur ini, ia maju berlatih dengan ketulusan niat, kejujuran kehendak, keterbukaan pikiran, semangat jiwa memanfaatkan waktu dan mengisi kekosongan.

Demikianlah sang anak akan berubah dengan perubahan yang baru ketika dibisikkan ke telinganya niat suci ini, ketika ia diberi pengarahan, ditanamkan dalam jiwanya kesadaran yang matang dan lurus.

Para pendidik dan orang tua, hendaknya mengerti bahwa pensucian niat anak tidak­lah khusus dalam latihan olahraga dan jihad saja. Tetapi mencakup semua kegiatan kehidupan lainnya, dan kenikmatan fisik yang termasuk dalam kelompok halal. Makan, minum, tidur, rekreasi dan bersenang-senang dengan segala kebaikan lainnya, yang dilakukan anak atau seorang Muslim dengan niat menjalankan perintah Allah dan menjauhi perbuatan haram, untuk menguat­kan jasmani agar lebih mampu menanggung tanggung jawab dan kewajiban.

Maka, semua pekerjaan dengan niat yang suci ini akan menjadi ibadah, yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta'ala. Oleh .karena itu, Rasulullah saw. memberitahukan bahwa seseorang akan mendapat pahala jika ia menyuapkan makanan ke mulut istrinya dengan niat untuk menghibur dan menyenangkannya. Beliau pun mengabarkan bahwa melepaskan syahwatnya melalui cara yang halal dengan niat menjauhkan diri dari dosa zina, dan untuk mendapatkan keturunan yang saleh, ia akan mendapat pahala. Berdasarkan ini, para ahli fiqh mengambil kesimpulan dari hadits-hadits tersebut di atas, dengan mengeluarkan ketentuan seperti ini: "Sesungguhnya niat yang suci merubah adat kebiasaan menjadi ibadah".

Karenanya, niat yang suci ini meninggalkan bekas yang besar dalam mendapatkan pahala, hendaknya kita menanamkan dalam jiwa anak pengertian niat suci ini, agar pekerjaannya semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah, sehingga selamanya ia mendapatkan pahala.

Demikianlah fenomena ikatan yang terpenting dalam meme­lihara akidah anak, tingkah laku dan keseimbangannya, menyem­purnakan spiritualnya dan serta memperkuat jasmaninya. Bahkan ini termasuk faktor terpenting dalam pendidikan anak sejak pertumbuhannya di atas iman yang kokoh, akhlak yang mulia, akal pikiran yang matang, spiritual yang berimbang, pikirannya yang penuh kesadaran, pamor sosial yang bersih dan suci.

Hendaknya kita senantiasa berusaha melaksanakan hubungan-hubungan ini secara cermat, dengan perasaan amanah, ikhlas, diterapkan dengan keteguhan kemauan, iman dan intensitas yang tinggi.

Jika kita dapat melaksanakan ini, maka kita akan melihat buah hati kita bagai purnama yang menyinari alam semesta, bagai matahari yang bersinar cemerlang, bagai bunga yang ber­kembang, bagai "malaikat" yang berjalan di atas permukaan bumi.

Dan katakanlah, ".Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu". (Q.S. 9: 105)

Thursday, May 1, 2014

no image

Aturan Allah dalam Berolahraga bagi Anak

Sang anak ataupun kita dalam tujuan berlatih jihad dan olahraga, hendaknya mengikuti (menjaga) hal-hal di bawah ini yang sudah ditentukan oleh Allah azza wajjala tentang batasan-batasan mengenai hal-hal yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam berolahraga:

Pakaian olahraga bagi anak, hendaknya menutupi aurat dari pusat hingga bawah lutut, sesuai dengan dalil sabda Rasulullah saw.:

Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Abu Ayub ra., ia berkata:


مَا فَوْقَ الرُّكْبَتَيْنِ مِنَ الْعَوْرَةِ ٬ وَمَا أَسفَلَ مِنَ السُّرَّةِ مِنَ العَوْرَةِ

Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Apa yang ada di atas lutut adalah aurat, yang berada di bawah pusar adalah aurat".

Al-Hakim meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwasanya beliau bersabda: 

مَابَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكُبَةِ عَوْرَةٌ

"Apa yang terdapat antara pusar dan kedua lutut adalah aurat".

Abu Daud, Al-Hakim dan Al-Bazzar meriwayatkan dari Al ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

لاَتُبْرِزْ فَخْذَيْكَ ٬ وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى فَخْذِ حَيٍّ  وَلاَ مَيِِّتٍ ٠

"Janganlah kamu tampakkan pahamu, dan janganlah kamu melihat kepada orang hidup atau mati".

Al-Bukhari dalam Tarikh-nya, Imam Ahmad, dan Al-Hakin meriwayatkan dari Muhammad bin Jahisy ra., ia berkata:

"Rasulullah saw. lewat kepada Mu'ammar yang kebetulan kedua pahanya tidak tertutup, maka beliau berkata, 'Ya Mu'am­mar, tutuplah kedua pahamu, karena sesungguhnya kedua paha itu adalah aurat".
'Uqbah bin 'Alqamah meriwayatkan dari Ali ra., ia berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ׃ َالرُّكُبَةِ مِنَ الْعَوْرَةِ

"Rasulullah saw. bersabda, Lutut adalah termasuk aurat".

Oleh karena itu, bagi pelatih tidak boleh memberikan pakaian olahraga kepada anak yang tidak menutup paha dan lututnya, karena kedua anggota badan ini termasuk aurat, sebagaimana tersebut dalam hadits-hadits shahih di atas tadi. Jika ia tidak memelihara batasan-batasan yang telah ditentukan Allah, maka ia berdosa yang harus dihadapi pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Olahraga hendaknya dilakukan di tempat yang jelas halal-haramnya:

Asy-Syaikhani meriwayatkan dari An-Nu'man bin Basyir ra. ia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ ، وَ  بَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَيَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِاسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَ عِرْضِهِ ، وَمَنْ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ٠

"Sesungguhnya halal itu nyata, dan haram itu nyata, dan di antara keduanya adalah perkara-perkara yang syubhat, yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa menjauhi perkara-perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang terperosok ke dalam syubhat, berarti ia telah terperosok ke dalam ha­ram ..."

Perkataan 'Aisyah dalam pengertian ini:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَلاَ يَقِفَنَّ مَوْقِفَ التُّهَمِ٠

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka janganlah ia berdiri pada posisi yang diragukan".

Dari Ali ra. bahwasanya ia berkata, "Hati-hatilah dengan apa yang terlebih dahulu hati mengingkarinya, meskipun kamu mempunyai alasan. Berapa banyak orang yang mendengar pengingkaran tidak dapat menerima alasan".

Karenanya, syubhat manakah yang lebih besar, ketika anak berlatih olahraga di lingkungan yang rusak, seperti latihan renang di kolam renang yang bercampur antara laki-laki dan wanita telanjang, atau berlatih gulat dan tinju di perkumpulan yang dicampur dengan tindak kemunkaran, seperti adanya minum-minum arak yang merupakan dosa besar.

Karenanya, hendaknya kita menjauhkan anak dari tempat-tempat seperti itu, agar dalam masyarakat, nama baiknya tidak merjadi cemar, tidak terpengaruh tingkah laku dan moralnya oleh lingkungan yang sesat dan rusak.

Memberikan stimulan kepada yang berprestasi baik dengan mengadakan lomba berhadiah yang tidak haram. Cara ini sesuai dengan anjuran hadits, yang diriwayatkan oleh Ash-habu 's-Sunan dan Imam Ahmad dari Rasulullah saw. bahwa beliau berkata:

لاَ سَبْقَ  ﴿لاَرِهَانَ ﴾ إِلاَّ فِى خُفٍّ أَوْحَافِرٍ أَوْ نَصْلٍ ﴿أَيْ سِهَامٌ

"Tidak boleh taruhan kecuali dalam lomba lari atau lomba pa­cuan kuda atau lomba memanah".

Diambil dari hadits ini, bahwa hadiah yang tidak haram harus memenuhi dua syarat:
  • Pertama: Hadits, hendaknya diberikan untuk lomba persiap­an perang dan jihad, seperti perlombaan unta, kuda, memanah atau perang modern lainnya.
  • Kedua: Hadiah hendaknya diambil dari orang yang tidak ikut lomba atau dari salah satu yang ikut berlomba. Jika setiap pengikut menyediakan hadiah, dengan ketentuan siapa yang menang dalam lomba, ia berhak mengambil hadiah itu, ini adalah perlombaan yang diharamkan. Jenis kuda yang digunakan untuk judi, atau taruhan seperti ini, Rasulullah saw. Menamakannya sebagai "kuda setan". Harga yang diambil daripadanya adalah dosa, memberikan makanan kepadanya adalah dosa, dan menung­ganginya juga dosa. Jika hadiah dikeluarkan oleh orang lain (bukan dari orang-orang yang ikut lomba), misalnya dari kepala negara, kementrian, lembaga pendidikan sekolah atau universitas, maka hadiah seperti ini dibolehkan secara syari'at. Sebab, tidak adanya fenomena perjudian di dalamnya, baik yang dimaksudkan sebagai pemberian stimulan untuk persiapan perang, atau untuk mening­katkan prestasi olahraga. 
Yang menunjukkan bolehnya taruhan yang hadiahnya dari luar (bukan dari orang-orang yang ikut lomba) adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Umar ra.:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّقَ بَيْنَ الْخَيْلِ وَ أَعْطَى السَّابِقَ٠

"Bahwa Rasulullah saw. memperlombakan kuda dan memberi hadiah kepada yang unggul".

Demikianlah batasan Allah mengenai ketentuan-ketentuan tentang kaidah mendidikan anak dalam berolahraga baik dari pakaian olahraga anak, lingkungan olahraga anak dan lain sebagainya.
no image

Mendidik Anak: Keseimbangan antara Olahraga & Kewajiban

Tidak dibenarkan memberikan pendidikan dan mengikatkan anak dengan olahraga  untuk kesegaran dan kesehatan jasmani atau tubuh pada anak sehingga sampai mengalah­kan kewajiban yang dibebankan. 

Suatu contoh sederhana adalah seperti, disibukkan waktunya untuk berolahraga dengan bermain sepak bola, olahraga gulat, berlatih olahraga renang atau berlatih olahraga me­manah, olahraga berkuda ataupun melakukan aktifitas jenis olahraga lainnya dengan mengabaikan kewajiban beribadah dan anjuran serta kewajiban menuntut ilmu. Atau, mengabaikan hak kedua orangtuanya dalam hal taat dan berbakti kepada keduanya, atau hak agama dalam menyampai­kan dan menyerukan risalah Tuhannya atau dakwah islam.

Karenanya, mendidik anak dengan memberikan pendidikan dan mengikat anak dengan olahraga anak ini wajib pada batas per­tengahan dan adil, agar tercipta keseimbangan mendampingi kewajiban lainnya tanpa merugikan salah satunya, sesuai dengan prinsip keadilan dan keseimbangan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. ketika bersabda kepada Abdullah bin Amr Al-'Ash:

إِنَّ لِلَّهِ عَلَيْكَ حَقًّا ٬ وَ إِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا٬ وَ إِنَّ لأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ

"Ya Abdullah bin Amr, sesungguhnya Allah mempunyai hak atasmu. Dan badanmu mempunyai hak atasmu dan ke­luargamu mempunyai hak atasmu. Maka, berikanlah hak kepada para pemiliknya".

Demikianlah ajaran dan tuntunan islam dalam memberikan pendidikan olahhraga kepada anak hendaknya berpatokan pada pedoman adanya keseimbangan antara olahraga, hak serta kewajiban baik kepada sesama manusia maupun Allah SWT.
no image

Tujuan & Maksud Olahraga dalam Islam

Olahraga dalam pandangan islam dan kedokteran erat kaitannya dengan kesehatan jasmani atau kesehatan tubuh. Faktor yang dapat melahirkan manfaat, yang telah dile­takkan oleh Islam dalam upaya mendidik individu-individu masyarakat yang berhubungan dengan jasmani, membentuk kesehatan­nya, dalam mengisi waktu kosong dengan aktivitas jihad, latihan militer, dan latihan olahraga. Setiap kesempatan yang memung­kinkan, dalam situasi dan kondisi yang sesuai, dipakai untuk keperluan tersebut.
Ini semua karena Islam dengan prinsip-prinsip yang toleran, ajaran-ajaran yang luhur, menghimpun dalam satu waktu antara kesungguhan dan hiburan yang sehat, menghubungkan antara kebutuhan ruhani dan kebutuhan jasmani. Islam memperhatikan pendidikan jasmani atau kesehatan dan perbaikan ruhani secara bersama-sama.
Sang anak, lebih baik mendapatkan perhatian persiapan kesehatan atau pembentukan jasmani. Bahkan lebih baik mengisi waktu kosongnya dengan segala aktivitas yang memberikan ke­sehatan, kekuatan dan semangat dalam bentuk olahraga. Dan ini dimaksudkan untuk:
Berikut ini sebagian nash-nash syari'ah dalam Islam terhadap pendidikan olahraga, persiapan militer, agar orang-orang yang berakal sehat mengetahui bahwa Islam adalah agama Allah yang universal dalam dakwah untuk sarana kemuliaan, kekuatan dan persiapan jihad

Allah berfirman:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu meng­getarkan musuh Allah. (Q.S. 8:60)

Berikut ini adalah beberapa hadits mengenai beberapa jenis olahraga pilihan yang dianjurkan dalam islam

Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اﷲِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ ٠

"Orang Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang Mukmin yang lemah".

Ath-Thabrani, dengan sanad jayyid meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

كُلُّ شَىْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اﷲِ فَهُوَ لَهْوٌ أَوْ سَهْوٌ إِلاَّ أَرْبَعَ خِصَالٍ ׃  مَشْيُ الرَّجُلِ بَيْنَ الْغَرْضَيْنِ ﴿لِلرَّمْيِ﴾ ، وَتَأْدِيْبُهُ فَرْسَهُ، وَمُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ ، وَتَعْلِيْمُهُ السِّبَاحَةَ ٠

"Segala sesuatu yang bukan dari dzikir kepada Allah adalah permainan yang melalaikan atau melupakan kecuali empat perkara. Berjalannya seseorang antara dua tujuan (untuk) memanah, berlatih menunggang kuda, bercumbu rayu dengan istrinya, dan mengajarkan renang/belajar renang".

Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mambaca firman Allah "wa a'iddu lahum mas tatha'tummin quwwah", kemudian beliau berkata:

أَلآ اِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ ٬أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ ٬  أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ ٠

"Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah mema­nah. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah".

Amiru '1-Mu'minin Umar bin Khaththab ra. menulis kepada para gubernur sebagai berikut:

أَمَّا بَعْدُ فَعَلِّمُوْاأَوْلاَدَكُمْ الرِّمَايَةَ وَالسِّبَاحَةَِ وَرُكُوْبَ الْخَيْلِ٠

"Amma Ba'du. A jarilah anak-anak kalian memanah, renang dan menunggang kuda. ..."

Asy-Syakhani meriwayatkan: Bahwa Rasulullah saw. mengizinkan orang-orang Habasyah bermain tombak di masjid Nabawi yang mulia, dan mengizinkan kepada istrinya, Sayyidah A'isyah untuk melihatnya. Ketika mereka sedang asyik bermain tombak itu, tiba-tiba datanglah Umar. Ia memungut batu kerikil, kemudian dilemparkannya kepada orang-orang Habasyah tersebut. Maka Rasulullah saw. berkata, "Biarkanlah mereka, ya Umar".

Ahmad bin Al-Bukhari meriwayatkan:

Bahwa Rasulullah saw. lewat di tempat sekelompok orang yang telah masuk Islam, sedang berlatih memanah di pasar. Maka Rasulullah saw. berkata kepada mereka, "Lemparkanlah busur (panahlah) wahai anak cucu Ismail, karena sesungguhnya ayah kalian adalah seorang pemanah. Panahlah, dan aku bersama de­ngan Bani Fulan". Salah satu kelompok kemudian menghenti­kan latihan memanahnya. Maka Rasulullah saw. bertanya, "Ke­napa kalian tidak memanah?" Mereka menyahut, "Bagaimana kami akan memanah sedang engkau bersama mereka?" Maka Rasulullah saw. bersabda, "Panahlah, dan aku bersama kalian semuanya".

Ahmad bin Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: "Saya berlomba lari dengan Rasulullah saw. Beliau mendahuluiku, lantas saya kejar sehingga mendahuluinya. Dan setiap lomba saya selalu unggul, hingga badanku menjadi gemuk. Maka, ketika berlomba lagi Rasulullah saw. yang unggul. Dan beliau berkata, "Anda kalah karena dagingmu itu".

Abu Daud meriwayatkan dari Muhammad bin Ali bin Rukanah:

"Bahwa Rukanah bergulat dengan Rasulullah saw., maka beliau dapat mengalahkannya".

Dari 'Uqbah bin 'Amir, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

اُرْمُوْا وَارْكَبُوْا ٬ أَنْ تَرْمُوْا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوْا ٠

"Memanah dan menunggang kudalah kalian, dan memanah adalah lebih baik dari menunggang kuda".

Ahmad dan Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. ia ber­kata:

"Rasulullah saw. mempunyai unta betina yang diberi nama Al-'Udhba, dan unta tersebut tidak dapat dilombakan. Maka, datanglah seorang Badawi dengan menunggang unta yang masih muda, hingga ketika berlari mengungguli unta Rasulullah saw. Dengan demikian, menimbulkan emosi kaum Muslimin. Mereka berkata, "Al-'Udhba terungguli!" Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya adalah haq bagi Allah untuk tidak mengangkat sesuatu dari dunia kecuali Dia telah meletakkannya".

Dari nash-nash ini cukup jelas bahwa Islam mensyari'atkan latihan olahraga, latihan jihad seperti olehraga gulat, olahraga lari, renang, mema­nah dan menunggang kuda, semua ini dimaksudkan agar umat Islam mengambil faktor-faktor yang menyebabkan kemuliaan, kemenangan dan kekuasaan. Di samping itu, agar individu dan kelompok terdidik dalam pengertian kekuatan, ketangkasan dan jihad, sebagai pengamal firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:

وَأَعِدُّوْا لَهُمْ مَااسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ ٠

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi".

Dan realisasi sabda Rasulullah saw:

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اﷲِ مِنَ اَلْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ

"Orang Mu'min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang Mukmin yang lemah".

Tak seorang pun yang menyangkal bahwa ketika musuh Islam mengetahui bahwa umat Islam telah siap dari segi militer dan persiapan perangnya, terbentuk kesehatan dan kekuatan jasmani­nya, sempurna iman dan spiritualnya, teguh keyakinan dan tekad­nya untuk berjihad, maka mereka akan gentar. Jiwanya gundah dan takut, sebelum mereka kalah di medan jihad. Inilah yang kini disebut sebagai 'perdamaian bersenjata', dan dipuji Rasulullah saw. ketika bersabda:

نُصِرْتُ بِالرَّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ ٠

"Aku diberi mujizat (hingga) musuh takut kepadaku dalam jarak perjalanan sebulan ".

Jika sang anak mendapatkan prioritas paling utama mengenai persiapan jasmani, pembentukan sikap jihad, pendidikan olahraga, apakah ini berarti bahwa anak dalam lingkungan ini bertolak tanpa kendali dan batas, atau ia harus terikat dengan metode yang mengenal batas dan berjalan pada jalan yang telah ditentukan?

Pada dasarnya hubungan (ikatan) olahraga untuk anak tidak akan memberikan buah yang diharapkan, tidak membawa kepada tujuan yang dicari, kecuali jika ia mengikuti metode yang telah ditentukan Islam.

Metode-metode ini akan disampikan pada artikel-artikel yang selanjutnya pada tema metode-metode dalam memberikan pendidikan olahraga kepada anak

Wednesday, April 30, 2014

no image

Teman Sekolah yang Baik untuk Anak

Yang dimaksud dengan teman sekolah atau bekerja adalah teman anak yang sebaya di sekolah, yang sekelas atau lain kelas, yang biasa pergi sama-sama atau belajar bersama, dan teman di tempat kerja.

Pada bagian ini mari kita sebagai para pendidik dan orang tua untuk meberikan perhatian tentang suatu kenyataan yang harus kita bicarakan.

Kenyataan tersebut, tersimpul sebagai berikut: Bahwa se­kolah di negara yang dikuasai oleh pikiran-pikiran sesat, aliran-aliran non-agamis, prinsip-prinsip non-Islami, akan menjadi tempat gembala yang subur bagi pikiran-pikiran ini, prinsip-prinsip non-agamis, non-Islami ini. Siapa yang memberikannya?

Ialah para pengajar yang menjual dhamir-nya kepada setan yang bernaung di bawah lembaga atau organisasi sesat, tujuannya semata-mata untuk menimbulkan keraguan terhadap agama dan memerangi Islam.

Organisasi tersebut dikelola oleh para pelajar yang dilindungi oleh lembaga-lembaga untuk menyampaikan missi sesatnya kepada para anggota yang terdiri dari anak-anak sekolah yang diharuskan masuk ke dalam organisasi itu.

Organisasi itu juga ambil peranan dalam menyebarkan pikiran-pikiran sesat dan menyesatkan, organisasi-organisasi wanita yang mempunyai missi dan tujuan hanya untuk menentang hijab Islami (jilbab) yang merupakan syi'ar kesucian dan ke-'iffah-an, untuk menentang peraturan Islam yang menduakan hak wanita, menentang prinsip-prinsip Islam yang memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Betapa banyak wanita-wanita yang terlibat dalam organisasi seperti ini, meneriakkan semboyan dan slogan atas nama pembebasan kaum wanita. Bahkan, atas nama persamaan (emansipasi) hak laki-laki dan kaum wanita?

Selain apa yang ada dalam lingkungan sekolah, yakni orien­tasi pikiran yang serba kontradiksi, sedikit sekali kita jumpai di sekolah, orang yang berada dalam lingkungan sekolah, menyeru kepada agama yang lurus, menyeru kepada Islam yang hak dan akhlak yang mulia, atau prinsip-prinsip pendidikan yang benar.

Setelah dikemukakan kenyataan yang penting untuk diketahui dan harus kita lakukan, tidak lain hanyalah meningkat­kan daya kita untuk menyelamatkan dari lingkungan yang dapat membawa anak kepada kekufuran dan kesesatan ini, mengangkat dari lingkungan yang sesat dan menyesatkan. Kita tidak dapat menyelamatkan anak dengan baik kecuali dengan memilih teman sekolahnya yang baik, sadar dan sigap, yang dengan pergaulan itu, anak kita bergaul dalam menerima pelajaran dan pembentukan kebudayaan, bilik di tingkat sekolah dasar, lanjutan pertama, lanjutan atas atau tingkat perguruan tinggi. Hendaknya kita lebih mengutamakan teman sekolah sekampung atau yang biasa pergi bersama-sama ke masjid dan pengajian. Ini semua jika memang dimungkinkan, agar persahabatan mereka akan lebih akrab, dan menghasilkan lebih banyak kebaikan. Jika memang tidak mung­kin, sang anak tidak memiliki teman sekampung atau sepengajian yang juga sebagai teman sekolah, maka pengertian teman didasarkan pada pengertian, kebaikan akhlak dan kelurusan akidah yang tercermin dalam melaksanakan ibadah sehari-hari, khususnya shalat.

Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada yang berkata:
jika kamu dapat berpeganglah dengan anak orang merdeka
karena orang merdeka
di dunia ini
sedikit sekali

Berbicara masalah sekolah, saya ingin mengemukakan suatu kenyataan lain yang harus kita perhatikan, yaitu keadaan anak gadis kita di sekolah, pengaruh emosional dan spiritualnya.

Kita sama-sama mengetahui bahwa wanita adalah makhluk lemah yang sangat emosional, mudah terpengaruh oleh angan-angan dan bujukan, mudah tunduk oleh cobaan budaya modern, dan hiasan kehidupan dunia yang menipu. Wanita mudah sekali berpaling dari kebenaran, terpengaruh oleh lingkungan, terbawa arus hawa nafsu, tanpa pengendalian agama, dan dhamir, tanpa mempertimbangkan akal atau melihat akibatnya.

Oleh karena itu, kita harus lebih memperhatikan anak gadis dibanding perhatian kepada anak laki-laki, dikhawatirkan terjadi kegagalan iman, penyimpangan akhlak, atau terpeleset ke jurang kenistaan atau masuk ke organisasi (partai) yang non-agamis. Sehingga, anak terlepas dari sesuatu yang paling berharga, yaitu Islam dan kehormatan. Islam mewajibkan kita untuk menyediakan bagi anak gadis kita lingkungan yang baik, di rumah dan di seko­lah, agar terjauh dari sesuatu yang tidak kita inginkan.

Salah satu cara menyediakan lingkungan yang baik adalah menjalin hubungan antara anak gadis kita dengan guru wanita yang tulus dan saleh, yang selalu berhubungan dan berkumpul dengannya. Sebagai salah satu caranya juga menyediakan teman wanita yang saleh untuk teman bergaulnya, baik yang masih ada hubungan famili di rumah atau hanya sekedar teman di sekolah. Di samping ini, kita harus meningkatkan pengawasan, senantiasa memperhatikan perkembangannya, agar tetap pada iman, istiqamah, akhlak luhur, berpegang pada prinsip-prinsip Islam, dan ajaran-ajarannya yang universal.

Jika kita tidak mampu menyediakan sarana penjagaan untuk anak gadis kita, mempersiapkan lingkungan yang baik bagi buah hati kita, jangan harapkan anak gadis itu dapat mempertahankan sesuatu yang paling berharga pada dirinya: agama dan kehormatan­nya.

Jika di sekolah anak gadis harus mendapatkan anak gadis yang saleh, temannya, demikian juga di tempat kerjanya, labora­torium atau perusahaan. Sangat disayangkan, perusahaan-perusaha­an yang ada kini sering dipadati orang-orang yang tidak berakhlak, tidak mempunyai etika dan agama. Bahkan di antara mereka, dari yang berpangkat rendah hingga yang berpangkat tinggi, ada yang memeluk paham komunis, ada pula yang ikut organisasi yang sama sekali tidak menghormati agama, penentang ajaran dan nilai etika yang dibawa agama Islam. Ada pula yang hidup dengan gaya "kehidupan binatang", menganut keserbabolehan, amoral, tujuan hidupnya semata-mata hanya untuk memuaskan hawa nafsu, bersenang-senang dalam lumpur dosa, berkubang dalam minuman keras dan lacur dengan segala tingkatannya, mendengarkan lagu-lagu dan musik yangt idak senonoh, menghadiri pertemuan (perkumpulan) dan sandiwara yang hina, menjual kelaki-lakian dan kehormatannya kepada penyanyi dan penari yang melacur­kan diri.

Dalam kesempatan yang sama, memang ada sebagian mereka yang beragama, istiqamah, berakhlak dan berjalan di atas metode yang dibawa Rasulullah saw. Tetapi orang seperti ini jumlahnya dapat dihitung dengan sebelah jari, dibanding kelompok amoral yang memenuhi laboratorium, pabrik dan perusahaan di banyak negara. 

Maka, Islam mengharuskan kepada kita untuk mencari kelompok yang sholeh ini dalam tempat kerja anak kita, teman yang beriman dan berakhlak. Sehingga bergaul dengan mereka. Jika anak kita lalai, mereka akan memperingatkan. Jika ia mem­peringatkan orang lain, mereka akan mendukungnya. Jika mereka mendapatkan anak kita menyimpang, mereka akan segera melu­ruskannya. Dengan demikian, anak kita tetap akan berada dalam petunjuk dan jalan yang lurus.
no image

Teman Masjid yang Baik untuk Anak

Yang dimaksud dengan teman masjid adalah teman sebaya anak yang sama-sama pergi shalat berjamaah dan shalat Jum'at, serta menghadiri pengajian yang diadakan di masjid kampung­nya.

Anak yang biasa pergi ke masjid atas kemauannya sendiri atau hasil arahan kedua orangtuanya dan pendidiknya, ia adalah anak yang mempunyai iman dan taat kepada Allah, patuh kepada ajaran Islam, baik terhadap perintah ataupun larangannya. Anak seperti inilah yang dapat diharapkan kebaikannya, diharapkan manfaat dan perbaikan.

Jika anak yang sudah biasa pergi ke masjid mendapatkan pengarah, pemberi pelajaran dan pendidik yang mendasarkan pada landasan Islam yang kokoh, prinsip-prinsip etika yang lurus, kesadaran berpikir yang universal, maka anak tersebut, Insya Allah akan menjadi orang yang mampu memberikan harapan da­lam membangun masyarakat Islam, dan mendirikan Daulah Islam yang kokoh.

Yang menjadi peringatan adalah bahwa teman kampung dan teman masjid, keduanya harus senada, seirama, tidak boleh terpisah satu sama lain. Apalah gunanya bergaul dengan teman sekampung jika ia tidak suka shalat dan tidak suka pergi ke masjid?

Jika kita teliti dalam memilih teman yang paling baik untuk dijadikan teman anak kita, yang dipilih adalah anak yang selalu pergi ke masjid, yang baik dan saleh. Sebab, mereka masih me­miliki fitrah yang suci, memiliki iman yang murni dan akhlak mulia.

Di sini, tibalah saat pendidik dan para orang tua untuk mengawasi anak dan teman bergaulnya, mengawasi kerajinan dalam hal mengerjakan shalat berjamaah, menghadiri pengajian yang diadakan di masjid, menghadiri pengajian mempelajari Al-Qur'an, membaguskan bacaan yang dikelola oleh para ahli qiraat.

Pendidik, hendaknya tidak lalai terhadap segi pemberian stimulan kepada anak dalam menghadiri masjid. Sehingga, tanpa diperintah lagi, mereka pergi untuk mengerjakan shalat tepat pada waktunya, senantiasa menghadiri kalakah Al-Qur'an dan pengajian umum yang mempelajari ilmu syari'at pada waktu-waktu tertentu.

Sekali lagi, hendaknya kita pandai-pandai memilih teman masjid bagi anak, yang baik dan saleh, dengan tidak henti-hentinya memberikan pengawasan, memberikan dorongan, agar anak kita termasuk golongan Muslim yang Suci, orang-orang saleh pilihan. Insya Allah. Amiin....
no image

Teman Kampung yang Baik untuk Anak

Yang dimaksud dengan teman kampung adalah teman anak yang sebaya, tetangga rumah di kampungnya. 

Sesuatu yang sudah disepakati, bahwa suatu lingkungan yang jauh atau dekat, di kampung maupun di kota, berpendidikan atau tidak mengenal pendidikan,' menyodorkan beraneka ragam perilaku sikap dan etika, ucapan kotor yang keluar dari sembarang mulut di hadapan yang kecil maupun besar, dari laki-laki maupun wanita, tindak tanduk yang tidak senonoh yang dilakukan tanpa malu, perlakuan baik yang bercampur baur dengan perlakuan keji dan jahat.

Ini semua merupakan realitas yang membahayakan dan harus segera ditanggulangi oleh para pendidik, orang tua dan orang-orang yang bertanggung jawab. Mereka harus saling bantu-membantu dalam mengikis gejala-gejala negatif yang mengakar di lingkungan anak.

Yang penting, berdasarkan pengungkapan fakta ini akan me­malingkan pandangan pendidikan pada situasi yang membawa anak kepada dekadensi moral, kerusakan pendidikan, dan pe­nyimpangan akidah. Sehingga, pendidik dan para orang tua meningkatkan upayanya dalam memperbaiki akidah anak dan membentuk moralnya. Sampai-sampai ia terpaksa harus memilih cara yang paling baik dan melahirkan hasil dalam upaya menyelamatkan anak dari lingkungan dan situasi yang rusak dan merusak, yang di dalam­nya hidup kebanyakan anak-anak kita.

Dari cara efektif — menurut pandangan kebanyakan ahli pendidikan dan sosial — adalah menjalin hubungan antara anak dengan teman yang baik. Dan yang paling penting adalah teman dari tetangga dan kampungnya, yang senantiasa bertemu dengan mereka di masjid, di waktu-waktu senggang, atau ketika belajar bersama, olahraga dan pergi rekreasi.

Tidak syah bahwa dengan bergaul dengan teman-teman yang baik dan saleh dari tetangga dan kampungnya, sang anak akan terjaga dari pengaruh anak-anak nakal di kampungnya, sehingga terjamin akidah dan tingkah lakunya.

Karenanya, kita berusaha untuk mendapatkan teman yang sholeh untuk anak kita, anak tetangga dan sekampung, dengan terus meningkatkan pengawasan dan pengarahan, agar anak kita tergolong orang-orang yang Mukmin dan saleh, diridhai orang tua dan Tuhannya. amiin.....
no image

Teman Rumah yang Baik bagi Anak

Yang dimaksud dengan teman rumah adalah saudara-saudara dan kerabatnya. Mereka adalah yang pertama-tama dijumpai anak, berkumpul dan berkenalan dengan mereka. Mereka juga yang pertama memberikan pengaruh kepadanya, pengaruh baik atau buruk. Oleh karena itu, pendidik harus memiliki kekuatan pengawasan dan perhatian secara terus-menerus, untuk memper­hatikan dari dekat atau jauh, keadaan mereka yang menjadi teman, meski saudara atau kerabat.

Telah sama-sama diketahui bahwa saudara yang terbesar (kakak) bagi anak merupakan teladan dalam kebaikan atau ke­jahatan. Jika sang ayah atau ibu melepas kendali anak, baik laki-laki atau wanita, dibiarkan bergaul dengan sembarang teman, maka tidak syak lagi, anak ini akan mempengaruhi adik-adiknya. Dan jika ini telah terjadi, sangat sukar bagi kedua orangtua untuk memperbaikinya.

Sebagai usaha pencegahan adalah, kedua orangtua harus berusaha semaksimal mungkin untuk membatasi atau melarang anak kita bergaul dengan saudara yang berbudi buruk, sehingga yang kecil tidak terpengaruh oleh kakak-kakaknya.

Pendidik atau orang tua, hendaknya juga mencari keluarga atau kerabatnya anak-anak yang berbudi luhur, mempunyai kesadaran beragama yang kuat. Kemudian, kita jalin hubungan antara anak kita dengan mereka, sehingga diharapkan hubungan kian erat dalam ketakwa­an. Anak kita pun akan mendapatkan keutamaan jiwa, sifat, dan akhlak yang baik dari mereka.

Dalam keadaan tidak adanya kerabat yang baik, dan anak yang berakhlak tinggi, pendidik dan juga orang tua harus bertindak tegas dalam upaya melarang anak bergaul dengan mereka. Pendidik dan orang tua harus meningkatkan pengawasan agar jangan sampai dekat kepada teman-teman yang moralnya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pen­didik dan orang tua sendiri yang harus turun langsung mengarahkan anak dalam setiap kesempatan dengan arahan yang sesuai, dapat mengokohkan keimanan, dan akhlak, menjaga fitrah yang masih suci dan hatinya yang masih jernih.

Jika memang terpaksa sang anak membutuhkan teman untuk bergaul dan bertukar pikiran, maka pendidik hendaknya mencari teman, walau bukan kerabat, asal berbudi tinggi, agar anak dapat mengambil manfaat daripadanya, dalam hal sifat yang baik dan akhlak mulia. Dengan demikian, pendidik dan orang tua telah menempatkan anak dalam lingkungan yang baik.
no image

Mencari Teman yang Baik untuk Anak

Faktor-faktor penting dalam upaya membentuk keimanan dan spiritual anak, untuk mempersiapkan moral dan sosialnya, adalah menjalin ikatan anak sejak kecil dengan teman yang mukmin dan hamba sholeh, agar dapat mengambil apa yang dapat me­numbuhkan personalitasnya berupa ruhani yang bersinar, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang luhur dan etika sosial yang mulia.

Para Pendidik khususnya guru agama islam, hendaknya memperhatikan fenomena kesempurna­an pada diri anak antara hubungannya dengan guru Rabbani dan hubungannya dengan teman yang baik. Sebab jika terjadi ketidak­seragaman antara dua hubungan (ikatan) ini akan mengakibatkan dua bahaya besar: 
  • Pertama : dualisme dalam pengarahan, 
  • Kedua : penyimpangan dalam tingkah laku.
Yang dimaksud dengan dualisme dalam pengarahan adalah, bahwa anak yang terdidik di bawah pengawasan seorang guru yang Rabbani dan wara’, kemudian bergaul dengan teman-teman yang tidak sampai kepada derajat kesadaran dan pemahaman terhadap Islam, maka anak terkadang akan terpengaruh mengikuti dan tertarik kepada mereka. Juga akan menerima pikiran-pikiran mereka karena sang anak belum sampai kepada tingkatan ke­matangan berpikir dan pengetahuan yang dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Oleh karena itu, dalam situasi seperti ini, sang anak telah menerima dua macam pengaruh pikiran yang diambil dari dua orang manusia: yang pertama alim dan paham yang kedua picik dan bodoh. Maka, ketika itu sang anak akan berada dalam kebingungan yang rawan, pertarungan pikiran dan jiwa yang pahit, tidak tahu ke mana ia harus mengarah, tidak mengetahui kepada siapa harus ikut?

Yang dimaksud dengan penyimpangan dalam tingkah laku adalah: bahwa anak, ketika melihat gurunya yang Rabbani atau kelompok Islam yang sigap, memberi Islam kepadanya, dan di lain pihak kesadaran yang sangat bertentangan dengan Islam yang ada pada teman-teman sepergaulannya, maka tidak diragukan, sang anak akan terpengaruh oleh realitas yang kontradiksi. Ia selamanya hidup dalam tanda tanya di hadapannya, kekacauan pikiran yang terkadang akan mengakibatkan penyimpangan tingkah laku dan akidah, sebagai reaksi dari situasi yang kontra­diksi tersebut. Oleh karena itu, keseimbangan antara hubungan anak dengan guru, dan hubungannya dengan teman yang baik adalah faktor penting dalam membentuk personalitas anak, mem­persiapkan spiritual dan moralnya. Sehingga, anak tidak hidup di alam kontradiksi, keterpisahan personalitas, kebimbangan dan pertarungan spiritual.

Berdasarkan kenyataan ini, pendidik atau orang tua harus mencari dan memilih teman untuk anaknya, harus dari jenis yang dididik di bawah pengawasan guru Rabbani yang paham, yang sifat-sifat­nya telah kita bicarakan tadi.

Jika kita dapat melaksanakan, maka sang anak akan men­dapatkan pengaruh yang lebih kuat, hubungan yang senada hingga kokoh, keseimbangan dalam membangun personalitas anak.

Dari hal yang harus diperhatikan pendidik atau orang tua baik bapak maupun ibu adalah menjalin hubungan dengan empat golongan teman:
Ketika arahan rumah dan bekerja sama dengan pergaulan anak dengan teman yang baik, di sekolah, tempat kerja, di kam­pung atau di masjid, maka tidak syak, anak kita dapat dijamin keselamatan personalitas Islamnya, akhlak dan akidahnya. Dari sini keluarlah wasiat Ibnu Sina dalam mendidik anak: 

"Hendak­nya anak kita mempunyai teman yang seusia, yang baik akhlak­nya, baik adat-istiadatnya, karena anak dengan anak lebih dapat memberikan pelajaran, lebih akrab dan lebih bisa pengaruh-mempengaruhi".

Hendaknya kita berpegang teguh dengan kaidah-kaidah pendidikan yang asli, dengan prinsip-prinsip Islami yang lurus, untuk menjaga anak agar tidak terlantar jiwanya dan tidak jadi penyimpangan moral.

Ini semua dapat kita lakukan dengan menyediakan teman sepergaulan anak yang sholeh dan baik. Kita telah panjang lebar membicarakan masalah ini, tak lain agar menjadikan petunjuk bagi kita.

Firman Allah dalam Al Qur'an :

Katakanlah, "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (Q.S. 12:108)

Tuesday, April 29, 2014

no image

Pentingnya Rasa Muraqabah Pada Allah

Rasa muraqabah kepada Allah SWT adalah adalah rasa bahwa Allah senantiasa mengawasi kita semua sebagai hamba Allah. Rasa muraqabah ini harus ditanamkan, diikatkan dan diajarkan kepada anak dalam mendidik anak.

Firman Allah Ta'ala dalam Al Qur'an Al-Karim tentang muraqabah:

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. 26:218-219)

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Q.S. 57:4)

Sesungguhnya bagi Allah tiada ada satu pun yang tersembu­nyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (Q.S. 3:5)

Dan sabda Rasulullah saw. tentang muraqabah yang diriwayatkan Muslim:

اَلاِِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اﷲَ كَأنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Ihsan adalah, kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika memang kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu".

Sabda Rasulullah saw. riwayat At-Tirmidzi:

اِتَّقِ اﷲَ حَيْثُمَا كُنْتَ ٬ وَأَتْبِعِ السََّّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا ٬ وَخَالِقِ النَّاسِ بِخُلُقٍ حَسَنٍ٠

"Takwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikuti­lah perbuatan jahat dengan perbuatan baik, niscaya akan meng­hapusnya, dan bergaullah dengan orang-orang dengan budi pekerti yang baik".

Dan sabdanya yang diriwayatkan At-Tirmidzi:

اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ ٬ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسُهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اﷲِالأَمَانِيْ٠

"Yang elok rupa dan cerdik adalah yang dirinya patuh dan bekerja untuk hidup sesudah mati. Yang lemah adalah orang yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya, dan berangan-angan kepada Allah".

Dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa Islam sangat memperhati­kan pendidikan individu Muslim berdasarkan rasa muraqabah, perhitungan, takwa, dan membiasakan dirinya merasakan muraqabah Allah ketika mereka bekerja, melatih perhitungan jiwanya, berpikir, mendidik rasa takwa ketika merasa, maka Insya Allah anak kita akan terdidik dalam keikhlasan kepada Allah Tuhan Yang Memelihara alam semesta, dalam setiap ucapan, perbuatan dan segenap tingkah lakunya. Karenanya, ia tidak mempunyai niat ketika melakukan apa saja kecuali mengharapkan keridhaan Allah semata.

Anak juga akan terbiasa dengan perasaan bersih suci, bah­kan selamat dari segala penyakit spiritual. Ia tidak akan hasad, iri dengki, tidak akan memfitnah dan mengumpat, tidak akan menikmati kenikmatan yang kotor. Jika ia tertimpa bisikan setan atau hawa nafsu ia segera ingat bahwa Allah bersamanya, men­dengar dan melihatnya. Ketika itu pula ia melihat kesalahannya.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Q.S. 7:201)

Latihan muraqabah Allah 'Azza wa Jalla adalah kebia­saan ahli salaf saleh. Mari kita ikuti kembali sikap Sahal bin Abdullah At-Tasturi, seperti yang diriwayatkan Imam Ghazali dalam Ihya'-nya. Sahal bin Abdu 'l-Lah berkata, "Ketika aku berusia tiga tahun, aku selalu bangun malam. Aku melihat shalat paman­ku, Muhammad Ibnu Siwar. Pada suatu hari ia berkata kepadaku, 'Apakah engkau tidak ingat kepada Allah yang telah menciptakan kamu?' Tanyaku, 'Bagaimana mengingatnya?' Pamanku berkata, 'Katakanlah dengan hatimu ketika kamu berbolak-balik di atas kasurmu sebanyak tiga kali, tanpa menggerakkan lidah­mu, 'Allah bersamaku. Allah mengawasiku. Allah menyaksikanku. Dan aku kerjakan itu, lalu saya laporkan kepadanya. Ia ber­kata, 'Ucapkanlah setiap malam tujuh kali'. Saya kerjakan, ke­mudian saya laporkan kepadanya. Ia berkata, 'Katakanlah itu setiap malam sebelas kali'. Dan saya laksanakan. Maka aku me­rasakan rasa nyaman dalam kalbuku. Dan setelah satu tahun berlalu, pamanku berkata, 'Peliharalah apa yang telah saya ajar­kan kepadamu, dan tetaplah mengerjakannya hingga kamu masuk kubur. Karena sesungguhnya yang demikian itu bermanfaat bagimu di dunia dan di akherat'. Dan dalam beberapa tahun aku masih selalu mengerjakannya, maka saya dapatkan rasa nyaman dalam ketersembunyianku. Kemudian pamanku berkata kepadaku pada suatu hari, 'Wahai Sahal, barangsiapa Allah bersamanya, melihat dan menyaksikannya, apakah ia akan mendurhakai-Nya? Janganlah sekali-kali kamu durhaka ..."

Dengan arahan yang lurus ini, latihan yang terus menerus, pendidikan Rabbani yang hak, Sahal menjadi salah seorang arif yang besar, hamba Allah yang saleh terkemuka.

Al-Imam Ahmad Ar-Rafa'i dalam bukunya Al-Burhan Al Mu'ayyad berkata, "Dari rasa takut timbullah perhitungan. Dari perhitungan timbullah sikap muraqabah. Dari muraqabah timbul­lah kesenantiasaan menyibukkan diri dengan Allah Ta'ala".

Maka, hendaknya kita selalu melatih diri, keluarga dan anak-anak kita untuk selalu merasakan muraqabah Allah 'Azza wa Jalla, dan membiasakan melakukan perhitungan oleh diri, menamakan dalam diri mereka pokok-pokok takwa dan takut kepada-Nya. Jika kita dapat melaksanakan ini, berarti kita akan mencapai tujuan yang diharapkan dalam pendidikan ruhani anak-anak dan pembentukan sifat Rabbani.

Demikianlah kaidah-kaidah metode Islam dalam mengikat anak secara spiritual, membentuk iman dan moralnya. Tidak diragukan, bahwa anak, sejak kecil, jika sudah mempunyai ikatan 'ubudiah kepada Allah, ucapan dan perbuatan dengan Al-Qur'an, dibaca dan dipikirkan, senantiasa mengunjungi masjid, dzikir kepada Allah tanpa henti-hentinya, mengerjakan ibadah-ibadah sunat, senantiasa merasakan muraqabah Rabbani, membuat per­hitungan jiwa, maka Insya Allah anak-anak akan mempunyai sifat jernih, berhiaskan iman dan ikhlas, dikenal sebagai wara' dan ahli takwa, khusyu' dan patuh kepada Allah Ta'ala.

Karenanya, pendidik semuanya, hendaknya bersama anak-anak berjalan di atas metode Islam dalam pendidikan ruhani. Sehingga, mereka akan menjadi seperti "malaikat" berbentuk manusia, karena tertanam dalam diri mereka benih-benih takwa, iman dan muraqabah, tertancap kokoh dalam hatinya pilar-pilar takut, tawakkal dan sikap perhitungan (mahasabah). Dan pokok-pokok dan pilar-pilar ini adalah faktor terpenting dalam memperbaiki moral anak, melatih sosialnya, meluruskan spiritual dan mentalnya.

Monday, April 28, 2014

no image

Mendidik Anak Mengerjakan Puasa Sunnah

Melanjutkan bahasan tentang mendidik, mengikat anak dengan amalam dan pekerjaan sunnah. Berikut ini adalah amalan puasa sunnah yang hendaknya diikatkan dan diajarkjan kepada anak untuk tujuan mendidik anak dari segi keimanan dan spiritual anak. 

Amalan sunnah yang Asal mula puasa sunat adalah dari apa yang diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Sa'id Al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

مَامِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يوْمًا فِيْ سَبِيْلِ اﷲِ إِلاَّ بَاعَدَ اﷲُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ٠

"Setiap orang yang puasa satu hari karena Allah, maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh 70.000 musim".

Macam-macam puasa sunah yang dianjurakan dan hendaknya diajarkan dan diikatkan kepada anak antara lain :

Puasa sunnah hari 'Arafah. 

Seperti diriwayatkan Muslim dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah saw. bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرْفَةَ اُحْتُسِبَ عَلَى اﷲِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ٠

"Puasa hari 'Arafah dihitung oleh Allah sebagai penghapus dosa tahun lalu dan tahun sesudahnya yang akan datang".

Puasa sunnah Hari 'Asyura dan Tasu'

Yaitu pada hari kesem­bilan dan kesepuluh bulan Muharram, seperti diriwayatkan Muslim dari Qatadah :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ اُحْتُسِبَ عَلَى اﷲِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ٠

"Puasa hari 'Asyura dihitung oleh Allah sebagai penghapus dosa tahun lalu dan tahun sesudahnya (yang akan datang)".

Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:
   
لَئِنْ بَقِيَتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ٠

"Jika aku masih hidup pada tahun yang akan datang niscaya aku akan puasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharram)".

Dan dapat digabungkan kepada 'Asyura hari kesebelas dari bulan itu, seperti akan disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad. Hikmah puasa ini adalah menunjukkan pertentangan dengan Yahudi, agar umat Islam, ibadahnya berbeda dari mereka. Imam Ahmad meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

صُوْمُوْا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ ٬ وَخَالِفُوْا الْيَهُوْدَ ٬ وَ صُوْمُوْا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْيَوْمًا بَعْدَهُ٠

"Puasalah kalian pada hari 'Asyura, dan berbedalah kalian dengan Yahudi. Dan puasalah sehari sebelum atau sehari se­sudahnya".

Puasa sunnah Enam Hari di Bulan Syawal. 

Seperti diriwayatkan Muslim dari Abu Ayub Al-Anshari ra. bahwa Rasulullah saw. ber­sabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ٬ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ٠

"Barang siapa puasa bulan Ramadhan, kemudian diikuti puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka puasanya itu sama dengan puasa sepanjang masa".

Puasa Tiga Hari Putih.)

Seperti diriwayatkan At- Tirmidzi dari Abu Dzar ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ  فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ ٬ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ٬ وَخَمْسَ عَشْرَةَ٠

"Jika kamu ingin berpuasa di antara sebulan sebanyak tiga hari, maka puasalah pada hari ketigabelas, keempatbelas dan kelima belas".

Puasa sunnah Hari Senin dan Kamis. 

Seperti diriwayatkan At- Tirmidzi bahwa Rasulullah saw. senantiasa puasa Senin dan Kamis, dan pernah beliau ditanya tentang itu maka beliau bersabda:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِشْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ ٬ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ٠

"Amal perbuatan manusia dilaporkan pada hari Senin dan Kamis, maka saya ingin amal perbuatan saya dilaporkan pada saat saya sedang berpuasa".

Puasa sunnah Sehari-Berbuka sehari. 

Puasa ini adalah puasa Nabi Daud as., seperti diriwayatkan Al-Bukhari dari Abdu'1-Lah bin Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya:

صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ٬  وَهُوَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ٠

"Berpuasalah satu hari dan berbukalah pada hari berikutnya, maka yang demikian itu adalah puasanya Nabi Daud Alaihi 's-Salam. Dan itu adalah puasa yang paling utama".

Dan puasa pada hari dan bulan-bulan lainnya yang ada ke­tetapannya dalam Sunnah Nabawiah.

Siapa pun melakukan puasa Sunat, baginya boleh berbuka, tetapi wajib meng-qadha’.

Demikianlah ibadah-ibadah sunat yang disyari'atkan dalam Sunnah Nabawiah. Ia termasuk amal saleh yang paling mulia untuk mendekatkan hamba kepada Allah 'Azza wa Jalla, yang mengokohkan dalam jiwanya perasaan takwa, ketenteraman keyakinan dan manisnya iman.

Karenanya, hendaknya kita berusaha untuk memberi teladan yang baik kepada anak-anak dan keluarga kita agar melaksanakan shalat dan puasa sunnah. Pertama-tama, kita sendiri yang melaksa­nakannya. Kemudian, mereka akan meniru dan mengikuti kita. Setelah memberikan contoh yang baik ini, tanpa segan-segan kita dapat memberikan nasihat dengan baik kepada mereka. Karenanya, ketika kita menyerukan agar mereka mengerjakan ibadah sunnah, dengan serta merta mereka akan mentaati seruan kita, dan hendaknya kita senantiasa memperhatikan penerapan­nya pada waktu dan hari tertentu.

Mengikat anak dengan ibadah sunnah ini merupakan faktor penting dalam upaya membentuk ruhani dan keimanan anak, mempersiapkan moral dan spiritualnya. Bahkan ia adalah yang menumbuhkan sifat-sifat ikhlas, takwa, rasa muraqabah Allah 'Azza wa Jalla, mengingat keagungan Allah swt., dalam berbagai situasi dan kondisi.

Jika kita melaksanakan semua ini, maka kita akan sampai pada tujuan yang diharapkan dalam menjalin ikatan ruhani ter­hadap anak.
no image

Mendidik Anak: Mengerjakan Amalan Sunnah

Amalan sunnah atau pekerjaan sunnah adalah merupakan amalan yang hendaknya dikerjakan karena amalan sunnah adalah amalan yang dianjurkan dan bernilai pahala apabila dikerjakan. Cara orang tua atau guru atau para pendidik khususnya guru agama islam dalam mendidik, mengarahkan dan mengajarkan anak hendaknya meliputi seluruh aspek kehidupan anak yang salah satunya adalah mendidik anak dengan mengarahkan dan mengikat anak untuk mengerjakan amalan-amalan sunnah yang dianjurkan.

Berikut ini adalah metode dalam islam dalam mendidik anak dengan mengikat mereka dengan mengerjakan amalan-amalan atau pekerjaan-pekerjaan sunnah utama yang sebaiknya dikerjakan oleh anak agar anak bisa menjadi insan islami secara fisik, mental, spiritual dan sosial. 

Mengapa anak perlu diikat dengan mengerjakan amalan sunnah dan apa saja amalan atau pekerjaan sunnah utama yang hendaknya ditanamkan kepada anak?

Mengenai hal tersebut di atas, Firman Allah dalam al Qur'an al karim mengatakan:

 وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا ٧٩

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Q.S. al-isra' : 79)
Dalil dalam Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim:

وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا٬ وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا٬ وَإِذَا أَقْبَلَ إِلَيَّ يَمْشِيْ أَقْبَلْتُ أُهَرْوِلُ٠

". . . dan barang siapa mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta. Dan barang siapa mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku dengan ber­jalan, Aku datang kepadanya dengan berlari"

Muslim meriwayatkan sabda Rasulullah saw. :

مَامِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ تَعَالَى فِى كُلِّ يَوْمٍ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوّعًا غَيْرَ اَلْفَرِيْضَةِ إِلاَّ بَنَى اﷲُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةَ٠

"Tidaklah seorang hamba Muslim shalat karena Allah Ta'ala dalam setiap hari duabelas raka'at, sebagai shalat tambahan, selain yang fardhu, kecuali Allah membuat rumah baginya di surga".

Yang dimaksud dengan, 'pekerjaan sunat atau sunnah' (nafilah) adalah ibadah tambahan selain yang fardhu. Macamnya cukup banyak, dan di sini disebutkan beberapa macam ibadah tambahan dalam shalat dan puasa. Semoga menjadi pedoman bagi kita dan diajarkanlah kepada anak dan keluarga kita:

Berikut ini adalah beberapa macam amalan-amalan sunnah utama yang sebaiknya  diajarkan kepada anak, yaitu sebagai berikut :

Friday, April 25, 2014

no image

Mendidik Anak dengan Dzikir Kepada Allah

Dzikir kepada Allah atau dzikrullah harus ditanamkan kepada anak dalam mendidik anak. Mengikat anak dengan dzikrullah adalah berdasarkan firman Allah: Karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) ke­padamu. (Q.S. 2:152)
Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbih­lah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Q.S. 33:41-42)

Maka, apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (Q.S. 4:103)

Dan ayat-ayat lain yang masih banyak jumlahnya. Juga sesuai dengan sabda Rasulullah saw.: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari:

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ ٬ وَ الَّذِيْ لاَيَذْكُرُ اﷲَ مِثَلَ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ ٠

"Perumpamaan yang dzikir kepada Allah dan yang tidak dzikir kepada Allah adalah seperti yang hidup dan yang mati".

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani: "Pada hari kiamat Allah akan mengutus beberapa kaum yang wajah mereka bercahaya berdiri di atas mimbar-mimbar permata, yang menggiurkan orang-orang. Mereka bukannya para Nabi, dan bukan pula para syuhada". Maka seorang Arab dusun berlutut di hadapan Rasulullah saw. seraya bertanya, "Sifatilah mereka, ya Rasulullah, agar kami mengenal mereka!" Sabdanya, ','Mereka adalah orang-orang yang saling cinta-mencintai dalam keridhaan Allah, terdiri dari berbagai kabilah yang bermacam-macam, dari negara yang bermacam-macam, berkumpul dalam dzikir kepada Allah, mereka semata-mata berdzikir kepada-Nya".

Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani:

"Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Aku senantiasa menurut,, sangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku senantiasa bersamanya ketika dia menyebut nama-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam hatinya, maka Aku menyebut pula dalam hati-Ku. Dan jika dia menyebut-Ku dalam majlis ramai, maka Aku menyebutnya dalam majlis ramai yang lebih baik. Jika dia mendekati-Ku sejengkal, Aku mendekatinya sehasta. Dan jika dia mendekati-Ku sehasta, Aku mendekatinya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku berjalan kaki, Aku mendekatinya dengan berlari".

Dikir, artinya adalah mengingat keagungan Allah swt. dalam semua kesempatan di mana pun seorang Mukmin berada. Mengingat itu bisa dengan akal pikiran, hati, jiwa, lidah atau perbuatan. Ketika berdiri, duduk, berbaring, atau ketika bepergian. Atau ketika menekuni ayat-ayat Al-Quran, mendengar nasihat, berhukum dengan syari'at Allah, atau bekerja apa saja yang semata-mata didorong untuk mendapatkan keridhaan Allah. Pengertian dzikir ini adalah seperti yang dijelaskan Al-Qur'an dalam beberapa ayat yang cukup banyak.

Dalam pengertian akal pikiran dan jiwa, Al-Qur'an menyata­kan:

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Q.S. 24:37)

Dalam pengertian dzikir dengan hati, Al-Qur'an menyatakan:

(yaitu) orang-orang yang beriman, dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. 13:28)

Dalam pengertian lisan, maka setiap ayat Al-Qur'an yang memerintahkan untuk mengingat Allah 'Azza wa Jalla adalah ter­masuk ucapan lisan. Sebab lafazh adalah yang pertama ditang­gungnya, sedang perintah adalah yang pertama dicakupnya. Yang memperkuat pengertian ini adalah hadits Abu Hurairah yang di­riwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hiban, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

إِنَّ اﷲَ عَزَّوَجَلَّ يَقُوْلُ ׃ أَنَامَعَ عَبْدِيْ إِذَا هُوَ ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفْتَاهُ٠

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Aku bersama hamba-Ku jika ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku".

Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Basr, bahwa seorang laki-laki berkata:

يََارَسُوْلَ اﷲِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ ٬ فَأَخْبِرْنِيْ بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ؟  قَالَ ׃ لاَيَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اﷲِ٠

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari'at Islam telah begitu banyak membebaniku, maka berilah aku kabar tentang sesuatu yang menjadi gantunganku". Beliau bersabda, "Hendaknya lisanmu selalu basah berdzikir kepada Allah".

Masuk ke dalam kategori dzikir lisan adalah semua doa yang secara benar (sah) riwayatnya tersambung kepada Rasulullah saw., para sahabatnya, dan para ahli salaf yang saleh, baik doa yang berkait dengan doa pagi dan petang, atau doa ketika hendak dan sesudah makan. Bahkan doa bepergian dan tidak bepergian (muqim), doa masuk dan keluar rumah, doa ketika hendak tidur dan sesudahnya, doa tahajjud dan lainnya. Termasuk ke dalam dzikir lisan juga setiap kata-kata mohon pertolongan kepada Allah dan istighfar, sebagaimana disebutkan Al-Qur'an dan hadits:

Dalam pengertian dzikir dalam perbuatan, Al-Qur'an menyatakan:

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Q.S. 62:10)

Dalam pengertian keseluruhan, Al-Qur'an menyatakan:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tiadakah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (Q.S. 3:190-191)

Dzikir juga mencakup membaca Al-Qur'an, sebagaimana Al- Qur'an sendiri mengungkapkan:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. 15:9)

Dzikir juga mencakup bertanya tentang ilmu pengetahuan kepada para ahli yang berilmu. Al-Qur'an menyatakan:

. . . maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang ber­ilmu, jika kamu tiada mengetahui. (Q.S. 21:7)

Dzikir juga dimaksudkan sebagai ibadah, sebagaimana dikata­kan Al-Qur'an: Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunai­kan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah. (Q.S. 62:9)

Apakah kita — saudaraku pendidik — mengerti apa yang dimaksud dengan dzikir? Apakah kita mengerti bahwa dzikir itu tidak berciri satu keadaan saja? Dan bahwa pengertiannya tidak terbatas kepada ritual tertentu? Apakah kita tahu bahwa dzikir adalah keadaan spiritual yang jaga, seorang Mukmin meng­ingat keagungan Allah swt. untuk selamanya?

Jika kita mengetahui semua ini dan mengamalkannya, maka berusahalah untuk mendidik anak kita terhadap pengertian-pengertian mengingat keagungan Allah swt. ini, di dalam jiwanya, agar ia takut kepada-Nya, baik secara tersembunyi atau terang-terangan, ketika gundah, ketika tenang, ketika bepergian atau tidak bepergian, ketika perang atau damai, ketika di rumah atau di pasar, ketika hendak tidur atau bangun tidur, dan di setiap situasi dan kondisi, agar ia termasuk golongan orang-orang yang diperhatikan Allah ketika Dia berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apa­bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakkal. (Q.S. 8:2)

Tidak diragukan, bahwa jika jiwa anak selalu dzikir kepada Allah, hatinya kokoh dengan rasa muraqabah Allah kepadanya, sang anak akan tumbuh sebagai seorang ahli ibadah, senantiasa mengingat Allah, saleh, lurus, berimbang dan berbudi mulia. Maka, amat jauhlah untuk melakukan maksiat, lebih-lebih kemunkaran, dan dosa. Dan semua ini, demi Allah, adalah batas kebaikan dan takwa yang diharapkan untuk anak kita.

Sungguh luar biasa metode Islam dalam pendidikan ketika para pendidik berjalan di atas petunjuknya, para orangtua dan pengajar selalu mentaati kaidah-kaidahnya !

Hendaknya kita senantiasa mendidik anak dengan penger­tian-pengertian dzikir yang telah kita jelaskan, agar sang anak tumbuh dalam keikhlasan, takwa, merasakan muraqabah Allah kepadanya, selalu mengingat keagungan-Nya dalam berbagai situasi dan kondisi.