Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Keseharian. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Keseharian. Show all posts

Tuesday, September 18, 2018

Dalil Dalil Memutuskan Silaturahmi dan Ancamannya

Dalil Dalil Memutuskan Silaturahmi dan Ancamannya

Telah kita ketahui berbagai macam keutaman dari menyambung hubungan silaturahmi. Sebaliknya, memutuskan silaturahmi atau memutuskan hubungan kekerabatan dalam Islam adalah merupakan dosa besar dan mendapatkan ancaman-ancaman dari Allah dalam Firman-nya Al-Qur'an dan dalil hadits Nabi.
memutuskan silaturahmi


Dalil Firman Allah swt tentang memutuskan Silaturahmi


Dalil firman Allah swt di dalam Al-Qur’an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١ 

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa': 1)

Maksud dari dalil Firman Allah swt di atas adalah agar kita jangan sampai memutuskan hubungan silaturahmi.


Juga dalil firman Allah swt:

فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ ٢٢ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ ٢٣ 

Artinya: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (QS. Muhammad: 22-23)

Juga Dalil dalam AL-Qur’an:

ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ ٱلۡمِيثَٰقَ ٢٠ وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ ٱلۡحِسَابِ ٢١ 

Artinya: (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk (QS. Ar-Ra'd: 20-21)

Firman Allah swt:

۞إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ ٢٦ ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٢٧ 

Artinya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Bagarah: 26-27)

Dalil Hadits Nabi tentang memutuskan Silaturahmi


Di Dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda: 

لا يدخل الجنة قاطع رحم

"Tidak akan masuk surga orang yang memutus ikatan rahim.( dalil Hadits  Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5984) Muslim (2556) Abu Dawud (1696) dan At-Tirmidzi (1909) dan Jabir bin Muth'im).

Barangsiapa yang memutuskan hubungan silaturahmi atau kerabat yang lemah. mengisolir mereka, bersikap takabbur terhadap mereka. dan tidak berbuat baik kepada mereka. padahal ia kaya sedangkan mereka fakir. maka ia termasuk kategori yang diancam dengan hadits ini. Terhalang dari masuk surga. Kecuali jika bertaubat kepada Allah lalu berbuat baik kepada mereka.

Rasulullah saw juga telah bersabda, "Barangsiapa mempunyai kerabat yang lemah lalu tidak berbuat baik dan mengalokasikan sedekahnya kepada selain mereka. niscaya Allah tidak akan menerima sedekahnya dan tidak akan memandangnya pada hari kiamat. Sedangkan barangsiapa da/am keadaan fakir, hendaknya menyambung (ikatan rahim) dengan mengunjungi mereka dan selalu menanvakan kabar mereka. (Hadits Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan isnadnya dha’if)

Juga Nabi Muhammad saw. telah bersabda, "Sambunglah ikatan rahim kalian walaupun hanya dengan ucapan salam. (Hadits Hasan.. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari lbnu Abbas. Ath-Thabrani dari Abu Thufail. dan Al-Baihaqi (7973) dari Anas (7972) dari Suwaid bin Amir Dan di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (2838) dengan lafal ballu dan riwayat Al-Bukhari (5990) dari Amru bin Ash dengan lafal walakin la hum rahimun abulluha bibalaliha. maksudnya saya menyambungnya dengan menyambung tali rahimnya.)

Beliau Rasulullah juga bersabda: 

شرح حديث أبي هريرةَ رضي اللَّه عنه "وَمَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ والْيوم الآخِر، فَلْيصلْ رَحِمَهُ" وحديث "هَذَا مُقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيعةِ"

Artinya: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya menyambung ikatan rahimnya.( Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6138) dari Abu Hurairah)

Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

حديث: ليس الواصل بالمكافئ، ولكن الواصل الذي إذا قطعت رحمه وصلها

Artinya: Orang yang menyambung itu bukanlah mukafi’ (orang yang melakukannya jika kerabatnya terlebih dulu melakukan hal itu kepadanya), akan tetapi orang yang menyambung adalah orang yang jika kamu memutus hubungan darinya ia menyambungnya. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 15991 ). Abu Dawud (1697), At-Tirmidzi (19081 dan Ahmad (2/190) dari Abdullah bin Amr)

Juga di dalam sebuah hadits qudsi Allah swt. berfirman:

أَنَا الرَّحْمَنُ فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

Artinya: Aku adalah ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan dia adalah ikatan rahim. Barangsiapa menyambungnya Aku-pun menyambung hubungan dengannya. Dan barangsiapa memutuskannya Aku-pun memutuskan hubungan darinya. (Hadits Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab (7966) dan Al-Haitsaami dalam Al-Majma’ (8/151) berkata. diriwayatkan oleh Ahmad sedangkan para perawinya tsiqat.)

Ali bin Husein berpesan kepada anaknva, "Wahai anakku, jangan sekali-kali kamu bersahabat dengan orang yang memutuskan ikatan rahim. Sesungguhnya aku mendapatkannva terlaknat dalam kitabullah pada tiga tempat."

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia mengadakan majlis untuk mengkaji hadits Rasulullah saw. Dia berkata, ''Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan ikatan rahim sampai orang itu pergi dari antara kita." Tidak ada yang beranjak pergi kecuali seorang pemuda yang duduk di bagian terjauh halaqah itu. Ia pergi ke rumah bibinya sebab sudah sekian tahun ia bermusuhan dengannya. Ia jalin kemba]i ikatan rahim itu. Keheranan bibinya bertanya, "Apa vang membawamu ke mari, keponakanku?" Pemuda itu menjawab, "Sungguh, aku tengah mengikuti majlisnya Abu Hurairah. Salah seorang sahabat Rasulullah saw. Dia berkata. 'Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan ikatan rahim sampai orang itu pergi dari antara kita." Bibinya berkata, "Kembalilah ke majlisnya dan tanyakan mengapa demikian." Pemuda itu pun kembali ke majlis dan menceritakan kepada Abu Hurairah perihal sengketa antara dia dan bibinya. Dia bertanya, "Mengapa Anda tidak mau bermajlis dengan orang yang telah memutuskan ikatan rahim?" Abu Hurairah menjawab, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Sesungguhnya rahmat tidak akan turun kepada suatu kaum vang di dalamnya ada orang yang memutuskan ikatan rahim."

Kisah Cerita Inspirasi menyambung hubungan Silaturahmi

Diceritakan ada seorang laki-laki yang kaya menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Sesampai nya di Mekah ia menitipkan uangnya sebanyak 1000 dinar kepada seseorang yang terkenal dapat dipercaya dan sholeh sampai seusai wuquf di Arafah. Ketika ia telah menyelesaikan wuqufnya ia kembali ke Mekah dan mendapati orang yang dititipinya telah meninggal. Ia menanyakan perihal uangnya kepada keluarganya. Ternyata tidak seorang pun dari anggota keluarganya yang mengetahuinya.

Orang itu pun mengadukan masalahnya kepada para ulama Mekah. Mereka berkata, "Apabila separuh malam telah berlalu mendekatlah ke sumur Zamzam, lihatlah, dan panggil namanya. Jika ia termasuk penghuni surga niscaya ia akan menjawab panggilanmu pada kali pertama." Maka orang itu mengikuti nasehat mereka, mendatangi sumur Zamzam dan memanggilnya. Namun tidak ada jawaban. Karenanya ia kembali kepada mereka, mencerita-kannya. Mereka berkata, "Inna lilahi wa inna ilaihi raji’un. Kami khawatir jangan-jangan temanmu itu termasuk penghuni neraka. Pergilah ke tanah Yaman, Di sana ada sebuah sumur yang dberi nama sumur Barhut. Kaatanya sumur itu berada di tepi jahannam. Lihatlah di waktu malam, dan panggillah temanmu. Jika ia termasuk penghuni neraka niscaya ia akan menjawab panggilanmu. 

Maka orang itu pun berangkat ke Yaman dan bertanya-tanya tentang sumur itu. Seseorang menunjukkannya dan ia pun mendatanginya di malam hari. Ia melihat ke dalamnya dan berseru, "Hai Fulan!" Ada jawaban. Ia bertanva, "Di mana uang emasku?" "Aku tanam di bagian 'anu' dalam rumahku. Aku memang belum memberitahukannya kepada anakku. Galilah pasti kamu mendapatkannya.", suara jawaban itu. Orang itu bertanya lagi, "Apa yang menyebabkanmu berada di sini padahal menurut prasangka kami, kamu adalah seorang yang baik?" Terdengar suara jawaban, "Aku punya seorang saudara perempuan yang fakir. Aku menjauhinya dan tidak menaruh belas kasihan kepadanya. Maka Allah menghukumku dan merendahkan kedudukanku seperti ini.

Ini sesuai dengan dalil sabda Nabi Muhammad saw. dalam hadits yang shahih, "Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan.( Takhrij-nya telah disebutkan di muka.). Maksudnya adalah memutuskan ikatan rahim atau hubungan silaturahmi seperti saudara perempuan, bibi, keponakan, dan yang lainnya dari antara kerabat.

Demikianlah dalil dalil baik dari al-Quran dan hadits Nabi tentang memutuskan silaturahmi. Marilah senantiasa Kita memohon agar selalu mendapatkan limpahan taufiq kepada Allah umuk dapat memaatiNya dan terhindar dari perbuatan dosa memutuskan silaturahmi.

Monday, September 17, 2018

Nasehat Berbakti Kepada Orang Tua Birrul Walidain

Nasehat Berbakti Kepada Orang Tua Birrul Walidain

Dalam ajaran Islam, Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah suatu kewajiban. Hal ini tidak terlepas ketika seseorang berumah tangga. Dalil Firman Allah swt di dalam Al-quran tentang hal ini adalah sebagai berikut:
 
۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا ٣٦ 
 
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. An-Nisaa’ : 36)\

berbakti kepada orang tua
 
 
Juga Firman Allah Swt yang lain: 
 
۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣ وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤ 
 
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (QS. Al-Israa’ : 23-24)
 
Di dalam dalil hadits Nabi Muhammad Rasulullah Saw bersabda ketika beliau ditanya tentang amal-amal saleh yang paling tinggi dan mulia. Beliau bersabda: Shalat tepat pada waktunya … berbuat baik kepada kedua orang tua … jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 

Nasehat-nasehat Islami untuk Berbakti kepada orang Tua.

 
Wahai orang yang menyia-nyiakan hak yang paling besar, yang menjauhkan diri dari berbakti kepada kedua orang tua, yang durhaka, yang melupakan salah satu kewajiban, yang lalai dari sesuatu yang ada di hadapan, sesungguhnya birrul walidain atau berbakti kepada orang tua itu adalah hutang bagimu. Sayang sekali kamu membayarnya dengan, cara yang tidak baik, penuh noda aib. Kamu sendiri sibuk mencari surga, padahal ia ada di bawah telapak kaki ibumu. lbumu yang telah mengandungmu selama sembilan bulan yang bagaikan sembilan kali berhaji. Ia yang di kala melahirkanmu menderita mempertaruhkan nyawa. Ia yang telah menyusuimu, menahan kantuk untukmu, memandikanmu dengan tangannya yang lembut, dan selalu mendahulukanmu untuk urusan makanan. la yang pangkuannya telah menjadi tempat yang nyaman bagimu. la yang telah mencurahkan sepenuh kasih sayangnya kepadamu, apabila kamu sakit atau tampak menderita niscaya ia berduka, bersedih dan menangis tiada batasnya. Ia pasti mengeluarkan semua yang dimilikinya demi mencarikan dokter buatmu. Ia yang seandainya diminta untuk memilih kehidupanmu atau kematiannya, pastilah ia teriakkan kehidupanmu dengan suara yang paling lantang. Betapa sering kamu mempergaulinya dengan akhlak yang tercela. namun ia tetap memohonkan taufiq bagimu dalam setiap doanya.
 
Di saat kerentaan menghampirinya, dan ia membutuhkanmu, kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang paling tidak berharga. Ketika kamu kenyang oleh makanan dan minuman, ia dalam lapar dan dahaga. Kamu selalu mengedepankan keluarga dan anak-anakmu dari pada berbuat baik kepadanya. Kamu telah melupakan semua upayanya. Urusannya kamu anggap sangat berat, padahal sebaliknya ia sangatlah ringan. Umurnya kamu anggap teramat panjang, padahal sebenarnya pendek. Kamu mengisolir dan mengasingkannya, padahal ia tidak mendapati penolong selain dirimu. Demikian ini, pun Penolongmu telah melarangmu dari mengucapkan kata yang menyakitkannya dan menegurmu dengan teguran yang halus; di dunia kamu akan mendapati sikap durhaka dari anak-anakmu, dan di akhirat akan mendapati keadaan jauh dari Rabb semesta alam. Dia menyerumu, mengingatkanmu:
 
ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتۡ يَدَاكَ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَيۡسَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ١٠ 
 
Artinya: (Akan dikatakan kepadanya): "Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya" (QS. Al-Hajj: 10)
 
Hak ibunda tak terhitung andai kau tahu itu pun kecil bagi dirinya
Berapa malam dilaluinya dengan segala
Rintihan dan keluhan dari bibirmu
Melahirkanmu sungguh beratnya hati terbang begitu serasa
Tangan lembutnya menepiskan segala aral dari dirimu
Pangkuannya menghantarkan semua mimpi-mimpi indahmu
Oleh keluh adumu rela ia gadaikan diri
Pun rela kau hisap seluruh sari
Kadang lapar menerpa tetapi ransumnya untukmu
Demi cinta dan kasih untukmu, si kecil manja
Sungguh celaka si berakal budak nafsunya
Pula si buta hati melek matanya
Apapun. berharaplah keluasan doanya
Karena kau benar-benar membutuhkannya
 
Kisah cerita inspirasi tentang Birrul Walidain atau Berbakti kepada orang tua
 
Dikisahkan, pada zaman Nabi saw. ada seorang pemuda bernama Alqamah. Ia seorang yang menghabiskan waktu-waktunya untuk taat kepada Allah; mengerjakan shalat, puasa, dan bersedekah. Suatu hari ia sakit dan semakin hari semakin parah. Istrinya pun menyuruh seseorang menghadap Rasulullah saw untuk menyampaikan, 'Suamiku, Alqamah sedang sekarat. Dengan ini aku bermaksud mengabarkan keadaannya kepadamu. wahai Rasulullah.' Maka Nabi saw mengutus Ammar. Shuhaib, dan Bilal. Beliau bersabda, "Berangkatlah kalian, dan talqinkanlah ia dengan kalimat syahadat.'' Mereka bertiga berangkat dan memasuki rumahnya. Mereka mendapati Alqamah tengah sekarat sehingga dengan segera mereka mentalqinnya dengan ucapan 'La ilaha illallah'. Namun Iidah Alqamah kelu, tak mampu mengucapkannya.
 
Sahabat bertiga menyuruh seseorang menghadap Rasulullah ~ mengabarkan bahwa Alqamah tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat. Usai dibacakan. Nabi bertanya. "Adakah salah seorang ibubapaknya yang masih hidup?" Seseorang menjawab. "Wahai Rasulullah, seorang ibu yang sudah sangat renta.' Maka beliau pun mengutus seseorang dan berpesan, "Katakan kepadanya jika ia kuat untuk berjalan Rasulullah memanggilnya. Namun jika tidak hendaknya ia tetap tinggal di rumah. Rasulullah akan menemuinya .. ,
 
Utusan itu sampai kepadanva dan menyampaikan pesan dari Rasulullah saw..Wanita itu berucap. "Jiwaku siap menjadi tebusan jiwanva. Aku lebih pantas umuk mendatangi beliau.'' Maka wanita itu pun berdiri dengan bertelekan kepada tongkat dan berjalan menemui Rasulullah ~• Ia ucapkan salam dan beliau pun menjawabnya. Lalu Rasulullah benanya. 'Wahai Ummu Alqamah, Jujurlah kepadaku. Kalau pun kamu berdusta akan turun wahyu dari Allah swt.  Bagaimana keadaan anakmu Alqamah?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, ia rajin menunaikan shalat, shiyam. dan banyak bersedekah." ''Lalu bagaimana dengan dirimu?''. tanya Rasul lagi. Wanita itu menjawab. "Wahai Rasulullah. aku murka kepadanya." "Mengapa?", tanya beliau. "Karena ia lebih mengutamakan istrinya dari pada diriku dan ia tidak mau taat kepada ku.".jawab Ummu Alqamah. 
 
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya murka Ummu Alqamah menghalangi lisannya untuk mengucapkan syahadat." Beliau melanjutkan. "Bilal. pergi dan bawakan untukku kayu bakar yang banyak." Wanita itu bertanva, "Apa yang akan Anda Iakukan, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Aku hendak membakarnya di hadapanmu" Wanita itu menimpali, "Wahai Rasulullah, ia adalah anakku. Hatiku tidak akan kuat menyaksikannya dibakar di hadapanku." "Wahai Ummu Alqamah. adzab Allah iebih dahsyat lagi kekal. ]ika kamu senang terhadap ampunan Allah baginya ridlailah ia. Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya. shalat. shiyam. Dan sedekahnya tidak dapat mendatangkan manfaat baginya selama kamu murka.", sabda Nabi. 
 
Mendengarnya wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku bersaksi di hadapan Allah, para malaikat, dan siapa saja yang hadir di sini dari antara kaum muslimin bahwa aku rela ridla kepada anakku, Alqamah." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Bilal, berangkat dan lihatlah apakah Alqamah sudah dapat mengucapkan 'La ilaha illallah' atau belum. Bisa saja Ummu Alqamah tadi mengatakan yang bukan dari lubuk hatinya karena malu kepadaku." Bilal berangkat dan melihat kondisi Algamah. Ia berkata. "Wahai sekalian orang, murka Ummu Alqamah menghalangi lidahnya dari syahadat, dan ridlanya telah melepaskan kekeluan lidahnya."
 
Pada hari itu juga 'Alqamah meninggal. Rasulullah saw. hadir, memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya. Lalu beliau menshalatkan dan menghadiri prosesi penguburannya. Beliau berdiri di uiung kuburnva bersabda, "Wahai sekalian Muhajirin dan Anshar, barangsiapa mengedepankan istrinya dari pada ibunya niscaya akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat, dan manusia semuanya. Allah tidak akan menerima infaqnya juga sikap adilnya sehingga ia bertaubat kepada Allah  saw- dan berbuat baik kepadanya serta memohon keridlaannya. Keridlaan Allah terletak pada keridlaannya, kemurkaan Allah terletak pada kemurkaannya. 
 
Marilah kita senantiasa selalu memohon kepada Allah swt semoga membimbing kita untuk menggapai keridlaannva dan menjauhkan kita dari sikap durhaka kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang, iagi Maha Pengasih..
 
Jalan yang benar atau haq dalam mendapatkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla salah satunya adalah melalui orang tua yaitu birrul walidain. Birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu hal yanh penting dalam Islam. Di dalam keteranan Al-Qur’an, sudah jelas diterangkan bahwa setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah swt memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya.

Sunday, August 2, 2015

Demi Waktu VS Keberuntungan Hidup Dunia, Akhirat

Demi Waktu VS Keberuntungan Hidup Dunia, Akhirat

Adakah hubungan antara waktu dan keberuntungan hidup dunia dan akhirat? Demi Waktu tidak akan pernah kembali, waktu selalu meninggalkan kita, setiap kejadian yang berlalu dengan waktu pasti tidak akan pernah dan tidak akan bisa untuk kita ulangi kembali. Perbuatan maksiat, dosa, dan melanggar larangan Allah yang telah lalu tidak akan dapat kita putar ulang waktu dan kejadiannya untuk kita ganti dengan perbuatan baik dan amal sholeh. Yang kita hadapi adalah waktu yang akan datang. Dan masa lalu tidak akan pernah kembali. Oleh sebab itu, demi masa atau waktu marilah kita isi waktu saat ini dan yang akan datang dengan mengerjakan apa yang diperintahkan Allah swt dan meninggalkan semua larangan-larangannya. Janganlah kita isi waktu ini dengan keburukan, sia-sia, tidak bermanfaat, dosa dan amal keburukan lainnya. 

Allah swt berfirman dalam al-Qur’an yang berbunyi:

وَٱلۡعَصۡرِ.  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ.  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ 

Artinya: Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS al-Ashr: 1 -3 ).

http://islamiwiki.blogspot.com/
Berdasarkan dalil al-Qur’an di atas, memberikan kepada kita suatu peringatan kepada manusia bahwa mereka akan merugi apabila tidak memanfaatkan waktu (disebut demi masa (waktu). Ayat di atas juga sekaligus memberikan arahan kepada siapa saja hamba Allah yang menginginkan keberuntungan yang artinya tidak merugi yaitu mereka yang beriman, mereka yang mengerjakan amal-amal sholeh, saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran. 

Baca juga 

Beriman dengan meyakini sepenuh hati, tanpa adanya keraguan sedikitpun, keteguhan hati (istiqomah). mempunyai tekad bulat dan mantap bahwa Allah swt adalah Tuhan satu-satunya yang wajib di sembah serta iman dengan 6 rukun iman. Nilai-nilai keimanan ini hendaknya tidak hanya dalam bentuk perkataan saja, namun harus selalu tercermin dalam hati dan juga perilaku dalam kehidupan sehari-hari dimanapun mereka berdada baik di lingkungan rumah, maupun di luar rumah.

Baca juga
Ilmu istiqomah dalam al-Qur'an dan Hadits
Maksud dan tujuan diturunkannya al-Qur'an

Nilai-nilai keimanan dari seseorang ini seperti yang digambarkan dalam ayat al-Qur’an di atas yaitu surat al-‘Asr ayat 1-3 akan tercermin dalam perbuatan atau amal sholeh yang di antaranya yaitu selalu saling menasihati dalam hal mentaati kebenaran dan saling menasihati dalam mentaati kesabaran


http://islamiwiki.blogspot.com/
Bulan penuh hikmah yang adanya hanya satu bulan dalam satu tahun yaitu Ramadhan adalah merupakan bulan ujian, bulan evaluasi diri apakah kita termasuk golongan orang-orang yang merugi ataukah sebaliknya. Sebab, dalam bulan Ramadhan Allah Swt memberikan pahala kepada hambanya dengan pahala yang berlipat ganda. Juga dalam bulan ini terdapat satu malam yaitu malam lailatul qadar yang apabila nilainya adanya sama dengan nilai ibadah selama 1000 bulan. Beruntunglah bagi mereka kaum mukmin yang beriman yang benar-benar mengisi dan memanfaatkan waktu pada satu bulan ini untuk mengerjakan amal sholeh, menasehati dalam kebaikan, kebenaran dan kesabaran dan taqwa.

Baca juga
Turunnya Malam Lailatul Qadar dan keistimewaannya
Menebus dosa bagi yang tidak berpuasa Ramadhan
Rahasia sifat kesabaran dan bersyukur

Hidup di dunia ini tidaklah kekal, hanya sebentar waktunya. Tujuan Allah swt. menciptakan jin dan manusia adalah tidak lain untuk beribadah kepada Allah swt. sebagaimana firman-Nya. :

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ 

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat: 56)

http://islamiwiki.blogspot.com/
Setiap manusia ketika masih menjalani hidup di dunia untuk mencari bekal menuju alam akhirat diberikan waktu yang sama dalam setiap harinya. Akan tetapi yang dihasilkan (kebaikan maupun keburukan) oleh masing-masing individu selalu tidak sama dari waktu yang sama yaitu 24 jam. Suatu contoh, ada seseorang yang masih muda sudah mendapatkan jabatan sebagi direktur, menghasilkan berbagai macam karya, sudah bisa menghafal al-Qur’an, dan lain sebagainya yang tentunya berbeda dengan yang dicapai oleh orang lain. Demikian juga dalam hal prestasi berbuat kebaikan dan keburukan, pasti setiap orang hitungannya akan berbeda di mata Allah swt.

Seharusnya kita menyadari bahwa waktu sehari 24 jam tersebut tidak kesemuanya dapat dipergunakan untuk sesuatu hal yang dapat bernilai atau produktif. Akan tetapi dalam satu hari setiap manusia pasti memerlukan waktu istirahat yang jumlahnya mungkin 8-9 jam dalam sehari, waktu kerja 6-8 jam dalam satu hari, belum dikurangi waktu untuk kegiatan yang lain. Sehingga dalam sehari mungkin waktu tersisa yang dapat kita gunakan untuk beribadah kepada Allah swt. sangat terbatas.

Untuk itulah, marilah kita semua benar-benar memanfaatkan waktu untuk tujuan-tujuan penting kita selama hidup dunia yaitu untuk beribadah kepada Allah swt mencari bekal menuju kehidupan kelak yang kekal dana abadi. Tentu saja di kehidupan kekal nanti kita semua ingin langsung mendapatkan tempat mulia disisi Allah yaitu surga.

Kepandaian dalam mengalokasikan dan mempergunakan menggunakan waktu inilah yang menjadi kunci keberuntungan kita dalam mengarungi kehidupan di dunia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan lebih-lebih di akhirat.

Baca juga Hisab amal perbuatan manusia di akhirat

Sebagaimana pemaparan dalil al-Qur’an di atas, yang intinya orang yang beruntung adalah orang yang memanfaatkan waktu. Yang mana kita sebagai mukmin yang beriman dengan hari akhir hendaknya memanfaatkan dan menggunakan waktu untuk mengerjakan dan berbuat amal kebaikan dan kebajikan serta amalan-amalan sholeh yang lain. Janganlah kita menjadi orang yang merugi karena tidak memanfaatkan waktu untuk berbuat kebaikan, ketakwaan dan amal-amal sholeh lainnya.


Sebagai pengingat demi waktu hendaknya kita merujuk pada dalil hadits riwayat al-hakim untuk mengingat 5 perkara dalam memanfaatkan waktu, yaitu sebagai berikut:
1. Waktu mudamu sebelum tua
2. Waktu sehat sebelum sakit
3. Masa kaya sebelum masa miskin
4. Masa luang sebelum masa sibuk
5. Hidup sebelum datang kematianmu

Maka jelaslah bahwa orang yang beruntung adalah orang yang memanfaatkan waktu. Demi masa (demi waktu) mereka hendaknya memanfaatkan waktu untuk mengerjakan semua amal kebaikan, amalan-amalan sholeh agar beruntung baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan mereka akan merugi apabila demi waktu mereka, mereka tidak memanfaatkannya untuk berbuat kebaikan dan amal-amalan sholeh.

Saturday, May 16, 2015

Semangat Kerja sebagai Penghapus Dosa

Semangat Kerja sebagai Penghapus Dosa

Sahabat Ajaran Islam dimanapun anda berada. Bekerja ketika hidup di dunia adalah merupakan hal yang ditekankan dalam ajaran Islam. Bekerja dengan tujuan untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rezeki keluarga yang diniatkan untuk ibadah hanya karena Allah swt. adalah merupakan suatu hal yang mulia disisi Allah. Simak dan baca juga mulianya mencari pekerjaan, nafkah dalam islam. Begitu mulianya bekerja mencari nafkah, sampai-sampai Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada umatnya untuk giat dan semangat dalam bekerja karena dengan semangat kerja untuk ibadah akan dapat menghapuskan dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan amalan ibadah sholat, puasa, haji dan umrah. Sebagaimana dalil sabda Nabi Muhammad saw, yang artinya :

Baca juga pembagian dosa-dosa menurut sumber hukum islam

Abu Hurairah berkata, bahwa Nabi saw, bersabda: sesungguhnya ada dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan ibadah sholat, maupun puasa, haji dan umrah. Kemudian para sahabat Nabi bertanya: apa yang dapat menghapus dosa-dosa itu wahai Rasulullah, kemudian Nabi berkata: bersemangat di dalam mencari rezeki.

Baca juga Abu Hurairah mendapatkan pelajaran dari pencuri

Berdasarkan dalil sabda Nabi di atas, tersirat makna yang dapat memberikan kita motivasi kepada kita kaum muslimin bahwa bekerja adalah suatu keharusan bagi siapa saja yang berkeinginan meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Tentu saja harapan kebahagiaan dan kesuksesan baik di dunia untuk mencapai harapan kebahagiaan dan kesuksesan kehidupan hakiki yang kekal di kehidupan akhirat kelak. Oleh sebab itu, dengan semangat kerja dengan niat ibadah karena Allah niscaya akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat yaitu kebahagiaan sejati.

Baca juga manusia akan dihisab di hari kiamat


semangat kerja
Islam adalah agama yang rahmatal lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Islam sangat menjunjung tinggi bagi setiap orang yang berdedikasi dan mempunyai loyalitas tinggi dalam bekerja. Allah swt. adalah Allah adalah sanga Maha pengasih dan Penyayang (ar-rahman dan ar-Rahim), Maha Kaya (Al Ghaniyy) yang akan mengkayakan hamba-Nya dari arah yang tidak diduga-duga dan dengan tiba-tiba. Oleh sebab itulah, dalam kondisi bagaimanapun, kita harus semangat dalam bekerja dan selalu bergerak untuk mencari setiap peluang serta membuka pintu-pintu rezeki yang telah disediakan oleh Allah swt. dengan semangat bekerja sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, niscaya kita tidak akan takut akan kehilangan dan kehabisan kekayaan di dunia untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki kelak di akhirat. Karena tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk mencari bekal di kehidupan kelak di akhirat. 


Semangat bekerja dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi

Dalam Firman Allah swt dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 10 yang berbunyi :

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠ 

Artinya: Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Dari ayat di atas, terkandung sinergi dan keharmonisan antara ibadah sholat, berdoa, dzikir dan semangat bekerja untuk mencari rezeki dan karunia Allah swt. Dalam keterangan ayat di atas, tampak jelas bahwa Allah swt. menyuruh kepada hamba-Nya untuk selalu bergerak dinamis, dan bukan hanya berdiam diri memperbanyak dzikir dan berdoa dalam menyambut rezeki yang disediakan Allah swt. di samping giat dan semangat dalam bekerja, harus di dukung dengan senantiasa berdoa, berdzikir mengingat Allah swt. 



Dalam dalil Hadits Nabi saw. bersabda yang artinya: mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti sholat dan puasa). (HR. Baihaqi dan Thabrani)

semangat kerja
Dengan keterangan dari Al-Qur’an dan dalil hadits Nabi Muhammad saw., maka dapat ditarik kesimpulan bahwa semangat bekerja atau dengan kata lain bekerja keras adalah merupakan kewajiban karena diperintahkan oleh Allah dan juga Rasulnya. Baca juga hak dan kewajiban manusia kepada Allah. Dengan demikian apabila tidak semangat bekerja, bekerja keras dan selalu bergerak dalam mencari rezeki Allah, maka hal yang demikian adalah melawan Sunnatullah serta apa yang dicontohkan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. 

Sebagaimana dalil hadits Nabi saw. yang artinya: Sebaik-baik manusia dalam mengerjakan pekerjaan adalah mereka yang senantiasa berusaha semaksimal mungkin dengan mengeluarkan kemampuan yang dimilikinya. 

Maka jelaslah, bahwa dalam bekerja hendaknya harus selalu semangat, mengeluarkan usaha dan kemampuan semaksimal mungkin, tidak mengatakan bahwa diri anda tidak mampu, atau mengatakan bahwa diri anda sudah ditakdirkan untuk gagal dan miskin.

Nabi Muhammad Rasulullah saw. adalah pekerja keras, semangat dalam bekerja dan sangat dan lebih menyukai orang yang semangat bekerja dan bekerja dengan penuh tantangan daripada orang yang bermalas-malasan, pasrah dan mudah putus asa terhadap apa yang dikerjakannya. 

Hal tersebut di atas, telah diterangkan dalam Hadits Nabi saw. dimana beliau mencium tangan sahabat Nabi yang bernama Sa’ad bin Mu’adz ketika melihat tangan Sa’ad yang kasar karena semangat dan giat bekerja keras. dan beliau mengatakan bahwa: inilah kedua tangan yang dicintai Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bahwa Nabi saw. bersabda: Demi Allah, apabila seseorang di antaramu membawa tali dan pergi ke suatu bukit untuk mencari kayu bakar, lalu dipikul ke pasar untuk mereka dijual, maka hal itu lebih baik daripada mereka meminta-minta kepada orang lain,  terkadang  dia dapat dan terkadang  dia ditolak. 

Dalam Islam, jelaslah bahwa bekerja adalah merupakan salah satu bentuk ibadah yang mana kualitasnya adalah sama dengan amal-amal ibadah yang lain. Baca juga lima amalan utama anjuran Rasulullah saw. Oleh sebab itu, apabila nilainya sama dengan ibadah yang lain, maka hendaknya dalam bekerja dilakukan dengan semangat, berusaha dengan semaksimal mungkin yang ada dalam dirinya dan tidak lupa dalam bekerja dengan niat ibadah kepada Allah swt, maka setiap yang kita kerjakan akan bernilai ibadah di sisi Allah.  baca juga setiap amal tergantung dari niatnya. Yang terakhir dari tulisan ini, mari kita siapkan mental untuk semangat bekerja, bekerja keras untuk siap bertarung dalam meraih rezeki Allah swt yang melimpah ruah di bumi ini. Dengan demikian kita akan dapat meraih kesuksesan dan menikmati hasil semangat kerja dengan ridlo Allah swt. Amiin......

Saturday, March 14, 2015

Mulianya Kejujuran akan Membawa Ke Surga

Mulianya Kejujuran akan Membawa Ke Surga

Kejujuran adalah merupakan perbuatan dan perkataan yang baik yang dapat menghantarkan pelaku kejujuran kepada surga. Berkata dan berlaku jujur adalah merupakan tuntutan di dalam ajaran Islam. Di samping itu berkata jujur, kejujuran bagi pelakunya akan mempunyai derajat yang tinggi. Sebaliknya lawan kata dari kejujuran adalah kebohongan. Kebohongan merupakan sifat yang sangat berbahaya dan perbuatan yang paling dibenci oleh Rasulullah saw. yang dapat merupakan salah satu penyebab dan pangkal dari timbulnya dosa-dosa yang lain dan dapat menghantarkan pelakunya masuk ke dalam neraka

Allah swt. Senantiasa mengawasi hambanya dan mengetahui apapun yang dikerjakan hambanya baik kejujuran maupun kebohongan sekecil apapun. Allah swt. Maha tahu pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan di dalam hati. Allah swt. Berfirman dalam Al-Quran al-Karim:

 إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلۡمِرۡصَادِ 

Artinya : sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS. al-Fajr: 14 ) .

Berikut ini adalah kisah-kisah dari sahabat khalifah Umar in Khattab yang mengisahkan tentang kejujuran yang merupakan mahkota kehidupan.

Pada suatu ketika Khalifah Umat bin Khattab berjalan-jalan melintasi padang rumput. Khalifah Umar sangat tertarik melihat kambing-kambing yang sehat dan gemuk di padang rumput yang beliau lewati. Beliau kemudian ingin membeli kambing tersebut dan menemui budak penggembala kambing.

Penggembala kambing tersebut adalah seorang anak kecil. khalifah Umar, menemui penggembala itu dan menyampaikan apa yang menjadi maksud beliau yaitu membeli kambing. Akan tetapi, sang penggembala itu menolak dan beralasan bahwa kambing-kambing itu bukanlah miliknya tetapi milik majikannya. Kemudian Khalifah Umat berkata kepada penggembala itu : Bilanglah kepada majikanmu kalau kambing-kambing itu dimakan oleh serigala. Namun, apa jawaban dari anak kecil penggembala kambing? Penggembala kambing itu berkata kepada Khalifah Umar  : jika demikian, di mana Allah?"

Mendengar demikian, Akhirnya, Khalifah Umar membebaskan  budak penggembala kambing tersebut serta menyerahkan semua kambing-kambing yang beliau inginkan kepada budak penggembala.

Kisah cerita kedua keteladanan kejujuran

Suatu ketika khalifah Umar berjalan-jalan keliling Kota Madinah pada musim paceklik yang mana sebelumnya, beliau berpesan kepada kaum Muslim untuk tidak berlaku curang. Di suatu malam khalifah Umar melewati sebuah rumah. Dari sebuah rumah tersebut beliau mendengar adanya percakapan antara sang ibu penjual susu dengan anak gadisnya.

Pada percakapan tersebut, ibu tersebut meminta anaknya untuk mencampur susu dengan air agar supaya susu yang akan dijual menjadi lebih banyak sehingga dapat mendapatkan untung yang lebih besar. Akan tetapi, anak perempuan tersebut tidak mau melaksanakan apa yang disuruh oleh ibunya. 

Anak perempuan tersebut tidak mau melaksanakan perintah ibunya, karena sebelumnya Khalifah Umar menyuruh untuk tidak berbuat curang dan tidak mencampur susu dengan air. Anak perempuan tersebut berkata: memang tidak ada orang yang mengetahui perbuatan mereka. Namun, dimana Allah? Allah dan para malaikat mengetahui, dan besok kelak di hari kiamat kita akan dimintai pertanggung jawaban. Setelah mendengar perkataan dari gadis tersebut yang memegang teguh kejujuran, maka khalifah umar menjadikannya sebagai menantu.

Dua kisah tentang kejujuran di atas menunjukkan kejujuran yang terlahir atas dasar iman yang sangat teguh kepada Allah swt. Iman yang menjadikan diri bersikap merasa di awasi oleh Allah swt (muraqabah), meyakini bahwa Allah swt adalah Maha melihat apa saja yang dikerjakan oleh hambanya meskipun tidak seorangpun mengetahui apa yang kita lakukan. Sehingga iman dengan ihsan yang demikian akan menjadikan pribadi seseorang selalu jujur kapan pun dan dimanapun berada dan selalu merasa diawasi oleh Allah swt.

Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa bersikap dan berperilaku jujur dalam keseharian.  Dan sebaliknya Nabi Muhammad saw. sangat membenci perilaku dan perbuatan dusta dan mengingatkan kepada umatnya untuk menghindari perbuatan dusta. Sebagaimana dalil hadits sabda Nabi saw. yang artinya:

Bersikaplah jujur. Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga. Jauhilah bohong. Sesungguhnya kebohongan akan menyeret pada kedurjanaan, dan kedurjanaan menyeret kepada neraka." (HR Muslim ).

Juga hadits Nabi saw. yang lain :

"Sesungguhnya Allah itu cemburu. Cemburunya Allah, yaitu jika seseorang melakukan sesuatu yang diharamkan terhadapnya." (HR. Bukhari-Muslim).

Dari kisah cerita keteladanan kejujuran dan juga sumber dari dalil hadits Nabi saw. yang sangat mengajarkan dan menganjurkan kepada hambanya untuk bersikap, berkata dan berbuat kejujuran. Karena kejujuran akan dapat membawa kepada jalan menuju surga. Oleh sebab itu, hendaknya dan sebaiknya serta sudah seharusnya setiap Muslim selalu berpegang teguh kepada kejujuran. Kejujuran dalam sikap, perkataan dan perbuatan. 

Dengan kejujuran, maka akan dapat mencegah diri seseorang dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah swt. seperti perbuatan zina yang merupakan dosa besar dan penyakit sangat berbahaya, perbuatan dosa korupsi, perbuatan dosa mencuri, perbuatan berjudi yang haram hukumnya, dosa menipu serta berbagai macam perbuatan butuk lainnya. Naudzu billahi min dzalik.

Saturday, December 20, 2014

Empat Makna, Arti Kata Insya Allah

Empat Makna, Arti Kata Insya Allah

Bagaimana dan kapankah menggunakan kata insya allah? Apa makna dan arti insya allah yang benar dalam implementasi kehidupan sehari-hari?

Mengenai kata insya Allah, firman Allah swt. dalam Kitabullah Al-Qur’an al-Karim :

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَاْيۡءٍ إِنِّي فَاعِلٞ ذَٰلِكَ غَدًا. إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلۡ عَسَىٰٓ أَن يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَٰذَا رَشَدٗا 

Artinya : Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". ( QS. al-kahfi ayat 2 3 - 2 4)

Untuk menambah pemahaman tentang makna dan arti insya allah, berikut adalah kisah cerita yang mengandung pengajaran tentang makna dan arti kata insya allah.

Pada suatu hari, utusan dari kaum Quraisy yang bernama Uqbah bin Abi Mu'ith dan an-Nadlr bin al-Harts datang bertemu dengan seorang pendeta Yahudi di kota Madinah untuk menanyakan tentang kenabian dari Muhammad.  Setelah bertanya kepada pendeta itu, kemudian mereka menceritakan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan perkataan, perbuatan dan juga sikap Muhammad.

Kemudian, pendeta Yahudi tersebut berkata : tanyakanlah kepada Muhammad tentang tiga hal. Apabila dapat menjawab pertanyaannya, maka dia adalah Nabi yang diutus. Namun, apabila dia tidak dapat menjawab pertanyaannya, maka dia hanyalah seorang yang mengaku sebagai Nabi.

Pertanyaan pertama, tanyakanlah tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan  apa yang terjadi kepada pemuda-pemuda itu.

Pertanyaan yang kedua, tanyakanlah kepada Muhammad mengenai seseorang pengembara yang sampai ke Maghrib dan Masyriq serta tanyakanlah apa yang terjadi pada pengembara tersebut.

Pertanyaan ketiga, tanyakan juga kepada Muhammad mengenai roh.

Kemudian, berangkatlah utusan kaum Quraisy itu untuk bertemu dengan Rasulullah Saw. dan mereka menanyakan ketiga persoalan atau pertanyaan sebagaimana tersebut di atas. Kemudian Nabi Muhammad Rasulullah Saw. bersabda : Aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian besok. Rasulullah saw. mengatakan itu tanpa disertai dengan kalimat atau kata insya Allah.

Nabi Saw. menunggu-nunggu datangnya wahyu hingga 15 malam, akan tetapi, Jibril tidak kunjung datang. Orang-orang penduduk Mekah pun mulai mencemooh Rasul dan Rasulullah saw. merasa sangat sedih, merasa malu dan gundah gulana, karena tidak tahu apa yang harus disampaikan kepada kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril dengan membawa wahyu yang menegur Rasulullah Saw. karena Nabi saw. memastikan sesuatu  hal pada esok hari tanpa mengucapkan kalimat atau insya Allah. Sebagaimana Firman Allah swt. Di atas, dalam al-Qur’an Surat al-kahfi ayat 2 3 - 2 4.

Pada kesempatan itu juga, Jibril menyampaikan wahyu tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yaitu persoalan Ashabul Kahfi ( QS. Al-Kahfi : 9 - 2 6 ), tentang seorang pengembara, yaitu Dzulqarnain ( QS. Al-kahfi : 8 3 - 1 0 1 ) dan permasalahan tentang roh ( QS. Al-Isra’: 8 5 ] .

وَيَسَۡٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا

Artinya : Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. ( QS. Al-Isra’: 8 5 ] .

Menyadur dari Kitab Jaami'ul Bayan dari Mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari  menjelaskan : Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah Saw. agar jangan memastikan sesuatu perkara akan terjadi tanpa halangan apapun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah Swt.

Sungguh agung arti atau makna dari kata insya Allah. Dimana arti insya allah sedikitnya terkandung empat makna atau arti, yaitu sebagai berikut :
  • Arti pertama dari kata insya Allah adalah bahwa pada diri manusia mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap rencana dan ketentuan Allah (tauhid)
  • Arti insya allah yang kedua adalah berkaitan dengan menghindari kesombongan karena semua kesuksesan, keberhasilan yang dicapai baik dalam hal kekayaan, politik,keilmuan, status social, kekayaan, keilmuan, dan lain sebagainya)
  • Arti kata insya allah yang ketiga adalah menunjukkan ketawadhuan (rendah hati bahwa manusia mempunyai keterbatasan diri untuk melakukan dan mengerjakan sesuatu) baik di hadapan manusia dan di hadapan Allah Swt.
  • Makna arti kata insya allah yang keempat adalah bermakna optimisme akan hari esok yang lebih baik.
Mempermainkan kata insya Allah

Bagaimana seandainya kata insya Allah dijadikan sebagai tameng untuk mengelabui atau memerdaya orang lain atau dijadikan sebagai dalih untuk melepaskan diri dari suatu tanggung jawab?

Sesungguhnya seseorang yang berperilaku demikian, maka mereka telah melakukan dua dosa.
  • Dosa pertama, adalah mereka telah menipu karena menggunakan zat Allah swt
  • Dosa kedua, mereka telah menipu diri sendiri karena sesungguhnya mereka enggan menepatinya, kecuali hanya sekadar menjaga relasi hubungan baik semata dengan teman, rekan, relasi atau kawan.
Itulah empat makna atau arti yang terkandung dalam kata insya Allah. Sesuai dengan pemaparan di atas, bersumber dari dalil al-Qur’an al-Karim, maka hendaknya bagi setiap mukmin apabila tidak bisa memastikan sesuatu hal, sesuatu perkara akan terjadi tanpa halangan apapun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah Swt. Maka hendaknya tidak menjanjikan dengan pasti, namun tmengucapkan kata insya allah (apabila allah menghendaki).

Namun perlu diperhatikan, bahwa arti insya allah mengandung empat makna atau arti yang benar-benar harus dijalankan ke empat hal tersebut dengan sungguh-sungguh dan bukan hanya ucapan kata insya allah belaka tanpa adanya ke empat arti insya Allah dalam pelaksanaannya.

Mempermainkan kata Insya Allah, misalnya berkata insya allah, namun tidak sungguh-sungguh melaksanakannya adalah perbuatan dosa.

Sunday, November 16, 2014

Cara Mencegah Keinginan Syahwat Korupsi

Cara Mencegah Keinginan Syahwat Korupsi

Mencegah korupsi atau menghindari dari keinginan korupsi adalah keharusan dan wajib dalam Islam. Dunia dan hawa nafsu, keduanya apabila digabungkan menjadi satu akan dapat melahirkan beragam kejadian kehidupan yang berujung negatif seperti persoalan dunia hiburan yang saat ini lebih banyak mengeksploitasi tubuh wanita, konflik dalam pemilihan pimpinan, hingga memicu timbulnya keinginan atau hawa nafsu korupsi yang dikenal dengan korupsi karena adanya sifat keserakahan untuk dapat hidup bermegah-megahan atau mewah yang disebut dengan corruption by greed.

Hawa nafsu itu sendiri apabila dipelihara dan dibiarkan, maka rasa ini akan semakin bertambah besar. Sehingga manusia dengan hawa nafsu atau syahwat ini tidak akan pernah puas memperturutkan hawa nafsunya. Sedangkan dunia itu sendiri adalah fatamorgana yang hanya sementara saja.

Dalil firman Allah swt dalam Kitabullah Al-Qur’an al-Karim, telah menjelaskan tentang fatamorgana dunia yang sering kali menyilaukan manusia :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمََٔابِ

Artinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)

Berikut ini adalah cerita suri tauladan yang baik tentang tema bahasan di atas yaitu mencegah keinginan syahwat korupsi dari Khalifah Ali bin Abi Thalib

Dikisahkan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib memarahi saudaranya yang bernama Aqil. Aqil meminta Khalifah Ali bin Abi Thalib untuk mengambil uang kas negara yang dipergunakan untuk melunasi hutang-hutang Aqil. Kemudian Ali dengan tegas berkata : saya sebenarnya sangat ingin membantumu, namun tidak dengan uang kas negara.

Mendengar demikian, Aqil merasa kecewa dan terus mendesak Khalifah Ali. Sehingga hal ini membuat Khalifah Ali bin Abi Thalib marah kepada Aqil dan berkata : karena engkau terus mendesak dan tidak mendengarkan pendapatku, aku sarankan sesuatu yang bisa melunasi hutang-hutangmu. Lihatlah kotak uang di pasar itu, ambillah kotak tersebut saat pasar sedang sepi.

Aqil pun terkejut dan bertanya : mengapa kamu menyuruhku mencuri uang pedagang yang seharian sudah bekerja keras? Khalifah Ali berkata : lalu, bagaimana bisa kamu mendesakku untuk mencuri uang seluruh rakyat?

Demikianlah kisah contoh teladan yang baik, tentang mencegah hawa nafsu korupsi. Hidup ini adalah seperti layaknya roda yang selalu berputar. Ada kesenangan, ada duka lara, rasa aman, kasih sayang yang silih berganti. Rahasia kehidupan ini adalah merupakan skenario dari Allah swt untuk hamba-hamba-Nya di dunia.

Oleh sebab itulah, janganlah menuruti hawa nafsu negatif seperti korupsi. Hawa nafsu negatif mencari kemewahan dunia hanyalah akan membawa seseorang kepada kehancuran. Dengan demikian roda kehidupan dunia ini akan hancur pula. Hanya dengan kesabaran dengan sabar yang sesungguhnya dan sholat pada waktunya adalah kunci untuk membawa roda kehidupan kembali pada jalannya.

Dengan mempunyai sifat sabar adalah merupakan kunci dari segala keinginan dan cita. Sedangkan dengan sholat tepat pada waktunya adalah merupakan kunci untuk menguasai hawa nafsu, jiwa dan pikiran serta menentang, mencegah dan mengekang hawa nafsu syahwat korupsi. Sholat tepat waktu dan sifat, sikap sabar adalah merupakan jalan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt Tuhan pencipta dan pemilik kenikmatan sejati dan keindahan.

Friday, August 15, 2014

no image

Mendapat Ampunan Karena Menyayangi Binatang

Sebagaimana yang telah kita ketahui sebagai umat Islam bahwa alam beserta isinya adalah merupakan ciptaan Allah swt yang dikaruniakan untuk umat manusia. Termasuk juga hewan, binatang, tumbuhan dan tanaman adalah merupakan ciptaan Allah yang mempunyai berbagai manfaat bagi umat manusia.

Firman Allah dalam al-Qur'an al-karim surat An-Nahl ayat 5 yang berbunyi  :

وَٱلۡأَنۡعَٰمَ خَلَقَهَاۖ لَكُمۡ فِيهَا دِفۡءٞ وَمَنَٰفِعُ وَمِنۡهَا تَأۡكُلُونَ 

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. QS. An-Nahl : 5)

Di samping berbagai manfaat yang bisa kita peroleh dari binatang terdapat juga beberapa daging dan hewan yang haram untuk dikonsumsi atau di makan oleh manusia karena beberapa alasan kesehatan dan juga memang diharamkan dalam al-Qur'an dan al-Hadits.

Menyayangi binatang dan ampunan dosa

Diterangkan dalam hadits Nabi Muhammad saw. yang berbunyi :

قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِى الطَّرِيقٍ, اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ, فَوَجَدَ بِئْرًا, فَنَزَلَ فِيهَا, فَشَرِبَ مِنْهَا, ثُمَّ خَرَجَ, فَإِذَا هُوَ كَلْبٌ, يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ, فَقَالَ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي يَبْلُغُ بِى فَنَزَلَ الْبِئْرَ, فَمَلَأَ خُفَّهُ, ثُمَّ رَقِيَ, فَسَقَى الْكَلْبَ, فَشَكَرَ اللَّهُ, فَغَفَرَاللهُ لَهُ, قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ, وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ لَأَجْرًا؟ فَقَالَ فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ 

Artinya : Sabda Nabi saw. ketika seorang laki-laki sedang berjalan, ia merasa sangat haus, maka didapatkannya sebuah sumur, lalu turunlah ia ke dalamnya dan minumlah ia di sana, kemudian ia keluar. Tiba-tiba mendapatkan seekor anjing yang sedang makan tanah basah karena kehausan pula. Maka berkatalah laki-laki itu anjing itu telah kehausan seperti aku, lalu ia turun lagi ke dalam sumur dan mengisi sepatunya dengan air, kemudian dipegangnya sepatu itu dengan mulutnya dan naiklah ia kembali, lalu diberinya minum anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya. Para sahabat berkata, Ya Rasulullah apakah kami akan mendapat pahala karena menyayangi binatang itu? Maka sabda Nabi : dalam menyayangi binatang yang masih hidup ada pahalanya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Cinta pada tumbuh-tumbuhan

Tumbuh-tumbuhan juga merupakan ciptaan Allah sebagaimana firman-Nya dalam Surat An-Nahl ayat 11,  surat Ar-Ra’d ayat 4, dan juga surat Fathir ayat 27 serta surat Ta ha : 53 yang mana Allah menciptakannya dengan sangat beragama dan bermacam-macam.

Perintah Allah tersirat secara jelas dalam al-Qur'an tentang perintah untuk tidak menjadikan kerusakan di muka bumi. Sebagaimana dalil firman Allah yang berbunyi :

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ 

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqarah : 205).

Juga dall hadits Nabi Muhammad saw.

عن قتادة عن انس بن مالك عن النّبيّ صلى الله  عليه وسلم قال ما من مسلم غرس غرسا فأكل منه إنسان أو دابة إلا كان له صدقة

Dari Qatadah dari Anas bin Malik, dari Nabi saw bersabda : tidaklah seorang muslim menanam tanaman maka memakan daripadanya manusia atau binatang kecuali baginya shodaqoh. (HR. Bukhari).

Binatang dan tumbuhan merupakan ciptaan Allah swt yang diperuntukkan bagi manusia. Dengan beberapa keterangan hadits di atas, maka hendaknya kita sebagai hamba-Nya Allah hendaknya menjaga dan melestarikana hewan,binatang serta tanaman dan tumbuhan sehingga dapat memberikan manfaat kepada kita.

Wednesday, July 23, 2014

no image

Melawan Malas dengan Kemampuan Berdiri Sendiri

Sifat malas merupakan sifat merupakan sifat yang tercela dan dilarang dalam agama islam. Oleh karena itu Nabi Muhammad Rasulullah saw. sendiri memohon kepada Allah swt. agar terhindar dan dijauhkan dari sifat malas. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang berbunyi sebagai berikut :

اَللهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ، وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَاوَالْمَمَاتِ (رواه مسلم

Artinya : Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu (agar terhindar) dari kelemahan, kemalasan, ketakutan dan aku berlindung pula kepada-Mu dari azab kubur dan fitnah sewaktu hidup dan menjelang mati. (H.R. Muslim)

Pengertian malas adalah  enggan dan tidak mau belajar, tidak mau bekerja serta berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. 

Orang yang pemalas adalah mereka selalu membayangkan hal-hal yang indah yang tidak mungkin sesuatu yang indah itu datang dengan sendirinya. Orang malas umumnya tidak mau menyingsingkan lengan baju mereka, tidak mau mengeluarkan dan memeras keringat, tidak mau bekerja, tidak mau berusaha, tidak mau menggunakan tenaga dan pikirannya untuk menuju hal yang positif yang pada akhirnya mereka menderita secara jasmani dan juga rohani.

Karena orang pemalas ini menderita dan sakit secara jasmani dan juga rohani, merekapun berani mengolok-olok kepada Tuhan, menyangka Tuhan tidak bijaksana dan tidak adil dan lain sebagainya.

Melawan Malas dengan rajin, dan memperoleh kemampuan berdiri sendiri

Dari keterangan hadits di atas hendaknya kita sebagai generasi bangsa dan juga sebagai umat Nabi Muhammad dan hamba Allah, kita harus menjauhi dan menghindari sifat malas dan pemalas.

Kebalikan dari sifat pemalas adalah sifat rajin. Rajin belajar, rajin bekerja, rajin berusaha agar mampu berdiri sendiri yang artinya adalah tidak tergantung dengan orang lain sehingga tidak menjadi beban bagi orang lain. Kita dikatakan dapat berdiri sendiri dengan dasar memiliki kemauan keras dalam belajar dan berusaha serta dengan tekad bahwa membiayai diri sendiri adalah merupakan kewajiban bagi setiap manusia.

Dalam untaian kata pepatah Arab yang artinya : "Mampu berdiri sendiri, merupakan pangkal segala keberhasilan". Untuk memperoleh kemampuan diri sendiri, maka perlu mengetahui beberapa hal sebagai berikut :
  • Batas diri
  • Cinta kepada diri sendiri
  • Menghormati diri sendiri
Tahu Batas Diri

Tahu batas diri sendiri artinya adalah mengetahu batas ilmu, batas kekuatan akal, batas kekuatan anggota tubuh, batas harta bendanya, batas tingkat dan derajat kebesaran, batas kelebihan yang dimiliki terhadap orang lain dalam segala hal, perkara dan kepentingan.

Seseorang yang mengetahui batas dirinya sendiri dapat terlihat dalam tutur bahasa, dalam perbuatannya dan dalam budi pekertinya. Seseorang tersebut berkata kepada siapa saja menurut apa yang ia ketahui. Ia berkata kepada siapa saja, apa-apa yang ada pada dirinya, bukan apa yang ada pada diri orang lain.

Cinta kepada diri sendiri

Adalah selalu mengusahakannya agar dapat mencapai kebaikan serta kebajikan, dan juga menolak apa-apa yang dapat mencelakakan dan merusak serta menyusahkan dirinya. Kasih sayang kepada diri sendiri merupakan pangkal dan dasar kebahagiaan yang sempurna adalah panjang umur dalam taat kepada Allah swt. Sebagaimana dalil hadits Nabi Muhammad saw :

اَالسَّعَادَةُ كُلُّ السَّعَادَةِ طُوْلُ فِىْ طَاعَةِ اللهِ

Kebahagiaan yang paling sempurna adalah panjang umur dalam taat kepada Allah.

Menghormati diri sendiri

Adalah mengerjakan dan melaksanakan pekerjaan serta perbuatan yang orang lain akan menghormatinya, misalnya bertindak dan bertingkah laku sopan santun dalam berkata-kata, taat kepada kedua orang tua, berperangai baik. Mulut dan lidah selalu terjaga, tidak suka mencela, menghina dan memaki orang lain, tidak suka mengadu domba dan mengumpat. Apabila datang dan ada kebenaran dari siapapun meskipun dari orang yang statusnya lebih rendah, hatinya tidak segan untuk menerima sebagaimana dia tidak segan menolak kebatilan walaupun datangnya dari orang besar. Perbuatan demikianlah sebagai tanda dari menghormati diri sendiri.
Maka jelaslah bahwa sifat malas itu sangat tercela bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu hendaknya dan sebaiknya kita menghindarkan, menyingkirkan diri kita jauh-jauh dari sifat malas dengan cara membangkitkan semangat bekerja,  rajin belajar, rajin bekerja dan berusaha dan berusaha memperoleh kemampuan berdiri sendiri dengan cara mengetahui batas diri, cinta kepada diri sendiri dan menghormati diri sendiri. Dan yang tidak kalah penting adalah diiringi dengan doa yang sebagaimana tersebut di atas.

Sunday, June 22, 2014

no image

Menggadaikan Barang dalam Islam

Menggadaikan dalam islam dikenal dengan istilah dari kata Gadai. Pengertian dari gadai adalah penyerahan suatu barang atau benda yang berharga dari seseorang kepada orang lain sebagai penguat atau tanggungan dalam utang piutang. Dalam gadai terdapat benda yang dijadikan sebagai penguat dalam utang piutang tersebut. Benda atau barang penguat dalam utang piutang ini dikenal dengan istilah Borg 

Borg dalam fiqih islam disebut Ar-Rahnu. Benda atau barang yang dijadikan sebagai borg ini akan diambil oleh orang yang berutang jika utangnya telah dibayar. Apabila waktu pembayaran yang ditentukan telah tiba dan utangnya belum dibayar, maka borg atau benda berharga itu dapat dijadikan sebagai pengganti pembayaran utang atau borg itu dapat dijual untuk pembayaran utang dan apabila ada kelebihan uang dari penjualan barang atau benda borg tersebut, kelebihannya akan dikembalikan kepada orang yang berutang, 

Tentang menggadai atau gadai dengan menggunakan benda berharga yang disebut borg, Allah swt. berfirman:

وَإِن كُنتُمۡ عَلَىٰ سَفَرٖ وَلَمۡ تَجِدُواْ كَاتِبٗا فَرِهَٰنٞ مَّقۡبُوضَةٞۖ فَإِنۡ أَمِنَ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا فَلۡيُؤَدِّ ٱلَّذِي ٱؤۡتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ وَلۡيَتَّقِ ٱللَّهَ رَبَّهُۥۗ وَلَا تَكۡتُمُواْ ٱلشَّهَٰدَةَۚ وَمَن يَكۡتُمۡهَا فَإِنَّهُۥٓ ءَاثِمٞ قَلۡبُهُۥۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ ٢٨٣

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu´amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. Al- Baqarah: 283)

Hukum gadai dan hukum borq adalah sunnah atau diperbolehkan bagi yang memberikan utang (dal hal ini adalah yang menerima borg) dan hukumnya mubah bagi yang berutang menyerahkan borg.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam gadai adalah harus terpenuhinya Rukun Gadai. Rukun gadai yang wajib dipenuhi dalam gadai antara lain sebagai berikut :
  • Ada pihak atau Orang yang menggadaikan atau yang menyerahkan jaminan.
  • Ada pihak atau Orang yang memberi utang atau menerima jaminan. Kedua orang diatas disyaratkan orang yang berhak membelanjakan hartanya.
  • Barang yang digadaikan jaminan yang dikenal dengan istilah borg. Borg disyaratkan tidak rusak sebelum sampai kepada waktu pembayaran utang.
  • Utang atau sesuatu yang menjadi adanya gadai.
  • Akad (Ijab Kabul).
Antara borg dan gadai terdapat perbedaan yang terletak pada pemanfaatan barang. Pada borg, Pemanfaatan borg tetap berada pada pemilik barang, sedangkan gadai pemanfaatannya pindah kepada penerima gadai.

Saturday, June 21, 2014

no image

Ijarah-Sewa Menyewa yang Benar dalam Islam

Bagaimanakah aturan dan ajaran islam mengenai sewa menyewa atau ijarah yang benar? Terdapat beberapa aturan tentang ijarah atau sewa menyewa yang benar dalam islam yaitu meliputi rukun sewa menyewa, syarat sewa menyewa dan akad dalam sewa menyewa. Ketiganya harus dipenuhi dalam ijarah sehingga sewa menyewa yang dilaksanakan di antara dua pihak sesuai dengan ajaran dan aturan islam
Sewa-menyewa atau dalam bahasa arabnya adalah ijarah. Pengertian ijarah secara bahasa berarti upah atau sewa. Sedang menurut pengertian istilah, ijarah adalah akad untuk mengambil suatu manfaat benda dari pemiliknya dengan bayaran atau penukaran tertentu menurut perjanjian antara kedua belah pihak.
Hukum ijarah adalah mubah (boleh) dan hukum ijarah dapat berubah haram apabila sewa-menyewa itu untuk barang maksiat. 
Rukun dan syarat ijarah 
Pada uraian di atas telah dijelaskan bahwa dalam ijarah atau sewa menyewa yang baik dan benar harus meliputi rukun dan syarat ijarah. Rukun dan syarat sewa menyewa adalah meliputi tiga hal yaitu orang yang menyewa dan yang menyewakan, benda yang disewakan, sewa atau upah dan akad atau ijab kabul ijarah. Ketentuan-ketentuan yang berlaku pada masing-masing hal adalah sebagai berikut :
Orang yang menyewa dan orang yang menyewakan: dalam ijarah kedua belah pihak ini harus disyaratkan:
  • Baligh yang artinya adalah suidah dewasa.
  • Berakal sehat dan tidak gila
  • Melakukan ijarah atas Kehendak sendiri dan bukan terpaksa atau paksaan dari orang lain
Benda yang disewakan, dalam ijarah benda-benda atau barang dalam ijarah mempunyai ketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut :
  • Benda itu dapat diambil manfaatnya.
  • Benda itu diketahui jenis, kadar, sifat, dan jangka waktu yang disewanya.
Sewa  atau upah mempunyai ketentuan dan syarat bahwa sewa atau upah harus diketahui secara jelas jumlah atau kadamya.

Ijab kabul ijarah. Ijab kabul atau akd sewa-menyewa berakhir waktunya apabila barangnya rusak atau hilang sehingga tidak dapat diambil manfaatnya. Jika rusaknya disebabkan kecerobohan atau kelalaian penyewa maka penyewa wajib menggantinya. Namun, jika penyewa sudah berusaha menjaganya, tetapi benda itu rusak maka penyewa tidak wajib mengganti.

Itulah beberapa koridor yang berisi rukun dan syarat dalam sewa menyewa atau ijarah yang hendaknya kita ketahui agar ijarah yang kita lakukan sesuai dengan ketentuan dan ajaran islam. Harus juga diperhatikan oleh kita sebagai umat islam bahwa ijarah akan menjadi haram manakala sewa menyewa batang atau benda maksiat. Haram artinya adalah apabila kita laksanakan maka kita akan mendapatkan dosa.