Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Karakter Manusia. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Karakter Manusia. Show all posts

Friday, December 16, 2016

Kekuatan Syahwat & Amarah pada Manusia

Kekuatan Syahwat & Amarah pada Manusia

Di antara hikmah Tuhan pada diri manusia adalah ditanamkannya dua kekuatan yaitu syahwat dan ghadhab (amarah). Kedua kekuatan ini pada diri manusia mempunyai kedudukan yang sama dengan sifat-sifat pribadinya yang tidak terpisah. 

Baca juga

Dengan dua kekuatan itu, manusia mendapat ujian dan musibah. Dengan keduanya, manusia mendapat derajat tinggi di sisi Tuhan, tapi juga karena keduanya pula manusia dapat turun ke derajat yang paling rendah. Kedua kekuatan itu tidak akan meninggalkan seorang hamba sampai mengantarkannya menggapai kedudukan orang-orang mulia atau meletakkannya di bawah telapak kaki orang-orang durjana.

Tentu saja Allah SWT tidak akan menjadikan syahwat itu tertuju kepada apa yang disiapkan untuk para hamba di surga, dan yang ghadhab-nya untuk membela Allah SWT, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan agama-Nya. Ini tidak sama dengan orang yang menjadikan syahwatnya tertuju ke hawa nafsu dan angan-angan sesaat yang menjadikan ghadhab-nya terbatas untuk membela kepentingan pribadi meskipun dia melihat larangan Allah SWT dilanggar dan syariat-Nya tidak diberlakukan selama dirinya dihormati, dimuliakan dan kata-katanya didengar orang. Inilah kondisi kebanyakan pemimpin. Semoga Allah SWT melindungi kita dari sifat-sifat mereka.

Tentu saja Allah SWT tidak akan menempatkan kedua jenis manusia ini di satu tempat di akhirat kelak. Karena, orang pertama—dengan syahwat dan ghadhab-nya—menanjak ke derajat tertinggi, sedang yang kedua anjlok ke derajat terendah.

Yang ingin dikemukakan di sini adalah, adanya kepastian hikmah dari efek masing-masing kekuatan tersebut. Maka, mau tidak mau pasti terjadi dosa, penyelewengan, dan maksiat. Dan, dampak yang timbul dari adanya dua kekuatan ini menjadi suatu keharusan. Seandainya kedua kekuatan ini tidak diciptakan pada diri manusia, tentu dia bukan manusia tapi malaikat.

Kesimpulannya adalah bahwa timbulnya dampak dari dua kekuatan itu (yang berupa kesalahan dan dosa) merupakan konsekuensi dari sifat kemanusiaan, seperti sabda Rasulullah saw, yang artinya:

"Semua anak Adam itu berbuat salah. Dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah orang yang bertobat."(HR Ahmad)

Baca juga
Pengertian taubat yang sebenar-benarnya dan syarat-syarat taubat
Cara sholat taubat dan doanya

Adapun orang yang punya 'ishmah dan dirinya dipagari oleh benteng penjagaan sehingga tidak berdosa, mereka tergolong jenis yang paling sedikit. dan mereka adalah intisari jenis manusia. Mereka hanyalah para nabi dan rasul.
loading...

Saturday, December 13, 2014

Sifat-Sifat unggulan Orang-Orang Sholeh

Sifat-Sifat unggulan Orang-Orang Sholeh

Apakah sifat-sifat khusus unggulan bagi orang sholeh yang tidak dimiliki dan membedakannya dari orang lain? Tentu setiap mukmin menginginkan sifat-sifat ini bukan? Berikut ini adalah sifat orang sholeh yang diterangkan oleh Rasulullah dalam dalil hadits Nabi saw. di bawah ini :

Suatu ketika sahabat Nabi Umar bin al-Khathab melihat Mu’adz bin Jabal berada di dekat makam Nabi Muhammad Saw. sembari menangis. Umar pun bertanya : Wahai, Mu’adz, apa yang membuatmu menangis? Mu’adz menjawab : aku teringat Rasul saw. berkata : sedikit  riya itu adalah syirik. siapa yang memusuhi kekasih Allah, dia pasti akan memeranginya, dan Allah mencintai orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang menyembunyikan kebaikannya,  yaitu orang-orang yang jauh dari ketenaran (popularitas), tetapi hati mereka seperti obor penerang'." (HR Ibn Majah - Baihaqi  dari Umar bin Khathab).

Dari keterangan dalil hadits Nabi saw. di atas, adalah menjelaskan tentang keberadaan orang-orang yang bertakwa atau disebut orang-orang yang benar-benar sholeh. Perkataan Nabi saw. inilah yang membuat Mu'adz bin Jabal risau hingga menangis.

Merujuk pada Hadits Rasulullah saw. di atas, orang-orang sholeh setidak-tidaknya mempunyai tiga sifat khusus unggulan (utama )yang tidak dipunyai oleh orang lain.

Apa saja sifat unggulan orang sholeh itu?

Sifat unggulan orang sholeh pertama adalah memiliki akidah yang kuat

Orang yang memiliki akidah yang kuat dalam hal berarti bahwa mereka bisa membebaskan diri dari unsur-unsur kesyirikan baik yang terlihat jelas/terang (jaliy) ataupun yang laten (khafiy). Jiwa-jiwa orang-orang dengan akidah yang kuat tidak akan didominasi oleh kekuatan apapaun selain Allah swt. Mereka, orang-orang dengan akidah kuat akan senantiasa patuh dan tunduk kepada Allah swt. dan Rasul-Nya. Ketika Allah swt telah menetapkan keputusan untuk mereka, maka mereka orang-orang sholeh tidak pernah mencari alternatif lain.

Dalil Firman Allah dalam Al-Qur’an al-Karim:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا

Artinya :  Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS al-Ahzab [33]: 36).

Sifat unggulan orang sholeh yang kedua adalah mereka selalu mendekatkan diri kepada Allah

Firman Allah di dalam Al-Quran menyebut bahwa mereka adalah “Pelopor Kebaikan”, sabiqun bi al-khairat

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ

Artinya :  Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS Fathir : 32). 

Merujuk pada pendapat Ibn Taimiyah, mereka yang selalu mendekatkan diri kepada Allah swt. adalah orang yang mampu menjalankan perintah-perintah Allah swt, baik perintah yang wajib ataupun perintah yang sunah. Di samping itu, mereka mampu menjauhi larangan-larangan Allah swt. baik larangan yang makruh apalagi larangan yang haram. Bahkan, orang-orang sholeh seperti ini rela untuk meninggalkan sebagian dari yang diperbolehkan sekiranya hal tersebut cenderung berpotensi untuk menjerumuskan mereka kepada sifat alpa dan lupa. Inilah yang disebut dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya.

Sifat unggulan orang sholeh yang ketiga adalah selalu membersihkan diri dari maksiat dan dosa.

Mereka yang mempunyai sifat ini, akan selalu bermandikan cahaya. Hati atau qolbun mereka adalah cahaya. Kebaikan, kebajikan mereka juga merupakan cahaya. Di dalam diri mereka terdapat nurun ‘ala nur atau cahaya di atas cahaya

Dalil Firman Allah dalam Kitabullah al-Qur’an :

  ۞ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٖ فِيهَا مِصۡبَاحٌۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِي زُجَاجَةٍۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوۡكَبٞ دُرِّيّٞ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٖ مُّبَٰرَكَةٖ زَيۡتُونَةٖ لَّا شَرۡقِيَّةٖ وَلَا غَرۡبِيَّةٖ يَكَادُ زَيۡتُهَا يُضِيٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٞۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٖۚ يَهۡدِي ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَٰلَ لِلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

Artinya : Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu
(QS al-Nur : 35).

Dengan demikian, orang-orang sholeh adalah sebagai obor penerang yang berada di tengah-tengah kegelapan dunia.

Orang-orang sholeh yang mempunyai sifat unggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain itulah orang-orang yang yang ada pada dalil Hadits sabda Nabi diatas dan juga dalam hadits lain disebutkan : Di antara hamba-hamba Allah, terdapat orang yang apabila bersumpah, maka Allah pasti akan memberinya kebaikan." (HR Bukahri).

Berdasarkan ahli hadits yang bernama Ibn Hajar al-'Asqalani, yang dimaksud hadits di atas adalah orang-orang tersebut ialah apabila mereka berdoa, maka Allah pasti akan mengabulkannya. Terdapat pandangan lain yang mengatakan : dunia ini belum binasa adalah karena kebaikan dan doa dari orang-orang shaleh seperti ini, meskipun dunia ini penuh dengan dosa-dosa dan kejahatan. Subhanallah…

Hendaknya kita berlomba-lomba berusaha, berdoa dan tawakal dengan tawakal yang sesungguhnya untuk memiliki sifat-sifat unggulan orang-orang sholeh dan menjadi kekasih Allah swt. Yang selalu mendapat ridho, petunjuk, dan perlindungannya di dunia dan di akhirat kelak. Amiin….
loading...

Friday, August 2, 2013

no image

Apa Bekal Terbaik dan Paling Utama?

Bekal Terbaik adalah Ketakwaan dan Bekal Paling Utama adalah al-'Azm atau ketguhan hati. Setelah kendaraan dan kapal tersedia bagi musafir atau orang yang hendak bepergian, ia harus memiliki bekal dalam perjalanannya ini. Lalu, apa bekal dalam perjalanannya kepada Allah SWT? Alquran telah menjelaskan bekal ini dengan firman Allah SWT: Maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.[ QS al-Baqarah [2]: 197 ] . 

Dengan ini, per­siapan perjalanan telah dilakukan. Setelah itu, tidak ada yang dibutuh­kan selain tekad (tashmim) dan keteguhan hati ('azm) untuk melakukan perjalanan. 

Penjelasan hakikat tashmim dan'azm untuk melakukan perjalanan menuju Allah dikemukakan dalam ujaran-ujaran Ahlul Bait a.s. Diriwa­yatkan dari mereka, "Bekal pejalan kepada-Mu yang paling utama ada­lah keteguhan hati dan keinginan yang dengannya dia memilih-Mu.[Mafatih al-jinan al-Mu’arrab: A’mal Yawm 27 Rajab, hal. 153]" Jadi, al- 'azm (keteguhan hati) adalah substansi kemanusiaan. Perbuatan­mu itu adalah menurut kadar keteguhan hatimu. Keteguhan hati itu hanyalah pendahuluan bagi perbuatan-perbuatanmu dan dengannya kamu mewujudkan kemanusiaanmu. 

"Keteguhan hati yang sesuai dengan hal ini adalah seseorang me­nempati dirinya dan mengambil keputusan untuk meninggalkan ke­maksiatan dan menunaikan kewajiban-kewajiban, dan mengganti apa yang telah dilewatkannya pada hari-hari kehidupannya. Selanjutnya, pada lahiriahnya ia menjadi manusia berakal dan mengikuti syariat, dimana syariat dan akal berdasarkan aspek lahiriah memutuskan bahwa makhluk ini adalah manusia." Kelepuhan hal inilah yang dikatakan Imam a. s. —wallahu a 'lam, "Bekal pejalan kepada-Mu yang paling ulama adalah keteguhan keinginan yang dengannya dia memilih-Mu. Selain itu, seseorang yang menjadikan lahiriahnya sebagai manusia berakal dan mengikuti syariat adalah dengan menjadikan perilaku lahiriahnya dan tujuh kekuatan lahiriahnya—yaitu kaki, tangan, ... (dan seterusnya) yang membentuk kerajaan lahiriah—tunduk pada perintah syariat dan menjauhi larangan-larangannya. Dengan demikian, tujuh kekuatan itu menjadi pintu-pintu surga. Jika terjadi sebaliknya, maka tujuh kekuatan itu menjadi pintu-pintu neraka

Imam Khomeini r.a. menekankan pembicaraannya pada aspek lahiriah, karena seseorang tidak mampu sampai pada perbaikan batinnya kecuali dengan memperbaiki lahirnya, dan bahwa perbuatan-perbuat­an lahiriahlah yang berpengaruh terhadap batinnya. Setiap kali perbuatan-perbuatan lahiriahnya bertambah maka ia mendapatkan pembawaan batiniah yang lebih banyak. Demikianlah, ia meniti tingkatan-tingkatan dalam perjalanannya. 

Barangkali, didahulukannya akal atas syariat dalam beberapa kesempatan, seperti ucapannya: "Hendaklah ia menjadikan lahiriahnya se­bagai manusia berakal dan mengikuti syariat," dan didahulukannya syariat atas akal dalam kesempatan yang lain, seperti ucapannya: "di mana syariat dan akal menetapkan ...," menunjukkan bahwa syariat yang benar tidak bertentangan dengan akal yang sehat, dan bahwa akal yang sehat tidak dapat dipertentangkan dengan syariat yang benar. Da­lam pembahasan-pembahasan setelah ini, kami akan menunjukkan ha­kikat ini, dan bahwa syariat dan akal saling bersesuaian dan tidak mungkin salah satunya dipisahkan dari yang lain. Jika keduanya terpisah maka sudah pasti salah satunya berada di luar hakikatnya. 

Bagaimanapun, "manusia yang mengikuti syariat adalah yang me­ngatur perilakunya sesuai dengan tuntunan syariat." Syariat di sini me­miliki berbagai tingkatan. 

Pertama, seseorang tidak melaksanakan kewajiban dan tidak menghindari keharaman. Orang ini tidak mengikuti syariat (ghayrsyar'i). 

Kedua, seseorang melaksanakan kewajiban, tetapi tidak menghindari keharaman, di mana sebagian perilakunya sesuai-syariat dan sebagian lain tidak sesuai syariat. 

Ketiga, seseorang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan seba­gian keharaman, tetapi melakukan keharaman yang lain. 

Keempat, seseorang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman, tetapi ia meninggalkan mustahabb [sunnah] dan melakukan kemakruhan. Orang seperti ini lahiriahnya sesuai dengan syariat. Kebanyakan kita dalam posisi ini. 

Kelima, seseorang kadang-kadang melaksanakan kewajiban, meninggalkan keharaman, dan melakukan yang penting dari perbuatan-perbuatan mustahabb. Ketika itu, perilakunya lebih sesuai dengan syariat daripada tingkatan sebelumnya. 

Keenam, tingkatan yang lebih tinggi daripada tingkatan-tingkatan sebelumnya, yaitu seseorang melaksanakan kewajiban, meninggalkan keharaman, tidak meninggalkan perbuatan mustahabb, dan tidak melaku­kan kemakruhan, bahkan juga tidak melakukan hal-hal yang mubah, yaitu dengan menjadikan setiap perbuatan mubah sebagai perbuatan mustahabb dengan melakukannya dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Klasifikasi ini ditinjau dari satu sisi. Adapun, dari sisi lain, syariat diklasifikasikan ke dalam dua kategori. 

Pertama, syariat yang diam, yaitu Alquran dan riwayat-riwayat Ahlul Bait a.s., yang periwayatannya dari mereka adalah sahih. 

Kedua, syariat yang berbicara, yaitu Rasulullah saw. dan Ahlul Bait­nya a.s. Oleh karena itu, perbuatan dan persetujuan mereka dijadikan hujjah. Dalam hal ini, kita membaca dalam doa ziyaiat al-Hujjah a.s.: "Salam sejahtera atas Yasin. Salam sejahtera atasmu ketika engkau ber­diri. Salam sejahtera atasmu ketika engkau duduk. Salam sejahtera atas­mu ketika engkau rukuk. Salam sejahtera atasmu ketika engkau bersu­jud. Salam sejahtera atasmu ketika engkau tidur ... (dan seterusnya)." Salam sejahtera atasnya dalam setiap perbuatan yang dilakukannya ka­rena seluruhnya adalah karena Allah. Tidak sedikit pun untuk dirinya untuk selama-lamanya. Beliau adalah insan Ilahi, insan yang mencapai tingkatan ini. Dengan demikian, beliau adalah risalah itu sendiri, bukan orang yang mengamalkan risalah. 

Orang yang ingin mengikuti syariat harus berhubungan dengan kedua bentuk syariat itu. "Hendaklah lahiriahnya seperti lahiriah Ra­sulullah saw., meneladani Nabi saw., meneladaninya dalam semua gerak dan diamnya, serta semua yang dikerjakan dan ditinggalkannya. Ini merupakan perkara yang mungkin dilakukan. Untuk menjadikan lahi­riah seperti pemimpin ini merupakan perkara yang dapat dilakukan oleh setiap individu dari hamba-hamba-Nya." Kita mampu mencocok­kan lahiriah kita dengan lahiriah Rasulullah saw. Allah SWT berfirman: 

Sungguh pada Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.[QS al-Ahzab [33]: 21] Akan tetapi kita tidak mampu mencocokkan batiniah kita dengan batiniah beliau sehingga kita menjadi seperti beliau, karena tidak ada orang yang mampu sampai ke maqam khatamiyyah dan maqam qaba qawsayn aw adna, (panjang dua busur atau lebih dekat).[QS an-Najm [53]: 9] Inilah yang dikemukakan dalam riwayat ats-tsaqalayn.

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya aku ting­galkan bagi kalian sesuatu yang jika kalian berpegang padanya maka kalian tidak akan tersesat sepeninggalku. Salah satunya lebih agung daripada yang lain, yaitu Kitab Allah: tali yang terbentang dari langit ke bumi, dan 'itrah-ku: Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan terpisah hingga datang kepadaku di al-Hawdh. Perhatikanlah, bagaimana kalian membelakangiku tentang keduanya.[ Sunan at-Tirmidzi, 13, 201: Usud al-Ghabah, 2, 12 dalam biografi Imam al-Hasan a.s.: dan ad-Durr al-Mantsur dalam tafsir ayat mawaddah]"

Sebab, salah satu ujung tali itu ada di tangan hamba sehingga ia selalu dalam proses naik. Setiap kali naik, ia menuntut tambahan. Pada ujung yang lain terdapat [Tuhan] yang paling mulia dari segala yang mulia (akrain al-kurama), yang ba­nyaknya memberi dan tidak menambah kecuali kemurahan. Demikian­lah, perjalanan itu berlangsung menuju Kesempurnaan Mutlak yang tidak berbatas. 

Tidak ada perhentian pada perjalanan ini dan tidak berbatas. Dari sini, orang yang tidak memiliki pemahaman dalam pengetahuan-pengetahuan ini keliru dalam menafsirkan firman Allah SWT: Dan sembahlah Tuhanmu hingga keyakinan datang kepadamu.[ QS al-Hijr [15]: 9] Ia mengatakan bahwa jika seseorang diberi keyakinan dan sampai pada tingkatan pengetahuan ini dalam realitas dan batiniahnya, maka ia tidak memerlukan peribadahan, seperti zikir, shalat, puasa, dan sebagainya, dan setelah itu ia tidak membutuhkan hal tersebut. Dari sini, Imam Khomeini mengingatkan masalah penting dan asasi ini, yaitu bahwa manusia di alam ini, baik di permulaan, di pertengahan, maupun di akhir perjalanan, bahkan ka­laupun ia sampai ke tingkatan qaba qawsayn aw adna, membutuhkan lahiriah syariat dan berpegang pada perintah-perintah dan larangan-larangannya. Oleh karena itu, Imam Khomeini r.a. berkata, "Ketahui­lah, menempuh jalan apapun dalam makrifat Ilahi tidak mungkin di­lakukan kecuali dengan memulai dari lahiriah syariat dan selama manusia tidak beradab dengan adab adab syariat yang benar. Dan hendaklah ia mengamalkannya, tidak hanya mempelajari istilahnya jika tidak, "ia tidak akan memperoleh sesuatupun dari hakikat akhlak yang baik itu" yang merupakan pembawaan-pembawaan yang tidak diperoleh kecuali dengan mengamalkan lahiriah tersebut. Kalau ada jalan lain untuk memperoleh pembawaan-pembawaan ini, maka membatasi perkara tersebut dengannya menjadi sia-sia. "Sebagaimana tidak mungkin" tanpa beradab dengan lahiriah-lahiriah ini "agar di dalam hatinya cahaya makrifat menampak dan pengetahuan batin dan rahasia-rahasia syariat tersingkap," karena ilmu adalah cahaya yang diberikan Allah pada hati orang yang dikehendaki-Nya. Namun, Allah SWT tidak memberikannya secara serampangan, melainkan sesuai dengan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang Dia tetapkan bagi perkara semacam ini. 

Kemudian, "setelah hakikat tersingkap, kemunculan cahaya-caha­ya makrifat di dalam hatinya akan terus berlangsung dalam proses ber­adab dengan adab-adab syariat lahiriah." Karena dengan demikian, hal itu akan menjadi pembawaan baginya. Kalau ia meninggalkannya maka hal itu tidak akan menjadi pembawaan dan ia kembali ke permulaan. Dalam hal ini, seorang guru Jawadi Amulira. berkata, "Selama manusia berada di alam dunia, maka ia berada dalam proses peningkatan. Ketika ia berpindah ke alam akhirat, maka ia menjadi berada di tingkatan ter­tinggi. Kita hidup di dalam sumur alam dunia dan sedang dalam proses naik, setingkat demi setingkat. Tangga kita adalah ibadah-ibadah kita dan adab-adab syariat lahiriah. Apabila kita meninggalkannya, maka kita meninggalkan proses naik tersebut sehingga kita jatuh lagi ke dasar sumur. 

"Dari sini, kita tahu bahwa keliru anggapan orang yang mengatakan bahwa ilmu batin dapat diperoleh dengan meninggalkan ilmu lahir, atau setelah ilmu batin diperoleh, maka hilanglah keperluan terhadap adab-adab lahiriah. Anggapan ini berpangkal dari kebodohan orang yang mengatakannya dan ketidaktahuannya terhadap maqam-maqam ibadah dan tingkatan-tingkatan kemanusiaan," karena hakikat ibadah adalah penyembahan kepada Allah SWT. Tidak ada sesuatu pun di alam ini yang bukan hamba-Nya. Selama maujud ini merupakan hamba, maka ia harus menghamba atau beribadah. Apabila ia menafikan keperluan terhadap ibadah pada dirinya, maka ia telah menafikan kefakiran dan peribadahannya, dan mengaku kekayaan dan ketuhanannya. Bagaimana hal ini dapat bertemu dengan pengakuan akan kebutuhan dan peribadahan kepada Allah SWT. 

Kemudian, Imam Khomeini r. a. Berkata: "Mudah-mudahan aku diberi taufik insya Allah untuk menjelaskan sebagian perkara ini di dalam lembaran-lembaran ini." 

Al-Faydh al-Kasyani r.a. pernah mengatakan masalah ini, yang alang­kah baiknya kalau kita telaah sejenak, la mengatakan: Jika engkau me­ngatakan, "Apa jalan untuk mengetahui rahasia-rahasia agama dan memperoleh keyakinan?" ketahuilah, Allah SWT telah menjadikan kita berpasang-pasangan dan menjadikan bagi kita masing-masing aturan dan jalan . Kemudian, orang yang ingin mulai memperoleh ilmu yang tersembunyi pada ahlinya, sementara ia bukan termasuk ahlinya, maka hendaklah ia menyambut tugas-tugas syariat, fardu-fardunya, dan nafilah-nafilahnya setelah ia mempelajari hukum-hukumnya, mengetahui halal-haramnya, dan mengambilnya dari ahlinya dan imamnya. Imam Ash-Shadiq a.s. berkata, "Tanda pendusta adalah mengabarkan kepadamu berita langit dan bumi. Namun, apabila ditanya tentang sesuatu dari masalah-masalah halal dan haram, ia tidak dapat memberikan jawa­ban sedikit pun. [Al-Mahajjah.al-Baydha', karya al-Faydh al-Kasyani, jil. 5, hal. 139]" 

Tidak setiap orang dapat mengatakan, "Ini halal dan itu haram." Seseorang harus mengetahui bahwa orang yang menjadi rujukan pengetahuannya adalah ahli dalam bidangnya, bukan pembohong sehingga ia mengaku mengetahui batin-batin segala perkara dan telah meninggal­kan lahiriah hukum-hukum itu bagi orang-orang awam. Ini merupakan tanda pendusta yang tidak mengetahui bahwa lahiriah merupakan jalan menuju batiniah. Dengan demikian, jika ia tidak mengetahui aspek lahiriah, bagaimana ia dapat mencapai ilmu batin? 

Kini, kesulitan ini telah tersebar di khalayak umum di negeri-negeri Islam, terutama di Iran dan beberapa wilayah tetangga, terlebih lagi setelah kemenangan revolusi Islam di Iran.
loading...

Wednesday, July 31, 2013

no image

Keteguhan Hati, Dzikir, Shalat Malam adalah Jalan Menuju Allah

Kemudian, kita semua—kecuali orang-orang maksum a.s.—adalah orang-orang yang lalai. Kita harus bangun dari tidur kelalaian itu untuk memulai perjalanan menuju Allah SWT. Perjalanan ini memiliki jalan. 

Apakah jalan menuju Allah itu jauh atau dekat? 

Jawabannya, perjalanan dari kelalaian menuju zikir adalah dekat sekali. Oleh karena itu, Imani as-Sajjad a.s. berkata, "Perjalanan ke­pada Mu adalah jarak yang dekat [Mafatih al-Jinan: Du’a Abi Hamzah ats-Tsumali]." Hal demikian karena Dia bersama kalian dimana saja kalian berada.[QS al-Hadid [57]: 4] Namun, kita lalai kepada-Nya. Kewajiban kita tiada lain adalah berpaling kepada Allah 'Azza wa Jalla agar kita dekat kepada-Nya. Sebab, Dia berfirman: "Aku adalah teman du­duk orang yang mengingat-Ku.[ Ushul al-Kafi, 3: 496/4]" Hendaklah kita mengoyak tirai yang telah kita pasang di antara kita dan Allah SWT dengan perbuatan-perbuatan kita. Oleh karena itu, disebutkan dalam munajat yang diwariskan dari para imam a.s., "Dan Engkau tidak terhijab dari makhluk-Mu, melainkan perbuatan-perbuatan merekalah yang menutupi mereka dari-Mu.[Mafatih al-Jinan al-Mu'arrab: A'mal Yawm 27 Rajab, hal. 153]" Setelah itu, mereka pergi menuju sebab ini atau sebab itu dan bertawasul dengan perantaraan ini atau perantaraan itu selain Allah SWT. ' 

Terdapat perjalanan dari jenis yang lain, yang membuat Amirul Mukminin a.s. merintih seraya berkata, "Oh, betapa sedikit perbekalan­ku, sementara perjalananku amat jauh.[Nahj al-Balaghah, al-Hikmah ke-77]" Perjalanan ini adalah perjalan­an dari al-Haqq kepada al-Haqq, yang dikhususkan pada maqam wilayah yang paling agung. Perjalanan tersebut bukan perjalanan yang telah kita bicarakan sebelum ini, dan telah kami katakan bahwa perjalanan tersebut adalah jarak yang dekat. Sebab, perjalanan tersebut adalah perjalanan dari makhluk kepada al-Haqq. Perjalanan jauh ini memiliki pembahasan lain. Mudah-mudahan kita diberi taufik untuk sampai ke sana dalam pembahasan al-Asfar al-Arba'ah, insya Allah. 

Kemudian, kita harus memiliki kendaraan yang kita kendarai dan kapal yang kita tumpangi dalam perjalanan kita ini. Kendaraan dan kapal tersebut tiada lain adalah "malam." Diriwayatkan dari Imam al- 'Askari a.s., "Untuk sampai kepada Allah 'Azza wa Jalla merupakan se­buah perjalanan yang tidak dicapai kecuali dengan mengendarai ma­lam.[ Bihar al-Anwar, jil. 78, hal. 83.]" Dengan demikian, shalat malam merupakan kendaraan terbaik bagi perjalanan ini, karena "Tuhan kalian Azza wa Jalla, dalam hari-hari masa kalian, memiliki pemberian. Oleh karena itu, sambutlah pemberian tersebut.[ Al-Mu’jam al-Awsath, karya ath-Thabrani, Dar al-Hadits, Kairo: 3:257/2877]" Pemberian ini terus menerus diberikan tanpa terputus. Dan kemurahan 'Tuhanmu tidak dapat dihalangi.[QS al-Isra’ [17]: 20] 

Dengan demikian, setiap malam yang dihidupkan seseorang karena Allah SW'I adalah Malam Qadar baginya, karena karunia Allah tidak dikhususkan pada Malam Qadar saja. Kalau seseorang menyambut karunia dan pemberian Allah itu di tempat yang diperkirakan kedatangannya, pada waktu- waktunya, dan dengan amalan-amalannya yang khusus, pasti hal itu akan diraih.
loading...

Sunday, July 28, 2013

no image

Keteguhan Hati dan Dekat Kepada Allah

Terdapat maqam lain yang akan dihadapi manusia mujahid" yang ber­jihad dengan jihad besar "setelah berpikir (tafkir), yaitu maqam kete­guhan hati (al-'azm). Ini bukan sekadar keinginan (iradah), yang dipan­dang oleh Syaikh ar-Ra'is, dalam al-Isyarat, sebagai tingkatan pertama para arif" dalam pembahasannya tentang maqam-maqam para arif da­lam bagian kesembilan, juz 3, kitab al-Isyarat. 

"Salah seorang guru—semoga Allah memanjangkan umur­nya—berkata,'Al-Azm adalah substansi kemanusiaan dan kriteria ke­istimewaan manusia. Perbedaan tingkatan manusia adalah berdasarkan perbedaan tingkatan keteguhan hatinya.'" Barangkali, orang yang me­ngatakan demikian adalah guru Imam Khomeini r.a., yaitu Syaikh asy-Syah Abadi r.a. 

Bagaimanapun, sebelum memahami apa keteguhan hati (al-‘azm) itu, kita membutuhkan sebuah pendahuluan. Dengan demikian, kami katakan: 

Apa hubungan antara manusia dan Allah SWT? Apakah Allah dekat kepada manusia atau jauh? Apakah manusia dekat kepada Allah atau jauh? 

Al quran telah memberikan jawaban terhadap pertanyaan khusus ini, yaitu bahwa Allah SWT dekat kepada manusia. Allah SWT berfirman: jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa, apabila ia berdoa kepada-Ku. [QS al-Baqarah [2]: 186] Bahkan lebih dari itu: Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat leher [QS Qaf [50]: 16.]. Bahkan lebih tinggi dari itu: Sesungguhnya Allah yang memisahkan antara seseorang dan hatinya. [QS al-Anfal [8]: 24.] Padahal seseorang dan hatinya adalah satu, bu­kan dua benda yang terpisah. Dengan demikian, Allah SWT lebih de­kat kepada manusia daripada dirinya sendiri. Setelah ini, tidak ada lagi yang lebih dekat kepadanya selain Allah SWT.

Jawaban kedua, manusia pun dekat kepada Allah SWT. Sebab, tidak masuk akal kalau dia jauh dari Allah, padahal Dia berfirman: Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.[ QS al-Hadid [57]: 4.] Namun, manusia lalai kepada Allah SWT, bukan karena ia jauh dari-Nya. Hal ini karena kelalaian ma­nusia kepada teman duduknya sehingga tidak melihat dan merasakan­nya, padahal Dia dekat kepadanya. Jadi, kesulitan manusia adalah da­lam kelalaiannya. Dulu, aku lalai terhadap hal ini. Sebab, akhirat adalah batin dunia, dan balasan adalah batin perbuatan. Namun, kita tidak melihat hal itu kecuali setelah kita beranjak dari kelalaian menuju diri kita sendiri. Oleh karena itu, mereka mengatakan, "Kematian adalah kembalinya manusia ke dirinya sendiri dan terputusnya manusia dari selain Allah." Dengan kematian itu, manusia bangun dari kelalaian. Maka Kami singkapkan tutup darimu sehingga pada hari itu penglihatanmu amat tajam [QS Qaf [5]: 22.]. 

Berdasarkan hal ini, "tingkatan kelalaian dan ingat atau zikir" meru­pakan landasan perbedaan manusia dalam hal kedekatan dan kejauhannya dari Allah SWT. 

Setiap kali seseorang bertambah kelalaiannya maka ia semakin jauh dari Allah SWT bukan karena Allah SWI jauh darinya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. [QS al-Hadid [57]: 4] Karena Allah SWT adalah Kesempurnaan Mutlak, maka jauhnya manusia dari-Nya berarti jauhnya ia dati Kesempurnaan Mutlak. 

Setiap kali seseorang bertambah ingat kepada Allah, maka dia semakin dekat kepada-Nya. Oleh karena itu, ingatilah Aku maka Aku akan mengingat kalian [QS. Al-Baqarah [2]: 152]. Sehingga datang dorongan untuk berzikir dalam bentuk yang tidak terdapat dalam ibadah-ibadah lainnya, yang dibatasi de­ngan syarat-syarat dan batasan waktu, tempat, dan sebagainya. Hal itu kadang-kadang berupa kewajiban, tetapi pada waktu yang lain berupa anjuran; pada suatu waktu diharamkan dan pada waktu yang lain dimakruhkan. 

Tentang zikir itu, Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya [QS al-Ahzab [33]: 41.] tanpa batasan dan syarat. Dengan demikian, zikir lebih baik dalam keadaan apapun, karena pezikir kepada Allah SWT tidak memberikan celah kepada iblis untuk memasukinya. Apa yang disebutkan di dalam bebera­pa riwayat, bahwa burung tidak dimangsa kecuali jika sedang lalai dari berzikir kepada Allah SWT menunjukkan bahwa manusia tidak dimang­sa dan tidak jatuh ke dalam jerat iblis terkutuk kecuali jika ia lalai ke­pada Allah SWT. Ketakutan akan jatuh ke dalam kelalaian tidak meng­halangi seseorang dari berzikir kapan dan di manapun. 

Oleh karena itu, kita yakin bahwa Nabi saw. selalu mengingat Allah dalam keadaan terjaga dan tidurnya, karena beliau adalah eksistensi pezikir kepada Allah SWT. 

Jadi, ringkasan dari jawaban ini adalah bahwa setiap kali manusia lalai kepada Allah SWT maka ia jauh dari-Nya. Sebaliknya, setiap kali ia ingat kepada-Nya maka ia dekat kepada-Nya. Yang menentukan tingkat kedekatan dan kejauhannya adalah kadar zikir dan kelalaiannya.
loading...

Tuesday, July 16, 2013

no image

Keterangan Pelengkap tentang Kekuatan Jiwa Manusia

Biasanya, kekuatan akal disebut juga kekuatan malakiyyah, kekuatan syah­wat disebut juga kekuatan bahimiyyah, kekuatan ghadhab disebut juga kekuatan sabu'iyyah, dan kekuatan wahm disebut juga kekuatan syaythaniyyah. Namun, ini tidak berarti bahwa sifat-sifat ini merupakan sifat- sifat yang kekal sehingga tidak terpisah darinya. 

Penjelasannya, segala maujud sebagaimana telah kami tunjukkan sebelumnya diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok. Satu kelompok diantaranya di khususkan bagi kekuatan bahimiyyah sehingga ia tidak memiliki perhatian kecuali pada makan dan minum. "Barangsiapa yang perhatiannya pada apa yang masuk ke dalam perutnya maka nilainya adalah seperti apa yang keluar darinya. [Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, hal. 439/8929]" 

Berdasarkan hal ini, kekuatan syahwat pada seseorang disifati dengan bahimiyyah. Namun, menurut para ulama, itu tidak berarti bahwa di mana saja dan pada siapa saja Anda mendapati kekuatan ini maka itu adalah kekuatan bahimiyyah. Akan tetapi, yang mereka maksudkan dengan sifat ini adalah apabila seseorang tunduk pada syahwatnya, sementara akalnya menjadi lawanan bagi syahwatnya dan berada dalam kekuasaannya. Dengan de­mikian, dalam kehidupan ini ia berakhir pada tingkatan kelompok ini, yaitu tingkatan binatang ternak di mana padanya kekuatan syahwat berkuasa, bahkan ia lebih sesat jalannya. Mereka itu hanyalah seperti bina­tang ternak, bahkan lebih sesat jalan [QS al-Furqan [25]: 44]. Sebaliknya, kalau kekuatan syah­watnya berada di bawah kekuasaan kekuatan akal maka ia akan memandunya ke tingkatan Kedekatan Ilahi dan akan berubah menjadi kekuatan Ilahi dan salah satu pintu menuju surga. 

Demikian pula pada kekuatan ghadhab, karena pada binatang buas terdapat kekuatan ini. Kalau kekuatan-kekuatan manusia yang lain tun­duk pada kekuatan ghadhab-nya dan kekuatan ini menjadi pemimpin dan hakim maka ia akan disifati dengan sabu'iyyah (sifat kebinatang-buasan), karena ia akan mengubah orang tersebut menjadi binatang berbahaya. Bahkan, ia lebih sesat jalan, disebabkan ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki binatang buas berupa wahana-wahana dan kemampuan-kemampuan seperti akal, kekuatan, imajinasi, dan sebagainya, dan yang menjadikannya menghamba kepada kekuatan ini. 

Terdapat kelompok lain dari maujud di mana di dalamnya yang berkuasa adalah muslihat, penyamaran, penciptaan berbagai wahana dan cara-cara untuk mewujudkan tujuan-tujuan menyimpangnya, yaitu yang diungkapkan Alquran dengan sebutan setan-setan (syayathin), baik mereka berwujud manusia maupun berwujud jin. Dan demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi berupa setan-setan dari kelompok manusia dan jin. QS al-Anam [6]: 112. 

Apabila kekuatan wahm ini berkuasa di dalam diri manusia maka ia akan berhubungan dengan setan-setan itu. Karenanya ia akan disebut syaythaniyyah mengikuti maujud maujud yang berkuasa dan dikhususkan baginya. Ketika itu, orang tersebut akan berubah menjadi setan manusia. Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut . 

Kelompok keempat dari maujud-maujud itu adalah para malaikat yang dikhususkan dengan kekuatan akal yang mengajak pada alam kekudusan, kesucian, malakut, dan alam Kedekatan Ilahi. Oleh karena itu, ia disifati dengan malakiyyah (sifat kemalaikatan). 

Namun, setiap akal adalah bersifat kemalaikatan. Kadang-kadang, akal menghamba kepada kekuatan wahm, kekuatan ghadhab atau kekuatan syahwat. Oleh karena itu, apa yang kami maksudkan dengan kekuatan akal kemalaikatan adalah kekuatan yang mengajak pada alam kekudusan dan malakut saja, tidak yang lainnya.
loading...
no image

Kekuatan Akal, Jenis, Hakikat dan Hasil Akal Manusia

Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a.: Nabi saw. bersabda, "Segala sesuatu memiliki alat dan perkakas; dan alat dan perkakas orang Mukmin ada­lah akal. Segala sesuatu memiliki kendaraan; dan kendaraan seseorang adalah akal. Segala sesuatu memiliki tiang; dan tiang agama adalah akal. Setiap kaum memiliki tujuan; dan tujuan para hamba adalah akal. Setiap kaum memiliki pemimpin; dan pemimpin para ahli ibadah adalah akal. Setiap pedagang memiliki barang dagangan; dan barang dagangan para mujtahid adalah akal. Setiap penghuni rumah memiliki penjaga dan penjaga para shiddiqun adalah akal. Seliap kerusakan memiliki pembangunan, dan pembangunan akhirat adalah akal. Setiap orang memiliki keutamaan yang ia dinisbahkan padanya dan dengannya ia disebut, dan keutamaan para shiddiqun yang mereka dinisbahkan padanya dan dengannya mereka disebut adalah akal. Setiap perjalanan memiliki ten­da; dan tenda orang-orang Mukmin adalah akal. [Al-Mahajjah al-Baydha’, karya al-Faydh al-Kasyani, jil. 1, hal. 172]" 

Di dalam al-Kafi terdapat hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada sesuatu yang dikaruniakan Allah kepada para hamba yang lebih utama daripada akal. Tidur orang berakal lebih utama daripada terjaganya orang bodoh. Tinggalnya orang berakal lebih utama daripada kepergian orang bodoh. Allah SWT tidak mengutus seorang nabi dan tidak pula seorang rasul sebelum menyempurnakan akal, dan akalnya menjadi lebih utama daripada semua akal umatnya. [ibid]" 

Diriwayatkan dari Imam ash-Shadiq a.s., "Hujjah Allah atas para hamba adalah Nabi saw. dan hujjah di antara para hamba dan Allah SWT adalah akal. [Ibid, jil. 1, hal. 174]" 

Diriwayatkan dari Imam al-Baqir a.s., "Allah memerinci penghisaban para hamba pada Hari Kiamat adalah menurut kadar yang diberikan kepada mereka berupa akal-akal di dunia. [ibid]" 

Diriwayatkan dari Imam ash-Shadiq a.s., "Tidak ada yang membedakan keimanan dari kekafiran kecuali sedikitnya akal. Seseorang bertanya, "Bagaimana bisa begitu, wahai putra Rasulullah?" Beliau menjawab, " Hamba mengangkat keinginannya kepada makhluk. Kalau ia meng­ikhlaskan niatnya kepada Allah, tentu Dia memberinya apa yang dia inginkan dalam waktu yang lebih cepat daripada itu. [ibid]" 

Hakikat dan Jenis-jenis Akal 

Memahami esensi akal bergatung pada penjelasan tentang hakikat akal serta perbedaan pendapat dan istilah tentangnya. Oleh karena itu, kami katakan bahwa akal secara etimologis berarti memikirkan dan memaha­mi sesuatu. Sementara itu, pengertiannya secara terminologis adalah sebagai berikut. 

Pertama, sifat yang membedakan manusia dari binatang yang lain. Akal dalam pengertian inilah yang memiliki kesiapan untuk menerima ilmu-ilmu teoretis dan mengatur kesialan kegiatan mental yang tersembunyi. Pengertian inilah yang dimaksud oleh al-Harits al Muhasibi ketika ia mendefinisikan akal. Ia berkala, Akal adalah naluri yang memberikan kemampuan memahami pengetahuan-pengetahuan teoretis dan menata tindakan-tindakan. Ia seperti cahaya yang disimpan di dalam hati, dan dengannya segala sesuatu dapat dipahami. [Ibid, jil.1, hal. 177]" 

Apabila seseorang telah memiliki keadaan ini maka ia mampu "me­ngenal kebaikan dan keburukan serta dapat membedakan di antara keduanya, dapat mengetahui sebab, penyebab, dan akibat segala sesuatu, serta hal-hal yang mencegahnya. Akal dalam pengertian ini merupa­kan tempat bergantungnya taklif, pahala, dan hukuman. [Bihar al-Anwar, jil.l, hal. 99.]". 

Kedua, Akal merupakan pengetahuan-pengetahuan yang keluar ke eksistensi di dalam diri anak mumayyiz dengan membolehkan hal-hal yang boleh dan memustahilkan hal-hal yang mustahil, seperti pe­ngetahuan bahwa dua lebih besar daripada satu dan seseorang tidak ada berada di dua tempat pada saat yang sama. Inilah yang diartikan sebagian teolog (mutakallim) ketika mendefinisikan akal. Mereka berka­ta, "[Akal] adalah sebagian pengetahuan sangat vital yang membolehkan hal-hal yang boleh dan memustahilkan hal-hal yang mustahil." Penger­tian ini pun benar, karena pengetahuan-pengetahuan ini adalah pena­maannya dengan akal memang tampak. 

Ketiga, pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman terhadap berjalannya berbagai keadaan. Sebab, orang yang memiliki banyak pengalaman dan dididik dengan berbagai aliran bia­sanya disebut 'aqil. Sebaliknya, orang yang memiliki sifat-sifat seperti itu disebutkan. Ini merupakan jenis lain dari pengetahuan-pengeta­huan yang dinamakan akal. 

Keempat, kekuatan naluri tersebut berujung pada pengetahuan ter­hadap akibat segala sesuatu. Dengan demikian, ia mengekang dan me­nundukkan syahwat yang mendorong pada kelezatan segera. Apabila kekuatan ini diperoleh maka pemiliknya disebut 'aqil, di mana penge­kangannya berdasarkan tuntutan pandangan terhadap akibat, bukan menurut syahwat yang segera. Ini pun merupakan karakteristik manusia yang dapat membedakannya dari binatang binatang yang lain [Al-Mahajjah al-Baydha’, karya al-Faydh al-Kasyani, jil. 1, hal. 178]''

Hasil Utama dari Akal 

Makna keempat ini adalah hasil utama dari ketiga makna pertama. Oleh karena itu, diriwayatkan dari Imam ash-Shadiq a.s. bahwa beliau ditanya, apa akal itu. Beliau a.s. menjawab, "[Yaitu sesuatu] yang dengannya ar- Kalnnan disembah dan surga diraih." Periwayat hadis ini bertanya, ba­gaimana dengan yang terdapat pada Mu'awiyah. Beliau menjawab, "Itu merupakan kecerdikan dan ke-"setan"-an, yang menyerupai akal, tetapi bukan akal. [Al-Mahasin, karya an-Naraqi, Dar al-Kutub al-Islam, Qum, 15/195]" 

Itulah yang dimaksud dalam ucapan Rasulullah saw. kepada Amirul Mukminin a,s„ "Apabila orang-orang mencari jenis kebaikan agar mereka dapat mendekat kepada Tuhan kita 'Azza wa Jalla, maka carilah jenis akal yang dapat membuatmu mendahului mereka dalam kedekatan. [Al-Mahajjah al-Baydha’, karya al-Faydh al-Kasyani, jil.1, hal.179]" 

Juga, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berpesan kepada Abu ad-Darda', "Kuatkanlah akal maka kamu akan bertambah dekat kepada Tuhanmu." Abu ad-Darda' bertanya, "Demi aku, engkau, dan ibuku. Apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hal tersebut?" Beliau saw. menjawab, "Jauhilah hal-hal yang diharamkan Allah dan laksanakanlah hal-hal difardukan Allah maka kamu akan menjadi orang berakal. Lakukanlah perbuatan-perbuatan salih maka ketinggian dan kemuliaanmu akan bertambah di dunia ini dan kamu akan memper­oleh kedekatan dan kemuliaan dari Tuhanmu. [ibid]" 

Demikian pula, diriwayatkan dari Sa'id al-Musayyab: Sekelompok orang menemui Nabi saw. Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berilmu?" Beliau menjawab, "Orang berakal." Me­reka bertanya lagi, "Lalu, siapakah orang yang paling banyak beriba­dah?" Beliau menjawab, "Orang berakal." Mereka bertanya lagi, "Lalu, siapakah orang yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang ber­akal." Mereka beranya lagi, "Bukankah orang berakal itu adalah orang yang rumah-nya sempurna, kefasihannya tampak, kemurahannya tidak diragukan, dan kedudukannya mulia?" Beliau saw. menjawab, "Semua itu merupakan perhiasan kehidupan dunia, dan di akhirat adalah milik orang - orang bertakwa di sisi Tuhanmu. [ibid] 

Rasulullah saw. bersabda, "Orang berakal adalah orang yang beriman kepada Allah, mempercayai para rasul-Nya, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya. [Ibid ]" 

Setelah tampak jelas kepada kita bahwa tiga kekuatan, yaitu kekuatan syahwat, kekuatan ghadhab, dan kekuatan wahmiyyah, tidak dapat membedakan kerusakan dari kebaikan, kehalalan dari keharaman, ticlak sesuatu yang dapat menjauhkan seseorang dari Allah SWT dan tidak pula yang dapat mendekatkannya kepada-Nya, maka seseorang membutuhkan sesuatu yang menjadi tumpuan dalam menentukan perjala­nannya. Oleh karena itu, Allah SWT menciptakan kekuatan akal di da­lam dirinya dan kepadanya Dia menyerahkan pelaksanaan peranan pen­ting ini dalam perjalanan hidup manusia menuju al-Haqq Allah SWT 

Namun, apabila kekuatan akal menjadi tawanan salah satu kekuat­an di atas, maka ketika itu akan akan bertindak menyalahi tuntutan tabiat aslinya sebagai tawanan yang dipaksa dalam melakukan tindakan­nya. 

Akan tetapi, kekuatan akal pada umumnya ketika mendapati di­rinya tidak ditaati di dalam kerajaan badan maka ia berpindah darinya. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya berbual zalim [QS an-Nisa' [4]: 75.]. Setelah itu, kerajaan tersebut berubah menjadi neraka bagi setiap wahana dan kekuatan, kecuali akan pengatur yang takut kepada Allah. Akibatnya, ia membakar, merusak, menghancurkan segala sesuatu, dan melakukan apa saja yang dikehendakinya tanpa merasa takut atau malu. "Jika kamu tidak merasa malu maka lakukan apa pun semaumu. [‘Uyun al-Akhbar ar-Ridha a.s., karya ash-Shaduq, Intisyarat Jihan, Teheran, 56/207]"
loading...

Monday, July 15, 2013

no image

Kekuatan Wahmiyah Manusia dan Tugasnya

Pengertian dan Definisi kekuatan wahmiyyah. Kekuatan wahmiyyah adalah kekuatan yang di antara tugas-tugasnya adalah menciptakan berbagai aspek makar dan muslihat dan mencapai tujuan – tujuan ini dengan penyamaran dan tipuan [Ibid]. Ia merupakan kekuatan jiwa yang paling penting. Bahkan, kekuatan kekuatan yang lain berada di bawah kendali kekuatan wahmiyyah ini berdasarkan penjelasan yang akan kami kemukakan dari Imam al-Khuamyni. 

Tugas kekuatan wahmiyyah

Tugas dan pekerjaan kekuatan wahmiyyah, sebagaimana tampak jelas pada definisinya, adalah menciptakan berbagai aspek makar dan muslihat serta mencapai tujuan-tujuan tersebut, walaupun hal itu menuntut penyamaran dan tipuan, serta cara apa pun, baik yang halal maupun yang haram, baik yang diperbolehkan maupun yang tidak diperbolehkan. 

Ia merupakan senjata yang memiliki dua sisi tajam. Seseorang dapat menggunakannya dengan sisi mana pun dalam mewujudkan tujuan ini menurut apa yang diinginkan dan dipilihnya. 

Apabila kekuatan ini menghamba kepada kekuatan ghadhab maka seseorang akan menjadi tirani di muka bumi sehingga ia akan bersikap sewenang-wenang, menebarkan kerusakan, mengingkari segala kebaikan, dan mengerjakan segala kejahatan. Ia akan berubah menjadi Fir'aun atau Namrud. 

Apabila kekuatan ini menghamba kepada kekuatan syahwat, maka ia akan menyiapkan segala wahana bagi kekuatan tersebut untuk mengantarkannya ke tujuannya. Ia mencarikan segala cara untuknya hingga melakukan sesuatu apapun, bahkan yang tidak terpikirkan oleh setan sekalipun, agar dapat meraih keinginannya. 

Adapun, jika kekuatan ini menghamba kepada kekuatan akal, maka ia akan mencarikan cara-cara untuk mengantarkannya ke Kedekatan Ilahi dan jalan-jalan naik ke tingkatan-tingkatan kesempurnaan.
loading...
no image

Faedah dan Tugas Kekuatan Gadhab Manusia

Definisi dan pengertian kekuatan Gadhab. Kekuatan ghadhab adalah merupakan kekuatan yang menjadi sumber kemunculan perbuatan-perbuatan binatang buas, seperti marah dan benci. Berbagai bentuk gangguan [Ibid] ditimpakan kepada orang lain dari maujud ini, yang di dalamnya kekuatan ini bercampur dengan kekuatan-kekuatan yang lain. 

Tujuan dan faedahnya kekuatan gadhab

Kekuatan ini memiliki dua faedah penting sebagai berikut.
  • Pertahanan. Kekuatan ghadhab merupakan sumber diperoleh­nya perlindungan dan gairah pada seseorang. Dari kedunya muncul proses pertahanan seseorang terhadap diri, kehormat­an, harta, dan tanah airnya. Hal terpenting dari itu semua adalah pembelaannya terhadap agama dan akidahnya. Tanpa pertaha­nan dan gairah, seseorang tidak akan bergerak untuk membela perkara apa pun betapapun besar kadarnya. Dengan kata lain, kalau tidak ada kekuatan ghadhab yang melahirkan pertahanan dan gairah, tentu tidak akan muncul proses pertahanan dari seseorang. Namun, kekuatan ini—sebagaimana pada kekuatan syahwat—tidak memperhatikan apa yang muncul darinya, se­perti halal dan haram, dan tidak menentukan batasan dan tatacara tertentu. Akan tetapi, ia menerjang, menghancurkan, dan melenyapkan segala sesuatu. Penentuan kehalalan dari ke haraman, kualitas, danjenis dikembalikan pada kekuatan akal, sebagaimana telah kami sebutkan berulang kali. 
  • Kekuatan syahwat diistimewakan dengan kekuatan yang keras, yang tidak cepat mereda, berbeda dengan kekuatan ghadhab yang diistimewakan dengan kekerasannya, di satu sisi, tetapi cepat mereda, di sisi lain. Oleh karena itu, di dalam riwayat dari Nabi saw. disebutkan, "Ghadhab adalah bara yang menyala di dalam hati. Tidakkah kamu perhatikan urat lehernya mem­besar dan matanya memerah? Apabila siapa pun dari kalian mengalami hal itu, dan jika sedang berdiri, maka hendaklah duduk. Jika ia sedang duduk, maka hendaklah tidur. Apabila hal itu tidak hilang juga, maka berwudulah dengan air dingin dan mandilah, karena api tidak dapat dipadamklan kecuali de­ngan air. [Al-Mahajjah al-Baydha’, karya al-Faydh al-Kasyani, jil.5, penjelasan ‘Ilaj al-Ghadhab (mengobati Marah), hal. 307]" 
Selama kekuatan akal tidak mampu menghadapi kekuatan syahwat yang keras dan pengaruhnya lama maka ia akan meminta bantuan kekuatan ghadhab yang lebih keras, seperti api membara yang menghada­pinya dan membatasi pengaruhnya. 

Dalam hal ini, diriwayatkan bahwa Plato pernah berkata, "Adapun hal ini yaitu kekuatan sabu'iyyah adalah seperti emas dalam kelentu­ran dan kebengkokannya, sedangkan hal itu yaitu kekuatan bahimiyyah adalah seperti besi dalam kekerasan dan kekakuannya. 

Ia juga pernah berkata, "Betapa sulit orang yang tenggelam di dalam syahwat untuk menjadi orang utama. Barangsiapa tidak diberi kekuatan wahmiyyah dan kekuatan syahwat dalam mengutamakan sikap pertenga­han maka hendaklah ia meminta bantuan kekuatan ghadhab yang mem­bangkitkan gairah dan perlindungan yang dapat mengalahkan keduanya. [Jami’ as-Sa’adah, karya an-Naraqi, jil, hal.62]” 

Namun, hal itu tidak akan terjadi kecuali kekuatan ghadhab ber­ada di bawah perintah kekuatan akal. Jika tidak, kekuatan akal akan berada dalam tawanan kekuatan ghadhab dan menghamba kepadanya. Dalam hal ini, terdapat bahaya-bahaya besar yang akan kami jelaskan pada pembahasan-pembahasan berikutnya, insya Allah.
loading...
no image

Faedah dan Tugas Kekuatan Syahwat Manusia

Definisi atau pengertian dari kekuatan syahwat. Kekuatan syahwat adalah kekuatan yang tidak muncul da­rinya selain perbuatan-perbuatan kebinatangan berupa penyembahan pada kelamin dan perut, serta keinginan kuat pada persetubuhan dan makan. [Jami’ as-Sa’adah, karya an-Naraqi, jil.1, hal.61] Tugasnya: ketika kita menganalisis tugas kekuatan ini, kita mendapati bahwa kekuatan ini melakukan dua kegiatan utama.

Pertama, makan. 

Kepentingan kegiatan ini menjadi jelas melalui dua faedah utama yang diperoleh manusia darinya, yaitu:
  • Memelihara badan. Jelas bahwa diri, dalam bentuk umum dan tanpa memandang kekecualian, tidak mampu melakukan pekerjaan apa pun kecuali melalui badan. Badan merupakan wahana, alat, dan kendaraan yang dengannya diri dapat menjalankan pekerjaan yang diinginkannya di dunia ini. Apabila ba­dan ini lemah atau rusak maka diri benar-benar kehilangan wahananya dalam menjalannya pekerjaan-pekerjaannya, benar-benar seperti musafir yang kehilangan wahana perjalanannya sehingga ia tidak mampu mencapai tujuan. Badan tidak me­melihara seperti tampak dengan jelas kecuali makan yang didorong oleh kekuatan syahwat. Namun, kekuatan ini tidak mengenal halal, haram, banyak, dan sedikit. Oleh karena itu, harus ada kekuatan lain yang mengontrol kerja kekuatan ini sehingga ia dapat mengidentifikasi kebaikan dan kerusakan, serta melihat dengan jelas mana yang halal dan mana yang haram untuknya. Kekuatan ini dinamakan kekuatan akal (al- quwwah al-'aqilah). 
Bagaimanapun, kekuatan syahwat—dilihat dari faedah ini—bukan hanya kekuatan yang penting, melain­kan juga merupakan kekuatan utama. Tanpa kekuatan ini ma­nusia tidak mampu mencapai kesempurnaan yang didamba­kannya. Bahkan, jiwa manusia hanya terbentuk pada badan. Apabila badan telah terbentuk dari makanan halal dan suci maka jiwa pun menjadi suci. Namun, jika badan terbentuk dari makanan yang haram dan najis, maka jiwa pun menjadi buruk dan najis. Oleh karena itu, di dalam riwayat disebutkan, "Hen­daklah kalian bersikap baik pada nuthfah kalian, [Da’a’im al-Islam karya al-Qadhi an-Nu’man al-Maghribi, Mu’assasah Ahl al-bayt li Ihya’ at-Turats, Qum, 2:200/733]" sebagai­mana disebutkan dalam banyak riwayat yang menganjurkan perempuan hamil agar memakan makanan tertentu dan ber­pantang dari makanan tertentu. 
Berkenaan dengan hal ini, di dalam riwayat lain disebutkan, "Orang sengsara adalah orang yang sengsara di dalam perut ibunya, sedangkan orang baha­gia adalah orang yang bahagia di dalam perut ibunya.[ Al-Tawhid, karya ash-Shaduq, 3/356]" Artinya kesengsaraan dan kebahagiaan manusia dimulai dari fase-fase kehidupannya yang pertama ketika masih berupa janin di dalam perut ibunya berdasarkan makanan dan nutrisi yang ikut andil di dalam pembentukannya. 
  • Kekuatan syahwat ini di samping makan kalau tidak ada di dalam diri manusia, tentu ia tidak akan mampu mencapai ke­sempurnaan yang berkaitan dengannya. Untuk menjelaskan pemikiran ini, kami katakan bahwa orang buta kehilangan kesempurnaan-kesempurnaan yang yang terbentuk dari tidak memandang sesuatu yang diharamkan Allah. Dengan hilangnya orang kafir di muka bumi ini, maka seseorang kehilangan ke­sempurnaan jihad dijalan Allah. Demikian seterusnya. Kalau seseorang tidak makan dan minum, tentu ia tidak akan mampu mencapai kesempurnaan-kesempurnaan yang berkaitan de­ngan tidak makan makanan haram, dan sebagainya. 
Kedua, bersetubuh. 

Kegiatan ini pun memiliki dua faedah, sebagai berikut.
  • Memelihara dan meneruskan keturunan manusia. Kalau dalam bersetubuh tidak ada syahwat dan kelezatan tanpa meman­dang pahala di akhirat maka manusia tidak akan melakukan hal itu karena adanya kesulitan-kesulitan yang diakibatkan kebe­radaan anak-anak dan keturunan serta keharusan mendidik dan memelihara mereka. 
  • Kegiatan ini memberikan berbagai kesempatan bagi kesempur­naan seseorang dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan pe­muasan syahwat seksual. Hal ini kami artikan sebagai ke­sempurnaan-kesempurnaan yang berkaitan dengan kesucian diri. 
Kadang-kadang, segera muncul di dalam pikiran sebagian orang, pertanyaan yang berkaitan dengan kekuatan syahwat, yaitu "Bukankah lebih utama kalau Allah SWT menciptakan kita tanpa syahwat ini dan ke­sempurnaan-kesempurnaan yang berkaitan dengannya?"

Jawabannya, bahwa pertanyaan ini adalah sama dengan pertanyaan kita, mengapa Allah SWT tidak menciptakan kita sebagai malaikat?

Ja­waban kedua pertanyaan ini sama, yaitu bahwa dengan kebijaksanaan-Nya, Allah 'SWT telah berkehendak untuk menciptakan suatu makhluk yang tidak diberi syahwat seksual dan makan. Makhluk itu adalah malaikat. Selain itu, dengan kebijaksanaan-Nya, Dia berhendak untuk menciptakan makhluk lain yang memiliki syahwat ini. Makhluk tersebut dalah manusia yang mampu naik di atas kekuatan ini yang menariknya kebinatangan dan meninggi darinya sehingga ia menjadi lebih utama daripada malaikat.
loading...

Sunday, July 14, 2013

no image

Apakah Manusia dan Diri Manusia Itu?

Terdapat dua disiplin ilmu yang dengannya peneliti dapat menjawab pertanyaan ini. Kedua disiplin ilmu itu adalah ilmu jiwa eksperimental dan ilmu jiwa filosofis. Di sini, kami tidak merasa penting untuk menjawabnya dengan pendekatan ilmu jiwa filosofis. Oleh karena itu, kami katakan: Allah SWT telah berkehendak secara azali untuk menciptakan berbagai maujud. Dia menjadikan sebagiannya memiliki akal tanpa syahwat dan ghadhab, sebagian lagi memiliki syahwat dan ghadhab tanpa akal, dan sebagian yang lain memiliki akal, syahwat, dan ghadhab. 

Bagian pertama dari maujud ini adalah apa yang dikemukakan dalam beberapa ayat dan riwayat dengan nama "malaikat," sedangkan dalam kajian - kajian filsafat dinamai “akal” (‘uqul) 

Bagian kedua dikhususkan pada binatang. Tidak semua binatang dalam kelompok ini sama. Pada sebagian binatang, syahwat mendominasi ghadhab, seperti pada babi, sementara keadaan sebaliknya terdapat pada binatang buas. Bagian ini dikhususkan bagi setiap yang memiliki syahwat dan ghadhab tanpa akal. 

Bagian ketiga dikhususkan bagi manusia, yang padanya terdapat tiga kekuatan ini sekaligus, di mana Allah SWT meneiptakannya dalam bentuk ciptaan yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya Kami telah menciptahan manusia dalam bentuk ciptaan yang sebaik-baiknya. [QS at-Tin [95]: 4]. Allah menjadikannya kemampuan memilih dalam menempuh jalan apa pun yang dipilihnya dari dua jalan, yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan.... Dan demi jiwa seta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu [jalan] kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikannya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. [QS asy-Syams [91]: 7-10]. 

Apabila akalnya menguasai syahwat dan ghadhabnya serta menjadikan keduanya tunduk kepadanya maka ia naik di dalam tingaktan-tingkatan kesempurnaan hingga mencapai maqam-maqam yang tidak dapat dicapai bahkan oleh para malaikat yang didekatkan. Dalam menjelaskan kedudukan Rasulullah saw., Allah SWT berfirman: Kemudian, dia mendekat dan lebih dekat lagi sehingga berjarak dua busur atau lebih dekat lagi [QS an-Najm [53]: 8-9]. Hal itu tiada lain adalah karena manusia terus naik pada tingkatan-tingkatan kesempurnaan dan sampai ke maqam-maqam tersebut dengan adanya pertarungan dan keadan berdesak-desakan dalam perjalanannya dan ketidakberadaannya di alam para malaikat. 

Adapun jika akalnya tunduk pada syahwat atau ghadhab-nya, maka ia menjadi seperti binatang, bahkan ia lebih sesat jalan. Tiadalah mereka itu kecuali seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalan.[ QS al-Furqan [25]: 44. Hal yang disesalkan Al quran dalam menyerupakan mereka dengan binatang ternak tiada lain karena mereka memiliki akal di samping memiliki syahwat dan ghadhab. Namun, mereka menyerahkannya sebagai tawanan kepada syahwat atau ghadhab mereka sehingga mereka terus-menerus turun di bawah tingkatan binatang dalam eksistensi ini. 

Perincian Empat Kekuatan dalam Diri Manusia.

Para ulama menyebutkan empat kekuatan dalam diri manusia telah ditunjukkan sebelumnya secara garis besar sebagai berikut. 
  1. Kekuatan akal (al-quwwah al-'aqliyyah), yang juga dinamai kekuatan al-malakiyyah, karena ia membawa manusia naik ke alam para malaikat, kesucian, bersuci, dan alam kedekatan Ilahi. 
  2. Kekuatan syahwat (al-quwwah asy-syahwiyyah) yang disebutkan juga kekuatan al-bahimiyyah (kebinatangan) karena keberadaannya dalam bentuk yang lebih buruk daripada binatang. 
  3. Kekuatan ghadhab (al-quwwah al-ghadhbiyyah) yang kadang-kadang bersinonim dengan sifat kebinatangan, karena ia merupakan kekutan yang dibekalkan pada binatang buas dan binatang-binatang berbahaya. Kedua kekuatan ini—yaitu kekuatan syahwat dan kekuatan ghadhab—adalah yang menarik manusia ke alam materi dan ke dunia yang hina ini. 
  4. Kekuatan waham (al-quwwah al-wahmiyyah); kekuatan ini memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Kekuatan inilah yang membantunya dijalan yang benar atau jalan yang keliru sehingga ia mendapat berbagai fasilitas untuk merealisasikan apa yang diinginkan dan dipilihnya. 
Kami telah menyinggung masing-masing dari kekuatan ini pada pembahasan sebelumnya. Di sini, yang ingin kami tunjukkan adalah dikemukakannya kekuatan-kekuatan ini dalam bentuk yang lebih terperinci dengan memperkenalkan dan menjelaskan tugas-tugasnya. Kami memulai dengan kekuatan syahwat sebelum yang lain pada artikel berikutnya.
loading...

Wednesday, May 8, 2013

no image

Siapakah yang Pantas Dipuji

مََنْ اَكْرَمَكَ اِنَّمََا اَكْرَمَ فِِيْكَ جَمِيْلَ سِتْرِهِ ٬ فََالْحَمْدُ لِمَنْ سَتَرَكَ لََيْْسََ الْحََمْْدُ لِمَنْ اَكْرَمَكَ وَشَكَرَكَ٠ 

“Orang yang menghormatimu, sebenarnya ia hanya menghormati keindahan yang ditutupi oleh Allah. Padahal yang wajib dipuji adalah untuk Dzat yang menutupi kamu, bukan pada orang yang memuji dan berterima kasih padamu." 

Manusia adalah tempat salah dan tempat aib. Pada umumnya manusia sendiri tidak menyukai sifat-sifat seperti itu. Apabila ada orang yang memujimu, itu bukan karena kehormatan yang ada padamu, akan tetapi oleh karena Allah menutupi kejelekanmu dengan menampakkan kebaikanmu. Manusia yang pada umumnya lebih suka melihat barang yang sifatnya lahiriyah, mudah tertipu oleh penglihatannya sendiri. Oleh karena manusia tidak dapat membedakan mana yang hakiki dan mana yang palsu

Bagi hamba yang saleh, maka peristiwa manusia seperti ini, pasti ia kembalikan kepada Allah. Karena Aliahlah yang menciptakan manusia, dan Tahu apa yang sebenarnya di balik semua yang nampak. Penghormatan seorang hamba kepada sesama manusia sebenarnya bukan diarahkan kepada apa yang ia lihat dari lahiriyahnya, akan tetapi hendaklah yang ada dalam batinnya. Oleh karena manusia tidak mampu melihat apa yang ada dalam batin seseorang, maka penghormatan itu dikembalikan kepada sang Maha Pencipta, Allah swt

Manusia pasti memiliki kekurangan, karena aib yang di sandangnya itu. Ia kuatir apabila aibnya diketahui oleh sesama manusia. Ia akan malu dan merasa terhina. Allah swt telah menutup aibnya itu dan menampakkan kebaikan yang ia miliki, sehingga kejelekannya tertutup dengan sangat rapinya, dari penutup yang sangat indah dari Allah swt. Sehingga apabila ada yang memujinya, tidak lain karena beitu indahnya penutup yang dipasang oleh Allah pada dirinya. Maka tertutuplah cela dan aib manusia, lalu nampak kebagusan lahiriyahnya. Karunia Allah dan penutup yang indah ini, hendaklah disyukuri: "Barangsiapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur pada diri sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, sesungguhnya Allah swt Maha Kaya dan Maha Terpuji." (QS. Luqman: 12)
loading...

Friday, May 3, 2013

no image

Sifat Hamba Allah yang Sholeh

 لَيْسَ كُلُّ مَنْ ثََبَتَ تََخْصِيْصُهُ كَمُلَ تََخْلِِيْصُهُ 

“Tidaklah setiap orang yang menampakkan kekhususannya, dengan sendirinya sempurna keikhlasannya." 

Sifat-sifat kekhususan artinya sifat yang dimiliki hamba Allah yang saleh dan taat di luar kebiasaan manusia pada umumnya. Sifat kekhususan ini adalah anugerah Allah kepada sebagian hamba-hamba- Nya. Biasanya kekhususan seperti ini disebut juga kekeramatan, berasal dari kata keramat (kehormatan dari Allah, kepada si hamba, karena kesalehannya yang luar biasa). Semua ini adalah pemberian dan inayah Allah swt di kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. 

Mereka memiliki insting rohaniah yang halus, dalam kekuatan batiniah, sebagaimana sifat para muqarrabin yang mendapat inayah dari Allah swt. Kekhususan itu pun karena ilmu (ahli ilmu) yang ada dalam dada mereka, dan kecintaan Allah kepada mereka. Adalah mereka itu orang zuhud kepada dunia yang banyak mujahadah dan wiridnya kepada Allah. Allah swt memberikan kekeramatan pada hamba yang dipilihnya karena keikhlasan mereka dalam taat dan ibadah. Mereka yakin keagungan Allah 

Sebenarnya kekhususan itu tidak diciptakan oleh si hamba yang taqarrub kepada Allah sampai kepada maqam yang sangat istimewa. Si hamba sendiri tidak mengetahui bahwa ia memiliki keistimewaan (kekeramatan). Ia hanya memahami kewajiban kepada Allah dan mengamalkan kewajiban itu dengan sungguh-sungguh dengan disiplin yang Penuh. Demikian juga ia mengawasi dirinya dan menghindar dari perbuatan yang dimurkai Allah dari yang sekecil-kecilnya sampai yang paling besar. Seorang hamba Allah yang dianugerahi Allah kekeramatan, ia sendiri tidak mengetahui tentang kekeramatan itu. Orang di luar dirinyalah yang mengetahui hal-hal istimewa itu, Semua itu tidak lebih adalah karunia istimewa yang dianugerahi Allah bagi siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang terus mendekati-Nya dengan penuh keikhlasan dan menghindari seluruh perbuatan yang dilarang oleh Allah swt.

Namun demikian perlu bagi setiap hamba Allah berhati - hati menghadapi adanya kekeramatan seperti yang dialami oleh hamba - hamba Allah dalam kepastiannya sebagai orang yang dianggap memiliki kekeramatan. Sebab kadang-kadang suatu peristiwa yang dialami oleh seorang hamba Allah, umpamanya berlaku istimewa, dapat mengobati orang sakit, hanya dengan memberi orang minuman air putih yang telah diberi jampi-jampi. Atau seseorang yang dapat merubah benda yang tidak berguna menjadi benda yang sangat berguna bagi manusia (seperti merubah kertas menjadi uang), atau dapat berjalan di udara, atau di atas air. Keistimewaan seperti ini perlu diwaspadai.

Karena kekeramatan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang saleh tidak terikat dengan sebab dan kebiasaan. Kadang-kadang kebiasaan yang terjadi menutup sebenarnya, laksana awan menutup sinar matahari. Keistimewaan yang ditunjukkan oleh seseorang yang mempunyai kekhususan itu bisa terjadi oleh selubung yang dibuat oleh setan, atau setan telah mengikuti peristiwa itu dan berada dalam suatu kejadian yang dinampakkan. Atau setan ikut memberi pengaruh pada kekeramatan si hamba Allah tersebut. Hal ini tidak mustahil karena kepandaian setan adalah mengambil kesempatan di saat seorang hamba lalai. 

Oleh karena sesuatu keistimewaan yang nampak pada seseorang belum dapat dipastikan itu adalah kekeramatan yang murni, karena boleh jadi telah dipengaruhi oleh kekuatan hawa nafsu atau kekuatan setan. Sehingga dikatakan, belum tentu orang yang menunjukkan kekeramatannya, telah bersih dan ikhlas hatinya. Barangkali dalam hatinya masih ada tempat yang kosong, sehingga mudah bagi setan menghinggapi dan berdiam di dalamnya. Hal ini disebabkan kurang ketetapan hatinya dan kurang teguh keimanannya, (kurang istigamah). Akibatnya perbuatan yang menunjukkan keistimewaannya itu sudah tidak murni lagi, tidak sesuai dengan kehendak Allah swt .Istiqamah itu diperlukan dalam segala sesuatu bagi semua hamba Allah yang ingin tetap kokoh keyakinan imannya. Istiqamah menjadi sifat yang bertahta dalam jiwa orang makrifat kepada Allah. 

Kekeramatan yang berasal dari pemberian Allah sebagai sesuatu keistimewaan boleh saja diterima oleh hamba-hamba Allah yang saleh dan tetap istiqamah. Apabila seseorang hamba yang istiqamah masih terpengaruh juga oleh sesuatu yang datang dari luar dirinya, berarti telah memberi peluang bagi setan untuk mempengaruhi iman. Walaupun iman itu sebenarnya tidak mungkin dan tidak mudah dipengaruhi, akan tetapi ia dapat luntur sedikit demi sedikit. Karena setan sangat pandai mencari peluang dan menerobos kesempatan dan kelemahan. 

Dengan penjelasan ini dapat diketahui bahwasanya apabila suatu kekeramatan yang menjadi kekhususan hamba yang makrifat (para wali Allah), masih juga dipengaruhi oleh hawa nafsu, maka berarti kebersihan dan keikhlasannya belum lagi sempurna. 

Tujuan Allah memberi kekeramatan bagi hamba-Nya, agar membantunya menekan hawa nafsu yang suka menggodanya dengan bermacam - macam keinginan. Padahal orang-orang yang beribadah dan menempuh hidup makrifat, hendaklah mampu mengendalikan hawa nafsu dan keinginan yang akan menghambat maqam kewaliannya. Bukti yang dapat memberi petunjuk bahwa seorang hamba telah mendapat kemuliaan yang istimewa dari Allah swt ialah dengan terjadinya beberapa bukti yang di luar jangkauan manusia umumnya. Allah swt memperlihatkan kepada si hamba kekuasaan-Nya untuk menekan keinginan yang akan mengurangi si hamba untuk menekuni tugas dan kewajibannya sebagai Wali dalam kehidupan beragama, sehingga tidak menghambat urusan ibadahnya yang khusus ataupun yang umum. Seperti menekan hawa nafsu mencari rezeki dengan menjadikan makanan atau menyediakan kebutuhan si hamba di luar jangkauan usaha dan pikirannya. Atau Allah swt menjadikan batu menjadi emas Allah swt dapat menciptakan dan mendatangkan sesuatu di luar kekuasaan sang Wali untuk menghambat kehendak dan keinginan hawa nafsunya yang sedikit banyak masih juga terdapat dalam diri si hamba Allah itu. 

Memang nafsu manusia itu tidak puas apabila ia tidak melihat sesuatu dengan mata kepalanya sendiri, sebagaimana Nabi Ibrahim as memohon kepada Allah agar dapat melihat kekuasaan Allah dengan mata kepalanya sendiri, walaupun Allah telah memberi pengetahuan kepadanya tentang hidup dan mati. Allah swt berfirman dalam , Al Quran, ketika Nabi Ibrahim meminta kepada Allah: "Wahai Tuhanku perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang mati Allah berfirman: "Apakah engkau tidak percaya? (bahwa Aku dapat menghidupkan semua yang mati)." "Bukan begitu, kata Ibrahim, akan tetapi maksudku agar tenteram dan puas hatiku. Demikian itu agar nafsu yang berkeinginan menjadi tenang karena telah melihat dengan mata kepalaku sendiri."
loading...

Wednesday, May 1, 2013

no image

Permohonan Orang Arif Kepada Allah

 مَطْلَبُ الْعَارِفِيْنَ مِنَ اﷲِ تَعَالَى الصِّدْقُ فِى الْعُبُوْْدِِيَّةِ وَالْقِيَامُ بِحُقُوْقِ الرُّبُوْبِيَّةِ ٠ 

 “Permohonan orang-orang arif, yang diharapkan dari Allah swt agar mendapat kekuatan dalam kesungguhan beribadah dan tetap teguh manunaikan hak-hak dan kewajibannya kepada Allah swt." Harapan yang diminta oleh para arifin dari Allah swt sama seperti para ahli ibadah lainnya, atau para ahli zuhud, ulama , dan lainnya, tiada lain hanyalah agar sungguh – sungguh beribadah dan teguh kokoh menegakkan kewajiban terhadap Allah swt belaka. 

Amal ibadah yang tidak berpengharapan seperti itu, selain hanya mendapat kepayahan belaka, juga akan sia-sia, karena kehendak yang dicari bukannya keridaan Allah semata. Permohonan hamba agar ibadahnya terjaga dari sifat-sifat insaniyah yang kurang bersih, adalah sifat hamba yang terlepas dari keinginan mendapatkan surga dan seluruh kesenangannya. 

Padahal kenikmatan beribadah itu, adalah bagaimana seorang hamba mendapat inayah dari Allah dalam kesungguhannya beribadah, sehingga ibadah itu sendiri akan memberinya kebahagiaan, karena Allah rida Kepadanya, sebelum mendapat anugerah surga Jannatun Na'im. Seperti yang diulang-ulang oleh Syekh Ataillah: "Sebaik - baik harapan yang engkau inginkan dari Allah, adalah melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepadamu." Syekh Abu Madain mengingatkan: "Perbedaan antara hamba yang beribadah dengan mengharapkan surga dan bidadaririya, daripada hamba yang hanya mengharapkan rida Allah serta selalu hadir di hadapan Tuhan Rabbul Izza, adalah pada fananya diri si hamba dalam beribadah semata-mata limardatillah (untuk memperoleh keridaan Allah)." 

Sesungguhnya tidak ada imbalan yang paling tinggi dan mulia bagi seorang 'abid, melebihi rida Allah. Apabila seorang 'abid telah mendapat rida dari ma'bud-nya, maka berarti seluruh hidup dunia dan akhiratnya'telah merupakan surga baginya. Ke mana saja ia pergi, di mana saja ia berada, selalu bersama keridaan Allah swt. Tidak ada lagi pemberian Allah melebihi rida-Nya. Untuk mencapai maqam makrifatnya para arifin itulah yang memerlukan latihan rohani yang cukup lama dan kesabaran istiqamah yang tangguh. Melalui tahapan tahapan tertentu seorang hamba akan mencapai martabat yang mengantarkannya mendapatkan rahmat dan rida Allah swt. 

Mardatillah adalah jaminan dari Allah bagi si hamba di dunia dan akhirat. Kefanaan seorang hamba di hadapan Allah akan mampu meniadakan segala keinginan duniawi maupun ukhrawi dari si hamba yang kadang-kadang menjadi hambatan baginya untuk hadir di hadapan Allah swt melalui basirahnya, keyakinan yang bersinar mata imannya. Untuk itu kesungguhan dan kemantapan dalam ibadah sangat diperlukan.
loading...
no image

Isyarat Orang yang Arif

 مَاالْعَارِفُ مَنْ اِذَا اَشَارَ وَجَدَ الْحَقَّ اَقْرَبَ اِلَيْهِ مِنْ اِشَارَتِهِ بَلِ الْعَارِفُ مَنْ لاَ اِشَارَةَ لَهُ لِفَنَائِهِ فِىْ وُجُوْدِهِ وَانْطِوَائِهِ فِىْ شُهُوْدِهِ٠ 

"Bukanlah orang yang arif, orang yang suka memberi isyarat, lalu mengatakan itulah wujud Al Haq (Allah Ta 'ala) yang sangat dekat dengannya dari isyaratnya sendiri. Akan tetapi orang yang bermakrifat sebenarnya tidaklah mempunyai isyarat apa pun karena kefanaannya dalam wujud Allah, ia pun tidak mampu melihat Allah." 

Isyarat itu adalah suatu gerakan yang berkaitan dengan batin hamba bermakrifat, sifatnya kinayah. Beberapa paham tarikat berpendapat apabila seorang hamba yang taqarrub kepada Allah memberi semacam isyarat apabila menghadapi suatu masalah, atau ada yang menanyakan sesuatu kepadanya. Gerakan yang dilakukan seperti ini dianggap oleh manusia umumnya, adalah gerakan orang yang sudah tinggi makrifatnya. Seakan-akan isyarat itu adalah isyarat Allah. Cara seperti ini adalah cara para ahli tariqah yang merasa dekat dengan Allah, sehingga isyarat darinya dianggap benar. Ia pun merasa bahwasanya Allah swt lebih dekat kepadanya daripada isyaratnya sendiri. 

Akan tetapi sebenarnya yang disebut orang yang bermakrifat itu tidaklah suka mempergunakan isyarat-isyarat, dan tidak merasa mempunyai isyarat, meskipun tidak terasa ia telah menyampaikan isyarat, akan tetapi ia tidak memandang isyarat itu sebagai yang wajib diyakini kebenarannya. Ia lebih memandang bahwa segala sesuatu adalah wujud Allah sendiri, dan sendiri fana dalam wujud Allah. 

Sesungguhya manusia dalam arti yang luas, terikat dengan kehendak Allah. Ia tidak mampu memberi hidayah kepada manusia secara sempurna. Akan tetapi hamba yang makrifat hanya dapat memberi petunjuk sementara yang mengarah kepada kebaikan dan ketaatan. Kalaupun ada isyarat yang dianggap sebagai hal-hal yang luar biasa, tidaklah dapat dipastikan sebagai suatu yang tepat benar. Orang yang) arif dalam ketauhidan dan ilmu makrifatullah tidak berkesimpulan seperti itu. Karena pengertian seperti itu tidak berasal dari kearifan yang benar, akan tetapi merupakan ibarat yang halus untuk membantu agar terlaksananya sesuatu kebaikan dan ketaatan. Hamba Allah yang kuat dengan-Nya, lebih memilih jalan yang sesuai dengan akidah, sehingga ia tidak dianggap orang yang dapat mengetahui segala sesuatu yang belum dan akan terjadi. Sikap seperti ini adalah sikap orang-orang yang arif, agar terhindar dari sifat riya' yang dapat menimbulkan syirik.
loading...

Tuesday, April 30, 2013

no image

Dimana Kedudukan Anda Disisi Allah

 اِذَا اَرَدْتَ اَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِيْمَا ذَايُفِيْمُكَ ٠ 

“Apabila engkau ingin mengetahui bagaimana kedudukan-mu disisi Allah, makaperhatikanlah dimana Allah telah menempatkan dirimu.”
Inilah timbangan yang benar, seperti disabdakan dalam hadis Nabi: “Apabila engkau hendak mengetahui manzilah (posisi)mu di sisi Allah, maka perhatikanlah bagaimana manzilah Allah dihatimu. Sungguh Allah swt menempatkan posisi seorang hamba di sampingnya, apabila hamba mendudukkan Allah dalam dirinya." 

Dimaksud manzilah tersebut yang dikehendaki adalah hamba Allah dalam ibadahnya teguh dan tetap mengingat Allah dalam segala perbuatannya. Al Fudhail bin Iyad menerangkan, "Sesungguhnya seorang hamba beribadah kepada Allah adalah menurut kedudukannya disisi- Nya, atau kedudukan Allah dalam jiwanya." Dalam hal yang sama, Abu Talib Al Makky berkata: "Apabila seorang hamba mengenal Allah, ia tentu akan menghormatinya, memuliakannya, dengan kecintaannya, kerelaannya, demikian juga Allah swt akan memandangnya bersama rahmat dan kasih sayang-Nya." 

Seorang hamba yang taat kepada Allah, maka dalam segala hal ia mendahulukan Allah. Si hamba tidak ingin berkompromi dalam hubungannya dengan Allah. Ia pasti mendahulukan Allah, dalam menetapi waktu ibadah, disiplin dalam zikir dan membaca Al-Qur’an serta amalan yang sudah menjadi kewajiban rutin baginya. Tidak mungkin Allah akan memperhatikan si hamba, apabila si hamba sendiri tidak menunaikan kewajiban dengan baik dan sempurna terhadap Allah. Demikian juga bagaimana seorang hamba mampu menempatkan Allah di hatinya, kalau ibadah dan amalnya tidak teratur. 

Kedudukan hamba di hadapan Allah swt, adalah bagaimana ia menjalankan amal ibadah yang menjadi kewajibannya. Ibadah hamba itulah yang akan memastikan bahwa si hamba dekat dengan Allah.
loading...
no image

Siapa Orang Yang Tolol?

 مَنْ رَأَيْتَهُ مُجِيْبًا عَنْ كُلِّ مَاسُئِِلَ وَ مُعَبِّرًا عَنْ كُلِّ مَاشَهِدَ وَ ذَاكِرًا كُلَّ مَاعَََلِمَ فَاسْتَدِلَّ بِذَلِكَ عَلَى وُجُوْدِ جهْلِهِ٠ 

“Barangsiapa melihat orang yang suka menjawab segala sesuatu yang diajukan kepadanya, menceritakan segala sesuatu yang pernah/ disaksikannya, menyebut semua yang pernah diketahuinya, perbuatan seperti itu termasuk perbuatan orang tolol." 

Menjawab semua pertanyaan, menceritakan semua yang disaksikan, dan menyebut-nyebut semua persoalan, adalah pertanda sifat orang bodoh. Karena menjawab semua persoalan yang diajukan adalah sikap yang salah. Tidak semua pertanyaan perlu dijawab dan harus jawaban yang lengkap, apalagi pertanyaan sekitar masalah rahasia batin yang dimiliki hamba yang makrifat. Karena menjawab sesuatu, hendak pula melihat kemampuan ilmu yang ada pada seorang hamba. Ilmu yang ada pada manusia sebenarnya sangat sedikit dibandingkan dengan ilmu orang yang menjadi rahasia alam semesta. Allah mengingatkan hal ini dalam Al-Qur'an: "Tidaklah Allah swt memberi kamu ilmu, kecuali sedikit sekali." 

Sebenarnya menjawab pertanyaan yang berkenaan dengan ilmu agama yang perlu diketahui oleh umat menjadi kewajiban setiap ulama para Pendidik. Akan tetapi dalam ilmu tasawuf, ada banyak hal yang tidak semuanya dijawab, karena berkenaan dengan rahasia gaib yang diketahui oleh seorang hamba. Menjawab pertanyaan berkaitan dengan ilmu batin yang telah dituangkan Allah ke dalam hati hamba yang arif dan makrifat menunjukkan ketololan. Al menceritakan semua yang dialaminya. Sebab semua peristiwa yang berkaitan dengan rahasia batin adalah anugerah Allah yang diberikan kepada seorang hamba. Apabila peristiwa gaib dan ilmu batin itu dijelaskan kepada orang yang bukan ahlinya, apalagi orang awam niscaya akan menimbulkan fitnah, ejekan dan pendustaan. Oleh karena itu menyampaikan penjelasan atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan masalah ini, disebut orang tolol, karena tidak menempatkan dirinya. 

Dunia dan alam kehidupan ini penuh rahasia Allah dan kegaiban. Ada yang berupa lahir dan ada yang berupa batin. Semua merupakan ilmu Allah yang bisa diungkapkan secara nyata, dan bisa diungkapkan secara samar, dan bisa diungkapkan dalam bentuk rahasia (batin). Walaupun demikian, semua macam ilmu tersebut, tetap berdas;uk firman Allah dan sunah Nabi saw. Selama tidak bertentangan dengan dua pedoman hidup Islam itu, bolehlah dipelajari dan diamalkan. Adapun yang bersifat batin, biasanya hanya dapat dialami dan dipelajari oleh hamba Allah yang masuk kepada alam makrifat, yang mampu menyingkap rahasia dan mengungkap tabir yang tertutup antara para hamba dengan alam gaib. Semuanya bisa terjadi dan dapat diketahui dengan izin Allah belaka.
loading...
no image

Siapa Hamba Allah yang Istimewa?

 اِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا اَقَامَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِوُجُوْدِ الأَوْرَادِ وَاَدَامِهُ عَلَيْهَا مَعَ طُوْلِ الإِمْدَادِ فَلاَ تَسْتَحْقِرَنَّ مَامَنَحَ مَوْلاَهُ لأَِنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيْمَا الْعَارِفِيْنَ وَلاَ بَهْحَةَ الْمُحِبِّيْنَ فَلَوْلاَ وَارِدَمَا كاَنَ وِرْدٌ ٠ 

“Apabila engkau melihat seorang hamba yang senantiasa menyebut nama dalam ketetapan waktu yang telah direncanakan secara tetap (dalam zikir dan wirid), sedangkan ia lama tidak menerima pemberian Allah, maka (dalam hal ini) jangan engkau pandang enteng akan pemberian Allah kepadanya. Karena engkau tidak memaham karunia Allah yang sebenarnya telah diterimanya sebab ia tidak menunjukkan tanda-tanda orang-orang arif pada dirinya dan kecintaannya kepada Allah swt. Sebab, andaikata tidak ada karunia Allah yang besar (warid) kepadanya, maka tidak mungkin wirid (kontinyuitas dalam beberapa ibadah tertentu)." 

Ada hamba Allah yang mempunyai kekhususan (keistimewaan). Terbagi dalam dua golongan. Kedua golongan ini adalah para muqarrabin dan para abrar. Yang termasuk para muqarrabin adalah mereka yang mencari mardatillah yang dengan membebaskan diri dari pengaruh duniawi dan mengkhususkan diri beribadah semata, mendekati Allah swt berada dalam ketaatan, mereka menempatkan dirinya dalam golongan hamba yang arifin lagi muhibbin. 

Sedangkan para abrar, adalah hamba Allah yang sangat taat beribadah dan menjalankan amalan sunah dengan baik dan teratur namun mereka golongan ini masih terikat dengan kehendak duniawiyah, karena keinginan dunia, seperti harta dan derajat, masih mengunggulinya. Ibadah bagi mereka selain suatu kewajiban yang mutlak, mereka berharap akan mendapat pembalasan dari Allah berupa kenikmatan surga yang abadi. Mereka ini dinamakan para zahid yang abid. Para hamba seperti tersebut di atas mempunyai martabat tersendiri di sisi Allah menurut kemampuan yang ada pada mereka. 

Allah dengan iradah-Nya telah memberi karunia kepada hamba - hamba-Nya sesuai dengan kemampuan dan kedudukan di sisi Allah.l Apabila ada orang yang tekun dan taat beribadah, mengamalkan zikir dalam wirid yang tetap, namun tidak nampak keistimewaan yang boleh diandalkan sebagai miliknya. Orang seperti ini jangan dianggap enteng sebab tidak ada orang mampu melihat kekhususan dari karunia Allah yang mereka miliki. Ketekunan dalam ingat kepada Allah dengan wirid mereka, adalah karunia dari-Nya, sebab kelak ia akan mampu melepaskan dirinya dari ikatan duniawi, walaupun ia berada di dalam lingkungan hidup duniawi dan manusia umumnya. Ibadah yang tetap itulah keistimewaan bagi si hamba. Ia berada pada maqam yang khusus. 

Selanjutnya Syekh Ahmad Ataillah menjelaskan kepada kita tentang kedudukan hamba Allah yang tekun beribadah itu, dalam pesannya, “Ada golongan yang mengkhususkan dirinya beribadah, ada pula golongan yang mengkhususkan dirinya mencintai Allah semata Mereka masing-masing memperoleh karunia besar dari Allah swt dengan karunia yang tidak terbatas." 

Kedudukan seorang hamba dalam melaksanakan ketaatannya kepada Allah seperti digambarkan di atas adalah tanda khidmatnya manusia kepada Allah Al Haq, Pemberi rahmat dan karunia yang sangat besar kepada manusia dan dunia seisinya ini. Hamba Allah yang bermakrifat kepada-Nya selalu menunjukkan kecintaan dan perhambaan kepada Maha Pencipta langit dan bumi, sesuai dengan pemberian dan karunia Allah yang telah dianugerahkan kepada manusia dan dunia ini. 

Sahal bin Abdullah meriwayatkan, "Bahwa Allah swt mendatangkan untuk suatu negeri atau kota orang-orang zahid. yang tekun beribadah. Allah meletakkan dalam hati si abid dan si zahid itu keutamaan dan kemuliaan yang disebarkan bagi keselamatan dan keamanan seisi negeri itu. 

Sebagian dari para hamba yang mendapat kedudukan dan kemuliaan dari Allah swt, tekun beribadah tanpa mengharapkan apa-apa, karena ibadah itu hanya untuk mencari mardatillah. Dalam pengkhidmatan itu mereka mencapai maqam tertinggi dari Allah swt. 

Selain itu ada para hamba yang Allah yang berkhidmat kepada Allah dengan menumpahkan rasa mahabbah pada Allah belaka dengan melupakan kecintaan kepada selainnya, mereka lebih banyak khidmat dengan hati nurani yang tinggi tingkatannya, di samping taat dan tekun melaksanakan ibadah lainnya. 

Ibadah dengan taqarrub yang khusus kepada Allah, baik dalam bentuk lahiriah ataupun batiniah. Bentuk-bentuk ibadah seperti “waridat Ilahiyat" adalah karunia Allah swt yang dikhususkan bagi hamba yang senantiasa menepati waktu-waktu yang telah dibiasakan melaksanakan beberapa macam ibadah dengan tetap dan tekun. 

Ibadah khusus ini menjadi suatu bagian dari kesempurnaan makrifat manusia kepada Allah sehingga dengan izin Allah ia mampu menyingkap rahasia-rahasia yang terbungkus di alam gaib, lalu menjadi ilmu yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Ilmu itu tidak begitu saja diperoleh tanpa taqarrub yang kontinyu kepada Allah. Sedang karunia khusus (warid) itu selalu turun pada manusia secara mendadak, agar para ahli ibadah tidak mendakwahkan dirinya sebagai orang yang menerima warid dari Allah swt, karena telah mengadakan persiapan dan latihan terlebih dahulu. Maksudnya, apabila seorang hamba telah meningkatkan amal wiridnya, jangan sampai ia berharap datangnya warid. 

Adapun warid Ilahiyat itu sendiri merupakan anugerah Allah yang sangat tinggi untuk para hamba yang terpilih, dengan izin dan iradah Allah semata-mata. Warid itu sendiri menurut Syekh Abdul Qadir adalah tidak karena permintaan si hamba, bukan juga karena suatu sebab datangnya tidak diminta, hilangnya tanpa sebab. 

Warid Ilahiyat itu bukan sesuatu yang datang berbentuk dan tidak pula pada waktu tertentu. Waridat Ilahiyat adalah anugerah Allah yang luar biasa, ia datang secara tiba-tiba, tidak dapat ditentukan waktunya, sebab tidak dapat disamakan dengan ibadah lainnya. Tetapi ia adalah hasil ibadah para hamba yang taat dan saleh secara keseluruhan.
loading...