Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Iman dan Taqwa. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Iman dan Taqwa. Show all posts

Saturday, November 22, 2014

Mengaku Bersalah dan Taubat, Penghapus Dosa Besar

Mengaku Bersalah dan Taubat, Penghapus Dosa Besar

Tidak jarang orang yang bersalah akan menyembunyikan kesalahannya tersebut sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Apakah ini benar dalam ajaran Islam. Tentu saja hal ini tidak benar dan bukanlah suri tauladan yang baik. Dalam islam selalu mengajarkan kepada umatnya tentang kejujuran, yang mana kejujuran akan membawa seseorang kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan kepada jalan surga.
Sudah kita ketahui bersama, bahwa sekecil apapun amal seseorang baik itu keburukan maupun kebaikan akan ditampakkan oleh Allah pada hari kiamat kelak, hari dimana setiap amal akan dihisab dalam pengadilan Allah. Mengaku bersalah adalah hal yang wajib bagi siapapun apabila bersalah dan pintu taubat akan terbuka bagi siapa saja yang benar-benar bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat.
Berikut ini adalah sebuah cerita yang berdasarkan hadits Nabi tentang diterimanya taubat seseorang karena mengaku bersalah meskipun dosanya adalah dosa berzina yaitu dosa yang besar.

Adalah seorang bernama Ma’iz bin Malik mengaku dengan tulus bahwa dirinya telah berzina. Mendengar pengakuan tersebut, Nabi Muhammad saw. pun heran. Apakah Ma’iz sadar, dengan pengakuannya tersebut dia akan mendapatkan hukuman mati?. Oleh karena hal tersebut Nabi Muhammad Rasulullah saw. bertanya kepada sahabat yang hadir : apakah orang ini sedang mengalami gangguan jiwa? Jawab sahabat : ia tidak gila. Akan tetapi Nabi masih merasa ragu dengan pengakuan yang tulus dari Ma’iz. Kemudian Rasululllah saw. pun curiga dan menduga bahwa Ma’iz sedang dalam keadaan mabuk, kemudian Rasulullah menyuruh kepada salah satu orang yang hadir untuk mencium tubuh Ma’iz. Hasilnya tubuh Ma’iz tidak tercium sedikitpun adanya bau minuman keras.

Dalam upaya Rasulullah untuk meyakinkan kecurigaannya, Rasul pun bertanya langsung kepada Maiz dan berkata : apakah betul kamu berzina?. Ma’iz menjawab : “Ya” sambil mendesak untuk segera dibersihkan dirinya dari dosa berzina dan berkata bahwa dia siap menerima hukuman Rajam.

Dari kisah cerita yang lain :

Adalah seorang wanita Ghamidiyah yang berasal dari lembah Juhainah. Dia menghadap Nabi Muhammad saw. dan mengaku telah hamil karena hasil zina dan memohon kepada Nabi Muhammad saw. untuk dihukum rajam seperti yang sudah terjadi pada Ma’iz.

Kemudian Nabi Muhammad memberikan anjuran kepada Ghamidiyah untuk lekas bertaubat kepada Allah swt. Semari menunggu kelahiran bayinya. Setelah bayinya lahir, perempuan tersebut kembali kepada Rasulullah dan mendesak segera untuk menjalani hukuman.

Namun, Rasul menyuruhnya pulang dan memberikan perempuan tersebut untuk menyusui anaknya hingga disapih. Sambil menggendong anaknya sambil membawa sepotong roti sebagai tanda bahwa anaknya sudah disapih, wanita tersebut kembali menghadap Rasulullah saw.

Berbagai kesempatan dan waktu yang diberikan Rasulullah saw. dapat saja dimanfaatkan oleh perempuan Ghamidiyah untuk melarikan diri. Namun Ghamidiyah tidak melarikan diri dan dengan tulus ikhlas mengaku serta ingin dihapuskan dosanya dari dosa berzina. Dan Rasulullah sangat percaya bahwa perempuan tersebut benar-benar dan bersungguh-sungguh dalam bertaubat dan tidak akan terulang kembali perbuatannya.

Dari kisah cerita di atas dari seorang Ma’iz bin Malik dan Ghamidiyah adalah contoh suri tauladan dalam hal kejujuran dengan mengaku bersalah dan dengan segera bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Mereka dengan tulus datang dan melaporkan diri, serta mengakui kesalahannya dan meminta untuk dihukum dengan eksekusi hukuman yang dapat merenggut nyawa mereka.

Kedua orang seperti ini tidak yakin bahwa taubatnya akan diterima oleh Allah swt., jika hanya dengan lantunan ucapan doa dan beristighfar, tanpa menjalani eksekusi hukuman rajam. Kedua orang ini memilih mendapatkan hukuman eksekusi di dunia meskipun hukuman tersebut sangat berat untuk dijalani, daripada  ketika di kehidupan yang kekal nanti di  akhirat  nanti  dihukum  dengan  eksekusi hukuman  yang lebih dan sangat dahsyat.

Setelah eksekusi hukuman itu dijalankan, para sahabat Nabi Muhammad saw masih memperdebatkan, apakah taubat mereka diterima Allah swt atau  tidak?  Bahkan Khalifah Umar bin Khattab bertanya-tanya, apakah layak menshalatkan jenazah orang-orang yang melakukan dosa zina? Kemudian Nabi meyakinkan dan bersabda : "Sungguh Allah telah menerima taubatnya. Bila taubatnya dibagikan kepada seluruh umat ini, niscaya taubatnya masih t e r s i s a ujar Rasulullah Saw. meyakinkan. (HR Muslim).

Itulah kisah cerita pengakuan bersalah yang tulus dan disertai dengan taubat yang sesungguh-sungguhnya dan tidak akan mengulangi perbuatan berdosa yang dilakukan. Dengan demikian dosa-dosa akan terampuni dan diterima taubat atas kesalahan dan dosa yang dilakukan atas ijin Allah swt. Wallahua'lam. Seseorang akan dapat mengalami perubahan yang drastis dalam hidupnya, meyakini akan adanya hari kiamat yang diresapkan dalam hati yang paling dalam.
loading...

Saturday, May 3, 2014

no image

Mengingatkan Terhadap Kekufuran/Murtad


Yang dimaksud dengan kufur atau kekufuran adalah pengingkaran terhadap Dzat Tuhan, pengingkaran terhadap syari'at samawi yang dibawa oleh para Nabi, dan menolak setiap keutamaan dan nilai-nilai yang bersumber pada wahyu Ilahi.

Kekufuran (kufur) adalah merupakan salah satu bentuk kemurtadan, bahkan lebih sesat daripadanya. Kekufuran ini menjadi peraturan yang berjalan sendiri dan dianut oleh negara-negara besar. Lebih dari itu, dipaksakan ke­pada orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya dengan kekuatan besi dan panasnya api, paksaan dan kesewenang-wenangan.

Kekufuran, meski termasuk dalam pengertian kemurtadan, tetapi lebih buruk dan bahaya terhadap individu dan masyarakat, dibanding dengan kemurtadan lain.

Ini semua karena kekufuran mematikan perasaan tanggung jawab pada diri seseorang, dan menghancurkan spiritual ke­imanan kepada yang gaib dan sifat-sifat budi pekerti yang tetap. Di samping itu, dapat untuk hidup di dunia ini dengan cara hidup binatang, tanpa agama yang mengarahkannya, tanpa dhamir yang mengendalikannya, tanpa rasa muraqabah Allah yang mencegahnya, tanpa mengharapkan pahala di akherat, tanpa takut kepada Allah dan siksa pada kemudian hari.

Al-Qur'an telah mengecam golongan orang-orang yang mencela dan durhaka ini:

Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali- kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Q.S. 45: 24)
Al-Qur'an juga menyingkapkan kebinatangan dan sikap serba menghalalkan segala cara yang menjijikkan:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak diperguna­kannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. 7: 179)
Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka. (Q.S. 47:12)
Biarkan mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Q.S. 15: 3)
Maha Benarlah Allah yang berfirman:
Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memper­oleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula meng­indahkan) penjanjian. (Q.S. 9:8)

Dan firman-Nya pula:

Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi), "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan" sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat„ (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena mereka sesungguhnya mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka, (Q.S. 47: 23-28)

Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas) (Q.S. 9:10)

Setelah dijelaskan hakekat ini, hendaknya kita meningkatkan usaha dalam memberi peringatan kepada anak, saudara, teman, kerabat, kelompok masyarakat dan orang lain terhadap gejala-gejala murtad dan kufur, agar anak tumbuh dalam iman yang kokoh, Islam yang kuat, istiqamah, di samping pengertian-penger­tian ini mendalam dalam fitrahnya yang masih suci, hatinya yang bening. Ketika itu, ia tidak menerima tuhan selain Allah, tidak menerima agama selain Islam, berkeyakinan bulat bahwa Muham­mad adalah Nabi dan Rasul-Nya, Al-Qur'an sebagai pedoman hidup dan imamnya.

Dan ia akan termasuk golongan orang-orang yang Allah memberi mereka karunia iman dan kemuliaan Islam, hingga datang hari ketika ia menghadap Tuhannya.
loading...

Wednesday, April 9, 2014

Pentingnya Taubat dan Pembentukan Akhlak

Pentingnya Taubat dan Pembentukan Akhlak

Pengertian taubat secara harfiyah, taubat artinya kembali. Adapun menurut istilah, taubat adalah kembalinya seseorang ke jalan yang benar dan diridai oleh Allah SWT. Maksudnya, adanya rasa penyesalan dan pengakuan yang tulus atas perbuatan maksiat yang dilakukannya, dan berniat tidak akan mengulanginya. Inilah yang disebut dengan taubat yang sebenarnya berdasarkan syarat-syarat taubat.

Taubat juga dapat dikatakan sebagai proses penggantian antara perbuatan-perbuatan jahat dan bejat dengan perbuatan taat dan maslahat. Sebab dalam melakukan taubat kepada Allah SWT., seseorang harus keluar atau berhenti dari perbuatan maksiatnya dan menggantinya dengan perbuatan baik lagi terpuji. Bukan taubat namanya, jika perbuatan baik dan perbuatan maksiat sama-sama dijalankan, baik secara bersamaan maupun bergantian. Misalnya, melakukan salat sambil bermain judi, atau mencuri sambil bersedekah dan sebagainya.

Orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, tentu tidak akan mengulangi perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Namun untuk mengukur kebenaran taubat seseorang itu, merupakan sesuatu yang sangat sulit, sehingga untuk dapat mengetahui ciri-ciri akhlak orang yang bertaubat itu juga sangat sulit.

Oleh sebab itu, taubat memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Perilaku taubat akan menghantarkan seseorang pada akhlak terpuji antara lain sebagai berikut :
  • Semakin rajin dan tekun beribadah, baik yang mahdah (langsung) seperti shalat, puasa dan sebagainya, maupun yang gair mahdah seperti sadaqah, zakat, dan yang lainnya.
  • Berusaha menghindari perbuatan maksiat dan dosa, dan menggantinya dengan perbuatan ibadah.
  • Penurut dan taat atas segala ketentuan dan hukum Allah SWT.
  • Pemaaf atas kesalahan orang lain terhadap dirinya, sebagaimana ia pun berharap mendapatkan maaf dan ampunan dari Allah SWT.
  • Penyabar atas segala musibah yang menimpanya, dengan penuh pengakuan bahwa mungkin semua itu ialah balasan dan azab dari Allah.
  • Taubat kepada Allah SWT. merupakan perbuatan terpuji yang dapat menyucikan hati dan jiwa.
Sebagaimana firman Allah SWT. sebagai berikut :

وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 
Artinya: "... Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (Q.S. An-Nur: 31).

Itulah arti, pengertian, makna dan pentingnya taubat dalam membentuk akhlak seseorang menjadi berakhlak yang terpuji dan bertaqwa kepada Allah.
loading...

Sunday, April 6, 2014

no image

Mengimani Sifat Jaiz Allah SWT

Iman kepada Sifat jaiz Allah dapat ditunjukkan oleh seorang muslim dalam sikap dan perilaku yang terpuji. Sifat Jaiz Allah adalah merupakan sifat-sifat yang boleh ada dan boleh juga tidak ada pada Allah SWT. Sifat jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu bahwa Allah SWT itu boleh melakukan segala sesuatu yang mungkin atau pun tidak mungkin melakukannya. Yang berarti bahwa Allah berkehendak melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Orang yang beriman terhadap sifat jaiz Allah SWT., akan tampak dari sikap perilaku sehari-harinya. Sikap perbuatannya selalu terarah dan terbimbing oleh keimanannya, sehingga tampak selalu terpuji dan mulia. Sikap perilaku mereka dapat dibedakan dari orang-orang yang tidak beriman, karena mereka memiliki ciri-ciri akhlak terpuji. Di antara ciri-cirinya ialah sebagai berikut :

Berbaik sangka kepada Allah SWT.

Kebebasan Allah SWT. dalam berbuat dan berkehendak merupakan suatu kenyataan yang harus diterima oleh seorang yang beriman. Namun apa pun yang diperbuat Allah, niscaya mengandung kebaikan bagi umat-Nya. Tidak mungkin Allah menciptakan atau melakukan sesuatu yang tidak mengandung kebaikan bagi makhluk-Nya. Sebab hal itu bertentangan dengan sifat-sifat ketuhanannya.

Sikap yang demikian itu, merupakan sikap baik sangka (husnuzan) terhadap Allah SWT. yang didasarkan pada keimanan. Jadi apa pun yang menimpa diri seorang beriman, dapat diterimanya dengan hati yang lapang, ikhlas, syukur, dan selalu mawas diri. Orang yang selalu berbaik sangka kepada Allah, hidupnya akan tenang, jiwanya lapang, dan hatinya riang. Semua pemberian Allah SWT. diterimanya dengan penuh syukur dan sabar.

Berserah diri kepada Allah

Percaya dan yakin bahwa Allah SWT. memiliki kebebasan berkehendak dan berbuat, dapat membentuk sikap jiwa orang yang beriman selalu berserah diri kepada Allah. Sikap berserah diri kepada Allah merupakan sikap terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Sebab, apapun yang menjadi harapan dan atau telah diperbuat oleh manusia, hanya akan sia-sia manakala Allah tidak menghendakinya. Artinya, usaha dan perbuatan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan tidak menjamin tercapainya harapan tersebut, jika Allah tidak menghendakinya.

Oleh sebab itu, sikap yang paling terpuji ialah berserah diri atau bertawakal kepada-Nya, manakala segala usaha dan daya telah dilakukan. Sebab Allah SWT. hanya akan berbuat dan memberikan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Selalu bekerja keras

Bekerja keras artinya, melakukan setiap pekerjaan dengan sungguh-sungguh, tanpa mengenal putus asa, dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Orang yang beriman menyadari sepenuhnya bahwa Allah SWT. memiliki kebebasan dalam menentukan kehendak dan keinginannya, baik dalam menciptakan sesuatu maupun dalam memberikan sesuatu kepada umat-Nya. Oleh sebab itu, tidak baik berpangku tangan, bermalas-malasan dan bermanja-manjaan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, melainkan harus bekerja keras, banting tulang, peras tenaga sesuai dengan kemampuan yang ada. Jadi, apa pun yang diberikan Allah SWT. terhadap dirinya, tidak menjadi penyesalan dikemudian hari.

Allah SWT. memang memiliki kebebasan dalam berkehendak dan berbuat, tapi Dia juga Maha Melihat dan Maha Mengetahui atas kerja keras umat-Nya. Sehingga Dia dapat membedakan mana di antara umat-Nya yang rajin dan mau bekerja keras, dan mana pula yang pemalas. Dengan demikian, bagi orang yang beriman, semakin bebas Allah berkehendak, akan semakin bertambah semangatnya untuk terus bekerja keras.

Berjiwa besar

Orang yang beriman kepada sifat jaiz Allah SWT. akan memiliki sikap jiwa besar. Pikirannya tidak sempit dan wawasannya luas, sehingga tidak mencari kambing hitam dalam kesulitan, dan tidak berbangga diri ketika menerima kesenangan. Sikap jiwa besar merupakan sikap terpuji, dan harus dimiliki oleh setiap muslim.

Orang yang berjiwa besar, mudah memaafkan kesalahan orang lain, mudah menerima kenyataan apa pun yang menimpanya. Sikap jiwa besar akan membuat seseorang menjadi bijak dan lapang dada dalam menerima segala pemberian Tuhan, meskipun dalam bentuk kesusahan dan kesulitan. Sebaliknya, orang yang berjiwa kerdil dan berwawasan dangkal sukar memaafkan orang lain dan tidak mau menerima kenyataan hidup. Bagi orang yang beriman, sikap jiwa besar ini terus terpupuk seiring dengan semakin kuatnya iman yang dimilikinya.
loading...

Saturday, April 5, 2014

no image

Sikap dan Perilaku Terpuji dari Hamba Allah

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hambanya yang bertaqwa, maka kita seharusnya memiliki sikap dan perilaku terpuji. Apa saja perilaku dan sikap terpuji yang hendaknya kita teladani bersama sehingga kita menjadi muslim yang bertaqwa yang sebenar-benarnya. Berikut ini adalah cermin dari sikap perilaku yang terpuji, di antaranya adalah sebagai sebagai berikut  :

Senantiasa taat kepada perintah-perintah Allah SWT. dan berupaya menghindari larangan-Nya

Keyakinan bahwa Allah SWT. itu ada, dan mustahil bagi-Nya tidak ada akan mendorong jiwanya semakin patuh dan tunduk atas segala perintah dan larangan-Nya. Sebab muslim yang beriman, tidak akan menolak apa yang diperintahkan oleh Tuhannya, dan tidak akan melanggar apa yang dilarang- Nya. Jadi yang terpancar dari sikap perilakunya ialah ketaatan dan ketundukan atas Tuhannya, Allah SWT.

Pandai bersyukur ketika mendapat nikmat dan karunia-Nya, dan senantiasa bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah dari-Nya

Keyakinan bahwa Allah SWT. itu Maha kekal dan Maha  kuasa atas apa yang dikehendaki-Nya, akan membuat jiwa seorang mukmin semakin halus dan lembut. Semua nikmat yang diberikan Tuhannya, disyukuri sepenuhnya dan dijalankan sesuai ajaran agama. Apabila, ketika musibah menimpanya, diterimanya dengan sabar dan tulus, sehingga tidak menambah beban derita yang sudah ada. Sikap demikian itu, hanya dapat dimiliki oleh seorang yang kuat imannya kepada Allah SWT., dan meyakini sifat-sifat mustahil bagi- Nya.

Berjiwa besar dan pemaaf

Orang yang beriman kepada Allah dan sifat-sifat mustahil Allah SWT., akan memiliki sikap jiwa besar dan sikap perilaku pemaaf atas kesalahan yang dilakukan orang lain terhadapnya. Berjiwa besar artinya, sikap lapang dada atas apa yang terjadi padanya dan menyerahkan semua urusannya kepada aturan dan hukum yang berlaku. Artinya, orang yang berjiwa besar akan berpikir objektif dan bersikap sportif atas segala sesuatu. Misalnya, berjiwa besar dalam menerima kekalahan atas suatu pertandingan atau perlombaan. Tidak menyalahkan orang lain, apalagi mencari-cari kambing hitam untuk membela diri, melainkan semua yang telah terjadi, diterimanya dengan lapang dada dan jiwa yang besar.

Begitu pula dengan sikap pemaaf. Sikap ini erat hubungannya dengan sikap jiwa besar. Sebab hanya orang yang berjiwa besarlah yang dapat memaafkan kesalahan orang lain. Kedua sikap itu, hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. dengan segala sifat wajib dan mustahil bagi-Nya.

Peduli terhadap sesama dan alam lingkungannya

Peduli terhadap sesama merupakan sikap terpuji yang harus tampak dalam sikap perilaku orang yang beriman. Sebab, di dunia ini segalanya serba berpasangan; ada orang kaya dan berkecukupan ada pula yang miskin berkekurangan. Jadi, orang yang beriman kepada Allah SWT. dan sifat-sifat-Nya, tidak akan tega dan membiarkan orang lain menderita dan kesusahan. Apalagi sebagai muslim, telah dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar setiap muslim bersedia menolong sesamanya.

Sikap adil dan bijaksana

Orang yang beriman kepada Allah SWT. akan senantiasa bersikap adil dan bijaksana terhadap siapa pun, dan selalu menghindari sikap perbuatan aniaya. Misalnya dalam membagi tugas dan pekerjaan, semua yang terlibat mendapat tugas secara adil dan merata, dan semua mengerjakan tugasnya sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing. Sehingga tidak ada yang merasa terbebani, dan juga tidak ada yang merasa diringankan.

Orang yang mampu bersikap adil, biasanya akan mudah bersikap bijaksana. Sebab keadilan kadang sumbernya kebijaksanaan. Jadi sikap adil dan bijaksana tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, dan akan menyatu padu pada jiwa seorang yang beriman.

Bersikap tabah dan teguh pendirian

Orang yang beriman kepada Allah dan terhadap sifat-sifat Allah SWT., akan memiliki sikap perilaku tabah dan teguh pendirian. Tabah artinya menerima dengan ridha dan ikhlas apa yang telah menimpa dirinya, dengan senantiasa berusaha dan berdoa agar segera keluar dari masalah atau musibah yang menimpanya.

Teguh pendirian artinya kukuh dan kuat dalam mengerjakan suatu kebaikan dan menegakkan kebenaran.

Kedua sikap ini hanya dimiliki oleh orang yang kuat imannya kepada Allah SWT. Sebab orang yang beriman akan mengembalikan semua hakikat kejadian hanya kepada Allah SWT. Baginya, tidak ada suatu apapun yang terjadi dalam kehidupan ini, tanpa kehendak Allah SWT., termasuk kejadian yang menimpa dirinya. Jadi bersikap tabah dan teguh pendirian ialah jalan terbaik dalam menerima setiap cobaan dan musibah.

Bersikap tawadhu’ dan tasamuh

Sikap rendah hati (tawadu') dan toleran (tasamuh) akan senantiasa terpancar dari sikap perilaku seorang yang beriman kepada Allah SWT., dengan segala sifat-Nya. Sebab kedua sikap terpuji itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman.

Bagi orang yang beriman, perilaku sombong dan angkuh ialah perbuatan setan yang harus dijauhi, dan bersikap rendah hati merupakan sikap terpuji. Sebab sikap perilaku rendah hati, akan mendatangkan banyak saudara di antara sesama, dan dapat menyuburkan sikap toleran terhadap orang lain, baik yang seagama maupun yang berbeda agama. Kedua sikap itu akan tampak dari orang-orang yang beriman kepada sifat-sifat Allah, baik yang wajib maupun yang mustahil bagi-Nya.

Bersikap mawas diri dan teliti

Orang yang beriman kepada Allah juga akan memiliki sikap mawas diri dan teliti. Mawas diri artinya sikap berhati-hati agar tidak melakukan suatu perbuatan yang dapat merugikan dirinya dan orang lain. Teliti artinya suatu sikap cermat dan waspada atas suatu perbuatan yang dilakukannya. Kedua sikap ini sangat diperlukan dalam kehidupan umat manusia, agar apa yang dilakukannya tidak mendatangkan penyesalan dikemudian hari. Semakin kuat iman seseorang kepada Allah SWT., akan semakin besar sikap mawas diri dan ketelitiannya.
loading...

Thursday, April 3, 2014

no image

Ciri Orang Beriman Kepada Allah

Apakah kita termasuk orang-orang yang beriman kepada Allah SWT? Salah satu ciri orang beriman kepada Allah adalah dengan beriman kepada sifat-sifat wajib Allah. Berikut ini adalah Ciri-ciri atau tanda perilaku orang yang beriman kepada sifat-sifat wajib Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap muslim wajib beriman kepada Allah SWT. dan segala sifat-Nya, baik yang wajib, mustahil, maupun yang jaiz. Sebagai muslim yang beriman kepada sifat-sifat wajib Allah SWT., tentu dapat menunjukkan sikap perbuatan dan sikap mental yang sesuai dengan makna yang terkandung dalam sifat-sifat tersebut. Sehingga dapat diketahui dan dibedakan dari orang yang tidak beriman kepada Allah.

Di antara ciri-ciri orang yang beriman kepada sifat-sifat Allah yang dapat dikenali dalam kehidupan sehari-hari ialah sebagai berikut.

Mampu menjaga diri dari perbuatan maksiat dan mungkar, sebab dalam hatinya ada keimanan dan keyakinan bahwa Allah SWT. itu ada dan Maha Melihat dan Mendengar atas segala perbuatan hamba-Nya.

Selalu berupaya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT., karena dalam hatinya terdapat keyakinan bahwa hidup manusia tidak kekal, dan akan kembali kepada Allah yang Maha kekal.

Memiliki sikap kreatif dan inovatif dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga tidak banyak waktu dan kesempatan yang terbuang sia-sia tanpa ada manfaatnya. Hidupnya selalu ingin menjadi yang terdepan dalam belajar dan berprestasi, sebagai wujud penghayatan dari sifat Qidam (terdahulu atau maju).

Memiliki sikap kemandirian yang kuat, sehingga hidupnya tidak mau merepotkan orang lain, atau menggantungkan segala harapan kepada pihak lain, apalagi mengharap belas kasihan dari orang lain. Bagi orang yang beriman kepada sifat-sifat Allah, pantang mengiba dan mengharap belas kasihan kepada siapa pun, selain hanya kepada Allah. Hidupnya selalu penuh semangat untuk belajar dan bekerja, tekun dan rajin beramal dan beribadah sebagai wujud penghayatan dari sifat Qiyamuhu Binafsihi (berdiri sendiri).

Selain itu, sebagai orang yang beriman terhadap sifat-sifat wajib Allah, kita harus memiliki sikap perilaku terpuji, baik terhadap diri sendiri, keluarga, sesama, maupun terhadap alam lingkungan di mana kita tinggal. Sikap dan perilaku terpuji itu merupakan cerminan dari keimanan terhadap sifat-sifat wajib Allah dengan baik dan benar.

Sikap atau perilaku terpuji yang harus kita miliki yang berhubungan dengan iman kepada sifat wajib Allah antara lain sebagai berikut :

Sikap jujur

Jujur merupakan sikap perilaku yang sangat terpuji. Setiap muslim yang beriman kepada Allah SWT. dan segala sifat-sifat-Nya, tentu meyakini bahwa Allah itu ada (wujud), memiliki pendengaran dan penglihatan yang Maha kekal dan abadi. Tak akan ada suatu perbuatan yang tampak dan tersembunyi, yang luput dari penglihatan dan pendengaran Allah SWT. sehingga orang yang beriman tidak akan berdusta, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, apa pun yang dilakukannya selalu mendatangkan kebenaran, dan jauh dari sikap dusta dan kebohongan. Sebab di dalam hatinya ada keyakinan bahwa, sebaik-baik menyimpan dusta kepada orang lain, tetap saja Allah SWT. mengetahui dan tidak dapat didustai.

Sikap amanah dan bertanggung jawab

Orang yang beriman dengan baik dan benar kepada sifat-sifat Allah SWT., akan tumbuh dalam jiwanya sikap mental dan perilaku amanah, yakni dapat dipercaya, dan sikap perilaku penuh tanggung jawab atas apa yang menjadi tugas dan kewajibannya.

Sikap amanah dan tanggung jawab ini akan muncul, manakala ia meyakini betul bahwa Allah SWT. itu sangat berbeda dengan makhluk-Nya. Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar, meskipun tidak menggunakan mata kepala dan telinga sebagaimana layaknya manusia. Apa pun yang menjadi tugas dan kewajibannya akan dilaksanakan dan dikerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab, jauh dari sikap curang dan dusta.

Sikap rajin menuntut ilmu dan ulet bekerja

Rajin artinya sungguh-sungguh dan ulet artinya pantang menyerah. Sikap ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. dan segala sifat-sifat-Nya. Sebab kekuatan iman kepada Allah dapat mendorong seseorang untuk terus maju dalam meraih kesuksesan hidup. Dorongan itu akan terus bergema sepanjang imannya masih kuat dan stabil, sehingga akan membuatnya menjadi rajin dan tekun, baik dalam belajar maupun bekerja.

Rajin pangkal pandai, dan ulet pangkal sukses. Dalam sejarah umat manusia, tidak ada orang yang pandai dengan bermalas-malasan, dan tidak ada orang yang mendapat kekayaan dengan berpangku tangan. Oleh sebab itu, rajinlah dalam menuntut ilmu dan belajar dan jangan mudah berputus asa, agar kelak tidak menyesal.
loading...

Tuesday, March 18, 2014

no image

Melaksanakan Arti Dua Kalimat Syahadat

Dua kalimat syahadat adalah dasar dari ajaran Islam, bagi yang menolak mengucapkannya, maka dia diharamkan dari rahmat Allah. Allah swt berfirman: 

 إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ 

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga. Dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang – orang dzalim itu seorang penolongpun.”(al-Ma’idah [5]:72)

Makna kalimat “Lailahaillallah.” (tidak ada tuhan selain Allah) adalah meniadakan sifat ulubbiyah (sifat Tuhan) selain kepada Allah dan meyakini akan keesaanNya. Uluhiyyah adalah memiliki sifat-sifat sempurna.

Tidak ada yang disembah kecuali Allah, tidak ada yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi Rejeki kecuali Allah, tidak ada Yang Maha Pemberi dan Maha Menolak kecuali Allah, tidak ada Yang Maha Pemberi Bahaya dan Maha Pemberi Manfaat kecuali Allah, demikianlah seterusnya. Tidak ada satupun makhluk di langit dan di bumi memiliki sesuatu walaupun sebesar biji zarrah, kecuali milik Allah. Mereka tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula madhorrat (bahaya) kecuali atas izin Allah. Mereka tidak dapat menentukan kematiannya dan kehidupan kecuali atas izinNya.

Sekiranya Allah memiliki sekutu, maka sekutuNya memiliki sifat uluhiyah, seperti maha berkuasa, maha mengetahui atau maha berkehendak. Ketika salah satu dari keduanya menginginkan adanya sesuatu tetapi yang satunya lagi tidak menginginkannya. Tidaklah mungkin keduanya dapat terwujud dalam waktu bersamaan. Karena suatu hal yang mustahil menyatukan dua hal yang berlawanan dan mustahil pula terwujud salah satunya (sebab keduanya memiliki sifat berkuasa (qudrah) dan berkehendak (iradah). Maka pada saat itu dunia akan hancur, atau salah satu tuhan dikalahkan dengan keinginan tuhan yang lain. Dan, ini menyalahkan konsep qudrah dan iradrah. Dengan demikian apabila Allah memiliki sekutu secara logika sangat mustahil 

 لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ عَمَّا يَصِفُونَ 

Allah berfirman: “Sekiranya ada dilangit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (al-Anbiyaa [21]:22) 



“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (al-Mukminuun [23]: 19)

Adapun arti “Muhammad Rasulullah” adalah menyakini bahwa Allah telah mengutus seorang nabi yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis) dari bangsa Quraisy dan keturunan Bani hasyim, yaitu nabi Muhammad saw., untuk seluruh jin dan manusia. Allah juga mmberinya mukjizat dan mewajibkan kepada makhluk untuk taat atas perintah dan larangannya, serta mempercayai apa yang dia bawa. Sehingga tidaklah sempurna kalimat tauhid “Lailahaillallah” tanpa adanya “Muhammad Rasulullah”.
loading...

Monday, February 24, 2014

no image

Arti Hakikat dan Contoh Orang yang Taqwa

Arti atau makna yang sebenarnya atau Hakikat taqwa adalah menjaga diri dari segala sesuatu yang dimurkai Allah. Dengan demikian taqwa dapat masuk ke seluruh maqam (posisi kedudukan), yang paling rendah atau yang paling tinggi. 

Contoh-contoh orang yang taqwa :
  • Seorang yang masuk agama Islam maka dia akan menjaga dirinya dari kekufuran. 
  • Seorang yang percaya dan beriman kepada rasul maka dia akan menjaga dirinya dari mendustai Rasulullah.
  • Orang yang ikhlas maka dia akan menjaga dirinya dari riya (pamer)
  • Orang yang bertaubat maka dia akan menjaga dirinya dari dosa-dosa. 
  • Seorang yang zuhud maka dia akan menjaga dirinya dari dunia dan tipu dayanya. 
  • Seorang yang mengerjakan apa yang diperintahkan seperti shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lain maka dia akan menjaga dinya untuk tidak meninggalkannya. 
Demikianlah seluruh sifat-sifat terpuji. Barangsiapa yang telah disifati dengan salah satu dari sifat terpuji, maka dia akan menjaga dirinya dari lawan dari sifat itu.

Hakikat arti Taqwa juga adalah menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat membahayakan agamanya. Seperti banyak berbicara, makan, jabatan, harta dan segala sesuatu yang mubah (diperbolehkan) yang membawanya kepada kemaksiatan dan kelalaian kepada Allah.

Barangsiapa yang mampu meninggalkan perbuatan tercela dan mengerjakan perbuatan terpuji. Sehingga dia terbiasa dalam melakukannya, maka perbuatan terpuji itu akan melindunginya dari perbuatan tercela yang dapat membahayakan diri dan agamanya. Orang seperti ini dikatakan memiliki keimanan yang sempurna. Dan, maqam ini disebut maqam istiqamah.

Langkah pertama untuk sampai ke sana adalah dengan melihat anggota tubuhnya. Dia menjaga hatinya dari penyakit hati seperti dengki, sombong, ujub, riya dan lain-lain. Lalu menjaga lidahnya dari berbohong, ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), adu domba, memfitnah, mengejek, perkataan yang kotor dan lain-lain dari perbuatan lidah. Kemudian menjaga pendengaran, penglihatan, kemaluan, perut, tangan dan kakinya dari hal-hal yang dilarang, sebaliknya digunakan untuk apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa syari’at Islam berada di bawah ketakwaan kepada Allah. Karena tujuan melaksanakan syari’at adalah menjadikan orang yang bertakwa.

محأصلغ ثصعه؛ي ابشم تئؤى. على التموى محفي الأحنار تر3ى ضلاخ الغز؛بجا كالئناد

Perbaiki segumpal daging yang ada di dalam tubuhmu dan kuatkan dirimu dengan ketakwaan. Karena telah diriwayat dalam beberapa hadis tentang ketakwaan dan dalil al qur'an tentang keutamaan takwa
loading...

Sunday, February 23, 2014

no image

Taqwa adalah Kunci Meraih Janji Allah

Orang-orang seperti apakah yang dijanjikan oleh Allah akan mendapakatkan kebaikan, kebahagiaan dan keutamaan baik di dunia dan akhirat?

Renungkanlah dalil ayat-ayat al-Qur’an berikut ini mengenai orang-orang yang bertaqwa dan berbekal taqwa untuk perjalanan jauh akan dijanjikan oleh Allah kebaikan, pahala dan kebahagian dunia dan akhirat.

Berikut ini adalah dalil firman Allah dalam Al Qur'an mengenai janji Allah bagi orang yang akan memperolehnya berupa keutamaan-keutamaan di dunia dan akhirat.

Keutamaan-keutamaan tersebut yang terteta dalam dalil firman Allah dalam Al Qur'an adalah sebagai berikut :

Mendapat pujian dari Allah, 

Sebagaimana Firman Allah yang artinya :"jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (Ali Imran [3]:186)

Dilindungi dari kejahatan musuh,

Sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur'an yang artinya : "jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu." (Ali Imran [3]:120)
Mendapatkan pertolongan dari Allah, 
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (an-Nahl [16]:128)4.  

Diperbaiki amal perbuatannya dan diampuni dosanya

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa- dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (al- Ahzab [33]:70)

Dicintai oleh Allah,

Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an yang artinya : "Maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa." (AU Imran [3]:76)

Diterima amal perbuatannya

Dalil firman Allah dalam al Qur'an yang artinya :"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa." (al-Maa’idah [5]:27)

Dimuliakan oleh Allah

Firman Allah dalam Al Qur'an : "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu." (al-Hujuurat [49]:13)

Mendapatkan kebahagiaan saat meninggal dunia, 

Mengenai hal ini, difirmankan oleh Allah yang artinya :"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat." (Yunus [10]:63-64)

Selamat dari api neraka, 

Dalil Firman Allah dalam Al Qur'an yang artinya : "Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang dzalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." (Maryam [19]:71-72)

Kekal di surga

Dalil firman Allah dalam al Qur'an : "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakqa." (Ali Imran [3]:133)
Dalil firman Allah dari Ayat-ayat di atas yang disertai pemahaman atas makna-maknanya hendaknya mari kita renungkan bersama dan berusaha untuk meraihnya. Dikemukakan dan dijelaskan juga bahwa bahwa taqwa adalah akhlak yang terkumpul dalamnya setiap keutamaan dan mencegah setiap kehinaan. Maka lanjutkan dengan bagaimana caranya mencapai maqam takwa dan meraih derajat yang tinggi sesuai dengan pengertian taqwa yang sebenar-benarnya.
loading...

Wednesday, February 19, 2014

no image

Kemuliaan yang diberikan Allah kepada yang Bertaqwa

Wahai saudaraku, mari kita renungkanlah betapa besar kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba dan orang-orang yang taat/bertaqwa dan istiqamah kepadaNya. Kemuliaan yang akan mereka peroleh adalah kemuliaan baik di dunia dan akhirat, yang tidak dapat dihitung banyaknya. Berikut ini beberapa kemuliaan yang akan diberikan oleh Allah kepada mereka para hamba yang bertaqwa dan beristiqomah :

1. Allah akan bersyukur (senang), memuji, memuliakan dan mencintainya. 

Sesuai dengan firman Allah Swt  dalam surat al-furqan ayat 63-64 yang artinya "Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka."

Jika kamu mendapatkan ucapan syukur dari manusia (makhluk) maka kamu akan menjadi mulia. Jika kamu dicintai oleh Penguasa maka kamu dapat mengambil manfaat darinya di berbagai tempat. Lalu bagaimana jika kamu dimuliakan dan dicintai oleh Allah, Sang Pencipta alam ini?

2. Allah akan menjadi Pelindung dalam setiap perbuatanmu dan Penjamin atas rejekimu sehingga kamu tidak perlu bersusah payah lagi untuk memperolehnya. 

Hal ini sesuai dengan firman Allah, yang artinya "Dan Dia melindungi orang-orang yang saleh." Al-A'raf [7]:196) 

Juga firman Allah yang artinya : Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar." Dan memberinya rezki dari tirah yang tiada disangka-sangkanya. (ath-thalaq [65]:2,3)

3. Memberikan jiwa yang mulia dan niat yang kuat untuk tidak terpedaya dengan dunia dan para budak dunia. Bahkan mereka tidak ingin keuntungan, kemuliaan dan dapat menetap di Dar an-Na'im (tempat seluruh kenikmatan) yaitu surga. 

Allah SWT berfirman, "Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar." (al-Insan [76]:20)

4. Dihormati oleh orang-orang baik dan orang-orang jahat serta dimuliakan oleh orang-orang saleh dan pelaku maksiat. 

Sesuai dengan firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang." (Maryam [19]:96)

5. Allah akan menjadikannya “kaya hati” dan “lapang dada”. Kehidupannya selalu dijalani dengan dada yang lapang dan jiwa yang bersih.

6. Segala sesuatu yang dipertautkan kepadanya memberikan keberkahan baik itu tubuh, pakaian, tempat atau tanah yang diinjaknya. Jenazahnya dimuliakan, setiap orang berebut membawa dan mensholatinya, berlomba-lomba untuk memberikan kain kafan untuknya dan membantu penyelenggaraan jenazah tanpa pamrih dan mereka (orang-orang itu) mengharapkan suatu ganjaran pahala dan hal yang baik.

7. Meninggal dunia dalam keadaan beriman, tidak takut dalam menghadapi kehidupan akhirat, tidak sedih atas apa yang ditinggalkan di dunia seperti anak, keluarga dan harta. 

Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah.' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'" (Fushshilat [41]:30)

Ini adalah kemuliaan mereka di dunia. Sedangkan kemuliaan mereka di akhirat, tidak ada seorangpun yang dapat mengambarkannya kecuali Allah Zat Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Seperti yang Allah firmankan dalam al-Qur’an, yang artinya :

"Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." (as-Sajdah [32]:17)

Dengan demikian, hendaknya kita selalu berusaha dan berlomba-lomba untuk memperoleh kemuliaan-kemuliaan ini.
loading...

Wednesday, June 26, 2013

no image

Arti Ketakwaan Menurut Bahasa

Beberapa ungkapan tentang arti ketakwaan dari pemimpin orang-orang yang bertakwa, Amirul Mukminin 'Ali a.s.
  • Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, ketakwaan adalah rumah perlindungan bagi orang yang mulia, sedangkan kedurhakaan adalah rumah perlindungan bagi orang yang hina, yang tidak mencegah penghuninya dan tidak pula mendapatkan orang yang berlindung padanya. Ketahuilah, dengan ketakwaan kalian memutuskan kesengsaraan atau kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, berbekallah kalian pada hari-hari kefanaan untuk hari-hari keabadian. Kalian lelah ditunjukkan pada perbekalan, diperintahkan untuk berangkat, dan didorong untuk melakukan perjalanan. Kalian seperti rombongan yang sedang berdiri [menanti]. Mereka tidak tahu kapan diperintahkan untuk berjalan. Ketahuilah, apa yang dilakukan untuk dunia oleh orang yang diciptakan untuk akhirat dan apa yang diperbuat dengan harta yang tidak lama lagi akan diambil, pertanggung jawaban dan penghisaban atasnya kekal. 
  • Dan mewasiatkan kepada kalian agar bertakwa, menjadikannya puncak keridhaan-Nya, dan kebutuhan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah yang kalian dalam pengawasan-Nya, ubun-ubun kalian di tangan-Nya, dan bolak-balik kalian dalam genggaman-Nya. Jika kalian rahasiakan [apa pun], Dia mengetahuinya danjika kalian tampakkan, Dia mencatatnya. Dengan begitu, semuanya terpelihara [sehingga] mereka tidak menggugurkan kebenaran dan tidak meneguhkan kebatilan. 
Ketahuilah, barangsiapa bertakwa, maka Allah memberikan kepadanya jalan keluar dati segala cobaan dan cahaya dari kegelapan. Dia mengekalkannya di dalam apa pun yang diinginkannya dan menempatkannya pada kedudukan yang mulai di sisi-Nya, di negeri yang Dia ciptakan untuknya, yang naungannya adalah Arsy-Nya, cahayanya adalah Keagungan-Nya, para pengunjungnya adalah para malaikat-Nya, dan para pendampingnya adalah para rasul-Nya. Oleh karena itu, bergegaslah menuju tempat kembali (maad) dan berlombalah menuju kematian, karena harapan hampir terputus harapan dari manusia, ajal hampir mendekati mereka, dan pintu tobat hampir tertutup bagi mereka. Kalian menjadi seperti kembali yang ditanyakan orang-orang sebelum kalian. Kalian adalah anak- anakjalanan dalam peijalanan dari negeri yang bukan negeri kalian. Kalian telah didorong agar berangkat darinya dan diperintahkan untuk berbekal di dalamnya. 
Ketahuilah, kulit yang lembut ini tidak tahan terhadap api [neraka]. Oleh karena itu, kasihanilah diri kalian. Kalian telah mengalami musibah-musibah di dunia. Apakah kalian melihat sakit salah seorang dari kalian karena duri yang menusuk dirinya, kejatuhan yang membuatnya berdarah, dan [cuaca] panas yang membual nya terbakar? Apalagi jika di antara kedua sisi api [neraka | ditemani batu dan didampingi setan .Tali u kali kalian, ketika Malik (malaikat penjaga neraka) marah pada api itu, bagian-bagiannya mulai saling bertabrakan karena kemarahannya, dan ketika ia menghardiknya, nyala itu melompat di antara pintu-pintu neraka sambil menjerit karena hardikannya. 
  • Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya ketakwaan kepada Allah telah melindungi para pencinta Allah dari segala keharaman (lan menanamkan ketakutan kepada-Nya ke dalam hati mereka sehingga malam-malam mereka dilewatkan dengan terjaga dan siang- siang mereka dilalui dengan kehausan. Oleh karena itu, mereka mendapatkan ketenangan melalui kesusahan dan kelegaan melalui kehausan. Mereka memandang ajal telah dekat sehingga karenanya mereka bergegas kepada pengamalan dan meninggalkan angan- angan sehingga mereka melihat kematian. 
  • Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah. Betapa banyak orang mengharapkan sesuatu yang tidak dicapainya, yang membangun [rumah] tanpa mendiaminya, dan mengumpulkan sesuatu yang akan ditinggalkannya. Kadang-kadang yang dikumpulkannya adalah kebatilan, yang dihindarinya adalah kebenaran, yang dikerjakannya adalah keharaman, dan karenanya ia menanggung dosa. Akibatnya, ia kembali dengan [membawa] dosanya dan menemui Tuhannya dalam penyesalan dan kesedihan. Ia telah merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata. 
  • Barangsiapa banyak bicara, maka banyak punya kesalahannya. Barangsiapa banyak kesalahannya, maka sedikit rasa malunya. Barangsiapa sedikit rasa malunya, maka sedikit kewaraannya. Barangsiapa sedikit kewaraannya, maka matilah hatinya. Barangsiapa yang mati hatinya, maka ia masuk ke neraka. 
Berikut ini adalah ujaran-ujaran pendeknya tentang ketakwaan.
  1. Ketakwaan adalah pokok akhlak.
  2. Ketahuilah, sesungguhnya dalam kesehatan terdapat ketakwaan hati. 
  3. Tidak ada kemuliaan yang lebih baik daripada ketakwaan dan tidak ada benteng yang lebih baik daripada kewaraan. Berikut ini adalah ucapan Imam 'Ali a.s. dalam menerangkan sifat- sifat orang-orang yang bertakwa. 
Ia telah menghidupkan akalnya dan mematikan hawa nafsunya se-hingga besarlah keagungannya, lembutlah kekasarannya, dan cahaya kilat terpancar kepadanya sehingga teranglah jalan baginya dan dengannya ia menempuh jalan itu. Pintu-pintu mendorongnya ke pintu keselamatan dan negeri kekekalan. Kedua kakinya teguh dengan ketenteraman badannya di tempat yang aman dan tenang karena ia menggunakan hatinya dan ridha kepada Tuhannya.

Ketika membaca ayat: Bertasbih kepada-Nya di dalam masjid itu, pada waktu pagi dan petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula olehjual-beli dari mengingat Allah, beliau berkata, "Sesungguhnya Allah Yang Mahasuci menjadikan zikir sebagai cahaya bagi hati yang mendengar dengannya walaupun tuli, melihat dengannya walaupun buta, dan tunduk dengannya walaupun ada perlawanan. Dalam masa demi masa dan pada waktu ketiadaan nabi yang diutus, Allah— Yang Mahaagung karunia-Nya—selalu memiliki hamba-hamba yang diajak berdialog dalam pikiran mereka dan diajak bicara dalam akal mereka. Dengan demikian, dengan cahaya ketetjagaan dalam penglihatan, pendengaran, dan hati, mereka terus-menerus mengingat kenikmatan-kenikmatan Allah dan menjadikan [orang lain] takut akan kedudukan-Nya seperti para pemandu di hutan belantara. Barangsiapa menempuh tujuan itu, mereka memuji jalannya dan memberinya kabar gembira akan keselamatan. Namun, barangsiapa mengambil jalan ke kanan dan ke kiri, mereka mencela jalannya dan mengingatkannya akan kebinasaan. Dengan begitu, mereka seperti pelita-pelita dalam kegelapan dan pemandu-pemandu dalam keragu-raguan."

"Ada orang-orang yang selalu berzikir, yang menjadikannya ganti dari hal-hal keduniaan sehingga perniagaan dan jual-beli tidak memalingkan mereka darinya. Mereka berbicara kepada telinga yang lalai, memperingatkan terhadap hal-hal yang diharamkan Allah, mereka menyuruh orang lain untuk menegakkan keadilan, dan mereka sendiri telah melaksanakannya. Mereka mencegah orang lain melakukan kemungkaran dan mereka sendiri telah menahan diri darinya. Seakan-akan mereka telah menempuh perjalanan dunia ini menuju akhirat iliin mereka ada di dalamnya sehingga mereka menyaksikan apa yang ada di baliknya. Seakan-akan mereka melihat kegaiban penghuni barzakh selama mereka tinggal di sana dan kiamat memenuhi janjinya kepada mereka. Oleh karena itu, mereka menyingkap tabir itu bagi penghuni dunia sehingga seakan-akan mereka melihat apa yang tidak terlihat oleh manusia dan mendengar apa yang tidak terdengar oleh manusia."

"Apabila kamu menggambarkan mereka dalam pikiranmu dan kedudukan mereka yang terpuji dan majelis mereka yang mengagumkan, ketika mereka telah membuka catatan-catatan amal mereka dan siap untuk menyampaikan tanggungjawab tentang diri mereka sendiri atas setiap hal kecil dan hal besar yang diperintahkan kepada mereka tetapi mereka lalaikan, atau apa yang diperintahkan kepada mereka agar di hindari tetapi mereka langgar, dan mereka memikulkan beban dosa mereka ke atas punggung mereka sehingga mereka lemah untuk menanggungnya, maka mereka menangis dengan getir dan berkata satu sama lain seraya meratap kepada Tuhan mereka dalam penyesalan dan pengakuan. Akan kamu dapati mereka sebagai panji-panji hidayah dan pelita-pelita dalam kegelapan. Para malaikat telah mengelilingi mereka dan ketenangan telah meliputi mereka. Pintu-pintu langit dibukakan bagi mereka dan tempat-tempat duduk kemuliaan telah disiapkan untuk mereka dalam tempat duduk yang Allah menyaksikan mereka sehingga meridhai usaha mereka dan memuji kedudukan mereka. Mereka menghirup udara pengampunan dalam berdoa kepada-Nya."

"Mereka sangat berharap akan rahmat-Nya dan menunduk hina terhadap keagungan-Nya. Panjangnya kesedihan memedihkan hati mereka dan panjangnya tangisan memerihkan mata mereka. Mereka mengetuk setiap pintu harapan kepada Allah. Mereka memohon kepada Dia yang kemurahan Nya tidak membuat sempit dan orang-orang yang berharap kepada-Nya tidak menjadi kecewa. Oleh karena itu, evaluasilah dirimu untuk kepentingan dirimu sendiri, karena evaluasi terhadap diri orang lain akan dilakukan oleh orang selainmu."

Sebelum memasuki pembahasan dalam buku ini, yang merupakan syarah hadis tentang menempa diri dari buku Empat Puluh Hadis (al- Arba'un Haditsan) karya Imam Khomeini r.a., terdapat dua pengantar yang sebaiknya dikemukakan: pertama, beberapa karakteristik buku al- Arba’un Haditsan, kedua, sekumpulan pembahasan sebagai pendahuluan untuk memasuki syarah buku tersebut.

Kita memohon kepada Allah SWT agar menjadikan kami termasuk orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebajikan, Se-sungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan. Hanya Allah sajalah Pemberi pertolongan.
loading...

Friday, June 14, 2013

no image

Pengaruh Ketakwaan pada Kehidupan di Dunia

Sebagian orang meyakini bahwa pengaruh ketakwaan hanya muncul dalam kehidupan di akhirat, tidak mencakup kehidupan di dunia. Barangsiapa taat kepada Allah SWT dan berhenti dari perbuatan kemaksiatan, maka ia akan diberi pahala di akhirat. Sebaliknya, barangsiapa tidak bertakwa kepada Allah dan melampaui batas di dunia ini maka ia akan disiksa di akhirat. Dengan demikian, tidak ada perbedaan di dunia ini antara orang-orang bertakwa dan orang-orang durhaka. 

Namun, pandangan seperti ini tentang ketakwaan benar-benar bertentangan dengan apa yang dikemukakan Alcjuran. Hal itu karena Al- quran tidak mengkhususkan pengaruh ketakwaan bagi manusia di alam akhirat dan dalam hal pahala dan siksaan di akhirat saja. Akan tetapi, menurut Alquran, pengaruh ketakwaan itu muncul, baik di dunia maupun di akhirat. Di dalam Alquran terdapat banyak ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang bertakwa dan para pendurhaka tidak sama, seperti firman Allah SWT berikut. 

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah Kami menganggap orang-orang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbual kemaksiatan ?. QS Shad [38]: 28 

Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan itu mengira bawa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka ? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. QS. al-Jatsiyah [45]: 21 

Ayat-ayat yang lain dalam Alquran menjelaskan pengaruh-pengaruh ketakwaan pada kehidupan seseorang di dunia. Allah SWT berfirman: Ad/ipun, orang-orang yang memberikan [hartanya dijalan Allah] dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan menyiapkan bagi mereka jalan yang mudah. QS al-Layl [92]: 5-7 

Kehidupan orang bertakwa di dunia ini mudah dan baik, tidak ada kesempitan. Hal ini pun ditunjukkan dalam firman-Nya: Barangsiapa mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberinya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami akan memberi mereka balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. QS an-Nahl [16]: 97 

 Kehidupan orang Mukmin adalah kehidupan yang baik bukan hanya di dunia. Akan tetapi, seperti itu pula kehidupannya di akhirat. Allamah ath-Thabathaba i, dalam mengomentari ayat tadi, mengatakan: Firman-Nya: maka sesungguhnya Kami akan memberinya kehidupan yang baik. QS an-Nahl [16]: 97. 

Al-Ihya (menghidupkan) berarti memberikan dan memancarkan kehidupan pada sesuatu. Kalimat itu menunjukkan bahwa Allah SWT memuliakan orang Mukmin yang mengerjakan amal salih dengan kehidupan baru yang tidak dirasakan oleh orang lain dalam kehidupan pada umumnya. Ayat itu sejalan dengan firman-Nya yang lain: Dan, apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia . QS al-An’am [6]: 122 

Cahaya yang dimaksudkan di sini adalah ilmu yang membimbing manusia menuju kebenaran dalam keyakinan dan pengamalan. 

Sebagaimana ia memiliki ilmu dan pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain, demikian pula ia diberi kemampuan untuk menghidupkan kebenaran dan membinasakan kebatilan yang tidak dimiliki orang lain. Ilmu dan kemampuan baru ini memudahkannya untuk melihat sesuatu seperti apa adanya sehingga ia membaginya ke dalam dua bagian, yaitu kebenaran yang kekal dan kebatilan yang fana. Kemudian, ia memalingkan hatinya dari kebatilan yang fana—yang merupakan kehidupan dunia dengan berbagai perhiasannya yang menipu lagi menimbul kan banyak fitnah—dan mengagungkan keagungan Allah. Dengan demikian, setan tidak akan menghinakannya dengan godaannya, nafsu dengan keinginan-keinginannya, dan dunia dengan keindahannya karena ia telah melihat bahwa kesenangan dunia itu batil dan kenikmatannya akan sirna. 

Hatinya terpaut dengan Tuhannya, al-Haqq, yang membenarkan setiap kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya. Ia tidak menginginkan selain keridhaan-Nya, tidak menyukai selain kedekatan pada-Nya, dan tidak merasa takut kecuali pada kemurkaan-Nya dan kejauhan dari-Nya. Ia melihat, bagi dirinya, kehidupan yang suci lagi kekal dan abadi, tidak diatur kecuali oleh Tuhannya Yang Maha Pengampun lagi Maha Mengasihi, dan tidak dihadapi sepanjang hidupnya kecuali dengan sikap yang baik. Ia menyempurnakan akhlaknya dalam segala sesuatu ada keburukan baginya kecuali apa yang dinilai buruk nleli Allah SWT berupa kemaksiatan kepada-Nya. 

Manusia ini merasakan keindahan, kesempurnaan, kekuatan, kemu-liaan, kelezatan, dan kebahagiaan di dalam dirinya yang tidak dapat diukur dengan ukuran apu pun. Bagaimana tidak? Ia larut di dalam kehidupan kekal yang tidak akan sirna dan kenikmatan abadi yang tidak akan hilang serta tidak ada kepedihan di dalamnya dan tidak ada noda yang mengotorinya. Itulah kehidupan yang baik dan bahagia, tidak ada kesengsaraan di dalamnya. Kehidupan inilah yang dibicarakan dalam banyak ayat Alquran. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, jil.12, hal.341. 

Allah SWT berfirman: 

... Yang beriman kepada Allah, hari akhirat, dan beramal salih, maka tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati . QS al-Ma’idah [5]:69 [Yaitu] orang-orang yang beriman dan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. QS ar-Ra’d [13]: 28 

Barangsiapa bertakwa kepada Allah dan hari akhirat, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangka. QS ath-Thalaq [65]: 2-3 

Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. QS ath-Thalaq [65]:4 Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqan. QS al-Anfal [8]: 29 

Artinya, kepada orang bertakwa, Allah SWT akan memberikan ke-mampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan dalam keadaan-keadaan sulit sehingga ia mengikuti kebenaran dan menjauhi kebatilan. Demikianlah pula, terdapat puluhan ayat Alquran yang menjelaskan pengaruh-pengaruh ketakwaan dalam kehidupan individual manusia. Bahkan, Alquran juga menunjukkan pengaruh-pengaruh ketakwaan dalam kaitan dengan keturunan manusia. Misalnya, kita menemukan dalam kisah hamba yang salih bersama Nabi Musa a.s. bahwa Alquran menyampaikan kepada kita firman Allah SWT: 

Maka, keduanya berjalan hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian, keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding yang roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata, "Kalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu. QS al-Kahf [18]: 77" 

Hamba yang salih itu (Khidhr) menjawab: Adapun dinding rumah ilu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpnanan bagi mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah seorang salih Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai pada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. QS al-Kahf [18]: 82 

Di dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa kesalihan orang tua memiliki pengaruh yang baik terhadap kebahagiaan anak-anak. Demikianlah, kita menemukan pengaruh-pengaruh ketakwaan dan .unal salih sangatjelas terhadap kebahagiaan umat dan turunnya keberkahan bagi mereka dari langit dan bumi. Allah SWT berfirman: Kalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. QS al-A’raf [7]:96 

Dan, bahwasanya kalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu, Kami benar-benar akan memberi minum kepada mereka dengan airyagn segar. QS al-Jinn [72]: 16 

Demikian pula, ketika kita beralih ke sisi yang lain, kita mendapati bahwa Alquran menegaskan juga secara jelas pengaruh-pengaruh keduniaan yang diakibatkan kedurhakaan dan penyimpangan dari jalan yang lurus. Allah SWT berfirman: Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, makakelak Kami akan menyiapkan baginya [jalan]yang sukar. QS al-Layl [92]: 8-10. 

Ayat ini menunjukkan bahwa pendusta dan orang yang tidak bertakwa akan mendapatkan kesulitan, kesempitan, dan ketidakmudahan dalam kehidupannya. Namun, ia tidak mengetahui penyebabnya. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: Dan, barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata, "Ya Tuhan-ku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku adalah seorang yang melihat?" Allah menjawab, "Demikianlah, telah hilang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan."Dan demikianlah, Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. QS Tha Ha [20]: 124-127 

Barangkali, ayat yang paling jelas menunjukkan hubungan yang konsisten antara kedurhakaan seseorang dan perusakannya di muka bumi dengan kemunculan bencana alam, penyakit, dan sebagainya adalah firman Allah SWT: 

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali. QS ar-Rum [30]:14. 

Anda lihat bahwa ayat ini merupakan saksi terbaik yang membicarakan hakikat tersebut. Ayat itu menyebutkan bahwa kezaliman dan perbuatan dosa yang dilakukan tangan-tangan manusia akan menyebabkan kerusakan di darat dan di laut yang menimpa manusia itu sendiri secara langsung, seperti terjadinya perang, terputusnya jalan, dan hilangnya keamanan atau menimpanya secara tidak langsung, seperti kerusakan kondisi udara dan tanah yang membahayakan manusia dalam kehidupan dan penghidupannya. 

Hal semakna ditunjukkan dalam firman Allah SWT berikut. 

Dan, musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar [kesalahan kalian]. QS ar-Rum [30]: 14 

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri. QS asy-Syura [42]: 30 

Ringkasnya, kalau umat kembali seperti itu—betapapun sedikit dan jarangnya pada umat-umat kalau mereka terus-menerus dalam kesesa- tan dan bertindak serampangan—maka Allah menutup hati mereka. Akibatnya, mereka terbiasa dalam keadaan seperti itu dan mulai mengira bahwa kehidupan manusia hanyalah kehidupan yang kacau-balau dan susah. Mereka disesaki bagian-bagian alam materi, ditimpa berbagai musibah dan bencana, dan didera kerasnya alam. Tidak ada pilihan lain bagi manusia selain memajukan ilmu pengetahuan dan menyiapkan kemampuan berpikir sehingga mereka bersaing dan mengambil perlengkapan yang memadai untuk menghilangkan himpitan alam dan menghindarkan tipu dayanya, sebagaimana pada hari ini mereka me-ngambil perlengkapan yang memadai untuk menghilangkan kelaparan, kegersangan, sampar, lepra, dan berbagai penyakit lainnya yang biasa terjadi. Di sisi lain, dengan kemajuan ilmu pengetahuan, mereka mengatasi banjir, topan, badai, dan lain-lain yang mendatangkan kerusakan alam dan mengancam kelangsungan hidup manusia. 

Binasalah manusia, alangkah amat sangat kekafirannya. Sikap arogan menguasainya sehingga ia mengira bahwa kemajuan dalam apa yang dinamakan peradaban dan ilmu pengetahuan membuatnya menguasai alam, menghadapi kekuatannya, dan mengalahkannya agar patuh pada keinginannya dan tunduk pada hawa nafsunya. Ia sendiri adalah bagian dari alam yang dihukumi dengan hukum-hukumnya dan lemah susunan tubuhnya. Kalau kebenaran mengikuti hawa nafsunya, tentu langit dan bumi akan hancur. Kalau langit dan bumi hancur, tentu manusia yang lemah itu menjadi bagian alam yang paling dahulu mengalami kehancuran dan paling cepat terkena kebinasaan. 

Inilah hakikat burhaniyyah yang menentukan bahwa manusia, seperti bagian-bagian alam yang lain, keberadaannya berkaitan dengan keberadaan bagian-bagian lain yang mengelilinginya. Perbuatan-perbuatannya dalam perjalanan hidupnya menuju tempat kebahagiaan berkaitan dengan yang lainnya. Jika hubungannya dengan alam itu baik, maka bagian-bagian alam yang lain pun akan baik kepadanya dan membukakan keberkahan langit untuknya. Jika langit rusak maka alam ini pun rusak. Ia menghadapkan alam pada kehancuran. Jika ia kembali pada kebaikan, maka alam pun menjadi baik. Jika tidak, alam akan mengalami kerusakannya. Akibatnya, apabila jatuh ke dalam kerusakan, alam bangkit melawannya, membinasakannya dengan menghancurkan bangunan-bangunannya dan menghilangkan jejaknya, dan membersihkan bumi dari kotorannya. Al-Mizan fi tafsir al-Qur’an, jil.8, hal.196
loading...
no image

Pentingnya Ketakwaan Kepada Allah

Al quran memfokuskan pentingnya ketakwaan dalam banyak ayat. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok [akhirat], dan bertakwalah kepada Allah Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.( QS al-Isra’ [17]: 79)

Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang salih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakiua serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang salih, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka [tetap juga] bertakiua dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. QS al-Ma’idah [5]:93

Hai manusia, bertakivalah kepada Tuhan kalian! Sesungguhnya goncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. QS al-Hajj [22]:1.

Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah cobaan. Di sisi Allah pahala yang besar. Maka, bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian dan dengarlah serta taatlah, dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk diri kalian. Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. QS at-Taghabun [64]: 14-16

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. QS Alu ‘Imran [3]: 102

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki- laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara Indian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS al-Hujurat [49]: 13

 Di akhir ayat ini, Allah SWT mengingatkan bahwa kemuliaan yang hakiki hanyalah dengan ketakwaan kepada Allah SWT. Substansi kedekilan kepada Allah SWT berputar pada poros ketakwaan, bukan poros tingkatan-tingkatan keduniaan berupa harta, pangkat, keturunan, dan leluhur. Hal itu karena manusia dijadikan selalu mencari sesuatu yang membedakannya dari selainnya dan mengistimewakannya di antara teman-temannya berupa kemuliaan dan kehormatan. Kebanyakan orang karena keterkaitan dengan kehidupan dunia melihat kemuliaan dan kehormatan dalam aspek-aspek kehidupan materi berupa harta, kecantikan, keturunan, leluhur, dan sebagainya sehingga mereka mencurahkan segala upaya untuk mencari dan memperolehnya untuk saling membanggakan diri dengannya dan mengungguli orang lain. Ini merupakan aspek-aspek yang bersifat ilusi yang tidak mendatangkan kemuliaan dan kehormatan kepada mereka sedikit pun selain menjatuhkan mereka ke dalam kebinasaan dan kesengsaraan. Kemuliaan hakikilah yang membawa manusia pada kebahagiaannya yang hakiki dan kehidupannya yang baik lagi abadi di sisi Tuhan Yang Mahamulia. Hal itu hanya dapat dicapai dengan ketakwaan kepada Allah SWT dan merupakan satu-satunya cara menuju kebahagiaan di negeri akhirat, serta diikuti kebahagiaan di dunia. Allah SWT berfirman: Kalian menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki akhirat. Jika kemuliaan lunya diperoleh dengan ketakwaan maka manusia yang paling mulia disisi adalah yang paling bertakwa, sebagaimana telah dinyatakan dalam ayat yang penuh berkah itu.
loading...
no image

Definisi Takwa

At-taqwa (ketakwaan) adalah menjadikan jiwa dalam pemelihaaan dari hal-hal yang ditakutkan. Inilah kajiannya. Dalam definisi syariah, at-taqwa adalah pemeliharaan jiwa dari hal-hal yang membuat dosa. Hal itu dilakukan dengan meninggalkan segala larangan, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian perbuatan mubah berdasarkan riwayat: "Kehalalan itu jelas dan keharaman juga jelas. Barang siapa mengelilingi perlindungan, maka ia lebih pantas jatuh ke dalamnya. Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an karya Abu al-Qasim al-Husayn bin Muhammad yang dikenal dengan panggilan ar-Raghib al-Isfahani (w. 502 H), hal.530, Dar al-Ma’rifah, Beirut, Libanon.)" 

AR Raghib al-Isfahani dalam al-Mufradat, mengatakan: waqa -al-wiqayah adalah memelihara sesuatu dari hal-hal yang akan menyakiti dan merusaknya. Dikatakan: Waqaytu asy-syay'a aqihi wiqayatan wa wiqaan (aku memelihara sesuatu). Fa waqahum Allah (Maka, Allah memelihara mereka), wa waqahum 'adzab as-sa’ir (dan Dia memelihara mereka dari siksaan neraka), wa ma lahum min Allah min waq (dan mereka tidak memiliki pemelihara selain Allah), ma laka min Allah min waliwa la waq (kamu tidak memiliki penolong dan pemelihara selain Allah), dan qu anfusakum wa ahlikun naran (peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka).
loading...

Tuesday, May 21, 2013

no image

Kemerdekaan, Kebebasan Berikhtiar dalam Islam

Ketahuilah, bahwa kemerdekaan itu merupakan kebebasan diri dari segala dorongan yang mengandung keganjilan serta kesempatan dalam keinginan dan ketakutan. Ahli tasawuf dan para penempuh jalan Allah-lah yang memiliki kebebasan diri dari setiap sifat yang membawa kepada (serba) kekurangan atau penyimpangan dalam pandangan Allah. 

Marilah kita mengkaji dan menelusuri makna firman Allah SWT. :

"Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan sangat bodoh." (Al Ahzab.72) 


Sesungguhnya amanat adalah "Kemerdekaan berikhtiar" yang terbalas untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan. Persoalan (memikul) amanat hanya diberikan (diberlakukan) bagi manusia dan tidak kepada mahluk Allah yang lain. Adapun kemerdekaan berikhtiar sekaligus dibebankan atas diri manusia dengan penuh kesungguhan dan merupakan tanggung jawab yang akan mendapat balasan (pahala atau siksa). Atau dengan kata lain, bahwa setiap manusia merdeka bertanggung jawab terhadap kemerdekaan (kebebasan) nya. 

Manusia yang tunduk, patuh terhadap perintah Allah SWT. di samping ia menyadari, bahwa sungguh tidak akan terjadi dalam kerjaan-Nya melainkan apa yang dikehendaki oleh-Nya. Semua tuntutan ini hanya di berlakukan bagi manusia. 

Dengan demikian, ia akan senantiasa mengarah (cenderung) kepada perbuatan yang baik dan merupakan tuntutan Allah atas dirinya. Ia pun akan menjauhi perbuatan ingkar, dimana Allah telah melarang manusia daripadanya (dengan penuh kesadaran), karena ia bebas untuk berikhtiar dan bertanggung jawab atasnya. Untuk itu, Allah telah menyediakan pahala atas apa yang ia perbuat dari kebaikan dan akan dibalas (siksa) atas apa yang dengan kebebasan itu ia berbuat kejahatan. 

Pada sisi Allah, berdiri tegaknya manusia, karena ia merupakan pribadi yang maujud (ada) dan sifatnya terbatas serta mempunyai kebebasan yang terbatas pula. Sedang ia tiada mengetahui rahasia takdir, yakni apa yang akan terjadi, walaupun sedetik (lebih kurang dari itu). Adapun ilmu yang mutlak (bebas, tidak terikat), hanyalah bagi Allah sendiri. 

Sebagaimana firman-Nya.: 

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh, adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri." (An-Nisa: 79) 

Dan dalam ayat yang lain, Allah SWT. berfirman : 

"Katakanlah: Semuanya itu (datang) dari sisi Allah." (An Nisa 78) 

Seorang Muslim yang beriman kepada takdir, maka ia akan berusaha, beriktiar dan berserah diri kepada yang ditangan-Nya berada kunci segala urusan. Umar bin Khattab ra., pada saat melewati suatu negeri yang ditimpa wabah penyakit menular, beliau enggan memasuki negeri tersebut. Kemudian beliau ditegur :

 أَفِرَارًا مِنْ قَدَرٍ اللهِ ، يَااَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ؟ قَالَ : نَعَمْ فِرَارٌ مِنْ قَدَرٍ اللهِ اِلَى قَدَرٍ اللهِ 

"Apakah tuan hendak lari dari ketentuan Allah, wahai Amirul Mukminin? Beliau menjawab: Ya, aku lari dari ketentuan Allah untuk menuju ketentuan Allah yang lain." 

Singkatnya, kemerdekaan manusia di dalam berikhtiar adalah nisbi dan terbatas menurut pertimbangan akal, walau ditunjang dengan pemahaman yang amat luas. Adapun kemutlakan adalah milik Allah semata. 

Uraian diatas sangat ringan untuk dimengerti maksud dan tujuannya. Dalam persoalan qadha dan qadar Allah, memang sedikit membutuhkan kejernihan berpikir, hingga tidak mudah terjebak pada masalah-masalah yang jauh dari kebenaran dan tuntunan Allah. 

Pendapat-pendapat yang tersaji merupakan rangkaian kutipan dari Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Setiap muslim meyakini akan kebenarannya. 

Kekurangan (kejahilan) manusia dari kebaikan akan terus tersusun dalam jajaran sifat negatif yang teraplikasi dalam amal perbuatan yang diberi lebel (sebutan) "kriminalitas" dalam segala bidang. 

Sedang makrifat dan ilmu pengetahuan merupakan suatu persoalan yang positif dan itulah yang dituntut oleh Allah bagi siapa (manusia) yang memikul amanat-Nya. Adapun sifat bahimiah (sifat kebinatangan) yang ada pada suatu jiwa seperti egois (memntingkan diri sendiri), rakus dan mendewakan syahwat merupakan sifat negatif terhadap apa yang seharusnya dijunjung tinggi. 

Segala sesuatu yang bersifat Alami (esensi) dan terdapat pada pribadi masing-masing manusia bukanlah merupakan perbandingan antara baik dan buruk. Semua itu bergantung pada manusianya. Sebagian pernah diungkap dalam sederet syair :

 وَلَيْسَ فِى الْعَلَمِ شَرٌّ جارِئِ ٬ إِذْ كانَ ما يجْرِىْ بِأَمْرِ الْبَارِىْ 

"Di alam semesta ini Tiada terwujud suatu kejahatan Yang dapat berlaku Karena apa yang berlaku padanya Kesemuanya itu dengan perintah Itulah perintah Al Bari (Allah). "
loading...
no image

Hubungan Ikhtiar/Usaha dengan Qadha dan Qadar Allah

Usaha manusia dalam hal ini hanyalah ibarat satu lingkaran dari lingkaran-lingkaran terbesar (sistem Allah). Sesungguhnya iradat (kehendak) Allah adalah konsekwensi dari pencapaian yang diusahakan manusia, seputar diri dan perasaan (karena fitrah atau pemikiran) yang saling terkait dengan dorongan negatif atau positif. Kenyataan keberadaan alam semesta (sebagai contoh) dari kekuasaan yang mempengaruhi atas pemikiran versi iradat dan tidak dapat diingkari kecuali oleh seorang yang picik. 

Dan bahwasanya permulaan sebab akibat inilah yang mempengaruhi atas perasaan (panca indera), pencapaian, iradat yang sungguh dipengaruhi oleh tangan Yang Maha Pengurus alam semesta, Yang Maha Agung menciptakan segala sesuatu, segala pribadi, yang menciptakan sebab atas: kesesuaian hikmat kebijaksanaan-Nya. Dialah yang menjadikan segala yang terjadi mengikuti sebabnya masing-masing. 

Sekali-kali manusia tidak akan dapat keluar dari diri dan kemauan sunnatullah alam ini, yang telah diatur oleh Allah SWT. bagi para mahluk Nya. Karena itu, manusia hanyalah suatu kesatuan dari apa yang maujud dan di balik kemauannya terbersit suatu kemauan atas diri yang mutlak (bebas), yaitu iradat Allah SWT. 

Maka, penyerahan akal kita yang terbatas ini, terhadap apa yang diperbuat oleh aklul Ilahi yang mutlak telah menciptakan kebaikan dai kejahatan demi untuk menguji manusia. Baru kemudian ditegakkannya suatu sistem agar (untuk) diterapkan sebagai kewajiban suci. 

Seorang yang beriman akan qadha dan takdir Allah, seperti meyakini bahwa "Ajal" memang telah ditentukan dan rizki adalah jaminan dari Allah SWT., maka manusia tidak akan dirintangi oleh takdir untuk menghadapi berbagai kesulitan. Dengan penuh keyakinan mereka menyadari bahwa takdir ada di tangan Allah SWT. dan pasti akan terjadi melainkan bila Allah berkehendak mengubahnya dengan qadha yang telah ditetapkan dalam "Ummul Kitab " (Lauhul Mahfuzh). Sebagaimana firman-Nya : 

"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Pada sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (lauhul Mahfuzh)." (Ar-Ra'd 39) 

Oleh karena itu, manusia tidak boleh merasa takut kepada Al maut serta gelisah dengan kefakiran. Tiada keraguan yang harus dipertahankan selama segala urusan dan persoalan berada di tangan Allah SWT. Karena apa yang dikehendaki Allah, niscaya terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya takkan terjadi. Apa yang semestinya menimpa diri manusia takkan terlepas daripada-Nya dan apa yang sudah tercatat dengan penetapan tidak akan menimpa dirinya, maka sekali-kali takkan sampai kepada. Pada saat itu, ia akan tergolong bersama orang-orang yang mengucapkan (menegakkan) kalimat Allah, sedang mereka menghadapi bahaya peperangan yang dahsyat dan dari berbagai kekerasan yang menggelisahkan hati. 

Allah SWT. Berfirman : 

"Katakanlah, sekali-kali takkan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal." (AtTaubah51) 

Akan tetapi, manusia yang membiarkan hati sanubarinya menderita kesusahan, sedang ia saling menanyakan (keheranan) pada apa yang dimiliki kaum Muslimin dari akhlak (perangai) mereka yang telah mengambil dari akidah qadha dan takdir sebagai hujah (alasan). Sedang pada diri mereka terdapat kecenderungan negatif dan memperbolehkan apa yang telah diharamkan serta berbagai kejahatan yang telah merampas kebahagiaan, kemerdekaan berfikir, kehidupan yang teguh, maka hal itu telah menjerumuskan mereka kededam jurang-jurang yang curam dan gelap gulita. Mereka sendiri yang telah mengambil qadha dan takdir, sebagaimana yang dianut oleh faham Jabbariah dengan mengatakan: bahwa manusia itu majbur (terpaksa) secara mutlak dalam semua perbuatannya. Hingga tidak ada baginya ikhtiar (pilihan) seperti sayap burung yang bergantung di udara, dibawa oleh hembusan angin kemana saja ia mengarah dan ia pun seperti ini adanya. Sedang Islam tidak menghendaki yang demikian ini terjadi pada manusia. 

Apabila faham " Jabbariah " telah memasuki jiwa suatu kaum, maka akan sirna dari diri mereka kemauan serta usahanya dan akan terhapus bagian-bagian yang bersifat ikhtiari dalam jiwa-jiwa mereka. Kemudian setan akan menghiasi agar menggantungkan diri atas-Nya sebagai senjata yang ampuh untuk memerangi keyakinan mereka. Lalu mereka berserah diri dengan apa yang telah ditentukan dari berbagai nafsu serta kejahatan. Akan sesatlah mereka dalam kebanggaan dan tepukan dada. Dengan demikian, akan sia-sialah mata hati serta kekuatan akal mereka. Sedang mereka pada saat itu telah kehilangan limpahan anugerah Allah dari berbagai pencapaian yang bersifat pemikiran dan apa saja yang dikaruniakan oleh-Nya. Baik berupa kemerdekaan, kebebasan, yang kemudian tidak lagi berhasrat untuk melakukan usaha. Artinya, telah nisak tata tertib yang seimbang hingga menutup pintu hati mereka dari iradat Allah Swt. Allah sekali-kali tidak akan membebani manusia dengan sesuatu yang tidak sanggup dipikulnya. Allah tidak menciptakan akal budi secara senda-gurau ataupun main-main. Dan sesungguhnya Akal budi serta usaha manusia merupakan sarana yang diberikan oleh Allah untuk memikul beban tanggung jawabnya sebagai khalifah-Nya dimuka bumi. Di samping itu, segala urusan akan ditentukan (berpulang) kepada Allah SWT. Dan mereka (Jabbariah) mengabaikan pahala da' siksa bagi amal perbuatan yang bersifat usaha (kasab). Allah akan menuntut terhadap apa yang dianugerah¬kan kepada mereka dari bagian yang bersifat ikhtiari dan mereka akar dimintai pertanggungan jawab atas perintah amal makruf dan nahi munkar Sesungguhnya usaha merupakan beban yang dipikulkan oleh syariat atas diri manusia yang dengannya akan menjadi sempurnalah hikmat kebijaksanaan Ilahiat. 

Kebalikan (lawan) dari golongan ini (Jabbariah) telah mengatakan bahwa manusia memiliki sifat qadir (kesanggupan) melakukan segala amal perbuatannya. Golongan ini bernama "Qadariah". 

Namun, seorang Mukmin sejati adalah mereka yang selalu berpegang pada Al Qur'an dan mengikuti Sunnah Nabi Muhammad saw. serta tidak mengikuti apa yang didoktrinkan oleh ajaran Jabbariah maupun Qadariah Sesungguhnya apa yang telah di syariatkan Islam berupa mengikuti apa yang diperintah dan menjauhi larangan Allah akan lebih terasa nikmat (indah). Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. 

Allah Maha Adil, Maha Rahim (Maha Kasih) dan kasih sayang Allah melebihi keadilan-Nya. Sekali-kali tiadalah rahmat Allah itu jauh (gaib) dibandingkan dengan siksa-Nya yang sangat pedih. Akan tetapi, ibarat neraka Jahanam, rahmat Allah pun bertingkat-tingkat.Tingkat yang paling bawah lebih keras (jauh dari rahmat) dibanding dengan tingkat yang paling atas (lebih mendekati rahmat atau kasih sayang-Nya). Sampai di dalam neraka, keadilan dan rahmat Allah masih berlaku (sebagaimana yang ada di dalam Surga). Sungguh Allah telah mengatur derajat serta tingkatan dalam pemberian pahala dan pembalasan siksa. 

Allah adalah Dzat yang Maha Kuat. Ia mencintai dan lebih menyukai kepada manusia yang mempunyai dan mengamalkan sikap tersebut didalam menegakkan "Din-Nya ". 

Sebaliknya, seorang mukmin yang lemah harus bangkit, karena mereka lebih tidak disukai oleh Allah SWT. Dan sebagai rahmat Allah atasnya (seorang mukmin yang lemah) dapat menerima bantuan bila berkemauan keras berupa iradat Allah yang Maha Tinggi serta dapat pula menerima uluran tangan-Nya demi untuk kekuatan dirinya. Hendaklah kalian mengangkat kepala ke atas, wahai manusia Mukmin, agar kalian tahu akan iman yang lurus (terhadap alam gaib dan alam syahadah), hingga mampu berfungsi sebagaimana udara yang selalu bermanfaat bagi seluruh kehidupan. 

Allah sangat murka kepada manusia yang memiliki sifat negatif (lemah). Karena, ahli nifaq (munafik) dan ahli riya (orang yang beramal karena mencari pujian orang) adalah orang-orang yang memiliki sifat tersebut. Mereka mengelabui hamba-hamba Allah yang positif (kuat) demi menipu umat manusia dan diri mereka sendiri. 

Allah SWT. berfirman : 

"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak menyadarinya." (Al Baqarah 9)
loading...