Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Haji. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Haji. Show all posts

Wednesday, December 23, 2015

 Dosa Besar Meninggalkan Haji Ketika Mampu

Dosa Besar Meninggalkan Haji Ketika Mampu

Tidak mengerjakan ibadah haji padahal mampu adalah merupakan dosa besar. Ibadah haji adalah merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dikerjakan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan dengan syarat-syarat tertentu yang ditentukan oleh syariat Islam. Allah swt. berfirman di dalam al-qur’an al-Karim yang berbunyi sebagai berikut :

فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Artinya: Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (Qs. Ali-'Imran ayat 97).


Senada dengan firman Allah swt. di atas, juga dalil hadits sabda Nabi Muhammad saw. yang menerangkan wajibnya mengerjakan ibadah apabila mampu:

مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللّهِ وَلَمْ يَحُجَّ فَلاَ عَلَيْهِ أَنْ يَمُوْتَ يَهُوْدِيًّا اَوْ نَصْرَانِيًّا

http://islamiwiki.blogspot.com/
Artinya: Barangsiapa yang memiliki bekal dan kendaraan yang bisa mengantarkannya haji ke Baitullah tetapi tid ak melaksanakannya , semoga saja ia tidak mati sebagai seorang yahudi atau nasrani.. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, lbnu Jam Al-Uqaili, lbnu Adi, dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab)

Dikisahkan bahwa Umar bin Khattab berkata: sungguh, aku pernah berkeinginan untuk mengutus beberapa orang ke berbagai penjuru untuk melihat siapa saja yang sehat dan mempunyai bekal akan tetapi mereka tidak melaksanakan haji agar diminta jizyahnya (pajak) serta menganggap mereka sebagai bukan muslim.

Juga diceritakan dari Abdullah bin Abbas beliau berkata : Barangsiapa yang mempunyai harta yang cukup untuk mengerjakan ibadah haji akan tetapi mereka tidak mengerjakannya atau mempunyai harta sampai batas nishab akan tetapi mereka tidak membayarkan zakatnya niscaya akan meminta raj’ah (kembali) di kala meninggal. Kemudian seorang berkata:  bertakwalah kepada Allah , wahai Ibnu Abbas. Hanya saja orang kafir sajalah yang meminta raj’ah. Ibnu  Abbas kemudian menjawab: akan aku bacakan satu ayat:

وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Artinya: Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh? QS. Al-Munafiqun ayat 10.

Maksud dari bersedekah dalam ayat di atas adalah membayar zakat, dan maksud dari menjadi salah seorang sholeh adalah mengerjakan atau menunaikan ibadah haji.

Salah seorang pun bertanya: berapa nishab harta? Apabila uang perak sudah mencapai 200 dirham atau uang emas yang nilainya sebanding dengannya, wajib dikeluarkan zakatnya.


Seseorang bertanya, "Berapa nishab harta? Jawab Ibnu Abbas: apabila uang perak telah mencapai 200 dirham atau uang emas yang setara dengannya. wajib dikeluarkan zakatnya. Bertanya seorang yang lain: apakah yang mewajibkan berhaji? Ibnu Abbas berkata: perbekalan dan kendaraan.

Diceritakan dari Sa'id bin Jubair beliau bercerita: Seorang tetanggaku yang kaya namun belum menunaikan ibadah haji dan meninggal, dan aku tidak mensholatinya.


Sebagaimana keterangan dari sumber al-Qur’an dan dalil hadits Nabi saw. menerangkan bahwa ibadah haji adalah merupakan suatu kewajiban yang mutlak dilaksanakan apabila telah mampu dalam hal kendaraan dan perbekalan. 

Dalam keterangan nash-nash di atas, terdapat berbagai macam sindiran, ancaman yang diberikan kepada mereka yang tidak menunaikan ibadah haji ketika mampu di antaranya adalah dianggap bukan muslim, tidak disholati ketika mereka meninggal, meninggal sebagai seorang nasrani atau yahudi. Dengan demikian, meninggalkan perintah Allah yang wajib adalah merupakan sebuah dosa besar. Naudzubillah min dzalik. Wallahu a’lam

Sunday, March 30, 2014

no image

Rahasia Ibadah Haji Menurut Imam Ghazali

Imam Ghazali rahimahullah menjelaskan tentang rahasia haji yaitu sebagai berikut :
  • Disyariatkannya ibadah haji sebagai pengganti dari ruhbaniyah (kerahiban, kependetaan) yang dilakukan oleh umat-umat sebelumnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Allah menjadikan ibadah haji sebagai ruhbaniyah umat ini.”
Allah memuliakan al-Bait al-‘Atiq (rumah yang lama, ka’bah) dengan menyandarkan namaNya pada rumah itu, Baitullah (Rumah Allah). Allah jadikan Baitullah sebagai kiblat seluruh hambaNya. Allah jadikan disekitarnya tanah suci (haram), disebabkan adanya ka’bah. Allah jadikan Padang Arafah seperti pancuran  air dihalaman telagaNya (haudh). Allah menguatkan kesucian tanahnya dengan mengharamkan berburu dan menebang pohon di dalamnya. Allah memerintahkan kepada seluruh hambaNya yang datang kesana seperti seorang rakyat jelata datang kepada rajanya. Dengan menggunakan pakaian ihram, tidak menutupi kepalanya, tubuh yang berdebu, penuh ketawadhu’an, khusu’ dengan mengakui keagungan dan kesucianNya.
Sebab itulah, amalan-amalan dalam ibadah haji banyak yang tidak dapat dilogikakan. Dengan tujuan agar setiap orang yang mengerjakan ibadah haji, semata-mata hanya ingin beribadah kepada Allah dan menghambakan dirinya dengan mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, tanpa harus mengetahui tujuan dari perintah tersebut.
  • Kita hendaknya  harus menyadari bahwa perjalanan menunaikan ibadah haji bagaikan perjalanan ke akhirat. Sehingga setiap perbuatan yang dilakukan harus berkaitan dengan perkara akhirat. 
  1. Ketika kita akan berpisah dengan keluarga seakan-akan kita sedang menghadapi sakaratul maut. 
  2. Ketika keluar dari negerimu seakan-akan kita keluar dari dunia ini. 
  3. Ketika naik kendaraan sekan-akan kita naik peti jenazah. 
  4. Ketika memakai pakaian ihram seakan-akan kita memakai kain kafan. 
  5. Ketika kita menuju miqat (batasan tanah halal dengan tanah haram) seakan-akan kita keluar dari dunia menuju miqat (batas) hari kiamat. 
  6. Rintangan yang kita hadapi diperjalanan seakan-akan kita menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. 
  7. Binatang-binatang ular dan kalajengking di kuburan. 
  8. Berpisahnya keluarga yang bagaikan kesendirian dan kesepian di alam kubur.
  9. Talbiyah yang dikumandangkan bagaikan ucapan setelah dibangkitkan dari kubur. 
  10. Begitu pula dengan seluruh amalan-amalan ibadah haji lainnya.

Tuesday, March 25, 2014

no image

Umrah & Haji: Penghapus Dosa dan Masuk Surga

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., Rasulullah saw., bersabda: “Umrah ke umrah adalah penghapus dosa di antara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari – Muslim)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Perbuatan apa yang paling baik?” beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan rasulNya.” Orang itu berkata: “Kemudian apa lagi?” beliau menjawab: “Jihad dijalan Allah.” Orang itu berkata: “Lalu apa?” beliau menjawab: “Haji mabrur.” (HR. Bukhari Muslim)

Diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib ra., Rasulullah saw., bersabda: “Barangsiapa yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat membawanya ke Baitullah, tetapi dia tidak menunaikan haji maka baginya kematian dalam keadaan Yahudi atau Nashrani. Allah berfirman dalam kitabNya:

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan pejalanan ke Baitullah.” (Ali Imran [3]:97) (HR. Tirmidzi)

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra., seorang bertanya: “Apa yang dimaksud dengan ‘as-sabila?” beliau menjawab: “Bekal dan kendaraan.” (HR. Hakim)

Ketahuilah pekerjaan haji dibagi menjadi tiga bagian:
  • Rukun HajiIhram, wuquf, mencukur rambut, thawaf ifadhah dan sa’i. Berkenaan dengan mencukur rambut ada yang mengatakan itu bukan rukun haji.
  • Wajib Haji: Ihram dari miqat, melempar jumrah yang tiga (ini tidak ada perbedaan pendapat), menggabungkan antara malam dan siang dalam wukuf di Arafah (yaitu berdiam sejenak setelah matahari terbenam), mabit di Muzdalifah, mabit di Mina pada malam tasyrik, thawaf wada’ (pendapat yang paling benar adalah thawaf wada’ hukumnya wajib, tetapi tidak ada yang mengatakan sunah).
  • Sunnah Haji: Seluruh yang disyariatkan dalam ibadah haji dari perkataan dan perbuatan, seperti membaca talbiyah, zikir dan doa, thawaf qudumm, istilam ke hajar Aswad (mengangkat tangan kanan sambil membaca: Bismillah Allah Akbar), lari-lari kecil dan lain-lain.
Hukum dari ketiga hal tersebut  adalah sebagai berikut :

Rukun haji, merupakan pekerjaan yang harus dikerjakan dan tidak sah ibadah haji apabila meninggalkan salah satunya. Ia tidak dapat diganti dengan dam (denda)

Wajib haji, barangsiapa yang meninggalkan salah satu darinya maka wajib membayar dam. Ibadah hajinya tetap sah, baik dia meninggalkannya dengan sengaja atau tidak. Akan tetapi bagi yang meninggalkannya dengan sengaja dia berdosa.

Sunah haji, tidak berdosa dan tidak harus membayar dam bagi orang yang meninggalkannya, dan hajinya tetap sah. Hanya saja hilang keutamaan ibadah sunah.

Hadis berikut ini menjelaskan keseluruhan amalan dalam ibadah haji. Diriwayatkan oleh Jabir ra.

Rasulullah saw., menunaikan ibadah haji dan kami keluar bersama dengannya sampai kami tiba di Dzul Hulaifah. Lalu Rasulullah saw., melakukan shalat di masjid. Setelah itu, beliau naik onta dan ketika sampai di wilayah Baida’ beliau membaca talbiyah: “Labaik Allahumma labaik, labaika laa syarika laka labaik, inna al-hamda wa an’nimatah laa wa al-mulk, laa syarika laka.” ( Ya Allah aku menyambut seruanMu, aku menyambut seruanMu tidak ada sekutu bagiMu, aku menyambut seruanMu, sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kekuasaan hanya milikMu, tidak ada sekutu bagiNya). Ketika sampai di Masjid Haram, beliau melakukan istilam (mengangkat tangan kanan atau mencium) ke Hajar Aswad, lalu melakukan thawaf dengan berlari kecil dalam tiga putaran pertama dan berjalan dalam empat putaran (terakhir). Kemudian mendatangi Maqam Ibrahim dan melakukan shalat di sana. Lalu kembali ke Hajar Aswad dan melakukan istilam (mengangkat tangan dan mengarah telapak tangan ke Hajar Aswad).

Kemudian keluar dari pintu masjid menuju Shafa. Ketika mendekati Shafa beliau membaca: “Inna ash-Shafa wa al-Marwata min sya’airillah. Abda’u bi maa bada’a Allah bihi.” (Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah. Aku memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah) lalu beliau naik ke Shafa sampai beliau dapat melihat Ka’bah. Beliau menghadap ke kiblat dan membaca kalimat tauhid dan takbir: Lailahaillallah wahdahu laa syarika lahu, lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘ala kulli sya’in qadiir. Lailahaillallah wahdahu anjaza wa’dahu, wa nashara ‘abdahu wa hazama al-ahzab wahadah (  Tidak ada tuhan selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya seluruh kekuasaan dan miliknya seluruh pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada tuhan selain Allah yang esa, telah terlaksana janjiNya, dan telah menolong hambaNya dan telah mengalahkan pasukan musuh dengan sendiri). Lalu beliau membaca doa sebanyak tiga kali. Kemudian berjalan menuju bukit Marwah, sampai di bathn wadi (sekarang antara dua pilar hijau) beliau berlari-lari kecil, ketika naik ke bukit Marwa beliau berjalan biasa. Di bukit Marwa beliau melakukan seperti di bukit Shafa.

Ketika hari tarwiyah kaum muslimin menuju Mina dan Rasulullah menaiki onta. Disana beliau mengerjakan shalat zhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan shubuh. Kemudian berdiam sampai terbit matahari.

Lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai di Arafah, beliau mendapati kubah yang sudah hancur di Namirah. Beliau berhenti disana, sampai saat matahari tergelincir beliau menuju Bathn Wadi dan menyampaikan khutbah kepada kaum muslimin. Lalu dikumandangkan azan zhuhur dan mendirikan shalat ashar (jama’ taqdim), beliau tidak mengerjakan shalat sunah diantara keduanya (zhuhur dan ashar). Setelah itu, beliau menaiki onta menuju ke tempat wuquf, disana ontanya didudukkan dengan perutnya menyentuh padang pasir. Lalu beliau menghadap kiblat, dan beliau terus melakukan wukuf sampai terbenam matahari dan warna kekuning-kuningan di langit hilang sedikit.

Beliau meneruskan perjalanan hingga sampai di Muzdalifah, beliau melakukan shalat maghrib dan isya’ dengan satu azan dan dua iqamah. Beliau tidak melakukan shalat sunah diantara keduanya (magrib dan isya). Lalu membaringkan badannya sampai terbit fajar dan mengerjakan shalat subuh. Kemudian menaiki onta hingga tiba di Masy’aril Haram, beliau menghadap kiblat, berdoa, membaca takbir dan lailahaillallah. Beliau terus berdiam sampai langit kekuning-kuningan. Lalu pergi sebelum matahari terbit hingga tiba di Jumrah al-Kubra, beliau melempar jumrah dengan tujuh kerikil seperti ketepil. Beliau membaca takbir setiap melempar satu kerikil, beliau melemparnya dari Bathn Wadi. Kemudian pergi ke tempat penyembelihan (al-manhar) dan menyembelih hewan. Lalu menaiki onta menuju Masjid Haram dan shalat zhuhur di Mekkah.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw., bersabda: “Aku menyembelih hewan kurban di sini. Dan Mina seluruhnya adalah tempat penyembelihan (al-Manhar).

“Aku melakukan wukuf di sini, dan Arafah seluruhnya tempat wukuf.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan oleh Jabir ra., “Rasulullah saw melempar jumrah pada hari nahar waktu dhuha. Sedangkan hari selanjutnya setelah matahari tergelincir.” (HR. Muslim)

Wednesday, June 12, 2013

no image

Cara Haji Secara Berurutan

Bagaimana Cara haji dengan benar? Sekarang, kami ingin menerangkan cara haji atau pekerjaan-pekerjaan haji secara berurutan, supaya mudah difahami oleh orang Islam yang hendak menunaikan kewajiban yang besar ini. 

Cara Haji

Mulailah perjalanan haji dengan melunasi tanggungan-tanggungan yang menjadi kewajiban Anda. Bila Anda mempunyai hutang pada seseorang, maka lunasilah terlebih dahulu hutang Anda itu, atau mintalah izin kepadanya untuk pergi haji. Dan jika Anda pernah menyatiki seseorang, mintalah maaf dan redha kepadanya. 

Untuk berhaji pilihlah kawan-kawan yang saleh, terutama orang-orang yang faqih dalam ilmu agama, karena itu sangat penting agar dapat melaksanakan kefardhuan haji ini dengan sebaik-baiknya. 

Sebelum perjalanan dilakukan, belajarlah dulu hukum-hukum haji yang mesti diketahui. Bahkan Imani Al-Ghazali menganggap belajar ini fardhu'ain atas siapapun yang hendak menunaikan kefardhuan ini. 

Apabila perjalanan haji telah dimulai, maka Anda boleh berihram dari rumah Anda, dan boleh juga nanti dari miqat.. Dan apabila hendak berihram, baik dari rumah maupun dari miqat, pertama-tama hendaklah Anda mandi, lalu mengenakan pakaian ihram, yaitu kain dan selendang yang tidak dijahit menyarung. Sesudah itu lakukanlah shalat sunnah ihram dua rakaat, kemudian menghadaplah ke kiblat seraya mengucapkan:

 َلبَيْلكَ اللَّهُمََّ بِحَجٍّ٠ 

Artinya: “Aku memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, untuk menunaikan haji." 

Sedangkan dalan hati juga berniat seperti itu. Dan ini apabila yang dikehendaki adalah memasuki ibadah haji. Adapun kalau yang diinginkan adalah memasuki ibadat umrah, maka ucapkanlah:

 لبَيْلكَ اللَّهُمََّ بِعُمْرَةٍ٠ 

Artinya: "Aku memenuhipanggilan-Mu Ya Allah, untuk menunaikan umrah." 

Apabila ini telah dilakukan, maka berarti Anda telah berkeadaan ihram, yakni telah berniat melakukan manasik haji dan diharamkan atas Anda hal-hal yang pernah kami terangkan dulu pada Bab Hal-Hal Yang Diharamkan Selama Ihram. Artinya, kalau Anda melakukan salah satu dari hal-hal tersebut, maka akibatnya Anda wajib membayar fidyah (denda) yang dulu juga sudah kami terangkan. Dan kalau yang dilakukan berupa persetubuhan, maka hajinya rusak, disamping wajib pula membayar fidyah, seperti yang telah kami terangkan. 

Apabila perjalanan haji dilakukan dengan pesawat terbang, maka sebaiknya ihram dimulai ketika pesawat telah siap, karena khawatir jangan-jangan karena cepatnya, miqat dilewati sebelum sempat berihram, yang akibatnya wajib membayar dam. 

Apabila ihram untuk melakukan manasik telah dilaksanakan, maka Anda disunnatkan mengucapkan:

 اللَّهُمََّ اُحَرِّمُ لَكَ شَعَرِىْوَلَََحْمِىْ وَدَمِى٠ 

Artinya: "Ya Allah, demi Engkau, aku telah mengharamkan rambutku, kulitku, dagingku dan darahku." 

Dan disunnatkan pula membaca talbiyah, khususnya ketika men-daki suatu tanjakan atau menuruni lembah atau bertemu dengan suatu jamaah. Dan talbiyah yang dimaksud ialah bacaan:

 لبَيْلكَ اللَّهُمََّ َلبَيْلكَ ٬لبَيْلكَ لاَشَرِيْكَ لَك لبَيْلكَ اِنَّ الحَمْدَوَالنّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكُ لاَشَريْكَ لَك٠ 

Artinya: "Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, karunia dan kerajaan adalah kepunyaan Mu, dada sekutu bagi-Mu." 

Dalam hal hal tersebut di atas, wanita sama saja dengan laki-laki, hanya saja dia tidak wajib melukar pakaian yang dijahit menyarung, dan tidak perlu bersuara nyaring ketika membaca talbiyah. Dan patut pula kami ingatkan di sini, bahwa wanita wajib membuka wajah dan telapak tangannya, dan sunnah mewarnai kedua telapak tangan dengan inai, sebagaimana telah diterangkan. 

Ketika orang yang telah berihram hampir memasuki kota Mekah, maka ia disunnatkan mandi sebelum memasukinya. Dan yang terbaik mandi di sumur Dzuthuwa, seperti keterangan lalu. 

Selanjutnya., begitu sampai di Mekah, bergegaslah pergi ke Baitullah al-Haram untuk melakukan Thawaf Qudum, manakala telah berniat haji. Sedang kalau niatnya umrah, maka lakukanlah thawaf dengan niat Thawaf Umrah. Dan ketika menyaksikan Ka'bah yang mulia itu, angkatlah kedua tangan Anda sambil bertakbir dan membaca doa berikut:

 اللَّهُمََّ زِدْهذَََ ااْلبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًاوَمَهَابَةًً٠ وَزِِدْمَنْشَرَّفَهُ وَعَظَّمَهُ مِمَنْ حَجَهُ اَوِعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَبِررًا٠ اللَّهُمََّ اَنْتَ السَّلاَمُْ٬َ فَحِيِّنَارَبَّنَابِالسَلاََ مِ٠ 

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah rumah ini semakin terhormat, agung, mulia dan berwibawa, dan jadikanlah orang yang memuliakannya dan mengacungkannya dengan berhaji atau berumrah kepadanya, semakin terhormat, agung, mulia dan bertambah baik. Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Sejahtera, dan dari Engkaulah kesejahteraan, maka berilah kami ya Tuhan kami hidup yang sejahtera. " 

Sesudah itu, berdoalah sesuka hati Anda. Sedang untuk memasuki masjid, disunnatkan melewati pintu Bani Syaibah, karena Nabi SAW dulu masuk dari situ. 

Selanjutnya, majulah ke depan Ka'bah yang mulia itu, dan mulailah thawaf dari sisi Hajar Aswad. Terlebih dahulu salamilah batu hitam itu dengan tangan Anda, atau ciumlah langsung jika dapat, tetapi ini sun- nah hukumnya. Apabila berhasil menciumnya, maka Anda wajib mengangkat kepala Anda, terus mundurlah sedikit ke belakang garis yang setentang dengan sudut bangunan Ka'bah. Tetapi kalau itu semua tidak bisa dilakukan, maka cukuplah dengan mengacungkan tangan ke arah Hajar Aswad dari jauh. 

Kemudian, teruskanlah dengan berkeliling mengitari Ka'bah, dimulai dari Hajar Aswad, sedang Ka'bah senantiasa berada di sebelah kiri Anda. Dan setiap kali sampai ke Hajar Aswad, berarti telah selesai satu kali putaran. Demikian seterusnya Anda lakukan sampai tujuh kali. Karena thawaf itu tujuh kali putaran.

Ketika thawaf, Anda wajib senantiasa menutup aurat dan suci dari hadats dan najis. Jika di tengah-tengah thawaf Anda mengalami hadats, maka bersucilah lalu teruskan thawaf Anda. 

Thawaf wajib dilakukan di luar Ka'bah al-Haram. Jadi, kalau Anda masuk salah satu lorong Hijir Isma'il yaitu tempat yang dikelilingi tembok pendek- lalu keluar dari lorong satunya lagi, itu tidak dihitung satu putaran. Karena Hijir Isma'il termasuk Ka'bah. 

Pada permulaan thawaf disunnahkan membaca:

 بِسْمِ اﷲِوَاﷲُاَكْبَرُ٬اللَّهُمََّاِيْمَانًابِكَ٬وَتَصْدِيقًابِكِتاَبِكَ٬ وَوَفَاءَبِعَهْدِكَ٬وَاتِباعًاِسُنَّةِنَبِيَّكَ مُحمّدٍ صَلِّ عَلَى عَلَيْهِ وَسَلَمَ٠ 

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah, f,aku melakukan ini) karena beriman kepadaMu, membenarkan Kitab-Mu, menunaikan janji-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu, Muhammad SA W. " 

Sedang ketika sampai di depan pintu Ka'bah, bacalah:

 اللَّهُمََّ اِنَّ الْبَييَتَ بَيْتُكَ٬وَالْحَرَمَ َرَمَُكَ٬وَالامْنَ اَمَنَكَ٬وَهذَا مَقَامُ الْعاَِِِ ﺋذِبِكَ مِنَ النَّارِ٠ 

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya rumah ini adalah rumah-Mu, dan Tanah Haram ini adalah Tanah Haram-Mu, dan keamanan ini adalah keamanan (dari))-Mu. Dan di sinilah tempat orang yang memohon perlindungan kepadaMu dari neraka. " 

Dan ketika sampai di antara kedua rukun (sudut) Yamani, ucapkanlah doa:

 رَبَنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةًوَفِىاْلاخِرَةِ حَسَنَةََوَقِنَاعَذَابَ النَّار٠ 

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharah kami dari siksa neraka. " 

Selanjutnya, selagi berthawaf boleh berdoa apa saja. 

Dan disunnahkan pula berjalan cepat pada ketiga putaran pertama, apabila thawaf yang dilakukan ini akan dilanjutkan dengan sa'yi: yakni berjalan cepat dengan langkah-langkah pendek, lalu berjalan biasa pada rmpat putaran berikutnya. Dan ketika berjalan cepat itu, hendaklah berdoa:

 اللَّهُمََّ جْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُووْرًاًوَذَََنَْامَغْفُوْرًاوَسَعْيًامشْكُرًا٠ 

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah ini haji yang diterima, dosa yang diampuni dan sa’yi yang dipuji. " 

Dan disunnatkan pula melakukan idhthiba' pada seluruh putaran thawaf yang akan dilanjutkan dengan sa'yi- Dan yang dimaksud idhthiba' ialah berpakaian dengan meletakkan bagian tengah selendang ke bawah pundak kanan, dan pundak kanan ini dibiarkan terbuka, sedang kedua ujung selendang diletakkan di atas pundak kiri. 

Berjalan cepat maupun idhthiba' hanya dilakukan oleh laki-laki, sedang bagi wanita kedua-duanya tidak disunnatkan. 

Dan disunnahkan pula agar thawaf dilakukan dekat dengan Ka'bah, kira-kira tiga langkah jauhnya, kecuali bila hal itu akan mengganggu orang lain, maka lebih baik agak jauh. Ini bagi laki-laki. Adapun bagi wanita, maka disunnatkan ia berthawaf di pinggiran tempat thawaf manakala keadaan penuh-sesak. 

Dan juga disunnatkan menyalami rukun (sudut) Yamani bila mungkin. Dan kalau tidak, maka cukup dengan berisyarat dari jauh. Namun mengenai rukun Yamani ini tidak ada hadits yang menyuruh menciumnya. Hanya, kalaupun dicium itu pun tidak makruh. 

Dalam pada itu patut pula diterangkan, bahwa Ka'bah mempunyai empat sudut (rukun), yaitu rukun yang ada Hajar Aswadnya, dan berikutnya menurut arah thawaf adalah rukun 'Iraqi, kemudian rukun Syami, kemudian rukun Yamani. Rukun Yamani dan rukun yang ada Hajar Aswadnya, kedua-duanya disebut pula dua rukun Yamani (Ruk- nain Yamaniyain). 

Selesai thawaf, lakukanlah shalat sunnah thawaf, dua rakaat, di be-lakang Maqam Ibrahim. Pada rakaat pertama membaca: Qul ya ayyuhal kafi run, dan para rakaat kedua membaca: Qui Huwallahu Ahad. 

Dan sehabis shalat, datanglah untuk mencium Hajar Aswad sekali lagi jika mungkin, atau menyalaminya. Selanjutnya, keluarlah dari pintu Shafa, dan naiklah ke bukit itu untuk memulai sa'yi. Apabila telah naik ke atas bukit, maka ucapkanlah:

 اﷲُاَكْبَراﷲُاَكْبَراﷲُاَكْبَرَوَﷲِالْحَمْدُ٬ﷲاَكْبَرعَلَى مَاهَذَانَ ٬ ولْحَمْدُِﷲِعَلَى مَااَوْلاَنَا ٬لاالَه لااﷲُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَلَ لَهُ٬ لَهُ الْمُلْكُ وََ لَهُ لْحَمْدُيُحْيِْىوَيُمِيْْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُوَهُوَعَلَى كُلِّشَىْءٍقَدِيْرًٌٌ٬لآاِلَهَ اِلاَّ اﷲُ وَحْدَهُ اَنْجََزَ وَعْْدَهُ ٬ وَنَصَرَعَبدَهُ٬وَهَزَمَالاْخْزَابَ وَحْدَهُ٬ لآ اِلَهَ اِلاَّ اﷲُ وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ مُُخْْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهََ الْكَافِرُوْنَ٠ 

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan bagi Allah lah segala puji. Allah Maha Bear, (aku membesarkan Allah) atas petunjuk-Nya kepada kami, dan segala puji bagi Allah atas karunia-Nya kepada kami. Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya pula segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, pada kekuasaan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah Yang Esa. Dia menunaikan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan sendiri musuh-musuh(Nya). Tiada Tuhan selain Allah, dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan ketaatan semata kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir tiada suka.” 

Seterusnya berdoalah apa saja, baik perkara agama maupun dunia. Dan disunnatkan agar dzikir dan doa di atas diulang dua-tiga kali. 

Sesudah itu turunlah dari Shafa, dan berjalan hingga sampai ke tiang hijau, maka berjalanlah cepat sampai dengan tiang hijau berikutnya, lalu berjalan seperti biasa lagi, sehingga sampai ke Marwah. Dan sampai di sini dihitung satu kali putaran. 

Berikutnya, kembalilah dari Marwah menuju Shafa, dan sampai di Mina dihitung satu kali putaran pula. Sedang sa'yi yang diwajibkan ialah tujuh kali putaran. Adapun tentang berjalan cepat, ini hanya disunnatkan bagi laki-laki, sedang bagi wanita tidak, jadi sama seperti hukum berjalan cepat dalam thawaf. 

Ketika melakukan sa'yi. disunnatkan membaca :

 رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمََّا تَعْلَمُ، اِنَّكَ اَنْتََ الاَعَزُّ الاَكْرَمُ٠ 

 Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah, kasihilah dan maafkanlah dosa apapun yang Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Mulia.” 

Dari keterangan lalu diketahuilah, bahwa sa'yi itu wajib dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah. Dan patut pula diperhatikan, bahwa sa'yi itu hanya dilakukan sesudah Thawaf Qudum atau Thawaf Rukun. 

Apabila sa'yi telah selesai dilakukan, maka kalau ihram yang telah dilakukan itu untuk umrah, bercukurlah atau potong rambut, dan berarti telah selesai umrahnya. Tetapi kalau ihram yang telah dilakukan adalah untuk haji, maka belum lagi halal, tapi masih tetap dalam keadaan ihram, dan hari-hari berikutnya tetap tinggal di Mekah, menunggu sampai tanggal 8 Dzulhijjah, yaitu Hari Tarwiyah. 

Apabila Hari Tarwiyah tiba, maka lakukanlah ihram haji bagi yang belum ihram kemudian seluruh jamaah haji berangkat ke Mina untuk bermalam di sana pada malam itu. Berangkat ke Mina pada tanggal 8 ini adalah sunnah, yang bila ditinggalkan tidak membatalkan haji. 

Pagi harinya, yaitu pada tanggal 9 sesudah terbitnya matahari, jamaah haji bertolak dari Mina menuju 'Arafat. Dan sunnahnya, jangan memasuki 'Arafat kecuali sesudah condongnya matahari, bahkan sunnahnya hendaklah tinggal di Namirah sampai masuk waktu Zhuhur, lalu melakukan shalat Zhuhur dan 'Ashar dengan dijama' taqdim. 

Kemudian masukilah 'Arafat dan tinggallah di sana sampai ter-benam matahari. Dan di 'Arafat berdzikirlah dan berdoa apa saja kepada-Nya, dan perbanyaklah tahlil. Wuquf di 'Arafat ini adalah rukun, yang mau tidak mau mesti dilakukan, sebagaimana keterangan di atas. 

Banyak doa-doa yang diriwayatkan orang, yang patut diucapkan pada hari yang agung dan terbesar itu, antara lain:

 اللَّهُمََّ جْعَلْ فِى قَلْبِِى نُوْرًا ٬ وَ فِى سَمْعِِى نُُوْْرًا ٬وَ فِى بَصَرِىْ نُُوْْرًا٬ اللَّهُمََّ اشْرحْْ لِِى صَدْرِىْ وَيََسِِّرْ لِى اَمْرِىْ٠ 

Artinya: "Ya Allah, pasanglah cahaya dalam hatiku, cahaya pada pendengaranku, dan cahaya pada penglihatanku. Ya Allah, lapangkanlah bagiku dadaku, dan mudahkanlah bagiku urusanku. " 

 Dan boleh juga:

 رَبَّّنَا آتِنَا فِى الدُُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِِنَا عَذَابَ النَّارِ ٠ اللَّهُمََّ اِنِّى ظلَمْتُ نََفْْسِِى ظُُلْمًًا كَثِِيْرًًا وَلاَ يََغْفِرُ الذُّنُوْْبَ اِلاَّ اَنْتَ ٠ فَاغْفِرْلِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحََمْنِى اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٠ اللَّهُمََّ انْقُلْْنِى مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ اِلَى عِزِّ الطَّاعَةِ ٠وَاكْفِنِى بِِحَلاَلِكَ عَنْْ حَرَامِِكَ ٬ وَاَعْنِنِىْ بِفَضْلكَ عَمَّنْ سِوَاكَ ٬ وَنَوِّرْ قَلْبِى وَ قََبْرِىْ٬ وَاحْدِنِىْ وَاَعِذْنِى مِِنَ الشَّرِّكُلِّهِ ٬ وَاجْمَعْ لىَ الْخََيْرَ ٬ اللَّهُمََّ اِنِّى اَََسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى٠ 

Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, sedang tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka dari itu, ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih." Ya Allah, pindahkanlah aku dari kemaksiatan yang hina kepada ketaatan yang mulia, dan jadikanlah aku merasa cukup dengan apa yang Engkau halalkan hingga tidak memerlukan apa yang Engkau haramkan, dan jadikanlah aku merasa kaya dengan karunia-Mu hingga tidak memeriakan siapa pun selain Engkau, dan terangilah hatiku dan kuburku, dan tunjukilah, dan lindungilah aku dari segala keburukan, dan himpunlah semua kebaikan bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, jauh dari maksiat, dan kekayaan. " 

Dan boleh juga dengan doa berikut:

 اللَّهُمََّ اِنَّكَ تَرَى مَكانِى ٬ وَتَسْمَعُ كَلاَمِىْ ٬ وَتَعْلَمُ سِرِّى وَعََلاَنِيَتِىْ وَلاَ يَخْفَى عَلَيْكَ شَىْءٌ مِنْ اَمْرِِى ٠ اَنَا الْبَائِسُ الْفَقِيرُ الْمُسْتَغِيْثُ الْمُسْتَجِيْرُ ٬ الْوَاجِلُ الْمُشْفِقُ ٬ الْمُقِرُّ الْمُعْتَرِفُ بِذَنْبِهِ ٬ اَََسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمِسْكِيْنِ ٬ وَاَبْتَهِلُ اِلَيْكَ اِبْتِهَالَ المُذْْنبِ الذَّلِيْلِِ ٬ وَاَدْعُوْكَ دُعَاءَ الخَائِفِ الضَّرِيْرِِ ٠ مَنْ خَشَعَتْ لَكَ رَقَبَتُههُ ٬ وَذَلَّ لَكَ جَسَدُهُ٬ وَفَاضَتْْ لَكَ عَيْنُهُ ٬ وَرَغِمَ لَكَ اَنْفُهُ٠ 

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau melihat tempatku, mendengar perkataanku, mengetahui rahasiaku dan keterusteranganku, dan tidak ada satupun dari urusanku yang tidak jelas bagi-Mu. Aku inilah orang yang sengsara dan papa, orang yang memohon pertolongan dan penyelamatan, orang yang takut dan khawatir, orang yang merasa dan mengakui dosanya. Aku meminta kepada-Mu sebagaimana permintaan orang miskin, dan memohon kepada-Mu sebagaimana permohonan orang yang berdosa dan hina, dan berdoa kepada-Mu sebagaimana doa orang yang takut lagi buta, yaitu orang yang tunduk tengkuknya di hadapan- Mu, hina tubuhnya di hadapan-Mu, banjir air matanya di hadapan-Mu, dan tersuruk hidungnya di hadapanMu. 

Apabila matahari telah terbenam, maka jamaah haji bertolak menuju Muzdalifah. 

Untuk wuquf di 'Arafat, sebenarnya cukup dengan hadir di sana sebentar, asal masih dalam waktu antara tergelincirnya matahari di Hari ‘Arafat sampai fajar Hari Idul Adhha. Jadi, kapan saja berwuquf di antara batas-batas waktu tersebut, cukuplah. Hanya, yang lebih utama wuquf itu dilakukan dengan menggabungkan antara sebagian waktu siang dan sebagian waktu malam. 

Apabila jamaah haji telah sampai ke Muzdalifah, di sana melakukan shalat Maghrib dan 'Isya dengan diqashar dan dijama' ta'khir, dan wajib tetap tinggal di sana sampai lewat tengah malam. Artinya, kalau sudah keluar dari sana sebelum tengah malam, maka wajib membayar dam. Dan Muzdalifah ini disunnatkan memungut batu-batu kecil untuk melempar jumrah, kemudian shalat fajar, lalu berhenti (wuquf) di Masy’aril Haram, yaitu sebuah bukit kecil di batas akhir Muzdalifah. Uri doalah kepada Allah di sana, antara lain sebagai berikut:

 اللَّهُمََّ كَمَا اَوْقَفْتَنَا فِيْهِ وَاَرَيْتَنَا اِيَّاهُ ٬ فَوََقِِّفْنَا لِذِكْرِكَ كَمَا هَدَيْتَنَا ٬ وَاغْفِرْلَنَا وَارحَمْنَا كَمَا وعَدْتَنَا بِقَوْلِكَ وَقَوْلُكَ الْحََقُّ ׃ فَاِذَا اَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوااﷲَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَاِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِِنَ الضّالِّيْنَ ٠ ثُمَّ اَفِيْضُوْامِنْ حَيثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوااﷲَ اِنَّ اﷲَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ٠ 

Artinya: "Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menghentikan kami di sini dan memperlihatkan kepada kami tempat ini, maka berilah kami taufik untuk mengingat Engkau seperti yang Engkau tunjukkan kepada kami, dan ampunilah kami dan kasihilah kami seperti yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan firman-Mu, sedang firman-Mu adalah benar: "Maka, apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, maka berdzikirlah kepada Allah sebagaimana yang Dia tunjukkan kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang banyak ('Arafat), dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " 

Dan disunnahkan agar tetap wuquf di Masy'aril Haram dengan menghadap kiblat sampai terang-benderang, yakni sampai terbitnya cahaya pagi dari timur saat wajah orang kelihatan dengan jelas. Barulah sesudah itu melanjutkan perjalanan supaya sampai di Mina sesudah terbitnya matahari. 

Apabila telah sampai di Mina, maka wajib melempar Jumrah 'Aqabah, yaitu tugu terbesar yang terletak di ujung barat Mina, di mulut jalan menuju Mekah. 

Ketika melempar jumrah, disunnatkan berdiri menghadap kepada-nya, sedang Mina berada di sebelah kanan, dan Mekah di sebelah kiri. Dan sejak itu talbiyah tidak dibaca lagi. Dan disunnatkan pula bertakbir pada tiap-tiap melempar sebutir batu, yaitu mengucapkan:

 اﷲُ اَكْبَرُ اﷲُ اَكْبَرُ اﷲُ اَكْبَرُ اﷲُ اَكْبَرُ ٬ لآ اِلَهَ اِلاَّ اﷲُ وَ اﷲُ اَكْبَرُ وَﷲِ الْحَمْدُ ٠ 

Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan kepunyaan Allah-lah segala puji." 

Disunnatkan agar pelemparan dilakukan dengan tangan kanan, yakni dengan mengangkatnya tinggi-tinggi sampai kelihatan putih ketiaknya. Hanya, bagi wanita tidak disunnatkan mengangkat tangan. Dan batu yang dilemparkan wajib mengenai sasaran. Apabila ada sebutir batu yang tidak mengenainya, maka tidak sah, jadi lemparan yang gagal ini wajib diulangi. 

Sehabis melempar Jumrah 'Aqabah, penyembelihan hadya dilaksanakan bagi yang membawa hadya. Adapun yang dimaksud hadya ialah binatang ternak yang digiring pengibadat haji untuk dikurbankan di Mekah dan Tanah Haram sekitarnya demi mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. 

Sesudah itu mencukur rambut atau memotongnya sebagian. Bagi laki laki lebih baik cukur, sedang bagi wanita potong. Mencukur atau memolong rambut adalah salah satu rukun haji. 

Dengan telah dilakukannya pelemparan Jumrah 'Aqabah dan bercukur, berarti telah melakukan tahallul awal, dan sejak itu menjadi halal baginya hal-hal yang semula diharamkan, seperti mengenakan pakaian dijahit menyarung, memakai minyak wangi dsb. Semua itu tidak haram lagi, selain menggauli isteri. 

Sehabis bercukur, pergilah ke Mekah lalu berthawaf sekeliling Ka'buh tujuh kali putaran, yakni Thawaf Ifadhah yang merupakan salah satu rukun, sehingga haji menjadi tidak sah tanpa itu. 

Selanjutnya melakukan sa'yi, jika sesudah Thawaf Qudum dulu tidak melakukan Thawaf Haji. Apabila seorang pengibadat haji telah melempar Jumrah 'Aqabah, telah bercukur, dan telah melakukan Thawaf ifadhah dan sa'yi, maka berarti menjadi halal baginya semua yang usainya diharamkan karena ihram, hatta menggauli isteri dan akad nikah. hrmalam di Mina adalah wajib, yang mengakibatkan wajib membayar dan jika ditinggalkan. 

Esok harinya, sesudah tergelincirnya matahari dari tengah langit, yakni ketika masuknya waktu Zhuhur, dimulailah waktu melempar lumrah. Di waktu itu lemparlah jumrah pertama dengan tujuh butir batu, demikian pula seterusnya, yaitu jumrah tengah (wustha) dan lumrah terakhir ('aqabah). Dalam melaksanakan pelemparan wajib tertib antara satu jumrah dengan jumrah lainnya. 

Kemudian bermalam lagi di Mina pada malam kedua. Dan esok harinya bila telah masuk waktu Zhuhur, maka masuk pula waktu pelemparan. Maka lemparlah jumrah ula, kemudian jumrah wustha, kemudian jumrah 'aqabah. Dan sesudah pelemparan ini, yakni pelemparan pada hari kedua dari hari-hari Tasyriq, maka diperbolehkan segera kembali ke Mekah, dan dengan demikian selesailah sudah semua amalan-amalan haji. Tetapi dalam hal ini wajib meninggalkan Mina sr belum terbenamnya matahari. Dan apabila matahari terbenam, tetapi belum juga keluar dari Mina, maka wajib bermalam sekali lagi padi malam ketiga. Kemudian esok harinya pada waktu Zhuhur melempm lagi jumrah-jumrah tersebut, dilanjutkan dengan bertolak ke Mekah. 

Nanti, apabila hendak pulang ke tanah air, berthawaflah terlebil dahulu mengelilingi Ka'bah, yaitu Thawaf Wada' yang hukumnya wajib, yakni bila ditinggalkan maka wajib membayar dam, selain bagi wanita yang sedang haid. Bagi wanita haid diperbolehkan meninggalka Mekah tanpa melakukan Thawaf Wada', karena telah gugur kewajibai nya dari dia. Sesudah Thawaf Wada' tidak boleh lagi menangguhku perjalanan. Artinya, kalau sesudah itu masih juga tinggal di Meka maka Thawaf Wada' wajib diulangi. 

Dan disunnatkan ketika itu meminum air Zamzam disertai niat hendak melakukan kebaikan apa saja yang diinginkan. Dan disunnatkan pula ketika minum menghadap kiblat.
no image

Beberapa Hukum Tentang Haji

Wanita yang dimahrami, dia wajib membayar upah kepada mahramnya itu, kalau dia tak mau berangkat dengannya kecuali bila diberi upah, yakni bila mampu membayar upah. Tetapi kalau tidak mampu, maka dia tidak lagi tergolong orang yang mampu menunaikan haji, dan dengan demikian dia tidak wajib melakukannya. 

Penuntun orang buta sama hukumnya dengan mahram bagi wanita. Artinya, kalau orang buta itu tidak mendapat seorang penuntun kecuali bila diupah, maka upah itu pun wajib dia bayar. 

Orang yang tidak bisa melakukan haji sendiri yaitu orang yang lumpuh berkewajiban mengupah orang lain yang bersedia menghajikannya dengan upah yang sepadan. Tetapi kalau yang ada hanya orang yang bersedia menghajikannya dengan upah yang melebihi upah sepadan, maka haji pun tidak wajib lagi. 

Apabila seorang ayah diberi uang oleh anaknya atau orang lain untuk dia bayarkan sebagai upah bagi orang yang akan menghajikannya, maka dia tidak wajib menerima uang itu. Adapun kalau ada orang yang dengan suku rela bersedia menghajikannya, maka dia wajib menerimanya dan mengizinkan. 

Apabila orang-orang yang melakukan haji berwuquf pada tanggal 10, bukan tanggal 9 karena keliru, maka wuquf mereka sah, dan mereka tidak wajib qadha', karena Nabi SAW pernah bersabda:

 يَوْمُ عَرَفةَ اَلْيَوْمُ اَلَّذِى يَعْرِفُ فِيهِ الٔنَّا سُ٬ 

Artinya: “Hari ‘Arafat ialah hari yang dikenal semua orang. " 

Wanita haid boleh meninggalkan Mekah tanpa harus melakukan Thawaf Wada' terlebih dahulu, karena menurut sebuah riwayat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas:

 اَمْرُ الْنَاسَ َنْيَكُوْنَ اخِرُعَهْدِهِمْ بِا لْبَيتِ٬ اِلاَّاَنّهُ قَدْخَففَ عَنِلْمَرْاَةِالحَاءِضِِ٠ 

Artinya: "Nabi telah menyuruh orang-orang, supaya waktu mereka yang terakhir (digunakan untuk berthawaf) di sekeliling Ka'bah, hanya saja beliau benar-benar telah memberi keringanan kepada wanita haid." 

Di samping dilarang berburu, orang yang berhaji juga diharamkan memotong tumbuhan di Tanah Hram, sekalipun tumbuhan yang tidak sengaja ditanam. Dan atas perbuatan itu diwajibkan membayar fidyah (denda): untuk pohon yang besar seekor unta, dan untuk pohon yang kecil seekor kambing, sedang untuk tumbuhan lainnya dibayar harganya. 

Binatang buruan di Madinah juga haram dibunuh, seperti halnya di Tanah Haram (Mekah), hanya saja tidak wajib diganti. 

Apabila anak kecil melakukan haji, maka sah hajinya, tetapi bukan berarti telah menunaikan haji sebagai rukun Islam. Jadi, kalau telah dewasa nanti, dia masih berkewajiban melakukan haji lagi memenuhi rukun Islamnya, manakala dia telah memenuhi syarat-syarat kemampuan.

Tuesday, June 11, 2013

no image

Orang yang Meninggal Dunia Sebelum Haji

Apabila seseorang telah memenuhi syarat diwajibkannya haji atau umrah, tetapi dia tidak juga menunaikannya sampai meninggal dunia, maka dia mati dalam keadaan bermaksiat. Dan dengan demikian wajib ada orang lain yang ditugaskan menghajikan atau mengumrahkan dia, sedang bianyanya diambil dari pokok harta si mayit, dan dianggap sebagai hutang. Oleh karenanya, harta peninggalannya belum boleh di bagi-bagi sebelum seluruh hutang-hutangnya diselesaikan: 

Menurut riwayat al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas RA:

 اَنَّ امْرَةً مِنْ جُهَيْنَةََ جَاءَتْ اِلَى رَسُوْلَ اﷲِ صَلِّ عَلَى عَلَيْهِ وَسَلَمَ فَقَالَتْ ׃ اِنَّ اُمِّىِْ نَذ َرَتْ اَنْ تََحُجََّ اَفَاَحُجَّ عَنهَا ؟ فَقَا ׃ نَعَمْ٬ حُجِّى عَنْهَا ٬ اَرَاَيْتِ لَوْكَا نَ عَلَى اُمُّكِ دَيْنٌَ َكُنْتِ قاضِيَتهُ ؟ فَقَالَتْ نَعَمْ٬قَالَ ׃ اقْضُوْادَيْنَ اﷲِ٬ فَااﷲُ اَحَقُ بالْوَفَاءِ٠ 

Artinya: “Bahwasanya ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: "Sesungguhnya ibuku pernah bernadzar hendak melakukan haji. Bolehkah aku menghajikannya? "Ya, hajikanlah dia", jawab Rasul, "bagaimana pendapatmu, sekiranya ibumu itu mempunyai hutang, apakah kamu melunasinya? "Ya", jawab wanita itu. Maka, Rasul pun bersabda: "Bayarlah piutang Allah. Karena Allah lebih patut dilunasi. " 

Di sini Rasulullah SAW memisalkan haji sebagai hutang yang tidak bisa gugur karena meninggal dunia.
no image

Hukum Tidak Sempat Wukuf di Arafah

Orang yang terhalang atau al-Muhshar, yang dimaksud ialah orang yang tercegah oleh sesuatu sehingga tidak bisa sampai ke Mekah dan menyelesaikan amalan-amalan haji. Jadi, apabila seseorang telah berihram haji atau umrah, kemudian terhalang oleh musuh umpamanya, sehingga tidak bisa sampai ke Mekah, atau tertahan karena jalannya tertutup, maka ia boleh tahallul di tempat terhalang itu. Praktek tahallul di sini ialah dengan menyembelih seekor kambing di tempat terhalang itu dengan niat tahallul, kemudian mencukur kepala atau memotong sebagian rambutnya. 

Allah Ta'ala berfirman :

Artinya: "Jika kamu terkepung, maka (sembelihlah) kurban yang mudah di dapat. Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai di tempat penyembelihannya." (Q.S. al-Baqarah 2:196) 

Ayat ini turun di Hudaibiyah ketika kaum musyrikin menghalangi Nabi SAW dan para sahabatnya datang ke Ka'bah. Di waktu itu Nabi SAW melakukan umrah. Oleh karena itu, beliau terus menyembelih kurban kemudian bercukur, dan berkata kepada sahabat-sahabatnya:

 قُوْمُوْا فَا نَحْرُوْا ثُمَّ ا حْلِقُْوْا٠ 

Artinya : "Bangunlah lalu sembelihlah kurban, kemudian bercukurlah." 

Adapun bila binatang yang akan dijadikan dam tidak ada, sehingga tidak bisa melakukan penyembelihan, maka taksirlah harga kambing lalu berilah makanan seharga itu. Dan kalau tidak bisa memberi makanan, maka berpuasa untuk setiap mudnya sehari. Dengan demikian tahallul terlaksana seketika, tanpa harus menunggu selesainya puasa. 

Ada lagi halangan terhadap penyelesaian haji atau umrah, antara lain ialah tidak diizinkan oleh suami. Maksudnya, apabila seorang wanita telah berihram haji atau umrah tanpa seizin suaminya, baik ibadat yang dia lakukan itu fardhu ataupun sunnah, maka suami boleh menyuruhnya tahallul. Dan apabila suami telah menyuruh begitu, maka wanita itu wajib bertahallul manakala suaminya dalam keadaan halal. Karena bila diteruskan maka akan menyia-nyiakan hak suami. Adapun pelaksanaan tahallul di sini sama saja dengan tahallulnya orang yang terhalang tersebut tadi.. Dan mereka semua masih bekewajiban lagi menunaikan haji kelak. 

Dan barangsiapa tertinggal sehingga tidak sempat melakukan wuquf di ‘Arafat karena suatu udzur atau tanpa udzur, maka dia bertahallul melakukan thawaf dan sa'yi dan bercukur, dan dia berkewajiban pula membayar dam, selain wajib mengqadha' hajinya dengan segera pada tahun depan. Karena menurut riwayat Malik dalam Muwaththa’ dengan isnad shahih:

 َانَّ هَبَارَبْنَ اْلاَسْوَدِجَاءَيَوْمَ الْنّحْرِوَعُمَرُبْنُ اْلخَطَّابِ يَنْحَرُهَدْيَهُ٬ فَقَال ׃ يَااَمِيْرَاْلمُؤْمِيْنُ اَخْطَأَنَاالعَد َدَوَكُنَ نَظُنَّ اَنَّ هَذَااْليَوْمَ يَوْمُ عَرَفَةَ٠ فَقَالَهُ عُمَرُرَضِىَ اﷲُعَنْهُ ׃ اِذْهَبُُْ اِلَىَمَكََّةََفََطُفْ بِلْبَيِْتِ اَنْتَ وَمَنْ ْمَعَكَ٬وَاسْعَوْابَيْنَ الصَّفَاوَالْمَرْوَةَ ٬ وَنْحَرُوْاهَدْيَكُمْ اِنكَ ن َمَعَكُمْ٬ ثُمّ َاحْلِقُوْاْاَوْقَصِّرُوْا٬ ثُمّ ارْجِعُوْا٬ فَاِذَاكَا نَ عَا مُقَا بِلٌ فَحَجُّوْاوَاهْدُوْا٬فَمَنْ لَمْيَجِدْفَصِيَا مُ ثَلاَثَةِ اَيَّا مٍٍ فِى اْلحَجِ وَسَبعَةٍ اِذَارَجَعُ٠ 

Artinya: "Bahwasanya Habbar bin al-Aswad datang pada Hari Nahar ketika Umar bin al-Khaththab menyembelih kurbannya, maka katanya: "Ya Amiral Mu'minin, kami salah hitung, dan kami kira hari ini Hari 'Arafat." Maka kata Umar R A kepadanya: "Pergilah ke Mekah lalu berthawaflah di sekeliling Ka'bah, kamu bersama kawan-kawanmu, dan bersa'yilah antara Shafa dan Marwah, dan sembelihlah kurbanmu jika ada padamu, kemudian cukurlah atau potonglah rambut, sesudah itu pulanglah. Apabila telah tiba tahun depan, berhajilah kamu dan sembelihlah kurban. Dan barangsiapa tidak punya, maka berpuasa tiga hari selagi haji dan tujuh hari bila ia pulang. " 

CATATAN: 

Orang yang melakukan haji atau umrah boleh mempersyaratkan diri, bahwa kalau sewaktu-waktu dia sakit, atau mengalami hal lain se-misalnya, maka berarti dia tahallul. Dengan demikian, bila apa yang dia persyaratkan itu benar-benar terjadi, maka dia boleh bertahallul: 

Menurut riwayat al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah RA dia berkata:

 دَخَلَ رَسُوْلَ اﷲِ صَلِّ عَلَى عَلَيْهِ وَسَلَمَ عَلَىضُبَا عَةَ بِِنْتِ الْزُبَيرْ٬ فَقَال لَهَا ׃ اَرَدْتِ الْحَجَّ ؟ ٬ فَقَالَتْ ׃ وَاﷲِمَا اَجِدُنِىْ اِلاَّوَجِعَة٬ فَقَالَ ׃ حُجِّى وَاشْتَرِطِْى٬وَقُوْلِىْ اَللّهُمَّ مَحَلِّىحَيْثُ حَبَسْتَنِى٠ 

Artinya: "Rasulullah SAW pernah menemui Dhuba'ah binti az-Zubair, maka kata beliau kepadanya: "Apakah kamu hendak berhaji?" Dia jawab: "Demi Allah, aku hanya merasa diriku sakit. " Maka kata Nabi: "Berhajilah dengan mempersyaratkan diri, dan katakan, ya Allah, tempat tahallulku di mana saja Engkau menahan aku.” 

Dalam hal ini bertahallul cukup dengan niat dan bercukur, tanpa wajib membayar dam, kecuali bila telah terlanjur mempersyaratkan tahallul dengan menyembelih kurban.
no image

Adab Ziarah ke Masjid Rasulullah di Madinah

Apabila Anda telah mengetahui sejauh mana pentingnya berziarah kubur dan ke masjid Rasulullah SAW yang mulia, maka ketahuilah sekarang, bahwa apabila seseorang telah menyelesaikan manasik-manasik haji dan 'umrahnya, maka ketika pergi ke kota Rasulullah SAW untuk memperoleh kemuliaan berziarah kepada beliau dan mengunjungi masjidnya, ia hendaknya memperhatikan adab-adab berikut ini: 

Pertama, ketika berangkat ke Madinah al-Munawwarah disunnatkan memantapkan hati untuk berziarah kepada Nabi SAW dan ber-kunjung ke masjidnya, sehingga dicatatlah untuknya pahala kedua-duanya. Dan hendaknya banyak membaca shalawat atas Rasulullah SAW selama perjalanan. 

Kedua, disunnatkan pula mandi menjelang memasuki Madinah bila mungkin dilakukan. Dan kalau tidak, maka sebelum masuk masjid, dan hendaklah mengenakan pakaian yang paling bersih. 

Ketiga, apabila telah sampai ke pintu masjid Rasul SAW, maka masuklah dengan mendahulukan kaki kanan, sambil mengucapkan:

 اَعُْوْبَِِﷲِالْعَظِيْمِ وَبِِِوَ جْهِِِه ِالْكَرِيْمِ وَبِسُلْطَا نِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الْشَيْطَا نِِ الّرَحِيْمُ٬ بِِِسْمِِﷲِ٬وَالْحَمْدٌِﷲِ٬اَللََّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍوَعلَىال مُحَمَّد وَسَلِّمِْ٠ اَللََّهُمَّ اغْفِرلِىْذُنُوْبِى ْوَافْتَحْ لِىْ اَبْوَابَا َرحْمَتِكَ٠ 

 Artinya: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dan kepada Dzat- Nya Yang Maha Mulia, dan kepada kekuasaan-Nya Yang Maha Dahulu, dari syaitan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah, dan segala puji bagi Allah, ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan atas Nabi Muhammad dan atas keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu. " 

Menurut Imam an-Nawawi, dzikir dan doa ini mustahab diucapkan ketika hendak memasuki masjid mana saja. Dan mengenai itu telah diriwayatkan hadits-hadits, baik yang shahih maupun yang tidak. 

Sesudah itu, masuklah ke masjid dan menuju Raudtaah yang mulia, yang terletak antara mimbar dan rumah Nabi SAW, lalu shalatlah Tahiyatal Masjid di sisi mimbar, karena besar kemungkinan di situ dulu merupakan tempat berdiri Rasulullah SAW. 

Keempat, apabila telah melakukan shalat Tahiyatal Masjid di Raudhah, maka datanglah ke kubur Nabi yang mulia, lalu menghadap ke dinding kubur dengan membelakangi kiblat dan menjauh dari bagian kepala kubur kira-kira empat hasta. Berdirilah di sana dengan memandang bagian paling bawah dinding kubur yang ada di hadapan Anda, sedang hati telah dikosongkan dari segala hubungan keduniaan, lalu fikirkanlah betapa keagungan pangkat dan kedudukan orang yang ada di hadapan Anda, selanjutnya ucapkan salam dengan suara lembut:

 الَّسَلاََ مُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اﷲِ٬ الَّسَلاََ مُ عَلَيْكَ يَا نَبِىَّﷲ٬ الَّسَلاََ مُ عَلَيْكَ يَا خَيْرَةَ اﷲِ٬ الَّسَلاََ مُ عَلَيْكَ يَا يَا خَيْرَةَ رَِبّ الْعَا لَمِيْنَ ٬جَزَا كَ اﷲُ يَا رَسُوْلَ اﷲِعَنَّا اَفْضَلَ مَا جَزَى نَبِيًا وَرَسُوْلاًعَنْ اُمََّتِهِ٠َاشْهَدُ اَنْلاََ اِلَهَ الاَّاﷲُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَََاشْهَدُ اَنَّكَ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مِنْ خَلْقِِهِ ٬ وَََاشْهَدُ اَ نََّكَ قَدْبَلَغْتَ الّرَسَا لَةَ٬وَاَدَّيْتَ الاََْمَانَةَََ٬ وَنَصَحْتَ اَلاُمَّةَ٬ وَجَا هَدْتُ فِى اﷲِ حَقَّ جِهَا دِهِ ٠ 

Artinya: "Sejahtera atasmu ya Rasul Allah, sejahtera atasmu ya Nabi Allah, sejahtera atasmu ya kekasih Allah, sejahtera atasmu ya kekasih Tuhan semesta alam, semoga Allah memberi balasan kepadamu ya Rasul Allah, dari kami dengan balasan terbaik yang Dia berikan kepada seorang Nabi dan seorang Rasul dari umatnya. Aku bersaksi, bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah Yang Esa, tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya di antara makhluk-makhluk-Nya. Dan aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalat, menunaikan amanat, menasihati umat dan berjuang dengan sesungguh-sungguhnya dijalan Allah." 

Sesudah itu, berpalinglah sedikit ke sebelah kanan, di mana terletak kubur Sayidina Abu Bakar RA, lalu ucapkanlah:

 الَّسَلاََ مُ عَلَيْكَ يَا اَ بَا بَكْرٍ الّصِِدِّيْقِِ ٠ 

Artinya: "Sejahtera atasmu ya Abu Bakar ash-Shiddiq." 

Kemudian berpaling pula ke sebelah kanan lagi, di mana terletak kubur Sayidina Umar bin al-Khaththab RA, dan ucapkanlah:

 الَّسَلاََ مُ عَلَيْكَ يَا عُمَرَ بْنَ الْخَطَّا بِ٠َ 

Artinya: "Sejahtera atasmu ya Umar bin al-Khaththab." 

Kemudian kembalilah ke tempat semula dan menghadap kiblat, lalu berdoa untuk diri sendiri dan kaum mu'minin dengan doa apa saja. Karena saat itu merupakan saat yang diharapkan doa akan terkabulkan, Insya'allah." 

Kelima, tidak boleh berthawaf sekeliling kubur Nabi SAW. sebagai mana dinyatakan Imam an Nawawi. Dan makruh pula menempelkan tubuh ke dinding kubur, atau mengusap-usap dan menciuminya, seperti yang dilakukan oleh banyak orang-orang bodoh, bahkan yang sopan ialah menjauh dari kubur, sebagaimana orang menjauh dari tubuh beliau SAW ketika berhadapan dengan beliau semasa hidupnya. 

Keenam, Selama tinggal di Madinah al-Munawwarah, sepatutnya mengerjakan shalat seluruhnya di masjid Rasulullah SAW, dan pergilah setiap hari berziarah ke Baqi', dan juga ke kubur parasyuhada' di Uhud, selain mustahab pula hukumnya secara mu'akkad datang ke masjid Quba’. karena Nabi SAW biasa datang ke masjid Quba' setiap hari Sabtu, demikian diriwayatkan dalam ash-Shahihain maupun lainnya.
no image

Dalil Pentingnya Ziarah Kubur dan Masjid

Adapaun mengenai pentingnya ziarah kubur dan ziarah masjid seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAWditunjukkan oleh sabda beliau SAW:

 ﻻَتُشَدّ الِرّحاَ لُ اِﻻَََّ اِلىَ ثَﻼَ ثَةِ مَسَا جِدْ׃الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ٬ وَمَسْجِدِى هٰذَا٬ وَلْمَسْجِدِاﻻَقْصَى٠ 

Artinya: "Tidak boleh (secara khusus) melakukan perjalanan selain ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini dan Masjidil Aqsha. " 

Sedang mengenai mustahabnya berziarah ke kubur Rasulullah SAW dan betapa besar pahalanya, dalilnya ialah ijma' seluruh para sahabat, tabi'in dan para ulama' sesudah mereka, atas berziarah ke kubur beliau SAW, selain ditunjukkan pula oleh berita tentang mustahabnya berziarah kubur pada umumnya, yakni sabda Nabi SAW:

 كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَا رَةِ الْقُوْرِ فََزُوْهَا 

Artinya: "Pernah aku melarang kamu sekalian berziarah kubur, maka berziarah kuburlah kamu (sekarang)." 

Dan juga berdasarkan perbuatan beliau SAW, karena beliau memang sering berziarah ke Baqi’ (kuburan di Madinah). Dan tentu tidak diragukan, bahwa kemustahaban itu bertambah-tambah manakala kubur yang diziarahi adalah kubur Rasulullah SAW, di samping hal itu pun ditunjukkan oleh sabdanya kepada Mu'adz, ketika beliau mengirimnya ke Yaman:

 يَا مُعَاذُ٬ عَسَى اَنْﻻَتَلْقَا نِِى بَعْدَعَا مِىْ هَذَا٬وَلَعَلَّكَ اَنْتَمُرُّ بِمَسجِدِى هَذَاوَقَبْرِىِْ 

Artinya : "Hai Mu'adz, barangkali kamu takkan bertemu denganku lagi sesudah tahunku ini. Tapi mudah-mudahan kamu lewat ke masjidku ini dan kuburku." (H.R. Ahmaddengan sanadshahih) Kita tahu, bahwa kata-kata "la'alla" atau mudah-mudahan di sini berarti meminta dan mengharap.
no image

Dam dam Haji yang Wajib dibayar

Dam-dam yang wajib dibayar dalam haji, berdasarkan keterangan tersebut di atas ada lima jenis dam haji: 

Jenis Pertama: dam berurutan yang telah ditentukan (murattab muqaddar). Dan jenis ini wajib dibayar dikarenakan meninggalkan suatu kewajiban di antara wajib-wajib haji sebagaimana tersebut di atas. Artinya, apabila salah satu dari kewajiban-kewajiban itu ada yang tidak dikerjakan, maka pertama-tama wajib menyembelih seekor kambing yang sah untuk kurban, atau sepertujuh lembu, atau sepertujuh unta. Kalau satu pun dari binatang-binatang itu tidak ada, maka sebagai gantinya wajib berpuasa 10 hari: 3 hari selagi dalam haji dan 7 hari ketika sudah pulang ke rumah. Dan termasuk ke dalam jenis dam ini ialah dam tamattu' dan dam karena tidak melakukan wuquf yang dilakukan sesudah tahallul, di mana ibadatnya kemudian dianggap sebagai 'umrah. 

Jenis Kedua: dam pilihan yang telah ditentukan (mukhayyar muqaddar). Dam jenis ini wajib dibayar karena melakukan sesuatu larangan, seperti memotong rambut, kuku dan lain sebagainya. Orang yang melakukan larangan ini wajib menyembelih seekor kambing, atau berpuasa 3 hari, atau memberi makan 3 sha' (± 7,5 Kg.) gandum atau jelai kepada 6 orang miskin di Tanah Haram, setiap orang 1/2 sha’. Fidyah jenis ini sudah wajib dibayar sekalipun yang terpotong hanya tiga helai rambut atau kuku. 

Jenis Ketiga: dam pilihan yang diperkirakan (mukhayyar mu'addal). Dam jenis ini wajib dibayar karena memotong tumbuhan atau membunuh binatang buruan. Maksudnya, orang yang melakukannya wajib membayar dam, dengan ketentuan apabila binatang yang terbunuh itu sebanding dengan salah satu jenis binatang ternak yang telah kita terangkan di atas, maka wajib menyembelih ternak bandingannya itu di Tanah Haram. Atau boleh juga membeli biji-bijian seharga ternak itu lalu dibagikan kepada orang-orang miskin di Tanah Haram, atau biji-bijian seharga itu diperkirakan menjadi berapa mud, lalu berpuasa untuk setiap mudnya sehari. 

Adapun kalau binatang yang terbunuh itu tidak ada bandingannya, maka boleh memilih antara memberi makan atau berpuasa, kecuali merpati. Untuk merpati, gantinya ialah seekor kambing. 

Jenis Keempat: dan berurutan yang diperkirakan (murattab mu'addal), yaitu dam yang wajib dibayar karena terhalang. Maksudnya, barangsiapa telah berihram haji lalu terhalang untuk menyelesaikannya, maka pertama-tama dia wajib menyembelih seekor kambing di tempat dia terhalang. Kalau tidak bisa, maka memberi makanan yang seharga kambing itu dibagikan kepada orang-orang fakir di situ. Dan kalau ini pun tidak bisa, maka berpuasa untuk setiap mud dari makanan itu sehari. 

Jenis Kelima: dam berurutan yang diperkirakan juga, tetapi ini khusus bagi orang yang bersetubuh. Maksudnya, barangsiapa melakukan persetubuhan sebelum tahallul awal, maka ia wajib menyembelih seekor unta. Kalau tidak bisa, maka wajib menyembelih seekor lembu. Dan kalau tidak bisa, maka wajib menyembelih 7 ekor kambing. Dan kalau itu juga tidak bisa, maka wajib memberi makanan seharga unta kepada orang-orang fakir di Tanah Haram. Dan kalau memberi makanan pun tidak mampu, maka berpuasa untuk setiap mud dari makanan itu sehari. 

Demikianlah, dan selanjutnya perlu diterangkan bahwa penyembelihan ternak maupun memberi makanan hanya sah dilakukan di Tanah Haram. Adapun puasa boleh dilakukan di mana saja, selain 3 hari yang wajib dilakukan selagi dalam haji tersebut di atas. 

Adapun yang dimaksud berurutan dalam soal pembayaran dam ini ialah, tidak melakukan cara kedua kecuali karena tidak mampu melakukan cara yang pertama. Dan kebalikannya ialah pilihan, yang maksudnya terserah akan pilih melakukan yang mana. 

Sedang yang dimaksud muqaddar (yang telah ditentukan) di sini ialah, bahwa Syari'at telah menentukan pengganti dari apa yang tak mampu dilakukan, baik secara berurutan maupun pilihan. Dan kebalikannya ialah mu'addal (yang diperkirakan), yang maksudnya disuruh memperkirakan harganya, dengan cara menanyakannya kepada orang lain. 

Syaikh al-'Amrithi Syarafuddin Yahya telah menyimpulkan pembicaraan mengenai dam-dam ini dalam nazhamnya, yakni Nazham al- Ghayatu wat-Taqrib, katanya: 

Artinya:

 وَسَائِرُ الدِّمَاءِ فِى الاِحْرَامِ مَحْصُورَةٌ فِى خَمْسَةٍ اَقْسَامِ 

“Semua dam dalam ihram ringkasnya ada lima macam:

 فَالاَوَّلُ الْمُرَتَّبُ الْمُقَدَّرُ بِتَرْك اَمْرٍوَ ا جِبٍ وَ يُجْبَََرُ 

Yang pertama dam berurutan yang telah ditentukan, karena meninggalkan suatu perkara wajib, dan harus dibayar:

 بِِِِِِِذَ َ بْجِ شَاةٍاوَّﻻًوَصَامَا لِلْعَجْزِعَنْهُ عَشْرَةًاَيَامًا 

Pertama-tama dengan menyembelih seekor kambing. Dan kalau tidak bisa itu, maka berpuasa sepuluh hari:

 ثَلاََََََََََثَةًًًًًً ﻔﻰِالْحَجِّ ﻔﻰِمَحَلِهِ وَ سَبْعَةًًًًًًاِذَااَتَىﻻِﻫلِهِ 

tiga hari selagi dalam haji, yakni di tempat melakukan haji, dan tujuh hari bila telah kembali kepada keluarganya.

 ثَانىِ الدِِّمَامُخْيَرٌمُقَدَّرُ ِبِنَحْوِحَلْقِِِِِ مِنْ اُمُوْرٍتَحْظَرُ 

Yang kedua ialah dam pilihan yang telah ditentukan, karena melakukan hal-hal terlarang, seperti mencukur rambut,

 فَا لشَّا ةٌاثَلَاثََةًاََيَّامِ يَصُوْمُهَااَوْآصُععٍٍ طَََعَامِ 

maka (boleh pilih menyembelih) kambing, atau berpuasa tiga hari, atau memberi makanan beberapa sha',

 لِسِتَّةٍهُمْ مِنْ مََسَاكِيْنِ الْحَرَمْ لِكُلِِشَخْصٍٍ نِصْفُ صَاعٍ مِنْهُ تَمْ 

kepada enam orang dari kaum miskin Tanah Haram, untuk setiap orang setengah sha'penuh makanan.

 ثَالِثُهَامُخَيَّرٌمُعَدَّلُ بِقَطْعِ نَبْتِ اَوْبِصَيْدٍ يُقْتَلُ 

Yang ketiga dam pilihan yang diperkirakan. Ini dibayar karena memotong suatu tumbuhan atau membunuh seekor binatang buruan.

 فَانْ يَكُنْ لِلصَّيْدِ مِثْلٌ فِى النَّعَمْ فَلْيَدْبَجِ الْمِثْلُ ابْتِدَ اءًفِى الْحََرَمْ 

Jika binatang buruan itu ada yang semisalnya di antara binatang-binatang ternak, maka mula-mula hendaklah menyembelih ternak yang semisal itu di Tanah Haram,

 اَوْيَشَْتَرِىْ لِاَهْلِ ذَ لِكَ الْحََرَمْ حَبًا بِقَدْ رِ مَا لَهُ مِنْ الْقِيَمْ 

atau membelikan penduduk Tanah Haram biji-bijian seharga ternak itu,

 اَوْيَعْدِ لُ اْﻻَمْدَادَمِنْهُ صَوْ مًا يَصُوْ مُهُ عَنْ كُلٌِ مُدٍيَوْمًا 

atau mud-mud makanan itu dia ganti dengan puasa, yang dia lakukan untuk tiap-tiap mudnya sehari.

 وَخَيْرُوْافِى الصٌََوْمِ وَالْاِ طْعَامِ فِى ِتْلا َفِ صَيْدٍ حَيْثُ مِْلُهُ تَفِْى 

Dan, mereka (boleh) memilih, akan berpuasa atau memberi makanan, atas membunuh seekor binatang buruan yang tidak ada semisalnya.

 رَا بِعُهَا مُرَ تَّبٌ مُعدَلُ فَٯَاجِبٌُ بِا الْحَصْرِحَيْثُ يَحْصُلُ 

Yang Keempat ialah dan berurutan yang diperkirakan. Ini wajib (ditunaikan) karena terhalang di tempat peristiwa itu terjadi.

 دَمٌ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعُ فلْيُطْعِمِ قُوْتَايُرَى بِقَدِْر قِِِِْيمَةِاَلدَّمِ 

yaitu menyembelih seekor kambing. Lalu, kalau tidak bisa, maka memberi makanan pokok yang dikenal seharga kambing itu.

 َوصَا مَ عِِنْدَالْعَجْزِعَنْ اِطْعَامِِ مَيَعْدِلُ اْﻻَمْدَادَمِنْ ايَّا مِِ 

Dan kalau tidak mampu memberi makanan, maka berpuasa selama hari- hari sebanyak mud-mud makanan itu.

 خَا مِسُهَا يَْتَصُّ بِالْمُجَامِعِ مُرَتَّبٍ مُعَدَّلٍٍ كَََا الَّرَابِعِ 

ng kelima khusus bagi orang yang bersetubuh: dam berurutan yang diperkirakan, seperti halnya yang keempat.

 لَكِنْ هُنََ الْبَعْييْرُقَبْلُ مُعْتَبَرْ وَبَعْدُ هُ لِلْعَجْزِرَأسٌ مِنْ بَقَرْ 

Tetapi di sini, untalah tebusan yang diterima. Dan sesudah itu -karena tidak mampu-seekor lembu.

 وَعِندَعَجْزِعَنْهُ سسَبْعٌ مِنْ غَنَمْ ثُمَّ الطَّعَا مُ يَشْتَرِےْ عِنْدَالْعَدَمْ 

Dan kalau tidak mampu juga, maka tujuh ekor kambing. Kemudian kalau tidak ada, maka membeli makanan.

 بِقِيْمةِا ْلبَعيْرِ حَيْثُمَا وَجَدْ وَعَدْ لُهُ مِنَ الِصّيَا مِ اِنْفَقُدْ 

seharga unta, jika makanan itu ada. Tapi jika tidak ada, maka gantinya ialah puasa.

 وَلَمْ َيَجِِبْْ كَوْنََ الصِّيَامِ ِفِى الْحَرَمْ وَالْهَدْىُ وَاﻻِطْعَا مُ فِيْهِ مُلْتَزَمْ 

Dan pelaksanaan puasa tidaklah wajib di Tanah Haram, sedang penyembelihan ternak dan pemberian makanan wajib (dilakukan) disana."
no image

Sebab-sebab Haji Tidak Sempurna

Ketahuilah, bahwa haji yang tidak sempurna atau ketidaksempurnaan haji adalah dikarenakan sebab-sebab berikut: 
  • Meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, yang oleh Syari' orang yang berhaji diizinkan meninggalkannya, dengan syarat membayar fidyah. 
  • Meninggalkan salah satu dari lima kewajiban yang tersebut di atas. 
  • Meninggalkan salah satu di antara rukun-rukun haji, baik itu wuquf di 'Arafat ataupun rukun-rukun lainnya. Dan masing-masing ada hukumnya sendiri-sendiri. 
  • Melakukan salah satu dari hal-hal yang diharamkan selama ihram sebagaimana tersebut di atas. 
Ketidaksempurnaan haji adalah dikarenakan salah satu di antara keempat sebab di atas, yakni sebab-sebab yang berbeda-beda akibatnya. Di antaranya ada yang bisa diganti dengan fidyah, dan ada pula yang lidak bisa diganti dengan apa saja. Marilah kita terangkan masing- masing secara lebih rinci. 

SEBAB PERTAMA: 

Ialah meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, tetapi Syari' mengizinkan orang yang berhaji meninggalkannya, dengan syarat membayar fidyah. Sebab ini hanyalah berupa melakukan haji secara tamattu' atau qiran. Karena yang diperintahkan pada mulanya adalah agar melakukan haji secara ifrad, demikian dalam Madzhab Syafi'i. Namun demikian ndaklah mengapa melakukan ihram haji secara tamattu' atau qiran, ilcngan syarat sebagai gantinya hendaklah menyembelih hadyu, yaitu seekor kambing yang sah untuk kurban. Kalau tidak ada kambing atau harganya, maka boleh diganti dengan berpuasa tiga hari selagi masih melakukan haji dan tujuh hari apabila telah pulang ke negeri masing- masing, berdasarkan firman Allah Ta'ala: 

Artinya: "Maka, bagi orang yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji, (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang.'' (Q. S. al-Baqarah 2:196) 

Apabila selama masa haji puasa yang tiga hari itu belum dilaksanakan, maka dilaksanakan bila telah pulang ke tengah keluarga, dengan dipisahkan dari yang tujuh hari selama empat hari ditambah lamanya masa perjalanan pulang ke rumah. 

SEBAB KEDUA: 

Ialah meninggalkan salah satu kewajiban tersebut di atas, yakni tidak berihram dari miqat, atau tidak melontar jumrah, atau tidak bermalam di Muzdalifah atau di Mina, atau tidak melakukan Thawaf Wada’. 

Barangsiapa meninggalkan salah satu di antara kewajiban-kewajiban tersebut, maka berarti ia mengurangi kesempurnaan hajinya. Dan dengan demikian ia wajib mengganti kekurangan itu dengan menyembelih seekor kambing, bila itu mudah ia lakukan. Tapi kalau tidak mungkin, maka menurut pendapat yang lebih benar, ia wajib berpuasa tiga hari selama masa haji dan tujuh hari bila telah kembali kepada keluarganya. 

SEBAB KETIGA: 

Ialah meninggalkan salah satu rukun haji, baik itu meninggalkan wuquf di 'Arafat ataupun salah satu dari rukun-rukun lainnya. 

Pertama, bila yang ditinggalkan adalah wuquf di 'Arafat, maka akibatnya wajib melakukan hal-hal berikut: 
  • Membayar dam seperti halnya dam tamattu', atau kalau tidak bisa, berpuasa. 
  • Tahallul umrah, yakni melakukan amalan-amalan umrah kemudian tahallul. Namun demikian amalan-amalan itu tidak dihitung sebagai umrah yang menggugurkan umrah wajib. 
  • Melakukan qadha' atas haji ini, baik haji yang dilakukan ini merupakan haji fardhu ataupun haji sunnah. Dan qadha' ini wajib dilakukan segera, maksudnya pada tahun berikutnya, dan tidak boleh ditangguhkan kecuali karena udzur. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan, apakah wuquf di 'Arafah yang ditinggalkan itu karena udzur, seperti tidur, lupa dan lain sebagainya, atau tanpa udzur. 
Dan kedua, bila yang ditinggalkan itu salah satu dari rukun-rukun lainnya, seperti tidak melakukan Thawaf Ifadhah dan sa'yi, atau tidak bercukur. Untuk rukun-rukun ini tidak ada gantinya, dan kekurangan ini hanya bisa ditambal dengan melakukan yang tertinggal itu sendiri. Maksudnya, haji itu tetap menuntut pelakunya sehingga diselesaikan dengan sempurna, sekalipun waktunya telah lewat cukup lama. 

SEBAB KEEMPAT: 

Ialah melakukan salah satu dari hal-hal yang diharamkan selama ihram seperti yang telah diterangkan di atas, seperti mencukur rambut, atau menggunting kuku, atau mengenakan pakaian yang berjahit menyarang dst. Bagi orang yang melakukan salah satu dari hal-hal yang diharamkan ini, wajiblah ia menggantikan kekurangan yang diakibatkan olehnya sebagai berikut: 

Pertama, bila perkara haram yang dilakukannya itu berupa mencukur rambut, atau menggunting kuku, atau mengenakan pakaian yang berjahit menyarung, atau memakai minyak wangi, atau menutup kepala, atau bersentuh-sentuhan dengan wanita yang tidak sampai melakukan persetubuhan, maka wajib melakukan salah satu dari hal-hal berikut: 
  • Menyembelih seekor kambing yang sah untuk kurban. 
  • Memberi makan enam orang miskin, untuk masing-masing seukuran setengah sha' (± 1,25 Kg) 
  • Puasa tiga hari. 
Di antara ketiga hal tersebut boleh dipilih salah satunya, dengan syarat yang terpotong tidak kurang dari tiga helai rambut atau tiga helai kuku. Tapi kalau kurang dari itu, maka untuk setiap helai rambut atau kuku satu mud (± 6 ons) makanan, dan untuk dua helai rambut atau kuku dua mud. 

Kedua, apabila perkara haram yang dilakukan berupa persetubuh-an, maka wajib menyembelih seekor unta. Kalau tidak ada, maka taksirlah harga unta itu (menurut harga di Mekah) lalu belilah makanan seharga itu untuk disedekahkan. Dan kalau tidak mempunyai uang untuk embeli makanan seharga itu, maka perkirakanlah makanan yang seharga itu menjadi berapa mud satu mud adalah sepenuh dua telapak tangan lalu berpuasalah untuk setiap mudnya satu hari. 

Ketiga, apabila perkara haram yang dilakukan berupa berburu binatang, maka: 
1. Jika binatang yang terbunuh itu ada bandingannya di antara binatang-binatang ternak (unta, lembu dan kambing), maka wajib menyembelih yang sebanding dengannya. Umpamanya, membunuh burung unta, maka wajib menyembelih unta, membunuh banteng, wajib menyembelih lembu, dan membunuh kijang, wajib menyembelih kambing, dst. 

2. Apabila binatang yang terbunuh itu tidak ada berita mengenainya dari para sahabat Nabi, dan tidak diketahui bandingannya di antara binatang-binatang ternak tersebut, maka mengenai itu wajib diserahkan kepada keputusan dua orang adil dari para cendikiawan, karena Allah Ta'ala berfirman: 

Artinya: "Janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang adil di antara kamu." (Q.S. al-Ma'idah 5:95) 

3. Adapun bila binatang yang terbunuh itu tidak ada bandingnya, maka wajib diperkirakan harganya lalu bersedekahlah seharga itu kepada para fakir. Untuk memperkirakn harga, wajib mendapat keputusan dua orang adil dari para cendekiawan. 

4. Di antara binatang-binatang itu ada yang dikecualikan, yaitu merpati atau binatang-binatang lain semisalnya yang terbunuh. Untuk seekor merpati gantinya ialah seekor domba atau kambing, demiki-an diberitakan dari para sahabat Nabi semoga Allah meredhai mereka-. Dan yang benar ialah, bahwa sandaran mereka dalam hal ini adalah ketetapan (tauqif) dari Rasulullah SAW, dan itulah dasar pertama dari fidyah (denda) dari membunuh binatang buruan. Dan selanjutnya, jika binatang yang terbunuh itu ada bandingannya, maka untuk balasannya boleh pilih, apakah menyembelih ternak semisalnya sebagaimana tersebut di atas lalu menyedekahkannya khusus kepada orang-orang fakir Tanah Haram, atau ternak yang semisal itu ditentukan harganya lalu bersedekahlah makanan se-harga itu kepada mereka, atau boleh juga makanan seharga itu di perkirakan menjadi berapa mud, lalu berpuasa untuk setiap mud nya sehari. Adapun dalilnya ialah firman Allah Ta'ala: 

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang adil di antara kamu sebagai hadya yang dibawa sampai ke Ka 'bah atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan yang diberikan itu." (Q.S. al-Ma 'idah 5:95) 

Adapun jika yang terbunuh itu binatang yang tidak ada ban-dingannya, maka mintalah keputusan mengenai harganya kepada dua orang adil yang pandai, lalu bersedekahlah makanan seharga itu, atau boleh juga makanan itu diperkirakan menjadi berapa mud, lalu berpuasa untuk setiap mudnya sehari. 

Dari keterangan di atas kiranya jelas bagi Anda, bahwa fidyah atas meninggalkan perkara wajib adalah merupakan denda yang wajib dilaksanakan secara berurutan: 

Pertama-tama menyembelih binatang ternak, kalau tidak mampu boleh diganti dengan sedekah, lalu kalau yang ini pun tidak mampu, maka boleh diganti dengan puasa. 

Sedang fidyah atas melakukan perkara haram adalah merupakan denda pilihan: Kalau mau, sembelihlah binatang ternak, atau boleh juga memberi makan atau berpuasa, sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas. Dan Allah jualah yang lebih tahu. 

Dalam pada itu, patut pula kami terangkan di sini bahwa udhhiyah (kurban) itu sunnah hukumnya bagi orang yang sedang menunaikan haji, seperti juga bagi yang lain. Adapun bagi yang sedang berhaji, waktunya sesudah melontar jumrah 'Aqabah sampai berakhirnya hari Tasyriq.