Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Fiqih. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Fiqih. Show all posts

Tuesday, June 3, 2014

no image

Bank Syariah Sebagai Solusi Anti Riba

Bunga bank adalah merupakan riba sebagaimana penjelasan tentang pendapat mengenai bunga bank, solusinya adalah melalui (bank syariah) perbankan syariah. Bagaimana prinsip dari pebankan syariah yang sesuai dengan ajaran dan syariah islam yang benar? Apa prinsip bank syariah? Apa saja produk bank syariah? Apa saja perbedaan bank syariah dengan bank konvensional?

Pengertian dari sistem pebankan syariah (bank syariah) adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan prinsip ajaran atau syariat islam. 

Prinsip bank syariah

Prinsip-prinsip yang harus ada dan dianut dalam sistem perbankan syariah harus memuat antara lain :
  • Tidak diperbolehkan adanya bunga pinjaman
  • Dana nasabah digunakan untuk investasi atau modal usaha.
  • Pemberi dana dalam hal ini adalah pihak bank syariah harus berbagi keuntungan dan kerugian dalam usaha nasabah yang meminjam dana.
  • Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak dilarang atau diharamkan oleh islam. Suatu contoh usaha yang dilarang misalnya usaha minuman keras yang diharamkan. Oleh sebab itu usaha semacam itu tidak boleh didanai oleh bank syariah.
  • Tidak diperkenankan adanya unsur yang disebut garar (spekulasi, ketidakpastian). Oleh sebab itu kedua belah pihak harus mengerti dan mengetahui dengan baik hasil yang akan diperoleh dari adanya transaksi.
Bagaimana dengan sisa hasil usaha bank syariah?

Nasabah yang menabung dalam hal ini adalah menyimpan uangnya di bank syariah mendapatkan bagi hasil, bukan bunga bank. Dana yang disimpan oleh nasabah diperhitungkan sebagai investasi. Bagi hasil yang diperoleh oleh penyimpan di bank syariah tergantung pada keuntungan yang diperoleh dari investasi dana yang disimpan di bank syariah. Apabila invenstasinya di bank syariah menghasilkan keuntungan yang besar, maka bagi hasil yang diperoleh nasabah dari bank syariah tersebut juga besar. Dan juga sebaliknya, apabila mengalami kerugian, maka nasabah bank syariah harus ikut menanggung kerugian.

Apa saja produk bank syariah?
Beberapa produk yang ada pada bank syariah dewasa ini antara lain adalah :

1. Produk Jasa penghimpun dana, produk yang dilaksanakan bank syariah terkait melayani jasa penghimpun dana antara lain :
  • Jasa penitipan dana. Jasa penitipan dana disebut wadiah adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil dana yang ia titipkan sewaktu-waktu. Dengan sistem yang disebut wadiah ini, maka bank syariah tidak berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah yang menitipkan dananya pada bank syariah.
  • Jasa deposito mudarabah, adalah jasa bank syariah dimana nasabah bank syariah memperoleh pelayanan jasa dapat menyimpan dananya di bank syariah dalam kurun waktu tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah bank syariah akan dibagikan antara bank syariah dan nasabah bank syariah dengan nisbah bagi hasil tertentu sesuai dengan kesepakatan atau akad.
2. Jasa penyaluran dana atau pembiayaan, jasa bank syariah jenis ini meliputi :
  • Produk jasa Musyarakah.  Musyarakah adalah sebuah konsep usaha dengan model kerjasama atau disebut juga dengan istilah model partnership/kemitraan. Pada model ini, baik keuntungan dan kerugian akan dibagi sesuai dengan kesepakatan antara nasabah dan bank syariah. Pengolahan dilakukan secara bersama antara pihak bank syariah dan pengusaha. Berbeda dengan produk jasa mudarabah, dimana pengelolaan dilakukan sepenuhnya oleh pengusaha.
  • Produk jasa Mudarabah. Mudarabah adalah perjanjian antara penyedia modal dalam hal ini adalah bank syariah dan pengusaha sebagai nasabah. Setiap keuntungan yang diperoleh akan dibagi menurut perjanjian yang telah disepakati bersama sebelumnya. Pada mudarabah, resiko kerugian akan ditanggung penuh oleh pihak bank syariah kecuali kerugian yang disebabkan oleh kesalahan pengelolaan, pihak nasabah bank syariah seperti penyelewengan, penyalahgunaan dan kecurangan.
Pelopor Bank syariah di indonesia

Pelopor bank syariah di indonesia adalah Bank Muamalat Indonesia. Keberadaan bank syariah di indonesia diatur dalam Undang-undang No. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah.

Perbedaan bank syariah dan konvensional

Untuk lebih memahami dan mengerti yang manakah bank syariah dan yang manakah bank konvensional, berikut ini adalah perbedaan bank konvensional dan bank syariah :

Ciri dan karakteristik Bank Syariah
  • Berdasarkan bagi hasil
  • Dana baru mendapat keuntungan setelah diinvestasikan
  • Dana diinvestasikan pada bidang yang jelas kehalalannya dalam ajaran islam
  • Tidak diperkenankan adanya ketidakpastian atau garar. Berdasarkan kegiatan usaha yang riil atau nyata
  • Besarnya bagi hasil tergantung dari keuntungan investasi. Apabila investasinya untung besar maka bagi hasilnya pun juga besar. Apabila investasi mengalami kerugian, nasabah tidak mendapatkan bagi hasil atau bahkan nasabah bank syariah ikut menanggung kerugian.
  • Prosentase bagi hasil berdasar pada keuntungan yang diperoleh dari investasi dana yang ditabung pada bank syariah
  • Pemberi modal (bank syariah) ikut menanggung baik keuntungan dan kerugian bersama dengan pengusaha (nasabah peminjam)
  • Tidak ada bunga pinjaman, bank dan juga pengusaha berbagi untuk dan rugi
  • Bagi hasil yang jelas kehalalannya
Ciri dan karakteristik Bank Konvensional
  • Berdasarkan bunga
  • Dana nasabah berupa simpanan yang harus dibayarkan bunganya saat jatuh tempo
  • Dana diinvestasikan dalam segala bidang usaha
  • Berdasarkan spekulasi, yang artinya kedua belah pihak tidak mengetahui dengan jelas hasil yang akan didapatkan dari transaksi
  • Besarnya bunga yang diterima nasabah adalah sama, baik investasinya untung maupun rugi.
  • Prosentase bunga tabungan berdasar pada besarnya dana yang ditabung pada bank konvensional
  • Pemberi modal (bank konvensional) tidak ikut menanggung kerugian invenstasi pengusaha (nasabah yang meminjam modal di bank konvensional)
  • Peminjam dana harus membayar bunga pinjaman yang sama tanpa memperdulikan untung atau ruginya investasi
  • Bunga tidak jelas kehalalannya (bahkan ada pendapat dari ulama yang mengharamkannya
Itulah beberapa hal terkait dengan pengertian bank syariah, prinsip, dan juga produk dari bank syariah beserta perbedaan antara Bank syariah dengan bank konvensional. Bank syariah adalah merupakan solusi dalam dunia perbankan yang sesuai dengan syariat dan ajaran islam

Monday, May 28, 2012

no image

Arti dan Definisi Istilah-Istilah dalam Fiqih

Sebelum kita memasuki bab-bab Fiqih dan masalah-masalahnya, ada baiknya kita mengenal beberapa peristilahan Fiqih, yang akan senantiasa kita dapati ketika membicarakan hukum-hukum Fiqih pada setiap bab nanti, yaitu sebagai berikut: 

FARDHU 
Fardhu adalah sesuatu yang secara tegas dituntut oleh syara’ supaya dilaksanakan, yang apabila dilaksanakan maka mendapat pahala, dan bila ditinggalkan maka berdosa. 

Contohnya, ialah puasa. Syari’at Islam menyuruh kita dengan tegas supaya melakukan puasa. 

Firman Allah Ta’ala: Difardhukan atas kamu sekalian berpuasa. (Q.S. Al-Baqarah: 183). 

Maksudnya, apabila kita berpuasa, maka atas puasa itu kita akan memperoleh pahala di surga kelak, sebaliknya apabila kita tidak berpuasa, maka kita akan mendapat hukum di neraka. 

WAJIB 
Dalam madzab as-Syafi’i RH, wajib sama persis dengan fardhu, tidak ada perbedaan sama sekali di antara keduanya, selain dalam masalah haji. 

Dalam masalah haji, wajib ialah amalan yang tidak menentukan sahnya haji. Dengan kata lain, bila amalan itu ditinggalkan maka tidak berarti hajinya itu batal atau tidak sah. Contohnya, melempar jumrah, ihram dari miqat dan wajib-wajib haji lainnya. Jadi, seorang yang beribadah haji bila tidak melakukan wajib-wajib tersebut, maka hajinya tetap sah, sekalipun tidak sempurna. Dan atas ditinggalkannya wajib-wajib tersebut, dia berkewajiban membayar denda (fidyah), yaitu menyembelih kambing. 

Sedang fardhu dalam masalah haji, ialah amalan yang menentukan sahnya haji. Dengan kata lain, apabila amalan itu ditinggalkan maka hajinya batal dan tidak sah. Contohnya ialah, wuquf di ‘Arafah, thawaf ifadhah dan fardhu-fardhu haji lainnya. Jadi, apabila orang tidak menunaikan fardhu-fardhu tersebut, maka hajinya batal. 

FARDHU ‘AIN 
Fardhu ‘ain ialah fardhu yang dituntut secara tegas agar dilaksanakan oleh setiap orang mukallaf, seperti shalat, puasa, dan haji bagi orang yang mampu. Ibadah-ibadah ini wajib dilaksanakan oleh setiap orang mukallaf, orang-perorang, dan tidak cukup dilaksanakan oleh sebahagian orang-orang mukallaf, sedang yang lain tidak. 

FARDHU KIFAYAH 
Ialah fardu yang disuruh laksanakan oleh masyarakat Islam, bukan oleh orang-perorang dari mereka. Maksudnya, apabila telah dilaksanakan oleh sebahagian mereka, maka cukuplah, sedang yang lain-lain tidak berdosa lagi. Adapun bila tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka mereka seluruhnya berdosa dan durhaka. Contohnya, menyelenggarakan dan menyalati mayit. Apabila ada seseorang di antara kaum muslimin meninggal dunia, maka mereka berkewajiban memandikannya, membungkusnya, menyalatinya, kemudian menguburkannya. Apabila pekerjaan ini telah dilaksanakan oleh sebagian kaum muslimin, maka terlaksanalah sudah maksud perintah Allah. Akan tetapi, apabila tidak ada seorang pun yang menunaikannya, maka mereka seluruhnya durhaka dan berdosa, karena tidak menunaikan fardhu kifayahnya. 

RUKUN 
Rukun ialah apa yang wajib kita lakukan, sedang ia merupakan bagian dari pekerjaan yang sebenarnya. Contohnya membaca surat al-Fatihah, ruku’ dan sujud dalam shalat. Semua ini disebut rukun. 

SYARAT 
Yaitu sesuatu yang wajib dilakukan, tetapi tidak termasuk bahagian dari pekerjaan yang sebenarnya, jadi hanya termasuk pendahuluan-pendahuluannya saja. Contohnya ialah wudlu, masuknya waktu shalat, dan menghadap kiblat. Semua ini berada di luar shalat yang sebenarnya, dan merupakan pendahuluan. Namun demikian, untuk sahnya shalat, harus dilakukan. Pekerjaan-pekerjaan ini disebut syarat. 

MANDUB 
Mandub ialah sesuatu yang dituntut oleh syara’ melakukannya, tetapi dengan tuntutan yang tidak tegas, yang dengan demikian akan diperoleh pahala apabila dilakukan, tetapi tidak mengakibatkan dosa apabila ditinggalkan. Contohnya shalat Dhuha, shalat Tahajjud, puasa enam hari pada bulan syawal dan lain-lain. Ibadah-ibadah ini, apabila tidak kita lakukan, maka kita tidak mendapat hukuman atass meninggalkannya. Mandub disebut pula sunnah, mustahab, tathawwu’ dan nafilah. 

MUBAH 
Yakni sesuatu yang dikerjakan ataupun tidak, sama saja. Karena syara’ tidak menyuruh kita meninggalkannya, dan tidak pula menyuruh melakukannya, bahkan memberi kebebasan kepada kita untuk meninggalkannya atau melakukannya. Dan oleh karenanya, apabilaperkara mubah dilakukan ataupun ditinggalkan, maka tidak menyebabkan diperolehnya pahala maupun dosa. 

Contohnya ialah, seperti yang difirmankan Allah Ta’ala: 
Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah. (Q.S. Al-Jumu’ah: 10). 

Maksud ayat ini, bahwa bekerja sesudah melakukan shalat Jum’at adalah mubah. Jadi yang mau bekerja boleh, dan boleh juga tidak. 

HARAM 
Ialah sesuatu yang secara tegas, syara’ menuntut kita meninggalkannya. Dengan demikian, apabila ditinggalkan, dikarenakan patuh kepada perintah Allah, maka akan diperoleh pahala, sedang bila dilakukan maka berdosa. 

Contohnya membunuh. 

Allah Ta’ala berfirman: Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (Q.S. Al-Isra’: 30). 

Contoh lain ialah, mengambil harta orang lain dengan cara tidak benar. 

Allah Ta’ala berfirman: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil. (Q.S. al-Baqarah: 188). 

Jadi, apabila seseorang melakukan sesuatu di antara hal-hal yang diharamkan tersebut di atas, maka ia berdosa dan patut dihukum. Sedang apabila ia meninggalkannya itu dia kan memperoleh pahala. 

Haram disebut pula mahzhur, ma’shiat dan dosa. 

MAKRUH 
Makruh ada dua macam: Makruh Tahrim dan Makruh Tanzih. Makruh tahrim: ialah makruh yang secara tegas kita tuntut oleh syara’ untuk meninggalkannya, akan tetapi tuntutan itu tidak setegas haram. Dengan demikian, apabila makruh jenis ini ditinggalkan, dikarenakan mematuhi perintah Allah Ta’ala, maka akan diperoleh pahala, sedang bila dilakukan maka diancam hukuman, sekalipun tidak seberat hukuman atas melakukan perkara haram. Contohnya, melakukan shalat Sunnah Mutlak di kala terbitnya matahari, atau di kala terbenamnya. Shalat seperti ini adalah Makruh tahrim. 

Adapun makruh tanzih ialah makruh yang secara tidak tegas syara’ menuntut supaya diotinggalkan, yang dengan demikian apabila kita tinggalkan, dikarenakan mematuhi perintah Allah, maka kita mendapat pahala, sedang apabila kita lakukan, kita tidak diancam hukuman. 

Contohnya, berpuasa pada hari ‘Arafah bagi orang yang sedang melakukan haji. Apabila orang itu tidak berpuasa dikarenakan mematuhi perintah agama, maka dia mendapat pahala. Sedang apabila dia berpuasa, maka tidak mendapat hukuman. 

ADA’ (MEMBAYAR TUNAI)
Yaitu melakukan ibadah tepat pada waktunya telah ditentukan oleh syara. Yakni, seperti berpuasa Ramadhan di bulan Ramadhan, dan seperti melakukan shalat Zhuhur tepat pada waktunya yang telah ditentukan oleh syara’. 

QADHA’ (MEMBAYAR UTANG) 
Maksudnya, melakukan yang diwajibkan di luar waktunya yang telah ditentukan oleh syara’. Yaitu, seperti orang yang berpuasa Ramadhan pada selain bulan Ramadhan, karena pada bulan itu dia terlanjur tidak melakukannya; atau melakukan shalat zhuhur pada selain waktunya yang telah ditentukan oleh syara’, karena telah terlewat. 

Qadha’ wajib hukumnya, baik terlewatnya ibadah itu karena uzur ataupun tanpa uzur. Perbedaannya, bahwa terlewatnya ibadah tanpa uzur mengakibatkan dosa, sedang terlewatnya karena uzur, tidak mengakibatkan dosa. 

Allah Ta’ala berfirman: Maka barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Q.S. al-Baqarah: 185). 

Maksudnya, barangsiapa berbuka puasa dikarenakan adanya suatu halangan, seperti sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka wajiblah ia mengqadha’ puasa yang telah dia lewatkan, sesudah bulan Ramadhan berlalu. 

I’ADAH (MENGULANG) 
 Yang dimaksud mengulang di sini ialah, melakukan sekali lagi ibadah, masih dalam waktunya, dikarenakan mengharap diperolehnya tambahan keutamaan. Yaitu, seperti orang yang melakukan shalat Zhuhur sendirian, kemudian menyaksikan jama’ah. Maka, disunnatkanlah baginya mengulangi shalat Zhuhurnya, supaya memperoleh pahala jama’ah.

Saturday, May 26, 2012

no image

Pentingnya Senantiasa Melaksanakan Fiqih Islam

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kaum muslimin agar berpegang teguh pada hukum-hukum Fiqih Islam, dan mewajibkan mereka senantiasa melaksanakannnya dalam segal aspek kegiatan hidup dan pergaulan mereka. 

Dan hukum-hukum dalam Fiqih Islam itu seluruhnya berdasarkan nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedang ijma’ dan qiyas pun pada hakekatnya kembali pula kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Jadi, apabila kaum muslimin mengizinkan ditinggalkannya hukum-hukum dalam Fiqih Islam, berarti mereka mengizinkan ditinggalkannya al-Qur’an dan as-Sunnah, dan dengan demikian berarti mereka tidak lagi melaksanakan agama Islam secara keseluruhan, dan tidak ada lagi gunanya mereka disebut muslim atau mengaku beriman. Karena iman yang sebebnarnya ialah, membenarkan Allah, dan membenarkan apa yang telah Dia turunkan dalam Kitab-Nya dan dalam Sunnah Nabinya SAW. sedang arti Islam yang sebenarnya ialah ta’at dan patuh kepada apa saja yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW dari Tuhannya ‘Azza Wa Jalla, dengan penuh ketundukan dan tanpa terpaksa. 

Hukum-hukum dalam Fiqih Islam bersifat permanen, tidak mengenal perubahan ataupun pergantian, sekalipun zaman berubah dan berganti, dan dengan alasan apapun tidak boleh ditinggalkan. 

Adapun dalil-dalil yang mewajibkan senantiasa melaksanakan Fiqih dan berpegang teguh pada hukum-hukumnya, banyak sekali terdapat dalam al-Kitab maupun as-Sunnah. Dalam al-Kitab kita baca firman Allah SWT: 

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).(Q.S. al-A’raf: 3). 

Dan firman Allah Ta’ala pula: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. An-Nisa 65) 

Dan juga firman Allah Ta’ala: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. (Q.S. Al-Hasyr: 7). 

Dan lagi firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (Q.S. An-Nisa: 105) 

Berdasarkan nash-nash yang menyuruh mengikuti apa yang telah diturunkan oleh Allah Ta’ala, dan agar Rasul SAW dan Sunnahnya dijadikan hakim dalam segala kasus yang timbuk dari pergaulan di antara sesama manusia, dan nash-nash yang melarang menyalahi Allah dan Rasulnya, dianggap telah sesat sejauh-jauhnya. 

Allah Ta’ala berfirman: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. (Q.S. Al-Ahzab: 36) 

Sedang dalam as-Sunnah terdapatlah hadits-hadits yang banyak, di antaranya apa yang telah diriwayatkan oleh al-Bukhari (2797) dan Muslim (1835), dan Abu Hurairah RA, dia berkata: Sabda Rasulullah SAW:

 مَنْ اَطَاعَنِىْ فَقَدْ اَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِىْ فَقَدْ عَصَى اللهَ. 

Barangsiapa taat kepadaku berarti ia taat kepada Allah, dan barangsiapa durhaka kepadaku berarti ai durhaka kepada Allah.

 وَالَّذِىْ نَفْسِىْ بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتََّى يَكُوْنَ هَوَيهُ تَبَعًالِمَا جِئْتُ بِهِ(ذَكَرَهُ اْلاِمَامُ النَّوَوِىُّ فِى مَتْنِ اْلاَرْبَعِيْنَ النَّوَوِيَّةِ:41، وَقاَلَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ) 

Demi Allah yang jiwa ada pada kekuasaan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kamu sekalian sehingga hawa nafsunya tunduk kepada agama yang telah aku bawa. (Hadits ini disebutkan oleh Imam Nawawi dalam matan al-Arba’in An-Nawawiyah: 41, dan dia nyatakan hadits shahih). 

Dan sabda beliau pula:

 عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى(رواه ابوداود 4607 والتّرمذى 2678

Pegang teguhlah olehmu sekalian Sunnahku. (H.R. Abu Dawud: 4607, dan At-Tirmidzi: 2678). 

Dan sabda beliau SAW pula:

 تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا اِنْ اَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تََضِلُّوْا بَعْدِىْ، كِتَابَ للهِ وَسُنَّتِىْ(انظر: مسلم 1218 وابو داود 1905 والموطا 2899

Aku meninggalkan sesuatu padamu, yang apabila kamu mengambilnya, maka kamu takkan sesat: Kitab Allah dan Sunnahku. (Lihat: Muslim: 1218, dan Abu Dawud: 1905, dan al-Muwaththa’: 2 899). 

Dalil-dalil al-Qur’an dan s-Sunnah tersebut di atas cukup tegas dan mewajibkan, agar orang mengikuti hukum-hukum yang telah disyari’atkan Allah ‘Azza Wajalla kepada hamba-hamba-Nya, baik yang terdapat dalam Kitab-Nya maupun yang lewat lidah Nabi-Nya SAW. 

Allah SWT berfirman: Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Q.S. An-Nur: 63).
no image

AlQur'an Sumber Fiqih Islam

Al-Qur’an ialah firman Allah Ta’ala, yang telah Dia turunkan kepada junjungan Kita Nabi Muhammad SAW, untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya yang terang benderang, yaitu firman yang termaktub dalam Mushaf. Al-Qur’an adalah sumber dan rujukan utama bagi hukum-hukum Fiqih Islam. Maka, apabila timbul suatu masalah, sebelum segala sesuatunya, terlebih dahulu kita merujuk kepada kitab Allah ‘Azza Wa Jalla ini, kita cari hukumnya di sana. Jika kita peroleh hukumnya di sana, maka kita ambil, dan tidak perlu kita merujuk kepada yang lain 

Kalau kita bertanya tentang hukum meminum khamar, berjudi, memuja batu-batu dan mengundi nasib dengan panah umpamanya, maka kita merujuk kepada Kitab Allah ‘Azza Wajalla, niscaya kita dapati firman Allah Ta’ala di sana menyatakan: 

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah: 90) 

Dan apabila kita bertanya tentang jual-beli dan riba, maka akan kita dapati hukumnya dalam Kitab Allah ‘Azza Wa Jalla, yang menyatakan: 

.............Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Q.S. al-Baqarah 275). 

Dan juga, apabila kita menanyakan tentang hijab, maka hukumnya kita dapati pada firman Allah Ta’ala: 

Dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya. (Q.S. an-Nur: 31). 

Bi khumurihinna jamak dari khimar, yang artinya kain kudung penutup kepada. 

Juyubihinna jamak dari jaib, yaitu belahan baju dari arah kepada. 

Sedang yang dimaksud menutupkan khimar pada jaib ialah menutup tubuh bagian atas sekalian dengan penutup kepala. 

Dan kita dapati pula hukumnya pada firman Allah Ta’ala: 

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Ahzab: 59). 

Yudnina: hendaklah para wanita mengulurkan dan menutupkan pada wajah dan leher mereka. 

Jalabibihinna, jamak dari jilbab, yaitu baju kurung yang menutupi seluruh tubuh, bagian atas maupun bawah. 

Adna: lebih dekat. Maksudnya, agar lebih mudah dibedakan antara wanita terhormat yang memelihara diri daripada yang tidak. 

Fala yu’dzaina: dengan demikian mereka tidak disakiti dengan diganggu. 

Demikianlah, al-Qur’anul Karim merupakan sumber utama dari hukum-hukum dalam Fiqih Islam. Namun demikian, al-Quranul Karim dengan ayat-ayatnya tidak bermaksud menerangkan berbagai masalah serinci-rincinya dan menjelaskan hukum-hukumnya dengan memberi nash atas masing-masing. Hanya akidah-akidah sajalah yang oleh al-Quranul Karim dinyatakan nashnya secara rinci. Sedang soal ibadat dan mu’amalat hanya diberikan garis-garis bagi kehidupan kaum muslimin, sedang rinciannya dia serahkan kepada Sunnah Nabi untuk menjelaskannya. Contohnya, al-Qur’an menyuruh shalat, namun begitu tidak menjelaskan cara-caranya maupun bilangan rakaat-rakaatnya. 

Al-Qur’an menyuruh pula zakat, tetapi ia tidak menjelaskan berapa ukurannya, berapa nisabnya dan harta apa saja yang wajib dizakati. Dan al-Qur’an menyuruh pula menunaikan akad-akad, namuan demikian, ia tidak menerangkan mana akad-akad yang sah, yang wajib ditunaikan itu, dan banyak lagi masalah-masalah yang lainnya, 

Oleh sebab itu, al-Qur’an erat hubungannya dengan Sunnah nabi yang bertugas menerangkan garis-garis umum tersebut, dan menjelaskan masalah-masalah global yang ada dalam al-Qur’an.
no image

Sumber Sumber Fiqih Islam

Telah kami katakan, bahwa Fiqih Islam itu berupa himpunan hukum-hukum syari’at yang diperintahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya supaya dilaksanakan. Dan hukum-hukum ini seluruhnya berpangkal kepada empat sumber sebagai berikut, yaitu:
  1. al-Qur’anul Karim
  2. as-Sunnah asy-Syarifah
  3. Ijma’ 
  4. Qiyas.

Tuesday, May 1, 2012

no image

Pengertian As-Sunnah Asy-Syarifah Sumber Fiqih Islam

As-sunnah ialah segala yang diberitakan orang dari nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan beliau. Contoh dari as-Sunnah yang berupa perkataan, ialah berita yang pernah dikeluarkan oleh al-Bukhari (48) dan Muslim (64) dari Nabi, beliau bersabda: 

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ، وَقِتَاَلُهُ كُفْرٌ 

Mencela orang Islam adalah Fasiq dan membunuhnya adalah kafir.

 مَاكاَنَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى بَيْتِهِ؟ قَاَلَتْ كاَنَ يَكُوْنُ فِى مِهْنَةِ اَهْلِهِ، فَاِذَاحَضَرَةِ الصَّلاَةُ قاَمَ اِلَيْهَا. 

Apakah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah SAW di rumahnya? Maka jawab ‘Aisyah: “Beliau senantiasa membantu keluarganya. Dan apabila waktu shalat tiba maka beliau pun melakukannya.” 

Mihnati ahlihi: membantu keluarganya dalam pekerjaan yang mereka lakukan. 

Adapun contoh persetujuan nabi, ialah apa yang pernah diriwayatkan oleh Abu Daud (1267), bahwa Nabi SAW melihat seorang lelaki melakukan shalat dua rakaat sesudah shalat subuh. Maka beliau bersabda; “Shalat subuh itu hanya dua rakaat.” Laki-laki itu menjawab: “Sesungguhnya aku belum melakukan shalat dua rakaat sebelum shalat subuh yang dua rakaat itu. Dan sekarang inilah aku melakukannya.” Melihat itu Rasulullah SAW diam saja. Dan diamnya itu dianggap sebagai persetujuan beliau atas dibolehkannya shalat Sunnah Qabliyah dilakukan sesudah shalat fardlu, bagi orang yang tidak sempat melakukannya sebelumnya. 

Kedudukan As-Sunnah

Dalam kedudukannya sebagai rujukan hukum, as-Sunnah menempati tempat kedua sesudah al-Qur’anul Karim. Maksudnya, pertama-tama kita harus merujuk kep[ada al-Qur’an. Dan jika dalam al-Qur’an tidak kita dapati hukum, barulah kita merujuk kepada as-Sunnah. Apabila hukum itu kia dapati di sana, maka kita laksanakan seperti halnya bila kita dapati hukum itu dalam al-Qur’anul Karim, dengan syarat as-Sunnah itu benar-benar datang dari Rasulullah SAW dengan sanad yang shahih. 

Tugas As-Sunnah

Tugas as-Sunnah tak lain adalah menjelaskan dan menerangkan hal-hal yang telah ada dalam al-Qur’anul Karim. Karena al-Qur’an – sebagaimana telah kita katakan – menetapkan kewajiban shalat secara garis besar saja, maka datanglah as-Sunnah menerangkan secara rinci cara-cara shalat, baik yang berupa ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan. Telah diriwayatkan secara sah dari 

Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: 

صَلُّوْا كَمَا رَاَيْتُمُوْنِىْ اُصَلِّى(رواه البخارى 605

Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku melakukan shalat. (H.R. al-Bukhari: 605) 

Begitu pula as-Sunnah telah menjelaskan tentang amalan-amalan dan manasik haji. Rasulullah SAW bersabda:

 خُذُوْا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ(رواه البخارى 

Ambillah dariku manasik hajimu. (H.R. al-Bukhari). 

Dan telah dijelaskan pula oleh as-Sunnah akad-akad yang diperbolehkan dan akad-akad yang diharamkan dalam mu’amalat dan lain-lain. 

Selain dari itu, as-Sunnah mensyari’atkan pula beberapa hukum yang tidak disebut-sebut oleh al-Qur’an dan tidak dinyatakan hukumnya. Umpamanya, pengharaman memakai cincin emas dan mengenakan sutera bagi kaum lelaki. 

Ringkasnya, bahwa as-Sunnah adalah sumber kedua sesudah al-Qur’anul Karim, dan bahwa melaksanakannya adalah wajib. Dan as-Sunnah itu merupakan keharusan yang tak bisa dihindari dalam rangka memahami dan melaksanakan al-Qur’an.
no image

Pengertian Qiyas, Kedudukan dan Rukunnya

Qiyas ialah menyamakan suatu perkara, yang jukum syara’nya tidak ada, dengan perkata lain yang ada nash hukumnya, dikarenakan adanya kesamkaan ‘illat do anara keduanya. Qiyas seperti ini dapat kita jadikan rujukan, hukum, apabila kita tidak mendapatkan suatu nash atas hukum suatu masalah, baik dalam al-Qur’an, as-Sunnah maupun Ijma’. 

Kedudukan Qiyas sebagai seumber fiqih Islam

Jadi, sebagai rujukan hukum, qiyas menempati urutan keempat. 

Rukun-rukun Qiyas

Adapun rukun qiyas ada empat: Asal (pokok) yang merupakan standar qiyas, fara’ (cabang) yang diqiyaskan, hukum asal yang ada nashnya, dan ‘illat (alasan) yang mempersamakan antara asal dengan fara’. 

Contoh Qiyas 

Contoh qiyas ialah, bahwa Allah telah mengharamkan khamar dengan nash dalam al-Qur’anul Karim, sedang ‘illat dari pengharamannya ialah karena khamar itu memabukkan dan menghilangkan akal. Dengan demikian, bila kita menemukan minuman apa pun yang lain, seaklipun namanya bukan khamar, namun ternyata minuman itu memaukkan, maka kita hukumi minuman itu haram, karena diqiyaskan kepada khamar. Sebab ‘illat pengharaman – yaitu memabukkan – terdapat dalam minuman tersebut. Dengan demikian, ia pun dihukumi haram seperti halnya khamar
no image

Pengertian Ijma' dan Kedudukannya

Ijma’ artinya kesepakatan semua ulama’ mujtahidin dari ummat Muhammad SAW pada suatu masa, atas suatu hukum syari’at. Jadi, apabila para ulama’ itu telah sepakat – baik di masa sahabat maupun sesudahnya – atas salah satu hukjm syari’at, maka kesepakatan mereka adalah merupakan ijma’, sedang melaksanakan apa yang mereka sepakati adalah wajib. 

Dalilnya, bahwa nabi SAW telah memberitakan, bahwa para ulama’ kaum muslimin takkan sepakat atas satu kesesatan. Jadi kesepakatan mereka adalah merupakan kebenaran. Dalam Musnadnya (6 396), 

Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Bashrah al-Ghifari RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 سَأَلْتُ اللهَ عَزَّوَجَلَّ اَنْ لاَيَجْمَعَ اُمَّتِى عَلَىَ ضَلاَلَةٍ فَاَعْطَانِيْهَا. 

Aku telah meminta kepada Allah ‘Azza Wa Jalla’ agar ummatku tidak menyepakati suatu kesesatan, maka permintaanku itu Dia perkenankan. 

Contohnya ialah ijma’ para sahabat RA, bahwa kakek mengambil seperenam harta peninggalan si mayi, bila ada anak lelaki, sedang ayah mayit itu tidak ada. 

Kedudukan Ijma' dalam Fiqih Islam

Sebagai rujukan hukum, ijma’ menempati urutan ketiga. Artinya, apabila kita tidak mendapatkan hukum dalam al-Qur’an maupun dalam as-Sunnah, maka kita tinjau apakah para ulama’ kaum muslimin telah ijma’. Apabila ternyata demikian, maka ijma’ mereka kita ambil dan kita laksanakan.

Thursday, April 19, 2012

no image

Fiqih Islam: Kemudahan dan Tidak Adanya Kesulitan

ARTI KEHIDUPAN 

Dengan mensyari’atkan hukum-hukumnya, Islam sangat memperhatikan keperluan manusia dan memelihara kebahagiaan mereka. Oleh sebab itu, hukum Islam seluruhnya senantiasa berada dalam batas-batas kemampuan dan kekuatan manusia. Tidak ada satu hukum pun yang tidak mampu ditunaikan dan dilaksanakan oleh manusia. Dan apabila seorang mukallaf menemui suatu kesulitan di luar kemampuannya, atau kesukaran yang disebabkan oleh suatu sebab tertentu, mak agama membuka di hadapannya pintu peringanan dan memberi kemurahan. 

DALIL BAHWA ISLAM ADALAH AGAMA YANG MUDAH 

Tak ada dalil yang lebih mantap menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mudah, selain firman Allah Ta’ala:

 وما جعل عليكم من حرج 

Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesulitan. (Q.S. al-Hajj: 78). 

Dan juga firman-Nya:

 يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر 

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Q.S al-Baqarah: 185). 

Dan firman-Nya pula:

 لايكلّف الله نفسا الاّ وسعها 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Q. S. a-Baqarah 286). 

Dan sabda Nabi SAW: 

 اِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ (رواه البخارى 39 

Sesungguhnya agama (Islam) iu mudah. (H.R. al-Bukhari: 139). 

CONTOH-CONTOH KEMUDAHAN ISLAM 

Dan di antara contoh-contoh kemudahan Islam ialah sbb: 
  • Shalat boleh dilakukan sambil duduki bagi orang yang sukar berdiri. Nabi SAW bersabda:
صَلِّ قَاَئِمًا، فَإِنْلَمْ تَسْتَطِعْ فَقاَعِدًا، فَإِنْلَمْ تََسْتَطِعْ فَعَلَىَ جَنْبٍ (رواه البخارى 1066
Shalatlah kamu sambil berdiri, jika tidak dapat maka sambil duduk, jika tidak dapat maka sambil berbaring ke sisi. (H.R. al-Bukhari 1066). 
  • Bagi orang yang sedang bepergian jauh, boleh mengqashar (memendekkan) shalat yang empat rakaat, dan boleh pula menjamak (mengumpulkan) antara dua shalat. Allah Ta’ala berfirman:
 واذا ضربتم فى الارض فليس عليكم جناح ان تقصروا من الصّلاة 
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu). (Q.S. an-Nisa’ : 101) 
Sedang al-Bukhari (1056) telah meriwayatkan pula dari Ibnu ‘Abbas RA, dia berkata: 
كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ صَلاَةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ اِذَا كََانَ عَلَىَ ظَهْرِ سَيْرِ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ. 
Rasulullah SAW menjamak antara shalat Zhuhur dan Asar apabila berada dalam perjalanan, dan menjamak antara Magrib dan Isya.

Thursday, April 12, 2012

no image

Fiqih Islam Mencakup Semua Aspek

Tidak perlu diragukan, bhwa kehidupan manusia ini mempunyai banyak segi, dan bahwa kebahagiaan manusia terletak pada terpeliharanya segi-segi tersebut seluruhnya, dengan cara diatur dan diberi undang-undang. Dan oleh karena Fiqih Islam ini berupa hukum-hukum yang disyari’atkan Allah untuk hamba-hamba-Nya, demi memlihara kemaslahatan-kemaslahatan mereka, maka Fiqih Islam sangat memperhatikan segala segi kehidupan ini, dan dengan hukum-hukumnya mengatur segala keperluan manusia. Dan untuk lebih jelasnya, perhatikan keterangan berikut iini: 

Kalau kita memperhatikan kitab-kitab Fiqih yang memuat hukum-hukum syari’at, yang disimpulkan dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, serta ijma’ ulama kaum muslimin dan ijtihad-ijtihad mereka, niscaya kita dapati hukum-hukum itu terbagi menjadi tujuh kelompok, yang keseluruhannya merupakan undang-undang umum bagi kehidupan manusia, baik sebagai individu maupaun masyarakat: 

Kelompok pertama, berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan peribadatan kepada Allah, seperti wudlu, shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Hukum-hukum itu disebut al-‘Ibadat. 

Kelompok kedua, berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan keluarga, seperti perkawinan, perceraian, nasab, menyusukan anak, nafkah, waris dan lain-lain. Hukum-hukum ini disebut al-Ahwal asy-Syakhshiyah. 

Kelompok ketiga, berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan manusia dan pergaulan hidup sesama mereka, seperti jual-beli, gadai, sewa-menyewa, pernyataan-pernyataan, surat-surat tanda bukti, keputusan dan lain-lain. Hukum-hukum ini disebut Mu’amalat. 

Kelompok keempat, berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban pemerintah, seperti menegakkan keadilan, menolak kezaliman dan melaksanakan hukum-hukum, dan juga tentang kewajiban-kewajiban rakyat, seperti mentaati perintah dalam hal selain kemaksiatan, dan lain-lain. Hukum-hukum ini disebut al-Ahkam as-Sulthaniyah atau as-Siyasat asy-Syar’iyah. 

Kelompok kelima, berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan hukuman terhadap kaum pendurhaka, dan pemeliharaan keamanan dan ketertiban, seperti hukuman atas membunuh, pencuri, peminum khamar, dan lain-lain. Hukum-hukum ini disebut al-‘Uqubat. 

Kelompok keenam, berupa hukum-hukum yang mengatur hubungan antara negara Islam dengan negara-negara lain, seperti perang, damai, dan lain-lain. Hukum-hukum ini disebut al-‘Uqubat. 

Dan kelompok ketujuh, berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan akhlaq dan tingkah laku, sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat buruk, dan lain-lain. Hukum-hukum ini disebut al-Adab wal Akhlaq. 

Demikianlah, ternyata Fiqih Islam dengan hukum-hukumnya, mencakup segala keperluan manusia, dan memperhatikan segala aspek kehidupan individu maupun masyarakat.

Wednesday, April 11, 2012

no image

Hubungan Fiqih dengan Akidah Islam

Di antara keistimewaan-keistimewaan Fiqih Islam – yakni seperti yang telah kita katakan: hukum-hukum Syari’at yang mengatur amal-perbuatan dan perkataan-perkataan orang mukallaf – ialah, bahwa ia berkaitan erat dengan keimanan kepada Allah Ta’ala, dan terikat kuat dengan rukun-rukun aqidah Islam, terutama aqidah keimanan kepada Allah Ta’ala. Inilah yang menyebabkan seorang muslim mau berpegang teguh pada hukum-hukum agama, dan dengan suka-rela dan tanpa terpaksa melaksanakannya. 

Dan juga, karena orang tidak beriman kepada Allah Ta’ala, takkan merasa terikat dengan shalat maupun puasa, dan dalam melakukan perbuatannya takkan perdulu dengan halal-haram. Jadi, keterkaitan dengan hukum-hukum syari’at adalah salah satu cabang dari keimanan kepada Dzat yang telah menurunkannya dan mensyari’atkannya kepada hamba-hamba-Nya. 

Contoh-contoh ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan hubungan antara Fiqih dengan iman, banyak sekali. Di sini, hanya akan disebutkan beberapa saja di antaranya, agar kita tahu sejauh mana hubungan antara hukum-hukum dengan iman, dan antara syari’at dengan Aqidah ini: 
  • Allah ‘Azza Wa Jalla menyuruh bersuci, dan hal itu Dia anggap termasuk hal-hal yang lazim bagi keimanan kepada-Nya SWT. Firman-Nya: 
............ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku....(Q.S. al-Maidah: 6).
  • Allah menyebut shalat dan zakat, dan keduanya digandengkan dengan keimanan kepada hari akhir, dalam firman-Nya: 
 
(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. (Q.S an-Naml: 3) 
  • Allah mewajibakan puasa yang menyebabkan taqwa, dan menggandengkannya dengan iman, dalam firman-Nya: 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. al-Baqarah: 183). 
  • Allah Ta’ala menyebutkan sifat-sifat terpuji yang dimiliki seorang muslim, lalu Dia kaitkan hal itu dengan keimanan kepada-Nya, yang dengan demikian ia patut masuk surga. Firman-Nya: 
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya. (Q.S al-Mukminuun: 1-11).
Al-Laghwu: perkataan atau perbuatan batil yang tidak berguna .
Furuj: jamak dari farj, artinya: alat kelamin laki-laki atau perempuan. Memelihara Farj, yang dimaksud ialah menjaganya jangan sampai digunakan untuk melakukan perbuatan haram, khususnya berzina.
Ma malakat aimanuhum: apa yang dimiliki oleh sumpah-sumpah mereka. Maksudnya, budak-budak wanita yang mereka miliki.
Ghairu malumin (tidak tercela) untuk menyetubuhi budak budak wanita itu. Al-Adun: orang-orang yang zalim dan melampaui batas. 
  • Allah Ta’ala menyuruh mempergauli wanita dengan baik, dan untuk suruhan-Nya itu dia mulai dengan memanggil kaum lelaki, seraya firman-Nya: 
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Q.S. an-Nisa’: 19).
Ta’dhuluhunna (kamu menyusahkan mereka), yakni mencegah kawin lagi.
Bi fahisyatin (dengan suatu perbuatan keji), yakni suatu kelakuan buruk, atau kedurhakaan atau perzinaan.
Mubayyinah: yang terang dan nyata 
  • Allah Ta’ala menyuruh wanita yang diceraikan suaminya, agar menuggu sampai tiga kali quru’, dan jangan menyembunyikan apa yang ada dalam rahimnya bila memang hamil, yang semua itu Dia kaitkan dengan keimanan kepada Allah dari hari Akhir, seraya firman-Nya:

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru(Quru' dapat diartikan suci atau haidh.)' , dan tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. (Q.S. al-Baqarah 228). 
  • Allah SWT menyuruh menghindari khamar, judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan panah, setelah memanggil kaum mukminin dengan menyebut keimanan mereka, agar dengan demikian dapat dirasakan, bahwa menghindari hal-hal tersebut erat hubungannya dengan kemurnian iman mereka. Firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah: 90). 
  • Allah SWT mengharamkan riba, dengan mengakaitkan meninggalkan riba dengan kesungguhan takwa dan iman, seraya firman-Nya: 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. Ali ‘Imran: 130).
Dan firman-Nya pula:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (Q.S. al-Baqarah 278) 
  • Allah Ta’ala menyuruh orang beramal seraya membangkitkan perasaan tentang adanya pengawasan Ilahi dan rasa tanggung jawab. Dia berfirman: 
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (at-Taubah 105). 
Demikian seterusnya, tiap kali Anda dapatkan sesuatu hukum agama dalam Al-Qur’an, maka pasti digandengkan dengan keimanan kepada Allah Ta’ala, dan dikaitkan dengan rukun-rukun Aqidah Islam. Dan dengan demikian, Fiqih Islam memperoleh kedudukan agama dan mempunyai kewibawaan ruhani. Karena Fiqih Islam memang berupa hukum-hukum syari’at yang keluar dari Allah Ta’ala yang wajib ditaati, dan menyebabkan ridha-Nya, sedang untuk melanggarnya diancam dengan murka dan siksa Allah; dan bukan sekedar hukum-hukum perundang-undangan semata, yang tidak terasa oleh manusia adanya suatu tali yang mengikat hukum-hukum itu pada sanubarinya, atau menghubungkannya dengan penciptannya. 

Allah Ta’ala berfirman: 


Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. an-Nisa’: 65).