Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Ilmu Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Akhlak. Show all posts

Friday, January 15, 2016

Hati Siapakah Yang Selamat?

Hati Siapakah Yang Selamat?

Hati seseorang tidak ada yang mengetahuinya kecuali diri sendiri dan Allah swt. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa sifat hati manusi selalu berubah-ubah tidak menentu. Terkadang sangat istiqomah menjalankan perintah Allah swt. dan terkadang menurun dan melemah di dalam istiqomah di jalan Allah swt.


Hati yang selamat yang terhindar dari segala adzab siksa Allah swt. ialah hati yang senantiasa pasrah serta menerima perintah-perintah Allah, serta tidak ada penentangan terhadap perintah-perintah dan wahyu Allah swt. Tidak ada yang lain di dalam hati kecuali Allah swt. Tidak ada yang dia inginkan kecuali Allah swt.

Hati yang selamat, adalah mereka yang hanya menjalankan apa yang diperintahkan Allah swt. Hanya dia Allah-lah yang mereka tuju, hanya perintah Allah yang dia jalankan, hanya aturan Allah-lah yang menjadi cara dan jalan hidupnya.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Hati yang selamat adalah mereka yang tidak mempunyai keraguan sedikitpun yang menjadi penghalang antara dia dan keimanan terhadap wahyu Allah swt. bahkan ketika keraguan itu muncul, dia pun mengetahui bahwa keraguan tersebut tidak akan membuat mereka tenang. Hati yang selamat adalah mereka yang tidak ada hawa nafsu yang dapat menghalanginya untuk mencari ridha dari Allah swt.


Hati yang selamat adalah ketika hati seseorang telah merasakan keadaan yang tersebut di atas. Dengan demikian, maka insya Allah dia bersih dari bid’ah, kesesatan, kemusyrikan, kebatilan serta semua perkara sejenis dan hal-hal tercela lainnya.

Hati yang selamat pada hakikatnya adalah hati yang berserah diri hanya kepada Allah swt, menyembahnya dengan penuh harapan, menyembahnya dengan penuh rasa malu, menyembahnya dengan penuh hasrat. Sehingga dengan perasaan demikian, maka dia melebur dalam cinta kepada Allah swt, serta bersih dan suci dari segala hal selain Allah swt. dia melebur dalam rasa takut kepada Allah swt. serta tidak takut kepada selain Allah swt.


http://islamiwiki.blogspot.com/
Hati yang selamat adalah mereka yang melebur dalam pengharapan hanya kepada Allah swt. dan tidak mengharapkan dari selain Allah swt. Mereka menerima semua perintah Allah swt dan Rasulullah dengan keimanan dan ketaatan yang penuh.

Hati yang selamat adalah mereka yang berserah diri kepada takdir Qadha dan Qadar Allah swt. Dengan demikian, maka hati yang demikian dia tidak akan berprasangka buruk dan akan selalu berprasangka baik terhadap semua ketetapan Allah swt, tidak marah dan menentang segala ketetapan dan ketentuan Qadha dan qadar Allah swt. mereka dengan hati yang demikian akan berserah diri kepada Allah swt. dengan penuh ketaatan dan kepatuhan, kerendahan, kehinaan dan kehambaan di hadapan Allah swt.


Hati yang selamat akan menyerahkan segala hal dari perkataan, perbuatan, perasaan serta intuisinya baik lahir dan batin kepada tuntunan dan ajaran Rasul-Nya serta menolak segala hal dan perkara yang tidak sesuai dengan tuntunan dan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Sehingga, dia menolak apa yang bertentangan dan menerima apa yang sejalan, sejalur dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah saw. Sedangkan segala sesuatu yang tidak jelas, apakah sejalan atau bertentangan, maka dia akan menghindari dan menundanya sampai sesuatu hal tersebut menjadi jelas hukumnya.

Hati yang selamat adalah mereka yang tidak berseberangan dan bertentangan dengan para wali dan golongan Allah swt yang beruntung, menegakkan dan membela agama dan sunnah Nabi-Nya. Dia melawan dan menentang musuh Allah swt yaitu orang-orang yang mengajak orang lain menentang Al-Qur’an dan as-Sunnah hadits Nabi, orang-orang keluar dari jalan yang lurus.
loading...

Tuesday, October 27, 2015

Kesederhanaan, Hidup Sederhana dalam Al-Qur’an

Kesederhanaan, Hidup Sederhana dalam Al-Qur’an

Kesederhanaan dan ketaqwaan. Sudah bukan rahasia umum dan diketahui oleh siapapun bahwa di dalam Islam, ciri-ciri atau tanda dari orang yang ahli surga secara umum adalah ketaqwaan dalam hidup kepada Allah swt. atau disebut muttaqin. Di dalam Al-Quran, banyak disebutkan, diterangkan dan dijelaskan secara lebih detail mengenai sifat-sifat orang yang bertaqwa atau muttaqin. Yaitu antara lain sebagai berikut:

ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ. ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ. وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ

Artinya: Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. al-Baqarah [2]: 2-4)

Baca juga maksud dan tujuan diturunkannya al-Qur’an

Juga dijelaskan di dalam al-Qur’an mengenai ciri orang yang taqwa:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ. ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ. وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

http://islamiwiki.blogspot.co.id/
Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. QS. Ali Imran:133 -135 ).

Dari penjelasan di atas, menerangkan bahwa semua amalan ibadah dari seorang yang ahli surga yaitu orang yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa adalah dicintai oleh Allah swt. salah satu amalan yang sering disebut dalam ayat di atas di antaranya adalah menafkahkan harta.

Dan sebaliknya amalan ahli neraka tidak akan dicintai oleh Allah swt. dan di antara sifat orang yang ahli neraka adalah hidup bermewah-mewahan. Sebagaimana firman Allah swt. dalam al-Qur’an yang berbunyi:

وَأَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلشِّمَالِ.  فِي سَمُومٖ وَحَمِيمٖ.  وَظِلّٖ مِّن يَحۡمُومٖ. لَّا بَارِدٖ وَلَا كَرِيمٍ.  إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ مُتۡرَفِينَ

http://islamiwiki.blogspot.co.id/
Artinya: Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan

Baca juga

Arti taqwa yang sebenarnya dalam Islam menurut Syara'

Hidup bermewah-mewahan dan kehancuran umat
Masuk ke Surga ataukah di neraka?
Gambaran surga dan neraka dalam al-Qur'an
Arti Hisab di hari kiamat dalam al-Qur'an

Hidup bermewah-mewahan dalam hidup di dunia akan banyak berpengaruh negatif pada diri pelakunya dan juga bagi lingkungan masyarakat. Hal ini dikarenakan beberapa sebab sebagai berikut:
  • Hidup bermewah-mewahan dapat mengakibatkan kurang taat dalam menunaikan kewajiban agama.
  • Bermewah-mewahan akan cenderung menjadikan seseorang mencari-cari pendapat yang paling dari para ulama dalam segala hal serta mudah menerjang yang dilarang atau haram oleh Allah swt.
  • Menyebabkan diri pelaku cenderung bergulat dengan hal-hal yang remeh-temeh.
  • Karena bersenang-senang dan tenggelam dalam kemewahan sehingga dapat berakibat kerasnya hati, dan sering melupakan ilmu.
  • Bermewah-mewahan dapat menyebabkan seseorang jarang melakukan introspeksi dan evaluasi diri atau muhasabah.
  • Bermewah-mewahan akan menjadikan seseorang kurang mampu menghadapi ujian, cobaan, dan menanggung beban hidup yang berat.
  • Seorang yang bermewah-mewahan akan lebih cenderung sering menyimpang dari jalan yang haq atau benar, menjadi sombong, serta meremehkan orang lain.
Baca juga
Bahaya sifat arogansi
Arti dan Pengertian sombong menurut Islam
Hidup sederhana tidak akan susah
Hidup sederhana mencontoh pribadi rasul
Sifat berlebih-lebihan dan menyia-nyiakan nikmat

Kemehawan, hidup bermewah-mewahan dapat membawa seseoang tergelincir ke dalam nafsu korupsi, kolusi serta nepotisme. Hal ini dikarenakan tuntutan mereka yang berlebihan dalam mewujudkan hidup yang bermewah-mewahan sehingga mereka menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya. Oleh sebab itu, ajaran Islam melarang kepada pemeluknya bermewah-mewahan dalam hidup.

Firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ

Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan

Juga dalil hadits Nabi Muhammad saw, yang menegaskan bahwa : Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan kesombongan." (HR Ahmad dan Abu Daud].

Sehingga jelas sudah bahwa hidup dengan bermewah-mewahan dan kesombongan adalah tidak diperkenankan oleh ajaran Islam. Hal ini dikarenakan hidup bermewah-mewahan dapat mengakibatkan berbagai macam sebab yang dapat merusak diri pribadi dan juga lingkungan masyarakat sekitarnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Juga diterangkan di dalam al-Qur’an bahwa tempat kesombongan adalah neraka jahanam. Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk hidup sederhana. Karena hidup sederhana tidak akan susah. Hidup sederhana adalah merupakan pola hidup yang dianjurkan Islam dan mencontoh pribadi Rasulullah saw.
loading...

Sunday, June 28, 2015

Rendah Hati, Menjadikan Hidup Lebih Berarti

Rendah Hati, Menjadikan Hidup Lebih Berarti

Nabi Muhammad saw. telah memberikan kepada kita keteladanan akhlak mulia beliau yang begitu rendah hati, sebagaimana yang beliau ajarkan kepada umatnya tentang sikap tawadhu yang diajarkan oleh Rasul dan Al-Qur’an dan juga dalam riwayat dalil hadits lain tentang anjuran sikap dan perilaku rendah hati yang artinya: sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian rendah hati sehingga tidak ada seorang pun yang berbuat jahat atas orang yang lain dan tidak berbangga satu orang atas orang yang lain. (HR. Abu Daud).

Hadits di atas memberikan penjelasan kepada kita umat Islam sebuah gambaran seandainya semua orang bersikap dan berperilaku rendah hati, maka niscaya tidak akan ada orang yang berbuat jahat di antara satu dengan yang lain serta tidak akan sifat menyombongkan diri atau berbangga diri di antara satu orang dengan orang yang lain. Maka niscaya apabila  rendah hati ini ada pada setiap orang maka hidup dan kehidupan di dunia ini akan jauh lebih indah.

Baca Juga

Rendah hati versus sikap sombong

Pada kenyataannya sikap, sifat dan juga perilaku rendah hati baik dalam hal perkataan, hati dan juga gerakan (tingkah laku) tidak dimiliki oleh semua orang. Rendah hati sejati adalah merupakan perhiasan terindah dari orang-orang sholeh, perhiasan diri kaum mukmin yang sejati. Rendah hati adalah penawar dari kesombongan serta pengancur keangkuhan, dan meniadakan ketakaburan. Tidak banyak orang yang mampu rendah hati dalam lisan, hati dan juga perilaku karena rendah hati ini adalah sifat mulia yang hanya dapat dipunyai oleh orang-orang yang mulia. Sikap terhormat dan mulia ini hanya pantas bagi orang-orang yang terhormat dan mulia.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Di dalam kerendahan hati terdapat kekuatan jiwa, karena seorang yang memiliki rendah hati akan selalu bisa menjadikan pikiran dan hatinya dalam mengendalikan nafsu.

Sebaliknya orang yang tidak hati, mereka mudah menonjolkan kesombongan, arogan, takabur, memamerkan keangkuhan, kecongkakan. Sehingga hanya aura syetan dan iblis yang muncul dalam sikap dan perilakunya baik lisan, hati dan gerakan/perilaku.

Firman Allah swt. dalam Al-qur’an:

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman: 18)

Dari dalil firman Allah swt. di atas, jelas memberikan peringatan kepada manusia agar tidak bersikap sombong, angkuh dan tidak rendah hati. Karena sifat ini akan membawa kepada pelakunya kepada keburukan dan neraka jahannam sebagaimana dalam bahasan yang lalu pada artikel tempat kesombongan adalah neraka jahannam


Dalam sebuah kisah cerita dari makhluk terlaknat yang bernama iblis yang merasa sombong bahwa dirinya lebih baik karena diciptakan dari api sementara Nabi Adam hanya dari tanah liat. Dan kemudian karena kesombongan iblis inilah Allah swt. melaknatnya.

Sebagaimana firman Allah swt.:

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.  (QS. AL-Baqarah: 34).

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ قَالَ ءَأَسۡجُدُ لِمَنۡ خَلَقۡتَ طِينٗا ٦١

Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah? (QS. Al-Isra’: 61)

Dari cerita di atas, dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa sifat sombong dan tidak rendah hati ini umumnya muncul karena adanya pikiran membandingkan dua hal yang berbeda dengan pola pikir yang negatif. Pemikiran yang negatif dari membandingkan dua hal yang berbeda inilah yang dapat merusak paradigma atau pola pikir seseorang karena mereka akan beranggapan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain, merasa lebih spesial, merasa lebih utama dari orang lain atau sesamanya.

Rendah hati akan mengangkat derajat seseorang dan sebaliknya kesombongan akan direndahkan derajatnya sebagaimana kisah cerita iblis yang sombong.

Dalil Hadits Nabi Muhammad saw. beliau bersabda: tidaklah ada dalam tawadhu’ itu kecuali akan mengangkat derajat seorang hamba. Maka, rendah hatilah niscaya Allah akan mengangkat derajat kamu sekalian. (HR. Ad-Dailami)

Juga dalam hadits yang lain: barangsiapa yang rendah hati karena Allah, maka Allah akan mengangkat (kedudukannya). (HR. Ahmad dan Ibnu Majjah).

Dapat kita tarik kesimpulan bagi orang-orang mukmin yang bersikap rendah hati maka Allah swt akan mengangkat derajat seseorang. Dan sebaliknya bagi orang-orang yang sombong, maka bagi mereka akan direndahkan derajatnya sebagaimana yang menimpa iblis yang sombong dan durhaka kepada Allah dan tempat kesombongan adalah neraka jahannam.

Pada akhirnya, mari kita berlomba-lomba untuk menjadi pribadi yang rendah hati dalam hidup ini agar lebih berarti sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dan dalam al-Qur’an.
loading...

Saturday, February 28, 2015

Hidup Sederhana Tidak akan Susah

Hidup Sederhana Tidak akan Susah

Dalam sebuah dalil hadits Nabi saw. riwayat Imam Ahmad menerangkan bahwa : tidak akan susah orang yang hidup dengan sederhana. Dalil tersebut di atas adalah hanya salah satu dalil hadits tentang anjuran Nabi tentang hidup sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari hidup sederhana ini identik dengan kehidupan dari golongan orang-orang yang tidak berada atau orang miskin dari golongan menengah ke bawah. Namun pada hakekatnya ajaran tentang hidup sederhana ini bukanlah hidup serba dalam kemiskinan. 

Prinsip hidup sederhana juga bukanlah hanya semboyan dalam ucapan belaka, namun harus tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari dalam menjalani hidup.

Hidup sederhana pada Rasulullah dan para sahabatnya

Adalah sahabat Rasul Ibnu Amir yang memberikan kesaksian mengenai hebatnya sifat hidup sederhana Nabi dan sifat tawadhu’ atau rendah hati dari Rasulullah Muhammad saw. Ibnu Amir menyaksikan bahwa meskipun Rasulullah mempunyai kedudukan yang tinggi dan luhur beliau berada di atas unta melempar jumrah dengan tidak bersenjata, tanpa pengawal ataupun pasukan. 

Menurut kesaksian Amit juga menyaksikan bahwa Rasul adalah pribadi yang menyukai kesederhanaan. Beliau Rasul hanya menaiki keledai yang berpelanakan kain beludri. Beliau menghadiri undangan dari budak, menjahitkan dan menembel pakaiannya, mengesol sendalnya, juga tidak enggan mengerjakan pekerjaan rumah bersama dengan istri beliau serta menjenguk orang sakit.

Sebuah kisah juga yang menceritakan kesederhanaan Nabi Muhammad saw. Ketika itu, Nabi saw. bertemu dengan lelaki yang mana lelaki itu tubuhnya gemetar karena kewibawaan Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki tersebut, Rasulullah saw. berusaha menenangkan laki-laki itu dengan berkata kepadanya : tenanglah aku bukan seorang raja, aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan dendeng.

Contoh sifat sederhana Rasulullah juga tampak dalam keseharian beliau ketika dalam bergaul, berkumpul serta berbaur bersama dengan para sahabat. Rasulullah saw. tidak pernah menujukkan sifat sombong dan menonjolkan dirinya. Sampai-sampai ada tamu asing tidak bisa membedakan yang mana Rasulullah dan yang mana para sahabatnya. Hingga tamu asing tersebut terpaksa bertanya dan berkata yang mana Rasulullah?

Tokoh sehebat dan sebesar Nabi Muhammad saw. sampai tidak dikenali orang karena sikap dan perilaku sederhana serta rendah hati atau tawadhu’. Berbeda dengan kebanyak orang sekarang ini, mereka lebih ingin menunjukkan diri bahwa mereka adalah orang berada, ingin diakui di masyarakat, ingin menonjolkan diri dan lain sebagainya.

Kisah cerita tentang kesederhanaan dari sahabat Nabi, Mush'ab bin Umair. Dia adalah seorang pemuda yang kaya raya, berpenampilan dengan gaya busana trendi, dan hidup serba mewah. Akan tetapi setelah Mush'ab bin Umair mengenal dan mengetahui nilai-nilai Islam dan merasuk ke dalam jiwanya, dia berubah menjadi pemuda yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan. 

Firman Allah swt. dalam Kitabullah Al-Quran yang berbunyi :

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ 

Artinya: makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (al-A'raf: 31 ).

Demikian Ajaran Islam yang seharusnya menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk hidup dengan sederhana sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi saw. yang sangat menyukai hidup sederhana serta senang terhadap mereka orang miskin.

Hidup yang sederhana tidaklah identik dengan hidup dalam kemiskinan. Hidup sederhana hendaknya dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan kita antara lain dalam hal cara berpakaian, dalam hal tempat tinggal, kendaraan dan lain sebagainya. Islam tidak menganjurkan umatnya dengan bergaya hidup mewah, hidup yang berlebih-lebihan, glamour serta bermegah-megahan.

Gaya hidup yang berlebih-lebihan, gaya hidup serba mewah, boros, gaya hidup konsumtif seringkali membawa kepada pelaku gaya hidup tersebut untuk bertindak dan melakukan hal-hal dengan cara apapun untuk memenuhi hawa nafsu serta ambisi yang membabi buta, dan untuk memuas­kan gengsinya. Sehingga segala macam cara akan ditempuh, dengan cara mencuri, korupsi, menipu, dan lain sebagainya. Hal demikian tentu saja akan menyusahkan dirinya baik di dunia maupun di akhirat. Hidup tidak akan pernah tenang, selalu berambisi pada kemewahan dunia, naudzu billahi min dzalik.

Dengan Demikian hidup sederhana tidak akan susah, hidup sederhana tidak identik dengan kemiskinan, namun berhubungan pola dan gaya hidup yang tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.
loading...

Thursday, February 19, 2015

Agar Dicintai Banyak Orang & Menjadi Ahli Surga

Agar Dicintai Banyak Orang & Menjadi Ahli Surga

Dicintai banyak orang adalah sebuah anugerah terindah sehingga kita menjadi sosok yang disukai dan dirindukan oleh banyak orang. Berikut ini adalah  petuah dari seorang hakim yang bernama Lukman al-Hakim. Dia berasal dari Habsyah Etiopia, seorang budak dengan telapak kaki yang kasar, berkulit hitam. Rumahnya selalu penuh sesak didatangi oleh banyak orang. Beliau sangat dikagumi dan dicintai oleh banyak orang, banyak orang yang ingin mendatanginya menantikan kata-kata hikmah darinya.

Bagaimana agar bisa menjadi seperti beliau yang dicintai banyak orang?

Alkisah, dikarenakan banyak orang yang iri dengan ketenarannya serta banyak dicintai orang, maka Lukman pun menemui keponakannya laki-laki dan bertanya: Menurutmu, apa  gerangan  yang  menarik dari diriku? Keponakannya pun heran dan berkata: Aku terheran kenapa banyak orang mendatangimu sehingga pintumu dipadatin penuh orang, dan anehnya lagi mereka senantiasa ridha dengan kata-kata dan ucapan baikmu?

Kemudian Hakim Lukman al-Hakim berkata, "Wahai keponakanku, apabila kamu melakukan apa saja saranku, maka engkau pun akan memperoleh kedudukan seperti yang aku dapat. Kemudian keponakannya bertanya : apa saja yang engkau lakukan?. 

Dan menjawab Lukman al-Hakim : 
3. Aku tindak iffah dalam makananku (selalu memakan yang dihalalkan)
6. Aku memuliakan tamuku; 
8. Aku meninggalkan semua yang tidak berguna bagiku. 
Itulah yang aku lakukan dan telah menjadikan aku menjadi bermartabat, dicintai banyak orang seperti yang sedang kamu lihat."

Itulah delapan perilaku yang telah dikerjakan oleh Lukman yang menjadikan belai menjadi orang yang dihormati, terkenal,disenangi dan dicintai oleh orang banyak. Sesungguhnya delapan hal yang dilakukan oleh Lukman adakah merupakan sifat-sifat utama yang diperintahkan dan diajarkan dalam ajaran Islam untuk menutup pintu-pintu timbulnya dosa-dosa besar. Juga kedelapan sifat utama tersebut akan dapat mencegah dosa-dosa kecil menjadi dosa yang besar serta menjadi ciri-ciri dari orang yang ahli surga.

Delapan hal yang dipilih Luqman dan dijadikannya sebagai alasan, mengapa dia disenangi orang banyak dan terkenal sebagai orang yang sangat bijak. Karena delapan hal tersebut merupakan sifat-sifat inti yang diperintahkan agama Islam, untuk menutup pintu dosa-dosa besar dan menjadi ciri ahli surga.

Diriwayatkan dalam sebuah dalil Hadits : berkata Abu Umamah: Aku mendengar Rasul Saw. bersabda :

Jaminlah aku enam hal, pasti aku jamin kamu sekalian masuk surga; apabila salah seorang dari kamu berbicara, maka janganlah berdusta; apabila dipercaya, maka janganlah khianat; apabila berjanji, maka janganlah ingkar; tundukkanlah matamu; tahanlah  tanganmu  dari berbuat kejahatan;  dan  peliharalah kemaluanmu'.'' (HR. at-Thabrani, Ibnu Hibban, dan Khathib al-Baghdadi)

Dari dalil hadits Nabi yang lain riwayat Imam al-Bukhari dijelaskan:

Barang siapa yang menjaga antara dua rahangnya (mulut) dan antara dua kakinya (kemaluan) aku jamin dia masuk surga." 

Islam melarang umatnya untuk memakan makanan yang haram ataupun makanan yang syubhat yaitu belum pasti kehalalannya. Berlaku iffah (tidak memakan makanan yang haram atau syubhat) adalah merupakan syarat dari masuk syurga karena orang yang dilindungi dari api neraka adalah mereka yang memakan makanan yang halal.

Juga hadits diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Ra. beliau berkata :

Adalah seorang di bawah tanggungan Rasulullah Saw. bernama Kirkiroh, kemudian dia meninggal. Namun, Rasulullah Saw berkata bahwa Kirkiroh akan masuk ke neraka. Maka itu, para sahabat pergi memeriksanya, ternyata mereka menemukan sebuah baju jubah hasil tipuan." (Sahih Bukhari).

Dalam sebuah Atsar yaitu segala sesuatu yang datang selain dari Rasul saw, yaitu dari para shahabat Nabi, para tabi'in, atau generasi setelah mereka menyebutkan bahwa, Barangsiapa yang tidak memperdulikan dari mana mereka mendapatkan makanan, maka Allah tidak akan peduli kepada mereka dari pintu mana mereka akan dimasukkan ke dalam neraka

Dalam ajaran islam, terdapat adab etika dalam bertamu, memuliakan tamu adalah salah satunya dan menjaga hubungan yang baik antara tetangga. Kedua perilaku ini juga menjadi sebagian kecil dari tanda bukti keimanan seseorang yang ahli surga. 

Demikian sifat-sifat yang dimiliki oleh Lukman A-hakim. Perilaku dan sifat tersebut di atas adalah merupakan  ciri-ciri dari orang yang  ahli  surga. Barangsiapa yang berperilaku dan bersikap sebagai ahli surga, maka pasti ia akan menjadi kekasih Allah yang akan selalu mendapatkan bimbingan dari Allah swt dalam berperilaku baik melihat, mendengar maupun berucap.
loading...

Friday, January 9, 2015

Manfaat Tolong Menolong dan Pahalanya

Manfaat Tolong Menolong dan Pahalanya

Islam sangat menganjurkan saling tolong-menolong di antara sesama manusia. Dengan saling menolong akan dapat memberikan keringanan di antara satu dengan yang lain. Selain itu, manfaat lain dari saling menolong juga dapat mempererat kasih saying di antara sesama, mampu menciptakan sikap rasa saling hormat menghormati dalam kehidupan bermasyarakat di antara individu. Sehingga keutuhan umat ini akan terbangun dengan kuat.
Oleh sebab itu hendaklah setiap orang terlebih dahulu melakukan kebaikan kepada menolong orang lain sebelum seseorang atau orang lain berbuat kebaikan kepadanya. Nabi Muhammad saw. sebagaimana dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Umar bin Jabir adalah sangat berbahagia apabila umatnya memberikan pertolongan, menolong, serta menjamin kekurangan ekonomi yang dialami oleh orang lain. Sebagaimana dalam kisah berikut ini   :

Sebuah kisah diriwayatkan 'Umar bin Jabir, suatu hari, pada waktu tengah hari Umar bin Jabir sedang beristirahat santai bersama dengan Rasulullah saw., datanglah satu kaum dengan keadaan ekonomi yang lemah, teramat miskin dalam kehidupan sehari-hari dimana pekerjaan mereka adalah sebagai pemburu. Rasulullah saw. sangat  simpati  kepada kaum tersebut dan  wajah beliau berubah tampak kesedihan.

Ketika itu, dikarenakan pada saat itu kaum tersebut teramat miskin dan mengharapkan pertolongan, kemudian Rasulullah masuk ke dalam rumah, lalu beliau keluar dan menyuruh bilah untuk mengumandangkan adzan dengan tujuan mengunpulkan orang-orang. Setelah itu Nabi Muhammad saw. mengerjakan sholat sunnah dua rakaat, lalu berpidato dengan maksud agar orang-orang memberikan pertolongan kepada kaum yang dimaksud Rasulullah agar keadaan ekonomi kaum tersebut membaik. Tidak lama kemudian, seorang lelaki memberikan pertolongan dengan bersedekah berupa, pakaian, bahan makanan serta uang ringgit. Kemudian diikuti oleh beberapa kaum lelaki dari golongan anshor yang memberikan pertolongan berupa makanan serta pakaian yang secukupnya.

Dengan pertolongan tersebut, kemudian Rasulullah saw. bersabda : Bersedekahlah kamu kalian meskipun sebiji buah tamar. Perkataan  Nabi saw. tersebut menunjukkan wajahnya yang kembali bersinar cerah putih bersih sebagai tanda kegembiraan beliau atas sambutan dari orang-orang yang berkumpul untuk menolong sesama.

Dan kemudian Nabi saw. bersabda: Barangsiapa yang memberikan sumbangan untuk pembangunan Islam berupa satu sumbangan yang baik, maka baginya pahala di atas apa yang dia sumbangkan dan pahala siapa yang beramal dengan sumbangan tersebut dengan tidak mengurangi sedikitpun pahala mereka, dan barangsiapa yang menyumbang untuk Islam berupa satu keburukan, maka bagi mereka dosa dan dosa orang yang beramal dengannya setelah dari mereka, tanpa mengurang sedikitpun dosa mereka yang sudah ada. (HR. Muslim)

Dari keterangan hadits di atas, memberikan kepada kita sebagai umat beliau Rasulullah saw. agar senantiasa memerikan pertolongan kepada siapa saja mereka yang membutuhkan terutama menolong orang miskin yang mengalami kesulitan dalam ekonomi dengan memberikan pertolongan dan bantuan apa saja yang dimiliki yang baik dan dapat meringankan beban kelemahan ekonomi mereka. Subhanalllah……

Balasan atas tolong menolong

Tolong menolong merupakan suatu ibadah dan perintah dari Allah swt., serta amalan-amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dijelaskan dalam sebuah dalil Hadits Nabi saw. bahwa apabila seseorang menolong dengan memberikan pertolongan dengan ikhlas, maka Allah swt akan memberikan ganjaran atau balasannya yang sama di akhirat.

Sebagaimana dalil hadits Nabi Muhammad saw. : Orang Islam dan sesama islam adalah bersaudara, tidak boleh mendzalimi sesamanya dan memberi beban sesuatu yang memberatkan dan siapa yang menunai sesuatu hajat saudaranya, maka Allah akan menunaikan hajatnya, dan barangsiapa yang melepaskan sesuatu bala orang Islam, Allah akan melepaskan segala bala kesusahannya di akhirat, dan barangsiapa yang menutup kejelekan atau aib orang Islam, maka Allah akan menutup aibannya di hari kiamat.’(HR. Bukhari).

Dari keterangan dalil hadits di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sangat besar pahala atau imbalan atau balasan yang akan didapatkan bagi orang yang senang memberikan pertolongan kepada orang lain dengan catatan menolong dengan ikhlas hanya karena Allah swt. Pahala imbalan yang diberikan adalah sangat besar hingga nanti di akhirat dan di hari kiamat. Subhanallah

Perlu diperhatikan juga dalam memberikan pertolongan atau menolong orang lain selain sikap ikhlas, perlu dibarengi dengan sikap ihsan, kelembutan atau lemah lembut, baik hati, perasaan belas kasihan. Dengan demikian akan dapat menumbuhkan sikap tidak angkuh atau sombong, dan bertanggung. Inilah yang merupakan ciri-ciri orang berakhlak mulia, sebagaimana yang diterangkan dalam sifat dan akhlak Nabi Muhammad saw.

Dalil Sabda Nabi saw. : Sesungguhnya akhlak Rasulullah itu adalah sebagaimana yang terdapat di dalam al-Quran. (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadits di atas, menceritakan tentang akhlak Rasulullah saw. yang merupakan suatu akhlak yang bernilai tinggi di sisi Allah sw. dan dijanjikan oleh Allah kelak nanti di hari kiamat terhindar dari segala bala dan juga rintangan kelak nanti di hari pembalasan.

Demikianlah ajaran Islam yang begitu mulia dalam hal tolong menolong di antara sesama manusia. Dengan menolong dan memberikan pertolongan dengan ikhlas kepada orang lain karena Allah swt. dan disertai dengan sikap-sikap dan akhlak mulia akan memberikan berbagai manfaat serta hikmah dan juga mendapatkan imbalan dan balasan yang begitu besar kelak nanti di hari kiamat dan di akhirat. Wallahua’lam.
loading...

Saturday, January 3, 2015

Adab Cara Memberi salam, Menjawab Salam

Adab Cara Memberi salam, Menjawab Salam

Dalam Islam memberi atau mengucapkan salam serta menjawab salam adalah merupakan adab mulia dalam pergaulan. Namun, sebagaimana yang sudah dipaparkan pada bahasan sebelumnya memberikan kita anjuran bahwa memberi salam terlebih dahulu kepada seseorang mempunyai keutamaan tersendiri daripada menjawab salam. Bahasan berikut ini adalah membahas tentang adab cara memberi atau mengucapkan salam dan cara menjawab salam, hukum memberi salam, serta pahala yang terkandung di dalamnya.

Telah diterangkan pada bahasan keutamaan memberi salam bahwasanya apabila dua orang Islam bertemu dan kemudian memberi salam adalah amalan yang mulia di sisi Allah swt. Mengucapkan atau memberi salam dan menjawab salam adalah merupakan anjuran dari Allah swt. sebagaimana tertuang dalam dalil firman Allah swt.. dalam Al-Qur’an Al-Karim yang berbunyi :

Apabila diucap dengan satu ucapan maka balas olehmu dengan ucapan yang lebih baik daripadanya atau jawab secara yang elok, sesungguhnya Allah ke atas setiap sesuatu akan diperhitungkan. (Surah Al-Nism: 86)

Dari keterangan ayat di atas, memberikan anjuran kepada Umat Islam untuk senantiasa mengamalkan, menggunakan ucapan yang baik apabila bertemu dengan saudaranya sesama Muslim. Maka hendaklah kita sebagai hamba Allah swt. memberi atau mengucapkan salam dan menjawab salam apabila bertemu dengan sesama muslim yang dikenal ataupun yang tidak dikenal.

Juga sebuah dalil hadits diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar yang juga menjelaskan dan menegaskan anjuran memberi atau mengucapkan salam serta menjawab salam di antara sesama muslim yang artinya : Bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w. : yang manakah satu di antara amalan dalam Islam yang lebih baik? Rasulullah menjawab : kamu memberi makan kepada orang yang memerlukan dan mengucapkan salam kepada siapa saja yang kamu kenal dan yang tidak engkau kenal. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengertian dan maksud dari kalimat salam

Pengertian salam secara bahasa salam bermakna memberi keamanan/keselamatan. Pada waktu kalimat salam ini diucapkan kepada seseorang muslim yang lain, maka sesungguhnya ucapan ini berarti mendoakan kepada yang diberi salam dan yang menjawab salam mempunyai ketentraman, ketenangan, kegembiraan dan kebahagiaan sepanjang masa.

Dengan adanya kalimat salam, maka hilanglah segala perasaan dendam, hasad dengki, dan lain sebagainya, dan sebaliknya bersemilah serta terjalinlah perasaan ukuwah atau persaudaraan antara satu dengan yang lain. Ucapan salam dengan keramahan, ekspresi wajah yang tersenyum manis dan dipadukan dengan gerak geri yang beradab, sopan-santun dan kehalusan budi maka hal ini akan dapat mengeratkan tali persaudaraan.

Hukum memberi dan menjawab salam

Salam merupakan asas bagi umat islam baik muslim ataupun muslimat yang perlu untuk diketahui dan dijadikan sebagai pegangan serta amalan perbuatan sehari-hari dalam pergaulan. Hukum mengucapkan atau memberikan salam hukumnya adalah sunat/sunnah. Rasulullah Nabi Muhammad s.a.w. juga melakukan hal demikian serta membiasakan diri beliau dengan memberi salam. Adapun hukum menjawab salam adalah wajib. Maka, merujuk pada hukum ilmu fikih, apabila seseorang diberi salam dan tidak menjawab salam, maka hukumnya adalah berdosa.

Firman Allah swt. yang berbunyi :

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٖ فَحَيُّواْ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَآ أَوۡ رُدُّوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَسِيبًا

Artinya: Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan  (diucap dengan satu ucapan), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik (ucapan yang lebih baik) dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (Surah Al-Nisa': 86)

Dari penjelasan ayat di atas, menganjurkan kepada kita untuk mengucapkan sesuatu hal yang baik serta bermakna seperti salam atau semisalnya yang menunjukkan penghormatan kepada orang lain misalnya lambaian tangan, tabik dan lain sebagainya. Dan apabila kita diberi ucapan atau penghormatan, maka hendaklah membalas ucapan atau penghormatan itu dengan balasan sebaik mungkin.

Rasulullah s.a.w. juga menjelaskan hal tersebut di atas melalui sebuah hadits yang berbunyi: Memberi salam oleh orang yang berkenderaan kepada orang yang berjalan, orang yang berjalan kepada orang yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak dan pada satu riwayat yang kecil kepada  yang besar. (HR. Al Bukhari)

Dari beberapa keterangan ayat Al-Qur’an dan dalil Hadits Nabi saw. di atas, memberikan kita penjelasan bahwa kalimat salam adalah merupakan suatu bentuk penghormatan dari seseorang kepada orang lain. Ucapan salam, tidak hanya dilakukan dengan menggunakan perkataan, akan tetapi boleh dilakukan dengan menggunakan isyarat seperti lambaian tangan, tabik, membunyikan bel kendaraan sedang dalam kendaraan atau dengan menggunakan berbagai cara yang lain sesuai dengan keadaan waktu dan tempat.

Bagaimana cara mengucapkan salam dan menjawab salam yang benar?

Cara memberi atau mengucapkan salam sesuai dengan syariat Islam yaitu pada awal pertemuan  dengan mengucapkan : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (Selamat sejahtera atas kamu dan rahmat Allah serta keberkatannya)

Kemudian bagi yang diberi salam menjawab salam dengan berkata : Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh (Dan ke atas kamu selamat sejahtera dan rahmat Allah serta keberkatannya)

Pahala dari mengucapkan salam atau memberi salam dan menjawab salam

Setiap jawaban salam akan mendapatkan ganjaran pahala. Pahala yang diperoleh adalah berdasarkan pada kadar ucapannya, yaitu mendapat ganjaran sepuluh kebaikan atau pahala, apabila ditambah kata "warahmatullah". Dan pahalanya akan ditambah lagi sepuluh kebaikan atau pahala apabila ditambah kata "wabarakatuh".

Sehingga apabila memberi/mengucapkan salam dengan lengkap yaitu Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, maka pahalanya adalah tiga puluh pahala atau kebaikan bagi yang mengucapkan salam. Begitu juga sebaliknya bagi yang menjawab salam.

Ganjaran pahala bagi yang memberi salam dan menjawab salam ini terdadapat dalam dalil hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh A'mran bin Hussaini yaitu sebagai berikut : Telah datang laki-laki kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata : Assalamualaikum. Maka Nabi saw. pun menjawab salam dan kemudian dia duduk. Maka Nabi saw. berkata : sepuluh pahala. Dan kemudian datang yang lainnya memberi salam dengan berkata : Assalamualaikum warahmatullah, kemudian Rasulullah saw. menjawab salam itu dan berkata : dua puluh pahala. Kemudian datang lagi yang ketiga dan memberi salam dengan berkata : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rasulullah saw. pun menjawab salam itu dan kemudian duduk, maka Rasulullah saw. berkata tiga puluh pahala. (HR. Abu Daud Tarmizi: Hadits Hasan)

Memberi salam kepada wanita yang bukan muhrim

Yang perlu diperhatikan dan menjadi peringatan bagi kita semua adalah bahwa apabila seorang laki-laki memberi salam kepada lawan jenis atau seorang wanita yang mana pemberi salam (laki-laki) itu tidak dikenali, maka hendaknya memastikan terlebih dahulu apa tujuannya. Bisa jadi mereka pihak laki-laki sengaja nakal, ingin menggoda atau mengusik dan lain sebagainya. Maka salam laki-laki tersebut tidak wajib untuk dijawab. Hal ini dikarenakan akan membuka pintu dan peluang bagi laki-laki tersebut untuk mendekati wanita dan menyempurnakan niat yang jahat kepada kaum wanita.

Di akhir pembahasan dapat kita tarik kesimpulan bahwa memberi atau mengucapkan salam dan menjawab salam adalah merupakan adab islami bentuk dan simbol penghormatan serta ukuwah atau persaudaraan. Apabila seseorang mengucapkan salam dan memberi salam dengan cara yang benar dan lengkap maka akan mendapatkan ganjaran pahala 30 kebaikan atau pahala dari Allah swt. kepada pemberi dan penerima salam sesuai dengan dalil hadits Nabi saw. Di samping itu juga  dengan salam akan dapat mempererat tali silaturahmi diantara sesama Islam.
loading...

Friday, January 2, 2015

Hakikat, Cara Bersalaman-Berjabat Tangan yang Islami

Hakikat, Cara Bersalaman-Berjabat Tangan yang Islami

Berjabat tangan atau bersalaman sering dilakukan antara satu orang dengan orang yang lain. Namun, apa sebenarnya arti hakikat dari bersalaman atau berjabat tangan dari sudut pandang syariat ajaran Islam? Apa pahala atau manfaat yang diberikan Allah dari berjabat tangan/bersalaman berjabat tangan? Bagaimana cara bersalaman yang benar antara sesama jenis dan berlawanan jenis atau bukan muhrim?

Berikut ini adalah penjelasan tentang hakikat dari bersalaman/berjabat tangan berdasar syariat islam, manfaat dan pahalanya serta cara berjabat tangan yang benar sesuai dengan dalil hadits Nabi Muhammad saw.

Pahala dan manfaat bersalaman

Berjabat tangan mempunyai arti dan manfaat yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Bersalaman adalah merupakan suatu tanda atau simbol dari tanda kemesraan, dan penghormatan di antara sesama manusia sehingga dari bersalaman ini akan berdampak positif pada hubungan antar individu dan dapat tercipta rasa kasih saying, perkenalan, persahabatan, kemesraan.

Di samping itu, selain manfaat secara sosial, dari sudut pandang islami dengan berjabat tangan, maka Allah akan memberikan pahala yang besar yaitu hilangnya dosa-dosa meskipun dosa tersebut seperti buih di lautan. Begitu besar pahala yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bersalaman sebagaimana dalil sabda Nabi Muhammad saw. yang artinya :

Sesungguhnya seorang muslim itu jika bertemu saudaranya kemudian bersalaman oleh kedua-duanya, maka gugurlah dosa-dosa mereka sebagaimana berguguran daun-daun dari pokok yang kering ditiup oleh angin kencang, melainkan kedua-duanya diampuni semua dosa mereka meskipun banyak seperti buih di lautan. (HR. Thibrani)

Dalam dalil hadits Nabi yang lain, menjelaskan bahwa anjuran berjabat tangan juga dapat di implementasikan kepada para sahabat, saudara atau anggota keluarga yang bepergian jauh. Bagaimana adabnya, berikut Hadits Nabi Muhammad Rasulullah saw. yang menjelaskan adab bersalaman tersebut :

Keadaan sahabat Rasulullah apabila mereka bertemu mereka bersalaman dengan berjabat tangan, dan jika mereka menyambut kepulangan yang jauh, maka mereka berpelukan. (HR. Abu Daud)

Dalam dalil Hadits yang lain dijelaskan sebagai berikut : Apabila bertemu antara dua orang muslim kemudian kedua-duanya bersalaman serta memuji Allah kemudian kedua-duanya meminta ampun kepada Allah, maka Allah mengampunkan dosa kedua-duanya. (Riwayat Abu Daud)

Dari keterangan hadits di atas, memberikan penjelasan bahwa persaudaraan Islam mempunyai peranan penting dan besar dalam pengukuhan suatu bangsa dan masyarakat itu sendiri ke arah persatuan perpaduan kaum secara sehat dan harmoni serta selalu dengan dan dalam keridhaan Allah swt. Meskipun demikian perlu digarisbawahi bahwa bersalaman dengan berjabat tangan hanya diperbolehkan antara perempuan dengan perempuan  dan lelaki dengan lelaki.

Selain itu, ajaran Islam juga memperbolehkan bersalaman atau berjabat tangan antara perempuan Islam dengan perempuan bukan Islam, atau antara lelaki Islam dengan laki-laki yang bukan Islam. Hal ini mempunyai maksud dan tujuan agar tidak ada rasa tersisih atau kecil hati serta bertujuan untuk semata-mata menjalin perpaduan menuju keamanan hidup.

Hukum Bersalaman atara lelaki dengan perempuan.

Dalam Islam melarang keras bersalaman dengan berjabat tangan lelaki dan perempuan yang bukan muhrim atau tidak ada hubungan atau pertalian persaudaraan. Pernyataan tersebut adalah berdasarkan madzhab Syafi’i dan telah diterangkan oleh Sheikh 'Athiah Saqar dari Majlis Fatwa Al-Azhar dengan berdasarkan kaidah dari mazhab Syafi’i: Tidak halal bersalaman antara lelaki dan  perempuan melainkan dengan berlapik. Lapik berarti alas atau alasan yang melapisi kulit tangan.

Keterangan di atas, juga berdasarkan dalil Firman Allah swt. dalam ayat al-Quran Al-Karim yang berbunyi:

أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا

Artinya : atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). (QS. Al-Nisa': 43)

Mengacu pada firman Allah di atas, dan mengacu pada mazhab Imam Syafi’ii, maka apabila laki-laki bersentuhan dengan wanita tanpa adanya alas, maka batallah wudhunya. Maka dengan demikian hokum bersalaman dengan berjabat tangan atau bersentuhan dengan sengaja adalah haram atau dilarang. Maka, bersalaman dengan berjabat tangan itu tidak boleh kecuali dengan beralas atau berlapik.

Namun, pendapat dari madzhab Imam Hanafi, Imam Maliki dan Hambali berpendapat bahwa bersalaman dengan berjabat tangan itu diperbolehkan apabila hanya sekedar bersalaman antara lelaki dan perempuan yang sekiranya tidak ada keinginan nafsu di antara mereka.

Meskipun tidak ada keinginan nafsu, namun menurut fatwa dari Sheikh Mohd Mutwalli al-Sha'rawi menerangkan bahwa hendaknya tidak diperbolehkan bersalaman antara lelaki dengan perempuan meskipun niatnya adalah hanya sekedar bersalaman saja. Hal ini dikarenakan ini merupakan peraturan dari hukum syara’ ditakuti akan adanya wujud benih-benih keinginan hawa nafsu syahwat melalui antara dua tangan yang berjabat tangan tersebut.

Merujuk buku dari Al-Imam Abi Zakaria Yahya bin Syarafi Al-Nawawi Al-Demsyacli. 1992. halaman 185 s/d 186 dan menurut mazhab Imam Syafi’I, apabila antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya berjabat tangan tanpa lapik maka mereka berdosa. Hal ini karena sentuhan di antara dua tangan yang bukan muhrimnya adalah haram hukumnya sehingga wajiblah mereka untuk beristighfar dan bertaubat memohon ampunan dari Allah swt.

Berhubungan dengan salaman berjabat tangan, apabila dianggap sebagai suatu masalah yang remeh dan ringan dan remeh, sesungguhnya masalah ini adalah berat dan besar di sisi Allah swt. dan dari sudut akhlak orang Islam, terutama di kalangan para remaja karena hal ini akan berdampak yang lebih besar pada kemaksiatan dan mengarah kepada dosa zina apabila sudah melibatkan hawa nafsu. Oleh sebab itu, agar permasalahan ini tidak menjalar pada permasalahan yang lebih berat dan besar maka jalan-jalan yang memicu timbul dam berkembangnya harus dipotong dan dihalangi lebih dahulu.

Berkaitan dengan masalah jabat tangan atau bersalaman ini ditegaskan oleh Rasulullah saw. dalam Hadits: Seandainya ditikam di kepala seseorang kamu dengan sebatang besi adalah lehih baik baginya dari menyentuh kulit wanita yang tidak halal untuk disentuh. (HR. Baihaki)

Sabda Nabi di atas menjelaskan bahwa syariat agama Islam adalah benar-benar tidak memperbolehkan, mencegah dari menyentuh tubuh perempuan atau wanita yang normal, sehat dan sempurna, kecuali dikarenakan karena alas an tertentu seperti penyakit yang memerlukan pertolongan ataupun dengan tujuan untuk mengobati, maka hal seperti ini diperbolehkan dari sisi syariat islam. Hal ini pun dengan catatan hanya seperlunya saja serta disaksikan oleh orang lain yaitu bukan berdua-duaan dan tidak melampaui batasan-seperlunya saja.

Isyarat bersalaman dengan lawan Jenis

Nabi Muhammad saw. selalu memberi salam kepada wanita dengan mengucapkan Assalamu’alaikum serta memberi sebuah isyarat sebagai suatu penghormatan dengan cara mengangkat tangan beliau dan tidak bersalaman dengan berjabat tangan.

Hal tersebut di atas, adalah berdasarkan dalil sabda Nabi saw. yang diceritakan oleh Asma' binti Yazid yang artinya : Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah melambai di pekarangan masjid pada suatu hari terdapat sekumpulan kaum perempuan sedang duduk di sisi masjid. Maka Rasulullah s.a.w. mengangkat tangannya sebagai tanda penghormatan dengan mengucapkan kalimat salam.’(HR. Tarmizi)

Demikianlah perbezaan amalan bersalaman antara lelaki dan perempuan namun ganjarannya adalah sama di sisi Allah dengan mendoakan semoga selamat sejahtera, asalkan salam yang diberi itu betul dan ikhlas, Allah sahaja yang membalas.

Dari syariat Islam berdasarkan Kitabullah al-Qur’an dan dalil Hadits Nabi, jelaslah bahwa bersalaman dengan berjabat tangan mempunyai peranan penting. Berjabat tangan atau salaman dengan bersentuhan tangan yang diperbolehkan adalah antara lelaki dengan laki-laki dan antara perempuan dengan perempuan. Berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim hukumnya adalah haram sebagaimana keterangan di atas. Nabi dalam hal ini mengajarkan hanya memberikan isyarat dengan mengangkat tangan sebagai ganti dari bersalaman dengan berjabat tangan
loading...

Monday, December 29, 2014

Memusnahkan Penyakit Wahn, Cinta Dunia dan Takut Mati

Memusnahkan Penyakit Wahn, Cinta Dunia dan Takut Mati

Wahn adalah penyakit cinta kepada dunia dan takut akan kematian. Sesungguhnya berbagai kenikmatan yang ada di dunia adalah kenikmatan yang semu atau fana, kenikmatan tidak kekal abadi dan kenikmatan yang sedikit. Dan kenikmatan yang kekal abadi, kenikmatan yang banyak adalah kenikmatan di akhirat yaitu di surga, itulah sebaik-baik tempat untuk kembali. Setiap insan manusia pasti menginginkan mendapatkan kenikmatan surga, baik kaum muslim maupun kafir, orang yang sholeh maupun orang yang sering berbuat maksiat, namun surga adalah merupakan tempat spesial yang diberikan oleh Allah swt. bagi hamba-hambanya yang bertaqwa, beriman serta beramal sholeh.

Sebagaimana dalil  firman Allah swt. dalam Al-Qur’an Al-Karim :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمََٔابِ

Artinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q.S Ali Imran:14)

Dari firman Allah swt. di atas, menjelaskan adanya bermacam-macam kesenangan duniawi yang oleh Allah swt. dijadikan indah pada pandangan manuasia, sehingga mengakibatkan manusia menjadi tergila-gila pada kenikmatan duniawiyah, sehingga mereka berusaha untuk memperoleh kesenangan duniawi tersebut, dan melupakan kehidupan kekal kelak di akhirat. Setelah manusia memperoleh berbagai kesenangan duniawi, kemudian mereka takut untuk kehilangan kenikmatan-kenikmatan tersebut dan kemudian mereka pun takut akan datangnya kematian. Sehingga mereka tertimpa musibah berupa wahn yaitu penyakit cinta dunia dan takut akan kematian.

Penyakit cinta dunia dan takurt mati atau wahn dalam dalil Hadits Nabi Muhammad saw.

Tentang wahn yaitu penyakit cinta akan dunia dan takut mati, Rasulullah saw. bersabda yang artinya : Dari Tsauban dia berkata, Rasulullah saw. bersabda :

Akan terjadi masa yang mana umat-umat diluar Islam berkumpul di samping kalian semua wahai umat islam, sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang memakan hidangan makanan, kemudian salah seorang sahabat bertanya : apakah pada saat itu kami sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab : tidak, bahkan pada saat itu kalian dalam jumlah yang banyak, namun pada saat itu kalian bagaikan buih yang ada di lautan. Ketika itu Allah telah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa takut dan segan terhadap kalian, dan kalian terkena Wahn. Kemudian seorang sahabat bertanya kembali : Ya Rasulullah apa yang kamu maksudkan dengan Wahn itu? Rasulullah berkata : Cinta dunia dan takut Mati. (HR. Abu Dawud)

Pengaruh penyakit ini sangatlah besar dan mendalam, mengakibatkan rusaknya pemikiran kaum muslimin, sehingga ia lupa akan tugas utamanya yaitu Iqomatuddin. Pintu inilah yang digunakan setan dan kawan-kawannya, untuk merusak jiwa-jiwa orang-orang beriman dan para aktivis muslim. Kaum muslimin secara umum telah menjadi lemah di hadapan musuhnya, rasa takut telah hilang dari hati musuh sehingga musuh tidak merasa takut dan khawatir terhadap kaum muslimin karena mereka telah mengetahi kelemahan kaum muslimin saat ini.

Wahn ini terjadi disebabkan kebodohan yang menyebabkan rasa tamak kaum muslimin pada dunia sehingga kaum kafir menggerogoti mereka dari segala penjuru. walupun jumlah kaum muslimin banyak akan tetapi jumlah ini hanya bagaikan buih di lautan yang terombang-ambing oleh ombak, yang tak tau arah, itulah keadaan kaum muslimin, disebabkan tertimpa wahn.

Adapun tanda-tanda atau gejala-gejala Wahn adalah sebagai berikut:
1.    Lebih suka mementingkan dunia dari pada kepentingan akhirat
2.    Lebih suka mendengar music dari pada Al quran
3.    Suka menumpuk-numpuk harta

Abdullah bin Umar juga mengatakan “Sesungguhnya dunia adalah surga orang kafir dan penjara bagi orang mu’min. Ruh orang mu’min yang dikeluarkan dari tubuhnya seperti orang yang keluar dari penjara, ia melayang gembira sesuka hatinya.”

Namun kemudian Allah menegaskan bahwa kenikmatan tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan di sisi-Nya, yaitu kenikmatan yang kekal abadi, bukan kenikmatan yang tak ubahnya fatamorgana belaka, seperti kenikmatan dunia ini. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Rasullullah bersabda,” Seandainya dunia ini disisi Allah senilai sayap nyamuk, maka Allah tidak akan memberi orang kafir seteguk air sekalipun”. (H.R Tirmidzi)

Maka jadilah kita seperti orang asing atau musafir, siang dan malam baginya adalah proses mengumpulkan perbekalan untuk pulang ke kampung halaman abadi, yaitu akhirat.

Baginda yang mulia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah contoh seorang penguasa yang dititipi dunia akan tetapi ia tidak diperbudak oleh dunia, tidak meletakkan cinta  kecuali cinta terhadap Allah, kalaupun ada cinta pada dunia hakikatnya itu adalah cinta karena Allah, inilah salah satu rahasia sukses di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang meneladani Rasulullah.

Sejarah mencatat sosok orang-orang yang terpelihara hatinya dari silaunya dunia, lihatlah Abu Bakar dan Umar Radliyallah ‘anhuma, begitu mudahnya mereka berlomba-lomba dalam menginfakkan setengah bahkan hingga seluruh hartanya di jalan Allah karena mereka melihat ada keuntungan akhirat yang berlipat ganda ketika mereka menginvestasikan harta tersebut semata-mata mencari ridha-Nya.

Jika kaum muslimin saat ini bersikap demikian sungguh kita akan kembali memimpin dunia dan diangkat dari kehinaan yang telah lama menimpa kita, kita tidak lagi tertimpa Wahn yaitu takut mati dan tidak lagi tergila-gila terhadap kenikmatan duniawi.

Hendaknya kita siaga dan waspada serta tidak membiarkan penyakit Wahn ini menjangkiti diri kita dan kaum muslimin. Maka, alangkah baiknya kita ketahui obat dari penyakit Wahn ini guna menyembuhkan bagi siapa saja yang sudah terinfeksi penyakit ruhani ini dan membentengi kaum muslimin supaya lebih bisa mengantisipasi penyebarannya.   

Obat Penyakti Wahn

Obat yang manjur untuk mengobati penyakit Wahn, tidak lain dan tidak bukan adalah dengan jalan menuntut ilmu agama Islam dan memahami agama ini. Oleh sebab itu, hendaknya kaum muslimin  memperkaya bekal dengan menambah ilmu agama seraya bertaqarrub kepada Allah swt. Dengan melakukan hal demikian, maka kita sebagai hamba Allah swt. akan lebih mendahulukan keridhaan Allah swt. daripada murka-Nya, bersegera dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah swt. dan ketakwaan dengan benar dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya serta bersegera bertaubat dari dosa pada masa lampau dengan taubat nasuha. Dengan hal ini pula kaum muslimin akan segera memiliki berbagai bekal persiapan untuk menghadapi musuh mereka.
loading...

Wednesday, December 24, 2014

Kenapa Kita Wajib Mengendalikan Emosi Negatif?

Kenapa Kita Wajib Mengendalikan Emosi Negatif?

Emosi pada dasarnya ada dua jenis yaitu emosi positif seperti perasaan gembira, senang dan emosi negatif seperti contohnya adalah seperti amarah dan murka. Mengapa kita harus mengendalikan emosi negatif? Dan bagaimana cara mengendalikan emosi yang negatif? Berikut ini adalah beberapa paparan kisah cerita dari Nabi Muhammad saw. yang menjadi suri tauladan dalam setiap perkataan dan perbuatannya mengenai sifat beliau yang mampu dan bisa mengendalikan emosi beliau. Juga dari hasil penelitian serta pandangan psikologis tentang emosi negatif yang dapat kita jadikan sebagai dasar mengapa kita wajib untuk mengendalikan emosi negatif.
Kisah teladan Nabi dalam mengendalikan emosi

Pada suatu ketika Nabi Saw. berjalan bersama-sama dengan Anas Radhiallahu ‘anha, tiba-tiba seorang Badui yang mengejar Rasulullah dan kemudian menarik surban Rasul saw. dengan keras. Anas Ra. Berkata : aku melihat adanya bekas tarikan kasar pada surban di leher Nabi. Kemudian, seorang Badui itu berkata : Hai Muhammad, berikanlah aku dari harta Allah yang ada padamu. Kemudian, sambil tersenyum Rasul pun menoleh dan memberika  perintah kepada sahabat agar memberi harta yang cukup banyak kepada orang Badui tersebut.

Dari cerita kisah di atas,menunjukkan bahwa hebatnya kemampuan dan Sikap Rasulullah saw. dalam mengendalikan emosi. Meskipun beliau disakiti dengan ditarik secara kasar surbannya, dihina di depan orang, serta dengan secara paksa dimintai sedekah, namun beliau tersenyum dan tidak marah.

Mengendalikan Emosi marah ditinjau dari segi ilmu kedokteran

Dari segi medis, kemarahan dalam hal ini emosi negatif marah adalah merupakan suatu sikap emosional yang dapat memberikan dampak negatif terhadap organ vital manusia yaitu jantung. Pada saat seseorang marah, akan berakibat dan terjadi perubahan dalam faal atau fungsi tubuh (fisiologis tubuh) seperti terjadinya peningkatan hormon adrenalin yang akan berpengaruh pada kerja jantung yang lebih cepat, cepatnya detak jantung serta menambah penggunaan oksigen. Dengan demikian kemarahan atau emosi marah akan memaksa kinerja jantung dalam memompa darah yang lebih banyak sehinga bisa menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hasil akhirnya dapat berakibat fatal apabila pemarah tersebut mempunyai penyakit darah tinggi atau penyakit jantung, bisa berakibat terjadinya penyakit stroke dan penyakit jantung lainnya.

Mengendalikan Emosi marah dan hasil Penelitian

Dari hasil penelitian modern memberikan kesimpulan bahwa kemarahan atau emosi marah yang berulang-ulang dapat mengurangi umur harapan hidup atau dengan kata lain dapat memperpendek umur seeorang. Hal ini disebabkan karena mereka diserang oleh berbagai penyakit jasmani dan penyakit kejiwaan. Sehingga, dari sinilah letak kedaruratan dari larangan marah untuk marah.

Dampak dan akibat emosi marah atau kemarahan akan semakin parah dan berat saat pelaku dalam keadaan berdiri, hal ini disebabkan semua otot-otot dan urat mengencang sehingga dapat meningkatkan jumlah pengeluaran hormon adrenalin. Keadaan seperti ini dapat menjadi penyebab timbulnya penyakit kanker.

Kondisi akan berbeda jika pelaku emosi marah dalam keadaan duduk, maka terjadi penurunan adrenalin. Dan, jika mengingat Allah swt. lalu meminta perlindungan kepada Allah swt. dari kejahatan setan yang terkutuk maka secara signifikan akan menghasilkan ketenteraman hati.

Sebagaimana dalil sabda Nabi Muhammad saw. :

Ketika ada seorang lelaki mendatangi Rasulullah Saw. kemudian berkata : berilah aku nasihat. Kemudian, Rasulullah bersabda : Jangan marah. Laki-laki itu mengulangi lagi permintaannya beberapa kali, namun Rasulullah tetap menjawab dan berkata : Jangan marah. (HR al-Bukhari).

Juga sabda Nabi yang lain : Bila salah seorang dari kamu marah dalam keadaan berdiri hendaklah duduk, bila kemarahan masih belum hilang hendaklah ia berbaring. (HR Ahmad).

Mengendalikan Emosi marah ditinjau dari segi ilmu psikologis

Dari segi ilmu kejiwaan, emosi marah atau kemarahan adalah merupakan ketegangan jiwa yang timbulnya karena penolakan terhadap apa yang tidak diinginkan, atau munculnya karena bersikukuh dengan pendapat atau opini tertentu tanpa melihat kesalahan atau kebenaran dari pendapat tersebut.

Akar dari perasaan emosi marah adalah ketidakpuasan terhadap sesuatu. Pada saat seseorang berlindung kepada Allah swt. dari setan yang terkutuk berarti seseorang tersebut mengakui bahwa emosi adalah merupakan perbuatan setan, dan emosi marah dapat dihalau dengan jalan meyakini bahwasanya keburukan dan kebaikan semua datang dari Allah swt. dan dia harus senantiasa ridha dengan ketentuan Allah swt.

Pada saat Rasulullah Saw. melihat seseorang yang sedang marah besar kemudian beliau bersabda : aku akan mengajarkan kalimat-kalimat apabila dia membacanya maka akan hilang kemarahannya. Jika dia mengucapkan “A'udzubillahi min as syaithoni arrajiim” maka pasti akan hilang amarahnya. (HR Bukhari dan Muslim).

Tips cara mengendalikan emosi kemarahan

Dengan bersumber dari dalil sabda Nabi Muhammad saw., dari segi medis kedokteran, serta psikologis atau kejiwaan, maka dapat ditarik beberapa tips, cara mengendalikan emosi marah yaitu sebagai berikut :
  • Ingatlah selalu bahwa emosi marah itu tidak ada guna dan faedahnya, dan hanya berdampak keburukan pada diri jasmani dan rohani.
  • Ingatlah selalu bahwa marah itu adalah perbuatan syetan yang terkutuk
  • Ingatlah selalu bahwa marah itu dapat mengganggu kesehatan jasmani maupun kejiwaan. Berakibat pada gangguan pada organ vital kehidupan manusia seperti jantung. Dapat memperpendek usia
  • Ingatlah selalu bahwa semua keburukan dan kebaikan itu datangnya dari Allah dan kita selalu ridha atas apa saja yang menimpa pada diri kita baik itu kebaikan maupun keburukan.
  • Apabila anda marah maka duduklah, apabila kemarahan belum hilang maka berbaringlah.
  • Selalu bersikap toleran terhadap perlakuan dan keadaan apapun yang menimpa kita baik keburukan maupun kebaikan.
  • Ketika emosi marah, selalu mintalah perlindungan kepada Allah swt. dengan membaca bacaan Ta’awudz : A'udzubillahi min as syaithoni arrajiim.
  • Salah satu ciri orang mukmin adalah orang yang bisa mengendalikan emosi marah. Mengendalikan marah bisa menjadi jalan untuk meraih surga Allah swt. Sebagaimana sabda Nabi :
Ada tiga perkara yang jika seseorang dapat mengerjakannya, maka Allah menempatkannya dalam naungan Allah, mencurahkan rahmat-Nya, serta memasukkannya ke dalam Surga, mereka adalah orang yang jika mendapatkan rezeki mereka bersyukur, bila mampu membalas, mereka bisa memberi maaf dan bila marah mereka mampu menahannya
Dengan bisa mengendalikan emosi marah, fainsya allah kerusuhan, tawuran, dan tindakan anarkis tidak akan terjadi. Dalam Islam, salah satu ciri orang mukmin yang bertakwa adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya. Mengendalikan marah juga dapat menjadi jalan dalam meraih surga. Agar supaya kita dapat mengendalikan emosi marah, maka kita harus senantiasa mengingat Allah swt. yang selalu mengawasi hambanya dan selalu bersikap toleran terhadap keadaan apapun. Obat yang manjur mengatasi ketegangan jiwa adalah dengan sikap toleran.
loading...

Sunday, December 21, 2014

Cara yang Benar dalam Membantu Orang Miskin

Cara yang Benar dalam Membantu Orang Miskin

Bagaimana cara membantu orang miskin yang benar? Saling membantu, saling tolong-menolong antara sesama terutama orang miskin yang membutuhkan adalah merupakan ajaran Islam sebagaimana firman Allah dalam al-Quran Surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya : dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.

Pribadi Rasulullah Nabi Muhammad saw. adalah insan yang paling mulia, pribadi yang gemar menolong, membantu orang miskin atau orang yang tidak mampu. Berikut ini adalah sebuah kisah cerita pribadi rasul yang gemar membantu orang miskin dan cara-cara Rasul dalam membantu orang miskin.

Pada suatu hari, Nabi Muhammad saw. sedang berkumpul bersama para sahabatnya, ada seseorang yang datang meminta-minta kepada Nabi Saw. Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepada pengemis itu : apakah  kamu  memiliki sesuatu di rumahmu? Pengemis itu berkata : tentu, saya memiliki pakaian yang biasa untuk dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir. Kemudian, Rasulullah berkata : ambil dan serahkan kepada saya.

Kemudian, sang pengemis itu pun langsung pulang dan segera kembali kepada Rasulullah dengan membawa cangkir seperti apa yang diminta Rasul. Lalu, Rasulullah menawarkan cangkir tersebut kepada para sahabat. Rasul berkata : adakah di antara kamu yang ingin membeli ini?. Kemudian salah seorang sahabat menjawab : Saya beli dengan satu  dirham. Rasulullah menawarkannya kembali kepada para sahabat yang lain. Ada salah seorang dari sahabat yang sanggup membeli cangkir tersebut dengan harga dua dirham. Kemudian, Nabi saw, memberikan dua dirham tersebut kepada pengemis tersebut. Rasulullah berharap agar  uang dua dirham tersebut dipergunakan untuk membeli makanan bagi keluarganya,  dan sisa  uang setelah memberi makanan  dipergunakan  untuk membeli sebuah kapak.

Rasulullah berkata kepada pengemis : carilah kayu-kayu yang banyak dan kemudian juallah, dalam waktu dua minggu aku tidak ingin melihat kamu!. Setelah dua minggu berlalu, sang pengemis tersebut datang kembali menemui Rasulullah Saw., tetapi kedatangannya kepada Nabi saw, tidak untuk mengemis. Dia datang menemui Rasullah saw. dengan membawa uang sejumlah 10 dirham yang dihasilkannya dari kayu-kayu yang ia jual. Kemudian, Rasulullah Saw. menyuruh pengemis itu untuk membeli makanan dan pakaian keluarganya.

Rasulullah berkata : Hal yang seperti ini lebih baik bagimu, karena meminta-meminta hanya membuat noda pada wajahmu di akhirat kelak. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali karena tiga hal, fakir miskin yang sungguh-sungguh tidak memiliki sesuatu, utang yang tidak mampu dan bisa terbayar, dan penyakit yang menjadikan seseorang tidak bisa dan mampu berusaha.

Seandainya setiap orang di muka bumi ini bisa mencontoh perilaku Rasulullah saw. sebagaimana tersebut di atas. Dengan jalan memberikan sedekah atau memberikan pekerjaan, niscaya jumlah anak jalanan, pengemis, orang fakir miskin, serta pengangguran dapat terkurangi.

Demikianlah Rasullullah memberikan suri tauladan atau contoh bahwa kebaikan, kesalehan spiritual belum  dapat dikatakan  sempurna,  apabila tidak diikuti dan dibarengi dengan kesalehan, kebaikan  sosial.

Cara Nabi Muhammad dalam membantu orang miskin, tidak hanya dalam bentuk uang semata, namun juga dalam bentuk “kail” dalam hal ini diartikan sebagai pekerjaan dengan harapan agar nantinya orang yang tidak mampu tersebut dapat hidup mandiri.

Dalil dalam firman Allah dalam Al-Quran Al-Karim :

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 

Artinya : (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. QS. Ali-Imran : 134

Firman Allah di atas menjelaskan bahwa orang yang bertakwa adalah orang-orang yang  menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang dapat menahan marah atau amarahnya serta memaafkan kesalahan orang.

Sesungguhnya kefakiran atau kemiskinan itu dapat menjerumuskan seseorang ke jurang kekafiran.

Apabila kita bisa membantu, berbagi dengan orang lain yang berada di sekeliling kita yang fakir dan miskin yaitu orang miskin dengan cara-cara yang diajarkan Rasulullah saw. pastinya pengangguran, kemiskinan akan berkurang, anak cucu kita terjamin pendidikan dan kesehatannya, serta masih banyak manfaat lain yang akan didapatkan dari saling berbagi dengan orang yang tidak mampu-orang miskin.
loading...

Tuesday, November 18, 2014

Menahan Marah dan Murka, Apa Bedanya?

Menahan Marah dan Murka, Apa Bedanya?

Orang yang mampu menahan marah atau ghaizh adalah merupakan salah satu ciri dari orang yang bertakwa. Hal ini adalah sesuai dengan dalil firman Allah dalam Kitabullah al-Qur’an al-Karim Surat Ali Imran yang berbunyi sebagai berikut :

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ. ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Artinya : Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran : 134)

Imam Qurthubi juga menjelaskan pengertian ghoizh adalah hampir menyerupai ghadhab (marah). Akan tetapi secara bahasa arti atau pengertian ghadhab adalah tidak sama persis dengan ghaizh. Arti ghadhab adalah marah yang terwujud dalam atau dengan anggota tubuh pelakunya.

Seseorang yang marah pada sudut pandang ghadhab, maka ucapannya akan terucap kata-kata keji, terkadang tangannya ikut memukul, menampar atau dapat juga membanting benda atau barang yang ada di sekitar mereka. Di samping itu kakinya juga ikut serta bertindak. Arti atau pengertian gadhab yang tepat dala kamus bahasa Indonesia berarti murka.

Sedangkan pengertian ghaizh adalah marah yang terjadi da nada pada seseorang, akan tetapi kemarahannya hanya disimpan dan bergolak dalam hati saja yang tidak terwujud dalam anggota tubuh, baik tangan, kaki maupun ucapan atau mulutnya. Yang terjadi adalah pada wajahnya sedikit merah, matanya berkilat, namun tangan dan kakinya tidak bertindak serta tidak mengeluarkan kata-kata keji dan kotor. Arti yang tepat untuk kata ghaizh itu adalah adalah marah.
Bagaimana pandangan dari dalil hadits Nabi?

Dikisahkan dalam banyak dalil dari hadits Nabi Muhammad saw. dijelaskan bahwa Nabi apabila marah, Rasulullah tidak pernah menampakkannya dalam hal-hal atau wujud yang menyakiti orang lain atau merendahkan harga diri beliau. Diceritakan pada suatu hari Nabi Muhammad bersama Istrinya Aisyah, ada orang-orang Yahudi melintas di depan rumah Nabi dan memberi salam dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum (mati terkena racunlah kamu)

Kemudian Nabi menjawab salam mereka dengan jawaban : ‘Alaikum (atasmu juga)

Demikian juga halnya ‘Aisyah menjawab salam tersebut dengan jawaban : Wa’alaikum saam walla’nah (kamu semua mati terkena racun dan terkena laknat). Saat itu juga Nabi memberikan nasehat kepada Aisyah bahwa Allah menyukai berkasih sayang pada setiap sesuatu. (HR. Bukhari Muslim)

Dikisahkan juga, pada suatu ketika Maimun bin Mahran duduk di rumahnya beserta para tamu dan bersiap untuk makan bersama. Tiba-tiba salah satu budak perempuan yang membawa kuah sup terpeleset dan wajah Maimun bin Mahran terkena kuah sup tersebut. Seketika itu juga, Maimun bangkit dan akan memukul budak perempuannya itu.

Sang budak tersebut membaca surat Al-Qur’an yang artinya :”Orang yang bertakwa mampu menahan marah”

Kemudian Maimun menjawab : ya, aku menahan marahku. Kemudian bidak itu melanjutkan bacaan al-Qur’an yang artinya : “dan memaafkan kesalahan orang”. Lalu Maimun berkata : Aku memaafkanmu karena Allah. Lalu budah perempuan tersebut menutupnya dengan ayat yang artinya : Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Kemudian Maimun menjawab : Aku membebaskanmu karena Allah.

Surat yang dibacakan budak perempuan dari Maimun tersebut adalah surat Ali Imran ayat 133 sampai 134 yang sudah tersirat di atas.

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menahan amarah atau marah. Namun ironisnya, banyak sekali kejadian-kejadian yang menunjukkan ketidakmampuan diri dalam menahan murka. Sebagai contoh misalnya dalam perjalanan berkendaraan dikarenakan macet, mulut mengucapkan kata-kata yang tidak layak, memaki-maki orang, menampar orang, memukul orang, tawuran dan lain sebagainya.

Apabila menahan diri dari murka yang menyakiti orang lain dan merusak ini belum dapat di implementasikan diri, bagaimana kita mampu menahan marah? Padahal orang yang taat dan bertakwa kepada Allah tidak diminta menahan murka, akan tetapi orang yang bisa menahan marah. Mari berlomba-lomba menjadi orang yang bertakwa yang bisa menahan murka sehingga selanjutnya dapat menahan marah. Di samping itu, menahan marah adalah bisa menjadi jalan menuju surga. Amiiin
loading...