Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label ILmu Wudlu'. Show all posts
Showing posts with label ILmu Wudlu'. Show all posts

Friday, January 22, 2016

Keutamaan Wudhu dari Setiap Proses Wudhu

Keutamaan Wudhu dari Setiap Proses Wudhu

Wudhu merupakan tahapan awal atau pendahuluan dalam proses penyucian yang agung sebelum mengerjakan sholat. Wudhu dan setiap gerakan di dalam wudhu mulai berkumur hingga membasuh kaki masing-masing mempunyai keutamaan. Berikut ini adalah keterangan dari dalil hadits Nabi saw. yang menyebutkan keutamaan-keutamaan wudhu dan setiap proses tahapan gerakan di dalam wudhu.

Apa saja keutamaan dari wudhu dan masing-masing tahapan gerakan di dalam wudhu?

Keutamaan wudhu akan menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat

Dalil hadits Nabi Muhammad saw.

Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa kalian dan meninggikan derajat kalian? Para sahabat menjawab: Mau, ya Rasulullah. Kemudian beliaupun berkata: Yaitu, dengan cara menyempurnakan Wudhu dari hal-hal yang bersifat makruh, banyak melangkahkan menuju masjid dan menunggu waktu setelah (tahiyatul masjid). Yang demikian itu adalah ikatan (perjanjian)" (HR. Muslim).

Keutamaan setiap tahapan wudhu akan menghapus kesalahan-kesalahan yang telah dikerjakan.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Sabda Nabi saw. dari Abdullah Ash Shanaji ra., bahwa Rasulullah bersabda: Apabila seorang hamba ber-Wudhu, kemudian berkumur-kumur, maka dikeluarkanlah (dihapuskan) kesalahan-kesalahan itu dari mulutnya. Apabila memasukkan air ke rongga hidung, maka keluarlah kesalahan-kesalahan itu dari hidungnya.

Apabila dia membasuh wajahnya, maka keluarlah kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan dari wajahnya, sehingga kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi keluar dari bawah tempat tumbuhnya rambut dari kedua matanya.

Apabila dia membasuh dari kedua tangannya, maka keluarlah kesalahan-kesalahan itu dari kedua tangannya, sehingga kesalahan yang pernah terjadi keluar dari bawah (celah) kukunya.

Apabila dia mengusap kepalanya, maka keluarlah kesalahan-kesalahan itu dari kepalanya, sehingga kesalahan-kesalahan tersebut keluar dari kedua telinganya.

Apabila dia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah  kesalahan-kesalahan tersebut dari kedua kakinya, sehingga kesalahan yang pernah ia lakukan keluar dari bawah kuku-kuku dari kedua kakinya.

Lalu perjalanannya ke masjid adalah merupakan nilai ibadah tersendiri baginya. (HR. Imam Malik, An Nasai, Ibnu Majah dan Al Hakim).

Baca juga cara Wudhu, doa sebelum dan sesudah wudhu
Baca juga Doa wudhu lengkap pada setiap langkah dan tahapan

Subhanallah, keterangan mengenai keutamaan dari wudhu dan juga keutamaan dari setiap tahapan gerakan dalam wudhu yang bersumber dari dalil hadits Nabi saw. Mari kita berusaha untuk meraih keutamaan-keutamaan tersebut dengan cara mengerjakan wudhu dengan cara wudhu batin. Sehingga dapat menjadikan bekal awal untuk sholat yang khusyu’.
loading...

Monday, October 27, 2014

Cara berwudhu' dengan Wudhu Batin, Cara Sholat Khusyu’

Cara berwudhu' dengan Wudhu Batin, Cara Sholat Khusyu’

Berwudhu adalah merupakan syarat wajib sebelum seseorang mengerjakan ibadah sholat dengan cara berwudhu yang benar. Apabila cara berwudhunya salah, tidak memenuhi syarat dan rukun berwudhu’, maka wudhunya tidak sah dan sholatnya pun tidak sah. Di samping itu cara berwudhu yang benar dan khusyu’ serta dengan berwudhu dengan batin atau hati akan turut berpengaruh pada khusyu'nya sholat yang dikerjakan.

Bagaimana cara berwudhu batin dan cara sholat khusyu'?

Adalah ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, seorang yang terkenal sangat berhati-hati (wara’), rendah hati (tawadhu’), taat dalam beribadah dan selalu khusyu’ dalam sholatnya. Dikarenakan kahati-hatian beliau, dia senantiasa khawatir apabila ibadahnya, sholatnya tidak diterima Allah swt. oleh karena itu dia senantiasa menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat menyebabkan ibadahnya tidak diterima atau tertolak. Sehingga sia-sialah semua amal ibadahnya apabila tidak diterima oleh Allah.Pada suatu hari Isam bin Yusuf menghadiri sebuah pengajian. Pengajian tersebut diajarkan oleh sufi ternama bernama Hatim al-Asham. Isam bin Yusuf memanfaatkan kesempatan pengajian tersebut untuk menambah dan menggali ilmu. Dia bertanya kepada Hatim : Hai Abu Abdurrahman, bagaimanakah cara kamu sholat? Jawab Hatim al-Asham : Ketika waktu sholat telah datang, maka aku berwudhu secara lahir dan batin. Kemudian Isam bin Yusuf bertanya kembali : Bagaimanakah cara berwudhu batin itu?

sholat khusyu'
Jawab Hatim al-Asham : Cara berwudhu lahir adalah dengan membersihkan seluruh anggota wudhu sebagaimana yang telah diajarkan dalam al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad Rasulullah saw. Sedangkan cara berwudhu batin, menurut Sufi ternama tersebut adalah membasuh anggota badan dengan tujuh cara, yaitu sebagai berikut :
Setelah itu, aku pergi ke masjid, kemudian aku menghadapkan hatiku kepada Allah dan wajahku ke arah kiblat. Lalu aku berdiri dengan penuh rasa malu di hadapan Allah swt. Aku membayangkan ketika itu, Allah sedang mengawasiku dan berada di hadapanku. Aku membayangkan pula surge berada di sebelah kanan, dan neraka berada di sebelah kiriku, sementara malaikat pencabut nyawa (malaikat maut) ada di belakangku. Aku juga membayangkan, seolah-olah aku ada di atas jembatan shirratal mustaqim. Serta aku menganggap bahwa sholat yang sedang aku lakukan adalah sholat yang terakhir bagiku.

Lalu aku bertakbir, dan di setiap bacaan sholat, aku senantiasa memahami maknanya. Aku melakukan ruku’ dan melakukan sujud dengan menganggap diriku adalah makhluk yang paling kecil dan tidak memiliki kemampuan apa-apa di hadapan Allah swt. Kemudian aku akhiri sholatku dengan tasyahud dengan penuh pengharapan dan penghambaan kepada Allah swt. Kemudian aku memberi salam. Demikianlah sholatku yang aki kerjakan selama tiga puluh tahun terakhir ini. Kata Hatim al-Asham.

Setelah mendengar penjelasan dari hatim al-Asham tersebut, Isam bin Yusuf menangis dan tertunduk lesu. Isam bin Yusuf membayangkan bahwa ibadahnya (sholatnya) yang selama ini dikerjakannya masih belum seberapa apabila dibandingkan dengan ibadah sholat yang dikerjakan oleh Hatim al-Asham. Yaitu segala sesuatu yang dikerjakannya ketika sholat selalu di awali dengan kesucian lahir dan juga batin serta dengan penuh pengharapan dan ridha dari Allah swt.

Berwudhu adalah merupakan pintu masuk menuju ibadah sholat yang terbaik (sholat yang khusyu’) dan berdialog kepada sang pencipta alam semesta dan isinya Allah swt. sebab berwudhu merupakan bentuk kesucian lahir. Apabila tanpa kesucian lahir, akan mustahil pula tercapai kesucian batin.

Sebagai pelengkap dan akhir bahasan tentang cara berwudhu dengan batin dan cara sholat khusyu’ dari Hatim al-Asham, berikut adalah Firman Allah swt. :

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا

Artinya : Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya"
loading...

Wednesday, July 9, 2014

no image

Cara, Doa Wudhu Lengkap Setiap Langkah

Berikut ini adalah urutan cara dan doa-doa wudhu lengkap yang mana doa ini dimulai dari doa akan berwudhu yaitu doa ketika mencuci tangan akan berkumur, doa niat sebelum mencuci muka, doa ketika mencuci muka sesudah niat, doa ketika membasuh kedua tangan, doa ketika menyapu kepala, doa ketika mencuci kedua kaki serta doa sesudah wudhu membasuh tangan.

Inilah doa-doa wudhu lengkap sesuai urutan cara wudhu 

Langkah pertama adalah mencuci tangan dan berdoa ketika mencuci tangan akan berkumur
   بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحيم. اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ اْلمَاءَ طَهُوْرًا

Artinya : Puji bagi Allah yang menjadikan air itu suci

Langkah kedua adalah berkumur, dan membaca Doa ketika mulut berkumur:

اللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Artinya: Ya Allah, bantulah aku supaya aku dapat berdzikir kepadaMu, dan bersyukur kepadaMu, dan perelok ibadah kepadaMu.
 
Langkah ketiga adalah mebasuh dan menghirup air melalui hidung dan membaca Doa ketika membasuh dan menghirup air melalui lubang hidung:

اَللَّهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَة الجَـنَّةْ

Artinya: Ya Allah, berilah aku ciuman daripada harumnya bau Syurga.

Langkah keempat adalah membaca doa niat wudhu' sebelum mencuci muka :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. نَوَيْتُ الْوُضُوْءَلِرَفْعِ الْحَدَثِ الْاَصْغَرِفَرْضًالِلّٰهِ تَعَالٰى  

Artinya : Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil, fardhu karena Allah

Langkah ke lima mencuci muka yaitu mencuci seluruh muka dengan batas adalah sampai tempat tumbuhnya rambut-rambut kepala hingga dagu dan membaca Doa mencuci muka sesudah niat wudhu

 اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

Artinya : Ya Allah beri cahaya wajahku pada hari bercahaya muka-mua (orang-orang mukmin) dan hitamnya muka-muka (orang-orang kafir)

Langkah keenam adalah membasuh kedua tangan dan membaca Doa ketika membasuh kedua tangan

Doa ketika membasuh tangan kanan :

اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا 

Artinya: Ya Allah! berikanlah kepadaku kitabku dari sebelah kanan dan hitunglah amalanku dengan perhitungan yang mudah.

Doa ketika membasuh tangan kiri :

اَللَّهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى مِنْ يَساَرِىْ وَ لاَ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ

Artinya: Ya Allah! aku berlindung denganMu dari menerima kitab amalanku dari sebelah kiri atau dari sebelah belakang.

Atau hanya dengan doa beikut :

اَللَّهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى

Artinya : Ya Allah! berikanlah buku catatan amalku pada tangan kananku.

Langkah ke tujuh adalah menyapu sebagian rambuat kepada dengan membaca Doa ketika menyapu kepala
اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ على النَّارِ

Artinya : Ya Allah ! halangilah rambutku dan kulitku dari neraka

Langkah ke delapan adalah membasuh kedua telinga dengan membaca Doa membasuh kedua telinga:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

Artinya: Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan kata dan mengikuti sesuatu yang terbaik.

Langkah ke sembilan adalah mencuci kedua kaki dan membaca Doa mencucui kedua kaki
اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمَّي عَلَى الصِّرَاطِ

Artinya : Ya Allah tetapkanlah kedua kakiku di atas titian

Langkah ke sepuluh adalah membaca Doa sesudah wudhu lengkap dan keutamaannya ( sambil melihat ke atas )
 أَشْهَدُ أَنْ لاَاِلَهَ إِلاَّ اﷲُ٬ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكََ لَهُ ٬ وَأَشْهَدُ أََنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُُهُ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ٠

Artinya : Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu hamba dan utusan-Nya. Ya Allah! jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang ahli taubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci.

Demikianlah kumpulan doa-doa wudhu lengkap beserta artinya. Hendaknya doa-doa wudhu ini kita amalkan ketika kita berwudhu dan doa-doa dalam wudhu tersebut semoga terkabul atas ijin Allah swt. Amiin
loading...

Wednesday, May 28, 2014

no image

Keutamaan, Doa Lengkap Setelah Wudhu

Berikut ini adalah keutamaan-keutamaan wudhu, dan bacaan doa setelah wudhu yang perlu kita jelaskan kepada anak dan juga praktekkan sehari-hari. Bacaan doa setelah wudhu adalah bacaan doa ma'tsur yang hendaknya kita baca sesudah melaksanakan wudhu'.

Keutamaan-keutamaan wudhu' antara lain bahwa wudhu' itu dapat melebur dosa-dosa, berdasar hadits yang di­riwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Jika seorang hamba Muslim berwudhu', maka ia membasuh mukanya, maka bersama air yang berjatuhan itu keluar dari wajahnya setiap kesalahan (dosa) yang dilihat oleh kedua mata kepalanya, atau keluar bersama titik terakhir dari nir wudhu'-nya itu, dan jika ia membasuh kedua kakinya, setiap dosa yang dilakukan kedua kakinya keluar bersama air yang dipakai wudhu' atau bersama titik terakhir dari air itu, sehingga ia keluar dalam keadaan suci dari dosa-dosa".

Doa sesudah wudhu atau doa setelah wudhu

Biasakan dalam diri kita dan ajarkan kepada anak-anak, jika setelah selesai berwudhu' agar mem­baca doa yang ma'tsur:

أَشْهَدُ أَنْ لاَاِلَهَ إِلاَّ اﷲُ٬ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكََ لَهُ ٬ وَأَشْهَدُ أََنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُُهُ٠

Aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah, Yang Tunggal, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksibahwasanya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. (H.R. Muslim dan Ahmad).

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ٠

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bersuci. (H.R. At-Tirmidzi).

سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ٬ أَشْهَدُ أَنْ لاَاِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ٬ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ٠

Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan segala puji-Mu, aku ber­saksi bahwasanya tiada tuhan selain Engkau, aku mohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu. (H.R. An-Nasa'i).

Hendaknya kita juga membiasakan dalam diri kita dan mengajarkannya kepada anak-anak kita untuk mengerjakan shalat sunah dua raka'at setiap sesudah wudhu', sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari 'Uqbah bin 'Amir Al-Jahni ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

مَامِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّاءُ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهُ٬ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ يَقْبَلُ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلاَّ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ٠

"Tidaklah seorang Muslim berwudhu' dan ia menyempurnakan wudhu'nya, kemudian mengerjakan shalat dua raka'at sesudah­nya, dikerjakan dengan hati dan wajahnya, kecuali diwajibkan baginya surga".)

Perihal cara wudhu beserta doa sebelum wudhu dan doa setelah wudhu', dipersilahkan dapat anda baca pada linktersebut. Perlu  ditekankan di sini, bahwa hadits-hadits yang memerintahkan bersiwak lebih dari seratus hadits.Itulah keutamaan wudhu menurut dalil hadits dan juga doa setelah selesai wudhu'
loading...

Tuesday, December 31, 2013

Cara Tayamum, Doa Tayamum dan Gambarnya

Cara Tayamum, Doa Tayamum dan Gambarnya

Bagaiamanakah cara tayamum yang benar, syarat-syarat, doa tayamum dan ketentuan lainnya? Pengertian tayamum adalah mengusap muka dan dua belah tangan dengan debu yang suci. Pada suatu keadaan tertentu tayamum dapat menggantikan wudhu dan mandi dengan memenuhi syarat-syarat tertentu.

Apa saja syarat-syarat tayamum?

Syarat-syarat bagi seseorang untuk diperbolehkan melakukan tayamum adalah sebagai berikut :
  • Tidak ada air dan telah berusaha mencari air, tetapi tidak dapat menemukan air.
  • Ada halangan karena sebab tertentu untuk menggunakan air, misalnya karena sedang sakit dimana apabila menggunakan air maka sakitnya akan bertambah parah atau kambuh.
  • Telah masuk waktunya shalat.
  • Dengan menggunakan debu yang suci.
Bagaimana cara melakukan tayamum yang benar?

Berikut ini adalah urutan tata cara tayamum beserta gambar cara tayamum :
  • Petama adalah niat tayamum [niat dalam hati], jika dilafadzkan maka bacaan niat tayamum adalah sebagai berikut :
نويت التّيمّم لإستباحة الصّلاة فرضالله تعالى
Nawaitut tayammuma li-istibaahatish shalaati far-dlan lillaahi ta’aala
Artinya : aku niat betayammum untuk dapat mengerjakan shalat; fardlu karena Allah.
  • Setelah niat tayamum, mula-mula meletakkan dua belah tangan di atas debu untuk diusapkan ke muka [lihat contoh gambar]
  • Debu yang ada di tangan ditiup dulu, kemudian selanjutnya mengusap muka dengan debu, dengan dua kali usapan [lihat contoh gambar mengusap muka pada tayamum]
  • Urutan cara tayamum yang ke empat adalah mengusap dua belah tangan sampai pergelangan tangan dengan debu sebanyak dua kali usapan [lihat contoh gambar di bawah ini]
  • Urutan dari cara tayamum ke lima adalah memindahkan debu kepada anggota yang diusap.
  • Dilakukan secara berturut-turut atau tertib, berurutan dari urutan pertama hingga urutan terakhir dari tata cara tayamum.
Yang dimaksud dengan mengusap bukan sebagaimana ketika menggunakan air dalam berwudhu, tetapi cukup menyapukan saja dan bukan mengoles-oleskan sehingga rata seperti menggunakan air.

Buku Cara berwudhu Nabi

Disamping urutan tata cara tayamum di atas, ada beberpa hal yang perlu diketahui dan dilaksanakan yang berkaitan dengan tayamum, yaitu sebagai berikut :

Sunnah tayamum, adalah hal-hal yang sebaiknya dan dianjurkan untuk dikerjakan ketika mengerjakan tayamum. Hal-hal yang sunnah dikerjakan ketika tayamum antara lain :
  • Membaca bacaan basmalah yaitu bismillahirrahmaanirrahiim
  • Mendahulukan anggota badan yang kanan daripada anggota yang kiri
  • Menipiskan debu dengan cara meniupnya.
Hal-hal yang membatalkan tayamum, adalah hal-hal yang menjadikan tayamum itu batal dan tidak berlaku lagi. Hal-hal yang membatalkan tayamum adalah sebagai berikut :
  • Hal-hal yang membatalkan wudhu adalah juga merupakan hal-hal yang membatalkan tayamum.
  • Melihat air sebelum mengerjakan shalat, kecuali yang mengerjakan tayamum karena sakit.
  • Seorang yang murtad atau keluar dari islam.
Cara menggunakan tayamum

Satu kali tayamum hanya dapat dipakai atau digunakan untuk satu shalat fardhu saja,meskipun belum batal. Adapun jika digunakan untuk melakukan shalat sunnah beberapa kali cukupkah dengan satu kali tayamum.

Bagi orang yang salah satu anggota wudhunya terbalul/dibalut/dibebat, maka cukup balutan/bebat itu saja yang diusap dengan air atau tayamum, kemudian mengerjakan shalat.
Menyapu dua sepatu.

Menyapu dua sepatu [mas-hul khuffain] termasuk juga merupakan salah satu keringanan dalam islam. Hal ini dibolehkan bagi orang-orang yang menetap di kampong dan bagi seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh.

Orang-orang yang sedang dalam perjalanan musafir yang kakinya memakai dua sepatu, ketika hendak berwudhu, maka ia boleh menyapu sepatunya tersebut dengan air yang artinya sepatunya tidak perlu dilepas.

Syarat-syarat diperbolehkannya menyapu dua sepatu adalah sebagai berikut :
  • Sepatu tersebut dipakai sesudah sempurna dicuci bersih.
  • Sepatu tersebut menutup anggota kaki yang wajib dibasuh yaitu menutupi tumit dan dua mata kaki.
  • Sepatu tersebut dapat dibawa berjalan lama.
  • Di dalam sepatu tersebut tidak terdapat kotoran atau najis.
Catatan : menyapu dua buah sepatu hanya diperbolehkan untuk berwudhu, tetapi tidak boleh untuk mandi atau untuk menghilangkan najis. Menyapu dua sepatu tidak boleh dikerjakan atau tidak berlaku apabila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi. Suatu contoh salah satu dari dua sepatu tersebut robek atau salah satu kakinya tidak dapat menggunakan sepatu karena luka.

Keringanan menyapu dua sepatu ini diberikan bagi seorang yang musafir selama tiga hari tiga malam. Sedangkan bagi orang yang bermukim, mereka hanya diperbolehkan menyapu dua sepatunya hanya untuk sehari semalam.
loading...

Friday, December 27, 2013

Cara Wudhu, Doa Sebelum Wudhu, Doa Setelah Wudhu

Cara Wudhu, Doa Sebelum Wudhu, Doa Setelah Wudhu

Wudhu mempunyai tata cara wudhu dan urutan tertentu serta terdapat doa sebelum dan doa setelah wudhu. Berwudhu ini adalah wajib dilaksanakan setiap orang muslim baik laki-laki maupun perempuan yang akan mengerjakan sholat karena wudhu ini adalah merupakan syarat sahnya shalat. Disamping wudhu, kita juga perlu memperhatikan hal-hal yang wajib dalam wudhu, sunnah-sunnah dalam wudhu, hal-hal yang makruh dalam wudhu dan hal-hal yang membatalkan wudhu.

Bagaimana tata cara wudhu, apa saja bacaan atau doa sebelum wudhu dan doa sesudah wudhu. Berikut ini adalah ulasan singkat tentang tata cara berwudhu berserta doa berwudhu baik sebelum dan doa sesudah wudhu.

Adapun tata cara dan urutan mengerjakan wudhu adalah sebagai berikut :
  • Membaca kalimat basmallah yaitu Bismillahirrohmanirrohim sambil mencuci kedua belah tangan sampai dengan pergelangan tangan hingga bersih.
  • Setelah selesai membersihkan tangan, dilanjutkan dengan berkumur-kumur tiga kali sambil membersihkan gigi.
  • Setelah berkumur, selanjutnya adalah mencuci lubang hidung tiga kali
  • Setelah mencuci lubang hidung, selanjutnya adalah mencuci muka tiga kali mulai dari tempat dimana tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu dan dari telinga kanan ke telinga kiri sambil membaca doa niat wudhu yaitu sebagai berikut :
نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِلْ الْحَدَثِ الْاَصْغَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَا لَى
Nawaitul wudluu-a liraf’il  hadatsil  ashghari fardlan lillaahi ta’aala.
Artinya : Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah.
  • Setelah membasuh muka [mencuci muka dengan bagian-bagiannya seperti yang tersebut pada nomer 4], kemudian mencuci kedua belah tangan hingga sampai pada siku-siku tangan dalam tiga kali.
  • Setelah mencucui kedua belah tangan hingga siku-siku tangan, kemudian menyapu sebagian rambut kepala tiga kali.
  • Selesai menyapu sebagian rambut kepada,kemudian dilanjutkan dengan menyapu kedua belah telinga tiga kali.
  • Dan urutan yang terakhir yaitu mencuci kedua belah kaki tiga kali dari/sampai mata kaki.
Itulah rangkaian urutan cara wudhu. Dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan urutan tata cara wudhu di atas, wajib dikerjakan dengan berturut-turut yang artinya yang harus dahulu maka didahulukan dan yang harus akhir maka di akhirkan [seperti urutan tata cara wudhu di atas]

Berikut ini adalah gambar-gambar ilustrasi tata cara wudhu yang sudah runtut/berurutan.

Setelah urutan tata cara di atas selesai, maka di akhiri dengan membaca bacaan doa setelah wudhu yaitu sebagai berikut :
اَشْهَدُ اَنْ لَااِله الّا الله وحده لاشريك له واشهد انّ محمّد عبده ورسول. اللّهمّ اجعلنى من التّوّابين واجعلنى من المتطهّرين واجعلنى من عبادك الصّالحين

Asy-hadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalahu wa asy-hadu anna Muhammad ‘abduhu wara-suuluhu. Allaahummaj ‘alnii minat tawwaabiina, waj ‘alnii minal mutathahhiriina waj ‘alni min ‘ibadikash shaalihina.

Artinya : Aku bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang menyekutukan bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah jadikanlah orang yang ahli tobat dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang sholeh.
loading...

Monday, April 22, 2013

no image

Barokah Bekas Air Wudlu


 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اﷲُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ص٠م زَارَ الْمَقَابِرَ فَقَالَ ׃ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمِ مُؤْمِنِيْنَ ٬ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اﷲُ بِكُمْ عَنْ قَرِيْبٍ لاَحِقُوْنَ ٬ وَدِدْتُ أَنَاقَدْرَأَيْنَا إِخْوَانًا٠ 

"Dari Abu Hurairah ra. mengatakan: Sesungguhnya Nabi saw pernah menziarahi kuburan dan mengatakan:Salam kesejahteraan bagi kalian (wahai) penghuni kubur dari orang-orang mukmin. Dan Insya Allah tidak lama kami menjumpai kalian. Ingin rasanya sayu, kita semua bisa melihat ikhwan-ikhwan kita.' Sahabat-sahabat menjawab: 'Bukankah kita semua ikhwanmu wahai Rasulullah? Nabi menjawab: 'Kalian adalah sahabat-sahabatku. Ikhwan-ikhwan kita adalah mereka yang tidak kelihatan nanti di hari kiamat. Sahabat-sahabat bertanya: 'Bagaimana engkau bisa mengerti umatmu yang tidak kelihatan di hari kiamat wahai Rasulullah?' Nabi menjawab: 'Bagaimana pendapatmu jika seseorang mempunyai kuda putih bersinar (ghurrun muhhajjalah) sementara di depannya ada kuda hitam kelam. Bukankah ia tidak mengerti kudanya?' Sahabat-sahabat menjawab 'Benar ya Rasulullahl' Nabi terus berkomentar: 'Sesungguhnya mereka akan datang dengan wajah putih lagi bersinar karena bekas air wudhu.'" (HR. Muslim) 

Benar engkau wahai Rasulullah ... Tanda mereka dalam wajahnya, pancaran sinar di kening. Putih bersih di dahi dan cahaya memancar cerah. 

Apabila disebut "Alkhail Alghurru Almuhajjalah" maksudnya adalah Kuda yang warna putih kulitnya lebih mendominasi warna hitamnya, dan jambul rambutnya keputih-putihan di antara kedua telinganya di atas kedua matanya, sehingga menambah kecantikan dan ketampanannya. Kuda ini, larinya alangkah cepat sehingga terasa jauh lebih istimewa daripada yang lain. Mudah diketahui dengan tanda dan ciri-cirinya. 

Sesungguhnya manusia di hari pengumpulan (yaumul hasyr) nanti berkelompok-kelompok dan beraneka ragam warna. Ada di antara mereka berwajah hitam kelam karena kekufuran dan kesyirikannya. Dan ada di antara mereka berwajah putih bersih lagi bersinar karena keimanan, ketaatan beribadah, dan kepatuhan menyambut (perintah) Rabb-Nya. Sehingga tiadalah sulit bagi Rasulullah saw pada hari itu membeda-bedakan ikhwannya. 

Bekas air wudhu adalah penunjukan (idalaalah) keteguhan mendirikan shalat dan keasyikan tenggelam dalam rukuk dan sujud. Dan yang demikian, adalah puncak ibadah dan ketertinggian ketaatan. 

Pembaca budiman... sudah lebih dari satu kali melewatimu nasihat Rasulullah saw yang mendorongmu mendirikan shalat. Tapi satu di antaranya benar-benar mengajak perenungan dan penghayatan, karena berhubungan erat dengan wasiat Nabi kali ini dan segala isinya. 

Itulah pesan Nabi saw yang berbunyi:

 أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيْهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ٬ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ ؟ قَالُوا ׃ لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ ׃ فَكَذَلِكَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسِ يَمْحُو اﷲُ بِهِنَّ الْخَطَايَا٠ 

"Bagaimana pendapat kalian sekiranya ada sebuah sungai di salah satu pintu rumahmu, yang dengannya ia mandi 5 (lima) kali dalam sehari, masihkah ada kotoran tertinggal menempel di badannya? Sahabat menjawab: Tentu tak ada lagi kotoran yang menempel wahai Rasulullah! Nabi lantas berkomentar: 

 "Begitu jualah kelima shalat, dengan kelinm nya Allah menggugurkan kesalahan-kesahilian (orangyang mendirikan)nya." 

Jika engkau telah mengetahui urgensi sungai dalam membersihkan kotoran, tentu engkau mudah memahami seberapa jauh pengaruh-pengaruh wudhu! 

Semoga Allah melindungi kalian, dan menjadikan kalian dalam golongan sahabat sahabat yang mendatangi Rasulullah saw di telaga (alhaudh) nanti.
loading...

Thursday, August 9, 2012

no image

Hal-hal yang membatalkan Tayammum

Tayammum menjadi batal dan rusak karena beberapa hal: 
  • Semua yang membatalkan wudhu’, sebagaimana pernah diterangkan dalam Bab wudhu’. 
  • Ada air setelah tidak ada, karena tayammum itu pengganti air. Jadi, kalau yang asli sudah ada, maka penggantinya menjadi batal. Abu Daud (332) dan lainnya telah meriwayatkan dari Abu Dzar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
 اِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِِّبَ طَهُوْرُالمُسْلِمِ ٬وَاِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَعَشَرَسِِنِيْنَ٬ فَاِذَا وَجَدَالْمَاءَ فَلْيُمِسَهُ بَشَرَتَةُ٬ فَاِنَّ ذٓلِكَ خَيْرٌٌ 

Sesungguhnya tanah yang suci itu alat bersuci bagi orang Islam, sekalipun tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun. Apabila ai telah mendapatkan air, maka hendaklah ia sentuhkan air itu pada kulitnya. Karena hal itu lebih baik.
Falyumissahu basyaratuhu: maka hendaklah ia menyentuhkan air itu pada kulitnya.
Maksudnya, hendaklah ia bersuci dengannya. Dan ini menunjukkan bahwa tayammumnya batal setelah air sudah ada. Adapun kalau adanya air itu sesudah selesainya shalat, maka shalatnya sah dan tidak wajib qadha’.
Dan demikian pula, jika dia mendapatkan air setelah memulainya shalat, maka ia boleh menyelesaikan shalat itu sebagai shalat yang sah. Tetapi kalau dia putuskan shalat itu untuk berwudhu’ lalu shalat dengan wudhu’ itu, maka hal itu lebih baik. 
  • Mampu menggunakan air, seperti halnya orang yang asalnya sakit lalu sembuh. 
  • Murtad dari Islam –semoga Allah melindungi kita daripadanya-. Karena tayammum itu untuk memperoleh keizinan melakukan shalat, sedangkan keizinan itu hilang jika terjadi kemurtadan. Lain halnya wudhu’ dan mandi, yang kedua-duanya untuk menghilangkan hadats.
loading...

Tuesday, August 7, 2012

no image

Tayammum dalam Waktu Sholat

Tayammum Sesudah Masuknya Waktu 

Bagi orang yang telah memenuhi sebab-sebab tayammum, dia tetap belum boleh melakukan tayammum untuk shalat fardhu kecuali sesudah masuknya waktu. Karena Rasulullah SAW bersabda:

 فَاَيُّ مَارَجُلٍ مِنْ اُمَتِى اَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ 

Siapa pun di antara umatku yang sempat mengalami (waktu) shalat, maka hendaklah ia melakukan shalat. (H.R. al-Bukhari: 328) 

Sedang menurut Imam Ahmad (2/222)

 اََيْنَمَا اَدْرَكَتَيْنِى الصَّلاَةُ تَمَسَّحْتُ وَصَلَّيْتُ 

Di mana pun aku sempat mengalami (waktu) shalat, maka aku bertayammum lalu shalat. 

Kedua riwayat tersebut di atas menunjukkan, bahwa tayammum itu baru bisa dilakukan ketika mengalami waktu shalat. Dan waktu shalat itu hanya dialami setelah masuknya. Tayammum Untuk Tiap-Tiap Shalat Fardhu Dengan satu tayammum orang hanya boleh melakukan satu kali shalat fardhu saja. Sedang untuk shalat sunnah, dia boleh melakukannya sebanyak-banyaknya. 

Dan demikian pula mengenai shalat Janazah. Jadi, kalau dia hendak melakukan shalat fardhu yang lain, dia harus bertayammum lagi, sekalipun belum berhadats sesudah tayammumnya yang pertama, baik shalat itu merupakan shalat adaa’ (tunai) maupun qadha’. Al-Baihaqi (1/221) telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih dari Ibnu Umar RA, dia berkata:

 يَتيَمَّمُ لِكُلِ صَلاَةٍ وَاِنْ لَمْ يُحْدِثْ 

Rasulullah bertayammum untuk tiap-tiap shalat, sekalipun belum berhadats. 

Tayammum Sebagai Pengganti Mandi Adalah Fardhu Ketika sebab-sebab tayammum telah terpenuhi, maka ia bisa menjadi pengganti mandi bagi orang yang memerlukannya, sebagaimana ia bisa menjadi pengganti wudhu’. Allah Ta’ala berfirman: 

Dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah. (Q.S. al-Maidah: 6) 

Laamastum sma artinya dengan lamastum (menyentuh). Al-Bukhari (341) dan Muslim (682) meriwayatkan dari Imran bin Hushain RA, dia berkata:

 كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اﷲُ صَلٌَى ﷲُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ فِىسَفَرٍ٬ فَصَلَّى بِاالنَّاسِ٬ فَاِذَاهُوَ بِرَجُلٍ مُعْتَزِلٍ ٬فَقاَلَ׃ مَامََ نَعَكَ اَنْتُصَلِّىَ؟ قَالَ اَصَابَتْنِى جَنَابَةٌ وَلاَمَاءَ قَالَ׃عَلَيْكَ بِالصَّعِيْدِ فَاِنََّهُ يَكفِيْكَ

Kami bersama Rasulullah SAW melakukan suatu perjalanan, maka beliau shalat bersama orang banyak. Tiba-tiba ada seorang lelaki menyendiri, maka beliau bertanya: “Kenapakah kamu tidak shalat?” Jawab orang itu: “Aku terkena janabat, sedangkan air tidak ada.” Beliau bersabda: “Hendaklah kamu menggunakan tanah, karena ia sesungguhnya cukup bagimu.” 

Ash-Sha’id: gunakan debu yang muncul di atas permukaan tanah. Hal-Hal Yang Membatalkan Tayammum Tayammum menjadi batal dan rusak karena beberapa hal: 

1. Semua yang membatalkan wudhu’, sebagaimana pernah diterangkan dalam Bab wudhu’. 

2. Ada air setelah tidak ada, karena tayammum itu pengganti air. Jadi, kalau yang asli sudah ada, maka penggantinya menjadi batal. Abu Daud (332) dan lainnya telah meriwayatkan dari Abu Dzar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 اِنَّالصَّعِيْدَ الطَّيِِّبَ طَهُوْرُالمُسْلِمِ٬ وَاِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَعَشَرَسِِنِيْنَ٬ فَاِذَا وَجَدَ الْمَاءَ فَلْيُمِسَهُ بَشَرَتَةُ ٬فَاِنَّ ذٓلِكَ خَيْرٌٌ 

Sesungguhnya tanah yang suci itu alat bersuci bagi orang Islam, sekalipun tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun. Apabila ai telah mendapatkan air, maka hendaklah ia sentuhkan air itu pada kulitnya. Karena hal itu lebih baik. Falyumissahu basyaratuhu: maka hendaklah ia menyentuhkan air itu pada kulitnya. 

Maksudnya, hendaklah ia bersuci dengannya. Dan ini menunjukkan bahwa tayammumnya batal setelah air sudah ada. Adapun kalau adanya air itu sesudah selesainya shalat, maka shalatnya sah dan tidak wajib qadha’. Dan demikian pula, jika dia mendapatkan air setelah memulainya shalat, maka ia boleh menyelesaikan shalat itu sebagai shalat yang sah. Tetapi kalau dia putuskan shalat itu untuk berwudhu’ lalu shalat dengan wudhu’ itu, maka hal itu lebih baik. 

3. Mampu menggunakan air, seperti halnya orang yang asalnya sakit lalu sembuh. 

4. Murtad dari Islam –semoga Allah melindungi kita daripadanya-. Karena tayammum itu untuk memperoleh keizinan melakukan shalat, sedangkan keizinan itu hilang jika terjadi kemurtadan. Lain halnya wudhu’ dan mandi, yang kedua-duanya untuk menghilangkan hadats.
loading...
no image

Sunnah-sunnah dalam Tayammum

Berikut ini adalah hal-hal yang sunnah dilakukan dalam melakukan Tayammum

1. Semua yang disunnatkan dalam wudhu’ maka disunnatkan pula dalam tayammum, seperti membaca Basmallah ketika memulai tayammum, memulai usapan dari bagian atas wajah, mendahulukan tangan kanan daripada tangan kiri ketika mengusapnya, sebagaimana anda tahu, mengusap sebagian dari kepala dan sebagian dari lengan atas, berturut-turut di antara mengusap wajah dan kedua tangan, membaca tasyahud sesudah tayammum, dan berdoa dengan do’a yang ma’tsur seperti halnya doa sesudah wudhu’. 

Diriwayatkan oleh Abu Daud (318), dari ‘Ammar bin Yasir RA:

 اَنَّهُمْ تَمَسَّحُوْا وَهُمْ مَعَ رَسُوْلِ اﷲُ صَلٌَى ﷲُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ بِالصَّعِيْدِ لِصَلاَةِ الفَجْرِ٬فََضَرَبُوْابِاَكُفِهِمُ لصَّعِيْدَ ٬ثُمَّ مَسَحُوْاوُجُوْهَهُمْ مَسَحَةً وَاحِدَةً ثُمَّ عَادُوْافَضَرَبُوْابِاَكُفِهِمُ الصَّعِيدَ مَرَّةًاُخْرَى  ٬فَمَسَحُوْابِاَيْدِيْهِمْ كُلِّهَااِلَى لَنَاكِبُِواْلاَبَاطِ مِِنْ بُطُوْنِ اَكُفِّهِممْ 

Bahwasanya para sahabat bertayammum ketika menyertai Rasulullah SAW dengan tanah untuk melakukan shalat Shubuh. Mereka menepukkan telapak tangan mereka pada tanah itu, lalu mengusap wajah mereka satu kali, sesudah itu mereka mengulangi lagi, yakni menepukkan telapak tangan mereka di tanah sekali lagi, lalu mengusap tangan-tangan mereka seluruhnya sampai ke pangkal lengan dan ketiak, dengan perut telapak tangan mereka. 

Al-Munakib: jamak dari mankib, artinya pertemuan antara lengan atas dengan pundak. 

Al-Abath: jamak dari ibth, artinya: ketiak. 

2. Menebarkan jari-jari ketika menepukkannya pada tanah, agar dapat meratakan debu dan mengusapkannya secara merata pada wajah dengan satu kali tepukan saja, dan emikian pula pada kedua tangan. 

3. Menipiskan debu dengan cara mengibaskan kedua telapak tangan atau meniupnya. Menurut riwayat al-Bukhari, dari ‘Ammar bin Yasir RA:

 اَنَّ رَسُوْلِ اﷲُ صَلٌَى ﷲُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَلَ لَهُ׃ اِنَّمَا يَكْفِيْ كَاَََََْزْتَصْنَعَ هٓكَذَا٬ فَضَرَبََ بِكَفَيْهِ ضَرْبَةً عَلَى اْلاَرْضِ ٬ثُمَّ نَفَضَهُمَا٬ وَفِى رِوَايَةٍ اُخْْرَى ׃وَنَفَخُ فِيْهَا ٬ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا 

Bahwa Rasulullah SAW berkata kepada ‘Ammar: “Sesungguhnya cukup bagimu melakukan begini.” Rasulullah menepukkan kedua telapak tangannya satu kali di atas tanah, kemudian mengibaskannya –menurut satu riwayat lain: dan meniupnya- kemudian mengusapkannya.
loading...
no image

Rukun-rukun dalam Tayammum

Rukun-rukun tayammum ada empat perkara, yaitu: 

1. Niat. 

Dan tempatnya ada dalam hati, sebagaimana anda tahu. Jadi, berniatlah dalam hati, melakukan tayammum. Dan disunnatkan mengucapkan dengan lidah. Katakanlah; “Aku berniat melakukan sesuatu agar diperbolehkan shalat.” Atau: “Aku berniat melakukan sesuatu agar diperbolehkan shalat fardhu, atau shalat sunnah,” dan lain sebagainya. Yang maksudnya hendak melakukan tayammum. Apabila telah berniat agar diperbolehkan melakukan shalat fardhu, maka dengan demikian diperbolehkan pula melakukan ibadah-ibadah lain yang sunnah. 

2. dan 3. Mengusap wajah dan kedua tangan sampai ke siku, dengan dua kali pukulan. 

Yakni pukullah dengan dua telapak tangan tanah yang suci yang berdebu, lalu usapkanlah pada seluruh wajah. Sesudah itu pukullah lagi dengan kedua telapak tangan tanah itu, lalu usapkanlah pada kedua tangan sampai siku. Dengan tangan kiri, usaplah tangan kanan, dan dengan tangan kanan usaplah tangan kiri. Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (1 256), dari Ibnu Umar RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda:
  اَلتَّيََّّمُمُ
ضَرْبَتَانِ׃ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضََرْْبَةٌ لِلْ يَدَيْنِ اِلَى الْمِرْفَقَيْنِ
Tayammum itu dua kali pukulan: satu kali untuk wajah, dan satu kali lagi untuk tangan sampai siku. Usapan itu harus meratai semua anggota tayammum. Jadi, apabila tangan memakai cintin, maka harus dilukar pada pukulan yang kedua, sehingga debu sampai ke tempat cincin itu. 

4. Tertib, menurut urutan yang telah kami sebutkan di atas. Karena tayammum itu pengganti wudhu’, sedangkan tertib itu merupakan salah satu rukun wudhu’ sebagaimana anda tahu. Maka, ia lebih-lebih lagi merupakan rukun bagi penggantinya.
loading...
no image

Dalil, syarat-syarat dan pengertian tayammum

Kemudahan tayammum dalam Islam

Kita telah tahu bahwa wudhu’ adalah syarat bagi sahnya shalat, thawaf, menyentuh dan membawa mushhaf. Dan wudhu’ itu hanya bisa dilakukan dengan menggunakan air. Hanya saja, manusia kadang-kadang berhalangan untuk menggunakan air, baik karena air itu tidak ada, atau jauh tempatnya, atau karena suatu penyakit yang tidak memungkinkan menggunakannya. Oleh karena itu, dengan kemudahan dan keluwesannya, Islam mensyari’atkan tayammum dengan debu yang suci, sebagai ganti dari berwudhu’. Dengan demikian orang Islam tetap mrndapatkan keberkatan ibadah. 

ARTI TAYAMMUM 

Menurut bahasa, tayammum berarti: menuju. Orang mengatakan: “Tayammum Fulanan”, aku menuju kepada Fulan. Sedang menurut syara’, tayammum berarti menyampaikan debu nyang suci kepada wajah dan kedua tangan, disertai dengan niat dan cara tertentu. 

DALIL DISYARI’ATKANNYA TAYAMMUM ADALAH AL-KITAB DAN AS-SUNAH 

Dalam al-Kitab Allah Ta’ala berfirman: 

Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. (Q.S. al-Maidah: 6) 

Sedang dalam as-Sunnah Nabi SAW bersabda: وَجُعِلَتْلََنَااْلاَرْضُكُلُّهَامَسْجِدٌا٬ وَجُعِلَتْتُرْبَتُهَالَنَاطُهُورًااِذَالَمْنَجِدِالْمَاءََ Dan bumi seluruhnya dijadikan masjid bagi kita, sedang tanahnya dijadikan bagi kita sebagai sesuatu untuk bersuci apabila kita tidak mendapatkan air. (H.R. Muslim: 522) 

1. Tidak ada air secara nyata (Hissiyan), umpamanya berada dalam perjalanan sedang air tidak didapatkan, atau karena tidak ada air secara syar’i, umpamanya air memang ada, tetapi diperlukan untuk minum. 

Allah Ta’ala berfirman:

 فَلَمْتَجِدُوْامَاءًفَتَيَمَّمُوْا 

...........Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah. Dan air yang diperlukan untuk minum dan lain sebagainya, sama hukumnya dengan tidak ada air sama sekali dalam kaitannya dengan thaharah. 

2. Jauhnya air. Jadi, kalau seseorang berada di suatu tempat dimana tidak terdapat air, sedang antara dia dengan air yang ada dipisahkan oleh jarak yang lebih dari setengah farsakh –yakni lebih dari 2,5 kilometer- maka bolehlah ia bertayammum, dan tidak wajib berusaha mendatangi air tersebut, karena akan mendatangkan kesulitan. 

3. Berhalangan menggunakan air, baik secara nyata (Hissiyan), umpamanya air itu ada didekatnya, tetapi di dekat air ada seorang musuh yang ditakuti; atau secara syar’i, umpamanya dengan menggunakan air dikhawatirkan akan timbul suatu penyakit, atau menambahnya semakin parah, atau akan lama tidak sembuh-sembuh. Dalam keadaan-keadaan seperti ini seseorang boleh bertayammum dan tidak wajib menggunakan air, berdasarkan sabda Nabi SAW mengenai orang yang terluka kepalanya kemudian mandi, lalu mati:

 اِنّمَاكَانََيَكْفِِيْْهِاَنْْيََتَيَمََّمََوَيَعْصِبَعَلََىجُرْحِهِخِِرْقَةً،ثُُُمَّّيَمْسَحَعَلَيْهَاوَيَََغْسِلَسَائِِرَجَسَدِهِ 

Sesungguhnya cukuplah bagian bertayammum, dengan membalut lukanya dengan secarik kain, kemudian mengusap kain itu dan membasuh bagian tubuh selebihnya. (Lihat: Dalil Disyari’atkannya mengusap pembalut luka). 

4. Udara yang sangat dingin sehingga orang takut menggunakan air, sedang ia tidak mampu menghangatkannya. Karena ‘Amr ibnul ‘Ash pernah tayammum dari janabat, sebab khawatir binasa akibat kedinginan, sedang Nabi SAW menyetujuinya. (Demikianlah diriwayatkan oleh Abu Daud dan disahkan oleh al-Hakim dan Ibnu Hibban). Akan tetapi dalam keadaan seperti ini, dia tetap harus mengqadha’ shalatnya apabila telah mendapatkan air dalam keadaan biasa. 

Syarat-syarat Tayammum
  1. Mengetahui masuknya waktu. 
  2. Mencari air sesudah masuknya waktu. 
  3. Ada tanah berdebu yang suci, yang tidak memuat pasir, tepung maupun kapur.
  4. Menghilangkan najis terlebih dahulu. 
  5. Berusaha mengetahui kiblat sebelum bertayammum.
loading...

Thursday, June 21, 2012

no image

Tali dan Pembalut Luka dalam Wudlu

Tali (jabirah, jamaknya Jaba’ir), yang dimaksud ialah tali yang dikaitkan pada anggota tubuh yang patah, untuk merekatkannya. Sedang pembalut (‘ishabah, jamaknya ‘asha’id), yang dimaksud ialah pembalut yang direkatkan pada luka untuk memeliharanya dari kotoran, agar segera sembuh. 

Islam adalah agama yang mudah. Oleh karenanya, hal-hal seperti inipun sangat dia perhatikan, bahkan dia syari’atkan untuknya hukum-hukum yang akan menjamin terlaksananya ibadah dan terpeliharanya kesehatan manusia sekaligus. 

HUKUM-HUKUM YANG BERKENAAN DENGAN PEMBALUT 

Orang yang terluka atau patah, ada yang lukanya atau tempat patahnya perlu dibalut atau ditali, selain diobati, dan ada juga yang tidak. Bagi yang perlu dibalut atau ditali, maka wajib melakukan tiga hal sebagai berikut: 
  • Bagian yang sehat dari anggota yang terkena musibah, dibasuh seperti biasa. 
  • Tali atau pembalit wajib diusap seluruhnya. 
  • Karena bagian yang sakit itu tidak dibasuh ketika berwudhu’, maka basuhan itu wajib diganti dengan tayammum. 

Adapun kalau bagian yang patah atau terluka itu tidak memerlukan dibalut maupun ditali, maka bagian yang sehat wajib dibasuh seperti biasa, lalu bertayammum, menggantikan basuhan atas yang terluka, manakala yang terluka itu tidak bisa dibasuh. 

Tayammum itu wajib diulangi untuk tiap-tiap shalat fardhu, meskipun tidak berhadats. Namun demikian, tidak wajib membasuh anggota-anggota selebihnya yang tidak sakit, kecuali apabila berhadats. 

DALIL DISYARI’ATKANNYA MENGUSAP PEMBALUT. 

Adapun dalil yang menunjukkan tentang disyari’atkannya mengusap pembalut ini, ialah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud (336), dari Jabir RA, dia berkata:

 خَرَجْنَا فِى سَفَرٍ، فاَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِى رَأسِهِ، ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ اَصْحَابَهُ: هَلْ تَجِدُوْنَ لِىْ رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ؟ رُخْصَةًً وَاَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ، فَاغْتَسَلَ وَمَاتَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقاَلَ: قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ اللهُ، اَلاَ سَأَلُوااِذَا لَمْ يَعْلَمُوا؟ فَاِنَّمَا شِفَاءُ الْعَىِّ السُّؤَالُ، اِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ اَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَاَوْ يَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ 

Pernah kami keluar dalam suatu perjalanan. Maka, salah seorang di antara kami ada yang terkena batu sampai luka kepalanya. Kemudian, orang itu bermimpi keluar mani. Maka, bertanyalah ia kepada kawan-kawannya: “Apakah kalian menemukan suatu keringanan bagiku untuk bertayammum?” Maka jawab mereka: “Kami tidak menemukan bagimu suatu keringanan, sedang kamu mampu menggunakan air.” Maka orang itupun mandi, lalu meninggal dunia. Tatkala kami datang kepada Nabi SAW, maka hal itu diberitahukan. Maka jawab beliau: “Mereka telah membunuhnya. Semoga Allah membunuh mereka. Tidakkah mereka bertanya kalau memang mereka tidak tahu? Sesungguhnya obat kebimbangan itu bertanya. Padahal, orang itu cukup bertayammum dan membalut lukanya dengan secarik kain, kemudian mengusapnya, dan membasuh (bagian) tubuh selebihnya. 

Al-‘Ayyu: kebimbangan dalam berbicara. Dan adapula yang mengatakan: lawan dari kejelasan (al-Bayan) 

LAMANYA MENGUSAP PEMBALUT 

Untuk mengusap pembalut atau tali, tidak ada ketentuan waktu, tetapi boleh mengusapnya selagi masih ada uzur. Sedang apabila uzur itu telah tiada lagi –luka telah sembuh dan bagian yang patah telah rekat- maka tidak boleh lagi mengusap pembalut, dan wajib membasuh tempatnya. Maksudnya, apabila orang itu masih dalam keadaan punya wudhu’, sedang dia tidak boleh lagi membasuh pembalut, maka bagian tubuh yang tadinya diusap itu wajib dikenai air, berikut anggota-anggota wudhu’ ssudahnya, apakah itu diusap atau dibasuh, sebagaimana mestinya. 

Hukum mengenai pembalut ini sama saja, baik ketika bersuci dari hadats kecilk maupun hadats besar. Hanya saja, untuk hadats besar, apabila sudah tidak boleh lagi mengusap pembalut, maka hanya tempat balutan itu saja yang wajib dibasuh, sedang bagian-bagian tubuh lainnya tidak. 

Bagi orang yang memasang pembalut berkewajiban mengqadha’ shalatnya, dalam keadaan-keadaan sebagai berikut: 1. Apabila dia memasang pembalut dalam keadaan tidak suci, sedang pembalut itu tidak mungkin dilepas lagi. 2. Apabila pembalut itu dipasang pada anggota-anggota tayammum: wajah atau kedua tangan. 3. Apabila pembalut itu menempel pada bagian yang sehat, melebihi ukuran sekedar penyanggar agar pembalut itu tidak lepas.
loading...
no image

Mengusap Sepatu dalam Wudlu

Pengertian SEPATU 

Al-Khuffani adalah tatsniyah dari khuff. Dan yang dimaksud ialah sepasang sepatu tinggi yang menutupi dua mata kaki, terbuat dari kulit. Sedang kedua mata kaki (al-Ka’bani) tersebut di atas, yang dimaksud ialah tulang yang menonjol pada persendian betis. 

HUKUM MENGUSAP SEPATU 

Mengusap sepatu tinggi merupakan keringanan (rukhshah) yang diperbolehkan bagi laki-laki maupun perempuan dalam keadaan apapun di musim dingin maupun di musim panas, ketika bepergian maupun di negeri sendiri, di kala sehat maupun sakit. Dan hal ini merupakan pengganti dari membasuh kedua kaki dalam berwudhu’. 

DALIL YANG MEMPERBOLEHKAN MENGUSAP SEPATU 

Adapun dalil yang memperbolehkan mengusap sepatu ialah praktek yang dilakukan Nabi SAW: Menurut Jabir bin Abdullah al-Bajli RA: 

رَاَيْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ، تَوَضَّأَ ومَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ(رواه البخارى 1478 ومسلم 272

Pernah saya melihat Nabi SAW buang air kecil, kemudian berwudhu seraya mengusap sepasang sepatu tingginya. (H.R. al-Bukhari: 1478 dan Muslim: 272). 

SYARAT-SYARAT MENGUSAP SEPATU 

Agar diperbolehkan mengusap sepatu, ada lima perkara yang dipersyaratkan: 

  • Hjendaklah kedua sepatu itu dipakai sesudah melakukan wudhu’ dengan sempurna: 
Dari al-Mughirah bin Syau’bah RA, dia berkata:
كُنْتُ مَعَ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى سَفَرٍ، فَاَهْوَيْتُ ِلاَنْزِعَ خُفَّيْهِ، فَقاَلَ: دَعْهُمَا فَاِنّى اَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا (رواه البخارى 203 ومسلم 274
Pernah saya menyertai Nabi SAW dalam suatu perjalanan. Maka, saya menunduk untuk melukar kedua sepatu beliau, namun beliau bersabda: “Biarkan keduanya, karena aku sesungguhnya telah memasukkan kedua kakiku dalam keadaan suci.” Lalu beliau mengusap kedua sepatunya itu.. (H.R. al-Bukhari: 203, dan Muslim: 274). 
  • Kedua sepatu itu hendaknya menutupi semua bagian yang wajib dibasuh dari telapak kaki. Karena, kedua sepatu itu baru bisa disebut khuffain bila demikian keadaannya. 
  • Tidak bisa ditembus oleh air sampai ketelapak kaki, selain dari lubang jahitan. 
  • Cukup kuat untuk berjalan terus-menerus sehari-semalam bagi orang yang tidak bepergian, dan tiga hari-tiga malam bagi orang yang berpergian. 
  • Kedua-duanya suci, sekalipun dibuat dari kulit bangkai yang telah disamak. Karena sebagaimana yang telah diterangkan di atas, bahwa kulit bangkai itu bisa menjadi suci, dengan cara disamak. 

LAMANYA MENGUSAP SEPATU 

Adapun lamanya diperbolehkan mengusap sepatu adalah sehari-semalam bagi orang yang tidak bepergian, dan tiga hari tiga malam bagi orang yang tidak berpergian jauh: 

Diriwayatkan oleh Muslim (276) dan lainnya, dari Syarih bin Hani’, dia berkata:

 اَتَيْتُ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا اَسْاَلُهَا عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فََقَالَتْ اِئْتِ عَلِيًّا فَاَِنَّهُ اَعْلَمُ بِهَذَا مِنِّى، كَانَ يُسَافِرُ مَعَ رَسُوُلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْتُهُ فََقَالَ: جَعَلَ رَسُوُلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ، وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيْمْ 

Pernah saya datang kepada ‘Aisyah RA menanyakan tentang mengusap sepatu. Maka dia berkata; “Datanglah kepada Ali, karena dia lebih tahu mengenai ini daripada aku. Dulu dia bepergian bersama Rasulullah SAW”. Oleh karena itu saya bertanya kepada Ali, maka ia menjawab: “Rasulullah SAW mengizinkan tiga hari-tiga malam bagi orang yang bepergian jauh, dan sehari-semalam bagi orang yang tidak bepergian.” 

Demikianlah, akan tetapi, orang yang memulai usapannya di negeri sendiri kemudian melakukan perjalanan, maka dia hanya boleh mengusap sehari semalam. Dan orang memulai usapannya ketika bepergian kemudian sampai di negerinya sendiri, maka dia mengusap seperti halnya orang yang tidak bepergian. Karena pada dasarnya dia telah berada di negerinya sendiri, sedang mengusap sepatu itu keringanan (rukhshah). Oleh karenanya, yang diambil ialah yang lebih hati-hati. 

MULAINYA MASA PENGUSAPAN 

Masa pengusapan dimulai sejak hadats sesudah mengenakan sepatu. Artinya, apabila seseorang berwudhu’ untuk shalat subuh, lalu dia mengenakan sepatu, kemudian dia baru berhadats di kala terbitnya matahari, maka masa pengusapan dimulai sejak terbitnya matahari. 

CARA MENGUSAP SEPATU 

Yang wajib adalah mengusap sebagian, sekalipun sedikit, dari bagian atas sepatu . Jadi, tidak cukup hanya mengusap bagian bawahnya saja. Tapi, disunnahkan mengusap bagian atas dan bawahnya membentuk garis-garis, yakni letakkanlah jari-jari tangan kanan dipencarkan pada bagian depan sepatu di sebelah atasnya, sedang jari-jari tangan kiri di bagian belakang sepatu sebelah bawah. Kemudian, tariklah tangan kanan ke belakang, sedang tangan kiri tarik ke depan. 

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PENGUSAPAN 

Mengusap sepatu tidak lagi diperbolehkan, apabila terjadi slah satu dari tiga perkara: 
  • Kedua sepatu atau salah satunya terlepas atau sengaja dilepas. 
  • Masa diperbolehkannya mengusap telah habis. Jadi, apabila masanya telah habis, sedang keadaan masih punya wudhu’, maka sepatu itu dilepaskan, lalu basuhlah kaki seperti biasa, kemudian dimasukkan lgi ke dalam sepatu. Tapi kalau tidak punya wudhu’, maka berwudhu’lah, sesudah itu kalau mau, pakailah lagi sepatu itu. 
  • Terjadi suatu hal yang mewajibkan mandi. Jadi, kalau berkewajiban mandi, kaki ikut pula dimandikan, karna mengusap sepatu itu pengganti membasuh kaki dalam wudhu’, bukan dalam mandi. 

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (96), dan an-Nasa’i (1/83) –dan lafazh hadits ini menurut an-Nasa’i- dari Shafwan bin ‘Asssal RA, dia berkata:

 كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا اِذَاكُنَّا مُسَافِرِيْنَ: اَنْ نَمْسَحَ عَلَى خِفَافِنَا، وَلاَ نَنْزِعَهَا ثََلاَثَةَ اَيَّامِ، مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ اِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ 

Rasulullah Saw menyuruh kami, apabila kami dalam perjalanan, mengusap sepatu-sepatu kami dan tidak melukarnya selama tiga hari, baik karena buang air besar dan kecil maupun tidur, kecuali karena janabat. 

Dan janabat adalah termasuk hal-hal yang mewajibkan mandi, sebagaimana akan diterangkan nanti.
loading...

Sunday, June 17, 2012

no image

Keutamaan Wudhu' dan Cara Wudlu' Nabi Muhammad

Berikut ini adalah gambaran lengkap tentang wudhu’ nabi saw dengan segala fardhu fardhunya dan sunnah-sunnahnya yang mu’akkad, dan keterangan tentang keutamaan wudhu’ dan keutamaan shalat sesudahnya 

Al-Bukhari dalam shahihnya (162) meriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan RA:

 اَنَّهُ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَاَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ اِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثاً وَيَدَيْهِ اِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثاً (وَفِى رِوَايَةٍ: ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى ثَلاَثاً، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى ثَلاَثاً) ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثاً (وَفِى رِوَايَةٍ: ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى ثَلاَثاً، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى ثَلاَثاً) ثُمَّ قَاَلَ: رَاَيْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأَ نَحْوَوُضُوْئِى هَذَا وَقاَلَ: مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَوُضُوْئِى هَذَا، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَيُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ، غَفَرَاللهُ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Bahwa ‘Utsman menyuruh ambilkan air untuk berwudhu’. Maka, dia guyur kedua tangannya di luar bejana. Dia basuh keduanya tiga kali. Kemudian, dia berkumur, menghirup air ke dalam hidung, dan menyemprotkannya. Kemudian, dia membasuh wajahnya tiga kali, dan kedua tangannya sampai kedua siku tiga kali. (Dan menurut suatu riwayat lain: Kemudian, dia membasuh tangan kanannya tiga kali, kemudian membasuh tangan kirinya tiga kali pula). Kemudian mengusap kepalanya. Sesudah itu membasuh masing-masing kaki tiga kali. (Dan menurut suatu riwayat lain: kemudian membasuh kaki kanannya tiga kali, kemudian membasuh kaki kirinya tiga kali). Selanjutnya, ‘Utsman berkata: “Saya lihat Nabi SAW berwudhu’ seperti wudhu’ku ini.” Dan dia mengatakan pula: “Barangsiapa berwudhu’ seperti wudhu’ku ini, kemudian shalat dua rakaat, tanpa berbicara kepada dirinya sendiri dalam kedua raka’at itu, maka Allah Ta’ala mengampuni dosanya yang telah lalu.” 

La yuhadditsu: maksudnya, tidak berbicara dalam hati tentang sesuatu urusan dunia.
loading...

Saturday, June 16, 2012

no image

Hal-hal yang oleh karenanya Wajib Berwudhu

Adapun hal-hal yang oleh karenanya wajib berwudhu’, ialah: 

1. Shalat

Firman Allah Ta’ala: 

 Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (Q.S. al-Maidah: 6) 

Rasulullah SAW bersabda: 

لاَ يَقْبَلُ اللهَ صَلاَةَ اَحَدِكُمْ اِذَااَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ(رواه البخارى 135 ومسلم 225

Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kamu sekalian apabila ia berhadats, sehingga berwudhu’. (H.R. al-Bukhari: 135), dan Muslim: 225). 

Sedang menurut Muslim (224):

 لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ بِغَيْرِ طَهُوْرٍ 

Shalat tidak diterima danpa bersuci. 

2. Tahawaf di sekeliling Ka’bah. 

Karena, thawaf itu seperti halnya shalat, wajib dilakukan dalam keadaan suci. Sabda Rasulullah SAW:

 اَلطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصََّلاَةِ، اِلاَّ انّكم تَتَكَلَّمُوْنَ فِيْهِ، فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيْهِ فلا يَتَكَلَّمَنَّ اِلاَّ بِخَيْرٍ(رواه الترمذى 960 والحاكم 1/459 وصححه) 

Thawaf di sekeliling ka’bah itu seperti halnya shalat, hanya saja, kamu boleh berbicara ketika itu. Oleh karena itu, barangsiapa berbicara ketika berthawaf, maka jangan sekali-kali berbicara melainkan dengan pembicaraan yang baik. (H.R. at-Tirmidzi: 960, dan al-Hakim: 1/459, dan hadits ini disahkan olehnya). 

3. Menyentuh dan membawa mushhaf. 

Allah Ta’ala berfirman: Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (Q.S. al-Waaqi’ah: 79) 

Dan sabda Rasulullah SAW:

 لاَيَمَسُّ الْقُرْاَنَ اِلاَّ طَاهُرٌ 

Tidak boleh menyentuh al-Qur’an kecuali orang-orang yang suci (H.R. ad-Daruquthi: 1/459).
loading...

Monday, June 11, 2012

no image

Hal-hal yang Membatalkan Wudlu

Wudhu’ menjadi batal dikarenakan lima perkara: 

1. Ada sesuatu yang keluar dari salah satu di antara dua jalan, seperti kencing, tahi, darah atau angin. Allah berfirman: 

......atau datang salah seorang di antara kamu dari tempat buang air. (Q.S. an-Nisa’: 443) 

Maksudnya, sehabis berak atau kencing. Sedang al-Gha’ith itu sendiri asalnya berarti tanah rendah, yang biasanya digunakan buang hajat. Sementara itu al-Bukhari (135), dan Muslim (225), telah meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dia berkata:

 قاَلَ رَسُوُلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَيَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ اَحَدِكُمْ اِذَاَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ، فََقاَلَ رَجُلٌ مِنْ اَهْلِ حَضْرَ مَوْتَ مَالْحَدَثُ يَااَبَا هُرَيْرَةَ؟ قاَلَ فُسَاءٌ اَوْضُرَاطٌ 

Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak menerima shalat seseorang dari kamu sekalian, apabila berhadats, sebelum dia berwudhu’.” Maka bertanyalah seorang lelaki dari Hadramaut: “Apakah hadats itu, hai Abu Hurairah?” Jawab Abu Hurairah: “Kentut, yang tidak kedengaran maupun yang kedengaran.” 

Dikiaskan kepada hal-hal tersebut di atas, apa saja yang keluar dari qubul atau dubur, sekalipun berupa barang yang suci. 

2. Tidur yang tidak mantap ''

Adapun kemantapan, yang dimaksud ialah tidur sambil duduk, sedang pantatnya menempel rapat di tempat duduk. Dan tidak mantap, yang dimaksud apabila ada kerenggangan antar pantat dengan tempat duduk. 

Rasulullah SAW bersabda:

 مَنْ ناَمَ فليَتَوَضَّأَ 
Barangsiapa tidur, maka hendaklah berwudhu’ (H.R. Abu Daud 203, dan lainnya). 

Adapaun orang yang tidur dengan sikap yang mantap, maka tidaklah batal wudhu’nya. karena, dia dapat merasakan apa yang kiranya keluar dari dalam tubuhnya. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (376), dari Anas RA, dia berkata:

 اُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ وَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُناَجِىْ رَجُلاً، فَلَمْ يَزَلْ يُناَجِيْهِ حتّى ناَمَ اَصْحَبُهُ، ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى بِهِمْ 

Shalat telah didirikan, sedang Nabi SAW berbicara sendirian dengan seseorang. Beliau harus berbicara dengannya sehingga para sahabatnya tidur, barulah kemudian beliau datang lalu shalat bersama mereka. 

Yunaji: berbicara sendirian dengan seseorang sehingga tidak ada orang lain yang mendengarnya. 

Dan dari Abu Hurairah pula, ia berkata:

 كَانَ اَصْحَابُ رَسُوُلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَناَمُوْنَ، ثُمَّ يُصَلُّوْنَ ولا يَتَوَضَّأَوْنَ 

Para shabat Rasulullah SAW pada tidur, kemudian mereka shalat tanpa berwudhu’. (Lihat: al-Bukhari: 541, 544 dan 545) 

Jelaslah bahwa yang dimaksud, mereka tidur sambil duduk dengan sikap yang mantap. Karena mereka berada dalam masjid, menunggu shalat dan berharap Nabi SAW akan segera menyudahi pembicaraannya lalau shalat bersama mereka. 

3. Hilang akal, dikarenakan mabuk, atau pingsan, atau sakit, atau gila. Karena, apabila seseorang terkena salah satu di antara hal-hal tersebut, besar kemungkinan akan ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuhnya, tanpa dia sadari. Dan hal ini juga dikiaskan kepada tidur. Karena maknanya tentu melebihi daripada sekedar tidur. 

4. Bersentuhan antara laki-laki dengan isterinya atau wanita asing, tanpa adanya penghalang. Akibat kejadian ini, maka batallah wudhu’ laki-laki itu maupun wudhu’ si wanita. Adapun wanita asing, yang dimaksud ialah tiap-tiap wanita yang halal dikawini oleh laki-laki itu. Allah Ta’ala berfirman ketika menerangkan hal-hal yang mewajibkan wudhu’: yang artinya"

Atau kamu menyentuh wanita. (Q.S. an-Nisa’: 43). 

Laamastum (kamu menyentuh dengan bersangatan) yang dimaksud ialah laamastum (kamu menyentuh), sebagaimana menurut qiraat yang mutawatir. 

5. Menyentuh farji sendiri atau farji orang lain, baik yang depan maupun yang belakang, dengan perut telapak tangan atau jari-jari, tanpa adanya penghalang.
loading...
no image

Hal-hal yang Makruh dalam Wudlu

Ada beberapa perkara yang makruh dilakukan ketika berwudhu’, yaitu sebagai berikut: 

1. Berlebih-lebihan atau pelit dalam menggunakan air. Karena, hal itu bertentangan dengan as-Sunnah dan dengan keumuman dari firman Allah SWT: 

Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. al-A’raf: 31) 

Berlebih-lebihan, yang dimaksud ialah melampaui kewajaran yang diakui dan disetujui orang-orang yang sehat. 

Abu Daud (96) meriwayatkan pula, bahwasanya Nabi SAW bersabda:

 اِنَّهُ سَيَكُوْنُ فِى هَذِهِ اْلاُمَّةِ قََوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِى الطَّهُوْرِ وَالدُّعَاءِ 
 
Sesungguhnya akan ada di kalangan umat ini, suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdo’a. 

Maksudnya, mereka keterlaluan dalam bersuci dan berdo’a. Adapun keterlaluan dalam berdo’a, yang dimaksud meminta hal-hal khusus, dengan sifat tertentu pula. 

2. Mendahulukan tangan dan kaki kiri daripada yang kanan. Karena, hal ini menyalahi praktek yang dilakukan Nabi SAW, sebagaimana telah diterangkan di atas. 

3. Menyeka air dengan sapu tangan, kecuali karena uzur, seperti hawa yang sangat dingin ataupun panas yang menyiksa manakala air lama berada pada tubuh, atau karena khawatir terhadap najis ataupun debunya. 

Menurut riwayat al-Bukhari (256)_, dan Muslim (317):

 اَنَّهُ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُتِيَ بِمِنْدِيْلٍ فَلَمْ يَمَسَّهُ 

Bahwasanya Nabi SAW pernah diberi secarik sapu tangan, namun beliau tidak mengusapkannya. 

4. Memukulkan air pada wajah. Karena, hal itu berarti tidak memuliakan wajah sendiri. 

5. Menambah atau mengurangi dari tiga kali basuhan atau usapan dengan yakin. 

Rasulullah SAW bersabda, sesudah wudhu’ (dengan membasuh dan mengusap) tiga kali-tiga kali: 

هَكَذَاالْوُضُوْءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَ اَوْ نَقَصَ فَقَدْ اَسَاءَ وَظَلَمَ(رواه ابو داود 135) وقال النووى فى المجموع: انه صحيح

 Beginilah cara berwudhu’. Barangsiapa menambah atau mengurangi dari ini, berarti telah berbuat kesalahan dan aniaya. (H.R. Abu Daud: 135). 

Menurut an-Nawawi dalam kitabnya, “al-Majmu’”, bahwa hadits ini shahih. 

Maksudnya, barangsiapa berkeyakinan bahwa as-Sunnah adalah lebih atau kurang dari tiga kali, maka dia telah melakukan kesalahan dan aniaya, karena berarti dia menyalahi as-Sunnah yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW. 

6. Meminta bantuan orang lain membasuhkan anggota-anggota wudhu’nya tanpa uzur. Karena, hal itu memuat semacam kesombongan yang bertentangan dengan pengabdian. 

7. Bersangatan dalam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung bagi orang yang sedang berpuasa. 

Karena, dikhawatirkan air akan terlanjur masuk ke leher, sehingga merusakkan puasanya. Nabi SAW bersabda: 

وبالغ فى الاستنشاق الاّ ان تكُوْنُ صائما (رواه ابو داود 142

Hiruplah air ke dalam hidung dengan bersangatan, kecuali kamu sedang berpuasa. (H.R. Abu Daud: 142) 

Dengan demikian, berkumur lebih patut dilakukan kepada menghirup air dalam hidung.
loading...
no image

Sunnah-sunnah dalam Berwudlu

Di dalam wudhu’ juga erdapat amalan-amalan sunnah yang banyak. Di sini kami sebutkan yang terpenting di antaranya, yaitu: 

1. Dimulai dengan membaca Basmalah. 

Karena, menurut riwayat an-Nasa’i (1/61) dengan Isnad Jayid dari Anas RA, dia berkata:

 طَلَبَ بَعْضُ اَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءًا، فَلَمْ يَجِدُوا مَاءً، فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: هَلْ مَعَ اَحَدٍ مِنْكُمْ مَاءٌ، فَاُتِىَ بِمَاءٍ فَوَضَعَ يَدَهُ فِى اْلاِنَاءِ الَّذِى فِيْهِ الْمَاءُ ثُمَّ قَالَ: تَوَضَّأُوْا بِسْمِ اللهِ 

Beberapa orang sahabat Nabi SAW mencari air wudhu’, tetapi mereka tidak menemukan air. Maka bersabdalah beliau SAW: “Adakah seorang dari kamu sekalian mempunyai air?” Maka, didatangkanlah sedikit air, lalu beliau meletakkan tangannya dalam bejana yang berisi air itu, kemudian sabdanya: “Berwudhu’lah kamu sekalian dengan nama Allah.” 

Maksudnya, dengan mengucapkan Basmalah ketika memulai berwudhu’. 

Anas menceritakan: “Aku melihat air itu memancar di antara jari-jari beliau, sehingga mereka semua berwudhu’, padahal mereka ada kira-kira 70 orang.” 

2. Membasuh kedua tangan sebelum dimasukkan ke dalam bejana, tiga kali. Al-Bukhari (2183), dan Muslim (235) meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid RA:

 وَقَدْ سُئِلَ عَنْ وُضُوْءِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ، فَتَوَضَّأَ لَهُمْ وُضُوْءَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاَكْفَأَ عَلَى يَدِهِ مِنَ التَّوْرِ، فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلاَثاً، ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فِى اْلاِنَاءِ 

Artinya: Dia ditanya tentang wudhu’ Nabi SAW. maka dia menyuruh ambilkan bejana berisi air. Lalu dia memberi contoh wudhu’ kepada mereka seperti wudhu’ Nabi SAW: Dia kucurkan (air) pada tangannya dari bejana itu, lalu dia basuh kedua tangannya tiga kali, kemudian barulah dia memasukkan tangannya ke dalam bejana........ 

At-Taur: bejana dari tembaga 

3. Bersiwak, karena menurut riwayat al-Bukhari (847), dan Muslim (252) dan lainnya, dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda:

 لَوْلاَ اَنْ اَشُقَّ عَلَى اُمَّتِى لاَََمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ 

Sekiranya takkan menyulitkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap kali berwudhu’. 

Maksudnya: niscaya aku perintahkan mereka dengan perintah yang mewajibkan. 

Hadits ini menunjukkan bahwa bersiwak itu sangat mustahab. 

4. Dan 5. Berkumur dan menghirup air dalam hidung (Istintsar) dengan tangan kanan, lalu menyemprotkan (Istintsar) dengan tangan kiri. Dalam hadits riwayat Abdullah bin Zaid RA tersebut di atas, terdapat kata-kata:

 فَتَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقََّ وَاسْتَنْثَرَ بِثَلاَثِ غَرْفَاتٍ .........

lalu dia berkumur, menghirup air dalam hidung dan menyemprotkannya dengan tiga kali cidukan. 

Maksudnya, Abdullah berkumur dan menghirup air dalam hidung dengan satu kali cidukan. Hal ini dia ulangi dampai tiga kali. 

Istintsara: menyemprotkan air yang telah dimasukkan dalam hidung. 

6. Menyelai-nyelai janggut yang tebal 

Abu Daud (145) meiwayatkan dari Anas RA:

 اَنَّ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اِذَا تَوَضَّأَ اَخَذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ، فَاَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنَكِهِ، فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ وَقَالَ: هَكَذَااَمَرَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ 

Bahwasanya Nabi SAW apabila berwudhu’ beliau mengambil air sepenuh telapak tangan, lalu beliau masukkan sampai ke bawah langit-langit mulutnya, sesudah itu beliau menyelai-nyelai janggutnya dengan air, seraya bersabda: “Seperti inilah Tuhanku ‘Azza Wa Jalla menyuruh aku. 

7. Mengusap seluruh kepala 

Dalam hadits riwayat Abdullah bin Zaid RA tersebut di atas terdapat kata-kata:

 فَمَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَاَقْبَلَ بِهِمَا وَاَدْبَرَ: بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ، ثُمَّ ذَهَبَ بِهِمَا اِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ اِلَى الْمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ 

................lalu dia usapkan kedua tangannya pada kepalanya. Keduanya dia tarik ke depan dan ke belakang: dia mulai dari bagian depan kepalanya, kemudian dia tarik kedua tangannya sampai ke tengkuknya, sesudah itu ia tarik kembali, sehingga sampai pada tempat dimana dia memulai. 

8. Menyelai-nyelai di antara jari-jari tangan dan kaki dengan air 

Adapun kedua tangan, ialah dengan cara menjalinkan di antara keduanya. Sedang kedua kaki diselai-selai dengan menggunakan kelingking tangan kiri, dimulai dari kelingking kaki kanan, dan berakhir pada kelingking kaki kiri. 


Dari Laqith bin Shabirah RA:

 قُلْتُ يَا رَسُوُلُ اللهِ اَخْبِرْنِى عَنِ الْوُضُوْءِ؟ قَالَ: اَسْبِغِ الْوُضُوْءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ اْلاَصَابِغِ وَبَالِغْ فِى اْلاِسْتِنْشَاقِ اِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا(رواه ابو داود 142 وصححه التّرمذى 788 وغيرهما) 


Pernah aku berkata: “Ya Rasulullah, ajarilah aku berwudhu’.” Maka beliau bersabda: “Sempurnakanlah wudhu’, dan selai-selailah di antara jari-jari, dan hiruplah air ke dalam hidung dengan bersangatan, kecuali jika kamu sedang berpuasa. (H.R. Abu Daud: 142, dan disahkan oleh at_Tirmidzi: 788, dan lainnya. 

Asbigh: sempurnakanlah dengan menunaikan semua rukun-rukun dan sunnah-sunnahnya. 

Dan dari al-Mustaurid, dia berkata:

 رَاَيْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَخَلَّلَ اَصَابِعَ رِجْلَيْهِ بِخِنْصِرِهِ 

Pernah aku melihat Nabi SAW berwudhu’. Belkiau menyela-nyleai jari-jari kedua kakinya dengan kelingkingnya. (H.R Ibnu Majah: 446). 

9. Mengusap dua telinga luar – dalam, dengan air yang baru, bukan air bekas mengusap kepala. Dari Ibnu ‘Abbas RA

 اَنَّ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاُذُنَيْهِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا(رواه التّرمذى 36 وصححه

Bahwa Nabi SAW mengusap kepala dan kedua telinganya, luar dan dalam. (H.R. at-Tirmidzi: 36, dan dia mengesahkannya) 

Sedang menurut an-Nasa’i (1/74):

 مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاُذُنَيْهِ بَاطِنِهِمَا بِالْمُسَبِّحَتَيْنِ وَظَاهِرِهِمَا بِاِبْهَامَيْهِ 

Kemudian mengusap kepala dan kedua telinganya, bagian dalam dengan kedua jari telunjuk, sedang bagian luar dengan kedua ibu jarinya. 

Dan ‘Abdullah bin Zaid berkata:

 رَاَيْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأَ، فاخذ ماء لاُذُنَيْهِ خلاف الماء الّذى اخذه لِرَأْسِهِ(رواه الحاكم 1\151) وقال عنه الحافظ الذهبى صحيح 

Aku melihat Nabi SAW berwudhu’. Beliau mengambil air untuk kedua telinganya, selain air yang beliau ambil untuk kepalanya. (H.R. al-Hakim 1/151. Hadits ini dinyatakan oleh al-Hafidz adz-Dzahabi: shahih). 

10. Meniga-kalikan basuhan pada seluruh anggota wudhu’, baik yang fardhu maupun yang sunnah: Diriwayatkan oleh Muslim (230), bahwa ‘Utsman RA berkata:

 اَلاَ اُرِيْكُمْ وُضُوْءَ رَسُوُلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ ثُمَّ تَوَضَّأَ ثَلاَثاً ثَلاَثاً 

Tidakkah aku tunjukkan kepadamu wudhu’nya Rasulullah SAW? Kemudian dia berwudhu’ (dengan membasuh) tiga kali – tiga kali. 

11. Mendahulukan yang kanan daripada yang kiri, ketika membasuh kedua tangan dan kedua kaki: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 اِذَا تََوَضَّأتُمْ فاَبْدَءُوْا بِمَيَامِنْكُمْ(رواه ابن ماجه 402

Apabila kamu berwudhu’, maka mulailah dengan anggota kananmu. (H.R. Ibnu Majah: 402) 


Hal ini ditunjukkan pula oleh hadits riwayat Abu Hurairah RA di atas, yang menyebutkan tentang fardhu fardhu wudhu’. 

12. Menggosok, yakni melewatkan tangan pada anggota wudhu’ ketika membasuhnya. 

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (4/39), dari Abdullah bin Zaid RA:

 اَنَّ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ، فَجَعَلَ يَقُوْلُ هَكَذَا يَدْلُكُ 

Bahwasanya Nabi SAW berwudhu’, yang kata Abdullah, “Begini” seraya menggosok. 

Dalam al-Mishbah: Dalakta ‘sy-Syai’a –dari Bab Qatala, artinya; kamu menggosok sesuatu dengan tanganmu. Sedang: Dalakta ‘n-Na’la bi ‘l-Ardhi, artinya: kamu menggosokkan sandal pada tanah. 

Maksudnya: Abdullah menerangkan dengan kata-kata, tentang praktek yang dilakukan Nabi. 

13. Berturut-turut 

Yakni membasuh anggota-anggota wudhu’ secara berturut-turut tanpa terputus-putus, dengan cara membasuh anggota yang kedua selagi anggota yang pertama belum kering. Dasarnya, karena mengikuti Nabi SAW, sebagaimana yang telah diterangkan kepada anda dalam hadits-hadits mengenai itu. 

14. Memperpanjang ghurrah dan tahjil 

Ghurrah, maksudnya: membasuh sebagian dari kepala bagian depan. Sedang tahjil: membasuh sebelah atas siku, ketika membasuh kedua tangan, dan sebelah atas mata kaki ketika membasuh dua kaki. 

Rasulullah SAW bersabda:

 اِنَّ اُمَّتِى يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ اَثاَرِ الْوُضُوْءِ، فَمَنِ اسْتَطَعَ مِنْكُمْ اَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ(رواه البخارى 136 ومسلم 246) 

Sesungguhnya umatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan cemerlang kening, kedua tangan dan kedua kaki mereka, karena bekas-bekas wudhu’. Oleh karena itu, maka barangsiapa dapat memperpanjang kecemerlangannya, maka lakukanlah. (H.R. al-Bukhari: 136, dan Muslim 246). 

Sedang dalam riwayat lain menurut Muslim:

 فل يُطِلْ غُرَّتَهُ وَتَحْجِيْلَهُ 

Maka hendaklah ia memperpanjang ghurrah dan tahjilnya. 

Ghurrah, jamak dari agharra, artinya: orang yang mempunyai ghurrah, yaitu warna outih di kening. Sedang muhajjalin, berasal dari kata at-Tahjil, yaitu warna putih dan kedua tangan dan kaki. Ini adalah tasybih (perumpamaan). Karena pada asalnya, ghurrah dan tahjil itu ada pada kening kuda dan kaki-kakinya. Sedang maksudnya di sini: cahaya yang memancar dari orang-orang yang beriman pada hari kiamat. 

15. Menghemat air tanpa berlebih-lebihan dan jangan pula terlalu kikir. 

Karena, menurut riwayat al-Bukhari (198) dari Anas RA:

 كَانَ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأَ بِالْمُدِّ 

Nabi SAW berwudhu’ dengan (air) satu mud. 

Mud: bejana, yang panjang, lebar dan dalamnya, masing-masing ± 10 cm. 

16. Menghadap kiblat ketika berwudhu’, karena kiblat adalah arah yang paling mulia. 

17. Tidak berbicara ketika berwudhu’, karena menconoh kepada Rasululah SAW. 

18. Membaca tasyahhud dan berdoa, sesudah selesai berwudhu’ dengan mengucapkan:

 اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسَوْلُهُ(رواه مسلم 234

Aku bersakdi bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. (H.R. Muslim: 234).

 اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ(رواه التّرمذى 55 

Maha Suci Engkau ya Allah, dan (aku mensucikan Engkau) dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu, dan bertaubat kepada-Mu. (H.R an-Nasa’i dalam Bab Amalan-amalan sehari-semalam, sebagaimana dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar).
loading...