Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Hukum Islam. Show all posts
Showing posts with label Hukum Islam. Show all posts

Tuesday, July 22, 2014

no image

Hadits Hukum Ziarah Kubur bagi Wanita

Hukum berziarah ke kubur bagi laki-laki hukumnya adalah sunnah. Hal ini berdasarkan dalil hadits sabda Nabi yang artinya : "Pernah aku melarang kamu sekalian berziarah kubur, maka berziarahlah kamu ke sana" dan juga hadits riwayat at-Tirmidzi yang artinya : "karena sesungguhnya berziarah kubur itu mengingatkan akhirat". 

Lalu bagaimana hukum ziarah kubur bagi wanita?

Dalam riwayat dalil hadits Abu Daud dan lainnya, meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas RA.dia berkata:

 لَعَنَ اللهُ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ
Allah melaknati para wanita yang berziarah kubur. 
Dalil lainnya adalah berbunyi :

عن انس ابن مالك رضي الله عنه، مرّ النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم بامرأة عند قبر وهي تبكى،فقال : إتّقى الله واصبرى! (رواه بخارى

Artinya : Shahabat Anas bin Malik ra. berkata :Nabi Muhammad saw pernah melewati seorang wanita sedang menangis di samping sebuah makam, kemudian beliau bersabda : takutlah hai wanita kepada Allah dan sabarlah.

Mengenai perempuan atau wanita yang berziarah kubur hukumnya adalah makruh. Hukum makruh artinya adalah sebaiknya tidak dikerjakan dan lebih baik untuk tidak dikerjakan. Hal ini disebabkan karena perempuan atau wanita lebih besar berpotensi kemungkinan akan mempertontonkan dirinya, melolong-lolong dan menjerit-jerit, menangis, bersuara karena sifat wanita yang lebih rentan perasaannya.

Bentuk tubuh wanita dari atas hingga bawah adalah merupakan aurat hingga suara yang indah bisa menimbulkan fitnah dan dorongan bagi kaum laki-laki, serta dapat menimbulkan fitnah dan timbul syahwat apabila terjadi desak-desakkan, dengan lelaki karena berkerumunnya lawan jenis.

Namun demikian, mereka masih disunnahkan berziarah ke makam Rasulullah SAW. Dan patut disamakan pula dalam hal ziarah ke makam atau kubur para Nabi dan orang-orang sholeh yang lain dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Tidak mempertontonkan diri, membuka aurat, berdandan yang berlebihan, memakai wangi-wangian sehingga bisa menimbulkan dosa lewat mata dan pikiran bagi kaum lelaki.
  • Bercampuraduk, berdesak-desakan dan berhimpit-himpit dengan para lelaki
  • Bersuara keras, yang berpotensi menimbulkan fitnah. Dan hal ini umumnya sering terjadi pada saat wanita berziarah. 
  • Dapat menjaga dirinya dari segal fitnah dan hal-hal yang dilarang agama.
  • Tidak ikut mengiring jenazah ke pemakaman atau kuburan. Larangan ini bukan sepenuhnya haram tapi mempunyai hukum makruh
Adapun untuk mengiring jenazah, hukumnya adalah sudah jelas dilarang. Hal ini berdasarkan dalil hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Ummi Athiyah ra. yang berbunyi :
عن أمّ عطيّةرضي الله عنها قالت : نهينا عن إتّباع الجنائز ولم يعزم علينا (بخارى
Artinya : Berkata sahata Ummi 'Athiyyah ra. bahwa kami dilarang untuk mengiring jenazah dan memang tidak ditetapkan untuk kami.
Dan perlu diketahui juga bahwa pada dasarnya orang yang berziarah ke kubur atau makam adalah tidak untuk tujuan mendapatkan pertolongan dari mayit atau ahli kubur dan juga tidak untuk mendapatkan nasehat dari yang tidak berbicara (mayit).
Dari beberapa hadits di atas, dapat di ambil suatu pengertian bahwa pada dasarnya Nabi tidak melarang seorang wanita untuk berziarah ke pemakaman atau kuburan, namun beliau hanya menasehati kaum wanita. Sekalipun kaum wanita tidak dilarang untuk berziarah ke makam, namun harus dan perlu diingat serta dijaga akan keselamatan dan penjagaan dirinya dari segala macam fitnah, dan hal-hal yang dilarang oleh agama seperti yang disebutkan di atas, serta harus dapat menjaga kesopanan berziarah dan juga menjaga kehormatan wanita.
no image

Hadits Manfaat, Cara Menaruh Bunga di Kuburan

Seringkali kita menyaksikan dan melihat bahwa setelah pemakaman mayit, dia atas makamnya diletakkan atau ditaburi dengan bunga, atau dengan beberapa karangan bunga. Hal ini juga seringkali dilakukan oleh para peziarah atau orang-orang yang ziarah kubur dengan membawa bunga dan kemudian menaruh atau meletakkan bunga yang dibawanya di atas makam tersebut. 

Apa faedah dan manfaat menaruh bunga di atas makam?

Dalam sebuah dalil hadits Nabi Muhammad riwayat bukhari yang berbunyi:

عن ابن عبّاس رضي الله عنه، عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم، انّه مرّ بقبرين يعذّبان، نقال: انّهم يعذّبان، وما يعذّبان فى كبير. أمّا احدهما فكان لايستتير من البول، وأمّا لاخر فكان يمشى باالنّميمة، ثمّ أخذ جريدة رطبة فشقّها بنصفينثمّ غرزفى كلّ تبر واحدة، فقال: يارسول الله: لم صنعت هذا؟ فقال : لعلّه ان يخفّف عنهما مالم ييبسا (البخارى

Artinya : Baginda Nabi Muhammad saw telah melewati dua kubur yang sedang di siksa mayitnya. Beliau bersabda: sesungguhnya kedua kubur itu sedang disiksa dan bukannya ia disiksa karena melakukan dosa besar. Salah satu diantaranya disiksa karena ia tidak menjaga diri dari air kencing (tidak menjaga dirinya, pakaiannya dari percikan air kencing). Sedang  yang lain disiksa karena ia berkeliaran dengan adu domba. Maka beliau (Nabi) mengambil pelepah kurma yang masih basah lalu dibelahnya menjadi dua. Kemudian ditancapkan masing-masing di kuburan itu. Para sahabat sama bertanya. Untuk apakah engkau ya Rasulullah berbuat demikian? Jawab beliau : semoga Allah meringankan siksa daripadanya selama kedua belahan pelepah masih basa.

Dari keterangan dalil hadits di atas, menaruh, meletakkan bunga atau karangan bunga di atas makam itu sungguh besar manfaat atau faedahnya bagi si mayit. Lain halnya dengan panaburan bunga di jalanan di sepanjang jalan yang dilalui oleh jenazah, hal ini tidak mempunyai manfaat atau faedah bagi mayit tersebut.

Cara Meletakkan bunga di atas makam kuburan

Dari keterangan di atas, maka sebaiknya dalam menaruh atau meletakkan bunga di atas makam atau kuburan sebaiknya adalah sebagai berikut :
  • Melakukan ziarah kubur sesuai dengan adab tata cara ziarah kubur yang diakhiri dengan mendoakan mereka, setelah itu kemudian menaruh, meletakkan pelepah kurma atau bunga di atas makam/kuburan
  • Menggunakan pelepah kurma yang masih basah sesuai dengan apa yang dikerjakan Nabi. Karena yang dikerjakan Nabi adalah suatu sunnah. Namun apabila tidak ada, dapat menggunakan bunga yang masih segar, tidak layu dan lekas kering.
Kenapa sebaiknya yang masih basah atau segar? Karena berdasarkan dalil hadits di atas,  selama pelepah kurma atau bunga tersebut masih basah, akan memberikan manfaat yang besar bagi si mayit atau ahli kubur.
  • Hendaknya jangan menaruh, menabur, meletakkan bungan di sepanjang jalan yang dilalui jenazah. Karena dari keterangan hadits di atas, hal ini tidak bermanfaat dan berfaedah bagi mayit.
Semoga dengan adab dan tata cara ziarah kubur yang benar dan meletakkan bunga di atas makam atau kuburan akan dapat bermanfaat dan berfaedah bagi mayit dan di ringankan serta di ampuni dosa-dosa si mayit atas ijin Allah swt.

Sunday, June 8, 2014

no image

Adab Takziah yang Baik dan Benar

Dengan ijin Allah berikut ini akan disampaikan tata cara adab takziah yang benar dan beberapa hal terkait dengan takziah yang meliputi definisi atau pengertian takziah, hukum takziah dan hikmah takziah. Sebelum sampai ke materi judul yaitu adab takziah yang benar, mari kita pahami terlebih dahulu tentang pengertian dari takziah.

Pengertian takziah menurut bahasa Takziah artinya adalah menghibur. Sedangkan pengertian Takziah menurut istilah syara' adalah mengunjungi keluarga orang yang meninggal dunia dengan tujuan supaya keluarga yang ditinggalkan dan sedang mendapat musibah dapat terhibur, diberikan kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi musibah serta mendoakan mayit atau orang yang meninggal agar diampuni oleh Allah dosa-dosanya selama menjalani hidup di dunia.

Apa hukumnya bertakziah

Takziah hukumnya adalah sunnah. Takziah adalah merupakan kewajiban bagi setiap muslim kepada muslim yang lain dan orang yang meninggal dunia berhak atas hak takziah. Perlu kita ketahui bahwasanya hak orang Islam yang lain ada lima, yaitu menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan, dan mendoakan orang yang bersin.

Bagaimana Adab Takziah yang baik dan benar?

Kembali kepada materi judul di atas yaitu adab takziah yang benar, berikut ini adalah uraian singkat mengenai tata cara adab takziah yang benar adalah sebagai berikut :
  • Orang yang mendengar adanya musibah orang meninggal atau kematian hendaknya mengucapkan Kalimah Tayyibah yang bunyinya "Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun" yang artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.
  • Orang muslim yang bertakziah sebaiknya memakai baju atau berpakaian rapi dan sopan. Apabila orang yang bertakziah sudah berada di rumah duka/tempat orang yang meninggal, maka kita seharusnya menunjukkan perasaan sedih, tidak boleh tertawa, dan sebaiknya jangan berbicang-bincang dengan orang lain yang terlalu mencolok.
  • Orang muslim yang bertakziah hendaknya harus menghibur ashhabul musibah atau keluarga yang mengalami musibah supaya mereka sabar dalam menghapi musibah karena semua manusia pasti akan mengalami yang namanya kematian atau meninggal. Apabila keadaannya memungkinkan,  sebaiknya orang yang bertakziah mendekati jenazahnya dan mendoakannya agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah Azza Wajalla.
  • Apabila keadaan memungkinkan, orang yang bertakziah sebaiknya dapat memberikan sumbangan sehingga dapat meringankan beban dari keluarga yang ditinggalkan.
  • Orang yang bertakziah hendaknya berusaha untuk dapat mensholatkan jenazah dengan ikut shalat jenazah, mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman atau kuburan serta mendoakannya.
Apa pelajaran atau hikmah yang dapat kita ambil dari takziah?
Beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari takziah antara lain adalah sebagai berikut :
  • Takziah daoat menciptakan hubungan silaturrahmi yang lebih erat antara keluarga yang mengalami musibah kematian dengan orang yang bertakziah. 
  • Dengan takziah diharapkan keluarga yang mengalami musibah kematian dapat terhibur dengan tujuan dapat mengurangi beban kesedihan dari keluarga yang ditinggalkan.
  • Dengan takziah, orang muslim yang bertakziah dapat mendoakan kepada jenazah agar dosa-dosanya semasa hidup diampuni oleh Allah swt serta amal kebaikannya dapat diterima oleh Allah. 
  • Orang yang bertakziah dengan ikhlas insyallah akan mendapat pahala dari Allah swt.
Keluarga muslim yang ditinggalkan karena kematian berhak mendapatkan hak takziah dari sesama muslim lainnya dengan berpedoman pada adab takziah yang baik dan benar.

Saturday, May 17, 2014

no image

Adat Kebiasaan yang Dilarang oleh Islam

Berikut ini adalah tradisi-tradisi dan adat istiadat yang dilarang dan tidak dibenarkan dalam ajaran islam. Semoga kita bisa terhindar dari cobaan-cobaan dan tidak mengikuti tradisi dan adat istiadat berikut ini

Pesta yang dilarang

Tradisi Jahiliyah yang mungkin masih ada dan berlaku di lingkungan kita antara lain adalah berkumpulnya orang-orang pada pesta perkawinan atau pesta lainnya dengan pertunjukan musik yang mengiringi penyanyi laki-laki dan wanita, tarian laki-laki dan wanita. Termasuk mungkin juga ada tradisi minum-minuman yang memabukkan atau khamr, musik khusus untuk dansa-dansi, ter­tawa yang mengikik dari mulut-mulut orang yang mabuk, dan pertengkaran dari orang-orang berkelahi akibat mabuk.

Berapa banyak nyawa melayang, darah tertumpah, kehor­matan terenggut yang ditimbulkan perkumpulan-perkumpulan, yang tak lain merupakan adat istiadat orang-orang Jahiliyah ini?

Menasabkan anak kepada orang yang bukan ayahnya

Adat istiadat Jahiliyah yang kita dengar dan mungkin juga masih terdapat di lingkung­an kita juga, adalah menasabkan anak kepada orang yang bukan ayahnya. Rasulullah saw. menggolongkan perbuatan seperti itu sebagai kemunkaran yang sangat keji, pelakunya berhak men­dapatkan laknat Allah, Malaikat dan manusia seluruhnya. 

Asy-Syakhani meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau ber­sabda:

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ أَوِانْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيْهِ ٬ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اﷲِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ٬ لاَيَقْبَلُ اﷲُ مِنْهُ صِرْفًا وَلاَعَدْلاً٠

"Barang siapa menasabkan dirinya kepada orang yang bukan ayahnya, dan membangsakan dirinya kepada orang yang bukan tuannya, maka baginya laknat Allah, Malaikat dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan daripadanya ".

Dan Asy-Syaikhani meriwayatkan pula dari Sa'ad bin Abi Waqqash ra. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيْهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيْهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ٠

"Barang siapa menasabkan dirinya kepada orang yang bukan ayahnya dan dia mengetahui bahwa orang itu bukan ayahnya, maka surga baginya haram".

Bertitik tolak dari sini, maka haram "perkawinan/pembuahan buatan", yaitu meletakkan sperma laki-laki bukan suami pada rahim seorang istri yang bukan istrinya dengan tujuan untuk men­dapatkan anak. Perbuatan ini termasuk perbuatan jahat yang se­taraf dengan perzinaan, sama dengan mendapatkan anak dengan jalan yang tidak dibenarkan syara', tata cara yang haram, berten­tangan dengan nilai-nilai moral yang mulia.

Sedang memungut anak dengan pengertian mendidik dan memeliharanya, memelihara anak terlantar atau anak yatim umpamanya, maka boleh menurut syara'. Dengan syarat, anak tersebut tidak dinasabkan kepadanya, dan tidak ditetapkan hukum-hukum ke"anafe"an. Tak pelak lagi, orang yang meme­lihara dan mendidik anak terlantar atau yatim itu akan mendapat pahala di surga.

Al-Bukhari, Abu Daud dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

أَنَا وَكَا فِلُ الْيَتِيْمِ فِى الْجَنَّةِ هَكَذَا ٬وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا٠


"Saya bersama orang yang memelihara anak yatim di surga seperti ini — sambil menunjukkan jari tengah dan telunjuk, dan memisahkan keduanya".

Ayah angkat boleh memberi harta kepada anak yatim dan terlantar sebesar kemampuannya, dan boleh mewasiatkan memberikan sepertiga warisannya setelah ia wafat.

Memakan mahar atau mas kawin anak gadis

Masih termasuk istiadat Jahiliyah yang mungkin masih ada dan tersebar ke daerah dan kampung-kampung adalah memakan mahar anak gadisnya, dan mengharamkannya untuk mendapatkan warisan.

Sesungguhnya, Allah swt. telah menetapkan hak mahar bagi wanita, sebagaimana Allah menetapkan haknya dalam warisan. Maka, tidak dihalalkan bagi orangtua, saudara, suami atau siapa saja untuk mencabut haknya dalam mendapatkan warisan, dan mengambil maharnya.

Penetapan haknya dalam menerima warisan disebut da­lam Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman:

Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. (Q.S. an-nisa':7)

Penetapan hak wanita dalam mendapatkan mahar juga tercantum dalam Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman:

Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu per­janjian yang kuat. (Q.S. 4:20-21)

Karenanya, siapa pun yang menentang syari'at Allah dalam hal harta warisan dan mahar, maka ia telah mengambil jalan yang menyimpang dari kebenaran yang telah ditentukan Allah dalam Kitab-Nya. Ia berhak mendapatkan balasan dari Allah pada hari kiamat. Karenanya, hendaknya ini menjadi pelajaran bagi  mereka yang menginginkan keselamatan di hari kemudian.

Demikianlah hal-hal yang diharamkan menurut pandangan Islam, yang sama sekali tidak boleh mendekatinya. Islam telah memperingatkan dan memberikan ancaman kepada orang yang melakukannya.

Hendaknya, kita menjauhi perbuatan-perbuatan yang diharamkan itu, dan memberi teladan yang baik. Setelah itu, baru kita memperi­ngatkan kepada orang-orang dan saudara-saudara kita agar kita semua selamat dan tidak terpeleset ke jurang kenistaan.

Jika kita laksanakan semua ini, maka Allah akan memberi pahala, menerima ketaatan dan ketakwaaan kita, mengabulkan permohonan, memberi­kan jalan keluar dari kesempitan dan menghibur ketika dilanda kegundahan. Dan pada hari kiamat, akan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang saleh, orang-orang suci, golongan Malaikat, para Nabi, orang-orang yang teguh kepada kebenaran para Nabi, para syuhada’dan mereka adalah teman yang baik bagi kita.

Dengarlah apa yang disabdakan Rasulullah saw. tentang orang-orang yang makan, minum dan pakaiannya dari cara yang haram, agar kita mengerti keadaan mereka yang jauh dari Allah dan mendapat murka-Nya.

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

ِنَّ اﷲَ طَيِّبٌ لاَيَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا٬ وَإِنَّ اﷲَ أَمْرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَبِهِ الْمُرْسَلِيْنَ٠

"Sesungguhnya Allah adalah baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang diperintahkan kepada para Rasul".

Maka Dia berfirman: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang saleh. (Q.S. 23:51)

Dan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. (Q.S. 2:172)

Kemudian, beliau menyebutkan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, dengan rambut kusut, badan ber­debu, menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, Ya Tuhanku, Ya Tuhanku", sedang makanannya haram, minum­annya khamr, pakaiannya haram dan ia kenyang dengan barang yang haram, maka bagaimana Allah akan mengabulkan doanya?"

Al-Baihaqi dan Abu Na'im meriwayatkan dari Abu Bakar ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ ﴿مِنْ حَرَامٍ ﴾ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ ٠

"Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan/minuman) yang haram, maka neraka lebih berhak baginya".

Semoga Allah melindungi kita dari segala yang diharam­kan, menjauhkan kita dari mereka yang berhak mendapatkan siksa neraka Jahannam. Dijauhkan dari mereka yang berdoa tetapi tidak dikabulkan.
no image

Perbuatan & Meratapi Orang Mati yang Salah

Kebiasaan lain yang diperangi Islam adalah meratapi orang mati atau meninggal [kematian], dan berlebih-lebihan dalam menam­pakkan kesedihan. Misalnya, ketika saudara atau ada orang mati atau meninggal, menampar pipi sendiri, merobek baju dan melukai wajah. Ini adalah salah satu dari tradisi jahiliyah, adat mereka yang turun temurun.

Rasulullah saw. tidak bertang­gung jawab dari orang yang melakukan hal ini karena seseorang yang mati atau meninggal. Al-Bukhari meri­wayatkan dari Abdullah bin Mas'ud ra. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُوْدَ ٬ وَشَقَّ الجُيُوْبَ ٬ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ ٠

"Bukan dari golongan kami orang yang menampar pipi, mero­bek baju dan menjerit-jerit seperti orang jahiliyah".

Sedang jika ada saudara kita meninggal atau seseorang mati dan sikap kita hanya berlinangan air mata tanpa menangis berlebihan, dan bersedih hati tanpa berkeluh kesah, memang dibolehkan. Sebab, perbuatan seperti ini sesuai dengan etika Islam dan karakter manusia. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umarra., ia berkata:

"Sa'ad bin 'Ubadah tertimpa penyakit yang sangat parah. Maka Rasulullah saw. menengoknya bersama Abdur Rahman bin 'Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas'ud ra. Ketika Rasulullah saw. masuk, beliau mendapatkan keluarganya berada dalam kepanikan. Maka beliau bertanya, "Apakah ia telah meninggal dunia?" Mereka menjawab, "Tidak, wahai Rasulullah!" Maka Rasulullah saw. menangis. Ketika orang-orang yang hadir melihat Rasulullah saw. menangis, maka mereka pun menangis. Kemudian beliau berkata, "Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa karena linangan air mata, dan tidak pula karena bersedih hati, tetapi Dia akan menyiksa karena ini (dan beliau menunjuk lidahnya), atau Dia akan memberi rahmat. Dan sesungguhnya mayit akan disiksa karena keluarganya menangisinya".)

Yang dimaksud tangis di sini adalah tangis yang disertai ratapan dan suara keras (histeris). Mayat akan tersiksa dengan tangis seperti itu.

Dalam pembicaraan meratapi mayit ketika seseorang mati atau meninggal dunia, perlu diketahui hal- hal berikut:

1. Tidak dihalalkan bagi setiap Muslim mengenakan pa­kaian yang melambangkan belasungkawa dan duka cita atas kematian seseorang, dengan merubah (meninggalnya) pakaian biasa. Sebab perbuatan serupa ini termasuk menyerupai perbuatan kafir dan tradisi bangsa asing.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا٬ لاَتُشَبِّهُوْا بِاليَهُوْدِ وَلاَ بِالنَّصَارَى ٠

"Bukan dari golongan kami orang yang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai kaum Yahudi, jangan pula kamu menyerupai orang Nasrani".

Imam Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar ra., ia berkata:
 
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ٠

Rasulullah saw. bersabda. "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka".

2. Termasuk menyerupai dan mengikut secara membuta, contohnya ketika ada kematian atau seseorang meninggal atau mati adalah meletakkan karangan bunga pada usungan mayat atau di atas kuburan. Perbuatan ini, selain dari perbuatan orang kafir, juga menggunakan harta dalam hal yang tidak dibenarkan. Adapun meletakkan sebagian tumbuhan dan bunga tanpa dibentuk karang­an, dibolehkan. Dan dalam Sunnah Nabawiah terdapat dalil yang membolehkannya:

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. lewat kepada dua kuburan, beliau bersabda, "Sesungguhnya kedua orang yang terbaring di dalam kuburan ini sedang disiksa, disiksa bukan karena dosa besar. Salah satu dari keduanya karena suka mengadu domba, dan yang satunya lagi karena jika buang air kecil tidak bersuci daripadanya". Maka Rasulullah saw. minta diberi pelepah pohon kurma yang masih hijau, lalu beliau belah menjadi dua. Lalu belahan yang satu di­tanamkan pada satu kuburan, dan belahan yang lain ditanamkan pada kuburan yang lain. Kemudian beliau bersabda, "Mudah-mudahan siksaannya diperingan, selama kedua belahan pelepah ini belum kering".

3. Meletakkan foto mayat pada usungan, atau memasang­nya di rumah duka orang yang mati/meninggal. Perbuatan ini, selain mengikut adat bangsa asing, juga termasuk melakukan perbuatan yang diharamkan. Sebab, mem­buat foto tanpa kebutuhan yang sangat adalah diharamkan me­nurut pandangan Islam.

4. Mengalunkan musik duka (belasungkawa) di hadapan timingan atau di rumah duka kematian dari orang yang mati. Perbuatan ini, selain menyerupai adat istiadat yang tidak sesuai dengan islam, juga merupakan perbuatan yang diharamkan menurut pandangan syari'ah berdasarkan hadits-hadits shahih. Seperti telah kita kemukakan dalam pembahasan terdahulu ketika membicarakan diharamkannya musik dan mendengarkannya, baik dalam keadaan nuka atau duka.

5. Perbuatan munkar lain dalam berbelasungkawa (ta'ziah) pada kematian orang mati-meninggal adalah membagi-bagi rokok dan mengisapnya, lebih-lebih ketika membaca Al-Qur'an Al-Karim. Perbuatan seperti ini merupakan perbuatan yang paling tercela dalam pandangan Islam. Sebab, dari satu segi melakukan hal yang diharamkan, dan dari segi lain merusak kehormatan Al-Qur'an.

6. Kemunkaran yang terbesar setelah penguburan jenazah orang yang mati adalah membangun dan melabur kuburan, karena Rasulullah saw. melarang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:

نَهَى رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ ٬ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ ٬ وَأَنْ يُبْنَي عَلَيْهِ٠

"Rasulullah saw. melarang menembok kuburan, duduk di atasnya dan mendirikan bangunan di atasnya".

Sangat disayangkan, bahwa sebagian orang pada masa seka­rang ini berlomba-lomba dalam membangun (mendirikan) bangun­an di atas kuburan dari orang yang mati dan menghiasnya. Tak pelak lagi, mereka sangat bertentangan dengan petunjuk Rasulullah saw. yang me­larang melabur dan membangunnya. Sudah dibuktikan kebenaran­nya bahwa ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal, beliau merata­kan kuburannya, meletakkan tongkat di atasnya dan menyiram­nya dengan air.

Termasuk sunnah Rasulullah saw. meletakkan tanda di atas kuburan agar mudah diketahui ketika menziarahinya, sebagaimana beliau meletakkan batu di atas kuburan, di atas kepala Utsman bin Mazh'un ra., dan beliau berkata:

أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَأَخِيْ ٠

"Agar saya mengetahui bahwa itu adalah kuburan saudaraku".

Jika orang-orang yang ditinggal mati, terlebih anak-anaknya, meningkatkan amal kebajikan dengan niat pahalanya diperuntuk­kan bagi yang telah meninggal, seperti membangun masjid, sekolah atau rumah sakit, daripada mereka mengeluarkan harta untuk membangun dan memegahkan kuburannya yang sama sekali bertentangan dengan syari'at Islam.

Dengan membelanjakan harta dalam kebajikan dan ia menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah mati atau meninggal, adalah insya Allah, pahalanya akan terus mengalir kepadanya. Benarlah Rasulullah saw. yang bersabda, "Jika seorang anak Adam (manusia) meninggal atau mati, maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariah, ilmu yang dimanfaat­kan atau anak saleh yang mendoakannya". Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam al Adán al Mufarrad.
no image

Hadits Larangan Membanggakan Keturunan

Mungkin secara tidak sengaja atai sengaja kita masih mendengar dari orang-orang yang mengagung-agungkan dan membangga-banggakan keturunan [nenek moyang].

Apalah nilai keturunan jika orang-orangnya berbelok dari jalan Islam dan mengikuti jalan sesat? Bukankah Allah telah berfirman:

فَإِذَا نُفِخَ فِي ٱلصُّورِ فَلَآ أَنسَابَ بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَئِذٖ وَلَا يَتَسَآءَلُونَ 

Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian nasab [keturunan] di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. (Q.S. Al-mukminun 101)

Rasulullah saw. juga mencurahkan kemurkaannya kepada orang-orang yang mengagung-agungkan dan membangga-banggakan keturunan dalam ucapan yang tegas dan ungkapan yang tajam:

"Hendaknya kaum-kaum itu benar-benar berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati, sesungguhnya mereka adalah arang api neraka Jahannam. Atau, hendaknya mereka sungguh-sungguh lebih hina di sisi Allah daripada kumbang kelapa yang mengguling-gulingkan tahi (kotor­an) dengan hidungnya. Sesungguhnya Allah telah melenyapkan daripadamu kemegahan jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek noyangnya. Yang dipandang hanyalah apakah ia seorang Mu'min yang bertakwa, atau seorang durhaka yang nista. Manusia, semua­nya adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah". (H. R. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Kita juga mendengarkan apa yang dipermaklumkan Rasulullah saw. mengenai prinsip-prinsip hak-hak manusia yang beliau sampai­kan pada pidato Haji Wada' (perpisahan):

يَااَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ ٬ وَاِنَّ اَبَاكُمْ وَاحِدٌ ٬ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى
 عَجَمِيٍّ ٬ وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَلأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ٬ وَلاَ لأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَإِلاَّ بِالتَّقْوَى٠٠٠

"Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu. Bapa­mu adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atas bangsa non-Arab, tidak pula non-Arab atas bangsa Arab, tidak pula orang Merah atas yang Hitam, tidak pula Yang Hitam atas yang Merah kecuali dengan takwa."(H.R. Al- Baihaqi).
no image

Hadits: Larangan Mementingkan Kepentingan Suku

Fenomena mementingkan kepentingan suku ini dapat kita lihat dalam bermacam-macam lingkungan Islam. Mereka berjuang mencapai kemenangan demi bangsa dan kerabat­nya sendiri [kepentingan kesukuan], tanpa memandang apakah mereka berada dalam kebenaran atau kebatilan.

Masalah tentang mementingkan kepentingan individu kesukuan ini telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. kepada se­seorang ketika bertanya kepada beliau tentang ashabiyah. Di­riwayatkan oleh Abu Daud dari Wa'il bin Al-Asqa', ia berkata:

قُلْتُ يَارَسُوْلُ اﷲِ٬ مَاالْعَصَبِيَّةُ ؟ قَالَ ׃ أَنْ تُعِيْنَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلِمْ٠

Aku berkata, "Ya Rasulullah, apakah 'ashabiyah itu?''' Beliau bersabda, "Kamu membantu bangsamu dalam kezhaliman".

Beliau juga mempermaklumkan tidak bertanggung jawab atas orang yang melakukan 'ashabiyah:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ ٬ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ ٬وَلَيْسَ مِنَّامَنْ مَاتَ عَلَى  عَصَبِيَّةٍ٠

"Bukan dari golongan kami orang yang menyerukan kepada 'ashabiyah (fanatisme kesukuan), bukan dari golongan kami orang yang berperang demi 'ashabiyah, dan bukan dari go­longan kami orang yang mati mempertahankan 'ashabiyah". (H.R. Abu Daud).

Beliau juga merubah pemahaman "Bela-lah saudaramu, baik ia berbuat zhalim, atau dizhalimi" dari jahiliyah kepada Islam, yaitu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, bahwa beliau bersabda kepada orang di sekitarnya pada suatu kali:

"Bela-lah saudaramu, baik ia berbuat zhalim (menganiaya) atau dizhalimi (dianiaya)". Maka orang-orang yang mendengar sabda beliau itu terkejut, dan mereka lantas bertanya penuh keheranan, "Ya Rasulullah, ini kami bela ia dalam keadaan ter­aniaya, bagaimana pula kita (kami) membela orang yang menga­niaya?" Beliau bersabda, "Kamu mencegahnya dari berbuat zhalim (aniaya), maka yang demikian itu adalah berarti kamu membelanya".

Maha agung apa yang dikatakan Al-Qur'an dalam menyatakan yang hak [haq-kebenaran], dan berpegang teguh pada keadilan, walaupun ter­hadap orang yang paling dekat dan paling dicintai:

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ بِٱلۡقِسۡطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ أَوِ ٱلۡوَٰلِدَيۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِينَۚ إِن يَكُنۡ غَنِيًّا أَوۡ فَقِيرٗا فَٱللَّهُ أَوۡلَىٰ بِهِمَاۖ فَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلۡهَوَىٰٓ أَن تَعۡدِلُواْۚ وَإِن تَلۡوُۥٓاْ أَوۡ تُعۡرِضُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٗا ١٣٥ 

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (Q.S. An-Nisa’:135)

Friday, May 16, 2014

no image

Cara Berjualan & Mencari Nafkah yang Dilarang

Sebelum Nabi Muhammad saw. diutus, masyarakat Arab pada zaman Jahiliyah telah mengenal bermacam-macam cara jual beli, kegiatan finansial dan pertukaran perniagaan. Maka, Rasulul­lah saw. menetapkan cara-cara yang tidak bertentangan dengan syari'at Islam dan dengan nash-nash yang dibawanya. Beliau me­larang cara-cara yang membahayakan kemaslahatan individu dan masyarakat, di samping menyebabkan kerusakan dan me­ninggalkan pengaruh yang sangat hina.

Berikut ini hal-hal terpenting dalam mencari penghidupan (takassub), seperti telah ditetapkan dalam syari'at Islam:

1). Menjual segala sesuatu yang diharamkan. Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau ber­sabda:

إِنَّ اﷲَ إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ ٠

"Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan harga (hasil penjualan) nya".

Berdasarkan ini, maka menjual khamr atau minuman yang memabukkan, patung makhluk bernyawa, babi, alat musik dengan segala macamnya, salib, kartu undian, kartu judi, semuanya adalah haram dalam Islam.

Hikmah diharamkannya adalah sebagai upaya menghindari hal-hal tersebut, dan menjauhkan orang-orang dari mu'amalah dengan benda itu. Juga untuk menyelamatkan masyarakat dari bahaya kesehatan jasmani dan ruhani yang mengancam stabilitas sosial dan keluhuran moral.

2). Menjual barang yang tidak dapat dipegang atau diraba, seperti menjual ikan dalam air yang tidak kelihatan, menjual burung yang sedang terbang. Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, Ahmad dan Ashhabu 's-Sunan, dari Abu Hurairah:

أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ׃ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ٬ وَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ٠

"Bahwa Rasulullah saw. melarang transaksi jual beli lempar kerikil (yang terlempar itulah yang terjual dan terbeli), dan transaksi jual beli yang mengandung unsur ghurur (tipuan)".

Ahmad dan Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

لاَ تَشْتَرُوْا السَّمَكَ بِالْمَاءِ فَإِنَّهُ غَرَرٌ٠

"Janganlah kalian membeli ikan yang berada didalam air".

Penjualan seperti ini dilarang karena tidak tentu macam dan banyak barang yang hendak dijual. Bahkan belum tentu si pem­beli akan mendapatkan barang sesuai dengan uang yang dikeluar­kan. Sehingga, tidak mustahil akan mengakibatkan pertengkaran dan permusuhan antara pembeli dan penjual. Juga sangat berba­haya bagi kemaslahatan ekonomi karena adanya ketidakjelasan dan ketidakadaar kepercayaan antara mereka.

3). Menjual berdasarkan menipu dan mempermainkan harga. Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan sabda Rasulullah saw.:

لاَضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ٠

"Tidak membahayakan (untuk diri sendiri) dan tidak mem­bahayakan (orang lain).

Islam, pada dasarnya mencintai kebebasan dalam transaksi komersial agar kehidupan ekonomi berjalan sebaik-baiknya sesuai dengan konsumsi yang dibutuhkan, di samping sebagai penye­garan bagi pasar ekonomi di lapangan kehidupan komersial. Untuk menjaga kebebasan ini, maka ketika harga naik pada za­man Rasulullah saw. dan orang-orang berkata, "Ya Rasulullah, tetapkanlah harga buat kami!" Beliau bersabda,

"Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, Yang Menahan, Yang Pemurah, Yang Memberi rizki. Dan sesungguhnya aku mengharap menemui Allah dan tidak seorang pun dari kalian menuntut kezhalimanku dalam hal darah dan harta". (H.R. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya).

Tetapi, jika di dalam pasar terdapat faktor-faktor yang di­buat-buat, seperti menimbun barang kebutuhan pokok, memper­mainkan harga, dan terdesak oleh situasi tertentu, maka 'pene­tapan harga' (tas'ir) diperbolehkan sebagai usaha memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat dan menjaga mayoritas umat dari para penimbun dan orang-orang monopoli. Seperti telah ditetapkan oleh kaidah ushul syari'ah yang umum "Mening­galkan kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatani". Juga Kaidah "Tidak berbahaya dan tidak membahaya­kan".

Para ahli fiqh Hanafiah menetapkan: Jika para pedagang makanan-minuman sebagai dagangannya di pasar, dan mereka melewati batas dalam menetapkan harga, dan pihak yang berwajib tidak dapat menjaga hak-hak kaum Muslimin, kecuali dengan menentukan harga, maka pada situasi seperti itu penentuan harga dibolehkan dengan terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan para ahli hukum dan cendikiawan Muslim" (Dinukil dari Hidayah dalam fiqh Hanafi).

4). Menjual berdasarkan menimbun (monopoli).

Ahmad, Hakim dan Abu Syaibah meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau berkata:

مَنِ احْتَكَرَ الطَّعَامَ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً فَقَدْ بَرِىءَ مِنَ اﷲِ وَبَرِىءَ اﷲُ مِنْهُ٠

"Barang siapa yang menimbun makanan selama empat puluh hari, maka ia telah lepas dari Allah, dan Allah lepas daripada­nya".

Dan Muslim meriwayatkan:

لاَيَحْتَكِرُ إِلاَّ خَاطِئٌ ٠

"Tidak menimbun kecuali yang salah".

Salah di sini berarti dosa. Kata-kata khathi berarti dosa, seperti dalam firman Allah:

إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خَاطِئِيْنَ ٠

"Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah (yaitu berdosa)"

Ibnu Majah dan Al-Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

اَلْجَالِبُ مَرْزُوْقٌ وَالْمُحْتَكِرُ مَلْعُوْنٌ٠

"Orang-orang yang tidak menimbun akan diberi rizki', dan orang yang menimbun dilaknat".

Yang dimaksud dengan menimbun, adalah seorang peda­gang menyembunyikan kebutuhan-kebutuhan pokok manusia, kemudian dikeluarkan pada saat harga tinggi (pada situasi yang sesuai), seperti bahan pangan pada umumnya.

Mirip dengan menimbun adalah penjualan orang (penduduk) kota untuk barang yang dibawa oleh orang dusun. Muslim meri­wayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

لاَيَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ ٬ دَعُوا النَّاسَ يَرْزُقُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضِ٠

"Tidaklah sah penjualan penduduk kota untuk penduduk dusun, biarkanlah orang-orang mencari rizki masing-masing (saling memberi rizki antara sesama mereka)"

Gambaran penjualan ini adalah: Seseorang penduduk dusun membawa barang untuk menutupi kebutuhannya, dengan harga yang sudah ia tetapkan. Lalu datang seorang penduduk kota — sebelum orang dusun tersebut sampai ke pasar — dan berkata kepadanya, "Biarkan barang-barangmu itu saya bawa, secara perlahan akan saya jualkan dengan harga yang tinggi". Jika orang dusun tersebut menjual barangnya sendiri, maka harganya lebih murah, sehingga penduduk kota dapat mengambil manfaat dari harga yang murah itu. Demikian pula orang dusun, meski dengan harga yang murah, tetapi ia dengan cepat mendapatkan hasil pen­jualannya.

5). Menjual dengan cara menipu.

Muslim meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau lewat kepada seseorang yang sedang menjual makanan (dari biji-bijian) dan menarik perhatiannya. Beliau memasukkan tangannya ke tumpukan biji-bijian tersebut, dan beliau mendapatkan di dalamnya ternyata basah. Beliau bertanya: "Apa yang basah ini, wahai penjual makanan?" Sang penjual menjawab, "Terkena hujan". Maka Rasulullah saw. ber­sabda, "Kenapa kamu tidak menyimpannya di bagian atas, sehing­ga orang-orang dapat melihatnya. Barang siapa yang menipu (curang), maka bukan dari golongan kami!"

Yang dimaksud dengan menipu di sini adalah menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan kenyataannya, tanpa dike­tahui oleh pembeli:

Al-Hakim dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

لاَيَحِلُّ لأَحَدٍ يَبِيْعُ بَيْعًا إِلاَّ بَيَّنَ مَافِيْهِ ٬ وَلاَ يَحِلُّ لِمَنْ يَعْلَمُ ذَلِكَ إِلاَّ بَيَّنَهُ٠

"Tidaklah halal bagi seseorang menjual sesuatu kecuali jelas keadaan barang yang dijualnya itu, dan tidak halal bagi orang yang mengetahuinya (mengetahui hakekat sebenarnya, baik buruknya) kecuali ia menerangkannya".

Dosanya akan berlipat ganda jika menipu itu diperkuat dengan sumpah dusta. Rasulullah saw. telah melarang para pe­dagang banyak bersumpah pada umumnya, lebih-lebih sumpah dusta. Al-Bukhari meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:   

اَلْحَلَفُ مَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مَمْحَقَةٌ لِلْبَرَكَةِ٠

"Sumpah melariskan barang dagangan akan menghapus ba­rakah

Lebih-lebih ia yakin bahwa sumpahnya itu adalah dusta. Berarti, ia telah bersumpah palsu yang ganjarannya adalah teng­gelamkan ke dalam neraka; dan kafarat satu-satunya adalah taubat nasuha.

Rasulullah saw. melarang banyak bersumpah — meski sum­pahnya benar — karena perbuatan tersebut dapat menimbulkan ketidakpercayaan di antara orang-orang yang berjual beli, dan juga menyebabkan hilangnya pengagungan nama Allah Ta'ala dari hati.

Dari jenis penipuan adalah dengan mengurangi takaran dan timbangan, sebagaimana difirmankan Allah:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (Q.S. 83:1-6)

Al-Qur'an juga mengisahkan kepada kita mengenai berita suatu bangsa yang sewenang-wenang dalam perniagaan. Mereka menyeleweng dalam menakar dan menimbang, bahkan merugikan hak-hak orang lain. Maka, Allah mengutus Rasul yang memperi­ngatkan dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus. Mereka adalah kaum Syu'aib, yang diserukan kepada mereka:

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan mem­buat kerusakan. (Q.S. 26:181-183).

6). Jual beli barang curian dan barang rampasan. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

مَنِ اشْتَرَى سِرْقَةً ﴿أَيْ مَسْرُوْقًا﴾ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهَا سِرْقَةً فَقَدِ اشْتَرَكَ فِى إِثْمِهَا وَعَارِهَا٠

"Barang siapa membeli barang curian dari hasil mencuri dan ia tahu bahwa barang tersebut adalah barang curian, maka ia ikut mendapat dosa dan celanya".

Sangat jelas, dengan diharamkannya jual beli barang seperti itu adalah untuk mempersempit usaha mencari harta dengan cara haram. Sehingga, gejala dan akibat kejahatan dapat ditahan.

7). Mencari harta dengan riba dan judi. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (me­ninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari peng­ambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak (pula) dianiaya. (Q.S. 2:278-279)

Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Ahmad dan Ashhabu 's-Sunan:

لَعَنَ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا ٬ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ ٬ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ٠

"Rasulullah saw. melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, penulisnya dan kedua orang saksinya". Dan beliau bersabda, "Mereka semua sama".

Riba yang diharamkan oleh Islam ini mencakup segala usaha komersial yang memakai riba (bunga), baik itu riba nasi’ah) atau riba fadhal), atau riba (bunga investasi atau riba konsumsi, baik bunganya sedikit ataupun banyak. Semuanya ini termasuk dalam larangan Allah, dengan firman-Nya:

. . . padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharam­kan riba. (Q.S. 2:275)
Islam mengharamkan riba karena sebab-sebab berikut ini:
  • Tidak adanya kesesuaian antara usaha dan hasil, karena orang yang memberi pinjaman berbunga 'rentenir) tidak berusaha, tidak bekerja dan tidak menanggung kerugian. Tetapi, ia mendapat harta dan keuntungan, tak peduli orang yang meminjamnya menderita kerugian.
  • Rusaknya ekonomi sosial karena pengangguran orang-orang yang meminjamkan harta (uang) dengan bunga, dan kebia­saan mereka dalam kemalasan, sedang ia sangat menginginkan keuntungan yang besar di atas jerih payah orang yang dipinjami­nya, yang membanting tulang untuk mengembalikan uang pokok dan bunganya.
  • Rusaknya moral masyarakat karena tidak adanya kerja sama (tolong menolong) antar individunya karena adanya hubungan-hubungan riba. Bahkan bisa mengakibatkan rusaknya keutuhan struktur masyarakat karena tersebarnya egoisme, sebagai ganti dari pengurbanan, kasih sayang dan mendahulukan kepen­tingan orang lain.
  • Karena riba menjadikan masyarakat terbagi menjadi dua golongan yang saling bermusuhan: Golongan berkuasa dengan kapital mereka, dan golongan lemah yang jerih payah dan usaha­nya termakan bukan dengan jalan yang benar.
  • Karena riba adalah usaha pengembangan prinsip-prinsip kafir yang destruktif, yang disebarluaskan di kalangan masyarakat Islam.
Oleh karena alasan-alasan ini, maka Islam mengharamkan riba, dan digolongkan ke dalam dosa-dosa besar. Pelakunya berhak mendapat laknat Allah, Malaikat dan manusia semua hingga hari kemudian!

Jalan-jalan apakah yang dibuka oleh Islam untuk membebas­kan diri atau terbebas dari riba ?
  • Islam membolehkan syirkatu 'l-mudharabah (serikat dagang), yakni kapital dari seseorang, kemudian digolongkan (diusahakan) oleh orang lain. Keuntungan dibagi dua sesuai dengan jumlah yang telah disepakati bersama. Jika rugi, maka penanggung kerugian adalah orang yang mempunyai kapital. Sedang orang yang menggolongkannya, ia tidak ikut menanggung, karena cukup baginya dengan pengurbanan waktu dan tenaga dalam mengem­bangkan modal tersebut.
  • Islam memperkenankan perjualan as-salam, yaitu pen­jualan suatu barang dengan pembayaran didahulukan. Maka, ba­rang siapa yang sangat memerlukan uang, ia dapat menjual sesuatu pada musim dihasilkannya dengan harga yang sesuai, dengan persyaratan seperti tercantum dalam buku-buku fiqh.
  • Islam memperkenankan "penjualan dengan pembayaran ditangguhkan", yaitu dengan tambahan dari harga dalam penjualan kontan. Islam membolehkannya untuk mempermudah kemaslahat­an manusia, dan untuk menghindari aktivitas riba.
  • Islam menganjurkannya didirikannya lembaga-lembaga qiradh yang baik, secara individual atau kolektif, bahkan di bawah pengelolaan pemerintah, untuk merealisasikan prinsip solidaritas sosial antar umat manusia.
  • Membuka lembaga-lembaga zakat, lembaga-lembaga ini menolong orang-ornag yang tidak dapat membayar hutang, mem­bantu orang-orang yang tidak punya, atau orang asing yang ke­habisan bekal.
Demikianlah pintu-pintu terpenting yang telah dibuka oleh Islam di hadapan individu Muslim, untuk merealisasikan kesejah­teraan solidaritas, menjaga kehormatan humanisme, mencapai tujuannya yang mulia dalam memenuhi hajatnya, menjamin ke­sejahteraan, meningkatkan kerja dan pendapatannya.

Akan halnya berjudi, kita telah mengupasnya dalam pembahasan permainan yang diharamkan. Para pembaca dipersilakan untuk membuka kembali lembaran-lembaran yang memuat pembahasan tersebut.
no image

Bolehkah Memajang Patung & Gambar?

. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ra. ia berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ  ׃ إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُوْنَ ٠

"Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling berat disiksa pada hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar".

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الَّذِيْنَ يَصْنَعُوْنَ هَذِهِ الصُّوْرَ يُعَذَّبُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ٬ يُقَالُ لَهُمْ ׃ أَحْيُوْا مَاصَنَعْتُمْ٠

"Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar (lukisan) ini, pada hari kiamat mereka akan disiksa, dan dikatakan kepada mereka, 'Hidupkanlah apa yang telah kamu buat!"

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari 'Aisyah ra., ia berkata:

قَدِمَ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ ٬ وَقَدْ سَتَرْتُ سَهْوَةً لِيْ بِقِرَامٍ ﴿أَيْ سَتَرْتُ خَزَانَةً فِى الْحَائِطِ بِسَتْرٍ﴾ فِيْهِ صُوَرٌ ٬فَلَمَّا رَآهُ  رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلَوَّنَ وَجْهُهُ وَقَالَ ׃ يَاعَائِشَةُ ٬ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِيْنَ يُضَاهُوْنَ ﴿يُشَبِّهُوْنَ﴾ بِخَلْقِ اﷲِ ققَالَتْ  ׃ فَقَطَعْنَاهُ فَجَعَلْنَاهُ مِنْهُ وِسَادَةً أَوْوِسَادَتَيْنِ ٠

"Rasulullah saw. datang dari perjalanan, dan saya telah mem­buat tabir (memasang tabir) pada dinding dengan kain yang bergambar, maka ketika Rasulullah saw. melihatnya, wajah­nya berubah dan berkata, 'Ya 'Aisyah, orang yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyerupai ciptaan Allah'. 'Aisyah berkata, Maka kami po­tong dan kami jadikan bantal dan buah atau satu buah".

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Thalhah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

لاَتَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيْهِ كَلْبٌ وَلاَ تَصَاوِيْرُ ٠

"Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan tidak pula akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar/lukisan".

Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Hayyan bin Hushain, ia berkata, Ali ra. berkata kepadaku:

أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَابَعَشِيْ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لاَتَدَعْ صُوْرَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا٬ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا ﴿مُرْتَفِعًا﴾ إِلاَّ سَوَّيْتَهُ٠

"Inginkah kamu saya beri tahu tentang apa yang Rasulullah saw. beritahukan kepadaku? Janganlah membiarkan gambar (lukisan) kecuali menghapus (menghilangkannya) dan tidak membiarkan kuburan yang ditinggikan, kecuali kamu meratakannya".

Hadits-hadits ini menunjukkan dengan jelas akan haram atau dilarangnya patung dan gambar (lukisan), baik yang berbentuk badan (patung) atau tidak (lukisan), baik yang mempunyai bayangan maupun yang tidak punya bayangan, baik dibuat untuk hiasan ataupun semahan, karena perbuatan itu menyamai ciptaan Allah.

Yang menguatkan diharamkannya ini adalah, bahwa Ra­sulullah saw. — seperti dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari — tidak masuk ke Ka'bah setelah penaklukan Makkah. Sehingga apa yang ada di dalamnya, gambar, lukisan dan patung dikeluar­kan. Abu Daud meriwayatkan dari Jarir ra. bahwa Rasulullah saw. memerintahkan kepada Umar bin Khaththab ra. yang sedang berada di Bathha untuk datang ke Ka'bah. Maka ia menghapus semua gambar yang ada di dalam Ka'bah. Beliau tidak memasuki­nya sehingga semua gambar dihapus". Al-Bukhari dalam kitab (bab) haji meriwayatkan dari Usamah ra. bahwa Rasulullah saw. masuk ke Ka'bah, maka beliau melihat gambar Nabi Ibrahim as., lalu beliau minta air kemudian dengan air itu beliau menghapus­kannya.

Dari gambar (lukisan) ini ada yang dikecualikan yaitu: Gam­bar (lukisan) pohon-pohonan dan segala sesuatu yang tidak ber­nyawa, seperti dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Sa'id bin Abu '1-Hasan, ia berkata, 'Seorang laki- laki datang kepada Ibnu Abbas ra. berkata, "Saya adalah se­orang yang menggantungkan hidup dari kerajinan tangan, dan saya biasa membuat lukisan-lukisan ini". Ibnu Abbas berkata, "Saya tidak akan mengatakan apa-apa kepadamu kecuali apa yang telah saya dengar dari Rasulullah saw., karena beliau ber­kata, 'Barang siapa yang membuat gambar (lukisan) maka Allah akan menyiksanya, sehingga ia meniupkan ke dalam ruh, dan sama sekali dia bukan yang dapat meniupkan ruh ke dalamnya". Maka laki-laki pelukis itu sangat terkejut, maka Ibnu Abbas berkata kepadanya, "Celakalah kamu jika menolak dan tetap membuatnya, maka hendaknya kamu menggambar (melukis) pohon dan segala sesuatu yang tidak bernyawa".

Masalah patung juga ada yang dikecualikan, yaitu: Boneka mainan anak-anak, karena di dalamnya tidak terdapat maksud pengagungan dan kemewahan. Asy-Syakhani meriwayatkan dari 'Aisyah ra. ia berkata, "Dulu aku main bersama boneka (yang menyerupai gadis kecil) di hadapan Rasulullah saw. dan kawan-kawanku kemudian datang. Mereka bersembunyi karena takut kepada Rasulullah saw. Dan Rasulullah saw. sangat gem­bira dengan kedatangan mereka kepadaku, maka mereka sama-sama bermain denganku".

Dalam riwayat Abu Daud:

Bahwa Rasulullah saw. berkata kepada 'Aisyah pada suatu hari, "Apa ini?" 'Aisyah berkata, "Mainanku". Beliau bertanya, "Apa ini yang berada di tengah-tengahnya?" "Kuda", sahut 'Aisyah. "Apa yang berada padanya?" tanya Rasulullah saw. "Kedua sayapnya", sahut 'Aisyah. "Apakah engkau tidak men­dengar bahwa Sulaiman bin Daud memiliki kuda yang bersayap?" 'Aisyah balik bertanya. Maka Rasulullah saw. tertawa sehingga giginya kelihatan.

Asy-Syakhani berkata, "Dalam hadits-hadits ini terdapat dalil bahwa dibolehkan memberi anak-anak kecil mainan pa­tung, yakni boneka". Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa makruh laki-laki membelikan anak gadisnya mainan berupa boneka. Al-Qadhi 'Iyadh berkata, "Boneka untuk gadis kecil merupakan rukhshah (kemurahan).

Yang perlu menjadi perhatian adalah, bahwa dengan merubah gambar (lukisan) dan menghilangkan ciri-ciri 'makhluk bernyawa' adalah menjadikan gambar (lukisan) itu halal dan boleh memaaf­kannya.

An-Nasa'i dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya meriwayat­kan, bahwa Jibril as. mohon izin kepada Rasulullah saw. Maka, Rasulullah saw. berkata kepadanya: "Silakan masuk" Jibril berkata, "Bagaimana aku masuk se­dang dalam rumahmu terdapat tabir yang berlukis? Jika memang terpaksa demikian, maka potong kepalanya atau potonglah untuk dijadikan bantal atau hamparan".

Sedang gambar dengan alat, yang kita kenal dengan foto, pada dasarnya juga terkena oleh ke-'umum-an dalil yang telah mengharamkannya, kecuali yang sangat diperlukan dan untuk kemaslahatan. Misalnya foto untuk kartu tanda pengenal, pass-port. gambar orang-orang kriminil, atau gambar untuk alat peraga, dan lain sebagainya. Ini semua dibolehkan karena masuk dalam kaidah umum yang mengatakan-. "Keterpaksaan menjadikan yang dilarang jadi boleh ".

Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin (orang-orang yang teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul), orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Q.S. 4:69)

Thursday, May 15, 2014

no image

Pandangan Islam tentang Cara Berpakaian

Islam dengan prinsip-prinsipnya yang toleran membolehkan bagi pemeluknya untuk tampil dengan pakaian dan gayanya di hadapan masyarakat secara layak dan terhormat. Oleh karena itu, Allah menciptakan apa yang dapat dinikmati berupa per­hiasan dan pakaian.

Allah berfirman:

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada­mu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. (Q.S. 7:26)

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. (Q.S. 7:31)

Dengan syarat merupakan perhiasan yang dibolehkan, dan dalam batas pertengahan, sebagai penerapan firman Allah:

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pem­belanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. 25:67)

Juga sabda Rasulullah saw. dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari:

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَالبَسُوْا وَتَصَدَّقُوْا مِنْ غَيْرِ اِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيْلَةٍ٠

"Makanlah dan minumlah serta berpakaianlah dan bersedekah­lah tanpa berlebih-lebihan dan tidak sombong".

Berdasar perhatian Islam terhadap penampilan seorang Mus­lim diperintahkan untuk menjaga kebersihannya. Sebab, hal ini merupakan asas segenap hiasan yang bagus, dan penampilan yang indah serta layak.

Ibnu Hibban meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

اَلنَّظَافَةُ تَدْعُوْ إِلَى الإِيْمَانِ ٬ وَ الإِيْمَانُ مَعَ صَاحِبِهِ فِي الجَنَّةِ ٠

"Kebersihan menyerukan kepada iman, dan iman beserta orang yang mempunyainya berada di surga".

Abu Daud dan lainnya meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berwasiat kepada sebagian sahabatnya, dan mereka datang dari perjalanan:

إِنَّكُمْ قَادِمُوْنَ عَلَى اِخْوَانِكُمْ ٬ فَأَصْلِحُوْا رِحَالَكُمْ وَأصْلِحُوْا لِبَاسَكُمْ حَتَّى تَكُوْنُوْا كَأَنَّكُمْ شَامَةٌ فِى النَّاسِ فَإِنَّ اﷲ َ لاَ يُحِبُّ الْفُحْشَ وَلاَ التَفَحُّشَ ٠

"Sesungguhnya kalian datang dari perjalanan menjumpai saudara-saudaramu, maka perbaikilah tungganganmu, dan perbikilah pakaianmu, sehingga kalian menjadi seolah-olah tahi lalat pada manusia, karena sesungguhnya Allah tidak mencintai kotoran dan yang kotor".

Perhatian Islam terhadap penampilan, bahwa Islam mengan­jurkan untuk menjaga kebersihan dan berhias diri di tempat-tempat pertemuan, dalam waktu Jum'at dan dua hari raya:

An-Nasa'i meriwayatkan:

Bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw., dan laki-laki tersebut mengenakan pakaian yang hina. Maka beliau bertanya kepadanya, "Apakah kamu mempunyai harta?" Lelaki itu menjawab, "Ya". Beliau berkata, "Harta macam apa?" Le­laki itu menjawab, "Dari segala harta yang telah Allah berikan kepadaku". Beliau berkata, "Jika Allah telah memberimu harta, maka perlihatkanlah bekas nikmat Allah yang Dia berikan kepada­mu dan kemurahan-Nya".

Abu Daud meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

تَنَظَّفُوْا فَإِنَّ الاِسْلاَمَ نَطِيْفٌ ٠

"Bersuci dirilah karena sesungguhnya Islam itu suci".

Ath-Thabrani meriwayatkan:

مَاعَلَى أَحَدِكُمْ اِنْ وَجَدَ سَعَةٌ أَنْ يَتَخِذَ ثَوْبَيْنَ لِيَوْمِ الْجُمْعَةِ غَيْرَ ثَوْبَيْ مِهْنَتِهِ٠

"Seseorang dari kalian, jika memiliki kemampuan hendaknya ia membuat dua baju khusus untuk (shalat) Jum'at, selain dari dua baju kerjanya ".

Perhatian Islam terhadap kerapihan rambut dan jenggot: Malik, dalam Al-Muwaththa' meriwayatkan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw. dengan rambut dan jenggot yang acak-acakan, maka Rasulullah saw. menunjukkan, lalu ia pulang, kemudian Rasulullah saw. bersabda:

أَلَيْسَ هَذَا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدُكُمْ ثَائِرَ الرَّأْسِ كَأَنَّهُ شَيْطَانٌ ٠

"Bukankah ini lebih baik dibanding seseorang datang (kepada­ku) dengan penampilan rambut acak-acakan seperti setan".

Islam membolehkan ini semua, bahkan memerintahkan, dan sangat mengingkari orang yang mengharamkan dan melarang­nya. 

Allah berfirman:Katakanlah, "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik? (Q.S. 7:32)

Tetapi, Islam mengharamkan Muslim laki-laki beberapa macam perhiasan dan pakaian, serta mengharamkan suatu jenis penampilan.

Wednesday, May 14, 2014

no image

Hukum Tentang Percaya Dukun & Jimat

Pada jaman jahiliyah dulu mungkin banyak sekali terminasi dukun dan jimat, dan tidak menutup kemungkinan pada era sekarang pun juga masih banyak kita dengar istilah dukun dan kepercayaan pada jimat. Bagaimana pandangan islam tentang dukun dan jimat?

Bolehkah percaya dan membenarkan dukun?

Berikut ini adalah penjelasan mengenai dukun dan jimat seperti yang tersebut di atas.

Adalah dari beberapa hadits Nabi yang menjelaskan bahwasanya membenarkan dukun adalah haram. Muslim meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّفًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ بِمَاقَالَ ׃ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا٠

"Barang siapa datang kepada peramal, dan bertanya kepadanya tentang sesuatu dan ia membenarkan apa yang dikatakan peramal tersebut, maka ia tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari".

Juga hadits yang menjelaskan tentang dukun, Al-Bazzar meriwayatkan dengan sanad jayyid:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَاقَالَ فَقَدْ كَفَرَ بِمَاأُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ٠

"Barang siapa datang ke dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah mengingkari apa yang telah di­turunkan kepada Muhammad saw."

Dari hadits-hadits di atas, jelas bahwa serbuan Islam tidak hanya kepada para dukun dan peramal saja, tetapi juga kepada orang-orang yang membenarkan dan mempercayai perkataan mereka.

Bolehkah percaya kepada jimat?

Dalil-dalil dari hadits Nabi berikut ini adalah menjelaskan kepada kita bahwa menggantungkan kepada jimat adalah haram.

Ahmad dan Hakim me­riwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir.

Bahwa ia datang dalam rombongan sepuluh orang kepada Rasulullah saw. Sembilan orang dari mereka di-bai'at dan seorang lagi dibiarkan tidak di bai'at. Maka mereka bertanya, "Kenapa orang ini tidak di-bai'at?" Rasulullah saw. menjawab, "Pada le­ngannya terdapat jimat!"

Maka, orang itu memutuskan jimatnya, dan Rasulullah saw. pun mem-bai'at-nya. Kemudian beliau bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ  أَشْرَكَ ٬ وَفِي رِوَايَةٍ لِلاِمَامِ أَحْمَدَ  ׃ مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَلاَ أَتَمَّ اﷲُ لَهُ٬ وَ مَنْ عَلَّقَ وَدَرَعَةً فَلاَ أَوْدَعَ اﷲُ لَهُ٠

"Barang siapa yang menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik". Dan dalam riwayat Imam Ahmad: "Barang siapa yang menggantungkan jimat, maka Allah tidak menyem­purnakannya, dan barang siapa menggantungkan penangkal (jenis jimat) maka Allah tidak akan melindunginya".

At-Tamimah (penangkal, jimat) adalah sesuatu yang digan­tungkan pada anak kecil maupun orang dewasa, berupa kain bertulisan tidak terbaca, kulit siput, permata yang berlubang atau sejenisnya, yang diyakini bahwa benda-benda tersebut dapat menyembuhkan penyakit, menolak bala dan marabahaya.

Berapa banyak kita mendengar 'kaum penyesat' dan para 'dajjal' yang menulis penangkal dan ajimat untuk orang-orang awam; menulis dan menggariskan garis-garis lalu memanterainya. Mereka mengira bahwa benda-benda tersebut dapat menghindar­kan dari sentuhan jin, menolak bala dan hal-hal yang tidak diha­rapkan lainnya.

Jika yang dinamakan jimat itu ditulis dengan huruf Arab yang jelas, atau dapat dimengerti maknanya oleh orang lain, de­ngan doa-doa yang ma'tsur dari Rasulullah saw. dan dengan apa yang telah ditetapkan dalam sunnah tentang khasiat beberapa ayat Al-Qur'an dan surahnya, seperti doa surat untuk mohon perlindungan (falaq b i 'n-nas), maka sebagian ahli fiqh berpendapat bahwa yang semacam itu dibolehkan.

Demikian pula penangkal dengan membacakan 'surah mohon perlindungan' (falaq b i 'n-nas), Surah Al-Fatihah, dibacakan kepada orang yang sakit, atau yang disentuh ruh halus. Kemudian diusap dengan tangan dan ditiup dengan mulut tanpa mengeluarkan ludah. Imam An-Nawawi, Al-Hafidz Ibnu Hajar dan lainnya menukilkan ijma' tentang di-syari'atkannya penangkal 'ruqiy' jika memenuhi tiga syarat:
  • Pertama: Hendaknya dengan firman-firman Allah (ayat-ayat Al-Qur'an), dengan nama-nama-Nya, atau dengan sifat-sifat-Nya.
  • Kedua: Hendaknya dengan bahasa Arab atau dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh orang lain.
  • Ketiga: Hendaknya berkeyakinan bahwa penangkal itu sen­diri tidak memberikan pengaruh adalah Dzat Allah Ta'ala.
Dan dari penangkal (mohon perlindungan) yang diajarkan Rasulullah saw. dalam melindungi anak kecil adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas ra., ia berkata:

Rasulullah saw. pernah mohon perlindungan untuk Hasan dan Husain, "U'idzukuma bi Kalimati 'l-Lahi 't-Tammah, min Kulli Syaithanin wa Hammah, wa min Kulli 'Ainin. Lammah". (Aku mohon perlindungan untuk kamu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan dan serangga-serangga yang menyakiti, dan dari setiap kejahatan".
no image

Meminta disihirkan & Penyihir adalah Haram

Profesi sebagai penyihir dan minta untuk disihrikan untuk keperluan tertentu adalah dilarang dan diharamkan dalam Islam. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ ﴿تَشَاءَمَ﴾ أَوْ تُطُيِّرَلَهُ ٬ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ ٬ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ٠

"Bukan dari golongan kami orang yang bersifat pesimis (ber­kata bahwa dirinya sial) atau membuat orang lain bersifat pesimis, atau pergi berdukun atau berprofesi sebagai dukun, atau penyihir atau minta disihirkan untuknya".

Ibnu Hibban dalam Shahih-nya meriwayatkan dari Rasulul­lah saw. bahwa beliau bersabda:

"Tidak akan masuk surga pecandu khamr, tidak pula orang yang percaya kepada sihir, dan tidak pula orang yang memu­tuskan silaturrahim".

Para ahli fikih menganggap belajar sihir adalah kafir, atau menyebabkan kepada kafir. Sebagian lain mewajibkan membunuh tukang sihir sebagai pensucian masyarakat dari kekotorannya, dan sebagai penjagaan terhadap akidah umat agar tidak dimasuki kegoyahan dan kerusakan.

Al-Qur'an telah mengajar kita untuk mohon perlindungan dari "Kejahatan Wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul", yang dapat memisahkan antara seorang suami dengan istrinya, dan dapat menyebabkan timbulnya bahaya bagi manusia dengan tingkahnya itu.

Oleh karena itu, kita dianjurkan membaca dua surat "mohon perlindungan", (yaitu qul a'udzu bi Rabbi 'l-Falaq dan qul a'udzu bi Rabbi 'n-Nas), agar dapat perlindungan dari kejahatan jin dan kejahatan tukang sihir, yang menghembus pada buhul-buhul.

Asy Syakhani meriwayatkan dari 'Aisyah ra.: Bahwa Rasulullah saw., jika pergi ke kasur (tempat tidurnya) setiap malam merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian menghembus kedua telapak tangannya itu dan beliau membaca: "Qul Huwa 'l-Lahu Ahad . . . Qul A'udzu bi Rabbi 'l-Falaq . . . dan Qul A'udzu bi Rabbi 'n-Nas. Kemudian dengan kedua telapak tangan itu beliau menyapu badannya ke semua bagian yang dapat disapu, yang dimulai dari kepala, wajah, dan seluruh tubuhnya, beliau lakukan sebanyak tiga kali".

Berdasararkan hadits-hadits di atas jelaslah bahwa penyihir dan meminta untuk disihirkan dengan tujuan tertentu adalah haram hukumnya dalam Islam. Semoga kita terlindung daripadanya. Amiiin

Tuesday, May 13, 2014

no image

Haram Menentukan Nasib dengan Mengundi

Pada zaman jahiliyah dahulu kala banyak orang melakukan tata cara tertentu untuk menentukan nasib mereggunakan anak panah. Pada implementasi pengundian dalam menentukan nasib adalah dengan cara menggunakan anak panah yang belum menggunakan bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak.

Caranya adalah mereka mengambil tiga buah anak panah yang belum memakai bulu. Masing-masing anak panah diberi tulisan dengan "Tuhanku menyuruhku", "Tuhan­ku melarangku", sedangkan anak panah yang ketiga tidak ditulis apa-apa. Kemudian ketiga panah itu di­letakkan dalam sebuah tempat yang disimpan di dalam Ka'bah. Apabila mereka akan melakukan sesuatu pekerjaan atau perbuatan, maka mereka meminta kepada juru Ka'bah untuk mengambil satu buah anak panah yang sudah mereka simpan dan masing-masing diberi tulisan. Ini adalah cara mereka mengundi dan menentukan nasib untuk melakukan atau tidak melakukan suatu pekerjaan atau perbuatan.

Sesuai dengan tulisan pada anak panah yang diambilkan oleh juru ka'bah itu. Apabila yang anak panah yang terambil adalah anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi atau beberapa kali lagi. Sehingga, yang keluar "anak panah yang memerintahkan" atau "anak panah yang melarang".

Cara pengundian nasib atau menentukan nasib untuk melakukan atau tidak melakukan pekerjaan dengan cara undian anak panah seperti ini adalah haram..

Allah ber­firman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat­kan keberuntungan. (Q.S. 5:90)

Pada zaman sekarang inipun masih ada dalam masyarakat Islam perbuatan seperti itu. Suatu contoh misalnya melemparkan kerikil, kulit siput dan mem­buka tempat semacam cangkir (gelas), dan macam lainnya yang sejenis. Dan ini semua adalah haram dalam Islam.

Ath-Thabrani dengan sanad jayyid meriwayatkan dari Ra­sulullah saw. bahwasanya beliau bersabda:

لاَيَنَالُ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى مَنْ تَكَهَّنَ أَوِاسْتَقْسَمَ ﴿اَيْ بِالأَزْلاَمِ﴾ أَوْرَجَعَ مِنْ سَفَرٍ تَطَيُّرًا ﴿اَيْ تَشَاؤُمًا﴾ ٠

"Tidak akan mendapatkan derajat yang tinggi orang yang berdukun atau mengundi dengan anak panah, atau pulang dari perjalanan dengan pesimis".

Jika Islam mengharamkan mengundi nasib dengan anak panah dan menjadikannya sebagai perbuatan syirik, maka Islam, pada saat yang sama juga mengajarkan kepada para pemeluknya: Shalat istikharah (minta pilihan yang baik) yang disyari'atkannya. Dengan shalat itu, berkonsentrasi kepada tujuannya, atau me­nahan diri untuk tidak melaksanakannya.
   
اِجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ قَالُوْ ׃ يَارَسُوْلُ اﷲِ، وَمَاهِيَ ؟ قَالَ ׃ الشِّرْكُ بِاﷲِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اﷲُ إِلاَّ بِالحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ ، وَاتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ الْغَفِلاَتِ المُؤْمِنَاتِ٠

"Jauhilah tujuh macam kejahatan". Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, apakah tujuh macam kejahatan itu?" Beliau ber­kata, "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah mengharamkan membunuhnya kecuali dengan alasan yang hak, makan riba, makan harta anak yatim, berpaling waktu berperang, menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman".
no image

Dalil Haramnya Bersikap Pesimis

Sikap Pesimis atau  (tathayyur) adalah adalah suatu sikap yang menganggap bahwa segala sesuatu itu pada dasarnya adalah buruk, jelek, jahat atau negatif. Orang yang yang pesimis biasanya mempunyai pemikiran bahwa dalam hidupnya penuh kebimbangan, keraguan, tidak yakin akan kemampuan dirinya sendiri, kepercayaan diri yang  mudah goyah serta mudah berputus asa apablai menemui kegagalan atau kesulitan.

Orang yang pesimis akan selalu mencari berbagai alasan dengan cara menyalahkan keadaan dan orang lain sebagai dalih pembenaran untuk melindungi dirinya sendiri. Orang yang pesimis lebih mempercayai bahwa kesuksesan itu hanya karena keberuntungan, nasib atau karena kebetulan.

Sikap pesimis adalah sikap yang dilarang atau tidak diperkenankan dalam ajaran islam dan haram hukumnya. Hal ini berdasarkan dalil hadits Nabi.

Al-Bazzar dan Ath-Thabrani meriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

"Bukan dari golongan kami orang-orang yang bersikap pesimis dan melempar dengan kerikil adalah salah satu perbuatan menyembah kepada selain Allah".

Orang Arab pada zaman jahiliyah, jika mendengar suara burung gagak, burung hantu atau melihat burung lewat dari arah kanan ke arah kiri, maka mereka bersikap pesimis, sehingga ter­halang oleh kepercayaannya itu untuk melaksanakan pekerjaan apa saja dalam hidupnya. Sebab, menurut kepercayaan mereka, jika mereka mengerjakannya akan mendapat kesialan. Maka Rasulullah saw. melarang dan mengabarkan bahwa hal tersebut tidak memberikan pengaruh apa-apa dalam hal manfaat atau me­nolak bahaya. Tetapi Allah-lah yang mengatur semuanya itu.

Ibnu Adiy meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Ra­sulullah saw. bersabda:

إِذَا تَطَيَّرْتُمْ فَامْضُوْا وَ عَلَى اﷲِ فَتَوَكَّلُوْا ٠

"Jika kamu melihat alamat (gejala) kesialan, janganlah pesimis, kerjakan apa yang hendak kalian kerjakan dan kepada Allah­lah kalian bertawakkal/menggantungkan diri".

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa Ra­sulullah saw. bersabda:

مَنْ عَرَضَ لَهُ مِنْ هَذِهِ الطِّيَرَةِ شَىْءٌ فَلْيَقُلُ ׃ اللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ ٬ وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ  خَيْرُكَ٠

"Barang siapa tampak kepadanya sesuatu yang dianggap bakal mendatangkan sial (umpamanya dengan melihat burung terbang dari arah kanan ke kiri) maka hendaklah membaca: 'Allahumma la Thaira illa Thairuk, wa la Khaira illa Khairuk'. (Ya Allah ti­dak ada kesialan kecuali yang telah Engkau tentukan, dan tidak ada kebaikan melainkan yang datang daripada-Mu).

Ikrimah berkata: "Ketika kamu sedang duduk-duduk bersama Ibnu 'Abbas ra., lewatlah burung sambil bersuara, maka salah seorang dari yang melihat berkata, "Khair, khair" (Baik, baik). Maka Ibnu 'abbas berkata, "Tidak baik dan tidak jahat".

Nash-nash ini, semuanya menerangkan kepada kita bahwa bersikap pesimis dengan suatu tempat, waktu atau dengan bina­tang adalah bukan dari ajaran Islam. Bersikap pesimis dengan burung atau apa saja adalah haram dalam syari'ahnya.

Yang me­nentukan baik buruknya adalah Allah Ta'ala semata. Maka, se­orang Muslim hendaknya terus melakukan pekerjaan dan ber­tawakkal kepada Allah dalam menuju apa yang ditujukan tanpa terhambat oleh perasaan pesimis dengan hanya karena melihat burung terbang, atau mendengar suara burung hantu atau gagak !!!

Monday, May 12, 2014

no image

Hukum Emas, Perak sebagai Tempat Makan/Minum

Mungkin di dunia ini pernah kita jumpai adanya bejana yang terbuat dari emas dan perak. Apa hukum dari penggunaan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk tempat makan dan minum? Berikut ini adalah hadits Nabi mengenai hal tersebut.

Bejana-bejana emas dan perak, adalah haram

Dalil mengenai haramnya penggunaan emas dan perak untuk makan dan minum adalah sebagai berikut :

Muslim, dalam Shahih-nya. meriwayatkan dari Ummu Salamah ra. dari Hanulullah saw. bahwa beliau bersabda:

إِنَّ الَّذِيْ يَأْكُلُ أَوْ يَشْرَبُ فِى آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِيَ بَطْنِهِ نَارَ  جَهَنَّمَ

"Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana emas dan perak, pada hakikatnya ia sedang memasukkan api neraka jahannam ke dalam perutnya".

Dalil hadits yang lainnya antara laian : Al-Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata:

   
نَهَانَا رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَشْرَبَ فِيْ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ٬ وَأَنْ نَأْكُلَ فِيْهَا ٬ وَنَهَانَا عَنْ لُبْسِ الْحَرِيْرِ وَالدِّيْبَاجِ وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ ٬  وَقَالَ ׃ هُوَلَهُمْ ﴿أَيْ مِنْ الْكُفَّارُ﴾ فِى الدُّنْيَا وَلَنَا فِى الاَخِرَةِ ٠

"Rasulullah saw. melarang kami minum dari bejana emas dan perak, dan makan daripadanya, dan melarang kami memakai sutera yang tipis dan tebal dan duduk di atasnya". Beliau juga bersabda, "Benda-benda tersebut adalah kepunyaan orang-orang kafir di dunia, dan kepunyaan kita di akherat".

Dari hadits ini jelas bahwa menjadikan emas dan perak se­bagai tempat makan-minum, dan membuat tempat duduk dari sutera asli, adalah haram.

Pengharaman ini mencakup laki-laki dan perempuan. Hikmahnya adalah: Pensucian rumah Muslim dari materi mewah yang tercela, dan menghindarkan gejala ke­sombongan dan kecongkakan yang dimurkai Allah.
no image

Haram Merubah Ciptaan, Baju Kesombongan, Kemasyhuran

Berikut ini adalah referensi dari hadits Nabi dan Al Qur'an al-karim mengenai haramnya merubah segala bentuk ciptaan Allah SWT dan haramnya memakai baju atau pakaian kesombongan dan kemasyhuran.

Haramnya merubah ciptaan Allah

Merubah ciptaan Allah, adalah haram. Muslim meri­wayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

لَعَنَ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَالْوَاشِرَةَ وَالْمُسْتَوْ شِرَةَ٠

"Rasulullah saw. melaknat orang yang mentato dan yang ditato, yang memotong dan meruncingkan gigi, dan yang dipotong dan diruncingkan giginya".

Demikian halnya dengan apa yang dikenal pada masa se­karang dengan istilah operasi kecantikan. Rasulullah saw. me­laknat orang yang melakukan dan orang yang dilakukannya. Sebab, dengan perbuatan itu, ia telah merubah ciptaan Allah dan penyiksaan terhadap manusia. Berarti pula tidak menerima apa yang telah Allah tentukan untuknya.

Al-Qur'an menganggap perbuatan merubah ini sebagai pikiran setan untuk menyesatkan para pengikutnya.

. . . dan akan saya (setan) suruh mereka (merubah) ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka merubahnya. (Q.S. 4:119)

Dari operasi kecantikan ini ada yang dikecualikan atau diperbolehkan. Mislanya yaitu apa yang menyebabkan sakit, perasaan atau kejiwaan manusia, Seperti menghilangkan daging lebih (apa saja yang dianggap lebih dari postur tubuh manusia), amandel atau apa yang diperintahkan oleh syara' untuk menghilangkannya. Misalnya, memendekkan kuku, menggunting rambut dan mencukur rambut kemaluan, untuk menghilangkan kesukaran manusia, untuk merealisasikan kebersihan dan keindahan bentuk.

Haramnya pakaian kesombongan dan kemasyhuran

Baju kemasyhuran dan kesombongan, haram untuk di­pakai. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa'i meriwayatkan dari Kasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اﷲُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ٠

"Barang siapa memakai baju (pakaian) untuk menyombong­kan diri, niscaya pada hari kiamat Allah akan memakaikan pakaian kehinaan padanya".

Yang dimaksud dengan baju kemasyhuran adalah baju megah dan mahal yang dipakai untuk kemegahan, membanggakan dan membesarkan diri kepada khalayak. Tidak diragukan, bahwa penampilan dengan baju seperti ini mendorong untuk bersikap i n kabur dan sombong:

. . . sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S. 31:18)

Dan Rasulullah saw. telah bersabda dalam hadits yang di­riwayatkan Asy-Syakhani:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اﷲُ اِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ٠

"Barang siapa yang memanjangkan bajunya dengan bersombong diri, pada hari kiamat Allah tidak akan memberi rahmat kepadanya".

Karenanya, hendaknya bagi setiap Muslim bersikap perte­ngahan dalam hal pakaian, makanan dan peralatan rumah tangga, sehingga tidak timbul kesombongan dan sikap membanggakan diri.

Seorang laki:laki bertanya kepada Ibnu Urnar tentang pakai­an apa yang ia pakai. Maka Ibnu Umar berkata, "Pakaian yang biasa saya pakai adalah yang tidak dihinakan orang-orang bodoh dan tidak dicela orang-orang cendikiawan". (Yaitu tidak terlalu jelek dan tidak terlalu mencolok (mewah). Jadi pertengahan antara keduanya).
no image

Hadits Haramnya Berpenampilan Tidak Wajar

Sekarang ini banyak kita temui penampilan yang tidak wajar, misalnya laki-laki berpenampilan wanita dan sebaliknya wanita berpenampilan laki-laki atau seperti pria. Penampilan yang tidak wajar seperti ini, adalah diharamkan.

Tentang haramnya penampilan yang tidak wajar seperti yang sudah disebutkan di atas, wanita menyerupai laki-laki, atau laki-laki menyerupai wanita sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Ashhabu 's-Sunan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ٬ وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ انِّسَاءِ بِالرِّجَالِ ٠

"Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki".

Dan dalam salah satu riwayat Al-Bukhari disebutkan:

لَعَنَ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخْنَثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ انِّسَاءِ٠

"Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki".

Ahmad dan Ath-Thabrani meriwayatkan dari seorang laki-luki dari Hudzail, ia berkata:

"Saya melihat Abdullah bin Amr bin 'Ash, rumahnya berada di luar tanah haram, sedang masjidnya berada di tanah haram.
Laki-laki itu lalu berkata,
"Ketika aku sedang berada bersamanya, ia melihat Ummu Sa'id binti Abu Jahal di lehernya lorgantung busur, dan ia berjalan dengan gaya jalan laki-laki.
Maka Abdullah berkata, "Siapa perempuan itu?" Sahutku,
"Itu adalah Ummu Sa'id binti Abu Jahal".
Maka Abdullah berkata, "Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda,
'Bu­kan dari umatku wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita".

Dan mungkin juga sering kita jumpai para pemuda-pemudi kita, kini telah melampaui batas dalam hal serupa menyerupai dan mengikuti secara membuta. Oleh karena itu, hendaklah kita semua terutama para pendidik untuk membetulkan dan membenarkan para pendidik serta segera mengobati gejala ini sejak dini dengan cara yang baik.

Saturday, May 10, 2014

no image

Hukum Laki-Laki Memakai Emas dan Sutera

Dalil hadits mengenai hukum tentang laki-laki yang memakai emas dan pakaian sutera, sebuah hadits  Nabi, Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i dan Ibnu Majah meriwayat­kan dari Ali ra. berkata:

أَخَذَ النَّبِيِّ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَرِيْرًا فَجَعَلَهُ فِى يَمِيْنِهِ وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِى شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ ׃ إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِيْ٬ وَزَادَ ابْنُ مَاجَهْ ׃ حِلُّ لإِنَاثِهِمْ٠

Rasulullah saw. mengambil sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya, dan mengambil emas dan memegangnya de­ngan tangan kiri, kemudian bersabda, "Dua macam benda ini diharamkan bagi umatku yang laki-laki". Ibnu Majah menam­bah: "Dan dihalalkan bagi umatku yang wanita".
Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat se­bentuk cincin terbuat dari emas pada jemari seorang laki-laki, maka beliau mencopotnya, melemparkannya dan bersabda:

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِى يَدِهِ ٬ فَقِيْلَ لِلرَّجُلِ بَعْدَ مَاذَهَبَ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْ خَاتِمَكَ اِنْتَفِعْ بِهِ٬ قَالَ لاَوَ اﷲِ٬ لاَآخُذُهُ وَقَدْ طَرَحَهُ  رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ٠

"Dengan sengaja salah seorang dari kamu ke neraka, maka ia menyimpannya (api tersebut) pada tangannya". Setelah Ra­sulullah saw. pergi, dikatakan kepada laki-laki itu, "Ambillah cincinmu itu, dan ambillah manfaatnya". Laki-laki itu ber­kata, "Tidak. Demi Allah, saya tidak akan mengambilnya, sedang Rasulullah saw. telah melemparkannya".

Al-Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah ra. ia berkata:

نَهَانَا النَّبِيِّ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَشْرَبَ فِىْ آنِيَةِ الفِضَّةِ وَأَنْ نَأْكُلَ فِيْهَا ٬ وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيْبَاجِ وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ٠

"Rasulullah saw. melarang kami minum dari bejana perak, dan makan dengan bejana perak, beliau juga melarang kami memakai sutera (biasa) dan sutera yang berlukis, dan juga melarang kami untuk duduk di atasnya".

Muslim meriwayatkan dari Ali ra. berkata:

نَهَانِيْ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّخَتُّمِ بِالذَّهَبِ٠

"Rasulullah saw. melarangku memakai cincin emas".

Yang dimaksud dengan diharamkannya sutera, adalah su­tera asli yang diambil dari ulat sutera. Sedang sutera (buatan), memakainya tidak haram.

Sutera yang diharamkan ini dikecualikan lagi. Yakni sutera yang dicampur dengan bahan lain yang kadar kedua bahan itu harus sama. Demikian pula mengkombinasikannya dengan kain untuk model atau menambal, selama tidak melebihi berat baju. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Ibnu Abbas ra. ia berkata:

إِنَّمَا نَهَى رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الثَّوْبِ الْمُصَمَّتِ مِنَ الْحَرِيْرِ ﴿أَيْ الْحَرِيْرِ الْخَالِصُ﴾ ، فَأَمَّاالْعَلَمَ مِنَ الْحَرِيْرِ ، وَسَدَى الثَّوْبَ ، فَلاَ بَأْسَ بِهِ ٠

"Sesungguhnya Rasulullah saw. hanya melarang baju yang dibuat dari sutera asli (yang semuanya dari sutera), adapun bendera dari sutera dan pinggiran baju maka itu tidak meng­apa".

Dibolehkan bagi laki-laki memakai sutera asli jika dalam keadaan terpaksa, seperti untuk menolak kurap dan kudis (gatal-gatal), atau melindungi dari panas atau dingin yang membahaya­kan. Atau, untuk menutup aurat jika tidak mendapatkan penutup lainnya.) Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al- Hukhari dari Anas ra. ia berkata:

رَخَّصَ النَّبِيِّ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ ٬وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِى لُبْسِ  الْحَرِيْرِ لِحُكَّةٍ بِهِمَا ٠

"Rasulullah saw. memberi keringanan kepada Zubair dan Abdu'r-Rahman dalam memakai sutera, karena keduanya menderita kudis".

Emas dan sutera diharamkan hanya kepada laki-laki. Adapun kaum wanita, boleh memakainya.

Sedang memakai cincin perak, maka dibolehkan, bahkan disunatkan, selama tidak melewati batas berlebihan.) Dan yang paling afdhal, memakai pada kelingking tangan kanan, seperti tersebut dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Ibnu Umar ra. Dalam hadits itu disebutkan:

٠٠٠ثُمَّ اتَّخَذَ رَسُوْلُ اﷲِ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتِمًا مِنْ فِضَّةٍ ٬ فَاتَّخَذَ النَّاسُ خَوَاتِيْمَ الْفِضَّةِ ٬ فَلَبِسَ الْخَاتِمَ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُوْ بَكْرٍ٬  ثُمَّ عُمَرُ٬ ثُمَّ عُمَرُ٬ ثُمَّ عُثْمَانُ حَتَّى وَقَعَ مِنْ عُثْمَانُ فِى بِئْرِ أَرِيْسٍ٠

“kemudian Rasulullah saw. mengambil cincin (membuat) dari perak. Maka, para sahabat pun ikut meniru membuat cincin dari perak. Cincin Nabi itu (setelah beliau wafat) kemu­dian dipakai oleh Abu Bakar, kemudian Umar, dan kemudian Utsman; sehingga riwayat cincin Nabi itu habis ketika dipakai Utsman, kemudian jatuh ke dalam sumur Aus".

Alasan diharamkannya emas dan sutera bagi laki-laki ada­lah untuk menjauhi sifat feminin yang tidak sesuai dengan keper­kasaan laki-laki, di samping memerangi kemewahan yang dapat mengakibatkan kehancuran. Juga untuk mencegah gejala saling berbangga dan menyombongkan diri yang terdapat pada jiwa manusia, menjaga persediaan emas dunia dari kepunahan di setiap tempat dan saat.

Kedua benda ini, dihalalkan bagi kaum wanita, untuk meme­lihara sifat feminin mereka, menumbuhkan gharizah (naluri) cinta memiliki, dan memenuhi naluri mereka yang mencintai perhiasan. Juga untuk daya tarik suami dengan penampilan yang bagus dengan bentuk yang menawan.