Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Dunia Akhirat. Show all posts
Showing posts with label Dunia Akhirat. Show all posts

Tuesday, September 11, 2018

Nasehat Islami agar Tidak Terpedaya Kehidupan Dunia

Nasehat Islami agar Tidak Terpedaya Kehidupan Dunia

Terperdaya pada kehidupan dunia akan membawa kepada adzab kubur dan siksa neraka. Pesan dan nasehat islami berikut ini kami ambilkan dari beberapa referensi dalam dalil firman Allah swt di dalam Al-Quran dan juga dari hikayat atau kisah cerita riwayat para sahabat Nabi Muhammad saw. Apa saja nasehat islami yang termaksud dalam beberapa firman Allah swt. Dan dalam hikayat para sahabat Nabi saw. Mari kita simak dan pelajari serta kita amalkan.
nasehat islami


Nasehat Islami dari Al-Qur'an dan Hikayat Sahabat Nabi


Katakanlah kepada mereka orang-orang yang disibukkan oleh dunianya, sesungguhnya setiap barang apa saja yang mereka kumpulkan itu tidak mendatangkan manfaat sama sekali. Yaitu ketika ancaman bagi mereka menjelang. Pada hari dipanaskan apa yang mereka kumpulkan itu di dalam neraka ]ahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung dan punggung mereka. Bagaimana bisa lenyap dari hati dan akal mereka, dalil firman Allah swt di dalam Kitabullah Al-Quran:

يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ ٣٥

Artinya:  pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu". (QS. At-Tau bah: 35)

Harta yang mereka kumpulkan itu dibawa ke tempat pelaksanaan siksa. Lalu diletakkan di tempat pemanggangan (api neraka) dan dibakar guna memper-berat siksaan. Kemudian dibuatlah lempengan-lempengan (dari api neraka) supaya pembakaran kulit lebih merata. Setelah itu didatang-kanlah orang yang telah kehilangan petunjuk, berjalan ke ternpat itu tidak bersama kaum yang bersinar cahaya mereka. Kemudian dipanaskan emas dan perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung, dan punggung mereka.

Apa yang menyebabkan hal demikian terjadi?


Dahulu, apabila seorang miskin datang menemui mereka maka yang orang miskin dapatkan hanyalah keperihan hati. Apabila si miskin tersebut meminta sesuatu dari mereka maka mereka segera berpaling dengan segala murka. Duhai, rupanya mereka lupa hikmah Allah swt dalam menciptakan adanya orang kaya dan orang atau si miskin. Betapa berat kesedihan yang akan mereka jumpai. Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung dan punggung mereka. Setelah kematiannya. adalah ahli waris yang menikmati harta tanpa bersusah payah. Orang yang mengumpulkannya akan ditanya, "Darimana dan apa saja yang kamu dapatkan?". Anak baginya, daging buah bagi pewarisnya. Mana lagi ketamakan mereka?!

Dimana akal mereka? Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu disetrikakan pada dahi. lambung dan punggung mereka. Seandainya saja Anda menyaksikan mereka di lapisan-lapisan neraka, menggeliat-geliat di atas bara dirham dan dinar, tangan kanan dan tangan kiri mereka dibelenggu, karena kebakhilan mereka dahulu. Kalau saja Anda melihat mereka di dalam neraka jahannam, diberi minum dari timah panas, lalu mereka berteriak-teriak. pada hari itu emas dan perak dilebur di dalam Jahannam, lalu dahi, lambung. dan punggung mereka dibakar dengannya.

Sudah berapa banyak nasehat vang diberikan kepada mereka di dunia, namun tidak ada di antara mereka orang yang mendengarkannya. Berapa banvak mereka ditakut-takuti dengan siksaan Allah swt, namun tidak ada di antara mereka yang merasa takut. Seolah-olah dengan harta mereka, mereka telah menjadi Syuja' Aqra' (ular besar), sehingga apalah arti tongkat dan bukit Thur mukjizat Nabi Musa as. Sekali lagi “Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu disetrikakan pada dahi, lambung dan punggung mereka”.

Kisah cerita Berisi Nasehat Islami dari para sahabat Nabi Muhammad saw.


Diriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf al-Firyabiy katanya, "Suatu hari, saya bersama dengan beberapa sahabat pergi mengunjungi Abu Sinan. Setibanya kami di sana dan kami sudah duduk-duduk bersamanya ia berkata, 'Mari kita mengunjungi dan berta'ziyah ke rumah tetangga yang baru saja ditinggal mati oleh saudaranya.' Kami berangkat dan kami temui laki-laki tetangga Abu Sinan sedang menangis dan tampak terguncang. Kami menghibur dan mengucapkan belasungkawa. Namun, ia tidak mencrima kata-kata penghiburan dan ucapan belasungkawa, (dan ia terus menangis, pent). Kami katakan kepadanya, 'Bukankah kematian itu adalah suatu jalan yang sudah pasti?' Ia menjawab, 'Benar. Tetapi aku menangisi adzab yang akan diderita saudaraku setiap pagi dan petang!' 'Apakah Allah memperlihatkan yang ghaib kepadamu?', tanya kami semua. Ia menjawab, 'Bukan. Hanya saja seusai aku menguburkannya dan tanah sudah aku ratakan serta orang-orang sudah kembali ke tempat masing-masing, aku duduk di sisi kuburannya. Tiba-tiba terdengar suara, 'Hei! Duoukkan aku sendirian! Aku akan menghadapi adzab! Aku sudah menunaikan shalat! Aku sudah berpuasa!' Kata-kata itu membuatku menangis. Dengan segera aku bongkar kuburannya untuk melihat keadaannya. Aku dapati api menyala-nyala di dalam kuburnya. Juga, di lehernya ada belenggu dari api. Sebagai saudara aku kasihan melihatnya, dan aku pun berusaha untuk memindahkan belenggu api itu dari lehernya dengan tanganku. Namun jari-jari dan tanganku terbakar.' Lalu orang itu menunjukkan tangannya yang menghitam, terbakar. 'Lalu aku kembalikan tanah yang tadi kugali dan aku pun pulang. Bagaimana aku tidak menangis dan bersedih karenanya?', lanjutnya. Kami bertanya lagi, 'Apa yang dilakukan oleh saudaramu semasa hidupnya di dunia?' 'Dulu, ia tidak membayar zakat atas hartanya.', jawabnya. Lalu kami katakan, 'Ini adalah pembenaran dari apa yang difirmankan oleh Allah:

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ هُوَ خَيۡرٗا لَّهُمۖ بَلۡ هُوَ شَرّٞ لَّهُمۡۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِۦ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ

Artinya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (QS. Ali 'Imran: 180)

Adapun saudaramu, adzabnya disegerakan di alam kubur sampai hari kiamat.' Lalu kami pulang dan kami menemui sahabat nabi, Abu Dzar ra•, lalu menceritakan kisah laki-laki itu kepadanya. Kami katakan juga, 'Pada orang Yahudi dan Nasrani yang mati, kami tidak melihat kejadian seperti itu!'. Abu Dzar berkata, 'Adapun mereka, tidak diragukan lagi bahwa mereka penghuni neraka. Hanya saja Allah swt. menampakkan kepada kalian terjadi pada orang yang punya iman, adalah supaya kalian mengambil pelajaran darinya.

قَدۡ جَآءَكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنۡ أَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ عَمِيَ فَعَلَيۡهَاۚ

Artinya: Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. (QS. Al-An'am: 104)

مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ٤٦

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya (QS. Fushshilat: 46)

Dengan kisah cerita dan dalil-dalil di atas yang memuat nasehat islami agar kita terhindar dari kemerlapnya kehidupan dunia yang hanya sementara, marilah kita memohon ampunan dan 'afiyah (kesejahteraan batin) kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Memberi lagi Maha Pemurah.
loading...

Sunday, December 11, 2016

Allah SWT Mempunyai hujjah atas diri Manusia

Allah SWT Mempunyai hujjah atas diri Manusia

Salah satu hikmah dari adanya perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan manusia adalah bahwa Allah mempunyai hujjah atas diri manusia. Pemaparan hujjah keadilan-Nya atas hamba adalah agar mereka tahu bahwa Allah SWT punya hujjah atas dirinya (manusia).

Pengertian dari hujjah sendiri secara bahasa, hujjah berarti al-burhan yang dapat diartikan sebagai “alasan”. Dalam pengertian menurut fikih islam, hujjah diartikan sebagai alasan yang harus dikemukakan dalam rangka menetapkan atau mempertahankan pandangan yang menetapkan atau mempertahankan pandangan yang diajukan. Hujah juga disebut sebagai dasar, atau dalil dalam penetapan suatu hukum atau hukuman.

Sehingga apabila seorang atau sekelompok manusia ditimpa suatu musibah tidak berkata, "Dari mana musibah ini? Atas dosa apa aku ditimpa musibah ini?"

Tidak ada satu musibah atau ujian pun, besar atau kecil, yang menimpa seorang hamba kecuali sebagai balasan atas perbuatannya; dan dosa yang diampuni oleh Allah SWT sungguh lebih banyak. Tidak ada satu malapetaka pun kecuali akibat dosa, dan tidak ada satu malapetaka pun yang dihapus kecuali dengan taubat.

Baca juga

Oleh karena itu, Allah SWT meletakkan musibah, ujian, dan malapetaka sebagai rahmat (kasih sayang) di tengah hamba-hamba-Nya. Dengan adanya musibah, ujian, cobaan, malapetaka, Allah SWT menghapuskan dosa-dosa mereka.

Musibah itu adalah salah satu nikmat-Nya yang paling besar meskipun jiwa manusia tidak menyukainya. Seorang hamba tidak tahu mana nikmat Tuhan kepadanya yang lebih besar: nikmat berupa hal yang dibencinya atau nikmat berupa hal yang disukainya.

Dalil hadits Rasulullah saw. bersabda yang artinya:

Tidak ada kelelahan, rasa sakit, duka, kesedihan atau gangguan yang menimpa muslim, bahkan duri yang diinjaknya pun, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya." (HR Bukhari dan Muslim)

Semua dosa pasti ada hukumannya. Hukuman yang diterima seorang hamba sebelum mati jauh lebih baik dan lebih ringan dari hukuman setelah mati.
loading...

Saturday, December 10, 2016

Sebab Paling Besar Kebahagiaan Hamba

Sebab Paling Besar Kebahagiaan Hamba


Yaitu melindungi dan menolongnya dari kejahatan diri dan tipu daya musuhnya. Juga doa yang bermacam-macam, cinta, harapan dan takut (rajaa' dan khauf). Juga macam-macam sifat kesempurnaan hamba yang jumlahnya mencapai seratus. Di antaranya ada yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, melainkan hanya dapat diketahui dari eksistensinya.

Itu semua menimbulkan kedekatan khusus pada ruh; kedekatan yang tidak dapat terwujud tanpa adanya faktor-faktor ini. Dengan hal itu, seorang hamba mendapati dirinya seakan-akan terlempar ke depan pintu tuannya setelah sebelumnya berada jauh.

Yang mengakibatkan terjadinya hal ini adalah karena Allah SWT mencintai orang-orang yang bertaubat. Itulah hasil di mana Allah SWT lebih gembira dengan taobat hamba-Nya Rahasia-rahasia kandungan ini terlampau luas untuk dirasakan hati dan diungkapkan lisan.

Baca juga
Cara sholat taubat dan doanya
Pengertian dan syarat taubat yang sesungguhnya
Betapa jauhnya perbedaan antara ibadah yang dipamerkan pelakunya kepada Tuhan dan dilakukan atas dasar kesombongan. Setiap kali dia diminta agar memiliki sifat-sifat hamba, bayangan amal-amalnya tampak di mata sehingga menghijabnya dari Tuhan sembahannya. Betapa beda ibadah orang ini dengan ibadah orang yang hatinya telah diremukkan oleh kerendahan yang merribakar kekasaran, kebodohan, dan khayalan yang ada di dalamnya.

Sehingga, dia tidak melihat dirinya kecuali sebagai seorang pembuat dosa dan tidak melihat Tuhannya kecuali sebagai pemberi ihsan (kebaikan). Dia tidak ridha sekejap mata pun kalau sampai penghinaannya terhadap diri mematahkan hati, melunturkan lidah dan organ tubuh lainnya, serta menundukkan kepala dari yang lainnya.

Baca juga
Pengertian ihsan dan cara mencapai sikap ihsan
Tempat kesombongan adalah neraka jahannam

Hatinya berdiri di hadapan Tuhan dengan tertunduk khusyuk, menundukkan pandangannya, suaranya rendah, dan gerakannya tenang. Dia sujud di hadapan-Nya seperti sujud untuk menemui kematian. Kalau tidak ada buah lain dari qadha dan qadar selain buah ini, cukuplah itu menjadi hikmah. Wallahul musta'aan.
loading...

Wednesday, October 26, 2016

Dapatkah Jin Masuk Surga Seperti Manusia

Dapatkah Jin Masuk Surga Seperti Manusia

Di alam semesta yaitu dunia ini, selain diciptakan manusia, oleh Allah swt.juga memciptakan makhluk lain yang juga engisi alam semesta ini yaitu jin. Firman Allah swt. di dalam Al-qur’an.

Dan juga Firman Allah SWT di dalam al-Qur’an

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى

Artinya: Dia (Allah) berfirman, "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka ketahuilah barang siapa mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaahaa: 123)

Kedua hal di atas ditujukan kepada bapak jin dan bapak manusia. Ini menunjukkan bahwa jin mendapat perintah serta larangan dari Allah SWT. Mereka juga tercakup dalam syariat-syariat para nabi, dan kejahatan mereka juga layak mendapat hukuman. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. diutus kepada mereka sebagaimana diutus kepada manusia. Semua ini tidak diperselisihan para ulama. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tenang apakah jin yang muslim juga masuk surga? Mayoritas ulama berpendapat bahwa jin muslim akan masuk surga, dan jin yang kafir akan masuk neraka. Ada juga yang mengatakan bahwa pahala jin yang muslim hanyalah keselamatan dari siksa neraka namun tidak akan masuk surga. Karena surga hanya dimasuki oleh Adam dan keturunannya, dan ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Orang-orang yang mengatakan bahwa jin muslim juga akan masuk surga, mereka mempunyai beberapa pendapat, yaitu sebagai berikut:

Pendapat Pertama

Dalam ayat ke 123 dari surah Thaahaa di atas, Allah SWT memberitakan bahwa barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Nya, maka ia tidak akan merasa takut, sedih, tersesat dan menderita. Ini merupakan konsekuensi dari kesempurnaan nikmat-Nya. Tidak bisa dikatakan bahwa ayat tersebut hanya menunjukkan peniadaan azab, karena sudah menjadi kesepakatan bahwa jin mukmin tidak akan disiksa. Seandainya ayat di atas hanya menunjukkan peniadaan azab, maka itu bukanlah pujian bagi manusia yang mukmin, namun sekedar informasi peniadaan ketakutan dan kesedihan. Sebagaimana diketahui bahwa konteks dan maksud ayat adalah bahwa orang yang mengikuti petunjuk Allah SWT, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang paling besar dan terhindar dari penderitaan yang sangat pedih. Allah SWT mengungkapkan semua itu dengan meniadakan rasa takut dan kesedihan tersebut sesuai dengan tuntutan keadaan. Sehingga, ketika Allah SWT menurunkan Adam a.s. dari surga, maka ia dirundung rasa takut, kesedihan dan penderitaan. Lalu Allah memberitahukan kepadanya bahwa Dia memberikan janji baginya dan bagi keruturunannya. Yakni, barangsiapa mengikuti petunjuk-Nya, maka akan terhapus ketakutan, kesedihan, kesesatan, dan penderitaan darinya. Dan dimaklumi bahwa semua itu tidak akan hilang kecuali dengan masuk ke surga. Tetapi, dengan menyebutkan peniadaan keburukan yang paling berat adalah lebih tepat.

Pendapat atau argumen yang Kedua berdasarkan  Firman Allah SWT:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (٢٩) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (٣٠) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (٣١) وَمَنْ لا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الأرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَولِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٣٢)

Artinya: Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Ai-Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu untuk mendengarkannya.' Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan.' Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab 64/- Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah seruan orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan barang siapa tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah (Muhammad) maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari siksaan Allah di bumi, padahal tidak ada pelindung baginya selain Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata  (QS. al-Ahqaaf: 29-32)

Dalam ayat di atas Allah SWT memberitahukan kepada kita tentang ancaman-Nya terhadap para jin, yaitu barangsiapa yang memenuhi seruan utusan-Nya, maka akan diampuni dan dibebaskan dari neraka. Seandainya ampunan bagi mereka hanya berupa pembebasan dari azab, maka cukup dengan firman-Nya, "Dan melepaskan kamu dari azab yang pedih." Akan tetapi, kesempurnaan ampunan itu adalah masuk ke surga dan selamat dari neraka. Sehingga barangsiapa yang mendapat ampunan dari Allah, maka dia masuk surga.

Pendapat Ketiga berdasar firman Allah tentang bidadari di surga:

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Artinya: Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. (QS. ar-Rahmaan: 56)

Ayat ini menunjukkan bahwa jin dan manusia yang beriman akan masuk surga, dan bahwa bidadari di dalamnya belum pernah disentuh oleh mereka. Maka, ini menunjukkan jin-jin yang beriman dapat menyentuh bidadari setelah mereka masuk surga, sebagaimana yang terjadi pada manusia. Seandainya mereka tidak masuk surga, tentulah tidak pantas bagi mereka menerima berita seperti itu.

Pendapat Keempat dari Firman Allah SWT:


فَإِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَ لَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَ الْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ
وَ بَشِّرِ الَّذِيْن آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوْا هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَ أُتُوْا بِهِ مُتَشَابِهاً وَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

Artinya: Maka jika kamu tidak dapat membuat, dan sekali-kali kamu tidak akan dapat membuat, maka takutlah kamu kepada neraka yang penyala­kannya ialah manusia dan batu, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal ­shalih, bahwasanya untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai­ sungai. Tiap-tiap kali diberikan kepada mereka suatu pem­berian dari semacam buah-buahan, mereka berkata : "Inilah yang telah dijanjikan kepada kita dari dahulu". Dan diberikan kepada mereka akan dia serupa, dan untuk mereka di dalamnya ada isteri­i steri yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya. (QS. al-Baqarah: 24-25)

Di antara jin ada yang mukmin dan ada yang kafir, sebagaimana dikatakan oleh jin-jin saleh di antara mereka,

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا (١٤) وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا (١٥)

Artinya: Dan di antara kami ada yang Islam dan ada yang menyimpang (dari jalan yang lurus). Siapa yang Islam, maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus. Dan adapun orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka Jahanam. (QS. al-Jinn: 14-15)

Maka karena golongan jin yang kafir masuk dalam ayat kedua (al-Jinn: 14), maka golongan jin mukmin juga harus masuk dalam ayat pertama (al-Baqarah: 25).

Pendapat Kelima berdasarkan Firman Allah SWT tentang jin-jin yang saleh:

Dari Surat al-Jinn ayat 14 yang artinya: Siapa yang Islam, maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus.

Maksud ar-rusyd dari ayat di atas di sini adalah petunjuk dan kemenangan, yaitu petunjuk dari Al-Qur'an. Maka, barangsiapa tidak masuk surga, dia tidak memperoleh tujuan dari petunjuk tersebut, melainkan petunjuk tersebut sekedar dalam pengetahuannya saja.

Pendapat Keenam berdasaran Firman Allah SWT:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Artinya: Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah diberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. al-Hadiid: 21)

Golongan jin yang mukmin adalah orang yang beriman kepada Allah SWT dan para rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka termasuk orang-orang yang memperoleh berita gembira dan berhak menerimanya.

Pendapat yang Ketujuh. Firman Allah SWT,

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Yunus: 25)

Dalam ayat ini Allah SWT menjadikan seruan-Nya bersifat umum, dan menjadikan hidayah-Nya bersifat khusus. Maka, barangsiapa mendapatkan petunjuk- Nya, dia termasuk yang diseru kepada petunjuk-Nya itu. Jadi jin yang mandapatkan hidayah-Nya, adalah termasuk yang diseru kepada hidayah itu.

Pendapat Kedelapan. Firman Allah SWT,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Artinya: Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia", lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An’am: 128)

 وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang lalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. (QS. al-An’am: 129)

 يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

Artinya: Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS. al-An’am: 130)

ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Artinya: Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. (QS. al-An’am: 131)

 وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Artinya: Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. al-An’am: 132)

Penjelasan ayat ini adalah umum untuk jin dan manusia. Dalam ayat tersebut Allah SWT memberitakan kepada mereka bahwa masing-masing mereka memiliki derajat sesuai dengan amalnya. Sebagai konsekuensinya, maka jin yang melakukan kebajikan juga memiliki derajat sesuai dengan amalnya, sebagaimana manusia.

Pendapat Kesembilan. Firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. (QS. Fushshilat: 30)

Dan firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (١٣) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٤)

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-Ahqaaf: 13- 14)

Ayat ini kami jadikan dalil, karena tiga alasan. Pertama, kata penghubung (alladziina) di dalam ayat tersebut bersifat umum. Kedua, disebutkannya pahala setelah hal-hal terpuji yang disebutkan sebelumnya. Dan ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menyandang hal-hal tersebut berhak menerima pahala itu. Hal-hal terpuji tersebut adalah ikrar bahwa tiada tuhan selain Allah disertai dengan istiqamah. Ketetapan ini adalah umum karena keumuman sebab. Apabila masuk surga adalah konsekuensi dari kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan pengakuan akan rububiyah-Nya, disertai dengan konsisten terhadap segala perintah-Nya, maka barangsiapa yang melakukan hal ini, dia pun berhak atas balasan tersebut. Ketiga, Allah SWT berfirman,

Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih adalah penghuni surga. Dan, tentang siapa yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih telah disebutkan dalam firman Allah,

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. al-Baqarah:38)

Ayat ini meliputi dua golongan, dan ayat ini menujukkan bahwa siapa saja yang tidak dilingkupi rasa takut dan rasa sedih, maka dia adalah penghuni surga.

Pendapat Kesepuluh

Jika jin-jin yang kafir masuk neraka karena keadilan Allah, maka masuknya jin-jin yang mukmin ke surga karena kemuliaan dan kasih sayang Allah adalah lebih utama. Sebab, kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya dan kebaikan lebih umum daripada keadilan.

Oleh karena itulah, tidak akan masuk neraka kecuali mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni neraka. Berbeda dengan surga, ia dapat dimasuki oleh mereka yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali. Karena Allah SWT telah menciptakan golongan untuk surga yang akan menempatinya tanpa harus melakukan amal kebajikan. Di dalam surga juga Allah akan menaikkan derajat hamba- hamba-Nya tanpa ada usaha dari mereka, melainkan karena doa, shalat, sedekah dan perbuatan baik yang dihadiahkan orang lain kepada mereka.

Merupakan ketetapan Al-Qur'an serta kesepakatan umat, bahwa jin kafir akan masuk neraka karena keadilan  Tuhan dan karena apa yang mereka  perbuat. Sedangkan, jin-jin mukmin akan masuk surga karena kemuliaan Allah dan karena amal mereka.

Ada juga yang berpendapat bahwa jin-jin mukmin tersebut berada di dasar surga, di mana mereka dapat dilihat oleh penghsuni surga lainnya tapi mereka sendiri tidak melihat penghuni surga lainnya. Menurut pendapat ini, kondisi mereka di surga ini kebalikan di dunia, di mana jin-jin tersebut dapat melihat anak-cucu Adam, sedangkan anak-cucu Adam tidak dapat melihat mereka.

Akan tetapi, hal seperti ini tidak dapat diketahui tanpa ada dalil yang tidak bisa dibantah. Dan jika dalil tersebut memang benar, maka itu wajib diikuti. Namun jika tidak ada dalil yang mendukungnya, maka pendapat ini sekedar disampaikan agar dapat diketahui, sedangkan kebenarannya tergantung pada dalil. Wallaahu a'alam (Ini adalah pendapat Ibnu Qayyim. Al-'Allaamah Badruddin asy-Syibli telah menerangkan pertentangan yang ada dalam masalah ini dalam kitab Ahkam al-MarjanfiAhkam al-Jan. Hanya saja dia belum menyebutkan nash dari Al-Qur'an atau Sunnah yang akan menghilangkan perselisihan itu. Ini hanya kutipan pendapat-pendapat para ulama.)
loading...

Tuesday, October 25, 2016

Peranan Ilmu dan Kemauan dalam Mencapai Kebahagiaan

Peranan Ilmu dan Kemauan dalam Mencapai Kebahagiaan

Allah SWT menghendaki untuk mengeluarkan Adam a.s. dan keturunannya dari surga adalah suatu hikmah. Setelah itu Allah SWT memberi mereka sesuatu yang lebih baik dan lebih mulia yaitu janji-Nya, yang menjadi sebab dan jalan terang yang mengantarkan mereka kepada Tuhan. Maka, orang yang berpegang teguh kepada janji tersebut pasti ia akan beruntung. Sedangkan, orang yang berpaling darinya pasti menderita dan mengalami kesusahan.

Perjanjian, jalan lurus, dan berita agung ini tidak dapat direalisasikan kecuali dengan ilmu dan kemauan. Maka, kemauan di sini merupakan pintu dan ilmu merupakan anak kuncinya. Kesempurnaan setiap orang tergantung kepada dua hal tersebut, yaitu kemauan yang mengangkat derajatnya dan ilmu yang menerangi jalannya. Derajat kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba berbeda-berbeda berdasarkan kedua hal tersebut atau salah satunya.

Bisa jadi seseorang tidak mempunyai pengetahuan tentang kebahagiaan sehingga dia tidak mencarinya, atau mengetahuinya tetapi tidak memiliki keinginan untuk mendapatkannya. Sehingga dia tetap terpenjara dalam kehinaan dan hatinya tidak dapat mencapai kesempurnaan yang diciptakan untuknya. Sungguh dirinya ibarat binatang gembala yang lebih suka dengan kesenangan yang semu dan bermalas- malasan.

Alangkah jauh dirinya dengan mereka yang menyingsingkan lengan baju mencari ilmu dengan penuh dan semangat, konsisten, dan teguh. Sehingga mereka pun diberkati dalam usahanya tersebut. Kerinduan mereka hanya untuk Allah dan Rasul- Nya. Mereka tidak sudi menerima teman kecuali para ibnu sabil yang sama-sama berjuang bersamanya.

Jika kemuliaan kemauan tergantung pada kemuliaan sesuatu yang dicari, dan kemuliaan ilmu tergantung pada kemuliaan sesuatu yang diketahui dengan ilmu itu, maka puncak kebahagiaan seorang hamba adalah ketika keinginannya menuju pada sesuatu yang tidak binasa, tidak sirna, dan abadi; yaitu Tuhan Yang Maha Hidup. Tidak ada jalan baginya untuk mencapai tujuan yang sangat agung ini kecuali dengan ilmu yang diperoleh dari hamba, Rasul dan kekasih-Nya, yang menyeru dan menunjukkan serta menjadi perantara antara Dia dan manusia.

Beliaulah yang dengan izin Allah SWT mengajak manusia menuju ke surga, tempat keselamatan. Allah SWT enggan membukakannya kepada siapa pun kecuali melalui dirinya atau tidak menerima satu amalan pun kecuali sesuai dengan tuntunan dan petunjuknya. Maka, semua jalan tertutup kecuali jalan Nabi Muhammad saw..

Semua hati terpenjara dan tertahan kecuali hati mereka yang mengikuti beliau dan tunduk kepada Allah SWT.

Maka, selayaknya bagi seseorang yang penuh keridhaan untuk berjuang dengan disertai hati yang selalu mengingat Allah SWT untuk menjadikan kedua hal ini - ilmu dan kemauan— sebagai garis edar perkataan dan perbuatannya. Juga hendaknya ia menjadikan keduanya sebagai sasaran dalam segala aktivitas kehidupannya.

Buku ini pun saya tulis berdasarkan dua hal tersebut dengan maksud memperkenalkan kemuliaan keduanya, yaitu kemauan dan ilmu. Saya namakan buku ini "Miftaah Daar as-Sa'aadah." Dan ini merupakan sebagian anugerah dan nikmat yang diberikan Allah pada saat saya menyendiri di rumah-Nya, bersimpuh di dekat pintu-Nya dalam keadaan hina, dan di saat saya mengharapkan limpahan karunia-Nya pagi dan malam. Tiada merugi orang yang menggantungkan kebutuhan dan cita-citanya kepada-Nya. Tiada merugi pula orang yang selalu mengetuk pintu-Nya dan selalu berada di dalam lindungan-Nya.

Apabila ilmu itu berada pada posisi awal, ia memberikan penjelasan dengan gamblang dan memberi petunjuk kepada kehendak. Maka, kami mendahulukan pembicaraan tentang ilmu sebelum masuk ke dalam masalah cinta (al-hub). Setelah itu, kami akan membahas tentang cinta, pembagian, hukum, faidah, buah, sebab, hambatan, dan faktor-faktor yang menguatkan serta yang melemahkannya.

Semua penjelasan itu semua kami jelaskan berdasarkan dalil naqli (Al-Qur'an dan as-Sunnah'), rasio (aqli), fitrah, qiyas (analogi), telaah, perasaan dan intuisi bahwa hal ini berhubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Benar, tidak ada Tuhan selain Dia. Bahkan, cinta itu tidak pantas diberikan kecuali kepada Allah dan untuk Allah semata. Kami juga akan mengemukakan bantahan kepada orang yang mengingkari hal ini dan menjelaskan kesalahan pendapat mereka berdasarkan dalil naqli (Al- Qur'an dan as-Sunnah), aqli (rasio), fitrah, silogisme, perasaan, dan intuisi. Inilah kandungan inti dari buku ini.

Keindahan makna saat ini akan memperlihatkan secara jelas butiran-butiran indah yang bercahaya, bertahtakan lafal-lafal menawan yang ditujukan bagi Anda. Maka bagi Anda, ia bisa menjadi 'matahari' bagi yang paling bahagia, bisa juga menjadi 'gadis cantik' yang berjalan cepat menuju tepi lembah yang berbahaya. Maka, pilihlah untuk diri Anda salah satu dari keduanya dan tempatkanlah ia pada posisi itu sesuai dengan kehendak Anda.

Setiap nikmat pasti ada orang hasad yang tidak senang kepadanya, dan setiap kebenaran pasti ada orang yang membangkang dan menentangnya. Dalam buku ini saya berikan muatan makna dan ide-ide sebagai sesuatu yang berharga bagi penelaahnya, sedangkan kritik dan cercaan maka sayalah yang akan menanggungnya. Buah dan manfaatnya adalah bagi para pembaca, sedangkan pengarangnya akan menanggung kesusahan. Sebab, dia akan menghadapi kecaman dan bantahan dari orang-orang yang tidak setuju.

Inilah sedikit pengetahuan dan pikiran lemah penulis yang ditawarkan kepada akal orang-orang pandai. Dengan ini penulis menghadapkan dirinya pada taring- taring dan kuku-kuku para penentang yang hasad.

Pembaca, bagi Andalah kebaikannya, biarlah penulis yang menanggung segala resikonya. Penulislah yang menanggung beban dan kelelahan saat menanam, adapun buahnya adalah untuk Anda. Dia juga menjadi sasaran bidik anak panah dari segala penjuru arah.

Penulis memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kealfaan dan kesalahan, juga memohon maaf kepada orang-orang mukmin atas segala kekeliruan. Ya Allah saya berlindung kepadamu dari orang yang wawasan ilmu dan agamanya sangat sedikit, yang berlarut-larut dalam kebodohan dan tega menyakiti hamba-hamba- Mu. Karena kebodohannya itu, ia memandang keburukan sebagai kebaikan, Sunnah Rasul sebagai bid'ah, dan hal baik sebagai kemungkaran. Dan karena kezalimannya, ia membalas satu kebaikan dengan keburukan yang berlipat-lipat serta membalas satu keburukan dengan sepuluh kebaikan. Ia telah menolak kebenaran dan memaksa manusia menempuh jalan kebatilan sesuai dengan kehendak dan kesukaannya. Ia hanya menerima kebaikan dan menolak keburukan sejalan dengan kemauan dan hawa nafsunya.

Dengan hati dan lidahnya, ia menyakiti para kekasih Rasul saw. dan golongannya. Teman-teman dekatnya adalah orang-orang yang gemar melakukan dosa dan bodoh. Ia mengharapkan kedudukan sebagai pewaris para nabi, namun dalam waktu yang sama ia berada dalam lembah kebodohan bersama dengan orang-orang yang tidak berilmu. Ia unggul dengan kebodohannya, namun mengira ia termasuk orang-orang yang unggul dalam ilmu pengetahuan. Padahal di sisi Allah dan Rasul-Nya, serta di mata orang-orang mukmin, ia sangat jauh dari ilmu itu, yang merupakan warisan kenabian. Jika kedudukannya diukur dengan kedudukan para pewaris nabi, sungguh jaraknya teramat jauh.

"Orang-orang singgah di Mekah di kabilah-kabilah Hasyim Sedangkan ia singgah di lahan kosong yang sangat jauh tempatnya."

Aku berlindung kepada-Mu dari orang yang menjadikan cercaan sebagai bekal dan banyak mencerca sebagai nasehat. Dia selalu tampil dengan kecaman, mengulang dan mengulangi celaan itu, maka dia tidak bermanfaat dan tidak memperoleh manfaat. Saya juga berlindung kepada-Mu dari musuh yang berpenampilan penasehat dan wali yang berada pada kehancuran yang jauh. Seorang musuh yang menjadikan permusuhan dan kekejamannya sebagai peringatan dan kasih sayang. Orang yang menjadikan penghinaan dan kekasaran sebagai penolong dan kelembutan. Jika mata hampir tidak terbuka kecuali kepada mereka, padahal timbangan mereka ringan dan tidak berat.

Alangkah pantasnya bagi orang pintar untuk tidak memberikan mereka bagian dari hatinya untuk melayangkan perhatian kepadanya. Dia melakukan perjalanan menuju tujuan di antara mereka. Perjalanan itu adalah perjalanan kepada orang-orang mati di antara orang-orang hidup.

Alangkah tepatnya ucapan seorang penyair:

وفى الجهل قبل الموت موت لأهله. واجسامهم قبل القبور قبور وارواحهم فى وحشة من حسومهم وليس لهم حتىٌ النٌشور نشور

" Kebodohan adalah kematian bagi manusia sebelum mereka mati
Dan tubuh mereka bak kuburan sebelum mereka dikuburkan;
Dan rub mereka ingin kembali kepada tubuhnya
Akan tetapi mereka tidak akan dibangkitkan hingga hari kebangkitan."

Ya Allah, segala pujian adalah milik-Mu. Hanya Engkau tempat mengadu. Hanya Engkau tempat kami meminta pertolongan dan hanya kepada-Mu kami minta bantuan. Hanya kepada-Mu kami bertawakal. Tidak ada usaha dan kekuatan kecuali pada-Muengkaulah harapan dan tempat kami bertawakkal.
loading...

Friday, January 8, 2016

Petunjuk dan Keberuntungan VS Kesesatan dan Penderitaan

Petunjuk dan Keberuntungan VS Kesesatan dan Penderitaan

Para pembaca di Islamiwiki yang baik hati, dalam hidup dan kehidupan senantiasa dihadapkan pada dua hal yang saling bertolak belakang. Pada kesempatan ini blog islamiwiki akan membahas dua hal yang saling bertolak belakang yaitu kesesatan yang membawa kepada penderitaan dan petunjuk yang membawa kepada keberuntungan.

Pada penjabaran di atas terdapat empat hal yang masing-masing terdapat dua hal. Yaitu dua hal yang baik dan dua hal yang buruk. Dua hal yang baik yaitu petunjuk dan keberuntungan dan dua hal yang buruk atau tidak baik yaitu kesesatan dan penderitaan. Bagaimana Allah swt. menjelaskannya? Untuk Siapa kedua hal tersebut?

Petunjuk dan keberuntungan

Lawan dari dua hal keburukan di atas adalah petunjuk dan keberuntungan. Tentang dua hal kebaikan ini Allah swt. menggambarkan tentang dua kebaikan ini adalah untuk para kekasih Allah swt.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam dalil Firman Allah swt. di dalam Al-Qur’an dimana Allah swt. menyebutkan tentang sifat-sifat dari orang-orang mukmin.

Firman Allah swt.:

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 

Artinya: Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. al-Baqarah: 5)

http://islamiwiki.blogspot.com/
Baca juga Maksud dan Tujuan diturunkannya Al-Qur'an

Juga firman Allah swt. dalam surat yang lain, yang berbunyi:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ 

Artinya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-An’am: 82)

Juga di dalam surat yang paling wajib dibaca dan kedudukannya paling agung, mencakup secara keseluruhan, mencakup apa yang dibutuhkan dan paling luas dan banyak manfaatnya, Allah swt. telah menyebutkan tentang kebaikan dan keburukan yaitu dalam firman Allah tersebut yang senantiasa selalu kita ucapkan:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ. صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ 

Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. al-Faatihah: 6)

Pada ayat di atas, Allah swt. telah menyebutkan bahwa hidayah dan kenikmatan adalah merupakan petunjuk. Dalam ayat di atas, Allah swt. juga menyebutkan tentang orang-orang yang mendapatkan murka-Nya adalah mereka yang menderita. Disamping itu, Allah swt, juga menyebutkan dalam ayat di atas bahwa orang-orang yang tersesat adalah mereka yang tersesat dari jalan yang lurus.

Kedua golongan orang ini adalah orang-orang yang mengalami kesesatan dan penderitaan yang secara jelas dan eksplisit disebutkan Allah swt. secara bersamaan agar apa yang dituju oleh surat itu diungkapkan dengan lafadz yang paling jelas.

Dalam dalil hadits Nabi saw. Yang artinya: Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani."(HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Kesesatan dan Penderitaan

Berkaitan dengan dua hal keburukan yang sudah disebutkan di atas yaitu kesesatan dan penderitaan, Allah swt telah banyak berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur’an yang menerangkan bahwa kedua hal keburukan tersebut akan ditimpakan kepada musuh-musuh Allah.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Dalam firman Allah swt. di dalam Al-Qur’an tentang dua hal keburukan mengenai kesesatan dan kesengsaraan atau penderitaan. Allah swt. berfirman:

إِنَّ ٱلۡمُجۡرِمِينَ فِي ضَلَٰلٖ وَسُعُرٖ 

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. (QS. al-Qamar ayat 47)

Apa yang dimaksudkan tentang kesesatan dalam firman Allah swt, di atas adalah kesesatan itu sendiri. Sedangkan maksud dari Neraka adalah sebuah adzab dan penderitaan.

Baca juga gambaran Surga dan neraka dalam Al-Qur'an
Baca juga Tujuh Pintu Neraka Jahannam dan penghuninya

Juga Firman Allah swt yang lain tentang kesesatan dan penderitaan.

وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ كَأَن لَّمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةٗ مِّنَ ٱلنَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيۡنَهُمۡۚ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ 

Artinya: Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk. (QS. Yunus ayat 45)

Semoga kita senantiasa mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Allah swt. dari pilihan kesesatan dan kesengsaraan atau penderitaan yang disebabkan karena ketidaktahuan dan kebodohan. Dan semoga kita senantiasa memperoleh pertolongan dan perlindungan dari Allah sehingga dapat memilih serta mendapatkan petunjuk dan keberuntungan baik du dunia dan di akhirat kelak. Amin…
loading...

Wednesday, November 25, 2015

Menjual Dunia untuk Akhirat

Menjual Dunia untuk Akhirat

Dalam kehidupan selama kita di dunia seringkali kita berbuat dan bertindak melampaui batas-batas larangan dari Allah swt. Dan bahkan sudah tidak terhitung kesalahan yang telah kita perbuat karena melanggar larangan dan aturan Allah swt. Sungguh kesalahan, kealpaan dari perbuatan-perbuatan yang kita kerjakan teramat sangat menyedihkan dan sudah seharusnya kita renungkan dengan bermuhasabah, instrospeksi atas semua kesalahan-kesalahan yang bahkan tidak dapat kita menghitungnya.

Sudah kita ketahui bersama bahwa sekecil apapun perbuatan kita, maka kelak nanti di hari pembalasan akan diperlihatkan. Maka setiap ketakwaan, ketaatan atau sebaliknya setiap kedurhakaan, melanggar aturan dan larangan dicatat oleh Allah meskipun itu sekecil apapaun dam akan dimintai pertanggungjawaban kelak nanti di hari kiamat.

Namun, sayangnya tidak setiap detik, setiap saat kita menyadari akan bahaya dan kealpaan dari berbuat alpa dan kesalahan karena melanggar larangan dan aturan Allah swt, mudah terlena dan larut dalam angan-angan kehidupan dunia, nafsu, terlena dengan kelapangan sehingga melupakan datangnya kematian yang kedatangan tidak seorangpun tahu karena itu adalah misteri dari Allah swt. Seringkali kita melupakan dan menunda-nunda untuk beramal sholeh dan berbuat kebajikan yang dapat menyelematkan kita pada hari persidangan Allah swt. Seringkali juga lalai untuk membangun dan membuat kebiasaan berdoa sungguh-sungguh dengan hati, memohon ampunan serta menjalin hubungan silaturahmi mesra dengan Allah swt.


Hati manusia selalu berubah-berubah terkadang sadar dan terkadang tidak sadar. Seringkali kita menyadari bahwa mengejar harta itu tidak ada artinya karena akhirnya mereka akan meninggalkan kita. Namun, kesadaran seperti ini timbul tenggelam dalam lingkaran kesibukan dunia. Hal lain yang menjadikan kita tidak sadar adalah sering kali kesadaran kita tertindih oleh pemaknaan atas tanggung jawab diri pada keluarga, kemanusiaan serta yang lainnya. Manusia pun lebih cenderung untuk cepat bergerak dalam hal keduniaan ketimbang mencari akhirat yang hakikatnya adalah kelak akan abadi. Pernahkah kita merenungi berapa hari, berapa malam yang sudah kita habiskan untuk mencari dunia. Dan berapa hari, berapa malam kita habiskan demi akhirat kelak yang kekal?


http://islamiwiki.blogspot.com/
Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara dan sesaat. Namun, kesesaatan dan kesementaraan ini akan menjadi penentu keabadian kita kelak nanti di akhirat. Kehidupan dunia ini sejatinya adalah suatu perjalanan yang sangat pribadi yaitu dari tanah menuju tulang sulbi, dari tulang sulbi menuju ke rahim, dari rahim menuju ke dunia, dari dunia menuju ke alam kubur, dari alam kubur menuju ke mahsyar dan dari mahsyar menuju ke negeri abadi yaitu surga atau neraka.


Perjalanan manusia masih panjang. Saat ini kita masih berada pada tahap ke empat dari perjalanan menuju keabadian. Setelah tahap ke empat ini kita bersama-sama akan menuju alam barzah atau alam kubur, bersama-sama menuju kesendirian. Segala sesuatu yang kita bangun selama di dunia tidak akan menjadi bekal bagi kita ke alam kubur, kecuali segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia ini bernilai ibadah kebaikan untuk sesama manusia dan berbuah pada kedekatan kepada Allah swt. Oleh sebab itu, rugilah bagi mereka yang hanya mengumpulkan sedikit bekal untuk perjalanan yang teramat jauh.


Janganlah kita menjadi manusia yang merugi dan sedikit bekal. Mari hadapkan diri kepada Allah swt. Dengan mengisi tahap ke empat ini dengan berbagai amal ibadah dan ketaatan yang hanya karena Allah semata.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Imam Ibnu al-Faraj ‘Abd Rahman ibn ‘Ali al-Jawzi mengajak umat Islam untuk menjual dunia demi akhirat. Beliau juga memastikan bahwa manusia akan beruntung di dunia apabila mereka mengutamakan akhirat. Beliau mengatakan bahwa kesulitan dunia tak akan mencelakakanmu apabila engkau memiliki simpanan kebaikan di akhirat. Dunia ini adalah binatang tunggangan. Apabila engkau menungganginya, ia akan memilikimu. Dan apabila engkau memikulnya, ia akan membuatmu binasa.

Bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat apabila melakukan kesalahan adalah kuncinya. Sebagai petaubat yang benar-benar bertaubat, terdapat rambu-rambu yang hendaknya dijauhi dan dikerjakan dalam sikap dan tindakan antara lain menyayangi sesama, menjaga lisan atau perkataan karena Allah swt., berhenti dari mencari aib dan keburukan orang lain, meninggalkan perbincangan yang tidak berguna, tidak berzina, tidak bergibah, tidak mengadu domba, meninggalkan semua kejahatan dan dosa, tidak memanjakan syahwat dan lain sebagainya.

Baca juga gibah atau
Baca juga mengadu domba

Ibnu al jaw-zi juga menegaskan bahwa sesungguhnya mahar atau mas kawin akhirat sejatinya sederhana yaitu hati yang ikhlas dan lisan yang berdzikir. Oleh sebab itu, segala sesuatu hal yang kita kerjakan baik lisan, sikap, tindakan, pikiran harus diiringi dengan kesadaran bahwa keseluruhan waktu petobat terisi dengan amal kebaikan, kesholehan, berbicara seraya berdzikir kepada Allah swt, bergerak dengan perintah Allah swt., bersedih karena teguran Allah swt, bergembira, senang karena dekat dengan Allah swt. Perlu dipertegas bahwa pertaubatan tidak semata-mata dilakukan setelah berbuat maksiat atau karena menumpuknya dosa-dosa. Untuk meraih ampunan-Nya dapat diraih dengan mengerjakan berbagai kebajikan dan kebaikan di tengah keheningan malam, di setiap waktu

loading...

Tuesday, November 17, 2015

Siapakah Umat Manusia yang Kekal sampai Akhir Masa?

Siapakah Umat Manusia yang Kekal sampai Akhir Masa?

Dari sebuah riwayat diceritakan bahwa ada seorang Yahudi menemui Khlaifah Umar bin Khattab dan kemudian dia berkata bahwa terdapat satu ayat yang diturunkan Allah swt. kepada umat Muslim, dan andai kata ayat tersebut diturunkan kepada kami kaum Yahudi, pasti kami akan merayakannya pada hari diturunkannya.
Kemudian, Khalifah Umar menanggapinya dan berkata: ayat manakah yang kamu maksudkan? Kemudian seorang Yahudi itu menjawab:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

Artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS al-Maidah ayat 3)

Mendengar demikian, Umar bin Khattab berkata: demi Allah, sungguh aku mengetahui dengan pasti hari ditunjukkannya ayat tersebut. Diturunkan kepada Rasul saw. pada hari Jum’at, hari Arafah, yang menjadi hari Raya bagi seluruh kaum Muslimin di dunia pada tiap-tiap tahunnya.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Tulisan dari Sayyid Sabiq dalam kitab Anashirul Quwwah Fil Islam menerangkan bawah kepada hukum Islam dengan teguh adalah sebuah keharusan. Lebih dari itu Allah swt. Telah menjamin kesempurnaan dari hukum-hukum yang diberikan kepada umat Islam serta menjadikannya sebagai petunjuk dan cahaya. Barangsiapa yang menentang hukum-hukum itu, maka pasti akan buta hatinya dan sesat untuk selamanya.

Baca juga: Pengertian tentang hari kiamat
Baca juga Peristiwa terjadinya hari kiamat
Baca juga Hikmah beriman akan hari kiamat
Baca juga Kehidupan di alam barzah

Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya kebenaran, norma dan tata nilai yang bersifat menyeluruh, umum, universal serta abadi yang wajib diyakini serta diamalkan bagi setiap pemeluknya. Kebenaran dan tata nilai ini harus disebarluaskan dengan dakwah melalui kekuatan lidah, keindahan amal perbuatan pada pendakwahnya. Islam tidak disebarkan dengan pemaksaan dan tidak juga dengan mengerahkan kekuatan fisik untuk menegakkannya. Islam tidak disebarkan dengan melalui menghunus pedang serta senjata.

Dalam Islam mengajarkan kepada pemeluknya setiap muslim mengenai keselarasan, keseimbangan di antara kemajuan dalam hal spiritual maupun material. Nilai dan Esensi hidup dalam agama Islam yang utama adalah ketakwaan kepada Allah swt. dan ibadah amaliah para Muslimin. Apabila ajaran Islam yang sempurna itu dijalankan dengan baik dan benar oleh kaum Muslimin.

Dengan demikian, apabila semua kaum Muslimin dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik dan benar, maka di dunia ini tidak akan ada orang yang terlantar, tidak akan ada orang miskin, tidak akan ada orang yang sakit dan tidak dapat pergi berobat, serta tidak akan ada perpecahan di antara dan sesama umat, tidak akan ada kebodohan dan kejahatan kemanusiaan di kalangan umat Islam. Menyadur dari perkataan Syekh Muhammad Abduh mengatakan bahwa Islam tertutup oleh umat Islam itu sendiri.

Sekarang ini, telah banyak kita melihat kondisi bahwa posisi umat Islam yang lemah dalam percaturan politik global. Seringkali umat Islam dipermainkan dan dimanfaatkan oleh situasi dan keadaan yang di reka oleh orang lain. Dan pada beberapa Negara Muslim lainnya, telah banyak kita temui campur tangan dari Negara asing dalam pengelolaan Negara yang dikarenakan ketidakmampuan umat Islam di Negara tersebut.

Umat Islam adalah umat terbaik atau khairu Ummah yaitu sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk umat manusia. Maka, sudah seharusnya umat Islam dapat menciptakan situasi dan keadaan yang kondusif dan mendukung bagi perkembangan dan masa depan agama Islam.

Firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Qs. Ali Imran : ayat 110.

Baca juga Perintah wajibnya amar ma'ruf Nahi Munkar
Baca juga maksud dan tujuan diturunkannya al-Qur’an


Tidak ada umat yang kekal selain umat Islam. Umat Islam adalah umat pemangku risalah Rasulullah Muhammad saw. adalah umat yang kekal sampai nanti di akhir zaman hingga kiamat datang. Sebab risalah Nabi Muhammad saw. adalah risalah yang kekal. Dan salah satu doa Nabi Muhammad saw. yang dikabulkan oleh Allah swt. adalah bahwa umat Islam tidak akan pernah punah dari muka bumi sebagaimana yang telah dialami oleh umat terdahulu, seberapapun kelemahan umatnya.

Baca juga Keteladanan Nabi Muhammad yang rendah hati, Murah hari, akhlak mulian, Zuhud

Allah swt. tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya. Sebagaimana firman Allah swt.

ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Qs. Ar-Ra’d ayat 11.

Dari firman Allah di atas, maka kejayaan umat Islam itu sendiri dari masa ke masa akan sangat bergantung kepada usaha, ikhtiar yang dikerjakan oleh umat Islam itu sendiri. Dengan demikian, maka pertolongan Allah akan datang apabila umat Islam mau berusaha untuk menjemput dengan usaha sekuat mungkin baik usaha batin, maupun usaha lahir tanpa mengenal lelah.
loading...

Monday, October 5, 2015

Cinta Kepada Rasulullah, Insya Allah Masuk Surga

Cinta Kepada Rasulullah, Insya Allah Masuk Surga

Rasulullah Nabi Muhammad saw. adalah manusia pilihan Allah swt. sebagai penyempurna akhlak. Pribadinya yang mempunyai akhlak paling mulia sebagai suri tauladan bagi umatnya. Rasulullah Muhammad saw. adalah syafa’atul ummah, pemberi syafaat bagi umatnya yang nantinya kita harap-harapkan syafaatnya selalu baik di dunia, lebih-lebih kelak di hari kiamat. Di hari hari pengadilan Allah, dari sekian banyak syafaat, syafaat dari Rasulullah Muhammad saw. adalah syafaat yang paling utama.

Baca juga 
Kehidupan alam barzah

Berikut ini adalah sebuah kisah seorang hamba sahaya yang bernama tsauban adalah insan yang sangat begitu mencintai dan mengagumi kepribadian dan akhlak Rasulullah saw. sangat cinta dan kagumnya Tsauban kepada baginda Nabi Muhammad saw., dia mempunyai keinginan yang sangat besar untuk dapat berjumpa dengan Rasulullah Muhammad saw. Akan tetapi, dikarenakan tempat tinggalnya yang sangat jauh, dia tsauban begitu sulit mewujudkan niatnya.

Baca juga Keteladanan Akhlak Nabi Muhammad

http://islamiwiki.blogspot.com/
Hingga akhirnya pada suatu hari, dia dapat bertemu dengan baginda Rasulullah saw. Pada kesempatan tersebut dimanfaatkan betul-betul oleh Tsauban dengan baik mendengarkan tausiah dan nasehat dari Rasulullah Muhammad saw dengan seksama.

Melihat kondisi Tsauban, Rasulullah saw. begitu heran dan iba. Hal ini dikarenakan kondisi Tsuaban yang amat memprihatinkan dengan warna kulit yang tidak wajar dan terlihat tidak sehat, tubuhnya kurus serta wajahnya menampakkan kesedihan yang begitu dalam. Melihat demikian kemudian Rasulullah bertanya kepada Tsauban dan berkata: apa yang menyebabkan kamu seperti ini?

Kemudian hamba sahaya Tsauban berkata, wahai Rasulullah, yang menimpa padaku ini bukanlah karena penyakit, namun semua keadaan ini adalah dikarenakan rasa rinduku terhadapmu yang belum terobati, karena belum bertemu denganmu. Aku senantiasa gelisah selalu hingga akhirnya aku dapat berjumpa pada hari ini denganmu.

Pada saat teringat akan akhirat, aku merasa khawatir tidak akan dapat melihatmu lagi di akhirat yang kekal. Karena aku sadar, pastinya Rasul akan dimasukkan dan ditempatkan di tempat yang khusus di dalam surganya para Nabi. Kalaupun seandainya aku nanti masuk surge, aku pasti tidak akan dapat melihatmu kembali, karena aku ditempatkan di surga yang berbeda dengan surgamu. Apalagi kalu nanti aku dimasukkan ke dalam neraka, maka tentu aku tidak akan dapat melihat dirimu untuk selama-lamanya.

Baca juga
Tujuh pintu neraka jahanam dan penghuninya
Ditempatkan di surga atau di neraka?
Gambaran surga dan neraka dalam al-Qur'an

Mendengar perkataan dari Tsauban, Rasulullah saw. berkata: Insya Allah kamu (berkumpul) bersamaku di surga.


Cerita atau kisah pada zaman kehidupan Rasulullah Muhammad saw. di atas mengandung makna secara jelas akan ganjaran atau pahala bagi orang yang mencintai Rasulullah sampai-sampai kesehatannya menurun drastis, mengaguminya serta mengikuti semua ajarannya akan mendapatkan pahala berkumpul bersama Nabi di surga. Suhanallah….
Cinta kepada Rasulullah atau mencintai Rasulullah adalah salah satu bentuk hakikat cinta yang sesunggunya dalam islam yaitu cinta yang membawa ke surga.

Bentuk, rasa kecintaan kepada baginda Nabi Rasulullah saw. tidak dapat diukur dari seberapa banyak seseorang memuja atau memuji Rasul. Bentuk kecintaan kepada Rasulullah saw. hendaknya terwujud dalam sikap, perkataan, perbuatan, perilaku seseorang sehari-hari dalam melaksanakan segala hal yang dikerjakan dan diperintahkan oleh Rasulullah serta menjalankan semua sunnah-sunnahnya. Kecintaan kepada Rasulullah bukanlah hanya sekedar kata-kata manis belaka, akan tetapi kecintaan yang datangnya dari hati sanubari dan diamalkan dalam perbuatan, bukan hanya sekedar kata-kata.

Cara mencintai Rasulullah saw.

Mempelajari Sirah kehidupan Rasulullah.

Mungkin terdapat bermacam-macam fitnah yang buruk yang tertuju kepada Rasulullah, maka sebagai salah satu wujud kecintaan kepada Rasulullah adalah dengan banyak belajar,  mengkaji, menelaah kembali sirah kehidupan Rasulullah dari berbagai referensi dan literature tentang pribadi-pribadi Rasul dari sumber-sumber yang sahih. Bekal pengeahuan yang serba kurang dan minim tentang diri dan pribadi Rasulullah saw. akan menjadikan celah bagi orang-orang tertentu yang dapat memutarbalikkan kenyataan.

Meneladani Rasulullah.

Adalah hal yang paling utama dalam menumbuhkan kecintaan dan sebagai bentuk cinta yang sungguh-sungguh kepada Rasulullah adalah dengan meneladani segala perkataan dan perbuatan Rasulullah saw, menaati semua yang diperintahkan dan semua yang dilarang oleh Rasulullah saw yang sumber larangan dan perintahnya adalah dari Allah swt.

Mencintai Rasulullah merupakan bentuk cinta yang sesungguhnya yaitu cinta yang akan membawa kita kepada surga. Niscaya, manakala kita mencintai Rasulullah dengan sesungguhnya insya Allah kita akan bersama beliau baginda Nabi di surga sebagaimana kisah cerita di atas. Amin....
loading...

Wednesday, September 2, 2015

 Siapakah Orang yang Bahagia dan Rugi di Hari Kelak?

Siapakah Orang yang Bahagia dan Rugi di Hari Kelak?

Terdapat 4 kategori atau klasifikasi bagi manusia dalam hal kebahagiaan hidup. Yang pertama adalah orang yang tidak bahagia di dunia dam juga tidak bahagia di akhirat. Yang kedua adalah orang yang bahagia di dunia, namun tidak bahagia di akhirat. Yang ketiga adalah orang yang tidak bahagia di dunia namun bahagia di akhirat. Yang ke empat adalah kategori orang yang bahagian dunia juga bahagia di akhirat. Tentu kita semua berharap menjadi orang mukmin yang bahagia di dunia dan juga bahagia di akhirat bukan?

Berikut ini adalah sebuah pelajaran berharga yang dapat kita ambil faedah dan manfaatnya dari sebuah pertanyaan para sahabat Nabi kepada Rasulullah saw. yang menanyakan hal ihwal tentang orang yang merugi dan bangkrut kelak nanti di kehidupan yang kekal dan abadi di akhirat kelak. Yang artinya adalah mereka tidak akan dapat kebahagiaan di akhirat.

Baca juga
Pengertian tentang hari akhir-hari kiamat

http://islamiwiki.blogspot.com/
Pada suatu ketika, Nabi Muhammad saw. bersama para sahabatnya sedang duduk-duduk dan mengobrol. Kemudian salah satu sahabat bertanya kepada baginda Rasulullah saw. mengenai siapakah sebenarnya orang yang bangkrut?. Mendengar demikian, kemudian Nabi Muhammad bersabda: Tahukah kamu semua siapa sebenarnya orang yang bangkrut itu?. Kemudian para sahabat menjawab: dalam pandangan orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak mempunyai uang serta harta benda.

Mendengar demikian, Rasulullah saw. membenarkan pandangan dan pendapat para sahabat yang keliru tentang orang yang bangkrut. Kemudian Rasulullah bersabda: Orang-orang yang bangkrut dari umatku yaitu orang-orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (akan tapi semasa hidup di dunia mereka mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara batil), menumpahkan darah orang lain (secara batil) dan mereka memukul orang lain, lalu mereka diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zalimi). Sehingga, apabila seluruh pahala amal kebaikannya  telah  habis, tapi masih ada orang-orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka (yang pernah dia zalimi)  ditimpakan kepadanya dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka." (HR Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad).

Baca juga
Tujuh pintu neraka jahanam dan penghuninya
Macam-macam hukuman atas dosa
Hukum memakan harta anak yatim

Dalam dalil sabda beliau, Nabi mengingatkan kepada para sahabatnya dan juga kepada umatnya (umat islam) bahwasanya kebaikan-kebaikan yang dilakukan selama di dunia seperti mengerjakan ibadah sholat, ibadah puasa, mengeluarkan zakat, sedekah dan amal kebaikan yang lain maka pahala yang diperoleh dari melaksanakan ibadah-ibadah tersebut akan tersedot habis dan diambil oleh orang-orang yang mereka dzalimi apabila para pelaku amal-amal ibadah tersebut melakukan perbuatan yang dapat menodai semua amal kebaikan yang dilakukannya. Sehingga semua pahala amal kebaikannya akan digunakan untuk menutupi kesalahan dan amal keburukan yang dia lakukan kepada orang lain. Itulah mereka orang yang kelak akan bangkrut pahala kebaikan dan tidak akan merasakan kebahagiaan di akhirat kelak.

Baca juga
Hisab amal perbuatan manusia di akhirat

Perlu kita ketahui bahwa kelak nanti di hari pembalasan yaitu di hari kiamat, dimana amal-amal baik amal keburukan dan amal kebaikan telah ditimbang melalui timbangan mizan, akan muncul berbagai macam pengaduan yang diajukan kepada Allah swt. dari orang-orang yang dahulunya di dzalimi selama kehidupan di dunia. Mereka adalah orang-orang yang di caci maki, di fitnah dengan tuduhan palsu dan tidak benar, mereka yang hartanya dirampas, dirampok, mereka yang ditumpahkan darahnya, mereka yang keringatnya diperas, mereka yang pernah dipukul serta disiksa dengan tidak berdasar alasan yang benar.

Mereka semua akan menghadap kepada Allah swt. guna menuntut dan meminta keadilan serta balasan atas perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang-orang yang mendzalimi mereka. Pada saat pengaduan inilah, Allah swt. akan membalas mereka yang berbuat dzalim dengan seadil-adilnya. Dimana pengadilan Allah di hari kiamat adalah pengadilan yang tidak dapat diperjual-belikan seperti pengadilan di dunia yang fana dan tidak akan abadi. Allah swt. adalah dzat tang Maha Adil. Sehingga meskipun nilai ibadah dari orang yang berbuat dzalim kepada orang lain akan terkurangi dan diberikan kepada mereka yang di dzalim. Sebagaimana keterangan sabda Nabi Muhammad saw. di atas.

Baca Keteladanan Nabi Murah Hati, Akhlak Mulia, Rendah Hati, Zuhud

Oleh sebab itu, apabila kita menginginkan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan juga kebahagiaan di kehidupan yang kekal di akhirat kelak, maka janganlah kita sekali-kali mencampuradukkan kebaikan dengan kejahatan. Hendaklah tidak pernah terbesit dalam hati merasa bahwa diri kita telah layak untuk masuk ke surga dikarenakan amal-amal yang telah dilakukan. Janganlah sampai kita bangkrut dan merugi karena pahala-pahala kebaikan yang kita lakukan diambil dan dialihkan karena perbuatan, amal keburukan, kejahatan dan kedzaliman yang kita lakukan selama di dunia. Yang pada akhirnya kita tidak dapat merasakan kebahagiaan yang hakiki dan kekal di akhirat kelak. Baca juga arti kebahagiaan hakiki dalam Islam
loading...