Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Dosa dan Hukumnya. Show all posts
Showing posts with label Dosa dan Hukumnya. Show all posts

Wednesday, August 8, 2018

Hukuman dan Hukum Meninggalkan Sholat dalam Hadits

Hukuman dan Hukum Meninggalkan Sholat dalam Hadits

Apa hukum meninggalkan sholat dalam Islam berdasarkan hadits Nabi? Pada bahasan sebelumnya telah kita sampaikan mengenai larangan meninggalkan sholat berdasarkan sumber dari al-Qur’an dan dalil hadits Nabi. Menyambung bahasan tersebut, berikut ini adalah penjelasan tentang hokum meninggalkan sholat.

Perbedaan pendapat tetang hukum meninggalkan sholat.


Terdapat perbedaan pendapat dari para ulama berkaitan dengan hukum orang yang meninggalkan sholat. Dari Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad berpendapat bahwa hukum orang yang meninggalkan sholat adalah dipancung dengan sebilah pedang. Kemudian mereka berbeda pendapat tentang kekafiran mereka apabila mereka meninggalkan sholat tanpa adanya udzur sehingga lewat waktunya sholat.

hukum meninggalkan sholat
sholat tepat pada waktunya


Ibrahim an-Nakha'iy, Ayyub as-Sikhtiyaniy, Ahdullah bin Mubarak, Ahmad bin Hambal, dan Ishaq bin Rahuyah, mereka berpendapat bahwa mereka yang meninggalkan sholat maka mereka kafir. Mereka berhujjah dengan dalil sabda Nabi Muhammad saw. Yang artinya sebagai berikut:

"Ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah sholat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia.

Juga dalil sabda beliau, yang artinya: "Batas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan sholat. ((Telah disebutkan takhrij-nya.- lihat lafadz dalilnya dalam bahasa arab pada artikel Meninggalkan sholat )

Beberapa dalil terkait dengan hukuman dan hukum meninggalkan Sholat


Dalam sebuah dalil hadits Sabda Nabi SAW. disebutkan, "Sesungguhnya orang yang selalu menjaga sholat wajib niscaya akan dikaruniai oleh Allah ~. dengan lima karamah; ditepis darinya kesempitan hidup, dijauhkan ia dari azhab kubur, diterimakan kepadanya catatan amalnya dengan tangan kanan, ia akan melewati shirath seperti kilat yang menyambar, dan akan masuk surga tanpa hisab. Sebaliknya orang yang menyia-nyiakannya niscaya akan dihukum oleh Allah dengan 14 hukuman; lima di dunia, tiga ketika mati, tiga di alam kubur, dan tiga lagi ketika keluar dari kubur. Kelima hukuman di dunia itu adalah; barokah dicabut dari hidupnya, 'tanda' sebagai orang shalih dihapus dari wajahnya. semua amalan yang dikerjakannya tidak akan diberi pahala oleh Allah, do'anya tidak akan diangkat ke langit, dan dia tidak mendapat bagian dari do'anya orang-orang shalih. Hukuman yang menimpanya ketika mati adalah; dia akan mati dalam kehinaan, dalam kelaparan, dan dalam kehausan. Meskipun ia diberi minum air seluruh lautan dunia, semua itu tak mampu menghilangkan dahaganya. Hukuman yang menimpanya di kubur adalah; kuburnya menyempit sehingga tulang-tulang-nya ringsek tak karuan, dinyalakan di sana api yang membara siang-malam, dan ia dihidangkan kepada seekor ular yang bernama as-Syuja' al-Aqra'. Kedua bola matanya dari api, kuku-kukunya dari besi, dan panjang tiap kuku itu sejauh perjalanan satu hari. Ular itu terus-menerus melukai si mayit sambil berkata, "Akulah asSyuja' al-Aqra'!.. Suaranya bagaikan gemuruh halilintar. "Aku diperintah oleh Rabb-ku untuk menwkulmu atas kelakuanmu yang menunda-nunda sholat Shubuh sampai terbit matahari, juga atas sholat Zhuhur yang kau tunda-tunda sampai masuk waktu 'Ashar. juga atas 'Ashar yang kau tunda-tunda sampai Maghrib, juga atas Maghrib yang kau tunda-tunda sampai 'Isya', dan atas 'Isya' yang kau tunda-tunda sampai Shubuh." Setiap kali ular itu memukulnya. ia terjerembab ke bumi sedalam 70 hasta. Demikian keadaannya sampai datangnya hari kiamat nanti. Adapun hukuman yang menimpanya sekeluarnya dari kubur pada hari kiamat adalah; hisab yang berat, kemurkaan Rabb, dan masuk ke neraka."

Pada riwayat dalil hadits yang lain disebutkan, yang artinya:"Pada hari kiamat nanti ia akan tampil sedangkan di wajahnya tertulis tiga baris kalimat; Wahai si penyia-nyia hak Allah, Wahai yang secara khusus mendapat kemurkaan dari Allah, dan Sebagaimana kamu telah menyia-nyiakan hak Allah di dunia, maka pada hari ini pun berputus-asalah dari rahmat Allah. "( Saya (pen-takhrij) tidak mendapalkan satu sanad pun berkenaan dengan hadits ini. lbnu Hajar Al-Haitsami menyebutkannya dalam Az-Zawajir (1/136) dengan penuh perasaan risau, dan dia berkata, ''Sebagian orang mengatakan. disebutkan dalam hadits ... "Kemudian dia pun menyebutkannya. Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan (3/653) dalam menyebutkan biografi Muhammad bin All Al-Abbas Al-Baghdadi Al-Aththar, bahwa dia telah memalsukan atas nama Abu Bakr bin Ziyad An-Naisaburi sebuah hadits batil tentang 'orang yang rneninggalkan sholat').

Al-Hafizh dalam Lisan Al-Mizan (5/285) berkata. "Muhammad bin Ali menyangka bahwa lbnu Ziyad menerimanya dari Ar-Rabi' dari Asy-Syafi'1 dari Malik dari Sarni dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dengan me-matfu'-kannya, Man tahawana bi sholatihi 'aqabahullahu bi khamsata 'asyara khashlatan (barangsiapa yang melalaikan sholat. Allah akan menghukumnya dengan lima belas hal). Hadits ini sangat Nampak sekali kebatilannya, dan ia termasuk hadits-hadits yang dibuat-buat oleh para ahli tarikat (thuruqiyyah). Burhanuddin Al-Halabi juga telah menyebutkannya dalam Al-Kasyf Al-Hatsits (halaman 240)."

Ibnu Abbas berkata, "Pada hari kiamat nanti, didatangkan seseorang dan dihadapkan kepada Allah swt. Allah memerintahkannya untuk masuk neraka. Tapi orang itu bertanya, "Wahai Rabbku, mengapa?" Dan Allah pun menjawab, "Untuk penundaan sholat dari waktunya dan sumpah palsumu atas nama-Ku.

Pada suatu hari Rasulullah saw berdo'a di tengah-tengah para sahabatnya, "Ya Allah, janganlah Engkau sisakan di antara kami orang yang 'sengsara lagi terhalangi'." Lalu beliau melanjutkan, "Tahukah kalian siapakah orang yang sengsara lagi terhalangi itu?" Para sahabat balik bertanya, "Siapakah mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang meninggalkan sholat.

Diriwayatkan bahwa wajah yang pertama kali dikelamkan pada hari kiamat adalah wajah orang-orang yang meninggalkan sholat. Juga bahwa di neraka jahannam ada suatu lembah yang disebut 'al-Malham. Di situ ada ular banyak sekali. Ukurannya sebesar leher unta. Panjangnya sejauh perjalanan satu bulan. Ular-ular itu mematuk orang yang meninggalkan sholat. Bisanya akan merusak tubuh orang yang meninggalkan sholat selama 70 tahun sebelum selanjutnya daging-dagingnya membusuk.

Kisah-kisah tentang dosa besar dan hukum meninggalkan Sholat


Terdapat sebuah kisah, dimana seorang perempuan dari Bani Israil menghadap Musa as, berkata, "Wahai Rasulullah. aku telah melakukan. satu dosa besar. Tapi aku telah bertaubat kepada Allah, Untuk itu sudilah kiranya engkau memohon kepada Allah agar mengampuni dosaku dan menerima taubatku." Maka Musa pun bertanya, "Apakah dosa yang telah kamu lakukan itu?" Wanita itu menjawab, "Wahai Nabi Allah. sungguh aku telah berzina, melahirkan anak haram. lalu membunuhnya.'' Musa berkata lagi, "Pergi jauhlah wahai pendosa! ]angan sampai api dari langit menyambar kami gara-gara dosa yang telah kamu lakukan itu!" Wanita itu pun meninggalkan Musa membawa hati yang hancur. Lalu Jibril mendatangi Musa dan berkata, Wahai Musa, Rabb bertanya kepadamu, "Mengapa kamu menolak seorang wanita yang telah bertaubat. wahai Musa? Apakah kamu sudah tidak mendapati yang lebih burnk darinya?" Musa balik bertanya, "Wahai ]ibril, apakah yang lebih buruk darinya?" "Meninggalkan sholat dengan sengaja', jawab Jibril.

Kisah cerita yang lain hukum meninggalkan sholat.


Diceitakan, seseorang dari kalangan salaf turut menguburkan saudara perempuannva vang mati. Tanpa ia sadari sebuah kantong berisi hana yang ia bawa jatuh dan turut terkubur. Begitu pula dengan mereka yang hadir, tak satu pun menyadarinya. Sepulang darinya. barulah ia tersadar. Maka ia kembali ke makam dan ketika semua orang telah pulang ke tempat masing-masing ia bongkar kembali makam saudaranya itu. Dan ia pun terkejut begitu melihat api yang menyala-nvala dari dalam makam. Serta merta ia kembalikan tanah galian, dan pulang sambil bercucuran air mata. Mendapati ibunya ia bertanya, Duhai Ibunda, gerangan apakah yang telah dilakukan oleh saudara perempuanku?" "Mengapa kau menanyakannya, Anakku?", ibunya balik bertanya. Ia pun menjawab, "Bunda, sungguh aku melihat kuburnya dipenuhi kobaran api." Lalu ibunya menangis dan berkata, "Wahai anakku, dulu saudara perempuanmu terbiasa meremehkan dan mengakhirkan sholat dari wakrunya."

Dari keterangan-keterangan dan cerita kisah di atas adalah keadaan mereka yang menyepelekan dan mengakhirkan sholat dari waktunya dan hukum meninggalkan sholat. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak mengerjakannya sholat? Marilah kita memohon petunjuk, inayah dan pertolongan kepada Allah swt agar kita selalu dapat menjaga sholat tepat pada waktunya.

Monday, December 19, 2016

Hikmah Dosa, Sadar akan Status yang Sama

Hikmah Dosa, Sadar akan Status yang Sama

Hikmah yang Ketigapuluh dari hikmah-hikmah adanya perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan oleh manusia adalah bahwa apabila seseorang terjatuh ke dalam dosa, maka ia mengakui bahwa dirinya sama dengan rekan-rekannya yang berdosa atau berbuat maksiat.
Mereka sadar bahwa musibah mereka sama dan bahwa semua butuh kepada ampunan dan rahmat Allah SWT. Sebagaimana ia bahagia kalau saudaranya sesama muslim mendoakannya, ia juga seharusnya mendoakan saudaranya. Ia senantiasa berdoa,
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, ibu bapakku, dosa-dosa kaum muslimin dan muslimat dan kaum mukminin dan mukminat!"

Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa setiap orang dianjurkan membaca doa ini tujuh puluh kali setiap hari, menjadikannya wirid yang tidak dilewatkannya. Ada seorang Syekh menyebutkan doa ini. Katanya doa ini punya keutamaan yang besar, cuma penulis tidak mengingatnya. Bisa jadi doa ini adalah salah satu dari wiridnya yang tak pernah ditinggalkan. Salah satunya beliau berkata, "Membaca doa ini (ketika duduk) di antara dua sujud boleh."

Apabila seorang hamba mengakui bahwa rekan-rekannya tertimpa musibah yang sama dengan musibah yang menimpanya, membutuhkan apa yang dibutuhkannya, maka dia tidak akan enggan membantu mereka, kecuali jika dia teramat bodoh sehingga tidak tahu kebutuhannya akan ampunan dan karunia Allah SWT. Orang seperti ini pantas kalau tidak mendapat pertolongan-Nya, sebab ganjaran sepadan dengan amal. Seorang salaf berkata bahwa Allah SWT menyalahkan malaikat akibat mereka mengatakan,

"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?" (al-Baqarah: 30)

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"

Maka, Dia menguji Harut dan Marut dengan dosa, setelah itu malaikat beristighfar untuk anak cucu Adam dan mendoakan mereka.

Friday, December 16, 2016

Rahmat Allah Senantiasa Mengingatkan Ibadah dan Dosa

Rahmat Allah Senantiasa Mengingatkan Ibadah dan Dosa

Apabila Allah SWT menghendaki kebaikan untuk hamba-hamba-Nya, Maka Allah SWT akan membuat hamba-Nya tersebut lupa akan ibadah yang telah dikerjakannya. Allah SWT akan menghapus ingatan tentang itu dari hati dan lidah mereka. 

Dan apabila manusia diuji dengan dosa, mereka meletakkan dosa itu di depan matanya. Mereka mengingatnya terus-menerus. Mereka lupa akan ibadah-ibadahnya, dan seluruh pikirannya dipenuhi ingatan akan dosa-dosanya. Dosanya terus di depan mata saat duduk, berdiri, dan ke mana pun dia pergi.

Ini merupakan bentuk rahmat-Nya kepada hamba tersebut, seperti yang disinggung oleh  seorang  ulama  salaf, "Seorang  hamba melakukan dosa  tapi menyebabkannya masuk surga, dan melakukan kebaikan tapi malah menyebabkannya masuk neraka." la ditanya, "Apa maksud Anda?" Jawabnya, "Dia melakukan kesalahan, lalu terus diingatnya. Setiap kali dia mengingatnya dia menangis, menyesal, tobat, istighfar, dan merendahkan diri di hadapan-Nya, lalu dia melakukan kebaikan-kebaikan untuk menebusnya.

Sehingga, kesalahan itu menjadi sebab datangnya rahmat baginya. Tapi orang yang lain melakukan kebaikan, lalu terus diingatnya. Dia membanggakannya di hadapan Tuhan dan makhluk, dan dia heran bagaimana orang seperti dia yang banyak kebaikannya tidak dimuliakan dan dihormati manusia. Hal-hal itu terus menguat pada dirinya sehingga mengantarkan orang itu masuk ke neraka."

Jadi, tanda kebahagiaan adalah kalau seorang hamba meletakkan kebaikan di belakang punggungnya, dan meletakkan keburukan di depan matanya. Dan, tanda kesengsaraan adalah kalau seorang hamba meletakkan kebaikan-kebaikannya di pelupuk mata dan keburukannya di belakang punggung. Wallahul musta'an.

Thursday, December 15, 2016

Hikmah Perbuatan Dosa, Pahitnya Jauh dari Allah SWT

Hikmah Perbuatan Dosa, Pahitnya Jauh dari Allah SWT



Allah SWT memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk merasakan pahitnya terhijab (terasing, tertutup) dan jauh dari Allah SWT. Allah SWT juga memberi kesempatan untuk merasakan hilangnya keindahan berdekatan dengan Allah SWT. Kesemua hal ini adalah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Apabila seorang hamba ridha, rela dengan keadaan itu dan jiwanya tidak menuntut untuk mendapatkan keadaannya semula bersama Allah SWT, kemudian dia senang bersama selain Dia, maka Allah pun tahu kalau orang tersebut tidak layak—maka Dia pun meletakkan orang itu pada martabatnya yang cocok.

Tapi jika dia berdoa dan cemas seperti orang yang tertimpa musibah, dan tahu bahwa dia benar-benar telah kehilangan hidupnya sehingga memohon kepada Allah SWT agar mengembalikan kehidupannya, mengembalikan apa yang dia tidak bisa hidup tanpanya, maka Allah SWT tahu bahwa orang ini memang layak mendapat martabatnya— dan Allah SWT pun akan mengembalikan apa yang sangat dibutuhkan orang itu sehingga dia merasa sangat gembira.

Kenikmatannya benar-benar lengkap. Kegembiraannya tidak terputus. Dia mengetahui harga dirinya, sehingga menggenggamnya kuat-kuat. Keadaannya seperti keadaan orang yang kehilangan unta yang membawa makanan dan minumannya di tengah padang pasir nan tandus, lalu dia menemukannya lagi setelah putus asa mencari-cari dan sudah yakin akan mati. Penemuan itu tentu sangat berbekas di dalam hatinya. Allah SWT memiliki rahasia, hikmah, dan sindiran-sindiran yang tidak tersentuh oleh akal manusia.

Jika seorang hamba yang sebelumnya mencintai diuji dengan kesepian, atau yang sebelumnya dekat diuji dengan kejauhan, maka jiwa orang ini merindukan nikmatnnya pertemuan itu. Jiwanya rindu, merintih, dan akhirnya mendapatkan rahmat dari zat yang tidak bisa digantikan oleh sesuatu pun di dunia ini. Apalagi jika jiwa itu mengingat kebaikan, kasih sayang, dan kedekatan-Nya. Ingatan itu membuatnya tidak tenang, dan segera membangkitkan kegelisahan.

Akan tetapi, apabila jiwa terus berpaling dari Allah SWT dan tidak merindukan keadaan yang dahulu pernah dirasakannya, juga tidak merasakan kesengsaraan yang sangat dan kebutuhannya untuk mengembalikan kedekatannya dengan Allah SWT, berarti dia termasuk orang yang tidak dicari bila tidak ada dan tidak dapat dikembalikan bila lari serta tidak dicaci bila melakukan kesalahan. Inilah jiwa-jiwa yang tidak layak untuk mendapatkan posisi di dekat Allah SWT. Dan bagi orang yang berpaling, sudah pantas dihukum tidak mendapat kedekatan dengan Allah SWT.

Wednesday, December 14, 2016

Hikmah Dosa, Menjadi Tahu Obat dan Penangkalnya

Hikmah Dosa, Menjadi Tahu Obat dan Penangkalnya

Setiap orang yang sadar akan perbuatan dosanya, kemudian bertaubat dengan sebenar-benarnua taubat dan menemukan hikmah-hikmah dari perbuatan dosa dan maksiat, Orang seperti ini bagaikan seorang dokter yang memberikan manfaat kepada orang sakit dalam pengobatan. Seorang tabib yang tahu penyakit dan obatnya secara langsung lebih mahir daripada tabib yang cuma tahu dari teori. Hal ini bukan hanya dalam masalah penyakit badan. Tapi, juga berlaku dalam penyakit hati dan obatnya. Inilah makna ungkapan seorang sufi,

"Orang yang paling tahu akan keburukan (cacat) adalah yang paling banyak keburukannya."

Umar bin Khaththab pernah berkat: "Ajaran Islam sirna sedikit demi sedikit jika dalam Islam lahir generasi yang tidak mengenal kejahiliahan."

Baca juga
Cara sholat taubat dan doanya

Oleh karena itulah, para sahabat adalah bagian dari umat Islam yang paling tahu tentang Islam, paling tahu tentang detailnya. Mereka adalah orang-orang yang paling besar cintanya kepada agama, paling besar jihadnya menghadapi musuh Islam, paling keras memegang ajarannya, menyebarkan ajarannya dan mewanti-wanti dari ajaran lawannya. Ketika Islam datang, ia membawa ajaran yang bertolak belakang dari apa yang mereka dahulu kenal pada masa jahiliah. Pengetahuan mereka tentang lawan ajaran Islam itu menambah pengetahuan dan cinta serta jihad mereka untuk Islam.

Itu seperti seseorang yang berada di dalam kesempitan, kesusahan hidup, kemiskinan, takut yang sangat, lalu Allah SWT menakdirkannya hidup lapang, kaya, aman, dan penuh kegembiraan. Tentu dia sangat cinta dan gembira dengan keadaan baru yang dirasakannya. Dan, derajat cintanya itu berbanding lurus dengan kadar pengetahuannya tentang keadaan susah yang dahulu dialaminya.

Ini tentu saja tidak sama dengan orang yang lahir dan besar dalam lingkungan kaya, aman, dan penuh keriangan. Dia tidak pernah merasakan keadaan yang lain. Mungkin datang sebab-sebab yang dapat mengeluarkannya dari keadaan itu dan menjadi keadaan sebaliknya yakni miskin sementara dia tidak merasakannya. Mungkin juga datangnya banyak sebab kecelakaan, tapi dia menyangkanya sebagai sebab yang mampu mengantarkannya menuju keselamatan, keamanan, dan kesehatan—sehingga tanpa disadari, ia binasa di tangan sendiri. Alangkah banyak orang-orang seperti ini.

Tapi jika dia mengetahui dua hal yang bertentangan dan mengetahui perbedaan kedua hal itu, juga tahu sebab-sebab celaka secara detail, pasti seharusnya kenikmatan yang dimilikinya akan langgeng selama ia tidak memilih penyebab lenyapnya kenikmatan tersebut secara sadar. Dalam hal ini, seorang penyair mengungkapkan,

"Saya mengenal keburukan tidak untuk melakukan keburukan yang sama Tapi untuk menjaga din darinya

Karena siapa yang tak kenal keburukan manusia
Past/ ia terjerumus ke dalamnya."

Demikianlah keadaan orang beriman. Dia cerdas, jenius, paling tahu tentang kejahatan, tapi paling jauh darinya. Jika dia berbicara tentang kejahatan dan sebab-sebabnya, kamu sampai mengira dia orang yang paling jahat. Tapi jika kamu bergaul dengannya dan kamu tahu perangainya, kamu akan melihat dia adalah orang yang paling baik dan berbudi.

Yang ingin dijelaskan di sini bahwa orang yang diuji dengan ditimpa celaka atau cacat, dia menjadi orang yang paling tahu akan sebab-sebabnya dan dapat mencegah agar tidak menimpa dirinya atau orang lain, baik yang meminta nasihat kepadanya maupun tidak.

Tuesday, December 13, 2016

Hikmah Dosa, Allah Maha Pemberi Taufiq dan Menjaga Manusia

Hikmah Dosa, Allah Maha Pemberi Taufiq dan Menjaga Manusia

Dari sekian banyak hikmah dari adanya perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan manusia adalah bahwa Allah SWT memperlihatkan dan menunjukkan betapa besarnya nikmat dan karunia Allah SWT kepada hamba-Nya dengan memberi mereka taufik dan menjaganya. 

Orang yang dibesarkan dalam keadaan baik, sehat dan enak, mereka cenderung tidak mengetahui penderitaan yang dirasakan oleh orang yang sakit dan dalam keadaan yang tidak enak. Orang seperti ini tidak menyadari kalau nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada dirinya begitu besar.

Sudah seharusnya para pelaku kebajikan dan orang-orang yang selalu menjaga ketaatan kepada Allah SWT menyadari dengan sepenuh hati bahwa sebenarnya merekalah orang-orang yang mendapat nikmat. Mereka lebih harus dan wajib untuk bersyukur kepada Allah SWT daripada orang-orang lain meski mereka cuma tidur beralaskan tanah dan makan kerikil.

Baca juga
Pengertian Syukur yang sebenarnya dan macamnya
Macam dan pembagian syukur nikmat
Cara sujud syukur dan doanya
Cara bersyukur dengan lisan, hari dan perbuatan

Merekalah sebenarnya para pemilik nikmat yang sempurna. Mereka seharusnya sadar bahwa orang yang dibiarkan oleh Allah SWT berbuat dosa adalah orang yang telah jatuh dan hina di mata Allah SWT, dan bukan karena kemuliaan orang tersebut (sehingga tidak diazab oleh Allah SWT).

Baca juga
Arti taqwa yang sebenarnya menurut syariat Islam dan macamnya
Arti hakikat dan contoh orang yang taqwa 
Janji-janji Allah kepada orang yang taqwa
Kemuliaan yang diberikan Allah kepada orang yang bertaqwa

Meskipun Allah SWT memberikan kelapangan rezeki kepada orang-orang seperti ini di dunia dan memudahkan jalan mereka untuk mendapatkannya, akan tapi merekalah orang yang berada di dalam ibtilaa' (musibah, ujian) yang sesungguhnya.

Oleh sebab itu, apabila jiwa seorang hamba menuntut dirinya untuk mengambil bagian, dan membisiki bahwa dirinya sedang berada dalam ujian dan kesempitan hidup, maka Allah SWT merangkul dengan rahmat-Nya. Dia menguji manusia dengan dosa. Sehingga, akhirnya manusia melihat dan menyadari nikmat serta kesehatan yang dahulu dimilikinya, dan bahwa tidak bisa dibandingkan antara nikmatnya dahulu dengan kesenangan yang dituntut oleh nafsunya. Kalau sudah begitu, maka harapan dan keinginan mereka hanyalah kembali seperti keadaannya semula. Yaitu, pada saat Allah SWT memberinya kesehatan dan kesucian dari dosa.

Baca juga
Musibah adalah takdir Allah SWT
Arti Musibah dalam ajaran Islam
Pahala bagi orang yang tertimpa musibah

Sunday, December 11, 2016

Hikmah dari Dosa, Menghapus Penghalang Rasa Bangga dan Sombong

Hikmah dari Dosa, Menghapus Penghalang Rasa Bangga dan Sombong


Seandainya perasaan bangga dan sombong itu tidak lenyap dari hati, kemungkinan besar dia akan menerima malapetaka yang lebih besar, seperti yang diterangkan dalam dalil hadits sabda Nabi Muhammad Rasulullah saw. yang artinya sebagai berikut:

"Seandainya kamu tidak berbuat dosa, pasti aku patut khawatir kamu akan ditimpa malapetaka yang lebih hebat dari rasa ujub itu." (HR Baihaqi)

Baca juga 

Alangkah jauh perbedaan antara efek yang timbul karena sombong, ujub, dan merasa banyak ibadah dengan efek akibat kerendahan dan kehinaan. Ini seperti firman Allah kepada Nabi Adam a.s., yang artinya:

"Wahai Adam, jangan sedih akibat tergelincir ke lumpur dosa yang akhirnya menjadi sebab kebaikanmu. Dosa telah mencabut penyakit ujub dari dirimu dan mengenakanmu baju ubudiah. Wahai Adam, jangan sedih lantaran ucapan-Ku kepadamu, 'Keluarlah dari surga!' Sebab sesungguhnya untukmulah Aku menciptakannya. Akan tetapi, turunlah ke medan juang (dunia)! Semailah benih ubudiah! Jika tanaman itu sudah sempurna dan siap dipetik, maka kemarilah dan ambil jatahmu!"

"Janganlah cercaan itu membuatmu berduka, sebab Dia punya kelembutan! Dia memperlihatkan ridha-Nya padamu saat murka."

Jadi, ketika manusia mengenakan baju kehinaan (yakni sombong dan angkuh) yang tidak layak bagi makhluk seperti dia, maka Tuhan dengan rahmat-Nya menyadarkan dan memakaikan baju kehinaan yang paling pantas untuk mereka. Tidak ada baju yang dikenakan seorang hamba yang lebih sempurna, lebih baik, dan lebih mewah dari baju ubudiah. Itulah baju kerendahan. Seorang hamba tidak akan mempunyai kemuliaan tanpa mengenakannya.
Hikmah Perbuatan Dosa, Manusia mengetahui hakikat Dirinya.

Hikmah Perbuatan Dosa, Manusia mengetahui hakikat Dirinya.

Tahu bahwa dirinyalah yang dzalim, dan bahwa kejahatan yang dilakukan muncul dari sumbernya (sebab kebodohan dan kedzaliman adalah sumber seluruh kejahatan). Sedang yang terkandung pada dirinya yang berupa kebaikan, ilmu, hidayah, takwa, dan taubat adalah dari Tuhan. Dialah yang menyucikan jiwanya dengan sifat-sifat tadi. Dialah yang memberikan sifat-sifat tersebut kepada jiwanya, dan tidak muncul begitu saja pada sebuah jiwa.

Baca juga
Arti takwa yang sesungguhnya serta macamnya
Cara sholat taubat dan doanya
Pengertian taubat yang sesungguhnya dan syaratnya

Apabila Allah SWT tidak berkehendak untuk menyucikan (jiwa) seorang hamba, maka Allah SWT membiarkannya bergelut dengan dorongan-dorongan kezaliman dan kebodohannya. Dialah Allah SWT yang menyucikan jiwa siapa saja yang dikehendaki-Nya sehingga jiwa itu jadi bersih dan suci, membawa berbagai kebaikan. Dia meninggalkan penyucian jiwa bagi siapa yang di kehendaki-Nya sehingga jiwanya membawa berbagai macam kejahatan dan kotoran.

Di antara doa yang sering diucapkan Nabi saw. adalah sebagai berikut:

"Ya Allah, berilah ketakwaan pada jiwaku, dan sucikanlah ia. Engkau sebaik-baik yang menyucikan jiwa, Engkau penguasa dan pemiliknya."(HR Muslim)

Jika Allah SWT menguji seorang hamba dengan dosa, maka ia akan tahu kekurangan jiwanya. Sehingga, pengetahuan itu mendatangkan hikmah dan maslahat yang bermacam-macam. Di antara maslahat itu adalah dia tidak menyukai kekurangannya dan berusaha secara sungguh-sungguh untuk mencapai kesempurnaan. Hal itu juga membuatnya tahu akan kebutuhan dirinya secara terus-menerus terhadap zat yang menjaganya yaitu Allah SWT.

Di samping itu, dirinya terbebas dan dia juga membebaskan orang lain dari klaim-klaim batil dan kosong yang dikatakan oleh orang-orang bodoh, seperti qidam (dirinya ada tanpa permulaan), wahdatul wujud (bersatu dengan Tuhan), atau hulul (Tuhan dapat menitis ke dalam makhluk/benda), dan hal-hal mustahil lainnya. Kalau orang-orang ini tidak lalai akan kekurangan dan hakikat dirinya, tentu mereka tidak terjatuh ke dalam hal-hal seperti itu.

Tuesday, December 6, 2016

31 Hikmah adanya Perbuatan Maksiat dan Dosa yang hanya diketahui Allah

31 Hikmah adanya Perbuatan Maksiat dan Dosa yang hanya diketahui Allah

Kebanyakan manusia membuka pintu (mencari tahu) hikmah yang terkandung di dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT. Mereka menyelaminya lalu mengemukakan apa yang terjangkau oleh ilmu mereka. Mereka juga mencari-cari hikmah-Nya setiap penciptaaan Allah SWT pada diri makhluk hidup dan diri mereka sendiri. Mereka lalu memaparkan apa yang terjangkau oleh kekuatan mereka.

Adapun pintu ini (Pintu pengetahuan tentang hikmah Allah dari terjadinya maksiat/'Setiap manusia dijemput kematian di tengah keluarganya, dan maut lebih dekat dari tali sandalnya."), jarang kamu jumpai pembahasan mereka yang memuaskan.

Bagaimana akan dapat mengetahui hikmah pintu makrifat ini, sementara ia adalah orang yang berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan manusia tidak diciptakan oleh Allah SWT dan sama sekali tidak timbul dari kehendak-Nya? Bagaimana akan mencari atau mengakui adanya hikmah apabila ia adalah seseorang yang mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan itu adalah ciptaan Allah SWT tetapi perbuatan-perbuatan-Nya tidak mengandung hikmah dan tidak dimasuki oleh laam ta'liil? Kalaupun dijumpai, dia diartikan menjadi laam 'aaqibah, tidak sebagai laam Hllah danghaayah. Tapi bila ada huruf ba” masuk dalam perbuatan-perbuatan-Nya, maka ia diartikan sebagai ba” mushaahabah, bukan sebagai ba" sababiyyah. Apabila kalangan mutakallimin (teolog) menurut masyarakat adalah mereka yang dari kedua kelompok ini, maka masyarakat itu tidak melihat kebenaran keluar dari mereka.

Baca juga Pengertiand an syarat-syarat taubat

Tujuan utama dari pembahasan ini bahwa musyaahadah (menyaksikan, mengakui) hikmah Allah SWT dalam qadha dan qadar-Nya terhadap hamba-hamba-Nya berdasarkan pilihan dan kehendak mereka sendiri. Ini merupakan hal paling rumit dan samar yang diperbincangkan manusia. Dalam hal itu terdapat hikmah- hikmah yang hanya diketahui oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu. Kami akan menyinggung sebagiannya. Di antaranya adalah sebagai berikut.




Hikmah Keempat. Allah SWT memberitahu hamba-hamba-Nya tentang kekuasaan-Nya dalam qadha dan qadar, tentang terlaksananya kehendak Tuhan dan berlakunya hikmah Tuhan secara pasti. la juga memberitahu bahwa seorang hamba tidak dapat melarikan diri dari apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhannya, ia berada di genggaman tuan dan pemiliknya. Manusia adalah hamba-Nya, anak dari hamba- Nya, ubun-ubun/nyawa mereka berada dalam kekuasaan-Nya. Keputusan-Nya berlaku pada manusia, dan qadha-Nya terhadap manusia sangatlah adil.

Hikmah Kelima. Dia memberitahu hamba-hamba-Nya bahwa mereka membutuhkan penjagaan, pertolongan, dan pemeliharaan Tuhan. Mereka seperti bayi baru lahir yang sangat membutuhkan orang yang menjaga dan memeliharanya. Kalau manusia tidak dijaga dan dipelihara oleh Tuhannya, dia pasti binasa. Sebab setan-setan mengelilinginya dari setiap sisi, untuk mencabik-cabik dan merusak kondisi hidupnya. Apabila Tuhan membiarkan mereka mengurus dirinya sendiri, berarti Dia menyerahkannya kepada kesia-siaan, kelemahan, dosa, dan kesalahan. Jika itu terjadi, berarti kebinasaan manusia memang lebih dekat kepadanya dari tali sandalnya sendiri. Ungkapan dalam bahasa Arab tentang ajal manusia yang dekat dan tak bisa ditolak, seperti kata Abu Bakar ketika tiba di Madinah dan terserang demam, "Setiap manusia dijemput kematian di tengah keluarganya, dan maut lebih dekat dari tali sandalnya."

Para ulama sepakat bahwa taufik adalah kalau Allah SWT tidak menyerahkan seorang hamba kepada dirinya. Mereka sepakat juga bahwa khodzlaan adalah jika Dia membiarkan manusia dan tidak mengurusinya.





Hikmah Kesepuluh. Dia memberitahu hamba-Nya bahwa tidak ada jalan untuk selamat selain dengan maaf dan ampunan-Nya—dan bahwa itu tergantung kepada hak-Nya. Kalau Dia memberi maaf dan ampunan, berarti dia akan selamat; tapi jika tidak, pasti dia celaka. Tidak ada satu makhluk pun yang tidak butuh kepada maaf dan ampunan-Nya, seperti mereka butuh kepada karunia dan rahmat-Nya.

Hikmah Kesebelas. Dia memberitahu hamba akan kemurahan-Nya dengan menerima tobat, mengampuni kezaliman dan kesalahan mereka. Dialah yang telah bermurah hati kepadanya dengan memberi taufik dan ilham untuk bertobat, lalu menerima tobatnya itu. Jadi tobat seorang hamba berada di antara dua tobat. Pertama dari Allah SWT dalam bentuk izin dan taufik kepadanya untuk tobat, dan kedua dari- Nya juga dalam bentuk penerimaan dan ridha. Sungguh, segala kemurahan dan karunia dalam tobat hanya milik-Nya, Tiada Tuhan Selain Dia.

Hikmah Keduabelas. Pemaparan hujjah keadilan-Nya atas hamba adalah agar mereka tahu bahwa Allah SWT punya hujjah atas dirinya.

Hikmah Ketigabelas. Agar seorang hamba memperlakukan sesama manusia— ketika berbuat salah terhadapnya—sama dengan perlakuan yang diharapkannya dari Allah SWT kalau dia berbuat salah atau tergelincir ke dalam dosa.

Sesungguhnya ganjaran itu sepadan dengan amal. Kalau seseorang memberi maaf, maka Allah SWT akan memberinya maaf. Siapa yang mentolerir temannya yang berbuat salah kepadanya, maka Allah SWT juga mentolerir dosanya. Siapa yang mendiamkan dan melupakan kesalahan orang, maka nanti Allah SWT juga melewatkan dosanya tanpa hisab. Sedangkan, orang yang menginvestigasi (menghitung-hitung) kesalahan orang lain, maka Allah SWT juga melakukan hal yang sama.

Jangan lupa tentang seseorang yang dicabut nyawanya lalu ditanya, "Apakah kamu pernah berbuat suatu kebajikan?" Dia menjawab, "Aku tidak tahu." Allah SWT berkata, "Coba ingat-ingat lagi!" Setelah mengingat-ingat ia berucap, "Dahulu aku berjualan barang-barang. Aku menangguhkan (dalam sebuah riwayat: aku suruh para pembantuku untuk menangguhkan) orang yang lapang rezekinya dan aku bebaskan utang orang yang sedang susah." Allah SWT berfirman, "Kami lebih wajib melakukan itu daripada engkau." Maka, Allah SWT tidak menghisabnya.

Jadi, Allah SWT memperlakukan seorang hamba atas dosanya sebagaimana dia memperlakukan manusia atas dosa-dosa mereka. Kalau seorang hamba sudah memahami hal itu, maka ujian dosa atas dirinya mengandung faedah dan hikmah yang paling bermanfaat baginya.

Hikmah Keempatbelas. Apabila dia sudah memahami hal ini, lalu membalas orang yang berbuat salah kepadanya dengan kebaikan, dan tidak balik membalas kejahatan orang dengan kejahatan, maka nanti dia akan mendapat ganjaran seperti perbuatannya itu dari Tuhannya. Tuhan akan membalas dosa orang ini dengan ihsan- Nya, sebagaimana dia membalas kesalahan orang lain kepadanya dengan kebaikan. Allah SWT jelas lebih luas karunia-Nya dan lebih pemurah dalam pemberian. Maka, siapa yang ingin Allah SWT membalas kesalahannya dengan perlakuan baik, hendaknya dia berlaku baik terhadap orang yang berbuat salah terhadapnya. Orang yang sadar bahwa salah dan dosa adalah sifat manusia, tentu tidak akan menganggap berat kesalahan orang terhadapnya. Coba dia renungkan betapa buruk kelakuannya, tapi Tuhan tetap berlaku baik terhadapnya. Kalau dia saja berani berbuat dosa terhadap Tuhannya, maka dia tidak perlu heran kalau orang-orang berbuat seperti itu kepadanya.

Hikmah Kelimabelas. Agar seorang hamba memintakan ampunan untuk orang lain dan berwelas asih kepada mereka. Dengan begitu, sesak dada mereka menjadi longgar. Para pendosa tidak khawatir kalau dia akan berdoa supaya Allah SWT membinasakan dan menimpakan malapetaka atas mereka. Karena dia melihat dirinya bagian dari mereka, maka dia memohon kepada Allah SWT untuk mereka apa yang dimohonnya untuk dirinya sendiri. Kalau dia berdoa agar dirinya mendapat ampunan- Nya, dia menyertakan mereka dalam doanya. Dia mengharapkan untuk mereka lebih baik dari yang diharapkannya untuk dirinya, dan dia mengkhawatirkan atas dirinya azab yang lebih buruk dari yang dikhawatirkannya atas mereka. Ini tentu tidak sama dengan keadaannya sebelum ini. Yaitu, ketika dia memandang mereka dengan mata sebelah, pandangan penghinaan, kebencian, tidak mendoakan dan tidak mengharap keselamatan bagi mereka. Jadi, dosa—bagi orang yang seperti ini—termasuk sebab turunnya rahmat Allah yang paling besar. Di samping itu, dia juga menegakkan perintah Allah SWT di tengah mereka dengan dorongan ketaatan kepada-Nya dan rahmat serta ihsan kepada mereka—sebab itu mengandung maslahat buat mereka. Dia tidak menegakkan perintah Tuhan pada mereka dengan dorongan kekerasan, kekuatan, atau keangkuhannya.


Hikmah Ketujuhbelas. Allah SWT mempunyai bermacam hak ubudiah atas hati manusia. Di antaranya khauf (takut) dan akibatnya yang berupa cinta dan taobat, juga mencari wasilah pendekatan kepada-Nya. Ubudiah-ubudiah ini punya faktor- faktor yang memunculkan dan menggelorakannya. Segala sebab dan faktor yang diadakan oleh Allah SWT untuk hamba-Nya itu merupakan bentuk rahmat-Nya kepada sang hamba. Betapa banyak dosa yang menggelorakan rasa takut, cemas, taobat, cinta, dan itsar pada diri seorang hamba melebihi yang ditimbulkan oleh banyak ibadah. Juga alangkah banyaknya dosa yang menjadi penyebab keistiqamahan seorang hamba, dekat kepada Allah SWT, dan jauh dari jalan kesesatan.

Dia seperti orang yang menderita komplikasi, dan merasa kesehatannya tidak sempurna, menderita berbagai penyakit mematikan yang tidak disadari. Kemudian dia meminum obat yang dapat menghilangkan penyakit-penyakitnya, karena jika penyakit itu terus mendekam di tubuh tentu membuatnya mati. Nah, zat Yang Rahmat dan Kasih-Nya kepada hamba mencapai derajat seperti ini—bahkan lebih—sudah semestinyalah segala cinta dan ketaatan patut dicurahkan kepada-Nya. Jelas Dia patut diingat tidak dilupa, ditaati tidak dimaksiati, dan disyukuri tidak diingkari nikmat-Nya.


Hikmah Kesembilanbelas. Tobat mendatangkan efek yang menakjubkan, berupa maqam bagi orang yang bertobat. Sebuah kedudukan yang tidak tercapai tanpa taobat. Tobat melahirkan cinta, kelembutan hati, syukur atas nikmat-Nya, ridha terhadap keputusan-Nya, dan sebagainya. Karena apabila seorang hamba bertobat, maka Allah SWT pasti akan menerima tobatnya. Kemudian setelah menerima tobatnya itu, Dia mengiringinya dengan berbagai macam nikmat yang dia tidak mengetahui detailnya—hanya saja dia terus berada dan merasakan berkah serta efeknya selama dia tidak merusak atau membatalkan tobatnya.

Hikmah Keduapuluh. Allah SWT senang dan sangat gembira dengan taobat seorang hamba. Sesuai dengan kaidah bahwa ganjaran itu sepadan dengan amal, maka Dia tidak melupakan kegembiraan-Nya akibat taobat nasuha seorang hamba Perhatikanlah bagaimana kamu dapati hati menari dengan gembira sementara kamu tidak tahu apa penyebab kegembiraannya itu. Ini tidak dirasakan kecuali oleh orang yang hatinya hidup. Adapun orang yang hatinya mati hanya merasakan kegembiraan ketika melakukan dosa. Dia tidak merasakan kegembiraan selain itu.

Bandingkan antara kedua kegembiraan ini! Lihatlah berbagai kesedihan dan malapetaka yang mengiringi kegembiraan berbuat dosa! Siapa yang membeli kegembiraan sesaat dengan bencana selamanya? Dan, lihatlah kelapangan dan kenikmatan hidup yang mengiringi kegembiraan melakukan taat dan tobat nashuha Bandingkan antara keduanya lalu pilihlah mana yang cocok dan pas dengan dirimu!

"Masing-masing beramal sesuai dengan tipe dirinya. Dan setiap orang menyenangi apa yang cocok baginya."

Hikmah Keduapuluh Satu. Jika seorang hamba mengingat dosa, maksiat, dan kesalahan yang dilakukannya dalam menunaikan kewajiban kepada Tuhan, dia akan melihat nikmat Tuhannya yang sedikit pun menjadi banyak

Hikmah Keduapuluh Dua. Dosa mendorong pelakunya untuk waspada dan hati-hati terhadap perangkap musuhnya. la menjadi waspada, sadar, juga mengerti dari mana dan kapan maling atau penyamun menyergap. Dia telah siap menghadapi mereka. Dia sudah tahu dengan apa melawan mereka. Seandainya dia lewat di daerah para perampok dengan rasa aman dan percaya tidak ada bahaya, tentu besar kemungkinan para perampok itu akan gampang mempecundanginya karena dia tidak bersiap-siap.

Hikmah Keduapuluh Tiga. Hati tidak mewaspadai musuhnya karena disibukkan oleh urusan-urusannya sendiri. Baru apabila dia terkena anak panah dari musuh, kekuatannya akan terhimpun dan kemarahannya bangkit. Dia pasti menuntut pembalasan jika hatinya merdeka dan mulia—seperti seorang lelaki pemberani jika terluka, tidak ada yang kuat menahan amarahnya. Kamu lihat dia merangsek maju. Sedang hati yang pengecut dan hina, jika terluka, seperti seorang lelaki yang lemah dan hina. Jika terluka, dia lari terbirit-birit meski luka-luka tersebar di tubuhnya. Begitu pula singa kalau terluka tidak ada yang sanggup menahan amukannya.

Jadi, tidak ada nilainya seseorang yang tidak punya keberanian untuk menuntut pembalasan dari musuh besarnya. Karena, tidak ada yang lebih memuaskan hati seseorang selain menuntut balas atas musuhnya dan tidak ada musuh yang lebih besar daripada setan. Kalau hatinya tergolong hati orang-orang gagah yang berlomba mencapai kehormatan, dia akan bersungguh-sungguh dalam menuntut balas dan berusaha membuat musuhnya (setan) marah dan kurus sekurus-kurusnya; seperti diungkapkan seorang salaf, "Orang mukmin itu membuat setannya kurus seperti kalian membuat unta kalian kurus dalam pengembaraan."

Hikmah Keduapuluh Empat. Orang seperti ini bagaikan seorang dokter yang memberikan manfaat kepada orang sakit dalam pengobatan.


Hikmah Keduapuluh Enam. Di antara hikmah Tuhan pada diri manusia adalah ditanamkannya dua kekuatan yaitu syahwat dan ghadhab (amarah).


Hikmah Keduapuluh Delapan. Seorang hamba yang sadar akan dosa-dosanya menyebabkan dia tidak memandang diri punya kelebihan/jasa atas orang lain; sebab dia tahu aib dan dosanya sendiri. Dia tidak merasa lebih baik dari mukmin lain yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yang mengharamkan apa yang diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Apabila ia menyadari dosa-dosa dirinya itu, maka dia tidak akan memandang dirinya berhak mendapat penghormatan dari manusia. Dia tidak akan menuntut mereka memuliakannya, dan tidak akan menyalahkan mereka bila tidak menghormatinya. Di matanya, ia terlalu rendah dan hina untuk dimuliakan hamba-hamba Allah SWT, sampai-sampai dia memandang bahwa orang yang menyalaminya atau dijumpainya dengan wajah tersenyum ramah telah berbuat baik kepadanya dan memberikan apa yang tidak berhak diperolehnya. Sehingga dengan perasaan seperti ini, jiwanya lega, juga membuat orang lain lepas dan aman dari keluhan-keluhannya serta amarahnya kepada sesama.

Lihatlah, betapa nikmat hidupnya, betapa tenang batinnya, dan betapa tenteram jiwanya! Alangkah bedanya dia dengan orang yang senantiasa mencela orang lain, mengeluh kenapa mereka tidak memberikan haknya, tidak menghormatinya. Dia marah, tapi mereka lebih marah lagi kepadanya.

Hikmah Keduapuluh Sembilan. Dosa menyebabkan seseorang tidak melihat aib orang lain dan tidak memikirkannya. Sebab, dia sendiri sibuk dengan aib dan kekurangan dirinya. Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aib dirinya sehingga tidak memikirkan aib orang lain. Sebaliknya, celakalah orang yang melupakan aib dirinya dan mengungkit-ungkit aib orang lain. Ini adalah alamat kesengsaraan. Sedangkan, yang pertama adalah alamat kebahagiaan.


Hikmah Ketigapuluh Satu. Kalau dia melihat dirinya bersalah dan durhaka, padahal Tuhannya sangat baik, terus membelanya, dan juga dia amat membutuhkan- Nya, bagaimana orang itu mengharap agar manusia berlaku sesuai dengan keinginannya dan berinteraksi dengan perangai yang baik terus--padahal terhadap Tuhan, ia tidak berperilaku seperti yang diharapkan. Bagaimana dia ingin budaknya, anak, dan istrinya mematuhi segala kehendaknya dan tidak melalaikan kewajiban mereka kepadanya sementara dia tidak seperti itu dalam berhubungan dengan Tuhannya? Hal ini mendorongnya untuk memintakan ampunan buat mereka yang berbuat salah, toleran kepadanya, dan tidak terlalu mempersulit dalam menuntut haknya dari mereka. Buah-buah yang dipetik seorang hamba dari dosa ini merupakan
bentuk rahmat baginya.

Adapun orang yang memetik kebalikan dari yang kami sebutkan, itu berarti tanda celakanya. Juga jadi bukti bahwa karena begitu hina dinanya dia di mata Allah SWT, maka Dia membiarkannya berbuat dosa agar nanti dia membeberkan hujah keadilan-Nya lalu menghukum orang ini sesuai dengan haknya. Bagi orang seperti ini, satu keburukan mendorong timbulnya yang lain sehingga dari satu dosa timbul berbagai bencana yang tidak terbayangkan. Dan yang benar-benar musibah besar adalah dosa yang melahirkan dosa, lalu dari dua dosa itu lahir pula dosa ketiga. Kemudian ketiganya saling menguatkan dan akhirnya menimbulkan dosa keempat, dan begitu seterusnya. Orang yang tidak memiliki kesadaran jiwa (diri) dalam masalah ini akan binasa tanpa disadari.

Jadi, kebaikan mendorong timbulnya kebaikan yang lain, begitu pula keburukan melahirkan keburukan lainnya. Seorang salaf pernah berkata, "Di antara pahala kebaikan adalah timbulnya kebaikan setelahnya, dan di antara hukuman keburukan adalah timbulnya keburukan setelahnya." Hal ini sangat jelas dan mudah dipahami sehingga tidak perlu diperpanjang lebar memaparkan argumen. Wallahul musta'an.

Saturday, December 3, 2016

8 Cara Pandang tentang Perbuatan Dosa dan Maksiat

8 Cara Pandang tentang Perbuatan Dosa dan Maksiat

Dalam kitab al-Futuuhaat al-Qudsiyyah disebutkan bahwa terdapat berbagai macam cara pandang manusia tentang perbuatan dosa yang kesemua pandangan tersebut bermura pada delapan  pandangan atau pendapat. Apa saja delapan pandangan tersebut?

Pertama, cara pandang hewani; pandangan orang seperti ini terbatas pada syahwat dan kesenangannya saja. Dalam cara pandang ini dia sama dengan seluruh hewan, bahkan mungkin ia  bersenang-senang  melebihi hewan.

Kedua, cara pandang jabr yang melakukan dosa dan menggerakkannya bukan diri orang itu sendiri; dia tidak memikul dosa. Ini adalah cara pandang kaum musyrikin dan musuh-musuh para rasul.

Ketiga, cara pandang qadar bahwa orang itulah yang menciptakan dan mengadakan perbuatannya tanpa intervensi kehendak Allah SWT. Ini adalah mazhab qadariyyah, terpengaruh aliran Majusi.

Keempat, cara pandang para pemilik ilmu dan iman: cara pandang qadar dan syara', yakni mengakui adanya perbuatan dari pihak orang itu dan qadha/qadar dari Allah SWT seperti dijelaskan sebelumnya.

Baca juga

Kelima, cara pandang kemiskinan dan kelemahan. Kalau Allah SWT tidak menolongnya, memberinya taufik, dan tidak meneguhkannya tentu dia binasa. Perbedaan antara cara pandang ini dengan cara pandang jabariyyah jelas.

Keenam, cara pandang tauhid: mengakui bahwa hanya Allah SWT yang mencipta dan pasti terwujud kehendak-Nya, dan bahwa makhluk terlalu lemah untuk menentang perintah-Nya (berbuat maksiat) tanpa kehendak-Nya. Perbedaan antara cara pandang ini dengan yang kelima adalah bahwa yang berpandangan tauhid ini mengakui keesaan Allah dalam mencipta dan bahwa tidak ada daya upaya melainkan dengan kekuatan-Nya.

Ketujuh, cara pandang hikmah; yaitu mengakui bahwa dalam qadha-Nya dan dibiarkannya seseorang berbuat dosa oleh Allah SWT terkandung hikmah. Allah SWT punya hikmah dalam hal itu, cuma akal manusia tidak dapat menjangkaunya.

Sedikitnya terdapat tiga puluh satu hikmah (31) yang akan kami paparkan pada artikel berikutnya yaitu 30 hikmah dari adanya maksiat dan perbuatan-perbuatan kotor dan dosa.

Kedelapan, cara pandang nama dan sifat; yaitu mengakui keterkaitan antara penciptaan, perintah, qadha, dan qadar dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT dan bahwa semua itu sejalan dengan arti masing-masing nama itu. Nama-nama Allah (Asmaa 'ul Husna) itu menuntut tidak dihalanginya seorang hamba berbuat dosa, sebab Allah SWT itu Ghaffar (Maha Pengampun), Tawwaab (Maha Penerima tobat), 'Afuww (Maha Pemaaf), danHaliim (Maha Penyantun). Jelas ini adalah nama-nama yang pasti punya efek atau makna.

Dalam sebuah dalil hadits, Nabi Muhammad saw. Bersabda: Demi zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya kamu tidak berbuat dosa, pasti Allah membinasakan kalian. Lalu Dia ciptakan makhluk yang berbuat dosa lalu mereka beristighfar kepada Allah dan Dia mengampuni mereka. "(HR Muslim)

Cara pandang terakhir ini dan yang sebelumnya adalah cara pandang yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya. Kedua .cara pandang itu adalah milik kalangan khawash. Perhatikan betapa jauh perbedaan keduanya dengan cara pandang pertama. Kedua cara pandang ini menghempaskan hamba ke depan pintu mahabbah 'cinta kasih' dan membukakan baginya banyak makrifat (pengetahuan) dan ilmu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ini adalah salah satu pintu makrifat yang agung. Sedikit orang yang membukanya; yakni mengakui hikmah yang luar biasa dari adanya maksiat dan perbuatan-perbuatan kotor.

Saturday, January 2, 2016

Ancaman, Adzab Pelaku Bunuh Diri dalam Al-Qur’an dan Hadits

Ancaman, Adzab Pelaku Bunuh Diri dalam Al-Qur’an dan Hadits

Bunuh diri atau dalam bahasa kerennya adalah Tentament Suicide adalah suatu upaya untuk membunuh diri sendiri dengan cara-cara tertentu. Ada yang bunuh diri dengan cara gantung diri, bunuh diri dengan cara memotong urat nadi, bunuh diri dengan cara terjun atau menjatuhkan diri dari lantai atas, bunuh diri dengan cara minum racun, bunuh diri dengan cara menikam diri sendiri,menembak diri sendiri dengan benda tajam, dan berbagai cara bunuh diri yang lain.

Bagaimana Ancaman, Adzab dan Hukuman bagi pelaku bunuh diri dengan masing-masing cara tersebut?

Mengenai bunuh diri, Allah swt. telah berfirman di dalam  Al-Qur’an dalam surat An-Nisa ayat 29-30 yang berbunyi:

وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا. وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ عُدۡوَٰنٗا وَظُلۡمٗا فَسَوۡفَ نُصۡلِيهِ نَارٗاۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرًا

Artinya: Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. An-Nisa': 29-30).

http://islamiwiki.blogspot.com/
Menafsirkan ayat di atas, sebagian besar ulama, Ibnu Abbas, Al-Wahidiy menjelaskan maksud dari “ dan janganlah kamu membunuh dirimu “, menafsirkan bahwa janganlah sebagian kamu membunuh sebagian yang lain atau dalam kata lain saling membunuh, karena kita adalah pemeluk agama yang satu dan kita bagaikan satu tubuh.

Sedangkan beberapa ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “ dan janganlah kamu membunuh dirimu “ adalah membunuh diri sendiri atau dalam kata yang singkat bunuh diri.

Pendapat di atas didukung atau didasarkan pada dalil hadits Nabi Muhammad saw. Yang diriwayatkan dari Abu Manshur Muhammad bin Muhammad al-Manshuriy dari’Amru bin Al-‘Ash. Beliau mengatakan: pada satu malam yang dingin, di dalam peperangan Dzatu Salasil, saya mimpi basah. Saya khawatir apabila saya mandi nanti bisa celaka. Karena itu,saya hanya bertayammum, kemudian mengerjakan sholat shubuh bersama para sahabat yang lain. Kemudian kejadian itu aku ceritakan kepada Nabi. Beliau mengatakan: Wahai ‘Amru, engkau sholat dengan para sahabatmu, sedangkan engkau dalam keadaan junub?.

Maka, saya kemudian menyampaikan kepada beliau alasan sehingga aku tidak mandi wajib. Saya berkata: saya mendengar firman Allah:

وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا

Artinya: Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Maka Nabi saw. Pun tertawa dan tidak berkata apapun. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad-Daruquthni dan Al-Hakim, dan di shahihkan oleh Asy-Syaikh dalam Al-lrwa ).

http://islamiwiki.blogspot.com/
Dalam riwayat hadits tersebut di atas, sahabat ‘Amru bin Al-Ash telah mentakwilkan ayat al-Qur’an dengan kebinasaan dirinya, dan bukan diri orang lain. Dan Nabi Saw. Tidak membantahnya.

Ibnu Abbas menafsirkan lanjutan dari firman Allah di atas, yang artinya: Dan barangsiapa yang berbuat demikian…beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan berbuat demikian itu adalah semua larangan dari Allah swt. Yang telah diterangkan sejak dari awal surat.

Pendapat dari sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu kembali kepada memakan harta orang lain secara batil dan membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah swt.


Ancaman dan Adzab bagi pelaku bunuh diri

Diharamkan masuk surga dan kekal di dalam neraka dengan siksa sesuai cara bunuh dirinya.

Jundub bin Abdullah berkata, Nabi saw. Bersabda:

كان فيمن كان قبلكم رجل به جرح فجزع فأخذ سكّينا فحزّ بها يده فما رقأ ادّم حتّى مات قال الله تعالى بادرني عبدي بنفسه حرّمت عليه الجنّة

Artinya: dahulu pada umat sebelum kalian, ada seorang lelaki yang terluka. Dia tidak sabar, kemudian dia mengambil pisau dan ia potong sendiri tangannya. Belum lagi darahnya kering, orang itu pun meninggal dunia. Kemudian Allah ta’ala berkata: hamba-Ku telah mendahului Aku dengan nyawanya, maka aku haramkan baginya Surga. (Shahih HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Juga dalil hadits yang lain :

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. Bersabda: Barangsiapa yang membunuh dirnya dengan benda tajam, maka nanti di jahannam benda it akan ditusuk-tusukkanya ke perutnya dan dia kekal di dalamnya. Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan racun, maka kelak di jahannam dia akan memegang racun itu dengan tangannya kemudian menghirupnya dan dia kekal di dalamnya. Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan terjun dari puncak gunung, maka kelak dia akan terjun ke dalam neraka jahannam dan dia kekal didalamnya. (Shahih. HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Dalam riwayat hadits yang lain, Tsabit bin Dlahhak meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:

من قتل نفسه بشيء عذب به في نار جهنّم ولعن المؤمن كقتله ومن رمى مؤمنا بكفر فهو كقتله

Artinya: Barangiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu maka nanti di akan disiksa dengan sesuatu itu di neraka jahannam. Melaknat seorang mukmin itu sama saja dengan membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang mukmin sebagai seorang kafir sama saja dia telah membunuhnya. 5hal]f/] D1riwayatkan oleh Al· Bukhari (6105) dan Muslim (110)

Dalam sebuah dalil hadits Shahih juga dijelaskan bahwa ada seorang lelaki yang tidak sabar karena menahan rasa sakit karena luka dari medan perang. Kemudian dia membunuh dirinya sendiri dengan menggunakan matap pedangnya. Kemudian Rasulullah saw. Bersabda:

“Dia termasuk penghuni neraka”  (HR. Al·Bukhari Muslim dari Sahal bin Sa'ad)

Sesulit apapun kehidupan dan cobaan dalam hal penyakit dan apapun semuanya datangnya dari Allah dan merupakan ketentuan dari-Nya. Manusia hanya menjalani kehidupan yang sudah digariskan kepada setiap makhluknya. Semoga dengan ridha, rahmat dan hidayah Allah akan selalu membawa kita kepada jalan kebenaran serta melindungi diri kita dari kejahatan diri dan keburukan amal di antaranya perbuatan bunuh diri. Sesungguhnya Allah swt. adalah Maha segala-galanya.
Hukum dan Ancaman Dusta Pada Allah dan Rasul-Nya

Hukum dan Ancaman Dusta Pada Allah dan Rasul-Nya


Firman Allah swt. dalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 60 yang berbunyi:

وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تَرَى ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى ٱللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسۡوَدَّةٌۚ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡمُتَكَبِّرِينَ

Artinya: Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. (Az-Zu mar: 60)

Baca juga Hari kiamat

Terkait dengan ayat di atas, al-hasan mengatakan : mereka adalah orang-orang yang berkata, apabila kami mau kami pasti melakukannya dan apabila kami tidak mau maka kami tidak melakukannya.

http://islamiwiki.blogspot.com/
Mengenai hal-ihwal berdusta atau berbohong kepada Allah swt dan Rasulullah saw., sekelompok ulama berpendapat bahwa dusta atau bohong kepada Allah dan Rasulullah adalah merupakan perbuatan kufur. Sehingga dengan demikian mereka telah keluar dari Millah atau keluar dari Agama Islam.

Terdapat berbagai macam perbuatan dusta atau kebohongan. Namun, sudah tidak disangsikan lagi ketika berdusta atau kebohongan terhadap Allah swt. dan Rasulullah saw. dalam perkara menghalalkan yang haram dan sebaliknya mengharamkan yang halal adalah benar-benar perbuatan kufur.

Akan tetapi, bagaimana hukumnya berdusta atau kebohongan kepada Allah dan Rasulullah dalam masalah dan perkara yang lain?

Mengenai perkara di atas, berikut ini adalah dalil-dalil hadits dari Nabi Muhammad saw.

Rasulullah bersabda:

Dalil sabda Nabi yang lain:

من روى عنّي حديثأ يرى أنّه كذب فهو أحد الكاذبين

Artinya: barangsiapa meriwayatkan sebuah hadits dariku namun dia berpendapat bahwa isinya adalah dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta. (HR. Muslim, Ibnu Hibban Al-Majruhin dan Ath-Thayalisi, Ahmad, Ibnu Majah dan Samurah)

Dalam Hadits yang lain yang berbunyi:

إن كذبا عليّ ليس ككذب على أحد فمن كذب عليّ متعمّدا فليتبوّأ مقعدة من الناّر

Artinya: sesungguhnya berbuat dusta terhadapku itu tidak sama dengan berbuat dusta terhadap selain dari-ku. Barangsiapa dengan sengaja berbuat dusta terhadapku, hendaklah dia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dan Hadits Mughirah bin Syu'bah)

Dalil hadits sabda yang lain:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ كِذْبَةً مُتَعِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ /َضْجَعًامِنَ النَّارِ اَوْ بَيْتًا فِيْ جَهَنَّمَ


Artinya : barangsiapa berdusta terhadap diriku dengan sengaja, hendaklah bersiap-siap menempati tempat berbaring dari api neraka atau sebuah rumah di jahannam. (Sanadnya shahih HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Ibnu Hibban)

Juga Sabda Nabi yang artinya: Barangsiapa mengatakan sesuatu darik u padahal aku tidak mengatakannya hend aklah ia bersiap-sia p menempati tempat duduknya dari api neraka. (HR. Al-Bukhari dari Salamah)

Juga dalil hadits Nabi yang lain:

من كذب عليّ متعمّدا فليتبوّأ مقعده من النّار

Artinya: barangsiapa dengan sengaja berbuat dusta terhadapku, hendaklah dia bersiap-siap menempati tempat duduknya dari api neraka. (Hadits Mutawatir-Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath diriwayatkan oleh lebih dari seratus dua puluh orang. Dan Asy-Syaikh Al-Albani telah menyebutkan dalam Shahih Al-Jami' sebanyak 63 orang.)

Berdasarkan dalil-dalil hadits Nabi di atas, menerangkan bahwa, ancaman bagi mereka yang berdusta kepada Rasulullah Muhammad saw. maka ancaman bagi mereka adalah menempati tempat duduk dari api neraka, mendapatkan tempat berbaring dari api neraka dan sebuah tempat di neraka jahannam. Naudzubillah min dzalik.

Hadits Nabi yang lain tentang dusta atau kebohongan terhadap Nabi:

يطبع المؤمن على الخلال كلّها إلاّ الخيانة والكذب

Artinya: Setiap mukmin itu diciptakan dengan beragam perangai kecuali khianat dan dusta. (HR. lbnu Adi, Al-Bazzar, Kasyf,  Abu Ya’la, lbnu Abi Dunya dalam Ash,, Ad-Daruquthni, Al-Ba1haqi, As-Sunan, dan lbnul Jauzi)

Jelaslah sudah dari penjelasan dan keterangan-keterangan di atas, segala macam bentuk dusta atau kebohongan terhadap Allah dan Rasulullah akan hal-hal yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram adalah perbuatan kufur. Dan segala macam bentuk dusta dalam perkataan terhadap Rasulullah adalah, ancaman bagi mereka adalah tempat duduk dari api neraka, tempat berbaring dari api neraka, dan sebuah tempat di neraka jahannam. Wallahu a’lam

Tuesday, December 29, 2015

Ancaman, Dosa, Siksa dari Percikan Air Seni

Ancaman, Dosa, Siksa dari Percikan Air Seni

Dalam Islam, Air seni atau air kencing (manusia) itu adalah najis, dan apabila tubuh,pakaian atau suatu tempat terkena air seni maka hukumnya adalah wajib untuk mensucikan tubuh, pakaian tempat yang mengenainya baik itu tubuh, pakaian, wadah, tanah, atau selainnya.

Selain kewajiban untuk mensucikan hadits dari air kencing manusia, terdapat perkara yang lebih mejadi fokus perhatian kita yaitu akibat-akibat, ancaman, dosa, serta siksaan yang dapat diterima kepada seseorang karena tidak menjaga,, menyepelekan bersuci dari percikan air seni atau air kencing.

Apa saja akibat, ancaman, dosa, serta siksa bagi mereka yang tidak bersuci dari najis percikan air seni atau air kencing?

Berikut ini adalah beberapa dalil baik dari al-Qur’an dan dalil hadits Nabi Muhammad saw. yang menerangkan berbagai macam ancaman, akibat-akibat yang diterima, dosa, serta siksa bagi mereka yang menyepelekan dan tidak menjaga diri dari kebersihan atau bersuci najis air kencing

Dalil firman Allah swt. di dalam al-Qur’an yang berbunyi:

 وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ

Artinya: dan pakaianmu bersihkanlah. Q.S. al-Muddatstsir ayat 4.

Mendapat Siksa atau adzab di alam kubur

http://islamiwiki.blogspot.com/
Dalil hadits Nabi saw. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata: suatu hari Nabi saw. berjalan melewati dua buah kuburan, kemudian beliau Nabi berkata:

إنّهما ليعذّبان وما يعذّبان في كبير أمّا أحدهما فكان يمشي بالنّميمة وأما الأخر فكان لا يستبرئ من البول

Artinya: kedua penghuni kuburan ini sedang diadzab. Mereka disiksa bukan karena telah mengerjakan dosa besar, yang seorang suka mengadu domba kesana-kemari, sedangkan yang satunya lagi tidak menjaga diri dengan seksama terhadap air seni. (Hadits Shahih., HR. Al-bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad dari Ibnu Abbas)


Juga dalil Hadits Nabi Muhammad saw. beliau bersabda yang artinya: jagalah diri dengan seksama terhadap air seni, sesungguhnya kebanyakan adzab kubur itu disebabkan olehnya. (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthnr dari Abu Hurairah, lbnu Abi Syaibah, lbnu Majah, Ad-Daruquthni Al-Ajum dalam Asy-Syari'ah, dan Al-Hakim. Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Adz­ Dzahabi dan Al-Albani)

Shalat yang tidak sah

Hal yang sudah bukan rahasia umum lagi bagi kita kaum Muslim, bahwa seseorang yang tidak dapat menjaga diri, tubuh, dan pakaiannya dari air kencing atau seni maka shalatnya tidak sah dan tidak diterima karena tidak terbebas dari najis atau hadats.


Menjadi penghuni neraka dan menambah beban siksa penghuni neraka lainnya

Diriwayatkan Al-Hafizh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’ meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah saw, bersabda: Empat kelompok penghuni neraka yang akan mengganggu para penghuni neraka lainnya dikarenakan siksaan yang mereka terima. Mereka beringsut di antara hamim (cairan panas mendidih) dan jahim (nyala api yang berkobar-kobar), sembari berteriak-teriak mengeluarkan sumpah serapah. Para penghuni neraka lainnya saling bertanya kepada sesama mereka. Kenapa mereka itu mengganggu kita yang menambah beban siksaan kita saja. Keempat orang itu, yang pertama seseorang di atas kepalanya terdapat peti bara api, kedua seorang yang berjalan sambil menyeret ususnya, ketiga seorang yang mengalir nanah dan darah dari mulut mereka. Dan keempat, seorang yang memakan daging tubuh mereka sendiri.

Rasulullah saw. melanjutkan, para penghuni neraka akan bertanya-tanya tentang orang yang memikul peti bara api di atas kepalanya. Mengapa orang jahat itu mengganggu kita yang hanya menambah beban hukuman saja? pertanyaan ini dijawab: orang jahat itu mati sambil membawa beban harta manusia di lehernya. Lalu mereka akan menanyakan tentang orang yang berjalan sembari menyeret usus mereka. Mengapa orang jahat itu mengganggu kita yang hanya menambah beban hukuman saja? pertanyaan ini dijawab: orang jahat itu adalah orang yang tidak mempedulikan dimana air seninya mengenai (badan atau pakaiannya) dan tidak menyucinya. Kemudian mereka bertanya soal orang yang mengalir nanah dan darah dari mulut mereka. Mengapa orang jahat itu mengganggu kita yang hanya menambah beban hukuman saja? pertanyaan ini di jawab: orang jahat tersebut adalah orang yang dahulu mendapati kata-kata buruk dan dia tidak menikmatinya. (dalam riwayat hadits lain menyatakan, mereka dulunya makan daging manusia dan berjalan sambil mengadu domba. Kemudian mereka menanyakan tentang orang yang memakan daging tubuh mereka sendiri. Mengapa orang jahat itu mengganggu kita yang hanya menambah beban hukuman saja? pertanyaan ini dijawab: orang tersebut adalah orang yang dulunya makan daging manusia (berbuat menggunjing atau ghibah). (HR. lbnu Abt Dunya, Abu Nu'aim, Ath­ Thabrani Kabir dan lbnul Mubarak)


Dari keterangan dalil-dalil di atas, maka tampak jelas keterangan-keterangan yang dapat kita ambil bahwa dari hal yang kecil hanya karena tidak dapat menjaga diri dari kotoran atau percikan air seni atau air kencing yang menempel pada tubuh, pakaian atau tempat kita hal ini dapat berdampak pada tidak sahnya sholat, malapetaka yang besar antara lain siksa siksa kubur serta siksa api neraka dan bahkan hanya menjadi beban tambahan siksa bagi penghuni neraka lainnya.

Mari kita berhati-hati dengan air seni atau air kencing. Ketahuilah mereka air seni dapat berperncar dan terpisah sehingga percikannya dapat mengenai bagian tubuh, pakaian  atau tempat yang kita tinggali. Hendaknya kita selalu memohon ampunan, kesejahteraan dan kemurahan dari Allah swt.