Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Doa dan Obat. Show all posts
Showing posts with label Doa dan Obat. Show all posts

Monday, November 28, 2016

Sembuh dari Leukemia dengan Kekuatan Doa

Sembuh dari Leukemia dengan Kekuatan Doa

Pada suatu kali teman seorang penulis buku Keajaiban Doa yang bernama lengkap Safni Sari Dewi menderita penyakit aneh yang dirasakan bersarang di perutnya, dan mengalir dalam bentuk darah haid yang tiada henti mengucur setiap hari. Bahkan, kasur yang ditidurinya di malam hari pun basah kuyup karena pendarahan tersebut. Lebih menyedihkan lagi darah itu tidak hanya mengalir bagai air, melainkan keluar berbongkah-bongkah sebesar jari tangan, sehingga mengharuskan Dewi menarik bongkahan itu keluar dari tempat asalnya. Hal itu membuat Dewi tidak bisa bergerak, tubuhnya lemah, dan dia hanya mampu tidur telentang di atas kasur. Kalau dia bergerak miring sedikit saja, maka darah akan berlomba mengalir keluar.

Dewi dilarikan ke rumah sakit di Batam oleh keluarganya, kemudian pindah ke sebuah rumah sakit di Solok Selatan, Sumatera Barat, hingga akhimya di sebuah rumah sakit di Padang. Berkantung-kantung darah telah disuntikkan dokter ke tubuh Dewi. Berjuta rupiah habis demi pengobatannya. Tapi tidak satu pun dari ahli medis di banyak rumah sakit itu yang mampu menyembuhkannya secara total. Dewi hanya sempat merasa segar sesaat setelah mendapat suntikan darah, namun beberapa saat kemudian merasa lesu kembali.

Jawaban yang diterima mengenai diagnosis penyakit Dewi dari setiap dokter yang menanganinya selalu berbeda-beda. Bahkan, ada ahli medis rumah sakit yang mendiagnosis penyakitnya adalah leukemia, sedangkan yang lain menyebutkan kanker rahim. Juga ada yang mengharuskan tulang dadanya dibor untuk mengetahui lebih jauh jenis penyakitnya. Ada pula yang memvonis Dewi keguguran. Tentu saja hal ini membuatnya kaget. Pertama, dia masih gadis dan tidak pernah berzina. Ia bahkan tidak pernah berpacaran dengan siapa pun. Vonis dokter tidak hanya membuatnya hilang harapan sembuh, tapi juga melukai perasaannya begitu rupa. Kedua, jika dilakukan pengeboran tulang dadanya karena anggapan adanya penyakit lain yang bersarang di tubuh mungilnya, Dewi merasa akan menjadi kelinci percobaan para insan medis saja, tanpa mendapat kepastian akan kesembuhannya. Apalagi alasan pengeboran itu pun tak jelas. Bisa dibayangkan betapa mirisnya hati Dewi ketika membayangkan tubuhnya harus dibongkar tanpa kepastian yang jelas mengapa itu harus dilakukan.

Dewi juga sempat apatis dapat terus hidup. Namun, bila benar-benar terjadi, dia merasa belum siap. Banyak hal yang belum diselesaikannya, terutama pengabdian kepada kedua orang tuanya yang menginginkannya menikah di usianya yang sudah kepala dua (28 tahun). Belum lagi pengabdian untuk agama yang masih sekadarnya saja dilakukan. Dia merasa belum siap bertemu Allah SWT.

Namun, Allah SWT tiada pemah jauh dari hamba-Nya. Apalagi hamba-Nya yang sebaik Dewi. Meski tidak tergolong muslimah yang taat, Dewi seorang yang tulus dan pemurah dengan membantu sesama. Akhimya, pertolongan pun datang dari seorang tabib yang dicari ayahnya ke salah satu sudut kota Padang. Ayahnya tidak tega mendengar tulang dada anaknya akan dibor. Ada keheranan di hati ayahnya, mengapa setiap adzan berkumandang di masjid rumah sakit di Padang (rumah sakit tempat terakhir Dewi dirawat), penyakit Dewi mendadak hilang. Ayahnya berpikir ada yang tidak beres dengan penyakit Dewi atau penyakit Dewi adalah penyakit kiriman atau gangguan dari setan.

Benar saja, dari analisis tabib pun diketahui kalau penyakit Dewi akibat ulah jin yang marah karena Dewi pernah menumpahkan air panas ke lubang pembuangan air kotor di kamar mandinya di Batam, tanpa permisi. Seharusnya ketika Dewi melakukan hal itu,dia mengucapkan asma Allah SWT atau membaca "astagfirullah ‘al ‘azhim”, agar jin yang berkumpul di tempat itu pergi. Entah dari mana tabib itu bisa menebak perihal yang dibenarkan oleh Dewi, bahwa dia pemah menumpahkan air panas ke lubang pembuangan kamar mandi kosnya di Batam seusai meracik mi rebus.

Sejak diobati sang tabib, kondisi Dewi mulai membaik dan akhirnya sembuh. Namun, Dewi masih lalai dalam melaksanakan kewajibannya pada Sang Khalik, dan kurang berdzikir, sehingga dia pun masih kerap ‘didatangi’ oleh penyakitnya itu. Sekian lama sang penulis Buku Keajaiban Doa berpisah dengan Dewi karena bekerja di kota yang berbeda. Secara tidak sengaja, mereka bertemu di Padang. Sang Penulis Buku tersebut yakin ini masih bentuk pertolongan Allah SWT buat Dewi dan sang penulis.

Baca juga
Kapankah sebaiknya berdzikir?
Dzikir Pelindung dari api neraka
Pengertian dan hakikat Dzikir

Memang, semula Dewi tidak ingin dihubungi oleh teman-temannya karena merasa malu dan takut semakin down bila mendapatkan perhatian, atau rasa empati dari siapa pun yang mengenalnya. Dewi merasa semakin tergiring pada gerbang kematian yang belum sanggup disongsongnya. Salah seorang adik Dewi justru berpikir sebaliknya. Jika Dewi bertemu dengan teman-temannya, apalagi bertemu sahabat dekatnya (yaitu sang penulis), itu akan membantu kesembuhannya dan akan membuatnya melupakan penyakitnya, sehingga semangat untuk sembuh. Adik Dewi lah yang menghubungi sang penulis secara diam-diam melalui telepon genggamnya. Lalu meminta sang penulis merahasiakan hubungan telepon kami saat itu.

Sang Penulis sangat kaget dan prihatin begitu mengetahui kondisi Dewi. Penulis langsung menanyakan di mana Dewi dirawat. Keesokan harinya penulis langsung mendatangi rumah sakit tempat Dewi dirawat. Dalam benak kepala penulis, sudah terpahat keinginan mengajarkan doa untuk kesembuhan itu kepada Dewi. Kemudian bertemulah mereka, saling melepas kangen dan saling bercerita.

Bagi sang penulis, apa yang diceritakan Dewi panjang-lebar membuat penulis menjadi hamba yang kian bersyukur kepada Allah SWT, karena tidak mengalami penyakit berat seperti yang dialaminya. Pertemuan itu pun memberi hikmah, bahwa Allah SWT terus membukakan kesempatan kepada sang penulis untuk menambah pahala dengan menyampaikan hadis pengobatan yang penulis ketahui kepada Dewi. Bagi Dewi, pertemuan itu pun ikut mengubah hidupnya. Dia ikut mempraktikkan anjuran penulis tentang pengobatan ala Islami tersebut, di samping dengan rajin berdzikir, tepat waktu dalam beribadah, serta memperbanyak ibadah sunah.

Baca juga
Pengertian Syukur dan macamnya
Cara bersyukur dengan hati, lisan dan perbuatan
Bacaan dan Doa sujud syukur
Macam dan pembagian syukur nikmat

Tiap kali Dewi merasakan kelainan di badannya, dia langsung ingat untuk melafalkan doa kesembuhan yang diajarkan Rasul SAW, lalu menambahkannya dengan dzikir-dzikir. Dia sangat yakin kalau penyakit atau kelainan apa pun yang dideritanya sejak vonis leukemia itu datangnya pasti karena ulah setan. Doa kesembuhan dan dzikir menjadi satu-satunya jalan untuk lepas dari belenggu berbagai penyakit tersebut. Alhamdulillah, mereka berdua kini Insya Allah tidak lagi berkutat dengan penyakit.

Baca Juga
Bacaan Dzikir sholat lengkap

Kini sang penulis dan Dewi tengah sama-sama berusaha menyiarkan apa yang mereka ketahui. Kadang sang penulis ikut mengobati teman yang sakit manakala mereka masih belum yakin pada kekuatan doa itu. Apapun itu, yang penting sang penulis sudah menjalankan kewajiban penulis untuk membagikan ilmu kepada mereka. Bukankah ilmu akan bermanfaat bila dibagi dan dipraktikkan kepada orang lain?

Sunday, November 27, 2016

Cerita dan Kisah Nyata Keajaiban Doa

Cerita dan Kisah Nyata Keajaiban Doa

Pada artikel berikut ini akan diceritakan mengenai cerita-cerita atau kisah-kisah nyata mengenai keajaiban suatu doa bagi para pendoanya. Cerita-cerita atau kisah-kisah berikut ini adalah apa yang dialami seorang penulis dari sebuah buku tentang keajaiban doa dan juga kisah-kisah nyata yang dialami oleh orang-orang terdekat dari penulis buku tersebut.

Pada suatu hari penulis buku tersebut berkunjung ke rumah seorang kerabat. Secara tidak sengaja penulis menemukan buku setebal 500-an halaman berjudul Kumpulan Doa Berdasarkan Hadits dan Al-Qur’an. Sayangnya, penulis itu lupa nama pengarang buku itu. Namun, yang pasti buku itu telah mengubah hidup penulis begitu rupa.

Didorong rasa keingintahuan yang besar, terutama yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan agama Islam, buku bersampul coklat polos tersebut langsung memikat hati sang penulis. Penulis pun membuka lembar demi lembar halaman buku itu. Mata penulis tertumbuk pada beberapa hadis dan ayat Al-Qur’an mengenai hal yang tengah penulis minati. Misalnya, pengetahuan seputar masalah perempuan.

Setelah menyibak halaman demi halaman buku tersebut, penulis terkesima pada satu halaman yang berisikan hadis mengenai obat dari segala penyakit, atau cara menyembuhkan diri dari penyakit. Dada penulis berdentum hebat. Inilah jawaban terbesar yang penulis cari selama hidup. Didorong perasaan tak sabar, segera penulis menelusuri satu demi satu tulisan dalam buku itu. Usai membacanya, rasa lega menyelimuti sanubari penulis, dan saking bahagianya tiba-tiba mata berkaca-kaca. Rasanya, sulit dilukiskan.

Tidak ada satu bahasa mana pun di dunia ini yang dapat menjelaskan isi hati penulis ketika itu. Sebab, apa yang puluhan tahun menindih batin sang penulis kini telah terlepas seketika. Seakan apa yang menyumbat kerongkongan lumer sehingga membuat penulis dapat bernapas dengan plong. Ibarat bisul yang pecah, beban yang penulis rasakan tinggal hanya menyisakan bekas semata. Bekas itu pun tidak lama lagi akan menghilang tanpa jejak.

Bagaimana tidak, hadis itulah pelita hidup penulis ke depan. Hadis itulah yang mengubah perjalanan hidup penulis begitu drastis. Sebelum membaca hadis itu, penulis mudah sekali jatuh sakit, terutama sakit pencernaan atau masalah lambung. Sang Penulis dapat jatuh sakit hanya karena sedikit kesibukan. Bahkan banyak berpikir membuat penulis seperti orang kehilangan tenaga, apalagi menganalisis suatu hal yang berat. Stres, dapat saja menyebabkan penulis diboyong ke rumah sakit, minimal berobat kepada dokter keluarga yang sejak balita merawat penulis. Sebagai perempuan aktif, hal itu tentu sangat menyiksa, terkurung dalam ketidakberdayaan.

Sakit tersebut membuat penulis merasa tidak akan menjadi siapa-siapa. Namun, setelah membaca hadis itu hati penulis menjadi tenang. Garis-garis harapan mulai terukir di kepala penulis. Penulis merasa bagai seorang yang lepas bebas setelah sekian lama terpenjara dalam jeruji penyakit. Kesabaran sang penulis selama ini telah berbuah manis. Dia berkata, Terima kasih, ya Allah SWT.

Sebagaimana instruksi dalam hadis tersebut, penulis mempraktikkannya, terutama kala dilanda sakit, dengan cara memegang bagian yang sakit, lalu membaca doa yang dianjurkan dalam buku itu. Sayang, penulis tidak ingat lafal Arabnya.

Alhamdulillah, penulis dikaruniai Allah SWT ingatan yang kuat dalam hafalan bahasa Indonesia. Penulis mengingat arti doa tersebut berbunyi:

“Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Engkau ya Allah SWT, aku berlindung dalam kekuasaan-Mu ya Allah SWT dari kejahatan penyakit ini. Amin.”

Saat penulis membaca terjemahan doa itu, penulis menyentuh atau kadang-kadang mengusap-usap bagian tubuh yang sakit, lalu melepaskannya ketika doa usai dilafalkan. Penulis melakukan hal itu dalam hitungan ganjil: tiga, lima, atau tujuh.

Menakjubkan, sakit yang penulis rasakan hilang seketika. Sejak itu, penulis selalu merasa fit, dan hati penulis pun kian merasa dekat dengan-Nya. Momok dalam hidup semenjak kecil hingga menginjak usia 35 tahun yang penulis rasa, telah dilepaskan-Nya secara sempurna.

Semua hal itu terjadi di luar logika dari sang penulis. Dahulu jika sakit, pikiran penulis selalu tergiring pada satu kewajiban yaitu bertemu dokter, lalu meminum obat. Namun, sejak menemukan dan mempraktikkan doa itu, penulis seolah tidak membutuhkan dokter mana pun di dunia ini. Dokter keluarganya pernah berkata, “Kamu bakal sakit ini terus sampai tua kalau tidak ada obatnya...”. tapi kini hal itu menjadi kenangan belaka. Alhamdulillah, hingga kini doa itu pun telah membantu banyak orang, terutama orang-orang di sekitar penulis. Doa itu juga mengubah hidup beberapa teman penulis, salah satunya teman karib yang masih seorang gadis. Gadis yang pernah merantau ke Batam ini sempat menjadi korban kejahatan setan, dan sembuh dengan membaca doa tersebut.

Saturday, November 26, 2016

Orang-Orang yang didoakan oleh MALAIKAT

Orang-Orang yang didoakan oleh MALAIKAT

Selain manusia, malaikat ternyata juga berdoa. Perbedaannya adalah para malaikat berdoa bukan untuk dirinya, tetapi untuk kesejahteraan dan kebaikan manusia. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:

وَقَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَلَدٗاۗ سُبۡحَٰنَهُۥۚ بَلۡ عِبَادٞ مُّكۡرَمُونَ ٢٦ لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ ٢٧ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ ٢٨

Artinya: Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa´at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya (QS. Al-Anbiya, 21: 26-28)



Berikut ini adalah orang-orang yang didoakan oleh para malaikat, sebagaimana ditulis Syekh Fadhlullah dalam bukunya yang berjudul Orang-Orang yang Didoakan Malaikat (2005), antara lain:

Orang yang duduk menunggu shalat. 

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya, ’Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.’” (Shahih Muslim, hadis no. 469).

Orang yang mengucapkan Amin dalam Sholat

Para malaikat mengucapkan, ’’Amin” ketika imam shalat selesai membaca al-Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: ’’Jika seorang imam membaca, ’ghairil maghdhubi ’alaihim wa ladhalin’, maka ucapkanlah oleh kalian, ’amin’, karena barang siapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.” (Shahih al-Bukhari, hadis no. 782).

Orang-orang yang melakukan shalat Subuh dan Ashar berjamaah 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: ’’Para malaikat berkumpul pada saat shalat Subuh, lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga Subuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat Ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat Ashar) naik (ke langit), sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ’Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’ Mereka menjawab, ’Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat, dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.’” (Al-Musnad, hadis no. 9140; Syekh Ahmad Syakir menganggap shahih hadis ini).

Orang yang berdiri di shaf bagian depan ketika shalat. 

Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ’Azib RA menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: ’’Sesungguhnya Allah dan para tnalaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan.” (Hadis ini di-shahih-kan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, 1/130).

Orang yang menyambung shaf sholat

Orang yang menyambung shaf, dengan tidak membiarkan shaf shalat terputus atau adanya kekosongan di dalam shaf. Imam Ahmad, Ibnu M ajali, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim meriwayatkan dari ’Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW berkata: ’’Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.” (Hadis ini di-shahih-kan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, V212).


Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ’’Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu di antara kalian selama berada di dalam tempat melakukan shalat, dalam keadaan belum batal wudhunya, mereka (para malaikat) berkata, ’Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.’” (Al-Musnad, hadis no. 8106; Syekh Ahmad Syakir menganggap shahih hadis ini).

Orang yang ketika hendak tidur dalam keadaan suci. 

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin ’Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa, ’Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (Hadis ini di-shahih-kan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, 1/37).

Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. 

Diriwayatkan Imam Muslim dari Ummu Darda’ RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata, ’Amin,’ dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” (Shahih Muslim, hadis no. 2733).

Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. 

Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Abu Umamah al-Bahily RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: ’’Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya, dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (Di-shahih-kan oleh Syekh al-Albani dalam kitab Shahih at-Tirmidzi, 11/343).

Orang yang makan sahur

Imam Ibnu Hibban dan Imam ath- Thabrani meriwayatkan dari Abdullah bin ’Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: ’’Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (Hadis ini di-shahih-kan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, 1/519).

Orang-orang yang berinfak

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: ’’Tidak satu pagi hari pun yang dilalui oleh seorang hamba kecuali dua malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, ’Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak,’ dan yang lainnya berkata, ’Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit.’” (Shahih al-Bukhari, hadis no. 1442; dan Shahih Muslim, hadis no. 1010).

Orang yang menjenguk orang sakit

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda: ’’Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore, dan di waktu malam kapan saja hingga Subuh.” (Al-Musnad, hadis no. 754; Syekh Ahmad Syakir berkomentar tentang hadis ini, ’’Sanadnya shahih”).

Malaikat dikenal sebagai mahkluk Allah SWT yang tidak mempunyai nafsu, kecuali hanya mengerjakan kebaikan. Jika kita beruntung sebagai orang-orang yang didoakan oleh para malaikat, sudah dapat dipastikan Allah SWT akan mengabulkannya, karena doa para malaikat itu tulus dan hanya berisi kebaikan. Semestinya kita dapat memanfaatkan 11 momen di atas, baik ketika berdoa bagi diri sendiri, juga orang lain. Subhanallah……
Banyak Dosa, Layakkah untuk Berdoa?

Banyak Dosa, Layakkah untuk Berdoa?

Orang-orang yang merasa mempunyai banyak dosa dan telah melampaui batas merasa dirinya tidak layak berdoa, atau berpikir bahwa apabila berdoa akan sia-sia. Mereka meyakini bahwa meskipun bersusah-payah dan sering berdoa, tetap saja doanya akan tertolak atau tidak terkabul. Benarkah demikian?
Pada artikel sebelumnya dikatakan bahwa doa-doa yang ditolak atau tidak dikabulkan tidak lantas berarti seorang hamba tidak boleh lagi berdoa. Justru hal tersebut harus menjadi motivasi yang lebih kuat untuk membenahi diri dan menghindari hal-hal yang menyebabkan doa tidak ditanggapi oleh Allah SWT. Apabila kita menyadari telah berbuat salah atau dosa, tentu kita tidak ingin terus tenggelam dalam kubangan dosa, bukan?

Baca juga
Penghalang terkabulnya doa 
Penyebab doa tidak dikabulkan
Doa yang dikabulkan

Permintaan apapun wajar saja disampaikan kepada Sang Pencipta. Sebab hanya Dia yang dapat mewujudkan apa pun. Setiap manusia harus menanamkan dalam kalbunya bahwa Allah SWT itu Maha Pengasih kepada hamba-Nya, lebih penyayang dari siapa pun, bahkan lebih penyayang daripada sayang manusia kepada dirinya sendiri.

Hal yang pertama kali harus dilakukan oleh manusia adalah berbaik sangka kepada Allah SWT, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Agung, yang rahmat-Nya teramat luas bagi hamba-Nya. Meskipun manusia sering kali berbuat dosa dan durhaka, ampunan Allah SWT jauh lebih melimpah dari dosa-dosa yang dilakukan manusia.

Firman Allah SWT menegaskan akan hal ini, yaitu:

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ

Artinya: Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (QS. An-Naml, 27: 62)

Ingatlah, hanya Allah SWT saja yang dapat dijadikan sebagai tempat berkeluh-kesah, atau sandaran bagi manusia. Dengan memahami prinsip ini, setiap hamba diharapkan dapat segera kembali ke jalan Allah SWT, meski sejauh apa pun ia telah melenceng dari koridor ajaran Allah SWT. Kepasrahan seorang hamba kepada Allah SWT tentu saja tidak akan sia-sia. Kepasrahan itu akan berbuah ketulusan dan kebersihan hati dari berbagai macam penyakit dan kerusakan hati yang disebabkan oleh penghambaan kepada selain Allah SWT.

Orang yang bertakwa maupun yang durhaka kepada Allah SWT sesungguhnya sama-sama berhak mengejar rahmat-Nya, sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an:

هُوَ ٱلَّذِي يُسَيِّرُكُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۖ حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَجَرَيۡنَ بِهِم بِرِيحٖ طَيِّبَةٖ وَفَرِحُواْ بِهَا جَآءَتۡهَا رِيحٌ عَاصِفٞ وَجَآءَهُمُ ٱلۡمَوۡجُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُمۡ أُحِيطَ بِهِمۡ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ لَئِنۡ أَنجَيۡتَنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ

Artinya: Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur" (QS. Yunus, 10: 22)

Baca juga Maksud dan tujuan diturunkannya Al-Qur'an

Juga firman Allah SWT:

فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ

Artinya: Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (QS. Al-Ankabut, 29: 65)

Dua ayat di atas jelas memperlihatkan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa siapa pun yang berada dalam kesulitan atau bahaya, asalkan mereka ikhlas dalam berdoa. Allah SWT tentu saja telah mengetahui bahwa tidak sedikit orang yang setelah diselamatkan akan kembali berbuat dosa dan kesalahan.

Baca juga Ilmu Ikhlas

Jika orang yang banyak berbuat dosa saja dikabulkan doanya oleh Allah SWT, apalagi doa orang mukmin. Tentu akan lebih besar lagi pertolongan-Nya. Karena itulah, berdoa sangat dianjurkan kepada golongan mana saja dari umat manusia. Abu Sufyan bin Uyainah, seorang periwayat hadis yang cukup terkenal, dan salah satu guru Imam Syafi’i (w. 198 H) pernah mengatakan:

“Janganlah kalian meninggalkan doa selagi kalian tahu siapa diri kalian. Allah mengabulkan permintaan iblis, padahal iblis adalah makhluk yang paling jahat.”

Allah SWT memang mengabulkan doa iblis, meskipun iblis teramat besar berbuat durhaka kepada Allah SWT. Firman Allah SWT di dalam Al-Quran menyebutkan sebagai berikut:

 قَالَ رَبِّ فَأَنظِرۡنِيٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ . قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ

Artinya: Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. (QS. Shad, 38: 79-80)

Mahkluk yang jelas-jelas ingkar dan tidak akan bertobat saja masih diperkenankan doanya oleh Allah SWT, apalagi doa manusia yang durhaka hanya karena hasutan iblis. Semoga kita menjadi hamba yang bijaksana dan berpikir positif terhadap setiap rencana Allah SWT. Amin.

Baca juga
Cara sholat taubat dan doanya
Bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat

Friday, November 25, 2016

Tingkatan Derajat Doa yang Paling Tinggi

Tingkatan Derajat Doa yang Paling Tinggi

Doa yang kita panjatkan seperti diibaratkan dengan pendidikan yang mempunyai jenjang atau tingkatan, doa juga mempunyai tingkatan atau jenjang.Berikut ini adalah urutan tingkatan-tingkatan doa:

Tingkatan doa Pertama – Paling rendah tingkatannya

Doa dengan tingkatan paling rendah adalah doa yang dipanjatkan oleh orang awam. Doa jenis ini ditandai dengan kalimat-kalimat yang bersifat perintah kepada Allah SWT, mengandung keinginan ini dan itu yang cenderung agar segera diwujudkan. Permintaan doa pada tingkatan ini umumnya berupa harapan dan permohonan agar dilindungi dari hal-hal yang ditakuti.

Doa yang didominasi kalimat perintah biasanya hanya ditujukan untuk kemanfaatan diri sendiri, sehingga bersifat egois. Contohnya: ‘Ya Allah, tingkatkan derajatku, berilah rezeki untukku, sukseskanlah aku dalam kompetisi itu...’ Kalimat doa dalam tingkatan ini sangat mementingkan ke-aku-an. Berdoa seperti ini tidak salah, tetapi ditempatkan pada tingkatan paling rendah dari segi kearifan dalam berdoa.

Tingkatan kedua

Tingkatan doa yang derajatnya di atas doa para orang awam adalah doa yang lebih bersifat khusus, yang berfokus pada akhirat atau tujuan yang lebih mulia. Doa pada tingkatan ini kira-kira berbunyi: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan berlindung kepada-Mu dari api neraka."

Kemuliaan doa tersebut terlihat dari keinginan hamba tersebut akan surga dan ingin dijauhkan dari neraka. Hal itu berarti bahwa hamba tersebut mempunyai ketakutan akan dosa yang mengakibatkan siksaan di akhirat. Tingkatan ini berintisari pada ganjaran dan hukuman, yaitu mengharapkan pahala dan dilepaskan dari siksa, memohon keberuntungan dan dihindarkan dari marabahaya, menginginkan harta serta dijauhkan dari kesengsaraan.

Baca juga

Tingkatan doa ketiga

Doa yang tingkatannya lebih tinggi daripada tingkatan yang kedua di atas adalah doa yang isinya kira-kira menyebutkan: ‘Ya Allah, aku berlindung dalam ridha-Mu dan murka-Mu.’ Berbeda dengan doa sebelumnya, doa pada tingkatan ketiga ini tidak memikirkan lagi akan pemberian atau ancaman Tuhan, melainkan lebih memedulikan keridhaan dan kecintaan Allah SWT yang berarti berharap terhindar dari kemurkaan Allah SWT.

Tingkatan yang keempat

Selanjutnya doa pada tingkatan berikutnya yaitu bersifat pengakuan akan kehinaan dan kekerdilan diri sendiri di hadapan Allah SWT. Doa ini umumnya berisi percakapan hamba dengan Tuhannya dan menuturkan bagaimana lemahnya ia di hadapan keagungan/kebesaran Tuhannya. Artinya doa seperti ini bersifat pengakuan dan pengaduan diri kepada Allah SWT.

Contoh tingkatan doa pada posisi ini yaitu seperti yang pernah dilafalkan oleh Nabi Adam AS, yang berbunyi: “Tuhan, kami telah menganiaya diri kami. Sekiranya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Doa yang berisi pengakuan akan kehinaan diri lebih menuntut penghayatan sepenuh hati. Doa seperti itu sangat dianjurkan. Meskipun kita mengadu kepada Allah SWT dengan mengakui segala kenistaan sebagai manusia di hadapan Allah SWT, akan tetapi tentu tujuannya untuk memohon ampunan dan mengubah kekurangan atau kekhilafan diri.

Tingkatan Doa yang paling tinggi

Tingkatan doa yang paling tinggi adalah doa yang berisi ungkapan rasa cinta hamba kepada Tuhannya. Ibarat bisikan cinta seorang kekasih kepada orang yang dikasihinya. Contoh doa pada tingkatan ini sering dipanjatkan sosok sufi perempuan bernama Rabi’ah al-Adawiyah. Beliau seorang sufi besar yang sangat terkenal dengan doa-doanya yang menyetuh kalbu, yang bermuatan ungkapan cinta yang teramat besar kepada Allah SWT.

Salah satu contoh doa Rabi’ah ialah begini: "Tuhanku, kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkan tubuhku di dalamnya, sehingga tak ada tempat lagi bagi hamba-hamba-Mu yang lain. Namun, kalau aku menyembah-Mu karena menginginkan surga-Mu, berikan surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain. Bagiku, Engkau sudah cukup...”

Doa yang berlandaskan pada kecintaan dan rayuan kepada Allah SWT sang Khalik tersebut dapat menimbulkan kenyamanan dan kenikmatan dalam berdoa, meskipun kalimat-kalimat yang digunakan panjang.
Hikmah Doa yang Belum Dikabulkan

Hikmah Doa yang Belum Dikabulkan

Terlambat terkabulnya doa, belum terkabulnya doa atau tidak dikabulkannya suatu doa bukanlah akhir dari segala-galanya. Hal ini harus dicamkan dan dipahami baik-baik. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya adalah: Apa hikmah yang dapat kita ambil di balik belum terkabulnya, terlambatnya atau tidak dikabulkannya doaku oleh Allah SWT?, bukan “Kapan ya doaku dilmbulkan-Nya?”.

Baca juga

Sebagai hamba Allah SWT, kita juga wajib mempertanyakan diri kita, apakah pantas mendapat pengabulan doa yang cepat. Kita harus sadar bahwa kita adalah makhluk yang kecil, teramat kerdil di hadapan Allah SWT sang Pencipta, sehingga tidak pantas untuk mendikte-Nya. Jangankan lagi kepada Allah SWT yang memiliki seluruh isi bumi, semesta raya, bahkan jiwa-jiwa manusia, kepada atasan seperti majikan atau bos saja kita masih sering kali bersikap segan.

Allah SWT berhak memberi atau tidak memberi harta yang Dia punya. Mengambil atau meminjamkan kembali nyawa yang Dia titipkan. Layaknya jutawan kaya-raya yang memperlakukan hartanya, Allah SWT berhak menggunakan harta-Nya sesuka hati. Apakah Dia akan memberikan atau tidak jika ada yang meminta, terpulang kepada-Nya. Tidak ada kewajiban sedikit pun bagi Allah SWT untuk mengeluarkan sebagian harta-Nya. Adapun jika Dia memberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya, itu soal lain. Oleh karena itu, sebagai hamba kita tidak boleh protes manakala doa yang kita panjatkan ternyata ditunda, atau belum dikabulkan dan bahkan tidak dikabulkan oleh Allah SWT.

Sang Khalik Allah SWT Maha Bijak, Maha Pengasih dan Penyayang, dan Maha Tahu segalanya. Sehingga, dikabulkan atau belum terkabulnya dan bahkan tidak terkabulnya suatu doa, tidak terlepas dari rasa saying Allah SWT, kebijaksanaan Allah SWT, pengetahuan Allah SWT, untuk kebaikan hamba-hamba-Nya. Dalam hal ini, seorang hamba tidaklah relevan mempersoalkan dikabulkan atau tidaknya suatu doa. Hal yang paling penting dilakukan oleh seorang hamba adalah mengevaluasi diri dan mencari serta melusuri hikmah-hikmah di balik belum terkabulnya, terlambat dikabulkan dan tertolaknya suatu doa.

Hikmah lain yang dapat diambil di balik tidak dikabulkan atau tertolak atau lambatnya pengabulan doa adalah untuk meringankan beban seorang hamba. Boleh jadi doa yang tertolak saat ini ternyata malah mendatangkan kebahagiaan di kemudian hari. Bisa juga apabila dikabulkan tepat waktu, justru malah membawa kemudaratan atau keburukan. Mungkin juga, doa belum dikabulkan atau ditolak karena beban dosa yang dipikul seorang hamba teramat berat, atau hatinya sering lalai dalam berdoa.

Kemungkinan lain adalah bahwa boleh jadi jika doa dikabulkan, justru akan menambah dosa, atau menghilangkan sesuatu yang jauh lebih baik. Sehingga tidak makbulnya doa justru menjadi lebih baik.

Terakhir, mungkin saja pengabulan doa sengaja dilambatkan oleh Allah SWT agar hamba-Nya dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Sebaliknya, jika segera dikabulkan mungkin malah akan membuatnya jauh dari Allah SWT. Banyak sekali bukti yang menunjukkan hal tersebut.

Allah SWT lebih mengetahui apa yang membuat hamba-Nya jauh dari-Nya. Karena itu, Dia mendatangkan ujian demi mendekatkan hamba kepada-Nya. Musibah terbesar bagi seorang hamba pada dasarnya bukanlah penderitaan fisik maupun psikis yang dideritanya, melainkan apabila seorang hamba jauh dari sang penciptanya Allah SWT.

Dari Tsauban RA, Rasulullah SAW bersabda: ’Tidak ada yang dapat mencegah takdir, kecuali doa. Tidak ada yang dapat menambah umur, kecuali kebaikan. Dan seseorang benar-benar akan dihalangi dari rezeki, disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya. (HR. Al-Hakim, 1/493)

Mari kita selalu berbaik sangka kepada Allah SWT. Karena Allah yang mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
Manfaat dan Keuntungan dari Berdoa

Manfaat dan Keuntungan dari Berdoa

Berdoa mempunyai berbagai macam manfaat dan keuntungan, sebagiannya telah disebutkan di muka. Pada artikel ini akan disebutkan secara lebih luas beberapa manfaat serta keuntungan dari aktivitas berdoa yang setiap hari kita lakukan. Berbagai manfaat dari doa yang kita panjatkan antara lain sebagai berikut:
  • Berdoa merupakan sarana memuji dan mengagungkan nama Allah SWT. Dengan berdoa, kita berkesempatan menumpuk pahala untuk bekal di akhirat.
  • Berdoa merupakan bentuk pendidikan kepada setiap hamba untuk mensyukuri karunia Allah SWT yang tak terhitung banyaknya. Sikap penuh rasa syukur ini akan mendatangkan rezeki/nikmat yang lebih banyak lagi, dan akan terus diberikan oleh Allah SWT selama kita bersyukur kepada-Nya. Baca Juga Cara Bersyukur dengan hati, lisan dan perbuatan
  • Berdoa bukanlah perbuatan sia-sia. Segala keinginan yang kita mohonkan dalam doa akan dikabulkan oleh Allah SWT. Doa yang dikabulkan sudah pasti akan memberikan rasa bahagia dan kemajuan dalam hidup. Perasaan atas dikabulkannya doa tentu tak terperi. Sebaliknya, kalau pun doa tertunda atau tidak dikabulkan, kita tetap akan mendapatkan ganti dalam bentuk lain. Singkatnya, berdoa dapat mengurangi stres dari berbagai tekanan hidup. Mereka yang malas berdoa dapat diduga akan mudah mengalami stres.
  • Berdoa dapat melenyapkan rasa putus asa. Dengan berdoa seseorang akan termotivasi dalam menghadapi cobaan hidup dan bersikap positif menanggapi kegagalan, sebab Allah SWT yang menjadi sandaran akan selalu membantunya bangkit. Allah SWT pun menjamin akan mengganti kegagalan dengan hal yang lebih baik. Wajarlah ada slogan yang mengatakan: “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda..."
  • Berdoa dapat membantu dalam mengendalikan emosi jiwa atau kemarahan. Doa bisa menurunkan level emosi ke tingkatan stabil. Baca juga Jalan masuk surga dengan menahan amarah
  • Berdoa dapat menciptakan individu yang tegar. Dengan berdoa seseorang dapat meningkatkan ketabahan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar nalar, atau di luar kehendaknya.
  • Berdoa membuat kondisi psikologis seseorang terjamin stabil. Berdoa dapat meningkatkan daya tahan tubuh, menyembuhkan penyakit fisik maupun psikis. Ketekunan berdoa membuat seseorang memiliki daya tahan tubuh yang baik karena dia selalu menatap kehidupan dengan pikiran jernih, dan tubuhnya tidak mudah lemah karena beban pikiran.
  • Berdoa dapat memacu/menyemangati seorang hamba untuk mengembangkan potensi-potensi yang diberikan Allah SWT untuk dirinya. Melalui doa pula, membuatnya kian menyadari dan mengoptimalkan potensinya untuk berprestasi.
  • Dengan rajin berdoa, seseorang layak menerima keselamatan dan kenikmatan dari Allah SWT. Seseorang dapat meraih kesempatan hidup lebih baik, termasuk mendapat keselamatan dalam kehidupan yang abadi kelak di akhirat karena kedekatannya dengan Sang Khalik yang dibina lewat ketekunannya berdoa.
  • Berdoa dapat meningkatkan rasa cinta kepada diri sendiri dan orang lain. Dengan berdoa seseorang memiliki hubungan yang dekat dan kuat dengan penciptanya, Allah SWT, juga orang lain. Orang yang terjerumus pada maksiat, tindakan kriminal, terjerat narkoba, dan lainnya, pastilah orang yang tidak tekun dalam berdoa. Tindakan negatif yang dilakukannya itu sudah menunjukkan bahwa dia tidak mengasihi diri sendiri dan orang lain, apalagi Tuhannya.
  • Berdoa mengubah yang tidak baik menjadi baik. Dengan berdoa, sesuatu yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin, nasib yang buruk dapat menjadi baik. Sebaliknya, orang-orang yang malas berdoa dapat mengubah yang baik menjadi buruk.
Masih banyak lagi manfaat berdoa. Namun, manfaat dan keuntungan terbesar dari berdoa adalah sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah SAW berikut ini:

Dari Tsauban RA, Rasulullah SAW bersabda: ’Tidak ada yang dapat mencegah takdir, kecuali doa. Tidak ada yang dapat menambah umur, kecuali kebaikan. Dan seseorang benar-benar akan dihalangi dari rezeki, disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya. (HR. Al-Hakim, 1/493).

Apakah kita tidak ingin meraih berbagai manfaat dan keuntungan dari doa? Tentu kita ingin meraihnya bukan?

Thursday, November 24, 2016

Penyakit sebagai Penghapus dan Pengampun Dosa

Penyakit sebagai Penghapus dan Pengampun Dosa


Salah satu manfaat terbesar dari berdoa, yaitu sebagai penangkal bencana atau marabahaya. Dengan demikian, doa sejatinya merupakan penyelamat bagi diri sendiri. Dalam kitab al-Hakim, Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: Doa itu bermanfaat bagi musibah yang telah turun dan yang belum turun. Oleh karena itu wahai hamba Allah, kalian harus berdoa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis riwayat Aisyah RA juga menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Kewaspadaanmu tidak ada gunanya dalam menghadapi takdir. Berdoalah yang berguna untuk mengantisipasi musibah yang turun maupun yang belum turun. Sesungguhnya musibah ketika turun berhadapan dengan doa, dan keduanva bertarung hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hubungan antara doa dengan musibah yang bakal menimpa manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
  • Apabila doa lebih kuat, maka musibah dapat ditolak.
  • Apabila doa lebih lemah daripada musibah, maka doa masih bisa meringankan perasaan hati dan mendatangkan ketenangan jiwa.
  • Apabila doa dan musibah sama-sama kuat, maka keduanya akan saling menolak.
Abu Sa’id al-Khudry RA pernah meriwayatkan hadis sebagai berikut: Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, Beritahukanlah kepadaku tentang penyakit-penyakit yang menimpa kami ini, apakah yang kami peroleh karenanya? Beliau (Rasulullah) menjawab: ’Pengampunan dosa-dosa.’ Ubay bin Ka’b berkata, ’Sungguhpun penyakit itu sedikit?’ Beliau (Rasulullah) bersabda lagi: ’Sekalipun sebuah duri, dan yang lebih kecil dari itu.’ Lalu Abu Sa’id berkata lagi: “Lalu Ubay berdoa atas dirinya, semoga dia tidak pernah terlepas dari demam, agar dia senantiasa bisa menunaikan haji dan umrah, jihad fi sabilillah, dan shalat wajib secara berjamaah. Sehingga tak seorang pun menyentuh tubulmya, melainkan merasakan panas (karena sakit), hingga dia meninggal dunia " (HR. Ahmad dan Abu Ya’la, di-sfra/ii/i-kan oleh lbnu Hibban)

Hadis di atas menjelaskan bahwa seandainya pun kita mau bersabar terhadap penyakit yang menimpa kita, sehingga kita tidak segera berdoa untuk meminta kesembuhan, maka Allah SWT akan memberikan ampunan atas setiap rasa sakit dan penderitaan yang kita tanggung. Wallahu a’lam
Doa sebagai Obat Penyembuh Penyakit

Doa sebagai Obat Penyembuh Penyakit

Mungkinkan doa bisa menyembuhkan penyakit? Apakah cukup dengan hanya berdoa kepada Allah SWT, maka kesembuhan akan datang? Dari beberapa penelitian dan survei diketahui bahwa aktivitas berdoa dapat mengaktifkan sistem limbik otak yang mengatur kesadaran seseorang terhadap dirinya, termasuk terhadap waktu dan lingkungannya. Metabolisme tubuh secara menyeluruh ikut bergerak menuju keseimbangan, seterusnya menuju pada kesembuhan.

Dari pendalaman akan sumber-sumber psikoterapi, apa yang terucap dalam doa dapat mendatangkan ketenangan jiwa. Ketenangan jiwa inilah yang diyakini bisa menyembuhkan penyakit, terutama terhadap orang-orang yang meyakini bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Sementara itu, proses psikologis yang terkandung di dalam doa juga turut menciptakan hubungan yang kuat antara hamba dengan Tuhannya. Proses tersebut bisa terwujud bila ada kejernihan hati dan pikiran seorang hamba ketika berdoa kepada Allah SWT. Selanjutnya hal itu akan merangsang syaraf-syaraf parasimpatis yang mengakibatkan ketenangan hati bagi yang berdoa. Semakin tinggi dan berkualitas doa yang dipanjatkan, juga terpenuhinya syarat-syaratnya, maka semakin mustajab doa, sehingga mengantarkan pada kesembuhan.

Banyak contoh kasus sembuhnya penyakit berkat doa dapat dilihat pada artikel berikutnya tentang: ’’Kisah-kisah Keajaiban Doa”.

Baca juga
Orang-orang yang doanya mustajab
Waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa

Kesimpulannya, doa sangatlah bermanfaat dalam proses penyembuhan penyakit. Aktivitas berdoa yang diikuti dengan penyerahan diri kepada Allah SWT, serta senantiasa bersyukur atas anugerah-Nya, akan menjadi siklus dalam proses penyembuhan penyakit. Dengan begitu, Insya Allah kesembuhan akan cepat terjadi.

Baca juga
Pengertian Syukur dan macamnya
Cara Bersyukur dengan hati, lisan dan perbuatan
Bacaan dan doa sujud syukur

Namun, keinginan sembuh berkat doa tetap kembali pada tekad dan keyakinan seseorang. Jika ia meyakini dengan rasa senang dan syukur, tentu Allah SWT tidak akan tinggal diam membiarkan hamba-Nya yang tengah membutuhkan pertolongan. Perasaan senang yang tersalur ke otak itu akan memicu rasa optimis, yang bisa menjadi upaya penyembuhan.

Berdoa dengan rasa bahagia dan yakin menggiring pada kenyataan terwujudnya doa itu. Manakala kita merasa bahagia dalam berdoa, secara psikologis jiwa akan merasa tenang dan dapat beraktivitas dengan percaya diri. Otak akan terasa segar sehingga bisa berpikir jernih. Hal inilah yang mengantarkan pada kenyaman fisik, lepas dari stres.

Baca juga Keyakinan adalah salah satu syarat terkabulnya doa

Jadi, keyakinan kepada Allah SWT sebagai penguasa atas segala sesuatu, juga penyembuh berbagai penyakit, turut membantu kesembuhan suatu penyakit. Keajaiban semacam ini hanya akan diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang terpilih, yakni yang meyakini sepenuh hati pada kekuatan-Nya Yang Maha Tinggi. Makanya, setiap hamba dianjurkan untuk ’’menghadirkan” Allah SWT ketika berdoa. Maksudnya, merasa seolah melihat Allah SWT saat berdoa, sehingga dapat bersungguh-sungguh dalam melafalkan bait-bait doa, serta meyakini bahwa Allah SWT pasti mendengar dan akan mengabulkannya.

Baca juga Wudhu dengan hati dan Menghadirkan Alllah dalam Sholat

Segala penyakit tidak akan menimpa seseorang, kecuali atas kehendak atau izin Allah SWT. Maka, Dia pula yang akan melenyapkan kembali penyakit tersebut, atau mencegahnya dari para hamba-Nya. Tidak ada tabib, benda, atau obat apa pun yang bisa menyembuhkan/melenyapkan penyakit, kecuali atas izin Allah SWT. Dengan kata lain, hanya Allah SWT yang menghendaki suatu obat menjadi manjur untuk kesembuhan hamba-Nya.

Pada dasarnya, semua penyakit bisa diatasi, kecuali jika takdir Allah SWT yang memang mengharuskan seseorang menemui kematian. Dengan demikian, obat hanyalah bersifat perantara. Hal ini dinyatakan di dalam Al-Qur’an, sebagai berikut:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢

Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Isra, 17: 82)

Juga firman Allah SWT:

قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآ

Artinya: Katakanlah, ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.’ (QS. Fushshilat, 41: 44)

Baca juga
Persiapkan diri sebelum kematian menjemput
Kematian dan balasan di alam kubur
Mengingat akan Kematian

Contoh yang dapat dijadikan pedoman bahwa segala penyakit adalah milik Allah SWT, tergambar dalam kisah Nabi Ayyub AS yang sempat ditimpa penyakit berat. Penyakit Nabi Ayyub AS yang dideritanya selama 18 tahun baru disembuhkan oleh Allah SWT setelah beliau berdoa untuk disembuhkan.

۞وَأَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ . فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَكَشَفۡنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرّٖۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰبِدِينَ

Artinya: Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: ’(Ya Tuhanhu), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiya, 21: 83-84)

Baca juga Maksud dan tujuan diturunkannya Al-Qur'an

Kisah Nabi Ayyub AS dapat menjadi pedoman bagi manusia biasa untuk senantiasa tidak melupakan Allah SWT, dan selalu mengandalkan doa dalam hidup mereka. Sebab, bahkan seseorang dengan derajat Nabi seperti Nabi Ayyub AS pun tetap bersandar kepada Allah SWT dengan mengadukan beban penyakit yang dideritanya dalam doa.

Wednesday, November 23, 2016

Sinkronisasi Pikiran, Perkataan dan Hati Ketika Berdoa

Sinkronisasi Pikiran, Perkataan dan Hati Ketika Berdoa

Sebagai mahkluk yang tidak berdaya, lemah, manusia sering kali kita mengalamatkan kesalahan di luar dirinya, bahkan menyalahkan Allah SWT tatkala apa yang kita inginkan tidak terwujud. Sedikit sekali yang bisa menggali makna di balik kegagalan, atau menangkap hikmah di balik tidak terkabulnya atau tertolaknya doa. 
Baca juga 

Hal yang demikian sangat mungkin sekali disebabkan sedikitnya waktu yang mereka gunakan untuk muhasabah atau mengevaluasi diri dan instrospeksi diri. Padahal, evaluasi diri atau introspeksi diri sangatlah penting dan berguna untuk melihat apakah antara kemauan hati dan kemampuan yang kita miliki sudah sesuai, sinkron atau belum.

Tidak terkabulnya suatu doa sangatlah mungkin dikarenakan doa yang dipanjatkan tidak sesuai dengan kemauan hati si pendoa. Berdoa membutuhkan keyakinan yang mantap dalam hati akan apa yang diminta. Sehingga, antara bibir atau perkataan dengan hati haruslah sama.

Ketika mulut berdoa ingin sukses di satu bidang, sementara hati tidak ingin benar-benar terjun ke bidang itu, maka jangan salahkan siapa-siapa manakala jawaban doa yang dipanjatkan adalah ketidaksuksesan di bidang tersebut.

Situasi kebalikan dari apa yang diminta sesungguhnya sudah merupakan jawaban doa. Misalnya, mengapa berdoa ingin dapat pekerjaan malah jadi penganggur, ingin gemuk tapi malah kurus. Semua itu berpangkal pada tidak sinkronnya kata hati/keyakinan diri dengan ucapan atau perkataan dan kemampuan.

Sinkronisasi itu hanya bisa terwujud jika manusia mampu mengimbangi apa yang diinginkannya dengan usaha yang dilakukannya. Maka manusia harus meningkatkan kapasitas dirinya agar dia dianggap layak berada pada derajat seperti yang diminta dalam doa-doanya.

Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an yang menegaskan tentang hal di atas:

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ . وَرَبُّكَ يَعۡلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمۡ وَمَا يُعۡلِنُونَ ٦٩

Artinya: Dan Tuhanmu inenciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyalakan.”
(QS. Al-Qashash, 28: 68-69).

Semoga kita dapat mengambil makna dan hikmah dari keterangan-keterangan di atas. Sehingga dalam berdoa antara perkataan ketika berdoa, harus di ikuti dengan usaha yang kuat dalam perbuatan dan juga hati yang turut serta mengikuti perkataan dan perbuatan.
Kesalahan-Kesalahan dalam Berdoa

Kesalahan-Kesalahan dalam Berdoa

Beberapa pantangan atau praktik berdoa yang keliru atau salah masih saja dilakukan oleh sebagian umat muslim, padahal hal tersebut jelas menjadi penghalang atau penyebab tidak terkabulnya doa. Sudah dijelaskan pada artikel-artikel sebelumnya, mendoakan keburukan yang membahayakan keluarga, harta, dan jiwa sendiri merupakan seburuk-buruknya permintaan. 
Baca juga :

Doa-doa yang semacam itu jangan sampai diucapkan, meskipun dalam keadaan teraniaya. Sebab doa seperti itu tentu tidak lepas dari hasutan dan bujukan setan, musuh abadi bagi manusia. Rasulullah SAW mengingatkan hal tersebut dalam sabdanya:

Hadits Nabi yang artinya: Janganlah kalian berdoa untuk kemudaratan diri kalian, dan jangan berdoa untuk keburukan anak-anak kalian. Janganlah berdoa bagi keburukan harta-harta kalian. Janganlah kalian meminta kepada Allah pada waktu mustajab, padahal hal itu membawa keburukan bagi kalian.” (HR. Imam Muslim)


Kekeliruan dan kesalahan lainnya dalam berdoa adalah terlalu keras atau terlalu pelan dalam melafalkan doa. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang berbunyi:

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا وَٱبۡتَغِ بَيۡنَ ذَٰلِكَ سَبِيلٗا

Artinya : Katakanlah, serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asmaul Hustui (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu (doamu), dan janganlah pula merendahkannya. Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra, 17: 110)

Baca juga  

Telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, dalam berdoa gunakanlah suara yang lembut, rendah, dan penuh kesantunan. Meminta pada manusia saja harus dengan kelemah-lembutan, apalagi kepada sang Khaliq, Sang Pencipta Allah SWT.

Selain itu, jangan pula melampaui batas dalam berdoa. Misalnya melafalkan hal yang tidak mungkin untuk dikabulkan. Contohnya mengharapkan bisa terbang seperti super hero, mengharapkan menjadi Nabi, atau mengharapkan harta karun yang dengan tiba-tiba terhampar di depan mata. Meskipun Allah SWT bisa saja mewujudkannya, hal itu tentu saja hanya ada dalam dongeng. Karena hal tersebut tentu saja tidak mendidik.

Sebagaimana kita ketahui, apa pun kisah yang ada di muka bumi ini selalu sarat dengan hikmah. Apa jadinya jika Allah SWT mewujudkan doa orang yang menginginkan hamparan harta karun di depan matanya, tentu akan membuat orang tersebut malas bekerja. Lagi pula, hal itu tentu saja bertentangan dengan sifat Allah SWT Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti.

Kekeliruan lain dalarn berdoa adalah memohon dengan pengecualian. Maksudnya, ketika berdoa kerap kali seorang hamba menggunakan kalimat yang ambigu. Padahal dalam berdoa harus menggunakan kalimat-kalimat yang pasti. Berdoalah dengan tenang, gunakanlah bahasa yang teratur dan penuh kesabaran dalam menuturkannya, termasuk kesabaran menunggu doa itu dikabulkan.

Jangan pula terburu-buru menyelesaikan pelafalan doa hanya karena ingin segera menyelesaikan beribadah. Umumnya perangai seperti ini dilakukan oleh seseorang manakala tidak terbelit masalah. Sehingga doa hanya dijadikan sebagai pelengkap ibadah dan dikerjakan sambil lalu. Jangan sampai kita melakukan hal ini. Kesabaran dalam bentuk apa pun sangat disukai oleh Allah SWT, terlebih lagi dalam berdoa. Hadis berikut menegaskan hal tersebut.

“Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ‘Akan dijawab doa kalian, jika dilakukan tidak tergesa-gesa. Sungguh kamu telah berdoa, atas alasan apa tidak diijabat?’” (HR. Bukhari)

Hadis di atas merupakan anjuran sekaligus nasihat untuk mengevaluasi sikap setiap hamba yang kurang sabar dalam berdoa dan menantikan pengabulannya. Semoga kita dapat memahaminya dan mampu bersikap lebih bijak. Amin.

Tuesday, November 22, 2016

Doa Yang dilarang diucapkan

Doa Yang dilarang diucapkan

Bagi seorang Muslim, ketika seseorang sedang mengalami sakit, beberapa pantangan atau larangan untuk mengajukan permohonan dalam doanya akan hal-hal sebagai berikut, yaitu:

Meminta keburukan.

Pada dasarnya Islam itu baik, mengajarkan kebaikan, dan bertujuan baik, sehingga tidak diperkenankan meminta suatu keburukan. Apalagi Allah SWT adalah Zat Yang Maha Baik, tentu tidak akan memperkenankan hal-hal yang mendatangkan kemudaratan atau hal- hal buruk. Manakala hamba Allah memanjatkan doa, para malaikat Allah turut menjadi pendengar. Jika mereka mendengar doa-doa yang indah, bagus, berisi kebaikan, mereka akan mengamini/menyetujuinya.

Hal ini disebutkan dalam hadits berikut ini:

Janganlah kalian mendoakan diri kalian, kecuali sesuatu kebaikan. Sesungguhnya malaikat itu akan mengamini apa yang kalian ucapkan. (HR. Muslim)

Meminta kepada selain Allah SWT.

Memohon hal apa pun kepada selain Allah SWT jelas sangat dilarang. Perbuatan itu termasuk perbuatan syirik/musyrik, salah satu dosa besar yang menjamin pelakunya kekal di neraka. Allah SWT tegas sekali mengecam perbuatan syirik. Bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyuruh umat manusia untuk mencari bumi yang lain apabila sampai meminta sesuatu kepada selain diri-Nya.


Mengharapkan bertemu musuh.

Berdoa dengan mengharapkan bertemu musuh juga dilarang dalam Islam. Sebab hal ini menunjukkan sikap anti perdamaian. Padahal agama menganjurlcan agar setiap orang menyambung silaturahmi di antara sesamanya.

Hadits Rasulullah SAW, yang artinya:

Wahai manusia, janganlah engkau berharap bertemu dengan musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Jika kamu bertemu mereka (para musuh) maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah naungan pedang. (HR. Muslim)

Baca Juga Ajaran Islam tentang Kesabaran

Memohon kematian.

Kematian itu pasti akan dialami oleh semua mahkluk yang bernyawa. Kematian merupakan hak mutlak Allah SWT untuk menetapkan kapan waktunya. Tentulah, tidak selayaknya manusia mengatur Allah SWT untuk menentukan kapan datangnya kematian sesuai dengan keinginan manusia. Makanya, berdoa meminta kematian sangat dilarang. Hal tersebut hanya akan mengindikasikan bahwa manusia tidak bersyukur dengan kehidupan yang diberikan kepadanya, dan tidak kuat dengan ujian yang harus dilaluinya. Apa pun yang terjadi dalam hidup seorang hamba, dia hanya berhak mengusulkan yang baik saja, dan keputusannya tetap berada di tangan Allah SWT.

Hadis Rasulullah SAW:

Janganlah salah seorang dari kalian berangan-angan untuk mati karena bahaya yang menimpanya. Jika harus berangan-angan, hendaklah ia mengatakan, ‘Ya Allah hidupkanlah aku apabila kehidupan ini baik bagiku, dan matikanlah aku apabila kematian itu baik bagiku. (HR. Bukhari dan Muslim)


Berdoa namun terus bermaksiat.

Sangat tidak logis apabila kita meminta kepada Allah SWT, namun menyakiti/mengkhianati/tidak mengikuti aturan yang ditetapkan-Nya. Melakukan maksiat merupakan salah satu pelanggaran terhadap aturan yang telah ditetapkan-Nya. Apabila kita ingin berdoa, maka sudah seharusnya kita juga menjauhi larangan-Nya (maksiat). Selama kemaksiatan masih dilakukan, jangan banyak berharap bahwa doa kita akan diperkenankan-Nya.

Berlebihan dalam berdoa.

Apa pun yang bersifat berlebih-lebihan tidak disukai oleh Allah SWT, termasuk dalam hal berdoa. Firman Allah SWT:

ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعٗا وَخُفۡيَةًۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ٥٥

Artinya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf, 7: 55)

قُلۡ مَن يُنَجِّيكُم مِّن ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ تَدۡعُونَهُۥ تَضَرُّعٗا وَخُفۡيَةٗ لَّئِنۡ أَنجَىٰنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ٦٣

Artinya: Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.” (QS. Al-An’am, 6: 63)

Baca juga Pengertian syukur dan macamnya

Monday, November 21, 2016

Menghindari Bencana dengan Doa

Menghindari Bencana dengan Doa

Terdapat jenis doa yang dianjurkan atau disarankan untuk dilafalkan, karena akan cepat dijawab oleh Sang Khalik Allah SWT. Salah satunya adalah doa agar dihindarkan dari bencana, sebagaimana dalil bunyi hadits di bawah ini yang artinya:

Berlindunglah kepada Allah dari kesengsaraan (akibat) bencana, dan dari kesengsaraan hidup yang berkesinambungan (silih berganti dan terus-menerus), dan dari suratan takdir yang buruk, serta dari cemoohan musuh-musuh.” (HR. Muslim)

Juga hadits yang mengatakan: ‘Tidak ada manfaatnya bersikap siaga dan berhati-hati menghadapi takdir. Akan tetapi, doa akan bermanfaat untuk apa saja yang diturunkan maupun yang tidak diturunkan. Oleh karena itu, hendaklah kamu berdoa, wahai hamba-hamba Allah.” (HR. Ath-Thabrani)

Seorang hamba yang terhindar dari bencana karena doa yang dipanjatkannya, harus dapat memanfaatkan keselamatannya itu untuk beribadah dan bertobat kepada Allah SWT. Sehingga begitu sampai masanya dia kembali kepada Allah SWT, dia telah siap dengan membawa bekal kebaikannya selama di dunia. Amin ya Rabbal’alamin.


Pantangan dan Larangan dalam Berdoa

Pantangan dan Larangan dalam Berdoa

Anggapan dan pendapat setiap orang terhadap doa yang dipanjatkannya berbeda-beda. Ada orang yang merasa doanya tidak pernah dikabulkan oleh Allah SWT. Ada juga yang menganggap sudah dikabulkan oleh Allah SWT, namun merasa masih jauh atau kurang dari harapan.

Memang sangat sulit mengukur persentase doa yang dikabulkan dengan doa yang tidak dikabulkan. Namun, beberapa hal berikut ini menunjukkan bahwa terkabul maupun tertolaknya doa ternyata bukanlah pokok persoalan yang paling utama, apabila kita belum memahami kekeliruan-kekeliruan dalam berdoa, yaitu:

Kurang Kesabaran dan Ketabahan dalam berdoa

Kurang kesabaran dan ketabahan dalam berdoa sehingga menimbulkan sikap sok tahu, cepat menilai bahwa permohonan yang disampaikan kepada Allah SWT dianggap sudah tepat. Misalnya, ketika memohon berjodoh dengan seseorang, biasanya kita sering terburu nafsu agar segera dikabulkan, padahal Allah SWT punya pertimbangan sendiri, apakah orang yang kita cintai itu adalah jodoh yang baik bagi kita atau malah sebaliknya.

Baca juga Panduan terkabulnya doa

Sehingga, perlu kecermatan dalam memilih doa serta butuh kearifan memahami hikmah di balik doa yang ditolak atau diganti-Nya ke dalam bentuk lain. Setiap umat selayaknya berusaha mempertajam batin untuk memahami maksud Allah SWT Sang Khalik. Buanglah jauh-jauh sikap pesimistis dan negatif ketika berdoa.

Salah memahami tujuan Allah SWT

Maksudnya adalah terkadang kita merasa apa yang kita mohonkan kepada-Nya itu akan baik untuk kita, padahal Allah SWT lebih mengetahuinya. Senantiasalah berprasangka baik kepada Allah SWT. Dengan begitu, bisa saja permohonan yang kita panjatkan tersebut tanpa kita sadari telah diganti Allah SWT dengan bentuk lain. Tentunya, ganti yang paling baik buat kita. Ketidaktahuan atau ketidaksadaran umat akan kehendak Allah SWT membuat manusia bisa saja menyimpulkan doanya tidak dijawab.

Kurang memperhatikan jawaban dari doa yang dipanjatkan bertahun-tahun sebelumnya.

Sangat mungkin permohonan yang diminta baru dijawab setelah bertahun-tahun berselang. Allah SWT sang pemilik putaran masa lebih tahu kapan dan apa yang terbaik buat hamba-Nya. Dia akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya pada waktu yang tepat. Namun, terkadang si hamba meragukan (meragukan doanya sudah dijawab). Keragu-raguan inilah yang melahirkan keluhan bahwa hanya sedikit doanya yang telah dikabulkan.

Kurang bersyukur.

Bisa saja jawaban doa diganti dalam bentuk lain oleh Allah SWT. Selayaknya setiap umat mengevaluasi berkah apa saja yang sudah diterimanya selama hidupnya, mulai dari berkah kesehatan, punya keluarga yang lengkap, anggota tubuh yang tidak cacat, diberi kesempatan melihat matahari, dan lainnya. Dari mengevaluasi berkah tersebut, maka akan timbul rasa syukur atas anugerah yang diberikan Allah SWT, dan karena bersyukur itu pula nikmat akan ditambahkan-Nya. Bisa jadi nikmat yang ditambahkan-Nya itu berasal dari doa-doa si hamba ataupun bentuk penggantian doa yang lebih baik.

Baca juga Cara bersyukur dengan lisan, hati dan perbuatan
Baca juga Pengertian Syukur dan macamnya
Baca juga Bacaan dan doa sujud syukur

Dalam berdoa janganlah sampai terkesan mengatur Allah SWT, alias menuruti kemauan sendiri. Tuhan pasti akan meletakkan harapan-harapan hamba-Nya pada posisi yang terbaik. Perlu dipahami pula bahwa berdoa itu bukan sekadar ucapan (permohonan) verbal, melainkan perpaduan dari ikhtiar kita dan ketetapan Allah SWT.

Berdoa membutuhkan pula kecermatan untuk memahami arah hukum, atau takdir Allah SWT. Allah SWT yang Maha Penyayang akan selalu berada di garis kebenaran untuk setiap keputusan yang dibuat-Nya. Sebagai hamba, setiap orang seharusnya berada dalam koridor yang baik dan patut dalam berdoa. Jika menyimpang dari itu, maka pantaslah apabila doanya tertolak.

Baca juga Sifat rela menerima takdir Allah SWT

Kecemasan mengenai hal ini telah ada sejak zaman dahulu, sehingga ada hadis yang mengungkapkan sebagai berikut:

“Akan muncul di tengah-tengah umat ini suatu kaum yang melampaui batas kewajaran dalam bertaharah dan berdoa.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Teritu maksud dari hadis di atas adalah bahwa janganlah berdoa atau memohon kepada Allah SWT untuk hal-hal yang tidak mungkin dikabulkan, atau berlebih-lebihan untuk sesuatu yang tidak dibenarkan/ tidak halal (haram). Namun, justru yang seharusnya dilakukan adalah tetap dalam koridor kebaikan. Dalam arti kata lain, meski kita memiliki musuh yang telah menzalimi kita, kita juga harus tetap mendoakan kebaikan untuknya. Ini ditegaskan hadis yang berbunyi:

“Barang siapa tidak mendoakan keburukan terhadap orang yang menzaliminya, maka dia telah memperoleh kemenangan.” (HR. At-Tirmidzi dan Asy-Syihab)

Jika doa ditolak, janganlah bersedih hati. Evaluasi terlebih dahulu akan isi doa. Bahkan jika perlu, lihatlah keadaan orang yang berada di bawah kita. Sebab tidak sedikit orang yang punya banyak masalah, ia pun banyak berdoa, tetapi belum dijawab oleh Allah SWT. Setiap doa yang bermaksud baik pasti akan menjadi tabungan kebaikan.

Hadis di bawah ini mengingatkan akan hal itu: “Lihatlah orang yang di bawahmu, dan jangan lihat orang di atasmu, agar engkau tidak meremehkan karunia Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketika mendoakan diri sendiri, berarti secara tidak langsung kita ‘berkewajiban’ pula mendoakan teman, kerabat, keluarga, dan sesama muslim lainnya. Selanjutnya, seperti yang telah ditegaskan di atas, janganlah berhenti dari aktivitas doa, sebaliknya teruskanlah berdoa sebagai wujud syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Rasa syukur itu harus dilaksanakan dalam bentuk doa dan perbuatan yang bermanfaat bagi orang banyak.

Friday, November 18, 2016

Masuk ke Surga dengan Bekal Doa

Masuk ke Surga dengan Bekal Doa

Sobat ajaran Islam, masih menyambung bab Kemuliaan dari Doa. Salah satu fungsi dari doa bagi seorang hamba adalah untuk mendekatkan diri kepada sang khalik yaitu Allah SWT. Kedekatan ini pasti akan membawa pengaruh kebaikan dan positif pada kehidupan seorang hamba yang bersangkutan.

Dengan demikian, maka sejatinya bagi setiap hamba Allah, berdoa adalah merupakan kewajiban dan juga sekaligus kebutuhan bagi setiap hamba kepada Allah SWT.

Lazimnya ada beberapa pengetahuan/ilmu agama yang diajarkan kepada umat sejak dini dalam berbagai macam bacaan doa, baik yang disadur dari Al-Qur’an maupun yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Beberapa doa yang berasal dari ajaran Allah SWT dan Rasul- Nya, miKemakbulan doa-doa semacam itu tentu tidak perlu diragukan lagi.

Baca juga Gambaran surga dan Neraka yang digambarkan dalam Al-Qur’an

Setelah doa dipanjatkan, janganlah sampai dilupakan untuk berusaha sekuat tenaga mewujudkannya. Usaha adalah perwujudan potensi-potensi yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada setiap hamba.

Oleh sebab itu, jadilah umat atau hamba yang dicintai Allah SWT karena ketekunannya (berusaha/bekerja), dan jadilah orang yang dekat dengan Allah SWT melalui doa. Sebab doa adalah salah satu tiket menuju surga-Nya.
salnya, doa untuk kelapangan rezeki, kesuksesan, memohon ketabahan menghadapi musuh, agar dijauhkan dari api neraka, agar diteguhkan keimanan, agar tidak salah memilih jodoh, kala menghadapi bahaya, dan agar terbebas dari hutang-piutang.