Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Showing posts with label Adzan dan Iqomah. Show all posts
Showing posts with label Adzan dan Iqomah. Show all posts

Tuesday, June 30, 2015

Keajaiban Panggilan Sholat (Adzan)

Keajaiban Panggilan Sholat (Adzan)

Hidup di dunia ini terus berputar, terjadi pergantian siang dan malam. Dan akan terus menerus seperti yang demikian, hingga pada suatu waktu nanti dunia ini akan berakhir. Tidak ada yang bisa menghentikan gerak sunnatullah ini. Sebagaimana firman Allah swt. dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 190 yang berbunyi:

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.


Dalam pergantian siang dan malam sebagaimana keterangan dalam al-Qur’an tersebut di atas, maka bagi orang-orang yang beriman adanya Allah swt. yang Maha menciptakan alam dan seisinya, pasti mereka yang beriman menyambut pergantian malam dan siang dan sebaliknya dengan panggilan sholat yaitu mengumandangkan adzan.

Baca juga:
http://islamiwiki.blogspot.com/

Ketika terjadi peralihan dari malam hari ke siang hari, maka orang mukmin menyambutnya dengan mengerjakan sholat subuh. Ketika terjadi peralihan dari siang hari menuju ke malam hari, maka orang mukmin menyambutnya dengan mengerjakan sholat-sholat pada siang hari yaitu sholat dhuhur, ashar, magrib dan isya. Bahkan ketika datang tengah malam, para perindu Allah swt. dan perindu Sholat mengisi malam yang hening dengan mengerjakan sholat malam kehadirat Allah swt.

Baca juga

Keajaiban berkumandangnya suara adzan

Kembali kepada tema dari judul di atas mengenai keutamaan, keajaiban adzan. Setiap orang yang beriman, Islam pasti rindu berkumandangnya suara adzan di mushola-mushola dan masjid dan ingin selalu mengharapkan perjumpaan dengan sang Maha Kuasa Allah swt. melalui sholat.

Suara adzan selalu berkumandang setiap hari selama 24 jam di seluruh benua dan belahan dunia. Di setiap negara di masing-masing belahan dunia mempunyai waktu-waktu yang berbeda, sehingga tanpa kita sadari berkumandangnya suara adzan ini akan selalu bersahut-sahutan tanpa henti karena perbedaan waktu pada masing-masing daerah di suatu negara hingga di suatu benua.

Berkumandangnya suara muadzin yang mengumandangnya adzan ketika datang waktu dhuhur seolah-olah suara adzan ini meredam panasnya sinar matahari. Ketika waktu sholat ashar tiba, suara adzan seolah-olah bercampur dengan sinar matahari sore yang hangat serta tiupan angin yang sepoi. Ketika datang waktu sholat magrib, suara adzan magrib mengajak melepas penatnya sinar matahari. Pada waktu sholat isya’ datang, berkumandangnya suara adzan seolah-olah membawa dan memberikan kehangatan di malam hari yang mulai terasa dingin. Dan ketika datang waktu sholat subuh, berkumandangnya adzan oleh muadzin seolah-olah membangunkan kesadaran dan memecah keheningan. Subhanallah....

Semua panggilan untuk menunaikan sholat ini mempunyai tujuan untuk senantiasa mengingatkan manusia penghuni bumi yang beriman kepada Allah untuk selalu tegak dengan sholat mereka. Mengajak orang-orang yang beriman agar tidak lupa dan terlelap dengan keasyikan dan kesibukan dunia. Mengingatkan semua orang yang beriman untuk selalu mengingat Allah swt sebanyak mungkin. Di samping itu, suara adzan juga mengingatkan kepada manusia agar tidak tersesat dalam kegelapan dunia yang hanya tipuan belaka.

Keajaiban Lafadz adzan

Lafadz-lafadz adzan yang dikumandangkan oleh muadzin apabila diperhatikan dengan sungguh-sungguh lafzadz adzan begitu indah dan mengandung kekuatan yang tinggi. Lafadz bacaan adzan secara terus menerus selalu mengingatkan kepada manusia yang beriman akan palsu dan semua segala klaim kehidupan keduniawian. Di muka bumi dan di langit hanya terdapat satu Tuhan yang disembah dan diikuti ajaran-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nya.

Panggilan adzan untuk menunaikan sholat buka hanya panggilan dari muadzin semata, akan tetapi ini adalah merupakan panggilan Allah swt. kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Apabila kita semak dengan seksama dalam lafadz adzan yang dipanggil untuk mengerjakan sholat adalah mereka yang bersyahadat yaitu mereka yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak dan pantas untuk disembah kecuali Allah dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang membawa ajaran-Nya, yang tidak bersyahadat tidak dipanggil untuk menunaikan sholat.

Lafadz adzan yang berikutnya setelah memanggil mereka yang bersyahadat, tujuan daripada panggilan adzan adalah dalam rangka untuk al-falah yaitu untuk meraih kesuksesan atau kemenangan baik kemenangan di dunia maupun di akhirat. Hal inilah yang dapat membuat orang-orang yang beriman selalu dalam kebahagiaan ketika mendengar setiap panggilan adzan dan kemudian memenuhinya panggilan tersebut.

Thursday, January 2, 2014

no image

Cara Menjawab Adzan dan Iqamah

Bagi orang muslim yang mendengar suara adzan dan iqamah, maka hukum menjawab adzan dan menjawab iqamah yang dikumandangkan adalah sunnah. Bagaimana cara menjawab adzan dan iqamah dengan benar?

Cara menjawab adzan adalah dengan jawaban yang sama seperti apa yang tersebut dalam kalimat bacaan adzan kecuali pada bacaan adzan yang bunyinya “ Hayya ‘alash shalaah ” dan “Hayya ‘alal falah”, maka cara menjawabnya adalah dengan bacaan:

لاحول ولاقوّة الاّ بالله

“laa haula walaa quwwata illa billahi”

Artinya : tidak ada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah”

Namun, ketika kita mendengat suara adzan subuh, maka cara menjawab adzan subuh pada saat muadzin mengucapkan bacaan kalimat :

الصّلاة خير من النّوم

“As shalaatu khairum minan naumi [dua kali]

Maka, kita yang mendengarnya, menjawab dengan bacaan :

صدقت وبررت وانا على ذلك من الشّاهدين

“Shadaqta wabararta wa anaa ‘alaa dzaalika minasy syaahidiina”

Artinya : benar dan baguslah ucapanmu itu dan akupun atas yang demikian termasuk orang-orang yang menyaksikan.

MP3 Doa Ketika mendengar Adzan
Aplikasi Adzan dan Waktu Sholat

Bagaimana cara menjawab ketika kita mendengar iqamah dikumandangkan?

Ketika dikumandangkan suara iqamah oleh muadzin, maka sunnah bagi kita menjawab iqamah dengan cara ; kalimat-kalimat yang terdengar dijawab sama persis seperti yang diucapkan oleh muadzin, kecuali pada kalimat : “Qad Qaamatish Shalaah”, maka di jawab dengan lafadz atau bacaan sebagai berikut :

أقامها الله وادامها وجعلني من صالحى أهلها

“Aqaamahallahu wa adaamahaa waja’alani min shaalihi ahliha”

Artinya : Semoga Allah mendirikan shalat itu dengan kekalnya, dan semoga Allah menjadikan aku ini, dari golongan orang-orang yang sebaik-baiknya ahli shalat”

Dan setelah mendengar suara iqamah, kita menjawabnya dengan membaca doa setelah iqamah yaitu sebagai berikut :

الّلهمّ ربّ هذه الدّعوة التّامّة والصّلاة القائمة صلّ وسلّم على سيّدنا محمّد واته سؤله يوم القيامة

“Allaahumma rabba hadzihid da’watit taammati wash-shalaatil qaa-imati, shalli wasallim ‘alaa sayyidinaa muhammadin, wa aatihi su’lahu yaumal qiyaamati”

Artinya : Ya allah Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna, dan memiliki shalat yang ditegakkan, curahkan rahmat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad, dan berilah/kabulkan segala permohonannya pada hari kiamat.

Demikianlah cara menjawab adzan dan cara menjawab iqamah serta bacaan do’a setelah mendengar bacaan adzan dan iqamah yang dikumandangkan oleh muadzin.

Tuesday, December 31, 2013

no image

Doa Setelah Adzan Lengkap dan Hukumnya

Setelah muadzin mengumandangkan adzan, kita sebaiknya membaca bacaan doa setelah adzan. Kita dalam hal ini adalah baik yang mengumandangkan adzan maupun yang mendengarkan adzan.

Hukum doa setelah adzan

Hukum membaca doa setelah adzan atau berdoa susudah adzan adalah sunnah yang artinya sebaiknya dan lebih baik dikerjakan.

Berikut ini adalah lafadz bacaan doa setelah adzan yang kita baca tepat sesudah muadzin mengumandangkan adzan

اللهمّ ربّ هذه الدّعوة التّامّة والصّلاة القائمة ات سيّدنا محمّدا ان الوسيلة والفضيلة والشّرف والدّرجة العلية الرّفيعة وابعثه المقام المحمودالّذي وعدته إنّك لاتخلف الميعاد. يا ارحم الرّاحمين

Allahumma rabba haadzihid da'watit taammati wash-shalaatil qaa-imati, aati sayyidinaa muhammadanil wasiilata wal fadlilata wasy syarafa wad darajatal 'aliyatarrafii'ata, wab'atsthulmaqaamalmahmudalladzi wa'adtahu innaka laa tukhliful mii'ada. Ya arhamarraahimiin.

Arti doa setelah adzan: Ya Allah Tuhan yang memiliki panggilan ini, yang sempurna dan memiliki shalat yang didirikan. Berilah junjungan kami Nabi Muhammad, wasilah dan keutamaan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah ia tempat yang terpuji sebagaimana Engkau telah janjikan. Sesungguhnya Engkau Ya Allah dzat yang tidak akan mengubah janji. Ya Tuhan Kami yang maha penyayang.

Demikianlah bacaan lengkap dari doa setelah adzan yang disunnahkan bagi kita untuk membacanya sesudah muadzin mengumandangkan adzan.

Tuesday, August 14, 2012

Syarat dan Sunnah Iqamah

Syarat dan Sunnah Iqamah

Iqamah menandakan bahwa shalat akan dimulai setelah bacaan atau lafadz iqamah dikumandangkan. Ada aturan dalam iqamah agar iqamah itu menjadi lebih sempurna. Syarat-syarat iqamah yaitu sama seperti halnya syarat-syarat dalam adzan. Adapun sunnah-sunnah yang sebaiknya dikerjakan dalam iqamah adalah sebagai berikut:

Sunnah-Sunnah Iqamah

Sunnah-sunnah iqamah juga sama dengan sunnah-sunnah adzan, di samping mustahab hukumnya bila orang yang adzan adalah juga yang iqamah. Sedang bagi pendengar, disunnatkan membaca:

 اَقَامَهاَ اللهُ وَاَدَامَهاَ(رواه ابو داود 528

Semoga Allah tetap menegakkan shalat dan melanggengkannya. (H.R. Abu Daud: 528). 

SERUAN UNTUK SELAIN SHALAT FARDHU 

Adzan dan iqamah adalah sunnah mu’akkad untuk shalat-shalat fardhu saja. Adapun untuk shalat-shalat lainnya, yang disunnatkan berjamaah, seperti shalat ‘Id, shalat gerhana dan shalat jenazah, tidaklah disunnatkan adzan dan iqamah. Hanya disunnatkan menyerukan:

 اَلصَّلاَةُ جَامِعَةًً 

Mari shalat berjamaah. Al-Bukhari (1003), dan Muslim (910) telah meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr Ibnul ‘Ash RA, dia berkata:

 لَمَّا انْكَشَفَةُ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُوْدِيَ: اَلصَّلاَةُ جَامِعَةًً 

Ketika terjadi gerhana matahari di mana Rasulullah SAW diserukan: “Ash-Shalatu Jami’ah”. Shalat-shalat lainnya, yang semakna dengan shalat gerhana, yakni shalat-shalat yang disyari’atkan supaya berjamaah, dikiaskan kepadanya.

Itulah syarat dan sunnah iqamah yang menjadikan iqamah menjadi sah adanya
Perbedaan Bacaan Adzan dan Iqamah serta dalilnya

Perbedaan Bacaan Adzan dan Iqamah serta dalilnya

Apa sahja perbedaan antara Bacaan adzan dan bacaan iqamah?. Penjelasan tentang pertanyaan perbedaan antara adzan dan iqamah akan dijelaskan dengan singkat pada keterangan di bawah ini yang menyangkit lafadz atau bacaan adzan dan bacaan iqamah dan perbedaan lainnya tentang adzan dan iqamah.

Perbedaan adzan dan iqamah

Bacaan iqamah sama dengan bacaan adzan, hanya ada beberapa perbedaan sebagai berikut: 

1. Lafdz bacaan adzan dibaca dua kali-dua kali, sedang lafadz bacaan iqamah sekali-sekali. 

Dalil tentang bacaan adzan dan iqamah ialah pernyataan Anas RA menurut riwayat al-Bukhari (580) dan Muslim (378):

 اُمِرَ بِلاَلً اَنْ يَشْفَعَ اْلاَذَنَ، وَيُوْتِرَاْلاِقَامَةَ، اِلاَّاْلاِقَامَةَ، اَىْ لَفْظَ: قَدْقاَمَتِ الصَّلاَةُ، فَاِنَّهاَ تُكَرَّرُ مَرَّتَيْنْ 

Bilal disuruh menggenapkan bacaaan adzan dan menggasalkan bacaan iqamah, selain lafadz atau bacaan iqamah–yakni kata-kata: Qad qamati ‘sh-Shalah- Sesungguhnya kata-kata ini diucapkan dua kali. Adapun ucapan bacaan iqamah selengkapnya adalah:

 اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ، اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ، اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، قَدْقاَمَتِ الصَّلاَةُ قَدْقاَمَتِ الصَّلاَةُ، اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ، لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Marilah shalat, marilah shalat, Marilah menuju kemenangan. Sesungguhnya shalat pasti tegak, sesungguhnya shalat pasti tegak. Allah Maha Besar, tiada Tuhan melainkan Allah. 

Bacaan iqamah tersebut di atas diriwayatkan secara otentik dalam hadits-hadits shahih oleh al-Bukhari, Muslim maupun lainnya. 

2. Lafadz atau Bacaan adzan dibaca secara perlahan, sedang bacaan iqamah dibaca secara cepat. Karena adzan diserukan kmepada orang-orang yang belum ada di tempat, jadi dibaca secara perlahan adalah lebih tepat,m sedang iqamat diserukan untuk mereka yang sudah hadir, jadi lebih tepat dipercepat. 

3. Bagi orang yang mengqadha’ beberapa shalat yang tertinggal, dia hanya menyerukan bacaan adzan untuk shalat yang pertama saja, sedang bacaan iqamahnya diserukan untuk tiap-tiap shalat. Adapun dalilnya ialah:

 جَمَعَ بَيْنَ الْْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِمُزْدَلِفَةٍ بِاَذَانٍ وَاحِدٍ وَاِقَامَتَيْنِ.(رواه مسلم 1218

Bahwasanya Nabi SAW pernah menjamak antara Maghrib dan ‘Isya’ di Muzdalifah dengan satu adzan dan dua iqamat. (H.R. Muslim: 1218).

Demikianlah perbedaan antara bacaan adzan dan bacaan iqamah berdasarkan dalil-dalil dari hadits nabi Muhammad saw. Semoga bisa menjadikan afdhal apabila mengetahui ilmunya, Amiin
no image

Sunnah-Sunnah Adzan

Sunnah adalah istilah dalam fiqih yang merujuk kepada suatu hukum dalam mengerjakan sesuatu halyang mana arti dari hukum sunnah adalah apabila sesuatu itu dikerjakan maka akan mendapatkan pahala atau dianjurkan untuk dikerjakan karena mendapatkan pahala. Adapun sunnah-sunnah adzan adalah sebagai berikut: 

1. Disunnahkan Mu’adzin hendaklah menghadap kiblat, karena kiblat adalah arah yang paling mulia, demikian sebagaimana dinukilkan sejak dulu sampai kini. 

2. Mu’adzin hendaknya suci dari hadats kecil maupun besar. Jadi, adzan makruh dilakukan oleh orang yang berhadats, lebih-lebih orang yang junub. Rasulullah SAW bersabda: كَرِهْتُاَنْاَذْكُرَاﷲَعَزَّوَجَلَّاِلاَّعَلَىطُهْرٍ٬اَوْقَالَ׃عَلَىطَهَارَةٍ(رواه ابو داود 17 وغيره) “Aku tidak suka menyebut Allah ‘Azza Wa Jalla kecuali dalam keadaan suci,” atau beliau katakan: “Dalam keadaan thaharah.” (H.R. Abu Daud: 17 dan lainnya. 

3. Dilakukan dengan berdiri, karena Nabi SAW bersabda: يَابِلاَلُ قُمْ فَنَادِ لِلصَّلاَةِ Hai Bilal, bedirilah lalu berserulah untuk shalat. 

4. Menengok kanan-kiri dengan leher –bukan dengan dada-: ke kanan ketika mengucapkan, “Hayya ‘ala ‘sh-Shalah”, dan ke kiri ketika mengucapkan, “Hayya ‘ala ‘l-Falah. Al-Bukhari (608) telah meriwayatkan:

 اَنَّ اَبَاجُحَيْفَةَ رَضِىَ ﷲُعَنْهُ قَالَ׃ رَاَيْتُ بِلاَلاً يُؤَذِِّنُ، فَجَعَلْتُ اَتَتَبَّعُ فَاهُهُنَا بِالاَذَانِ يَمِيْنًا وَشِمَالاً׃حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ 

Bahwasanya Abu Juhaifah RA berkata: “Aku melihat Bilal sedang adzan. Aku memperhatikan mulutnya ke sana-ke mari sambil mengucapkan adzan, yakni ke kanan dan ke kiri: Hayya ‘ala ‘sh-Shalah, Hayya ‘ala ‘l-Falah. 

5. Mengucapkan kalimat-kalimat adzan secara tartil, yakni perlahan, karena adzan itu berarti memberitahukan kepada orang-orang yang belum hadir, jadi ucapan secara perlahan akan lebih mudah dimengerti. 

6. Mengulang adzan (tarji’), yaitu mengucapkan terlebih dahulu dua kalimat syahadat dengan suara lembut sebelum mengucapkan dengan suara keras, karena hal itu dinyatakan dalam sebuah hadits Mahdzurah RA yang diriwayatkan oleh Muslim (379) di mana terdapat kata-kata:

 ثُمَّ يَعُوْدُ فَيَقُوْلُ׃ اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّاﷲُ

 ...................kemudian dia mengulangi ucapan: “Asyhadu alla ilaha illallah”. 

7. Tatswib dalam adzan Shubuh, yaitu mengucapkan: “Ash-Shalatu khairu ‘m-Mina ‘n-Naum,” sesudah “Hayya ‘ala ‘l-Falah,” karena gal itu dinyatakan dalam hadits riwayat Abu Daud (500). 

8. Mu’adzin hendaklah orang yang bersuara nyaring dan indah, agar dapat melunakkan hati pendengar dan membuatnya cenderung memnuhi seruan tersebut. Karena, Nabi SAW bersabda kepada Abdullah bin Zaid RA yang bermimpi mendengar adzan:

 فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ، فَالْقِ عَلَيْهِمَا رَاَيْْتَ فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَاِنَّهُ اَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ (رواه ابوداود 499 وغيره

Carilah Bilal lalu sampaikan kepadanya mimpimu itu, biarlah dia yang mengumandangkannya. Karena dia lebih nyaring suaranya daripada kamu. (H.R. Abu Daud: 499, dan lainnya). 

Pengarang kita al-Mishbah berkata: Bilal lebih nyaring suaranya daripada Abdullah bin Zaid, sebagai kinayah tentang suaranya yang kuat dan indah. 

9. Di masyarakat, hendaknya mu’adzin dikenal sebagai orang yang berbudi luhur dan adil. Karena, hal itu akan lebih menjamin diterima pemberitahuannya tentang waktu. Dan juga, karena pemberitahuan dari orang fasik dan bisa diterima. 

10. Tidak memanjang-manjangkan adzan ataupun melagukannya, bahkan itu makruh hukumnya. 

11. Disunnatkan ada dua orang mu’adzin dalam satu masjid untuk adzan Shubuh. Yang seorang adzan sebelum fajar dan seorang lagi sesudah fajar. Dalilnya ialah hadits al-Bukhari (592), dan Muslim (1092):

 اِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُواحَتَّى تَشْمَعُواَذَا نَبْنِ اُمِّ مَكْتُوْمٍ 

Sesungguhnya Bilal adzan pada suatu malam. Maka, makan dan minumlah sampai mendengar adzan dari Abdulah bin Ummi Maktum. 

12. Bagi yang mendengar adzan disunnatkan diam dan meniru ucapan mu’adzin. 

Dalilnya ialah sabda Nabi SAW:

 اِذَاسَمِعتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوْا مِثْلَ مَايَقُول الْمُؤَذِّنَ(رواه البخارى 586 ومسلم 383

Apabila kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan mu’adzin. (H.R. al-Bukhari: 586, dan Muslim: 383). 

Tetapi, ketika mendengar hai’alatain, maka ucapkanlah:

 لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ

 Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan (pertolongan) Allah jua. Adapun dalilnya ialah hadits riwaya al-Bukhari (588), dan Muslim (385), sedang lafazh hadits ini menurut Muslim:

 وَاِذَا قَالَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ، قَالَ: لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ، وَاِذَا قَالَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ، قَالَ: لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ

 ..........dan apabila mu’adzin mengucapkan, “Hayya ‘ala ‘sh-Shalah”, maka pendengar mengucapkan, “La haula wala quwwata illa billah”, dan apabila mu’adzin mengucapkan, “Hayya ‘ala ‘l-falah”, maka pendengar mengucapkan, “La haula wala quwwata illa billah”. Sedang dalam hadits lain dikatakan bahwasanya:

 مَنْ قَالَ ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ 

Barangsiapa mengucapkan seperti itu dari hatinya, maka dia akan masuk surga. Sedang ketika mendengar tatswib, disunnatkan mengucapkan:

 صَدَقْتَ وَبَرِرْتَ 

Kamu benar dan baik. Maksudnya, benarlah kamu dengan seruanmu kepada ketaatan, dan bahwa shalat itu lebih utama daripada tidur, sedang kamu menjadi orang yang baik 

13. Berdo’a bershalawat atas Nabi SAW sesudah adzan

Doa dan shalawat ini disunnatkan bagi mu’adzin dan pendengarnya, setelah usai dari adzan, yaitu dengan shalawat dan doa yang berasal dari beliau SAW. dan beliau anjurkan kia membacanya. Muslim (384) dan lainnya telah meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr RA, bahwa dia mendengar Nabi SAW bersabda:

 اِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوا مِثْلَ مَايَقُولُ، ثُمَّ صَلُّواعَلَىَّ، فَاِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىََّ صَلاَةً صَلَّى ﷲُ بِهَا عَلَيْهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوﷲَ لِى الْوَسِيْلَةَ فَاِنَّهَا مُنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ، لاَتَنْبَغِى اِل اَّلِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ ﷲِ، وَاَرْجُواَنْ اَكُوْنَ هُوَ،فَمَنْ سَأَلَاﷲَ لِىَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ 

Apabila kamu mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena sesungguhnya barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah merahmati dia karenanya sepuluh kali. Sesudah itu, mintalah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya wasilah adalah suatu kedudukan dalam surga, yang hanya patut untuk salah seorang di antara hamba-hamba Allah. Sedang aku berharap akulah yang menjadi hamba itu. Oleh karena itu, barangsiapa meminta kepada Allah wasilah untukku, maka pastilah dia mendapat syafaatku. 

Begitu pula diriwayatkan oleh al-Bukhari (579) dan lainnya, dari Jabir RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ׃ اَللَّهُمَّ رَبَّهَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، اَتِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةََ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِى وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

Barangsiapa mengucapkan, ketika mendengar adzan, “Allahumma Rabba hadzihi ‘d-da’wati ‘t-tammati wa ‘sh-shalati ‘l-qa’imah, ati Sayyidina Muhammadanil-wasilata wa ‘l-fadhillata wa ‘b’atshu maqaman mahmudan illadzi wa’adtahu” (Ya Allah, pemilik seruan yang sempurna dan shalat yang akan tegak ini, berilah junjungan kami, Muhammad wasilah dan keutamaan, dan tempatkanlah dia pada suatu kedudukan yang mulia, yang telah engkau janjikan) maka dia pasti memperoleh syafaatku pada hari kiamat. 

Ad-Da;watu ‘t-tammah: Seruan sempurna, yaitu seruan Tauhid yang takkan mengalami perubahan maupun penggantian. 

Al-Fadhilah: keutamaan. Maksudnya martabat yang melebihi semua makhluk Allah. Maqaman mahmudah: kedudukan yang terpuji, dimana orang yang mendudukinya menjadi orang yang terpuji. 

Alladzi wa’adtahu: yang telah engkau janjikan. 

Allah SWT memang menfirmankan:

Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji. (Q.S. al-Isra’: 79) 

Mu’adzin mengucapkan doa dan shalawat atas Nabi SAW dengan suara yang lebih rendah daripada suara adzan, dan terpisah daripadanya, sehingga orang tidak menyangka bahwa doa dan shalawat itu termasuk bacaan adzan.

Monday, August 13, 2012

no image

Syarat-syarat Sahnya Adzan

Adzan apabila tidak memenuhi syarat-syarat sahnya adzan maka adzan yang dikumandangkan tidak akan sah. Oleh sebab itu kita perlu mengetahui syarat sahnya adzan agar adzan yang kita kumandangkan sah. Berikut ini sayarat sahnya adzan

Agar adzan yang dikumandangkan sah, maka adzan harus mmenuhi beberapa syarat, sebagai berikut: 
  1. Islam, adzan tidaklah sah bila dilakukan oleh orang kafir, karena dia tidak sah ibadahnya. 
  2. Tamyiz. Jadi, adzan tidak sah dilakukan oleh anak kecil yang belum tamyiz, karena disamping ibadahnya belum sah, juga belum mengerti apa-apa tentang waktu. 
  3. Orang lelaki. Jadi, adzan tidak sah dilakukan orang wanita terhadap kaum lelaki, sebagaimana keimanannya pun tidak sah terhadap mereka. 
  4. Kalimat-kalimat adzan harus tertib, karena dalam hal ini harus mengikuti contoh hadits, dan juga apabila tidak tertib maka akan disangka main-main dan mengurangi arti seruan tersebut. 
  5. Kalimat-kalimat adzan diucapkan secara berturut-turut, tanpa adanya kata-kata lain yang cukup mencolok yang memisahkan di antara kalimat-kalimatnya. 
  6. Dengan suara keras, apabila adzan diserukan untuk orang banyak. Adapun bila diserukan untuk seorang diri, maka suara keras itu di- sunnatkan pada selain masjid yang ada jamaahnya. Sedang bila diserukan untuk seorang diri, dalam sebuah masjid yang ada jamaahnya, maka disunnatkan dengan suara rendah, agar orang-orang tidak menyangka datangnya waktu shalat berikutnya. Al-Bukhari (584) telah meriwayatkan, bahwa Nabi SAW berkata kepada Abu Sa’id al-Khudri RA:

 اِنِّىْ اَرَاكَتُ حِبُّ الْغَنَمَ وَالْْبَادِيَةَ٬ فَاِذَا كُنْتَ فِى غَنَمِ كَاَوْ بَادِيَتِكَ فَاَذَّنْتَ لِلصَّلاةِ٬ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ ٬فَاِنَّهُ لاَيَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَشَئٌ اِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya aku lihat engkau menyukai kambing dan kampung. Apabila kamu berada di tengah kambingmu atau kampungmu, lalu kamu menyerukan adzan untuk shalat, maka keraskan suaramu dalam berseru. Karena sesungguhnya, tidak seorang pun jin, manusia atau apa saja yang mendengar betapa keras suara mu’adzin, melainkan menjadi saksi baginya pada hari kiamat. 

ADZAN BAGI JAMAAH WANITA 

Bagi jamaah wanita tidak disunnatkan adzan, karena bila mereka mengeluarkan suara keras dikhawatirkan terjadi fitnah. Tetapi mereka disunnatkan iqamat, karena iqamat itu bertujuan untuk mebangkitkan para hadirin dan tidak dengan suara keras seperti halnya adzan. 7. Masuk waktu shalat, karena sabda Nabi SAW:

 اِذَا حَضَرَتِ اَلصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ اَحَدُكُمْ (رواه البخارى 602 ومسلم 674

Apabila shalat telah datang, maka adzanlah untukmu salah seorang dari kamu. (H.R. al-Bukhari: 602, dan Muslim: 674). 

Dan kedatangan shalat itu hanyalah dengan datangnya waktunya. Dan juga, karena adzan itu diserukan sebagai pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat. Oleh sebab itu, menurut ijmak adzan tidak sah sebelum masuknya waktu, selain adzan Shubuh, yang diperbolehkan sejak tengah malam, berdasarkan alasan-alasan yang akan kita bicarakan nanti mengenai sunnah-sunnah adzan.

Sunday, August 12, 2012

no image

Hukum Adzan dan Pensyari'atannya

Apa hukum Adzan dalam Islam? Adzan adalah dzikir tertentu yang disyari’atkan/diperintahkan dalam Islam, sebagai pemberitahuan bahwa waktu shalat fardhu telah tiba, dan sebagai seruan agar kaum muslimin berkumpul mengerjakan shalat. Hukum Adzan adalah sunnah hukumnya, baik untuk shalat adaa’ maupun qadha’, yakni sunnah kifayah yang mu’akkad bagi suatu jamaah. Adapun bagi orang yang shalat sendirian, maka hukum adzan adalah sunnah ‘ain. Adzan sangat penting dalam menampakkan salah satu syi’ar Islam. 

DALIL DISAYARI’ATKANNYA ADZAN
Adapun dalil tentang disyari’atkannya adzan, ada dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Di dalam al-Qur’an terdapatlkah firman Allah Ta’ala:

Apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. (Q.S. al-Jumu’ah: 9) Adapun di dalam as-Sunnah, Nabi SAW bersabda:

 اِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ اَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ اَكْبَرُكُمْ(رواه البخارى 602 ومسلم 674

Apabila waktu (shalat) telah tiba, maka hendaklah seorang dari kamu menyerukan adzan untukmu, dan hendaklah yang tertua di antara kamu mengimami kamu. (H.R. al-Bukhari: 602, dan Muslim: 674). 

MULAI DISYARI’ATKANNYA ADZAN. 

Adzan mulai disyari’atkan pada tahun pertama Hijriah: Al-Bukhari (579), dan Muslim (377) meriwayatkan dari Ibnu Umar RA, dia berkata:

 كاَنَ الْمُسْلِمُوْنَ حِيْنَ قَدِمُوْالْمَدِيْنَةَ يَجْتَمِعُوْنَ فَيَتَحَيَّنُوْنَ الصَّلاَةَ، لَيْسَ يُنَادَى لَهَا، فَتَكَّمُوْا يَوْمًا فِى ذَلِكَ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ׃ اِتَّخِذُوْانَا قُوْسًا مِثْلَنَا قُوْسِ النَّصَارَى، وَقَالَ بَعْضُهُمْ׃ بَلْبُوْقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُوْدِ، فَقَالَ عُمَرُرَضِىَ ﷲُ عَنْهُ׃ اَوَلاَ تَبْعَثُوْنَ رَجُلاً يُنَادِى بِ الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ رَسُولَاﷲِ صَلَّى ﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ׃ يَابِلالُقُمْ فَنَادِ بِ الصَّلاَةِ 

Ketika kaum muslimin datang ke Madinah, maka berhimpunlah mereka memperhatikan datangnya waktu shalat, tidak ada seruan untuk itu. Oleh sebab itu, pada suatu hari mereka membicarakan soal itu. Sebagaimana mereka mengatakan: “Pakailah lonceng seperti lonceng orang-orang Nasrani”. Dan sebagian lainnya berkata: “Lebih baik terompet sepeti terompet orang-orang Yahudi”. Maka, berkatalah Umar RA,: “Tidakkan kalian suruh seseorang menyerukan shalat?” Maka, Rasulullah SAW pun bersabda: “Hai bilal, bangkitlah engkau menyerukan shalat. 

Fa yatahayyanuna, dari kata al-hin yang berarti waktu atau jaman. Maksudnya, mereka memperkirakan waktu untuk menunaikan shalat. 

Qarn: tanduk. Yang dimaksud terompet yang berleher menyerupai tanduk. 

Adapun ucapan atau bacaan atau lafadz adzan ialah:

 اﷲُ اَكْبَرُﷲُ اَكْبَرُ٬ ﷲُ اَكْبَرُﷲُ اَكْبَرُ٬اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ ﷲُ ٬اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ ﷲ ٬اَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولَا ﷲِ ٬اَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولَا ﷲ٬ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ٬ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَىَّ عَلَى الْفَلاحِ ٬ﷲُ اَكْبَرُﷲُ اَكْبَرُ٬لاَاِلَهَ اِلاَّ ﷲُ 

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. 
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. 
Aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah. 
Aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah. 
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. 
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. 
Marilah shalat, marilah shalat. 
Marilah menuju kemenangan, 
Marilah menuju kemenangan. 
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. 
Tiada Tuhan melainkan Allah. 

Dan dalam shalat Shubuh, kita tambahkan:

 اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ٬اَلصَّلاَةُخَيْرٌمِنَالنَّوْمِ 

Shalat itu lebih utama daripada tidur, Shalat itu lebih utama daripada tidur.

Yakni sesudah kata-kata “Hayya ‘ala ‘l-falah” yang kedua. Ucapan adzan tersebut di atas adalah otentik berdasarkan hadits-hadits shahih riwayat al-Bukhari, Muslim dan lainnya.