Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Monday, July 22, 2013

Tujuh Pintu Neraka Jahanam dan Penghuninya

| Monday, July 22, 2013
Adapun riwayat yang menunjukkan bahwa pintu-pintu neraka Ja­him itu ada tujuh, di antaranya, adalah yang berasal dari Anas bin Malik: Malaikat Jibril datang kepada Nabi saw. pada suatu saat dengan raut muka yang pucat. Nabi saw. bertanya, "Ada apa gerangan, aku melihat wajahmu pucat?" Jibril menjawab, "Wahai Muhammad, aku datang kepadamu pada saat ketika Allah memerintahkan para peniup api neraka agar meniupnya, dan tidak sepantasnya orang yang mengetahui bahwa neraka Jahanam adalah benar dan bahwa siksaan Allah itu sangat besar akan sejuk matanya hingga ia merasa tenang terhadapnya. "Nabi saw, berkata, "Jelaskanlah kepadaku silat-sifat neraka, wahai Jibril.” menjawab, "Benar, wahai Muhammad saw., ketika Allah SWT menciptakan neraka Jahanam, Dia menyalakannya selama seribu tahun sehingga api itu memerah. Lalu Dia menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga api itu memutih. Kemudian, Dia menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga api itu menghitam, yaitu hitam gelap sehingga kobaran dan baranya tidak mengeluarkan cahaya ..." Hingga Jibril ber kata, "Ia (neraka itu) memiliki tujuh pintu. Setiap pintu memiliki bagian yang telah ditetapkan." Nabi saw. bertanya kepada Jibril, "Apakah pintu-pintu itu seperti pintu-pintu ini (di dunia)?" 

Jibril menjawab, "Tidak, tetapi pintu-pintu itu terbuka; sebagiannya lebih rendah daripada se­bagian lainnya. Dari satu pintu ke pintu yang lain berjarak perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintu memiliki panas tujuh puluh kali lebih besar daripada panas pintu berikutnya. Musuh-musuh Allah digiring ke sana. Apabila mereka sampai ke pintu-pintunya, Zabaniyyah meng­hadapi mereka dengan membawa belenggu dan rantai. Ia memasukkan rantai ke mulutnya dan keluar dari duburnya serta mengikat tangannya hingga ke tengkuk. Tangan kanannya dimasukkan ke dadanya, menca­but tulang di antara kedua pundaknya, dan diikat dengan rantai. Setiap orang digandengkan dengan satu setan dalam satu rantai dan ditarik pada bagian wajahnya hingga para malaikat memukulnya dengan tongkat besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsa­raan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya.[ QS al-Hajj [22]: 22.] " 

Nabi saw. bertanya, "Siapakah penghuni pintu-pintu ini?" Jibril menjawab, "Pintu paling bawah diisi oleh kaum munafik dan orang-orang kafir dari ashhab al-ma'idah dan keluarga Fir'aun. Pintu itu bernama Hawiyah. Pintu kedua diisi oleh kaum Musyrik, dan pintu itu bernama Jahim. Pintu ketiga diisi oleh kaum Shabi'un, dan pintu itu bernama Saqar. Pintu keempat diisi oleh Iblis dan para pengikutnya dari kaum Majusi, dan pintu itu bernama Lazha. Pintu kelima diisi oleh kaum Yahudi, dan pintu itu bernama Hathamah. Pintu keenam diisi oleh kaum Nasrani, dan pintu itu bernama Sair." 

Jibril diam. Lalu, Nabi saw. bertanya, "Mengapa engkau tidak mem­beritahukan kepadaku penghuni pintu keempat?" Jibril menjawab, "Wahai Muhammad saw. Janganlah bertanya kepadaku tentang hal itu. Nabi saw. Berkata: “Tidak, wahai Jibril. Beritahukanlah kepadaku pintu ketujuh." Jibril menjawab: “ Di situ terdapat orang-orang yang melaku­kan dosa besar dari umatmu yang mati dan tidak sempat bertobat." Oleh karena itu. Nabi saw. jaluh pingsan. Kemudian, Jibril meletakkan kepala Nabi saw. di atas pangkuannya hingga beliau siuman. Setelah siuman, beliau berkata, "Wahai Jibril, betapa besar musibah yang menimpaku dan betapa dalam kesedihanku. Benarkah di antara umatku ada yang masuk neraka?" Jibril menjawab, "Benar, orang-orang yang melakukan dosa besar dari umatmu..." Rasulullah saw. menangis, dan Jibril pun ikut menangis. Rasulullah saw. masuk ke dalam rumahnya dan tidak ingin ditemui orang lain. Beliau tidak keluar kecuali untuk melak­sanakan shalat. Beliau shalat, lalu masuk lagi ke dalam rumahnya tanpa berbicara kepada siapa pun. Beliau shalat, menangis, dan bersimpuh di hadapan Allah SWT. 

Selanjutnya, riwayat itu menyebutkan: Salman al-Farisi datang. Ia berdiri di depan pintu dan berkata, "Assalamu'alaikum, wahai Ahlul bait Rahmah. Bisakan aku bertemu dengan maulaku, Rasulullah saw.?" Tidak seorang pun memberikan jawaban. Ia datang lagi kadang-kadang sambil menangis, sesekali terjatuh, dan berdiri lagi hingga akhirnya ia Mendatangi rumah Fathimah a.s. Ia berdiri di depan pintu rumah Fathimah, lalu berkata, "Assalamu'alaikum, wahai Ahlul Bait Mushthafa." Ketika itu, Ali sedang tidak ada di rumah. Salman berkata, "Wahai putri Rasulullah, Rasulullah saw. menutup diri dari orang-orang. Beliau tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat. Beliau tidak berbicara kepada siapa pun dan tidak mengizinkan siapa pun untuk menemui­nya." Fathimah a.s. segera mengenakan pakaian luarnya. Ia pergi ke rumah Nabi saw. dan berdiri di depan pintu. Ia memberi salam, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah Fathimah." Ketika itu, Rasulu­llah saw. sedang bersujud sambil menangis. Lalu, beliau mengangkat kepalanya dan berkata, "Apa gerangan yang membuatmu mengenakan hijab dariku? Bukalah pintu." Pintu pun dibuka. Ketika Fathimah memandang Nabi saw., ia menangis keras sekali. Ketika ia melihat beliau berwajah pucat dan sembab karena banyak menangis dan bersedih, ia berkata, "Wahai Rasulullah, apa yang telah menimpamu?" Nabi saw. menjawab, "Jibril telah datang kepadaku. Ia menjelaskan sifat-sifat pintu neraka Jahanam. Ia juga memberitahukan kepadaku bahwa pada pintu tertinggi diisi oleh orang-orang dari umatku yang melakukan dosa besar. 

Itulah yang membuatku menangis dan bersedih." Fathimah bertanya, 

"Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak bertanya kepadanya, bagaimana mereka memasukinya? Nabi saw. menjawab, " Para malaikat menggiring mereka ke neraka, wajah mereka tidak menghitam. Mata mereka tidak membiru, mulut mereka tidak terkunci, tidak didampingi setan-setan, dan tidak pula dirantai dan dibelenggu." Fathimah bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, bagaimana para malaikat itu menggiring mereka?" Nabi saw. menjawab, "Laki-laki ditarik janggutnya, sedangkan perempuan ditarik rambut dan ubun-ubunnya. Betapa banyak orang beruban dari umatku yang ditarik ubannya dan digiring ke dalam neraka seraya berkata, 'Oh, uban dan ketakberdayaanku.' Betapa banyak anak muda dari umatku yang ditarik janggutnya dan digiring ke dalam neraka seraya berkata, 'Oh, masa mudaku dan indah rupaku.' Betapa banyak perempuan dari umatku yang digenggam ubun-ubunnya dan digiring ke dalam neraka seraya berkata, 'Oh, terbuka aib dan celaku.' Hingga mereka di bawa kepada Malaikat Malik. Ketika memandang mereka, Malik berkata kepada para malaikat, 'Kenapa me­reka? Belum pernah didatangkan kepada orang-orang celaka yang le­bih menakjubkan daripada mereka. Wajah mereka tidak menghitam dan tidak ada rantai dan belenggu pada leher mereka.' Para malaikat menjawab, 'Demikianlah kami diperintahkan untuk membawa mereka dalam keadaan ini.' Malik berkata, 'Wahai orang-orang yang celaka, siapakah kalian?' Mereka menjawab, 'Kami termasuk kaum yang Al- quran diturunkan ke tengah mereka dan orang-orang yang selalu ber­puasa pada bulan Ramadhan.' Malik berkata, 'Alquran tidak diturun­kan kecuali kepada Muhammad saw.' Ketika mendengar sebutan nama Muhammad saw'. mereka berteriak, 'Benar, kami termasuk umat Mu­hammad saw. Malik pun bertanya kepada mereka, 'Bukankah di dalam Alquran terdapat larangan untuk melakukan kemaksiatan kepada Al­lah?' Ketika mereka diberhentikan di tepi neraka Jahanam dan melihat neraka dan Zabaniyyah, mereka berkata, 'Wahai Malik, izinkanlah kami untuk menangisi diri kami.' Mereka pun menangis dengan menge­luarkan air mata sehingga ketika air mata mereka terkuras habis, me­reka pun menangis dengan mengeluarkan darah. Malik berkata, 'Alangkah bagusnya kalau hal ini dilakukan di dunia. Kalau saja tangisan ini dilakukan di dunia karena takut kepada Allah SWT, maka hari ini kalian tidak akan disentuh api neraka.' Kemudian, Malik berkata ke­pada Zabaniyyah, 'Lemparkanlah mereka ke dalam neraka!' Mereka semua berseru, 'La ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah)!' Oleh karena itu, neraka menolak mereka. Malik berkata, 'Wahai neraka, renggutlah mereka!' Neraka berkata: ‘Bagaimana aku akan merenggut mereka, sementara merea mengucapkan La ilaha illallah? Malik berkata: Benar, begitulah perintah Tuhan 'Arsy.' Neraka pun merenggut mereka. Di antara mereka ada yang direnggut dari kedua kakinya, ada yang direnggut dari kedua pundaknya; ada yang direnggut dari kedua pinggangnya, dan ada yang direnggut dari kerongkongannya. Ketika neraka ingin merenggut mereka dari wajah mereka, Malik berkata, 'Janganlah membakar wajah mereka, karena telah sekian lama mereka bersujud kepada ar-Rahman di dunia. Janganlah membakar hati mereka, karena telah sekian lama mereka menahan dahaga pada bulan Rama­dhan.' Mereka tetap dalam keadaan seperti itu sesuai dengan kehen­dak Allah. Kemudian, mereka berseru, 'Ya arhamarrahimin, ya hannan, ya mannan (ya Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi, ya Tuhan Yang Maha Pengasih, ya Tuhan yang Maha Pemurah).' Keti­ka Allah SWT melaksanakan hukum-Nya, Dia berfirman: 'Wahai Jibril, apa yang dilakukan para pelaku kemaksiatan dari umat Muhammad saw.? 'Jibril menjawab, 'Wahai Tuhanku, Engkau lebih mengetahui keadaan mereka.' Allah bertitah, 'Pergilah dan lihatlah keadaan mereka.' Jibril pun pergi kepada Malik yang sedang berada di atas singgasana dari api di tengah neraka Jahanam. Ketika Malik melihat Jibril, ia berdiri sebagai penghormatan kepadanya. Ia berkata, 'Wahai Jibril, apa gera­ngan yang menyebabkanmu memasuki tempat ini? 'Jibril menjawab, 'Apa yang dilakukan kelompok pelaku kemaksiatan dari umat Muhammad saw. ?' Malik menjawab, 'Betapa buruk kepada mereka dan betapa sempit tempat mereka. Api neraka telah membakar tubuh mereka dan melalap daging mereka, tetapi wajah dan hati mereka masih berkilau karena di dalamnya ada keimanan. 'Jibril berkata, 'Angkatlah tu­tup mereka sehingga aku dapat melihat mereka.' Malik segera menyu­ruh para penjaga neraka agar membuka tutup itu. Ketika mereka meli­hat Jibril dan memandang keindahan ciptaannya, mereka tahu bahwa dia bukanlah malaikat penyiksa. Mereka berkata, 'Siapakah hamba ini yang tidak kami lihat sesuatu pun padanya selain wajah yang tampan?' Malik menjawab, 'Inilah Jibril yang mulia di sisi Allah SWT, yang per­nah datang kepada Muhammad saw. membawa wahyu.' Ketika mereka mendengar nama Muhammad saw. disebut, mereka semua berteriak, 'Wahai Jibril, sampaikanlah salam kami kepada Muhammad dan be­ri tahukan kepadanya bahwa kemaksiatan kami telah memisahkan kami dengannya, serta beritahukanlah keadaan buruk yang menimpa kami!' Jibril pun hingga berdiri di hadapan Allah SWT. Allah bertanya: 'Bagaimana engkau melihat umat Muhammad saw?’ Jibril menjawab: "Wahai Tuhanku, keadaan mereka sangat buruk dan tempat mereka sangat sempit.' Allah betanya lagi, 'Apakah mereka meminta sesuatu kepadamu? 'Jibril menjawab, 'Benar, wahai Tuhanku. Mereka memintaku agar menyampaikan salam kepada nabi mereka dan memberitahukan keadaan buruk mereka kepadanya.' Allah Azza wa Jalla pun bertitah, 'Pergilah dan sampaikan kepadanya.'Jibril segera menemui Muhammad yang sedang berada di dalam sebuah tenda dari mutiara putih yang memiliki empat ribu pintu dan dua daun pintu dari emas. Ia berkata, 'Wahai Muhammad, aku datang kepadamu membawa pe­san dari kelompok pelaku kemaksiatan dari umatmu yang sedang disiksa di dalam neraka. Mereka menyampaikan salam kepadamu. Mereka mengatakan, 'betapa buruk keadaan kami dan betapa sempit tempat kami." Nabi saw. segera mendatangi 'Arsy, lalu tersungkur bersujud dan memuji Allah SWT dengan pujian yang tidak pernah diucapkan siapa pun.' Allah 'Azza wa Jalla bertitah, 'Angkatlah kepalamu, minta­lah, dan engkau diberi dan mintalah syafaat maka engkau diberi syafa­at.' Nabi saw. berkata, 'Wahai Tuhanku, orang-orang celaka dari umat­ku telah Engkau berlakukan hukum atas mereka. Allah SWT berfir­man: 'Aku telah memperkenankanmu untuk memberikan syafaat ke­pada mereka. Oleh karena itu, datangi neraka dan keluarkanlah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dari sana.' Nabi saw. segera pergi. Ketika Malik melihat Muhammad, ia berdiri untuk menghormat ke­padanya. Beliau bertanya, 'Wahai Malik, bagaimanakah keadaan umat­ku yang celaka itu?' Malik menjawab, 'Betapa buruk keadaan mereka dan betapa sempit tempat mereka.' Nabi saw. berkata, 'Bukalah pintu dan angkatlah tutup.' Ketika penghuni neraka melihat Muhammad, mereka semua berteriak, 'Api neraka telah menghanguskan kulit kami dan membakar bagian dalam tubuh kami.' Beliau mengeluarkan me­reka semua yang telah menjadi arang karena dibakar api neraka. Beliau membawa mereka ke sebuah sungai di pintu surga yang bernama ai­bi ayawan. Mereka mandi di situ, lalu keluar dalam rupa anak muda belia dengan wajah berkilau seperti bulan. Pada dahi mereka tertulis kalimat: 'Penghuni Jahanam yang dibebaskan Allah dari neraka'. Me­reka pun memasuki surga. Ketika penghuni neraka melihat kaum Muslim itu telah dikeluarkan dari neraka, mereka berkata, 'Andaikan dulu aku menjadi Muslim, tentu kami dikeluarkan dari neraka.' Inilah makna firman Allah SWT: Orang-orang kafir itu seringkali menginginkan kiranya mereka dulu menjadi orang Muslim.[ QS al-Hijr [15]: 2, 'llm al-Yaqin, karya al-Faydh al-Kasyam, jil. 2, hal. 1267.]", 

Riwayat ini, di samping menyebutkan tujuh pintu jahanam dan para penghuninya, juga mengandung beberapa talatan penting yang harus dikemukakan. Di antaranya sebagai berikut. 

Pertama , hadis itu menjelaskan keadaan Rasulullah saw. ketika mendengar berita tentang apa yang terjadi pada umatnya sehingga beliau pingsan karena kesedihannya yang tidak terkira dan tangisannya kepada kita. Oh, betapa menyakitkannya kelalaian kita yang tidak kita sadari dan karena kelancangan kita untuk melakukan dosa-dosa besar siang dan malam. Seakan-akan perkara itu tidak berarti bagi kita, dan hal itu seolah-olah bukan penyebab kebinasaan kita dan masuknya kita ke da­lam neraka Jahanam, semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut. Selain itu, setiap dosa yang kita lakukan, menurut sebagian ulama, adalah termasuk dosa-dosa besar, karena tidak ada dosa kecil ketika memandang siapa yang didurhakai, yaitu Penguasa langit dan bumi. Jadi, setiap dosa yang dilakukan di wilayah kekuasaan Allah 'Azza wa Jalla adalah besar dalam hubungannya dengan-Nya. 

Kedua, setiap penghuni neraka ketika digiring ke neraka, wajahnya menghitam, kecuali umat Muhammad saw. yang mendapat syafaat dari beliau dan Ahlul Baitnya a.s. 

Dosa-dosa yang dilupakan pelakunya pada Hari Kiamat membuat Rasulullah bersedih sangat dalam. Di samping itu, neraka tidak mereng­gut seseorang yang mengatakan la ilaha illallah dan ia tidak mampu membakar batin tauhid dan wilayah. Ia hanya merenggut orang yang melupakan kesaksian tauhid, dan perintah Tuhan adalah agar neraka merenggutnya, walaupun ia mengucapkannya. 

Umat Muhammad saw. tidak kekal di dalam neraka. Akan tetapi, mereka dikeluarkan darinya setelah mereka menjadi suci dari dosa-dosa, perbuatan-perbuatan keji, dan pembawaan-pembawaan buruk, serta setelah hukum Allah SWT berlaku pada mereka. Sebab, surga adalah tempat suci yang tidak dimasuki najis. Ringkasnya, sebagian mereka disucikan di dunia ini dengan ditimpa musibah, penyakit, keterasingan, dan kefakiran; sebagian lain disucikan melalui siksaan barzakh dan sebagian lagi disucikan di dalam neraka Jahanam. Api ini telah dicuci tujuh puluh kali atau tujuh puluh ribu kali lalu diturunkan ke bumi sehingga menjadi api yang kita kenal dalam kehidupan kila di dunia ini . itupun panasnya dan akibat pembakarannya tidak mampu kita tahan. 

Ketiga, di dalam hadis itu terdapat banyak bukti yang menjelaskan bahwa, siapapun dari kita jangan mengira bahwa ia akan selamat darinya dan tidak akan tersentuh olehnya, karena ia mengakui wilayah (otoritas kepemimpinan Ahlul Bait a.s.). Sebab, wilayah tanpa disertai ketakutan kepada Allah SWT dan tanpa sikap wara dan pengamalan tidak dapat menyelamatkan siapa pun. Akan tetapi, hanya keimanan yang disertai amal salih, sikap wara, dan ketakwaan yang akan mengantarkan seseorang ke tempat keselamatan. 

Pengertian ini tidak bertentangan dengan pengertian sejumlah riwa­yat lain yang menyebutkan bahwa wilayah, kecintaan, dan jalinan dengan Ahlul Bait a.s. merupakan perkara yang dapat menyelamatkan dirinya. Sebab, wilayah yang dapat menyelamatkan, yang disebutkan dalam ha­dis-hadis dari Ahlul Bait a.s., adalah wilayah yang benar, yang tidak terlepas dari sikap wara dan pengamalan. Kalau wilayah itu terlepas dari sikap wara dan pengamalan, tentu itu bukan wilayah yang dimak­sudkan oleh mereka. 

Imam ash-Shadiq a.s. berkata, "Syiah (pengikut) kami adalah orang-orang yang kurus, layu, kerempeng, yang apabila malam menghampiri mereka maka mereka menyambutnya dengan kesedihan.[ Ushul al-Kafi, kitab al-Iman wa al-Kufr, bab al-Mu'min wa Alamatuh, hadis 110. 7.]" 

Diriwayatkdan dari Imam ar-Ridha a.s. dari ayahnya, dari kakeknya, dan Imam al-Baqir a.s., bahwa beliau berkata kepada Khaytsumah, "Sam­paikan kepada pengikut (Syiah) kami, bahwa merasa cukup dengan Allah sehingga tidak membutuhkan sesuatu apa pun. Sampaikanlah kepada pengikut kami, bahwa ia tidak akan meraih apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan pengamalan. Sampaikanlah kepada pengikut ka­mi, bahwa orang yang paling besar penyesalannya pada Hari Kiamat adalah orang yang disebut adil, tetapi mengingkarinya kepada orang lain. Sampaikanlah kepada para pengikut kami, bahwa apabila mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka maka mereka adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.[ Al-Amali, karya ath-Thusi, jil. 1, hal. 380.]" 

Diriwayatkan dari Imam al-Baqir a s., "Wahai Jabir, apakah orang yang menganut mazhab Syiah merasa cukup dengan mengatakan, 'Kami mencintai Ahlul Bait. Demi Allah, kami tiada lain adalah orang yang bertakwa dan taat kepada Allali." 

Selanjutnya, belian berkata, "Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah, beramallah untuk memperoleh sesuatu yang ada di sisi Allah. Tidak ada kekerabatan antara Allah dan siapa pun. Hamba yang paling di cintai Allah SWT dan paling dimuliakan-Nya adalah yang paling ber­takwa dan paling banyak" mengamalkan ketaatan kepada-Nya. Wahai Jabir, barangsiapa taat kepada Allah, maka ia wali kami. Sebaliknya, Barangsiapa durhaka kepada Allah, maka ia musuh kami. Wilayah kami tidak akan diraih kecuali dengan pengamalan dan sikap wara. [Ushul al-Kafi, kitab al-Iman wa al-Kufr, bab at-Tha'ah wa at-Taqwa, hadis no.67.]"

Album MP3 Rumah Kita Surga Atau Neraka? By Daniel Alexander

Related Posts

loading...

No comments:

Post a Comment