Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW

Monday, July 15, 2013

Faedah dan Tugas Kekuatan Syahwat Manusia

| Monday, July 15, 2013
Definisi atau pengertian dari kekuatan syahwat. Kekuatan syahwat adalah kekuatan yang tidak muncul da­rinya selain perbuatan-perbuatan kebinatangan berupa penyembahan pada kelamin dan perut, serta keinginan kuat pada persetubuhan dan makan. [Jami’ as-Sa’adah, karya an-Naraqi, jil.1, hal.61] Tugasnya: ketika kita menganalisis tugas kekuatan ini, kita mendapati bahwa kekuatan ini melakukan dua kegiatan utama.

Pertama, makan. 

Kepentingan kegiatan ini menjadi jelas melalui dua faedah utama yang diperoleh manusia darinya, yaitu:
  • Memelihara badan. Jelas bahwa diri, dalam bentuk umum dan tanpa memandang kekecualian, tidak mampu melakukan pekerjaan apa pun kecuali melalui badan. Badan merupakan wahana, alat, dan kendaraan yang dengannya diri dapat menjalankan pekerjaan yang diinginkannya di dunia ini. Apabila ba­dan ini lemah atau rusak maka diri benar-benar kehilangan wahananya dalam menjalannya pekerjaan-pekerjaannya, benar-benar seperti musafir yang kehilangan wahana perjalanannya sehingga ia tidak mampu mencapai tujuan. Badan tidak me­melihara seperti tampak dengan jelas kecuali makan yang didorong oleh kekuatan syahwat. Namun, kekuatan ini tidak mengenal halal, haram, banyak, dan sedikit. Oleh karena itu, harus ada kekuatan lain yang mengontrol kerja kekuatan ini sehingga ia dapat mengidentifikasi kebaikan dan kerusakan, serta melihat dengan jelas mana yang halal dan mana yang haram untuknya. Kekuatan ini dinamakan kekuatan akal (al- quwwah al-'aqilah). 
Bagaimanapun, kekuatan syahwat—dilihat dari faedah ini—bukan hanya kekuatan yang penting, melain­kan juga merupakan kekuatan utama. Tanpa kekuatan ini ma­nusia tidak mampu mencapai kesempurnaan yang didamba­kannya. Bahkan, jiwa manusia hanya terbentuk pada badan. Apabila badan telah terbentuk dari makanan halal dan suci maka jiwa pun menjadi suci. Namun, jika badan terbentuk dari makanan yang haram dan najis, maka jiwa pun menjadi buruk dan najis. Oleh karena itu, di dalam riwayat disebutkan, "Hen­daklah kalian bersikap baik pada nuthfah kalian, [Da’a’im al-Islam karya al-Qadhi an-Nu’man al-Maghribi, Mu’assasah Ahl al-bayt li Ihya’ at-Turats, Qum, 2:200/733]" sebagai­mana disebutkan dalam banyak riwayat yang menganjurkan perempuan hamil agar memakan makanan tertentu dan ber­pantang dari makanan tertentu. 
Berkenaan dengan hal ini, di dalam riwayat lain disebutkan, "Orang sengsara adalah orang yang sengsara di dalam perut ibunya, sedangkan orang baha­gia adalah orang yang bahagia di dalam perut ibunya.[ Al-Tawhid, karya ash-Shaduq, 3/356]" Artinya kesengsaraan dan kebahagiaan manusia dimulai dari fase-fase kehidupannya yang pertama ketika masih berupa janin di dalam perut ibunya berdasarkan makanan dan nutrisi yang ikut andil di dalam pembentukannya. 
  • Kekuatan syahwat ini di samping makan kalau tidak ada di dalam diri manusia, tentu ia tidak akan mampu mencapai ke­sempurnaan yang berkaitan dengannya. Untuk menjelaskan pemikiran ini, kami katakan bahwa orang buta kehilangan kesempurnaan-kesempurnaan yang yang terbentuk dari tidak memandang sesuatu yang diharamkan Allah. Dengan hilangnya orang kafir di muka bumi ini, maka seseorang kehilangan ke­sempurnaan jihad dijalan Allah. Demikian seterusnya. Kalau seseorang tidak makan dan minum, tentu ia tidak akan mampu mencapai kesempurnaan-kesempurnaan yang berkaitan de­ngan tidak makan makanan haram, dan sebagainya. 
Kedua, bersetubuh. 

Kegiatan ini pun memiliki dua faedah, sebagai berikut.
  • Memelihara dan meneruskan keturunan manusia. Kalau dalam bersetubuh tidak ada syahwat dan kelezatan tanpa meman­dang pahala di akhirat maka manusia tidak akan melakukan hal itu karena adanya kesulitan-kesulitan yang diakibatkan kebe­radaan anak-anak dan keturunan serta keharusan mendidik dan memelihara mereka. 
  • Kegiatan ini memberikan berbagai kesempatan bagi kesempur­naan seseorang dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan pe­muasan syahwat seksual. Hal ini kami artikan sebagai ke­sempurnaan-kesempurnaan yang berkaitan dengan kesucian diri. 
Kadang-kadang, segera muncul di dalam pikiran sebagian orang, pertanyaan yang berkaitan dengan kekuatan syahwat, yaitu "Bukankah lebih utama kalau Allah SWT menciptakan kita tanpa syahwat ini dan ke­sempurnaan-kesempurnaan yang berkaitan dengannya?"

Jawabannya, bahwa pertanyaan ini adalah sama dengan pertanyaan kita, mengapa Allah SWT tidak menciptakan kita sebagai malaikat?

Ja­waban kedua pertanyaan ini sama, yaitu bahwa dengan kebijaksanaan-Nya, Allah 'SWT telah berkehendak untuk menciptakan suatu makhluk yang tidak diberi syahwat seksual dan makan. Makhluk itu adalah malaikat. Selain itu, dengan kebijaksanaan-Nya, Dia berhendak untuk menciptakan makhluk lain yang memiliki syahwat ini. Makhluk tersebut dalah manusia yang mampu naik di atas kekuatan ini yang menariknya kebinatangan dan meninggi darinya sehingga ia menjadi lebih utama daripada malaikat.

Related Posts

loading...

No comments:

Post a Comment