Menjaga Badan dan Pikiran

Dari Miqdam bin Ma'ad ra. ia mengatakan: Saya mendengar Rasulullah bersabda: "Tidaklah anak cucu Adam mengisi bejana yang lebih buruk, daripada perut. Cukuplah Anak Adam itu makan beberapa suap sekedar cukup untuk meluruskan tulang punggung nya. Seandainya bisa, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan seper-tiga untuk udara." (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban). 

Wahai pemuda pemudi bangsa, inilah nasihat yang berkorelasi langsung terhadap diri kalian. Kalian orang paling pintas menggali hadis ini. Sebab manusia pada usia remaja di awal keremajaan umurnya, baru dalam tahap awal kesempurnaan psikologis. Artinya, seluruh anggota tubuhnya, lahir maupun batin, memerlukan aturan yang khusus agar seimbang, sempurna dan kuat tulangnya. 

Sehingga apkbila engkau berlebihan, dengan kata lain engkau ceburkan dirimu dalam kesemrawutan, yang efek-efeknya akan membalik pada usiamu yang relatif muda, dan engkau didera macam-macam penyakit, ini semua membawa pengaruh buruk pada perasaan dan pemikiran. Juga pada skup keluarga yang menular secara turun-temurun. 

Namun jika engkau pegang kehati-hatian semenjak dini, tentu akan selamat. Engkau melenggang dalam jalan, sehat badan, pikiran dan keluarga. 

Peringatan mulia nabawi ini menyangkut perut besar. 

Perut besar, adalah terminal makanan dan minuman, pabrik gizi, dan markas istirahat atau kecapekan. Betapa sering perasaan malas, berat dan kelambanan menderamu, saat engkau rakus dan melahap makanan kesukaanmu tanpa ukuran? Atau saat engkau menenggak air di kala kehausan? 

Konon ada seorang pengendara mengarungi gurun sahara, urusan penting menderanya. Lantas, bajunya basah dibanjiri air keringat. Tak terkecuali kudanya, kehausan menghantuinya. Untung, sebuah kemah terlihat samar dari kejauhan. "Kesempatan emas," pikirnya. Ia buru kemah, barangkali seteguk air bisa didapat untuk memadamkan kehausan. 

Dijumpainya di depan kemah, seorang gadis, bersua dengan kepiawian alami pegunungan. Tanpa diminta, disuguhkannya segelas air penuh oleh sang gadis. Aneh, diberinya atas air, potongan-potongan jerami. "Iseng," pikir sang pengendara. 

Minuman ia terima, sekaligus ia hirup sedikit demi sedikit, sembari menghilangkan jerami-jerami, agar tidak menelusup sampai dasar gelas. 

Setelah selesai, sang gadis menanyakan, Sudah puas air atau belum?" Sang pengendara memuji Allah, pertanda mengiyakan. Namun ia mengeluh atas adanya potongan-potongan jerami yang menghalanginya menikmati tegukan air. Sang gadis tersenyum simpul. Diiringi seuntai senyum, ia menerangkan: "Sayalah yang sengaja meletakkannya, begitu saya melihatmu dalam puncak keletihan, bermandikan keringat, dan didera kehausan. Hal ini agar engkau tidak minum sekali teguk sehingga akan mengganggu dan membahayakan badanmu. 

Sang tamu tertegun kaku sembari berterima kasih atas kecerdasan dan kewaspadaannya. Lantas ia pamitan pulang. 

Inilah faedah konkret seperti dimaksudkan Nabi saw dalam nasihatnya. Juga seperti maksud beliau di kala menyunnahkan kita agar bernafas tiga kali saat minum, sekalipun kehausan. 

Barangkali ada yang bertanya: "Berprofesi dokterkah Muhammad? Dari mana ia mengerti ini semua, sementara ia buta huruf, tidak tahu baca tulis?" 

Saya tak ingin menjawab panjang lebar atau menerangkan bertele-tele dalam kesempatan ini. Cukuplah saya jawab ringkas: "Itulah nubuwwah (kenabian)! Yang demikian telah cukup bagi siapapun yang percaya, membenarkan, dan mengikuti. 

Karenanya wahai pemuda pemudi, jagalah badan dan pikiranmu. Ikuti jalan petunjuk nabimu. Dialah pembela golongan orang-orang salih.